Identitas Aceh dan Tulisan Jawoe

Identitas Aceh dan Tulisan Jawoe

By admin at 28 December, 2008, 6:07 pm

Oleh T.A. Sakti

Bila Anda pertama kali mampir di Banda Aceh; secara serempak mata Anda akan menyaksikan suatu panorama, yaitu semua papan nama dari bangunan penting seperti toko, kantor, dan sekolah, tertulis dalam dua macam huruf, yakni Latin dan Arab Melayu.

Inilah salah satu identitas Aceh sebagai daerah paling awal masuknya agama Islam di Nusantara. Dan huruf Arab Melayu itu pun pertamakali tumbuh dan berkembang dari wilayah ini. Namun, tidak semua tulisan Arab Melayu yang ditulis di papan itu benar adanya. Masih banyak salah-kaprah.

Mulanya Islam datang ke Aceh, terjadilah islamisasi dalam segala bidang kehidupan, termasuk dalam bidang seni-budaya, misalnya digunakan huruf Arab dalam hal penulisan. Sesudah dibuat penyesuaian seperlunya, huruf Arab ini diberi nama huruf Arab Melayu (bahasa Aceh: harah Jawoe).

Berdasarkan berbagai penyelidikan yang telah dilakukan para sarjana, saya yakin bahwa huruf Arab Melayu berasal dari Aceh, daerah yang pertama masuk dan berkembangnya Islam untuk kawasan Asia Tenggara. Hampir semua sejarawan Barat dan Timur berkesimpulan demikian. Bersamaan masuknya Islam ke Aceh, maka masuk pula bacaan huruf Arab ke dalam kehidupan masyarakat Aceh, antara lain melalui kitab suci Al-Qur’anul Karim. Bersumber huruf Arab Melayu itu, lambat laun berkembanglah penulisan Arab Melayu tersebut.

Sejarah mencatat bahwa di Aceh telah berkembang beberapa kerajaan Islam, yaitu Kerajaan Peureulak, Kerajaan Pasai, Kerajaan Benua, Kerajaan Linge, Kerajaan Pidie, Kerajaan Lamuri, Kerajaan Daya, dan terakhir Kerajaan Aceh Darussalam. Kerajaan-kerajaan itu banyak melahirkan para ulama yang sebagiannya berbakat pengarang. Melalui tangan-tangan terampil merekalah telah ditulis beratus-ratus buah kitab dan karangan dalam bahasa Melayu, Arab, dan Aceh. Tulisan yang digunakan adalah tulisan Arab dan tulisan Jawi (Arab Melayu).

Dalam hal ini, UU Hamidy, dalam tulisannya “Aceh sebagai Pusat Bahasa Melayu”, (Serambi Indonesia, Minggu 08 Juli 2007) menjelaskan “bahasa Melayu Aceh berperan penting dalam tradisi pemakaian Arab Melayu. Tak diragukan lagi ulama Acehlah yang telah memakai tulisan Arab Melayu secara luas dalam berbagai kitab karangan mereka. Dari sinilah agaknya tulisan Arab Melayu kemudian menjadi tradisi pula dalam penulisan hikayat di Aceh. Sebab itu, tulisan Arab Melayu mungkin juga telah di taja (dipelopori-pen) pada awalnya oleh para ulama di Aceh. Karena tulisan ini juga mempunyai beberapa ragam (versi), maka ragam Arab Melayu yang dipakai di Aceh mungkin merupakan ragam yang tertua. Dalam bidang ini patut dilakukan penelitian yang memadai sehingga peranan bahasa Melayu Aceh akan semakin kentara lagi di belantara perkembangan bahasa Melayu”.

Memang tidak berlebihan bila penulis berpendapat bahwa huruf Arab Melayu ditulis pertama kali di Aceh. Sejauh ini, tulisan Jawi (Jawoe) tertua yang sudah pernah dijumpai adalah surat Sultan Aceh kepada raja Inggris. Prof. Dato’. Muhammad Yusof Hashim, yang turut hadir pada seminar Pekan Peradaban Melayu Raya di Banda Aceh pada akhir Agustus lalu; dalam satu tulisannya menyebutkan bahwa: “Kalau kita mengatakan bahawa naskah Melayu terawal yang pernah ditemui di awal abad ke-17, iaitu warkah daripada Sultan Aceh kepada Raja England, besar kemungkinan naskah warkah itu hanyalah naskah salinan. Adl mengkagumkan juga sebuah naskah di atas kertas seperti itu boleh wujudhampir empat abad lamanya, sekiranya ia betul-betul naskah y ang asli”.

Abad 16-17 merupakan puncak kebesaran bagi kerajaan Aceh Darussalam. Ketika itu, selain sempat diperintah beberapa Sultan terkemuka, Aceh juga telah dibimbing beberapa ulama kaliber dunia, yaitu Hamzah Fansury, Syamsudin As-Sumatrani, Syekh Nuruddin Ar-Raniry, dan Syekh Abdurrauf As-Singkily atau Syiah Kuala. Keempat ulama Aceh ini amat banyak karangan mereka, baik dalam bahasa Arab maupun dalam bahasa Melayu. Kitab-kitab tulisan keempat ulama ini tidak hanya beredar di Aceh, tetapi meluas ke seluruh Asia Tenggara dan dunia Islam lainnya.

Pada abad ke-17, bangsa Eropa mulai berdatangan ke Asia Tenggara. Dari waktu ke waktu sampai ke abad ke-20, mereka semakin merata berada di berbagai negeri di Nusantara. Akhirnya, semua negeri berkebudayaan Melayu menjadi jajahan bangsa Barat. Semua bangsa penjajah itu yakni Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat. Bangsa-bangsa ini tidak memakai huruf Arab (Arab Melayu) dalam penulisannya. Mereka memiliki huruf sendiri yang berasal dari peradaban Yunani-Romawi, yaitu huruf Latin. Sejak itu, peranan huruf Arab Melayu secara berangsur-angsur terus berkurang dalam kehidupan orang-orang pribumi. Sebab, para penjajah memaksakan huruf Latin kepada rakyat di Nusantara ini melalui lembaga-lembaga pendidikan yang mereka bangun.

Khusus di Hindia Belanda (sekarang Indonesia), penggusuran secara besar-besaran huruf Arab Melayu baru terjadi secara resmi pada tahun 1901. Ketika itu, pada tanggal 1 Januari 1901, Raja Belanda Ratu Welhilmina mengeluarkan Dekrit untuk mengeluarkan politik etis dalam sistem penjajahan di Hindia Belanda. Politik “balas budi” itu antara lain memberikan pendidikan modern ala Barat kepada anak negeri jajahan Belanda. Karena itu, dibangunlah beribu-ribu tempat pendidikan umum di seluruh Hindia Belanda dengan memakai huruf Latin dalam penulisannya. Hal ini secara langsung telah menjatuhkan martabat huruf Arab Melayu dalam pandangan sebagian pribumi. Tinggallah Dunia Pesantren, Surau dan Pondok (Dayah di Aceh) sebagai benteng terakhir sehingga penulisan Arab Melayu masih kekal lestari hingga saat ini. Sebagai bukti, perpustakaan Dayah Tanoh Abee Seulimum, Aceh besar, masih memiliki beribu-ribu naskah kitab lama.

Kemudian, ketika Belanda sedang mengganyang huruf Arab Melayu secara gencar di daerah-daerah lain–lewat pendidikan ala Barat– malah di Aceh (thn 1901), Belanda sedang bertempur habis-habisan melawan rakyat Aceh, yang telah ditempa dengan baris-baris tulisan Arab Melayu, yakni hikayat Prang Sabi. Akhirnya para ilmuan Belanda yang dipelopori Snouck Hurgronje berusaha mempelajari karya-karya berhuruf Arab Melayu milik orang Aceh guna mengetahui “jalan pintas” mengalahkan perlawanan orang Aceh sendiri. Tidak kurang 600 naskah Jawi/Jawoe (Arab Melayu) dialihkan ke huruf Latin oleh pemerintah Belanda saat itu.

Dalam era Indonesia merdeka, perhatian pemerintah terhadap penulisan Arab Melayu mulai Tumbuh, namun tidak berumur panjang. Di saat itu, pelajaran membaca dan menulis huruf Arab Melayu telah diajarkan di sekolah-sekolah pada tingkat sekolah dasar. Tetapi sekitar tahun 60-an, pelajaran tersebut dihapuskan, yang kemungkinan besar akibat desakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sedang merajalela ketika itu.

Sebatas penulis ketahui, khusus di Aceh sejak beberapa tahun yang lalu juga diajarkan kembali tulisan Arab Melayu dengan nama Tulisan Arab Indonesia (TAI). Menurut pengamatan saya, cara pengajaran TAI ini tanpa acuan yang baku sehingga dalam penulisan TAI, terjadi salah-kaprah. Mungkin hasil dari pengajaran TAI di sekolah-sekolah itulah yang kini terpampang di papan nama toko, kantor dan sekolah di Aceh.

Perkembangan terakhir dari penulisan Arab Melayu di Aceh adalah keluarnya Instruksi Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) tanggal 1 Muharram 1423 atau 16 Maret 2002, yang menggalakkan kembali penggunaan huruf Arab Jawi di Bumi Aceh Serambi Mekkah. Itulah salah satu karya nyata Gubernur Aceh, Ir. Abdullah Puteh, M.Si yang masih terwariskan bagi warga Aceh hingga kini. Berikutan dengan keluarnya instruksi gubernur itu, telah dibentuk Tim Penyusun Buku Pedoman Penulisan Arab Melayu di Aceh. Namun, karena kepepet waktu, buku yang dihasilkan kurang memadai wujudnya. Salah seorang mantan anggota team tersebut telah berupaya menulis buku lainnya dengan judul “ Sistem Penulisan Arab-Melayu (Suatu Solusi dan Pedoman)”. Buku yang ditulis Drs. Mohd. Kalam Daud, M.Ag, Dosen Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry ini, diterbitkan Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, tahun 2003. Karena buku tadi dianggap terlalu tebal dan banyak uraiannya, maka Drs.Mohd.Kalam Daud M.Ag, yang pakar huruf Arab Jawoe ini menulis lagi sebuah buku tipis, yang berjudul “Kaidah Penulisan Arab-Melayu”, yang juga diterbitkan Dinas Pendidikan NAD tahun 2005.

Walaupun telah diterbitkan beberapa buku pedoman, amat disayangkan, pelaksanaan instruksi gubernur itu tak pernah dievaluasi. Padahal, pelaksanaan di lapangan sungguh amburadul. Penulisan nama-nama bangunan misalnya, lebih banyak yang salah dibanding yang betul menurut kaidah-kaidah yang sebenarnya. Bukan itu saja, bila hendak menampilkan identitas Aceh, maka bukan pada bangunan gedung saja yang semestinya ditulis dengan tulisan Jawi; tetapi nama-nama jalan pun perlu dibuat demikian. Di kota Yogyakarta misalnya, nama-nama jalan di sana selain dengan tulisan Latin juga ‘disandingkan’ dengan huruf Kawi/Jawa kuno. Mengapa pada kita tidak?

Tujuan semula guna menonjolkan identitas Aceh sebagai daerah perdana masuknya Islam di Asia Tenggara hanya membuahkan cibiran sinis para tamu/turis dari negeri-negeri Melayu di Nusantara. Itulah akibatnya, bila sesuatu tidak dilaksanakan dengan profesional dan sungguh-sungguh. Bagaikan menepuk air di dulang; muka kita sendiri yang menerima padahnya.

Sejauh yang saya ketahui, hanya Badan Dayah NAD yang pernah melaksanakan penataran penulisan Arab Melayu pada tahun 2006 dan 2007 dengan salah seorang nara sumbernya, Drs.Mohd.Kalam Daud, M.Ag tersebut. Sebenarnya, para guru yang mengasuh mata pelajaran TAI-lah yang semestinya diberikan bimbingan khusus mengenai penulisan TAI itu. Karena merekalah yang langsung mengajari muridnya di kelas. Namun, kegiatan demikian belum terdengar sampai saat ini.

Akhirul kalam, saya menyarankan bahwa setiap calon legislatif dan eksekutif di Aceh tidak hanya dites mampu membaca Al-quran, tetapi perlu pula tes kemampuan membaca dan menulis huruf Arab Melayu/Jawoe, karena sesungguhnya huruf Arab Melayu itu berasal dari Aceh, yang kemudian berkembang ke seluruh Nusantara/ Asia Tenggara!!!

T.A. Sakti, Peminat Budaya dan Sastra Aceh. Tinggal di Banda Aceh

 

*Sumber: Harian Aceh, Banda Aceh

Sultan Iskandar Muda Menyerang Portugis

Sultan Iskandar Muda Menyerang Portugis

By admin at 25 January, 2009, 8:52 pm

(Cuplikan Hikayat Malem Dagang)

Oleh: T.A. Sakti

Hikayat Malem Dagang adalah syair kepahlawanan Aceh. Isinya mengisahkan penyerangan Sultan Aceh Iskandar Muda terhadap Portugis yang berkuasa di Malaka. Kerajaan Malaka ditaklukkan Portugis pada tahun 1511 M. Sultan Malaka dan keturunannya menyingkir dan mendirikan kerajaan Johor. Sekarang: Malaka dan Johor; keduanya merupakan dua negara bagian/provinsi di Malaysia.

Penyerangan Aceh terhadap Portugis di Malaka adalah kenyataan sejarah, baik sebelum masa Sultan Iskandar Muda maupun di saat beliau berkuasa. Dalam disertasi sejarawan Perancis, Denys Lombard; yang telah diterjemahkan, disebutkan bahwa “Kerajaan Aceh-zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), juga memuat daftar penyerangan Aceh ke Malaka, yaitu pada tahun: 1537, 1547, 1568, 1573, 1575, 1582, 1587, 1606. Pada tahun-tahun itu, Portugis menyerang Aceh. Benteng-benteng mereka masih bersisa di Krueng Raya. Selanjutnya, tahun 1613-1615, Aceh menyerang Johor, karena membantu Portugis. Kemudian, tahun 1617, Aceh menyerang Pahang, karena bersekutu dengan Portugis. Disebutkan pula, pada tahun 1623 dan 1629 M, hal yang sama terjadi.

Fakta sejarah ini sedikit sekali disinggung dalam sumber-sumber tertulis Aceh. Di antara yang secuil itu, Hikayat Malem Daganglah satu-satunya. Sementara dalam Hikayat Prang Peringgi (artinya, Hikayat Perang Portugis), sama sekali tidak menyinggung data-data sejarahnya, kecuali semangat jihad saja.

Karena Hikayat Malem Dagang (buat selanjutnya disingkat dengan HMD) bukanlah kitab/buku sejarah, muncullah beragam hasil analisis tentang para pelaku dalam kisah itu. Begitu pula mengenai waktu dan lokasi dalam cerita tersebut. Masalah pendapat-pendapat para pengkaji hikayat itulah yang diperbincangkan dalam tulisan ini.

Sejauh yang saya ketahui, Dr. Snouck Hurgronje adalah pengkaji paling awal mengenai HMD. Dalam bukunya yang sudah diterjemahkan, “Aceh di Mata Kolonialis, jilid II; Snouck Hurgronje mengatakan HMD disusun tidak lama setelah peristiwa itu terjadi, yakni masih di abad ke 17 M. Agaknya, naskah yang dikaji Snouck merupakan salinan ulang yang oleh penyalinnya telah disesuaikan isinya dengan kondisi Aceh saat itu. Kata Snouck: di seluruh hikayat disebutkan bahwa Raja Si Ujud yang dilawan Sultan Iskandar Muda adalah raja Belanda.

Pengkaji kedua juga bangsa Belanda, yakni DR.H.K.J.Cowan, dengan bukunya, “De Hikajat Malem Dagang”, diterbitkan tahun 1933. Cowan menegaskan bahwa HMD dikarang pada abad ke 17. Nampaknya, naskah yang dikaji Cowan lebih tua sehingga “Raja Si Ujud sebagai raja Belanda belum dijumpai di dalam naskah itu.

Tahun 2006, naskah HMD yang dimuat dalam buku “De Hikajat Malem Dagang” telah saya salin ke huruf Latin ejaan EYD, yang sebelumnya dalam ejaan Belanda. Tetapi, sampai hari ini hasil transliterasi saya itu belum diterbitkan. Penulisan oleh H.K.J.Cowan akan buku ini terkesan amat serius sehingga semua isi hikayat yang dalam bahasa Aceh telah diterjemahkan ke bahasa Belanda, di samping pembahasan isinya yang panjang lebar pula. Kajian Cowan inilah yang saya pakai sebagai bahan utama tulisan. Lantaran saya tidak bisa bahasa Belanda, karena itu, saya mintalah bantuan penterjemahannya kepada sahabat saya, Drs. Agus Supriyono,MA, Dosen Fakultas Sastra,Undip-Semarang.

Sebelumnya, Prof.A.Hasjmy, yang memperkenalkan kembali HMD secara lebih meluas. Dengan merujuk dua buku Sejarah Johor dan Sejarah Pahang Karya HajI Buyung Adil yang diterbitkan di Malaysia, Hasjmy berkali-kali menulis tentang HMD. Di antara karyanya yang telah dimuat dalam berbagai buku/makalah ialah dalam “Seulawah, Antologi Sastra Aceh-Sekilas Pintas” halaman 524-541, terbitan Yayasan Nusantara tahun 1995.

Berbeda dengan dua pengkaji bangsa Belanda sebelumnya, Hasjmy berpendapat HMD dikarang Teungku Ismail bin Ya’kub alias Teungku Chik Pante Geulima pada tahun 1309 H. Pada pentup HMD dalam buku “De Hikajat Malem Dagang” yang ditulis/disalin Cowan, memang tercantum tahun 1309 H, tetapi saya lebih yakin tahun itu adalah tahun penyalinan ulang. Menyimak gaya penulisannya, maka saat penyusunan pertama HMD lebih tua dari tahun itu.

Mengenai asal nama Raja Si Ujud, Hasjmy menulis: Dalam sejarah Aceh, beliaulah yang dimaksud dengan “Raja Si Ujud“, mungkin sekali berasal dari “Raja Selayut“… karena pernah tinggal di Selayut. Menurut saya, nama Raja Si Ujud, Raja Raden dan Putroe Beureuhut-isteri Si Ujud adalam nama-nama khayalan si pengarang HMD. Dalam bahasa Arab, “Wujud” artinya ada. Karena “raja” Portugis di Malaka tidak dikenal lagi, maka disebut saja “Raja itu memang ada alias Raja Si Ujud”. Begitu pula dengan Raja Raden. Akibat nama abang Raja Si Ujud tidak diketahui yang sebenarnya, maka digantikan saja dengan Raja Raden, suatu gelar kehromatan karena Raja Raden memihak Aceh, yakni gelar seorang bangsawan.

Sementara nama Putroe Beurehut, malah diberi nama yang menjelekkan. Beureuhut adalah lobang neraka di dunia. Mon Beureuhut(sumur beruhut), menurut kitab Tambeh/nadham Aceh terdapat di wilayah Syam/. Irak.

Menurut data-data sejarah, Raja Sebrang kawin dengan saudara perempuan Sultan Iskandar Muda. Sejak itu, ia diharapkan menjadi teman dalam membantu Aceh melawan Portugis. Akan tetapi, ketika Sultan pulang kembali ke Johor (1614), ia telah dengan giat melakukan perundingan lagi dengan Portugis. Tindakan yang kedua kalinya itu tidak memuaskan orang-orang Aceh. Sebab itulah, pada ekspedisi Aceh yang kedua, ia ditangkap kembali, lalu dibawa ke Aceh dan dibunuh di sana.

Adalah penting untuk menyelidiki ekspedisi kedua ini secara lebih cermat. Armada Aceh mendapati Johor telah ditinggalkan penduduknya. Dalam perjalanan pulang bertemu dengan armada Portugis di bawah pimpinan Miranda dan Mendoca, yang datang dari Malaka untuk membantu Johor tetapi dipukul mundur. Pertempuran ini diidentifikasi oleh Hoesein Djajadiningrat sebagai pertempuran yang disebutkan dalam Boetanus-Salatin, yaitu pertempuran di Baning. Pada kesempatan itu, Sultan ditangkap kembali dan dibawa ke Aceh.

Jika data-data ini dibandingkan dengan cerita dari Hikayat Malem Dagang, ternyata ditemukan kesamaan. Dalam syair hikayat disebutkan kedatangan dua raja bersaudara ke Aceh, yang antara lain bergelar sebagai raja-raja Johor. Menurut data-data historis, demikian juga. Bahwa kedatangan mereka ke Aceh tidak sepenuhnya secara sukarela. Dalam kedua versi itu disebutkan bahwa salah satu dari mereka kawin dengan adik perempuan Sultan Iskandar Muda. Satunya lagi pulang kembali ke Johor, yang selanjutnya setelah banyak melakukan tindakan yang kurang berkenaan bagi orang-orang Aceh, ia ditangkap oleh ekspedisi dan dibunuh.

Penulis syair hikayat hanya mengatakan bahwa Raja Raden pada suatu hari datang dan diikuti oleh saudara laki-lakinya, yaitu Si Ujud. Hanya beberapa bait yang memberikan episode ini, yang menceritakan bahwa Raja Raden datang untuk memeluk agama Islam. Tidak ada penjelasan lebih jauh bahwa ia berangkat ke Aceh dengan keperluan khusus. Bisa diperkirakan maksud kedatangannya yang sesungguhnya dirahasiakan, sehubungan dengan perkawinannya dengan keluarga Sultan Aceh. Kedua raja itu dalam kenyataan sesungguhnya bukan kafir, tetapi hanya melakukan persekutuan antara Johor dengan Portugis.

Demikian juga penggambaran orang Aceh tidak benar, antara syair dengan kenyataan adalah berbeda. Pada satu sisi perundingan-perundingan berlangsung di Aceh sebelum kembali ke Johor, sedangkan pada sisi yang lain perundingan-perundingan terjadi di Johor sesudah kepulangan ke Johor itu. Akan tetapi, tidak boleh diabaikan bahwa dalam syair kepahlawanan yang setengah lagendaris itu, kenyataan-kenyataan historis telah kehilangan bentuk yang seharusnya. Bersambung minggu depan

T.A. Sakti adalah peminat budaya dan sastra Aceh

*Sumber: Harian Aceh, Banda Aceh

#Catatan : 1. “Orang di sini umumnya tidak peduli kepada sejarah. Tulislah apa saja yang benar.”, ( TSJ, 1-Nov-2009, 11:24:27).

2. Beberapa angka tahun dari tulisan di atas salah/kacau penempatannya ketika Redaktur koran mengeditnya. Angka tahun yang benar terdapat                                      dalam tulisan aslinya, yang nanti akan saya posting juga!. ( T.A. Sakti).

Dara Malaih

Dara Malaih

 

By admin at 6 December, 2008, 7:15 pm

Syair: T.A Sakti

Adat tayue ji Puasa

Sungkoh raya jikheun beuteng

Lon saket pruet hate peudeh

Han jeuet lon eh meugeunireng

 

Adat tayue ji seumayang

Ija pinggang jikheun meuluteng

Han ek tarhah geunap uroe

‘Iek aneuk nyoe hanatom kreng

 

Adat tayue jimeurawe

Beuneung han sabe sirong geunteng

Lulon reukeuet gapeuh meuntah

Ragoe susah meutamah gigeng

 

Adat tayue jijak muntee

Jilieh alee uleh anjeng

Tutop leusong pi hana got

Asee lenglot digeunireng

 

Adat tayue manyum eumpang

Iboih pikrang miseue ranteng

Karoh tabloe iboih gajah

Jaroe teumirah han-ek tagileng

 

Adat tayue ramah santan

Iniem pitan na ngon sareng

Ulon ku-U pi meuth’ot-th’ot

Jaroe han get meupaleng-paleng

 

Adat tayue peu-ek tayeuen

Rhot di rinyeuen gigoe teuheng

Rinyeun bulat meubalek-balek

Pueh that ta-ek palang-paleng

 

Beukit tayue jak seumula

Han get banja surang-sareng

Teuma lintah pilon takot

Pakri ngen seuluet hitam galeng

 

T.A. Sakti, Dosen FKIP Sejarah Unsyiah

 

Catatan: Ca-e di atas dicuplik dari kitab Tambeh 17.

Meurawe = bertenun, tradisi perempuan Aceh tempo dulu.

Lulon = lilin: bahan bertenun

Ragoe = ragam/ reka bentuk kain tenun

muntee/mutee = menumbuk padi pada Jingki

Iniem = sabut pada seludang kelapa dibuatkan saringan

 

*Sumber: Harian Aceh, Banda Aceh

Doda Idi

Doda Idi

 

By admin at 8 February, 2009, 9:11 pm

oleh T.A. Sakti

Allahu Allah Allahu Rabbon

Allah qadiron Maha Kuasa

Masa cut Nabi didalam ayon

Rahmat neupeutron uleh Ilahi

Doda idi putik sukon

Di dalam on jroh meusundi

Kaeh hai Nyak dalam ayon

Makeuh geutron mita raseuki

Jak kuayon putik rambot

Simanyak cut beurijang raya

Beu Tuhan bri umu lanjot

Beuna tapeubuet jalan agama

Allah hai do.. doda idi

Boh campli beurijuek seuba

Beuna umu Tuhan neubri

Boh hate beurijang raya

Lom geukheundo doda idang

Bancalang dilaot raya

Beuta gaseh Uleebalang

Adat naprang nasoe sangga

Nyoe kukheundo doda idi

Mirahpati jeh dipara

Wahe aneuk nyang johari

Beu Tuhan bri rijang raya

Allah haido doda idang

Taloe ayon kulet pisang

Kaeh hai Nyak dalam ayon

Poma geutron jak poh linggang

Ijo-ijo naleueng sambo

Nyangget ijo naleueng sira

Bek kamoele hai aneuk E

Nyoeku kheundo jakku doda

Ie dilaot puteh ijo

Peuraho umbak cencala

Gata hai Nyak ulon dodo

E linto ayeuem mata Ma

T.A. Sakti, pengumpul hikayat Aceh

Catatan: Doda idi adalah nyanyian menidurkan anak dalam bahasa Aceh tempo dulu, yang sekarang sudah langka dilakukan.

 

*Sumber: Harian Aceh, Banda Aceh

Aceh Leubeh Peng (?)

Aceh Leubeh Peng (?)

By admin at 22 February, 2009, 5:18 pm

T.A. Sakti

Meunye leubeh peng tanda ka makmu

Barat ngen timu gob kheun ka kaya

Bak rumoh tangga meunan berlaku

Cit gohlom teuntu bak Nanggroe raya

Miseue di Aceh lon sareh laju

Ujong thon taeu  leubeh beulanja

Nyan APBA leubeh meutabu

Salah peulaku, kon tanda kaya!

Anggaran 2008 meunan hai Teungku

Pakar nyang brisu lam surat kaba

Aceh taharap beurijang makmu

Antanjo laku nyang rugoe raya

Aceh  leubeh peng kon tanda makmu

Sabab deuh taeu rakyat dum papa

Rakyat lam nanggroe rame hansep bu

Utang meutabu udep seungsara

Jan teungoh meugoe meu-utang laju

Bak bloe minyeuk U meu-utang baja

Watee keumeukoh geubayeue teuntu

Tan tinggai sapeue geupuwoe cit pha

Meupalet-palet udep lam tunu

Hanasoe bantu tansoe pareksa

Anggota Dewan seungab hana su

Rakyat peureulu Pemilu saja!

Rumoh sikula barat ngen timu

Ka reuloh bangku bubong dum guha

Aleue ka beukah binteh ka lhu-lhu

Mija di guru hana seple pha

Peuelom tapeugah keu Dayah Teungku

Siumu-umu  lam ala kada

Jareueng na dana keunan geutabu

‘Ohtoe Pemilu rame gob jakba

Lam gle Seulawah jalan u timu

Tiep seun ulon eu tampai ban ija

Reuloh sagoe jeh tanpai sigeutu

Lhee buleuen umu rusak lom teuma

Meunye leubeh peng han meunan laku

Geubloe nyang baru dak miseue ija

Salang toe Banda meunan hai Teungku

Dan lagi itu Jalan Negara

Peue lom diudek tasek beuru-ru

Jeuoh apui hu teuntee han peuja

Jalan disinan wa ‘amma bakdu

Kadeuh droeneuh eu  wahe pembaca

Aceh leubeh peng(?) rakyat that tunu

Salah peulaku nyan APBA

Adak han Aceh ka leubeh maju

Rakyat pih makmu peng le  meuputa

Dilee yoh diet peng bingkeng ngen tunu

Kheun ini-itu  gob ade hana

Jinoe ‘ohle peng dalam Bank tudu

Allah Tuhanku Aceh nyan kada!

Alhamdulillah na koran bri su

Lagee nyan laku hanle meugisa

Thon 2009 anggaran maju

Geusahkan laju Januari teuka

Nyan DPRA meunan geumeusu

Lom pih Pemilu ka dikeue mata

Rakyat ka carong hanpeuele rayu

Buet deungon meusu peuena meutuka(?)

Meunye tan saban haba ngen laku

Rakyat han rindu ji pileh gata

Di kamoe galak peumimpin jitu

Rakyat beumakmu nanggroe sijahtra!!!

T.A. Sakti

Peminat sastra Aceh

Catatan : – sareh = menjelaskan

–          APBA = Anggaran Pendapatan Belanja Aceh

–          tunu = palak = jengkel

–          gatu = senang, gembira

*Sumber: Harian Aceh, Banda Aceh

Timang-timang

Timang – timang

By admin at 1 March, 2009, 4:53 pm

Hikayat T.A. Sakti

Allah hai jak kutimang prak

Jeh pirak sijudo dua

Wahe aneuk puteh meuprak

Hate galak lon ngieng gata

Lomku kheun prak kutimang prak

Boh cicak di dalam bara

Buet nyang ka rot bek tagalak

E hai budak bijeh mata

Jak kutimang putik langsat

Cut Amat muda bahlia

Beule aneuk rakan sahbat

Jan meularat nasoe sangga

Jakku timang putik rambot

Beungoh seupot lon peulara

Beule aneuk ureueng ikot

Bek meudhot-dhot narit gata

Jak kutimang putik langsat

Cut Amat muda samlakoe

Beujeuet aneuk ka Hareukat

Laot darat pawang keudroe

Allah hai jak kutimang be

Jeh ceupe peuneugot Cina

Meung na mantong umu sabe

Boh hate tamat neuraca

Jak lon timang bungong geutoe

Keunong uroe layee rata

Beumutuah posamlakoe

Bila nanggroe mat neuraca

Jak lontimang putik bugeng

Cut leunteng rupa samlakoe

Beule aneuk ureueng ireng

Bek meudeungkeng ngon rakan droe

Jak kutimang kutimang bot

Jeh boh rambot diteupin para

Beule aneuk ureueng ikot

Bek na ka rot buet digata

T.A. Sakti, Peminat sastra dan budaya Aceh

Catatan : Timang-timang aneuk di atas dicuplik dari hikayat Banta Keumari, ketika putri Rakna Keumala mengambil Banta Saidi dari ayunan. Agar tidak menangis lantas ditimang-timangnya. Naskah yang semula berhuruf Jawoe itu telah saya salin ke aksara Latin.

*Sumber: Harian Aceh, Banda Aceh

Kisah Hijeurah Nabi-Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram

Kisah Hijeurah Nabi-Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram

By admin at 22 March, 2009, 4:42 pm

ca-e T.A. Sakti

Bismillahirrahmanirrahim
Ya Rasulullah ya Nabiyullah
Sayed Madinah ya Allah qalbin nurani
Nabi Muhammad ya Allah geunaseh Allah
Imum Madinah ya Alllah nyang that trang hate

Umu 53 thon ya Allah Nabi di Makkah
Han ek neuteugah ya Allah nyang larang Rabbi
Ureueng lam Makkah ya Allah nyang kukoh-kukoh
Bandum pi musoh ya Allah keumeung poh Nabi

Sabab neuminah ya Allah Nabi di Makkah
Nanggroe Madinah ya Allah beurangkat Nabi
Saidina Hamzah ya Allah beurangkat sajan
Saidina Usman ya Allah Abubakari

Saidina ‘Umar ya Allah Ibnu Khatab
Ban peuet droe sahbat ya Allah Saidina ‘Ali
Laen nibak nyan ya Allah nyang asoe rumoh
Nyang ikot suroh ya Allah jak sajan Nabi

Tujoh reutoh droe ya Allah ureueng jak sajan
Sahbat jimeunan ya Allah nyang muhajiri
Antara Makkah ya Allah deungon Madinah
Hana that jeuoh ya Allah duwa blaih hari

‘Oh sampoe Nabi ya Allah nanggroe Madinah
Sinan neupiyoh ya Allah diluwa wadi
Makanan pi tan ya Allah minoman pi han
Ureueng nanggroe nyan ya Allah han sidroe meuri

Na tujoh uroe ya Allah Nabi troh keunan
Ka geudeungoran ya Allah ka datang Nabi
Ureueng Madinah ya Allah teubiet meuree-ree
Geujak peuteuntee ya Allah geujak tueng Nabi

Ureung nyang tuha ya Allah tanyong khabaran
Dimana tuwan ya Allah ya Allah datang keumari
Lon kalon ilok ya Allah khuluk peungaroe
Keumala nanggroe ya Allah peue sabab lari

Nabi neu jaweub ya Allah lon Rasulullah
Dinanggroe Makkah ya Allah keunoe peureugi
Kawom diulon ya Allah dum ureueng Makkah
Han ek lon teugah ya Allah biek munafiqi

‘Ohban geudeungo ya Allah Nabi kheun meunan
Geucom ditangan ya Allah geupuwoe Nabi
Ureueng Madinah ya Allah sangat meu-untong
Geupuwoe tangglong ya Allah keumala nanggri

‘Oh tamong Nabi ya Allah nanggroe Madinah
Dumpeue pi mudah ya Allah karonya Rabbi
Ureueng Madinah ya Allah bandum ji ikot
Nyng hantem turot ya Allah kawom kafiri

Ureueng Madinah ya Allah leupah guransang
Geujak peungon prang ya Allah jak sajan Nabi
Lam umu sithon ya Allah Nabi disinan
Neujak guncang prang ya Allah nanggroe Qubeuti

Na umu sithon ya Allah Nabi dalam prang
Agama teudong ya Allah ka wafeuet Nabi

T.A. Sakti, peminat budaya dan sastra Aceh

Catatan : Ca-e di atas dikutip dari “lampiran” hikayat Akhbarul Karim
karya Teungku Seumatang.

*Sumber: Harian Aceh, Banda Aceh