Arsitektur Rumah Jawa,Lebih Mementingkan Segi Non Fisik

Arsitektur Rumah Jawa,Lebih Mementingkan Segi Non Fisik

*Laporan T.A. Sakti

Catatan Redaksi:

Sebutan “rumah Jawa”, bukanlah istilah asing bagi kita, terutama tentunya bagi masyarakat Jawa sendiri. Namun memasalahkan/membicarakan segala sesuatu secara lengkap tentang “rumah Jawa”, jarang orang yang menguasainya. Ir.Johan Silas dosen Perumahan dan Pemukiman Fakultas Teknik Arsitektur ITS Surabaya dalam suatu ceramahnya di Proyek Javanologi BP3K Departemen P dan K Yogya, tanggal 22 Juli 1983 lalu, memilih tema “Arsitektur Jawa atau Rumah Jawa”. Berikut ini beberapa bagian dari ceramah tersebut yang menarik. Penceramahnya bukanlah orang Jawa, tapi justru: putra Kalimantan.

 

 

          Seperti yang dikatakan oleh Paul Oliver dalam Shelther and Society (1969), dalam membahas bangunan tradisionil di daerah bukan “Barat”, kata arsitektur tidak tepat untuk dipakai. Yang menjadi sebab adalah perbedaan sudut pandangan antara pengertian kata arsitektur yang lazim dipakai oleh kalangan Arsitektur Barat dengan hakekat bangunan tradisional tersebut.

Pengertian arsitektur seperti yang digambarkan oleh oranng Barat. pada umumnya hanya menyangkut aspek fisik dari sesuatu bangunan. Dan biasanya dijawab dengan kegiatan merancang. Merancang adalah benar-benar merupakan prestasi pribadi. Sejak dunia memasuki era arsitektur modern, pengertian merancang tidak kehilangan kebebasannya, akan tetapi tuntunan hasil menjadi lebih banyak, sebab yang harus diselesaikan lebih banyak mengandung aspek yang lebih luas. Namun pada dasarnya yang langsung adalah fisik bangunan, dan aspek estetika  masih dominan.

Definisi apapun yang diberikan pada pengertian kata arsitektur, kenyataannya tidak bergeser banyak dari penyelesaian fisik bangunan  untuk memenuhi kebutuhan yang akan dituntut, menjamin keselamatan kebutuhan yang dituntut, menjamin keselamatan biologis serta menimbulkan rasa kenikmatan. Dalam banyak hal penyelesaian kenikmatan ini mendapat porsi yang terbanyak dari kegiatan seseorang arsitek. Arsitektur yang kemudian dihasilkan tidak terhindarkan lagi merupakan prestasi estetik yang rampung.

Bukan Pisik

Kita sadar ada perbedaan yang hakiki antara praktek merancang bangunan tradisionil, misalnya bangunan kita yang kini banyak di kota-kota. Dalam praktek pembangunan secara tradisionil, aspek fisik justru mendapat prioritas yang paling belakang.

Jelas dalam artian bangunan tradisionil kita, (baca: rumah Jawa), kata merancang sama sekali tidak relevan pemakaiannya seperti juga dengan kata arsitektur itu sendiri. Sebab pembuatan bangunan tradisional mengutamakan keabsahannya maupun alam nyata maupun alam yang lebih tinggi. Keabsahan ini mempunyai implikasi terhadap jaminan keselamatan rohani maupun jasmani dari para pemakaiannya. Hal ini justru mencapai kedudukan yang paling tinggi.

Jadi menentukan hari yang tepat, arah yang tidak salah serta dihadiri oleh kerabat dan tetangga merupakan  persyaratan  yang penting dan sangat diindahkan oleh semua pihak. Sedang penyelesaian pengukuran bangunan (yang diambil dari trandisionil nyari, pecak, kilan dsb.). sudah ada ketentuan yang baku, tertulis maupun tidak. Karena itu bentuk bangunan tradisionil tidak akan berbeda  kontras antara yang satu dengan yang lainnya, dalam kurun waktu relatif panjang.

Aspek arsitektur lainnya yang berbeda dengan bangunan tradisionil adalah sifat  yang rampung dari bangunan. Sejak dulu arsitektur tradisional di banyak wilayah di Indonesia merupakan  perkembangan yang konsisten dan logis. Bentuk bangunan tradisional yang paling rumit selalu saja dengan dikembalikan dalam bentuk aslinya. Sebagaimana contoh bila kita perhatikan semua rumah tradisiona Bali, maka segera dapat kita ketahui bahwa rumah tersebut merupakan realisasi dari proses pertumbuhan dari keadaaan bio-sosio-ekonomi keluarga yang  bersangkutan . Pada rumah Jawa  prosesnya  tidak setegas seperti pada rumah Bali. Akan tetapi  untuk melihat proses pertumbuhan bangunan tradisional Jawa, lebih menarik bila memperhatikan perkembangan bentuk bangunannya.

Bentuk bangunan Jawa yang paling elementer dan mungkin paling tertua adalah Panggang Pe, selanjutnya rumah kampung tidak lain adalah Panggung-Pe bolak-balik. Kalau rumah kampung diberi sosoran, maka  terjadilah bangunan Srotong dan sebagainya. Baik atap  limasan atau tujug tidak lain adalah varian yang lanjut dari bentuk atap rumah kampung.

Jadi yang sangat  berbeda antara pengertian arsitektur dan bangunan atau rumah tradisinal di Indonesia (baca: Jawa) adalah pengertian merancang, aspek fisik dan sifat rampung. Kesemuanya ini pada bangunan tradisional justru tidak menempati kedudukan yang penting dan sentral seperti pada pengertian arsitektur.

Jelaslah pula bahwa bila bangunan tradisional kita hendak dibaca dengan bahasa arsitektur seperti persepsi Barat, niscaya hasilnya sangat jauh berbeda, kalau tidak mau dikata rusak bila dibandingkan hakekat sebenarnya yang diinginkan oleh arti bangunan itu sendiri.

Sama halnya seperti pengertian kata arsitektur, pengertian rumah Jawa juga tidak pernah didefinisikan secara jelas. Memang lebih mudah menggunakan diskripsi bentuk sebagai definisi, akan seperti yang telah diuraikan di atas, kedudukan fisik bangunan dalam pengertiaan bangunan tradisional (bahasa Jawa) menduduki perioritas yang rendah. Arti non-fisik dari bangunan Jawa justru menduduki kepentingan yang sangat tinggi  prioritasnya.

Nyi Roro Kidul

          Ada dua aspek dominan dari arti non fisik ini, yaitu aspek arah lambang tubuh manusia. Antara kedua aspek ini, aspek arahlah yang paling dikenal, karena paling banyak dan mudah dikemukakan. Kita tentunya sudah mengetahui bahwa arah gunung itu melambangkan alam atas, sedang alam laut melambangkan arah bawah. Di daerah tertentu arah selatan mempunyai arti tersendiri, baik dalam kaitannya dengan kerajaan Nyi Roro Kidul maupun tidak.

Sebaliknya arah matahari terbit dan terbenam umumnya mempunyai arti yang lebih umum, yaitu dalam kaitannya dengan kekuatan dengan dunia bekerja atau kepentingan jasminiah, dan dunia kekuasaan atau rohaniah. Sedang arah  utara umumnya dianggap sebagai    arah formal untuk yang bukan bersifat pribadi.

Secara operatif arah ini bisa dibagi lebih lanjut, umumnya menjadi sembilan bagian.  Masing-masing bagian mempunyai makna tersendiri, dan biasanya dikaitkan dengan kekuatan pribadi seseorang. Dan kepribadian orang Jawa bermula dari hari pasarannya  atau weton atau wuku. Dari sinilah bisa ditentukan arah yang baik, hari melalui suatu pekerjaan, termasuk membuat rumah atau memakai rumah dan sebagainya. Hal ini masih bisa dilanjutkan dengan penentuan skala maupun ukuran yang seperti kita ketahui diambil pula dari ukuran tubuh  kita masing-masing, baik nyari (jari), kilan, kaki, depa dan sebagainya.

Kaitan dengan tubuh manusia pada bangunan Jawa di  kota-kota, mempunyai arti yang lebih tinggi dan penting. Pada tata-kota, Jawa, seperti pada tata bangunan atau ruang, diatur menurut susunan tubuh manusia, yaitu sebagai berikut :

1.Kepala; tempat pertemuan dengan pihak luar maupun tempat mengambil keputusan penting.

2. Tubuh; tempat atau wadah utama dari kehidupan.

3. Kelamin; tempat terkecil akan tetapi menduduki  kepentingan yang tertinggi dan paling  dihormati.

4. Tangan; dibedakan antara yang kanan, kerja jasmaniah,  dan kiri melambangkan kerja yang lebih mulia tanpa tenaga.

5. Kaki ; tidak dibedakan antara yang kanan dari pada yang kiri, dan hanya melambangkan  kegiatan pendudukan yang kurang penting.

Kedudukan lambang tubuh pada tata kota atau tata bangunan atau ruang, berhubungan erat dengan penentuan arah. Ada pedoman umum bahwa kepala itu umumnya terletak di Utara. Sebab untuk pulau Jawa tamu resmi datang selalu dari Utara. Ini tentunya tidak mutlak, sebab banyak rumah Jawa mengarahkan bagian utama ini juga ke Selatan dalam kaitannya dengan kerajaan Nyi Roro Kidul.

Masih  dalam kaitannya dengan kehidupan manusia, rumah tidak pernah dianggap sebagai benda yang berdiri sendiri oleh pengertian bangunan secara tradisional. Hal ini terutama disadari oleh para antropolog. Dan dalam bangunan Jawa bisa kita lihat dari kata rumah itu sendiri. Dalam bahasa Jawa, kata rumah dapat kita terjemahkan menjadi kata dalem atau omah. Kenyataannya kedua kata tersebut mempunyai arti yang lebih luas, antara lain;

1. Omah-omah; gaginya dua dudalem ; pemahaman; omah-omahan; emah-emahan serta  ngemah-ngemahan; masih mempunyai arti dengan pengertian fisik rumah.

2. Umah; umah atau imah ; sudah tidak ada hubungannya dengan arti fisik rumah.  Kini kata  tersebut berhubungan dengan tahap kehidupan seseorang, yaitu menikah, terbiasa atau ahli.

3. Somah,semah, atau susunan ;  mempunyai arti: istri atau ibu rumah  tangga ; dan menikah.  Arti terakhir ini seperti kita ketahui bisa dikaitkan dengan kata

Asomah dan sasomah.

4. Dalem; yang artinya rumah dipakai pula untuk arti yang lebih tinggi, yaitu sebutan  kepunyaan atau gelar bagi orang yang kedudukan sosialnya tinggi, yaitu sampeyan dalem  atau panjenengan dalem serta titihan dalem.

Tentang arti kata yang berhubungan dengan kedudukan seseorang  ini, di sini diuraikan sekedar sebagai petunjuk hubungan pengertian rumah dengan keadaan seseorang, seperti pula kata berumah tangga mempunyai arti yang universil dalam hampir semua bahasa  daerah di Indonesia. Hal ini tidak akan kita temui dalam pengertian house atau to  House misalnya. Dengan uraian singkat di atas, kita dapat mengetahui adanya kaitan yang  lebih luas antara pengertian rumah dalam  konsep Jawa,  baik dalam simbiolisme rumah terhadap tubuh manusia, maupun arti rumah dalam kaitannya dengan kedudukan maupun  tahapan proses mempertahankan eksestensinya melalui perkawinan atau beristeri.

Pola rumah di beberapa daerah

Daerah Madiun ke Barat, rumah–rumah tradisional diletakkan menurut poros Utara – Selatan tanpa memperdulikan letak jalan (baru). Tata bangunan  selalu menurut aturan papat –limo pancer, sedang tempat yang pasti masih harus memperhitungkan Condoro sengkolo.

Sedang pembagian Timur dan Barat sudah pasti, yaitu  untuk kegiatan yang menyangkut kehidupan kini, dan hubungan dengan lelehur yang terletak di sebelah Barat. Kemudian mengikuti susunan bangunan : Regol-pendopo. Dalem dengan sentongnya – Dapur, lumbung / gandok – sumur . sedang bentuk dasarnya pada dasarnya mengikuti bangunan Jawa, yaitu bentuk joglo untuk pendopo, Limasan soko 8 untuk dalem dan Doro-gepok untuk dapur / gandok.

Adanya delapan (8) soko pada bangunan dalem mempunyai makna Hasta – Brata, yaitu : pola Bangkalan dan pemekasan; atau dikatakan pula sebagai pola Madura Barat da pola Madura Timur.

Dalam membahas bangunan tradisional di Madura ada dua aspek umum yang perlu kita perhatikan, tentang tata – letak berbagai bangunan dan bentuk dari masing-masing bangunan.

Tentang tata-letak bangunan pola dasarnya sama dengan pola Jawa, yaitu pendopo – Dalem – gadok ; diperhatikan  pula fungsi arah Timur dan Barat. Akan tetapi dalamnya pelaksanaan yang nyata, yaitu bahwa tiap fungsi rumah terdiri dari bangunan tersendiri.

Sehingga seperti di Bali, rumah adalah susunan bangunan halamannya. Dan satu rumah dipergunakan oleh satu keluarga majemuk atau extented family. Sehingga pada dasarnya

Rumah adalah  satu rumpun bangunan (elustered buildings). Dan setiap rumpun terpisah  dengan tegas dari rumpun bangunan keluarga lainnya. Jadi keadaan  desa di Madura (terutama di bagian Selatan ) semua rumpun mempunyai orientasi arah Utara – Selatan yang tetap . jadi semua rumah menghadap ke Selatan yang tetap. Jadi semua rumah menghadap ke  Selatan dan terletak di Utara, sedang bangunan ‘gandok’ terletak di Utara, sedang bangunan ‘gandok’ terletak di Selatan  dan  menghadap ke Utara.

Di sebelah Barat terdapat bangunan langgar dan dapur terletak di sebelah Timur dekat regol. secara keseluruhan bangunan-bangunan tersebut mengelilingi sebuah pelataran bersama.

Satu hal lagi yang menjadi ciri khas dan konsisten dari bangunan tradisional Madura, adalah, bangunan rumah tinggal / dalem yang berupa bangunan dampit.  Bangunan gandeng ini berturut-turut ditempati oleh orang tua – putra tertua cucu pria tertua, semua yang telah berkeluarga. Bangunan berbentuk rumpun ini merupakan perwujudan yang logis dari sifat orang Madura yang suka merantau, baik pria maupun wanita. Dengan demikian yang tidak merantau bisa bersatu saling membantu di rumah.

Bentuk tata bangunan rumpun ini pelaksanaannya lebih ketat di bagian barat Madura dari pada di sebelah Timur. Sedang tentang arti perlambangan, ternyata di Madura sudah tidak jelas dan rupanya juga tidak mendapat perhatian yang tinggi. Pembangunan rumah umumnya hanya menyangkut hari dan doa selamatan memulai pekerjaan. Pola-pola tradiosional ini dilaksanakan secara praktis tanpa terikat peraturan yang lebih rumit seperti pada bangunan Jawa. Tentang bentuk bangunan umumnya hanya terdiri dari bentuk dasar rumah kampung, limasan, joglo. Namun dalam penerapannya terdapat modifikasi yang memberikan ciri khas Madura.

Ujung Timur dari Jatim

Untuk daerah ujung Timur dari Jawa Timur, terlihat adanya dua pengaruh yang kuat, yaitu Madura untuk di bagian Barat dan Bali untuk bagian Timur. Namun demikian masing-masing bagian ini merupakan percampuran dari unsur Jawa, Madura dan Bali. Tapi dibandingkan dengan  daerah ini tidak menghasilkan bentuk bangunan kampung. Yang berbeda adalah tata-letak dan arti yang dimaksudkan.

Di daerah Situbondo, pengaruh Maduranya cukup kuat, sekalipun kita tidak mendapati bentuk yang dekat  dengan bentuk di Madura,  Bangkalan maupun Pemekasan. Bangunan-bangunan diatur merupakan kelompok bangunan yang mengelilingi sebuah pelantaran. Penghuninya tidak terlalu terikat pada hubungan keluarga. Dan berbeda dengan di Madura, letak kelompok – kelompok tersebut berseblahan, tidak berjauhan seperti di Madura. Demikian pula setiap rumah merupakan unit yang lengkap. yang bersifat kolektif adalah Langgar disebelah Barat, lambang, kandang serta tempat kereta di sebelah Timur , di tengah terdapat pelantaran dan halaman bersama. Jadi rumah ada yang menghadap ke Utara maupun Selatan. Seperti juga di Madura, langgar merupakan bangunan panggung.

Pola Bayuwangi

Di daerah Bayuwangi, arah memegang peran yang cukup penting. Arah Utara dan Timur masih dianggap penting, dan justru arah timur laut ( kajang kangin di Bali ) dianggap  penting sekali. Tentang jenis kayu juga dibedakan kayu yang utama ( sawo, nangka, jati dsb ). dan jenis  kayu yang umum. Demikian pula dengan hitungan pasaran. Masih banyak yang mempergunakannya dengan dikaitkan dengan kelipatan Suku, watu, Gajah dan Timur dan  Madura, daerah ujung barat ini belum Rumah tradisional di Surabaya.

Kalau kita bertanya pada orang Surabaya yang berdiam di daerah perkotaan, apakah ada bentuk rumah tradisional, mungkin 99 %  akan angkat bahu sebagai jawabannya. Dan kalau kita bertanya tentang bentuk rumah pinggiran kota (pedesaan), maka pada umumnya tidak banyak yang dapat memberi penjelasan yang terperinci. Memang, rumah tradisonal di Surabaya belum banyak dilakukan penelitian, dan yang ada dalam belum banyak yang dipublikasikan. Di sini hendak dikemukakan hasil studi yang dilakukan di desa pinggiran barat kota Surabaya, sambil membandingkannya dengan bagian lainnya.

Kalau toh bangunan dampit bisa kita terima sebagai salah satu ciri rumah tradisonal Madura, maka di Surabaya kita bisa membedakan desa yang banyak terpengaruh oleh orang Madura,  dan  yang sedikit. Atau bisa juga kita berkesimpulan, daerah mana yang dulunya merupakan pemukiman keturunan orang Madura yang menetap di Surabaya. (T.A. Sakti,  FS UGM Yogyakarta ).

( Sumber: Harian “Merdeka”, Jakarta, Rabu, 3 Agustus 1983 halaman VII ).

(Catatan mutakhir: 1. Pengetikan ulang ini memang tidak luput dari kekurangannya, karena hasil copy dari koran asli menjadi tidak jelas dan kehitaman akibat lumpur tsunami. Sengaja tidak diketik langsung dari koran aslinya, karena kondisi kertasnya sudah ‘lembut’ karena usia dan rendaman air tsunami.

2. Saya mengucapkan terima kasih kepada ananda Cut Naila Hafni yang telah berupaya bersungguh-sungguh mengetiknya!. Bale Tambeh, Kamis, 12 Rabiul Awal 1434 H/24 Januari 2013/ 12 Molod 1434, T.A. Sakti )

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s