ANGGARAN BEUTIMANG – Kurang Tanggapnya DPRA terhadap Peradaban Aceh

Anggaran Beutimang

Oleh: T.A. Sakti

 

Anggauta Dewan pilehle rakyat

Supaya mangat nasoe peutimang

Kana soe pike laot ngon darat

Rakyat lam rahmat makmu ngon seunang

 

Teuma lon kalon sampe ‘etnoe hat

Na sipeue cacat bak boeh rancangan

Pembangunan fisik sabe leubeh brat

Tamaddon rakyat  kayem  that ringan

 

Jalan, jeumatan, peugot lueng teupat

Nyan sapeue pakat anggauta Dewan

Tapi tamaddon budaya – adab

Dewan kheun leugat  hana anggaran

 

Dak Eksekutif usul lam “rapat”

Dewan tan silap geucoret rijang

Nyan ‘peungalaman’ ulon katreb that

Bidang Hikayat lon perjuangkan!!

 

Sabe lagee nyan Dewan bersikap

Saleh peue sabab ta pertanyakan!!

Pakon budaya cinta kureueng that

Aceh meugah that dilee bidang nyan

 

Peradaban Aceh saheh that hibat

Leubeh peuet abad umu that panyang

Bandum rab hanco hansoe tem rawat

Tapreh jan meuhat tinggai tok-tok nan

 

Sideh Krueng Raya KUTA  meugah that

Kabeh kamue kap soe padoli tan

Ulama jameun dum hibat-hibat

Tan meupat jeurat soe rawat pih han

 

Peue lom karangan dum kitab-kitab

Di nanggroe Barat le kaphe simpan

Soleutan Aceh meuploh droe meuhat

Kubu tan meupat leupah that sayang

 

Pahlawan Aceh saheh riwayat

Dum bangsa barat diangkat tangan

Tapi kuburan le that tan meupat

Hana soe rawat wab beulanja tan

 

Karya pujangga kitab-hikayat

Lethat hai sahbat dilee saboh jan

Ulama dilee bit hibat-hibat

Neu karang kitab meureutoih macam

 

Jinoe rab tanle habeh kamue kap

Bak Jambo teulhat atawa rangkang

Nacit gob peugah teuntang hikayat

Di Beulanda lethat get that disimpan

 

Wahe Pak Dewan bek sabe silap

Anggaran “beujab” keu Peradaban

Yoh gohlom habeh hanco ban asap

Dudoe ‘oh teulat ‘rakyat’ kap tangan

 

Bak gob nyang dongeng sang-sang keubit that

Sabab dirawat ngon gaseh sayang

Bak tanyoe seujarah sang-sang ileh that

Sabab tan meupat bukeuti pih tan!!!

 

Dada Meuraxa kisah geucatat

Seujarah kitab le that geukarang

Nibak internet ban ulon lihat

Di Australia teumpat sideh gob simpan!

 

H.M. Zainuddin pujangga cakap

Aceh nyang hibat le gobnyan karang

Jinoe rab tanle tamita tan pat

Hansoe tem pakat ta cetak ulang!

 

Hai DPRA peutimang rakyat

Jinoe neu pakat anggaran timang

Lahe ngen baten beu sideurajat

Aceh bermartabat bit kon dongengan!!!

 

#T.A. Sakti – peminat sastra Aceh

(Sumber: Majalah “the CHIEK”  edisi II/Maret 2010)

Iklan

SEUDATI, TARIAN PAHLAWAN

Seudati, Tarian Pahlawan

Oleh: T.A. Sakti

SEUDATI,   berasa dari l kata syshadati atau “syahadatain’’, yang artinya dua kalimah syahadah/Aceh: Syahdat (Asyhadualla ilahaillallah wa asyhaduanna Muhammadar  rasallullah). Benarkah demikian?. Hal ini perlu penelitian lebih lanjut!  Ini menunjukkan bahwa tarian seudati berasal  dari kesenian da’wah pada mulanya. Tapi setelah berkembang, akhirnya seudati menjadi tarian hiburan yang sangat di senangi masayarakat Aceh tempoe dulu!. . Kesenangan masyarakat Aceh  masa lampau menonton Seudati, tidak kalah tangguhnya, seperti masyarakat Jawa – tempo dulu-  nonton wayang atau ketoprak. Sampai pagi pun mata tetap melek terus.

Sebuah Hadih Maja(pepatah Aceh) menyebutkan:”Kuleumbu mirah panyot kawi, peunajoh timphan piasan seudati( Kelambu merah lampu tanah kawi, makanan timphan, hiburan: seudati!).

Anekdot lainnya, yang menunjukkan batapa populernya tarian seudati dikalangan masyarakat Aceh;. pernah diceritakan orang begini: Di suatu petang seorang istri mengajak suaminya nonton seudati yang diadakan di sebuah kampung  pada  malam hari. Karena sang suami kebetulan hari  itu kanker (kantong kering), ia menolak ajakan si istri. Mertua pun kadang ikut campur!. Akibat sudah  jengkel , sang mertua langsung mengajari putrinya:”  Tika  bek kaleueng  panyot bek katot, bah jiduek lam seupot agam ceulaka!”(tikar jangan digelar, lampu tak usah dinyalakan, biar dalam kelam lelaki celaka!).  Sambil menggulung kembali tikar yang terlanjur sudah digelar, si isteri lalu  meupansie/berceloteh:” Meubuleuen-buleeun neupojoh gaji, meupeng sitali han ek neupeuna?!!( Berbulan-bulan Abang  makan gaji,  uang setali  mungkin nggak ada?!!). Disaat demikian;  kalau salah-salah meladeni sang isteri, terutama  yang penganten baru, hubungan rumah tangga bisa retak karena keinginan nonton seudati tidak terpenuhi.

Sebelum tahun  40-an, tarian seudati  pernah menjadi tarian  kebanggaan sang penguasa.  Para  Uleebalang mempunyai group seudati masing-masing. Mereka, bahkan bersaing untuk memiliki pemain-pemain seudati yang handal. Untuk itu pihak penguasa tidak segan-segan mengeluarkan uang  beratus-ratus Ringget Aceh waktu itu.

Karena kemasyhuran suatu group seudati, sangat tergantung kepada ketangkasan Aneuk Seudati(anak seudati), maka usaha mendapatkan Aneuk Seudati yang betul-betul memenuhi syarat, bisa membuat para pengiring Uleebalang pusing  tujuh keliling.  Orang tua yang memiliki anak yang memenuhi syarat sebagai pemain seudati, sering dibujuk untuk merelakan anaknya main seudati. Bila gagal dengan bujukan, sampai-sampai anak itu diculik dan disembunyikan dalam menjalani latihan seudati. Menghadapi  hal demikian,  para  orangtua juga pasang ancang-ancang. Diantaranya,  si anak dikirim ke tempat saudaranya yang jauh atau diantar anaknya ke dayah/pesantren yang Teungkunya disegani oleh Uleebalang. Keengganan orangtua ini disebabkan beberapa hal. Sebagian orang menganggap tarian seudati itu tidak dibenarkan Islam. Tapi bila kita simak penuturan para sesepuh yang masih hidup,keberatan itu dikarenakan latihan-pelajaran main Seudati cukup berat bagi anak-anak. Misalnya, anak-anak itu diseumpom lam kulam(dicemplungkan ke kolam) pada tengah malam agar badannya bisa dilenturkan sewaktu bermain . Pantangan makan jenis makanan tertentu juga amat ketat.

Biasanya, dari keluarga-keluarga miskin dan janda sajalah mudah diperoleh anak-anak calon pemain seudati. Sekaligus para orangtua mereka lantas menjadi “orang dalam” di komplek Uleebalang itu.

Seudati menonjolkan tarian bersemangat dalam keserasian geraknya. Bagi orang yang baru pertama kali menonton Seudati; mungkin jantungnya ‘dag dig dug’, karena menyaksikan gerakan para pemain terus-menerus selang-seling pindah posisi . “Tidakkah  mereka bertubrukan sesamanya?”, begitu desah hati penonton pertama kali ini. Menyaksikan tingkah laku gerakan, tarian Seudati dapat disebut Tarian Perang atau Tarian Pahlawan. Dengan menepuk dada dan  petik jari(keutrep jaroe), mereka menggambarkan bagaimana ketangkasan serta keberanian putra-putri Aceh ketika melawan serdadu Portugis -Belanda tempo dulu.

“Na katuri kee, meunye beuhe tajo keunoe(Inilah aku, kenalkah kamu?, kalau berani terus maju!). Itulah gambaran keberanian, yang tersirat ketika pemain menepuk dada(peh dada) secara serentak. Gema  dari peh dada, keutrep jaroe(petik jari) dan hentakan kaki dilantai pentas/panggung, membikin suasana tarian Seudati riuh-rendah bersemangat. Menyebabkan mata si penonton terbelalak sepanjang malam.

Para pemain tarian seudati terdiri dari: 1 orang pemimpin yang di sebut “Syekh”, 1 orang pembantu kanan Syekh, 1 orang pembantu kiri;keduanya di sebut  “Apit Syekh” ,  4 orang pemain yang mengiringinya, dan 2 orang Aneuk Seudati (anak Seudati).

Dari kata-kata panggilan sesama pemain, dapat disimpulkan, bahwa tarian Seudati merupakan lukisan kehidupan sebuah keluarga dari masyarakat aceh, yang sering menghadapi banyak tantangan. Walaupun banyak rintangan anggota keluarga tidak pernah putus asa, jalan pemecahan problema tetap dicari.

Anggota pemain menyebut syekh (pimpinan) sebagai ayah, dua anak seudati memanggil pemain lainnya sebagai aduen (abang), sebaliknya keduanya di sebut adoe (adik). “pakriban keu lon aduen e, hom hai adoe boh hate, wate   lon pike hanco lam dada”. “Bak pi-e tan peng didalam jaroe, supot lam nanggroe peungeuh lam rimbah” (bagaimana nasib saya hai abangku, aku nggak tahu wahai adinda, kalau terus kupikirkan luluh rasanya hati kakanda.  Akibat  tak punya uang di tangan , gelap dalam negeri terang dalam rimba).

Bermacam jenis lagu serta irama dapat di bawakan dalam tarian Seudati , baik dalam bahasa Aceh,bahasa Indonesia dan India.  Demikian pula iramanya, sejak irama dangdut, keroncong, padang pasir atau hindustan.

Kisah dari lagu-lagu  tersebut juga bervariasi. Baik tentang perobahan zaman, mendorong rakyat membangun, lukisan keindahan alam, kehidupan rakyat, mengkritik pemimpin yang tidak becus dan sebagainya. Kemerduan suara pemain menentukan daya tarik  bagi  lagu-lagu yang disenandungkan.

Tarian Seudati diadakan pada malam hari. Yang di tampilkan paling kurang dua group Seudati sekali pertunjukan. Antara kelompok itu diadakan pertandingan (Seudati tunang) . Permainannya ditampilkan  cara giliran. Kemenangan ditentukan atas kesanggupan menangkis serangan atau tuduhan yang dilontarkan pihak lawan.   Ketika ternyata, hantaman balasan tepat sekali ataupun konyol; tepuk tangan penonton gemuruh.

Dulu  banyak kampung di Aceh yang  punya group seudati . Seluruh rakyat  kampung, secera langsung jadi anggota tarian itu. Sedang dewan yang melindungi lembaga Seudati, terdiri semua tokoh desa, yang      di gelar “tuha seudati “ (tetua seudati). Tidak heran, kalau dulu di Aceh banyak  Umong Seudati (sawah seudati), yang hasilnya digunakan untuk modal mengembangkan tarian ini. Petak sawah tersebut biasanya sumbangan  dari Uleebalang (penguasa) atau hadiah orang kaya yang “fanatik” seudati.

Sekitar akhir  tahun 60-an dan dan awal tahun  70-an, beberapa group seudati cukup terkanal di Aceh.  Kepopulerannya bukan hanya di daerah, bahklan pernah dipertunjukkan di Jakarta(Istana Merdeka) dan luar negeri. Diantara sekian banyak Group Seudati itu  seperti:  Seudati  Syeh Ampon Ma’e, Syekh Lah  Bangguna, Syekh Lah Geunta, Syekh Rasyid Bireuen (Kesemuanya dari  kabupaten Aceh Utara/Bireuen).  Sedang dari kabupaten Pidie, yang juga terkenal di daerah sekitarnya, yaitu Seudati Syekh Dawod Tongpudeng dan Seudati Syekh Maun Kunyet, ( Padang Tiji).

Kenyataannya sekarang,  semua group Seudati yang pernah melangit namanya itu; kini telah lenyap dari peredaran. Jangankan kita lihat mereka bermain; terdengar beritanya pun tidak. Inilah nasib kesenian Aceh, yang kurang perhatian dari berbagai pihak!. Kapankah lahir pembelanya?!.

(Sumber: Buletin “WARTA UNSYIAH” ed. Januari 2010).

SETELAH 20 TAHUN FK UNSYIAH:

Setelah 20 Tahun FK Unsyiah:

MASIHKAH MENJADI KEBANGGAAN RAKYAT ACEH?

Oleh: T. A. Sakti

TULISAN  Dr. Syahrul. Sp. S , Pembantu Dekan I Fakultas Kedokteran Unsyiah, yang berjudul “Kedokteran Unsyiah, Menuju Profesionalisme” (Serambi Indonesia, Rabu, 3 April 2002, halaman 4); telah menimbulkan pertanyaan dibatin penulis, masihkah FK Unsyiah  menjadi kebanggaan rakyat Aceh?. Sebab, kalau menyimak kembali sejarah berdirinya Fakultas Kedokteran (FK) Unsyiah, akan tergambar jelas bahwa keberadaan FK Unsyiah itu benar-benar sebuah kebanggaan rakyat Aceh tempo dulu.

Menyikapi hasrat suara rakyat itulah, maka para pemimpin Aceh tidak bosan-bosannya berusaha mewujudkannya. Padahal beberapa Fakultas sudah berdiri megah di kampus Darussalam saat itu. Namun, sebelum FK dibangun, terasa masih hambar sebuah Perguruan Tinggi (PT). Ibarat rujak-seunicah, na mangat hana merasa! (rujak yang kurang bumbunya). Berkat usaha keras dan perjuangan dari tokoh masyarakat Aceh – seperti diakui Pembantu Dekan I FK Unsyiah, sebagai mengwujudkan “mimpi rakyat Aceh” itu, Alhamdulillah.

Guna menunjukkan kembali, betapa rindunya rakyat Aceh akan Fakultas Kedoteran; ada baiknya kita cuplik kembali suara media massa saat itu yang mungkin bisa mewakili suara massa rakyat Aceh ketika itu. Penulis pribadi, selaku mahasiswa Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (FHPM)Unsyiah Tingkat IV, yang sedang asyik dengan “dunia jurnalistik”, telah menyinggung berkali-kali tentang FK Unsyiah; begitu pula dengan penulis/wartawan yang lain.

Dalam Bulletin “Peunawa” edisi 4-5 tahun 1980 terbitan Senat Mahasiswa Fekon Unsyiah, secara khusus saya menulis mengenai Fakultas Kedokteran Unsyiah dengan judul : “Bibit Unggul di Tanah Subur”. Masih dalam Bulletin “Peunawa”, yakni no. 2/Juni 1980 dalam tulisan yang berjudul ; “Tanggal Keramat yang Dilupakan, Mengapa?”. Pada bagian pendidikan di Aceh, saya singgung pula perihal FK Unsyiah dengan uraian yang cukup panjang.

Kemudian, dalam sebuah syair Aceh yang berjudul “Kru Seumangat!”, yang dimuat Bulletin “KERN” terbitan Senat Fakultas Teknik Unsyiah, nomor perdana -1/1980, saya juga menimang-nimang FK Unsyiah dalam syair Aceh. Selanjutnya, pada halaman khusus MTQ Nasional ke 12 di Banda Aceh, saya menulis artikel berjudul “Mengapa Propinsi Aceh digelar Daerah Istimewa? (Hr. Waspada, 6 Juni 1981 halaman IX).

Mengenai Unsyiah, dalam tulisan itu antara lain saya menyebutkan: “Tentang perkembangan Universitas Syiah Kuala, mulai tahun 1979 boleh kita katakan sudah menanjak dewasa, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pembukaan Fakultas Kedokteran ditahun tersebut, merupakan bukti kedewasaannya. Sudah hampir dua puluh tahun sejak kampus Darussalam dibuka, putera-puteri Aceh masih terpaksa merantau ke luar daerah, jika bermaksud melanjutkan studi dibidang kedokteran!!.”.  Begitulah, gambaran kebanggaan saya terhadap FK Unsyiah, yang saya yakin juga dirasakan oleh sebagaian besar masayarakat Aceh pada 20 tahun yang lalu. Kini, pada saat ulang tahun ke 20 FK Unsyiah, saya menulis artikel ini dengan “Mesin Tik” yang sama pula; sebagai pertanda yang kuat, bahwa saya masih mencintai FK Unsyiah.

Saat menyambut kehadiran Fk Unsyiah, Surat kabar Atjeh Post, edisi 1 Agustus 1979 dalam Tajuk Rencananya antara lain menulis; “Hati Siapa tidak akan bangga sewaktu mendengar dan membaca pengumuman No. 01/BPFK-BNA/1979 yang datangnya dari Badan Persiapan Fakultas Kedokteran Banda Aceh, yang kemudian disambut baik oleh Rektor Unsyiah lewat pengumunnya No. 2408/FT/4/F-79 ayat B yang isinya menyatakan, bahwa tahun akademi 1979 akan dibukanya Fakultas Kedokteran di Universitas Syiah Kuala. Cita-cita ini sebenarnya sudah cukup lama dikandung oleh rakyat Aceh, malah sejak 18 tahun yang lalu disaat Universitas Syiah Kuala pertama kali didirikan..”

Timbul pertanyaan, mengapa masyarakat Aceh sangat bangga jika daerah mereka memiliki Fakultas Kedokteran?. Jawabannya paling kurang ada dua sebab, yaitu demi terpenuhinya kebutuhan mereka di bidang kesehatan dan demi gengsi dan emosional, agar pendidikan daerah Aceh juga sederajat dengan daerah-daerah lain, yang sejak puluhan tahun lalu telah memiliki Fakultas Kedokteran.

Apakah kebanggaan rakyat Aceh itu masih tetap “bergema” atau menyala hingga sekarang?. Hal ini sangat tergantung kepada perilaku para pengelola FK Unsyiah beserta para alumninya yang kini sudah bertugas membina dunia kesehatan masyarakat Aceh.

Menyimak tulisan Dr. Syahrul, Sp. S tersebut di atas, cukup terkesan bahwa   FK Unsyiah benar-benar mengabdi demi masyarakat, tentu  buat masyarakat Aceh. . Jadi, kalau FK Unsyiah masih berpihak kepada masyarakat, tentulah  masyarakat Aceh masih tetap pula bersimpati kepadanya.

Dr. Syahrul, Sp. S menyebutkan, kepemimpinan FK Unsyiah cukup terbuka dan dapat mendengarkan pandapat orang lain. Keadaan ini tentu cukup baik, demi mempercepat tercapainya program kerja di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), juga membuktikan Fakultas Kedokteran Unsyiah terus menebarkan manfaatnya kepada rakyat Aceh. Apalagi dengan adanya RS satelit di berbagai kota/kabupaten sebagai tempat pendidikan para dokter muda, tentu akan berakibat pelayanan kesehatan masyarakat Aceh semakin lancar dan merata.

Bila semua butir-butir penting dari program FK Unsyiah – seperti yang disampaikan Pembantu Dekan I – kita perhatikan, maka dapat disimpulkan FK Unsyiah masih berpihak kepada amanat para pendirinya, terus mengabdi kepada masyarakat Aceh, sehingga tetap dicintai serta dibanggakan mereka.

Bagaimana dengan butir-butir program yang tidak dimuat dalam tulisan Dr. Syahrul, Sp.S???. Inilah yang menjadi pertanyaan!.Salah satu soal terpenting;  siapakah yang kuliah di FK Unsyiah sekarang?. Kalau melihat pada mutu pendidikan di Aceh yang relatif masih rendah, tentu sulit sekali bagi putra-putri Aceh bisa lulus pada Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Adakah jalur khusus yang ditempuh FK Unsyiah untuk menjaring calon mahasiswanya dari putra-putri Aceh? ;  yang mutu pendidikan secara nasional memang masih rendah itu???.Mari kita amati!.

(Catatan: Dengan pemangkasan oleh Redaktur di sana-sini, tulisan di atas pernah dimuat Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh dalam rubrik “Droe Keu Droe”, Sabtu,  tanggal 20 April 2002 halaman 4/Opini.

CATATAN   TAMBAHAN: “Daya saing lulusan sekolah Aceh masih sulit bersaing  dengan lulusan luar daerah. Kenyataan, lulusan SMA di Aceh sulit bersaing masuk ke Unsyiah.

Saat ini, Unsyiah didominasi lulusan  sekolah luar Aceh, terutama fakultas favorit seperti kedokteran, menurut informasi, 90 % lebih mahasiswa yang diterima di Fakultas Kedokteran Unsyiah tahun 2009 adalah lulusan dari luar Aceh.”.

SUMBER:  “Mengurus Pendidikan Aceh”, Oleh: Anas M. Adam, Harian Serambi Indonesia, Sabtu, 16 Oktober 2010 halaman 18/Opini.

TAMBAHAN BARU:  Baru-baru ini, saya bersama seorang teman   sudah selesai menyalin dan alih aksara Kitaburrahmat… karya terjemaham Syekh Abbas Kuta Karang tahun 1270 H. Kitab ini membahas tentang ilmu kesehatan dan kedokteran. Sebagai salah seorang yang mencintai Fakultas Kedokteran Unsyiah, saya menghimbau Dekan FK Unsyiah agar sudi mencetak/menerbitkan buku ini!.  Bila diterbitkan, buku ini tercetak dalam dua macam huruf, yakni sebelah kanan dalam huruf Latin dan sebelah kiri dengan huruf Arab Melayu/Jawi/Jawoe. Bale Tambeh Darussalam, 23 Januari 2012, pkl 9.45 wib., malam, T.A. Sakti.

FAKULTAS MUJARABAT PATUT DIBANGUN DI ACEH: LINGKUNGAN HIDUP

Surat Pembaca:

“Fakultas Mujarabat”

Patut dibangun di Aceh

Keterangan pers Kepala Direktorat pengawasan Obat tradisional Ditjen Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Dr. Jhoni Riahutapea di Kendari tentang sikap pemerintah terhadap obat tradisionl (obat herbal) cukup melegakan hati! (Serambi, Senin, 17 Maret 1997 halaman 5).

Menurut Hutapea, “untuk memanfaatkan obat tradisional tersebut, mulai awal Pelita VI pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan sudah memprogramnya sebagai salah satu program prioritasnya untuk mengoptimalkan obat ini sebagai salah satu andalan dalam pelayanan kesehatan masyarakat.

Kebijakan pemerintah itu dimaksudkan untuk menggali dan memanfaatkan potensi alam yang dimiliki bangsa Indonesia, sebab pengobatan tradisional sudah dikenal dan digunakan masyarakat secara turun-temurun, katanya”.

Alhamdulillah, kini gengsi obat tradisional mulai menanjak naik. Pemerintah Indonesia dan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) memberi dukungan penuh terhadap sistem pengobatan tradisional. Buktinya, di beberapa perguruan tinggi seperti  UI Jakarta, ITB, Unair Surabaya dan UGM Yogyakarta telah dibuka Pusat Penelitian Obat Tradisional (baca: Harian Kompas, 27 September 1993 hlm. 17).

Sikap positif pemerintah terhadap obat tradisional amatlah bijaksana. Sebelum terlambat, kiranya perlu diperbanyak himbauan kepada masyarakat agar melestarikan tanaman-tanaman obat yang berada di tempat mereka masing-masing. Begitu pula, patut diajak masyarakat di berbagai daerah untuk menyelamatkan naskah-naskah Kitab atau buku tentang pengobatan tradisional.

Di daerah Aceh, kitab obat tradisional bernama “Tajul Muluk” (Lidah orang Aceh mengucapkannya Tajon Mulok). Kitab ini ada yang ditulis tangan dalam bahasa Melayu berhuruf Arab Jawi. Terdapat pula yang sudah dicetak di Qahirah (Cairo – Mesir) pada tahun 1938. Kitab Tajul Muluk disusun oleh Haji Ismail Aceh pada tahun 1226 H atas anjuran Sultan Mansur Billah Syah bin Sultan Juhar Alamsyah.

Dalam rangka mempercepat proses penelitian secara medis atau ujian klinis terhadap obat-oabt tradisonal yang tersebar di seluruh daerah Aceh, alangkah baiknya jika di Aceh dibangun sebuah Fakultas Obat Tradisional atau “Fakultas Mujarabat” (Ingat…, sebuah rubrik dalam halaman NAHABA dari harian Serambi Indonesia bernama: “Mujarabat”). Fakultas ini secara khusus mengelola pola ilmiah pokok tentang pengobatan tradsisional.

Selanjutnya, fakultas ini tentu bisa melakukan rujukan ke “Universitass Mujarabat” di tingkat pusat, yang siapa tahu mungkin akan dibangun pula di Jakarta nanti. Jika fakultas obat herbal (tradisional) benar-benar terwujud di Aceh, maka bolehlah daerah ini berbahagia diri sebagai pelopor pendidikan modern obat tradisional!. Dan … bukankah karakter orang Aceh selalu berangan-angan bisa menjadi pelopor di berbagai bidang???.

Dto

T.A. Sakti

$ Rumoh Blang, Jum’at, 12 Beurapet 1417

21 Maret 1997

Poh : 11.39 Wib.

DIAGNOSA PENYAKIT

Komentar Pembaca:

Diagnosa Penyakit

Seorang dokter atau manteri kesehatan biasanya akan memeriksa tabuh pasiennya sebelum menyuntik atau member obat. Perihal pendeteksian atau diagnosa penyakit ini bukanlah perkara baru, sebab kitab-kitab jameun/lama juga mencatat masalah ini.

Sebuah kitab pengobatan yang dituliskan sekitar dua abad lalu; menunjuk empat objek pemeriksaan pada tubuh manusia untuk mengetahui penyakitnya, yaitu warna tubuh, perilaku, perbuatan dan tutur-katanya. Sementara cara mengetahuinya sepuluh macam.  Kitab ini merupakan terjemahan dari kitab bahasa Arab ke bahasa Aceh yang dirangkai dalam bentuk hikayat atau syair Aceh.

Cara pertama memeriksa penyakit adalah dengan memegang badan si sakit. Kalau tubuhnya panas berarti ‘adan sifatnya. Kedua, kalau badannya gemuk berarti sejuk sifatnya. Ketiga, jika rambutnya ikal hitam artinya hangat sifatnya. Keempat, jika warna tubuhnya putih berarti sejuk dan banyak darah kotor (balgham). Tanda hangat banyak darah, putih-merah warna tubuhnya. Tubuh yang berwarna gandum atau kuning berarti panas. Kelima, melihat anggota badan. Bila otot lebar (urat rayek)kelihatan pada tangan dan kaki berarti bersifat panas. Kalau tidak kelihatan, berarti sebaliknya (sejuk). Keenam, melihat pada pekerjaannya. Kalau ia lincah bekerja,  berarti bersifat pana. Ketujuh, menilik kelakuannya. Jika sedang-sedang saja berarti sejuk sifatnya. Kedelapan, memeriksa keadaan tidurnya. Kalau tidurnya banyak, berarti sejuk dan basah sifatnya. Bila jaganya lebih banyak dari tidur nyenyak, berarti hangat dan kering sifatnya. Namun, jika tidur dan bangunnya pertengahan adalah akhar sifatnya. Kesembilan, memeriksa air kencing dan najis/beraknya. Kalau sangat berbau dan merah pula warnanya, maka panas sifatnya. Jika tanda-tanda itu tak ada berarti sejuk. Kesepuluh, memperhatikan perilaku tabib yang mengobatinya. Bila ia memiliki akal dan pemahaman yang tajam berarti ia bertabiat/sifat panas.

Konsep pengobatan yang dianjurkan kitab lama ini, bahwa penyakit yang bersifat panas harus diobati dengan obat yang sejuk. Sebaliknya, penyakit yang bertabiat sejuk perlu diobati dengan obat yang panas. Demikian pula, sakit yang bersifat kering harus disembuhkan dengan obat yang basah. Sementara penyakit yang basah mesti diberi obat yang kering.

Sebagai orang yang awam di bidang dunia pengobatan, saya belum memahami prinsip-prinsip pengobatan yang “berlawanan” seperti yang dianjurkan kitab yang sudah berusia lebih dua abad itu. Dapat ditambahkan pula, bahwa kitab ini juga mengecam para tabib dan dukun yang mengobati orang sakit; sekedar untuk mencari keuntungan sendiri. Padahal orang yang diobatinya tak pernah sembuh, bahkan malah semakin parah. Sekarang pun, banyak pula dokter yang berwatak demikian.

Mudah-mudahan komentar pembaca ini mau ditangani oleh mereka yang ahli di bidang mendeteksi (diagnosa) penyakit!. Pertanyaaan lain, bisakah diagnosa ala “nenek moyang” ini dipertanggung-jawabkan keakuratannya secara “ilmiah” bagi bidang kedokteran???.

Dto

T.A. Sakti

== Malam Lanyan, 13 Haji 1417 H

20 April 1997 M

# “Nyak Amal kajeuet ‘eue!”

PENCERNAAN, DUA TEORI DARI DUA ZAMAN

Komentar Pembaca:

Pencernaan, Dua Teori dari Dua Zaman

Halaman Anak-Anak Serambi Indonesia, Minggu, 19 Januari 1997 memuat tulisan yang berjudul “Pencernaan Makanan Dimulai dari Mulut Kita”. Karangan itu kurang mendetil, karena hanya ditujukan kepada anak-anak. Namun demikian, secara garis besar memang disebutkan tahap-tahap peredaran makanan sejak dari mulut sampai ke pembuangan ampasnya.

Saya memiliki sebuah naskah “jameuen”/lama yang di dalamnya juga memuat proses pencernaan makanan pada manusia. Pada kesempatan ini, saya ingin membandingkan teori modern pencernaan makanan yang dijelaskan dalam harian Serambi tersebut di atas dengan teori kuno yang diuraikan dalam kitab yang telah dituliskan lebih dari 150  tahun (satu setengah abad). Kitab terjemahan Syekh Abbas Kutakarang itu berjudul”Kitaburrahmah Fitthib wal Hikmah”  berangka tahun 1266 H.

Mula-mula akan diringkas proses pencernaan makanan yang dimuat harian Serambi Indonesia. Setiba dalam mulut, makanan dikunyah dengan gigi dan bantuan air liur. Kemudian, makanan masuk ke lambung. Lambung segera mengeluarkan sekresi yaitu lender, asam hidroklorida, dan enzim-enzim tertentu seperti pepsi dan rennin pada anak-anak.

Dalam lambung, makanan bercampur dengan getah lambung dengan gerakan seperti mengocok. Akibatnya makanan menjadi suatu massa setengah cair, disebut chyme. Seterusnya,  makanan dihancurkan lagi di dalam usus dengan berbagai getah usus. Setelah sekitar 3-4 jam sejak kita makan, cairan chyme bergerak ke pintu usus halus. Dalam usus halus terjadi pencernaan lagi dan mulai diserap oleh tubuh. Sekresi yang paling berperan adalah dari sumber hati, pankreas dan usus itu sendiri.

Makanan yang sudah berbentuk cairan, kemudian diserap usus melalui berjuta-juta pipa penyodot yang disebut vili. Selesai diserap, maka berakhirlah proses pencernaan makanan, sekitar ampas-ampasnya dibuang melalui anus alias zubur.

Dengan menggunakan istilah-istilah yang lebih sederhana, Kitab terjemahan ulama Aceh tersebut di atas, memuat pula rangkaian proses pencernaan makanan dalam tubuh manusia. Setelah makanan masuk dalam perut/lambung?, maka datanglah “panas” ke situ untuk menghancurkannya. Makanan yang sudah cair tu dinamakan Kimus. Kemudian kimus ini bergerak ke dalam Kendi yang letaknya di sisi/di samping hati. Serta-merta datang pula ke dalam kendi berupa “panas”. Sekali lagi panas ini menghancurkan makanan. Cairan makanan pada tahap ini diberi nama Kilus.

Seterusnya, setelah cair yang bernama Kilus ini menjadi empat unsur,  yaitu: darah, dahak, shaghirak dan sauda. Darah yang bersifat/khasiat panas-kering ini tempatnya dalam empedu, sedangkan sauda yang bersifat sejuk-kering bertempat pada lemak tubuh kita. Fungsi sauda adalah mengikuti peredaran darah. Itulah sebagaian kutipan dari kitab Syair Aceh. Suatu kebiasaan saat sekarang, sebagian orang makan buah-buahan selepas makan nasi. Sebagai ‘pencuci mulut’ katanya. Sebaliknya/bertolak belakang dengan itu, kitab kesehatan tempo dulu menganjurkan kita makan buah-buahan sebelum makan nasi( lihat: Kitaburrahmah …terjemahan Syekh Abbas Kutakarang). Mengawali penjelasan proses pencernaan, kitab kuno ini juga menyebutkan bahwa sumber penyakit yang paling besar adalah makan minum kita yang tidak teratur (beradat) dan berlebih-lebihan. Ilmiahkah penjelasan naskah lama itu??? Mari kita tunggu jawaban dari para pakar kesehatan, gizi dan kedokteran!!.

Dto

T.A. Sakti

== Ahad, 12-12- 1417/20-4- 1997

= Aneuk tuha meu-Uroe Raya u gampong!

OBAT PENYAKIT LUPA: Lingkungan Hidup

Komentar Pembaca:

Obat Penyakit Lupa

Membaca rubrik Wanita Serambi Minggu, 30 Maret 1997 hlm. 3 yang berjudul “Gangguan Daya Ingat Gejala Demensia” dan berita rubrik wanita yang berjudul “Penyakit Lupa jangan Dianggap Enteng” (Serambi, 16 april 1995 halaman 3).Kedua info itu,  mengingatkan saya kepada seorang teman yang pernah mengalami gangguan daya ingat alias seorang pelupa, padahal umurnya sekitar 30 tahun.

Akibat kepalanya pernah terbentur pada benda keras– ditabrak mobil yang banyak mengeluarkan darah– serta mengalami stress kelas berat; akhirnya teman saya ini mengalami penyakit lupa hampir dua tahun. Dia hampir lupa segala-galanya. Pergi mandi, lupa membawa sabun mandi dan handuk. Atau sebaliknya lupa membawa pulang kedua benda itu selesai mandi. Kalau ia ke pasar/kios, sering lupa barang-barang yang hendak dibelinya. Bahkan, dalam pembicaraan yang berhadapan muka dengan orang lain, ia pun lupa pokok pembicaraan dengan teman bicaranya itu, sehingga terpaksa sering bertanya kepada kawan sepercakapannya.

Pada suatu hari seorang kenalan memberitahukannya supaya makan jahe atau minum air jahe (bahasa Aceh: halia) untuk obat penyakit lupanya. Setelah dilakukan sekitar dua bulan secara berkelanjutan, maka atas keizinan Allah SWT sembuhlah penyakit lupanya.

Ternyata, sang kawan yang memberitahukan obat lupa kepada teman saya; mengambil sumbernya dari Kitab Tajul Muluk (Tajol Mulok). Pada Kitab Tajol  Mulok cetakan Qahirah (Cairo – Mesir) tahun 1938, pembicaraan tentang jahe/halia sebagai obat lupa alias “menambah pengingat” disebutkan pada halaman 119.

dto

T.A. Sakti

Rabu, 2   April 1997.