Hijeurah Nabi – Kasidah yang dilantunkan murid2 pengajian di Aceh tempo dulu pada malam 12 Rabiul Awal – sekarang nihil

Hijeurah  Nabi

 

Oleh: T.A. Sakti

 

Bismillahirrahmanirrahim

 

Ya Rasulullah ya Nabiyullah

Sayed Madinah ya Allah qalbin nurani

Nabi Muhammad ya Allah geunaseh Allah

Imum Madinah ya Alllah nyang that trang hate

 

Umu 53 thon ya Allah Nabi di Makkah

Han ek neuteugah ya Allah nyang larang Rabbi

Ureueng lam Makkah ya Allah nyang kukoh-kukoh

Bandum pi musoh ya Allah keumeung poh Nabi

 

Sabab neuminah ya Allah Nabi di Makkah

Nanggroe Madinah ya Allah beurangkat Nabi

Saidina Hamzah ya Allah beurangkat sajan

Saidina Usman ya Allah Abubakari

 

Saidina ‘Umar ya Allah Ibnu Khatab

Ban peuet droe sahbat ya Allah Saidina ‘Ali

Laen nibak nyan ya Allah nyang asoe rumoh

Nyang ikot suroh ya Allah jak sajan Nabi

 

Tujoh reutoh droe ya Allah ureueng jak sajan

Sahbat jimeunan ya Allah nyang muhajiri

Antara Makkah ya Allah deungon Madinah

Hana that jeuoh ya Allah duwa blaih hari

 

‘Oh sampoe Nabi ya Allah nanggroe Madinah

Sinan neupiyoh ya Allah diluwa wadi

Makanan pi tan ya Allah minoman pi han

Ureueng nanggroe  nyan ya Allah han sidroe meuri

 

Na tujoh uroe ya Allah Nabi troih keunan

Ka geudeungoran ya Allah ka datang Nabi

Ureueng Madinah ya Allah teubiet meuree-ree

Geujak peuteuntee ya Allah geujak tueng Nabi

 

Ureung nyang tuha ya Allah tanyong khabaran

Dimana tuwan ya Allah ya Allah datang keumari

Lon kalon ilok ya Allah khuluk peungaroe

Keumala nanggroe ya Allah peue sabab lari

 

Nabi neu jaweueb ya Allah lon Rasulullah

Dinanggroe Makkah ya Allah keunoe peureugi

Kawom diulon ya Allah dum ureueng Makkah

Han ek lon teugah ya Allah biek munafiqi

 

‘Ohban geudeungo ya Allah Nabi kheun meunan

Geucom ditangan ya Allah geupuwoe Nabi

Ureueng Madinah ya Allah sangat meu-untong

Geupuwoe tangglong ya Allah keumala nanggri

 

‘Oh tamong Nabi ya Allah nanggroe Madinah

Dumpeue pi mudah ya Allah karonya Rabbi

Ureueng Madinah ya Allah bandum ji ikot

Nyang hantem turot ya Allah kawom kafiri

 

Ureueng Madinah ya Allah leupah guransang

Geujak peungon prang ya Allah jak sajan Nabi

Lam umu sithon ya Allah Nabi disinan

Neujak guncang prang ya Allah nanggroe Qubeuti

 

Na umu sithon ya Allah Nabi dalam prang

Agama teudong ya Allah ka wafeuet Nabi

 

T.A. Sakti

#Peminat budaya dan sastra Aceh

Catatan : – Ca-e Hijeurah Nabi di atas dikutip dari “lampiran” hikayat Akhbarul Karim

karya Teungku Seumatang. Lampiran itu mungkin bukan bagian asli naskah itu,tetapi mungkin tambahan yang disisipkan para penyalin-ulang. Tahun 1993 kitab ini telah saya salin ke huruf Latin dan sudah dua kali dicetak/diterbitkan. Beberapa sekolah dan pustaka di kampus Darussalam dan Banda Aceh  pernah saya hadiahkan  naskah ini.

– kukoh-kukoh = kuat, perkasa

– khuluk = serupa, bagaikan, mirip

– pengaroe = pangeran

– tanglong = lampu, pelita

– keumala nanggroe = pemimpin negeri

Iklan

Membedah Tiga Manuskrip Aceh: Mengenai Kesehatan dan Kedokteran

Membedah  Tiga Manuskrip Aceh tentang Kedokteran

dan  Kesehatan

 

Oleh: T.A. Sakti

 

             Daerah Aceh amat kaya dengan bahan obat tradisional. Di kawasan-kawasan terpencil pemakaian obat asli Aceh itu masih dipraktekkan hingga sekarang; walaupun dalam jumlah terbatas.  Beberapa waktu lalu, lirikan terhadap obat tradisional juga pernah bangkit di Aceh. Hal ini dapat dibuktikan dengan diwujudkannya “Taman Obat Tradisional” Universitas Syiah Kuala  di Banda Aceh. Amat disayangkan, akibat kemarau panjang taman obat ini tidak berumur panjang; mudah-mudahan mampu dibangkitkan  lagi di masa mendatang!.

            Perhatian terhadap obat  bukanlah hal baru..  Ini terbukti  dengan adanya tiga buah buku(kitab) yang ditulis pada masa kesultanan Aceh. Pembahasan tertua mengenai obat dan organ-organ tubuh manusia telah ditulis Syekh Abdussalam pada tahun 1208 H. Tulisan ini merupakan  dua  bab dari tujuh bab dari kitab Tambeh Tujoh(Tujuh Tuntunan).

            Karya kedua mengenai obat, merupakan sebagian  isi kitab Tajul Muluk(Mahkota Raja) yang disusun Syekh Ismail Aceh pada zaman sultan Ibrahim Mansur Syah(1837-1870 M). Kitab tersebut  juga ditulis atas perintah sultan Aceh ini. Kitab obat ketiga adalah naskah yang diterjemahkan oleh Syekh Abbas Kutakarang dari naskah bahasa Arab. Penterjemahannya dilakukan mulai  tahun 1266  s/d 1270  H, yakni 20  tahun sebelum pecah perang Aceh-Belanda tahun 1290 H. Judulnya : Kitaburrahmah  Fitthibbu Walhikmah, yaitu sesuai dengan judul aslinya. Kitab ini lebih tebal dari dua naskah sebelumnya, yakni sejumlah  226 halaman.

          Ada beberapa hambatan  dalam mengaktualkan kembali ketiga naskah ini, tetapi  ada  dua hambatan terpenting diantaranya. Pertama,  ketiganya ditulis dalam huruf Arab Jawi (Jawoe), yang sudah kurang dipahami masyarakat Aceh sekarang. Kedua, nama-nama tumbuh-tumbuhan yang tidak dapat kita kenal seluruhnya; baik dalam bahasa Indonesia atau Aceh.

          Terhadap kitab kedokteran/obat Tambeh Tujoh,  saya tidak mengalami hambatan. Naskah ini  ditulis dalam bahasa Aceh berhuruf Jawoe dengan bentuk syair atau nadham. Manuskrip Tajul Muluk memiliki hambatan yang lebih banyak. Pasalnya, banyak nama tanaman obat atau ramuan yang tidak saya tahu padanannya

dalam bahasa Aceh atau Indonesia. Walaupun demikian, Tajul Mulok ini telah saya salin

(transliterasikan) ke dalam hiruf Latin  Nama-nama tanaman obat yang tidak saya kenal pasti; tetap saya alihkan/gantikan ke huruf Latin; namun nama aslinya dalam huruf Arab Melayu/Jawoe juga saya sertakan di dalam tanda kurung. Hasil transliterasi ini saya beri judul “Resep Obat Orang Aceh”. Tetapi sayang, sampai hari ini belum tercetak. Dapat ditambahkan, Tajul Muluk yang telah saya salin itu dicetak di Qahirah/Cairo, Mesir tahun 1938 M. Tajul Muluk yang masih beredar sekarang terbitan Surabaya, Jawa Timur.

          Dapat ditambahkan, salah satu obat yang pernah saya  praktekkan dari isi kitab Tajul Muluk adalah obat pelupa, yakni dengan meminum air jahe(halia) atau bubuk jahe yang telah ditumbuk. Agar tidak terasa perih/pedas, air jahe itu saya campur dengan telur setengah matang. Setelah meminum satu sendok teh  bubuk jahe setiap pagi  setelah makan selama dua bulan, alhamdulillah penyakit lupa saya sembuh. Asal mula penyakit lupa adalah akibat kecelakaan lalu lintas yang saya alami yang banyak mengeluarkan darah.

Mungkin bagi orang yang berpenyakit maag, tidak cocok ikut mempraktekkan pengalaman saya ini!.

            Mengenai kitab kedokteran/kesehatan ‘Kitaburrahmah Ftthibbu Walhikmah; hasil terjemahan Syekh Abbas Kutakarang; disamping ada hambatan ‘menggalinya’, juga mengandung beberapa kemudahan.  Diantara kemudahannya, yakni sebagian  dari tanaman obat dan nama penyakit; selain disebut dalam bahasa Melayu juga ada sinonimnya dalam bahasa Aceh. Saya belum menyalin manuskrip ini ke huruf Latin karena agak tebal (226 halaman). Memang, pernah saya cari sponsor ke WHO Perwakilan Jakarta dan Kanwil Kesehatan Aceh; tetapi gagal. Oleh karena hanya manuskrip Tambeh Tujoh yang lebih mudah dikaji dibandingkan dua manuskrip lainnya, maka buat selanjutnya naskah Tambeh Tujoh sajalah yang saya upayakan lebih banyak membedahnya!.

           Mungkin anda heran, mengapa sebuah naskah lama yang sebagian isinya tentang pengobatan penyakit seperti Tambeh Tujoh ini samasekali tidak menyinggung obat-obat yang disebabkan jin, hantu, kuntilanak dan makhluk halus yang jahat lainnya. Padahal kitab sejenis, yakni Tajul Mulok banyak sekali menyebutkan berbagai do’a dan ayat Alquran buat azimat dan mantera-mantera “meurajah” lainnya.

             Mengenai sumber penyakit, Tambeh Tujoh hanya menyebut dua asalnya. Pertama,  akibat makan-minum yang tidak teratur (tak diadatkan) serta terlalu banyak memakannya (berlebih-lebihan). Kedua, rusak atau hilangnya keseimbangan dari empat kekuatan dalam tubuh seseorang.

Keempat kekuatan pada tubuh manusia ialah Jaziyah, Maas’ikkamat, Hadhimat dan Dafaat. Fungsi Jaziyah adalah kekuatan menelan/menarik kedalam,  Maas’ikkamat fungsinya menahan/benteng  dari  penyakit, fungsi Hadhimat menghancurkan makanan, sedang fungsi Dafaat mengeluarkan ampas makanan,  seperti keringat, kencing-tinja dan sebagainya. Jadi, bila salah satu dari keempat alat tubuh ini rusak/kurang berfungsi, maka timbullah penyakit pada manusia.

              Bagi memastikan jenis penyakit, Tambeh Tujoh juga punya cara tersendiri buat mendeteksi,  yang sekarang sering disebut diagnosa penyakit. Ada empat obyek pemeriksaan pada tubuh manusia untuk mengetahui penyakitnya, yakni warna tubuh, perilaku, perbuatan dan tutur katanya. Sementara cara mengetahuinya sepuluh macam..

              Kesepuluh cara itu adalah : Pertama, dengan memegang badan si sakit. Kalau tubuhnya panas berarti ‘adan sifatnya. Kedua, jika badannya gemuk berarti sejuk sifatnya. Ketiga, kalau rambutnya ikal-hitam artinya hangat sifatnya. Keempat, jika warna tubuhnya  putih berarti sejuk dan banyak darah kotor (balgham).  Tanda hangat banyak darah, putih-merah warna tubuhnya. Tubuh yang berwarna gandum atau kuning berarti panas. Kelima, melihat anggota badan.  Bila otot besar (urat rayek) kelihatan pada tangan dan kaki berarti bersifat panas. Kalau tidak  nampak berarti sebaliknya (sejuk). Keenam, melihat pada pekerjaannya. Kalau seseorang lincah bekerja berarti bersifat panas. Ketujuh, menilik kelakuannya.  Jika sedang-sedang saja berarti sejuk sifatnya. Kedelapan, memeriksa keadaan tidurnya. Kalau tidurnya banyak( le teungeut ngon jaga), berarti sejuk dan basah

sifatnya. Bila jaganya lebih banyak dari tidurnya berarti hangat dan kering sifatnya. Namun, jika tidur dan bangunnya seimbang adalah akhar sifatnya. Kesembilan,  memeriksa air kencing dan najis/beraknya. Kalau sangat berbau dan merah pula warnanya, maka panas sifatnya. Jika tanda-tanda itu tak ada berarti sejuk. Kesepuluh, memperhatikan prilaku tabib yang mengobatinya. Bila ia memiliki akal dan pemahaman yang tajam berarti ia bertabiat/sifat panas.

             Konsep  pengobatan yang dianjurkan Tambeh Tujoh adalah prinsip-prinsip  yang “berlawanan”; bahwa  penyakit yang bersifat panas harus diobati dengan obat yang sejuk. Sebaliknya, penyakit yang bertabiat sejuk mesti diobati dengan obat yang bersifat panas. Demikian pula, sakit yang bersifat kering harus disembuhkan  dengan obat yang basah. Sementara penyakit basah perlu diberi obat yang bersifat  kering.

Kitab Tambeh Tujoh juga mengecam para tabib dan dukun yang mengobati orang  sakit; tetapi hanya sekedar untuk mencari keuntungan  pribadi. Padahal orang yang diobatinya tak pernah sembuh; bahkan malah semakin parah.

                Pada bab dua, ketika menjelaskan ‘Ilmu Tasyrih’(Organ Tubuh), kitab Tambeh Tujoh menjelaskan bahwa jumlah bagian anggota tubuh manusia sebanyak 40 bagian (digabung laki-laki dan perempuan). Disebutkan,  bahwa pada  rahim seorang perempuan selalu didampingi dua buah pelir yang bentuknya seperti (maaf) zakar /kemaluan lelaki yang letaknya songsang.; berarti letaknya terbalik. Dijelaskan pula, bahwa mata kita berlapis tujuh, mata tersusun dari lemak(gapah), sedang air mata yang asin itu berfungsi agar lemak mata tidak hancur.

                  Sebagai penutup  baiklah saya nukilkan beberapa jenis obat yang dikandung manuskrip Tambeh Tujoh. Pertama,  Obat paling utama/penghulu  obat bagi segala penyakit (anggota badan) adalah air madu. Bagi yang pernah membaca riwayat hidup Yasser Arafat, tentu mengetahui betapa akrabnya tokoh pejuang Palestina ini dengan air madu. Dan semua kita pun tahu bagaimana tegarnya fisik tokoh ini dalam mengharungi badai per

juangannya. Kedua, Bagi mereka yang keracunan, maka air madu bersama-sama buah badam dapat dibuat haluwa(dodol) untuk dimakan setiap hari. Ketiga, rambut keguguran, maka biji sawi  dapatdijadikan obatnya. Keempat, bagi yang lemah/letih/lesu anggota badannya, maka telur ayam merupakan obat mujarabnya. Pada akhir pembicaraan pengobatan, kitab Tambeh Tujoh memcuplik Hadits Nabi Muhammad Saw yang berbunyi:’Wakullu daain lahu dawaaun illas salaama wal harma’, artinya: segala penyakit

ada obatnya, kecuali mati dan menjadi tua!.

 

* T.A. Sakti

Peminat budaya dan sastra Aceh

 

( Catatan kemudian: Alhamdulillah, Kitaburrahmah,  kini hampir rampung  kami lakukan penyalinan ulang dan transliterasi ke huruf Latin. Seandainya dicetak nanti, kitab kesehatan dan perobatan Aceh ini akan berwujud dua macam aksara, yakni huruf Jawi/Jawoe dan aksara Latin. Kegiatan ini dilakukan oleh Drs. Mohd. Kalam Daud, M.Ag dan saya.  Malah ada rencana akan kami gabungkan dengan bagian kitab Tajul Muluk yang sudah saya transliterasikan/alih aksara  pada tahun  1998   dan catatan harian saya tentang obat-obat tradisional Aceh yang banyak saya peroleh selama setahun( April 1986 – April 1987 ) berobat patah di Rumoh Teungoh, Gampong Ujong Blang, Kemukiman Bungong Taloe, Kecamatan Beutong, Aceh Barat/sekarang  Nagan Raya . Insya Allah, paling lambat di akhir Desember 2011 akan tuntas segalanya, termasuk memberi catatan kaki dan penjelasan di sana-sini.  Beban kami yang paling berat nanti  adalah mencari sponsor yang sudi  menerbitkannya!!!. Bale Tambeh, 30 Oktober 2011, T.A. Sakti ).

Guru

Guru

Oleh: T.A. Sakti

Jinoe PNS nyang  rame  guru

Nyang geukheun Cekgu di Malaysia

Keu nasib udep hanjeuet ceumuru

Sabab di Cekgu  leubeh sijahtra

Lethat problema lam suai guru

Jinoe  e  Teungku lon pileh dua

Phon hai sijahtra keudua mutu

Meupalet iku atra nyan dua

Meungtan sijahtra payah get mutu

Sabab lam tunu guru mengaja

Untong na gaya haba u cong U

Adak han guru reubah lam tika

Kredit keu Honda kredit keu dapu

Allah Tuhanku  botak keupala

Lheueh geucok gaji tanle sigeutu

Habeh geubayeue hutang nyangka ka

‘Ohtan pat tarek burekle laku

Jeuet agen buku guru sikula

Peng nibak murid geukutip laju

Alasan Teungku masok logika

Teuma nyang ladom di guru-guru

Kadang  geume bu  ubak sikula

Geutijik kueh meulapeh ngen bu

Geupeuduek laju bak kios tuha

Kahek pikeran pawang kanot bu

Urusan guru jeuet lumboi dua

Meunye lagee nyan pane na mutu

Hanpeue tapacu meutan sijahtra

Guru DKI bit leupah gatu

Gaji geusibu ngen dana kesra

Dalam Serambi meunan geubri su

Tiep buleuen Teungku peng dua juta

Laen nibak nyan dalam hai mutu

Bakat ngon laku patot takira

Nibak tes tamong sikula guru

Bakat keu cekgu sareng beusigra

Miseue bak FKIP- Tarbiyah teuntu

Sareng Iniem u bek pura-pura

Meunye tan angleh na bakat guru

Disinan laju neuyue woe sigra

Sareng beurapat cok bakat guru

Bek rusak laju mutu sikula

Ureueng tan galak tagrak keu guru

Meuilah laku lagee meucuca

Trang peulajaran hantom na maju

Yue salen buku bak murid dumna

‘Oh habeh watee teubiet poguru

Pajan get mutu lagee nyan cara

Poprintah Aceh geutanyoe rayu

Martabat guru patot geubina

Peulom ngon dana jinoe meutabu

Sijahtra guru,  mutu pih beuna!!!

T.A. Sakti

Peminat sastra Aceh

Catatan : Dana kesra DKI, Opini Serambi, Kamis, 16 Oktober 2008, hlm 22.

Pulo Pinang

Pulo Pinang

Oleh  : T.A. Sakti

 

Le ureueng Aceh jinoe di Penang

Tiep uroe Tuhan rame geuteuka

Geujak meu-ubat ngat sihat badan

Hanle geusayang habeh areuta

 

Toke, peutani, guru, karyawan

Geujak u Penang meulumba-lumba

Mulai digle sampe neulayan

Gampong ngen Peukan rab rata-rata

 

Beulanja abeh meujuta kuyan

Aceh katho krang Penang ka kaya

Wahe peumimpin neu mita jalan

Bek sabe meunan Aceh jeuet papa

 

Peue pasai sideh puleh that rijang

Pakon layanan ramah dan sigra

Peue jeuet di Aceh hana lagee nyan

Aceh ngen Penang sangat le bida

 

Dum rumeh-rumeh geuwoe di Penang

Ka sihat badan troih cita-cita

Dilee meuthon-thon peu-ubat badan

Saket tan hilang abeh areuta

 

Peue sabab geuboeh nan Pulo Pinang

Bacut lon karang kheun ureueng tuha

Dum Toke  Aceh ba pineueng keunan

Barang dagangan bak dilee masa!

 

Woe Toke Aceh di Pulo Pinang

Peng peunoh eumpang; Aceh jeuet kaya

‘Oh woe pasien di Pulo Pinang

Peng kasoh eumpang; Penang ka kaya

 

Mantong na beukaih kaya peng Penang

Digampong Turam na rumoh tuha

Bak jurong teungoh rumoh di sinan

He sejarahwan  jeuet jak pareksa

 

Nacit nyang laen kaya wab Penang

Bapak Adnan baklon calitra

Leumo meukawan ba Pulo Pinang

Ayah digobnyan syeedaga raya

 

Watee tapike  sabe  tatimang

Aceh ngen Penang katreb syeedara

Yoh prang Beulanda na Dewan Lapan

Di Pulo Pinang geubila bangsa

 

Dum ureueng Aceh jinoe ka carong

Ek jeuet geupeukong beule syeedaga(?)

U Pulo Pinang bek meukat sahong

Tapi dagangan barang dum geuba!!

!

T.A. Sakti

4-9-2007

Catatan : – katho krang = miskin, papa

– syeedaga = saudagar, toke

– meukat sahong = berlalu-lalang  yang merugikan

– Gampong Turam, Pekan Bilui, Aceh Besar.

Alhamdulillah, Qanun Tes Baca Al Qur’an bagi Caleg Aceh Akhirnya Selamat!

Alhamdulillah, Qanun Tes Baca Al Qur’an bagi

Caleg Aceh Akhirnya  Selamat!

Oleh: T.A. Sakti

Akhirnya terselamatlah Qanun Nomor 3 Tahun 2008 secara utuh. Hal ini dibuktikan dengan dilaksanakannya uji baca Alquran bagi 1.368 caleg Aceh sejak awal September sampai minggu terakhir September 2008. Tes itu berlaku umum,  baik bagi caleg asal partai lokal maupun partai nasional.  Semula ada keraguan dalam masyarakat, bahwa Pasal 36 dari Qanun itu akan dihapuskan  Menteri Dalam Negeri (Mendagri)  dengan alasan yang berhak mengatur partai nasional adalah pemerintah pusat. Namun nampaknya Qanun lebih kuat dibandingkan keputusan Mendagri – menurut tata tertib perundang-undangan negara kita . Hanya Peraturan Presiden(Perpres) yang dapat membatalkan Qanun. Dengan harapan,  mudah-mudahan  Perpres pun tidak dikeluarkan oleh Presiden RI dimasa yang akan datang;  agar  selamatlah Qanun Nomor 3 Tahun 2008  yang telah ditelorkan DPRA dengan banyak pengorbanan yang mengatasnamakan kepentingan rakyat Aceh. Dan memang, Qanun Nomor 3 Tahun 2008 mengandung kepentingan rakyat Aceh yang amat mendasar, baik sudut agama, adat dan budaya mereka. Maka alangkah kecewanya rakyat Aceh, seandainya sebagian isi Qanun itu di hapuskan. Padahal anggota Dewan telah memperjuangkannya sampai pada tahap voting!

Kerja menghasilkan Qanun bukanlah pekerjaan mudah. Kepadanya telah dicurahkan berbagai kebutuhan yang dibutuhkan, Baik, tenaga, pikiran dan lain – lain. Apalagi mengingat, bahwa Qanun Itu bukanlah disusun oleh orang – orang biasa, tetapi oleh mereka yang “ luar biasa “, terutama dilihat dari cara pemilihan dan penggajian orang – orang tersebut. Merekalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh ( DPRA ). Mereka telah diberikan kehidupan mewah karena terpilih dalam Pemilu berkat dukungan rakyat Aceh.

Begitulah, baru – baru ini anggota DPRA telah mengesahkan Qanun Nomor 3 Tahun 2008. Menjelang pengesahan merupakan saat – saat  amat serius, sebab ada pihak yang tidak setuju. Ini terbukti dengan dilangsungkan Voting ( meulele suara ). Ternyata 33 suara menyetujui dan 15 suara tidak setuju ( Baca : “Syarat Baca Qur’an Dicabut “, Harian Serambi Indonesia, halaman 1 – 11, Jum’at, 1 Agustus 2008 ). Akhirnya, menjadi sahlah Qanun Nomor 3 Tahun 2008.

Tiba- tiba, di pagi jum’at saya baca dalam Serambi,  bahwa Menteri  Dalam Negeri Mendagri) menyebutkan “pasal . 36 Qanun Nomor 3 tahun 2008 yang mengatur tentang persyaratan dapat membaca Qur’an bagi calon anggota DPRA dan DPRK dari partai politik harus di cabut”.  Membaca hal demikian, sebagai anggota masyarakat saya betul-betul kaget. Sebab dalam pikiran awam saya, sudah capek-capek disusun, di perdebatkan dan “divoting” , kenapa di obok-obok lagi !!?. Bukankah, apa yang telah dihasilkan DPRA menjadi sia-sia!.  Padahal untuk menghasilkan Qanun itu telah menghabiskan dana negara/rakyat amat besar!.

Sepantasnya,  bagi daerah Aceh yang telah diberi otonomi amat luas; tidak menamakan semua peraturan daerahnya dengan nama Qanun. Selain Qanun perlu ada Peraturan Daerah (Perda). Kalau Perda dibolehkan campur tangan Pemerintah Pusat, sedang Qanun hanya boleh di ubah Pemda Aceh- DPRA. Sebab Qanun lebih ‘sakral’, yang bersumber historitas Aceh. Pada massa kesultanan Aceh, segala keputusan kerajaan yang penting dinamakan Qanun.

Dalam versi  baru ini , kalau Perda cukup disahkan Gebernur -DPRA, sedangkan Qanun selain Gebernur-DPRA juga disahkan Wali Nanggroe ( ketika lembaga ini terbentuk nanti). Qanun ini berisi berbagai hal yang berkaitan ciri khas Aceh, sementara Perda isinya lebih umum, terkait nasional-keindonesiaan. Dengan demikian,  terhindarlah pemborosan dana negara/ rakyat, di saat-saat rakyat sedang melarat.

Pelaksanaan Syariat

Kita merasa heran disaat sedang berlakunya Undang-Undang nomor 44 Tahun 1999 tentang keistimewaan  Aceh dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh; masih berlaku pembongkaran Qanun. Sebab kedua Undang-undang  itu- yang tak lain  di susun DPR RI – telah mengakui sekaligus memperkuat beberapa ciri khas daerah Aceh.

Secara garis besar, Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 mengakui empat bidang keistimewaan Aceh, yakni agama, adat,  pendidikan dan ulama. Keempat bidang  ini kalau di persandingkan, sama sekali tidak terlepas dari kemampuan membaca Al-Qur’an. Karena itu tidak beralasan Mendagri berkeberatan dengan syarat wajib mampu membaca Al-Qur’an bagi caleg di Aceh yang berasal dari Partai Nasional ( Parnas ). Sebab, tuntutan mampu membaca Al-Qur’an  itu sudah sejiwa dengan Undang-Undang  yang berlaku di Aceh. Jika alasannya karena mereka dari Partai Nasional; itu pun kurang adil; karena pepatah mengatakan “Dimana bumi  dipijak di situ langit dijunjung”. Apalagi bila di ingat – saya yakin betul begitu – bahwa orang-orang di partai nasional yang beroperasi di Aceh itu, mayoritasnya putra-putri Aceh,  sehingga aneh sekali jika mereka pun anti pada karakter Aceh yang Islamis.

Lebih-lebih lagi bila kita menelusuri isi Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2006, maka upaya mencabut Pasal 36 Qanun Nomor 3 tahun 2008, betul-betul di luar dugaan pikiran rasional. Betapa tidak, Undang-Undang  Nomor 11 Tahun 2006; yang antara lain ‘mengakui’ Partai Lokal, Lembaga Adat  Syariat Islam, Qanun, kebudayaan, Bendera, Lambang dan Himne bagi Aceh. Kalau sudah sejauh itu sudah diakui sah menjadi hak warga Aceh; tak usahlah dipersoalkan lagi mengenai syarat mmpu membaca Al-Qur’an  bagi caleg DPRA dan DPRK; baik asal partai nasional atau partai lokal.  Karena mampu membaca Qur,an itu bertaut erat dengan adat, Syariat Islam, Kebudayaan Aceh sebagai ‘induknya’.

Salah satu ungkapan adat Aceh menyebutkan: Agama ngon adat lagee dat ngon sifeut (Artinya; Agama dengan adat seperti zat dengan sifat). Dalam hal ini, mampu membaca Al-Qur’an sudah mentradisi di Aceh,  yakni setiap anak dari kecil sudah “diadatkan” membaca Al-Qur’an. Disaat petuah-petuah lama sudah punah digilas globalisasi- yang mendorong anak-anak Aceh rajin belajar ngaji- sekarang muncul pendorong baru yang lebih sesuai dengan dunia kini. Yakni “kalau tak bisa mengaji Qur’an, kamu tak boleh menjadi Bupati, anggota DPRA- DPRK!”;  begitu sang anak-anak Aceh diingatkan Guru Ngaji (Teungku) atau orangtuanya. Dengan demikian Pasal 36 dan Pasal 13 (ayat 1 huruf c) dari Qanun No. 3  Tahun 2008 itu; tidak hanya dapat mendongkrak semangat belajar ngaji bagi caleg DPRA-DPRK Aceh menjelang tes baca Al-Qur’an  bagi mereka, tetapi juga berpengaruh kepada putra-putri Aceh yang sedang belajar “Ngaji” di seluruh Aceh.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, pada Bab XV11 mengatur mengenai Syariat Islam dan Pelaksanaannya. Pasal 125  ayat 1 berbunyi: “Syariat Islam yang dilaksanakan di Aceh meliputi  aqidah, syariah dan akhlak”.

Diantara tugas anggota DPRA-DPRK- baik asal partai nasional maupun lokal  di Aceh adalah mendukung pelaksanaan Syariat Islam di Aceh. Jika mereka tidak mampu membaca Al-Qur’an; bagaimana mereka dapat mengemban tugas secara optimal/ penuh. Sebab, Syriat Islam yang meliputi aqidah, syariah dan akhlak itu amat erat kaitannya dengan  kitab suci Al-Qur’an. Memiliki anggota Dewan yang kurang becus melaksanakan tugas, maka rugilah negara /rakyat yang memberi ‘hidup mewah’ kepada mereka.  Dalam pasal 126 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006, ayat 1 berbunyi : “Setiap pemeluk agama Islam di Aceh wajib  menaati dan mengamalkan Syariat Islam”. Sementara ayat 2 berbunyi : “Setiap orang yang bertempat tinggal atau  berada di Aceh wajib menghormati pelaksanaan Syariat Islam”.

Berdasarkan alasan-alasan Undang-Undang dan logika di atas, maka saya berkesimpulan pencabutan pasal 36 Qanun Nomor 3 Tahun 2008 kurang logis, bertentangan dengan Undang-Undang yang sah dan kurang peduli terhadap tradisi dan adat-istiadat Aceh.

Akhirnya, saya hanya mengharapkan “keikhlasan sempurna” dari  Presiden RI, Mendagri serta para pejabat pemerintah di tingkat nasional; terhadap setumpuk Undang-Undang dan peraturan lainnya yang telah di berikan kepada masyarakat Aceh. Sebab menggugat kembali terhadap apa yang sudah diberikan, berarti menampakkan keiklasaan yang kurang sempurna alias menyesal !!!.

T.A.Sakti

*Penulis adalah sarjana hukum

tatanegara, peminat budaya

.dan sastra Aceh.

PUASA RAMADHAN

Dari karya ‘Abdullah ‘Arief  yang terlupakan :

PUASA RAMADHAN

DALAM  ALUNAN  NAZAM ACEH

Oleh: TA. Sakti

Teungku  Abdullah Arif, MA merupakan seorang pujangga yang lahir di bumi

Aceh Serambi Mekkah. Di samping sebagai sastrawan, beliau juga berperan

sebagai wartawan sejak zaman Jepang. Pada  Oktober 1945, bersama A.Hasjmy ia mendirikan suratkabar “Semangat Merdeka”, sebagai koran pertama   di Aceh setelah Republik Indonesia merdeka.  Terakhir sekali  Abdullah Arif  bertugas sebagai

wartawan dari suratkabar Indonesia Raya.  Ia  juga sangat berjasa–

bersama-sama tokoh lain — dalam mewujudkan Kopelma Darussalam di Banda Aceh. Kini

beliau telah Almarhum ( 1970 ).  Pengalaman terakhir sebagai Dosen Institut Agama Islam Negeri Ar – Raniry.  Banyak  karangan  dan artikel  beliau

yang beredar dalam masyarakat. Namun sekarang nyaris semuanya telah punah.  Salah satunya yang masih saya miliki  berjudul  Kitab Masailal Meunadham, yang ditulisnya ketika ia berumur 17 tahun.

Kitab ini  berbentuk syair bahasa Aceh  yang disebut Nazam/Nadham.. Naskah  Masailal Meunadham  dicetak di Pulau Pinang(sekarang: Penang- Malaysia)  dalam

tahun 1948. Kitab yang dicetak dengan huruf Arab Jawi ( tulisan Jawoe) ini, isinya

tentang berbagai masalah Hukum Islam, di antaranya  soal Puasa, yakni :

I’lam ta theei wahe sampee agam dara

Suroh Tuhan buleun Ramadhan ta puasa

Dalam sithon cit sibuleun geuyueu theun droe

Nibak mandum makan minum watee uroe

 

Saboh ayat mulia that deungo jinoe

Dali wajeb puasa ateuh geutanyoe

Yaa aiyuhal lazi na aamanuu

Kutuba ‘alaikumush shiyaamu

Kama kutiba ‘alal laziina

Mingqablikum la’al lakum

Tat taquun.

 

( He seugala mereka nyangka beriman

Ateuh gata puasa ka geuwajebkan

Lagee nyangka geu peuwajeb uleh Allah

Ateuh ureung nyang dileekon nyangka leupah

 

Mudah – mudahan ngon sababka ta puasa

Hate teuh nyan ubak Allah that taqwa)

Teuma jinoe ulon peugah rukon syarat

Beutajaga dumna gata wahe sahbat

 

Nyang Meuwajebkan Puasa

 

Peuet peue meuhat nyang peuwajeb ta puasa

Phon Islam nyang keudua ‘akai beuna

Keulhee baligh katroh masa umu sampoe

Dan nyang keupeuet cit kuasa bakta theun droe

 

Ureueng saket nyang dla’eh that haroh buka

Meunan citlom ureueng  teungoh dalam safa

Meureud haroh nyakni hana jeuet keu deesya

Teutapi bak uroe laen payah qadla

 

Peureulee Puasa

 

Peuet peukara peureulee puasa nyang phon taniet

Dalam masa gohlom faja shadeq teubiet

Sagai hansah puasa gata beugot tapham

Meunye hana ta peudom niet tiep-tiep malam

 

Beuta ingat niet cit meuhat dalam hate

Lafath niet nyan jinoe taulan lon peulahe

Sahja ulon puasa peureulee Ramadhan

Singoh uroe dalam thon nyoe  kareuna Tuhan

 

Bak malam phon Sunat meuhat taniet meunoe

Lon puasa ban sibuleun Ramadhan thon nyoe

Keu dua nibak makan minum cit ta theun droe

Keu lhee tatheun droe  teuh nibak Jimak  uroe

 

Watee malam jeuet hai taulan Meusituboeh

Phon yoh sinja hingga faja lheuh nyan piyoeh

Keu peut tatheun droe teuh nibak sahja muntah

Meumnyo tan peut peukara nyan puasa hansah

 

Nyang  Peubateue Puasa

 

Na siploh peue nyang peubateue dum puasa

Tapeu jeuoh dum bak tuboeh beuta jaga

Nyang phon tasak barang peue lam ruhung tuboeh

Got bak ulee got pat laen dumpat cit roh

 

Nyang kedua tasak beunda dalam ruhung

Nyang teubuka miseue dua geuliyueng hidong

Keu lhee  meunghisap ngon saboh nibak dua jalan

Keupeut muntah cit deungon ta seungajakan

 

Nyang keulimong ta Meujimak watee  uroe

Atawa Inzal ngon peh meupeh lakoe  ngon binoe

Keunam ta keulua mani deungon jaroe

That berbahaya he saudara bek sagai toe

 

Barang kasoe nyang pubuet  nyoe lethat bahya

Leumoh utak mata rusak watee tuha

Nyankeuh sahbat peulara that masa jinoe

Agam dara hana bida nibak buet nyoe

 

Tujoh nif’as keu lapan haidh ureueng inong

‘Oh jiteuka bateue puasa hanpeue tanyong

‘Oh seureuta ka putoh hidh deungon nif’as

Bekle lale tajak manoe pantah-pantah

 

‘Ohlheueh manoe peuhase droe nyanka suci

Tueng puasa singoh uroe ta mulai

Puasa tinggai lm watee nyan wajeb qadla

Ube tinggai dumnan sagai payah qadla

 

Ingat taulan puasa Ramadhan bekta tinggai

Deungon qadla hanjeuet hana sagai-sagai

Keu sikureueng pungo pitam miski siat

Keu siploh meuhan deungon sababteu meureutat

 

Sunat Bak Ureueng Puasa

 

Lhee peue meuhat sunat bak ureueng puasa

Phon lon seubut sigra bacut bak tabuka

Meungka yakin atawa dhan jilob uroe

Sunat lanja laju buka bekle laloe

 

Soe-soe nyangna geusimpan taqwim Ramadhan

Jeuet cit buka meunurot bak taqwim nyan

Nyang keudua makan saho ta peulambat

Silama gohlom troh watee syok beuta ingat

 

Dan nyang keulhee bekta marit narib keuji

Miseue ceumarot ngon meudhot-dhot caci maci

Tapeulara dua anggoeta beuta satoh

Bek jeuet bateue dumna pahla habeh gadoh

 

Ingat sahbat bekmeu upat lam puasa

Bek jeuet payah tatheun deuek grah sia-sia

Rugoe raya dumna pahla ka hanale

Gata deuek pruet beungoh seupot ngon tho hate

 

Hareuem Puasa

 

Limong uroe nyang hareuem that ta puasa

Dum geutanyoe bak uroe nyan geuyue buka

Uroe Raya meuhat dua Tasyrek lhee

Jumlah bandum limong uroe beuna tathee

 

Ureueng Nyang  Haroih Buka

 

 

Geupeumudah uleh Allah dum keu hamba

Keulimong droe ureueng buaka puasa

Nyang peurtama ureueng saket that nazeu’a

Nyangkeu bit-bit bukon saket pura-pura

 

Nyang keudua keu ureueng nyang bungka jeuoh

Keulhee ureueng hamel aneuk dalam tuboeh

Keupeuet meuhat ureueng nyangthat leupah tuha

Meunye han ek bak geutheun droe jak geubuka

 

Ureueng teungoh peumom aneuk nyangkeu limong

Geupeumudah uleh Allah keu Nyak Inong

Teutapi puasa wajeb qadla nyang tinggai nyan

Ube nyangka lheueh tabuka lam Ramadhan

 

Meulaenkan nyang tan payah qadla ureueng tuha

Ngon ureueng saket nyang han puleh bak keunira

Teutapi wajeb boeh Fidiyah ateueh gobnyan

Lam siuroe cit saboh mud nyang hanjeuet han

 

Puasa Sunat

 

Sunat tapham puasa nam buleuen Syawal

Lethat pahla he syeedara bekta tinggai

Nishful Syakban sunat sinan ta puasa

Dan taingat pih sunat that bak ‘Asyura

 

Uroe Tasu’a dan puasa nyang ta’adat

Seunanyan Hameh seukalian sunat meuhat

 

Demikianlah sekelumit kutipan dari Masailal Auwaliyah, yang  lebih populer dengan nama Masailal Meunadham –artinya Masailal  berbentuk Nazam – karangan salah seorang Pujangga Aceh yang amat terkenal dalam tahun-tahun 40-an sampai 60-an.

Kita sungguh rugi, jika “Pusaka Pujangga”  itu  tidak ada pihak-pihak yang mau menyelamatkannya!. Kiranya, dua karya Abdullah Arif, yakni “Seumangat Aceh”  12 jilid dan “Nasib Aceh” 6 jilid amat patut dicetak ulang!!!.

T.A. Sakti

Peminat budaya dan sastra Aceh.