Menyambut 10 Muharram 1432 H : Kisah Tragedi Padang Karbala

Kisah Tragedi Padang Karbala

SA  USEN ACEH, DAN   AIR   MATA

Bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam penanggalan Tahun Hijriyah,  yang  kini sedang kita jalani. Di kalangan masyarakat Aceh, bulan yang mengawali dari bulan-bulan Islam ini disebut “buleun Sa Usen”, Mengapa hingga dinamakan buleun Sa Usen?. Banyak selubung yang perlu disingkap guna mencari jejaknya. Inti dari asal-muasalnya adalah tragedi  pembantaian di Padang Karbala, hampir 1400 tahun lalu.

Sa-Usen adalah perobahan ucapan dari Hasan-Husen, yaitu nama dua orang anak Saidina Ali dari isteri beliau: Fatimah binti Rasulullah.

Rasa dendam dan sedih masyarakat Aceh atas peristiwa 10 Muharram ini, tercermin dalam karya-karya sastra dan syair lagu mereka. Semua keluhan perasaan menimbulkan rasa haru dan menyayat hati bagi pendengarnya. Air matapun tak terbendung tanpa disadari.  Inilah salah satu dari bentuk “Sastra Air Mata” yang sangat populer dikalangan rakyat Aceh tempo dulu.

“Al Hasan Tsumman Husein len Nabi Kharatun ai’n. Nuruhum kasyaf’aten jadduhum shallu’alim;  sebuah syair bahasa Arab yang sering dinyanyikan murid-murid pengajian. Isinya menjelaskan bahwa Hasan dan Husein itu, keduanya cucu Muhammad saw.  “Ka syahid-syahid Husen samat teungoh blang, ka syahid-syahid Hasan di rumoh tangga. Mate-mate di aduen ka keunong beusou, mate-mate di adoe kenong reuncana (Husein syahid (terbunuh) di tengah-tengah padang pasir, sedang Hasan terbunuh di rumahnya. Kakak mati terkena serbuk besi (racun), sang adik mati tertipu perangkap musuh). Syair diatas sering dilagukan dalam kesenian “Peh Rapa’I” (rebana khas Aceh)  dan tarian Seudati. Meskipun kedua jenis kesenian ini memang gayanya kocak bersemangat, namun para penontonnya sempat dibuat menggertakkan gigi;  akibat geram dan sedih mengenang perintiwa tragis itu.

Salah satu bentuk lainnya mengenang Perang  Karbala, sering dinyanyikan orang di hariPerayaan Maulid Nabi. Murid-murid pilihan yang diundang dari sebuah Dayah (Perantren), selain membawakan Qasidahan tentang kelahiran Muhammad saw, sering pula Qasidah dan berzanji itu diselingi dengan lagu-lagu kenangan kepada kedua orang kakak beradik; Hasan – Husein. “Marhaban ya ya Humarhaban Marhaban Jaddal al Husaini. Husein Syahid Samat Tengoh Blang Malaikat Tron Meuribee Laksa. Neupeutron Reuhab Saboh Nyang Indah Teumpat Neukeubah Husein Ya Maulai: (Marhaban: selamat datang wahai junjungan kami, kakek dari dua Hasan-Husein. Husein syahid di tengah padang/sawah. Malaikat turun beribu-ribu. Mereka membawa rehab dari langit, tempat membaringkan Husein Mulia). Timbul pertanyaan, mengapa hanya kisah saidina Husein saja yang banyak mendominir syair dan qasidah, sedang saidina Hasan kakak beliau agak kurang ditonjolkan?.

Hal ini mungkin terjadi karena kekejaman terhadap kedua cucu Rasulullah itu tidak sama tragisnya. Sang kakak meninggal di rumah sendiri akibat minum racun, sedangkan saidina Husein di bunuh secara sadis sekali dipanas terik padang terbuka, gurun pasir.

SASTRA LAMA NUSANTARA

Nampaknya, perkembangan cerita duka ini tidak hanya singgah di Aceh, sebagai daerah pertama perkembangan Islam di Nusantara, tapi kisah tersebut menyebar keseluru tanah air. Karena itu kisah pembaitaian Padang Karbala telah pernah membentuk “Sastra Nusantara” semenjak pulau-pulau di nusantara sendiri belum bersatu. Kisah ini telah merintis benang merah kearah persatuan Indonesia seperti termaktub dalam Pancasila. Menurut penelitian L.F. brakel dalam disertasinya THE HIKAYAT MUHAMMAD HANAFIYYAH a medieval muslim-malay romance (penerbit the hague Martinus Nijhoff-1975) mengatakan, bahwa kisah Hasan Husein ini terdapat dalam sejumlah bahasa daerah di Indonesia. Menurutnya lagi, cerita tersebut tidak hanya berbentuk cerita dari mulut ke mulut, tapi juga banyak yang ditulis ke dalam buku seperti hikayat, babad, serat, daun lontar dan lain-lain. Bahkan perkembangan lebih lanjut hingga dijadikan sejenis lakonan, wayang ketoprak dan sebagainya. Daerah-daerah yang pernah berkembang kisah saidina Hasan dan Saidina Husein ini menurt L.F. brakel ialah: di Jawa, Sunda, Madura, Minangkabau, Makasar, Bugis dan Aceh. Sedang di luar Indonesia sempat berkembang luas di Persia (Iran), Turki, Dakhni dan Panjabi India. Ini hanya yang pernah diteliti Brakel. Mungkin penyebaran sebenarnya lebih luas lagi, baik di Indonesia maupun  di Negara-negara lain.

Menurut L.F. Brakel (halaman 60), peristiwa Karbala telah melahirkan kesusastraan yang luas dan bagus dalam bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Disamping itu, masyarakat didaerah-daerah tertentu mengadakan berbagai perayaan untuk mengenang mati syahidnya Hasan dan Husein. Perayaan-perayaan itu pernah di adakan di pesisir belahan barat Pulau Sumatra, seperti Bangkahulu, Padang, Trumon Aceh Barat dan Gigieng (Pidie). Menurut berita, di kota Padang , Sumbar, tradisi perayaan ini akan dihidupkan kembali secara besar-besaran dalam rangka Musabbaqah Tilawah Qur’an Tingkat Nasional tidak lama lagi.

Perayaan di tanah Minang ini, kalau tidak salah penulis disebut Tabut, adalah berbentuk  perang-perangan antar satu kampun dengan kampung lainnya, yang kadang-kadang cukup mengerikan. Tradisi ini sangat membudaya di daerah Padang Pariaman dan sekitarnya di Sumatera Barat. Kaba Muhammad Ali Hanafiah, yang isinya berfokus pada kematian Husein merupakan sastra lama, pernah populer di bumi anak Minang yang berjiwa perantau itu.

Di kalangan masyarakat Jawa, banyak pula jenis kesusastraan dan kesenian tradisionil yang melukiskan perjalanan perang antar tentara saidina Husein dengan pasukan Jazid (bahasa Jawa Saiyidina Kusen dan raja Yojid). Sebagai illustrasi penulis kutip kisah peristiwa itu dari buku L.F. Brakel halaman 104 (terjemahan kedalam bahasa Indonesia oleh penulis) sebagai berikut:

Wastanira nenggih samarlihan ika

tumandang sarwi angling:

“Heh sak wehe hulubalang!

Punggalna Husen ika”

Sumawur rowamge sami:

“Satuhune ingwang

Jrih maring nabi wali”

Nulya aglis sira malih samarlihan:

“yan tan wani sira sami,

mangke ingsun uga amunggala Husen ika!

Sun atur maring sang aji endase ika!

Sumawur hulubalang sami:

Terjemahan bebas:

Hatta demikian samarlihan itu bertindak dengan berhati-hati:

“Hei, semua perajurit! Penggallah leher Husein itu! Menjawab pembantunya: seganlah kita, pada Nabi dan Wali!

“kalau kamu berani sama saya, nanti saya juga memenggal kepala Husein itu! Saya persembahkan kepalanya kepada Raja, jawab para hulubalang.

Kutipan teks dari ” Serat Akhir Ing Jaman”, yang berbahasa Jawa lama (sekarang nampaknya kurang dipahami muda-mudi Jawa), mengisahkan ketika peperangan hampir berakhir, saat itu, samarlihan (bahasa Aceh: Siman La’eh), yang memimpin pengepungan, kurang berani mendekati Husein yang maju bertempur seorang diri. Samarlihan saling bertengkar mulut dengan perajuritnya. Bulan Muharram dalam bahasa Jawa disebut Suro.

HIKAYAT SOYDINA HUSEIN

“Mu’awiyah ureung kaphe ngon nabi hantom meudakwa. Peue nyang neu kheun oleh nabi jipateh le sigra-sigra(Mu’awiyah orang kafir, dengan Nabi tak pernah cekcok- berkawan. Apa yang di lakukan oleh Nabi, Mu’awiyah menurutinya). Itulah salah satu bait dari kata pengantar Hikayat Soydina Usen. Betul-betul pengaruh aliran Syi’ah yang sempat lama berkembang di Aceh, pada masa permulaan Islam berkembang di daerah ini. Mu’awiyah dilukiskan sebagai orang kafir, namun selalu sependapat dengan nabi Muhammad saw. Pada hal menurut sejarah yang resmi: Mu’awiyah adalah salah seorang sahabat setia Rasulullah. Mu’awiyah, ayahanda Jazid yang bermusuhan dengan Husen. Aliran Syi’ah akhirnya hapus di Aceh, setelah aliran Sunni mendominasi Islam di sana.

Biarpun kemudian muncul hikayat soydina Usen versi baru, yang menentang tuduhan terhadap Mu’awiyah itu, namun karena telah terlanjur tersebar luas hikayat versi lama. Sebagian rakyat desa masih menganggap Mu’awiyah seorang kafir tulen, akibat pengaruh versi lama tesebut (Astaghfirullah). Dalam versi baru dikatakan: Mupakat Ulama mamandum Syiah, Meunoe neupeugah kalam calitra. Soydina Ali ngon Mu’awiyah, nibak Allah pangkat beusa ®. Tanoh yub tapak dua kandran, suci tuan teuleubeh bak Musalla (sepakat ulama semua Syekh, beginilah kata meraka: saidina Ali dan Mu’awiyah dihadapan Allah besar pangkatnya. Tanah dibawah tapak kuda kedua mereka, lebih suci dari pada tikar sembahyangmu.

Pengaruh Hikayat Soydina Usen di Aceh, hampir menyamai Hikayat Perang Sabil. Dimasa perang melawan Belanda, Hikayat Soydina Usen jadi bacaan rebutan masyarakat Aceh. Karena seperti Hikayat Perang Sabil (1) ; hikayat ini juga dapat membangun semangat juang, yang memberanikan rakyat Aceh menyabung nyawa, diujung senapan Belanda.

Naskah Hikayat Soydina Usen yang bertulisan tangan dalam huruf Arab itu beredar diseluruh Aceh. Dulu, orang sering membacanya di waktu malam. Mereka bersedih, bahkan sampai menangis terisak-isak bila cerita telah sampai dibagian terbunuhnya Husein di Padang Karbala. Tapi si pembaca dan pendengarnya nampak sangat girang bersemangat ketika pembunuhan Husein dan keluarganya mendapat balasan yang setimpal. Raja jazid dan sebagian besar pengikutnya terbunuh. Kerajaan Damsyik (Damaskus) hancur berantakan. Pembalasan ini dilakukan oleh saudara-saudara Husein, yang juga anak-anak saidina Ali dari lain ibu. Selama Perang Karbala, mereka tidak mendapat berita, karena mereka memegang kekuasaan di negeri lain, jauh dari Madinah.

Penyajian hikayat itu, yang merupakan salah satu bentuk dari sastra lama cukup berhasil. Pembaca dan pendengarnya cukup terbawa menurut arus cerita. Di bagian puncak kemenangan kita bersemangat, riang gembira. Sebaliknya dibagian lain kita berduka, sedih mengeluarkan air mata. Terutama bagi mereka yang peka perasaan, berbakat seni. Memang begitulah suratan sejarah. Kalau pembantaian besar-besaran di kamp-kamp pengungsi Palestina di Beirut barat oleh serdadu Israel, menimbulkan protes keras dunia internasional. Tetapi pembantaian besar-besaran di Padang Karbala, melahirkan “Sastra Air Mata” di Aceh. Cukup tragis!!!.

(T.A. Sakti)

(Sumber: Harian Merdeka, Jakarta, 5 Nopember 1982, halaman.   VII)

Catatan: Tulisan di atas dimuat di koran itu,   ketika   saya  sebagai  mahasiswa Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM Yogyakarta. Bale Tambeh, 11 Sa Usen 1432/11 Muharram 1432 H/ 17 Desember 2010, pukul 7:4 pagi Wib.T.A. Sakti).

About these ads

One thought on “Menyambut 10 Muharram 1432 H : Kisah Tragedi Padang Karbala

  1. Potret kelemahan Islam sepeninggal Nabi, ada segolongan musuh Islam yang menyusup kedalam dan kemudian mengobrak-abrik Islam dari dalam, kelemahannya terletak pada kekurangwaspadaan pada isyarat kelicikan musuh yang simpang siurdisekitarnya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s