Kisah Sultan Iskandar Muda Menyerang Portugis Ke Malaka

:
Hikayat Malem Dagang :
Kisah Sultan Iskandar Muda Menyerang  Portugis ke  Malaka
Oleh : T.A. Sakti
Hikayat Malem Dagang adalah syair kepahlawanan Aceh. Isinya mengisahkan penyerangan Sultan  Aceh Iskandar Muda terhadap Portugis yang berkuasa di Malaka. Kerajaan Malaka ditaklukkan Portugis pada tahun 1511 M. Sultan Malaka dan keturunannya yang menyingkir; akhirnya mendirikan kerajaan Johor. Sekarang: Malaka dan Johor; keduanya merupakan dua negara bagian/provinsi  di Malaysia.
Adanya penyerangan Aceh terhadap Portugis  di Malaka adalah kenyataan sejarah, baik sebelum masa Sultan Iskandar Muda maupun disaat beliau berkuasa. Dalam disertasi sejarawan Perancis Denys Lombard; yang telah diterjemahkan,”Kerajaan Aceh -Jaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) juga dimuat daftar penyerangan Aceh ke Malaka, yaitu pada tahun : 1537,1547,1568,1573,1575,1582,1587,1606-Portugis menyerang Aceh dan benteng-benteng mereka masih bersisa di Krueng Raya-,1613,1615 – Aceh menyerang Johor, karena membantu Portugis-,1617- Aceh menyerang Pahang,karena bersekutu dengan Portugis,1623,dan tahun 1629 Masehi.  Fakta sejarah ini amat sedikit disinggung dalam sumber-sumber tertulis Aceh sendiri. Diantara yang secuil itu, Hikayat Malem Dagang-lah satu-satunya, walaupun sebutan Portugis tidak satu kali pun dicantumkan di dalamnya. Sementara dalam Hikayat Prang Peringgi(artinya, Hikayat Perang Portugis); sama sekali tidak menyinggung data-data sejarahnya,kecuali semangat jihad saja.
Karena Hikayat Malem Dagang (buat selanjutnya disingkat dengan HMD) bukanlah kitab/buku sejarah, maka muncullah beragam hasil analisis tentang para pelaku dalam kisah itu. Begitu pula mengenai waktu dan lokasi dalam cerita tersebut. Masalah pendapat-pendapat para pengkaji hikayat itulah yang diperbincangkan dalam tulisan ini.     Sejauh yang saya ketahui, bahwa  Dr. Snouck Horgronje adalah pengkaji paling awal mengenai HMD. Dalam bukunya yang sudah diterjemahkan “Aceh di Mata Kolonialis, jilid II; Snouck Hurgronje mengatakan HMD disusun tidak lama setelah peristiwa itu terjadi, yakni masih di abad ke 17 M.  Agaknya, naskah yang dikaji Snouck Hurgronje merupakan salinan-ulang yang oleh penyalinnya telah disesuaikan isinya dengan kondisi Aceh saat itu. Kata Snouck: diseluruh hikayat disebutkan bahwa  Raja Si Ujud yang dilawan Sultan Iskandar Muda adalah raja Belanda.
Pengkaji kedua juga bangsa Belanda,yakni DR.H.K.J.Cowan dengan bukunya “De Hikajat Malem Dagang” diterbitkan tahun 1933. Cowan juga menegaskan bahwa HMD dikarang pada abad ke 17. Nampaknya, naskah yang dikaji Cowan lebih tua, sehingga “Raja Si Ujud sebagai raja  Belanda belum dijumpai di dalam naskah itu.  Tahun 2006 naskah HMD  yang dimuat dalam buku “De Hikajat Malem Dagang” telah saya salin ke huruf Latin ejaan EYD, yang sebelumnya dalam ejaan Belanda. Tetapi sampai hari ini hasil transliterasi saya itu belum diterbitkan. Penulisan  oleh H.K.J.Cowan akan buku  ini terkesan amat serius, sehingga semua isi hikayat yang dalam bahasa Aceh telah diterjemahkan ke bahasa Belanda, disamping pembahasan isinya yang panjang lebar pula. Kajian  H.K.J.Cowan inilah yang saya pakai sebagai bahan utama tulisan ini. Lantaran  saya tidak bisa bahasa Belanda, karena itu saya mintalah bantuan penterjemahannya kepada sahabat saya Drs. Agus Supriyono,MA; Dosen  Fakultas Sastra,Undip-Semarang.                     Pengkaji ketiga HMD  adalah Prof.A.Hasjmy. Beliaulah yang memperkenalkan kembali HMD secara lebih meluas.Dengan merujuk dua buku Sejarah Johor dan Sejarah Pahang karya HajI Buyung Adil yang diterbitkan di Malaysia; A.Hasjmy  berkali-kali menulis tentang HMD. Diantara karya A.Hasjmy mengenaI HMD yang telah dimuat dalam berbagai buku/makalah ialah yang dimuat dalam buku “Seulawah Antologi Sastra Aceh-Sekilas Pintas” halaman 524-541; terbitan Yayasan Nusantara tahun 1995.Berbeda dengan dua pengkaji bangsa Belanda sebelumnya. A.Hasjmy berpendapat HMD dikarang Teungku Ismail bin Ya’kub alias Teungku Chik Pante Geulima pada tahun 1309 H. Pada pentup  HMD dalam buku “De Hikajat Malem Dagang”   yang ditulis/disalin  H.K.J.Cowan memang tercantum tahun 1309 H, tetapi saya lebih yakin tahun itu adalah tahun penyalinan ulang. Sebab, menyimak gaya penulisannya, maka saat penyusunan pertama HMD lebih tua dari tahun itu. Prof.A.Hasjmy juga mangikuti pendapat Hoesein Djajadiningrat; walaupun masih dengan nada ragu, bahwa yang disebut Raja Si Ujud dalam HMD adalah Sultan Alauddin Riayat Syah III, sultan  Johor; sedangkan Raja Raden ,yaitu Raja Abdullah alias Raja Seberang atau Raja Bungsu. Dalam buku  antologi tersebut di atas A.Hasjmy menulis begini :“Mungkin sekali yang dimaksud dengan Raja Si Ujud dan Raja Raden dalam Hikayat Malem Dagang adalah Sultan Alauddin Riayat Syah  III dan Raja Abdullah” Mengenai asal nama Raja Si Ujud, A.Hasjmy pada antologi yang sama juga menulis:”
Dalam sejarah Aceh, beliaulah yang dimaksud dengan “Raja Si Ujud“, mungkin sekali berasal dari “Raja Selayut“… karena pernah tinggal di Selayut.  Menurut saya, nama Raja Si Ujud , Raja Raden dan Putroe Beureuhut-isteri Si Ujud adalam nama-nama khayalan sipengarang HMD. Dalam bahasa Arab, “Wujud” artinya ada. Karena “raja” Portugis di Malaka tidak dikenal lagi, maka disebut saja “Raja itu memang ada alias Raja Si Ujud”. Begitu pula dengan Raja Raden. Akibat nama abang Raja Si Ujud tidak diketahui yang sebenarnya, maka digantikan saja dengan Raja Raden, suatu gelar kehromatan karena Raja Raden memihak Aceh, yakni gelar seorang bangsawan.  Sementara nama Putroe Beurehut, malah diberi nama yang menjelekkan. Beureuhut adalah lobang neraka di dunia. Mon Beureuhut(sumur beruhut) , menurut kitab Tambeh/nadham Aceh terdapat di wilayah Syam/. Irak.
Isi ringkas Hikayat Malem Dagang adalah sebagai berikut :
Seorang raja yang bernama Raja Raden alias Raja Meulaka  alias Raja Seberang alias Raja Bungsu bersama dengan isterinya  Puteri Pahang datang ke Aceh untuk memeluk agama Islam. Selanjutnya, diceritakan Raja Raden memberikan isterinya Puteri Pahang kepada Sultan Iskandar Muda sebagai hadiah. Sebaliknya, Sultan Iskandar Muda memberikan adiknya buat isteri Raja Raden. Tidak berapa lama kemudian, datang pula Raja Si Ujud alias Raja Johor alias Raja Banang alias Raja Guha alias Raja Meulaka ke Aceh. Ia adalah adik kandung Raja Raden.  Sultan Iskandar Muda membuat pesta besar-besaran menyambut tamu agungnya itu. Sebuah istana khusus dibuatkan di Ladong-Krueng Raya bagi Raja Si Ujud. Tetapi tamu itu ternyata curang. Raja Si Ujud méngajak  abangnya pulang ke Meulaka serta mengambil  kembali Puteri Pahang dan menceraikan isterinya, yang adik Sultan Iskandar Muda itu. Karena rencana jahatnya tidak direstui abangnya Raja Raden, maka ia melakukan keonaran di Aceh. Bersama para pengikutnya, Raja Siujud melakukan perampokan beberapa kampung di pantai, membakar Ladong dan Krueng Raya serta menawan puluhan nelayan. Setelah melampiaskan berbagai penyiksaan – seperti mengail orang di kelopak mata dan kerongkongan -; akhirnya berlayarlah Raja Si Ujud pulang ke negerinya.
Tetapi Raja Raden tetap percaya/setia kepada Sultan Iskandar Muda  dan ekspedisi untuk menghadapi Si Ujud dipersiapkan. Armadanya menyusuri sepanjang pantai utara dan timur Aceh, dimana-mana disiapkan bala bantuan, untuk akhirnya menyeberang ke Semenanjung Malaka. Sementara itu, dalam perjalanan terjadi pemilihan seorang yang bernama Malem Dagang menjadi Panglima Perang. Sesudah merebut Asahan dan mengunjungi Pahang, Sultan dengan sebagian orang (prajurit) Aceh berangkat ke Johor Lama, dan sementara itu dari sana si Ujud telah berangkat ke Johor Bali. Di Johor Lama tanpa menemui adanya perlawanan sedikitpun, dilakukan konsolidasi kekuatan dalam rangka menunggu kedatangan musuh, akan tetapi ternyata musuh tidak muncul. Malem Dagang dan armadanya tetap berada di laut sampai ia bertemu dengan armada musuh yang besar di Laut Banang, dimana ia melakukan perlawanan (pertempuran). Saat itu Sultan Iskandar Muda di Johor, 7 hari perjalanan kapal, dipanggil untuk  ambil bagian dalam pertempuran. Dalam pertempuran gugurlah panglima musuh,yaitu , ayah dari isteri Si Ujud, sehingga musuh melarikan diri. Si Ujud sendiri pada waktu itu masih di Guha. Ia memutuskan mundur dari pertempuran, tetapi  isterinya  mengobarkan semangat untuk membalas dendam atas kematian ayahnya.. Namun  ia tidak memperoleh kemenangan, bahkan ia ditangkap dan ditawan. Dalam perjalanan pulang ke Aceh telah dilakukan berbagai percobaan  untuk membunuh Raja Si Ujud yang menolak untuk memeluk agama Islam. Pertama-tama, percobaan pembunuhan itu dilakukan di laut kemudian di Aceh, tetapi gagal; karena ia memiliki  kekuatan magisnya yang hebat (sakti). Akhirnya,  atas petunjuknya sendiri ia dituangi kedalam mulutnya timah hitam cair (bara timah hitam yang meleleh), maka Raja Si Ujud pun  mati.  Diantara para pelaku kisah yang penting di pihak Aceh adalah Sultan Iskanda Muda,Puteri Pahang(Putroe Phang), Raja Raden, Malem Dagang, Ya Madinah/Ja Pakeh dan  Panglima Pidie. Sementara di pihak musuh, yakni Raja Si Ujud, Putroe Beureuhut, dan Mudalikah-Putroe Halawiyah  yang juga mertua Si Ujud.
Menurut data-data sejarah,  bahwa Raja Sebrang kawin dengan saudara perempuan Sultan  Iskandar Muda. Sejak itu, ia diharapkan menjadi teman  dalam membantu Aceh melawan Portugis.  Akan tetapi  ketika Sultan ini pulang kembali ke Johor  pada tahun 1614, ia telah dengan giat melakukan perundingan lagi  dengan Portugis. Tindakan yang kedua kalinya itu tidak memuaskan  orang-orang Aceh, sebab itulah  pada ekspedisi Aceh  yang kedua ia ditangkap kembali, lalu dibawa ke Aceh dan di bunuh di sana. .
Adalah penting untuk menyelidiki ekspedisi kedua ini secara lebih cermat. Armada Aceh
mendapati Johor telah ditinggalkan penduduknya. Dalam perjalanan pulang bertemu dengan armada Portugis di bawah pimpinan Miranda dan Mendoca, yang datang dari Malaka untuk membantu Johor tetapi dipukul mundur. Pertempuran ini diidentifikasi oleh Hoesein Djajadiningrat sebagai pertempuran yang disebutkan dalam Boetanus-Salatin, yaitu pertempuran  di Baning . Pada kesempatan itu  Sultan ditangkap kembali dan dibawa ke Aceh.
Jika data-data ini dibandingkan dengan cerita dari Hikayat  Malem Dagang, ternyata  ditemukan kesamaan. Dalam syair hikayat  disebutkan kedatangan dua raja bersaudara ke Aceh, yang antara lain bergelar sebagai raja-raja Johor. Menurut data-data historis demikian juga halnya. Bahwa kedatangan mereka ke  Aceh  tidak sepenuhnya secara sukarela. Dalam kedua versi itu juga disebutkan bahwa salah satu dari mereka kawin dengan adik perempuan  Sultan Iskandar Muda.dan satunya lagi pulang kembali ke Johor ,yang selanjutnya setelah banyak melakukan tindakan yang kurang berkenaan bagi orang-orang Aceh, ia ditangkap oleh ekspedisi dan dibunuh.                                                                                                                           Hal-hal yang khusus dari ekspedisi ini juga menunjukkan adanya kesamaan: dalam kedua peristiwa itu armada menemukan Sultan melarikan diri, dan oleh karena itu kota Johor diduduki. Dalam pertempuran berikutnya di Baning melawan Portugis dalam perjalanan pulang, ditemukan kembali dalam syair sebagai perang laut di “Laot Banang”. Bahkan namanya juga sama, pada mana harus dinyatakan bahwa “Baning” dan “Banang” sama-sama jenis hurufnya bila ditulis dalam karakter bahasa Arab.
Alasan kedatangan dua bersaudara di Aceh tidak disebutkan dalam HMD. Penulis syair hikayat   hanya  mengatakan bahwa Raja Raden pada suatu hari  datang dan diikuti oleh saudara laki-lakinya yaitu Si Ujud. Hanya beberapa bait yang memberikan episode ini, yang menceritakan bahwa Raja Raden datang untuk memeluk agama Islam. Tidak ada penjelasan lebih jauh bahwa ia berangkat ke Aceh dengan keperluan khusus. Bisa diperkirakan maksud kedatangannya yang sesungguhnya dirahasiakan ,sehubungan dengan perkawinannya dengan keluarga Sultan Aceh. Kedua raja itu dalam kenyataan sesungguhnya bukan  kafir, tetapi hanya melakukan  persekutuan antara Johor dengan Portugis.
Demikian juga penggambaran orang Aceh tidak  benar, antara syair dengan kenyataan adalah berbeda. Pada satu sisi perundingan-perundingan berlangsung di Aceh sebelum kembali ke Johor,sedangkan  pada sisi yang lain perundingan-perundingan terjadi di Johor sesudah kepulangan ke Johor itu. Akan tetapi tidak boleh diabaikan bahwa dalam syair kepahlawanan yang setengah lagendaris itu; kenyataan-kenyataan  historis telah kehilangan bentuk yang seharusnya. Kesesuaian secara keseluruhan atau bahkan pada bagian yang khusus/ penting saja tidak diperjelaskan..
Namun demikian,  nampaknya sangat bisa diterima bahwa inti dari HMD adalah pengiriman ekspedisi pada tahun 1615 ke Johor, dan itu adalah yang kedua.  Sebab Sultan yang di kembalikan ke Johor telah bersekongkol dengan Portugis.
Bagian awal syair adalah hasil dari ekspedisi pertama, yang berlangsung pada tahun 1613, yaitu kedatangan kedua raja yang di tawan itu di Aceh, tetapi dengan perbedaan, bahwa kedatangan ini dalam syair digambarkan sebagai kedatangan sukarela, dan diperkirakan bahwa tokoh Raja Raden dan Si Ujud menggantikan nama kedua raja tersebut.
Akan tetapi masih ada persoalan mengenai kedua raja itu, yaitu siapakah sesungguhnya yang Raja Raden dan yang Si Ujud itu. Jika mengikuti pendapat Hoesein Djajadiningrat; maka Sultan  AlaidinRiayat Syah III sendirilah sebagai Raja Si Ujud,,yang tidak lama sesudah penangkapannya diperbolehkan kembali ke negerinya, sementara Raja Abdullah (Raja  Sebrang) yang kawin dengan adik perempuan Sultan Iskandar Muda dan tetap tinggal di Aceh adalah Raja Raden.
Raja Sebrang dan Si Ujud = Alaidin. Akan tetapi hal itu bertentangan dengan pendapat Roeffaer, bahwa Raja Sebrang dikirim kembali /dipulangkan ke Johor sebagai pengganti saudara laki-lakinya, yang berarti itu adalah Raja Raden.
Alaidin dan Si Ujud = Raja Sebrang. Namun harus di sadari, meskipun suatu Epos itu berdasarkan pada peristiwa sejarah, harus diakui adanya karakter yang bersifat sangat lagendaris. Data-data darinya memang bisa diambil untuk mengisi kekosongan-kekosongan data dalam pengetahuan sejarah- yang untuk itu orang harus sangat berhati-hati.  Demikian juga hal itu ditemukan argumentasi yang mengkritisi HMD, yaitu pendapat Hoesein dan Rouffaer yang sebelumnya.
Pertama adalah adanya saling hubungan famili: Alaidin adalah kakak laki-laki Raja Sebrang . Kemudian.  salah satu nama dari Raja Sebrang berbunyi : “Raja Bungsu” yang berarti “termuda”. Demikian juga persaudaraan itu hanya bersifat pengakuan saja, sama yang seperti tersebut dalam Sejarah Melayu. Diperkirakan juga bahwa penangkapan hubungan persaudaraan adik dan kakak ini karena yang terakhir itu adalah yang sesungguhnya  sebagai raja yang memerintah. Hal ini banyak sekali disebutkan  dalam Sejarah Melayu. Dalam HMD Si Ujud memanggil Raja Raden dengan sebutan “dalem” yaitu berarti abang atau “saudara tua” dan sebaliknya Raja Raden memanggil Si Ujud dengan sebutan “adoe” yang berarti adik atau  “saudara muda”.
Akhirnya terdapat karakter ( tabiat ) khas dari kedua raja itu; sejauh yang diperoleh
dari berita-berita. Secara umum berita-berita itu menjelaskan, bahwa Alaidin adalah pengantuk dan raja yang tidak punya watak, yang mengabaikan pemerintahannya dan
menyerahkannya kepada saudara laki-lakinya Raja Sebrang, yang mempunyai sifat sebaliknya yaitu orang yang tegas dan terpercaya. Adalah aneh bahwa Alaidin yang pengantuk ini, yang di kembalikan oleh Sultan Aceh dan dibawah pengawasan orang Aceh, tiba-tiba melakukan gerakan melawan Aceh, sementara ia juga harus kehilangan dukungan dari saudaranya. Karakter yang demikian itu lebih cocok bagi Raja Raden/ Raja Sebrang.
Tetapi bertentangan dengan yang tersebut di atas masih terdapat beberapa kesulitan untuk dipahami.
Demikianlah, menurut HMD bahwa Raja Raden (dalam hal ini adalah Alaidin) Tetapi menurut data-data historis adalah Raja Sebrang (dalam hal ini adalah Raja Si Ujud) menikah dengan saudara perempuan Iskandar Muda. Dalam hal ini masih bisa dipertanyakan. Berdasarkan berita-berita Eropa  hanya membicarakan  mengenai penangkapan Raja Sebrang pada tahun 1613, dan tidak ada keterangan dari berita-berita itu mengenai adanya perkawinan. Oleh karena itu harus diterima,  bahwa kedua saudara itu memang ditawan dan dibawa ke Aceh. Tetapi lebih mungkin, bahwa bukan Raja Sebrang yang dinikahkan, melainkan  Alaidin. Namun demikian argumen ini juga belum bisa dikatakan kuat.
.
Setelah menyimak beragam pendapat tentang persoalan di atas, maka H.K.J. Cowan berpendapat sebagai berikut :
“Berdasarkan keraguan-keraguan yang telah disebutkan di atas, maka apakah saya(H.K.J. Cowan) akan mengikuti salah satu pendapat tersebut di atas, yaitu sehubungan dengan persoalan identifikasi bahwa Raja Raden adalah Alaidin dan Si Ujud adalah Raja Sebrang atau sebaliknya. Ternyata keraguan itu menjadi lebih besar;  setelah saya mengetahui isi hikayat (tulisan tangan) yang ada pada saya.
Menurut hikayat ini Si Ujud tidak dibunuh di Aceh, tetapi ia berhasil meloloskan diri dari penjara dan via Banang ia berhasil tiba di Guha, dan di sana ia diterima dengan suka cita oleh isteri-isterinya. Tidak lama setelah itu ia meninggal dunia.  Setelah dimakamkan, isterinya-isterinya mengirim orang ke Aceh untuk memohon kepada Raja Raden untuk menjadi penggantinya. Sultan Iskandar Muda menyetujui permintaan itu dan menyuruh saudara perempuannya (Putroe Hijo) ikut pergi dengan Raja Raden ke Johor. Tetapi ia ditinggalkan di Johor lama, sedangkan Raja Raden melanjutkan perjalanan melalui Johor Bali ke Guha. Kelima isteri Si Ujud memeluk Islam.
Sampai disini ada kekosongan (hilang) sebanyak 2.5 halaman dalam hikayat sehingga kelanjutan cerita menjadi sangat tidak jelas. Ada dibicarakan mengenai seorang “Teungku” yang dalam petualangannya sampai di Johor lama, dan disitu ia menjadi sangat terkenal. Pada suatu hari ia di panggil oleh “Malem/Ulama setempat” untuk menjalankan ibadah shalat jum’at di mesjid, tetapi nampaknya ia tidak mau, sebab menurutnya bukan hari Jum’at (disini ada kekosongan halaman lagi). Selanjutnya cerita dimulai lagi dengan percakapan antara “Teungku” dengan Putroe Hijo, yang ternyata keduanya berjanji untuk pergi secara diam-diam.
Pada suatu malam ia disuruh menenggelamkan kapal di sungai satu persatu dengan menggunakan bor, sementara ia sendiri berlayar ke pulau Weh. Sampai disana “Teungku” memberi tahu bahwa ia ingin menjual barang berharga (mahal), yang oleh karena itu Sultan Iskandar Muda berangkat ke kapal  Teungku itu. Ketika ia melihat saudara perempuannya, keduanya jatuh pingsan. Selanjutnya keduanya dibawa masuk sebagai satu-satunya hadiah “Teungku”, yang  ingin menerima pembebasan anak-anaknya, dan sampai disini tulisan tangan (Hikayat) tiba-tiba berakhir.
Apa yang harus kita lihat dalam episode ini? Mengenai adanya penambahan fantastis oleh penyalin hikayat, memang hal semacam itu sering terjadi. Atau apakah kita dalam hal ini bisa mengetahui gema (informasi) yang mengakibatkan dilaksanakannya ekspedisi Aceh ke tiga terhadap Sultan Johor pada tahun 1623, dimana raja yang tersebut terakhir itu dikejar sampai Lingga dan Tambela, pada tahun itu juga akhirnya ia meniggal?        Sesungguhnya mengenai hal itu kita bisa menemukan dalam berita-berita sejarah mengenai pemulangan kembali ke Aceh saudara perempuan Iskandar Muda yang telah menjadi isteri Raja Johor oleh Raja Johor sendiri.
Selanjutnya episode ini bisa sesuai dengan data historis, bahwa saudara laki-laki yang lain telah menggantikannya, dan pergantian itu terjadi sesudah berhasilnya ekspedisi tahun 1615, yaitu sesudah meninggalnya saudara laki-lakinya yang lain. Jika kesesuaian ini bukan merupakan kebetulan, mengingat menurut data historis Abdullah adalah yang menggantikannya, maka Raja Raden dalam hikayat yang kami punya adalah sama dengan Radja Abdullah dan yang berarti juga  bukan Raja Si Ujud. Dengan demikian juga benarlah pendapat Hoesein Djajaningrat, bahwa Alaidin sendiri adalah yang di pulangkan ke Johor, sementara pendapat Roeffaer tidak benar“.
Mengenai para pelaku cerita dipihak Aceh, beberapa sumber memberitahukan saya (T.A..Sakti), bahwa makam Ya Madinah terdapat di Meureudu, Pidie, makam Panglima Pidie ada di Keulibeuet, Pidie. Sementara  Makam Raja Raden terdapat di Lam Lagang, Banda Aceh, makam  Malem Dagang di Meureudu, Pidie Jaya, makam Raja Si Ujud di Krueng Raya, Aceh Besar(Jeurat Si Geupoh). Namun semua keterangan itu masih perlu dikaji lagi kebenarannya,sehingga tidak timbullah pertanyaan apakah semua tokoh nyata atau hanya  tokoh khayalan pengarang HMD???
T.A. Sakti
# Penulis adalah Peminat budaya
dan sastra Aceh

:

*Tambahan kemudian: Bagi yang berminat, kisah ini  -YANG MERUPAKAN KARYA ILMIAH – dapat dibaca lebih jelas dalam buku “Aceh, sejarah, budaya dan tradisi” terbitan Obor Indonesia karya Prof.Dr.Amirul Hadi,MA. Bale Tambeh, 18 Oktober 2014, pkl. 7.25 pgi, T.A. Sakti.

Iklan

9 pemikiran pada “Kisah Sultan Iskandar Muda Menyerang Portugis Ke Malaka

  1. pertanyaan: ”makam Ya Madinah terdapat di Meureudu, Pidie, makam Panglima Pidie ada di Keulibeuet, Pidie”, pernah juga saya baca makam panglima pidie dibukit cina malaka. yang benarnya dimana? Apa fungsi T Pakeh Seundri di pidie yang makamnya ada di labui? siapa yang membangun mesjid al ikhlas di labui?? semoga saja adalah waktu luang untuk menjawab pertanyaan2 saya ini. Terimakasih

    • Dalam salah satu tulisan A.Hasjmy di Hr.Serambi,beliau menyebutkan makam Syekh Syamsuddin Sumatra-i/ni di Bukit Cina,Malaka.Dalam perkiraan saya, yang anda maksudkan adalah T.Pakeh keturunan Uleebalang di Pidie,bukan Ya Pakeh Madinah.Sejarah mesjid Labui belum jelas hingga kini,hanya kisah2 lisan yang banyak tersebar.Diantaranya yang menyebutkan mesjid ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda.TA

      • Masjid Labui, Pidie
        Masjid tua ini telah diruntuhkan dan didirikan dengan yang baru. Di dalam masjid ini ada disimpan khazanah paling berharga iaitu tongkat Sultan Iskandar Muda. Menurut sumber secara lisan oleh kariah masjid, kejadian aneh pernah berlaku apabila orang yang berniat mencuri tongkat tersebut tidak dapat keluar dari masjid kerana dikepung dengan air laut.
        saya baca dari : Siri 1 « Jejak Mihrab & Mimbar
        Masjid Labui, Pidie Masjid tua ini telah diruntuhkan dan didirikan dengan yang
        … kompleks makam raja-raja, ulama dan tempat bersejarah di Wilayah Acheh. …
        jejakmihrabmimbar.wordpress.com/category/jejak-mihrab-acheh-siri-1/ – 78k —dengan adanya tongkat dan makam2 ulama dibelakang mesjid labui ini, belum ada yg mengetahui dan utk menjelaskan kepada kita semua. sya sangat bersenang hati jka ada yg bisa menjelaskan ini semua. Terimakasih

      • harapan Anda juga harapan kita semua!. Seiring hari berlalu, semakin sedikit bukti kebesaran peradaban Islam di Aceh yang tersisa. Kapankah lahir “Ratu Adil” yang menyelamatkannya???.

  2. Terimakasih dg jawaban ini, semoga kalau ada berita2 lainnya seperti mesjid Labui saya bisa membacanya disini. PMHK

  3. majuLah PahLawan Aceh ku Tercinta. . . . .

  4. kalu dibangun oleh sultan iskandar muda/po temerehom, apakah tongkat yg ada di mesjid labui itu tongkat dari sultan iskandarmuda? dan banyak makam dibelakang mesjid labui, sudahkah diketahui makam2 siapa?. saya sangat tertarik dengan berita2 ini karena saya sendiri asal dari aceh.

    • Saya kira, pihak Universitas Jabal Ghafur, Sigli; patut memiliki data yang lebih lengkap tentang sejarah Mesjid Labui ini!.TA

  5. Menarik untuk menyelusuri sejarah Aceh. Ada banyak kaitan dgn sejarah Nusantara ini.

    Ratu Adil ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s