Proposal – Mengharapkan Pejabat dan Rakyat Memberdayakan Hikayat!

PKA V dan Pelestarian Hikayat Aceh

A. Pengantar.

Dalam tradisi Aceh, hikayat terbagi dalam tiga nama, yaitu Hikayat, Nadham/nazam dan Tambeh

Dalam Hikayat terkandung beberapa hal, diantaranya perihal sejarah, adat-istiadat, tuntunan hidup, petuah-petuah dan lain-lain.. Sementara dalam Nazam dan Tambeh yang boleh dinamakan “Hikayat Agama” isinya terdiri dari masalah hukum, tauhid, akhlak, sejarah, tasawuf dan filsafat; yang semuanya terkait dengan agama Islam.

Hikayat, Nazam serta Tambeh semuanya tertulis dalam bahasa Aceh dengan menggunakan huruf Arab Melayu (Bahasa Aceh : Harah Jawoe). Jumlah hasil karya hikayat bila dibandingkan dengan naskah-naskah Nazam dan Tambeh memang jauh berbeda.

Akibat peredaran waktu dan perkembangan zaman, jumlah judul hikayat yang tersisa sekarang memang tidak banyak lagi; sebagaimana diungkapkan di atas. Apalagi dengan naskah Nazam dan Tambeh. Timbul pertanyaan, mengapa Hikayat lebih banyak ditulis? Hal ini menyangkut masalah kepopuleran atau” permintaan pasar” saat itu. Dimana sepanjang sejarah Aceh Hikayatlah yang lebih populer dalam masyarakat dibandingkan Nazam dan Tambeh. Pada era Aceh belum dibanjiri sarana hiburan produksi teknologi; seperti koran, radio, tivi, internet dan sebagainya; hikayat termasuk sumber hiburan paling utama. Saat itu, hikayat digemari kaum tua dan  muda . Selain itu, untuk mengarang naskah Nazam atau Tambeh juga perlu keahlian khusus dalam seluk-beluk agama Islam, Jadi tidak sekedar memiliki bakat “Penyair” dan melek huruf Arab Melayu; seperti syarat yang harus dipunyai pengarang Hikayat.

Begitulah periode kejayaan Hikayat telah menoreh sejarah yang amat panjang di Aceh. Hikayat ditulis dan disalin dari generasi ke generasi. Dalam pandangan masyarakat Aceh zaman itu, Hikayat adalah kisah kehidupan masyarakatnya sendiri. Malah, sebagian tokoh-tokoh dalam cerita Hikayat telah dianggap sebagai orang-orang dari kalangan warga Aceh  sendiri. Selain itu, mereka juga yakin bahwa peristiwa-peristiwa yang dikisahkan Hikayat adalah benar-benar terjadi, bukan hasil khayalan penyair/pengarang.

Kini, segalanya telah berubah. Hikayat Aceh telah ditinggalkan peminatnya. Bahkan, sudah pada tingkat ‘dibenci’ terutama dikalangan generasi muda. Seorang remaja  Aceh sekarang, sangat merasa malu sekiranya terpergok temannya sedang membeli Hikayat di sebuah toko buku. Sebab, Hikayat sekarang dianggap sebagai ’lambang kekolotan dan kemunduran’. Masih adakah jalan menciptakan “rasa bangga” memiliki Hikayat  bagi generasi muda  Aceh?. Para pemimpin Aceh-lah yang mampu mewujudkannya!!!.

B. Pelestarian dan Pengembangan Hikayat

Pekan Kebudayaan Aceh Ke V (PKA V) yang akan dilangsungkan di Banda Aceh dalam tahun 2009 ini ; merupakan salah satu sumber energi bagi pelestarian dan pengembangan Hikayat Aceh. Karena itu kami mendorong Panitia PKA V untuk menjadikan Hikayat Aceh  sebagai pokok kegiatan utama/pilihan utama pada pelaksanaan PKA V yang akan datang.

Bila Hikayat Aceh terpilih menjadi bahan utama PKA V, maka kegiatan yang dapat dilakukan antara lain adalah sebagai berikut :

 

I. Aneka Lomba Hikayat

1. Lomba Menulis Hikayat

 

a. Lomba Menulis Hikayat  dalam huruf Latin

b. Lomba Menulis Hikayat  dalam harah Jawoe

 

2. Lomba Membaca Hikayat

a. Lomba Membaca Hikayat Huruf Jawoe/Jawi

Di Museum Aceh dan Pustaka Ali Hasjmy  Banda Aceh banyak naskah hikayat Jawoe

b. Lomba Membaca Hikayat Aksara Latin

Bahannya, bisa  diambil dari cuplikan beberapa hikayat, misalnya :  Hikayat Aceh Dame, Hikayat Lingkongan Udep, Hikayat Abunawah.

 

3. Lomba Cerdas Cermat  Hikayat

Sebagai bahannya dapat dicuplik dari sejumlah hikayat, nazam dan tambeh, misalnya: Hikayat Tajussalatin, Hikayat Akhbarul Karim, Hikayat Meudeuhak, Hikayat Abunawah, Nazam Akhbarul Hakim, Nazam Mikrajus Shalat, Tambeh Tujoh Blah

 

4. Lomba Melukis Isi Hikayat

Maksudnya,  isi cerita yang dikisahkan dalam bentuk syair Aceh itu dibuat lukisan/gambarnya.

Untuk bahannya dapat dicuplik dari beberapa hikayat, misalnya : Hikayat Lingkongan Udep, Hikayat Kisason Hiyawan, Hikayat Meudeuhak, Hikayat Malem Diwa, Hikayat Banta Amat

 

5. Lomba Syarahan Isi Hikayat

Maksudnya, isi hikayat yang disusun dalam syair yang mungkin hanya enak didengar telinga saja; diberi pokok pengertiannya dengan lisan dalam  bentuk prosa.

Bagi bahannya dapat dicuplik dari sejumlah hikayat, nazam atau tambeh, misalnya : Nazam Mikrajus Shalat, Tambeh Tujoh Blah, Hikayat Tajussalatin, Nazam Qaulur Ridhwan, Hikayat Abunawah, Hikayat Meudeuhak

 

6. Lomba Revisi Bahasa Hikayat Lama.

Maksudnya, Hikayat Aceh lama yang ditulis dengan bahasa Aceh yang tidak/kurang dikenal pada saat sekarang; disusun kembali dengan menggunakan bahasa Aceh masa kini. Hikayat-hikayat yang dapat digunakan misalnya, cuplikan dari Hikayat Banta Keumari, Hikayat Gomtala Syah, Hikayat Keumala Indra, Tambeh Tujoh, Hikayat Aulia Tujoh

 

7. Lomba Transliterasi Hikayat

Maksudnya, hikayat Aceh yang tertulis dalam huruf Arab Jawoe dialihaksarakan ke huruf  Latin.

 

 

II. Seminar Hikayat Internasional

1. Tentang hikayat-hikayat Aceh

Maksudnya, baik mengenai Hikayat Aceh lama maupun Hikayat Aceh modern.

 

 

2. Mengenai hikayat-hikayat di Dunia Melayu Raya

Hikayat jenis ini ditulis dalam bahasa Melayu  berbentuk  prosa, sedangkan hikayat Aceh dalam bentuk syair/bersanjak!.

Misalnya, Hikayat Iskandar Zulkarnaini, Hikayat Raja Pasai, Hikayat Aceh, Hikayat Patani, Hikayat Banjar, Hikayat Kalila dan Damina, Hikayat Seribu Satu Malam,, Hikayat Bakhtiar, Hikayat Golam, Hikayat Merong Mahawangsa, Hikayat Negeri Johor,  Hikayat Hang Tuah

Demikianlah saya susun Proposal ini, mudah-mudahan dapat menjadi perhatian Panitia PKA V  hendaknya!. ( T.A. Sakti )

 

 

Catatan kemudian: Proposal di atas telah saya sampaikan kepada Panitia PKA V, pejabat, budayawan Aceh, dan  tokoh masyarakat Aceh  pada awal pembentukan Panitia PKA V.  Dengan kenderaan RBT/Ojeg  saya berkeliling di Banda Aceh dan sekitarnya menjumpai pribadi-pribadi   ( sebanyak 27 orang )  yang saya anggap peduli dengan Kebudayaan Aceh. Saya telah menerima satu “umpan balik” dari seorang budayawan  dan tokoh Adat Aceh, bahwa salah satu usul proposal saya telah diterima  rapat Panitia PKA V, yakni Lomba Membaca Hikayat. Bale Tambeh, 13 April 2012 jam 6.52 wib., hari Rabu, 11 April 2012 pkl 15.38 wib. terjadi gempa besar 8,5 dan 8,1 SR di Banda Aceh dan beberapa negara di sekitar Lautan Hindia. T.A. Sakti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s