Menyambut Bulan Tadarus Al Qur’an – Ramadhan 1434 H; Kita perkenalkan kembali:

TAMAN   PENGAJIAN    AL QUR’AN   NURUL   ATHFAL   DAN   NURUL     AUSATH

-         – Calon juara MTQ  nasional   masa  mendatang?.

                               Laporan:   T.A. Sakti

           PERKEMBANGAN tempat-tempat pengajian Al Qur’an di Kabupaten Pidie (Aceh)  masa akhir-akhir ini sungguh menggembirakan. Ia tumbuh kembali bagai cendawan di musim hujan. Sedangkan hampir sepuluh tahun  belakangan ini , perkembangannya  sangat mundur dan  memprihatinkan. Masyarakat seluruh Propinsi Daerah Istimewa Aceh umumnya dan masyarakat di Kabupaten Pidie khususnya, sangat resah melihat  gelagat yang merugikan itu. Satu demi satu Dayah (Pasantren) yang masih ada dari hari ke sehari semakin pupus ditelan zaman. Bahkan hampir hapus sama sekali ………

        Rupanya Tuhan tidak menghendaki keadaan muram terus berlanjut; Allah menghendaki perobahan. Tampillah Bupati Nurdin AR di Kabupaten Pidie. Beliau  turun tangan untuk menanggulangi problem ini. Bapak Nurdin Abdurrahman dilantik sebagai Bupati Kabupaten Pidie pada tanggal 12 September 1980. Instruksi pertama beliau adalah dalam hal mengaktifkan kembali dayah-dayah yang pernah ada di Pidie dan membangun yang baru di tempat yang membutuhkannya.

        Bupati mengajak segenap masyarakat Pidie untuk membangun kembali tempat-tempat pengajian bagi anak-anak dan orang dewasa. Pengajian Al-Qur’an dan Kitab-kitab Agama supaya diadakan di setiap MEUNASAH. “Selagi saya masih kanak-kanak, kalau kita mendatangi setiap kampung di Aceh, pasti kita temui dan mendengar “a, i, u” dari anak-anak yang mengaji Juz ‘AMMA. Pengajian itu berjalan sepanjang waktu baik pagi, siang, dan malam hari. Nada-nada indah dari suara anak-anak yang sedang mengaji itu kini tidak kedengaran lagi”, demikian ucapan Bapak Nurdin AR pada suatu kesempatan ketika bulan-bulan pertama beliau dilantik.

          Masyarakat yang sedang dihinggapi demam ketakutan besar, bahwa tempat-tempat pengajian di Aceh akan hapus sama sekali, merasa lega dan bersyukur ketika mendengar instruksi Bupatinya. Proses keadaan tersebut dapat kita gambarkan sebagai ikan jatuh ke lubuk. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Ataupun juga seperti bunyi  Hadih Maja di Aceh, Bit-bit teungoh roh, ceh aneuk mie jitoh aneuk tikoh (kalau sedang nasib mujur, anak kucing lahir- anak tikuspun jadi).

         Bapak Bupati Nurdin AR, yang juga sarjana ekonomi itu, juga pernah menganjurkan pada qari-qari’ah yang berasal dari kabupaten Pidie agar memperjuangkan suatu seni dalam membaca Al Qur’an yang khusus dipunyai daerah ini, yaitu  Lagu Pidie sehingga suatu saat nanti diakui sebagai lagu-lagu seni membaca Al Qur’an lainnya. Dan akan dipakai nantinya sebagai salah satu lagu wajib dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an  Tingkat Nasonal. Lagu Pidie adalah salah satu dari lagu-lagu mebaca Al Qur’an yang sangat tinggi nada suaranya. Tidak sembarang  orang  dapat membawakan  lagu yang khas milik Pidie ini dalam membaca Al Qur’an.  Tapi sayang sekali ……, hingga hari ini tidak berkembang dan bahkan sama sekali hampir dilupakan. Dalam hal ini seluruh masyarakat Pidie patut ambil perhatian untuk menanggulanginya sebelum terlambat. Sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tidak berguna.

          Kegiatan pemerintah daerah tingat II Kabupaten Pidie memang sedang menuju kearah ini. Buktinya telah kita saksikan dalam segenap kegiatan penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an ke XIV se Kabupaten Pidie. Perhatian pemerintah daerah kabupaten Pidie sangat besar untuk mensukseskan MTQ tersebut. Dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an ke XIV tingkat  kabupaten yang berlangsung di Simpang Tiga tanggal 17 s/d 19 Januari 1981 tersebut, telah keluar sebagai juara umumnya adalah Kecamatan Sakti.  Adnan Beuransah sebagai juara nomor   1   tingkat remaja dan M. Nafi mendapat nomor satu tingkat kanak-kanak. Kedua mereka berasal dari kecamatan Sakti. Dengan demikian kecamatan Sakti sudah empat kali berturut-turut menjadi Juara Umum MTQ sekabupaten Pidie. Tiga kali sebelumnya dicapai dalam MTQ yang masing-masing diadakan di Kota Bakti, Tangse, dan Lueng Putu.

            Pencapaian sebagai juara umum tingkat kabupaten secara  berempat  kali berturut-turut  merupakan suatu hal yang luar biasa dan kita kagum dengan kejadian tersebut. Dan kekaguman kita semakin bertambah apabila kita telah ketahui pula, bahwa Qari-qariah  yang telah menggondol piala tersebut adalah berasal dari satu taman pengajian yang terdapat di Kecamatan Sakti, kabupaten Pidie.

Untuk menelusuri jejak-jejak perkembangan pasantren inilah, laporan ini kita turunkan/.

                                IKUT MTQ NASIONAL DI MEDAN

               Dayah (Pasantren) Nurul Athfal telah berdiri sejak bulan Februari 1966. Sedang Dayah Nurul Ausath lebih duluan sedikit, yaitu tahun 1965. Nurul Ausath didirikan atas inisiatif pemimpinnya sendiri, Al Ustaz Teungku Yusuf Makam. Bangunan Dayah itu terletak di halaman rumah beliau di desa Meunasah Blang Kota Bakti. (dahulu disebut Lammeulo). Tapi lain halnya dengan Dayah Nurul Athfal. Ia dibangun atas swadaya masyarakat kampung Riweuek,  kemukiman Kandang,  kecamatan Sakti. Pada tahun 1966 atas kerja sama beberapa tokoh masyarakat telah diambil kesepakatan untuk membangun Dayah Nurul Athfal ini. Masa itu yang menjabat Kepala Mukim Kemukiman Kandang adalah  Ismail yang juga penduduk desa Riweuek. Sedang kepala kampungnya adalah Keuchik Rasyid.

             Panitia pembangunan diketuai Teungku Abdullah Ahmad, Teungku Muhammad Shiddiq sebagai penasehat. Panitia tersebut juga dilengkapi dengan beberapa  seksi lainnya, dimana tokoh-tokohnya antara lain adalah Teungku Ahmad dan Teungku Beuransah (Ayahanda Adnan Beuransah).

Jadi kedudukan antara Nurul Athfal dengan Nurul Ausath berjauhan sekitar 5 km. Namun demikian kedua pasantren tersebut dikelola  oleh seorang guru pengajian saja.. Setiap hari kecuali hari Jum’at dan Hari-hari Besar Islam lainnya, Teungku Yusuf Makam harus mendayung sepeda sejauh 5 km. Karena  waktu pengajian di Nurul Athfal  diadakan diwaktu sore, mulai jam 14 – 18 Wib, maka dapat kita bayangkan betapa besarnya kesungguhan dan keikhlasan yang  telah tertanam dalam jiwa sanubari sang guru ini, demi berkorban  untuk kemajuan agama.

           Beliau mendayung sepeda benar-benar  tepat waktu tengah hari. Sang surya yang sedang panas terik itu menerpa sekujur tubuhnya,  yang sudah mulai menua itu tanpa kasihan. Bila jam 18.00  Wib.  tiba, waktu pengajian berakhir. Dan semua murid pulang ke rumahnya masing-masing,  meninggalkan bangunan Dayah Nurul Athfal kesepian. Sementara itu,  tugas Al Ustaz Tgk  Yusuf Makam belum berakhir hingga itu. Beliau terpaksa  mendayung sepeda lagi pulang kerumahnya. Keadaan seperti itu telah berjalan lima belas tahun tanpa rintangan. “Mudah-mudahan hal ini akan berlangsung terus/”, kata beliau kepada penulis. Tiba di rumah hampir  masuk magrib. Selesai  shalat berjamaah bersama muridnya, sang guru hanya sempat beristirahat sambil makan malam bersama keluarga.
Memang pengajian pada Dayah Nurul Ausath diadakan pada waktu malam dan pagi hari.  Jika waktu pagi para muridnya adalah untuk anak-anak yang belajar membaca AL-Qur’an. Sedang di waktu malam dihadiri oleh murid-murid yang lebih dewasa. Dimana pengalaman pada ilmu tajwid dan fiqih Islam sangat diutamakan. Dalam satu kujungan baru-baru ini, reporter anda dapat shalat jama’ah Isya bersama beliau serta sejumlah makmum putra dan putri.
Dalam perjalanan sejarahnya  yang telah melewati  masa lima belas tahun, kedua dayah tersebut telah banyak menghasilkan alunminya. Sebahagian besar dari mereka telah menjadi mahasiswai  di Kampus Darussalam  dan Perguruan Tinggi lainnya. Dari delapan Fakultas (termasuk Fakultas ekonomi,  Kedokteran) yang ada di   Unsyiah , termasuk beberapa orang mahasiswanya adalah  berasal dari pasantren itu. Begitu pula di IAIN Ar-Raniry. Dalam kegiata MTQ  PII Tingkat Perguruan Tinggi di Banda Aceh, sdr Mustafa Amin sering tampil mewakili Fakultasnya.  Adnan Beuransah  yang menjadi juara pertama tingkat  Remaja dalam MTQ kabupaten  Pidie di Simpang Tiga tahun ini, juga sangat berpengaruh di kota Banda Aceh. Beliau sering diminta membaca kitab Suci Al Qur’an, baik pada pembukaan  maupun pada penutupan Acara Sidang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi  Daerah Istimewa Aceh di gedungnya Jln .T.Nyak Arif, Banda Aceh.

         Kalau kita hitung secara persentase, dapatlah disebutkan bahwa dari keluarga Teungku Beuransah inilah yang sering kali memberikan nama harum bagi kecamatan Sakti dalam bidang MTQ di tingkat kabupaten. Selain di Simpang Tiga seperti tersebut di atas, Adnan Beuransah juga telah menggondol juara  kabupaten lima kali berturut-turut, yang diadakan  pada Musabaqah-musabaqah MTQ   di : Sigli (1976),  Meureudu (1977), Kota Bakti(1978), Tangse (1979),  dan Lueng Putu (1980). Pemuncak-pemuncak no. 1 tersebut di atas termasuk di Simpang Tiga  tahun 1981 ini,  diperoleh Adnan Beuransah mewakili golongan remaja.

Ketika mengikuti tingkat propinsi di Singkil dan Kutacane  (Aceh Tenggara), ia  mencapai  juara no. 4 pada   kedua tempat tersebut.  Sementara itu adiknya yang bernama Ilyas Beuransah  juga menampakkan bakat yang sama dengan abangnya. Juara no. 1  bagian anak-anak  untuk tingkat kabupaten diperoleh  Ilyas  Beuransah di Meureudu (1977) dan Tangse (1979).  Begitu pula seorang adiknya lagi yang bernama Junaidi Beuransah, baru berumur 6 tahun,  juga memberi harapan besar sebagai calon juara MTQ masa mendatang, termasuk juara MTQ  Tingkat nasional, Insya Allah/.

Qary cilik ini sedang digarap mulai sekarang untuk mencapai cita-cita besar tersebut. Selain Adnan dan Ilyas, juara golongan kanak-kanak juga pernah digondol oleh  Abu Bakar Abdullah tahun 1973. Dalam MTQ yang diadakan  dalam rangka Harpenas tahun 1976, 1977,  Azizah Ali mejadi juara nomor 1 yang diadakan di Banda Aceh.

Dalam rangka Porseni yang diadakan Kanwil Depag Aceh, Abdul Gani Harun dari MTsIS Kota Bakti tahun 1980, memperoleh  juara 1 tingkat  propinsi.   Kesemua nama-nama juara MTQ  tersebut  di atas adalah putra-putri  hasil didikan Ustaz Teungku Yusuf Makam, dari Dayah Nurul Athfal dan Nurul Ausath.Kecemerlangan kedua pasentren ini yang tertinggi telah pernah  dicapai tepat 10 tahun yang lalu. Pada tahun itu (1971), seorang anak kecil dari satu pasantren ini  telah sempat mewakili Propinsi Daerah Istimewa Aceh untuk mengikuti MTQ Tingkat Nasional  di Medan.  Melihat kepada pesantren yang keadaannya sangat sederhana  dan pula baru lima tahun sejak berdirinya, kesempatan mewakili propinsi ini dapat kita katakan  sebagai suatu hal yang  luar biasa.

                                       GRUP   NASYID   REBANA   PUTRI

           Pada tahun   1977 pimpinan pesantren merencanakan membina sebuah grup rebana putri. Pada mulanya rencana itu  hanya   tinggal rencana , sebab ketiadaan modal untuk membeli peralatan. Atas kesediaan Pemda  Kabupaten Pidie barulah rencana itu berjalan. Kedudukan grup nasyid ini dipusatkan di Dayah Nurul Ausath, karena letaknya lebih strategis karena lebih dekat dengan Kota Bakti, dibandingkan Nurul Athfal yang jauh di desa. Karenanya, maka grup nasyid rebana putri   ini diberi nama “Grup Nasyid Rebana Putri Nurul Ausath”.

        Grup nasyid  bertujuan Dakwah Islamiyah. “ Sebab Dakwah Islamiyah, bukan hanya dapat dilakukan dengan pidato-pidato saja. Dakwah Islam dapat pula dijalankan melalui seni/”, demikian keterangan Tgk. Yusuf Makam. Untuk dapat mewujudkan sebuah grup nasyid yang bermutu, maka diminta kesediaan Ustaz M.Yusuf Ishak untuk mengajar para remaja putri. Atas usaha Ustaz Yusuf Ishak inilah pada akhirnya Grup Nasyid   Rebana Putri Nurul Ausath  ini dapat berhasil dengan semua pertunjukan. Masa sekarang Ustaz Ishak  adalah pimpinan grup rebana “Daiyul Fata” Banda Aceh. Daiyul Fata telah pernah mendapat juara pertama dalam festifal rebana se-Kotamadya Banda Aceh tahun 1979.

        Sambutan masyarakat pada tahap permulaan dingin, bahkan dapat dikatakan agak meragukan mereka dengan adanya grup nasyid ini. “Mana’’ masak disebuah pesantren dibuat digrup kesenian, kan itu salah satu jalan mempertonton lenggang lenggok anak gadis dihadapan umum?”,  cemohan yang demikian tersebar kemana-mana. Tapi  tak lama kemudian masyarakatpun sadar, bahwa anggapan mereka selama ini meleset. Memang setelah kesukaran, diikuti dengan kemudahan.

         Nasyid Nurul Ausath mendapat undangan dari segenap penjuru. Pertunjukan mereka  memberi kepuasaan kepada mereka yang mengundang. Dalam acara MTQ tingkat propinsi Daerah Istimewa Aceh di Sigli tahun 1976, Grup Nasyid Rebana Putri Nurul Ausath mendapat surat penghargaan dari Panitia MTQ se- Aceh tersebut. Surat penghargaan itu ditandatangani oleh Ketua LPTQ Propinsi Daerah Istimewa Aceh Bapak Zainal Abidin (Ayah Cek , Kepala Biro Umum, Humas dan Protokol Kantor Gebernur Daerah Istimewa Aceh).

                                                   RINTANGAN  DAN   HARAPAN

           Sewaktu “Waspada” menanyakan tentang    rintangan-rintangan dalam mengemudikan sebuah pengajian, Tgk.Yusuf Makam menjawab : “ sudah tentu rintangannya banyak, tapi berkat pengalaman dalam bidang pengajian ini  sudah lebih dari tiga puluh tahun, maka dengan izin Allah semua halangan yang timbul dapat diatasi, walaupun secara bertahap”. Pimpinan pengajian dari dua pesantren ini, yang lahir di Mukim Tong Pudeng, Kecamatan Titeue-Keumala(Pidie) lebih dari setengah abad yang lalu, telah banyak dan lama sekali berkecimpung dibidang pengajian. Mulai tahun 1947 sebagai anggota Polri, beliau mengajar di pengajian yang diadakan kaum muslimat Polri selama tujuh tahun di Kota Bakti. Tahun 1960 dari polisi beralih tugas menjadi seorang tentara (ABRI angkatan darat). Sejak itu beliau memberi  pengajian pada anak-anak anggota ABRI di Kota Bakti dan juga di Meulaboh (Aceh Barat). Di sana beliau termasuk seorang pembantu Imam (Muallim) militer. Keadaan demikian berakhir hingga tahun 1964, dimana pada tahun berikutnya (1965), beliau langsung membangun tempat pengajian yang ada sekarang ini, yaitu Nurul Ausath. Tentang lagu-lagu cara membaca Al Qur’an yang dikuasai beliau adalah : Husaini/Baiyati, Shaba, Hijaz, Jaharkah, Nahawan, dan Siggah.  Kesemua lagu tersebut sering digelar Qiraat Tujuh (tujuh macam cara melagukan Al Qur’an).

        Dalam rangka memajukan Grup Nasyid Rebana Putri Nurul Ausath, telah pernah meminta bantuan dari Departemen P & K Republik Indonesia Bidang Kesenian di Jakarta. Surat permohonan itu diajukan melalui Kandep P&K Sigli untuk diteruskan ke Banda Aceh hingga ke pusat. Surat permohonan yang mendapat  Rekomendasi bidang kesenian Kandep  P&K  No.139/107.10/E.78 tertanggal 2 Februari 1978 tersebut hingga saat ini belum pernah diterima berita jawabannya. Mudah-mudahan surat permohonan itu telah sampai di tujuannya. Problema  yang lainnya adalah : keterbatasan tempat penampungan bagi calon-calon murid yang mau belajar di Nurul Ausath. Tempat tidur bagi pelajar perempuan waktu malam hari, kesempitan tempat menyimpan sepeda, hingga terpaksa disimpan di rumah  tetangga. Banyak Kitab Suci Al Qur’an, yang milik Nurul Athfal  &  Nurul Ausath yang telah koyak, hingga diperlukan penggantinya lebih dari 100 buah.

                                                 RENCANA MASA DEPAN

                Untuk dapat menampung kecenderungan masyarakat yang sangat besar keinginannya untuk menyerahkan anaknya dididik di kedua pasantren ini, sangat diperlukan inisiatif baru bagi perluasan. Jumlah pelajar yang dapat tertampung di Dayah Nurul Athfal hanya 100 orang, sedang di Nurul Ausath 100 orang juga. Disamping pelajar yang belajar tiap hari, ada pula sebagian lain yang datang belajar pada hari-hari yang telah ditentukan. Kelompok ini khusus dididik sebagai calon Qari-Qariah masa mendatang. Mereka berasal dari remaja putra dan putri   dalam Kecamatan Sakti, Kecamatan Mutiara, Kecamatan Titeue-Keumala, dan Kecamatan Peukanbaro. Semua kecamatan tersebut terletak di Kabupaten Pidie. Kadang-kadang untuk masa-masa tertentu secara sambilan, ada juga dari kalangan masyarakat Kecamatan Tangse dan Geumpang datang belajar kesana. Untuk dapat menampung jumlah pelajar baru inilah diperlukan perombakan phisik dari dua pasantren ini.

         Sementara itu dari kalangan yang dapat dipercaya “Waspada” mendapat berita, bahwa pihak Panitia Pembangunan Pasantren Nurul Athfal desa Riweuek punya rencana untuk membangun pasantren di sana dalam bentuk semi permanen. Sejumlah dana telah terkumpul buat rencana tersebut. Diperkirakan setelah selesai panen dalam  satu atau dua bulan mendatang, rencana akan terealisasikan segera. Bangunan Nurul Athfal selama ini adalah terdiri dari bahan bambu beratapkan daun rumbia. Dan yang dapat dibanggakan sedikit adalah bangunan pesantren Nurul Ausath, yang seluruh bangunannya terdiri dari kayu yang bermutu baik,  beratapkan seng. Dan pada tanggal 26 November 1980, Dayah Nurul Ausath mendapat bantuan Camat Kecamatan Sakti sebanyak 50(lima puluh) lembar papan dan uang Rp.15.000 untuk biaya pemasangannya. Semua papan itu telah dipasang untuk lantai Dayah Nurul Ausath.

         Terhadap pertanyaan dari mana dana untuk pembangunan yang direncanakan itu Tgk.Yusuf Makam menjelaskan bahwa dilihat dari segi kemampuan pribadi beliau, memang tidak ada kemungkinan sama sekali. “Mana mungkin, sedang pekerjaan saya sehari-hari hanya mengajar saja/”. Tapi yang kita harapkan adalah kesediaan kaum muslimin/muslimat serta dermawan-dermawan Islam dimana saja mereka berada untuk membantu rencana pembangunan pasantren ini. Kalau bukan umat Islam sendiri yang membangun tempat-tempat pendidikan anak-anaknya, dari siapa lagi kita harapkan. Anak kecil dewasa ini merupakan calon pejuang Islam dimasa mendatang. Mereka sebagai pengabdi negara yang jujur, jika dimasa kecilnya ditempa dengan ajaran agama yang cukup.

Ketika sampai pada pertanyaan terakhir “Waspada”, bagaimana dengan masalah penebusan Piala Juara Umum yang telah digondol kecamatan Sakti tiga tahun berturut-turut, Tgk.Yusuf menjelaskan, bahwa  belum terlaksanakan hingga saat ini. Menurut ketentuan yang berlaku, apabila sebuah kecamatan telah sanggup mempertahankan sebagai juara umum tiga kali berturut-turut, maka Piala Juara Umum menjadi milik sah dari kecamatan yang bersangkutan. Pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie baru dapat mengambil kembali Piala tersebut, apabila telah memberikan sejumlah uang tebusan kepada Pemerintah Wilayah Kecamatan Sakti. Apabila penebusan Piala itu telah dilakukan nanti, Teungku Yusuf Makam merencanakan bahwa sebagian besar dari uang itu akan dipakai sebagai dana pokok untuk pembangunan kedua pasantrennya dan sebagian lagi akan dia hadiahkankepada  sang juara yang telah membawa kecamatan Sakti mendapat Juara Umum MTQ kabupaten Pidie tiga kali berturut-turut. Tujuan pemberian itu supaya tunas-tunas  muda lebih terdorong lagi dimasa depan.

Tgk.Yusuf Makam sangat mendo’akan MTQ Nasional yang akan berlangsung bulan Juni di Banda Aceh,  dapat terlaksana dengan sukses, dan pula agar para peserta yang mewakili Aceh dalam MTQ Nasional ke XII tersebut memperoleh keberhasilan yang patut kita banggakan, demi mempertahankan citra Aceh sebagai Tanah Serambi Mekah/. Dengan iringan hujan yang rintik-rintik, tepat jam 23.30, reporter “Waspada” meninggalkan rumah  Al Ustaz TGK.Yusuf Makam di Meunasah Blang Kota Bakti.

            Perlu juga dijelaskan, bahwa ketika sampai di Banda Aceh reporter anda menjumpai saudara Adnan Beuransah di alamatnya Asrama IPM-Sakti, Jln.Kenari No.6 Kp.Keuramat Banda Aceh. Dari beliau diperoleh keterangan, bahwa memang benar penebusan Piala Juara Umum bagi kecamatan Sakti belum dilaksanakan oleh Pemda Kabupaten Pidie. Tapi lebih lanjut dijelaskannya, bahwa surat kesepakatan telah dibuat antara kedua belah pihak, yaitu pelaksanaan penebusan itu ditunda buat sementara menunggu pencairan APBD Kabupaten dalam bulan April ini. Setelah persetujuan itu dibuat, maka barulah Piala Juara Umum itu dapat diambil kembali oleh Pemda Kabupaten Pidie, guna diperebutkan lagi pada MTQ ke XIV di Simpang Tiga Januari lalu. Karena memang sedang bernasip mujur, yangmenjadi juara umum tahun 1981 ini, juga berasal dari Taman Pengajian Nurul Athfal  &  Nurul Ausath (Kecamatan Sakti). Dengan harapan semoga semua harapan rencana pemimpin yang mengelola kedua pasantren ini akan terlaksana dalam waktu yang singkat, hingga dapat bergiat lebih maju lagi, reporter “Waspada” mengakhiri laporan ini/.

                Banda Aceh, 15-4-1981.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s