TUKOK JOK TUKOK U, NA BUET NA BU

Tukok Jok Tukok U, Na Buet Na Bu!/WU

Oleh: T.A. Sakti

Etos budaya Aceh pada dasarnya/aslinya amat menghargai orang- orang yang rajin bekerja. Sebaliknya sangat benci kepada orang malas. Lukisan sikap budaya Aceh terhadap kedua jenis perilaku manusia ini, tercermin lewat kristal-kristalbudaya yang masih diwariskan. Penghargaan kepada mereka yang jeumot (rajin) sering tersentil dalam percakapan sehari-hari. “Nyang meurot cit Leumo teumbon!”( Orang kaya, memang orang yang rajin!). Para pedagang obat pada Uroe Gantoe /Hari Pekan-seminggu sekali- selalu mengawali gelaran dagangannya dengan Hadih Maja/pepatah : “Tapak jak urat nari, na tajak na raseuki!”(Kaki berjalang-jalan melenggang, insya Allah rezeki pun datang!). Kesadaran kerja ini berlandaskan iman, yang berkeyakinan bahwa Allah Swt. Telah ‘menaburkan’ rezeki segenap makhlukNya ke muka bumi. Kewajiban manusialah berusaha dan berikhtiar untuk mendapatkannya. “Meunye hana tatem mita, pane atra rhot di manyang” (Kalau bukan lewat usaha, tak mungkin harta jatuh dari langit). Bila mendambakan keberhasilan, berusahalah sekuat tenaga, peras keringat, banting tulang; sebab tak sesuatu pun bisa diperoleh secara gratis. “Raseuki ngen tagagah, tuwah ngen tamita. Tuwah meubagi-bagi, raseuki meujeumba-jeumba!”(Rezeki harus diusahakan, keberuntungan/tuah mesti dicari. Tapi keberuntungan setiap orang berbeda-beda). Pepatah Aceh di atas mengajarkan, bahwa dalam soal untung atau malang nasib seseorang itu, takdir Tuhan juga berperan.. Ini pernyataan iman, dan sangat penting untuk mencegah rasa putus asa; akibat kecewa jika ditimpa kerugian, kemalangan atau musibah tak terduga dalam kegiatan berusaha. Tapi yang jelas, “Meugrak jaroe, meu-ek igoe “( Singsingkan lengan, dapatlahmangan/makan). Sikap budaya Aceh yang membenci pemalas, juga banyak tercermin dalam penuturan masyarakat. “Peue dale kho siuroe seuntoek, kon tabeudohlaju tajak mita boh-boh sidom!” (Kerjamu melulu hanya nongkrong sepanjang waktu, kan lebih baik segera berangkat mencari ‘telur-telur semut’). “Bak sibeu-o uteuen pi luah, bak si malaih raya that dawa!”(Watak sipemalas adalah mengelak kerja dengan bertengkar; mencari-cari alasan). Kesemua pepatah Aceh itu adalah sindiran tajam yang “menusuk hati” bagi pendengar yang berprilaku demikian. Lebih-lebih bila yang menyindirnya orang-orang yang amat diseganinya, seperti mertua, orangtua, dan isteri. Malah dalam ‘Hikayat Ranto” diungkapkan, bahwa sindiran-sindiran itulah tempo doelu yang menyebabkan banyak warga Pidie tergerak merantau ke belahan barat Aceh, yakni ke suatu tempat yang dikenal “Blang Pidie” sekarang. Salah satu contoh sindiran mertua yang amat berkesan buat sang menantu begini :”cuih, cuih, cuih; ka beudoh hai Leumo, peue ka eh trok ‘an cot uroe!. Pajan cit ka meurot!”(cis,cis,cis, bangunlah hai Lembu, sudah tengah hari, kapan lagi kau cari makan). Demikian celoteh sang mertua; sambil melempari sesuatu ke bawah kolong rumah Acehnya; yang memunculkan bunyi “geureukham-geureukhummm!!. Masih amat banyak ungkapan lainnya yang bernada meremehkan si pemalas. “Hana peue shot buleuen ngen ujong sadeuep!”(Tak usah menjolok bulan dengan ujung sabit). Ungkapan ini disindirkan kepada orang-orang yang sering duduk termenung/melamun. “Bek preh dahoh”(Jangan hanya menunggu me lulu, berusahalah!). “Peue preh geuleupak gob top”(Jangan hanya mengharap belas kasihan orang). Namun masih ada ‘pernyataan budaya Aceh” yang mungkin paling ekstrim tentang tanggung-jawab berkehidupan di dunia ini. Besar kemungkinan, ungkapan itu keluar dari pimpinan yang memiliki banyak anak buah atau pekerjanya seperti toke atau mandor. “Tukok Jok Tukok U, na buet na bu!”(Pelepah enau pelepah kelapa, baru bisa makan kalau sudah kerja). Sungguh sadis!!!. Biarpun didorong  pupuk budaya kerja, yang menyanjung orang yang rajin serta ‘mengutuk’ si pemalas; bukan berarti sang pemalas tidak mempunyai sandaran kemalasannya. Diantara petitih yang mendukung sifat malas, yaitu : “Atra sikai hanjeuet sicupak, barang ho tajak kadumnan kada!”(Soal rezeki sudah ditentukan Tuhan, tak bisa diubah). Hadirnya ungkapan ini bersumber dari kumpulan kekecewaan. Akibat gagal yang bertubi-tubi, yang tak mapu diatasi. Mulai dari sinilah berkecambahnya sifat malas menodai seseorang. Namun, jika ‘penyakit malas’ mendapat obat mujarab selagi dini, besar kemungkinan akan bisa normal kembali. Insya Allah!! ( T.A. Sakti ).

*Catatan: Sumber WARTA UNSYIAH, edisi 121/November 2009, rubrik Sastra-Budaya.

Iklan

SAMBOET PUWASA

Samboet Puwasa/WU

Oleh: T.A. Sakti

Alhamdulillah syuko keu Tuhan

Buleun Ramadhan jinoe ka teuka

Buleuen ‘ibadat umat Islam

Inong ngon agam leubeh takeuwa

Tapeubuet suroh peujeuoh larang

Buleun Ramadhan le that seumpeuna

Peulom di Aceh teungoh geutrapkan

Syariat Islam beutrang meucahya

Teuingat tanyoe dile saboh jan

Buleun Ramadhan ramphak lagoina

Meunasah peunoh uroe  ngon malam

Tadarroih Qur’an tuha ngon muda

Peutamat daroih riyoh ngon garang

Khanduri sinan pajoh bu poh sa

Meulele asa watee rab geubang

Ureueng meureuntang buka puasa

Ureueng peh tambo a-o su kiyam

Dum meuen Cabang jan uroe teuka

“Udep Meunasah”  uroe ngon malam

Jinoe lagee nyan han pat tamita

Nibak watee nyoe ka meulaen ban

Meunasah suram buleuen Puwasa

Hanya dua-lhee ureueng beuet Qu’ran

Teuraweh garang bak phon puwasa

Bak toe Meunasah keude meureuntang

Jibuka malam mulai sinja

Hanasoe sudi hanale nyang tham

Ka meunan-meunan atoran hana!

Ureueng meukhem-khak “meupikak” sinan

Ureueng beuet Qur’an   tok-tok  sa-duwa!!!

Catatan

Seumpeuna =mengambil berkat,  manfaat, faedah

Saboh jan = suatu masa

Meulele  asa = menjelang maghrib

Cabang = catur ala Aceh yang sudah punah!

Poh sa = pukul satu malam

TA Sakti

KHANDURI TAMADDAROIH

Khanduri Tamaddaroih/WU

Oleh: T.A. Sakti

Bulan Puasa; merupakan bulan ibadah bagi ummat Islam. Selain berpuasa, masih banyak amalan lain yang amat dianjurkan melakukannya pada bulan ini; diantaranya ialah membaca(tadarus) Al Qur’an.

Sudah menjadi tradisi yang kuat sekali di Aceh -terutama tempo dulu- masyarakat di sana membaca Al Qur’an dalam bulan Ramadhan di Meunasah (Langgar). Tadarus yang dilaksanakan pada malam hari itu pesertanya adalah orang laki-laki dewasa dan anak-anak sekampung. Dalam semalam, biasanya waktu membaca AL Qur’an terbagi tiga tahap. Tahap pertama untuk kelompok anak anak, giliran kedua bagi orang dewasa berbagai umur. Sedang saat-saat menjelang dini hari dikhususkan untuk para qari yang memiliki suara merdu/nyaring. Pada lewat tengah malam inilah diperdengarkan berbagai irama/lagu dalam membaca Al Qur’an; seperti Lagu Pidie misalnya.             Salah satu hal yang menarik di sebagian tempat di Aceh, bahwa anak anak yang pernah ikut tadarrus di Meunasah, pada malam hari raya idul fitri diberikan uang oleh panitia zakat fitrah. Uang itu berasal dari hasil pengumpulan zakat fitrah bagian (senif) amil zakat. Tujuan/motif dari pemberian itu banyak; di antaranya adalah untuk membiasakan anak anak mengunjungi Meunasah dan juga agar mereka terdorong semangatnya agar lebih rajin belajar ditempat pengajian. Walaupun uang pemberian itu tidak seberapa, tapi buat seorang bocah cukup lumayan; sekedar uang jajan di hari Lebaran.

Pembacaan Al Qur’an ini dilakukan secara bergiliran dalam perkelompok. Seseorang membaca dua-tiga ayat,  setelah itu langsung diteruskan orang lain (meucok-cok ayat = saling membaca ayat-ayat). Begitulah terus berputar perkelompok sepanjang malam. Dengan cara demikian, selama bulan Ramadhan mereka dapat menamatkan (khatam) Al Qur’an 3-4  kali. Perayaan(acara syukuran) khatam Al Qur’an inilah yang dinamakan Khandari Tamaddaroih.

Setiap kali tamat/khatam, penduduk kampung setempat mengadakan acara khanduri tamaddaroih. Khanduri tamaddaroih per tama, bias Anya menjadi tanggungan Teungku Peutua/Teungku Imum Meunasah(Imam desa). Modalnya diambil dari hasil sawah, kebun dan harta lainnya milik Meunasah/Meulasah, yang hak usahanya dipegang Imam desa. Semua Kakayaan ini disebut hareuta meusara Meunasah( harta modal Meunasah).

Untuk kali kedua, pelaksanaannya menjadi kewajiban kepala kampung (Keuchik), sedang kali ketiga dan seterusnya atas kerelaan tokoh-tokoh masyarakat, baik secara patungan maupun perorangan.

Perlengkapan khanduri tamaddaroih adalah beberapa baki-talam nasi beserta lauk pauknya. Jumlah hidangan kira-kira cukup untuk santapan orang laki-laki dewasa dan anak-anak dalam satu desa. Beras dan lauk-pauk yang di persiapkan bagi acara syukuran itu tentu saja yang bermutu istimewa. Tetapi peralatan tempat makan sangat sederhana,khusus ala desa: yakni daun pisang. Berikat-ikat daun pisang dibagi-bagikan menu rut jumlah penduduk yang hadir. Hanya orang-orang patut (ureueng ukok-ukok) setempat atau tamu undangan yang makan dalam piring saat itu.

Sekarang, acara khanduri tamaddaraoih umumnya diadakan bersamaan “buka puasa bersama” di Meunasah. Tetapi tempo dulu biasanya

dilangsungkan pada saat makan sahur dinihari. Sebelum tiba hidangan kenduri, anak-anak muda melakukan “Grob Tamaddaroih”, yakni tarian tadarus yang merupakan pernyataan gembira-bangga atas tamatnya mereka tadarus Al Qur’an di Meunasahnya. Kini, di era melimpahnya hiburan bagi kalangan muda; Grob Tamaddaroih sudah punah  dan khanduri tamaddaroih pun langka!!!

( T.A. Sakti).

KHANDURI APAM – Tradisi Makan Kue Serabi pada Bulan Rajab di Aceh

Khanduri Apam/WU

Oleh: T.A. Sakti

BULEUEN APAM adalah salah satu dari nama-nama bulan dalam “Almanak Aceh”, yang setara dengan bulan Rajab dalam Kalender Hijriah. ‘Buleuen’ artinya bulan, sedangkan ‘Apam’ berupa sejenis makanan yang mirip Serabi.

Kenapa disebut buleuen Apam?. Karena, memang sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh, bahwa bila buleuen Apam tiba mereka mengadakan “Khanduri Apam”/Kenduri Serabi. Dulu, tradisi ini paling populer di kabupaten Pidie. Mungkin karena itu pula; sangat terkenal bagi orang di luar kabupaten itu sebutan”Apam Pidie”. Selain di Pidie, di Aceh Utara, Aceh Besar dan beberapa kabupaten lain juga dikenal tradisi ini; walaupun dengan tatacara yang berbeda.

Kegiatan Tot Apam(memasak Apam) dilakukan oleh kaum ibu di desa. Kadang-kadang sendirian, tetapi lebih sering secara berkelompok antara beberapa orang ibu rumah tangga. Pekerjaan per tama dari usaha ini “Top tupong breuh bit”(menumbuk tepung dari beras nasi). Tepung ini tak perlu dijemur, tapi langsung dicampur santan kelapa dalam sebuah beulangong raya(periuk besar).  Campuran ini direndam  paling kurang tiga jam, agar Apam yang dimasak nanti menjadi lembut. Adonan yang sudah sempurna ini kemudian diaduk kembali sehingga menjadi cair. Cairan tepun inilah yang diambil dengan Aweuek/iros untuk dituangkan ke wadah memasaknya, yakni Neuleuek berupa Cuprok Tanoh(pinggan tanah). Dulu, Apam tidak dimasak dengan kompor atau kayu bakar, tetapi dengan on ‘ue tho(daun kelapa kering–malah orang-orang percaya bahwa Apam tidak boleh dimasak selain dengan on “ue tho ini!!!). Masakan Apam yang dianggap baik, yaitu bila permukaannya berlobang-lobang seperti lobang pada kaus lampu strongking, sedang bagian belakangnya tidak hitam dan rata(tidak bopeng). Apam yang bopeng disebut diklokle Burong(dicubit Kuntilanak).

Apam paling sedap bila dimakan dengan kuahnya, yang disebut “Kuah Tuhe”, yang berupa masakan santan dicampur pisang klat barat(sejenis pisang raja) atau nangka masak serta gula. Bagi yang elergi kuah tuhe mungkin karena luwihnya(gurih); kue Apam dapat pula dimakan bersama kukuran kelapa yang dicampur gula. Bahkan hanya dengan memakan Apam saja(seunge Apam), yang dulu di Aceh Besar disebut “Apam beb”. Selain dimakan langsung, dapat juga Apam itu direndam beberapa lama ke dalam kuahnya sebelum dimakan. Cara demikian; orang menyebutnya “Apam Teuth’op”. Setelah semua kuahnya habis dihisap; barulah Apam itu dimakan. Apam Teuth’op itu sedapnya bukan main. Pokoknya sedaaap….deh!!!.

Begitulah, Apam yang telah dimasak bersama lauknya; siap dihidangkan kepada para tamu yang sengaja dipanggil/diundang ke rumah. Dan siapapun yang lewat/melintas di depan rumah, pasti sempat menikmati hidangan”Khanduri Apam” ini. Bila mencukupi, kenduri Apam juga diantar ke Meulasah(surau di Aceh) serta kepada  para keluarga yang tinggal di kampung lain. Begitulah, acara Tot Apam diadakan dari rumah ke rumah atau dari kampung ke kampung lainnya selama buleuen Apam(bulan Rajab) sebulan penuh.

Asal-usulnya

Menurut penuturan orang-orang tua, asal mula dari tradisi Khanduri Apam ini adalah berasal dari seorang sufi yang amat miskin di Tanah Suci Mekkah. Si miskin yang bernama Abdullah Rajab adalah seorang zahid yang sangat taat pada agama Islam. Berhubung amat miskin, ketika ia meninggal tidak satu biji kurma pun yang dapat disedekahkan orang sebagai kenduri selamatan atas kematiannya. Keadaan yang menghibakan/menyedihkan hati itu; ditambah lagi dengan sejarah hidupnya yang sebatangkara, telah menimbulkan rasa kasihan masyarakat sekampungnya untuk mengadakan sedikit kenduri selamatan di rumah masing-masing. Mereka memasak Apam untuk disedekahkan kepada orang lain. Itulah ikutan tradisi Tot Apam(memasak Apam); yang sampai sekarang masih dilaksanakan masyarakat Aceh; walaupun tidak semeriah tempo dulu!!. Apakah tragedi Abdullah Rajab benar-benar pernah terjadi, hingga kini belum pernah diselidiki orang; hanya Wallahu’aklam!!.

Selain pada buleuen Apam(bulan Rajab);  dulu kenduri Apam juga diadakan pada hari kematian. Ketika si mayat telah selesai dikebumikan, semua orang yang hadir dikuburan disuguhi dengan kenduri Apam. Apam di perkuburan ini tidak diberi kuahnya. Hanya dimakan dengan kukuran kelapa yang diberi gula(dilhok ngon U).

Tempo dulu, Khanduri Apam juga diadakan di kuburan setelah terjadi gempa hebat– seperti gempa tsunami, hari Minggu, 26 Desember 2004 misalnya–. Tujuannya, sebagai upacara Tepung Tawar(peusijuek) kembali bagi famili mereka yang telah meninggal. Akibat gempa besar; boleh jadi si mayat dalam kubur telah bergeser tulang-belulangnya. Sebagai turut berduka-cita atas keadaan itu; disamping memohon rahmat bagi si mati, maka diadakanlah khanduri Apam tersebut.

Sehubungan dengan kenduri Apam, dulu populer pula istilah “Apam Lam Peuluman”. Peuluman adalah bejana tempat cuci tangan  bagi orang yang mau makan tempo dulu. Istilah Apam Lam Peuluman; dikiaskan kepada orang yang berwatak pendiam atau tenang-tenang,tapi menghanyutkan….berbahayaaa!!!.

T.A. Sakti

7 Rajab 1430 H

Catatan: Setiap tulisan yang ditandai /WU pada judulnya berarti artikel/syair itu pernah dimuat dalam Buletin WARTA UNSYIAH antara November 2006 sampai

Januari 2010 M. WARTA UNSYIAH adalah media publikasi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Aceh, Indonesia.

CICEM DALAM BLANG – kisah binatang langka

CICEM DALAM BLANG

Oleh : T.A. Sakti

Cakeuek dalam blang watee ceumacah

Syehdin dipeugah sira jinari

Puteh ngon ijo bulee that indah

Cong rangkang teuhah kayem beurheunti

Jinoe jareueng that Cakeuek meutuwah

Tanle jisinggah bak rangkang Cotpi

Gadoih hiburan ureueng ceumacah

Peupuleh deuek-grah toet matahari

Cicem Keudidi bantu ceumacah

Bak ateueng patah sabe jinari

Keuphot-keuphot droe tanoh han bicah

Sang jih lam susah han harap keu bumi

Tarhom tanoh cak jipo silangkah

Dong ateueng patah lom-lom jinari

Jinoe ka langka Keudidi lincah

Alehho langkah euntah habisi

Meunan cit Tektek cicem blang bilaih

Hantom meurimbaih lam rumpun padi

Jipo meulet-let meu’en takgalah

Jisurak indah su jih sang bangsi

Jidong toe Nuring tatarek bagah

Jipo jisinggah umong Nek Hendi

Hai nyang lagee nyan cit tinggai kisah

Tektek nyang bilaih euntee han meukri

Sayang Ngang Dama raya ban gajah

Itam puteh klah bak takue jihna

Deungon Tang-Iriek cit meufarikah

Umong gob cacah jih nyang meudawa

Meuseunoh Linong Uleue ngon Seupah

Meureupah-reupah Cangguek dan Kala

Kuek bulee puteh meunan cit ulah

Mita nafakah lam blang rap pula

Meukawan-kawan takalon indah

Jan-jan nyang susah jibloh peunula

Ngon ureueng meu’ue si-iet sileupah

Di ikot langkah jan Keubeue geuba

Rame aneukmiet galak sileupah

Keu Kuek nyang indah puteh buleenya

Jikalon Kuek po aneukmiet tangah

Laju jikheun sah ca-e pusaka :

“Kuek saree-saree

Han kaweuek mate ban lhee

Kuek sadum-sadum

Han kaweuek mate bandum!!

Kuek saruek saruek

Mate Ma pat kaduek(?)

Kaduek cong Jeuraloh

Katoh boh saboh paruek!”

Allahu Rabbi Ilahon Ahad

Lethat latbatat jinoe hanle na

Tang-Iriek langka Ngang Dama tanpat

Kuek mata bulat  sangat jareueng na

Alehka musnah buet beude takat

Ji minah teumpat takot keu tuba

Sabab dalam blang “ie seumprot” lethat

Mate latbatat kon ulat saja!

Cicem Beureukiek teutiek mangat that

Han meuho bakat tanpat tamita

Ureueng theun jareng puseng ulee brat

Hanpat hareukat beungoh ngon sinja

Meunye baroekon gampong lon meuhat

Nyang na jareng jrat dua-lhee droe na

‘Oh Asa uroe ka geuduek pakat

Beureukiek geutangkap Blang paya mana

Yoh gohlom meughreb citka beurangkat

Seumayang meuhat bak ateueng data

Jikaple nyamok hanjeuet peunghambat

Ujeuen ngon kilat geulantoe suwa

Kadang ngon Burong meukong meuhadap

Ureueng ka batat yo keu Jen hana

Jan-jan Pancuri ili saho that

Bak jak meudhab-dhab sinan geutanda

Beureukiek popo lam blang luwah that

Meunyo ka mawot lam jareng teuka

Asoe sie Beureukiek meugah that mangat

Jinoe hai sahbat paleng that langka

Warong Bu Seulimeum jameun dimeukat

Dum Timu-Barat ureueng bloe teuka

Bak masa jinoe bahpih hawa that

Sie Beureukiek mangat hana sapatna

Ladom daerah deungo hai sahbat

Beureukiek mangat geuakui hana

Geuingat mantong ka teuka luwat

Sabab geulihat Glang-Ie jiseuba

Laen lom Ara cicem nyang kleuet that

Meuneu’en sapat lam blang rab pula

Kadang peunula jiphuk-phuk ngon jab

Bingkeng leupah brat ureueng po atra

Theun jareng Ara jareueng mustajab

Ara sulet that ceureudek raya

Baktreb-treb siblet jitem trok hajat

Roh lam peurangkap po cicem Ara

Rupa ban Itek mata jih bulat

Sie jih pih mangat rab sama rasa

Nasang ban lumpoe han meupat sasat

Dumnan langka that dicicem Ara

Tinggai nan gampong Mukim keu bakat

Geurasi teumpat Buloh Blang Ara

Sideh toe Bireuen lokasi teumpat

Ie Tarek jroh that kayem ie teuka!!

Kireman : T.A. Sakti

Banda Aceh

CICEM LAM GAMPONG – Burung dalam Kampung

CICEM LAM GAMPONG

Oleh : T.A. Sakti

 

Asslamu’alaikom lon buka pinto

Ca-e lon ato bak AcehTV

Kisah binatang  cit gohlom kundo

Nyangka le  mundo lam donya ini

 

Yoh ubit tanyoe ho nyang tatajo

Cicem meujudo meusu-meunari

Riyoh yoh beungoh subra ‘oh Luho

Di lampoh sawo Cempala Paki

 

Tapi lawet nyoe cicem ka talo

Tan meupat awo aleh ho lari(?)

Keu cicem jameun kisah ta ato

Aneukmiet baro mangat ji turi!!

 

Bineh Blang Pante nabak trieng teulo

Dilampoh Tuho timoh keumili

Keu cicem gampong  laju   ta ato

Simak rakan E beuhati-hati

 

Nyang paleng tari Rampineung Ijo

Nyang paleng beuhe Sirajawali

Geupeunan Tiwah tangkas bak tajo

Jitak Prak Ike ulee meusundi

 

Beurijuek Balee dicong teubee tho

Teungoh meututo riyoh han sakri

Jikheun po inong keu teungku linto

Sabe tan ako suami istri

 

Di Beurijuek Breuh kayem sijudo

Dong po pih saho umpeuen boh liki

Jitheun peulintek ka uleh Sido

Karoh ditajo meupak bak kaki

 

Na umpung Got-Got cong pineung ijo

Kayem bri kode ban beungoh hari

Riyoh jimeusu tanda ujeun ro

Bek jadeh Nek e neu adee kupi

 

Minyeuk Got-Got jeuet keu ubat baho

Patah tuleueng tho Tabib peugah kri

Aneukmit gampong sya-e diato

Deungo rakan E pusaka NINI

 

“Got-Got panyang iku

Geuleungku panyang mata

Nyang tabri han  dipajoh

Nyang tatroh dijak mita”

 

Cempala Paki dicong bak jok tho

Dikucie tahe disyen that tari

Umpeuen jih daruet ngon Ulat Ijo

Di Banda Aceh hallo “Ceumpala Taksi”

 

Dikucie shuboh mantong lam kaso

Sang-sang meututo aneuk ngon ummi

Jikheunle aneuk deungon su tilo

Bah tanyoe ato ji seuot ummi

 

“Ma kee ka jaga

Ka beudoh han jeut

Ma …keee ka jagaaaa!!

Ka beudoh hanjeut!!

 

Cempala Ekbam nyang leupah kuto

Tumpok ek leumo sinan meunari

Laen nibak nyan bangai ngon beu-o

Tan jeut jihiro umpung seundiri

 

Le Titlantahit boh jih proh jijho

Jikarom jinoe boh Titlantahit

Teuma watee ceh lomlom jihiro

Cempala Ekbam nyoe dipeungeuet bit bit

 

Dum Syekh beeula teugeuso-geuso

Cit hana tuwo lagu aneukmiet

Sira jinari jipeuko-peuko

Ka jikisah nyoe keu Titlantahit :

 

“Titlantahit

Rumoh raya pinto ubit

Hai Abu bek neumeukawen

Beuna neusyen kamoe ubit-ubit”

 

Kayem ’oh geupa geutop geuleupak

Khanduri ubak arwah lam kubu

Jinoe tapeugah keu cicem Ak-ak

Bulee that lagak itam meululu

 

Meunyoe u gampong ka teuka Ak-ak

Ureung le palak geurhom geutagu

Peunyaket manok jiba le Ak-ak

Meunan geurawakle Nek rot timu

 

Mate teudu-du teukeupak-keupak

Ta’uen bak Ak-ak gotthat meusyuhu

Aneuknmit cut-cut hate that palak

Jikheun keu Ak-ak ngat jiweh laju :

 

“Ak-ak mateMa ho kajak

Kajak ugle

Ku seubude bak tangkurak

Kajak bak kee

Ku seubee ngon  tanoh cak”

 

Citkon di gampong umpung di Ak-ak

Dari gle dijak ban turis lalu

Siblet-blet u gampong jilikak-likak

Digandoe bak utak ka jipo meupru

 

Su Kleueng jiklip-klip cong kayee ramphak

Peugah na awak nyang lob lam kubu

Jisama-sama sayeuep jikeupak

Kalon aneuk manok jeuoh ngon ibu

 

Kleueng Puteh Ulee bulee jih lagak

Kleueng Batee galak ukee that tincu

‘Oh jidrop Tupe jiklok bak utak

Meunyo Tiwah tak baro jih kuyu

 

Na sya-e Aceh leupah meusigak

Dianeuk manyak cit jeut keulagu

Kleueng Puteh Ulee kisah dua krak

Toe deungon jarak deungo hai Teungku  :

 

“Kleueng puteh ulee

Keulabee mirah mata

Jipo jeuoh-jeuoh

Jipiyoh di gampong Jawa

Gampong Jawa pihka tutong

Jak bloe bakong keu keureuja

Keureuja hana  jadeh

Linto weh malam jula

Pakon kaweh dikah Linto

Jeulamei le han lonba!!!

 

Kireman : T.A. Sakti

Banda Aceh

 

JAK LHOEH DARUET – Kisah tangkap belalang di malam-hari!

JAK LHOEH DARUET

Oleh : T.A. Sakti

Di gampong Bucue lethat bak buloh

Trok ureueng baroh makmeugang jakbloe

Daruet ngon cangguek pih tanle kiroh

Jan ujeuen jitoh seungab sinaroe

Musem luah  blang dan ujeuen jitoh

Ureueng seumeloh riyoh jeuep sagoe

Geujak lhoh daruet ngon panyot suloh

Lam pacok geuboh ladom lam kom dhoe

Peengeueh saboh blang hu suwa buloh

Meujan-jan kiroh Geuenteut peudeuh droe

‘Oh peunoh kaca malam poh siploh

Gisa u baroh manbandum geuwoe

Peusohle daruet lam tika iboeh

Nyang ladom geucroh reuboih sibagoe

Na daruet inong daruet t’uet haloh

Canggang minyeuk roh cangkadek duroe

Nyan kuah daruet wahe teungku beh

Tunong ngon baroh mangat silagoe

Meunyo kabeh bu bek kiroh-kiroh

Jeb kuah taboeh pih mangat tuloe

Kisah haba nyan hai teungku utoeh

Bit sunggoh-sunggoh dilee sabohroe

Bak masa jinoe cit katho reuloh

Kuah daruet beh  meusaket adoe

Meung keubit hawa dada sang putoeh

Lueng putu sunggoh di Pidie nyangtoe

Na kuah daruet sinan ‘oh shuboh

Dilee gob peugah baklon hai adoe

Pakon di cangguek nyang duek dalam coeh

Lam uteuen lampoh ka abeh paloe

Meunan cit daruet lamblang Puloloeh

Jareueng meureumpok malam ngon uroe

Haba gob peugah barat ngon baroh

Sang seumprot pade punca seumaloe

Geuseumprot gusong geuracon tikoh

Cangguek daruetkok bandum habeh bhoe

Soe meu’ue lam ngom dilee rakan beh

Mawa Ni baroh seutot cak sidroe

‘Oh disyen cangguek dalam reugam roh

Daruet geusampoh lam pacok pasoe

Keu aneuk Itek geubri jipajoh

Ngat puleh seungkoh rayek seureuloe

Bak saat jinoe dum Itek riyoh

Hek jipreh dang troh lhok nyang geujak bloe

Oh ujeuen jameun tadeungo kiroh

Cangguek meunujoh seurta meudike

Ladom meusya-e ladom meuratoh

Rata sagoe coeh P’E P’O bukanle

Sang-sang rapa-I  dikasyuk utoh

Sang nyum su ratoh Meunasah sagoe

Simalam beungoh tan putoh-putoh

Reuda jipiyoh watee cot uroe

Cangguek watee nyan lethat boh jitoh

Uroe meureutoh malam meukatoe

Ceh aneuk abiek meuribee meuploh

Iku jih putoeh ’oh lagee Ma droe

Mekr’ek-kr’ek cangguek keutanda geuboh

Bu sawo pajoh imsak karab toe

Ureung theun bace mangat rijang roh

Cangguek cit geuboh beupanyang taloe

Daruet ngen cangguek jinoe  rab putoih

Lam blang dalam loih tanle meupeudoe

Pakon lagee nyan hai Teungku utoeh

Lontuan han troh bak lon pham sidroe!!!

Kireman : T.A. Sakti

Banda Aceh