“KAMPUS DARUSSALAM DIAWASI DUNIA”

Menyambut  &  menyemarakkan

Hari Pendidikan Daerah ke 21:

2 September 1959 – 2 Sept 1980

“DARUSSALAM  DI AWASI DUNIA”

Oleh :  El Kandy Bucue

BAPAK PENDIDIKAN Aceh, Prof. A. Hasjmy di tahun 1963 pernah mengatakan : “Terkenal Aceh dalam sejarah dunia, teristimewa di zaman emasnya (Abad ke XVI – XVII) bukanlah se-mata2  karena angkatan perangnya yang ditakuti di laut dan di darat, yang pernah melumpuhkan kekuatan angkatan perang Portugis di Semenanjung Tanah Melayu; tetapi disamping itu terkhusus lagi lantaran pada masa tersebut Aceh memiliki suatu pemerintahan yang teratur, yang dipimpin oleh Sulthan yang berpengetahuan luas dan dibantu oleh sarjana2  dalam berbagai bidang. Aceh pada saat tersebut  merupakan sumber ilmu pengetahuan dengan sarjana2 yang terkenal dalam dan diluar negeri, sehingga banyaklah pemuda – pencari ilmu –  pengetahuan dari segala pojok berduyun-duyun ke Aceh.

Oleh karena di pimpin oleh tangan-tangan yang berilmu pengetahuanlah maka Aceh menjadi masyhur dan jaya serta terkenal di seantero dunia” (1.

Tahun 1959 merupakan “tahun kenangan” bagi daerah Aceh, karena pada tahun tsb. Aceh mendapat dua kemenangan. Kemenangan itu ialah tgl.  26 Mei 1959 Pemerintah Pusat menyetujui pemberian gelar  “istimewa” bagi propinsi Aceh, hingga menjadi propinsi Daerah Istimewa Aceh. Keistimewaan bagi daerah ini adalah dalam tiga bidang, yakni; agama, adat dan pendidikan. Tapi sayang “tanggal keramat” itu (tanggal 26 Mei) kurang mendapat perhatian yang sewajarnya dari pihak-pihak yang berwewenang. Tiada peringatan bagi daerah yang bersejarah itu. Padahal memperingatinya sangat penting bagi menambah gairah masyarakat untuk membangun. Masyarakat umum (awam) pada umumnya kurang; bahkan tidak mengetahui “Apa dan Mengapa 26 Mei” itu.

Kemenangan kedua tahun 1959 bagi provinsi daerah Daerah Istimewa Aceh yaitu pembukaan DARUSSALAM pada tanggal 2 September1959. masyarakat umum tahu haru yang bersejarah itu, karena ada peringatannya tiap-tiap tahun. Bahkan telah ditetapkan bahwa tanggal 2 September sebagai Hari Pendidikan Daerah Istimewa Aceh. Dari sejak tanggal 2 September 1959 sampai sekarang secara berangsur-angsur terus melahirkan beberapa perguruan tinggi di Darussalam. Perguruan tinggi yang telah lahir ialah : Universitas Syiah Kuala, IAIN Ar-Raniry, Pesantren Tinggi Teungku Chik Pante Kulu, dan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri(APDN) yang sekarang lokasinya telah pindah ke Lam Pineung.

Tentang perkembangan Universitas Syiah Kuala, seorang tokoh mahasiswa Unsyiah; Hasballah M.S. pernah menulis :”pergolakan sejarah yang berlarut-larut telah merobah wajah Aceh kesuatu keadaan yang menyedihkan. Ketika dayah-dayah telah berganti dengan medan perang dan kebun-kebun yang subur menjadi tanah tandus, tak ada lagi sesuatu yang tersisa, kecuali suatu keyakinan dan harga diri. Dan dengan modal kenangan kepada kejayaan masa lampau yang mengilhami keyakinan-keyakinan itulah Aceh kembali menata diri.

Dalam rangkaian rencana usaha pemulihan keamanan, pembangunan pendidikan, termasuk pendidikan tinggi, ditempatkan pada garis terdepan sekali. Universitas Syiah Kuala adalah wujud akhir dari cita-cita dan hasil usaha atas dasar keyakinan yang disebutkan di atas. Universitas Syiah Kuala dibangun atas dasar aliansi antara para pengusaha, penguasa, teknokrat, para ulama dan pimpinan masyarakat di Aceh. Ia didirikan dalam rangka upaya berpacu untuk menyusul kembali ketinggalan Aceh di masa lampau terutama di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan. Syiah Kuala merupakan lambang perdamaian dan kerukunan kembali dari suatu pergolakan sejarah yang panjang yang pernah terjadi di Tanah Aceh. Diwarnai oleh kenyataan sejarah ini, Universitas Syiah Kuala diharapkan mampu untuk berperan dalam rangka menjawab tantangan-tantangan, mengejar ketinggalan-ketinggalan dalam segala aspek pembangunan dan juga menata kembali hari depan yang lebih bermartabat dan lebih bermakna” (2.

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry, juga tidak pernah diam dan lesu dari merangkah dan bertatih menuju kedewasaan. Dari tahun-ketahun IAIN terus berkembang, hingga manfaat dan pengabdiannya telah banyak dinikmati masyarakat. Kronologi pembangunan IAIN Ar-Raniry dapat diikuti sebagai berikut: “IAIN Jamiah Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh lahir pada tanggal 5 Oktober 1963 berdasarkan surat keputusan Menteri Agama Nomor 89 Tahun 1963 yang peresmiannya dilakukan oleh Menteri AgamaK. H. Saifuddin Zuhri sebagai IAIN yang ketiga sesudah IAIN Yogyakarta dan IAIN Jakarta. Sebagai Pd. Rektor pertama telah ditetapkan dilantik A. Hasjmy, gubernur kepala daerah provinsi Daerah Istimewa Aceh yang juga ketua komisi pencipta kota Pelajar/Mahasiswa Darussalam. Pada waktu IAIN Jamiah diresmikan telah ada tiga fakultas dan sebuah sekolah persiapan, yaitu:

  1. Fakultas Syari’ah
  2. Fakultas Tarbiah
  3. Fakultas Ushuluddin
  4. Sekolah Persiapan IAIN.

Kesemuanya berada di Darussalam, Banda Aceh, kemudian pada tahun 1968 telah dibuka dan diresmikan Fakultas Dakwah sebagai fakultas yang ke empat, yang merupakan Fakultas Dakwah pertama dalam lingkungan IAIN di Indonesia,…(3.

Darussalam merupakan “Jantung Hati Rakyat Aceh”, yang penduduk aslinya 100 % beragama islam. Di zaman kejayaan kerajaan Aceh Dayah-dayah bertebaran di segenap pelosok Aceh yang tiga segi ini. Oleh karenanya sebagai menghormati sejarah nenek moyang, maka di Darussalam pun diadakan sebuah pusat Pendidikan Islam Tinggi yang bercorak sistim Dayah. Dengan Surat Keputusan Gubernur kepala Daerah Istimewa Aceh bertanggal 17 Maret 1962 No. 38/1962, maka ditetapkanlah anggota2  Panitia Persiapan Pendidikan Dayah Tgk Chik Pante Kulu, dimana Letnan Kolonel Nyak Adam Kamil sebagai Pimpinan Umum Panitia tersebut.

Panitia yang dibentuk pada tahun 1962 itu bekerja giat hingga tahun 1968 barulah Dayah Teungku Chik Pante Kulu dapat diresmikan oleh Presiden Soeharto. Dalam amanat peresmian Dayah Teungku Chik Pante Kulu Presiden Soeharto mengatakan: “Sayapun sangat bersyukur bahwa pada kesempatan ini saya diberi pula penghormatan untuk turut serta menyaksikan atau meresmikan suatu Pesantren Modern, Pante Kulu. Ini adalah memang  merupakan suatu usaha pula yang besar sekali manfaatnya dimana pemuda kita dari pelosok di Daerah Istimewa Aceh ini, dapat melakukan penambahan pengetahuannya didalam Pesantren yang Modern disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan sekarang ini “(4.

Pernyataan diatas merupakan cetusan harapan Presiden kita dalam tahun 1968. Bagaimanakah perkembangan Dayah Teungku Chik Pante Kulu sekarang?, dalam hal ini penulis masih meraba-raba untuk menjelaskannya, karena kurangnya informasi yang dapat kita baca dalam masmedia, baik koran ataupun majalah Sinar Darussalam!!!.

Besar harapan rakyat Indonesia pada umumnya dan putra putri Aceh khususnya pada kota pendidikan Darussalam ini. mereka yang hidup di desa sangat mendambakan, semoga pada suatu hari dapat kiranya mengantarkan putra-putrinya berkuliah di Darussalam. Mereka bangga punya anak yang bertitel “mahasiswa”.

Liku2  sejarah masa lampau adalah merupakan the best teacher (guru yang baik) buat pedoman hidup kita dimasa kini dan juga masa yang akan datang. Ini juga merupakan tugas suci bagi setiap mahasiswa untuk menggali kembali. Bagi negara kita Indonesia dan pula khusus bagi Propinsi Daerah Istimewa Aceh, sungguh banyak fakta2  sejarah yang telah pupus ditelan zaman. Dalam kata sambutan terhadap penerbitan Buku 10 Tahun Darussalam dan Hari Pendidikan Propinsi Daerah Istimewa Aceh, bapak A. Muzakkir Walad selaku Gubernur Aceh mengatakan: “Keagungan zaman Iskandarmuda dan pimpinan pemerintahan di zaman Kerajaan Aceh,  menjadi pupus dalam sejarah akibat tangan kotor dan perkosaan dari penjajah yang datang kemudian. Bukan saja dalam bentuk-bentuk kebudayaan atau prasasti, malahan juga sampai kepada pusara Iskandarmuda yang Agung telah dilenyapkan dari mata dan hati rakyat Aceh. Dokumen-dokumen tertulis dari zaman itu telah dilenyapkan oleh sipenjajah sehingga komunikasi antara zaman yang silam tidak pernah kita terima selengkapnya”. Dipandang dari sudut pentingnya komunikasi antara zaman silam dan zaman sekarang, antara zaman kini dengan zaman yang akan datang, maka penerbitan Buku Peringatan 10 Tahun DARUSSALAM  dan Hari Pendidikan Daerah Istimewa Aceh sungguh-sungguh merupakan usaha yang berarti”.

Dalam tahun 1979 yang lalu masyarakat Indonesia umumnya dan masyarakat Aceh khususnya dikejutkan oleh sebuah berita yang tak pernah diduga selama ini, yaitu berita bahwa di Universitas Syiah Kuala telah diproklamirkan berdirinya Fakultas Kedokteran. Bagaimana hangatnya berita itu, dapat kita baca dalam berbagai koran, baik surat kabar daerah maupun koran sekup nasional. Itu baru yang dalam koran, apalagi yang bergelora dan berdesir-desir dalam dada rakyat, terutama masyarakat Aceh yang berekonomi lemah. Hati senang air mata berlinang, karena sangking gembiranya. Sudah hampir dua puluh tahun mereka menanti-nanti lahirnya Fakultas Kedokteran di Darussalam “Jantung Hati Rakyat Aceh”, mereka mengucapkan “kruu seumangat!!!”, salah satu keistimewaan bidang pendidikan bagi daerah ini telah terjelma!!!. Seluruh lapisan masyarakat Aceh di desa dan di kota sama-sama mendo’akan agar benih Fakultas Kedokteran ini jangan hendaknya tertimpa bala bencana seperti yang digambarkan Surat Kabar “PERISTIWA” Rabu, 20 Ramadhan 1400H/29 Juli 1980, Na’u zubillahi min zaalik, Terimalah do’a kami ya Allah!!!.

Penulis memberi judul artikel ini dengan: “Darussalam” Diawasi Dunia”. Gambaran ini dapat kita ikuti dari amanat Presiden Soekarno pada Upacara Pembukaan Kota Pelajar/Mahasiswa Darussalam sbb: “Saya datang ke Daerah Aceh kali ini membawa wakil-wakil daripada negara-negara, disana berdiri wakil dari negara Yugoslavia, di sana berdiri wakil dari Amerika Serikat, di sana berdiri wakil dari Malaya, disana berdiri dari India, disana berdiri daripada Arab Persatuan, disana berdiri wakil dari Negara Argentina, disana berdiri dari Canada, disana berdiri dari Jepang, disana berdiri wakil dari Sovjet Uni. Seluruh dunia saudara2  memandang matanya kepada kita. Maka oleh karena itu, langkah pertama yang telah kita jejakkan dengan mendirikan Darussalam ini, saya minta diteruskan jangan sampai usaha mendirikan Darussalam sebagai bagian dari pelaksanaan cita2  kita, cita2  Proklamasi 1945 kandas di tengah jalan. Bukan saja kita, kita sendiri mengawasi tindakan2  kita, tetapi seluruh dunia mengawasi tindakan kita pula” (5.

Hanya sekian !!!.

Banda Aceh, 22 Syawal 1400/2 Sept 1980.

“Selamat menyambut Hari Pendidikan Daerah Istimewa Aceh 2 September 1980”. Merdeka !!!!!!!.

Daftar bacaan/kutipan :

  1. Buku : Darussalam, Terbitan Yayasan Dana Kesejahteraan Aceh (1963) hlm. 37 – 38.
  2. Sinar Darussalam no. 108/109 hlm. 273-274 : “Peranan Mahasiswa Universitas Syiah Kuala DALAM PEMBANGUNAN DAERAH.
  3. Buku : 15 Tahun IAIN Jami’ah Ar-Raniry.
  4. 10 Tahun DARUSSALAM  dan Hari Pendidikan Propinsi Daerah Istimewa Aceh, hlm. 30.
  5. DARUSSALAM, Terbitan Yayasan Dana Kesejahteraan Aceh, hlm. 20.-

-elk bc-

______________

Noot : Kalau artikel ini terlalu panjang, boleh saja dipendekkan, dengan membuang satu kutipan misalnya!.

TA

-          Kalau setelah Bapak pertimbangkan ternyata tidak memenuhi syarat untuk dimuat, saya mohon jangan dibuang naskah ini, saya akan mengambil kembali ke kantor redaksi Peristiwa!.

Catatan tambahan terbaru:

**Noot di atas berupa tulisan tangan!. Nama samaran   saya saat itu:  El Kandy Bucue.

  1. Saya yakin artikel ini tidak dimuat dalam Koran Peristiwa, Banda Aceh, karena pada arsip terlihat bukan fotokopy, melainkan ketikan asli dengan pita hitam ketikan yang sudah lama dipakai!.

Bale Tambeh Darussalam, 9 Zulhijjah 1431/Singoh Uroe Raya Haji

17   November  2010

*Amal nyang sikula di Lammeulo pih katrok u rumoh!.

2. Saya ikut sedih bila kabar yang beredar sekarang benar, bahwa mayoritas mahasiswa fakultas-fakultas favorit di Unsyiah semisal Fakultas Kedokteran bukanlah putra-putri Aceh!!!.

T.A. Sakti

PANCA GELAR PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH

Sekedar sovenir bagi kafilah-kafilah MTQ Nasional ke XII

Sedikit Penjelasan Tentang:

PANCA GELAR PROPINSI

DAERAH ISTIMEWA  ACEH

Oleh : T. A. Sakti

ACEH   adalah propinsi  paling ujung di bahagian Barat dari negara kesatuan Republik Indonesia. Dan yang benar-benar ujung sekali adalah Sabang, sehingga timbul istilah: negara Indonesia terdiri dari pulau-pulau yang berjejeran dari Sabang sampai Meroke. Allah SWT telah mentakdirkan, bahwa daerah ini punya nama yang jumlahnya sama dengan jumlah sila dari ideologi negara kita; Pancasila, yaitu lima buah nama. Karenannya dapat kita sebutkan dengan istilah panca gelar daerah Aceh. Julukan yang melekat yang mendampingi sebutan Aceh ini, bukanlah diperoleh dengan percuma saja, tetapi merupakan hasil dari proses sejarah sejak nama Aceh ditetapkan sebagai nama dari daerah ini. Patut penulis jelaskan, bahwa daerah paling ujung dari kepulauan Indonesia ini pada zaman dahulu kala memiliki nama yang lain dari saat sekarang. Masa itu sebutan Aceh belum dikenal. Selain disebut dengan negeri Poli, yang paling terkenal adalah Pulo Ruja. Artinya daerah yang berasal dari kain, pulo artinya pulau. Sedangkan “Ruja” artinya kain, demikian menurut tambo sejarah. Menurut tambo sejarah; asal-usul dari nama tersebut adalah sebagai akibat usaha penyelamatan sebuah kapal yang sedang karam. Sebenarnya tujuan dari perjalanan kapal itu adalah hendak membawa barang dagangannya ke negeri Cina. Ditengah lautan, ia kandas dan hampir saja tenggelam, semua penumpang termasuk lahuda (nakhoda) sudah begitu gelisah melihat bahaya yang mengancam mereka. Sambil menunggu maut tiba mereka memuji Tuhan serta meminta pertolongan dari-Nya. Kebetulan juga di dalam kapal itu terdapat seorang ulama, yang keadaannya tenang-tenang saja. Dia tidak merasa gelisah sedikitpun dengan bahaya maut tersebut. Tiba-tiba sang ulama tersebut melemparkan serbannya ke dalam laut. Serta merta dalam tempo sekejab mata, laut yang bergolak itu menjadi tenang. Dan besoknya seluruh permukaan laut sepanjang mata memandang dari sekitar kapal itu menjadi daratan. Lama kelamaan daratan tersebut semakin lebar. Ia terjadi dari serban seorang ulama, yang telah dikehendaki oleh Allah SWT. Demikian penuturan orang-orang tua di daerah Aceh. Daratan yang semakin lebar itu berbentuk sebuah pulau (Sumatra?). karena pulau ini berasal dari kain, maka orang pun memberi nama dengan sebutan Pulau Ruja.

Sebutan “Aceh” adalah merupakan perkembangan yang terakhir dari Pulau Ruja. Hal ini juga terjadi dari peristiwa yang  aneh. Terhadap versi sebutan “Aceh” ini ada dua sumber berita yang menjelaskannya.

Versi pertama mengatakan, bahwa nama Aceh terjadi atau berasal dari peristiwa dua orang perempuan kakak beradik. Suatu masa adik dari seorang wanita hamil. Begitu kenyataan dari perutnya yang semakin membuncit besar. Mereka beserta sejumlah orang lain sedang berada dalam kapal yang berlayar di lautan. Sedang si kakak biasa saja kelihatannya. Dia tidak menunjukkan gejala apapun di tubuhnya. Secara tak diduga siapapun, sang kakak yang kelihatannya normal saja, pada suatu hari ia melahirkan seorang bayi laki-laki. Anak yang lahir itu berada dalam keadaan sehat dan tidak kurang suatu apapun. Sedang adiknya, yang sudah sembilan bulan nampak hamil, hingga sampai saat sepatutnya ia harus melahirkan, ternyata tidak berlangsung. Beberapa bulan kemudian barulah ia melahirkan seorang putri. Dari peristiwa yang aneh inilah, timbulnya istilah “Aceh”. Karena pada saat sang kakak melahirkan putranya, kapal yang sedang ia tumpangi sedang berada di sebuah pelabuhan, dari suatu daratan (daerah), yang tidak mereka ketahui namanya. Oleh penumpang-penumpang kapal itulah, kemudian memberi nama daerah yang baru ditemui mereka dengan sebutan “Aceh”. Nama itu mereka ambil dari peristiwa aneh yang telah terjadi di dalam kapal yang mereka tumpangi, yaitu kejadian di mana sang adik yang hamil pada akhirnya kakaknyalah yang melahirkan.

Dalam bahasa para penumpang kapal tersebut; ACEH  terdiri dari dua potong kata. “A”, artinya kakak. “CEH” maksudnya “melahirkan anak”. ‘ACEH”, berarti kakak yang melahirkan anak. Kalimat yang lengkap dalam bahasa  mereka  adalah Adou yang mume, A nyang ceh (adik yang hamil, kakaknya yang melahirkan).

Para penumpang itu akhirnya menetap di daratan, yang telah mereka namakan dengan nama ACEH. Merekalah penduduk gelombang pertama yang menetap di Aceh, demikian menurut tambo sejarah. Peristiwa aneh dikapal itu, telah lama pula menjadi perbincangan ahli sejarah untuk menyelidiknya. Pada dasarnya pemberian nama daerah dari suatu insindental kecil seperti ini, bukanlah masalah baru. Lihat saja dengan peristiwa Columbus menemui benua Amerika. Mereka menamakan Amerika untuk daratan yang baru diketemukan itu adalah karena salah seorang dari penumpang didalam kapalnya bernama Amerigo. Perkataan Amerigo pada akhirnya berubah menjadi Amerika hingga dewasa ini.

Versi lain menceritakan, bahwa nama Aceh di peroleh, akibat ada sejumlah bangsa menetap di daerah ini. Kita masih ingat, bahwa daerah Aceh sangat maju dalam bidang perdagangan dimasa lalu. Hingga bermacam bangsa tinggal di sana untuk berdagang. Untuk menulis namanya menurut ejaan yang belum disempurnakan adalah “ATJEH”. Dan nama ini bertitik tolak dari bangsa-bangsa yang telah membaur satu sama lain. Mereka sudah menjadi satu akibat kawin campuran. Perkataan “ATJEH” dapat dipisahkan menurut hurufnya menjadi lima bagian. Satu bagian menunjukkan asal keturunan dari satu bangsa. “A”, berasal dari perkataan Arab. Jadi orang Aceh ada campuran dari bangsa Arab, begitu pula dengan bagian lainnya. “T”, berasal dari perkataan TJINA. “J” adalah bangsa Jepang. “E”, berasal dari perkataan EROPAH. “H”, yaitu bangsa Hindustan, jadi orang-orang ATJEH sekarang berasal dari campuran  bangsa- bangsa tersebut di atas, yaitu: bangsa Arab, Tjina, Jepang, bangsa-bangsa Eropah, dan bangsa Hindustan (India-Pakistan).

Untuk menguatkan dalilnya mereka yang berpendirian pada versi campuran bangsa, mengatakan begitu lihat saja saja keadaan physik dari orang Aceh. Ada yang berkulit putih- putih, kuning, hitam, sawo matang, kuning langsat. Warna kulit itu menunjukkan dari bangsa apa mereka dulu berasal. Begitu pula dengan bentuk hidung mereka. Ada yang berhidung pesek, mancung (hidong daruet minyeuk), hidung sederhana dan lain-lain. Kalau ia sekarang berhidung mancung misalnya, berarti ia berasal dari keturunan Arab, begitulah seterusnya. Namun demikian belum terbentuk panitia khusus yang menyelidiki  kebenaran adagium itu. Memang orang Aceh kurang menaruh perhatian pada sejarah mereka sendiri. Dibandingkan antara orang orang Barat khususnya bangsa Belanda yang mengetahui seluk beluk sejarah Aceh dengan putra Aceh sendiri, maka dari kalangan putra Aceh dapat kita hitung dengan jari yang mengetahui perjalanan sejarah daerahnya. Keadaan begini, sungguh sangat kita sayangkan!.

PANCA GELAR

Lima gelar yang kini melekat  bagi  sebutan daerah Aceh, dapat penulis beri urutan sebagai berikut. 1.  Serambi Mekkah. 2.  Tanah Rencong. 3.  Daerah Modal.  4.  Bumi Iskandar Muda dan 5.  Negeri Darah Pahlawan.

Martabat SERAMBI MEKKAH melekat sebagai nama pengganti bagi daerah Aceh mulai melekat, sejak Agama Islam   menjadi anutan rakyat dan menjadi agama kerajaan di daerah ini. Sebagaimana kita ketahui, bahwa agama Islam   diturunkan Allah di tanah Arab. Menurut ilmu Tauhid, yang disebut dengan agama Islam   itu, bukan hanya yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW  saja. Tetapi termasuk juga kedalam agama Islam   adalah agama-agama pada nabi-nabi Allah yang mendahului Nabi Muhammad SAW. Agama Nabi Ibrahim disebut juga agama Islam   dengan Kitabnya hanya beberapa shuhuf yang diturunkan Allah. Agama Nabi Musa dengan Kitab Tauratnya juga Islam, Zabur sebagai Kitab di zaman Nabi Daud disebut juga agama Islam. Nabi Isa dengan Kitabnya Injil termasuk juga agama islam, bahkan sejak masa endatu manusia, yaitu Nabi Adam  a.s, agama Islam   telah  diberlakukan.

Agama Islam   yang diturunkan kepada Muhammad SAW adalah penyempurnaan dari agama Islam   sebelumnya. Nabi Muhammad dilahirkan di kota Mekkah sehingga dapat dikatakan, bahwa pusat sentral dari agama Muhammad SAW ini adalah di kota suci Mekkah (Makkatul Mukarramah). Menurut keputusan beberapa seminar tentang masuk dan berkembangnya Islam   di Indonesia, mengatakan/berkesimpulan bahwa, agama Islam   yang dianut oleh 90 % rakyat Indonesia sekarang ini, buat pertama sekali dianut oleh masyarakat daerah Perlak Aceh Utara. Demikian keputusan seminar tersebut, baik yang diadakan di Medan (1963), di Banda Aceh (1978), maupun di Perlak tanggal 25 – 30 September 1980.

Ketiga seminar tentang masuknya Islam   di Indonesia sependapat bahwa agama Islam   masuk ke Indonesia (Aceh) pada abad pertama hijriah dan langsung dari Tanah Arab (Mekkah). Setelah sekian lama berkembang di Perlak (Aceh), barulah agama Islam   itu tersebar ke seluruh kepulauan nusantara. Karena Islam   itu secara langsung datang dari Tanah Suci Mekkah dan juga karena Acehlah yang merupakan daerah pertama yang didatangi Islam, maka disebutlah Aceh dengan julukan daerah Serambi Mekkah. Dalam bahasa Aceh; Serambi Mekkah disebut Seuramoe Mekkah. Hal ini berpedoman pada bentuk rumah Aceh (Rumoh Aceh) yang bertiang tinggi itu. Bagian lantai dari Rumoh Aceh tidak datar/sejajar keseluruhan rumah. Keadaannya bertingkat-tingkat. Rumoh Aceh memiliki dua buah seramoe (serambi), sebuah seuramoe inong (kamar isteri), dan sebuah ruang tiphiek (ruang dapur). Keadaan tingkatnya sbb: sejak dari seuramoe leun (serambi depan) yang diselangi oleh rumoh inong dan rambat yang lebih tinggi, baru menurun lagi ke seuramoe inong (serambi perempuan) dan yang paling rendah adalah rumah dapur (tiphiek). Jadi pusat sentral dari rumoh Aceh adalah  rumoh  inong, baru kemudian diikuti oleh dua buah seramoe dibahagian muka dan belakang, terus menurun ke tiphiek, maka agama Islam   yang berpusat di Mekkah ditamsilkan ia berada di rumoh inong. Karena untuk pertama kali ia masuk ke Aceh (untuk Indonesia), yang langsung dari Arab/Mekkah, maka diibaratkan ia turun ke seuramoe (serambi). Maka melekatlah julukan negeri SERAMBI MEKKAH  bagi sebutan  Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Menurut catatan sejarah, bahwa pelaksanaan agama Islam   masa dahulu di Aceh sangat murni. Rakyat dan kerajaan Aceh mengamalkan secara murni dan konsekuen.  Persis seperti pengamalan agama Islam   di kota Mekkah, begitulah keadaan Serambi Mekkah di masa itu. Dan kalau umat Islam   yang tersebar di seluruh kepulauan nusantara hendak melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah, mereka terlebih dahulu harus singgah di pelabuhan-pelabuhan yang terdapat di Aceh, karena Aceh pada masa itu merupakan pintu gerbang untuk  berlayar ke Mekkah. Satu lagi peranan penting yang diperankan oleh daerah Aceh sebagai negeri Serambi Mekkah.

2. Tanah Rencong

Mengenai sebutan Tanah Rencong dapat penulis jelaskan, bahwa julukan ini berasal dari sejenis senjata yang khusus hak ciptanya dipunyai rakyat daerah Aceh. Kalau di daerah Jawa dan Malaysia terkenal dengan alat senjata keris; sebagai yang paling terkenal seperti keris pusaka Empu Gandring, maka di daerah Aceh terkenal dengan Rencongnya. Pada masa dahulu, rencong merupakan alat kebesaran bagi rakyat dan orang patut-patut (ureueng ukok-ukok). Senjata rencong ini bentuknya melengkung. Bentuk tersebut mengikuti bentuk tulisan Arab terhadap kalimat suci dalam agama islam, yaitu BISMILLAAHIRRAHMANIRRAHIM.

Seni kebudayaan Islam terpateri pada bentuknya. Itulah suatu tanda, bahwa Islam telah masuk sampai ke dalam tulang sumsum bagi masyarakat Aceh. Segala hasil karya tangan dan lainnya, semuanya menurut seni kebudayaan  Islam. Bentuk dari hulu/gagang (uleei rencong) tidak sama. Ada yang panjang mencuat(Rencong meucugek) dan ada pula yang tipis bulat gagangnya yang biasanya terbuat dari tanduk kerbau dan gading gajah terutama masa akhir-akhir ini tidak menentukan besar atau kecil – khasiat dari rencong itu. Menurut para ahli yang biasa menempa Rencong, bahwa tuah dari senjata itu sangat ditentukan oleh besi yang setelah ditempa menjadi Rencong. Sebagai perhiasan raja-raja, hulunya dibuat dari emas murni. Sedangkan bagi orang kaya dan hulubalang (uleei balang) dan panglima-panglima hanya disaluti emas, suasa ataupun perak saja. Rencong jarang digunakan sebagai senjata untuk membunuh, tetapi lebih banyak digunakan sebagai alat perhiasan. Tetapi tidak jarang pula serdadu Belanda mati terkapar setelah dadanya ditembusi  Rencong Aceh. Dimasa akhir- akhir ini sudah sangat jarang utoih beusou (pandai besi) yang dapat menempa rencong Aceh. Di zaman kemerdekaan sekarang, banyak pejabat negara yang datang dari Jakarta, atau luar negeri yang mendapat Rencong Aceh sebagai hadiah pemerintah daerah ini sebagai kenang-kenangan atau bungong jaroe dari Tanoh Rencong. Banyak jenis rencong di Aceh, antara lain: Rencong Meucunggak (gagangnya panjang), Mencong Meutampoek (rencong yang hulunya di saluti, baik dengan emas, perak, suasa), Rencong Uleei Gadeng (berhulu gading) Rencong Ulee Lungke (hulu tanduk) dan Rencong Beusou Jeut (rencong besi jadi). JENIS   sarungnya banyak juga.

3.Daerah modal

Gelaran Daerah Modal melekat pada Daerah Istimewa Aceh baru timbul sejak kemerdekaan Indonesia. Sebagaimana kita ketahui, bahwa setelah negara Indonesia diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta, pihak Belanda masih  cuba berusaha untuk kembali menjajah kita. Dua kali agressi dilakukan Belanda untuk mencapai maksudnya itu, namun tidak berhasil.

Kenapa Belanda tidak berhasil?. Karena seluruh bangsa Indonesia bersatu padu untuk membela Tanah Air, tidak ketinggalan pula putra-putri Aceh berjuang  bersama. Dalam suatu agressi, pihak Belanda hampir saja mencapai niatnya. Presiden Soekarno, Wakil Presiden Muhammad Hatta, H. Agus salim dan sejumlah Menteri Kabinetnya telah ditawan Belanda . Ada yang ditahan di Prapat ( Sumut) dan di pulau Bangka. Pemerintahan Indonesia pada masa itu dikendalikan dari Sumatera dibawah pimpinan MR. Syarifuddin Prawiranegara sebagai PM Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Setelah menangkap Kepala Negara, pihak Belanda beranggapan, bahwa usaha mereka telah sukses. Anggapan itu meleset 100%. Mereka lupa, bahwa walaupun Presiden tiada, rakyat Indonesia masih berjuang sampai gugur semuanya. Semua daerah telah dikuasai, baik daratan maupun lautan. Hanya tinggal daerah Aceh yang tak sanggup ditembusi Belanda . Rakyat Aceh bahu-membahu berjuang di Medan Area (perbatasan Sumatera Utara). Sampai dengan peristiwa KMB, pihak Belanda masih tak sanggup mematahkan pertahanan diperbatasan Aceh. Hal ini berarti, setelah Belanda meninggalkan Aceh pada tahun 1942, mereka tidak pernah menginjak kakinya lagi ke daerah Aceh. Karena perjuangan yang gigih itu, yang akhirnya membawa kemenangan bagi negara kita; Presiden Soekarno memberi gelar Daerah Aceh dengan julukan Aceh Daerah Modal. Sejak dijuluki Presiden pertama Indonesia itulah sampai sekarang, daerah Aceh masih tetap disebut sebagai Daerah Modal. Dalam suatu pidato ketika berkunjung di kota Meulaboh ibukota dari Aceh Barat, tanggal 4 September 1949, Presiden Soekarno menegaskan bahwa: “Daerah Aceh adalah DAERAH MODAL, dan akan tetap menjadi  DAERAH MODAL, bukan saja modal yang berupa emas, bukan saja modal yang berupa uang, tetapi yang terutama sekali modal   yang  berupa   jiwa yang berkobar-kobar.

Rakyat Aceh jiwanya memang jiwa yang bernyala-nyala dan berapi-rapi. Dan modal jiwa yang bernyala-nyala dan berapi-api itulah modal yang pertama untuk merebut kemerdekaan, menegakkan kemerdekaan, memelihara kemerdekaan sampai akhir zaman, sesuai dengan sumpah kita, “sekali merdeka tetap merdeka”. Itulah asal usul sebutan Daerah Modal untuk daerah Tingkat I Provinsi Daerah Istimewa Aceh.

  1. Bumi Iskandar Muda

Aceh disebut juga Bumi Iskandar Muda. Hal ini sehubungan dengan kejayaan yang dicapai Aceh dimasa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1606-1636). Ia memerintahkan selama tiga puluh tahun. Dimasa itu kerajaan Aceh sangat luas meliputi Aceh, Langkat, Deli, Tanjung Balai, Riau, Perak, Pahang, Johor, Kedah yang semua daerah itu di semenanjung Melayu juga bahagian dari Aceh. Angkatan perang Aceh dapat mengusir angkatan perang Portugis di Malaka hingga mereka terpaksa lari ke Goa (India). Kemakmuran rakyat di masa itu cukup merata. Sampai dewasa ini masih hidup sebuah syair Aceh yang mengisahkan kebesaran dan keagungan masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda di Aceh. Syair tersebut berbunyi:

Naggroe Aceh nyoe seuramoe Mekkah

Naggroe mutuah pusaka kaya

Nanggroe meusyuhu hase le leupah

Lawet perintah Iskandar Muda

Terjemahan bebas:

Negeri Aceh ini Serambi Mekkah

Negeri bertuah mempusakai kaya

Negeri masyhur (tersohor) hasilnya melimpah

Masa pemerintah Sultan Iskandar Muda

  1. Negeri Darah Pahlawan

Dan terakhir sekali Aceh disebut sebagai Negeri Darah Pahlawan. Hal ini juga sebagai proses sejarah yang terjadi di masa perjuangan menentang agressi Belanda ke Aceh. Pertempuran terus-menerus terjadi selama puluhan tahun. Karena itu Bung Karno ketika berpidato di Koetaradja (Banda Aceh), 15 Juni 1948 berkata: “saya mengetahui bahwa rakyat Aceh adalah pahlawan. Rakyat Aceh adalah contoh perjuangan kemerdekaan seluruh rakyat Indonesia. Seluruh rakyat Indonesia mengetahui hal ini, seluruh rakyat Indonesia melihat ke Aceh, mencari kekuatan batin dari Aceh, dan Aceh tetap menjadi obor perjuangan rakyat Indonesia”, demikian Bung Karno.

Kalau Bung Karno mengatakan dimasa 32 tahun lalu, bahwa “seluruh rakyat Indonesia melihat ke Aceh, mencari kekuatan batin dari Aceh”, maka dewasa ini, seluruh rakyat Indonesia juga melihat ke Aceh mengikuti perkembangan penyelenggaraan MTQ Nasional yang ke XII, baik melalui RRI ataupun melalui TVRI. Dengan adanya saling kenal mengenal sifat dan adat-istiadat dari berbagai suku bangsa di negara ini, persatuan bangsa menjadi lebih kokoh. Semoga Allah akan melindungi kita semua dan MTQ Nasional ke XII kita doakan semoga sukses tanpa rintangan. Insya Allah/.            Sekian/.

Note : JIKA ARTIKEL INI TERLALU PANJANG, PENULIS TIDAK KEBERATAN KALAU DIPOTONG SEBAGIANNYA ATAU MANA YANG KURANG PENTING.

Catatan mutakhir: sedihnya, gelar-gelar itu, menjadi bahan yang memudahkan orang Aceh “tertipu” pula!. Pujian memang memabukkan!!  Waspadalah!!!.

Bale Tambeh, Aleuhad/Ahad, 6 Sa-Usen 1432/12 Desember 2010 M

Mesjid Raya Baiturrahman Lambang Islamnya Rakyat Aceh.

Satu Abad Bentuk Permanen :

(1881 – 1981)

MESJID RAYA BAITURRAHMAN

LAMBANG PANCA SILA DI ACEH.

 

Oleh : T. A. Sakti,

 

BAGI  para pembaca setia Harian Waspada dihari-hari terakhir ini, mungkin telah membaca sejumlah berita tentang Mesjid Raya Baiturrahman yang sedang bersolek diri untuk menyambut para tetamu yang menghadiri MTQ Nasional ke XII, di Banda Aceh. Di samping berita, juga foto mesjid yang megah itu telah dimuat di harian ini. Buat kali ini penulis akan coba menelusuri sejarah ringkas dari Mesjid Raya Baiturrahman tersebut sejak tahun pertama dibangun hingga saat-saat menjelang MTQ Nasional XII tanggal 7 Juni 1981. Selamat mengikuti!.

Mesjid Raya Baiturrahman telah dibangun sejak masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah tahun 665H (1292 M). Phisik bangunan pada masa itu juga telah mengenal semen ala kuno. Semen dibikin dari campuran tanah liat warna merah dengan telur ayam. Daya tahannya juga dapat menjangkau ratusan tahun. Semen jenis ini masih kita jumpai pada mesjid-mesjid tua yang ada di Aceh. Begitulah dengan Mesjid Raya Baiturrahman, ia juga dibangun dari bahan semen jenis tersebut. Semen itu hanya untuk lantainya saja, sedangkan tiang-tiang dan dindingnya terdiri dari kayu pilihan. Pada pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1637), mesjid ini diperluas lagi hingga merupakan mesjid terindah di Asia Tenggara saat itu. Dimasa itu disamping Mesjid Raya Baiturrahman sebagai mesjid kerajaan, masih ada sebuah mesjid lagi di dalam pagar istana Daruddunnya. Mesjid istana ini bernama Mesjid Baiturrahim. Nama dari Mesjid Raya Baiturrahim ini sekarang telah dijadikan nama dari Mesjid Raya Baiturrahim di Istana Merdeka,  Jakarta. Pemberian nama mesjid istana negara dengan nama Mesjid Raya Baiturrahim di Banda Aceh adalah sebagai tempat mengenang kembali salah satu dari kerajaan-kerajaan besar di negara ini yang telah sanggup mengatasi pergolakan-pergolakan internasional di masa itu. Usul ini diajukan oleh Bapak A. Hasjmy selaku Gubernur Aceh kepada presiden pertama republik Indonesia Bung KARNO. Usul tersebut diterima oleh Presiden Soekarno, maka kekallah mesjid Baiturrahim sebagai Mesjid Istana Negara hingga dewasa ini, demikian antara lain isi ceramah magrib dari seorang ulama Aceh; Sayed Sulaiman di Mesjid Raya Banda Aceh hari Jum’at tanggal 22 Mei 1981.

Mesjid Raya Baiturrahman adalah mesjid jami’, dimana pada saat-saat tertentu Sultan Aceh bersembahyang ke sana. Dalam sebuah naskah tua yang kini disimpan dalam Manuscript India office Labrary pada verhandelingan vanhet koninkklyk dan telah diperbanyak oleh Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Aceh 1976 ada menjelaskan tentang adat istiadat ketika Sultan Iskandar Muda menunaikan shalat Idul Adha dan shalat Jum’at. Naskah yang transkripsinya dibuat oleh Teungku Anzib Lamnyong (Sejarawan Aceh), selanjutnya menjelaskan: ‘ALQISSAH maka tersebutlah perkataan adat majelis hadlarat Syah ‘Alam Berangkat Sembahyang Hari Raya Haji ke Mesjid Baiturrahman. Maka adalah tatkala pada 10 hari bulan Zulhijah pada waktu shubuh datanglah penghulu payung Amat Diraja. Maka didirikanlah orang  payung yang keemasan kiri-kanan jalan, pada pintu cermin Jum’at sampai ke balai Pedang payung yang keemasan dan berkemuncak emas.Kemudian dari Balai Raksa sampai ke Balai Geundrang payung yang berkemucak Suasa dan dari Balai Geundrang sampai kehadapan beberapa payung pelangi berkemucak perak, daripada penghadapan Biram itu sampai ke Mesjid Baiturrahman payung putih berkemucak air emas. Maka adalah kiri-kanan pintu cermin Jum’at payung ubur-ubur 7 lapis dan kiri-kanan pintu Balai Pedang payung 5 lapis dan kiri-kanan Balai Geundrang payung 3 lapis dan kiri-kanan pintu Balai Bentara Blang payung 2 lapis dan kiri-kanan pintu Mesjid Baiturrahman payung 7 tingkat. Maka adalah kiri-kanan Astana payung ubur-ubur 7 lapis.

Maka adalah daripada payung-payung yang tersebut ini berselang-selang payung unggul-unggul seperti jenis ini juga. Setelah segenap tempatnya berpercik emas dan unggul-unggul pun juga,, syahdan maka adalah tatkala hadlarat Syah Alam dari dalam kota Daruddunia masuk ke dalam Mesjid Baiturrahman, adalah sebagai raja Iskandar Zulkarnain pergi mendatangi segala negeri dari Masyrik ke Maghribi. Demikianlah disifatnya  dengan tentara berpasukan datang bersaf-saf dan segala penghulu yang ternama-nama dan dari pada segala anak hulubalang yang membawa alat pawai yang berlapis-lapis dari pada janjangan ‘alamat (bendara kerajaan-pen) dan dari pada alat kerajaan yang tiada terpermanai lagi dengan segala bunyi-bunyian dan terlalu ‘adlamah bunyinya, dari pada segala gajah dan kuda yang beperhiasan yang bertatahkan ratna mutu manikam dari pada nilam pualam dan puspa ragam dan intan baiduri yang terkenakan pada segala alat kerajaan dan alat pawai”, demikian sebagian kisah naskah tua itu tentang persiapan-persiapan ketika Sultan Iskandar Muda bershalat Idul Adha ke Mesjid Raya Baiturrahman.

Tentang suasana bila Sultan Iskandar Muda bershalat Jum’at ke Mesjid Raya Baiturrahman, naskah tua tersebut dengan gaya bahasa Melayu lama menjelaskan sbb: “Setelah sampailah hadlarat Syah ‘Alam ke dalam pintu mesjid, maka hulubalangpun menyimpang kekanan pintu mesjid, berdiri masing-masing pada tarafnya. Apabila terserlahlah Syah ‘Alam kedalam diwal pintu mesjid, maka tatkala itu gendrangpun dialihkan oranglah murainya kepada ragam siwajan.

Maka Kadli Malikul ‘Adil dan segala fakihpun bersegeralah masuk ke dalam mesjid berdiri di hadapan pintu kuri diwal yang tempat Syah ‘Alam sembahyang. Maka apabila sampailah hadlarat Syah ‘Alam ke Astaka, maka Bentara yang membawa Salih dan penghulu Bujang Dandani dan Meungat Meukuta penghulu pengumpulan bersegeralah ketiga naik ke atas Astaka, hadirlah menyambut Syah ‘Alam serta menatingkan hulu pedang Salih, Maka Syah ‘Alam pun berangkat dari Astaka lalu keraja paksi. Maka dilepaskan Syah ‘Alam hulu pedang Salih itu. Maka segala hulu balang beralih menghadap ke Astaka, maka genderangpun dialihkan oranglah murainya kepada ragam kuda berlari. Dan segala alat pawaipun menyanjungkan tangannya ke atas kepalanya. Maka masuk Syah ‘Alam ke dalam jerajak kekisi, maka segala hulubalang pun beralih kekiri masing-masing mengiringi Syah ‘Alam masuk ke dalam masjid, berdiri pada tarafnya,. Maka hadlarat Syah ‘Alam ke dalam mesjid kelambu, maka kelambu yang berwarna keemasan itupun ditutup oranglah, Maka hadlarat Syah ‘Alam pun sembahyang sunat tahiyyatul mesjid 2 rakaat satu salam. Maka Bilal pun Banglah (azan-pen). Setelah sudah Bilal azan, maka sembahyanglah sunnatul Jum’at satu salam. Setelah itu maka Penghulu Bilalpun menatingkan (memegang-pen) tongkat khotbah itu serta menyambut shalawat akan Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam, memberi salam ke kanan, ia naik ke atas mimbar, maka Penghulu Bilal Chanpun mengatakan : “innallaha wa malaikatahu yushalluna ‘alan Nabi  ya aiyuhal ladzina amanu shallu ‘alaihi washallimu taslima”. Setelah itu sampailah Khatib ke atas mimbar, maka ia memberi salam, demikian bunyinya : “Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuhu”. Setelah itu maka ia duduk, maka Bilalpun banglah dua orang sekali, setelah itu maka Bilalpun mengatakan: ‘An Abi Hurairah Radhiallahu ‘anhu hingga akhirnya, setelah itu maka Khatibpun mengatakan “Alhamdulillah”. Maka membaca khotbahlah dua khotbah, setelah selesai ia dari pada membaca khotbah itu, maka Penghulu Bilalpun Qamatlah ia. Setelah sudah qamat, maka imam pun tampil akan sembahyang Jum’at dengan segala makmum 2 rakaat satu salam. Setelah itu maka membaca tasbih dan membaca do’a akan hadlaratun Nabi dan do’a chair akan Syah ‘Alam.

Maka sembahyang sunat 4 rakaat dua salam, setelah itu maka disingkap oranglah tirai kelambu”. Demikianlah menurut manuskrip tua tersebut. Setelah Sultan Iskandar Muda mangkat, tinggallah Mesjid Raya Baiturrahman dalam pengurusan Sultan-sultan pengganti beliau. Di masa pemerintahan sultan Nurul ‘Alam tahun 1675, mesjid yang megah ini pernah terbakar dengan tidak tersengaja. Dan ia tidak terbakar seluruhnya.

BENTUK PERMANEN GENAP SEABAD

Tahun 1873 kerajaan Belanda melakukan intervensi terhadap Kerajaan Aceh Darussalam. Pertempuran sengit terjadi. Dengan penuh bersusah payah, akhirnya pihak angkatan Belanda dapat menerobos benteng pertahanan Aceh di pinggir pantai (tepi laut). Sebelum mengepung Kraton pihak Belanda harus lebih dahulu menghancurkan pertahanan terkuat pihak rakyat Aceh  di Mesjid Raya Baiturrahman. Benteng-benteng pertahanan Baiturrahman dipertahankan mati-matian oleh segenap patriot bangsa kita. Hal itu bisa terjadi, kerena Mesjid Raya Baiturrahman merupakan Jantung Hati dan Kebanggaan Rakyat Aceh. Tanggal 10 April 1873 ) kamis, 11 shafar 1290 H) Mesjid Raya Baiturrahman terbakar akibat serangan Belanda yang bertubi-tubi ke arah masjid. Seluruh harta benda – dana mesjid ikut terbakar. Walaupun mesjid telah musnah, pasukan mujahidin Aceh masih terus bertempur. Untuk melihat keadaan di medan pertempuran, panglima tertinggi pasukan Belanda Jenderal kohler mengadakan peninjauan sekitar mesjid. Sewaktu jenderal Kohler sedang asyik mengitari di dalam masjid, tiba-tiba sebutir peluru yang ditembakkan oleh seorang pejuang Aceh yang bersembunyi dekat situ, tepat mengenai dan bersarang di dada sang Jenderal. Ia terkulai dan jatuh tersungkur. Akibat kematian Jenderal Kohler sebagai Panglima Tertingginya, pasukan Belanda terpaksa lari tunggang langgang, naik kapal pulang ke Batavia (Jakarta).

Tragedi ini adalah peristiwa yang pertama sekali dalam sejarah Dunia, yaitu keangkuhan tentara Barat (Eropa) dapat dikalahkan oleh angkatan perang dunia Timur yang telah ditempa dengan semangat juang yang membaja disinari dengan jiwa tauhid kepada Allah. Sebelum tentara Jepang mengalahkan pasukan Rusia di tahun 1905, bangsa Indonesia (Aceh) telah lebih dahulu mengalahkan pihak Barat (Eropa) hanya dengan satu pelor bertempat di Mesjid Raya Baiturrahman.

Menurut tulisan Tgk. M. Hasballah Aneuk Galong (majalah santunan no. 55 tahun ke VI halaman 13), bahwa di kampung Pelanggahan dan kampung Jawa, kira-kira 1 km dari Mesjid Raya Baiturrahman, terdapat sebuah tugu bikinan Belanda yang masih utuh. Pada tugu tersebut ada tertulis: “Hier ruatan 10 strijders den heldendood gestorvan den 6 Januari 1874 bij het nemen van de versterking voor de missigit” (disini bersemadi 10 orang serdadu Belanda yang tewas sebagai pahlawan pada tanggal 6 Januari 1874 ketika merebut dan memperkuat pertahanan di muka mesjid”. Keterangan pada tugu itu, terjadi ketika agresi Belanda kali kedua dengan Panglima Tertingginya dipimpin oleh Jenderal Van Swieten. Ia adalah pensiunan, tapi karena sebagai seorang ahli taktik perang, Van Swieten terpaksa dipanggil kembali untuk berjuang di Serambi Mekkah. Setelah kota Bandar Aceh dikuasai Belanda , Jenderal Van Swieten menjanjikan akan membangun kembali mesjid yang terbakar itu. Janji itu tidak segera terwujud, berhubung keamanan pasukan Belanda tidak terjamin didalam kota. Mereka setiap saat di tunggui pelor maut dari pasukan kita.

Salah satu jalan yang dipikirkan pihak Belanda untuk dapat meredakan perjuangan pihak kita adalah dengan membangun kembali mesjid, makanya “Sebelum kembali ke Jawa (sekali lagi-pen) Jenderal Van Swieten memaklumkan, bahwa pemerintah Hindia menghormati sepenuhnya kemerdekaan orang-orang Aceh dan hendak membangun mesjid yang telah hancur sebagai akibat serangan Belanda itu. Rencana dibuat oleh architect Bruint dari Departemen Pekerjaan Umum (Departement Van Burgerliyke Openbaare Werken) di Betawi dengan kerja sama Op Zichter L.P. Luks dan insinyur-insinyur lain serta di bantu pula oleh Penghulu Besar Garut agar polanya tidak bertentangan dengan aturan-aturan Islam”. “Tidak mudah membuat mesjid sesuai dengan yang direncanakan Belanda , kecuali kalau mereka mau membuatnya dari kayu nangka dan atap nipah. Yang menarik dalam rangka merangkul rakyat, Belanda begitu bersusah payah berusaha untuk mendirikan sebuah mesjid, yang menurut mereka akan meninggalkan kesan yang baik. Tapi timbul tiga kesukaran: soal tenaga kerja, urusan pemborong dan masalah bahan bangunan. Dalam soal tenaga kerja ini,  orang-orang Belanda mengharapkan agar orang-orang Aceh dapat bekerja dalam proyek ini. Tetapi karena gagal dan selalu mengecewakan, maka terpaksalah akhirnya dipakai tenaga bangsa Cina. Kemudian karena tidak kenal akan medan bangunan (bouwter rein) dan takut akan kesulitan-kesulitan dalam pelaksanaan, maka pemborong-pemborong yang  jumlahnya memang tidak banyak di Jawa itu, tidak ikut dalam penawaran, Hanya seorang yang memasukkan, yaitu Lie A Sie, seorang letnan Cina di Aceh. Ia memperoleh borongan itu dengan biaya f 203000 (rupiah Belanda -pen). Bahan-bahan bangunan berasal dari luar negeri, kapur dari Pulau Pinang, batu-batu dari negeri Belanda , batu pualam untuk tangga dan lantai dari Tiongkok, besi untuk jendela di import dari Belgia, kayu dari Moulmein (Birma), kerangka besi yang berat dari Surabaya. Mesjid, yang upacara peletakan batu pertamanya berlangsung di depan mata Jenderal Van der Heyden, diserah terimakan pada tanggal 27 Desember 1881 dengan diiringi tembakan meriam tiga belas kali serta kenduri. Kunci diserahkan kepada Kadli Malikul ‘Adil oleh gubernur A. Pruys Van der Hoeven. Pengurusan diserahkan kepada Teungku Syech Marhaban, seorang ulama besar yang terkenal, berasal dari Pidie”. Demikian terdapat dalam tulisan T. Ibrahim Alfian-dari Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Aceh 1976.

Mesjid yang dibangun itu hanya berkubah satu buah.

Perjalanan waktu dari mesjid Baiturrahman sejak ia berbentuk permanen th 1881 hingga sekarang tahun 1981 telah genap satu abad. Ulang tahun ke seratus inilah yang kita peringati dalam artikel singkat ini.

Kemudian pada tahun 1935 mesjid diperluas lagi dengan biaya F. 35.000 (tiga puluh lima ribu rupiah gulden Belanda ). Pekerjaan ini ditangani oleh B.O.W. (Departemen Pekerjaan Umum) dengan pimpinannya Ir. M. Tahir. Sebagai akibat dari perkembangan itu adalah penambahan luas ruangan dalam kearah kiri dan kanan dan penambahan dua buah kubah lagi, sehingga jumlahnya menjadi tiga buah kubah.

ZAMAN MERDEKA DAN IKRAR BAITURRAHMAN

Setelah SOEKARNO-HATTA memproklamirkan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, maka usaha untuk memperluas dan menyesuaikan identitas mesjid raya Baiturrahman agar sesuai dengan zaman merdeka terus dilanjutkan. Hal ini ternyata dibuktikan dengan pembentukan sebuah panitia yang namanya “Panitia Usaha Memperluas Mesjid Raya Koetaradja” tahun 1948. Panitia yang disingkat “PUMMER” itu turut menjadi pengurusnya adalah  Ayahanda Tgk. Muhammad Daud Beureu-Eh, Tgk. Abdul Aziz dan sejumlah anggota yang lain. Mungkin akibat agresi Belanda yang tidak pernah bosan untuk kembali kei Indonesia, maka panitia ini tidak dapat berjalan, karena hampir segala-galanya yang ada diwaktu itu hanya untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Barulah semasa Gubernur Aceh A. Hasjmy (Rektor IAIN Ar-raniry sekarang) perluasan mesjid ini dilanjutkan. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Menteri Agama Republik Indonesia masa itu Kiyai Haji Muhammad Ilyas pada tanggal 16 Agustus 1958. pembangunan itu baru siap tahun 1963. Setelah selesai, mesjid itu semakin anggun dan indah sekali, kubahnya menjadi lima buah sebagai pelambang Pancasila di Tanah Rencong (Aceh).

Pada bulan Maret 1980, Mesjid Raya Baiturrahman mendapat kehormatan dengan kunjungan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI): Prof. Dr. Hamka bersama Sekretaris Jenderal Majelis tersebut H. Amiruddin Seregar. Dalam pidatonya Abuya Hamka juga menyinggung tentang sejarah mesjid ini. Kata beliau; mesjid yang dibangun Belanda itu memang cantik, tapi ketahuilah, bahwa harta benda (emas simpanan dan barang lainnya) yang dirampas mereka sangat banyak jumlahnya. Biaya yang digunakan Belanda untuk membangun kembali mesjid yang telah terbakar itu hanya sebagian kecil dari hak milik mesjid yang telah dirampasnya. Ceramah yang berlangsung tanggal 12 Maret 1980 bertepatan tanggal 25 Rabiul Awal 1400 H didahului oleh ceramah dari Bapak H. Amiruddin Seregar. Sebagai protokol adalah bapak Ali Hasjmy yang  juga Bapak Pendidikan Aceh itu. Semua ceramah hari itu turut disiarkan secara langsung oleh Radio Suara Baiturrahman.

Suatu kejutan besar bagi para pendengar ceramah; ketika bapak H. Amiruddin Seregar meminta kepada seluruh rakyat Aceh untuk menyerahkan gelar Serambi Mekkah sebagai suatu sebutan bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh; untuk dibawa pulang beliau ke Jakarta dan selanjutnya akan dipakai bagi sebutan kota Jakarta, hingga menjadi Jakarta Kota Serambi Mekkah. Permintaan itu memang tidak pernah terjadi sejak daerah Aceh muncul di dunia, sangat mengagetkan semua peserta ceramah dan para pendengar Radio Suara Baiturrahman. Atas permintaan itu dengan spontan mendapat jawaban dari pengikut ceramah dengan pernyataan tidak setuju. Untuk mendapatkan kejelasan dan ketegasan dari jawaban itu;  Prof. A. Hasjmy sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama pada semua hadirin dengan suara yang lebih tegas dan lantang, hadirin menyatakan tidak setuju. Pernyataan itulah yang penulis maksudkan Ikrar Baiturrahman. Ikrar Baiturrahman adalah pernyataan dari rakyat daerah Aceh untuk  tidak melepaskan gelar Serambi Mekkah bagi daerahnya, terjadi tanggal 12 Maret 1980/25 Rabiul Awal 1400 H.

Dalam dua tahun terakhir ini, Mesjid Raya Baiturrahman semarak keadaannya sehubungan dengan telah berkumandangnya Radio Suara Baiturrahman setiap hari. Semua upacara memperingati Hari-Hari Besar Islam   yang diadakan di mesjid itu; sudah pasti  disiarkan melalui radio itu. Ceramah subuh dan magrib juga turut disiarkan. Dengan demikian, jangkauan ceramah tersebut dapat diikuti oleh peminat yang banyak. Bagi mereka yang ketagihan sport pagi setelah shalat subuh, kebanyakan mereka mengantongi radio transistor mini di saku celana. Sambil lari-lari kecil, mereka juga mengikuti ceramah subuh yang dipancarkan Radio Suara Baiturrahman. Bagi penduduk Banda Aceh, rasanya sudah ketagihan dengan ceramah-ceramah Mesjid Raya Baiturrahman. Sampai-sampai ketika turun ke jalan di pagi subuh, Baiturrahman turut bersama, mana tahaaaann!!!. Perlu juga Anda ketahui, bahwa Radio Suara Baiturrahman sangat populer di kota Banda Aceh. Baik golongan tua maupun remaja sangat terpikat dengannya. Hal ini disebabkan kelihaian pihak pengasuh Suara  Baiturrahman dalam mengelolanya.

Pada masa akhir-akhir ini, Mesjid Raya Baiturrahman sedang giat-giatnya membenahi diri untuk persiapan menyambut Qari-Qariah MTQ Nasional ke XII tanggal 7 Juni nanti. Keindahan dan keanggunan semakin bertambah di waktu MTQ Nasional berlangsung. Anda pasti kagum bila anda menyaksikannya sendiri. Masuk ke mesjid ini merupakan satu rahmat bagi anda, karena akan mendapat ketenangan jiwa. Banyak kaum remaja yang sedang mengalami frustrasi yang telah terobat batinnya setelah sembahyang dan duduk istirahat di dalamnya.

Dengan berlansungnya MTQ Nasional ke XII di Banda Aceh, dimana Mesjid Raya Baiturrahman termasuk salah satu dari tempat-tempat musabaqah tersebut, maka Lambang Pancasila di Aceh yang ditunjukkan oleh lima buah kubahnya akan semakin nyata lagi. Hal ini karena di saat-saat berlangsungnya MTQ Nasional itu, seluruh provinsi di Indonesia turut di wakili ke sana, yang berarti sila ketiga dari Pancasila yaitu persatuan Indonesia akan terjelma. Memang benarlah semboyan kita, bahwa Mesjid Raya Baiturrahman Lambang Panca Sila di Aceh!!!.

Bucue, 24  – 5  –  1981

Grop Tamatdaroih

Grop Tamaddaroih

Oleh: T.A. Sakti

Khanduri Tamaddaroih(Kenduri tanda tamat tadarrus Al Qur’an) adalah tradisi di bulan Ramadhan yang terus berkembang di Aceh hingga sekarang. Dulu, setiap kali – biasanya 3 s/d 4 kali – tadarus/pembacaan Al Qur’an dapat ditamatkan, khanduri tamaddaroih pasti akan berlangsung di Meunasah. Sekarang pun demikian!. Perbedaannya jelas ada, antara lain tentang saat/waktu acara itu berlangsung dan jenis“selingan” yang ditampilkan sebelum makan bersama tersebut dilaksanakan. Memang ada perbedaan waktu makan khanduri tamaddaroih antara zaman dulu dengan sekarang. Kalau dahulu pasti tetap pada saat dinihari, yang sekaligus menjadi makan sahur bagi warga kampung yang hadir. Sedangkan sekarang, waktu makan kenduri itu sudah berubah,yakni dilangsungkan setelah shalat maghrib berjamaah. Acara “selingan” pun pada malam itu juga sangat berlainan antara dulu dengan masa kini.                                       Dewasa ini penduduk desa yang hadir disuguhi ceramah agama yang disampaikan oleh Teungku(ahli agama), yang sengaja diundang untuk tujuan itu. Atau kalau acara ceramah tak jadi, biasanya diganti dengan do’a bersama, yakni semacam do’a bersama pada bermacam kenduri dalam tradisi Aceh – yakh, paling lama 20 menit!.

Pada zaman dulu sebelum acara menikmati hidangan, peserta yang hadir terlebih dahulu melakukan tarian syukuran yang dinamakan: Grop Tamaddaroih (tarian Tadarrus). Pembacaan Al Qur’an sengaja ditiadakan pada malam tersebut. Waktunya, sejak selesai sembahyang ‘Isya sampai saat makan sahur; paling lambat jam tiga dini hari. Dengan melilitkan kain sarung di pinggang agar lebih tegap, peserta tarian mengatur posisi menurut panjang -lebarnya Meunasah yang bertiang tinggi itu. Tua muda ikut serta dalam permainan ini, tak terkecuali penganten baru(Linto baro), yang biasanya lebih dihormati di desa. Dalam pengertian tempo dulu, gelaran Lintobaro/penganten baru masih terus melekat pada seseorang; sejak mulai upacara ‘Intat Linto”/mengantar mempelai laki-laki ke rumah Darabaro sampai dua tahun setelah itu(mempunyai anak pertama). “Ilahy katammat kalam beuet Quru’an ka samporeuna, le that pahla ta beuet Quru’an, Tuhan bri kandran blang padang masya. Sajan kandran na saboh payong, uroe tutong hana sapat bla!” (Ya Tuhanku, sekarang kami selesailah kalam, karena kami telah khatamkan Al Qur’an . Banyak pahala bagi yang membaca Al Qur’an; Tuhan berikan kendaraan di Padang Mahsyar– bila hari kiamat tiba. Pada kenderaan ada satu payung, panas terik tak ada yang terlindung). Itulah sekedar kutipan dari salah satu lagu.

Syair Grop Tamaddaroih banyak macamnya; baik yang berbahasa Arab maupun bahasa Aceh, yang dinyanyikan sambil meloncat dan lari-lari kecil. Bunyi hentakan kaki(tindrom-tindrom gaki) dan gema syair lagu-lagu, cukup menggelegar keseluruh kampung, bahkan tembus ke desa-desa lainnya. Apalagi sebagian peserta memang sengaja mencari-cari bagian lantai papan Meunasah yang pecah(aleue beukah),maka dapatlah dibayangkan; bagaimana besar gemuruhnya jika papan pecah yang ditendang/diinjak-injak dengan sekuat tenaga. Irama loncatan dan bunyi hentakan kaki terdengar serasi, tidak sumbang; karena permainan itu memang punya tata cara tersendiri yang sudah dijiwai para peserta. Getaran lantai tidak hanya menimbulkan irama yang indah, tetapi juga sekaligus berfungsi sebagai pemberi pengumuman kepada penduduk desa-desa lain, bahwa kampung mereka sedang mengadakan khanduri Tamaddaroih buat kesekian kalinya. Dan hal ini merupakan suatu kebanggaan istimewa pada masa itu.

Peugrob Lintobaro Satu adegan lainnya yang kadang-kadang pernah dilakukan pada Grop tamaddaroih tempo dulu, adalah Peugrob Lintobaro (meloncat-loncatkan pengaten baru). Perbuatan yang dianggap kurang pantas ini, tidaklah dilakukan terhadap semua Lintobaro, tetapi hanya ditujukan kepada penganten baru yang congkak, sombong, terutama yang malas datang ke Meunasah selama bulan Puasa atau sebelumnya. Linto baro dirangkul sambil diangkat-angkat beramai-ramai sampai lemas. Ketika itu mereka menyanyikan:” Hob ala ya hob, linto baro han jitem grop.Hai aneuk ka kalon dilee, munoe lagee kamoe grop-grop!” (Hob ala ya hob, penganten baru nggak mau loncat. Wahai anak lihat dulu, begini laku kami loncat!).

Inilah salah satu hukuman masyarakat pada masa dulu, terhadap orang yang menyombongkan diri dalam pergaulan di desanya. Hukuman lainnya yang diberikan masyarakat/terutama oleh para pemuda kampung terhadap Lintobaro yang jarang ke Meunasah antara lain: memboikot acara buka puasa bersama – tradisi Buka Puasa Lintobaro – yang dilaksanakan Lintobaro di Meunasah, dipasangkan duri bambu(duroe trieng/keureungkeum) pada tangga rumah Lintobaro, ditanamnya batang pisang(dipula bak pisang) di sawah milik Lintobaro dan lain-lain. Karena tidak bisa mengaji Al Qur’an termasuk salah satu alasan seorang Linto baro malu/malas pergi ke Meunasah dimalam bulan puasa, maka para orang tua sangat hati-hati demi menjaga martabat diri dan anaknya dalam “satu” hal ini.

Sejak kecil, anak-anak sudah diantar mengaji ke Meunasah. “Mengajilah rajin-rajin, biar nanti waktu kamu kawin tidak memalukan kami”, pesan sang orang tua kepada anaknya, ketika menyerahkan dia kepada guru ngaji(Teungku seumeubeuet) Hal itu terjadi zaman dulu, bagaimana dengan keadaan sekarang?. Masyarakat Aceh masih tetap mengadakan tradisi khanduri tamaddaroih, walaupun dengan variasi yang berbeda. Tetapi tradisi “Grop Tamaddaroih” di bulan Ramadhan sudah punah ditelan zaman. Sementara itu, kesungguhan orang tua mendidik anaknya pun dalam hal agama sudah kian memudar!!!. ( Sumber: Buletin WARTA UNSYIAH, edisi 130/Agustus 2010, rubrik “Warta Budaya” halaman 24.

Mahasiswa Unsyiah Malas Membaca?

Sanggahan Terhadap Sindiran:

MAHASISWA UNSYIAH MALAS MEMBACA???

Oleh: T.A. Sakti

Seringkali kita mendengar sentilan homoris, bahwa mahasiswa Unsyiah malas membaca. Sindiran ironis tersebut dilontarkan oleh berbagai kalangan, baik dari pihak luar maupun oleh mahasiswa Unsyiah sendiri. Sebagai mahasiswa dari Unsyiah, penulis merasa terpanggil untuk menelusuri, hingga di mana kebenaran tuduhan tersebut. Dan artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis!!!. Membaca, merupakan kebutuhan pokok seorang mahasiswa/i. Dari hasil membaca inilah si mahasiswa, memperluas horizon pemikirannya. Kalau kita hendak mengukur, sampai di mana tingkat intelektual seseorang. Lihatlah, apakah dia seorang yang banyak membaca atau tidak. Jika banyak, sudah pasti dia dapat bertanggung jawab sebagai insan Perguruan Tinggi. Jika sebaliknya, ia belum cukup syarat sebagai manusia akademis. Kebiasaan membaca tidak dapat dijadikan konsumen utama setiap hari, jika tidak dibiasakan sejak Sekolah Dasar. Membaca termasuk suatu pekerjaan yang membosankan, jika kita belum sampai ke taraf ‘ketagihan’, bagi seseorang. Hal ini akan tercapai kalau seorang anak dianjurkan banyak membaca sejak kecil. Pepatah Aceh menyatakan:” Auwalu kuttu biat, peue nyang lazem nyan mangat” (sesuatu yang dibiasakan, menjadi mudah). Berbahagialah orangtua, yang turut berpartisipasi serta mendorong anaknya rajin membaca. Dan yang dimaksudkan dengan ‘membaca’ di sini adalah membaca berbagai ilmu pengetahuan, yakh, tentunya sesuai dengan umur. Jadi membaca bukanlah dimaksudkan mengulang kaji mata pelajaran saja. Tapi membaca segalanya, asal bermanfaat. Sayang sekali inisiatif yang baik dan berfaedah ini, tidak dapat dilakukan oleh setiap orangtua bangsa kita, karena bebagai faktor. Menjadi jelas, bahwa yang memberi kemungkinan membiasakan seorang anak suka membaca, hanyalah bagi orangtua yang domisili di kota. Dengan perpustakaan yang jumlahnya memadai serta dilengkapi dengan perlengkapan bahan bacaan yang sepadan, pasti memperoleh input yang diharapkan. Beruntunglah anak-anak yang hidup di kota. Dan mereka patut bergembira karenanya…!!! Tapi, bagaimana dengan anak desa?. Baru saja kita mengalihkan pikiran ke desa, dengan segera akan tampillah di depan kita bayang-bayangan kemunduran dan kekolotan.. Mau bicara soal perpustakaan desa?. Tunggu dulu!. Mencukupi buku mata pelajaran sekolah pun belum tentu terpenuhi. Dalam hal penggunaan waktu membaca, juga merupakan masalah yang sulit diatasi oleh anak-anak desa. Selain waktu sekolah formil, semua waktu selebihnya dipakai untuk membantu keluarga. Pak tani di desa memang membutuhkan bantuan yang banyak dari anggota keluarganya, terutama dari anak-anak yang telah sanggup bekerja di sawah/ladang. Keadaan bukanlah sebab orang tua tidak mengerti, bahwa anak-anak harus diberi waktu khusus untuk membaca, tapi memang keadaan terpaksa. Kita masih mendengar tuduhan-tuduhan, terutama dari pemimpin-pemimpin kita, bahwa masyarakat desa masih belum sadar betapa pentingnya pendidikan itu. Penulis berpendapat, tuduhan itu kurang tepat. Sebagian besar masyarakat desa telah sadar bahwa pendidikan itu sangat penting. Misalnya saja, di masa sekarang, sebuah anggapan umum di Aceh telah hilang lenyap. Anggapan salah itu di masa lalu sangat merintangi konsep tujuan pendidikan di Aceh, karena menganggap bahwa setiap orang yang bersekolah akan menjadi kafir (soe jak sikula jeut keu kafe). Anggapan tersebut berakar di zaman Belanda dan tumbuh subur, karena sangat memusuhi penjajah. Dan mereka membenci semua perkara yang berbau Belanda. Tapi kedasaran masyarakat desa akan pentingnya pendidikan itu, hingga kini belum juga mereka memberi waktu yang cukup anak-anaknya untuk membaca, terutama buku-buku pelajaran. Sebagian besar waktu tersita dengan membantu keluarga. Bila mana, fisik anak-anak telah lemah dan lesu,mana mungkin lagi mereka belajar. Banyak sekali pekerjaan yang dapat ditolong anak-anak yang sebahagian besar orang tuanya sebagai petani. Mulai dari mengembala ternak (rabe keubeue/lumo), memotong rumput (koh naleueng),menginjak tanah agar banyak lumpur (ceumacah) dan lain-lain. Semua problema orangtua di desa yang tersebut di atas, mudah-mudahan memndapat pemahaman dari tokoh-tokoh pendidikan kita, terutama yang tidak mengalami hidup di desa. Jadi sebagian telah penulis singgung di atas, bahwa dalam hal memupuk gemar membaca, perlengkapan dan kesempatan yang cukup, hanyalah bagi anak-anak kota. Di kota Banda Aceh misalnya, setiap sekolah sejak dari SD, SLTP, SLTA, dapat kita pastikan bahwa mereka dapat membaca dengan puas di sana. Apalagi bagi SMP dan SMA yang letak berdekatan dengan Pustaka Negara di Jalan Jenderal Sudirman, waaaaahhhh, mereka cukup segalanya. Letak Pustaka Negara itu tidak adil. Yaitu jauh sebagai tempat membaca bagi warga kota Banda Aceh secara keseluruhan. Letaknya jauh dipinggir kota. Sungguh berat si mahasiswa untuk datang ke sana. Setelah turun dari Robur (bis kampus), si mahasiswa terpaksa jalan kaki sejauh satu setengah kilometer. Perlu diingat, tidak semua mahasiswa memiliki kendaraan sendiri. Akibat terlalu jauh harus jalan kaki, sampai ke sana keadaan telah lelah dan pula semua kursi telah penuh dengan pelajar-pelajar pria dan wanita. Mahasiswa yang sengaja datang dari jauh, terpaksa berdiri di samping rak buku, jika mau membaca. Kasihan….,mereka!!!. Namun, si mahasiswa mungkin turut bergembira, karena melihat banyak sekali tunas-tunas bangsanya yang gemar membaca. Dan keadaan ini merupakan satu harapan besar bagi kemajuan bangsa kita di masa depan. Tapi ada baiknya, jika pihak pengurus yang mengelola Pustaka Negara itu, mengadakan ruang yang lebih banyak lagi untuk tempat membaca. Di mana ruang baca bagi pelajar (SD, SMP) dipisahkan dari ruang baca bagi siswa SLTA dan mahasiswa. Tidak sebagai sekarang; bercampur aduk. Kalau kita mengalihkan pandangan ke kampus, di sana pun Pustaka Fakultas dan Pustaka Induk, setiap waktu penuh dengan mahasiswa yang sedang membaca. Apalagi setelah Pustaka Induk tetap dibuka sejak 8.30 sampai 18 wib. Tapi satu hal yang menghalangi bagi kami adalah akibat sebahagian besar mahasiswa Unsyiah tidak mengerti bahasa Inggris. Sedangkan buku-buku dalam bahasa Inggris banyak sekali, suatu hal yang menggelikan. Kesimpulannya; tidaklah benar bahwa mahasiswa Unsyiah malas membaca!. Tapi mungkin hanya fasilitas yang kurang dan terbataassss!!!.

Bucue, 27 Januari 1981.

Menjaring Wali Nanggroe dalam Manuskrip Aceh

  1. MENJARING WALI NANGGROE DALAM MANUSKRIP ACEH

Oleh: T.A. Sakti

Qanun Wali Nanggroe, dipersiapkan oleh DPRA dengan menjaring berbagai informasi. Mulai Jakarta hingga luar negeri, begitu kata berita. Saya bersetuju apa yang berkembang dalam diskusi di Jakarta itu. Bahwa jabatan Wali nanggroe jangan sebatas simbol belaka, tapi harus ada sejumlah wewenang sehingga Wali nanggroe benar-benar berwibawa.

Dalam manuskrip (naskah-naskah lama) Aceh,  juga terdapat  nama  jabatan-jabatan  pemerintahan.  Sebagian naskah itu berhasil saya salin ke dalam huruf Latin selama 15 tahun terakhir. Baik berupa hikayat, nazam dan tambeh, maupun karya lainnya yang ditulis tempo dulu dalam bahasa Melayu, Arab dan Aceh.

Manuskrip itu banyak yang hilang karena tidak dirawat   dan juga tidak lengkap.   Diantaranya nama jabatan pemerintahan yang kurang tertera secara rinci. Misalnya jabatan sultan, raja, perdana menteri , menteri, hulubalang, kadli, bentara, panglima, kepala mukim, keuchik, waki keuchik, imam kampung, keujruen, bujang dan tuha peuet.

Ada beberapa naskah yang  menyebutnya  memadai, khusus menulis tentang jabatan-jabatan pemerintahan di Aceh pada masa lampau. Hal ini dapat dijumpai dalam naskah Adat Aceh, Tazkirah Thabaqat, Tajussalatin dan Adat Meukuta Alam.

Berkaitan dengan Wali Nanggroe, dapat dikaji dengan merujuk pada sejumlah manuskrip Aceh. Pertama, dalam naskah Adat Meukuta Alam. Naskah ini adalah Hukum Dasar atau Konstitusi Tertulis Kerajaan Aceh Darussalam, yang konon dipakai sejak Sultan Iskandarmuda. Selanjutnya direvisi oleh para sultan Aceh kemudian.

Buku Adat Meukuta Alam yang disusun Tuwanku Abdul Jalil (terbitan Pusat Dokumentasi Dan Informasi Aceh, 1991), tersebut beberapa jabatan pemerintahan, yaitu Sultan, Kadli Malikul Adil, Raja Udah na Lela, Panglima Paduka Sinara, Sri Maharaja Indra  Laksamana, Panglima Sagi, Orang Kaya Sri Maharaja Lela, Hulubalang Rama Setia, Teuku Panglima Mesjid Raya, Bentara, Datu, Imum Mukim, Keujruen, Kechik.

Kedua, Hikayat Malem Dagang, yang menceritakan perjalanan Sultan Iskandarmuda beserta pasukannya untuk menyerang Raja Si Ujut-lambang Portugis- ke Malaka. Iskandarmuda bersama sebagian pasukan berangkat lewat darat ke pantai timur Aceh. Sedangkan sebagian lainnya berangkat melalui laut di bawah komando Kapal Cakra Donya. Pada bagian akhir Hikayat ini tertera tahun 1309 H, yang belum diketahui apakah tahun penulisannya atau tahun naskah itu disalin ulang. Dalam Naskah Hikayat Malem Dagang itu dijumpai beberapa nama jabatan pemerintah, Bujang, Teungku Pakeh, Maharaja Indra, (Panglima Pidie), Ja Ulama/ Ja Madinah (Meureudu), Maharaja (Samalanga), Panglima, Tandi, Keuchik, Waki dan Peutua Nanggroe.

Ketiga, Hikayat Akhbarul Karim, dikarang Teungku Seumatang menjelang Belanda menyerang Aceh tahun 1873. Isinya mencakup segala bidang agama Islam. Menurut kitab ini, seseorang memang telah ditentukan pangkatnya. Dalam kutipan berikut ini akan dijumpai beberapa jabatan yang sudah ‘diadatkan’ dikehendak Tuhan kepada seseorang, yaitu; Nyang keu Nabi han keu umat/Nyang keu rakyat hankeu raja. Nyang keu Geusyik han keu Waki/Nyang keu Tandi han Bentara.  Raja, Geusyik, Waki, Tandi dan Bentara adalah jabatan-jabatan pemerintahan masa kerajaan Aceh Darussalam.

Keempat, Hikayat Abunawah. Isinya mengkritik pemerintahan Baghdad. Jabatan-jabatan pemerintahan yang dijumpai di dalamnya adalah Khalifah, Mentroe, Raja, Peurdana Meuntroe, Wazi, Uleebalang, Bentara, Datu dan Bujang.

Kelima, Tazkirat Thabaqat. Naskah yang mengulas struktur pemerintahan Kerajaan Aceh Darussalam; sejak level Keuchik sampai Sultan. Pertama ditulis pada masa Sultan ‘Alaiddin Mahmud Alqahar (sebelum Sultan Iskandar Muda). Terakhir disalin Sayid Abdullah alias Teungku Di Mulek pada masa Sultan Ibrahim Mansur Syah tahun 1270 H. Ditulis jabatan pemerintahan, yaitu Sultan, Raja, Mangkubumi, Mufti, Perdana Menteri, Kadli Malikul Adil, Menteri, Raja Mudasyah Bandar, Hulubalang, Tandi Kawal, Panglima Laot, Panglima Meugoe, Kuejruen Blang, Keuchik, Waki Keuchik, Teungku Sagoe, empat orang wakil Teungku Sagoe dan Tuha Peuet.

Suatu hal yang belum pernah saya jumpai dalam naskah-naskah lain, bahwa Kerajaan Aceh Darussalam pernah membayar tadah (gaji/honor) kepada segenap pejabatnya sejak Sultan sampai kepada 11 orang pejabat dalam setiap kampung di seluruh Aceh. Gaji terendah itu sebesar setengah tahil dua mas (dua ringgit dua mas).

Dari lima manuskrip Aceh itu, ternyata tidak satu naskah pun yang menyebut lembaga Wali Nanggroe. Hanya  istilah Peutua Nanggroe, yang dapat kita temukan dalam hikayat Malem Dagang. Ketika perjalanan lewat darat sultan Iskandar Muda ke Peusangan, beliau bertanya kepada pemimpin masyarakat di sana;

//Padum na kapai di gata sinoe/Tapeugah bak kamoe sigra-sigra/kapai tuanku lah ka neu tanyong/kapai limong di sinoe nyang na/Kricit narit Peutua Nanggroe/ureueng mat sagoe muhon bak raja/Ampon tuanku cahi ‘alam/seumah laman duli sarpada/Kamoe bek neuba bak prang timu/Bek unoe juho prang Malaka/Kamoe tuanku sinoe neu keubah/Meudrop-drop gajah keupo meukuta//

Walaupun belum ke-30 judul naskah yang telah saya alihaksarakan ditampilkan, apalagi naskah-naskah lain yang entah di mana sekarang, untuk sementara saya berpendapat, bahwa jabatan Wali Nanggroe bukanlah produk lembaga politik masa Kerajaan Aceh Darussalam. tetapi hanya produk sejarah Aceh kontemporer. Bila membaca buku “Tgk. M. Daud Beureu-eh; Peranannya dalam Pergolakan di Aceh” yang ditulis M. Nur El Ibrahimy, terdapat enam buah lampiran yang menyebut jabatan Wali Negara. Semua surat-surat/seruan/pengumuman atas nama Wali Negara itu ditandatangani oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh. Menurut pendapat saya istilah Wali Negara itulah yang diterjemahkan ke bahasa Aceh menjadi Wali Nanggroe.

Bila benar demikian, maka wewenang dan kekuasaan Wali Nanggroe  sejajar dengan Gubernur. Agar tidak terjadi “Saboh inong dua lakoe/Saboh Nanggroe dua raja”, maka khusus bagi Nanggroe Aceh Darussalam gelar Gubernur diganti saja dengan Wali Nanggroe. Kalau begitu pun kurang cocok, bertanyalah kepada tokoh yang sekarang sedang digelarkan sebagai  Wali Nanggroe. Kepada Pansus XI DPRA selamat berdiskusi di luar negeri; asai bek huempah-heumpeh ngon peng rakyat Aceh.

  • T.A. Sakti, penulis, peminat sastra

dan penyalin manuskrip Aceh.

Sumber: Harian Serambi Indonesia, Minggu, 31 Agustus 2008

Halaman 18/Budaya.

Menyikapi Zaman Irwandi

Menyikapi Zaman Irwandi

Oleh: T. A. Sakti

Membaca judul tulisan “Ini Era Irwandi”, (Serambi, Rabu, 10 Januari 2007 halaman 18/opini): menjadikan pikiran saya menerawang jauh. Betapa tidak, judul artikel itu seolah-olah hendak menyodorkan sebungkus obat mujarab untuk menyembuhkan daerah Aceh yang selama ini menderita penyakit kronis, yang menahun, malah bertahun-tahun. Setelah saya baca secara lengkap, ternyata obat yang saya harap-harapkan itu tidak tersaji secara utuh. Obatnya memang ada, tapi hanya khusus dihidangkan kepada tokoh pelakon utama- Gubernur baru – yang akan amat berperan di Aceh selama beberapa tahun kedepan.

Bila diringkas, ternyata hanya tiga butir resep yang dikandung tulisan itu, yakni pertama, latar belakang terpilihnya Irwandi. Kedua, nasihat agar sang pemimpin pandai-pandailah meniti buih, yaitu pintar menjalin komunikasi dengan berbagai unsur dalam masyarakat Aceh serta pihak Jakarta. Ketiga, juga himbauan agar sang tokoh tidak terjebak dengan nepotisme. Jadi, hampir semuanya ditujukan kepada Gubernur Aceh, Irwandi, walaupun hal itu juga sangat berpengaruh kepada kehidupan rakyat Aceh di masa mendatang. Tentang harapan kehidupan rakyat Aceh memang ada, hanya amat sedikit. Seperti kehidupan “muge pisang” sebagaimana kata penulis: “Bila dulu  “muge pisang”  dari Kuala Tripa dengan GT (gari tuha/sepeda tua), semoga di era baru ini bisa ‘Muge pisang’ dengan sepeda motor bermesin turbo”. Sayang, si penulis artikel lupa membahas kehidupan “petani pisang” di desa-desa!!!.

Sumber Sembako

Sembilan bahan kebutuhan pokok (Sembako) bagi Aceh sebagiannya  didatangkan dari Sumatera  utara alias Medan. Akibatnya, ban putoh jalan Medan u Sigli/Ka ka’a-ka’i sembako hana!. Hal ini berkali-kali telah terjadi, tapi tak pernah teratasi.  Pernah saya berangan-angan, bahwa problem ini akan mampu disingkirkan oleh dua Gubernur Aceh yang bergelar Profesor ekonomi (ekonom). Ternyata khayalan saya tetap sebagai “cet langet ngon puteng sadeup” juga!. (menghias langit dengan pangkal sabit).

Sungguh Aceh amat  tergantung  dan terikat dengan Medan. Boleh dikatakan, kenyang dan laparnya sebagian  besar rakyat Aceh sangat tergantung lancar-tidaknya hubungan jalan darat antara Aceh dengan kota Medan. Karena sebagian sembako keperluan rakyat Aceh mesti di pasok dari Medan. Sebenarnya, bukan hanya sembako, tetapi hampir berbagai kebutuhan lainnya, seperti; pakaian, barang elektronik, jenis kenderaan dan bermacam kebutuhan hajat-hidup masyarakat Aceh pada umumnya.

Hanya saja, sembako-lah sebagai kebutuhan yang dibutuhkan masyarakat setiap saat, mesti selalu tersedia, tidak boleh terputus-putus. Karena itu, sembako ini haruslah selalu mengalir dari Medan ke Aceh. Bila sempat berhenti- walaupun hanya sehari misalnya- maka kucar-kacirlah (bahasa Aceh: ka’a-ka’i) tatanan kehidupan masyarakat Aceh. Apalagi kalau hambatan hubungan Aceh-Medan berlangsung lama, maka macetlah kehidupan di Aceh.

Kelangkaan sembako yang paling akhir dialami rakyat Aceh adalah akibat banjir bandang di Aceh Tamiang dan sekitarnya beberapa hari yang lalu. Sebelumnya, yang tentu lebih parah, yaitu ketika tsunami menghantam Aceh. Bahkan, pada saat konflik sedang parah-parahnya, kelangkaan sembako di Aceh sudah merupakan “langganan” tetap, dan hal ini amat menyengsarakan rakyat Aceh. Kesemuanya ini terjadi akibat putusnya hubungan jalan darat antara Aceh-Medan, sehingga langkalah sembako di Aceh.

Apakah problema itu memang tak akan pernah teratasi?. Kenyataannya memang demikian. Para Gubernur Aceh sudah berkali-kali silih berganti, namun penyakit kelangkaan sembako di Aceh tidak pernah tersembuhkan!. Timbullah dugaan, mungkin saja masalah tersebut tidak pernah terpikirkan dan tidak menjadi “program kerja” para Gubernur Aceh selama ini!!!.

Sekiranya pernah dijadikan ‘program kerja Gubernur Aceh” sebenarnya ada berapa solusi yang dapat ditempuh. Antara lain, pertama; melakukan segala daya-upaya agar hubungan jalan darat antara Aceh-Medan tidak pernah terputus. Nampaknya, gagasan ini amat sulit diterapkan dan sangat tidak mungkin dapat terlaksana. Sebab  faktor-faktor yang menyebabkan putusnya hubungan Aceh-Medan itu banyak sekali, dan diantaranya tak dapat diprediksi sebelumnya seperti tanah longsor, banjir bandang serta bencana alam lainnya.

Kedua, menjadikan daerah Aceh sebagai wilayah produksi sebagian barang-barang sembako yang mungkin dihasilkan di daerah ini. Saya memang awam di bidang ilmu ekonomi, pertanian dan perternakan, namun memaksakan diri untuk menganjurkan hal tersebut, karena tak tertahan lagi melihat daerah Aceh terus-menerus jalan di tempat dalam bidang ini. Padahal para pakar dalam bidang bersangkutan  cukup memadai  di Aceh.

Sekitar 30 tahun lalu, terdengar rencana akan menjadikan wilayah lembah Seulawah sebagai area peternakan lembu terbesar di Aceh. Sampai hari ini rencana itu tak pernah terwujud. Akibatnya, harga daging lembu termahal di Indoenesia adalah di Banda Aceh, sementara termurah di Kupang (dengarlah siaran bisnis-ekonomi RRI Jakarta setiap jam 20.10 Wib. malam).

Belasan tahun yang lalu muncul ide akan membangun perkebunan buah-buahan antara Seulimum-Padangtiji. Diharapkan di kiri-kanan jalan sepanjang lembah Gunung Seulawah itu akan dipenuhi kebun-kebun aneka buah-buahan. Bagi penumpang bis atau masyarakat yang hilir-mudik di sepanjang jalan itu, dibiarkan memetik sendiri buah-buahan itu sekehendaknya dengan  harga yang cukup murah. Nyatanya, rencana itu hanya sebatas cet langet pula.

Kini, sepanjang jalan di Lembah Seulawah bukanlah buahan-buahan yang nampak, tetapi kebun-kebun kosong yang kurang terawat. Dan di beberapa lokasi hanya bue-bue (kera) kelaparan yang menungggu para pelintas jalan agar melemparkan makanan baginya. Kenyataan ini memberi isyarat, bahwa ketersediaan makanan bagi bue-bue itu sudah langka di hutan lembah Seulawah, dan hal ini menunjukkan sebagian hutan di sana sudah musnah. Kegundulan hutan itu bisa menimbulkan bencana banjir. Jadi, akhirnya lembah Seulawah itu bukan menghasilkan buah-buahan, tetapi banjir.

Kembali ke solusi  di atas. Bila sebagian sembako sudah dapat diproduksi di Aceh, maka akan berkurangnya beban ketergantungan Aceh kepada Sumatera Utara (Medan). Selain itu, terobosan ini juga akan menyejahterakan sebagian rakyat Aceh dengan tersedianya lapangan kerja semakin luas. Dalam pandangan awam saya, usaha ayam petelur, ayam potong, daging, minyak makan, sayur-sayuran merupakan bahan-bahan sembako yang mungkin dapat dihasilkan sendiri daerah Aceh. Namun, ada sumber yang memberitahukan saya, bahwa beberapa hal tersebut di atas sudah pernah diusahakan, tetapi gagal juga akhirnya.

Ketiga, membuka jalur-jalur alternatif bagi pemasukan sembako ke Aceh. Bila jalur baru ini terwujud, maka sumber pasokan sembako untuk Aceh bukan satu-satunya lewat Medan saja, tetapi sudah dapat melalui sejumlah jalur lain. Mungkinkah terobosan ini diatasi dengan membuka lebih banyak hubungan jalan darat antara Aceh dan Sumatera Utara?. Para ahli-lah yang lebih tahu, dengan mewujudkan hubungan Kereta Api; misalnya.

Upaya lain yang mungkin dilakukan adalah adanya  banyak pelabuhan laut yang bermutu di Aceh. Ketersediaan pelabuhan laut yang modern, akan mengurangi ketergantungan pengangkutan sembako lewat jalan darat saja. Jika melirik kepada cerita sejarah,  pada abad ke 16, 17, 18 dan  awal abad ke 19;  pelabuhan-pelabuhan di Aceh banyak disinggahi kapal-kapal dagang dari Arab, Gujarat, Malabar, Pegu, Siam, Keling, Turki, Perancis, Inggris, Belanda, Dumar (Denmark) dan lain-lain. Sekarang, pelabuhan Sabang saja tidak mampu” diperjuangkan”  Pemda Aceh!!!.

Pembela Petani

Sepanjang sejarah kemerdekaan Republik Indonesia, kehidupan petani-nelayan kurang mendapat pembelaan. Memang, cara memproduksi hasil pertanian yang dipraktekkan para petani di Aceh sudah terhitung canggih. Namun, taraf hidup mereka kurang terangkat dengan bekerja sebagai petani itu. Dapat disimpulkan, kerja tani tidak dibanggakan oleh anak-keturunan dari petani itu sendiri. Akibatnya, dari tahun ke tahun semakin banyak anak  para petani yang meniggalkan pekerjaan sebagai Pak Tani;  dan mencari pekerjaan lain di kota-kota. Pasalnya, kerja menjadi petani-nelayan tidak memberi harapan hidup yang layak dan membanggakan.

Kenapa demikian?. Keadaan ini disebabkan harga barang-barang hasil pertanian teramat rendah bila dibandingkan dengan harga barang-barang hasil pabrik. Celakanya lagi, bila  barang pertanian hasilnya sedang melimpah, maka harganya akan turun drastis. Jadi, hasil yang banyak tidak berarti kehidupan petani bertambah makmur, sebab harganya menjadi rendah.

Kenyataan inilah yang selalu dialami para petani yang menanam apa saja seperti padi, nilam, karet, pala, langsat, rambutan,  tembakau, cabe, bawang, kacang, timun taiwan, jeruk, pisang, dan sebagainya.

Karena itu, para petani membutuhkan pembelaan. Mereka mengharapkan kehadiran “Ratu Adil” yang akan membela kehidupan mereka. Dengan kedatangannya di tengah-tengah –petani, mudah-mudahan kehidupan petani Aceh akan bertambah makmur, karena tidak terjadi lagi : setiap hasil pertanian melimpah, maka otomatis harganya turun drastis. Bagaimana cara mengatasinya, terserah saja pada kemampuan sang Ratu Adil mengutak-atiknya. Para petani cuma pasrah;  sambil berdo’a semoga berhasil hendaknya. Begitulah harapan para petani Aceh kepada Gubernur Aceh, Irwandi. Mudah-mudahan sumbangan mereka yang melimpahkan suara kepada Irwandi dalam Pilkada yang lalu tidak serta-merta disia-siakan. Semoga!!!.

T. A. Sakti

Mahasiswa Program Ekstensi Fakultas Hukum Unsyiah

Catatan buat Redaksi;

-          Saya mohon maaf atas tulisan saya yang tidak rapi, mesti saya tambah tulisan tangan pada huruf t dan g,- karena tombol hurufnya mati – serta mesin tik yang sering meloncat-loncat.

T.A. Sakti

13 – 1 – 2007