Surat Buat UU.Hamidy – Pengarang 57 Buku tentang Budaya Melayu

Darussalam,  21  Muharram 1430

Kepada Yang Terhormat
Bapak UU.Hamidy
Jalan Paus-Bandeng
Gang Gurami 153
Marpuyan Damai, Pekanbaru

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Surat  Bapak terakhir amat menyentuh!. Betapa tidak, terkesan sekali surat itu bagaikan “Surat Wasiat Hikayat Aceh!”.  Karena yang berminat terhadap budaya Aceh/hikayat bukan hanya saya sendiri, maka surat itu pun saya edarkan kepada banyak orang Aceh. Lebih-lebih lagi; surat tersebut juga menyebut-nyebut Kampus Darussalam, maka semakin banyak lagi pihak yang patut membacanya. Pada mulanya, keberadaan surat itu saya beritahukan lewat SMS kepada L.K.Ara, Hasballah M.Saad dan Pak Darni. Karena ketiga beliau mengaku ingin membacanya, maka ’Surat Wasiat Hikayat” saya fotokopi. Entah mereka serius atau basa-basi(akibat terlalu sibuk dengan urusan lebih penting laInnya); saya pun tak mengerti!(?). Atas tindakan saya yang ‘lancang’ itu, lewat surat ini saya minta maaf dan mohon izin; karena masih banyak budayawan Aceh yang akan terus saya beritahukannya!. Bukan apa-apa,..ituuu.. wasiat Bapak yang berat-berat mengenai HIKAYAT, tak sanggup saya gerakkan sendiri karena saya tak “bergigi”!!!.

Ketika suatu hari saya membaca tulisan L.K.Ara dalam Serambi, ‘Hikayat Nabi Muhammad Saw dalam Sastra Melayu’, saya  juga terpancing untuk menulis mengenai Hikayat Aceh. Tapi terasa amat sulit!. Teringatlah saya buat minta ‘mantra” dari Bapak. Saat itu pertengahan Desember 2008. Yang hendak saya kirimkan kepada Bapak sebagai pedoman membuat mantra kala itu adalah fotokopi dari judul dan ringkasan isi dari hikayat-hikayat yang sudah saya transliterasi ke huruf Latin. Dalam pengalaman saya, memulai sesuatu memang amat sukar. Tetapi rencana meminta mantra itu saya batalkan!.

Teringatlah saya pada sebuah makalah yang sudah berlumpur tsunami, makalah yang pernah saya sampaikan di Meuligoe Aceh/pendopo di hadapan Gubernur Aceh menjelang Pekan Kebudayaan Aceh(PKA) IV  tahun 2004. Ketika itu, saya beserta 8 orang lainnya- yang dianggap paham bidang masing-masing diundang ke pendopo. Setelah saya baca tulisan Bapak mengenai hikayat berkali-kali, saya susunlah paper sederhana.

Makalah itulah yang saya olah kembali menjadi sebuah tulisan yang saya kirim ke Serambi. Setelah dimuat, ternyata banyak sekali rombakan. Sebab itulah bersama Serambi saya kirim pula tulisan asli.
Karangan saya kedua tentang hikayat adalah Hikayat Malem Dagang. Ini berasal dari olahan ulang dari kata pengantar buku/jurnal yang berjudul “De Hikajat Malem Dagang” karya Cowan. Karena saya tidak mengerti bahasa Belanda, saya mintalah bantuan penterjemahan dari seorang teman di Undip-Semarang. Sesudah saya terima terjemahannya, bingung pula bagaimana mengolahnya supaya menjadi
tulisan milik saya sendiri. Berbulan-bulan pula tulisan ini tak jadi-jadi. Alhamdulillah, akhirnya selesai pula dan ..amat panjang. Saya kirim ke Harian Aceh. Saya berharap dimuat hari Ahad/Minggu hari ini-18/1-2009, ternyata belum..

Karena tulisan tentang Hikayat Malem Dagang agak panjang dan perlu dua kali muat/bersambung; saya datangilah Harian Aceh guna berunding dengan Redaktur Budaya. Hasilnya bisa dimuat!. Waktu itulah saya sampaikan rencana hendak menulis pengalaman saya berdagang hikayat. Lahirlah tulisan “Sebelas Tahun Menjadi Toke Hikayat”. Tetapi oleh Redaktur Fokus; ditambahkan judul besar “HIKAYAT ACEH TELAH MATI”. Vonis itu tidak benar. Sekiranya diberi tanda tanya (?) barulah tepat. Karena dewasa ini Hikayat Aceh sedang sekarat/sakit berat; belum mati!. ..Dan Bapaklah salah seorang tabib spesialisnya!.

Di ujung Desember 2008, saya diwawancara dua wartawan Kompas, yang sedang menghimpun laporan mengenai penerbitan buku di Aceh. Katanya, baru dimuat Februari, hari Senin di rubrik Pustakaloka.( Ralat:  22-6-2009 : baru dimuat hari Jum’at, 19 Juni 2009 halaman 55/Pustakaloka).
Masih di akhir Desember pula,satu yayasan penyembuhan trauma asal Solo, berbincang dengan saya
Perihal penyembuhan trauma yang dikandung hikayat.  Menurut kabar yang belum jelas, tahun 2009 bakal diadakan PKA V di Banda Aceh. Karena itu, bermaksud agar hikayat Aceh bisa menjadi bahan dalam temu budaya/seminarnya. Tulisan LK Ara hari ini juga saya sertai kali ini.

Akhirul kalam,disertai do’a semoga Allah Swt merahmati kita…dan sehat semua!

Wassalam,

T.A. Sakti

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s