Sedikit tentang Museum Aceh

SEDIKIT TENTANG MESIUM ACEH

Oleh: T.A. Sakti

BAGl masyarakat umum (awam) di Banda Aceh dan sekitarnya, “Mesium Aceh” lebih dikenal dengan sebutan “Rumoh Aceh”. Asal mula dibangun Rumoh Aceh ini adalah di kota Semarang (Jawa Tengah) tahun 1914. Di Semarang masa itu pihak Pemerintah Hindia Belanda membangun sebuah komplek yang sangat luas, dimana di dalamnya hadir semua atribut budaya dari segenap daerah jajahan yang terdapat di Hindia Belanda. Komplek tersbut kira-kira menyerupai Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta sekarang. Tahun 1915  atas usul seorang ahli museum Belanda yang bernama Van Swart, Rumoh Aceh dipindahkan ke Kutaraja (Banda Aceh, sekarang). Mulanya ditempatkan di Blang Padang yaitu di arena MTQ Nasional XII. Ketika Pekan Kebudayaan Aceh ke II th-1972, dipindahkan ke lokasi sekarang. Dihadapannya mengalir sebuah sungai yang sangat bersejarah, namanya Krueng Daroy.

Dahulu sungai ini mengalir dalam komplek Istana Kerajaan. Tidak berapa jauh dari mesium (rumoh Aceh), terdapat sebuah bangunan indah peninggalan masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam. Namanya Pinto Khop. Tempat bersalin tuan putri ketika mandi. Disinilah Puteri Pahang yang berasal dari Tanah Semenjung Melayu mandi-mandi bersama dayang-dayangnya yang cantik jelita. Sementara itu dari Pinto Khop kita dapat melihat sebuah bangunan lagi yang indah, namanya Gunongan. Dibangun Sultan Iskandar Muda sebagai cendera mata Sultan kepada Puteri Pahang, yang telah bersedia menetap di Aceh. Melihat kepada bentuk bangunan rasa-rasanya kita tidak percaya, bahwa bangunan itu telah berumur hampir 4 abad. Begitulah tingginya keahlian arstektur dimasa itu. Di saat-saat menjelang MTQ Nasional XII, kcdua bangunan bersejarah ini nampaknya semakin anggun, karena setiap saat ia bersolek diri. Beberapa tahun terakhir ini bangunan dalam komplek Rumoh Aceh telah bertambah banyak. Semua bangunannya, walaupun bentuk permanen namun semuanya bermotifkan ciri khas rumah Aceh. Bangunan itu ilah: Ruang Perpustakaan (bagian Selatan), Rumoh Aceh yang dibawa pulang dari Semarang, gedung tata usaha, Auditiriurn (aula) dan gedung pameran tetap. Memasuki komplek Rumoh Aceh, mulai dari pintu gerbang sebelah kanan, sebuah gong besar akan memikat perhatian kita. Dengan gong inilah Sultan Aceh memanggil rakyatnya datang ke istana, bila keperluan tertentu. Namanya Gong Cakra Donya, digantung megah dalam sebuah bangunan “mini” yang berukiran indah. Gong Cakra Donya berasal dari hadiah Maha Raja Tiongkok kepada Kerajaan Aceh Darussalam. Masa itu negeri Cina diperintah oleh seorang raja keturunan Jengis Khan. Diantarkan ke Aceh oleh Laksamana Cheng Ho, seorang ahli militer Tiongkok yang beragama Islam. Hampir setiap hari sejumlah wisatawan dalam dan luar negeri, mengabadikan diri bersama fotonya.

Maju sedikit lagi dari pintu gerbang, terdapat tanah perkuburan keluarga Sultan Aceh. Sultan Mahmud Syah dan Pocut Muhammad turut dimakamkan bersama anggota keluarga kerajaan lainnya. Menurut keterangan orang-orang tua, dimasa dulu, batu-batu nisan dari makam ini bersalutkan emas dan suasa. Dimasa pendudukan  Belanda, semua emas itu telah habis dicuri serdadu mereka. Untuk memudahkan usaha pencurian, mereka mebatu nisan, hingga beberapa diantaranya telah rusak sekarang. Bila saja kita telah berada di ruangan Gedung pameran tetap dari mesium Aceh, di dalam lemari kaca deretan pertama kita akan membaca sebuah terjemahan dari Hadih Maja Aceh yang berbunyi; Adat bak Po Teumeruhom Hukom bak Syiah Kuala. Kanun bak putroe Phang, reusam bak Lakseumana (Adat pada Sultan, hukum pada Ulama (Syeh Abdurrauf-Syiah Kuala). Undang undang tafsiran pada Putri Pahang, resam dunia pada Laksamana).

Baca lebih lanjut

Sastra Air Mata di Aceh – Jawa

Akibat Peristiwa 10 Muharram 61 H :

TRAGEDI PADANG KARBALA DAN “SASTRA AIR MATA”

DI ACEH – JAWA

Oleh : T. A. Sakti

MUHARRAM adalah bulan pertama dalam penanggalan Tahun Hijriyah. Di kalangan masyarakat Aceh bulan Muharram disebut “Buleuen Sa Usen ” (Bulan Hasan Husin). Sementara itu, bulan Muharram di kalangan masyarakat Jawa dinamakan Bulan Suro. Dan menyambut tanggal 10 Suro sangat khidmat/suci bagi masyarakat Jawa. Suro merupakan perubahan dari kata ‘Asyura, yang berarti bilangan sepuluh (10). Sa-Usen, juga berasal dan perubahan ucapan dari kata “Hasan – Husin”, Yaitu nama dua orang anak Saidina ‘Ali dari isterinya Fatimah binti Rasulullah. Tepatnya, Hasan – Husin ini adalah cucu Nabi Muhammad Saw.

Mengapa masyarakat Aceh dan Jawa sangat menghormati bulan Sa Usen atau Suro ini? Banyak selubung yang perlu disingkap untuk mencari jejaknya! Inti dari asal-muasalnya adalah tragedi pembantaian di Padang Karbala, hampir 1400 tahun yang lalu.

Rasa dendam dan sedih masyara­kat Aceh-Jawa atas peristiwa tanggal 10 Muharram, tercermin dalam karya-karya sastra dan syair mereka. Semua ‘keluhan’ perasaan menimbulkan rasa-haru dan menyayat hati bagi pendengarnya. Air mata pun tak terbendung menggenangi kelopak mata tanpa disadari. Inilah salah satu bentuk “Sastra Air mata” yang sangat populer di kalangan rakyat daerah Aceh-Jawa tempo dulu.

 

Di Aceh

“Al Hasan tsumman Husein Len Nabi Kharatun’in. Nuruhom kasyaf a‘ten jadduhom shallu ‘alem “, sebuah syair bahasa Arab (dialek Aceh) yang sering dinyanyikan murid-murid pengajian. Isi syair itu menjelaskan bahwa Hasan dan Husin adalah cucu Rasulullah; Nabi Muhammad SAW.

“ka syahid-syahid Husein samat teungoh blang, ka syahid-syahid Hasan di rumoh tangga. Mate-mate di aduen ka keunong beusoe, mate-mate di adoe keunong reucana (artinya: Husin syahid/terbunuh di tengah Padang pasir, sedangkan Hasan syahid di rumahnya. Kakak mati terkena serbuk besi (racun), sang adik mati tertipu perangkap musuh.

Syair di atas sering dilagukan dalam kesenian Rapa-i dan tari Saudati. Meskipun kedua jenis seni ini memang bergaya kocak bersemangat, namun para penontonnya sempat berdiri bulu roma atau menggertakkan gigi, akibat geram dan sedih mengenang peristiwa tragis itu.

Media lain untuk mengenang Perang Karbala adalah melalui syair/zikir pada perayaan Maulid Nabi. Murid-murid pilihan yang diundang dari sebuah Dayah (nama sebuah Pesantren di Aceh), selain membawakan Qasidahan/Nasyid tentang kelahiran Muhammad SAW, sering pula Qasidah mereka diselingi dengan lagu-lagu kenangan kepada kedua orang cucu Rasulullah : Hasan-Husin.

“Marhaban ya ya marhaban, marhaban jaddal Husaini.

Husein syahid samat teungoh blang, Malaikat tron meribee laksa.

Neupeutron Reuhap saboh nyang indah, teupat neu keubah Husein ya Mauloi” (Artinya ; Selamat,………..selamat datang junjungan kami, kakek dari dua Husaini: Hasan Husin. Husin syahid di tengah sawah/Padang, Malaikat turun beribu-ribu. Mereka membawa Rehap dari langit, tempat pembaringan Husin mulia).

Timbul pertanyaan, mengapa hanya kisah Saidina Husin saja yang banyak mendominir syair dan qasidah,  sedangkan Saidina Hasan kakanda beliau agak kurang ditonjolkan ???

Hal ini mungkin terjadi karena kekejaman terhadap kedua cucu Rasulullah itu tidak sama tragisnya. Sang Abang meninggal di rumah sendiri akibat terminum racun, sedangkan Saidina Husin dibunuh secara sadis sekali dipanas terik padang terbuka, gurun pasir.

Di Jawa

Di kalangan masyarakat Jawa, banyak pula jenis sastra dan seni tradisional yang melukiskan perjalanan perang antara tentara Saidina Husin dengan pasukan Jazid (Bahasa Jawa: sayidina Husen dan raja Yojid). Sebagai ilustrasi penulis kutip hasil penelitian LF Brakel dalam bukunya “The Hikayat Muhammad Hanafiyyah a medieval Muslim-Malay Romance”, halaman 104 (terjemahan ke bahasa Indonesia oleh penulis) sebagai berikut:

“Wastanira nenggih Samarlihan ika tumandang sarwi angling:

“Heh sak wehe hulubalang! Punggalna Husen ika!”

Sumawur rowange sarni:

“Satuhune ing wang Jrih maring Nabi wali!-”

 

-Nulya aglis sira malih Samar-lihan:

“Yan tan wani sira sami

Mangke ingusan uga

Amunggala Husen ika!

Sun atur maring sang aji

Endase ika!”. samawur hulubalang sami;

Terjemahan bebas

Hatta demikian Samarlihan itu bertindak dengan hati-hati

“Hei, semua prajurit! Penggallah laher Husin itu!

Menjawab pembantunya:

Seganlah kita, pada Nabi dan wali!

“Kalau kamu berani sama saya

Nanti saya juga, memenggal kepala Husin itu!

Saya persembahkan kepalanya kepada raja

Jawab para hulubalang”.

Kutipan teks di atas bersumber dari Serat Akhir Ing Jaman, yang berbahasa Jawa lama — sekarang nampaknya kurang dipahami para muda-mudi Jawa —, mengisahkan suasana ketika peperangan berakhir. Saat itu, Samarlihan (bahasa Aceh : Siman La’eh), yang memimpin pengepungan; kurang berani mendekati Saidina Husin yang maju bertempur seorang diri. Samarlihan saling bertengkar mulut dengan para prajuritnya.

Bulan Muharrram dalam bahasa Jawa disebut Suro. Dan perayaan untuk menyambut tanggal 10 Suro sangat sakral/khidmat bagi masyarakat Jawa. Kanji ‘Asyura (bubur 10 Muharram) masih populer pada berbagai tempat di Jawa.

 

Di Luar Aceh – Jawa

Nampaknya, perkembangan cerita duka ini tidak hanya singgah di Aceh dan Jawa saja. Tetapi kisah tersebut menyebar ke seluruh pelosok tanah air. Karena itu dapat dikatakan, bahwa cerita pembantaian Padang Karbala ini telah pernah membentuk “Sastra Nusantara”, semenjak pulau-pulau di nusantara Indonesia sendiri belum bersatu. Kisah ini telah merintis benang merah ke arah persatuan Indonesia seperti termaktub dalam Pancasila.

Menurut penelitian LF Brakel dalam disertasinya “The Hikayat, Muhammad Hanafiyyah a medieval Muslim-Malay Romance” (The Hague Martinus Nijhof – 1975) mengatakan, bahwa kisah Hasan – Husin ini terdapat dalam sejumlah bahasa daerah di Indo­nesia. Menurutnya lagi, cerita tersebut tidak hanya berbentuk cerita dari mulut ke mulut, tetapi juga banyak yang telah ditulis ke dalam buku seperti hikayat, babad, serat, daun lontar dan lain-lain. Bahkan dalam perkembangan lebih lanjut cerita ini sudah dijadikan sejenis lakonan, wayang, ketoprak dan sebagainya.

Daerah-daerah yang pernah berkembang kisah Saidina Hasan dan Saidina Husin ini; menurut LF Brakel ialah : Aceh, Jawa, Sunda, Madura, Bima, Minagkabau, Makasar, dan Bugis. Sedangkan di luar Indonesia sempat berkembang luas di Persia (Iran), Turki, Dakhni dan Panjabi- In­dia. Ini hanya yang pernah diteliti LF Brakel. Mungkin penyebaran sebenarnya lebih luas lagi, baik di Indonesia maupun di negara-negara lain.

 

Beragam Perayaan

Menurut LF Brakel (halaman 60) peristiwa Karbala telah melahirkan kesusasteraan yang luas dan bagus dalam bahasa-bahasa daerah di Indo­nesia. Di samping itu, masyarakat di daerah-daerah tertentu mengadakan berbagai perayaan untuk mengenang mati-syahidnya Hasan-Husin. Perayaan-perayaan itu pernah diadakan di pesisir belahan barat pulau Sumatera, seperti Bangkahulu, Padang, Trumon (Aceh Selatan) dan di Gigieng, Pidie.

Menurut berita-berita media-massa; di kota Padang (Sumbar) tradisi perayaan ini telah dihidupkan kembali secara besar-besaran untuk menarik para wisatawan dari mancanegara. Bagaimana halnya di Aceh (?). Perayaan di Tanah Minang disebut Tabut, adalah berbentuk perang-perangan antara satu kampung dengan satu kampung lainnya, yang kadang-kadang sangat mengerikan.

Tradisi ini pernah sangat membudaya di daerah Padang Pariaman dan sekitarnya di Sumatera Barat. Kaba Muhammad Ali Hanafiah, yang ceritanya berfokus pada kematian Husin merupakan sastra lama, pernah sangat populer di Bumi anak Minang yang berjiwa perantau itu.

Hikayat Soydina Husen

“Mu’awiyah ureueng kafe ngon Nabi hantom meudakwa. Peue nyang neu kheun uleh Nabi jipatehle sigra-sigra”. “Mu’awiyah orang kafir, dengan nabi tak pernah cekcok. Apa yang dikatakan oleh Nabi  si Mu’awiyah menurutinya).

Itulah salah satu bait dan kata pengantar Hikayat Soydina Usen. Betul-betul pengaruh aliran syi’ah sempat lama berkembang di daerah ini. Mu’awiyah dilukiskan sebagai orang kafir, namun selalu sependapat dengan Nabi Muhammad SAW. Padahal menurut sejarah yang ‘resmi’: Mu’awiyah adalah seorang sahabat setia Rasulullah. Tokoh Mu’awiyah adalah ayahanda raja Yazid yang bermusuhan dengan Saidina Husin, cucu Rasulullah. Aliran syi’ah akhirnya sirna di Aceh, setelah aliran Sunni mendominasi Islam di daerah ini. Timbul pertanyaan, apakah kaum syi’ah sebagai pembawa agama Islam yang pertama ke Aceh ? Hingga kini, setahu penulis belum diadakan penelitian khusus mengenai masalah itu!.

Biarpun kemudian muncul Hikayat Soydina Husen versi baru. yang menentang tuduhan terhadap Mu’awiyah, namun karena telah terlanjur tersebar luas hikayat versi lama, sebagian rakyat desa masih menganggap Mu’awiyah seorang kafir tulen, akibat pengaruh versi lama tersebut (Astaghfirullah!)

Dalam Hikayat Soydina Husen versi baru disebutkan ;

“Meupakat Ulama meumandum syiah, meunoe neu peugah dalam calitra. Soydina ‘Ali ngon Mu’awiyah, nibak Allah pangkat Beusa(r). Tanoh yub tapak dua kandran, suci tuan teuleubeh bak Mushalla! (Artinya: Sepakat Ulama semua Syekh, beginilah kata mereka : “Saidina ‘Ali dan Mu’awiyah di hadapan Allah besar pangkatnya. Tanah di bawah tapak kuda kedua mereka lebih suci dari pada tikar sembahyangmu.

Sastra Perang

Pengaruh Hikayat Soydina Husen di Aceh, hampir menyamai Hikayat Perang Sabil. Di masa perang Aceh melawan Belanda, Hikayat Soydina Usen menjadi bacaan rebutan masyara­kat Aceh, terutama di daerah-daerah yang tidak tersebarnya Hikayat PERANG SABIL seperti di wilayah Beutong, Aceh Barat. Penyebabnya ialah karena Hikayat Soydina Usen juga dapat membangun semangat juang fisabilillah-Perang di Jalan Allah melawan Belanda, sebagaimana Hikayat Prang Sabi (Hikayat Perang Sabil). Dapatlah disebutkan, bahwa Hikayat Soydina Husin bukan hanya sanggup berperan sebagai “Sastra Air Mata”, namun sekaligus mampu menjadi “Sastra Perang” pula.

Naskah Hikayat Soydina Husen yang ditulis tangan dalam huruf Arab Melayu (Aksara Jawi/Jawoe) beredar di seluruh Aceh. Dulu, orang sering membacanya di waktu malam. Mereka bersedih bahkan sampai menangis terisak-isak bila ceritanya telah sampai di bagian terbunuhnya Saidina Husen di Padang Karbala (di Irak). Tapi si pembaca dan pendengarnya nampak sangat girang serta penuh semangat, di saat pembunuh Husin mendapat pembalasan yang setimpal.

Dijelaskan dalam cerita, bahwa akibat dari pembalasan itu raja Yazid serta sebagian besar pengikutnya terbunuh. Kerajaan “Dhamsyik” di Syria hancur berantakan pula. Pembalasan ini dilakukan oleh saudara-saudara Husin, yang juga putera Saidina ‘Ali dari lain ibu. Ketika berlangsung Perang Karbala mereka tidak mendapat berita, karena surat-surat yang dikirim Husin terlambat tiba.

Cara dan gaya penyajian hikayat ini cukup berhasil. Pembaca dan pendengarnya benar-benar terbawa “arus” cerita. Di bagian puncak kemenangan kita bersemangat; riang gembira. Sebaliknya, di bagian lain kita jadi sedih-berduka mengeluarkan air mata. Terutama bagi mereka yang peka perasaan, berbakat seni.

Memang begitulah suratan sejarah. Kalau pembantaian besar-besaran di Bosnia-Chechnya oleh serdadu-serdadu Serbia-Rusia. menimbulkan protes keras dunia internasional. Tetapi pembantaian besar-besaran di Padang Karbala, melahirkan Sastra Air Mata di Aceh – Jawa. Sangat tragis !!!.

Penulis, T.A. Sakti alias Drs.Teuku Abdullah Sulaiman, SmHK

adalah alumnas Fakultas Sastra Jurusan Sejarah UGM Yogyakarta, mengikuti Program Beasiswa Kerjasama Indonesia – Belanda mewakili Aceh.

 

#Sumber: Buletin PANCA, edisi Maret – April 1995 halaman 50 – 52, Kanwil Transmigrasi Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Banda Aceh.

Manusia Aceh

MANUSIA ACEH

Oleh: T.A. Sakti

MENGAMATI “ciri khas” manusia Aceh, sungguh terlalu sukar. Sebab, tulisan-tulisan yang mengupas-tuntas tentang masalah ini masih amat jarang disentuh para penulis kita. Akibatnya, buku-buku yang membahas perilaku manusia Aceh (Orang Aceh), setahu penulis belum pernah diterbitkan sejak negara kita merdeka, 17 Agustus 1945.

Padahal buku-buku sejenis itu, baik yang berjudul Manusia Jawa, Manusia Sunda, ataupun Manusia Bugis; mudah diperoleh di pasaran buku terutama di Jawa. Sebagai bukti-nya, penulis sendiri memiliki beberapa buku semisal itu; seperti “Manusia Jawa”, karya Drs Marbangun Hardjowirogo, terbitan Yayasan Idayu-Jakarta 1983. Kedua, “Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional” oleh Niels Mulder, penerbit Gadjah Mada University Press bekerjasama dengan Penerbitan Sinar Harapan, 1981. Ketiga, “Salah Satu Sikap Hidup Orang Jawa”, tulisan Dr. S. De Jong, Penerbitan Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 1976. Keempat, “Manusia Sunda”, karya Ajip Rosidi, terbitan Inti Idayu Press-Jakarta 1984. Kelima, “Manusia Indonesia” (Sebuah Pertanggung Jawaban) buah pena Mocthar Lubis, dkk, diterbitkan Yayasan Idayu-Jakarta 1981. Keenam, “aneka Budaya dan, Komunitas di Indonesia”, karya Hildred Geertz (terjemahan), diterbit­kan untuk Yayasan ilmu-ilmu Sosial dan FIS-UI, 1981. Itu hanya yang saya miliki;  kalau di pasaran buku pasti bisa didapati puluhan judul lagi buku-buku sejenis itu.

Bagaimana dengan buku tentang “Manusia Aceh”? Saya sendiri belum pernah melihatnya; apalagi membeli atau membacanya?. Entah saya yang ketinggalan kereta api, sehingga tidak sanggup menemukan sebuah buku pun mengenai “Manusia Aceh”, setelah bersusah-payah ‘menyelidikinya’ di sejumlah toko buku, mulai dari kota Banda Aceh, Jakarta, Semarang, Yogyakarta dan Solo; hom hai hom? (tidak mengertilah ?)

Manusia Aceh, bertempat tinggal (yang menetap) di Propinsi Daerah Istimewah Aceh, yang populer pula dengan sebutan Tanah Rencong atau Bumi Serambi Mekkah (?). Hampir keseluruhan wilayahnya tersentuh pesisir atau perbatasan laut, yang menyebabkan asal-usul penduduk daerah ini berasal dari manca negara.

Melihat pada postur tubuh, raut muka dan rambut-mata; manusia Aceh banyak kemiripannya dengan orang Arab, India, Kamboja-Vietnam, dan Eropa. Mungkinkah asal-usul manusia Aceh dari sana ?. Kalau memang benar, maka tidak berlebihan bila ada orang yang berpendapat, bahwa manusia Aceh berasal dari “ejaan namanya” sendiri: ACEH, yaitu Arab, Cina (terutama Komboja-Vietnam), Eropa dan Hindia (India). Mengenai manusia Aceh yang asal-usul diduga dari Eropa tampak lebih sering menarik minat pihak media-massa mengeksposenya, Misalnya, “Mencari Si Mata Biru di Lamno” (Hr. Kompas, Sabtu, 15-2-1986 him IX). Menurut berita koran, sebagian penduduk desa di Lamno, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Barat; adalah keturunan Portugis.

Baca lebih lanjut

Arung Samudera dan Manusia Aceh

ARUNG SAMUDERA DAN MANUSIA ACEH

Oleh: T.A. Sakti

 

SEBUAH kapal laut, yakni KRI “Arung Samudera” sudah bertolak mengelilingi dunia pada awal April 1996 yang lalu. Kapal yang penumpang serta awaknya terdiri dari para “taruna” angkatan laut Republik Indonesia; sambil mengelilingi dunia selama setahun, juga akan mengikuti berbagai lomba tingkat internasional di mancanegara.

Peristiwa tersebut sangatlah penting. Terutama dalam upaya memupuk kembali rasa cinta bahari (laut) bagi putra-putri Indonesia. Saya sebutkan “memupuk kembali”, karena pada zaman dahulu rakyat Indonesia adalah insan-insan pecinta samudera.

Malah dalam buku-buku sastra Indonesia lama, sebutan untuk “zaman lampau pun” dikatakan dengan “istilah “zaman bahari”. Lagu “Nenek Moyangku Orang Pelaut”, benar-benar mencerminkan kepiawaian bangsa Indonesia dalam mengharungi lautan luas pada zaman kapal layar.

Nah, dalam rangka membangkitkan kembali “semangat kelautan” itulah, maka pemerintah Republik Indonesia mencanangkan Tahun 1996 adalah Tahun Bahari, sekaligus pula sebagai Tahun Dirgantara. Penerapan Tahun Bahari ditandai dengan pelepasan KR1 “Arung Samudera” mengelilingi dunia, sedangkan penggelaran Tahun Dirgantara 1996 dicetuskan dengan “Pameran pesawat terbang” yang dilangsungkan di Jakarta baru-baru ini.

“Tajak u Makkah jeumeurang laot, bek takot-takot barang peue bahya. Nyangna Ion takot Allah ngon Nabi, laen beurangri hana lon taba!” (artinya: Pergi ke Mekkah seberangi laut, tak usah takut segala bahaya. Cuma Allah dan Nabi saya takuti, yang lain lagi nihil belaka alias cuek saja!). Syair Aceh di atas menyiratkan, bahwa masyarakat Aceh pada “zaman bahari” tidak asing lagi terhadap laut.

Baca lebih lanjut