Lagu Pidie – Irama melengking dalam membaca Al Qur’an

Dari seni baca  Al Qur’an
“LAGU PIDIE”,  MASIHKAH DIPERLUKAN?
Oleh : T.A. Sakti
AL QUR’AN adalah kitab suci umat Islam;  menjadi  pedoman hidup makhluk
insani. Ia dibaca serta dihayati sepanjang waktu.  Lebih-lebih lagi
bila bulan Ramadhan tiba.  Banyak “Lagu” atau seni untuk membacanya.
Di antara lagu-lagu tersebut ialah: Husaini; sekarang disebut juga lagu-
Baiyati. Lagu Madirus; sekarang di sebut lagu Rash dan lagu Syikgah..Semua lagu
atau seni baca Qur’an ini sudah dikenal umum.  Dan bahkan dapat di katakan
telah jadi lagu internasional dalam hal membaca Al Qur’an.
Di samping cara melagukan Alquran yang dikenal itu,
masih ada lagi jenis – jenis “lagu Al Qur’an” yang bersifat lokal. Sebagai
misalnya  “LAGU PIDIE” ;yang sangat populer di kalangan
masyarakat Kabupaten Pidie  dan Kabupaten Pidie Jaya suatu masa dulu.  Tapisangat disayangkan, bahwa perkembangan “lagu Pidie” semakin suram. Danbahkan nyaris punah
ditelan masa dewasa ini..
Cara membaca Al Qur’an dengan lagu Pidie,  merupakan hasil olahan dan
adukan yang diadakan oleh ahli-ahli qiraat ( ahli membaca Al Qur’an )
daerah ini tempo dulu terhadap lagu-lagu atau seni baca Al Qur’an yang  penulis
sebutkan di atas.  Sementara itu, lagu Pidie dapat pula di bagi dua.  Yang.pertama
dibacakan dengan suara lantang ( keras ).  Kedua, harus dibacakan dengan
nada lembut dan beralun. Ciri khas lagu Pidie ialah: untuk jenis yang dibacasecara lantang/keras, betul-betul dibaca dengan suara bernada  amat tinggi,sedangkan yang dibaca beralun akan dibacaq dengan suara lembut mendayu-dayuyang lama/panjang.  Bagi lagu Pidie yang dipentingkan adalah tekanan
suara, sedang tajwid dan lainnya sama seperti halnya yang telah diakui para
ahli qiraat.  Memang,tidak semua orang dapat membawakan lagu Pidie; karena
faktor kemantapan atau kesanggupan vokal suara  sangat menentukan. Dalamsebuah kampung yang berpenduduk seratus orang dewasa misalnya, tidak sampaisepuluh orang(kurang dari 10 persen)  yang mempu membaca Alquran dalam laguPidie.  Mungkin  karena faktor inilah yang mempercepat lagu /irama Pidiemenjadi punah . Ia semakin hari semakin hilang dari penampilnya di kalanganmasyarakat Pidie.
Dapatlah  kita katakan,  bahwa nasib lagu Pidie dewasa ini sedang barada dipuncak krisis;  sakratul maut.  Ia sedang menanti saat terakhir dari kehidupannya..Keadaan demikian pasti terjadi,jika dewa-dewa penolong  tidak datangmembantunya.
Menurut keterangan orang tua-tua, pada mulanya cara baca Al Qur’an yang
kini dikenal dengan sebutan “ lagu Pidie ” , dahulu tidaklah bernama demikian.
Maksudnya ia tidak punya nama. Karena memang dianggap sebagai lagu biasa.
Masa itu belum muncul lagu saingan yang lain. Tapi,setelah datangnya ( masuk )
cara bacaan baru ke wilayah Pidie,  barulah lagu itu disebut lagu Pidie. Sementara
lagu yang baru masuk digelar dengan “ lagu Aceh ”.  Perlu dijelaskan, bahwa
yang disebut Aceh saat itu  adalah Aceh Besar sekarang. Dimasa “ lagu Pidie”
masih berada dalam saat-saat kejayaannya.  banyak sekali qari-qariah yang dapat
membawakan lagu ini. Di desa Paloh ( dekat pasar Pidie  -Sigli) sangat terkenal
Teungku Hasyem Lampoh Teubei.. Beliau dapat membawakan “lagu Pidie”dengan merdu sekali. .Kini Teungku Hasyem Lampoh Teubei telah tiada. Danbegitu pula di seluruh daerah Pidie, dulu tentu memiliki                                                    sejumlah qari-qariah yang sangat mahir lagu daerah ini..
Namun semua kemasyhuran dan  kejayaan itu sekarang nyaris sirna. Lagu Pidieyang merupakan ciri khas baca Al Qur’an dari masyarakat Pidie telah di lupakan
peminatnya. Sangat jarang kita dapat dengar irama Pidie dewasa ini. Kalau
dulu ; wah!, hampir di semua kesempatan kita dapat menikmatinya !..
Setiap kali ada acara selamatan ( khanduri thon ),acara pokoknya adalah
membaca AL Qur’an. Semua undangan yang menghadiri khanduri tahunan
itu akan membaca kitab suci AL Qur’an menurut kemampuan masing-masing
Bacaan yang diikuti seluruh peserta adalah hanya sampai saat istirahat/ minumpertama ( neulop phon/tanggul pertama ),.sedang bagi ronde kedua( khusus)hanyadiikutioleh mereka yang punya suara emas. Pada saat itulah “Lagu Pidie ” beraksihabis-habisan. Di saat demikian; kopiah dan peci tidak lagi terpasang di kepala,tapi berubah sebagai kipas angin.
Keringat bercucuran dari semua peserta. Urat leher membesar sangat kentara
(ube sapai) . Begitulah seriusnya mereka membaca Al Quran dengan “lagu Pidie” Keadaan demikian baru berakhir bila sang fajar menampakkan diri di ufuk timur. Tapi,  sejak acara kenduri selamatan hanya diisi dengan membaca surat Al Ikhlas (istilahnya samadiah), maka semua hal yang menarik ini turut sirna. Ia turut hapus bersama dengan berubahnya isi acara selamatan. Selain dalam acara-acara kenduri, lagu Pidie juga sering dibawakan di malam Ramadhan.
Masa itu di semua Meunasah (Surau di Aceh) dalam daerah Pidie melakukan tadarrus Al Quran  sepanjang malam sampai menjelang sahur tiba.. Disini juga bagian  terakhir merupakan saat yang kocak.Mulai jam dua dinihari hingga jam empat pagi;  pembacaan Alquran hanya dilakukan oleh orang-orang pilihan, Mereka tidak lebih dari 4-5 orang, yang khusus mampu membaca dalam lagu Pidie.  Lagi-lagi keadaan yang seronok itu jadi kenangan. Ia telah tiada dan hanya tersimpan dalam  “Album nostalgia”.  Langkahnya semakin hari semakin lunglai serta lesu. Kejayaannya telah dikalahkan oleh saingan-saingannya. Lagu-lagu baru bagi seni baca Al Quran terus masuk menghantam lagu Pidie. Sepatutnya masyarakat kabupaten Pidie, jangan membiarkan lagu daerahnya terus punah. Perlu kiranya diambil inisiatif baru bagi generasi muda, Dan turut campur tangannya  pemerintah tingkat II kabupaten Pidie dan kabupaten Pidie Jaya  pasti sangat menentukan. Lagu Pidie perlu diangkat kembali ke permukaan. Karena ia merupakan harta budaya Islam yang dimiliki daerah ini.  Patut dipertahankan dan terus di kembangkan.
Kalau dulu, penyebaran lagu Pidie hanya bersifat lokal,maka harus dapat diusahakan supaya ruang jangkauannya jadi lebih meluas lagi dimasa depan. Tempat – tempat pengajian dalam  Kabupaten Pidie dan kabupaten Pidie Jaya perlu berinisiatif ke arah ini. Perlu diajarkan “Lagu Pidie” ini kepada tunas muda generasi penerus. Demikian pula dalam musabaqah tingkat kabupaten yang diadakan tiap tahun perlu kiranya dimasukkan “lagu Pidie” sebagai salah satu dari lagu – lagu wajib diantara lagu – lagu yang resmi. Penyisipan ini sangat diperlukan sebagai daya pendorong. Kalau sudah dibawa ke arena perlombaan seperti dalam musabaqah ; sudah pasti generasi muda di kabupaten Pidie akan mengenal kembali budaya Islam dari daerahnya sendiri .Kalau di daerah sendiri telah dapat dimantapkan kembali, maka sudah timbul harapan lagu Pidie akan berkembang ke tingkat provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dan seterusnya.
Kalau di tahun 80-an,  Bupati Pidie Drs. Nurdin AR  dapat membangkitkan kembali Dalail Khairat di Aceh lewat Lomba Dalail Khairat Sekabupaten Pidie, —   sekarang  bacaan Dalail Khairat masih sering terdengar di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar–mudah-mudahan Bupati Pidie dan Bupati Pidie Jaya  yang  sekarang  pun mau berjasa bagi lagu Pidie ;agar berkembang kembali sebagai salah satu seni dalam membaca Alquran!. Dan seandainya setuju dengan gagasan ini; maka pada bulan Ramadhan merupakan moment yang tepat karena  ada peristiwa Nuzulul Qur^an!!!.
T.A. Sakti
Peminat budaya dan sastra Aceh,
tinggal di Banda Aceh.

Dari seni baca  Al Qur’an

“LAGU PIDIE”,  MASIHKAH DIPERLUKAN?

Oleh : T.A. Sakti

AL QUR’AN adalah kitab suci umat Islam;  menjadi  pedoman hidup makhluk insani. Ia dibaca serta dihayati sepanjang waktu. Lebih-lebih lagi bila bulan Ramadhan tiba.  Banyak “Lagu” atau seni untuk membacanya.

Di antara lagu-lagu tersebut ialah: Husaini; sekarang disebut juga lagu-Baiyati. Lagu Madirus; sekarang di sebut lagu Rash dan lagu Syikgah..Semua lagu atau seni baca Qur’an ini sudah dikenal umum.  Dan bahkan dapat di katakan telah jadi lagu internasional dalam hal membaca Al Qur’an.

Di samping cara melagukan Alquran yang dikenal itu,masih ada lagi jenis – jenis “lagu Al Qur’an” yang bersifat lokal. Sebagai misalnya  “LAGU PIDIE” ;yang sangat populer di kalangan masyarakat Kabupaten Pidie  dan Kabupaten Pidie Jaya suatu masa dulu.  Tapi sangat disayangkan, bahwa perkembangan “lagu Pidie” semakin suram. Danbahkan nyaris punah ditelan masa dewasa ini.

Cara membaca Al Qur’an dengan lagu Pidie,  merupakan hasil olahan dan adukan yang diadakan oleh ahli-ahli qiraat ( ahli membaca Al Qur’an ) daerah ini tempo dulu terhadap lagu-lagu atau seni baca Al Qur’an yang  penulis sebutkan di atas. Sementara itu, lagu Pidie dapat pula di bagi dua. Yang.per tama dibacakan dengan suara lantang ( keras ). Kedua, harus dibacakan dengan nada lembut dan beralun. Ciri khas lagu Pidie ialah: untuk jenis yang dibaca secara lantang/keras, betul-betul dibaca dengan suara bernada  amat tinggi, sedangkan yang dibaca beralun akan dibacaq dengan suara lembut mendayu-dayu yang lama/panjang.  Bagi lagu Pidie yang dipentingkan adalah tekanan suara, sedang tajwid dan lainnya sama seperti halnya yang telah diakui para ahli qiraat. Memang,tidak semua orang dapat membawakan lagu Pidie; karena faktor kemantapan atau kesanggupan vokal suara  sangat menentukan. Dalam sebuah kampung yang berpenduduk seratus orang dewasa misalnya, tidak sampai sepuluh orang(kurang dari 10 persen)  yang mempu membaca Alquran dalam lagu Pidie. Mungkin karena faktor inilah yang mempercepat lagu /irama Pidie menjadi punah Ia semakin hari semakin hilang dari penampilnya di kalangan masyarakat Pidie.

Dapatlah  kita katakan,  bahwa nasib lagu Pidie dewasa ini sedang barada di puncak krisis; sakratul maut. Ia sedang menanti saat terakhir dari kehidupannya. Keadaan demikian pasti terjadi,jika dewa-dewa penolong  tidak datang membantunya. Menurut keterangan orang tua-tua, pada mulanya cara baca Al Qur’an yangkini dikenal dengan sebutan “ lagu Pidie ” , dahulu tidaklah bernama demikian Maksudnya ia tidak punya nama. Karena memang dianggap sebagai lagu biasa. Masa itu belum muncul lagu saingan yang lain. Tapi,setelah datangnya ( masuk ) cara bacaan baru ke wilayah Pidie,  barulah lagu itu disebut lagu Pidie. Sementara lagu yang baru masuk digelar dengan “ lagu Aceh ”.  Perlu dijelaskan, bahwa yang disebut Aceh saat itu  adalah Aceh Besar sekarang. Dimasa “ lagu Pidie” masih berada dalam saat-saat kejayaannya.  banyak sekali qari-qariah yang dapat

membawakan lagu ini. Di desa Paloh ( dekat pasar Pidie  -Sigli) sangat terkenal

Teungku Hasyem Lampoh Teubei.. Beliau dapat membawakan “lagu Pidie” dengan merdu sekali. .Kini Teungku Hasyem Lampoh Teubei telah tiada. Dan begitu pula di seluruh daerah Pidie, dulu tentu gemlike sejumlah qari-qariah yang sangat mahir lagu daerah ini..

Namun semua kemasyhuran dan  kejayaan itu sekarang nyaris sirna. Lagu Pidieyang merupakan ciri khas baca Al Qur’an dari masyarakat Pidie telah di lupakan

peminatnya. Sangat jarang kita dapat dengar irama Pidie dewasa ini. Kalau

dulu ; wah!, hampir di semua kesempatan kita dapat menikmatinya !..

Setiap kali ada acara selamatan ( khanduri thon ),acara pokoknya adalah

membaca AL Qur’an. Semua undangan yang menghadiri khanduri tahunan

itu akan membaca kitab suci AL Qur’an menurut kemampuan masing-masing

Bacaan yang diikuti seluruh peserta adalah hanya sampai saat istirahat/ minum pertama ( neulop phon/tanggul pertama ),.sedang bagi ronde kedua( khusus)hanyadiikutioleh mereka yang punya suara emas. Pada saat itulah “Lagu Pidie ” beraksihabis-habisan. Di saat demikian; kopiah dan peci tidak lagi terpasang di kepala,tapi berubah sebagai kipas angin.

Keringat bercucuran dari semua peserta. Urat leher membesar sangat kentara

(ube sapai) . Begitulah seriusnya mereka membaca Al Quran dengan “lagu Pidie” Keadaan demikian baru berakhir bila sang fajar menampakkan diri di ufuk timur. Tapi,  sejak acara kenduri selamatan hanya diisi dengan membaca surat Al Ikhlas (istilahnya samadiah), maka semua hal yang menarik ini turut sirna. Ia turut hapus bersama dengan berubahnya isi acara selamatan. Selain dalam acara-acara kenduri, lagu Pidie juga sering dibawakan di malam Ramadhan.

Masa itu di semua Meunasah (Surau di Aceh) dalam daerah Pidie melakukan tadarrus Al Quran  sepanjang malam sampai menjelang sahur tiba.. Disini juga bagian  terakhir merupakan saat yang kocak.Mulai jam dua dinihari hingga jam empat pagi;  pembacaan Alquran hanya dilakukan oleh orang-orang pilihan, Mereka tidak lebih dari 4-5 orang, yang khusus mampu membaca dalam lagu Pidie.  Lagi-lagi keadaan yang seronok itu jadi kenangan. Ia telah tiada dan hanya tersimpan dalam  “Album nostalgia”.  Langkahnya semakin hari semakin lunglai serta lesu. Kejayaannya telah dikalahkan oleh saingan-saingannya. Lagu-lagu baru bagi seni baca Al Quran terus masuk menghantam lagu Pidie. Sepatutnya masyarakat kabupaten Pidie, jangan membiarkan lagu daerahnya terus punah. Perlu kiranya diambil inisiatif baru bagi generasi muda, Dan turut campur tangannya  pemerintah tingkat II kabupaten Pidie dan kabupaten Pidie Jaya  pasti sangat menentukan. Lagu Pidie perlu diangkat kembali ke permukaan. Karena ia merupakan harta budaya Islam yang dimiliki daerah ini.  Patut dipertahankan dan terus di kembangkan.

Kalau dulu, penyebaran lagu Pidie hanya bersifat lokal,maka harus dapat diusahakan supaya ruang jangkauannya jadi lebih meluas lagi dimasa depan. Tempat – tempat pengajian dalam  Kabupaten Pidie dan kabupaten Pidie Jaya perlu berinisiatif ke arah ini. Perlu diajarkan “Lagu Pidie” ini kepada tunas muda generasi penerus. Demikian pula dalam musabaqah tingkat kabupaten yang diadakan tiap tahun perlu kiranya dimasukkan “lagu Pidie” sebagai salah satu dari lagu – lagu wajib diantara lagu – lagu yang resmi. Penyisipan ini sangat diperlukan sebagai daya pendorong. Kalau sudah dibawa ke arena perlombaan seperti dalam musabaqah ; sudah pasti generasi muda di kabupaten Pidie akan mengenal kembali budaya Islam dari daerahnya sendiri .Kalau di daerah sendiri telah dapat dimantapkan kembali, maka sudah timbul harapan lagu Pidie akan berkembang ke tingkat provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dan seterusnya.

Kalau di tahun 80-an,  Bupati Pidie Drs. Nurdin AR  dapat membangkitkan kembali Dalail Khairat di Aceh lewat Lomba Dalail Khairat Sekabupaten Pidie, —   sekarang  bacaan Dalail Khairat masih sering terdengar di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar–mudah-mudahan Bupati Pidie dan Bupati Pidie Jaya  yang  sekarang  pun mau berjasa bagi lagu Pidie ;agar berkembang kembali sebagai salah satu seni dalam membaca Alquran!. Dan seandainya setuju dengan gagasan ini; maka pada bulan Ramadhan merupakan moment yang tepat karena  ada peristiwa Nuzulul Qur^an!!!.

T.A. Sakti

Peminat budaya dan sastra Aceh,

tinggal di Banda Aceh.

Iklan

2 pemikiran pada “Lagu Pidie – Irama melengking dalam membaca Al Qur’an

  1. Di mana bisa diperoleh video atau rekaman lagu Pidie?

    Kalau lagu Aceh bagaimana pula?

    • Setahu saya hanya sebutan lagu Pidie yang pernah muncul ke permukaan, sedangkan lagu Aceh tidak. Nampaknya rekaman video lagu Pidie belum ada. Tapi bila Anda benar-benar berminat pada lagu Pidie, bulan puasa di depan ini adalah saat yang tepat. Sebab setiap bulan puasa,selalu ada pada waktu malam sekelompok qari dari kecamatan Sakti yang keliling ke meunasah2 di Pidie untuk membaca al Qur’an. Diantara irama yang mereka bawa adalah lagu Pidie!.TA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s