Hikayat Aceh

HIKAYAT ACEH

Hikayat Aceh adalah sastra yang sangat tinggi mutunya. Jenis sastra yang satu ini pernah menjadi media komunikasi, dakwah, jihad, dan penyebar informasi ilmu agama.  Tetapi setelah media informasi canggih masuk ke ujung Sumatera ini, sastra hikayat Aceh mati pelan-pelan karena tidak lagi mendapat perhatian umat.

Dosen FKIP Unsyiah TA. Sakti pernah menangis sedih ketika meneliti di lapangan. ternyata sudah banyak generasi muda  Aceh tidak mampu lagi membaca ejaan Aceh. Kata kreueh (keras) di baca kreeh (kemaluan). Atau kreh (sejenis rencong), aleue (lantai) dibaca alue (sungai kecil), dan masih banyak kata lain yang tidak bisa dibaca secara benar. Seandainya generasi muda masih mau membeli hikayat Aceh, insya Allah tidak akan bodoh membaca bahasa ibunya sendiri.

Siapa yang mau peduli tentang nasib hikayat Aceh?.  Siapa lagi kalau bukan kita semua orang Aceh?.  Hikayat adalah warisan budaya yang sangat mahal harganya. Lewat hikayat, sejumlah nama menjadi masyhur di kalangan umat, meski mereka telah almarhum. semua kita pernah mendengar nama Tgk. Seumatang, pengarang hikayat Akhbarul Karim, Tgk Chik Pante Kulu, salah seorang  pengarang hikayat Prang Sabi. Anzib Lamnyong, pengarang hikayat Wajeb Iman. Abdullah Arif, MA,  pengarang hikayat Seumangat Aceh, Drs. Araby Ahmad pengarang hikayat Ie Mata Uroe Raya, Syekh Rih Krueng Raya pegarang hikayat Nasib Aneuek Meuntui, Tgk H Mahyuddin Yusuf menulis terjemahan al-Quran lewat pakhok hikayat.

Semua mereka sudah kembali ke hadirat Ilahi. Kini telah muncul generasi lapis berikutnya, namun mereka tidak bisa berkarya lebih baik sebab pasar hikayat sudah sangat minim. Sebagian orang sekarang lebih senang menyimak kisah cinta berahi lewat buku-buku novel Motinggo Busye, Mira T, Deddy D Iskandar, atau mereka menghabiskan waktu memirsa tuyul di televisi ketimbang membeli hikayat. Wajarlah TA Sakti menangis memikirkan sastra daerah ini yang hampir punah.

Ada LAKA dan DKA, ada Taman Budaya, ada MPD dan Yayasan Malem Putra yang menurut TA Sakti wajar membantu pengarang hikayat. Tetapi mereka tidak pernah berpikir untuk menyelamatkan sastra warisan yang sangat mahal ini. Dana bantuan pemerintah untuk membina budaya –termasuk hikayat—sebenarnya  ada, tetapi  tidak difokuskan untuk menggairahkan kembali  sastra Aceh, kata TA Sakti sambil menyapu air matanya.

(Sumber: Rubrik “Tafakkur”, Harian Serambi Indonesia, terbitan Selasa, 25 November 1997/25 Rajab 1418 H halaman 1).

About these ads

3 pemikiran pada “Hikayat Aceh

  1. Jroh that blog nyoê, neu peu le laju teuneuléh mangat meutamah le khazanah Aceh.

  2. loen pikee hikayat aceh hna bak internet.
    nyoe kjet ntmah lom

    • nyo, hikayat nyang kana bak blog nyoe na padum boh judul,nyakni: 1. Hikayat Kisason Hiyawan, 2. Hikayat Gomtala Syah, 3. Hikayat Amat Banta/Banta Amat, 4. Hikayat Nabi Yusuf, 5. Hikayat Ranto, 6. Hikayat Teungku Di Meukek. Hikayat no. 1 – 3 hana tamat. Laen bhaih hikayat, na cit dua boh Tambeh lam blog nyoe, nyakni: Tambeh Tujoh ngon Tambeh Tujoh Blaih. Ukeue, meunye mungken lom tamah nakeuh sisa-sisa hikayat, yaitu Hikayat Banta Beuramsah 8 halaman, Malem Diwa 4 halaman, dan Hikayat Putroe Jeumpa lk 20 halaman. Bak niet ban lhee boh keudo tinggai hikayat nyan lon posting meusapat lam saboh judul!.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s