Pidato Bahasa Aceh, Bak Mendengar Bahasa Planet Lain!

PIDATO BAHASA ACEH, BAK MENDENGAR BAHASA PLANET LAIN

 

Seperti mendengar bahasa dari planet lain. Begitulah kesan yang timbul ketika mendengar lomba pidato Bahasa Aceh yang diselenggarakan siswa SMU Negeri 1 Lhokseumawe Minggu, ( 26/3) lalu. Kendati sebagian besar peserta menggunakan Bahasa Aceh yang campur baur dengan Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab, tapi tak urung kuping tersentak kaget ketika mendengar kata-kata asing yang justru berasal dari kosakata Aceh sesungguhnya.

Mendengar pidato para remaja usia SLTA itu juga menimbulkan keprihatinan mendalam tentang perkembangan Bahasa Aceh yang kian tenggelam di tengah masyarakatnya. Kendati bahasa itu sudah menjadi bahasa pengantar di sebagian besar keluarga masyarakat Aceh, tapi nyaris tak ada yang seindah warna aslinya. Setidaknya dengan menggunakan ukuran umum (Bahasa Aceh berbeda di sejumlah Kabupaten).

Dari 10 peserta yang tampil mewakili sekolah mereka, hanya sebagian kecil yang benar-benar menggunakan Bahasa Aceh. “Bahkan yang memakai Bahasa Aceh sampai 80 persen, hanya satu peserta. Selebihnya banyak yang bercampur dengan Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab. Kendati harus diakui. ada beberapa kosakata Aceh sama dengan Arab,” kata salah seorang dewan juri, Syamsuddin Djalil yang terbilang pakar Bahasa Aceh.

Menurut Syamsuddin, kata sambung dalam Bahasa Indonesia banyak digunakan peserta dalam perlombaan tersebut, Seperti dengan, yang, atau dan. Banyak peserta mengira kata-kata tersebut sudah termasuk Bahasa Aceh. Mereka hanya mengubah aksen saja agar lebih bernuansa Aceh. Pengubahan aksen tidak akan mengubah arti. Sepertki kata sebab, ada mengucapkannya seubab. Padahal sebab dalam Bahasa Aceh adalah saweub,” jelas Syamsuddin. Banyak peserta juga menggunakan kata yang selama ini sering diucapkan dalam pergaulan sehari-hari. Seperti kata meusambong (bersambung), yang menurut Syamsuddin itu termasuk Bahasa Indonesia yang di Aceh-kan. Dalam Bahasa Aceh yang benar adalah meuseumoeng.

Hal ini terjadi, menurutnya, karena selama ini masyarakast dalam menggunakan kata-kata yang salah dalam pembicaraan sehari-hari. Masyarakat terlanjur menganggap kata-kata yang digunakan itu sudah benar. Sehingga sulit diubah karena sudah mengakar dan ketidaktahuan adanya kosa kata lain.

Ada seorang peserta yang pidatonya cukup membingungkan para hadirin yang kebanyakan pelajar SLTA. Dalam pidatonya tentang pendidikan di Aceh pada masa lalu dan sekarang, Fitri Yeni dari SMU Negeri 1 Tanah Jambo Aye, banyak menggunakan kata yang selama ini nyaris tak terdengar.

Siswi kelas III IPA-3 itu mengatakan, rakyat Aceh dulu sudah mempunyai kemampuan ceumuliek (seni ukir), sanggamara (pertahanan, ) vam kutika( astronomi), saleum teuka (selamat datang) dan kata-kata lain. Para hadirin bagai disadarkan bahwa betapa banyak kosa kata Aceh yang selama ini dilupakan masyarakatnya. Tidak hanya oleh para remaja yang notabene sudah terkontaminasi globalisasi dalam berbahasa. Namun juga para orang tua banyak yang tidak mengerti kata-kata di atas.

Tak salah bila pelajar SMU Negeri 1 Lhokseumawe menggelar lomba tersebut se-Aceh Utara, selain lomba pidato Bahasa Inggris. “ Kami ingin mensosialisasi  penggunaan Bahasa Aceh yang kian memudar di tengah masyarakat, terutama remaja. Melalui gelaran ini, diharap Bahasa Aceh bisa membudaya di tengah masyarakatnya kendati itu butuh perjuangan panjang,” kata Ketua Panitia Lomba, Fakhruddin kepada Serambi, Minggu (25/3).

Ia mengaku prihatin dengan minimnya peserta lomba. Dari seluruh SLTA yang ada di Aceh Utara, hanya 10 SLTA yang mengirim wakilnya. “Padahal kami sudah memolorkan waktu pelaksanaan agar lebih banyak peserta yang hadir,” tambahnya.

Selain kesulitan peserta, panitia juga rnengalami kesulitan dewan juri. Hadirnya Syamsuddin tak lepas dari bantuan saorang wartawan yang mengetahui pengetahuan penduduk Pantonlabu itu dalam bidang Bahasa Aceh.

Menurut Syamsuddin, untuk mensosialisasikan kembali penggunaan Bahasa Aceh yang benar perlu segera diadakan seminar oleh orang Aceh.” Karena kalau bukan orang Aceh maka untuk mencari asal usul nama “Aceh” saja mereka tidak tahu dari mana asalnya. Kalau diteliti dari bahasanya maka tidak ada kata yang menunjukkan ke arah nama tersebut,” paparnya.

Ia menyarankan perlu segera di terbitkan buku (kitab) dalam seunurat (tulisan) Aceh walaupun harus ditulis dalam kheut Laten bukan lagi dalam kheut Savafi Arab atau Arab Meulayu ( Jawoe). Buku itu bisa berupa hikayat, riwayat nabi, nazam maupun cae (syair) dan jangeun Aceh. Demikian pula dengan nama toko, jalan dan nama kota serta desa.

Syamsuddin berpendapat Bahasa Aceh tidak serumpun dengan Bahasa Melayu tetapi serumpun dengan Bahasa Indo Jerman. Dalam penulisan Bahasa Aceh terdapat tanda-tanda di atas huruf, sama seperti Bahasa Jerman dan Prancis”. Sedangkan dalam bahasa Melayu tidak ada tanda-tanda demikian,” katanya.

Ihwal terjadinya percampuran Bahasa Aceh dengan Bahasa Melayu dan Arab, jelas Syamsuddin, karena kedua bahasa itu menjadi bahasa pengantar dari kerajaan Aceh masa lalu. “Selain itu, ada 11 jenis Bahasa Aceh yang membuat sulitnya mencari Bahasa Aceh ideal. Ada BahasaTeuming, Bahasa Aceh Pase, Bahasa Gayo, Bahasa Alas, Bahasa Aneuk Jamee, Bahasa Aceh Rayeuk, Bahasa Kluet, Bahasa Pidie, dan lain-lain,” ungkap Syamsuddin.

Ia mengakui literatur dalam Bahasa Aceh sekarang sulit diperoleh. Kalaupun terdapat di luar negeri( Belanda atau Cina), katanya,merupakan hasil tulisan musuh rakyat Aceh pada masa lalu sehingga mengandung muatan politis. “ Buku yang ditulis orang Cina, menyebut Iskandar Muda dengan Sukanla dan Lingke ditulis Liang Khi. Sementara orang Belanda, sering menulis fakta berbias untuk menjelekkan orang Acheh. Misalnya, bila suatu hari orang Acheh sedang memandikan kerbau, disebutkan orang Acheh mandi bersama kerbau,” papar Syamsuddin yang berharap semua pihak peduli terhadap Bahasa Aceh yang kian asing di tengah pemiliknya. (ayi jufridar)

 

( Sumber: Serambi Indonesia, Rabu, 12

About these ads

2 thoughts on “Pidato Bahasa Aceh, Bak Mendengar Bahasa Planet Lain!

  1. syedara lon tanyo bijeh prang bijeh bibeuh kha ngen beuhe,bek sampe agama di cuca le bijeh yahudi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s