Hikayat Aceh Telah Mati(?)

HIKAYAT ACEH TELAH MATI (?)
– Sebelas Tahun Menjadi Toke Hikayat

Bermula dari membaca berita meninggalnya Syeh Rih Krueng Raya, maka tergeraklah semangat saya untuk mencetak hikayat-hikayat yang telah saya alihkan dari huruf Arab Jawoe ke aksara Latin. Berita itu dimuat dalam Harian Serambi Indonesia, 16 April 1997 halaman 3.

Syeh Rih Krueng Raya adalah penyair Hikayat Aceh terkenal,dan saya salah seorang pengagum beliau. Kegiatan menyalin hikayat Aceh ke huruf Latin memang sudah sejak tahun 1992 saya lakoni. Hal ini terkait Harian Serambi Indonesia yang saat itu sedang memuat Hikayat Aceh setiap hari secara bersambung. Pemuatan hikayat oleh koran itu berlangsung pada awal 1992 sampai akhir tahun 1994. Dari 12 judul hikayat yang sempat dimuat koran itu, tujuh (7) judul diantaranya adalah hasil alih aksara saya. Ketujuh hikayat Aceh itu ialah: (1) Hikayat Meudeuhak; (2) Hikayat Nasruwan Ade, (3) Hikayat Abunawah, (4) Hikayat Banta Keumari(5) Hikayat Aulia Tujoh, (6) Hikayat Tajussalatin, dan (7) Hikayat Zulkarnaini.

Bila dihitung jumlah hari pemuatannya, berarti hampir seribu hari/tiga tahun lebih Harian Serambi Indonesia telah memuat hasil kegiatan alih aksara hikayat yang saya kerjakan. Walaupun ditahun 1995 hikayat tidak dimuat lagi dalam koran, namun karena sudah mencintai/ketagihan; saya terus melanjutkan kerja alih aksara hikayat dari satu judul ke judul lainnya.

Judul-judul dan ringkasan isi dari Hikayat-Nadham-Tambeh dan naskah Jawoe yang telah saya salin dari Arab Melayu/Jawoe ke huruf Latin dari tahun 1992 sampai 2009 sebagai berikut : (1) Hikayat Meudeuhak : Keberhasilan seseorang pemimpin/Raja turut ditentukan oleh para penasihatnya namun sang pemimpin perlu selalu menguji kesetiaan mereka (434 halaman) ,(2) Hikayat Banta Keumari: Sikap saling membantu dalam perjuangan hidup akan menghasilkan kebahagiaan bersama (650 halaman), (3) Hikayat Tajussalatin: Tajussalatin = mahkota raja-raja. Membicarakan sejumlah pedoman bagi para pemimpin. Ditulis pertama dalam bentuk prosa, bahasa Melayu oleh Bukhari Al Juhari tahun 1603 M. Tahun 1937 atas anjuran Uleebalang Keumangan,Pidie disusun ke bentuk Hikayat Aceh (420 halaman), (4) Hikayat Aulia Tujoh: Mengisahkan tentang tujuh orang pemuda yang melawan seorang penguasa yang zalim. Begitu angkuhnya raja ini sampai-sampai mengakui dirinya sebagai Tuhan (54 halaman), (5) Hikayat Kisason Hiyawan: Kisason Hiyawan merupakan kisah sejumlah hewan/binatang. Kehidupan ini penuh dengan teka-teki, tipu muslihat dan saling bersaing. Oleh karena itu perlu hati-hati dan waspada dalam setiap tindakan. Di beberapa tempat di Aceh, naskah ini diberi nama Hikayat Nasruwan Ade Hikayat ini berjiwa lingkungan hidup (176 halaman),

(6) Hikayat Gomtala Syah: Kisah monyet raksasa yang berasal dari manusia. Intinya menceritakan kesetiaan sang monyet membela kepentingan pamannya. Hikayat ini bernuansa lingkungan hidup (548 halaman), (7) Hikayat Keumala Indra: Keberhasilan menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan, akan memperlancar kehidupan. Tokoh ceritanya berasal dari Turki (594 halaman), (8)Hikayat Nabi Yusuf: Penderitaan yang disertai kesabaran-ketabhan, akan mewujudkan kemenangan. Sementara kedengkian dan iri hati akan menerima rugi dan kekalahan. Naskahnya sudah cukup tua yang berasal dari kecamatan Titeue, Pidie (281 halaman), (9) Hikayat Abu Nawah: Setiap pemimpin /raja harus tahan menerima kritik. Kritikan itu perlu dikemas dalam dua bentuk, yaitu bentuk halus dan tajam/keras (301 halaman), (10) Hikayat Zulkarnaini: Kisah Iskandar Zulkainaini dan Nabi Khaidir/Hidhir ini menyebut asal usul nama Aceh dengan sebutan Pulo Ruja( bekas kain serban Sultan Iskandar Zulkarnani). Dan setiap kedengkian akan menerima balasan Tuhan (226 halaman),

(11) Hikayat Akhbarul Karim: Menjelaskan mengenai Ilmu Fiqh, Tasawuf dan Ilmu Tauhid. Hikayat ini juga mengandung nasihat-nasehat agar umat Islam melaksanakan syari’at Islam secara kaffah. Pengarang Hikayat Akhbarul Karim digelar Teungku Seumatang. Tapi masih diperdebatkan apakah beliau asal Geudong-Aceh Utara atau dari Busu dan Gampong Cot,Pidie(139 halaman), (12) Nadham Akhbarul Hakim: Berisi nasihat dan kritikan tajam terhadap ummat Islam dalam segala umur, yaitu remaja, orang dewasa,dan kakek-nenek. Kritik disebut secara lantang/pedas dan kadang-kadang lucu. Terkesan, sebagian isi naskah ini dikutip dari bagian akhir Tambeh Tujoh Blah. (81 halaman), (13) Tambeh Tujoh: Tambeh (Arab adalah tanbihi, artinya peringatann/tuntunan). Berisi tujuh masalah/ 7 bab. Dua bab di antaranya termasuk masalah yang amat langka dibahas dalam syair/hikayat Aceh, yaitu masalah kerangka tubuh manusia dan Ilmu Ketabiban/kedokteran . Karya ini ditulis tahun 1208 H oleh Syekh Abdussalam(155 halaman), (14) Tambeh 95: Berisi 95 masalah/bab, terdiri dari nasihat, pelajaran Ilmu Agama, Ilmu Tasawuf, contoh-contoh yang bermanfaat; demi kedamaian di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Tambeh ini diterjemahkan dari bahasa Arab tahun 1248 H oleh Syekh Jalaluddin alias Teungku Di Lam Gut (catatan: nama asli dari naskah ini ialah Tambihul Ghafilin, yang baru saya ketahui baru-baru ini) (623 halaman), (15) Nadham Ruba’I: Membahas banyak hal masalah ajaran Islam namun secara ringkas (serba-serbi Agama Islam). Naskah ini tidak lengkap lagi (31 halaman),

(16) Nadham Nasihat: Nasihat-nasihat mengenai pentingnya Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan (34 halaman), (17) Hikayat Nabi Meucuko: Kisah pencukuran rambut Nabi Muhammad SAW yang dilakukan Malaikat Jibril (20 halaman), (18) Hikayat Qaulur Ridwan: Qaulur Ridwan ialah perkataan yang disenangi/ridha Tuhan. Hikayat ini ditulis dalam bentuk cerpen yang mengajak orang mau mengerjakan Shalat, kisahnya diramu dengan muatan local. Hikayat ini ditulis Syekh Abdussalam tahun 1220 H (18 halaman), (19) Tambeh Tuhfatul Ikhwan: Menjelaskan 12 bab masalah agama dan kemasyarakatan. Tuhfatul Ikhwan = persembahan kepada sahabat/saudara. Tambeh ini diterjemahkan Syekh Abdussalam tahun 1224 H (294 halaman), (20) Tambeh Tujoh Blah (Karya Syekh Abdussamad alias Teungku Di Cucum. Bahwa  beliau sebagai pengarang kitab ini, ‘secara kebetulan’ baru saya ketahui hari Jum’at siang, 10 Ramadhan 1434 H/19 Juli 2013, ketika saya membaca satu bait Tambeh 17 yang berbunyi:”Bahkeu dumnan adab guree, Le kadilee lon hareutoe/Lam hikayat Akhbarul Na’im,Keudeh Polem kalon keudroe!”. Bait terakhir bab ke 7 Tambeh Tujoh Blah itu menyebutkan, bahwa pengarang Tambeh 17 sama dengan penulis kitab Akhbarul  Na’im. Sementara pengarang kitab Akhbarul Na’im adalah Syekh Abdussamad  atau Teungku Di Cucum. Saya menjadi sangat ingat dengan Akhbarul Na’im serta penulisnya Teungku Di Cucum, karena pada malam Makmeugang Puasa, 9  Juli  2013  yang lalu baru saja berlangsung pembacaan “Nadham Teungku Dicucum”  oleh Tgk. Ismail alias Cut ‘E  di Bale Tambeh halaman rumah saya. Nadham Tgk. Dicucum adalah nama lain atau nama populer  bagi kitab Akhbarul Na’im). : Berisi 17 bab, yang membahas masalah hubungan dengan Allah, hubungan sesama Manusia dan dengan binatang/Lingkungan hidup. Tambeh 17 termasuk salah satu kitab tambeh yang sangat populer di Aceh (Pidie?) pada masa tempo dulu Tambeh ini ditulis tahun 1306 H (236 halaman),

(21) Hikayat Banta Amat: Kisah seorang anak Raja yang yatim sejak kecil. Negeri dan semua kekayaan di rampas Pamannya. Berkat ‘azimat’ yang diberikan Raja Ular ia berhasil menjadi Raja kembali. Hikayat ini berjiwa lingkungan hidup (318 halaman), (22) Nadham Mikrajus Shalat: Membahas seluk-beluk shalat serta yang berkaitan dengannya dalam bentuk nadham Aceh. Nadham ini ditulis Teungku Sulaiman Abdullah, Lala-Andeue, Pidie (41 halaman), (23) Cuplikan: Hikayat Indra Bangsawan: Mengisahkan kehidupan dua orang Putra Raja yang berjuang menemukan permintaan Ayah mereka. Ternyata yang paling menderita; dialah yang mencapai kemenangan dan menjadi Raja menggantikan sang Ayah (79 halaman), (24) Kitab Qawai’idul Islam: Dalam sebutan masyarakat tempo dulu naskah ini dinamakan “Kitab Bakeumeunan” ; menjelaskan mengenai Ilmu Tauhid (Ilmu Kalam) secara panjang lebar dan mendalam. Keistimewaan kitab ini ditulis dalam bahasa Aceh. Selain Bahasa Aceh, bahasa pengantar naskah ini juga menggunakan bahasa Melayu serta bahasa Arab. Pada umumnya bentuk penulisan bahasa Aceh adalah dalam jenis syair/puisi secara bersanjak, tapi kitab ini bahasa Acehnya dalam bentuk prosa (28 halaman), (25) Tambeh Gohna Nan: Naskah ini ditulis dalam bentuk penyampaian “wasiat dari seorang Ayah kepada anaknya”. Inti wasiat sang Ayah supaya si Anak mengamalkan kehidupan ‘suluk dan tarikat’ yang amat berkembang di Aceh pada akhir zaman. Kitab ini ditulis kira-kira pada masa awal Perang Aceh-Belanda.Tambeh ini ditulis Syekh Abdussamad alias Teungku Di Cucum, Aceh Besar Naskah ini belum diberi nama oleh pengarang, karena itu saya berilah judul sementara “Tambeh Gohna Nan” (175 halaman),

(26) Adat Aceh: Berisi adat/tradisi dan protokoler Kerajaan Aceh sejak masa Sultan Iskandar Muda. Sesungguhnya, inilah yang disebut dalam sepotong pribahasa Aceh: “Adat bak Poteumereuhom Hukom Bak Syiahkuala” (162 halaman), (27) Tazkirah Thabaqat: Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu berbentuk prosa. Isinya menjelaskan tentang susunan tata pemerintahan Kesultanan Aceh sejak jabatan Geuchik sampai sultan Aceh. Naskah ini ditulis tahun 947 H pada masa Sultan ’Alaiddin Mahmud ‘Abdul Qahar ’Ali Riayat Syah dan terus-menerus direvisi oleh sultan-sultan Aceh sesudahnya. Penyalin/revisi terakhir dilakukan Sayed Abdullah Jamalullail alias Teungku Di Mulek atas anjuran Sultan Ibrahim Mansur Syah tahun 1270 H, yakni 20 tahun sebelum perang Belanda-Aceh tahun 1290 H (115 halaman), (28) Resep Obat Orang Aceh: Cuplikan/saduran dari kitab obat Tajul Muluk karya Haji Ismail Aceh yang ditulis atas perintah Sultan Aceh Ibrahim Mansur Syah. Judul “Resep Obat Orang Aceh” hanyalah pemberian saya,karena berupa cuplikan (55 halaman), (29) Hikayat Malem Dagang: Menceritakan pelayaran Sultan Iskandar Muda bersama pasukannya menyerang Raja Si Ujut di Malaka. Raja si Ujut adalah lambang dari bangsa Portugis yang telah menjajah Malaka sejak tahun 1511 M(163 halaman), (30) Hikayat Nabi Yusuf : Isi ringkasnya tidak jauh berbeda dari Hikayat Nabi Yusuf versi Pidie tersebut di atas, namun ditulis mengikut selera novel moderen. Dalam hal percintaan Siti Zalikha misalnya, sengaja tak saya salin beberapa kalimat karena ’lucahnya’. Naskah Arab Jawoe berasal dari kabupaten Nagan Raya, selesai ditulis tahun 1980(230 halaman). Maka dari 30 judul naskah yang telah disalin ke huruf Latin berjumlah 6680 halaman.

Kita kembali ke pokok pembahasan!. Bahwa sebelum membaca berita berpulangnya Syeh Rih Krueng Raya, yang meninggal Jum’at, 12 April 1997 dalam usia 62 tahun; niat mencetak hikayat itu memang pernah muncul dalam pikiran saya, tetapi selalu padam kembali. Pendorong utama untuk mencetak hikayat adalah Drs. Ameer Hamzah, yang ketika itu sebagai Redaktur Budaya Harian Serambi Indonesia.

Namun semua ajakan itu yang selalu disampaikan setiap ketemu; hanya tertanam di hati. Saat itu saya berpikir logis, bahwa hikayat tidak mempunyai “pasaran” lagi di Aceh. Jadi, kalau saya mengeluarkan dana untuk mencetak hikayat berarti saya telah berperilaku “meuwot lam bruek ruhueng”(masak bubur dalam tempurung berlobang). Alias melulu rugi!. Kalau pun disebut Toke hanyalah sebatas “Toke gambang alias Tukang gambe”, yang bermakna pedagang miskin!.
Akibat dorongan Drs. Ameer Hamzah yang tak pernah “absen”, pernah juga saya mendatangi beberapa percetakan di Banda Aceh. Drs. Ameer Hamzah berujar; kalau saya tak menerbitkan hikayat-hikayat itu, dikala tua saya akan menyesal tidak melakukannya!. Begitu pula dengan saran UU.Hamidy, seorang pakar Hikayat Aceh asal Universitas Riau,Pekanbaru dalam surat beliau 26 September 1996, yang mendorong mencetak karya-karya saya. “Sediakan dana barang sejuta, dan cetak karya Anda yang kira-kira paling digemari masyarakat”, demikian pesan UU.Hamidy yang pernah setahun penuh meneliti hikayat di Aceh tahun 1974. Saat menyurati saya itu UU.Hamidy sendiri telah menerbitkan 35 judul buku tentang budaya Melayu-Riau dan sekarang sudah 60 judul jumlahnya.
Di tahun 1995, yang mula-mula saya pilih adalah sebuah perrcetakan di kampus Darusslam. Dalam pikiran saya, keren juga nanti bila hikayat saya terpampang nama percetakan kampus!. Dan sekaligus ikut mempopulerkan nama kampus Darussalam ke pelosok-pelosok kampung. Naskah yang hendak saya cetak saat itu adalah Hikayat Akhbarul Karim Namun apa daya, ongkos cetaknya di luar kemampuan kantong saya, dan mesti dibayar tunai sekaligus senilai Rp. 1200000(satu juta dua ratus ribu rupiah). Akibat ketiadaan modal, terhambat pula angan-angan saya hendak mencetak hikayat. Dan saat itu perhitungan untung-rugi masih menjadi acuan utama saya dalam “berdagang” hikayat tersebut.

Namun, setelah membaca berita duka itu sikap saya berubah total. Perhitungan untung-rugi dalam ‘bisnis’ hikayat serta-merta tenggelam dan memunculkan cita-cita melestarikan Hikayat Aceh agar tidak ditelan zaman. Paling kurang tersambunglah kembali rentangan tali penerbitan hikayat yang “sudah putus” setelah Syeh Rih Krueng Raya berpulang ke alam baqa. Paling lama setahun-dualah, pikir saya waktu itu.
Tindakan spontanitas itu saya mulai dengan mengumpulkan hikayat-hikayat karya Syeh Rih Krueng Raya yang masih dijual di toko-toko buku. Sebelumnya, saya memang sudah memiliki dua judul, yaitu Kisah Nasib Aneuk Meuntui yang saya beli di pasar Kotabakti,Pidie tahun 1971 sepulang sekolah dari SMP Beureunuen pada hari Senin yang merupakan uroe gantoe . Satu lagi Hikayat Golongan Karya terbitan 1977 yang saya peroleh di Yogyakarta tahun 1987. Dengan ditemani Azhari, seorang mahasiswa FKIP Unsyiah -, famili yang tinggal bersama saya; – sekarang Guru SMA Negeri Pekanbaro – Lampoh Saka, Pidie;  berkelilinglah saya ke semua toko buku di Banda Aceh. Hasilnya adalah beberapa judul hikayat yang diterbitkan pada tahun-tahun yang berbeda, yaitu Fitnah Bak Matuan(1993), Tapeugot Nanggroe(Aceh Rayek-1994), Beusapeue Pakat(1996), Laksamana Keumala Hayati(1996) dan Ie Mata dalam Gurita(1996). Hanya itulah koleksi hikayat Syeh Rih Krueng Raya yang saya miliki sampai hari in. Padahal karya beliau puluhan judul jumlahnya; yang entah dimana sekarang berada(?).
Berbekal nasehat UU.Hamidy, saya pilihlah Hikayat Akhbarul Karim menjadi hikayat cetakan pertama saya sebaga “Toke Hikayat”. Hikayat Akhbarul Karim adalah karya ‘hikayat agama’yang masih populer dibaca orang sampai akhir tahun 60-an. Percetakan yang saya pilih yaitu KUD.Rahmat yang terletak di kawasan Peniti, Banda Aceh yang dikelola Pak Adi. Ada tiga hal yang mendorong saya memilih percetakan ini, yakni (1) Ongkos cetak murah, (2) Boleh bayar cicilan, dan (3) Mau diantarkannya ke Toko Buku sebagai barang titipan saya. Masalah murahnya ongkos cetak betul-betul menggembirakan saya. Betapa tidak,seperti tersebut di atas di tahun 1995 saya telah mencoba cetak Hikayat Akhbarul Karim di percetakan kampus Darussalam,te tapi batal karena ongkosnya di luar kemampuan saya. Walau sudah berselang dua tahun(1997), namun ongkos cetaknya hanya Rp.600.000,-(enam ratus ribu rupiah) dan boleh bayar cicilan(bacut-bacut). Tetapi yang terjadi kemudian adalah penerbitan Hikayat Akhbarul Karim dalam dua jilid itu didanai percetakan. Setiap jilid dicetak 1000 eksemplar buku saku. Sebagai uang jerih-payah alih aksara kepada saya diberi “honor” Rp.25000,-(duapuluh lima ribu rupiah). Uang itu segera saya pakai buat bayar iklan bagi hikayat itu pada media “Gema Baiturrahman”.

Mungkin Anda heran; kenapa saya yang membayar ongkos iklan, padahal buku-buku hikayat tersebut sudah menjadi milik orang lain!. Jawaban logis memang tak ada, tapi begitulah setrategi dagang ‘Toke hikayat’. Selain itu, saya pun sudah berkali-kali gagal dalam berurusan dengan hasil alih aksara Hikayat Akhbarul Karim ini. Pertama, gagal/batal dimuat pada sebuah koran lokal, yang semula dijanjikan sehingga saya bekerja menyalin naskahnya ke huruf Latin. Kedua, gagal dicetak oleh pimpinan koran lokal itu sebagai usaha pribadi. Ketiga, batal dicetak dengan dana sebuah Toko Buku yang telah dijanjikan pimpinannya. Barulah pada kali keempat saya menang atas bantuan percetakan itu!.
Alhamdulillah, niat menyambung usaha Syeh Rih Krueng Raya sudah terwujud!. Masih tahun 1997, dengan selang dua-tiga bulan setiap judul ;saya pun mencetak Hikayat Aulia Tujoh,Nadham Akhbarul Hakim dan Hikayat Meucuko Nabi Muhammad Saw. Masing-masing judul dicetak 1000 buah buku saku dengan dana sendiri yang dibayar secara cicilan. Sebelum Hikayat Aulia tujoh selesai dicetak, saya berkelil;ing ke Toko-toko Buku menawarkan titipan hikayat. Sebagian menolak dengan alasan takut tidak laku, tetapi ada pula yang menerima.Pemilik toko buku yang menerima ini,ternyata sejak lama sudah menjual hikayat dan kadang-kadang menjadi sponsor dana untuk mencetak hikayat, khususnya hikayat/nadham tipis berisi kasidah-Like Aceh yang mudah terjual. Maka diantarlah oleh karyawan Pak Adi/KUD.Rahmat buku-buku hikayat ke toko-toko buku tersebut.

Tidak lah semua buku hikayat diantarkan ke toko buku. Biasanya antara 50 sampai 100 eksemplar saya ambil sendiri. Hikayat-hikayat ini, nantinya saya “hadiahkan” kepada teman-taulan saya. Beberapa sekolah, fakultas, dan pustaka di kampus Darussalam dan Tungkop mulai TK sampai Pasca Sarjana sering saya hadiahkan hikayat-hikayat itu.Karena yang saya gunakan strategi ‘bisnis modern‘, maka iklan pun saya pasang lagi pada buletin “Gema Baiturrahman“ Mesjid Raya Banda Aceh dengan dana Rp.25000(duapuluh lima ribu rupiah) untuk tiga kali terbit. Hanya saja gemar “berhadiah-hadiah” itu; mungkin yang berlawanan dengan sifat pedagang sebenarnya!.
Setelah setahun, saya pun mengumpulkan uang hasil penjualan buku-buku hikayat. Ternyata hasilnya amat jauh dari harapan. Karena itu pada tahun 1998 hanya Hikayat Abunawah jilid I yang dapat saya cetak. Jumlah cetakan pun saya kurangi dari 1000 ke 500 buku perjilid,begitu pula buat seterusnya. Hikayat-hikayat yang saya cetak selanjutnya adalah: Hikayat Lingkongan Udep Wajeb Tajaga(karya sendiri-1999), Abunawah II(2000). Pada tahun 2000 sebuah iklan saya pasang di Radio Rapa-I Aceh-Lambaro untuk 3 kali siar. Tahun kedua buku hikayat lebih banyak laku; karena itu pada tahun 2001 lebih banyak hikayat dapat saya cetak, yakni: Hikayat Wajeb Tasayang Binatang Langka, Hikayat Binatang Ubit Kadit Lam Donya(keduanya karya sendiri),Hikayat Kisason Hiyawan II,II,Hikayat Banta Amat I,II, dan Hikayat Meudeuhak I,II. Saya buat berjilid agar mudah pemasarannya,dan setiap jilid rata-rata 60 halaman. Buku ukuran saku ini berisi enam bait setiap halaman.
Jumlah toko buku yang menampung titipan hikayat bertambah dua lagi tahun 2002 di Banda Aceh. Di tahun ini juga saya pasang iklan hikayat di koran Aceh Ekspres. Pada tahun 2003 tambah satu toko buku di kampus Darussalam. Tapi akibat tidak satu buku hikayat pun laku, maka setelah setahun saya ambil kembali, dan habis saya bagi-bagikan kepada kenalan. Pertengahan tahun 2004,sebuah toko buku mengembalikan semua titipan hikayat saya dengan alasan sukar dipasarkan. Hikayat satu kardus besar itu saya hadiahkan kepada Lembaga Bahasa Banda Aceh; dengan pesan agar dihadiahkan lagi kepada pihak lain. Akhirnya, semua hikayat ini dibagi-bagikan kepada para peserta Seminar Budaya Pekan Kebudayaan Aceh(PKA IV) tahun 2004 itu di ACC Dayan Dawod kampus Darussalam.
Musibah/Bala Ie Beuna/tsunami,26 Desember 2004 telah mendatangkan bencana dahsyat bagi “bisnis hikayat” saya. Semangat melestarikan hikayat nyaris mati, namun bisa bangkit kembali pada ujung tahun 2005. Tetapi saya lagi-lagi mengalami hambatan. Hikayat-hikayat yang sudah saya salin dari huruf Arab Jawoe ke huruf Latin hanyalah ketikan mesin Tik biasa, karena itu bila hendak dicetak perlu disalin ulang dengan komputer.

Selama ini tugas salin ke komputer dilakukan Pak Adi (asal Jawa Tengah) yang sejak beberapa tahun lalu sudah memiliki usaha percetakan milik sendiri, yakni UD.Selamat Sejahtera yang juga terletak di kawasan Peniti, Banda Aceh. Karena Pak Adi sedang sakit, maka usaha saya pun terhambat. Sukar memang mencari usaha komputer milik orang Aceh yang mau menyalin bahasa Aceh. ”Menyalin bahasa Aceh lebih sukar dari bahasa Inggris!”, begitu alasan mereka. Namun, setelah lama dicari ketemu juga tempat pengetikan komputer tersebut. Tapi banyak pula yang dilakukan Pak Adi sendiri.
Naskah yang akan dicetak adalah Tambeh Tujoh Blah, yakni tujuh belas peringatan/nasehat yang terkait agama Islam. Kitab tambeh ini terbagi tiga jilid.
Jilid I dicetak pada ujung tahun 2006, yang ongkos cetaknya saya bayar dengan honor mengajar di jurusan ekstensi semester itu. Honor mengajar semester depannya dibayar bertahap/tidak serentak, maka tertundalah niat mencetak jilid kedua. Begitulah, jilid II dan III Tambeh Tujoh Blah berhasil dicetak pada akhir semester tahun ajaran 2008
dengan honor mengajar dua semester di tahun itu.
Timbul pula persoalan saat dilakukan penitipan ke toko-toko buku.Pemilik KUD Selamat Sejahtera, saat itu dipimpin Ibu Jasmani,isteri Pak Adi(Pak Adi alias Tgk.H.Siswadi Asnawi sudah meninggal pada 22 Nopember 2006). Ibu Jasmani memberitahukan saya, bahwa ada toko buku yang menolak titipan hikayat.Setelah saya cek, jelaslah alasan mereka menolak karena amat minim lakunya. Sebenarnya, selama ini pada toko buku itulah yang paling banyak saya titipkan hikayat. Apa hendak dikata,kondisi sudah berubah dan pemilik toko buku pun sudah berganti generasi pemiliknya. Pada awal September 2008, ketika saya datangi toko buku lainnya; pemiliknya yang baru berganti juga memberitahukan agar saya tidak menitipkan hikayat banyak-banyak.” Maksimal 20 buah buku setiap judul”,katanya.
Menanggapi keluhan-keluham itu, saya pun mengambil sikap, yaitu memutuskan berhenti sebagai Toke Hikayat yang sudah saya jalani selama sebelas tahun. Akhirnya, semua hikayat saya tarik dari toko-toko buku, dan saya kumpulkan di Percetakan UD. Selamat Sejahtera. Sesudah saya bagi-bagikan dalam tujuh kotak kardus, maka saya hadiahkanlah kepada enam lembaga yang memiliki perpustakaan di Banda Aceh,yakni  1)Pustaka  Sekolah  Menulis Dokarim, 2) Pustaka Ali Hasjmy, 3) Pustaka Aceh Culture Institute, 4) Pustaka Balai Bahasa, 5) Pustaka Wilayah, dan 6) Pustaka Induk Unsyiah, yaitu tiga milik negeri dan tiga lembaga milik swasta. Sementara satu kotak kardus saya ambil sendiri sebagai dokomentasi dan “bungong jaroe” Toke Hikayat bagi sahabat dan kenalan baru saya.

T.A. Sakti
#Peminat budaya dan sastra Aceh

{Catatan kemudian: Naskah transliterasi no. 26 dan 27, yakni ADAT ACEH dan TAZKIRAH THABAQAT perlu saya beri sedikit penjelasan. Bahwa kedua naskah ini merupakan naskah andalan,unggulan, harapan dan kebanggaan saya. Hal ini karena di dalamnya banyak mengandung unsur sejarah Aceh, terutama bidang sejarah ketatanegaraan termasuk undang-undang. Bidang ini amat saya gemari, sehingga di kuliah pun saya memilih jurusan HUKUM TATANEGARA dan ILMU SEJARAH.

Oleh hal demikian, saya amat mengharapkan kedua naskah alih aksara ini dapat segera tercetak menjadi buku. Berbagai cara telah saya tempuh  demi tercapainya tujuan itu. Sejumlah tokoh dan lembaga telah saya dekati, baik lewat surat, proposal atau langsung bertemu muka. Surat/proposal – buat semua hasil alih aksara – berjumlah 82 sedangkan menjumpai “tokoh”  tentu lebih seratusan. Namun, upaya saya masih sia-sia, sementara naskah Adat Aceh dan Tazkirah Thabaqat belum tercetak juwa!. Alhamdulillah, saya belum menyerah. Timbul ide di benak saya untuk memberikan fotokopi kedua naskah itu kepada pribadi-prabadi yang saya percaya amat mencintai peradaban Melayu Aceh. Saya berharap, agar lewat beliau-beliau yang berpengaruh itu, dua buku muatan lokal itu cepat terwujud.

Sehubungan dengan niat itu, ketika suatu sore Drs. Husaini Ibrahim, MA yang sedang menulis disertasi di USM mengajak saya menemani beliau ke rumah Bapak H.Harun Keuchik Leumiek, saya pun membawa serta kedua naskah tersebut. Saat itu, saya  segera setuju sewaktu tuan rumah meminta keduanya difotokopi buat beliau. Ternyata dicopy rangkap dua –  menjadi empat buah  buku – . Kepada saya dikembalikan kedua naskah asli serta mendapat hadiah pula dua buku fotokopi  tadi. Sewaktu berlangsung Seminar “Dunia Melayu Dunia Islam”  tgl. 22 – 25 Agustus 2008 di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, kedua buku fotokopy hadiah H. Harun Keuchik Leumiek ikut saya bawa. Di sela-sela seminar itu, saya tertatih-tatih berjalan dari belakang sampai ke depan untuk memperlihatkannya kepada para peserta seminar yang saya kira berminat. Diantara orang-orang yang sengaja saya jumpai, ternyata Bapak Drs. Rusdi Sufi dan Dr. Hasballah M. Saad, M.Pd meminta kedua naskah itu difotokopy, dan saya pun setuju. Buat Dr. Hasballah M. Saad – langsung dicopy saat itu atas bantuan teman pendamping saya, – NASRI yang membawa kedua naskah itu  ke tukang  fotokopy -. Sewaktu jam istirahat, seseorang menjumpai saya. Beliau adalah Pocut Haslinda – keturunan ke 8 dari Tun Sri Lanang, pengarang buku Sejarah Melayu. Akhirnya, kedua buku fotokopi pemberian H. Harun Keuchik Leumiek saya  hadiahkan kepada Pocut Haslinda, sedangkan beliau  membrikan buku  “Sejarah Melayu”  kepada saya. Buku Sejarah Melayu yang sudah di – Latinkan ini terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia.  Harapan saya  mudah-mudahan  kedua naskah hasil alih aksara saya cepat   menjadi buku cetakan, mengingat beliau berdomisili di Jakarta dan di sana banyak tokoh Aceh yang kaya-raya!. Beberapa hari kemudian, saya pun memfotokopy kedua naskah asli alih aksara ADAT ACEH dan TAZKIRAH THABAQAT  buat memenuhi permintaan Bapak Drs. Rusdi Sufi. ( Bale Tambeh, Sabtu, 26 Februari 2011 pukul 5.27 sore, T.A. Sakti )}.

Iklan

19 pemikiran pada “Hikayat Aceh Telah Mati(?)

  1. Assalamualaikum wr wb.

    T.A. Sakti yang saya hormati dan sangat saya kagumi karya2 dan tulisan2nya (meskipun baru saya baca sebatas/melalui website ini).

    TOKE IEKAYAT ACEH YANG GAGAL / SUDAH MATI ?
    Hari ini saya merasa seperti kejatuhan durian runtuh, seperti musaffir haus ditengah padang pasir, lalu kecemplung kedalam oase/wadi yang airnya jernih,sejuk, berlimpah, lalu saya kelelep (bhuek) didalamnya.

    Betapa tidak ! 30 lebih judul Hikayat yang telah droen alih aksarakan, sebagian besar diantaranya adalah yang sedang sangat saya cari2 dan belum pernah ketemu hingga saat ini, antara lain Hikayat Meudeuhak, Abu Nawaih, Tajus Salatin, beberapa judul nadlam dan beberapa judul tambeh, termasuklah Hikayat (Iskandar) Zulkarnaen dan Hihayat Ruhee.

    Saya bukan kolektor, bukan pengamat, bukan pula ahli sejarah atau sastra Aceh, namun hanya sekedar sebagai penyuka atau penikmatnya saja, itupun hanya sebatas peminat gasien,hana sen ngon bloe buku, namun sangat kepingin untuk memilikinya. Sekarang dirumah saya ada sekitar 200 judul buku tentang sejarah dan sastra Aceh, 20an judul diantaranya berupaya Hikayat Aceh klassik dan modern.

    Membaca tulisan droen tentang TOKE HIKAYAT ACEH YANG GAGAL, hati saya ikut merasa pilu, pedih, lirih dan miris, karena : itulah faktanya, inilah zamannya, dimana 3 orang anak saya sendiri yang masih mau dan bangga mencantumkan Tjut dan Teuku didepan namanya, namun tak seorangpun dari yang paham bahasa Aceh, dan tidak tumbuh sedikitpun ke inginan mereka untuk belajar sekedar memahaminya, apalagi untuk bertutur, konon pula untuk menikmati sastranya, hikayatnya, tulisan jawoe Acehnya, rasa2nya memang sudah terlalu jauh panggang dari api. Itu terjadi pada ke 3 anak saya, yang lahir, besar, bersekolah dan berkarya/menjalani hidup sepenuhnya di Jakarta, dan dilahirkan dari rahim ibu yang tidak berbahasa Aceh. Yang lebih merisaukan lagi di Aceh sendiri cukup banyak generasi muda yang sudah enggan memakai basa endatu nya. Anak2 dari Sibreh, Indrapuri, Seulimeuem ke Banda Aceh 2-3 bulan untuk bersekolah, pulang2 sudah lupa basa Aceh. He 3x,

    Jadi, inilah fakta, inilah kenyataan, inilah pil pahit yang kita telan, kita bukan sedang counting down from ten to zero, tapi sastra / bahasa Aceh saat ini suka tidak suka K.O, sudah dititik nadir, sudah Inna Lillahi, sudah Almarhum. Namun saya memohon, saya berseru dan saya sangat sangat sangat berharap, agar T.A.Sakti and the Gangs jangan berhenti, jangan menyerah dan jangan mutung. Tetaplah maju kedepan, tetaplah, berbuat, tetaplah berkarya, tentunya tanpa pamrih. Insya Allah sayapun sekarang sedang mengalih aksarakan beberapa Hikayat dari Arab Jawoe Aceh ke tulisan latin, antara lain tentang kisah hidup Panglima Nayan, Riwayat keturunan dari Keluarga Besar pendiri Zayah Tanoh Abee, al Fairusi al Bagdadi, juga sedang menyalin kekomputer beberapa Nadlam dan Hikayat Malem Dagang. Ayo, mari kita maju terus, berbuat terus bersama2.

    RAJA SI UJUT :
    Tertulis oleh droen : “No:29 HIKAYAT MALEM DAGANG : Menceritakan pelayaran Sulthan Iskandar Muda bersama pasukannya menyerang Raja Si Ujut di Malaka. Raja Si Ujut adalah lambang dari bangsa Portugis yang telah menjajah Malaka sejak tahun 1511 (163 halaman)”

    Untuk pernyataan droen dalam tanda kutip/quoted unquoted diatas, ma’af kan dan izinkan saya untuk menyampaikan sebuah informasi atau bahkan pernyataan / statement yang agak berbeda dengan pemahaman yang selama ini droen dan banyak orang lain memahaminya selama ber tahun2, terutama para sejarahwan / peminat sejarah yang selama in memakai sumber dari yang saya hormati almarhum Prof Ali Hasymi sebagai bahan rujukan utamanya yang menganggap keberadaan Hikayat Raja Si Ujut itu adalah hanya KISAH FIKTIF SAJA / KARYA SASTRA BELAKA yang abstrak dan penuh perumpamaan dan pengibaratan saja, seperti yang diyakini atau yang diulas oleh (beu luah kubu) Bapak Prof Tgk Mohd Ali Hasymi tersebut, yaitu : RAJA SI UJUT DAN RAJA RADEN KAKAK BERADIK BENAR2 ADA, BENAR2 PERNAH HIDUP DI TANAH JOHOR DAN BENAR2 MEREKA BERDUA MENGAKHIRI HAYATNYA DI TANAH ACEH DAN KEDUA2NYA MEMPUNYAI PUSARA / KUBURAN DI ACEH BESAR. SANG ABANG, RAJA SI UJUT TERBUNUH/DIBUNUH DAN BERKUBUR DI LAMTEUBA SEDANGKAN RAJA RADEN,ADIKNYA, MENINGGAL KARENA USIA TUA SETELAH SEMPAT BRANAK CUCU DAN DIKUBURKAN DI LAM LAGANG (KOMPLEK PERKUBURAN RAJA REUBAH). KUBURANNYA, ANAK CUCUNYA SERTA HARTA BENDANYA SAMPAI SEKARANG MASIH ADA DIKENALI OLEH MASYARAKAT SECARA LUAS DI LAMLAGANG, LAMTEUBA, TERUTAMA DI TANOH ABEE, SEULIMEUM DAN BANDA ACEH.

    T.A.Sakti yang terhormat,
    Tulisan ini saya sampaikan dengan rendah hati, jauh dari maksud untuk mengkritik atau berpolemik pemahaman yang selama ini sudah terlanjur berkembang secara absurd dikalangan ilmuwan /pengamat sejarah kita, apalagi dengan niat untuk berbangga diri, semoga Allah menjauhkan saya dari sifat2 takabbur, apalagi untuk berbangga diri dan mengada ada. Saya hanya menyampaikan apa yang selama ini diyakini beratus-ratus tahun oleh Zuriat Raja Raden yang telah datang dari Johor ke Aceh pada tahun 1626 hingga saat ini, lebih kurang sebagai berikut :
    RAJA SI UJUT adalah nama lain dari Sultan Alaiddin Ri’ayat Syah III Raja Muda Johor ke 5A berkedudukan di Istana Saluyut, Kotatinggi, Johor Lama,diseberang timur Sungai Johor. Beliau ditawan Sultan Iskandar Muda setelah berhasil menaklukkan negeri Johor pada tahun 1626. Beliau diboyong ke Aceh bersama dengan Eaja Raden adik tiri lain Bapa nya, Puteri Kamaliah (Putroe Phang), Pujangga / Bendahara Raja Johor Tun Sri Lanang dan sekitar 22000 serdadu dan rakyat Johor lainnya. Karena beliau dalam status sebagai tawanan perang tetap melawan dan tidak pernah mau tunduk, maka beliau dihukum bunuh (versi sedikit berbeda dikisahkan dalam Hikayat Malem Dagang). berkubur di Lamteuba.

    RAJA RADEN adalah nama lain dari Sulthan Abdullah Ma’ayat Syah: Raja Muda Johor ke VB, berkedudukan di Istana Batusawar-Johor Lama, seberang Sungai Johor sebelah Barat. Berbeda dengan abang tirinya yang terus melawan dan tidak mau tunduk kepada Raja Aceh, Taja Raden lebih rasionil, koperatif, mau bekerja sama, malah menaruh rasa kagum dan hormat kepada Sulthan Iskandar Muda yang memang sangat tersohor akan keadilannya, kebijakannya dan keperkasaannya, maka akhirnya Raja Raden malah dinikahkan dengan Puteri Ratna Jauhari bergelar Putroe Bungong Seulipeh (Puteri Kembang Turi) adik kandung sang Sulthan, yang konon tidak begitu rupawan bila dibandingkan dengan Puteri Pahang yang tadinya merupakan tunangan Raja Raden yang akhirnya jatuh kepelukan Sulthan (ya, istilah gaulnya anak2 zaman kini kira2 seperti TUKAR GULING lah). Hal ini menyebabkan timbul amarah yang sangat besar dan menjadi jadi dari Raja Si Ujut yang juga sangat menyimpan hasrat dan ingin mere but Puteri Pahang dari tangan adiknya, Raja Raden. Karena Raja Raden tidak berhasil mengawini Puteri Pahang dan untuk Raja Si Ujut pun tidak, maka kemarahan Raja Si Ujut dilampiaskan dengan berbuat makar, membunuh, memperkosa dan membakar dari Bandar Atjeh sampai ke Ladong dan mengeluarkan sumpah serapah dan umpatan kepada adiknya, Raja Raden, yang bertukar Putroe Phang dengan Putroe Bungong Seulipeh dengan kata2 seperti yang terekam dalam Hikayat Malem Dagang : BUKON BUNGONG BUKON UROE – SIPLOH BAGOE GET MEURUWA.
    Sepanjang perkawinan mereka yang tidak langgeng tersebut, mereka sempat melahirkan 2 orang putera, yang tua bernama Raja Bintang, hidup dikeraton Aceh bersama ayahwanya, sedangkan adiknya bernama Pahlawan Syah, merantau ke pantai Barat, ada dugaan di Lhok Kruet, atau d Daya / Lam No, atau di Teunom, ada juga dugaan di Trumon, bahkan ada keyakinan dari sebagian masyarakati keturunan Keluarga besar Uleebalang Nagor / Teuku Nagor Syah bersal dari Pahlawan Syah. Wallahu a’lam bissawab.

    Yang jelas, hampir selutuh/sekitar 400an orang anggota keturunan ke 11/12/13/14 Raja Raden yang sekarang masih hidup di Aceh Besar, terutama di Tanoh Abee, Seulimeum, Lamteuba, Banda Aceh dan sekitarnya (Juga di Medah, Jakarta, Jabar) memegang / menyimpan Silsilah yang tidak terputus ditangan mereka, Sejak Raja Parameswara (Sulthan Mohammad Syah) Sebagai Raja Hindu sekaligus Sulthan Islam (pendiri) Kerajaan Malaka ke I (1424M).yang menurunkan zuriatnya 7 salinan Raja2 Melayu Malaka Islam berkedudukan di Melaka sampai tahun
    1511, kemudian dilanjutkan 5 salinan Raja kelanjutan Kerajaan Malaka Islam berkedudukan / berhijrah ke Johor, sampai akhirnya Kerajaan Islam Malaka berkedudukan di Johor ditaklukkan oleh Raja Aceh, Sulthan Iskandar Muda pada sekitar 1626 M.

    KETURUNAN RAJA RADEN TERAKHIR DI TANOH ABEE/SEULIMEUM :
    ada sekitar 400an orang yang sudah terdata, antara lain :
    1. Teuku Raden : Uleebalang Tanoh Abee, Zelfbestuur terakhir
    2. Teuku Abdullah : Wedana Seulimeum
    3. Maayor Jenderal Teuku Djohan ex Wagub dan Ketua Golkar Aceh
    4. Teuku Ali Basyah _ ex Ketua Kadin Aceh Besar
    5. Teuku Bustamam ex Kadis P&K Pidie dan Aceh Timur
    6. Prof Teuku Mohd Juned ex Guru Besar Hukum Adat UNSYIAH
    7. Kolonel Teuku Ubit ex Kapusdik Batalyon di Padang Tiji
    8. DR Teuku Safir Petinggi / Staff Pengajar di IAIN Ar Raniri
    9. Zainal Abidin (Yahcek) ex Pembatu Gubernur Wilayah Barat Selatan
    10. Teuku Saifuddin : Sekda Banda Aceh saat ini
    11. Teuku Novizal Aiyub : Dirut PAM Tirta Meutala
    12. Teuku Darmawan : ex Ketua Bappeda, Kepala PU Kodya BNA
    13. Teuku Abdul Hakim ex Pimpro pad Dis Transmigrasi Prop Aceh.
    14 Raden Muda – Pengusaha di Banda Aceh
    15 Teuku Ansari – Kontraltor di Banda Aceh
    16 Kolonel Teuku Syahrul : INKOPAD Jakarta
    17 Teuku Anwar Amir : penulis posting / komentar ini

    Saya termasuk salah seorang yang menyimpan silsilah lengkap dari sejak PARAMESWARA / SULTHAN MUHAMMAD SYAH (1424M S/D 2009M).

    Sekali lagi dengan segala kerendahan hati, kami mohon agar informasi ini dapat diperlakukan sebagai suatu tambahan masukan untuk memperkaya khazanah perpustakaan / kesejarahan saja, bukanlah sebagai api penyulut polemik yang tidak berujung. Apalagi 2-3 tahun menjelang akhir hayatnya, Guru Besar kita Bapak Prof Ali Hasymi (beu luah kubu, beu ampon dasya) setiap berjumpa dengan MayJend Teuku Djohan (beu luah kubu, beu ampon dasya) selalu menyuruh dan mengingatkan agar segera memperbaiki /membangun kuburan Raja Raden yang di Lam Lagang itu sebagaimana mestinya sesuai dengan kebesaran sejarah masa lalu beliau. Dengan kata lain, Insya Allah dan Alhamdulillah mudah2an dapat saya pahami, bahwa belakangan, sebagai sejarawan sejati beliau mungkin telah menemukan fakta dan bukti yang autentik sesuai dengan kaidah2 ilmu kesejarahan yang akhirnya membawa beliau kepada kesimpulan yang mana sesungguhnya Raja Raden dan Raja Si Ujud itu memang benar2 pernah wujud dan berkiprah dipanggung sejarah Melayu Nusantara ini, Wallahu A’lam bis sawab. Hanya Allah lah yang maha tahu.

    Tangerang, 21 Juli 2009
    Teuku Anwar Tanoh Abee

  2. Assalaamu ‘alaykum wr. wb

    Apa, Kitab Bakeu Meunan peue thon geutuleh? Soe tuleh? Jeuet lon fotokopi?

  3. Meunyo nyang ka neupeulaten na bak droeneuh Apa? Sabab lon tuwan h’an jeuet lon beuet kitab jawoe Aceh.

    Nyoe pat na padum boh teunanyong teuk:
    1. Naseukah lam bahsa Aceh nyang paleng tuha peue thon?
    2. Lon peureulee that neuk beuet kitab lam bahsa Aceh nyang kon lam beuntuk hikayat, sabab karap mandum naseukah bahsa Aceh jameuen mandum lam beuntuk hikayat. Nyankeu jeuet lon teukeujot ‘oh lontupeue na cit kitab lam bahsa Aceh.

    Peue na kitab-kitab la’en nyang geutuleh lam bahsa Aceh, meukeusued lon peue na naseukah Aceh jameuen nyang lam beuntuk prosa sila’en Kitab Beukeu Meunan?

    Sabah raya,

    Kru Seumangat.

    • nyang ka ulon peulaten hingga jinoe tok-tok baro 32 naskah teubai/lipeh dan hana bandum naskah leuengkap. Nyang ka geuteumeungle Prof. T. Ibrahim Alfian, thon paleng tuha naskah Aceh thon 1710 M. Nyang ulon tmg keudroe, naskah Aceh plg tuha Kitab Tambeh Tujoh, thon 1208 H; karangan Syekh Abdussalam, lam bntk hikayat cit!. Silaen Bakeu Meunan sang gohlom soe teumeung naskah laen lam beuntuk prosa. Malah lam buku-buku Prof. A.Hasjmy geuseubut:” nyaris tak ada”. Alhamdulillah cit ka mtmg saboh dilee. Bah pih asoe kitab nyan lipeh that; 16 halaman buku ubit, dan sang kata-kata bahsa Aceh meunye ta bileueng pih hantroh meu 50 krak!.TA

      • Jadi, Kitab Bakeu Meunan nyan kon mandum geutuleh lam bahsa Aceh, Ayah nyo? Sabab dari 16 halaman nyang na cit 50 krak khong kata-kata bahsa Aceh-jih…

        Beunalah Droeneuh ateueh seuneu’ot lon nyang keuphon ka hana le lagoe? Padahay peureulee that nyan…

        Ceunatat:
        * Nyoe seuneu’ot lon nyang keupeuet. Seuneu’ot lon nyang keuphon ngon nyang keuduwa peue ka neulhi Ayah?
        * Seuneu’ot = tanggapan = comment (peue beutoy nyan bahsa Aceh-jih, Ayah?)

  4. Apa, seuneu’ot lon hana leumah lagoe bak teunuleh nyoe?

    Kitab Bakeu Meunan nyang ka neupeulaten nyan, pat jeuet lonmita?
    Adak jeuet neutulong pasoe lam blog nyoe…

    • Nyoe ulon jaweueb ban duwa surat!. Kitab Bakeumeunan na ulon jok bak pustaka2 fakultas di kampus Darussalam termasuk pustaka induk. Meunye neu mita bahsa Aceh disinan hana padumna sagai, leubehle bahsa Meulayu, disampeng istilah2 ilmu tauhid/bahsa Arab. Tanggapan, meunye meunurot lon: JEUNAWEUEB. Meu’ah ulon ka la’eh, jadi jeunaweueb nyang ulon bri le hanpaihle lagee meukeusud ureueng tanyong!.Peuelom alat canggeh nyang lon pakek nyoe milek gob, nyang ulon ngui siat!TA

  5. syair tau puisi dalam bahasa acehnya koqqqqqq ga da,,

  6. hikayat SYAHRUL INDRA CARI DIMANA????????????????????????????????

    • saya sendiri baru pertama kali mendengar nama hikayat itu. Menurut dugaan saya, hikayt itu berbentuk prosa dalam bahasa Melayu, bukan hikayat Aceh dalam bentuk syair. Saya lihat di nternet, ada mahasiswa yang bikin skripsi dengan kajian hikayat Syahrul Indra itu!.

  7. Assalamu’alaikum wr wb

    Tgk. T.A Sakti, tulisan Tgk sangat menarik dan membuat saat jadi terpicu untuk menggali manuskrip2 Aceh, yg memiliki karakteristik dan kekhasan daripada naskah daerah lainnya.
    Saya Hermansyah, saat ini sedang menyelesaikan program master jurusan Filologi di UIN Syahida Jakarta, insyaAllah setelah selesai akan kembali ke Aceh dan berkiprah untuk merestorasi dan mengkaji naskah2 yang ada disana, saat saya sedang terlena dengan artikel Tgk, saya berhenti di naskah yang dikarang oleh Abu Ishak Al Makarany berjudul Idharul Haq fi Mamlakatil Perlak Wal Fasy, yang selama ini sedang saya gali, karna menurut beberapa rawi kitab ini tidak ada lagi di dunia… Namun, saya sendiri yakin bahwa kitab ini masih ada, walaupun saya sendiri tidak tahu keberadaan naskahnya. Hingga pada detik ini masih menjadi tanda tanya dimana saya bisa menemukan naskah tersebut bukan utk saya miliki, tapi utk dikaji…
    Pada tahap apa yg telah Tgk lakukan, harus mendapat apresiasi dengan menyelamatkan naskah2 dari kebutaan generasi mendatang.
    semoga sukses terus kedepan.
    salam

    • Wa’alaikum slam!. pd tgl. 30 oktober 2010, dlm rangka memperingati ultah ke seperempat abad, Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry akan melangsungkan seminar besar ttg sejarah kerajaan Islam Peureulak, demikian kata berita dari teman saya!. Mudah-mudahan disanalah akan diperbincangkan mengenai naskah itu. Apakah memang hanya tinggal selembar lagi di dunia atau masih ada yang disembunyikan/dirahasiakan. Sebab, sejak seminar tahun 1980. perihal naskah itu tetap misterius!!!. T.A. Sakti

  8. dimana saya bisa bisa mendapatkan penjelasan mengenai sejarah aceh?
    Saya mendapatkan kitab lama “Seuramoe Makkah” dan ingin mengetahui siapa ” maharadja laboei” (1763-1766) didaerah pidie yang saya baca di Kitab itu?
    Mungkin saya bisa dibantu ….kemana sebaiknya saya menanyakan itu semua.

    Hikayat nyoe lam bhs aceh ge tuleh dari poestake kuta radja.
    Kitabnyan na bak lon hinoe. alhamdulillah meunyo na soe baca ngen na watee kenek jaweb peu nan lom tanyeng nyou.

    saleum lon,
    P. Manyana Husein-Knabe

  9. @ TAMBEH,
    pakiban jeut ne tulong..bak soe jeut ta temanyong soai maharaja labuy? i keu kitab hikayat nyan jeut ta baca: pati seudjarah atjeh; keunarang Ismail muhammad; gepeuteubiet le poestaka merdeka, koetaraja. na lom buku2 goknya, ismail moehammad: kisah prang tjoembok ngen kisah prang Atjeh , man dua lam bhs aceh. pat jeut ta mita “kopie” buku2 nyan?
    saleum,
    P M Husein-Knabe

    • ulon hana muphom sejarah maharaja labui. Sang hana nyang ahli teuntang hai nyan. Man meunyo lam kitab jameun nyan na kisah nyan, lon kira nyan dilee neukaji beuget1. Meunye mgkn, neuci ulas lam koran nayng na di Aceh, mangat na tanggapan dari peminat!.

  10. Hinoe na lon jeut baca bacut, tapi golom na penerangan selanjut jih, ta preeh illee…sang jeut na yang tulong mita nan ngen gelar maharadja labui .

    Haba Endatu
    SILSILAH RAJA-RAJA DI ACEH
    (dari buku “ADAT ACEH”, yang dialihaksarakan oleh Drs. RAMLI HARUN & Dra. TJUT RAHMA M.A. GANI, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, PROYEK PENERBITAN BUKU SASTRA INDONESIA DAN DAERAH, Jakarta 1985)

    wassalam
    P. M. Husein-Knabe

  11. Try to find out the prersent situation raja2 of Aceh and to exchange info 1946-2013.I am researcher kerajaan2 Indonesia.Thank you.

    • silakan baca buku Aceh Sepanjang Abad karya Mohd.Said atau Kerajaan Aceh -masa Sultan Iskandar Muda- karya Denys Lombard

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s