Adat Bak Poteumeureuhom

Adat Bak Poteumeuruhom

Dalam mengisi libur panjang pada bulan Ramadhan 1423 yang lalu, saya telah menyalin – dari huruf Arab Melayu ke aksara latin – sebuah naskah yang berjudul Adat Aceh. Sebenarnya naskah ini telah diberi komentar dan dianalisa oleh Prof. G. W. J. Drawes dan P. Voorhoeve, sarjana Belanda; dan diterbitkan dalam sebuah majalah terbitan khusus  di negeri Belanda pada tahun 1958. Beberapa Pustaka di Banda  Aceh juga memiliki koleksi buku Adat Aceh ini.

Pada mulanya, saya hanya tertarik pada uraian kebudayaan dan sejarah Aceh yang menjadikan buku Adat Aceh itu sebagai sumbernya. Penulis yang melakukan demikian seperti Prof. A. Hasjmy dan Denys Lombard, seorang sarjana Perancis. Setelah menjumpai bukunya – Adat Aceh – di Perpustakaan Ali Hasjmy, akhirnya saya bertekad untuk  mentrasnliterasikan/alih aksara naskah asli Adat Aceh itu yang masih dalam huruf Arab Melayu (Aceh; harah Jawoe) ke aksara Latin. Naskah aslinya setebal 176 halaman.

Bila hanya sekedar membaca judulnya, yakni”Adat Aceh” mungkin kita akan kecewa bila maksud kita ingin membaca Adat Aceh sehari-hari yang termuat dalam buku ini. Isinya bukanlah tradisi Aceh; berupa upacara adat-istiadat Aceh yang dipraktekkan masyarakat Aceh dari dulu sampai sekarang.

Ternyata naskah asli Adat Aceh yang berhuruf Arab Jawoe ini berisi sejumlah upacara protokoler dan adat/cukai pelabuhan yang dipraktekkan di kerajaan Aceh sejak masa sultan Iskandar Muda. Sesungguhnya nilah yang dinamakan : “Adat bak Poteumeureuhom”.  Pemberian judul  naskah ini dengan Adat Aceh memang keliru dan ini terjadi sewaktu dicetak di Belanda atas kesilapan pakar Belanda pula. Dalam naskah sendiri memang masih tercantum nama aslinya pada bagian awal, yakni ‘Mabaiyinas Salathin” yang dalam bahasa Melayu diartikan “PERINTAH SEGALA RAJA-RAJA”. Jadi, jika judul ini yang dipakai tentu tidak membingungkan!!!.

Kita sering mendengarkan,bahkan juru pidato termasuk pula para pejabat di Aceh dengan bangga mengucapkan sebait pepatah/hadih Maja yang berbunyi : “Adat bak Poteumeuruehom/Hukom bak Syiah Kuala/Kanun bak Putroe Phang/Reusam bak Lakseumana”.

Sebagian orang Aceh mungkin telah tahu, bahwa yang disebut Poteumeureuhom adalah Sultan Iskandar Muda atau para sultan Aceh yang telah almarhum. Namun, jika dipertanyakan lebih lanjut, adat-adat apa saja yang berasal dari zaman Poteumeuruhom  itu, mungkin kebanyakan orang akan geleng-geleng kepala atau sekedar teugeureuhing saja. Apa bila pertanyaannya dilanjutkan dengan masalah hukom, kanun dan reusam,yang menjadi sambungan dari pepatah Aceh tadi;piihak yang ditanya tentu akan lebih kalang-kabut lagi.

Sebenarnya, sebagian dari ‘Adat Bak Poteumeureuhom’ itu termuat dalam  naskah asli Adat Aceh yang berhuruf Arab Jawoe. Oleh karena itu, saya menyarankan Pemda NAD/khususnya LAKA (Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh), agar menerbitkan kembali naskah asli Adat Aceh, yang kini sudah berhuruf Latin itu.

  1. Alasan menerbitkan kembali naskah itu antara lain: Buat manambah isi dari hadih maja : “Adat bak Poteumeureuhom” itu, yang selama ini sering diucapkan, namun kurang dimengerti gambaran sesungguhnya isi dari pepatah Aceh tadi.
  2. Bagi daerah Aceh yang kini sedang menggalakkan kembali mengajarkan huruf Arab Melayu/huruf Jawi di Sekolah-sekolah, patut kiranya bentuk khath (model huruf Arab) dari naskah asli kerajaan Aceh ini bisa dijadikan sebagai salah satu model/bentuk penulisan dari huruf Arab Jawoe itu. Karena itu, diharapkan penerbitan buku Adat Aceh dalam huruf Latin ini juga disertai penggabungan yang berhuruf Arab Melayu di halaman sebelahnya.

3. Upacara dan protokoler sebagaimana pada masa  Sultan Aceh sejak zaman Sultan Iskndar Muda itu, memang sukar dipraktekkan pada saat sekarang. Sebab, acara demikian amat besar menghabiskan dana.  Tetapi sekurang-kurangnya, bisa menjadi sebagai khazanah budaya daerah Aceh yang pernah cemerlang pada zaman silam. Mungkin pula sekali-sekali dapat dipergunakan kembali pada acara kebudayaan semisal pada Pekan Kebudayaan Aceh(PKA) yang akan datang (2004). Hal serupa sering diselenggarakan di Kraton Yogyakarta Hadiningrat, dari dulu sampai sekarang. Kegunaan lain, agar kita, terutama para guru tidaklah dengan serampangan menjelaskan kepada para muridnya, bahwa salah satu unsur kebudayaan Hindu dari India yang pernah/terus dipraktekkan di Aceh adalah upacara Mandi Safar di hari Rabu terahhir bulan Shafar itu (Aceh: jak manoe uroe Rabu Habeh. Sebab, dalam naskah asli Adat Aceh dijelaskan, bahwa Adat Rabu Habeh itu merupakan upacara Negara yang bersifat nasional pada masa kerajaan Aceh dan merupakan Hari Libur Nasional. Khusus bagi acara yang diikuti Sultan Aceh, persiapannya sudah dilakukan panitia khusus sejak dua bulan sebelum hari H-nya. Jadi, acara yang panitianya dipimpin oleh Syahbandar Muktabar Khan ini sudah mulai bekerja pada akhir bulan Zulhijjah, untuk menyambut upacara maha akbar itu.

( T.A. Sakti – Banda Aceh).

(Catatan: Kebiasaan menulis ‘Surat Pembaca” bagi pemuatan dalam media koran dan majalah sudah sejak lama saya lakukan. Namun sayang, sebagian dari ‘Suara Pembaca’ itu tak ada arsipnya, baik karena tak saya fotokopy atau sudah hilang.Sebagai ‘Surat Pembaca’, memang telah dimuat dalam koran atau majalah,yang sebelum pemuatannya sudah “disunat” disana-sini. Guna melihat isi yang asli itulah sisa-sisa arsip itu diketik kembali pada wartel komputer.Setelah diseleksi seperlunya, mulai hari ini, Sabtu, 11 Rabiul Akhir 1431 H/ 27 Maret 2010 M   arsip-arsip yang tersisa itu – yang pernah terendam lumpur tsunami 26 Desember 2004; hingga terpaksa saya jemur berhari-hari–saya muat dalam blog ini. Mudah-mudahan dokumentasi ini bermanfaat adanya,semoga!!!. (T.A. Sakti).

Iklan

4 pemikiran pada “Adat Bak Poteumeureuhom

  1. Apa sih maksudnya arab jawi d sini ?

  2. apa sih artinya
    adat bak poteurhom
    hukoem bak syiah kuala
    qanun bak putroe phang
    reusam bak bentara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s