JEJAK HAJI AGUSSALIM: TENTANG HURUF ARAB MELAYU/JAWI DI INDONESIA

MENCARI JEJAK LANGKAH H. AGUSSALIM

 

Oleh: TA. Sakti

SEKALI PERISTIWA,  penulis sedang berada di Pustaka Negara Jln. Jenderal Sudirman  no. 5 Banda Aceh. Tujuan penulis hendak mencari bahan-bahan sebuah paper dalam bidang Hukum Agraria. Ketika penulis membolak-balik beberapa jenis koran, terbacalah sebuah judul berita yang berbunyi:”PENGGUNAAN AKSARA BATAK KEMBALI DIGALAKKAN”  Penulis terus ikuti kalimat-kalimat yang tertera selanjutnya: “Penggunaan aksara (huruf) Batak di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumut dalam tahun terakhir ini digalakkan kembali dengan mendapat dukungan dan perhatian yang besar

dari pemerintah maupun masyarakat. Kepala Kantor Departemen P dan K Kabupaten Taput, Dj. Gultom, ketika dihubungi “antara” Rabu, mengatakan, atas anjuran Bupati setempat semua papan merek kantor-kantor pemerintahan ditambah dengan huruf Batak. Di sekolah-sekolah para pelajar dengan penuh minat mempelajari aksara Batak di luar jam-jam belajar formal. Sedangkan di kalangan masyarakat perhatian untuk menggali aksara Batak kian membesar dan mereka bangga karena nenek moyangnya pernah mempunyai huruf sendiri” (Analisa, Jumat, 5 September 1980). Penulis angka salut kepada Orang-orang Batak, karena mereka mengerti akan nilai pusaka nenek moyangnya.

Lebih dari setahun yang lalu, ketika penulis sedang membaca majalah “Tempo” di Pustaka Induk Unsyiah, juga ada berita ini: BOASA NDANG AKSARA BATAK ?

Kalimat selanjutnya dari majalah Ttempo tersebut berbunyi: “Seorang pejabat bagian perencanaan Kanwil P & K Sumatera Utara, merasa bingung setelah mendengar diajarkannya kembali aksara Batak di SD dan SLP di Kabupaten Tapanuli Utara. Menurut berita “Kompas”  yang bersumber dari Bupati MSM Sinaga itu, pelajaran aksara Batak sudah dimulai sejak awal tahun pelajaran 1978/1979. Katanya,  tidak ada kesulitan yang berarti ketika kurikulum itu diterapkan. Guru dan buku pelajaran cukup. Murid juga mampu membeli buku pelajaran yang harganya sengaja ditekan rendah.” “Bahkan Batak bersama Jawa, Makasar dan Bali, termasuk daerah yang mengajarkan aksaranya di sekolah. Aksara Batak sendiri, menurut Nalom Siahaan ahli bahasa Batak FSUI, sudah diajarkan sejak zaman Belanda. Tetapi tiba-tiba menghilang sejak 1960 an(1.

Suatu contoh baik dari saudara-saudara kita di Sumut, yang patut jadi teladan  bagi rakyat Indonesia di daerah-daerah lain. Naskah-naskah lama dan benda-benda purbakala menjadi tugas kita untuk memeliharanya, demikian pula dengan pusaka-pusaka endatu kita yang lain.

AKSARA JAWI MENGAPA DIBUANG???

KEBUDAYAAN dari suatu bangsa merupakan hasil proses perubahan yang terjadi secara tahap demi tahap dalam perjalanan zaman. Fungsi dari kebudayaan adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia sehari-hari.

Tiap bangsa yang sudah berkebudayaan tinggi mempunyai atau memiliki “aksara” nya sendiri, karena bangsa tersebut telah pandai baca- tulis dalam kehidupannya, Dapat kita lihat sampai hari ini misalnya bangsa Jepang, Tiongkok, bangsa Arab, mereka memiliki aksara sendiri dan tetap dipelihara dan dipakai sampai hari ini, di samping itu mereka juga menggunakan aksara Latin. Kita bangsa Indonesia telah pernah memakai berbagai macam aksara sejak dari zaman purbakala. Salah satu diantaranya yang pernah dipakai oleh bangsa kita di Nusantara ini adalah aksara Jawi. Aksara ini merupakan suatu jenis aksara yang telah sangat berjasa dalam mempersatukan  suku-suku bangsa yang mendiami tiap-tiap pulau di kepulauan Nusantara ini, sehingga karenanya sekarang telah menjelma menjadi bangsa INDONESIA. Surat menyurat dalam hubungan diplomatik antara Kerajaan-kerajaan di Nusantara, selalu menggunakan aksara JAWI  yang berasal dari huruf Arab. Begitu juga para Ulama dan cerdik pandai, di zaman tersebut menyebarkan ilmu pengetahuan yang mereka miliki dengan menggunakan tulisan JAWI, sehingga boleh dikatakan tidak seorangpun di masa itu yang b u t a  huruf. Di Aceh penggunaan huruf Jawi di masa itu sangat meluas. Dalam hal ini Prof. A. Hasjmy menulis: “Kesusasteraan Aceh yang pada umumnya dalam bentuk “puisi” diucapkan atau ditulis dalam bahasa Aceh dibawah nama “hikayat”. Sementara sastra Aceh dalam bentuk “prosa” pada umumnya bersifat mantera. Juga sejumlah kitab-kitab agama ditulis dalam bahasa Aceh. Setelah datang Islam huruf asli Aceh diganti dengan huruf Arab di bawah nama “Huruf Jawi”: Juga karya tulis dalam bahasa Melayu ditulis dengan menggunakan Huruf Jawi”, demikian diantara lain isi paper A. Hasjmy yang berjudul: “Bahasa dan Kesusasteraan Melayu di Aceh”, yang beliau sampaikan pada Hari Sastra 1980 di Ipoh Malaysia, yang berlangsung tanggal 19 s/d 23 April 1980(2.

Memang sesungguhnya,  jasa aksara Jawi ini  tak dapat dibantah oleh siapapun, karena hal ini memang kenyataan sejarah. Tulisan JAWI  bukan lagi merupakan kebudayaan asing bagi bangsa Indonesia sejak zaman dahulu, tapi sudah jadi kebudayaan sendiri bagi kita di Indonesia ini, yang dapat dikatakan sudah mendarah daging. Maka oleh karena itu patut dipelajari oleh generasi sekarang dan generasi akan datang. Begitulah membudayanya aksara JAWI  bagi bangsa Indonesia, hingga tak heranlah kalau di tiap-tiap sekolah, sejak Indonesia merdeka hingga sekitar permulaan tahun enam puluhan masih di “WAJIBKAN”  untuk dipelajari. Penulis artikel ini sendiri, pernah memperlajari huruf Jawi semasa di Sekolah Dasar.

Tetapi sungguh sangat disayangkan, tulisan  JAWI yang telah membudaya bagi bangsa Indonesia, hanya dengan mudah saja telah dikesampingkan atau telah dibuang ke dalam “tong sampah sejarah pendidikan di Indonesia”.

Berbagai macam pelajaran baru, sekarang telah dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan di negara kita, tapi apakah sebabnya Aksara Jawi ini tidak diperdulikan lagi?, tidakkah patut kita meniru sikap positif dari orang Tapanuli Utara, seperti yang telah penulis singgung pada awal artikel ini? Sedangkan bahasa Sanskerta dan aksaranya (aksara Nagari), masih diajarkan di Fakultas Keguruan Jurusan Bahasa Indonesia di Unsyah/padahal sebenarnya di masa dulu, huruf Sansekerta ini tidak dikenal secara umum di Indonesia, hanya diketahui oleh ahli-ahlinya saja. Lain halnya dengan huruf JAWI, memang telah dipakai secara umum diwaktu yang lalu. Bukankah huruf Jawi tersebut sebagai suatu tanda kebesaran dari kebudayaan bangsa kita di masa lalu? Kalau untuk memudahkan penyelidikan sejarah, bukankah prasasti-prasasti dan dokumen-dokumen sejarah banyak juga tertulis dengan aksara Jawi, di mana hingga hari ini prasasti dan dokumen itu masih banyak bertebaran di seluruh tanah air Indonesia???.

MENERUSKAN POLITIK PENJAJAHAN

Diplomat besar  dan ilmiawan agung Haji Agussalim pernah menyatakan sikap beliau dalam masalah aksara Jawi. Haji Agussalim adalah  tokoh Pergerakan Kebangsaan Indonesia melawan Belanda  dan Menteri Luar Negeri pertama  Republik Indonesia,  yang  konon menguasai  12 bahasa.  Dengan judul seperti di atas, yaitu Meneruskan Politik Penjajahan,  H. Agussalim berkata: “Maka pemerintah kita dan pelbagai partai perhimpunan, perserikatan dan lembaga-lembaga masyarakat, mencurahkan usaha tenaga dan biaya untuk memberantas buta huruf Latin dan menyiarkan bacaan-bacaan dengan menggunakan huruf Latin saja. Dengan demikian kita meneruskan politik penjajahan di masa yang lalu itu, yang sengaja hendak dihapuskan baca tulis dengan huruf Arab dan melenyapkan segala bacaan huruf Arab dari kalangan masyarakat kita.”

“Bahaya dan bencana keadaan itu untuk kebudayaan kita yang asli, dasar yang sehat untuk mencapai kemajuan kebudayaan, sesuai dengan budi pekerti dan akhlak yang menjadi pokok asli dari pada bangsa kita, patut sekali dipikirkan oleh p e m e r i n t a h dan p e m i m p i n-p e m i m p i n dan p e m u k a-p e m u k a kita semua”.

“Mungkinkah kita akan mendapatkan kemajuan kebudayaan; jika terlebih dahulu kita membiarkan luput pokok kebudayaan yang sebesar-besarnya itu?”(3

Dari kutipan-kutipan di atas dengan jelas dapat kita pahami, betapa serisunya masalah aksara Jawi menurut pendapat H. Agussalim, yang pada pokoknya mengatakan bahwa penghapusan mata pelajaran huruf Jawi (huruf JAWOE = bahasa Aceh) dalam sistim pendidikan di Indonesia, merupakan bahaya dan bencana bagi kebudayaan bangsa Indonesia. Memang telah jadi kenyataan sejarah, bahwa selama zaman penjajahan di Indonesia, merupakan masa penggusuran dan penggayangan besar-besaran terhadap kebudayaan bangsa kit., Tujuan penjajah adalah untuk membina dan menanam benih-benih kebudayaan Barat pada setiap anak negeri generai-generasi kemudian. Politik Belanda yang demikian, bertujuan untuk mengekalkan penjajahannya di bumi Indonesia ini. Tindakan-tindakan Belanda yang mensaoh semua bidang kebudayan, bahkan sampai-sampai kepada kuburan Sultan Iskandar Muda turut dihilangkan jejaknya.

HIMBAUAN DAN HARAPAN

Demi menjunjung tinggi nilai kebudayaan yang dimiliki oleh aksara Jawi yang telah memperkaya kebudayaan Indonesia, warisan leluhur  yang wajib kita pelihara dan   junjung serta semestinya  kita wariskan kepada generasi bangsa Indonesia yang akan datang. Maka dengan ini penulis  menghimbau serta menggugah hati bapak2/ibu2 serta saudara2 semua; yang mencintai kebudayaan. Untuk memberi pikiran dan pandangan dalam masalah mengajarkan kembali aksara Jawi disekolah-sekolah dalam negara kita Republik Indonesia. Himbauan dan harapan ini.terutama penulis tujukan kepada Panitia Perumus Pendidikan Nasional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Menteri P & K Republik Indonesia, Rektor2 Unirversitas, baik negeri maupun swasta, Para Rektor IAIN seluruh Indonesia, Majelis Ulama Pusat dan Propinsi,  Dewan Dakwah Indonesia, para sarjana dan ahli kebudayaan serta semua pencinta kebudayaan di seluruh pelosok tanah air!!!

( Sumber: Majalah Gema Ar-Raniry, No. 40 Tahun Ke  XIII, Zulkaedah 1400-Muharram 1401/Oktober-Desember 1980, halaman 11 – 12 dan 63 ).

MELACAK JEJAK WALI SONGO DI ACEH

Melacak  Jejak Wali Songo di Aceh

Oleh: T.A. Sakti

Meski Gema Tahun Budaya 2004 yang sudah lebih dua bulan dicanangkan masih amat sepi, namun saya tetap ingin meramaikannya dengan saran-saran dalam tulisan singkat ini. Berpedoman pada agenda Tahun Budaya 2004, bahwa Pemda NAD berprinsip : “tidak satu pun khazanah kebudayaan Aceh yang hampir punah tidak bisa dilestarikan dan diselamatkan. Meskipun saat ini adanya di Negeri Belanda” (Serambi Indonesia, Selasa 24 Februari 2004 halaman1), maka pada kesempatan ini saya ingin membicarakan masalah asal-usul sebagian Wali Songo (Wali Sembilan), yang sekarang kuburan-kuburan beliau berada di pulau Jawa.

Memang amat sedikit para pemulis sejak era Republik Indonesia yang mengkaji asal-usul Wali Songo secara tuntas. Di antara yang sedikit itu tersebutlah Prof. Dr.Hamka, Solichin Salam, Prof. A. Hasjmy dan H. Rosihan Anwar. Kalau merujuk kepada pendapat para pengarang tersebut di atas serta beberapa tulisan lepas lainnya, maka dapat disimpulkan bahwa enam orang dari Sembilan Wali (Wali Songo) yang menyebarkan agama Islam di pulau Jawa adalah berasal dari Aceh(Kerajaan Samudera Pasai).. Beliau-beliau itu adalah: . Maulana Malik Ibrahim, 2. Malik Ishak (Sunan Giri), 3. Ali Rahmatullah/Raden Rahmat (Sunan Ampel), 4. Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), 5. Masaih Munad (Sunan Drajat), dan 6. Syarief Hidayatullah/Fatahillah (Sunan Gunung Jati).

Pada peringantan Malam  Israk Mikraj tahun 1988, wartawan senior H. Rosihan Anwar menjelaskan lewat TVRI-Jakarta dan beberapa suratkabar; antara lain sebagai berikut: “Masuknya Islam ke Jawa adalah karena usaha juru dakwah dari Pasai. Dari sembilan wali (Wali Songo) yang menyebarkan Islam di Jawa pada abad ke 14, ke 15 dan ke-16 Masehi, maka empat wali berasal dari Samudra Pasai, yaitu Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, Sunan Drajat dan Sunan Bonang. Wali pertama adalah Malik Ibrahim yang wafat dan dimakamkan di Gresik tahun 1419; beliau seorang saudagar Persia, berasal dari Gujarat, India.

Akan tetapi wali kedua yang muncul pada pertengahan abad ke-15 bernama Sunan Ampel atau Raden Rahmat, yang makamnya terdapat di Kampung Arab di Surabaya, berasal dari Pasai. Beliau wafat kira-kira tahun 1481. Kedua putranya, yaitu Sunan Drajat dan Sunan Bonang yang kemudian berkemukiman di Tuban dan juga menjadi Wali, pun berasal dari Pasai.

Yang terakhir dari Wali Songo adalah Sunan Gunung Jati, juga dikenal sebagai Fatahillah atau Falatehan, lahir di Basma, Pasai tahun 1490. Setelah menjadi wakil kerajaan Demak di Banten, Sunan Gunung Jati pindah ke Cirebon pada tahun 1552. beliau wafat tahun 1570.

Orang sedikit sekali menyadarinya, tetapi memang demikianlah faktanya. Empat dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa berasal dari Samudra Pasai”. (Lihat : “Kerajaan Islam Samudra Pasai  TVRI” oleh: H. Rosihan Anwar, Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, 15 Maret 1988 halaman 4/Opini).

H. Rosihan Anwar hanya menyebut empat dari sembilan wali yang berasal dari Aceh (tepatnya dari Kerajaan Samudra Pasai, yang lokasinya dekat kota Lhokseumawe – sekarang). Namun, penulis yang lain mengakui pula, bahwa Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak/Raden Paku (Sunan Giri) juga berasal dari Pasai. Beberapa sumber menyebutkan, bahwa pada masa pemerintahan  Sultan Zainal Abidin Bahian Syah (± 797 H/1395 M), sebuah Tim Dakwah Islam yang dipimpin Maulana Malik Ibrahim telah dikirimnya ke pulau Jawa.

Melacak bukti sejarah Wali Songo dan beberapa wali lainnya di Jawa cukup mudah, karena berbagai jenis sumber tersedia di sana. Lain halnya, jika kita hendak melacak jejak wali-wali tersebut ketika belum merantau ke pulau Jawa. Bagaimana kehidupan mereka semasa masih kanak-kanak di Kerajaan Samudra Pasai (di Aceh). Sultan yang mana yang sedang berkuasa saat itu?. Latar belakang apa yang menyebabkan calon-calon wali-wali itu berangkat ke Jawa? Apa, karena terpaksa?,  suka rela? atau sengaja dikirim Sultan Samudra Pasai sebagai juru dakwah untuk mengembangkan agama Islam di pulau Jawa?.

Semua pertanyaan di atas hampir mustahil bisa dijawab, karena suber-sumber sejarah mengenai wali sama-sekali tidak terdapat di Aceh. Cerita rakyat, legenda, batu bersurat, kitab-kitab lama juga tidak pernah menyinggung masalah calon-calon wali tu. Jadi, perihal kehidupan wali-wali semasa masih kecil di Aceh – di Kerajaan Samudra Pasai- masih merupakan fakta sejarah yang gelap; yang entah kapan bisa terungkap?.

Sebelum masalah asal-usul Wali Songo dari Aceh semakin gelap, alangkah baiknya jika dalam tahun Budaya 2004 ini digerakkan suatu upaya untuk menelusuri sejarah wali-wali itu; mulai dari Aceh sampai pulau Jawa. Sebagai langkah awal, perlulah tempat-tempat yang dianggap terikat dengan wali-wali di Aceh agar mengabadikan nama wali (semasa kecil) di tempat itu. Bangunan Mesjid, Meunasah, Dayah-Pesantren, sekoah dsb. ;juga perlu dinamakan dengan nama-nama harum dari wali-wali tersebut.

Sebuah buku cetakan ke-4 terbitan Bandung (1996) “Seri Wali Songo” yang ditulis Arman Arroisi telah mencantumkan pendapat yang berbeda mengenai asal-usul Wali Songo. Pada buku yang dikhususkan kepada anak-anak ini, Sunan Ampel disebutkan berasal dari negeri Campa di Kamboja. Padahal dalam buku “Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa”, Grafiti Pers, Jakarta, 1986, menyebutkan Sunan Ampel berasal dari Aceh. Buku yang semula berbahasa Belanda dan telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia; ditulis oleh dua sejarawan Belanda, DR. H. J. De Graaf dan DR. TH. G. TH. Pigeaud.

Mengenai asal-usul Sunan Ampel dari Campa, kedua penulis buku ini tidak menganggap negeri Campa yang di negara Kamboja,  tetapi negeri Jeumpa yang terletak diwilayah Bireuen -Aceh – sekarang.

Begitulah, bila pihak-pihak terkait di Aceh, terutama Pemda Aceh terus-menerus tidak peduli dengan upaya “mempatenkan” asal-usul sebagaian Wali Songo berasal dari Aceh, besar kemungkinan dalam waktu tidak  lama lagi, sejarah asal-usul wali-wali itu akan jatuh ke daerah lain, bahkan pula ke negara lain. Ketika hal itu terjadi, maka pupuslah salah satu sebab mengapa daerah Aceh digelar negeri Serambi Mekah!!!. ( Sumber: Serambi Indonesia, 13 Juni 2004 halaman  10 – *Wacana ).

T. A. Sakti

Banda Aceh,29-4-2004.

KHANDURI APAM

Khanduri Apam/WU

Oleh: T.A. Sakti

BULEUEN APAM adalah salah satu dari nama-nama bulan dalam “Almanak Aceh”, yang setara dengan bulan Rajab dalam Kalender Hijriah. ‘Buleuen’ artinya bulan, sedangkan ‘Apam’ berupa sejenis makanan yang mirip Serabi.

Kenapa disebut buleuen Apam?. Karena, memang sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh, bahwa bila buleuen Apam tiba mereka mengadakan “Khanduri Apam”/Kenduri Serabi. Dulu, tradisi ini paling populer di kabupaten Pidie. Mungkin karena itu pula; sangat terkenal bagi orang di luar kabupaten itu sebutan”Apam Pidie”. Selain di Pidie, di Aceh Utara, Aceh Besar dan beberapa kabupaten lain juga dikenal tradisi ini; walaupun dengan tatacara yang berbeda.

Kegiatan Tot Apam(memasak Apam) dilakukan oleh kaum ibu di desa. Kadang-kadang sendirian, tetapi lebih sering secara berkelompok antara beberapa orang ibu rumah tangga. Pekerjaan per tama dari usaha ini “Top tupong breuh bit”(menumbuk tepung dari beras nasi). Tepung ini tak perlu dijemur, tapi langsung dicampur santan kelapa dalam sebuah beulangong raya(periuk besar).  Campuran ini direndam  paling kurang tiga jam, agar Apam yang dimasak nanti menjadi lembut. Adonan yang sudah sempurna ini kemudian diaduk kembali sehingga menjadi cair. Cairan tepun inilah yang diambil dengan Aweuek/iros untuk dituangkan ke wadah memasaknya, yakni Neuleuek berupa Cuprok Tanoh(pinggan tanah). Dulu, Apam tidak dimasak dengan kompor atau kayu bakar, tetapi dengan on ‘ue tho(daun kelapa kering–malah orang-orang percaya bahwa Apam tidak boleh dimasak selain dengan on “ue tho ini!!!). Masakan Apam yang dianggap baik, yaitu bila permukaannya berlobang-lobang seperti lobang pada kaus lampu strongking, sedang bagian belakangnya tidak hitam dan rata(tidak bopeng). Apam yang bopeng disebut diklokle Burong(dicubit Kuntilanak).

Apam paling sedap bila dimakan dengan kuahnya, yang disebut “Kuah Tuhe”, yang berupa masakan santan dicampur pisang klat barat(sejenis pisang raja) atau nangka masak serta gula. Bagi yang elergi kuah tuhe mungkin karena luwihnya(gurih); kue Apam dapat pula dimakan bersama kukuran kelapa yang dicampur gula. Bahkan hanya dengan memakan Apam saja(seunge Apam), yang dulu di Aceh Besar disebut “Apam beb”. Selain dimakan langsung, dapat juga Apam itu direndam beberapa lama ke dalam kuahnya sebelum dimakan. Cara demikian; orang menyebutnya “Apam Teuth’op”. Setelah semua kuahnya habis dihisap; barulah Apam itu dimakan. Apam Teuth’op itu sedapnya bukan main. Pokoknya sedaaap….deh!!!.

Begitulah, Apam yang telah dimasak bersama lauknya; siap dihidangkan kepada para tamu yang sengaja dipanggil/diundang ke rumah. Dan siapapun yang lewat/melintas di depan rumah, pasti sempat menikmati hidangan”Khanduri Apam” ini. Bila mencukupi, kenduri Apam juga diantar ke Meulasah(surau di Aceh) serta kepada  para keluarga yang tinggal di kampung lain. Begitulah, acara Tot Apam diadakan dari rumah ke rumah atau dari kampung ke kampung lainnya selama buleuen Apam(bulan Rajab) sebulan penuh.

Asal-usulnya

Menurut penuturan orang-orang tua, asal mula dari tradisi Khanduri Apam ini adalah berasal dari seorang sufi yang amat miskin di Tanah Suci Mekkah. Si miskin yang bernama Abdullah Rajab adalah seorang zahid yang sangat taat pada agama Islam. Berhubung amat miskin, ketika ia meninggal tidak satu biji kurma pun yang dapat disedekahkan orang sebagai kenduri selamatan atas kematiannya. Keadaan yang menghibakan/menyedihkan hati itu; ditambah lagi dengan sejarah hidupnya yang sebatangkara, telah menimbulkan rasa kasihan masyarakat sekampungnya untuk mengadakan sedikit kenduri selamatan di rumah masing-masing. Mereka memasak Apam untuk disedekahkan kepada orang lain. Itulah ikutan tradisi Tot Apam(memasak Apam); yang sampai sekarang masih dilaksanakan masyarakat Aceh; walaupun tidak semeriah tempo dulu!!. Apakah tragedi Abdullah Rajab benar-benar pernah terjadi, hingga kini belum pernah diselidiki orang; hanya Wallahu’aklam!!.

Selain pada buleuen Apam(bulan Rajab);  dulu kenduri Apam juga diadakan pada hari kematian. Ketika si mayat telah selesai dikebumikan, semua orang yang hadir dikuburan disuguhi dengan kenduri Apam. Apam di perkuburan ini tidak diberi kuahnya. Hanya dimakan dengan kukuran kelapa yang diberi gula(dilhok ngon U).

Tempo dulu, Khanduri Apam juga diadakan di kuburan setelah terjadi gempa hebat– seperti gempa tsunami, hari Minggu, 26 Desember 2004 misalnya–. Tujuannya, sebagai upacara Tepung Tawar(peusijuek) kembali bagi famili mereka yang telah meninggal. Akibat gempa besar; boleh jadi si mayat dalam kubur telah bergeser tulang-belulangnya. Sebagai turut berduka-cita atas keadaan itu; disamping memohon rahmat bagi si mati, maka diadakanlah khanduri Apam tersebut.

Sehubungan dengan kenduri Apam, dulu populer pula istilah “Apam Lam Peuluman”. Peuluman adalah bejana tempat cuci tangan  bagi orang yang mau makan tempo dulu. Istilah Apam Lam Peuluman; dikiaskan kepada orang yang berwatak pendiam atau tenang-tenang,tapi menghanyutkan….berbahayaaa!!!.

T.A. Sakti

7 Rajab 1430 H

Catatan: Setiap tulisan yang ditandai /WU pada judulnya berarti artikel/syair itu pernah dimuat dalam Buletin WARTA UNSYIAH antara November 2006 sampai

Januari 2010 M. WARTA UNSYIAH adalah media publikasi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Aceh, Indonesia.

RAJA SI UJUD – Kisah Perang Portugis – Aceh versi Hikayat Malem Dagang

RAJA SI UJUT

Mengenai satu hal semuanya sepakat, yaitu bahwa Raja Sabrang kawin dengan saudara perempuan Sultan Aceh. Akan tetapi “Sultan” yang pada tahun 1614 tinggal di Djohor telah dengan giat melakukan perundingannya dengan Portugis yang kedua kalinya dan tidakmemuaskan (menyenangkan) orang-orang Aceh, sehingga pada ekspedisi yang kedua di tangkap oleh mereka, dibawa ke Aceh dan di bunuh di sana “ sebab menurut  Atchinder, sama sekali tidak membantu melawan Portugis.

Adalah penting untuk menyelidiki ekspedisi kedua ini secara lebih cermat. Armada Acehmendapati Djohor telah di tinggalkan, dalam perjalanan pulang bertemu dengan armadaPortugis di bawah pimpinan Miranda dan Mendoca, yang datang dari Malaka untuk membantu Djohor tetapi di pukul mundur. Pertempuran ini diidentifikasi oleh Hoesein Djajadiningrat sebagai pertempuran yang disebutkan dalam Boestanus-Salatin di Baning (Hoesein, op. cit, hlm. 180). Pada kesempatan itu atau tidak lama sesudahnya Sultan ditangkap kembali dan dibawa ke Aceh.

Jika data-data ini dibandingkan dengan cerita dari Malem Dagang, ternyata kami temukan kesamaan. Dalam syair disebutkan kedatangan dua raja bersaudara ke Aceh, yang antara lain bergelar sebagai raja2 Djohor. Menurut data-data historis demikian juga halnya, bahwa kedatangan mereka ke sana tidak sepenuhnya secara sukarela. Dalam kedua cerita (versi) itu juga disebutkan bahwa salah satu dari mereka kawin dengan saudara Sultan Aceh., dan satunya lagi pulang kembali ke Djohor ,yang selanjutnya setelah banyak melakukan tindakan yang kurang berkenaan bagi orang-orang Aceh, ia ditangkap oleh ekspedisi dan dibunuh.

Hal-hal yang khusus dari ekspedisi ini juga menunjukkan adanya kesamaan: dalam kedua peristiwa itu armada menemukan Sultan melarikan diri, dan oleh karena itu kota (Djohor) diduduki. Dalam pertempuran berikutnya di Baning melawan Portugis dalam perjalanan pulang, ditemukan kembali dalam syair sebagai perang laut di “Laot Banang”. Bahkan namanya juga sama, pada mana harus dinyatakan bahwa “Baning” dan “Banang” sama-sama dituliskan dalam karakter bahasa Arab.

Alasan kedatangan dua bersaudara di Aceh tidak disebutkan dalam Malem Dagang. Penulis syair nampaknya hanya ingin mengatakan bahwa Radja Raden pada hari tertentu datang dan diikuti oleh saudara laki-lakinya yaitu Si  Ujut. Hanya beberapa redaksi yang memberikan episode, yang menceritakan bahwa Radja Raden datang untuk memeluk agama Islam. Tidak ada penjelasan lebih jauh bahwa ia berangkat ke Aceh dengan keperluan khusus. Bisa diperkirakan maksud kedatangannya yang sesungguhnya tersembunyikan (rahasiakan) Sehubungan dengan perkawinannya dengan keluarga Sultan Aceh.

Kedua raja itu dalam kenyataan sesungguhnya bukan sama sekali tidak beragama (kafir) sehubungan adanya persekutuan antara Djohor dengan Portugis.

Demikian juga bagaimana penggambaran orang Aceh menjadi tidak berkenan (marah), antara syair dengan kenyataan adalah berbeda; pada satu sisi perundingan-perundingan berlangsung di Aceh sebelum kembali ke Djohor, pada sisi yang lain perundingan-perundingan terjadi di Djohor sesudah kepulangan ke Djohor itu. Akan tetapi tidak boleh diabaikan bahwa dalam syair kepahlawanan yang setengah lagendaris itu kenyataan2 historis telah kehilangan bentuk yang seharusnya. Kesesuaian secara keseluruhan atau bahkan pada bagian yang khusus/ penting saja tidak diharapkan.

Namun demikian nampaknya sangat bisa diterima bahwa inti dari Hikayat Malem Dagang adalah pengiriman ekspedisi pada tahun 1615 ke Djohor, dan itu adalah yang kedua, sebab Sultan yang di kembalikan ke Djohor telah bersekongkol dengan Portugis. Bagian awal syair adalah hasil dari ekspedisi sebelumnya yaitu yang berlangsung pada tahun 1613, yaitu kedatangan kedua raja yang di tawan itu di Aceh, tetapi dengan perbedaan, bahwa kedatangan ini dalam syair digambarkan sebagai kedatangan sukarela, dan diperkirakan bahwa tokoh Radja Raden dan Si Oedjoet menggantikan nama kedua raja tersebut.

Akan tetapi masih ada persoalan mengenai kedua raja itu, yaitu siapakah sesungguhnya yang Radja Raden dan yang Si Oedjoet itu. Jika mengikuti pendapat Hoesein Djajadiningrat maka Alaedin sendirilah yang tidak lama sesudah penangkapannya diperbolehkan kembali ke negerinya, sementara Raja Abdoelaah (R. Sabrang) yang kawin dengan perempuan Sultan Aceh. Dan tetap tinggal di Aceh adalah Radja Raden.

Raja Sabrang dan Si  Ujut = Alaedin. Akan tetapi hal itu bertentangan dengan pendapat Roeffaer, bahwa Radja Sabrang di kirim kembali (pulangkan) sebagai pengganti saudara laki-lakinya, yang berarti itu adalah Radja Raden.

Alaedin dan Si Oedjoet = Radja Sabrang. Namun harus di sadari, meskipun suatu Epos itu berdasarkan pada peristiwa sejarah, harus diakui adanya karakter yang bersifat sangat lagendaris. Data-data darinya memang bisa diambil untuk mengisi kekosongan-kekosongan (data) dalam pengetahuan sejarah- yang untuk itu orang harus sangat berhati-hati demikian juga hal itu ditemukan argumentasi yang mengkritisi hikayat Malem Dagang, yaitu pendapat Hoesein dan Rouffaer yang sebelumnya.

Pertama adalah adanya saling hubungan famili: Alaedin adalah kakak laki-laki Radja Sabrang (lihat.al. Valentijn. Beschrijving van Malaka, hlm.331), kemudian salah satu nama dari Radja Sabrang berbunyi : “Radja Bungsoe” yang berarti “termuda”. Demikian juga persaudaraan itu hanya bersifat pengakuan saja, sama yang seperti tersebut dalam Sedjarah Melajoe. Diperkirakan juga bahwa penangkapan hubungan persaudaraan adik dan kakak ini karena yang terakhir itu adalah yang sesungguhnya  sebagai raja yang memerintah. Hal ini banyak sekali disebutkan/ dikuatkan Sedjarah Melajoe. Dalam Hikayat Malem Dagang Si  Ujut memanggil Radja Raden dengan sebutan “dalem” yaitu berarti “saudara tua” dan sebaliknya Radja Raden Memanggil Si Oedjoet dengan sebutan “adoe” yang berarti “saudara muda”.

Masih ada dipastikan adanya kesamaan yang menarik antara nama Radja Raden dengan yang oleh Eredia dalam tulisannya “Informacao” diberikan kepada Alaedin yaitu ”Radja Rade”. Apakah ini kebetulan atau bukan?Apakah dalam surat C.S. Van da Veer ”Radja Radjoe” adalah Alaedin?

Akhirnya terdapat keanehan ( tabiat ) khas dari kedua raja itu, sejauh yang diperoleh dari berita-berita. Secara umum berita-berita itu menjelaskan bawa Alaedin adalah pengantuk dan raja yang tidak punya karakter, yang mengabaikan pemerintahannya dan menyerahkannya kepada saudara laki-lakinya Radja Sabrang, yang mempunyai sifat sebaliknya yaitu orang yang tertegas dan terpercaya. Adalah aneh bahwa Alaedin yang pengantuk ini, yang di kembalikan oleh Sultan Aceh dan di bawah pengawasan orang Aceh, tiba-tiba melakukan gerakan melawan Aceh, sementara ia juga harus kehilangan dukungan dari saudaranya. Karakter yang demikian itu lebih cocok bagi Radja Sabrang. Tetapi bertentangan dengan yang tersebut di atas masih terdapat beberapa kesulitan untuk dipahami.

Demikianlah menurut Malem Dagang bahwa Radja Raden (dalam hal ini adalah Alaedin), tetapi menurut data-data historis adalah Radja Sabrang (dalam hal ini adalah si Oedjoet) menikah dengan saudara perempuan Iskandar muda. Dalam hal ini masih bisa dipertanyakan, karena berdasarkan berita-berita Eropa lama hanya berbicara mengenai penangkapan Radja Sabrang pada tahun 1613, dan tidak ada keterangan dari berita-berita itu mengenai adanya perkawinan. Oleh karena itu harus di terima bahwa kedua saudara itu memang ditawan dan dibawa ke Aceh, tetapi lebih mungkin bahwa bukan Radja Sabrang yang dinikahkan, akan tetapi Alaedin. Namun demikian Argumen ini juga belum bisa dikatakan kuat.

Kemudian masih ada kesulitan yang berikut ini:

Berdasarkan surat C.S. van der veer, sehubungan dengan berita-berita yang lain, bahwa Sultan Djohor yang dipulangkan kembali sesudah ekspedisi yang pertama melawan Djohor tahun 1613, pada ekspedisi yang ke dua tahun 1615 ditangkap dan dibunuh di Aceh, dan sesudah itu ia digantikan oleh Radja Bungsu (Abdullah). Berdasarkan berita ini maka Alaedinlah yang dipulangkan kembali dan sesudah itu ditangkap kembali dan akhirnya dibunuh.

Sementara Radja abdoellah, yang kemudian tampil sebagai Radja memerintah dengan gelar “Sultan Abdoellah Ma’ajat Sjah” yang juga ternyata bernama “Hammat Sjah” pada tahun 1623 meninggal di kepulauan Tambela, yang menurut surat pemerintah Hindia kepada Heeren XVII tertanggal 3 Januari 1624 disebabkan oleh karena kesedihan yang sangat mendalam.

Sebelum itu ia pertama-tama melarikan diri ke Bintan dan selanjutnya ke lingga. Di tempat itu ia diusir oleh orang-orang (prajurit) Aceh, dan akhirnya ia sampai ke Tambela dan mati. Diperkirakan sebagai alasannya mengapa ia dimusuhi oleh Aceh, adalah karena ia telah mencerai/ mengembalikan isterinya (yang adalah adik Iskandar muda) ke Aceh.

Apabila orang berpegang kepada kesimpulan Rouffaer, bahwa bukan Alaedin akan tetapi Radja Seberanglah yang dipulangkan ke Djohor itu, maka berita dari surat van der veer yang menyebutkan bahwa Radja Boengsoe telah menggantikan saudaranya yang di tangkap dan dibunuh haruslah di koreksi.

Demikian juga bahwa pergantian itu tidak terjadi pada tahun 1615 sesudah ekspedisi ke dua, tetapi sudah terjadi pada tahun 1613 sesudah ekspedisi pertama (sesudah pengiriman atau pemulangannya ke Johor).tetapi masih banyak hal lain yang perlu di pertanyakan yaitu bahwa kematian Abdoellah ma’ajat di kepulauan Tambela pada tahun 1623 tidak sesuai dengan berita, bahwa Radja yang di pulangkan pada tahun 1613 atau 1614 masih di tangkap dan dibunuh di Aceh pada tahun 1615.

Berdasarkan keraguan-keraguan yang telah disebutkan di muka (H. K. J. Cowan) apakah saya akan mengikuti salah satu pendapat tersebut di atas, yaitu sehubungan dengan persoalan identifikasi bahwa Radja Raden adalah Alaedin dan si Oedjoet adalah Radja Sebrang atau sebaliknya. ternyata keraguan itu menjadi lebih besar setelah saya mengetahui isi hikayat (tulisan tangan) yang ada pada saya. Menurut redaksinya si Oedjoet tidak di bunuh di Aceh, tetapi ia berhasil meloloskan diri dari penjara dean via Banang ia berhasil tiba di Goeha, dan di sana ia diterima dengan suka cita oleh isteri-isterinya.

Tidak lama setelah itu ia meninggal dunia, setelah dimakamkan, isterinya-isterinya mengirim orang ke Aceh untuk memohon kepada Radja Raden untuk menjadi penggantinya. Sultan Iskandar muda menyetujui permintaan itu dan menyuruh saudara perempuannya (Poetroe Hidjo) ikut pergi dengan Radja Raden ke Djohor. Tetapi ia ditinggalkan di Djohor lama, sedangkan Radja Raden melanjutkan perjalanan melalui Djohor Bali ke Goeha. Kelima isteri si Oedjoet menerima/memeluk Islam. Sampai disini ada kekosongan (hilang) sebanyak 2.5 halaman dalam hikayat sehingga kelanjutan cerita menjadi sangat tidak jelas.

Ada dibicarakan mengenai seorang “Teungku” yang dalam petualangannya sampai   Johor lama, dan disitu ia menjadi sangat terkenal. Pada suatu hari ia di panggil oleh “Malem” untuk menjalankan ibadah shalat jum’at di mesjid, tetapi nampaknya ia tidak mau, sebab menurutnya bukan hari jum’at (disini ada kekosongan halaman lagi). Selanjutnya cerita di mulai lagi dengan percakapan antara “Teungku” dengan Putroe hidjo, yang ternyata keduanya berjanji untuk pergi secara diam-diam.

Pada suatu malam ia di suruh menenggelamkan kapal di sungai satu persatu dengan menggunakan bor, sementara ia sendiri berlayar ke pulau Weh. Sampai disana “Teungku” memberi tahu bahwa ia ingin menjual barang berharga (mahal), yang oleh karena itu Sultan Iskandar muda berangkat ke kapal itu (Tengkoe). Ketika ia melihat saudara perempuannya, keduanya jatuh pingsan. Selanjutnya keduanya dibawa masuk sebagai satu-satunya hadiah “Tengkoe” ingin menerima (menginginkan) pembebasan anak-anaknya, dan sampai disini tulisan tangan (Hikayat) tiba-tiba berakhir.

Apa yang harus kita lihat dalam episode ini? Mengenai adanya penambahan fantastis oleh penyalin hikayat, memang hal semacam itu sering terjadi. Atau apakah kita dalam hal ini bisa mengetahui gema (informasi) yang mengakibatkan dilaksanakannya ekspedisi Aceh ke tiga terhadap Sultan Djohor pada tahun 1623, dimana raja yang tersebut terakhir itu di kejar sampai Lingga dan Tambela, pada tahun itu juga akhirnya ia meniggal?

Sesungguhnya mengenai hal itu kita bisa menemukan dalam berita-berita sejarah mengenai pemulangan kembali ke Aceh saudara perempuan Iskandar muda yang telah menjadi isteri Radja Djohor oleh Radja Djohor. Selanjutnya episode ini bisa sesuai dengan data historis, bahwa saudara laki-laki yang lain telah menggantikannya, dan pergantian itu terjadi sesudah berhasilnya ekspedisi tahun 1615, yaitu sesudah meninggalnya saudara laki-lakinya yang lain.

Jika kesesuaian ini bukan merupakan kebetulan, mengingat menurut data historis Abdoellah adalah yang menggantikannya, maka Radja Raden dalam hikayat yang kami punya adalah sama dengan Radja Abdoellah dan yang berarti juga si Oedjoet. Dengan demikian juga benarlah pendapat Hoesein Djajaningrat, bahwa Alaedin sendiri adalah yang di pulangkan ke Djohor, sementara pendapat Roeffaer tidak benar.

Bagaimanapun meragukannya nilai historis dari episode ini, tetapi sangatlah mengecewakan bahwa kelanjutan sejarah ini tidak ada. Sebab ada juga di dalamnya terjadi pengabaian hal ini dan kepulangan adik Iskandar Muda yang menyebabkan bagi ekspedisi Aceh ke tiga, kemudian mengakibatkan pelarian dan pengejaran Radja Raden, dan akhirnya sampai pada kematiannya.

Oleh karena itu, saya tidak berani secara definitif menyamakan antara kedua Radja Djohor itu dengan seperti kedua Radja yang baru di sebut dalam sejarah. Namun demikian sepenuhnya saya berani menyatakan telah berhasil membahas hikayat Malem Dagang sesuai dengan skope temporal (kontek waktunya) yang seharusnya dan menunjukkan peranan Radja Raden dan si Oedjoet kepada yang tidak lain kedua Radja bersaudara dari Djohor, dan kemungkinan pembagian peranan dari keduanya.

Saya memang tidak berhasil mengidentifikasi tokoh utama, yaitu Malem dagang sendiri. Barangkali ia hanya tokoh lokal yang kehebatannya tidak menjadi terkenal, mengingat tidak di ragukan lagi bahwa Sultan Iskandar muda lah yang terkenal di dunia luar sebagai pemimpin ekspedisi. Oleh karena itu, orang-orang Eropa pun  tidak mau memberitakannya, meskipun hanya sebagai orang pribumi.

Mungkin dalam Malem dagang harus dilihat seorang tokoh yang dimaksud oleh Prof. Veth sebagai laksamana dari armadanya Iskandar muda, yang pernah memimpin prajurit Hindia. Tetapi data-data tentang itu tidak memberikan kepastian. Laksamana ini ikut dalam penyerangan terhadap orang-orang Portugis dalam penyerangan Malaka pada tahun 1628 atau 1629. demikian juga penyebutan namanya tidak memberikan pegangan yang kuat.

Mengenai perhitungan tahunnya, tidaklah sedemikian sulit, karena orang ini memang panglima yang telah pernah memimpin ekspedisi-ekspedisi sebelumnya, sementara penyair telah membingungkan/mengacaukan dalam berbagai ekspedisi. Tetapi hal itu tidak lebih dari suatu perkiraan semata, dimana saya sendiri juga menjadi kurang percaya.

(  Tulisan di atas adalah terjemahan Kata Pengantar H.K.J. Cowan  pada kajian   “De Hikajat Malem Dagang”  yang diterbitkannya  tahun 1933.  Penterjemah dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia  dilakukan  oleh Mas Agust Supriyono alias Dr. Agust Supriyono, MA, Dosen FIB  Undip, Semarang, yakni sahabat akrab saya pada Program Cangkokan Mahasiswa Sejarah, beasiswa Kerjasama Indonesia – Belanda di UGM Yogyakarta. Proses penterjemahan, mulai saya kirim bahan ke Semarang sampai saya terima hasil terjemahan di Banda Aceh dan kerja editan membutuhkan waktu sekitar setahun:  T.A. Sakti).

MIR’ATUT TULLAB, KARYA TERBESAR SYIAH KUALA

Mir’atut Tullab, Karya Terbesar Syiah Kuala

Oleh : T.A. Sakti

Syekh Abdurrauf alias Teungku Syiah Kuala adalah Qadli Malikul Adil Kerajaan Aceh Darussalam pada masa berkuasanya empat orang Sultan perempuan di Aceh. Yakni, (1) Sulthanah Tajul ‘Alam Shafiatuddin Syah(1050-1086 H/1641-1675 M), dan kitab Mir’Atut Tullab ditulis Teungku Syiah Kuala atas anjuran dan sponsor Ratu Aceh ini; (2)  Nurul Alam Naqiatuddin Syah(1086-1088 H/1675-1678 M); (3)  Zaqiatuddin Inayat Syah (1088-1098 H/1678-1688 M); dan (4) Sulthanah Kamalat Syah (1098-1109 H/1688-1699 M). Raja perempuan Aceh yang terakhir ini turun dari singgasana, karena pemberontakan yang meletus beberapa tahun setelah Syiah Kuala wafat .

Karya tulis Syekh Abdurrauf cukup banyak. Diantaranya yang paling terkenal adalah Mir’atut Tullab. Kitab ini khusus ditulis bagi rujukan utama para Kadli (hakim) di seluruh Aceh.  Judul lengkapnya  ialah:”Mir’atut Tullab fi Tashil Ma’rifat Ahkam assyar’iyah lil Malikul Wahhab”(artinya: Cermin Bagi Mereka yang Menuntut Ilmu Fiqih pada Memudahkan Mengenal Segala Hukum Syarak Allah). Karena penting dan dianggap hebat itulah, maka Mir’atut Tullab –lah yang pertamakali diperkenalkan kembali kepada masyarakat oleh pimpinan Universitas Syiah Kuala 37 tahun lalu(1971).

Mengawali  kata pengantarnya; Rektor Universitas Syiah Kuala saat itu, Prof.A.Madjid Ibrahim menyebutkan ( perubahan ke  EYD oleh penulis):”Dalam rangka perayaan Dies Natalis X Univesitas Syiah Kuala, kami menganggap perlu untuk memulai memperkenalkan kepada masyarakat dan kepada lingkungan sendiri; hasil-hasil karya Ulama Besar Syekh Abdurrauf, atau yang lebih terkenal dengan nama Teungku Syiah Kuala, yang namanya telah dipakai oleh Universitas kami, untuk memperoleh sempena dari kebesarannya”. Pada bagian lanjutannya, Prof.A.Madjid Ibrahim mengatakan, bahwa mengingat sudah langkanya karya-karya Syekh Abdurrauf itu; maka:”Universitas Syiah Kuala secara berangsur-angsur berusaha mengreprodusir hasil-hasil karya beliau untuk disebarluaskan kepada masyarakat”.

Selanjutnya, sang Rektor  juga berujar:”Usaha ini akan dilanjutkan sedikit demi sedikit dengan hasil-hasil karya penulis lainnya, yang dapat dikumpulkan dari kalangan masyarakat, dayah-dayah dan sumber-sumber lainnya, dalam rangka pembinaan sebuah perpustakaan tentang Sejarah Aceh pada Universitas Syiah Kuala, dan akan disebarluaskan juga kepada pusat-pusat pengkajian sejarah dalam lingkungan pelbagai Universitas, dan para peminat sejarah lainnya”. Sayangnya, gagasan Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof.A.Madjid Ibrahim itu  “disepelekan” oleh Rektor-Rektor Universitas Syiah Kuala sesudahnya. Bahkan, kitab Mir’Atut Tullab yang telah direprodusirnya terus terbengkalai; tak ada yang peduli lagi.

Sebagai warga kampus Universitas Syiah Kuala yang berminat tentang manuskrip Aceh, saya pernah berupaya meneruskan gagasan Prof.A.Madjid Ibrahim; walaupun dalam skala amat kecil. Tanpa ada yang menyuruh dan pendorong; saya coba menyalin naskah Mir’Atut Tullab dari huruf aslinya Arab Jawoe ke aksara Latin. Diperkirakan naskah setebal 649 halaman – saya kira  lebih 1000 halaman dalam huruf Latin — itu bisa selesai menjelang Ultah Universitas Syiah Kuala ke 50 tahun(Setengah Abad Universitas Syiah Kuala – 2 September 2011 M -). Begitulah; berbekal komputer tua hadiah seorang teman dosen Universitas Syiah Kuala;  pada awal April 2008 saya mulailah kerja transliterasi(alih aksara). Kegiatan itu saya lakukan tanpa terjadwal dan amat santai. Namun, pada awal Juni 2008 naskah Mir’Atut Tullab itu  telah selesai saya salin sampai halaman 49, sedang  hasilnya dalam huruf Latin sudah 80  halaman lebih . Tetapi apa hendak dikata; pada pertengahan Juni 2008, harddisk dan ram dari komputer saya rusak. Tukang service  komputer mengatakan, bahwa semua rekaman  tertulis saya dalam komputer  hilang- terhapus.  Sejak naas itu; berhentilah angan-angan  saya menyalin hingga  tuntas  ke huruf Latin kitab Mir’Atut Tullab; karya terbesar dari Syekh Abdurrauf- Syiah Kuala.(T.A.Sakti).

Identitas Aceh dan Tulisan Jawoe

Identitas Aceh dan Tulisan Jawoe

By admin at 28 December, 2008, 6:07 pm

Oleh T.A. Sakti

Bila Anda pertama kali mampir di Banda Aceh; secara serempak mata Anda akan menyaksikan suatu panorama, yaitu semua papan nama dari bangunan penting seperti toko, kantor, dan sekolah, tertulis dalam dua macam huruf, yakni Latin dan Arab Melayu.

Inilah salah satu identitas Aceh sebagai daerah paling awal masuknya agama Islam di Nusantara. Dan huruf Arab Melayu itu pun pertamakali tumbuh dan berkembang dari wilayah ini. Namun, tidak semua tulisan Arab Melayu yang ditulis di papan itu benar adanya. Masih banyak salah-kaprah.

Mulanya Islam datang ke Aceh, terjadilah islamisasi dalam segala bidang kehidupan, termasuk dalam bidang seni-budaya, misalnya digunakan huruf Arab dalam hal penulisan. Sesudah dibuat penyesuaian seperlunya, huruf Arab ini diberi nama huruf Arab Melayu (bahasa Aceh: harah Jawoe).

Berdasarkan berbagai penyelidikan yang telah dilakukan para sarjana, saya yakin bahwa huruf Arab Melayu berasal dari Aceh, daerah yang pertama masuk dan berkembangnya Islam untuk kawasan Asia Tenggara. Hampir semua sejarawan Barat dan Timur berkesimpulan demikian. Bersamaan masuknya Islam ke Aceh, maka masuk pula bacaan huruf Arab ke dalam kehidupan masyarakat Aceh, antara lain melalui kitab suci Al-Qur’anul Karim. Bersumber huruf Arab Melayu itu, lambat laun berkembanglah penulisan Arab Melayu tersebut.

Sejarah mencatat bahwa di Aceh telah berkembang beberapa kerajaan Islam, yaitu Kerajaan Peureulak, Kerajaan Pasai, Kerajaan Benua, Kerajaan Linge, Kerajaan Pidie, Kerajaan Lamuri, Kerajaan Daya, dan terakhir Kerajaan Aceh Darussalam. Kerajaan-kerajaan itu banyak melahirkan para ulama yang sebagiannya berbakat pengarang. Melalui tangan-tangan terampil merekalah telah ditulis beratus-ratus buah kitab dan karangan dalam bahasa Melayu, Arab, dan Aceh. Tulisan yang digunakan adalah tulisan Arab dan tulisan Jawi (Arab Melayu).

Dalam hal ini, UU Hamidy, dalam tulisannya “Aceh sebagai Pusat Bahasa Melayu”, (Serambi Indonesia, Minggu 08 Juli 2007) menjelaskan “bahasa Melayu Aceh berperan penting dalam tradisi pemakaian Arab Melayu. Tak diragukan lagi ulama Acehlah yang telah memakai tulisan Arab Melayu secara luas dalam berbagai kitab karangan mereka. Dari sinilah agaknya tulisan Arab Melayu kemudian menjadi tradisi pula dalam penulisan hikayat di Aceh. Sebab itu, tulisan Arab Melayu mungkin juga telah di taja (dipelopori-pen) pada awalnya oleh para ulama di Aceh. Karena tulisan ini juga mempunyai beberapa ragam (versi), maka ragam Arab Melayu yang dipakai di Aceh mungkin merupakan ragam yang tertua. Dalam bidang ini patut dilakukan penelitian yang memadai sehingga peranan bahasa Melayu Aceh akan semakin kentara lagi di belantara perkembangan bahasa Melayu”.

Memang tidak berlebihan bila penulis berpendapat bahwa huruf Arab Melayu ditulis pertama kali di Aceh. Sejauh ini, tulisan Jawi (Jawoe) tertua yang sudah pernah dijumpai adalah surat Sultan Aceh kepada raja Inggris. Prof. Dato’. Muhammad Yusof Hashim, yang turut hadir pada seminar Pekan Peradaban Melayu Raya di Banda Aceh pada akhir Agustus lalu; dalam satu tulisannya menyebutkan bahwa: “Kalau kita mengatakan bahawa naskah Melayu terawal yang pernah ditemui di awal abad ke-17, iaitu warkah daripada Sultan Aceh kepada Raja England, besar kemungkinan naskah warkah itu hanyalah naskah salinan. Adl mengkagumkan juga sebuah naskah di atas kertas seperti itu boleh wujudhampir empat abad lamanya, sekiranya ia betul-betul naskah y ang asli”.

Abad 16-17 merupakan puncak kebesaran bagi kerajaan Aceh Darussalam. Ketika itu, selain sempat diperintah beberapa Sultan terkemuka, Aceh juga telah dibimbing beberapa ulama kaliber dunia, yaitu Hamzah Fansury, Syamsudin As-Sumatrani, Syekh Nuruddin Ar-Raniry, dan Syekh Abdurrauf As-Singkily atau Syiah Kuala. Keempat ulama Aceh ini amat banyak karangan mereka, baik dalam bahasa Arab maupun dalam bahasa Melayu. Kitab-kitab tulisan keempat ulama ini tidak hanya beredar di Aceh, tetapi meluas ke seluruh Asia Tenggara dan dunia Islam lainnya.

Pada abad ke-17, bangsa Eropa mulai berdatangan ke Asia Tenggara. Dari waktu ke waktu sampai ke abad ke-20, mereka semakin merata berada di berbagai negeri di Nusantara. Akhirnya, semua negeri berkebudayaan Melayu menjadi jajahan bangsa Barat. Semua bangsa penjajah itu yakni Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat. Bangsa-bangsa ini tidak memakai huruf Arab (Arab Melayu) dalam penulisannya. Mereka memiliki huruf sendiri yang berasal dari peradaban Yunani-Romawi, yaitu huruf Latin. Sejak itu, peranan huruf Arab Melayu secara berangsur-angsur terus berkurang dalam kehidupan orang-orang pribumi. Sebab, para penjajah memaksakan huruf Latin kepada rakyat di Nusantara ini melalui lembaga-lembaga pendidikan yang mereka bangun.

Khusus di Hindia Belanda (sekarang Indonesia), penggusuran secara besar-besaran huruf Arab Melayu baru terjadi secara resmi pada tahun 1901. Ketika itu, pada tanggal 1 Januari 1901, Raja Belanda Ratu Welhilmina mengeluarkan Dekrit untuk mengeluarkan politik etis dalam sistem penjajahan di Hindia Belanda. Politik “balas budi” itu antara lain memberikan pendidikan modern ala Barat kepada anak negeri jajahan Belanda. Karena itu, dibangunlah beribu-ribu tempat pendidikan umum di seluruh Hindia Belanda dengan memakai huruf Latin dalam penulisannya. Hal ini secara langsung telah menjatuhkan martabat huruf Arab Melayu dalam pandangan sebagian pribumi. Tinggallah Dunia Pesantren, Surau dan Pondok (Dayah di Aceh) sebagai benteng terakhir sehingga penulisan Arab Melayu masih kekal lestari hingga saat ini. Sebagai bukti, perpustakaan Dayah Tanoh Abee Seulimum, Aceh besar, masih memiliki beribu-ribu naskah kitab lama.

Kemudian, ketika Belanda sedang mengganyang huruf Arab Melayu secara gencar di daerah-daerah lain–lewat pendidikan ala Barat– malah di Aceh (thn 1901), Belanda sedang bertempur habis-habisan melawan rakyat Aceh, yang telah ditempa dengan baris-baris tulisan Arab Melayu, yakni hikayat Prang Sabi. Akhirnya para ilmuan Belanda yang dipelopori Snouck Hurgronje berusaha mempelajari karya-karya berhuruf Arab Melayu milik orang Aceh guna mengetahui “jalan pintas” mengalahkan perlawanan orang Aceh sendiri. Tidak kurang 600 naskah Jawi/Jawoe (Arab Melayu) dialihkan ke huruf Latin oleh pemerintah Belanda saat itu.

Dalam era Indonesia merdeka, perhatian pemerintah terhadap penulisan Arab Melayu mulai Tumbuh, namun tidak berumur panjang. Di saat itu, pelajaran membaca dan menulis huruf Arab Melayu telah diajarkan di sekolah-sekolah pada tingkat sekolah dasar. Tetapi sekitar tahun 60-an, pelajaran tersebut dihapuskan, yang kemungkinan besar akibat desakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sedang merajalela ketika itu.

Sebatas penulis ketahui, khusus di Aceh sejak beberapa tahun yang lalu juga diajarkan kembali tulisan Arab Melayu dengan nama Tulisan Arab Indonesia (TAI). Menurut pengamatan saya, cara pengajaran TAI ini tanpa acuan yang baku sehingga dalam penulisan TAI, terjadi salah-kaprah. Mungkin hasil dari pengajaran TAI di sekolah-sekolah itulah yang kini terpampang di papan nama toko, kantor dan sekolah di Aceh.

Perkembangan terakhir dari penulisan Arab Melayu di Aceh adalah keluarnya Instruksi Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) tanggal 1 Muharram 1423 atau 16 Maret 2002, yang menggalakkan kembali penggunaan huruf Arab Jawi di Bumi Aceh Serambi Mekkah. Itulah salah satu karya nyata Gubernur Aceh, Ir. Abdullah Puteh, M.Si yang masih terwariskan bagi warga Aceh hingga kini. Berikutan dengan keluarnya instruksi gubernur itu, telah dibentuk Tim Penyusun Buku Pedoman Penulisan Arab Melayu di Aceh. Namun, karena kepepet waktu, buku yang dihasilkan kurang memadai wujudnya. Salah seorang mantan anggota team tersebut telah berupaya menulis buku lainnya dengan judul “ Sistem Penulisan Arab-Melayu (Suatu Solusi dan Pedoman)”. Buku yang ditulis Drs. Mohd. Kalam Daud, M.Ag, Dosen Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry ini, diterbitkan Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, tahun 2003. Karena buku tadi dianggap terlalu tebal dan banyak uraiannya, maka Drs.Mohd.Kalam Daud M.Ag, yang pakar huruf Arab Jawoe ini menulis lagi sebuah buku tipis, yang berjudul “Kaidah Penulisan Arab-Melayu”, yang juga diterbitkan Dinas Pendidikan NAD tahun 2005.

Walaupun telah diterbitkan beberapa buku pedoman, amat disayangkan, pelaksanaan instruksi gubernur itu tak pernah dievaluasi. Padahal, pelaksanaan di lapangan sungguh amburadul. Penulisan nama-nama bangunan misalnya, lebih banyak yang salah dibanding yang betul menurut kaidah-kaidah yang sebenarnya. Bukan itu saja, bila hendak menampilkan identitas Aceh, maka bukan pada bangunan gedung saja yang semestinya ditulis dengan tulisan Jawi; tetapi nama-nama jalan pun perlu dibuat demikian. Di kota Yogyakarta misalnya, nama-nama jalan di sana selain dengan tulisan Latin juga ‘disandingkan’ dengan huruf Kawi/Jawa kuno. Mengapa pada kita tidak?

Tujuan semula guna menonjolkan identitas Aceh sebagai daerah perdana masuknya Islam di Asia Tenggara hanya membuahkan cibiran sinis para tamu/turis dari negeri-negeri Melayu di Nusantara. Itulah akibatnya, bila sesuatu tidak dilaksanakan dengan profesional dan sungguh-sungguh. Bagaikan menepuk air di dulang; muka kita sendiri yang menerima padahnya.

Sejauh yang saya ketahui, hanya Badan Dayah NAD yang pernah melaksanakan penataran penulisan Arab Melayu pada tahun 2006 dan 2007 dengan salah seorang nara sumbernya, Drs.Mohd.Kalam Daud, M.Ag tersebut. Sebenarnya, para guru yang mengasuh mata pelajaran TAI-lah yang semestinya diberikan bimbingan khusus mengenai penulisan TAI itu. Karena merekalah yang langsung mengajari muridnya di kelas. Namun, kegiatan demikian belum terdengar sampai saat ini.

Akhirul kalam, saya menyarankan bahwa setiap calon legislatif dan eksekutif di Aceh tidak hanya dites mampu membaca Al-quran, tetapi perlu pula tes kemampuan membaca dan menulis huruf Arab Melayu/Jawoe, karena sesungguhnya huruf Arab Melayu itu berasal dari Aceh, yang kemudian berkembang ke seluruh Nusantara/ Asia Tenggara!!!

T.A. Sakti, Peminat Budaya dan Sastra Aceh. Tinggal di Banda Aceh

 

*Sumber: Harian Aceh, Banda Aceh

Sultan Iskandar Muda Menyerang Portugis

Sultan Iskandar Muda Menyerang Portugis

By admin at 25 January, 2009, 8:52 pm

(Cuplikan Hikayat Malem Dagang)

Oleh: T.A. Sakti

Hikayat Malem Dagang adalah syair kepahlawanan Aceh. Isinya mengisahkan penyerangan Sultan Aceh Iskandar Muda terhadap Portugis yang berkuasa di Malaka. Kerajaan Malaka ditaklukkan Portugis pada tahun 1511 M. Sultan Malaka dan keturunannya menyingkir dan mendirikan kerajaan Johor. Sekarang: Malaka dan Johor; keduanya merupakan dua negara bagian/provinsi di Malaysia.

Penyerangan Aceh terhadap Portugis di Malaka adalah kenyataan sejarah, baik sebelum masa Sultan Iskandar Muda maupun di saat beliau berkuasa. Dalam disertasi sejarawan Perancis, Denys Lombard; yang telah diterjemahkan, disebutkan bahwa “Kerajaan Aceh-zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), juga memuat daftar penyerangan Aceh ke Malaka, yaitu pada tahun: 1537, 1547, 1568, 1573, 1575, 1582, 1587, 1606. Pada tahun-tahun itu, Portugis menyerang Aceh. Benteng-benteng mereka masih bersisa di Krueng Raya. Selanjutnya, tahun 1613-1615, Aceh menyerang Johor, karena membantu Portugis. Kemudian, tahun 1617, Aceh menyerang Pahang, karena bersekutu dengan Portugis. Disebutkan pula, pada tahun 1623 dan 1629 M, hal yang sama terjadi.

Fakta sejarah ini sedikit sekali disinggung dalam sumber-sumber tertulis Aceh. Di antara yang secuil itu, Hikayat Malem Daganglah satu-satunya. Sementara dalam Hikayat Prang Peringgi (artinya, Hikayat Perang Portugis), sama sekali tidak menyinggung data-data sejarahnya, kecuali semangat jihad saja.

Karena Hikayat Malem Dagang (buat selanjutnya disingkat dengan HMD) bukanlah kitab/buku sejarah, muncullah beragam hasil analisis tentang para pelaku dalam kisah itu. Begitu pula mengenai waktu dan lokasi dalam cerita tersebut. Masalah pendapat-pendapat para pengkaji hikayat itulah yang diperbincangkan dalam tulisan ini.

Sejauh yang saya ketahui, Dr. Snouck Hurgronje adalah pengkaji paling awal mengenai HMD. Dalam bukunya yang sudah diterjemahkan, “Aceh di Mata Kolonialis, jilid II; Snouck Hurgronje mengatakan HMD disusun tidak lama setelah peristiwa itu terjadi, yakni masih di abad ke 17 M. Agaknya, naskah yang dikaji Snouck merupakan salinan ulang yang oleh penyalinnya telah disesuaikan isinya dengan kondisi Aceh saat itu. Kata Snouck: di seluruh hikayat disebutkan bahwa Raja Si Ujud yang dilawan Sultan Iskandar Muda adalah raja Belanda.

Pengkaji kedua juga bangsa Belanda, yakni DR.H.K.J.Cowan, dengan bukunya, “De Hikajat Malem Dagang”, diterbitkan tahun 1933. Cowan menegaskan bahwa HMD dikarang pada abad ke 17. Nampaknya, naskah yang dikaji Cowan lebih tua sehingga “Raja Si Ujud sebagai raja Belanda belum dijumpai di dalam naskah itu.

Tahun 2006, naskah HMD yang dimuat dalam buku “De Hikajat Malem Dagang” telah saya salin ke huruf Latin ejaan EYD, yang sebelumnya dalam ejaan Belanda. Tetapi, sampai hari ini hasil transliterasi saya itu belum diterbitkan. Penulisan oleh H.K.J.Cowan akan buku ini terkesan amat serius sehingga semua isi hikayat yang dalam bahasa Aceh telah diterjemahkan ke bahasa Belanda, di samping pembahasan isinya yang panjang lebar pula. Kajian Cowan inilah yang saya pakai sebagai bahan utama tulisan. Lantaran saya tidak bisa bahasa Belanda, karena itu, saya mintalah bantuan penterjemahannya kepada sahabat saya, Drs. Agus Supriyono,MA, Dosen Fakultas Sastra,Undip-Semarang.

Sebelumnya, Prof.A.Hasjmy, yang memperkenalkan kembali HMD secara lebih meluas. Dengan merujuk dua buku Sejarah Johor dan Sejarah Pahang Karya HajI Buyung Adil yang diterbitkan di Malaysia, Hasjmy berkali-kali menulis tentang HMD. Di antara karyanya yang telah dimuat dalam berbagai buku/makalah ialah dalam “Seulawah, Antologi Sastra Aceh-Sekilas Pintas” halaman 524-541, terbitan Yayasan Nusantara tahun 1995.

Berbeda dengan dua pengkaji bangsa Belanda sebelumnya, Hasjmy berpendapat HMD dikarang Teungku Ismail bin Ya’kub alias Teungku Chik Pante Geulima pada tahun 1309 H. Pada pentup HMD dalam buku “De Hikajat Malem Dagang” yang ditulis/disalin Cowan, memang tercantum tahun 1309 H, tetapi saya lebih yakin tahun itu adalah tahun penyalinan ulang. Menyimak gaya penulisannya, maka saat penyusunan pertama HMD lebih tua dari tahun itu.

Mengenai asal nama Raja Si Ujud, Hasjmy menulis: Dalam sejarah Aceh, beliaulah yang dimaksud dengan “Raja Si Ujud“, mungkin sekali berasal dari “Raja Selayut“… karena pernah tinggal di Selayut. Menurut saya, nama Raja Si Ujud, Raja Raden dan Putroe Beureuhut-isteri Si Ujud adalam nama-nama khayalan si pengarang HMD. Dalam bahasa Arab, “Wujud” artinya ada. Karena “raja” Portugis di Malaka tidak dikenal lagi, maka disebut saja “Raja itu memang ada alias Raja Si Ujud”. Begitu pula dengan Raja Raden. Akibat nama abang Raja Si Ujud tidak diketahui yang sebenarnya, maka digantikan saja dengan Raja Raden, suatu gelar kehromatan karena Raja Raden memihak Aceh, yakni gelar seorang bangsawan.

Sementara nama Putroe Beurehut, malah diberi nama yang menjelekkan. Beureuhut adalah lobang neraka di dunia. Mon Beureuhut(sumur beruhut), menurut kitab Tambeh/nadham Aceh terdapat di wilayah Syam/. Irak.

Menurut data-data sejarah, Raja Sebrang kawin dengan saudara perempuan Sultan Iskandar Muda. Sejak itu, ia diharapkan menjadi teman dalam membantu Aceh melawan Portugis. Akan tetapi, ketika Sultan pulang kembali ke Johor (1614), ia telah dengan giat melakukan perundingan lagi dengan Portugis. Tindakan yang kedua kalinya itu tidak memuaskan orang-orang Aceh. Sebab itulah, pada ekspedisi Aceh yang kedua, ia ditangkap kembali, lalu dibawa ke Aceh dan dibunuh di sana.

Adalah penting untuk menyelidiki ekspedisi kedua ini secara lebih cermat. Armada Aceh mendapati Johor telah ditinggalkan penduduknya. Dalam perjalanan pulang bertemu dengan armada Portugis di bawah pimpinan Miranda dan Mendoca, yang datang dari Malaka untuk membantu Johor tetapi dipukul mundur. Pertempuran ini diidentifikasi oleh Hoesein Djajadiningrat sebagai pertempuran yang disebutkan dalam Boetanus-Salatin, yaitu pertempuran di Baning. Pada kesempatan itu, Sultan ditangkap kembali dan dibawa ke Aceh.

Jika data-data ini dibandingkan dengan cerita dari Hikayat Malem Dagang, ternyata ditemukan kesamaan. Dalam syair hikayat disebutkan kedatangan dua raja bersaudara ke Aceh, yang antara lain bergelar sebagai raja-raja Johor. Menurut data-data historis, demikian juga. Bahwa kedatangan mereka ke Aceh tidak sepenuhnya secara sukarela. Dalam kedua versi itu disebutkan bahwa salah satu dari mereka kawin dengan adik perempuan Sultan Iskandar Muda. Satunya lagi pulang kembali ke Johor, yang selanjutnya setelah banyak melakukan tindakan yang kurang berkenaan bagi orang-orang Aceh, ia ditangkap oleh ekspedisi dan dibunuh.

Penulis syair hikayat hanya mengatakan bahwa Raja Raden pada suatu hari datang dan diikuti oleh saudara laki-lakinya, yaitu Si Ujud. Hanya beberapa bait yang memberikan episode ini, yang menceritakan bahwa Raja Raden datang untuk memeluk agama Islam. Tidak ada penjelasan lebih jauh bahwa ia berangkat ke Aceh dengan keperluan khusus. Bisa diperkirakan maksud kedatangannya yang sesungguhnya dirahasiakan, sehubungan dengan perkawinannya dengan keluarga Sultan Aceh. Kedua raja itu dalam kenyataan sesungguhnya bukan kafir, tetapi hanya melakukan persekutuan antara Johor dengan Portugis.

Demikian juga penggambaran orang Aceh tidak benar, antara syair dengan kenyataan adalah berbeda. Pada satu sisi perundingan-perundingan berlangsung di Aceh sebelum kembali ke Johor, sedangkan pada sisi yang lain perundingan-perundingan terjadi di Johor sesudah kepulangan ke Johor itu. Akan tetapi, tidak boleh diabaikan bahwa dalam syair kepahlawanan yang setengah lagendaris itu, kenyataan-kenyataan historis telah kehilangan bentuk yang seharusnya. Bersambung minggu depan

T.A. Sakti adalah peminat budaya dan sastra Aceh

*Sumber: Harian Aceh, Banda Aceh

#Catatan : 1. “Orang di sini umumnya tidak peduli kepada sejarah. Tulislah apa saja yang benar.”, ( TSJ, 1-Nov-2009, 11:24:27).

2. Beberapa angka tahun dari tulisan di atas salah/kacau penempatannya ketika Redaktur koran mengeditnya. Angka tahun yang benar terdapat                                      dalam tulisan aslinya, yang nanti akan saya posting juga!. ( T.A. Sakti).

Membedah Tiga Manuskrip Aceh: Mengenai Kesehatan dan Kedokteran

Membedah  Tiga Manuskrip Aceh tentang Kedokteran

dan  Kesehatan

 

Oleh: T.A. Sakti

 

             Daerah Aceh amat kaya dengan bahan obat tradisional. Di kawasan-kawasan terpencil pemakaian obat asli Aceh itu masih dipraktekkan hingga sekarang; walaupun dalam jumlah terbatas.  Beberapa waktu lalu, lirikan terhadap obat tradisional juga pernah bangkit di Aceh. Hal ini dapat dibuktikan dengan diwujudkannya “Taman Obat Tradisional” Universitas Syiah Kuala  di Banda Aceh. Amat disayangkan, akibat kemarau panjang taman obat ini tidak berumur panjang; mudah-mudahan mampu dibangkitkan  lagi di masa mendatang!.

            Perhatian terhadap obat  bukanlah hal baru..  Ini terbukti  dengan adanya tiga buah buku(kitab) yang ditulis pada masa kesultanan Aceh. Pembahasan tertua mengenai obat dan organ-organ tubuh manusia telah ditulis Syekh Abdussalam pada tahun 1208 H. Tulisan ini merupakan  dua  bab dari tujuh bab dari kitab Tambeh Tujoh(Tujuh Tuntunan).

            Karya kedua mengenai obat, merupakan sebagian  isi kitab Tajul Muluk(Mahkota Raja) yang disusun Syekh Ismail Aceh pada zaman sultan Ibrahim Mansur Syah(1837-1870 M). Kitab tersebut  juga ditulis atas perintah sultan Aceh ini. Kitab obat ketiga adalah naskah yang diterjemahkan oleh Syekh Abbas Kutakarang dari naskah bahasa Arab. Penterjemahannya dilakukan mulai  tahun 1266  s/d 1270  H, yakni 20  tahun sebelum pecah perang Aceh-Belanda tahun 1290 H. Judulnya : Kitaburrahmah  Fitthibbu Walhikmah, yaitu sesuai dengan judul aslinya. Kitab ini lebih tebal dari dua naskah sebelumnya, yakni sejumlah  226 halaman.

          Ada beberapa hambatan  dalam mengaktualkan kembali ketiga naskah ini, tetapi  ada  dua hambatan terpenting diantaranya. Pertama,  ketiganya ditulis dalam huruf Arab Jawi (Jawoe), yang sudah kurang dipahami masyarakat Aceh sekarang. Kedua, nama-nama tumbuh-tumbuhan yang tidak dapat kita kenal seluruhnya; baik dalam bahasa Indonesia atau Aceh.

          Terhadap kitab kedokteran/obat Tambeh Tujoh,  saya tidak mengalami hambatan. Naskah ini  ditulis dalam bahasa Aceh berhuruf Jawoe dengan bentuk syair atau nadham. Manuskrip Tajul Muluk memiliki hambatan yang lebih banyak. Pasalnya, banyak nama tanaman obat atau ramuan yang tidak saya tahu padanannya

dalam bahasa Aceh atau Indonesia. Walaupun demikian, Tajul Mulok ini telah saya salin

(transliterasikan) ke dalam hiruf Latin  Nama-nama tanaman obat yang tidak saya kenal pasti; tetap saya alihkan/gantikan ke huruf Latin; namun nama aslinya dalam huruf Arab Melayu/Jawoe juga saya sertakan di dalam tanda kurung. Hasil transliterasi ini saya beri judul “Resep Obat Orang Aceh”. Tetapi sayang, sampai hari ini belum tercetak. Dapat ditambahkan, Tajul Muluk yang telah saya salin itu dicetak di Qahirah/Cairo, Mesir tahun 1938 M. Tajul Muluk yang masih beredar sekarang terbitan Surabaya, Jawa Timur.

          Dapat ditambahkan, salah satu obat yang pernah saya  praktekkan dari isi kitab Tajul Muluk adalah obat pelupa, yakni dengan meminum air jahe(halia) atau bubuk jahe yang telah ditumbuk. Agar tidak terasa perih/pedas, air jahe itu saya campur dengan telur setengah matang. Setelah meminum satu sendok teh  bubuk jahe setiap pagi  setelah makan selama dua bulan, alhamdulillah penyakit lupa saya sembuh. Asal mula penyakit lupa adalah akibat kecelakaan lalu lintas yang saya alami yang banyak mengeluarkan darah.

Mungkin bagi orang yang berpenyakit maag, tidak cocok ikut mempraktekkan pengalaman saya ini!.

            Mengenai kitab kedokteran/kesehatan ‘Kitaburrahmah Ftthibbu Walhikmah; hasil terjemahan Syekh Abbas Kutakarang; disamping ada hambatan ‘menggalinya’, juga mengandung beberapa kemudahan.  Diantara kemudahannya, yakni sebagian  dari tanaman obat dan nama penyakit; selain disebut dalam bahasa Melayu juga ada sinonimnya dalam bahasa Aceh. Saya belum menyalin manuskrip ini ke huruf Latin karena agak tebal (226 halaman). Memang, pernah saya cari sponsor ke WHO Perwakilan Jakarta dan Kanwil Kesehatan Aceh; tetapi gagal. Oleh karena hanya manuskrip Tambeh Tujoh yang lebih mudah dikaji dibandingkan dua manuskrip lainnya, maka buat selanjutnya naskah Tambeh Tujoh sajalah yang saya upayakan lebih banyak membedahnya!.

           Mungkin anda heran, mengapa sebuah naskah lama yang sebagian isinya tentang pengobatan penyakit seperti Tambeh Tujoh ini samasekali tidak menyinggung obat-obat yang disebabkan jin, hantu, kuntilanak dan makhluk halus yang jahat lainnya. Padahal kitab sejenis, yakni Tajul Mulok banyak sekali menyebutkan berbagai do’a dan ayat Alquran buat azimat dan mantera-mantera “meurajah” lainnya.

             Mengenai sumber penyakit, Tambeh Tujoh hanya menyebut dua asalnya. Pertama,  akibat makan-minum yang tidak teratur (tak diadatkan) serta terlalu banyak memakannya (berlebih-lebihan). Kedua, rusak atau hilangnya keseimbangan dari empat kekuatan dalam tubuh seseorang.

Keempat kekuatan pada tubuh manusia ialah Jaziyah, Maas’ikkamat, Hadhimat dan Dafaat. Fungsi Jaziyah adalah kekuatan menelan/menarik kedalam,  Maas’ikkamat fungsinya menahan/benteng  dari  penyakit, fungsi Hadhimat menghancurkan makanan, sedang fungsi Dafaat mengeluarkan ampas makanan,  seperti keringat, kencing-tinja dan sebagainya. Jadi, bila salah satu dari keempat alat tubuh ini rusak/kurang berfungsi, maka timbullah penyakit pada manusia.

              Bagi memastikan jenis penyakit, Tambeh Tujoh juga punya cara tersendiri buat mendeteksi,  yang sekarang sering disebut diagnosa penyakit. Ada empat obyek pemeriksaan pada tubuh manusia untuk mengetahui penyakitnya, yakni warna tubuh, perilaku, perbuatan dan tutur katanya. Sementara cara mengetahuinya sepuluh macam..

              Kesepuluh cara itu adalah : Pertama, dengan memegang badan si sakit. Kalau tubuhnya panas berarti ‘adan sifatnya. Kedua, jika badannya gemuk berarti sejuk sifatnya. Ketiga, kalau rambutnya ikal-hitam artinya hangat sifatnya. Keempat, jika warna tubuhnya  putih berarti sejuk dan banyak darah kotor (balgham).  Tanda hangat banyak darah, putih-merah warna tubuhnya. Tubuh yang berwarna gandum atau kuning berarti panas. Kelima, melihat anggota badan.  Bila otot besar (urat rayek) kelihatan pada tangan dan kaki berarti bersifat panas. Kalau tidak  nampak berarti sebaliknya (sejuk). Keenam, melihat pada pekerjaannya. Kalau seseorang lincah bekerja berarti bersifat panas. Ketujuh, menilik kelakuannya.  Jika sedang-sedang saja berarti sejuk sifatnya. Kedelapan, memeriksa keadaan tidurnya. Kalau tidurnya banyak( le teungeut ngon jaga), berarti sejuk dan basah

sifatnya. Bila jaganya lebih banyak dari tidurnya berarti hangat dan kering sifatnya. Namun, jika tidur dan bangunnya seimbang adalah akhar sifatnya. Kesembilan,  memeriksa air kencing dan najis/beraknya. Kalau sangat berbau dan merah pula warnanya, maka panas sifatnya. Jika tanda-tanda itu tak ada berarti sejuk. Kesepuluh, memperhatikan prilaku tabib yang mengobatinya. Bila ia memiliki akal dan pemahaman yang tajam berarti ia bertabiat/sifat panas.

             Konsep  pengobatan yang dianjurkan Tambeh Tujoh adalah prinsip-prinsip  yang “berlawanan”; bahwa  penyakit yang bersifat panas harus diobati dengan obat yang sejuk. Sebaliknya, penyakit yang bertabiat sejuk mesti diobati dengan obat yang bersifat panas. Demikian pula, sakit yang bersifat kering harus disembuhkan  dengan obat yang basah. Sementara penyakit basah perlu diberi obat yang bersifat  kering.

Kitab Tambeh Tujoh juga mengecam para tabib dan dukun yang mengobati orang  sakit; tetapi hanya sekedar untuk mencari keuntungan  pribadi. Padahal orang yang diobatinya tak pernah sembuh; bahkan malah semakin parah.

                Pada bab dua, ketika menjelaskan ‘Ilmu Tasyrih’(Organ Tubuh), kitab Tambeh Tujoh menjelaskan bahwa jumlah bagian anggota tubuh manusia sebanyak 40 bagian (digabung laki-laki dan perempuan). Disebutkan,  bahwa pada  rahim seorang perempuan selalu didampingi dua buah pelir yang bentuknya seperti (maaf) zakar /kemaluan lelaki yang letaknya songsang.; berarti letaknya terbalik. Dijelaskan pula, bahwa mata kita berlapis tujuh, mata tersusun dari lemak(gapah), sedang air mata yang asin itu berfungsi agar lemak mata tidak hancur.

                  Sebagai penutup  baiklah saya nukilkan beberapa jenis obat yang dikandung manuskrip Tambeh Tujoh. Pertama,  Obat paling utama/penghulu  obat bagi segala penyakit (anggota badan) adalah air madu. Bagi yang pernah membaca riwayat hidup Yasser Arafat, tentu mengetahui betapa akrabnya tokoh pejuang Palestina ini dengan air madu. Dan semua kita pun tahu bagaimana tegarnya fisik tokoh ini dalam mengharungi badai per

juangannya. Kedua, Bagi mereka yang keracunan, maka air madu bersama-sama buah badam dapat dibuat haluwa(dodol) untuk dimakan setiap hari. Ketiga, rambut keguguran, maka biji sawi  dapatdijadikan obatnya. Keempat, bagi yang lemah/letih/lesu anggota badannya, maka telur ayam merupakan obat mujarabnya. Pada akhir pembicaraan pengobatan, kitab Tambeh Tujoh memcuplik Hadits Nabi Muhammad Saw yang berbunyi:’Wakullu daain lahu dawaaun illas salaama wal harma’, artinya: segala penyakit

ada obatnya, kecuali mati dan menjadi tua!.

 

* T.A. Sakti

Peminat budaya dan sastra Aceh

 

( Catatan kemudian: Alhamdulillah, Kitaburrahmah,  kini hampir rampung  kami lakukan penyalinan ulang dan transliterasi ke huruf Latin. Seandainya dicetak nanti, kitab kesehatan dan perobatan Aceh ini akan berwujud dua macam aksara, yakni huruf Jawi/Jawoe dan aksara Latin. Kegiatan ini dilakukan oleh Drs. Mohd. Kalam Daud, M.Ag dan saya.  Malah ada rencana akan kami gabungkan dengan bagian kitab Tajul Muluk yang sudah saya transliterasikan/alih aksara  pada tahun  1998   dan catatan harian saya tentang obat-obat tradisional Aceh yang banyak saya peroleh selama setahun( April 1986 – April 1987 ) berobat patah di Rumoh Teungoh, Gampong Ujong Blang, Kemukiman Bungong Taloe, Kecamatan Beutong, Aceh Barat/sekarang  Nagan Raya . Insya Allah, paling lambat di akhir Desember 2011 akan tuntas segalanya, termasuk memberi catatan kaki dan penjelasan di sana-sini.  Beban kami yang paling berat nanti  adalah mencari sponsor yang sudi  menerbitkannya!!!. Bale Tambeh, 30 Oktober 2011, T.A. Sakti ).

Alhamdulillah, Qanun Tes Baca Al Qur’an bagi Caleg Aceh Akhirnya Selamat!

Alhamdulillah, Qanun Tes Baca Al Qur’an bagi

Caleg Aceh Akhirnya  Selamat!

Oleh: T.A. Sakti

Akhirnya terselamatlah Qanun Nomor 3 Tahun 2008 secara utuh. Hal ini dibuktikan dengan dilaksanakannya uji baca Alquran bagi 1.368 caleg Aceh sejak awal September sampai minggu terakhir September 2008. Tes itu berlaku umum,  baik bagi caleg asal partai lokal maupun partai nasional.  Semula ada keraguan dalam masyarakat, bahwa Pasal 36 dari Qanun itu akan dihapuskan  Menteri Dalam Negeri (Mendagri)  dengan alasan yang berhak mengatur partai nasional adalah pemerintah pusat. Namun nampaknya Qanun lebih kuat dibandingkan keputusan Mendagri – menurut tata tertib perundang-undangan negara kita . Hanya Peraturan Presiden(Perpres) yang dapat membatalkan Qanun. Dengan harapan,  mudah-mudahan  Perpres pun tidak dikeluarkan oleh Presiden RI dimasa yang akan datang;  agar  selamatlah Qanun Nomor 3 Tahun 2008  yang telah ditelorkan DPRA dengan banyak pengorbanan yang mengatasnamakan kepentingan rakyat Aceh. Dan memang, Qanun Nomor 3 Tahun 2008 mengandung kepentingan rakyat Aceh yang amat mendasar, baik sudut agama, adat dan budaya mereka. Maka alangkah kecewanya rakyat Aceh, seandainya sebagian isi Qanun itu di hapuskan. Padahal anggota Dewan telah memperjuangkannya sampai pada tahap voting!

Kerja menghasilkan Qanun bukanlah pekerjaan mudah. Kepadanya telah dicurahkan berbagai kebutuhan yang dibutuhkan, Baik, tenaga, pikiran dan lain – lain. Apalagi mengingat, bahwa Qanun Itu bukanlah disusun oleh orang – orang biasa, tetapi oleh mereka yang “ luar biasa “, terutama dilihat dari cara pemilihan dan penggajian orang – orang tersebut. Merekalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh ( DPRA ). Mereka telah diberikan kehidupan mewah karena terpilih dalam Pemilu berkat dukungan rakyat Aceh.

Begitulah, baru – baru ini anggota DPRA telah mengesahkan Qanun Nomor 3 Tahun 2008. Menjelang pengesahan merupakan saat – saat  amat serius, sebab ada pihak yang tidak setuju. Ini terbukti dengan dilangsungkan Voting ( meulele suara ). Ternyata 33 suara menyetujui dan 15 suara tidak setuju ( Baca : “Syarat Baca Qur’an Dicabut “, Harian Serambi Indonesia, halaman 1 – 11, Jum’at, 1 Agustus 2008 ). Akhirnya, menjadi sahlah Qanun Nomor 3 Tahun 2008.

Tiba- tiba, di pagi jum’at saya baca dalam Serambi,  bahwa Menteri  Dalam Negeri Mendagri) menyebutkan “pasal . 36 Qanun Nomor 3 tahun 2008 yang mengatur tentang persyaratan dapat membaca Qur’an bagi calon anggota DPRA dan DPRK dari partai politik harus di cabut”.  Membaca hal demikian, sebagai anggota masyarakat saya betul-betul kaget. Sebab dalam pikiran awam saya, sudah capek-capek disusun, di perdebatkan dan “divoting” , kenapa di obok-obok lagi !!?. Bukankah, apa yang telah dihasilkan DPRA menjadi sia-sia!.  Padahal untuk menghasilkan Qanun itu telah menghabiskan dana negara/rakyat amat besar!.

Sepantasnya,  bagi daerah Aceh yang telah diberi otonomi amat luas; tidak menamakan semua peraturan daerahnya dengan nama Qanun. Selain Qanun perlu ada Peraturan Daerah (Perda). Kalau Perda dibolehkan campur tangan Pemerintah Pusat, sedang Qanun hanya boleh di ubah Pemda Aceh- DPRA. Sebab Qanun lebih ‘sakral’, yang bersumber historitas Aceh. Pada massa kesultanan Aceh, segala keputusan kerajaan yang penting dinamakan Qanun.

Dalam versi  baru ini , kalau Perda cukup disahkan Gebernur -DPRA, sedangkan Qanun selain Gebernur-DPRA juga disahkan Wali Nanggroe ( ketika lembaga ini terbentuk nanti). Qanun ini berisi berbagai hal yang berkaitan ciri khas Aceh, sementara Perda isinya lebih umum, terkait nasional-keindonesiaan. Dengan demikian,  terhindarlah pemborosan dana negara/ rakyat, di saat-saat rakyat sedang melarat.

Pelaksanaan Syariat

Kita merasa heran disaat sedang berlakunya Undang-Undang nomor 44 Tahun 1999 tentang keistimewaan  Aceh dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh; masih berlaku pembongkaran Qanun. Sebab kedua Undang-undang  itu- yang tak lain  di susun DPR RI – telah mengakui sekaligus memperkuat beberapa ciri khas daerah Aceh.

Secara garis besar, Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 mengakui empat bidang keistimewaan Aceh, yakni agama, adat,  pendidikan dan ulama. Keempat bidang  ini kalau di persandingkan, sama sekali tidak terlepas dari kemampuan membaca Al-Qur’an. Karena itu tidak beralasan Mendagri berkeberatan dengan syarat wajib mampu membaca Al-Qur’an bagi caleg di Aceh yang berasal dari Partai Nasional ( Parnas ). Sebab, tuntutan mampu membaca Al-Qur’an  itu sudah sejiwa dengan Undang-Undang  yang berlaku di Aceh. Jika alasannya karena mereka dari Partai Nasional; itu pun kurang adil; karena pepatah mengatakan “Dimana bumi  dipijak di situ langit dijunjung”. Apalagi bila di ingat – saya yakin betul begitu – bahwa orang-orang di partai nasional yang beroperasi di Aceh itu, mayoritasnya putra-putri Aceh,  sehingga aneh sekali jika mereka pun anti pada karakter Aceh yang Islamis.

Lebih-lebih lagi bila kita menelusuri isi Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2006, maka upaya mencabut Pasal 36 Qanun Nomor 3 tahun 2008, betul-betul di luar dugaan pikiran rasional. Betapa tidak, Undang-Undang  Nomor 11 Tahun 2006; yang antara lain ‘mengakui’ Partai Lokal, Lembaga Adat  Syariat Islam, Qanun, kebudayaan, Bendera, Lambang dan Himne bagi Aceh. Kalau sudah sejauh itu sudah diakui sah menjadi hak warga Aceh; tak usahlah dipersoalkan lagi mengenai syarat mmpu membaca Al-Qur’an  bagi caleg DPRA dan DPRK; baik asal partai nasional atau partai lokal.  Karena mampu membaca Qur,an itu bertaut erat dengan adat, Syariat Islam, Kebudayaan Aceh sebagai ‘induknya’.

Salah satu ungkapan adat Aceh menyebutkan: Agama ngon adat lagee dat ngon sifeut (Artinya; Agama dengan adat seperti zat dengan sifat). Dalam hal ini, mampu membaca Al-Qur’an sudah mentradisi di Aceh,  yakni setiap anak dari kecil sudah “diadatkan” membaca Al-Qur’an. Disaat petuah-petuah lama sudah punah digilas globalisasi- yang mendorong anak-anak Aceh rajin belajar ngaji- sekarang muncul pendorong baru yang lebih sesuai dengan dunia kini. Yakni “kalau tak bisa mengaji Qur’an, kamu tak boleh menjadi Bupati, anggota DPRA- DPRK!”;  begitu sang anak-anak Aceh diingatkan Guru Ngaji (Teungku) atau orangtuanya. Dengan demikian Pasal 36 dan Pasal 13 (ayat 1 huruf c) dari Qanun No. 3  Tahun 2008 itu; tidak hanya dapat mendongkrak semangat belajar ngaji bagi caleg DPRA-DPRK Aceh menjelang tes baca Al-Qur’an  bagi mereka, tetapi juga berpengaruh kepada putra-putri Aceh yang sedang belajar “Ngaji” di seluruh Aceh.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, pada Bab XV11 mengatur mengenai Syariat Islam dan Pelaksanaannya. Pasal 125  ayat 1 berbunyi: “Syariat Islam yang dilaksanakan di Aceh meliputi  aqidah, syariah dan akhlak”.

Diantara tugas anggota DPRA-DPRK- baik asal partai nasional maupun lokal  di Aceh adalah mendukung pelaksanaan Syariat Islam di Aceh. Jika mereka tidak mampu membaca Al-Qur’an; bagaimana mereka dapat mengemban tugas secara optimal/ penuh. Sebab, Syriat Islam yang meliputi aqidah, syariah dan akhlak itu amat erat kaitannya dengan  kitab suci Al-Qur’an. Memiliki anggota Dewan yang kurang becus melaksanakan tugas, maka rugilah negara /rakyat yang memberi ‘hidup mewah’ kepada mereka.  Dalam pasal 126 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006, ayat 1 berbunyi : “Setiap pemeluk agama Islam di Aceh wajib  menaati dan mengamalkan Syariat Islam”. Sementara ayat 2 berbunyi : “Setiap orang yang bertempat tinggal atau  berada di Aceh wajib menghormati pelaksanaan Syariat Islam”.

Berdasarkan alasan-alasan Undang-Undang dan logika di atas, maka saya berkesimpulan pencabutan pasal 36 Qanun Nomor 3 Tahun 2008 kurang logis, bertentangan dengan Undang-Undang yang sah dan kurang peduli terhadap tradisi dan adat-istiadat Aceh.

Akhirnya, saya hanya mengharapkan “keikhlasan sempurna” dari  Presiden RI, Mendagri serta para pejabat pemerintah di tingkat nasional; terhadap setumpuk Undang-Undang dan peraturan lainnya yang telah di berikan kepada masyarakat Aceh. Sebab menggugat kembali terhadap apa yang sudah diberikan, berarti menampakkan keiklasaan yang kurang sempurna alias menyesal !!!.

T.A.Sakti

*Penulis adalah sarjana hukum

tatanegara, peminat budaya

.dan sastra Aceh.

Aneukmiet beuet – Ketika Anak Aceh Belajar Mengaji Al Qur’an

Ketika Anak Aceh Belajar Mengaji Alquran :
“Takdhim keu Guree Meuteumeung Ijazah!,..”
Tes baca Alquran bagi caleg Aceh telah dilaksanakan. Banyak pengajaran yang dapat dipetik dari kegiatan itu, baik bagi peserta caleg sendiri maupun bagi masyarakat Aceh pada umumnya. Bagi caleg yang tidak lulus, tentu perlu lebih mendekatkan diri dengan “Teungku” dalam upaya meningkatkan kelancaran membaca Alquran di masa depan, sedangkan bagi caleg yang lulus semestinya bersyukur dan berterima kasih kepada  Teungku,yang telah bersusah payah mendidik mereka, sehingga lancar membaca Alquran. Disamping itu, mereka patut pula  punya cita-cita untuk membantu pembinaan Bale Seumeubeuet di Aceh serta turut mendukung upaya mensejahterakan  Teungku,  bila mereka terpilih menjadi anggota Dewan kelak. Sebab, takdhim keu guree meuteumeung ijazah, takdhim keu nangbah meuteumei hareuta (menghormati guru mendapat ijazah, tunduk dan patuh pada orangtua mendapat warisan)..
Memang, dalam tradisi seumeubeuet(pengajian) tempo dulu di Aceh tingkat “takdhim keu guree” ini amat kental. Sekarang, keadaannya sudah jauh berubah.
Saya kira, dalam rangka takdhim keu eleumee ngon guree itu pula, yang membentuk “Tata Tertib” yang ketat dalam proses pengajian Alquran di Aceh pada masa lalu.
Secara tradisi, tahap-tahap pembelajaran agama bagi seorang anak adalah di rumah sendiri, di bale gampog/rumoh teungku dan di dayah.  Bagi seorang anak yang telah berumur 7-8 tahun, bila orangtuanya tak mampu mengajari membaca Alquran, maka anak yang bersangkutan akan diantar ke tempat pengajian di kampungnya, baik di Meunasah atau di rumah Teungku. Waktu/jam  belajar berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat penagajian lainnya, yakni antara pagi, sore dan malam hari.  Tulisan ini berfokus di sini,yakni mencermati “Tata Tertib” prosesi  pengajian bagi murid-murid pemula belajar membaca Alquran
Hari Rabu biasanya dipilih sebagai hari yang afdhal untuk mengantar anak ke tempat pengajian (intat beuet). Tak lupa pula sang orangtua anak membawa sepiring bu leukat ngon u mirah (nasi pulut dengan gula merah). U mirah atau u puteh adalah  kelapa yang dicampur gula merah atau gulaputih yang dimasak atau disebut U teuwot. Maksud dari nasi ketan, yaitu agar pelajaran yang diberikan cepat melekat di kepala{mudah diingat), karena nasi pulut itu bergetah/lekat. Sementara, u mirah bermaksud supaya hati terang dan mudah menerima pel ajaran(bek beunak hate). Selain bu leukat, ada pula orangtua anak  yang membawa beureuteh-pisang (beureuteh= padi ketan yang digongseng hingga menetas}. Tujuannya sama, yakni agar otak sang anak encer dan cepat mengerti pelajaran; sebagaimana padi yang digongseng (Lheue beureuteh) yang meletus cus-cus. Geuba beureuteh ngon pisang;mangat rijang jeuet Alehba(Dibawa beureuteh dengan pisang, agar cepat pintar ngaji Juz ‘Amma). Dapat ditambahkan, selain maksud di atas, bu leukat dan beureuteh tadi juga berfungsi mengakrabkan pergaulan antara si murid baru dengan para murid lama. Sebab, setelah acara penyerahan murid baru selesai, maka bu leukat u mirah atau beureuteh-pisang itu akan disantap bersama-sama.  Karena itu, para murid yang lama selalu berharap serta “berdo’a” agar sering ada murid baru yang diantar ke sana sehingga mereka dapat lebih sering menikmati kenduri buleukat atau beureuteh-pisang.
Di tempat pengajian tertentu, ada pula ucapan khusus yang dilafalkan orangtua ketika menyerarahkan anaknya kepada Teungku. Yaitu: “Nyoe aneuklon lon jok keu Teungku, neupeubeuet!.  Meunye neupoh, meubek capiek ngon buta!” (Anak saya, diserahkan kepada teungku; ajarkan dia!. Boleh dipukul, asal tidak pincang dan buta!). Pernyataan orangtua murid itu diucapkan sambil berjabat tangan/bersalaman antaranya dengan Teungku, sedang Teungku yang menerima murid baru itu  mengucapkan :  “Insya Allah!”.
Sejak hari pertama itu, maka bergelutlah sang anak-baik putra maupun putri- dengan pelajaran membaca  Alquran. Metode yang dipakai adalah Kaedah Baghdad (asal Irak), yakni dengan cara mengeja huruf-huruf hijaiyah/ejaan dari huruf Arab yang 29 buah itu.
Sistem ini tentu berbeda dengan Metode Iqrak (asal Yogyakarta); yang mengutamakan membaca kata-kata Arab dalam huruf Arab.
Dalam pelaksanaan kaedah Baghdadiyah di Aceh, belajar membaca secara berulang-ulang(meudraih) sangat dipentingkan Seseorang murid yang sudah menyelesaikan bacaan pada suatu batas/bab tertentu,  yang ditandai dengan perkataan ‘Wassalamu’; dia tidak serta-merta dipindahkan/dilanjutkan ke bab yang lain. Sang Teungku terus-menerus menyuruh anak itu mengulang lagi…dan lagi bahan bacaan itu.   Bila seorang anak telah lancar membaca Qur’an Alehba(Juz  ‘Amma), agar lebih berkah/beureukat; maka disinipun diadakan acara kecil-kecilan yang disebut ba bu Aleuham (membawa nasi Alham/Alfatihah). Bu Aleuham itu juga dimakan secara bersama-sama para murid di pengajian itu. Oleh karena bu Aleuham bukan suatu kewajiban, maka ia hanya dibawa para orangtua murid yang mampu dan sukarela saja.
Selanjutnya, sebagai menyambung dari Qur’an Alehba, seorang murid akan diajari membaca Qur’an rayek(Alquran besar). Sebagai sarana pembukaan juga disertai khanduri bu leukat, baik yang berlauk u mirah, u puteh(kelapa campur gula yang dimasak)  maupun tumpoe. Biasanya, pihak yang membawa bu leukat-tumpoe adalah keluarga yang bersahaja-segala sesuatu tidak asal ada- dan keluarga mampu.
Dalam pelaksanaan pembelajaran Qur’an rayek/Qur’an 30 juz ini sejumlah tantangan masih dihadapi oleh murid dan Teungku, Walaupun telah menamatkan kitab/Qur’an Alehba, tidak semua murid bisa langsung lancar membaca Alquran besar.
Boleh dikatakan masih lebih banyak yang perlu geupeutateh lom/dituntun kembali dibandingkan yang sudah mampu membaca mandiri. Bagi sebagian murid yang kurang lancar ini, untuk sampai ke Juz 15 saja  paling kurang menghabiskan waktu setengah tahun.
Akibat banyak hambatan dan tantangan dalam belajar membaca Qur’an rayek, maka jika seseorang murid telah sanggup menyelesaikan  separuh Alquran(trok bak Juih Teungoh); tentu dianggap sebagai prestasi luar biasa. Kegembiraan diwajah murid akan membludak disaat ia membaca kata “Walyathalaththaf’ pada surat Al Kahfi. Bagian ayat Alquran  Juz ke 15/Subhanallazy ini tertulis amat tebal dan besar yang berwarna hitam pekat (atau warna merah pada cetakan Alquran lama), merupakan bagian tengah dari Alquran. Hal ini ditandai dengan tulisan nishful Qur’an (setengah Alquran) di pinggirannya.
Guna memeriahkan/merayakan peristiwa besar bagi seorang murid yang sudah sampai separuh Alquran itu,   diadakan pula  khanduri Juih Teungoh, yakni berupa “buleukat Juih Teungoh”, yang dibawa oleh murid yang bersangkutan yang kadang-kadang disertai orangtuanya pula. Buleukat beserta lauknya dalam beulidi/wadah besar itu, selain disantap Teungku bersama-sama muridnya; juga dibagi-bagikan ke rumah-rumah tetangga dari Bale pengajian itu. Akibatnya, ‘termasyhurlah!” bahwa si anu (Aceh: si anoe nyan) telah belajar mengaji sampai ke Juih Teungoh. Dan hal itu merupakan kebanggaan keluarga  pada masa lalu. Inilah ‘semangat keagamaan’ atau syiar Islam  namanya. Masihkah kebanggaan demikian merasuk hati orang Aceh sekarang?.
Bagi murid(Aneukmiet beuet)  yang sudah sampai ke Juih Teungoh; biasanya telah mencapai batas jalan lempang untuk dapat menamatkan pelajaran membaca Alquran. Namun, biar pun sang murid telah sanggup menyelesaikan bacaan sampai pada   surat
114/ An Naas; bahkan pada kalimat “Watammat kalimatu…”, tetapi Teungku masih terus menyuruhnya untuk membaca ulang(meudraih) kembali mulai surat permulaan Alham/Alfatihah dalam jumlah berkali-kali. Padahal, pada saat-saat demikian, hati /pikiran si murid sedang sangat tergoda(teugoe-goe) untuk belajar “Kitab”, sebagai studi lanjutan sesudah menamatkan Alquran. Atas landasan ‘takdhim keu guree’;walaupun hati kepingin sekali belajar kitab; sang murid terus-menerus meudraih-ulang  Alquran berkali-kali tamat lagi,  sampai saat Teungku menganggapnya  sudah memadai.
Pada bagian acara peutamat/menamatkan Qur’an, secara khusus Teungku memimpinnya. Caranya, sang Teungku membaca duluan ayat dan surat tertentu yang sekaligus dibaca ulang oleh murid yang bersangkutan. Ayat dan surat yang menjadi tradisi dalam menamatkan Alquran ini barulah berakhir pada kalimat “Watammat kalimatu Rabbika shidqan wa’adlan…dan seterusnya; yang disahuti seluruh hadirin secara serentak beramai-ramai.
Sebelum upacara peutamat/khatam Qur’an itu dilaksanakan, sebenarnya ada “Tata tertib” tradisi peutamat Qur’an yang dilangsungkan. Yaitu : Me Butamat(mengantar nasi tamat Qur’an). Akan tetapi karena upacara ini membutuhkan biaya yang lebih besar-dibandingkan ba buleukat ngon tumpoe-, maka acara “ babu tamat “ ini lebih sering ditunda.
Ketika orangtua murid merasa siap, diantarlah ’ bu tamat’  ke rumah/balai pengajian.
Selain nasi yang siap santap, ada pula yang membawa bahan-bahan mentah  berupa beras, ayam jago,  kelapa, uang, rujee/kayu api dan sebagainya. Bahkan, ada pula keluarga kaya yang membawa berbagai kelengkapan serta  menyret seekor kambing-gasi(kameng gasi) ke rumah Teungku. Perlengkapan khanduri Bu Tamat ini batu dibuat kenduri sewaktu kenduri tahunan(khanduri thon) di rumah Teungku atau ketika bahan-bahan peutamat Qur’an dari beberapa murid sudah terkumpul. Begitulah beberapa “Tata Tertib” belajar mengaji Alquran yang dilakukan selama proses belajar mulai dari awal sampai tamat, yang kesemuanya tidak lepas dari tujuan ‘Takdhim keu Guree”; yakni memuliakan dan menghargai guru alias Teungku.
Kini, ketika Aceh didera era globalisasi;  ketulusan Takdhim keu Guree pasti sudah jauh berkurang, bahkan nyaris tak bersisa lagi. Akibatnya tempat-tempat pengajian sejenis Bale Seumeubeut di gampong-gampong pun  secara drastis berkurang pula. Dalam suasana prihatin demikian; beruntunglah kita karena mulai tahun 2008 ini di Aceh telah ditubuhkan sebuah lembaga khusus yang bernama “Badan Pembina  Dayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam”. Melihat namanya,  terkesan hanya mengurus Dayah saja, maka ada baiknya  badan tersebut  diperlebar lagi kewajibannya, yakni juga ikut membina Rumoh dan Bale Seumeubeut yang terdapat di gampong-gampong di seluruh Aceh. Karena itu, nama lembaga itu perlu diubah menjadi “Badan Pembina Bale Seumeubeuet dan Dayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam”!. Akhirnya, kepada Pemda Aceh dan DPRA  kita harapkan,  agar mengalokasikan anggaran yang pantas bagi pembinaan Bale Seumeubeuet di gampong-gampong, karena para aneukmiet beuet adalah juga anak-anak bangsa yang perlu dicerdaskan seperti para murid sekolah umum dan agama yang lebih diprioritaskan selama ini!!!..
T.A. Sakti
Peminat budaya dan sastra Aceh,
tinggal di Banda Aceh.                  .
Ketika Anak Aceh Belajar Mengaji Alquran :
“Takdhim keu Guree Meuteumeung Ijazah!,..”
Oleh : T.A. Sakti
Tes baca Alquran bagi caleg Aceh telah dilaksanakan. Banyak pengajaran yang dapat dipetik dari kegiatan itu, baik bagi peserta caleg sendiri maupun bagi masyarakat Aceh pada umumnya. Bagi caleg yang tidak lulus, tentu perlu lebih mendekatkan diri dengan “Teungku” dalam upaya meningkatkan kelancaran membaca Alquran di masa depan, sedangkan bagi caleg yang lulus semestinya bersyukur dan berterima kasih kepada  Teungku,yang telah bersusah payah mendidik mereka, sehingga lancar membaca Alquran. Disamping itu, mereka patut pula  punya cita-cita untuk membantu pembinaan Bale Seumeubeuet di Aceh serta turut mendukung upaya mensejahterakan  Teungku,  bila mereka terpilih menjadi anggota Dewan kelak. Sebab, takdhim keu guree meuteumeung ijazah, takdhim keu nangbah meuteumei hareuta (menghormati guru mendapat ijazah, tunduk dan patuh pada orangtua mendapat warisan)..
Memang, dalam tradisi seumeubeuet(pengajian) tempo dulu di Aceh tingkat “takdhim keu guree” ini amat kental. Sekarang, keadaannya sudah jauh berubah.
Saya kira, dalam rangka takdhim keu eleumee ngon guree itu pula, yang membentuk “Tata Tertib” yang ketat dalam proses pengajian Alquran di Aceh pada masa lalu.
Secara tradisi, tahap-tahap pembelajaran agama bagi seorang anak adalah di rumah sendiri, di bale gampog/rumoh teungku dan di dayah.  Bagi seorang anak yang telah berumur 7-8 tahun, bila orangtuanya tak mampu mengajari membaca Alquran, maka anak yang bersangkutan akan diantar ke tempat pengajian di kampungnya, baik di Meunasah atau di rumah Teungku. Waktu/jam  belajar berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat penagajian lainnya, yakni antara pagi, sore dan malam hari.  Tulisan ini berfokus di sini,yakni mencermati “Tata Tertib” prosesi  pengajian bagi murid-murid pemula belajar membaca Alquran
Hari Rabu biasanya dipilih sebagai hari yang afdhal untuk mengantar anak ke tempat pengajian (intat beuet). Tak lupa pula sang orangtua anak membawa sepiring bu leukat ngon u mirah (nasi pulut dengan gula merah). U mirah atau u puteh adalah  kelapa yang dicampur gula merah atau gulaputih yang dimasak atau disebut U teuwot. Maksud dari nasi ketan, yaitu agar pelajaran yang diberikan cepat melekat di kepala{mudah diingat), karena nasi pulut itu bergetah/lekat. Sementara, u mirah bermaksud supaya hati terang dan mudah menerima pel ajaran(bek beunak hate). Selain bu leukat, ada pula orangtua anak  yang membawa beureuteh-pisang (beureuteh= padi ketan yang digongseng hingga menetas}. Tujuannya sama, yakni agar otak sang anak encer dan cepat mengerti pelajaran; sebagaimana padi yang digongseng (Lheue beureuteh) yang meletus cus-cus. Geuba beureuteh ngon pisang;mangat rijang jeuet Alehba(Dibawa beureuteh dengan pisang, agar cepat pintar ngaji Juz ‘Amma). Dapat ditambahkan, selain maksud di atas, bu leukat dan beureuteh tadi juga berfungsi mengakrabkan pergaulan antara si murid baru dengan para murid lama. Sebab, setelah acara penyerahan murid baru selesai, maka bu leukat u mirah atau beureuteh-pisang itu akan disantap bersama-sama.  Karena itu, para murid yang lama selalu berharap serta “berdo’a” agar sering ada murid baru yang diantar ke sana sehingga mereka dapat lebih sering menikmati kenduri buleukat atau beureuteh-pisang.
Di tempat pengajian tertentu, ada pula ucapan khusus yang dilafalkan orangtua ketika menyerarahkan anaknya kepada Teungku. Yaitu: “Nyoe aneuklon lon jok keu Teungku, neupeubeuet!.  Meunye neupoh, meubek capiek ngon buta!” (Anak saya, diserahkan kepada teungku; ajarkan dia!. Boleh dipukul, asal tidak pincang dan buta!). Pernyataan orangtua murid itu diucapkan sambil berjabat tangan/bersalaman antaranya dengan Teungku, sedang Teungku yang menerima murid baru itu  mengucapkan :  “Insya Allah!”.
Sejak hari pertama itu, maka bergelutlah sang anak-baik putra maupun putri- dengan pelajaran membaca  Alquran. Metode yang dipakai adalah Kaedah Baghdad (asal Irak), yakni dengan cara mengeja huruf-huruf hijaiyah/ejaan dari huruf Arab yang 29 buah itu.
Sistem ini tentu berbeda dengan Metode Iqrak (asal Yogyakarta); yang mengutamakan membaca kata-kata Arab dalam huruf Arab.
Dalam pelaksanaan kaedah Baghdadiyah di Aceh, belajar membaca secara berulang-ulang(meudraih) sangat dipentingkan Seseorang murid yang sudah menyelesaikan bacaan pada suatu batas/bab tertentu,  yang ditandai dengan perkataan ‘Wassalamu’; dia tidak serta-merta dipindahkan/dilanjutkan ke bab yang lain. Sang Teungku terus-menerus menyuruh anak itu mengulang lagi…dan lagi bahan bacaan itu.   Bila seorang anak telah lancar membaca Qur’an Alehba(Juz  ‘Amma), agar lebih berkah/beureukat; maka disinipun diadakan acara kecil-kecilan yang disebut ba bu Aleuham (membawa nasi Alham/Alfatihah). Bu Aleuham itu juga dimakan secara bersama-sama para murid di pengajian itu. Oleh karena bu Aleuham bukan suatu kewajiban, maka ia hanya dibawa para orangtua murid yang mampu dan sukarela saja.
Selanjutnya, sebagai menyambung dari Qur’an Alehba, seorang murid akan diajari membaca Qur’an rayek(Alquran besar). Sebagai sarana pembukaan juga disertai khanduri bu leukat, baik yang berlauk u mirah, u puteh(kelapa campur gula yang dimasak)  maupun tumpoe. Biasanya, pihak yang membawa bu leukat-tumpoe adalah keluarga yang bersahaja-segala sesuatu tidak asal ada- dan keluarga mampu.
Dalam pelaksanaan pembelajaran Qur’an rayek/Qur’an 30 juz ini sejumlah tantangan masih dihadapi oleh murid dan Teungku, Walaupun telah menamatkan kitab/Qur’an Alehba, tidak semua murid bisa langsung lancar membaca Alquran besar.
Boleh dikatakan masih lebih banyak yang perlu geupeutateh lom/dituntun kembali dibandingkan yang sudah mampu membaca mandiri. Bagi sebagian murid yang kurang lancar ini, untuk sampai ke Juz 15 saja  paling kurang menghabiskan waktu setengah tahun.
Akibat banyak hambatan dan tantangan dalam belajar membaca Qur’an rayek, maka jika seseorang murid telah sanggup menyelesaikan  separuh Alquran(trok bak Juih Teungoh); tentu dianggap sebagai prestasi luar biasa. Kegembiraan diwajah murid akan membludak disaat ia membaca kata “Walyathalaththaf’ pada surat Al Kahfi. Bagian ayat Alquran  Juz ke 15/Subhanallazy ini tertulis amat tebal dan besar yang berwarna hitam pekat (atau warna merah pada cetakan Alquran lama), merupakan bagian tengah dari Alquran. Hal ini ditandai dengan tulisan nishful Qur’an (setengah Alquran) di pinggirannya.
Guna memeriahkan/merayakan peristiwa besar bagi seorang murid yang sudah sampai separuh Alquran itu,   diadakan pula  khanduri Juih Teungoh, yakni berupa “buleukat Juih Teungoh”, yang dibawa oleh murid yang bersangkutan yang kadang-kadang disertai orangtuanya pula. Buleukat beserta lauknya dalam beulidi/wadah besar itu, selain disantap Teungku bersama-sama muridnya; juga dibagi-bagikan ke rumah-rumah tetangga dari Bale pengajian itu. Akibatnya, ‘termasyhurlah!” bahwa si anu (Aceh: si anoe nyan) telah belajar mengaji sampai ke Juih Teungoh. Dan hal itu merupakan kebanggaan keluarga  pada masa lalu. Inilah ‘semangat keagamaan’ atau syiar Islam  namanya. Masihkah kebanggaan demikian merasuk hati orang Aceh sekarang?.
Bagi murid(Aneukmiet beuet)  yang sudah sampai ke Juih Teungoh; biasanya telah mencapai batas jalan lempang untuk dapat menamatkan pelajaran membaca Alquran. Namun, biar pun sang murid telah sanggup menyelesaikan bacaan sampai pada   surat
114/ An Naas; bahkan pada kalimat “Watammat kalimatu…”, tetapi Teungku masih terus menyuruhnya untuk membaca ulang(meudraih) kembali mulai surat permulaan Alham/Alfatihah dalam jumlah berkali-kali. Padahal, pada saat-saat demikian, hati /pikiran si murid sedang sangat tergoda(teugoe-goe) untuk belajar “Kitab”, sebagai studi lanjutan sesudah menamatkan Alquran. Atas landasan ‘takdhim keu guree’;walaupun hati kepingin sekali belajar kitab; sang murid terus-menerus meudraih-ulang  Alquran berkali-kali tamat lagi,  sampai saat Teungku menganggapnya  sudah memadai.
Pada bagian acara peutamat/menamatkan Qur’an, secara khusus Teungku memimpinnya. Caranya, sang Teungku membaca duluan ayat dan surat tertentu yang sekaligus dibaca ulang oleh murid yang bersangkutan. Ayat dan surat yang menjadi tradisi dalam menamatkan Alquran ini barulah berakhir pada kalimat “Watammat kalimatu Rabbika shidqan wa’adlan…dan seterusnya; yang disahuti seluruh hadirin secara serentak beramai-ramai.
Sebelum upacara peutamat/khatam Qur’an itu dilaksanakan, sebenarnya ada “Tata tertib” tradisi peutamat Qur’an yang dilangsungkan. Yaitu : Me Butamat(mengantar nasi tamat Qur’an). Akan tetapi karena upacara ini membutuhkan biaya yang lebih besar-dibandingkan ba buleukat ngon tumpoe-, maka acara “ babu tamat “ ini lebih sering ditunda.
Ketika orangtua murid merasa siap, diantarlah ’ bu tamat’  ke rumah/balai pengajian.
Selain nasi yang siap santap, ada pula yang membawa bahan-bahan mentah  berupa beras, ayam jago,  kelapa, uang, rujee/kayu api dan sebagainya. Bahkan, ada pula keluarga kaya yang membawa berbagai kelengkapan serta  menyret seekor kambing-gasi(kameng gasi) ke rumah Teungku. Perlengkapan khanduri Bu Tamat ini batu dibuat kenduri sewaktu kenduri tahunan(khanduri thon) di rumah Teungku atau ketika bahan-bahan peutamat Qur’an dari beberapa murid sudah terkumpul. Begitulah beberapa “Tata Tertib” belajar mengaji Alquran yang dilakukan selama proses belajar mulai dari awal sampai tamat, yang kesemuanya tidak lepas dari tujuan ‘Takdhim keu Guree”; yakni memuliakan dan menghargai guru alias Teungku.
Kini, ketika Aceh didera era globalisasi;  ketulusan Takdhim keu Guree pasti sudah jauh berkurang, bahkan nyaris tak bersisa lagi. Akibatnya tempat-tempat pengajian sejenis Bale Seumeubeut di gampong-gampong pun  secara drastis berkurang pula. Dalam suasana prihatin demikian; beruntunglah kita karena mulai tahun 2008 ini di Aceh telah ditubuhkan sebuah lembaga khusus yang bernama “Badan Pembina  Dayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam”. Melihat namanya,  terkesan hanya mengurus Dayah saja, maka ada baiknya  badan tersebut  diperlebar lagi kewajibannya, yakni juga ikut membina Rumoh dan Bale Seumeubeut yang terdapat di gampong-gampong di seluruh Aceh. Karena itu, nama lembaga itu perlu diubah menjadi “Badan Pembina Bale Seumeubeuet dan Dayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam”!. Akhirnya, kepada Pemda Aceh dan DPRA  kita harapkan,  agar mengalokasikan anggaran yang pantas bagi pembinaan Bale Seumeubeuet di gampong-gampong, karena para aneukmiet beuet adalah juga anak-anak bangsa yang perlu dicerdaskan seperti para murid sekolah umum dan agama yang lebih diprioritaskan selama ini!!!..
T.A. Sakti
Peminat budaya dan sastra Aceh,
tinggal di Banda Aceh.                  .