Peristiwa Berdarah Dan Pembangunan Kembali Mesjid Cot Plieng Bayu

pemimpin mereka.

Senapan mesin dari tentara Jepang memuntahkan pelurunya, begitu pula peluru-peluru meriam tentara Jepang ikut berbicara dalam pertempuran tersebut hingga menghancurkan komplek Mesjid Cot Plieng Bayu.

Dalam pertempuran yang tidak terduga itu, pengikut Tgk. Abdul Jalil hanya menggunakan senjata parang, tombak serta pedang maju melawan tentara Jepang yang peralatan perangnya komplit. Dalam pertempuran itu, tentu saja dalam sekejap sudah menjadi medan pertumpahan darah dan komandan resimen Jepang mengeluarkan perintah menyerang.

Pertumpahan darah yang tidak diduga tentara Jepang itu, berlangsung sekitar empat jam, mengakibatkan empat orang tentara Jepang tewas dan 32 tentara Jepang luka-luka bacokan. Sedangkan pengikut Tgk. Abdul Jalil 86 orang meninggal dunia, termasuk seorang wanita, sedangkan Tgk. Abdul Jalil serta beberapa pengikutnya yang lain, saat itu sempat melarikan diri ke Desa Neuheun kira-kira enam kilo meter sebelah selatan dari Cot Plieng.

Setelah itu keadaan menjadi tenang, dan komplek Mesjid Cot Plieng menjadi hancur. Tapi pada 12 November 1942, terjadi lagi pertempuran antara pengikut Tengku Abdul Jalil dengan tentara Jepang yang saat itu berusaha mengejar pengikut  Tgk. Abdul Jalil di Desa Neuheum. Dalam Peristiwa Berdarah Dan

Pembangunan

Kembali Mesjid Cot Plieng Bayu

 

Oleh Subagio PN

 

Bayu merupakan salah satu desa di daerah Kabupaten Aceh Utara, ternyata mempunyai sejarah bagi masyarakat Aceh khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Desa Bayu pada masa perang dunia II, sebagian dari tentara resimen 3 infantri pengawal Raja Jepang pernah mendiami daerah tersebut dan 10 Novomber 1942 pada daerah itu timbul peperangan yang disebut “Peristiwa Bayu”. Dalam peristiwa tersebut, banyak timbul korban jiwa dari kedua belah pihak, hal itu terjadi akibat kurangnya komunikasi antara tentara Jepang dengan warga Desa Bayu tentang hal ajaran agama, adat-istiadat pada satu pihak dan posisi tentara Jepang pada lain pihak saat itu. Maka tempat itu merupakan tempat yang tak dapat dilupakan bagi masyarakat Bayu serta tentara Jepang yang bertugas di daerah tersebut, sebagai tempat peristiwa yang malang dalam daerah Sumatera.

Pada desa Bayu terdapat satu bangunan mesjid dan Dayah Cot Plieng yang didirikan sejak tahun 1922 oleh Tgk. Ahmad Bin Ishak sebagai imam pertama dan pimpinan dayah dengan swadaya masyarakat, terutama dari Tgk. Raja Itam keluarga dekat Uleebalang. Pada waktu itu banyak pelajar dari seluruh pelosok Aceh menuntut ilmu pengetahuan agama pada pesantren tersebut.

Tapi 21 Juli 1939 Tgk. Ahmad Bin Ishak meninggal dunia, hingga pimpinan pesantren tersebut diganti oleh Tgk. Abu Syahi menantu pertama dari Tgk. Ahmad Bin Ishak. Tapi Abu Syahi memimpin pesantren tersebut hanya enam bulan, kemudian beralih kepada Tgk. Abdul Jalil  menantu kedua almarhum Tgk. Ahmad Bin Ishak yang kawin dengan Cut Habibah anak ketiga almarhum Tgk. Ahmad Bin Ishak.

Semasa kepemimpinan Tgk. Abdul Jalil, pesantren tersebut sangat maju dan cukup ramai dan pelajarnya berdatangan dari seluruh pelosok tanah Aceh. Selain itu banyak bekas pelajar yang mendirikan pesantren di kampungnya masing-masing sepulang dari pesantren Cot Plieng Bayu. Tapi sayang, Tgk. Abdul Jalil 13 November 1942 meninggal dunia dalam Peristiwa Bayu di zaman pendudukan Jepang di Buloh kecamatan Kuta Makmur Lhokseumawe.

Perlawanan rakyat menentang kekuasaan tentara Jepang di Sumatera yang paling hebat adalah di daerah Aceh. Tahun 1942 di Cot Plieng Bayu Kecamatan Syamtarila Kabupaten Aceh Utara, meletus perlawanan rakyat yang dipimpin oleh ulama muda Tgk. Abdul Jalil yang merupakan Imam serta guru mengaji di Cot Plieng.

Tentara Jepang pada saat itu mendekati ulama Aceh, hingga mereka menerima kehadirannya untuk bersama-sama mengusir tentara Belanda dari Aceh sebagai taktik politik mereka. Tapi kalangan ulama di Aceh yang dipimpin Tgk. Mhd. Amin Jumphoh Aceh Pidie dan Tengku Abdul Jalil dari Cot Plieng Bayu tidak bersedia bekerjasama dengan Jepang. Sebab kedua tokoh ulama Aceh itu, sudah meramalkan tentara Jepang lebih kejam dan ganas dari tentara Belanda serta keterpaksaan rakyat menyembah matahari sebagai ganti menghadap kiblat.

Pada 12 Maret 1942 tentara Jepang mendarat di Aceh, dan pada 27 Maret 1942 tentara Belanda menyerah di Aceh.

Bertentangan dengan agama

Setelah beberapa bulan tentara Jepang berada di Aceh, mulai nyata terlihat tingkah laku Nippon No heitai (serdadu Jepang) yang sangat bertentangan dengan agama Islam yang dianut masyarakat Aceh sampai saat ini.

Kalangan ulama di Aceh tidak senang dengan kebiasaan-kebiasaan tingkah laku tentara Jepang itu yang paling dibenci adalah upacara “Sekeirei” dengan membungkuk sambil menunduk kepala kearah timur laut (Tokyo) menyembah Tenno Heika. Upacara tersebut bagi masyarakat dan ulama Aceh dianggap syirik, yaitu menyembah berhala yang menyamakan Tenno Heika dengan Tuhan. Selain itu masyarakat Aceh juga menyaksikan kekejaman tentara jepang, dengan melakukan penyiksaan kepada rakyat Aceh. Melihat keadaan tersebut, Tengku Abdul Jalil;  imam mesjid dan pimpinan dayah memberikan dakwah anti Jepang, dengan seruan jihad fi sabilillah. Sebab Tengku Abdul Jalil selaku imam Mesjid dan pimpinan dayah (pesantren) Cot Plieng Bayu, sejak semula anti kafir dengan semboyan “Talet Bui Tapentamong Aseei” (mengusir babi menerima anjing). Dakwah anti tentara Jepang yang dilakukan Tgk. Abdul Jalil itu dari desa ke desa di Kabupaten Aceh Utara demi agama dan bangsa dan semuanya itu terjadi sekitar bulan Agustus 1942.

Tentara dan mata-mata Jepang melaporkan semua kegiatan Tgk. Abdul Jalil tersebut, hingga Tgk. Abdul Jalil tersebut dipanggil untuk menghadap Kempetai di Lhokseumawe. Namun Abdul Jalil menolak panggilan tersebut, dan sejalan dengan itu pengikutnya digiatkan untuk membacakan hikayat perang sabil yang pada zaman penjajahan Belanda dilarang.

Tengku Abdul Jalil bersama pengikutnya, telah bertekad siap melaksanakan Jihad Fi Sabilillah. Namun tentara Jepang melihat keadaan itu, bertindak dengan sangat hati-hati. Tapi Aceh Syuco Cokan (Gubernur Militer Aceh) S.Huo berusaha memadamkan api yang belum menyala itu, antara lain dengan mengirimkan Uleebalang dan pemuka PUSA agar membujuk mereka. Tapi usaha tersebut tidak berhasil, hingga pihak Jepang di Sigli memanggil Tgk. Abdul Jalil di Sigli, dan Tgk. Abdul Jalil juga tidak mau datang, sehingga pada tanggal 9 November 1942 ajudan Aceh Syuco Cokan dan Tuanku Mahmud dengan juru bahasanya, datang sendiri ke Cot Plieng untuk meminta berjumpa dengan Tgk. Abdul Jalil. Namun pengikut Abdul Jalil tidak menghiraukan permintaan Jepang itu, hingga terjadi jalan buntu untuk perdamaian.

Ajudan Aceh Syuco Cokan melaporkan hal ini kepada Komandan infantry resimen 3 tentara Jepang Kol.M.Fujioka yang bermarkas di Lhokseumawe, situasi di Cot Plieng Bayu sudah tidak mungkin dilakukan pendekatan. Sedangkan jalan-jalan satu-satunya menempatkan pasukan Jepang di sekitar Cot Plieng, dengan catatan satu senjatapun tidak boleh meletus karena sebagai upaya menakuti pengikut Abdul Jalil, ujar Kol.M.Fujika pada saat itu, sebab kekarasan militer sangat berbahaya.

Pada 10 November 1942 sekitar pukul 13.00 WIB, satu kompi tentara Jepang mengatur pasukannya di sekitar Cot Plieng ditambah dengan barisan meriam yang mereka tempatkan pada daerah persawahan.

Pada saat tentara Jepang mengatur pasukannya, Tgk. Abdul Jalil sedang memimpin rapat di dalam komplek dan pengikutnya yang melihat hal tersebut menduga tentara jepang datang untuk menyerang dan menangkap Tgk. Abdul Jalil selaku imam dan pimpinan dayah (pesantren).

Suasana berubah

Ketika Kol.M.Fujioka dan Tuanku Mahmud memasuki Mesjid untuk menemui Tgk. Abdul Jalil, tabuh Mesjid dibunyikan dengan teriakan Allahuakbar. Sehingga dalam sekejap saja, suasana pada kawasan itu berubah menjadi medan pertempuran antara pengikut Tgk.Abdul Jalil dengan tentara Jepang hingga banyak yang menjadi korban. Sedangkan maksud tentara Jepang menyusun kekuatannya pada sekitar Cot Plieng, tadinya hanya untuk “Show of Force” serta menemui Tgk. Abdul Jalil untuk melakukan pembicaraan guna pendekatan tentara Jepang. Tapi semuanya menjadi lain, dan pengikut Tgk. Abdul Jalil menduga tentara Jepang hendak menyerang dan menangkap Tgk. Abdul Jalil pertempuran tersebut, empat orang pengikut Abdul Jalil gugur yang terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan. Sedangkan Tgk. Abdul Jalil dapat meloloskan dirinya ke Buloh, tempat asal Tengku Abdul Jalil serta kediaman isteri pertamanya. (bersambung).

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s