KHANDURI TAMADDAROIH

Khanduri Tamaddaroih/WU

Oleh: T.A. Sakti

Bulan Puasa; merupakan bulan ibadah bagi ummat Islam. Selain berpuasa, masih banyak amalan lain yang amat dianjurkan melakukannya pada bulan ini; diantaranya ialah membaca(tadarus) Al Qur’an.

Sudah menjadi tradisi yang kuat sekali di Aceh -terutama tempo dulu- masyarakat di sana membaca Al Qur’an dalam bulan Ramadhan di Meunasah (Langgar). Tadarus yang dilaksanakan pada malam hari itu pesertanya adalah orang laki-laki dewasa dan anak-anak sekampung. Dalam semalam, biasanya waktu membaca AL Qur’an terbagi tiga tahap. Tahap pertama untuk kelompok anak anak, giliran kedua bagi orang dewasa berbagai umur. Sedang saat-saat menjelang dini hari dikhususkan untuk para qari yang memiliki suara merdu/nyaring. Pada lewat tengah malam inilah diperdengarkan berbagai irama/lagu dalam membaca Al Qur’an; seperti Lagu Pidie misalnya.             Salah satu hal yang menarik di sebagian tempat di Aceh, bahwa anak anak yang pernah ikut tadarrus di Meunasah, pada malam hari raya idul fitri diberikan uang oleh panitia zakat fitrah. Uang itu berasal dari hasil pengumpulan zakat fitrah bagian (senif) amil zakat. Tujuan/motif dari pemberian itu banyak; di antaranya adalah untuk membiasakan anak anak mengunjungi Meunasah dan juga agar mereka terdorong semangatnya agar lebih rajin belajar ditempat pengajian. Walaupun uang pemberian itu tidak seberapa, tapi buat seorang bocah cukup lumayan; sekedar uang jajan di hari Lebaran.

Pembacaan Al Qur’an ini dilakukan secara bergiliran dalam perkelompok. Seseorang membaca dua-tiga ayat,  setelah itu langsung diteruskan orang lain (meucok-cok ayat = saling membaca ayat-ayat). Begitulah terus berputar perkelompok sepanjang malam. Dengan cara demikian, selama bulan Ramadhan mereka dapat menamatkan (khatam) Al Qur’an 3-4  kali. Perayaan(acara syukuran) khatam Al Qur’an inilah yang dinamakan Khandari Tamaddaroih.

Setiap kali tamat/khatam, penduduk kampung setempat mengadakan acara khanduri tamaddaroih. Khanduri tamaddaroih per tama, bias Anya menjadi tanggungan Teungku Peutua/Teungku Imum Meunasah(Imam desa). Modalnya diambil dari hasil sawah, kebun dan harta lainnya milik Meunasah/Meulasah, yang hak usahanya dipegang Imam desa. Semua Kakayaan ini disebut hareuta meusara Meunasah( harta modal Meunasah).

Untuk kali kedua, pelaksanaannya menjadi kewajiban kepala kampung (Keuchik), sedang kali ketiga dan seterusnya atas kerelaan tokoh-tokoh masyarakat, baik secara patungan maupun perorangan.

Perlengkapan khanduri tamaddaroih adalah beberapa baki-talam nasi beserta lauk pauknya. Jumlah hidangan kira-kira cukup untuk santapan orang laki-laki dewasa dan anak-anak dalam satu desa. Beras dan lauk-pauk yang di persiapkan bagi acara syukuran itu tentu saja yang bermutu istimewa. Tetapi peralatan tempat makan sangat sederhana,khusus ala desa: yakni daun pisang. Berikat-ikat daun pisang dibagi-bagikan menu rut jumlah penduduk yang hadir. Hanya orang-orang patut (ureueng ukok-ukok) setempat atau tamu undangan yang makan dalam piring saat itu.

Sekarang, acara khanduri tamaddaraoih umumnya diadakan bersamaan “buka puasa bersama” di Meunasah. Tetapi tempo dulu biasanya

dilangsungkan pada saat makan sahur dinihari. Sebelum tiba hidangan kenduri, anak-anak muda melakukan “Grob Tamaddaroih”, yakni tarian tadarus yang merupakan pernyataan gembira-bangga atas tamatnya mereka tadarus Al Qur’an di Meunasahnya. Kini, di era melimpahnya hiburan bagi kalangan muda; Grob Tamaddaroih sudah punah  dan khanduri tamaddaroih pun langka!!!

( T.A. Sakti).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s