Aneukmiet beuet – Ketika Anak Aceh Belajar Mengaji Al Qur’an

Ketika Anak Aceh Belajar Mengaji Alquran :
“Takdhim keu Guree Meuteumeung Ijazah!,..”
Tes baca Alquran bagi caleg Aceh telah dilaksanakan. Banyak pengajaran yang dapat dipetik dari kegiatan itu, baik bagi peserta caleg sendiri maupun bagi masyarakat Aceh pada umumnya. Bagi caleg yang tidak lulus, tentu perlu lebih mendekatkan diri dengan “Teungku” dalam upaya meningkatkan kelancaran membaca Alquran di masa depan, sedangkan bagi caleg yang lulus semestinya bersyukur dan berterima kasih kepada  Teungku,yang telah bersusah payah mendidik mereka, sehingga lancar membaca Alquran. Disamping itu, mereka patut pula  punya cita-cita untuk membantu pembinaan Bale Seumeubeuet di Aceh serta turut mendukung upaya mensejahterakan  Teungku,  bila mereka terpilih menjadi anggota Dewan kelak. Sebab, takdhim keu guree meuteumeung ijazah, takdhim keu nangbah meuteumei hareuta (menghormati guru mendapat ijazah, tunduk dan patuh pada orangtua mendapat warisan)..
Memang, dalam tradisi seumeubeuet(pengajian) tempo dulu di Aceh tingkat “takdhim keu guree” ini amat kental. Sekarang, keadaannya sudah jauh berubah.
Saya kira, dalam rangka takdhim keu eleumee ngon guree itu pula, yang membentuk “Tata Tertib” yang ketat dalam proses pengajian Alquran di Aceh pada masa lalu.
Secara tradisi, tahap-tahap pembelajaran agama bagi seorang anak adalah di rumah sendiri, di bale gampog/rumoh teungku dan di dayah.  Bagi seorang anak yang telah berumur 7-8 tahun, bila orangtuanya tak mampu mengajari membaca Alquran, maka anak yang bersangkutan akan diantar ke tempat pengajian di kampungnya, baik di Meunasah atau di rumah Teungku. Waktu/jam  belajar berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat penagajian lainnya, yakni antara pagi, sore dan malam hari.  Tulisan ini berfokus di sini,yakni mencermati “Tata Tertib” prosesi  pengajian bagi murid-murid pemula belajar membaca Alquran
Hari Rabu biasanya dipilih sebagai hari yang afdhal untuk mengantar anak ke tempat pengajian (intat beuet). Tak lupa pula sang orangtua anak membawa sepiring bu leukat ngon u mirah (nasi pulut dengan gula merah). U mirah atau u puteh adalah  kelapa yang dicampur gula merah atau gulaputih yang dimasak atau disebut U teuwot. Maksud dari nasi ketan, yaitu agar pelajaran yang diberikan cepat melekat di kepala{mudah diingat), karena nasi pulut itu bergetah/lekat. Sementara, u mirah bermaksud supaya hati terang dan mudah menerima pel ajaran(bek beunak hate). Selain bu leukat, ada pula orangtua anak  yang membawa beureuteh-pisang (beureuteh= padi ketan yang digongseng hingga menetas}. Tujuannya sama, yakni agar otak sang anak encer dan cepat mengerti pelajaran; sebagaimana padi yang digongseng (Lheue beureuteh) yang meletus cus-cus. Geuba beureuteh ngon pisang;mangat rijang jeuet Alehba(Dibawa beureuteh dengan pisang, agar cepat pintar ngaji Juz ‘Amma). Dapat ditambahkan, selain maksud di atas, bu leukat dan beureuteh tadi juga berfungsi mengakrabkan pergaulan antara si murid baru dengan para murid lama. Sebab, setelah acara penyerahan murid baru selesai, maka bu leukat u mirah atau beureuteh-pisang itu akan disantap bersama-sama.  Karena itu, para murid yang lama selalu berharap serta “berdo’a” agar sering ada murid baru yang diantar ke sana sehingga mereka dapat lebih sering menikmati kenduri buleukat atau beureuteh-pisang.
Di tempat pengajian tertentu, ada pula ucapan khusus yang dilafalkan orangtua ketika menyerarahkan anaknya kepada Teungku. Yaitu: “Nyoe aneuklon lon jok keu Teungku, neupeubeuet!.  Meunye neupoh, meubek capiek ngon buta!” (Anak saya, diserahkan kepada teungku; ajarkan dia!. Boleh dipukul, asal tidak pincang dan buta!). Pernyataan orangtua murid itu diucapkan sambil berjabat tangan/bersalaman antaranya dengan Teungku, sedang Teungku yang menerima murid baru itu  mengucapkan :  “Insya Allah!”.
Sejak hari pertama itu, maka bergelutlah sang anak-baik putra maupun putri- dengan pelajaran membaca  Alquran. Metode yang dipakai adalah Kaedah Baghdad (asal Irak), yakni dengan cara mengeja huruf-huruf hijaiyah/ejaan dari huruf Arab yang 29 buah itu.
Sistem ini tentu berbeda dengan Metode Iqrak (asal Yogyakarta); yang mengutamakan membaca kata-kata Arab dalam huruf Arab.
Dalam pelaksanaan kaedah Baghdadiyah di Aceh, belajar membaca secara berulang-ulang(meudraih) sangat dipentingkan Seseorang murid yang sudah menyelesaikan bacaan pada suatu batas/bab tertentu,  yang ditandai dengan perkataan ‘Wassalamu’; dia tidak serta-merta dipindahkan/dilanjutkan ke bab yang lain. Sang Teungku terus-menerus menyuruh anak itu mengulang lagi…dan lagi bahan bacaan itu.   Bila seorang anak telah lancar membaca Qur’an Alehba(Juz  ‘Amma), agar lebih berkah/beureukat; maka disinipun diadakan acara kecil-kecilan yang disebut ba bu Aleuham (membawa nasi Alham/Alfatihah). Bu Aleuham itu juga dimakan secara bersama-sama para murid di pengajian itu. Oleh karena bu Aleuham bukan suatu kewajiban, maka ia hanya dibawa para orangtua murid yang mampu dan sukarela saja.
Selanjutnya, sebagai menyambung dari Qur’an Alehba, seorang murid akan diajari membaca Qur’an rayek(Alquran besar). Sebagai sarana pembukaan juga disertai khanduri bu leukat, baik yang berlauk u mirah, u puteh(kelapa campur gula yang dimasak)  maupun tumpoe. Biasanya, pihak yang membawa bu leukat-tumpoe adalah keluarga yang bersahaja-segala sesuatu tidak asal ada- dan keluarga mampu.
Dalam pelaksanaan pembelajaran Qur’an rayek/Qur’an 30 juz ini sejumlah tantangan masih dihadapi oleh murid dan Teungku, Walaupun telah menamatkan kitab/Qur’an Alehba, tidak semua murid bisa langsung lancar membaca Alquran besar.
Boleh dikatakan masih lebih banyak yang perlu geupeutateh lom/dituntun kembali dibandingkan yang sudah mampu membaca mandiri. Bagi sebagian murid yang kurang lancar ini, untuk sampai ke Juz 15 saja  paling kurang menghabiskan waktu setengah tahun.
Akibat banyak hambatan dan tantangan dalam belajar membaca Qur’an rayek, maka jika seseorang murid telah sanggup menyelesaikan  separuh Alquran(trok bak Juih Teungoh); tentu dianggap sebagai prestasi luar biasa. Kegembiraan diwajah murid akan membludak disaat ia membaca kata “Walyathalaththaf’ pada surat Al Kahfi. Bagian ayat Alquran  Juz ke 15/Subhanallazy ini tertulis amat tebal dan besar yang berwarna hitam pekat (atau warna merah pada cetakan Alquran lama), merupakan bagian tengah dari Alquran. Hal ini ditandai dengan tulisan nishful Qur’an (setengah Alquran) di pinggirannya.
Guna memeriahkan/merayakan peristiwa besar bagi seorang murid yang sudah sampai separuh Alquran itu,   diadakan pula  khanduri Juih Teungoh, yakni berupa “buleukat Juih Teungoh”, yang dibawa oleh murid yang bersangkutan yang kadang-kadang disertai orangtuanya pula. Buleukat beserta lauknya dalam beulidi/wadah besar itu, selain disantap Teungku bersama-sama muridnya; juga dibagi-bagikan ke rumah-rumah tetangga dari Bale pengajian itu. Akibatnya, ‘termasyhurlah!” bahwa si anu (Aceh: si anoe nyan) telah belajar mengaji sampai ke Juih Teungoh. Dan hal itu merupakan kebanggaan keluarga  pada masa lalu. Inilah ‘semangat keagamaan’ atau syiar Islam  namanya. Masihkah kebanggaan demikian merasuk hati orang Aceh sekarang?.
Bagi murid(Aneukmiet beuet)  yang sudah sampai ke Juih Teungoh; biasanya telah mencapai batas jalan lempang untuk dapat menamatkan pelajaran membaca Alquran. Namun, biar pun sang murid telah sanggup menyelesaikan bacaan sampai pada   surat
114/ An Naas; bahkan pada kalimat “Watammat kalimatu…”, tetapi Teungku masih terus menyuruhnya untuk membaca ulang(meudraih) kembali mulai surat permulaan Alham/Alfatihah dalam jumlah berkali-kali. Padahal, pada saat-saat demikian, hati /pikiran si murid sedang sangat tergoda(teugoe-goe) untuk belajar “Kitab”, sebagai studi lanjutan sesudah menamatkan Alquran. Atas landasan ‘takdhim keu guree’;walaupun hati kepingin sekali belajar kitab; sang murid terus-menerus meudraih-ulang  Alquran berkali-kali tamat lagi,  sampai saat Teungku menganggapnya  sudah memadai.
Pada bagian acara peutamat/menamatkan Qur’an, secara khusus Teungku memimpinnya. Caranya, sang Teungku membaca duluan ayat dan surat tertentu yang sekaligus dibaca ulang oleh murid yang bersangkutan. Ayat dan surat yang menjadi tradisi dalam menamatkan Alquran ini barulah berakhir pada kalimat “Watammat kalimatu Rabbika shidqan wa’adlan…dan seterusnya; yang disahuti seluruh hadirin secara serentak beramai-ramai.
Sebelum upacara peutamat/khatam Qur’an itu dilaksanakan, sebenarnya ada “Tata tertib” tradisi peutamat Qur’an yang dilangsungkan. Yaitu : Me Butamat(mengantar nasi tamat Qur’an). Akan tetapi karena upacara ini membutuhkan biaya yang lebih besar-dibandingkan ba buleukat ngon tumpoe-, maka acara “ babu tamat “ ini lebih sering ditunda.
Ketika orangtua murid merasa siap, diantarlah ’ bu tamat’  ke rumah/balai pengajian.
Selain nasi yang siap santap, ada pula yang membawa bahan-bahan mentah  berupa beras, ayam jago,  kelapa, uang, rujee/kayu api dan sebagainya. Bahkan, ada pula keluarga kaya yang membawa berbagai kelengkapan serta  menyret seekor kambing-gasi(kameng gasi) ke rumah Teungku. Perlengkapan khanduri Bu Tamat ini batu dibuat kenduri sewaktu kenduri tahunan(khanduri thon) di rumah Teungku atau ketika bahan-bahan peutamat Qur’an dari beberapa murid sudah terkumpul. Begitulah beberapa “Tata Tertib” belajar mengaji Alquran yang dilakukan selama proses belajar mulai dari awal sampai tamat, yang kesemuanya tidak lepas dari tujuan ‘Takdhim keu Guree”; yakni memuliakan dan menghargai guru alias Teungku.
Kini, ketika Aceh didera era globalisasi;  ketulusan Takdhim keu Guree pasti sudah jauh berkurang, bahkan nyaris tak bersisa lagi. Akibatnya tempat-tempat pengajian sejenis Bale Seumeubeut di gampong-gampong pun  secara drastis berkurang pula. Dalam suasana prihatin demikian; beruntunglah kita karena mulai tahun 2008 ini di Aceh telah ditubuhkan sebuah lembaga khusus yang bernama “Badan Pembina  Dayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam”. Melihat namanya,  terkesan hanya mengurus Dayah saja, maka ada baiknya  badan tersebut  diperlebar lagi kewajibannya, yakni juga ikut membina Rumoh dan Bale Seumeubeut yang terdapat di gampong-gampong di seluruh Aceh. Karena itu, nama lembaga itu perlu diubah menjadi “Badan Pembina Bale Seumeubeuet dan Dayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam”!. Akhirnya, kepada Pemda Aceh dan DPRA  kita harapkan,  agar mengalokasikan anggaran yang pantas bagi pembinaan Bale Seumeubeuet di gampong-gampong, karena para aneukmiet beuet adalah juga anak-anak bangsa yang perlu dicerdaskan seperti para murid sekolah umum dan agama yang lebih diprioritaskan selama ini!!!..
T.A. Sakti
Peminat budaya dan sastra Aceh,
tinggal di Banda Aceh.                  .
Ketika Anak Aceh Belajar Mengaji Alquran :
“Takdhim keu Guree Meuteumeung Ijazah!,..”
Oleh : T.A. Sakti
Tes baca Alquran bagi caleg Aceh telah dilaksanakan. Banyak pengajaran yang dapat dipetik dari kegiatan itu, baik bagi peserta caleg sendiri maupun bagi masyarakat Aceh pada umumnya. Bagi caleg yang tidak lulus, tentu perlu lebih mendekatkan diri dengan “Teungku” dalam upaya meningkatkan kelancaran membaca Alquran di masa depan, sedangkan bagi caleg yang lulus semestinya bersyukur dan berterima kasih kepada  Teungku,yang telah bersusah payah mendidik mereka, sehingga lancar membaca Alquran. Disamping itu, mereka patut pula  punya cita-cita untuk membantu pembinaan Bale Seumeubeuet di Aceh serta turut mendukung upaya mensejahterakan  Teungku,  bila mereka terpilih menjadi anggota Dewan kelak. Sebab, takdhim keu guree meuteumeung ijazah, takdhim keu nangbah meuteumei hareuta (menghormati guru mendapat ijazah, tunduk dan patuh pada orangtua mendapat warisan)..
Memang, dalam tradisi seumeubeuet(pengajian) tempo dulu di Aceh tingkat “takdhim keu guree” ini amat kental. Sekarang, keadaannya sudah jauh berubah.
Saya kira, dalam rangka takdhim keu eleumee ngon guree itu pula, yang membentuk “Tata Tertib” yang ketat dalam proses pengajian Alquran di Aceh pada masa lalu.
Secara tradisi, tahap-tahap pembelajaran agama bagi seorang anak adalah di rumah sendiri, di bale gampog/rumoh teungku dan di dayah.  Bagi seorang anak yang telah berumur 7-8 tahun, bila orangtuanya tak mampu mengajari membaca Alquran, maka anak yang bersangkutan akan diantar ke tempat pengajian di kampungnya, baik di Meunasah atau di rumah Teungku. Waktu/jam  belajar berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat penagajian lainnya, yakni antara pagi, sore dan malam hari.  Tulisan ini berfokus di sini,yakni mencermati “Tata Tertib” prosesi  pengajian bagi murid-murid pemula belajar membaca Alquran
Hari Rabu biasanya dipilih sebagai hari yang afdhal untuk mengantar anak ke tempat pengajian (intat beuet). Tak lupa pula sang orangtua anak membawa sepiring bu leukat ngon u mirah (nasi pulut dengan gula merah). U mirah atau u puteh adalah  kelapa yang dicampur gula merah atau gulaputih yang dimasak atau disebut U teuwot. Maksud dari nasi ketan, yaitu agar pelajaran yang diberikan cepat melekat di kepala{mudah diingat), karena nasi pulut itu bergetah/lekat. Sementara, u mirah bermaksud supaya hati terang dan mudah menerima pel ajaran(bek beunak hate). Selain bu leukat, ada pula orangtua anak  yang membawa beureuteh-pisang (beureuteh= padi ketan yang digongseng hingga menetas}. Tujuannya sama, yakni agar otak sang anak encer dan cepat mengerti pelajaran; sebagaimana padi yang digongseng (Lheue beureuteh) yang meletus cus-cus. Geuba beureuteh ngon pisang;mangat rijang jeuet Alehba(Dibawa beureuteh dengan pisang, agar cepat pintar ngaji Juz ‘Amma). Dapat ditambahkan, selain maksud di atas, bu leukat dan beureuteh tadi juga berfungsi mengakrabkan pergaulan antara si murid baru dengan para murid lama. Sebab, setelah acara penyerahan murid baru selesai, maka bu leukat u mirah atau beureuteh-pisang itu akan disantap bersama-sama.  Karena itu, para murid yang lama selalu berharap serta “berdo’a” agar sering ada murid baru yang diantar ke sana sehingga mereka dapat lebih sering menikmati kenduri buleukat atau beureuteh-pisang.
Di tempat pengajian tertentu, ada pula ucapan khusus yang dilafalkan orangtua ketika menyerarahkan anaknya kepada Teungku. Yaitu: “Nyoe aneuklon lon jok keu Teungku, neupeubeuet!.  Meunye neupoh, meubek capiek ngon buta!” (Anak saya, diserahkan kepada teungku; ajarkan dia!. Boleh dipukul, asal tidak pincang dan buta!). Pernyataan orangtua murid itu diucapkan sambil berjabat tangan/bersalaman antaranya dengan Teungku, sedang Teungku yang menerima murid baru itu  mengucapkan :  “Insya Allah!”.
Sejak hari pertama itu, maka bergelutlah sang anak-baik putra maupun putri- dengan pelajaran membaca  Alquran. Metode yang dipakai adalah Kaedah Baghdad (asal Irak), yakni dengan cara mengeja huruf-huruf hijaiyah/ejaan dari huruf Arab yang 29 buah itu.
Sistem ini tentu berbeda dengan Metode Iqrak (asal Yogyakarta); yang mengutamakan membaca kata-kata Arab dalam huruf Arab.
Dalam pelaksanaan kaedah Baghdadiyah di Aceh, belajar membaca secara berulang-ulang(meudraih) sangat dipentingkan Seseorang murid yang sudah menyelesaikan bacaan pada suatu batas/bab tertentu,  yang ditandai dengan perkataan ‘Wassalamu’; dia tidak serta-merta dipindahkan/dilanjutkan ke bab yang lain. Sang Teungku terus-menerus menyuruh anak itu mengulang lagi…dan lagi bahan bacaan itu.   Bila seorang anak telah lancar membaca Qur’an Alehba(Juz  ‘Amma), agar lebih berkah/beureukat; maka disinipun diadakan acara kecil-kecilan yang disebut ba bu Aleuham (membawa nasi Alham/Alfatihah). Bu Aleuham itu juga dimakan secara bersama-sama para murid di pengajian itu. Oleh karena bu Aleuham bukan suatu kewajiban, maka ia hanya dibawa para orangtua murid yang mampu dan sukarela saja.
Selanjutnya, sebagai menyambung dari Qur’an Alehba, seorang murid akan diajari membaca Qur’an rayek(Alquran besar). Sebagai sarana pembukaan juga disertai khanduri bu leukat, baik yang berlauk u mirah, u puteh(kelapa campur gula yang dimasak)  maupun tumpoe. Biasanya, pihak yang membawa bu leukat-tumpoe adalah keluarga yang bersahaja-segala sesuatu tidak asal ada- dan keluarga mampu.
Dalam pelaksanaan pembelajaran Qur’an rayek/Qur’an 30 juz ini sejumlah tantangan masih dihadapi oleh murid dan Teungku, Walaupun telah menamatkan kitab/Qur’an Alehba, tidak semua murid bisa langsung lancar membaca Alquran besar.
Boleh dikatakan masih lebih banyak yang perlu geupeutateh lom/dituntun kembali dibandingkan yang sudah mampu membaca mandiri. Bagi sebagian murid yang kurang lancar ini, untuk sampai ke Juz 15 saja  paling kurang menghabiskan waktu setengah tahun.
Akibat banyak hambatan dan tantangan dalam belajar membaca Qur’an rayek, maka jika seseorang murid telah sanggup menyelesaikan  separuh Alquran(trok bak Juih Teungoh); tentu dianggap sebagai prestasi luar biasa. Kegembiraan diwajah murid akan membludak disaat ia membaca kata “Walyathalaththaf’ pada surat Al Kahfi. Bagian ayat Alquran  Juz ke 15/Subhanallazy ini tertulis amat tebal dan besar yang berwarna hitam pekat (atau warna merah pada cetakan Alquran lama), merupakan bagian tengah dari Alquran. Hal ini ditandai dengan tulisan nishful Qur’an (setengah Alquran) di pinggirannya.
Guna memeriahkan/merayakan peristiwa besar bagi seorang murid yang sudah sampai separuh Alquran itu,   diadakan pula  khanduri Juih Teungoh, yakni berupa “buleukat Juih Teungoh”, yang dibawa oleh murid yang bersangkutan yang kadang-kadang disertai orangtuanya pula. Buleukat beserta lauknya dalam beulidi/wadah besar itu, selain disantap Teungku bersama-sama muridnya; juga dibagi-bagikan ke rumah-rumah tetangga dari Bale pengajian itu. Akibatnya, ‘termasyhurlah!” bahwa si anu (Aceh: si anoe nyan) telah belajar mengaji sampai ke Juih Teungoh. Dan hal itu merupakan kebanggaan keluarga  pada masa lalu. Inilah ‘semangat keagamaan’ atau syiar Islam  namanya. Masihkah kebanggaan demikian merasuk hati orang Aceh sekarang?.
Bagi murid(Aneukmiet beuet)  yang sudah sampai ke Juih Teungoh; biasanya telah mencapai batas jalan lempang untuk dapat menamatkan pelajaran membaca Alquran. Namun, biar pun sang murid telah sanggup menyelesaikan bacaan sampai pada   surat
114/ An Naas; bahkan pada kalimat “Watammat kalimatu…”, tetapi Teungku masih terus menyuruhnya untuk membaca ulang(meudraih) kembali mulai surat permulaan Alham/Alfatihah dalam jumlah berkali-kali. Padahal, pada saat-saat demikian, hati /pikiran si murid sedang sangat tergoda(teugoe-goe) untuk belajar “Kitab”, sebagai studi lanjutan sesudah menamatkan Alquran. Atas landasan ‘takdhim keu guree’;walaupun hati kepingin sekali belajar kitab; sang murid terus-menerus meudraih-ulang  Alquran berkali-kali tamat lagi,  sampai saat Teungku menganggapnya  sudah memadai.
Pada bagian acara peutamat/menamatkan Qur’an, secara khusus Teungku memimpinnya. Caranya, sang Teungku membaca duluan ayat dan surat tertentu yang sekaligus dibaca ulang oleh murid yang bersangkutan. Ayat dan surat yang menjadi tradisi dalam menamatkan Alquran ini barulah berakhir pada kalimat “Watammat kalimatu Rabbika shidqan wa’adlan…dan seterusnya; yang disahuti seluruh hadirin secara serentak beramai-ramai.
Sebelum upacara peutamat/khatam Qur’an itu dilaksanakan, sebenarnya ada “Tata tertib” tradisi peutamat Qur’an yang dilangsungkan. Yaitu : Me Butamat(mengantar nasi tamat Qur’an). Akan tetapi karena upacara ini membutuhkan biaya yang lebih besar-dibandingkan ba buleukat ngon tumpoe-, maka acara “ babu tamat “ ini lebih sering ditunda.
Ketika orangtua murid merasa siap, diantarlah ’ bu tamat’  ke rumah/balai pengajian.
Selain nasi yang siap santap, ada pula yang membawa bahan-bahan mentah  berupa beras, ayam jago,  kelapa, uang, rujee/kayu api dan sebagainya. Bahkan, ada pula keluarga kaya yang membawa berbagai kelengkapan serta  menyret seekor kambing-gasi(kameng gasi) ke rumah Teungku. Perlengkapan khanduri Bu Tamat ini batu dibuat kenduri sewaktu kenduri tahunan(khanduri thon) di rumah Teungku atau ketika bahan-bahan peutamat Qur’an dari beberapa murid sudah terkumpul. Begitulah beberapa “Tata Tertib” belajar mengaji Alquran yang dilakukan selama proses belajar mulai dari awal sampai tamat, yang kesemuanya tidak lepas dari tujuan ‘Takdhim keu Guree”; yakni memuliakan dan menghargai guru alias Teungku.
Kini, ketika Aceh didera era globalisasi;  ketulusan Takdhim keu Guree pasti sudah jauh berkurang, bahkan nyaris tak bersisa lagi. Akibatnya tempat-tempat pengajian sejenis Bale Seumeubeut di gampong-gampong pun  secara drastis berkurang pula. Dalam suasana prihatin demikian; beruntunglah kita karena mulai tahun 2008 ini di Aceh telah ditubuhkan sebuah lembaga khusus yang bernama “Badan Pembina  Dayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam”. Melihat namanya,  terkesan hanya mengurus Dayah saja, maka ada baiknya  badan tersebut  diperlebar lagi kewajibannya, yakni juga ikut membina Rumoh dan Bale Seumeubeut yang terdapat di gampong-gampong di seluruh Aceh. Karena itu, nama lembaga itu perlu diubah menjadi “Badan Pembina Bale Seumeubeuet dan Dayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam”!. Akhirnya, kepada Pemda Aceh dan DPRA  kita harapkan,  agar mengalokasikan anggaran yang pantas bagi pembinaan Bale Seumeubeuet di gampong-gampong, karena para aneukmiet beuet adalah juga anak-anak bangsa yang perlu dicerdaskan seperti para murid sekolah umum dan agama yang lebih diprioritaskan selama ini!!!..
T.A. Sakti
Peminat budaya dan sastra Aceh,
tinggal di Banda Aceh.                  .
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s