Putra Jawa Yang Berjasa Bagi Hikayat Aceh

Teungku Adi alias Tgk.H.Siswadi Asnawi:

PUTRA JAWA YANG BERJASA BAGI HIKAYAT ACEH

        Nama : Tgk.H. Siswadi Asnawi Lahir : Di Purwodadi, Jawa Tengah Tgl. 1 Syawal 1381 H ( 29 April 1961 ) dari pasangan Sukir dan Yatmi Meninggal : di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam Tgl. 1 Zulqaidah 1427 H( 22 November 2006) di kediamannya Lrg. Cempaka no. 9 Ateuk Pahlawan Kec. Baiturrahman, Banda Aceh, karena sakit.

        Pendidikan : SDN No. 7 Tarub, Kab.Grobogan, Provinsi Jawa Tengah. Lulus tahun 1973 M.I Nuril Huda Tarub, Lulus tahun 1977 Juga menempuh ujian persamaan di Madrasah Aliyah Tarbiyah Islamiyah Darussa’adah Cabang Cot Bada, Peusangan Aceh Utara. Lulus tahun 1988.

       Pada tahun 1982 beliau berangkat ke Aceh. Tinggal di gampong Garot, Sigli (kab.Pidie) selama 2 tahun bersama sebuah keluarga Aceh( tahun 1982 s/d 1984). Disebabkan karena sakit beliau pindah ke Banda Aceh, tinggal bersama sebuah keluarga Aceh terpelajar. pertengahan tahun 1985 masuk bekerja pada sebuah koperasi dan dipercayakan di unit percetakan.  Sambil bekerja di percetakan itu, juga menyempatkan diri menjadi tenaga pengajar Iqra’ di Mesjid Baitul Qiram, Peniti.

       Pada tahun 1988 memutuskan untukmenikahi seorang wanita bernama Jasmani, Kalahiran Jeunieb. Aceh Utara,7 Januari 1964. Setelah berkeluarga beliau pindah berdomisili di kampung Ateuk Pahlawan, Banda Aceh. Di sana beliau diangkat oleh masyarakat sebagai Imam Mesjid dan sebagai Tuha Peuet. Oleh Depag. kec. Baiturrahman beliau juga dipercayakan sebagai Imam Kelurahan dan sebagai Penyuluh P3N Kec. Baiturrahman sampai akhir hayatnya.

      Saya (T.A. Sakti) belum begitu lama mengenalnya; baru sekitar 10 tahun (1997-2006). Buku Saku pertama saya yang dicetaknya berjudul Hikayat Akhbarul Karim, 2 jilid. Kemudian, Hikayat Aulia Tujoh, Nadham Akhbarul Hakim. Ketiga naskah itu, masing-masing dicetak 1000 eksemplar(buah buku saku).. Ketika itu; percetakan di bawah badan usaha Koperasi tersebut di atas. Selanjutnya, saya hanya mencetak 500 eks perjudul naskah, yaitu : (1) Hikayat Nabi Meusyuko, (2) Hikayat Abunawah, (3) Nadham Mikrajus Shalat, (4) Hikayat Meudehak, (5) Hikayat Indra Bangsawan, (6) Kitab Bakeumeunan(Qawa’idul Islam), (7) Hikayat Banta Amat, (8) Hikayat Banta Keumari, (9) Hikayat Kisason Hiyawan, dan (10) Hikayat Tajussalathin .

       Perlu dijelaskan tidaklah semua judul hikayat dapat tercetak secara utuh sampai tamat. Bila yang tebal sampai 6-7 jilid misalnya, maka saya cetak 1-2 jilid saja Masa itu Tgk Adi atau Pak Adi sudah memiliki unit usaha sendiri, yakni UD”SELAMAT SEJAHTERA”; terletak di kawasan Peniti, Banda Aceh; yang dikelolanya hingga beliau meninggal dunia pada November 2006. Karena Hikayat/Nadham/Tambeh hasil alih aksara-transliterasi saya dari huruf Arab Melayu/Jawi/Jawoe ke aksara Latin setiap judulnya terdari dari beberapa jilid, maka sudah 22.000 ( dua puluh dua ribu) buah buku saku yang sempat saya cetak pada Percetakan Pak Adi; sebelum ia berpulang kerahmatullah. Sayangnya,lebih 80% Hikayat- hikayat hasil cetakan itu terkena hantaman tsunami 26 Desember 2004. Hanya yang saya hadiahkan kepada teman-teman dan sekolah sekolah yang selamat.

        Mengapa saya mencetak hikayat pada Percetakan pak Adi ? Ada tiga hal yang mendorong saya, yaitu : 1. Ongkos cetak murah, 2. Boleh bayar cicilan.dan 3. Mau diantarkannya ke toko buku sebagai barang titipan saya Masalah murah mencetak buku/hikayat pada Pak Adi; saya punya kisah pribadi. Pada tahun 1995, saya mulai bermaksud mencetak hikayat pada Percetakan yang berlokasi di Kampus Darussalam. Naskah yang mau saya cetak adalah Hikayat Akhbarul Karim dengan oplah 1000 buah buku saku. Ternyata ongkos cetaknya diluar kemampuan saya, yaitu Rp. 1.200.000.- terpaksalah saya menunda cita-cita mencetak hikayat-hikyat hasil alih aksara dari huruf Arab Melayu/Jawi (harah Jawoe) ke huruf Latin.

       April 1997, saya baca di koran Syekh Rih Kreung Raya sudah berpulang kerahmatullah. Syekh Rih Krueng Raya adalah Pujangga Aceh, yang karya-karya hikayatnya amat popular di kalangan rakyat Aceh. Sejak itu, saya pun mendatangi kembali beberapaPercetakan untuk mencari “ongkos cetak termurah”. Akhir nya, saya menjumpai Pak Adi karyawan KUD Rahmat. Ongkos cetak Hikayat Akhbarul Karim dengan jumlah oplah yang sama hanya Rp. 600.000,- berarti cuma separuh dari ongkos cetak di Kampus Darussalam.

      Kemungkinan besar; faktor murah, jujur dan “jeuet bacut saho”, yang menyebabkan sebagian besar pengarang Hikayat Aceh memilih Pak Adi menjadi pencetak karya mereka. Dari kalangan pengarang useueng (tuha), saya bisa mencatat tiga nama, yaitu Tgk. Muhammad El Abdul Muthalib, Syeh Rih Krueng Raya dan Nuri Angkasa. Sementara dari kalangan lebih muda adalah : Tgk. Keuchik Hasan Lam Kawe, Ustaz Abdullah Umar P.Aceh, UMS, Medya Hus, Ameer Hamzah, Mujar MS,dan saya sendiri(T.A. Sakti). Saya yakin, masih banyak penulis lain yang mencetak Hikayat Aceh pada Tgk. Adi yang tidak saya ketahui nama mereka; mengingat perkenalansaya dengan beliau belumlah lama. Para pengarang ini jarang yang membayar kontan biaya -biaya percetakan.lebih banyak yang cicilan /angsuran atau dibiayai oleh Toko Buku. Pihak Toko Buku pun lebih sering membayar cicilan dari pada tunai.

         Sebenarnya, jenis Sastra Aceh yang dicetak Pak Adi bukan hikayat Aceh semata-mata. Jenis-jenis  lainnya ialah nadlam,tambeh,kasidah,like Aceh,panton,hadih maja,dan haba peu-ingat. Satu hal yang pernah dikeluhkan Ustaz Adi kepada saya adalah: sukarnyamenjumpai pemilik usaha Komputer yang bersedia mengetik hikayatAceh..Alasannya, mengetikBAHASA ACEH lebih sukar dari bahasa Inggris. Saya heran, “KENAPA ORANG ACEH TAK MAU MENGETIK BAHASANYA SENDIRI!!!”, keluh Pak Adi kepada saya suatu sore.

        Kadang-kadang, pada sore hari Pak Adi bersama isterinya  keliling kota Banda Aceh dengan Honda ringkih/tuanya mencari percetakan. Namun lebih sering gagal, karena banyak yang menolak. Terpaksalah beliau sendiri yang memkomputer kembali naskah-naskah bahasa Aceh yang diminta cetak padanya; karena naskah asli itu lebih sering ditulis tangan atau ketikan biasa.

        Karena itulah, saya yakin benar bahwa Tgk. Adi alias Tgk. H.Siswadi Asnawi amat berjasa dalam pengembangan dan pelestarian bahasa dan sastra Aceh, khususnya hikayat. Tentang kemampuan seluk-beluk bahasa Aceh beliau samasekali tidak meragukan. Selain dari pengalaman percakapan sehari-hari, pengetahuan bahasa dan sastra Aceh terus bertambah ketika beliau menyalin ke komputer berbagai naskah hikayat yang hendak dicetak pengarangnya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un – na geumpa ban sijaknyoe- (ada gempa barusan!), semoga Allah SWT menempatkan arwah beliau di tempat termulia!. Amin ya Rabbal ‘Alaminnn!!!.

 

Banda Aceh, 22 Hasan-Husen 1428 H

22 Muharram 1428 H

1 Februari  2007 M

          dto

T.A. Sakti

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s