KHANDURI APAM – Tradisi Makan Kue Serabi pada Bulan Rajab di Aceh

Khanduri Apam/WU

Oleh: T.A. Sakti

BULEUEN APAM adalah salah satu dari nama-nama bulan dalam “Almanak Aceh”, yang setara dengan bulan Rajab dalam Kalender Hijriah. ‘Buleuen’ artinya bulan, sedangkan ‘Apam’ berupa sejenis makanan yang mirip Serabi.

Kenapa disebut buleuen Apam?. Karena, memang sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh, bahwa bila buleuen Apam tiba mereka mengadakan “Khanduri Apam”/Kenduri Serabi. Dulu, tradisi ini paling populer di kabupaten Pidie. Mungkin karena itu pula; sangat terkenal bagi orang di luar kabupaten itu sebutan”Apam Pidie”. Selain di Pidie, di Aceh Utara, Aceh Besar dan beberapa kabupaten lain juga dikenal tradisi ini; walaupun dengan tatacara yang berbeda.

Kegiatan Tot Apam(memasak Apam) dilakukan oleh kaum ibu di desa. Kadang-kadang sendirian, tetapi lebih sering secara berkelompok antara beberapa orang ibu rumah tangga. Pekerjaan per tama dari usaha ini “Top tupong breuh bit”(menumbuk tepung dari beras nasi). Tepung ini tak perlu dijemur, tapi langsung dicampur santan kelapa dalam sebuah beulangong raya(periuk besar).  Campuran ini direndam  paling kurang tiga jam, agar Apam yang dimasak nanti menjadi lembut. Adonan yang sudah sempurna ini kemudian diaduk kembali sehingga menjadi cair. Cairan tepun inilah yang diambil dengan Aweuek/iros untuk dituangkan ke wadah memasaknya, yakni Neuleuek berupa Cuprok Tanoh(pinggan tanah). Dulu, Apam tidak dimasak dengan kompor atau kayu bakar, tetapi dengan on ‘ue tho(daun kelapa kering–malah orang-orang percaya bahwa Apam tidak boleh dimasak selain dengan on “ue tho ini!!!). Masakan Apam yang dianggap baik, yaitu bila permukaannya berlobang-lobang seperti lobang pada kaus lampu strongking, sedang bagian belakangnya tidak hitam dan rata(tidak bopeng). Apam yang bopeng disebut diklokle Burong(dicubit Kuntilanak).

Apam paling sedap bila dimakan dengan kuahnya, yang disebut “Kuah Tuhe”, yang berupa masakan santan dicampur pisang klat barat(sejenis pisang raja) atau nangka masak serta gula. Bagi yang elergi kuah tuhe mungkin karena luwihnya(gurih); kue Apam dapat pula dimakan bersama kukuran kelapa yang dicampur gula. Bahkan hanya dengan memakan Apam saja(seunge Apam), yang dulu di Aceh Besar disebut “Apam beb”. Selain dimakan langsung, dapat juga Apam itu direndam beberapa lama ke dalam kuahnya sebelum dimakan. Cara demikian; orang menyebutnya “Apam Teuth’op”. Setelah semua kuahnya habis dihisap; barulah Apam itu dimakan. Apam Teuth’op itu sedapnya bukan main. Pokoknya sedaaap….deh!!!.

Begitulah, Apam yang telah dimasak bersama lauknya; siap dihidangkan kepada para tamu yang sengaja dipanggil/diundang ke rumah. Dan siapapun yang lewat/melintas di depan rumah, pasti sempat menikmati hidangan”Khanduri Apam” ini. Bila mencukupi, kenduri Apam juga diantar ke Meulasah(surau di Aceh) serta kepada  para keluarga yang tinggal di kampung lain. Begitulah, acara Tot Apam diadakan dari rumah ke rumah atau dari kampung ke kampung lainnya selama buleuen Apam(bulan Rajab) sebulan penuh.

Asal-usulnya

Menurut penuturan orang-orang tua, asal mula dari tradisi Khanduri Apam ini adalah berasal dari seorang sufi yang amat miskin di Tanah Suci Mekkah. Si miskin yang bernama Abdullah Rajab adalah seorang zahid yang sangat taat pada agama Islam. Berhubung amat miskin, ketika ia meninggal tidak satu biji kurma pun yang dapat disedekahkan orang sebagai kenduri selamatan atas kematiannya. Keadaan yang menghibakan/menyedihkan hati itu; ditambah lagi dengan sejarah hidupnya yang sebatangkara, telah menimbulkan rasa kasihan masyarakat sekampungnya untuk mengadakan sedikit kenduri selamatan di rumah masing-masing. Mereka memasak Apam untuk disedekahkan kepada orang lain. Itulah ikutan tradisi Tot Apam(memasak Apam); yang sampai sekarang masih dilaksanakan masyarakat Aceh; walaupun tidak semeriah tempo dulu!!. Apakah tragedi Abdullah Rajab benar-benar pernah terjadi, hingga kini belum pernah diselidiki orang; hanya Wallahu’aklam!!.

Selain pada buleuen Apam(bulan Rajab);  dulu kenduri Apam juga diadakan pada hari kematian. Ketika si mayat telah selesai dikebumikan, semua orang yang hadir dikuburan disuguhi dengan kenduri Apam. Apam di perkuburan ini tidak diberi kuahnya. Hanya dimakan dengan kukuran kelapa yang diberi gula(dilhok ngon U).

Tempo dulu, Khanduri Apam juga diadakan di kuburan setelah terjadi gempa hebat– seperti gempa tsunami, hari Minggu, 26 Desember 2004 misalnya–. Tujuannya, sebagai upacara Tepung Tawar(peusijuek) kembali bagi famili mereka yang telah meninggal. Akibat gempa besar; boleh jadi si mayat dalam kubur telah bergeser tulang-belulangnya. Sebagai turut berduka-cita atas keadaan itu; disamping memohon rahmat bagi si mati, maka diadakanlah khanduri Apam tersebut.

Sehubungan dengan kenduri Apam, dulu populer pula istilah “Apam Lam Peuluman”. Peuluman adalah bejana tempat cuci tangan  bagi orang yang mau makan tempo dulu. Istilah Apam Lam Peuluman; dikiaskan kepada orang yang berwatak pendiam atau tenang-tenang,tapi menghanyutkan….berbahayaaa!!!.

T.A. Sakti

7 Rajab 1430 H

Catatan: Setiap tulisan yang ditandai /WU pada judulnya berarti artikel/syair itu pernah dimuat dalam Buletin WARTA UNSYIAH antara November 2006 sampai

Januari 2010 M. WARTA UNSYIAH adalah media publikasi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Aceh, Indonesia.

Iklan

7 pemikiran pada “KHANDURI APAM – Tradisi Makan Kue Serabi pada Bulan Rajab di Aceh

  1. sangat menarik,,saya menyukai budaya…namun sedikit harapan, ya referensi atau sumber info yg didapat agar bisa lebih diperjelas,misalnya saja dari siapa info itu didapat,,, jadi tidak terkesan cerita karangan pribadi saja

  2. Assalammualaikum.. Saudara Ku
    Apam / Opom
    Kenuri apam itu bahasa aceh, kalau kami kluet selatan kenuri opom di lakukan pada bulan rajab juga, kenuri apam dan kenuri opom itu tidaklah berbeda, kedua kenuri tersebut sama baik makanan maupun cara kenurinya, hanya saja kuah kue tersebut yang berbeda. kebiasaannya kenuri opom/apam di kluet selatan dilaksanakan sekalian mendengarkan ceramah tentang israk mikratnya Nabi Muhammad SAW.
    menurut cerahmah Tgk. Musliadi Aldi dari Pasantren Abu Cut menjelas kan asal mula kata apam/opom itu dari kata afuan=pengampunan, mengepa kata afuan bisa berubah menjadi opom dan apam…?
    setiap bahasa dialeknya berbeda-beda. kemudian Tgk juga memberikan contoh.. lahir seorang anak di berikan nama ismail oleh orang, setelah si anak besar nama ismail kalau tersebut jika di tinggal di kalangan orang berbahasa Aceh maka akan berubah menjadi si ma e… benar kah itu saudara ku..? kemudian kalau si ismail tinggal nya di daerah kluet selatan khusus zona anak jame.. nama ismail akan berubah lagi di pangil mail tidak jarang yang berubah menjadi main… bearti kalau nama kita wahyudin bisa-bisa di panggil wah….wahhh tu.
    Indonesia ini kaya dengan Bahasa, yang menjadi pemikiran saya saat ini apa sebutan untuk kueh apam atau opom bagi bahasa lain yang ada di Indonesia.. kok ada yang tau kasih tau ya..
    saya rasa untuk sebutan Khanuri alangkah indah jika kita sebutkan khanuri Israk Mirat Nabi Muhammmad SAW.
    kueh boleh berbeda Tapi Khanurinya tetap mengenang Peristiwa Israk Mirat Nabi Muhammmad SAW.

    Dengan Budaya mari ta peutupat banja…
    Dengan belajar Agama Mari tatingkatkan Iman dan Takwa..

    waaallahufiunil Abdi Makanal Abdu fi aunil Aqhihi
    Wassalammu Alaikum Warah Matullahi Wabarakhatu

    Syahid Bin Ali

  3. wow… pah that, lon teungoh pajoh apam dan teungoh mita asal usul khanduri apam

  4. maaf pak or bang saya rasa ada tertinggal tata cara buat apam ini kelapanya bukan santan saja(santan pertama) tapi juga dimasukan kelapa yang belum diremas trus diaduk dan didiamkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s