Aneukmiet beuet – Ketika Anak Aceh Belajar Mengaji Al Qur’an

Ketika Anak Aceh Belajar Mengaji Alquran :
“Takdhim keu Guree Meuteumeung Ijazah!,..”
Tes baca Alquran bagi caleg Aceh telah dilaksanakan. Banyak pengajaran yang dapat dipetik dari kegiatan itu, baik bagi peserta caleg sendiri maupun bagi masyarakat Aceh pada umumnya. Bagi caleg yang tidak lulus, tentu perlu lebih mendekatkan diri dengan “Teungku” dalam upaya meningkatkan kelancaran membaca Alquran di masa depan, sedangkan bagi caleg yang lulus semestinya bersyukur dan berterima kasih kepada  Teungku,yang telah bersusah payah mendidik mereka, sehingga lancar membaca Alquran. Disamping itu, mereka patut pula  punya cita-cita untuk membantu pembinaan Bale Seumeubeuet di Aceh serta turut mendukung upaya mensejahterakan  Teungku,  bila mereka terpilih menjadi anggota Dewan kelak. Sebab, takdhim keu guree meuteumeung ijazah, takdhim keu nangbah meuteumei hareuta (menghormati guru mendapat ijazah, tunduk dan patuh pada orangtua mendapat warisan)..
Memang, dalam tradisi seumeubeuet(pengajian) tempo dulu di Aceh tingkat “takdhim keu guree” ini amat kental. Sekarang, keadaannya sudah jauh berubah.
Saya kira, dalam rangka takdhim keu eleumee ngon guree itu pula, yang membentuk “Tata Tertib” yang ketat dalam proses pengajian Alquran di Aceh pada masa lalu.
Secara tradisi, tahap-tahap pembelajaran agama bagi seorang anak adalah di rumah sendiri, di bale gampog/rumoh teungku dan di dayah.  Bagi seorang anak yang telah berumur 7-8 tahun, bila orangtuanya tak mampu mengajari membaca Alquran, maka anak yang bersangkutan akan diantar ke tempat pengajian di kampungnya, baik di Meunasah atau di rumah Teungku. Waktu/jam  belajar berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat penagajian lainnya, yakni antara pagi, sore dan malam hari.  Tulisan ini berfokus di sini,yakni mencermati “Tata Tertib” prosesi  pengajian bagi murid-murid pemula belajar membaca Alquran
Hari Rabu biasanya dipilih sebagai hari yang afdhal untuk mengantar anak ke tempat pengajian (intat beuet). Tak lupa pula sang orangtua anak membawa sepiring bu leukat ngon u mirah (nasi pulut dengan gula merah). U mirah atau u puteh adalah  kelapa yang dicampur gula merah atau gulaputih yang dimasak atau disebut U teuwot. Maksud dari nasi ketan, yaitu agar pelajaran yang diberikan cepat melekat di kepala{mudah diingat), karena nasi pulut itu bergetah/lekat. Sementara, u mirah bermaksud supaya hati terang dan mudah menerima pel ajaran(bek beunak hate). Selain bu leukat, ada pula orangtua anak  yang membawa beureuteh-pisang (beureuteh= padi ketan yang digongseng hingga menetas}. Tujuannya sama, yakni agar otak sang anak encer dan cepat mengerti pelajaran; sebagaimana padi yang digongseng (Lheue beureuteh) yang meletus cus-cus. Geuba beureuteh ngon pisang;mangat rijang jeuet Alehba(Dibawa beureuteh dengan pisang, agar cepat pintar ngaji Juz ‘Amma). Dapat ditambahkan, selain maksud di atas, bu leukat dan beureuteh tadi juga berfungsi mengakrabkan pergaulan antara si murid baru dengan para murid lama. Sebab, setelah acara penyerahan murid baru selesai, maka bu leukat u mirah atau beureuteh-pisang itu akan disantap bersama-sama.  Karena itu, para murid yang lama selalu berharap serta “berdo’a” agar sering ada murid baru yang diantar ke sana sehingga mereka dapat lebih sering menikmati kenduri buleukat atau beureuteh-pisang.
Di tempat pengajian tertentu, ada pula ucapan khusus yang dilafalkan orangtua ketika menyerarahkan anaknya kepada Teungku. Yaitu: “Nyoe aneuklon lon jok keu Teungku, neupeubeuet!.  Meunye neupoh, meubek capiek ngon buta!” (Anak saya, diserahkan kepada teungku; ajarkan dia!. Boleh dipukul, asal tidak pincang dan buta!). Pernyataan orangtua murid itu diucapkan sambil berjabat tangan/bersalaman antaranya dengan Teungku, sedang Teungku yang menerima murid baru itu  mengucapkan :  “Insya Allah!”.
Sejak hari pertama itu, maka bergelutlah sang anak-baik putra maupun putri- dengan pelajaran membaca  Alquran. Metode yang dipakai adalah Kaedah Baghdad (asal Irak), yakni dengan cara mengeja huruf-huruf hijaiyah/ejaan dari huruf Arab yang 29 buah itu.
Sistem ini tentu berbeda dengan Metode Iqrak (asal Yogyakarta); yang mengutamakan membaca kata-kata Arab dalam huruf Arab.
Dalam pelaksanaan kaedah Baghdadiyah di Aceh, belajar membaca secara berulang-ulang(meudraih) sangat dipentingkan Seseorang murid yang sudah menyelesaikan bacaan pada suatu batas/bab tertentu,  yang ditandai dengan perkataan ‘Wassalamu’; dia tidak serta-merta dipindahkan/dilanjutkan ke bab yang lain. Sang Teungku terus-menerus menyuruh anak itu mengulang lagi…dan lagi bahan bacaan itu.   Bila seorang anak telah lancar membaca Qur’an Alehba(Juz  ‘Amma), agar lebih berkah/beureukat; maka disinipun diadakan acara kecil-kecilan yang disebut ba bu Aleuham (membawa nasi Alham/Alfatihah). Bu Aleuham itu juga dimakan secara bersama-sama para murid di pengajian itu. Oleh karena bu Aleuham bukan suatu kewajiban, maka ia hanya dibawa para orangtua murid yang mampu dan sukarela saja.
Selanjutnya, sebagai menyambung dari Qur’an Alehba, seorang murid akan diajari membaca Qur’an rayek(Alquran besar). Sebagai sarana pembukaan juga disertai khanduri bu leukat, baik yang berlauk u mirah, u puteh(kelapa campur gula yang dimasak)  maupun tumpoe. Biasanya, pihak yang membawa bu leukat-tumpoe adalah keluarga yang bersahaja-segala sesuatu tidak asal ada- dan keluarga mampu.
Dalam pelaksanaan pembelajaran Qur’an rayek/Qur’an 30 juz ini sejumlah tantangan masih dihadapi oleh murid dan Teungku, Walaupun telah menamatkan kitab/Qur’an Alehba, tidak semua murid bisa langsung lancar membaca Alquran besar.
Boleh dikatakan masih lebih banyak yang perlu geupeutateh lom/dituntun kembali dibandingkan yang sudah mampu membaca mandiri. Bagi sebagian murid yang kurang lancar ini, untuk sampai ke Juz 15 saja  paling kurang menghabiskan waktu setengah tahun.
Akibat banyak hambatan dan tantangan dalam belajar membaca Qur’an rayek, maka jika seseorang murid telah sanggup menyelesaikan  separuh Alquran(trok bak Juih Teungoh); tentu dianggap sebagai prestasi luar biasa. Kegembiraan diwajah murid akan membludak disaat ia membaca kata “Walyathalaththaf’ pada surat Al Kahfi. Bagian ayat Alquran  Juz ke 15/Subhanallazy ini tertulis amat tebal dan besar yang berwarna hitam pekat (atau warna merah pada cetakan Alquran lama), merupakan bagian tengah dari Alquran. Hal ini ditandai dengan tulisan nishful Qur’an (setengah Alquran) di pinggirannya.
Guna memeriahkan/merayakan peristiwa besar bagi seorang murid yang sudah sampai separuh Alquran itu,   diadakan pula  khanduri Juih Teungoh, yakni berupa “buleukat Juih Teungoh”, yang dibawa oleh murid yang bersangkutan yang kadang-kadang disertai orangtuanya pula. Buleukat beserta lauknya dalam beulidi/wadah besar itu, selain disantap Teungku bersama-sama muridnya; juga dibagi-bagikan ke rumah-rumah tetangga dari Bale pengajian itu. Akibatnya, ‘termasyhurlah!” bahwa si anu (Aceh: si anoe nyan) telah belajar mengaji sampai ke Juih Teungoh. Dan hal itu merupakan kebanggaan keluarga  pada masa lalu. Inilah ‘semangat keagamaan’ atau syiar Islam  namanya. Masihkah kebanggaan demikian merasuk hati orang Aceh sekarang?.
Bagi murid(Aneukmiet beuet)  yang sudah sampai ke Juih Teungoh; biasanya telah mencapai batas jalan lempang untuk dapat menamatkan pelajaran membaca Alquran. Namun, biar pun sang murid telah sanggup menyelesaikan bacaan sampai pada   surat
114/ An Naas; bahkan pada kalimat “Watammat kalimatu…”, tetapi Teungku masih terus menyuruhnya untuk membaca ulang(meudraih) kembali mulai surat permulaan Alham/Alfatihah dalam jumlah berkali-kali. Padahal, pada saat-saat demikian, hati /pikiran si murid sedang sangat tergoda(teugoe-goe) untuk belajar “Kitab”, sebagai studi lanjutan sesudah menamatkan Alquran. Atas landasan ‘takdhim keu guree’;walaupun hati kepingin sekali belajar kitab; sang murid terus-menerus meudraih-ulang  Alquran berkali-kali tamat lagi,  sampai saat Teungku menganggapnya  sudah memadai.
Pada bagian acara peutamat/menamatkan Qur’an, secara khusus Teungku memimpinnya. Caranya, sang Teungku membaca duluan ayat dan surat tertentu yang sekaligus dibaca ulang oleh murid yang bersangkutan. Ayat dan surat yang menjadi tradisi dalam menamatkan Alquran ini barulah berakhir pada kalimat “Watammat kalimatu Rabbika shidqan wa’adlan…dan seterusnya; yang disahuti seluruh hadirin secara serentak beramai-ramai.
Sebelum upacara peutamat/khatam Qur’an itu dilaksanakan, sebenarnya ada “Tata tertib” tradisi peutamat Qur’an yang dilangsungkan. Yaitu : Me Butamat(mengantar nasi tamat Qur’an). Akan tetapi karena upacara ini membutuhkan biaya yang lebih besar-dibandingkan ba buleukat ngon tumpoe-, maka acara “ babu tamat “ ini lebih sering ditunda.
Ketika orangtua murid merasa siap, diantarlah ’ bu tamat’  ke rumah/balai pengajian.
Selain nasi yang siap santap, ada pula yang membawa bahan-bahan mentah  berupa beras, ayam jago,  kelapa, uang, rujee/kayu api dan sebagainya. Bahkan, ada pula keluarga kaya yang membawa berbagai kelengkapan serta  menyret seekor kambing-gasi(kameng gasi) ke rumah Teungku. Perlengkapan khanduri Bu Tamat ini batu dibuat kenduri sewaktu kenduri tahunan(khanduri thon) di rumah Teungku atau ketika bahan-bahan peutamat Qur’an dari beberapa murid sudah terkumpul. Begitulah beberapa “Tata Tertib” belajar mengaji Alquran yang dilakukan selama proses belajar mulai dari awal sampai tamat, yang kesemuanya tidak lepas dari tujuan ‘Takdhim keu Guree”; yakni memuliakan dan menghargai guru alias Teungku.
Kini, ketika Aceh didera era globalisasi;  ketulusan Takdhim keu Guree pasti sudah jauh berkurang, bahkan nyaris tak bersisa lagi. Akibatnya tempat-tempat pengajian sejenis Bale Seumeubeut di gampong-gampong pun  secara drastis berkurang pula. Dalam suasana prihatin demikian; beruntunglah kita karena mulai tahun 2008 ini di Aceh telah ditubuhkan sebuah lembaga khusus yang bernama “Badan Pembina  Dayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam”. Melihat namanya,  terkesan hanya mengurus Dayah saja, maka ada baiknya  badan tersebut  diperlebar lagi kewajibannya, yakni juga ikut membina Rumoh dan Bale Seumeubeut yang terdapat di gampong-gampong di seluruh Aceh. Karena itu, nama lembaga itu perlu diubah menjadi “Badan Pembina Bale Seumeubeuet dan Dayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam”!. Akhirnya, kepada Pemda Aceh dan DPRA  kita harapkan,  agar mengalokasikan anggaran yang pantas bagi pembinaan Bale Seumeubeuet di gampong-gampong, karena para aneukmiet beuet adalah juga anak-anak bangsa yang perlu dicerdaskan seperti para murid sekolah umum dan agama yang lebih diprioritaskan selama ini!!!..
T.A. Sakti
Peminat budaya dan sastra Aceh,
tinggal di Banda Aceh.                  .
Ketika Anak Aceh Belajar Mengaji Alquran :
“Takdhim keu Guree Meuteumeung Ijazah!,..”
Oleh : T.A. Sakti
Tes baca Alquran bagi caleg Aceh telah dilaksanakan. Banyak pengajaran yang dapat dipetik dari kegiatan itu, baik bagi peserta caleg sendiri maupun bagi masyarakat Aceh pada umumnya. Bagi caleg yang tidak lulus, tentu perlu lebih mendekatkan diri dengan “Teungku” dalam upaya meningkatkan kelancaran membaca Alquran di masa depan, sedangkan bagi caleg yang lulus semestinya bersyukur dan berterima kasih kepada  Teungku,yang telah bersusah payah mendidik mereka, sehingga lancar membaca Alquran. Disamping itu, mereka patut pula  punya cita-cita untuk membantu pembinaan Bale Seumeubeuet di Aceh serta turut mendukung upaya mensejahterakan  Teungku,  bila mereka terpilih menjadi anggota Dewan kelak. Sebab, takdhim keu guree meuteumeung ijazah, takdhim keu nangbah meuteumei hareuta (menghormati guru mendapat ijazah, tunduk dan patuh pada orangtua mendapat warisan)..
Memang, dalam tradisi seumeubeuet(pengajian) tempo dulu di Aceh tingkat “takdhim keu guree” ini amat kental. Sekarang, keadaannya sudah jauh berubah.
Saya kira, dalam rangka takdhim keu eleumee ngon guree itu pula, yang membentuk “Tata Tertib” yang ketat dalam proses pengajian Alquran di Aceh pada masa lalu.
Secara tradisi, tahap-tahap pembelajaran agama bagi seorang anak adalah di rumah sendiri, di bale gampog/rumoh teungku dan di dayah.  Bagi seorang anak yang telah berumur 7-8 tahun, bila orangtuanya tak mampu mengajari membaca Alquran, maka anak yang bersangkutan akan diantar ke tempat pengajian di kampungnya, baik di Meunasah atau di rumah Teungku. Waktu/jam  belajar berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat penagajian lainnya, yakni antara pagi, sore dan malam hari.  Tulisan ini berfokus di sini,yakni mencermati “Tata Tertib” prosesi  pengajian bagi murid-murid pemula belajar membaca Alquran
Hari Rabu biasanya dipilih sebagai hari yang afdhal untuk mengantar anak ke tempat pengajian (intat beuet). Tak lupa pula sang orangtua anak membawa sepiring bu leukat ngon u mirah (nasi pulut dengan gula merah). U mirah atau u puteh adalah  kelapa yang dicampur gula merah atau gulaputih yang dimasak atau disebut U teuwot. Maksud dari nasi ketan, yaitu agar pelajaran yang diberikan cepat melekat di kepala{mudah diingat), karena nasi pulut itu bergetah/lekat. Sementara, u mirah bermaksud supaya hati terang dan mudah menerima pel ajaran(bek beunak hate). Selain bu leukat, ada pula orangtua anak  yang membawa beureuteh-pisang (beureuteh= padi ketan yang digongseng hingga menetas}. Tujuannya sama, yakni agar otak sang anak encer dan cepat mengerti pelajaran; sebagaimana padi yang digongseng (Lheue beureuteh) yang meletus cus-cus. Geuba beureuteh ngon pisang;mangat rijang jeuet Alehba(Dibawa beureuteh dengan pisang, agar cepat pintar ngaji Juz ‘Amma). Dapat ditambahkan, selain maksud di atas, bu leukat dan beureuteh tadi juga berfungsi mengakrabkan pergaulan antara si murid baru dengan para murid lama. Sebab, setelah acara penyerahan murid baru selesai, maka bu leukat u mirah atau beureuteh-pisang itu akan disantap bersama-sama.  Karena itu, para murid yang lama selalu berharap serta “berdo’a” agar sering ada murid baru yang diantar ke sana sehingga mereka dapat lebih sering menikmati kenduri buleukat atau beureuteh-pisang.
Di tempat pengajian tertentu, ada pula ucapan khusus yang dilafalkan orangtua ketika menyerarahkan anaknya kepada Teungku. Yaitu: “Nyoe aneuklon lon jok keu Teungku, neupeubeuet!.  Meunye neupoh, meubek capiek ngon buta!” (Anak saya, diserahkan kepada teungku; ajarkan dia!. Boleh dipukul, asal tidak pincang dan buta!). Pernyataan orangtua murid itu diucapkan sambil berjabat tangan/bersalaman antaranya dengan Teungku, sedang Teungku yang menerima murid baru itu  mengucapkan :  “Insya Allah!”.
Sejak hari pertama itu, maka bergelutlah sang anak-baik putra maupun putri- dengan pelajaran membaca  Alquran. Metode yang dipakai adalah Kaedah Baghdad (asal Irak), yakni dengan cara mengeja huruf-huruf hijaiyah/ejaan dari huruf Arab yang 29 buah itu.
Sistem ini tentu berbeda dengan Metode Iqrak (asal Yogyakarta); yang mengutamakan membaca kata-kata Arab dalam huruf Arab.
Dalam pelaksanaan kaedah Baghdadiyah di Aceh, belajar membaca secara berulang-ulang(meudraih) sangat dipentingkan Seseorang murid yang sudah menyelesaikan bacaan pada suatu batas/bab tertentu,  yang ditandai dengan perkataan ‘Wassalamu’; dia tidak serta-merta dipindahkan/dilanjutkan ke bab yang lain. Sang Teungku terus-menerus menyuruh anak itu mengulang lagi…dan lagi bahan bacaan itu.   Bila seorang anak telah lancar membaca Qur’an Alehba(Juz  ‘Amma), agar lebih berkah/beureukat; maka disinipun diadakan acara kecil-kecilan yang disebut ba bu Aleuham (membawa nasi Alham/Alfatihah). Bu Aleuham itu juga dimakan secara bersama-sama para murid di pengajian itu. Oleh karena bu Aleuham bukan suatu kewajiban, maka ia hanya dibawa para orangtua murid yang mampu dan sukarela saja.
Selanjutnya, sebagai menyambung dari Qur’an Alehba, seorang murid akan diajari membaca Qur’an rayek(Alquran besar). Sebagai sarana pembukaan juga disertai khanduri bu leukat, baik yang berlauk u mirah, u puteh(kelapa campur gula yang dimasak)  maupun tumpoe. Biasanya, pihak yang membawa bu leukat-tumpoe adalah keluarga yang bersahaja-segala sesuatu tidak asal ada- dan keluarga mampu.
Dalam pelaksanaan pembelajaran Qur’an rayek/Qur’an 30 juz ini sejumlah tantangan masih dihadapi oleh murid dan Teungku, Walaupun telah menamatkan kitab/Qur’an Alehba, tidak semua murid bisa langsung lancar membaca Alquran besar.
Boleh dikatakan masih lebih banyak yang perlu geupeutateh lom/dituntun kembali dibandingkan yang sudah mampu membaca mandiri. Bagi sebagian murid yang kurang lancar ini, untuk sampai ke Juz 15 saja  paling kurang menghabiskan waktu setengah tahun.
Akibat banyak hambatan dan tantangan dalam belajar membaca Qur’an rayek, maka jika seseorang murid telah sanggup menyelesaikan  separuh Alquran(trok bak Juih Teungoh); tentu dianggap sebagai prestasi luar biasa. Kegembiraan diwajah murid akan membludak disaat ia membaca kata “Walyathalaththaf’ pada surat Al Kahfi. Bagian ayat Alquran  Juz ke 15/Subhanallazy ini tertulis amat tebal dan besar yang berwarna hitam pekat (atau warna merah pada cetakan Alquran lama), merupakan bagian tengah dari Alquran. Hal ini ditandai dengan tulisan nishful Qur’an (setengah Alquran) di pinggirannya.
Guna memeriahkan/merayakan peristiwa besar bagi seorang murid yang sudah sampai separuh Alquran itu,   diadakan pula  khanduri Juih Teungoh, yakni berupa “buleukat Juih Teungoh”, yang dibawa oleh murid yang bersangkutan yang kadang-kadang disertai orangtuanya pula. Buleukat beserta lauknya dalam beulidi/wadah besar itu, selain disantap Teungku bersama-sama muridnya; juga dibagi-bagikan ke rumah-rumah tetangga dari Bale pengajian itu. Akibatnya, ‘termasyhurlah!” bahwa si anu (Aceh: si anoe nyan) telah belajar mengaji sampai ke Juih Teungoh. Dan hal itu merupakan kebanggaan keluarga  pada masa lalu. Inilah ‘semangat keagamaan’ atau syiar Islam  namanya. Masihkah kebanggaan demikian merasuk hati orang Aceh sekarang?.
Bagi murid(Aneukmiet beuet)  yang sudah sampai ke Juih Teungoh; biasanya telah mencapai batas jalan lempang untuk dapat menamatkan pelajaran membaca Alquran. Namun, biar pun sang murid telah sanggup menyelesaikan bacaan sampai pada   surat
114/ An Naas; bahkan pada kalimat “Watammat kalimatu…”, tetapi Teungku masih terus menyuruhnya untuk membaca ulang(meudraih) kembali mulai surat permulaan Alham/Alfatihah dalam jumlah berkali-kali. Padahal, pada saat-saat demikian, hati /pikiran si murid sedang sangat tergoda(teugoe-goe) untuk belajar “Kitab”, sebagai studi lanjutan sesudah menamatkan Alquran. Atas landasan ‘takdhim keu guree’;walaupun hati kepingin sekali belajar kitab; sang murid terus-menerus meudraih-ulang  Alquran berkali-kali tamat lagi,  sampai saat Teungku menganggapnya  sudah memadai.
Pada bagian acara peutamat/menamatkan Qur’an, secara khusus Teungku memimpinnya. Caranya, sang Teungku membaca duluan ayat dan surat tertentu yang sekaligus dibaca ulang oleh murid yang bersangkutan. Ayat dan surat yang menjadi tradisi dalam menamatkan Alquran ini barulah berakhir pada kalimat “Watammat kalimatu Rabbika shidqan wa’adlan…dan seterusnya; yang disahuti seluruh hadirin secara serentak beramai-ramai.
Sebelum upacara peutamat/khatam Qur’an itu dilaksanakan, sebenarnya ada “Tata tertib” tradisi peutamat Qur’an yang dilangsungkan. Yaitu : Me Butamat(mengantar nasi tamat Qur’an). Akan tetapi karena upacara ini membutuhkan biaya yang lebih besar-dibandingkan ba buleukat ngon tumpoe-, maka acara “ babu tamat “ ini lebih sering ditunda.
Ketika orangtua murid merasa siap, diantarlah ’ bu tamat’  ke rumah/balai pengajian.
Selain nasi yang siap santap, ada pula yang membawa bahan-bahan mentah  berupa beras, ayam jago,  kelapa, uang, rujee/kayu api dan sebagainya. Bahkan, ada pula keluarga kaya yang membawa berbagai kelengkapan serta  menyret seekor kambing-gasi(kameng gasi) ke rumah Teungku. Perlengkapan khanduri Bu Tamat ini batu dibuat kenduri sewaktu kenduri tahunan(khanduri thon) di rumah Teungku atau ketika bahan-bahan peutamat Qur’an dari beberapa murid sudah terkumpul. Begitulah beberapa “Tata Tertib” belajar mengaji Alquran yang dilakukan selama proses belajar mulai dari awal sampai tamat, yang kesemuanya tidak lepas dari tujuan ‘Takdhim keu Guree”; yakni memuliakan dan menghargai guru alias Teungku.
Kini, ketika Aceh didera era globalisasi;  ketulusan Takdhim keu Guree pasti sudah jauh berkurang, bahkan nyaris tak bersisa lagi. Akibatnya tempat-tempat pengajian sejenis Bale Seumeubeut di gampong-gampong pun  secara drastis berkurang pula. Dalam suasana prihatin demikian; beruntunglah kita karena mulai tahun 2008 ini di Aceh telah ditubuhkan sebuah lembaga khusus yang bernama “Badan Pembina  Dayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam”. Melihat namanya,  terkesan hanya mengurus Dayah saja, maka ada baiknya  badan tersebut  diperlebar lagi kewajibannya, yakni juga ikut membina Rumoh dan Bale Seumeubeut yang terdapat di gampong-gampong di seluruh Aceh. Karena itu, nama lembaga itu perlu diubah menjadi “Badan Pembina Bale Seumeubeuet dan Dayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam”!. Akhirnya, kepada Pemda Aceh dan DPRA  kita harapkan,  agar mengalokasikan anggaran yang pantas bagi pembinaan Bale Seumeubeuet di gampong-gampong, karena para aneukmiet beuet adalah juga anak-anak bangsa yang perlu dicerdaskan seperti para murid sekolah umum dan agama yang lebih diprioritaskan selama ini!!!..
T.A. Sakti
Peminat budaya dan sastra Aceh,
tinggal di Banda Aceh.                  .

Tambeh Tujoh

TAMBEH TUJOH

Karya:           Syekh Abdussalam

Tahun :         1208 H

*Alih Aksara/Transliterasi dari huruf Arab Melayu/Jawi/harah Jawoe ke huruf Latin oleh : T.A. Sakti

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Republik Indonesia merupakan Negara kepulauan yang didiami oleh berbagai suku bangsa.  Setiap suku  bangsa atau etnis memiliki ciri khas tersendiri, baik dalam hal adat, kebudayaan maupun dari segi tata cara kehidupan lainnya. Keanekaragaman bentuk kebudayaan itu melambangkan aneka warna  bangsa kita, yaitu bhineka tunggal ika yang sudah menjadi falsafah hidup bangsa Indonesia.

Kebudayaan nasional itu sendiri sebenarnya berasal dari kebudayaan daerah yang telah berkembang begitu lama dan telah menampakkan sifat khasnya sebagai suatu kebanggaan masyarakat Indonesia. Sifat khas suatu kebudayaan itu hanya dapat dimanifestasikan dalam beberapa unsur terbatas, misalnya dalam bahasa, bentuk kesenian, dan tradisi-tradisi daerah baik lisan maupun tulisan. Salah satu diantaranya adalah tradisi sastra yang banyak berkembang dalam masyarakat terutama dalam masyarakat Aceh.

Sastra adalah manifestasi kehidupan bangsa dimasa lampau, masa kini  dan masa yang akan  datang. Melalui sastra, manusia dapat menghargai kehidupan. Penghayatan terhadap sastra dan kemajuan teknologi modern merupakan dua hal yang harus saling mengisi untuk mencapai keseimbangan dan keselarasan dalam pembangunan kebudayaan suatu bangsa. Kedua hal itu dapat tercapai jika penelitian terhadap sastra lama digalakkan sehingga menunjang pengembangan kebudayaan dan melestarikan warisan nenek moyang (Baroroh Baried, dkk,.1985).

Propinsi Nanggroe Aceh Darussalamdapat dikatakan sebagai salah satu daerah di Indonesia yang memiliki kekayaan yang luar biasa di bidang manuskrip (naskah kuno). Masyarakat Aceh yang telah mengenal tradisi menulis selama berabad-abad, sebagian besar nilai yang telah dicita-citakan pernah dijadikan pedoman hidup, biasanya sudah terekam dalam berbagai bentuk tulisan.

Dapat dikatakan hampir semua tulisan-tulisan itu termasuk ke dalam karya-karya sastra. Sastra Aceh lebih banyak disusun dalam bentuk puisi dibandingkan yang bercorak prosa. Jenis-jenis puisi Aceh itu adalah tambeh, nadlam, hikayat, kisah, nasib dan panton. Para ulama ,lebih mengarahkan ciptaan mereka pada karya keagamaan yang berisi amar makruf nahi mungkar dan ajaran-ajaran lainnya yang sesuai dengan tuntunan Islam. Salah satu bentuk karya keagamaan dinamakan Tambeh yang bermakna peringatan atau nasehat (Imran T. Abdullah, 1995 : 590).

Naskah ”Tambeh Tujoh” yang menjadi obyek kajian ini misalnya : mempunyai arti amat penting dalam menyampaikan nilai-nilai moral keagamaan, kemanusiaan, pendidikan dan berbagai nasehat lain yang cukup berguna bagi pembinaan kepribadian seseorang. Naskah ini ditulis dalam bahasa Aceh dengan menggunakan aksara Arab Melayu (Aceh : Arab Jawoe). Sangat disayangkan bahwa kitab-kitab lama termasuk ”Tambeh Tujoh” hanya dapat dimengerti oleh sebahagian besar lainnya tidak berarti apa-apa. Hambatan utama yang mengikis kepedulian masyarakat Aceh terhadap ”Tambeh Tujoh”; karena kitab lama itu ditulis dengan huruf Arab Melayu. Padahal sebagian masyarakat Aceh dewasa ini tidak bisa lagi membaca karangan yang ditulis dalam aksara Arab Melayu itu.

Sehubungan dengan penjelasan di atas, maka upaya penelitian, penterjemahan  dan pengkajian manuskrip seperti ”Tambeh Tujoh” ini mutlak diperlukan untuk bisa mengungkapkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

  1. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup pengkajian manuskrip (naskah kuno) ini adalah dalam wilayah Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Lokasi kerja penelitian dipusatkan di Kabupaten Pidie dengan obyek kajiannya Kecamatan Sakti.

Naskah-naskah yang berhasil dikumpulkan ialah : Kitab Tajussalatin, Kitab Tajul Muluk, Kitab Akhbarul Karim, Nadlam Akhbarul Hakim, Hikayat Muda  Balia, Hikayat Banta Keumari, Hikayat Indra Bangsawan dan tambeh Tujoh. Dalam penelitian ini ya ng dijadikan objek kajian adalah ”Tambeh Tujoh”, karena karya sastra jenis tambeh amat langka yang pernah dilakukan pengkajiannya. Naskah Tambeh Tujoh ini adalah milik Tgk. Haji Na’in penduduk kampung Beutong Pocut, Kecamatan Sakti Kabupaten Pidie (Aceh).

Data – data naskah ”Tambeh Tujoh” yang bisa dicatat ialah sebagai berikut :

  1. Judul naskah tidak ditulis secara khusus, namun dapat ditemukan pada bagian awal (pengantar) dan penutup dan kitab ini.
  2. Jenis tulisan adalah aksara Arab Melayu atau huruf Jawi, yang dalam bahasa Aceh dinamakan Arab Jawoe.
  3. Warna tinta pada umumnya hitam, tetapi buat menulis ayat-ayat Al-Qur’an, Hadits, bab,  dan ”pepatah Arab” digunakan dawat warna merah.
  4. Ukuran naskah : panjang 22 cm, lebar 16 cm dan tebal 91 halaman (khusus bagian naskah Tambeh Tujoh).
  5. Kertas agak kasar dan tebal
  6. Tambeh ini ditulis dalam bentuk puisi (syair Aceh).
  7. Jumlah baris rata-rata pada setiap halaman 30 baris.
  8. Panjang tiap baris rata-rata 4 ¾ cm
  9. Dalam naskah berisi 10 buah teks. Kumpulan teks ini tidak utuh lagi. Ada yang masih dapat dibaca dan sebagian besarnya sudah rusak, rapuh dan rontok.

Judul dari beberapa teks dalam naskah itu yang sesuai dengan urutannya adalah sebagai berikut :

  1. Tambeh Tujoh
  2. Kumpulan Do’a
  3. Hikayat Qaulur Ridwan
  4. Nadlam Meulakee
  5. Hikayat Nabi Meucuko
  6. Hikayat Nasehat
  7. Kitab Pedoman Shalat (Bahasa Melayu)
  8. Nadlam Ruba’i
  9. Fadhilat Do’a
  10. Tambeh Tuhfatul Ikhwan
  1. Tujuan Penelitian

Salah satu cara melestarikan nilai-nilai luhur bangsa adalah melalui penelitian dan pengkajian manuskrip. Nilai-nilai itu mencerminkan kebudayaan yang dianut dan dimiliki oleh berbagai etnis di tanah air kita, yang puncak-puncaknya menjadi kebudayaan nasional Indonesia. Kenyataan ini menunjukkan bahwa tujuan umum pengkajian ”Tambeh Tujoh” adalah merupakan salah satu usaha pelestarian warisan-warisan budaya nasional.

  1. Metode Penelitian

Untuk mengungkapkan dan mengkaji isi dari Tambeh Tujoh, akan dilakukan penelitian secara bertahap, yaitu sebagai berikut :

  1. Mengumpulkan dan menyeleksi naskah yang sesuai dengan  keperluan pembinaan kebudayaan nasional.
  2. Dilakukan alih aksara dari huruf Arab Melayu ke dalam huruf latin secara sistematis dan berurutan.
  3. Melaksanakan alih bahasa (penterjemahan) dari bahasa Aceh ke dalam bahasa Indonesia berdasarkan kata, tanpa mengurangi atau menghilangkan maksud dan tujuan dari isi naskah.
  4. Melakukan pengkajian dan pengungkapan nilai-nilai tradisional yang terkandung di dalam naskah. Hal ini dilakukan sesuai dengan sistem penulisan karya ilmiah yang berlaku, yaitu dengan menggunakan metode analisa isi (content analisys).
  5. Juga akan dikemukakan relevansi dan peranan naskah terhadap usaha pengembangan dan pembinaan kebudayaan nasional.
  6. Selain itu peneliti perlu pula menggunakan beberapa literature (buku bacaan) yang ada kaitannya dengan penelitian ini.
BAB II ALIH AKSARA

 

Bismillahirrahmanirrahim

Nyankeu Isim Allah Ta’ala

Nyankeu jimeunan Isimul ’Adlim

Tuan beutapham dum beurat

 

Pakri  jeuet han mustajabah

Toh pakri bah bak geukira

Nyang na geukheun Ismul ’Adlim

Neubri keudum peue tapinta

 

Syarat meulakee han tatukri

Bek meung pakri meu’ue gata

Lidah beushadaq hate ikhlas

Bek meunajih cama leuta

 

Hareum ta tinggai haleue tapajoh

Syubhat meukroh bek takeureuja

Upat meungadu beuta tinggai

Ingat keu ajai jeueb kutika

 

Hateteu bek syok nyan bak neubri

Meunankeu nabi neu calitra

Nyankeu syarat ta meulakee

Beumeu teuntee wahe syeedara

 

Mulaku jinoe pujoe keu Tuhan

Wahe taulan tuha muda

Meukabui nekmat pujoe Tuhan

Wajeb di sinan he syeedara

 

Seulaweuet ngon saleuem lheueh nibak nyan

Keu janjongan Nabi kita

Lafai maklum han kukisah

Gaseh Allah soe nyang naba

 

Soe han seubut keu janjongan

’Alamat tuan ji ceulaka

Soena tuan ji geumaseh

Kayem ji teuoh bak geukira

 

Kalau tagaseh nyankeu nabi

Seulaweuet bek khali he syeedara

Kalau geuseubut Nabi Muhammad

Hate beuhibat keu Saidina

 

Meunankeu patot bak geutanyoe

Shallallahu ’alaihi martabaca

Lheueh ’alaihi nyan wasallam

Nyoekeu kiram jimeunan kata

 

Bukit han nyokeu bakhe

Ureueng jahe kureueng bangsa

Nyoekeu tuan mukaddimah

Phon meupeugah nyankeu gata

 

Dilee nibak nyan peue khuteubah

Ta peusareh bak pandita

 

MUKADDIMAH

 

Wahe thaleb hate nyang zaki

Meununtut bek kareuna donya

Tohkeu donya tuan jimeunan

Khilaf tuan bak ulama

 

Antara langet nyan ngon bumoe

Nyanpi naroe geukheun donya

Kata siteungoh laen nibak nyan

Tango taulan kucalitra

 

Syoe han faidah di akhirat

Nyan muktamad sabet donya

Kata siteungoh laen nibak nyan

Tango taulan kucalitra

 

Miseue tabeuet rot akhirat

Han got kasad jeuet keudonya

Kasad menuntut bawa taulan

Tango kukheun nyan keugata

 

Keulhee meununtut wahe adoe

Beukai dudoe nanggroe baka

Niet nyang jeuheuet ngo kulagu

Wahe teungku dumna gata

 

Tuntut eleumee nameung meugah

Nibak Allah that meureuka

Lagi na dilee nibak rakan

Nyang patot nyan mei tamaba

 

Lagi meuhadap bak geutanyoe

Beurang kasoe manusia

Arta donya mudah meuteumeung

Kalon ureueng na peutua

 

Pakon han pike bawa tuan

Ngon sabab nyan sapeue na

Ikhlas niet beumeu teuntee

Yakin dilee roeku saja

 

Tango haba sidroe ureueng

Saheh meuteumeung lam calitra

Bani Israil kawom jimeunan

Teurseubut nyan bak calitra

 

Nanggroe masa nyan lapar sangat

Dumna rakyat susah raya

Sidroe ureung teukeudi Tuhan

Arta jituan han teurkira

 

Jibri seudeukah geunap uroe

Jeueb – jeueb nanggroe soe nyang teuka

Sidroe ureueng jak bineh pasi

Lalu teupike dalam dada

 

Kalau sinoe jeuet makanan

Ku seudeukahkan manusia

Miseue ghani nyan nanggroe jeh

Leubeh dijih Allah karonya

 

Tron jebra -i neuba wahi

Bak Nabi yohna masanya

Pahla kubri keu si nawi

Miseue ghani saban dua

 

Tangokeu tuan dum teusare

Asai hate cit geukira

Hoka gata leube thaleb

Peue phon wajeb ubak gata

 

Ushuluddin beuta tuban

Phon wajeb nyan ubak gata

Menuntut eleumee wajeb awai

Beudilee nyan wajeb keudua

 

Hukom ‘akli beuta turi

Hukom syari’I nyang keudua

Hukom ’adat pi beuta thee

Ka habeh lhee peue peurkara

 

Had jiteuma ta peuseuleusoe

Ta peutoe bakna ulama

Bak hukom ’akli lhee ji masok

Nyan tapeutok ta meukira

 

Wajeb mustahe jaez dudoe

Meuduek adoe teurtib ji na

Wajib ’akli beuta tuban

Nyang han ektan bak bicara

 

Nyang mustahe beutasidek

Nyang hana ek bak tapeuna

Sahna sahtan bak ’akli

Nyan jaizi geukheun nama

 

Pane haba nyoe bak Asy’ari

Ka tatune asai mula

Peureulee ’ain ubak insan

Ji keunalkan Allah Ta’ala

 

Wajeb sabuti ubak Tuhan

Wujud Tuhan kadim baka

Mukhalafatun Qiyamuhu

Beumeu laku takeu kira

 

Wahdaniyah asa Tuhan

Faidah nyan marta nyata

Kal ja’ali bilan nisaabi

Beumeu cakap ta meukira

 

Wujud tuan sifeuet nafsi

Nyan istilahi bak ulama

Nyang limong nyan sifeuet salbi

Lheueh nyan ma’ani he syeedara

 

Hayat ’ilmu kudrat iradat

Ka peuet meuhat bak takira

Samak bashar teuma kalam

Kakeu tamam tujoh jihna

 

Maknawiyah tujoh kana sinan

Han peue taulan le takira

Nyang diwajeb kakeu hase

Nyang mustahe hana lagena

 

Nyang mustahe ubak Tuhan

Meulawan nyan treut syeedara

Nyan mustahe bahle keunyan

Nyang jaez hancit lagena

 

Nah tadeungo bawa taulan

Nyang mumken tan nyang mumken na

Zat ’alam nyankeu mise

Bekkeu napi nasyok sangka

 

Tohkeu ’alam kullu maujud

Lafai ji lanjut hanku bawa

Nyang keulhee nyan ka bak Tuhan

Bak Nabi nyan marta kira

 

Sifeuet shadak wajeb bak nabi

Amanah lagi nyang keudua

Tabligh keulhee bawa taulan

Beukong iman dalam dada

 

Nyang lawan nyan cit mustahe

Jaez jahe lom bak gata

Nyoe nyang jaez roe bak nabi

Miseue thabi’i manusia

 

Makan minum neu tidorkan

Laen nibak nyan han teurkira

Nyoeka ujong mukaddimah

Ulon Allah le that deesya

 

Lheueh nyan jinoe martaqsiim

Teumpat t’aklim kee keugata

Tujoh tambeh di dalam nyan

Peuringatan kee keugata

 

Meung geunantoe tameu beurakah

Bek that susah hate lam dada

Allah  Allah ya habibi

Keu do’a ly bek talupa

 

Attaqsiimun:

 

Tadeungo he bawa taulan

Nyoekeu peusan ubak gata

Bukit gata ureueng mu’allem

Syarat jidum ta tuoh na

 

Beksit nyan han tateupeue

Bek u sagoele ta maba

Adab keu murid beuta tuban

Bandua nyan geupareksa

 

 

Bek saket hate nyan keukamoe

Nyang kukheun nyoe jeuet keulaba

Adat jime kitab unab

Bek ri nyang rab hate gata

 

Ta peubeuet dilee wahe teungku

Han meulaku bak Rabbana

Jikalee geubeuet ’eleumee alat

Khiyar meuhat ubak gata

 

Jikalau geubeuet ’ain peureulee

Soe nyang dilee neureuteuka

Meunankeu tuan nyang ban ato

Ibnu Hajar po calitra

 

Nyan tagsiim adab guree

Nabek dungee dumna gata

Wahe tuan andai taulan

Gureeteu tuan ta peumulia

 

Leubeh guree nibak nangmbah

Meunan peuneugah dum ulama

Adab guree bek meung badan

Hanna sakon sia- sia

 

Beutroh u hate bawa taulan

Meunan peuneusan di ulama

Khadam nyang han kareuna Allah

Page leumah han sapeue na

 

Guree tuwo keu geutanyo

Han geuingat roe he syeedara

Baksit meureumpok dirot diblang

Saleum beurijangle bak gata

 

Bukit taduek di hadapan

Tuto taulan bekle cakra

Bek tapeugah nyang han neutanyong

Ureueng bingong geukheun gata

 

Ngon wie unun pi bek tangieng

Nyokeu ureueng mubicara

Pat nyang neuduek uleh leube

Bek geutanyoe markeusana

 

Bek tasual teungoh malaih

Na tamse deueh seu-uem dada

Bek jeuheut dlan bak buet guree

Hantok eleumee dumna gata

 

Han butango haba khidhir

Deungon Nabiyullah Musa

Hidhir Wali Musa Nabi

Geutanyoe pakri bab aulia

 

Masa neubeuet nyan khutubah

Timplak Allah akan dia

Haba meusyuhu han kukisah

Adab nangmbah marta kira

 

Tuto nangmbah beuta deungo

Peue nyang neu yue takeureuja

Geutanyoe duek droe neulalu

Ta beudohle nyan beusigra

 

Bek talintas di hadapan

Andai taulan muda-muda

Bak tamarit di hadapan

Suara tuan bek that raya

 

Bak tame saboh timangan

Bekta umonjeueb kutika

Beuta lubha geumar nangmbah

Geumar Allah nyan keugata

 

Bek con muka bak janjongan

Ingat taulan nyang bahgia

Bak han izin bek tameujak

Patot keubek nyan talanda

 

Haba kunyoe bak kifayah

Bak ’ainiyah mei talanda

Bukit ka ’uzo nyan dinangmbah

Wajeb nafakah ateueh gata

 

Padum padum ayat Quru’an

Nyang wajeb nyan ateueh gata

Kon meunangmbah bawa taulan

Anak anakan meunan juga

 

Nyoe di sinoe saboh Qa’idah

Nyang kuliah bak geukira

Meung jitem teugah bak tabi’at

Teugah syari’at nyanka kaya

 

Miseue ji tuan tajeb keumeh

Hankeu tapoh ubak nadra

Nah bukit nyan tajeb arak

Patot keuhak gata geudra

 

Najih hareuem sangat tuwak

Nyang patot hak bukon geudra

Kareuna bak nafsu teusuet beunci

Kaya syari’i bek geulanda

 

Aneuk ngon mbah meusyarikat

Bak pihak brat ateuh gata

Padum padum ayat Allah

Nyan nang ngon mbah brat bak gata

 

Nang keu aneuk nyoe tabi’i

Hankeu peuele suroh ji  na

Kareuna peurangoe sit tagaseh

Han geusuroh sit lam kira

 

Khabar kunyoe kon meung kukheun

Ka takalon nyan ngon mata

Adab nangmbah kakeu tapham

Bak taqeusiim nyang keudua

 

Hoka gata nyang mufti

Ta deungo kri meucalitra

Tafse hadits beuta tuban

Roe nyoe jalan bak peutua

 

Sireutoih ayat ban keuhukom

Nyan beumaklum ubak gata

Nasakh minsukh beuta tuban

Andai taulan nyang peutua

 

Hadits Nabi beuta turi

Shaheh qawi beuta nyata

Sigala rijalon ampunya rawi

Nyan beumeukri ta pareksa

 

Jariit t’akdi beuta sidek

Na meung bek syok bak peutua

Ushul fiqah beuta turi

Ngon peura-e beuta nyata

 

Mazhab ji peuet beuna tapham

Wahe polem nyang peutua

Muwafakat khilaf pi na sinan

Nyan han jeuet han tapareksa

 

Eleumee alat beumeucakap

Eleumee adab pilom beuna

Sigala lughat beuta teupeue

Nyokeu raghoe geukheun gata

 

Soehan sidek hukom Allah

Di akhirat keunong syeksa

Nyoe na tuan saboh hikayat

Jeuet ibarat cit keugata

 

Haba kunyoe bukon pane

Khabar ’Ali nyang murtadha

Bak siuroe teukeudirullah

Meuseujid kufah neu meuseunia

 

Sidroe ureueng na di sinan

’Abdurrahman geukheun nama

Ureueng lakoe nyan biek taklid

Aneuk murid Abi Musa

 

Manusia pile sinan

Yoh masa nyan droe neuteuka

Geuteumanyong bak ’ Abdurrahman

Tafse Quru’an geupeu nyata

 

Peue geutanyong ji jaweueble

That beurani ureueng muda

Maka teumanyong Bapa Hasan

Bak Abdurrahman neu hadapka

 

Na taturi nasakh mansukh

Ku peusareh ubak gata

Maka jaweueb Abdurrahman

Dikamoe hanna sapeue na

 

Lalu neumat bak geuliyueng

Sare kengkeueng ureueng muda

Bek takisah tafse Quru’an

Han patot nyan mei digata

 

Bak meuseujid nyan dikamoe

Han izin ngui han meuridla

Beuta deungo haba kunyoe

Barang kasoe nyang peutua

 

Salang bukon geubri hukom

Nyan naroe dum teuka bahya

Adat meung nyo hukom Allah

Allah Allah he syeedara

 

Taqsim adab lahe baten

Na disinan ta pareksa

Bak mufti pile bahgi

Soe nyang zaki jibri makna

 

Allah Allah bawa sahbat

Do’a beuthat nyan keuhamba

Hate kunyoe keulu keusah

Salah salah bak calitra

Hateku tuan that meuhayak

Tamse riyak yoh keunong sa

 

Dumna teutuan nyoe pi tambeh

Janji jandeh nyan ngon gata

 

TAMBIHUL AWWAL

 

Hoka gata nyang meujudo

Siseuen lalo ateueh gata

Na tadeungo e aduen droe

Haba kamoe dagang hina

 

Keu isteuri beuta gaseh

Bekta beungeh rijang jula

Ngon sabab nyan han jitakot

Kayem jicarot geunap sinja

 

Bukit tajak saho-saho

Hanna hiro ji keugata

Sambat gaseh andai taulan

Keu judokan nyang digata

 

Bu jitabri ija ji tabloe

Nyan wajeb nyoe ateuh gata

Amar nah’i ta peuturi

Na ji pakoe sajan gata

 

Meungka ji gaseh bawa taulan

Peue nyang takheun nyan cit meusra

Nyum bek jarak geunap uroe

Hate teugoe goe ji keugata

 

Tabri bai’at ngon teuleukin

Na shalihin judo gata

Na teurseubut dalam Hadits

Lafai khalis han kubawa

 

Sidroe ureueng binoe shaleh

Leubeh nibak tujoh ploh kita

Sidroe teuma roh nyang jeuheuet

Han ek santeuet siribee kita

 

Kada ji ek nakeu jitron

Wahe aduen ka digata

Soe nyang kheundak ubak nikah

Bah maqashah nyan keugata

 

Leubeh nikah wa adoe droe

Nabi geutanyoe neu meusabda

Soe nyang naka ji meujudo

Katok nishfu bak agama

 

Nishfu keudua beuta taubat

Wahe sahbat dum barang na

Lhee neu gaseh nyan di nabi

Tadeungo kri meucalitra

 

Nyang peurtama nyan beebeewan

Nisa tuan nyang keudua

Peureudhu ’ain lam seumbahyang

Ta meutanyong bak ulama

 

Ta meukawen nyan na peuet  ban

Meunan jikheun dipandita

Nyan wajeb ngon sunat meukroh

Keu peuet mubah he syeedara

 

Syahwat kuat nyan ngui tuboh

Lagi nyum roh ubak zina

Soe nyang meunan jeuet wajibat

Disunat toh bah takira

 

Areuta pina syahwat kawin

Lagi nyum hanroh bak zina

Nyang jeuet sukar bak ibadat

Lagi hajat ji pihana

 

Nyan nyang meukroh andai taulan

Mubah tuan martakira

Nafakah pitan lom hanna galak

Lagi aneuk pinyum hanna

 

Nikah tuan meuleu lapeh

Ban manisan saka ngon  gula

Nikah reusam ngon syari’i

Nyan ’aqeuli nyang keugata

 

Keu peuet tuan nyan thariqii

Bayan kubri nyan keugata

Soeka baliqh umu tamam

Nikah reusam yoh disana

 

Masa teungoh syahwat kuat

Nyan syari’at ji meunama

Soena umu ji lhee ploh thon

Yoh disinan ’aqeulii nama

 

Nikah tharigii na taturi

Nyan bak wali nyang mulia

Digobyan kon kareuna syahwat

Hanna hajat nyan keudonya

 

Kareuna geuikot ban syari’at

Nabi Muhammad saidil ambiya

Ditanyoe hanna tok keunan

Gohna Tuhan neu karonya

 

Na tadeungo saboh khabar

Soena geumar ji calitra

Panghulee geumaseh nyansit nabi

Han ek sabe dumna gata

 

That neu gaseh keuisteuri

Meunan Nabi geucalitra

Na teurseubut Nabi Muhammad

Nyan neukheun bak umat dumna

 

Soe ek saba bak ureueng binoe

Nyang jeuheuet peurangoe nyan keugata

Neubri pahala keugata tuan

Uleh Tuhanku Rabbana

 

Miseue neubri nyankeu Aiyub

Bak untong hai keunong bala

Soe ek saba ureueng binoe

Jeuheuet peurangoe suaminya

 

Neubri azniejah uleh Tuhan

Pahla ji nyan nyang that raya

Miseue neubri keu Asiah

Umat Allah nyang bahgia

 

Asiah tuan beuta tuban

Peurumoh Fir’un nyang ceulaka

Khaba Asiah nibak kafe

Ureueng mungkar keu agama

 

Kon meung kafe bawa taulan

Droe ji Tuhan nyan jidawa

Ditanyoe nacit sabee droe

Wahe ma droe nyang bahgia

 

Allah Allah laknatillah

Nyang kafe hanna bahgia

Na geupeugah sidroe ureueng

Saheh meutemeung lam calitra

 

Peurumoh jinyan jeuheuet peurangoe

Ji peugah droe ubak raja

Nyan raja nyan geupeu khaba

Tuanteu Umar geucalitra

 

Maka jijak nyan jilalo

Dong dipinto sikutika

Ji deungo haba tuan putroe

Seungkoe seungkoe nyan keuraja

 

Tuanteu Uma nyan neu iem droe

Hana sapeue neubri dawa

Lalu teupike dalam hate

Hanna sabe peurangoe raja

 

Salang sahbat di janjongan

Isteuri meunan nyan digata

Han jitamong nyan jiriwang

Seun srot neutanyong uleh raja

 

Ho beutajak bawa tuan

Peue keumeung kheun nyan rahsia

Ku keumeung jak nyan sit keunoe

Isteuri kamoe jeuheuet bahan

 

Ku deungo bak keulakuan

Nyan dituan meunan juga

Nyankeu sabab ku keumeung woe

Hate syawoi dalam dada

 

Bakeu meunan ngoku peugah

Na tatuoh nyan digata

Ruti jitot ija jisrah

Lom ngon aneuk jih peulara

 

Roe yakin han wajeb bak jih

Toh pakri bah hanku ridla

Ngon sabab jih hate teutap

Hareuem han jab bak anggeeta

 

Marjimarit ureueng lakoe nyan

Bak janjongan nyang mulia

Digata nacit meung dumnan

Dikamoe hanna teurkira

 

Maka marit uleh sahbat

Saba beuthat he syeedara

Kakeu habeh nyang haba nyan

Wahe taulan nyang teutuha

 

Peuekeu untong ulonteu sidroe

Jeuheuet peurangoe di ateueh donya

Got kulakee ubak Tuhan

Ku bacakan Allahumma

 

Ahsan akhlaqanaa wa wass’ik

Arzakanaa yaa kariim

Kakeu tamam nyang dido’a

Janji tujoh baro saboh

 

Nyoe peue Tambeh nyang keudua

 

TAMBIIHUS TSAANI

 

Eleumee firasat pi beuta thee

Bek tadungee dumna gata

Nyang tuban firasat dua bagoe

Ta deungo he dumna gata

 

Soe nyang tok thee dali jipham

Mutawassam ponyan nama

Nyang na tilek ngon Nur Allah

Mutafarris po nyoe nama

 

Seupeurti teurseubut dalam Qur’an

Narit Tuhan Rabbul ’Ala

Inna fi zalika la-ayaatil lilmuttaqiin

Narit Tuhan bek syok  sangka

 

Limpah nibak meurtabat iman

Habeh jituban dumna gata

Peue lam hate habeh jituoh

Tanda leubeh Allah karonya

 

Yuktil hikmata man yasya-u

Soe neu kheundak neukaronya

Sidroe ureueng bak eleumee nyoe

That bit raghoe bijaksana

 

Nyan ji meunan Sulotan Syah

Saj’ak karmaani geukheun nama

Bak siuroe nyan neupeugah

Ubak rakyat dum barangna

 

Singet mata nibak hareuem

Ngon jitheun lom nafsu hawa

Baten jirame meuraqabah

Ban syari’at beuna jiba

 

Ji makeuen haleue jibri’ adat

Han salah peurasat nyankeu sabda

Beuta takot peurasat mukmin

Nabi meunan neu meusabda

 

Tilek mukmin tilek Allah

Habeh leumah dum rahsia

Nyan meusom nyoe kureueng himmah

Nyum bek kuboeh he syeedara

 

Saleh kuboeh meung siteungoh

Meung bek gadoh dum barangna

Tuboh mirah haloih meuteuntee

Tanda malee he syaeedara

 

Soe nyang tuboh warna apui

Tanda ji humoi barang keureuja

’Akai kureueng lagi beungeh

Meunan peuneugah dipandita

 

Ureueng tanda jeuheuet peurangoe

Bak tuboh nyoe leumah nyata

Warna hijo jampu hitam

Nyankeu tapham he syeedara

 

Warna puteh jampu mirah

Tanda pantaih barang keureuja

Soe nyang tuboh ji puteh that

Tanda han got bak calitra

 

Oek ikai hitam meukilat

Meung akai that lagi seumpurna

Oek antara mirah hitam

Nyan pigotlom miseue nyangka

 

Soe oek hitam amat sangat

Lhee faidah na disana

Peurtama meung akai ngon tok janji

Lagi ade nantiasa

 

Soe oek mirah lagi ikai

Tanda beubai lom tommeu’a

Soe nyang na oek jihnyan kuneng

Tanda kureueng akai ji na

 

Lagi rijang bak amarah

Meunan syiah neu calitra

Soena tuan rayek ulee

Faidah lhee na disana

 

Nyan meung akai himmah tinggi

Sampurna lagi nyan bicara

Tanda ureung keubajikan

Ulee jinyan seudeurhana

 

Lomgot laku keujadian

U hadapan dhoe ji raya

Mar ulikot nyan meungbacut

Kakeu tirut bak keukira

 

Soena ureung nyan cut ulee

Akai geuthee ji kureung na

Dhoe geutanyoe geuboh tamse

Ceureumen hate he syeedara

 

Dhoe peurteungahan lagi le krot

Nyan alamat beunar tanda

Lagi geumaseh lom meung akai

Beuta keunal dum teurata

 

Pham jitajam di ureueng nyan

Keuluwasan di kuneng  na

Panyang keuneng jih kreueh hate

Ngon teukabo nantiasa

 

Keuneng jicut disijih nyan

Lam dukaan nantiasa

Neu peujeuet mata ubak insan

Jeuet nyan juru bahsa

 

Habeh ji teupue nyang teurbuni

Dalam hate manusia

Soe nyang mata peurteungahan

Meunyampaikan janji dumna

 

Jareung klep klep bak mata nyan

Akai jituan na sampurna

Nyanggot akai beuna tapham

That bit hitam aneuk mata

 

Mata mirah tanda beurani

Tatakot eue biji saga

Muka jih nyan ureung teurseunyom

Mameh ranom ri dimata

 

Lom ji meungieng sang aneukmit

Umu ji lawet diateueh donya

Mata meuklep klep beurang kajan

Gila jituan diakhe na

 

Soena tuan mata juleng

Nyankeu ureueng tanda ceulaka

Buet jipubuet diphon jeuetkon

Keujahatan he syeedara

 

Ureung luah ruhung hidong

Dijih untong deungki jihna

Bibi lipeh tanda peungingat

Marnyang got that seudeurhana

 

Rapoeh hate bibi pucat

Nyan alamat na disana

Gigoe panyang lagi beusar

Ureueng mungkar nyankeu tanda

 

Lidah panyang lagi lipeh

Bak  jih khalesh lhee peurkara

Paseh baleh kuat marit

Cuba eue bit naban kata

 

Lidah Syafi’i troh oh hidong

Nyang untong bit ka kukata

Muka buju peurteungahan

Keu ilokan manusia

 

Kureueng akai lagi pancuri

Kalau nyang keuce nyankeu tanda

Takue rayek lagi teubai

Tanda beubai he syeedara

 

Rueng  bungkok tanda jeuheuet

Kikir sangat lagi them’a

Rueng teubai tanda leubeh

Na pham dijih ngon bijaksana

 

Hasta panyang troh oh teuet

Nyan murah that he syeedara

Dada ji nyan peurteungahan

Tanda tuan meung akai na

 

Ureueng tanda keubajikan

Pruet jituan seudeurhana

Pruet nyang rayek beuna tathee

Kureueng malee peunyaket na

 

Lagi jih nyan kayem teuwo

Bah han ta eue keumeung bukla

Beutah rayek nyan bak ureueng

Tanda kureueng akai ji na

 

Tapak gaki ji nyang cuttek

Ji peubuet fasek dijih tanda

Rayek tumet beurani ureueng

Langkah jareueng tanda seumpurna

 

Meung nyang krap nyokeu han got

Bukon ji seutot lawan ji na

Panyang kisah jeuet keu jeumu

Kalam Tuhanku han ceula na

 

Ta deungo nyoe bawa taulan

Ku ajarkan dumna gata

Nakeu sipatah nyan tatukri

Peurasatle mardigata

 

Untong untong miseue datu

Itu hanmei he syeedara

Khaba raja kaku seudo

Han jeuet teuwole syeedara

 

Eleumee Tasyreh beuta turi

Ngo beusare dumna gata

Bah kuseubut nyan meubacut

Buet han bit bit pura pura

 

Beuna tathee dibak insan

Na peuet ploh khan dianggeeta

Peurtama ulee mieng ngon baho

Ka lhee Teungku ku peunyata

 

Leungan saboh hasta limong

Beulikat rueng nakeu namka

Paleuet jaroe bawa taulan

Keu deulapan nyan anaknya

 

Batang liher haleukom siploh

Dada darah bak siblahka

Siploh dua rueng geutanyoe

Rusok jinoe na lheeblah ka

 

Lom markeuneng kakeu peutblah

Aroe deueh bak keulima

Pha ngon beuteh kakeu tujoh

Lapan siploh gaki gata

 

Tuleueng muda sekureueng blah

Keu duaploh urat raya

Leumak dageng kulet gukee

Nyoe treuet mata nyang keulima

 

Tuleueng utak duaploh peuet

Nyata bakku duaploh tiga

Mata tanyoe lapeh tujoh

Tuhanku boeh dumna gata

 

Duaploh nam ngon geuliyeung

Lidah ureueng na tujohka

Jantong pisang duaploh lapan

Dada tuan sikureung ka

 

Lheeploh geunap nyan ma’idah

Paweue Aceh kubri makna

Pruet sinoe kubilangan

Nakeu tuan lheeploh asa

 

Lheeploh dua marnyan hate

Kuboh tamse naban raja

Wajah tasybih sit dharuri

Hanpeue proele nyankeu gata

 

Nyang lheeploh lhee citka meuhat

Nyang nyan umpeudu geukheun nama

Nyang lheeploh peuet leumak keucil

Nyang nyan biru bak wareuna

 

Lheeploh limong paru paru

Beuna tathee asoe ji na

Nyankeu teumpat dibalaqham

Nyang lheeploh nam tohkeu teuma

 

Dua  boh hate bawa tuan

Nyankeu taulan kaku nyata

Lheeploh tujoh nyan sikumbong

Asoe ji syueng ’iek digata

 

Dua boh peulir lheeploh lapan

Nyan ji meunan baladul haya

Lheeploh sikureueng zakar ditanyoe

Nyang peuetploh nyan rahim nisa

 

Nibak rahim liher nyang buju

Rupa meusyuhu tanjong bunga

Di uram  rahim dua boh peulir

Hantok pike Allah karonya

 

Rupa jiban zakar songsang

Syuko he wang keu Rabbana

Antara pusat ngon sikumbang

Sinan jidong rahim nisa

 

Peuekeu asoe dirahim nyan

Bunting buntingan aneuk digata

Rahim nisa nyan ku tafse

Kareuna akhe siseun calitra

 

Nyang laen dum sit meutafse

Han kubale roe jileungka

’Ajib seukali akai teutuan

Peurintah Tuhan han ek hingga

 

Neubri temeungo nyan ngon tuleueng

Barangsoe ureueng manusia

Neubri tameu eu nyan ngon gapah

Tuto ngon lidah urat dumna

 

Neubri hekeumat maseng maseng

Bak geuliyeueng phet dijihna

Bek jitamong dilat batat

Tuhanku that gaseh keuhamba

 

Neubri masen nibak gapah

Ie mata bah cuba rasa

Nabek hanco nyan digapah

Dipo nyansah ubat sira

 

Nyan ie liyur lidah

Narit manis nyan seumpeuna

Ruhung hidong rot diangen

Hangat disinan neu peujeuet na

 

Kalau hana seu-uem bak liang

Kakeu jeuet kh’ieng utak gata

Eleumee tasyreh ka seuleusoe

Wahe adoe ka seumpurna

 

Alhamdulillah nyoelom kubri

Tambeh kujanji kana dua

Nyang kubri nyoe beuna tathee

Tambeh nyang keulhee mardigata

 

ATTAMBIIHUS TSALIS

 

Laen nibak nyan sit hansoe tueng

Nyo meusalueng pomeukuta

Attambiihus tsalist

Fii bayani ’ilmuth thabiib

Eleumee thabib beuta tuban

Dumna taulan tuha muda

Miseue tameuduek diyub Hasan

Di bawah nyan sijuek ji na

Lagi naho peutimang hate

Barangsoe le susah ji na

Eleuemee tabib lam Quru’an

Ayat taulan na kunyata

Kuluu wasrabuu walan tusrifuu

Innahu laa yuhibbul muarifiin

Ngon lheueh lafai ji kubayan

Tango tuan kubri makna

Makan minom dum teutuan

Beurleubihan bek digata

Makan minum beurleubihan

Bak Tuhan hanna neuridla

Nyan kata qiil dali jilom

Tapham dalem dum teurata

Al’ ilmu ’ilmaani ’ilmul fiqhi

Lil adyaani wa’ilmut thabib lil abdaani

Nyang ilmu dua bahgia

Ilmu fighi bak agama

Ilmu tabib ubak badan

Kana tuan lafal makna

Wahe taulan soe nyang tabib

Nyangka mujarab na tacuba

Shadak ade beuna zaki

Lagi mahir beuna gata

Anasir peuet beuna tathee

Asai dilee nyan takira

Apui angen ie ngon tanoh

Ka peuet dijih bak takira

Tabiat ji nyan maseng maseng

Bak tabileueng sikureueng na

Nibak apui seu-uem ngon tho

Nyan nibak ie sijeuk ji na

Keupeuet basah andai taulan

Limong tuan martakira

Seu-uem basah toh nyang keunam

Kreng ngon seu-uem kakeu nyata

Sijeuk ngon tho kakeu tujoh

Lapan tohroh bak geukira

Sijuek basah dijih bulueng

Nyang sikureueng seudeurhana

Umu geutanyoe bawa taulan

Ku bagi nyan peuet peurkasa

Niphon jeutkon troh lheeploh an

Thon nyan ji roeh bak peurtama

Nyankeu umu dibak adoe

Beurang kasoe muda muda

Untong nyan apui ji anasir

Nyankeu ta eue beungeh sigra

Akai piji ek yohmasa nyan

Meunankeu taulan yohna muda

Lheueh nibak nyan jidong siat

Kakeu troh peuet ploh thon kita

Kakeu ngon nyan dua bagi

Angen anasir nyan digata

Nyankeu rijang gadoh beungeh

Lagi dijih tok bicara

Jitron ninan troh bak namploh

Nyan sinan roeh bahgi tiga

Yohyan tuan anasir ie

Nyankeu ta eue tok bicara

Lagi seu-uem pika teudoh

Bagi peuet toh martakira

Meungka jitren nibak namploh

La’eh tuboh kasyik gata

Hingga troh bak umu tabiat

’Anasir tanoh nyan dipuja

nyankeu  sabab ingat keumate

peureundah diri hanatara

Umur thabi’i na tatuban

Sireutoh thon duaploh pula

Umur ghaleb namploh dua thon

Teurseubut nyan bak calitra

Asai peunyaket beuna tapham

Makan minom han takira

Nah adat na tabri adat

Han meularat tuboh gata

Soehan tuan jibri adat

Jeuet meularat le that bahya

Tabiat ji kreueh beunak hate

Malee hanle na digata

Lom jeuet malaih ta ibadat

Meuh’ah h’ah that pruet teuraya

Kut seb singoh habeh jinoe

Karam siuroe di areuta

Narit ithban tango taulan

Bah kubayan dikeue gata

Karoh makanan bak pruet tanyoe

Seu-uem adoe keunan teuka

Jihanco makanan nyan

Kimus taulan jinoe nama

Kakeu caye makanan nyan

Pruetji ’etnoe tuan hingga

Troehkeu tuan nibak keundi

Di bineh hate ji meuseunia

Lomdi seu-uem teuka keunan

Kilus taulan jinoe nama

Makanan caye jeuet peuet bagi

Ngo beusare dum teurata

Darah geuneuh’euek keulhee tuan

Shaqhirak nan keu peuet sauda

Khasiat darah seu-uem basah

Warna mirah toh teumpatnya

Teumpat darah andai taulan

Hate teunyan kakeu nyata

Khasiat geuneuheuek sijeuk basah

Paru paru sah keu tempatnya

Faidah geuneuheuk andai taulan

Meumbasahkan dum anggeeta

Khasiat shaghirak seu uem ngon tho

Keu teumpat mar-eumpeudu nama

Khasiat sauda sijeuk ngon tho

Keu teumpat marleumak gata

Faidah saudak likot darah

Tuhan peurintah dum keugata

Na peurteungahan dinyang peuet nyoe

Sijahtera adoe tuboh gata

Lom neu peujeut uleh Tuhan

Badan insan peuet kuat na

Jaziyah maas ’ikkamat lhee haakhimat

Keu peuet dafiat kakeu nyata

Di jaziyah kuat meumeurlan

Nasikat tuan meunahan daya

Di hadhimat kuat ji nyan

Meungancur makanan dibak gata

Didafaat kuat peuteubiet

Peue nyangna lam badan gata

Kureueng leubeh kuat peuet nyan

Peunyaket adoe nakeu gata

Sit han mei han nyan tateupeue

Tabiat tanyoe he syeedara

Tabiat aneuk miet seu-uem basah

Marnyang leubeh seu-uem saja

Tabiat ureung sue-uem ngon tho

Beuna tango kucalitra

Leubeh basah diureueng shyik

Balek bak sinyang muda

Soe nyang tu’oh ditabiat

Jeuet peu ubat saket gata

Badan gata saket meutamah

Nyoekeu sahbat geutipee gata

Badan gata saket meutamah

Tabib bideu’ah jahe raya

Meuh teujitueng bu teuhabeh

Badan teukurus laju digata

Tohrot tathee ditabiat

Wahe sahbat na kunyata

Warna tuboh khuluk lakuan

Ngon peurbuatan ngon tutonya

Rot tatuban nakeu siploh

Na meukisah nyankeu gata

Nyang phon dilee tamat badan

Seu-uem disinan na syeedara

’Adat teunyan treuk tabiat

keudua treuk marke nyata

tangieng badan nakeu tumbon

sijuek disinan tabiatnya

Keulhee tangieng bak oek ulee

Beumeu teuntee takeu kira

Bukit ikal hitam leubat

Tanda hangat tabiatnya

Keupeuet tangieng warna tuboh

Bukit puteh sijuek tanda

Lagi jihnyan le balgham

Beuna tapham mirah warna

Tanda hangat ngonle darah

Puteh mirah seudeurhana

Tabiat bukit warna gandum

Dijih seu-uem tabiatnya

Warna kuneng seu-uem tanda

Ghaleb shafrak dijih pula

Warna hitam tanda sijuek

Ghaleb sauda tabiatnya

Limong tangieng keujadian

Anggauta badan manusia

Urat rayek keulihatan

Gaki tangan lahe nyata

Tabiat seu-uem disijih nyan

Bukit sithan sijeuk tanda

Lom tabiat dinyang seu-uem

Bak jih taluem bak keureuja

Bukit pantaih peurbuatan

Ka nam taulan nyankeu tanda

Tujoh tangieng bak peurbuatan

Khuluk jinyan na seumpuerna

Nyan tabiat peurteungahan

Bukit sithan sijuek tanda

Lapan tangieng jaga teungeut

Leubeh teungeut sijuek tanda

Lagi basah nyan tabiat

Tanda hangat leubeh jaga

Lom tabiat dijih nyan tho

Nakeu tango kucalitra

Jaga teungeuet peurteungahan

Akhar tuan tabiatnya

Sikureueng tangieng qadha hajat

’Iek ’ek sangat beurbau dia

Lom warna ji that mirah

Hangat tabiat nyan digata

Bukit sithan sabet balek

Tabiat sijuek nyankeu tanda

Ka nyan lahe siploh lom baten

Tangieng tuan soe ithbaa

Pham ngon akai jithat tajam

Tabiat seu-uem nyankeu tanda

Meungka taturi nyang siploh nyan

Na jeuet raghoe soe ithbaaa

Ubat jinyan beurlawanan

Hakim tuan pocalitra

Na teurseubut dalam nadlam

Gotkeu neu pham bahkeu nyata

Fal harru bilbaridi mustaqiim

Wa barridun bilharri ya fahiim

Wadauwi bil yaabisi rutbal thilali

Wa yaabisun birruth ’indal ’amali

Tabiat seu-uem sijuek ubat

Beutoi sahbat cuba gata

Tabiat sijuek seu-uem ubat

Tapham beugot soe ithbaa

Peu-ubat ngon tho peunyaket basah

Baleh sahbat kapham gata

Bintang duablah han taturi

Hanna mah’e tabib gata

Nah adatna maklum bintang

Tabib alang han hajat na

Roe tatuoh pajoh makanan

Nyan han jeuet han dibak gata

Nyangle jahe dum geutanyoe

Bak sangka droe ’Alem raya

Meung lam badan han tatupeue

Ngon dungee droely ulama

Soele eleumee han teukabo

Bak jipike jahe raya

Panghulee ubat wahe adoe

Nyan ie unoe madu nama

Ubat lahe ie mazu nyan

Baten tuan Quru’an mulia

Nyoe na hadits Rasulullah

Bahku kisah dikeue gata

’Alaikum bisysyifan yaini

al-Qur’an wal ’asal

Artinya lazimlah atas kamu

Deungon dua peunawar

Peurtama Quru’an lom ie madu

Nyankeu hepo peunawar dua

Narit nabi nyan bekna nyok

Jeuet munafek teuma gata

Nyoeku peusan teuhe adoe

Bandua nyoe na digata

Tiep tiep saket nakeu ubat

Tuhanku peujeuet neu karonya

Peunyaket apui ie keu ubat

Peunyaket khueng that ujeuen raya

Peunyaket linuen bawang ubat

Peunyaket seumangat tabeuet do’a

Salamun ’alaa nuhin fil ’alamiin

Lam Quru’an narit mulia

Peunyaket hu batin boeh hekeumat

Ubat sahbat na kunyata

Ie rabin leumo tajeb taulan

Nabi meunan neu meusabda

Sidom apui peunyaket tathee

Tamat ulee garo gata

Leumoh zakar rayek peunyaket

Haleuba sabet keu ubatnya

Soe nyang na oek keuguguran

Sawi taulan ubat gata

Soena taulan keunong racon

Ubat teunyan takeukira

Syafiy ie madu boh badam

Ta peugot polem keu haluwa

La’eh tuboh ubat tapham

Sit teulor ayam kakeu  nyata

Laen nibak nyan nacit taulan

Ngui beebeewan jeub keutika

Bak ureueng binoe pile ubat

Soena saket aduen gata

Soena mata manok sapu

Ngieng bak judo nyang jroh muka

Peunyaket burut pane tapham

Jimak hantom na tarana

Bron dituboh keurawat badan

Peurumoh taulan tan digata

Dumna sahbat meukuderen

’oh meukawen jom rueng shafa

Kon beurakah ka takalon

Kon kuko kheun ku meuseunda

Hanna patot ku meuwayang

Meuroe abang teuka tuha

Nyang kukheun nyoe soetem turot

Soena sahbat sare hina

’Ajeb akai peurintah Tuhan

dum seukalian ubat ji na

Dua peue  cit nyangtan ubat

Nabi Muhammad nyang meusabda

Wa kullu daain lahu dawaaun

Illas salaama wal harma

Tiap tiep peunyaket nakeu ubat

Laen dimawot nyan ngon tuha

Peurintah tabib ku bagikan

Sabet taulan dua peurkara

Tabib baten peu-ubat hate

Tabib lahe bak anggeeta

Tabib lahe nacit mudah

Nyang baten sah meusaket na

Tabib lahe lam donya nyoe

Baten dudoe nanggroe baka

Tueng manfaat ji kukheun ban

Andai taulan muda muda

Tabib lahe nyan wasilah

Bak ibadat jeuet kuasa

Al wasan iilu hukmul maqaashid

Bandum teumpat he syeedara

Peunyaket rayek tabib pitan

Meunan Tuhan neu karonya

Jinoele tabib pidum saket

Kakeu tok had akhe donya

Maseng maseng jikira droe

Hate jinoe ka udonya

Ji paban bah peu-ubat gob

Hate teutop keu Rabbana

Le ulama bak masa nyoe

Geunap uroe kira areuta

Peurintah tabib hana jipham

Eleumee hukom han jibaca

Sidroe ureueng nanggroe ’Arab

Bak jih cakap dua peue na

Tabib lahe nyan ngon baten

Na neuhimpon Allah Ta’ala

Sidroe ureueng na taturi

Hasan Basri geuhoi nama

Neukheun neujak nyan u peukan

Basrah tuan nanggroe nama

Ngon na sidroe muda ’Abed

Lon takeulid bak namanya

Seun treuk meuteumeung non tabib nyan

Neudong tuan sikutika

Tabib jiduek ateueh kurusi

Ureueng pile nyan disana

Rijaalon nisa dihadapan

Shibyan tuan han teurkira

Tima di jaroe maseng maseng

Nyan bak ureueng tabib raya

Maseng ji sifeut ngon peunyaket

Dumna rakyat nyan disana

Maka marit tuan Hasan

Ubak taulan ureueng muda

Cuba tajak bak tabib nyan

Ta tanyongkan ubat srah desya

Nameung jeuneh hate nyang saket

Nyan peunyaket nyang that raya

Marnyan jijak ji tanyongle

Jaweueb jibri nyan jikheun na

Tatueng bak kamoe ban nyang siploh

Allah peuseumbuh hate gata

Nyang tatueng nyan hanku kheun peue

Mita keudroe ubat digata

Ukheue kayee fakir saboh

Nyang dua toh tapeunyata

On kayee tawadhuk bawa taulan

Teunyatakan nyang keutiga

Bijian taubat taboh bak jih

Martaboh lom ji ngon ridha

Kakeu peuet nyan na tatuoh

Marnyan tapeh ban simua

Ngon aneuk batee ji qana’ah

Ka limong sah na digata

Lheueh nyan taboh lam beulangong

Takwa reumbang na kanam ka

Lheueh nyan taboh pue ie malee

Nakeu tathee tujoh nyata

Marta reubah ngon apui mahabbah

Ka lapan sah na digata

Lheueh ka masak bohlam gadah

Syuko nyan sah sikureueng na

Lheueh nyan tajeb bawa adoe

Camca pujoe alat digata

Kabeh siploh nyan nyan kukheun

Ta cubakan naban kata

Donya akhirat jeuet seulamat

Soe nyang ikot ban kunyata

Narit kunyoe nyan meutakwi

Hanna lahe ban kukata

Eleumee tabib kakeu sudah

Panyang kisa hanle kuba

Harap bak Tuhan beumamfaat

Dumna sahbat jitem baca

Kakeu lheueh nyan peuelom jinoe

Tambeh adoe lom keugata

ATTAMBIHUR RAABI’UN

Alhamdulillah dalam nekmat

Meuta turot nantiasa

Neu peuejeuet geutanyoe dumna insan

Leubeh tuan meukhluk nyang na

Wajeb tasyuko dikeu Allah

Geutanyoe umat Nabi mulia

Beuna tathee bawa taulan

Agama tuan dua peurkara

Saboh tatinggai nyang neuteungah

Ta peubuet taat nyang keudua

Ta tinggai nah’i that meusaket

Ku kalon miet nyan didonya

Han takalon andai taulan

Taat tuan lesoe keureuja

Tinggai nah’i that meusaket

Ku kalon miet nyan didonya

Taprang tuan nyan dinafsu

Bek taprang Teungku Allah Ta’ala

Talakee tulong ubak Allah

Beu-ek tangalah nafsu thomeu’a

Soe nyang talo jiprang musoh

Waliyullah di ateueh donya

Pike tuan hikayat nyoe

Uleh nasoe nyang bahgia

Sidroe syiah na taturi

Syaqiq Balkhi geuhoi nama

Khatamul Ishmi murid syiah

Waliyullah nyan bandua

Bak siuroe teukeudirullah

Teumanyong syiah bak muridnya

Nalhee plohthon gata bak ulon

Peue na tuan nyang hase ka

Lapan faidah  na nyang hase

Ngon Allah bri beureukat syaikhuna

Nyanku harap ubak Tuhan

Ngon lapan nyan jeuet seuntousa

Peue peue lapan bawa ya khatam

Nyan takheun dum ku bileueng sa

Sabe insan geumasehan

Seun srot tuan sidroe pi na

Ladom sahbat na jikunjong

Nyang ladom hanna ji teuka

Siteungoh intat u bineh uruek

Marjiduek ji lakee do’a

An lheueh do’a marji riwang

Sabet dagang katok masa

Han sidroe tam’uek ulam jeurat

Jak peungon sahbat yoh didonya

Ku pike pike nyan ngon hate

Barangsoe cre ya syaikhuna

Laen diamai nyang shalihat

Adat lam jeurat pi seureuta

Nyankeu kutueng keurakan sahbat

Nyankeu faidah nyang peurtama

Kukalon makhluk dumna insan

Peuseutot ji nyan nafsu hawa

Nyoe kupike dalam Quru’an

Narit Tuhan han peurbula

Wa ammaa mankhafa maqaama Rabbihi

Wa nahan nafsa ’anilhawaa fainal

Jannata hiyal makwa

Soe nyang takot maqam Tuhan

Lom nyan jitheun nafsu hawa

Page dijih syurga teumpat

Soena umat nyang bahgia

Geucok geuboih hawa nafsu

Kalam Tuhanku han syoksangka

Nyangka dua di faidah

Nyang keulhee toh marta nyata

Ulon teupike kalam Tuhan

Han patot nyan mei peurbula

Ma’indakum yunfidun

Wamaa indallahi baqiin

Barang jeuneh bak geutanyoe

Leunyap jiroe ya syaikhuna

Meung nyang nibak poteu Allah

Keukai ji sah ya syaikhuna

Ulon kuikot narit Tuhan

Hanna kusyen keu areuta

Habeh kubri soe nyang gasien

Bah diulon sep meung pahla

Ulonteu kalon siteungoh ureung

Nyankeu kawom ji dlan mulia

Jih meungurur ngon sabab nyan

Ladom ji dlan ngonle areuta

Ladom ji dlan bak tok ureueng

Ladom bak jitueng digob areuta

Teuma ji dlan di seumalaih

Bak teuboih habeh diareuta

Ulonteu peunyum dalam Quru’an

Nyang bandum nyan hanban sangka

Inna akramakum ’indallahi atqaakuum

Mulia kawom soe nyang takwa

Narit Tuhan haqqon shadek

Dlan sifasek sia sia

Nyan faidah dinyang keupeuet

Keulimong treuk martanyata

Ladom ceula keudeh marnyan keunoe

Upat sinaroe jeueb kutika

Na tatupeue nyan sabab nyan

Meuroe gasien ladom kaya

Siteungoh hina ladom meugah

Ladom bahrullah eleumee ji na

Nyan kupike bak Quru’an

Ayat taulan nahnu qasamna

Bainahum ma’isyahum

Fil hayatiddun yaa

Kamoe bahgi dumna insan

Keuhidupan yoh didonya

Meunankeu narit di Tuhanku

Bahkeu teungku keu Allah Ta’ala

Hanku deungki beurang kasoe

Ridha kamoe nyan bahgia

Sabe insan ji meupoh poh

Ji meuseunoh martabat donya

Na teurseubut dalam Quru’an

Neuyue prang syaithan dum teurata

Innasy syaithaana lakum ’aduuwan

Fattakhizuhu ’aduuwa

Neuyue lawan bek pura-pura

Hanmei tamusoh laen disyaithan

Meunan tuan kalam Rabbana

Kakeu na nam difaidah

Nyang keutujoh martakira

Ladom ureueng tuntut raseuki

Peutang pagi hana reuda

Hingga roh nyan bak syubeuhat

Hareum han that nyan jikira

Galak kungo firman Tuhan

Bayek keunyan ban maksudnya

Wamaa mindaabbatin fil ardhi

Illa ’alallahi rizquhaa

Hanna dabbah dalam bumoe

Malenkan bak Allah rizeukinya

Nyanku bimbang keu ibadat

Rezeuki meuhat ka takheun na

Han kuharap bak makheuluk

Nyang sabe duek di ateueh donya

Faidah lapan nyan tapeugah

Ta peusareh kungo nyata

Ladom hate ureueng bak meueh

Ladom khusus bakle areuta

Ladom jimat keumuliaan

Soe nyang ulon raja raja

Ladom kong hate bak jibius

Nyang ladom bak sabe bangsa

Ulon pike dalam Quru’an

Narit Tuhan nyang mulia

Waman yatawakkal ’alallahi

Fahuwa hasbuhu innalallaha baliqhuhu

Amrihi  qad ja’alallahu

Likulli syai-ing qadra

Soe tawakkal ji bak Tuhan

Sep ji tuan ngon Rabbana

Nyankeu sabab tawakkal bak po

Laen han saho faidah na

Kakeu habeh lapan ta peugah

Tulong Allah nyankeu gata

Taurat Injil Zabur Quru’an

Na disinan khaba nyata

Soena tuan faidah lapan

Kitab peuet  nyan ka tabawa

Na tadeungo andai taulan

Sabe mukmin si syeedara

Untong untong leumoh hate

Soe nyang na ri bahgia na

Ulonteu nyoe ka meung babah

Salah salah bak Rabbana

Na kudeungo khabar Nabi

Ngo beusare dumna gata

Saboh masa akhe zameuen

Buet Fir’un narit enanya

Ku ajar gata cit han patot

Ulon maksiet he syeedara

Bitpi meunan nacit kukheun

Mudah mudahan ampon deesya

Teurseubut nyoe lam kitabat

Anwarus saathaat ji meunama

Alhamdulillah lom kulalo

Neu peujeuet meujudo di anggauta

Dua mata dua geuliy’ueng

Nyankeu ureueng dumna kita

Dua  jaroe dua gaki

Beurang kari geutanyoe hamba

Lidah ngon pruet teuma faroj

Lhee nyan sabet judo hana

Kakeu tujoh beuna tapham

Bileueng sadum pinto neuraka

Neu peujeuet manfaat maseng maseng

Bek tapaleng he syeedara

Neu peujeuet mata bak geutanyoe

Mangat tameuturi dumna gata

Lom jeuet takalon ayat Allah

’Ajab indah akai gata

Ayat ibarat lam Quru’an

Ngon mata nyan neuyue gata

Bek gata ngieng keu hareum nyan

Nyan lagi lam muda bahlia

Jayeh hate ngieng bak Islam

Neu teugah dum Allah Ta’ala

Neuboh peuneungo ubak insan

Tango Quru’an narit mulia

Lom jeuet deungo narit Nabi

Hekeumat wali meunan juga

Kon neupeujeuet andai taulan

Ta deungorkan sia sia

Kon tadeungo ureueng meu-upat

Ih salah that he syeedara

Kon nyang qaail meuhat salah

Mustami’at sama juga

Neu peujeuet lidah dalam babah

Zikerullah neuyue baca

Lom jeuet tabeuet ngon Quru’an

Seulaweuet tuan keu Saidina

Lom peurunoe amar Nah’i

Barangsoe le ta karonya

Kon neu peujeuet ngon ceumarot

Bukon ngon upat manusia

Kon cit sitree syaithan pindoe

Anggauta droe meunan  juga

Teubiet nyang jeuheuet nibak lidah

Bak geupeugah lapan peurkara

Upat sulet ubah janji

Keu peuet mupake he syeedara

Laknat gagak pujoe keudroe

Kana nam nyoe pomeukuta

Seurapa ngon beurseundaan

Naka lapan nyan keugata

Dua jaroe bak geutanyoe

Peulara adoe nyang bahgia

Bek tameupoh sabe muslem

Pajoh hareuem bek digata

Bek khianat dua jaroe

Pantang adoe meutarasa

Bukon taulan kuko peugah

Di Aceh sah eu digata

Neu peujeuet jaroe bak geutanyoe

Manfaat ji nyoe taseumapa

Mangat ta adab teungku teungku

Lom ngon Ibu marnyan Bapa

Manfaat sinan keubijakan

Le that tuan han teurkira

Neu peujeuet dua digaki nyan

Mangat tuan u mesjid gata

Manfaat jih keubajikan

Meunan meunan dum anggeeta

Manfaat rugoe na disinan

That kayaan po Rabbana

Soena bungkoih nyan kupeusan

Faroj teutuan tapeulara

Nyan dum nibak teugah Allah

Nyan liwathah ngon meuzina

Faroj dinisa zakar ditanyoe

Na meungle roe umat managia

Bek keutuan miseue binatang

Aneuk jalang boeh ceula ma

Pruet teutuan tamse laot

Hareum syubhat bek keusana

Katok tuan bak masa nyoe

Hareuem sinaroe syubhat rata

Jareueng jareueng gata nyang han

Nyang shalihin di ateueh donya

Allah Allah Tuhanku Rabbi

Doesya kule ya Rabbana

Takot neuraka harap bak Tuhan

Andai taulan nyang meudesya

Doesya tanyoe nyan meukisah

Bahgi saheh dua nyata

Shaghir kabir bawa taulan

Nyang taubat nyan meung bak raya

Bandum doesya wajeb taubat

Kata siteungoh khilaf ji na

Taubat ji nyan beuna tapham

Untong rajam ladom geudra

Untong t’akziir bawa adoe

Pike keunyoe azeueb donya

Adat adeueb di akhirat

Han ek nisbat rayek syeksa

Ri nyang lahe lawan baten

Feuhadukan Allah Ta’ala

Doesya lahekaku peuri

Nyankeu leube sabe muda

Dalam tambeh nyang keu eumpat

Tapham sahbat dum teurata

Doesya bahle meupeugah

Saboh tambeh dijih tangga

Nibak tambeh nyang keulimong

Nyoekeu he wang na kunyata

ATTAMBIHUL KHAMIS

Tadeungo kamoe andai taulan

Ku peusan bak gata dumna

Peunyaket hate beuta tuban

Peureulee ’in ateueh gata

Riya teukabo ’ujob tuan

Kakeu lhee nyan peunyaket raya

Mar ajdaali nyan ngon hasad

Ka nam meuhat deueh keugata

Lubha thom’a nyan ngon bakhe

Sikureueng hase na keugata

Laen nibak nyan pile citlom

Bah meuladom nyan takira

Riya tuan peukalon amai

Makna asai kucalitra

Maksud peukalon nyan disinan

Na geupujoe dikeue gata

Shaleh bangon le seudeukah

Markeu Allah munafek raya

Ingat ingat bawa tuan

Meumbatalkan ’amal digata

Ureueng syahid uroe kiamat

Geuyue intat lam neuraka

Maka jaweueb nyan disyahid

Bek taintat meulam neuraka

Kamoe Tuhanku na meusyahid

Yoh meuhudep nyan di donya

Firman Tuhan bak malaikat

Kaba leugat ji lam neuraka

Ji syahid kon kareun kee

Nameung geuthee beurani ji na

Nyankeu balaih disijih nyan

Pike taulan nyang bahgia

Hoka ’Alem nietkeu meugah

Nyanpi keudeh lam neuraka

Ji tuntut eleumee kon kareuna kee

Geuteuntee lam neuraka

Hoka Qarii beuet Quru’an

Lom dijih nyan pilam neuraka

Kamoe Tuhanku nabeuet Quru’an

Han patot nyan lam neuraka

Firman Tuhan bak malaikat

Kaba leugat lam neuraka

Jibeuet Quru’an na geupujoe

Keujih jinoe balaih neuraka

Hoka hamba peurayek droe

Nyan dijih nyan pilam neuraka

Na tadeungo bawa taulan

Pike aduen nyang bahgia

Bek teukabo dalam hate

Kekeu page leubeh dumna

Soe teukabo taulan iblih

Page han glaih lam neuraka

Teukabo iblih nibak Adam

’Alaihis salam maha mulia

Po yue sujud nyan bak Nabi

Leubeh diri nyan ji kata

Hanmei sujud ubak Adam

Kamoe kiram leubeh mulia

Peue akibat disijih nyan

Neuraka tuan seulama lama

Peurangoe jeuheuet akibat page

Tuhan neubri balaih neuraka

Deungki ku’eh bek di hate

Sit leumahle nyan didonya

Padum padum ka takalon

Meukeusud han jiteumei na

Na nyang ’amai keubajikan

Habeh tuan jeuet binasa

Tamse kayee apui pajoh

Meunan keuroh keu upama

Banci Tuhan soe meupake

Sare sabe meunan juga

Adatka ngon teukeudirullah

Astaqhfirullah le beusigra

Bek leupah jaroe bawa adoe

Anggeeta droe peulara gata

Bukitka nyan ta meutak

Saleh rusak dua gata

Adat meungka geutak balaih

Meueh han leupaih diet digata

Adat hanle hanle balaih

Adat goh leupaih han digata

’Ajab indah hukom Tuhan

Bak neu peutron balaih udonya

Jeuet seulamat dum geutanyoe

Han meupohpoh sabe hamba

Nah adat han hukom balaih

Saleh keumaih ngon siklep mata

Bek tomeu’a bawa adoe

Peue lam jaroe manusia

Soe han tamak bit geupujoe

Sabe keudroe dumna hamba

Adat bak Tuhan  pisit leubeh

Meung roe jipreh bak Rabbana

Han jiharap bak makheuluk

Nyang sabe deuek papa neukada

Soele areuta nyan bek takriet

Bukit mit hanpeu kira

Nyan mei takriet andai taulan

Sabet disinan geuteugah na

Untong untong jeuet keu hareuem

Na nyan geutham bak ulama

Syekh geutanyoe Imum Nawawi

Quthob Rabbani bek syok sangka

Jaroe murah hate ikhlas

Sabet khusus lethat pahla

Tuhan neu pujoe murah tangan

Neu balaskan kaujih syurga

Beunci  amarah soe nyang kikir

Balaih page dijih neuraka

HIKAYAT ’AJAIBAH

Nyoena tango saboh hikayat

Saleh mangat bah tacuba

Nyan khaba nyoe nibak ’Aisyah

Geumar Allah akan dia

Sidroe nisa jak bak nabi

Jaroe mate siblah binasa

Binasa nyoe jaroe unun

Meunan geukheun bak calitra

Hoka gata ya Nabiyullah

Ulon gundah jaroe binasa

Talakee do’a nyan bak Tuhan

Beumeuwoe nyan miseue nyangka

Peue busabab jaroe teumate

Ta peugahle kungo nyata

Ulonteu meulumpoe bak simalam

Kiamat nyan nanggroe donya

Ku kalon neuraka nyala ji sangat

Geumeutar that han na tara

Ngon syureuga ka geupeurab

Ubak umat nyang mulia

Ku kalon neuraka meupasukan

Uleue ji nyan han teurkira

Saboh uleue Ma dikamoe

Geuboh dijaroe ngon peurca

Peue  untong Ma gata sinan

Lom kahu nyan uleue neuraka

Digata na ta taat Tuhan

Pakon keunan balaih digata

Wahe aneuk ka teukeudi

Kee that kikir diateueh donya

Nyoekue teumpat ureueng nyang kikir

Ngon teukeudi Allah Ta’ala

Geuboh peuraja nyan dijaroe

Peue balaih nyoe ‘amai digata

Nyoekeu aneuk pahla seudeukah

Layeue jandeh nyan didonya

Nyankeu seudeukah nyang na kubri

Si umu diateueh donya

Hoka bapa ma dikamoe

Pat saleh nyoe teumpat di bapa

Wahe aneuk dalam jannah

Ureueng murah balaih syuruega

Ulonteu jak dalam jannah

Seun srot ayah nyoeka nyata

Teungoh neuple ie nyankeu rakyat

Soena umat nyang bahgia

Neucok piala bak bapa Hasan

Dituan nyan bak ’Usman

Dituan ’Usman neucok bak Umar

Abubakar neucok bak gata

Ya Rasulullah

Sangat indah Hudh digata

Ulonteu kheun nyan bak ayah

Ulonteu peugah lagee hai Ma

Tabri bacut ie he ayah

Ma kee that grah lam neuraka

He aneuk bek kalakee ie

Ma keu kikir yoh didonya

Tuhan neu teugah ie kulam nyoe

Akan soe nyang darahaka

That kulakee neubri bacut

Seun srot di langet meusuara

Beumate jaroe soe nyang cok ie

Keu si ‘ashii darohaka

Tuhan neu teugah ie kulam nyoe

Beurang kasoe nyang meudeesya

Nyangkeu nyang na ku meulumpoe

Jaga kamoe ya musthafa

Lalu jaga nibak lumpoe

Seun srot jaroe ka binasa

Maka neu marit Rasulullah

Ubak umat nyang dinisa

Meularat gata kriet Ma teunyan

Akhirat tuan han teurkira

Marneu rajah uleh Nabi

Nyan seumbuhle sikutika

Dumna tuan beuta pike

Soena hate bahgia na

Laen dumpat nyoe meusambat

Meung kareuna kriet nyandum bahya

Dianeuk geunyan ji meulompoe

Patot jaroe ji binasa

Meuroe ji tulong ureueng maksiat

Neubri saket leumah nyata

Peurangoe jeuheuet ka meupeugah

Nyang mahmudah martakira

Bak geutanyoe nyang mubtadi

Beuta turi siploh peukara

Phon tatamong jalan Allah

Wahe ayah na keunong paksa

Yuqadhdhahu taubatun muhasabatun

’An anabatun ka peuet nyata

Arti yuqadlatun jaga hate

Taubat he po nibak deesya

Mahasabaton kira keu untong

Anabatun tapulang bak Rabbana

Tafkir tazkir ngon ’Iktisham

Qirar tapham na lapan ka

Arti tafkir pike geutanyoe

Bak ’alam nyoe buet Rabbana

’Ajib akai dum geutanyoe

Tazkir nyoe ingat digata

Akan Tuhan teunyang sidroe

’Iktisham nyoe peugang gata

Ubak Tuhan malikul ’alam

Qirar tapham lari gata

Ubak Tuhan teunyang sidroe

Nyan beurangsoe na bahgia

Riyaadhah samaak kakeu sampoe

Nyang siploh nyoe kadum nyata

Arti riyaadhah bawa taulan

Meuhanakkan peurangsoe gata

Deungon eleumee mar’amai sampoe

Nyang siploh nyoe kadum nyata

Arti samaak meuneungorkan

Janji Tuhan syurga neuraka

Nyoekeu siploh na laen lom

Nyan beutapham dum teurata

Sabar tawakkal andai taulan

Ubak Tuhan teurabbana

Syukur ikhlas ngon tajmalun

Ka limong nyan nakeu gata

Nyang tajmalun got peurangoe

Beurangkasoe manis muka

Tufauwidhu taslimun

Peujok bak Tuhan dum peurkara

Taqdiim takkhir ma’aafin

Ka siploh deueh nakeu gata

Arti takdim meundileekan

Peue nyang Tuhan suroh gata

Miseue imum bak seumbahyang

Soe nyang seunang bak agama

Hankeu namei si nyang fasek

Kieh beukat’ek sibagainya

Arti takkhir meundudoekan

Miseue ji nyan nyoekeu gata

Bacut salah bekta haloih

Tapeumeu’ah uleh gata

Bektroh damdam beurang kajan

Bak Tuhan hanna neu ridla

Khaufon ngon rijal harap Tuhan

Wahe taulan nyang bahgia

Murah ’ade nyan ngon ihsan

Qana’ah tuan nakeu peuetka

Arti ihsan ibadat tuan

Siulah Tuhan meulihat dia

Arti Qana’ah ku nyatakan

Han tahimpon di areuta

Sakinatun waqawa haiyun haliimun

Nakeu teungku lapan nyata

Teutap hate nibak Tuhan

Sakinah tuan nyankeu makna

Arti halim geumasehan

Rauhun tuan sikureueng ka

Arti marwah keumaluan

Siploh taulan tawadhuk gata

Arti tawadhuk peureundah diri

Na siploh nyoe lom keugata

Bak jeumulah nakeu lheeploh

Han ek peuglahle keugata

Maha suci Rabbul ’alamin

Na neuhimpon bek enanya

Laen nibak nyan dumna mukmin

Nyang na yakin keu Rabbana

Tauhid hakiki bak ureueng nyan

Kana Tuhan neu karonya

Hate mukmin tamse meuligoe

Tuhanku sidroe nyang umpama

Meung roe asoe ji that indah

Tamse darah ngon meutia

Hate kafe tamse ji man

Nyang hanpeue na disana

Aduen tuha muda adoe

Bahkeu ‘ohnoe nyankeu gata

Tambeh nyang limong kakeu tamat

Nyang keunam pat neu peunyata

Meung lheueh limong nyoekeu nyangnam

ATTAMBIHUS SAADIS

Meunyalahi adat beuta tuban

Nakong iman dalam dada

Nyankeu Nabi akhir zaman

Keu janjongan nyang musthafa

Meunyalahi ’adat tujoh bahgi

Tadeungo he dum syeedara

Irhash mukjizat nyan bak nabi

Keuramat wali he syeedara

Ma’unatun istadraj ngon ihaanah

Mar sya’uzat na tujoh ka

Meunyalahi adat Nabi Muhammad

Masa yohcut irhash nama

Miseue geuplahpruet di nabi

Untong geupeusuci golom raya

Geurah Nabi ngon ie zamzam

’Alaihis salam maha mulia

Jebra i peugot peurbuatan nyan

Meunan taulan geucalitra

Miseue bri saleuem nyan dibatee

Bak panghulee maha mulia

Nyan neupeugah ubak sahbat

Masa kajeuet keu Nabiya

Saboh hijir batee makkah

Saleuem ji sah na keuhamba

Bintang geuturi di batee nyan

Poku Tuhan nyang karonya

Ubak Jabir nyan neupeugah

Aneuk Samrah sahbat mulia

Masa yohcut neujak u Syam

Ngon Quresydum nyan ngon Mama

Mama Nabi Abu Thaleb

Meureumpok Raheb jamei teuka

Na disinan kayee sibak

Meuseunoh duek bak nawongnya

Nabi neuduek kon bak nawong

Marbubayang keunan jihala

Kayee batee nyan ji sujud

Bak Muhammad nabi kita

Raheb sidroe ureueng meutuah

Ji ek syahadat nyoe Ambiya

Nyoekeu nabi akhe zaman

Keuleubehan hanatara

Patot jimaadum nyan ji sujud

Nyo Muhammad Saidil Ambiya

Meungkon Nabi han ji sujud

Ku ’ibarat ngon bicara

Jiyue puwoe Nabi nyan u Makkah

Nabek fiteunah bak Yahudi

Geupuwoe Nabi rijang rijang

Nyan untong goh teuka mara

Abu Thaleb peuwoe Muhammad

Marsidroe treuk Bilal nama

Nyang yue bileu Abubakar

Geupuwoe lanja Nabi kita

Rahib jibri peurbeukalanu

Buah zaitun han teurkira

Ureueng peuwoe nyankeu sagai

Laen tinggai maniaga

Meung lheueh wahyu meunyalahi adat

Nyan mukjizat ji meunama

Khabar meusyuhu han kukisah

Ta teula’ah bak ulama

Nyan miseuelom tango kukheun

Neuplah buleun dipurnama

Dua fitqah rakyat intang nyan

Kalon buleuen neuplah dua

Diateueh gunong saboh firqah

Mardibawah nyang keudua

Miseue hijrah weh di Makkah

U Madinah nanggroe mulia

Mukjizat nabi han ek peugah

Allah Allah he syeedara

Aneuk Dawod Nabi Sulaiman

Mukjizat tuan han teurkira

Leubeh mukjizat cit  Muhammad

Meunan teurseubut bak calitra

Leubeh Muhammad jeuneh insan

Nyang laen hanna syok sangka

Allah Allah bawa sahbat

Khaba mukjizat tapareksa

Soena Tuhan neubri tuah

Jeuet ji kisah dum rahsia

Mudah mudahan leumoh hate

Beureukat Nabiyullah kita

Meunyalahi ’adat nan keuramat

Dijih teumpat bak Aulia

Tohkeu Wali bawa taulan

Mangat takheun keuramat ji na

Meungka taturi wali bak had

Nyum meusaket wujud jina

Bak masa nyoe akhe zaman

Dilee tuan han teurkira

’Arif billah jikeu Tuhan

Taat ji tuan han ceureuca

Peureulee sunat dum ji peubuet

Nyang meukroh han jikeureuja

Lazat donya beuji paleng

Nyankeu ureueng nyo Aulia

Bukon meusaket bawa taulan

Cuba takheun pat sapat na

Meunyalahi adat nyan bak sahbat

Nyan keuramat nama pula

Tango keuramat sahbat Nabi

Krueng sungai Nil han ile na

Adat sithon ubak sithon

Ie han jitron u kuala

Masa tuan jahiliyah

Meung geukeubah sidroe nisa

Neupeu ek surat uleh sahbat

Neuyue intat geuba sabda

Neuboh surat khathab bak krueng

Lagee ureung akai ji na

Hoka krueng Ne nanggroe Meuse

Nyoeka ile kheundak Rabbana

Ile tuan gata jinoe

Bek tatheun droele digata

Bukit ta ile ngon kheundak droe

Ngon surat nyoe bek digata

Nyang peu surat geupeukhaba

Tuanteu Umar geucalitra

Umar Ibnu ’Ash nyangba kireman

Nyan neuyue lhom dalam Nila

Geulhom surat dalam krueng Ne

Jinoe ile rok-rok masa

Beureukat sahbat dijanjongan

Leubeh bak Tuhanku Rabbana

Leubeh sahbat nibak Wali

Ban Nabi ngon sahbat pula

Keuramat tuan kureueng leubeh

Han sa dijih saboh tangga

Marnyan bukan meung keuramat

Nyang mukjizat meunan juga

Leubeh mukjizat nibak keuramat

Ban martabat Wali Ambiya

Beurang kadum keuramat rayek

Hanna aneuk baktan Bapa

Bak mukjizat nacit taulan

’Isa tuan hanna Bapa

Lom mar-Adam ku misalkan

Didroe neutan Ibu Bapa

Jeuneh makhluk leubeh insan

Seunurut ninan meuteu tangga

Leubeh Rasul nibak Nabi

Diateueh Wali sahbat mulia

Seunurot sinan martabat saleh

Kharaq bak jih ma’unah nama

Arti ma’unah Allah tulong

Bukan lurong he syeedara

Nyang ma’unah nacit mudah

Soena Allah bri bahgia

Miseue leupaih nibak rante

Lom ngon nibak tipee daya

Tango haba sidroe ureueng

Sabet meuteumeueng lam calitra

Dijih diyue bak keubajikan

Akan Harun raja mulia

Seun rhot beungeh raja Harun

Keu ureueng nyan hanatara

Bak raja Harun baghal saboh

Juwah ji that han teurkira

Neuyue ikat bak baghal nyan

Han peue tuan keunong mara

Marneuyue glap ureueng lakoe nyan

Ngon makanan ji pitan na

Marneu eu jih ka u lampoh

Pinto han glah na teurbuka

Harunur Rasyid neu teumanyong

Nyan bak ureueng lam beuncara

Soe peuleupah gata ninan

U lampoh nyan ka digata

Maka jimarit ureueng lakoe nyan

Ubak Harun nyang mulia

Soe nyang bohkee dalam ampas

Nyan nyang peuglah hana sa dua

Soeboh gata dalam ampas

Gata ku cas kuboh singkla

Han taturi nyang boh keunoe

Nyang peuteubiet kunyoe lam bincara

Marnyan neuyue giduek kandran

Neuyue ba tuan sigala donya

Neuyue meuhoi ubak wazir

Nyoe na tadeungo dum  syedara

Ureueng lakoe nyan leubeh bak Tuhan

Diraja Harun neu peuhina

Pat ek hina nyangka leubeh

Dibak Allah po Rabbana

Kheundak Tuhan cit nyang sampoe

Kheundak geutanyoe sia-sia

Meunyalahi adat dajeue laknat

Istidraj dijih nama

Tohkeu miseue istidraj

Ayoh lethat han teurkira

Dajeue pindoe laknatillah

Nar ngon jannah patot jiba

Nyankeu dijih lurong Allah

Laknatillah asoe neuraka

Syurga neuraka jalan takhil

Bek tajahe po bak gata

Nyoe hakiki tuan takheun

Nyang rukon nyan istidraj pula

Lom nyoe miseue dibak sihe

Nyang na jeuet po di udara

Dipo na jeuet jak diateuh ie

Nyankeu kafe siceulaka

Soe agama ji kon Islam

Kafe karam lam neuraka

Narit dajjal nyan bak bumoe

Pat timoh nyoe naleung rata

Tron nibak kah langet ujeun

Lalu jitron sigra sigra

Jidakwa droe ji keu Tuhan

Hansoe iman ka ji syeksa

Habeh ji rawoh sagai nanggroe

Pantah ji nyoe hanatara

Binasa nanggroe ho nyang jijak

Le nyang taklok manusia

Nyang han jijak Nabi peugah

Makkah Madinah naggroe mulia

Ta deungo he dumna taulan

Ingat ingatkan soe bahgia

Ta ingat keupo dumna adoe

Dajeu pindoe rab kateuka

Talakee tulong nibak Allah

Nibak fitnah siceulaka

Geukheun mit that na seulamat

Habeh rakyat dum binasa

Duablah ribee digeutanyoe

Diureung binoe tujoh saja

Alhamdulillah pujoe Tuhan

Dumpat tuan leubeh gata

Meunyalahi adat nan Ihanat

Bak muslimat sulet raya

Arti ihanah keuhinaan

Nyan meungroe tan ban jidawa

Jipo mata di Qatadah

Nabiyullah peuwoe mata

Jidakwa droe pijeut meunan

Syarikat tuan nabi kita

Lalu geuba sidroe ureueng

Jih nyan juleng siblah mata

Nyan jirajah jimat dimieng

Mata juleng kajeuet buta

Juleng dilee nacit siblah

Jinoe ka sah dum binasa

Muntahi sa’idah Nabi Muhammad

Ji keumeung seutot poceulaka

Gampong ji tuan rab ngon Thaif

Meunan geupeugah bak calitra

Di Ihanah ka seuleusoe

Sya’uuzat jinoe martakira

Miseue ji tuan bak sitambir

Bah han eue mamplam jipula

Ji lheue beureuteh bak pakaian

Grak gruk tuan han teurkira

Balek mata nyan wa adoe

Bek geutanyoe galak suka

Geumar hate bak buet jinyan

Gata tuan ka binasa

Habeh tujoh ka meukisah

Beusampurna payah abang gata

Ini tapham bawa taulan

Nyang tujoh nyan bekta lupa

Nyang tujoh nyoe beuta timang

Neuraca he wang nibak gata

Wajeb ’iktikeuet dumna umat

Nyang mukjizat bak ambiya

Nyang keuramat nibak wali

Bekta mungkir kafe gata

Umat dilee pi keuramat

Umat muhammad han teurkira

Miseue wazir Nabi Sulaiman

Ashfan tuan aneuk Barkhiya

Tambeh nyang keunam kakeu sudah

Warnyang tujoh pomeukuta

Alhamdullilah pisit kubri

Rab tok janji keu syeedara

ATTAMBIIHUS SAABI’UN

Ingat keu mate andai taulan

Faidah nyan han teurkira

Jeuet teumakot teukeu Tuhan

Ngon sabab nyan wa syeedara

Soena Tuhan neubri leubeh

Ingat dijih jeueb keutika

Lagi donya jeuet han apakan

Soena insan na bahgia

Nyona takot teukeu Tuhan

Sep disinan aduen raja

Mit faidah ’amai teunyan

Keu mate han taingat na

Wajeb ’iktikeuet dibak geutanyoe

Keumate nyoe dum tarasa

Geuboh mise naban pinto

Sit talalo dum teurata

Toh phon bahya diakhirat

Nadak seukreuet dibak gata

Adeueb seukreuet na geupeugah

Apoh apah sangat syeksa

Nyangka tarasa masa udep

Beuta ghireb adoe raja

Untong untong tatem taat

Nyan tataubat nibak doesya

Dumnan naz’a aneuk sukreuet

Han sidroe jeuet bak peumubla

Tinggai nangmbah aduen adoe

Sahbat tanyoe han meuguna

Leubeh Ma gaseh keu geutanyoe

Hancit didroe na meuguna

Beuta pike bawa taulan

Ka takalon kon meung bukla

Meungkon tulong Tuhan teusidroe

Laen sinaroe sia-sia

Padum padum bahya disinan

Iblih syaithan han teurkira

Jiyue masok agama kafe

Ureueng mungkar keu Rabbana

Soena tuah dibak Tuhan

Seulamat ninan hanpeue mara

Meungka karam teudisinan

Hanle taulan na bahgia

Ubak Tuhan muhon beuthat

Beuseulamat dumna kita

Ubak Tuhan lakee  tulong

Beuna sigampong lam syureuga

Lheueh geusukreuet geucok nyawong

Keubah bak lieng teuma gata

Lheueh geuseubee teuhe sahbat

Malaikat seun treuet teuka

Jijak su-eue bawa taulan

Toh bu Tuhan teudi gata

Toh bu Nabi teudi tanyoe

Peue jeuneh roe nyan agama

Suara ji nyan ban geulanteue

Mata jihu han teurkira

Tuboh hitam muka beungeh

Gohlom jipeh hanco gata

Cokma ji nyan beusar sangat

Han ekme rakyat nyang di Mina

Teurseubut nyan dalam nadlam

Kon he polem ku meucakra

Wama’ahaa marziyatun lau tajtami’u ahlu

Mina laraf’uhum lam yartaf’ik

Makna kana dilee bunoe

Hanpeue adoele ku nyata

Tulong Allah soena tuah

Jaweub ji sah han meuriba

Allah Rabby diny Islam

Muhammad nabinal imam

Allah Tuhan Nabi Muhammad

Islam meuhat nyan agama

Syaitan iblih pika teudong

Masa ji tanyong man Rabbuka

Jiyue kheun jih nyan keu Tuhan

Anggok syaitan ubak gata

Allah Allah wahe sahbat

Dalam jeurat lom didaya

Kheun khabar nyoe tuan Sufyan

Ahli janjongan maha mulia

Lhee seun jitanyong bak teumpat nyan

Meunan taulan bak calitra

Ji ulang tanyong bak geutanyoe

Tujoh uroe saboh calitra

Seuperti teuseubut dalam nadlam

Makna ka tapham dilee nyata

Yukarrirua sualu lil anaami

Fiiman rawiya ’an sab’atin aiyaami

Po riwayat pika meuhat

Imum Ahmad aneuk Hambila

Tanyong jinyan keuleungkapan

Jen ngon insan saban dua

Han jitanyong dibak insan

Tujoh tuan bahgi jina

Ureueng syahid ngon muraabath

Lhee ta’un kap keupeuet teuma

Ureueng shadiq limong thifla

Bak kata qiila sama juga

Soe nyang mate bak jumeu’at

Sinan meuhat han tanyong na

Kakeu nyan nam tujoh jinoe

Beurang kasoe na jibaca

Surat tabaraka tienp tiep malam

Sajjadah lom saboh kata

Nyang han tujoh nabi pakri

Sit dharuri sabet hanna

Siteungoh umat han geutanyong

Nabi he wang bab Aulia

Nyang umat nyoe kagata thee

Umat dilee martakira

Umat dilee beursalahan

Ladom kheun tan ladom kheun na

‘Azeueb kubu na bak kawom

Kafe Islam saban dua

Umat dilee umat jinoe

Beurang kasoe pisit rata

Liman jimeunan nyo mukallaf

Han sidroe glah pisit dumna

Rusak bineh jehjeuet bineh nyoe

Kafe pindoe ka geusyeksa

Geutanyoe mukmin nacit kureung

Ban untong yoh pandang donya

Nyang dikafe beurkeukalan

Dimukmin nacit seuntausa

Soele doesya treb ji sinan

Keuputusan akhe ji na

Soe nyang namit keusalahan

Dimukmin nyan sikeutika

Dudoe teuma geupeu luloh

Han sidroe glah pisit dumna

Sidroe sahbat  dijanjongan

Sa’at tuan punya nama

Masa mate disahbat nyan

’Arasy Tuhan ji meugrak na

Tujoh ploh ribee malaikat

Kunjong sahbat maha mulia

Dum ma leubeh hancit leupah

Nalom hadits geupeu nyata

Lau afalta minhaa ahadan

La afalta minha hazash shahaabii

Kalau sidroe ‘azeueb lupoet

Sa’id sahbat ku peuhana

Pakri geutanyoe bawa taulan

Sahbat janjongan jehdum tara

Nekmat kubu keuluwasan

Kande disinan na syeedara

Geubuka tingkap ubak jannah

Soena Allah bri bahgia

Nekmat kubu hana khusus

Got mukallaf got nyang gila

Nyanpi meunan miseue bunoe

Got umat nyoe got umatka

Lheueh nyan tuan dum geubangket

Nyan ’oh geuyup sangkaikala

Saiyidil rasul beudoh dilee

Meunan meuteumei lam calitra

Maseng maseng nyan ngon kandran

Ban teuladan ’amai di doenya

Habeh geubangket dumna umat

Nyang latbatat han teurkira

Ka u mahsyar nyan dum geuron

Geuhisabkan dum peuerkara

Got ngon jeuheut dum  geuhisab

Nyan ladom treb ladom sigra

Tujoh ploh ribee thon hisab jihnyan

Umat janjongan ngon Nabi kita

Peue hikeumat hisab Tuhan

Sit neutuban dum buet hamba

Na taingat dum geutanyoe

‘Amai teunyoe yoh didonya

Na meung kafe jeuet keuhinaan

Mukmin taulan najeuet suka

Neu peulahe bak geutanyoe

Soe nyang rugoe soe nyang laba

Naban neukheuen uleh Tuhan

Layeue janan yoh didonya

Janan kalheueh dum geutanyoe

Teulah dudoe han meuguna

Diblang mahsya geutanyoe meuhoi

Sabe keudroe ngon nan Bapa

Nabek meuthee aneuk bajeueng

Geuhoi indung he syeedara

Lheueh geuhisap geuteumimang

Meunan he wang geucalitra

’Amai geutimang handum insan

Soena Tuhan neu kheundak na

Ureueng sabar han geutimang

Dijih geutueng laju pahla

Dikafe pina geutimbangan

Dalam Quru’an nyata hanna

Falaa nuqiimu lahum yaumal qiyamati

Waznaa. Tango taulan kubri makna

Hanna timang bak kamoe

Beurang kasoe nyang ceulaka

Hanna timang dalam ayat

Timang manfaat dijih hanna

Meunan takwil andai taulan

Meunan jikheun dipandita

Peue geutimang bawa tuan

Beursalahan bak ulama

Ladom turot ladom kheun han

Tango taulan nyang keudua

Geupeurupa ’amai saleh

Ngon rupa jroh ngon meucahya

Baksit na geutimbangan

Neuraca taulan hanpeue kira

Dua pha saboh lidah

On jih sah sabet dua

Saboh dlalmah dua nur asoe

Tango adoe padan ji na

‘Amai saleh dalam on nur

nyang jeuheut marlam gulita

Rot unun nur wie dlulmat

Meunan sahbat lam calitra

Wie ngon unun soepo tuan

Di ’Arasy Tuhanku Rabbana

Brat ngon phui pina taulan

Miseue timbangan dalam donya

Soe nyang na brat ’amai saleh

Geuple dijih lam mulia

Soe nyangna phui bak timbangan

Sijnun tuan dijih karonya

On neuraca nyang brat asoe

Tuan uyub nyoe jihila

Peue ubah nyan yoh disinoe

Nyang na phui nyoe ateueh jihila

Alamat geukheun teubiet lidah

Hanna ubah yoh didonya

Jebra i mat taloe gangkah

Ngieng bak lidah Israfilla

Dinab rakyat dum geutanyoe

Nyanbek naroe teu enanya

Bahgia adoe nyang madlum

’Amai dlalem roh keugata

Soe nyang dlalem ingat keudroe

Jeuet han sapeue mardigata

Teumpat timbangan beuta peugah

Antara jannah ngon nuraka?

Bit pika lheueh geuteumimang

Bahya he wang hanna reuda

Jinoe talalo nibak titi

Tuhanku Rabbi nyang peulara

Dum geutanyoe sabe mukmin

Beureukat janjongan Nabi kita

Tutue ji haloih amat sangat

Ngon tajam that han teurkira

Panyang tutue perjalanan

Lhee ribee thon bak calitra

Ek ngon data dua ribee

Nyang keulhee martron digata

Bak dua bineh mata kawe

Tuhanku ade bak neu syeksa

Diateueh teubiet dua jalan

Wie ngon unun bak calitra

Soena tuah nibak Tuhan

Rhot nyang unun dijih karonya

Soe nyang kafe rot wie dijih

Murka Allah si ceulaka

Soe jak dilee nyan bak titi

Geukheun Nabi Muhammad kita

Dum ngon umat neu geutanyoe

Hanna sidroe meusuara

Malenkan rasui nyang pilihan

Geukatakan Allahummaa

Sallim sallam ka nyan tapham

Mar Meuriyam nyan ngon ’Isa

Teuma Musa nyan ngon umat

Soena Allah bri bahgia

Dudoe lom dum sit Nabi Noh

Nyan ngon umat bak calitra

Nyata that kha Rabbul ’Alamin

Diateueh jahannam yue jak gata

Neubri jalan haloh ji that

Leipah cit rakyat nyan bahgia

Wajeb ’iktikeuet nibak geutanyoe

Nyang tutue nyoe beuta  kheun na

Soe ’iktikeuet bak nyang geuanjur

Dijih tutue jikheuen hanna

Miseue bid’i muktazillah

Dijih sahbat jikheun hanna

Natom tutue haloih ji that

Tajak hanjeuet peue beuguna

Hanna shillah nyan bak Tuhan

Sual ji nyan jawab gata

M’uktazilah nyoeka deungo

Cicem jipo di udara

Bekkeu haloh meung na pitan

Jeuetkeu ’ohnan hajat gata

Nyang jak dilee pantah sangat

Tamse kilat yoh cuaca

Lheueh nyan pantah nadum angen

Soena mukmin nyang bahgia

Ladom pantah na dum cicem

Nyang ladom nadum guda

Ladom pantah nadum sidom

Nyang ladom hanna kuasa

Padum padum rhot lam jahnam

Habeh karam lam neuraka

Beuthat tamuhon ubak Tuhan

Wahe taulan dumna gata

Beuseulamat nibak titi

Beureukat Nabiyullah kita

Lheueh ka tuan nibak laban

Bak Hudh Nabi dum tateuka

Hudh di Nabi keuluwasan

Jak sibulan bak calitra

Ie ji puteh nibak laban

Bee ji tuan han teurkira

Leubeh nyang bee dikasturi

Tima jile han teurkira

Soe nyang najeb Hudh di Nabi

Hankeu grahle silama lama

Soe nyang peutok janji Tuhan

Keunan Hudh neu karonya

Inong agam cut ngon rayek

Soena peutok janji Rabbana

Wahe adoe dumna taulan

Janji Tuhan cit takira

Umat dilee pakri adoe

Nyang umat nyoe kapham gata

Bak Hudh Nabi beursalahan

Ladom kheuntan ladom kheun na

Nyang bak Hudh droe maseng maseng

Allah pulang han khilaf na

Maseng nabi Hudh na taulan

Poku Tuhan nyang karonya

Nabi Shaleh sidroe nyang tan

Bitpi meunan na mom unta

Bitpi le mon di akhirat

Wajeb ’iktikeuet saboh saja

Meung Hudh Nabi nyang mu’adldlim

’Alaihis salam maha mulia

Alhamdulillah pujoe Tuhan

Syurga tuan neu karonya

Akan mukmin neuraka kafe

Meungroe mungkir keu Rabbana

Tamong dilee dalam jannah

Nabi Muhammad bak calitra

Nyan ngon umat neudum sajan

Soena mukmin nyang bahgia

Beuthat tamuhon ubak Allah

Beulam jannah dumna kita

Nekmat jannah page dudoe

Han sabe roe nekmat donya

Hanna padan bawa taulan

Meunan Tuhan neu karonya

Hantom ji eue dimata nyoe

Beurang kasoe manusia

Indah sangat wahe taulan

Geuliyeung teunyan han jingo na

Hantom teurlintas ubak hate

Han tatukri Allah karonya

Leubeh cit lazat takalon Tuhan

Meunan tuan geucalitra

Haroih takalon zat di Tuhan

Mustahe tan wajeb hanna

Mazhab geutanyoe AhlusSunnah

M’uktazillah jikheun hanna

Bitpi haroih kalon Tuhan

Hanna tuan na upama

Hanna puteh hanna hitam

Hanna meureusam ubak mata

Kon wie unun andai taulan

Juoh pikon rabpi hanna

Dum khabar nyoe bukon pane

Nibak Nabi kucalitra

Nyankeu nekmat nyang han sabe

Bek Allah bri putoh asa

Dum geutanyoe andai taulan

Muhon bak Tuhan dumna kita

Yusuf sidroe sangat indah

Meunan geupeugah he syeedara

Yusuf geukalon nyan geupandang

Habeh urang pungo gila

Sikin dijaroe han ji tujan

Meulapeh tuan dianggeeta

Pihak indah peuneujeuet Tuhan

’Akai jitanle lam dada

Indah Yusuf nyan makhuluk

Khaliq peue syok teusyeedara

Nyang kalon nyoe ka diinsan

Dijen tuan pakri hanna

Dijen taulan beursalahan

Ladom kheuntan siteungoh kheunna

Nyang han kalon sit meung kafe

Meungroe mungkir keu Rabbana

Han dikafe sit ittifaq

Dimunafek ladom kheun na

Teuma dudoe hijab geuboh

Na meung gundah si ceulaka

Kalla innahum yaumaizin lamahjubuun

Meunan neukheuen di Rabbana

Hijab kafe bak uroe nyoe

Hanna kamoe ji kalon na

Dibak Tuhan dua nanggroe

Kana jinoe neu haseka

Peue hikeumat andai taulan

Na meung mukmin galak suka

Lom jeuet sunggoh ta ibadat

Jeuet gundah that jih neuraka

Soe bahgia dibak Tuhan

Syurga tuan neu karonya

Soe ceulaka nibak Allah

Bulueng dijih nyan neuraka

Tuhanku Rabbi bri syafaat

Keu umat nyang darohaka

Rayek cit harap dumna insan

Syafaat tuan Nabi kita

Narit Usman meulintee Nabi

Ngo beusare dum teurata

Lhee na kawom lakee syufu’at

Keu umat nyang darohaka

Nyang dilee nyoe Nabi Nabi

Lheueh nyan Wali nyang ulama

Keulhee syahid bawa tuan

Narit Usman kakeu nyata

Nyang that leubeh bri syafaat

Nabi Muhammad nyang Mustafa

Alhamdulillah pujoe Tuhan

Karonya Tuhan han ek hingga

Han syafaat nyanle sidroe

Neujak keudroe di Rabbana

Meungsoe nakheun nyan kalimah

Neu peuteungoh lam neuraka

Khaba akhirat han ek kisah

Meung silapeh kakeu nyata

Ghayibul ghuyub amat dalam

Kakeu tamam janji ngon gata

Tambeh nyang TUJOH kakeu sudah

Alhamdulillah pujoe Rabbana

(Tamat)

BAB III

ALIH BAHASA

Bismillahir rahmanirrahim

Itulah isim Allah Ta’ala

Itu dinamakan Ismul ’Adlim

Tuan pahamlah semua rata

Bagaimana bisa tak dikabulkan

Mana caranya anda kira

Yang ada menyebut Ismul ’Adlim

Tuhan berikan segala pinta

Syarat memohon ketahuilah

Jangan sekali ragu anda

Lidah yang benar hati ikhlas

Jangan bernajis cemar kotor

Haram tinggalkan halal dimakan

Syubhat makruh jangan lakukan

Upat mengadu harus tinggalkan

Ingat pada ajal tiap ketika

Hatimu jangan ragu akan diberi

Begitulah Nabi pernah berkata

Itulah syarat orang meminta

Perlu demikian wahai saudara

Mulaku sekarang puji kepada Tuhan

Wahai teman tuha muda

Dikabulkan nikmat puji Tuhan

Wajib disitu hai saudara

Selamat dan salam sesudah itu

Kepada junjungan Nabi kita

Ucapan maklum tidak kukisah

Cinta Allah siapa yang baca

Siapa tak sebut nama nabi

Alamat tuan dia celaka

Siapa tuan ia cintai

Sering disebut diingat-ingat

Kalau kita cintai kepada nabi

Selawat jangan henti hai saudara

Kalau menyebut Nabi Muhammad

Hati amat hormat kepada Saidina

Begitu patutlah bagi kita

Shallallahu ’alaihi segera kita baca

Setelah ’alaihi itu wassalam

Itu penghormatan disebut kata

Jika tak mau benarlah jahat

Orang jahil kurang bangsa

Inilah tuan mukaddimah

Awali bicara dengan anda

Mendahului itu ada khutbah

Tanya yang jelas kepada ahlinya

MUKADDIMAH

Wahai pelajar hati yang suci

Menuntut jangan karena dunia

Manakah dunia tuan dinamakan?

Khilaf tuan pada ulama

Antara langit dengan bumi

Itu pun dikatakan dunia

Kata setengah lain dari itu

Dengar teman saya sebutkan

Apapun tidak berfaedah di akhirat

Itu pasti benar dunia

Kalau demikian tidak jelas

Akhirat bisa menjadi dunia

Misal belajar agama jalan akhirat

Tak baik niat jadilah dunia

Hasrat menuntut wahai sahabat

Dengar kukatakan buat anda

Pertama memenuhi janji Tuhan

Itulah jalan menuju agama

Kedua menuntut memang wajib

Selagi hidup ada agama

Ketiga menuntut wahai adik

Bekal kemudian negeri kekal

Niat yang jelek dengar kulagukan

Wahai tuan semua anda

Tuntut ilmu agar terkenal

Pada Allah sangat murka

Lagi biar didahulukan dari teman

Yang patut itu diajak serta

Lagi orang menghadap pada kita

Barangsiapa pun manusia

Harta di dunia mudah diperoleh

Melihat orang sudah Imam desa

Kenapa tak dipikir wahai tuan

Dengan sebab itu tak ada apa-apa

Ikhlas niat harus tentu

Yakin dulu memang kesengaja

Dengarlah kisah seseorang

Benar terdapat dalam cerita

Bani Israil kaum namanya

Tersebut begitu pada cerita

Negeri masa itu lapar sangat

Semua rakyat susah raya

Ada seorang takdir Tuhan

Hartanya tuan tak terhitung

Memberi sedekah tiap hari

Tiap-tiap negeri siapa datang

Seseorang berjalan di pantai

Lalu terpikir dalam dada

Kalau disini terdapat makanan

Ku sedekahkan kepada manusia

Misal orang kaya negeri sana

Lebih dia Allah kurnia

Turun Jibril bawa wahyu

Pada Nabi yang ada masa itu

Pahala kuberikan kepada si berniat

Seperti si kaya sama keduanya

Dengarlah tuan semua bersama

Suara hati juga dikira

Kemana anda lebai pelajar

Apa mula-mula wajib pada anda

Ushuluddin harus dimengerti

Pertama itu kewajiban anda

Menuntut ilmu wajib awal

Dahulukan itu wajib kedua

Hukum ‘Akli perlu diketahui

Hukum Syar’i yang kedua

Hukum adat harus tahu

Sudah habis tiga perkara

Seluk beluknya lalu diselesaikan

Datangilah di tempat ada ulama

Pada hukum ’Akli tiga hal masuk

Itu tuntaslah saudara kira

Wajib mustahil jaiz kemudian

Kedudukan adik tertibnya ada

Wajib ’Akli perlu dikenal

Yang tak terbantahkan pada pendapat

Yang mustahil harus diselidiki

Yang tak mungkin diadakan

Sah ada sah tidak diadakan

Itu jaiz disebut nama

Dari mana kabar ini pada Asy’ari

Sudah tahu asal mula

Perlu ’ain kepada insan

Dia kenal Allah

Wajib ada pada Tuhan

Wujud Tuhan kekal baka

Mukhalafatun Qiyamuhu

Harus pandai kita kira

Wahdaniyah esa Tuhan

Faedah itu kita nyatakan

Kal ja’ali bilan nisaabi

Perlu lancar kita kira

Wujud tuan sifat nafsi

Itu istilah pada ulama

Yang lima itu sifat salbi

Sesudah itu ma’ani hai saudara

Hayat ’ilmu kudrat iradat

Sudah empat jelas pada hitungan

Samak bashar kemudian kalam

Telah tamat tujuh adanya

Maknawiyah tujuh ada disitu

Tak usah teman lagi dikira

Yang diwajib sudah selesai

Yang mustahil mengapa tiada?

Yang mustahil pada Tuhan

Berlawanan itu saja saudara

Hal mustahil cukup itu

Yang jaiz kenapa tak ada

Nah dengarlah wahai teman

Itu mungkin tiada mungkin ada

Zat alam ini sebagai misal

Jangan sampai ada syaksa sangka

Manakah alam tiap-tiap berwujud

Lafalnya lanjut tak kuteruskan

Yang tiga itu ada pada Tuhan

Pada nabi mari kita kira

Sifat shadaq wajib pada Nabi

Amanah lagi yang kedua

Tabligh ketiga tahulah teman

Kuat iman dalam dada

Yang lawan itu adalah mustahil

Jaiz jahil lagi perlu tahu

Ini yang jaiz pada Nabi

Misal tabiat manusia

Makan minum beliau tidur

Selain itu tak terkira

Inilah ujung mukaddimah

Hamba Allah banyak dosa

Setelah itu kini dibagi

Tempat takzim aku padamu

Tujuh peringatan dalam bagian

Peringatan saya kepada anda

Sekedar ganti berbincang-bincang

Agar tak begitu susah hati di dada

Allah Allah ya kekasihku

Doa bagiku janganlah lupa

Pembagiannya :

Dengarlah hai semua rekan

Inilah pesan kepada anda

Kalau anda seorang pengajar

Syarat banyak tahukah anda

Jika itu belum diketahui

Jangan ke ”pojok” segera dibawa

Adab bagi murid perlu paham

Kadua itu harus diperiksa

Jangan sakit hati kepada kami

Yang kukatakan ini menjadi laba

Bila dibawa kitab kehadapan

Jangan yang dekat hati anda

Diajarkan duluan wahai guru

Tidak berkenan pada Rabbana

Apabila belajar ilmu adat

Pilih tentu berhak anda

Jikalau dipelajari ’Ain perlu

Siapa yang dulu dialah utamakan

Begitulah tuan yang aturan

Ibnu Hajar empunya bicara

Ini bagian adab pada guru

Biar tak dungu semua anda

Wahai tuan handai taulan

Gurumu tuan harus dimuliakan

Lebih guru daripada ibu-bapa

Demikian berkata banyak ulama

Adab pada guru jangan sekedar lahir

Tidak berguna sia-sia

Sampai ke hati wahai teman

Begitu pesan oleh ulama

Layanan yang tak karena Allah

Di akhirat nampak nihil belaka

Guru lupa kepada kita

Tak diingat betul hai saudara

Kalau berjumpa dijalan disawah

Salam segeralah dari anda

Jika duduk dihadapan

Tutur kata jangan banyak gurau

Jangan dibilang yang tak ditanya

Orang bingung dinamakan anda

Kiri kanan jangan berpaling

Begitu orang yang berakhlak

Dimana duduk oleh lebai

Jangan kita terus ke sana

Jangan bertanya sedang malas

Semisal nampak panas dada

Jangan buruk sangka kerjaan guru

Tak sampai ilmu semua anda

Bukankah anda dengar cerita khidhir

Dengan Nabi Allah Musa

Hidhir Wali Musa Nabi

Kita apa kelompok aulia?

Masa ia baca itu khutbah

Tempelak Allah akan dia

Cerita terkenal tidak kukisah

Adab kedua orang tua mari dikira

Tutur ayah – ibu harus didengar

Apa yang disuruh kita kerjakan

Kita sedang duduk beliau berlalu

Kita bangunlah dengan segera

Jangan melintasi dihadapan

Handai taulan muda-muda

Saat bicara didepan mereka

Suara tuan jangan besar

Ketika membawa sedikit hadiah

Jangan diperkatakan tiap waktu

Perturutkan kegemaran ibu-ayah

Gemar Allah kepada anda

Jangan masam muka kepada junjungan

Ingat teman yang bahagia

Pada tak diizinkan anda hendak pergi

Patut jangan itu dilanggar

Kabarku ini pada perlu kifayah

Pada ’ainiyah boleh diingkari

Jika sudah uzur ibu-bapa

Wajib nafkah atas anda

Banyak sekali ayat al-Qur’an

Yang mewajibkan itu atas anda

Bukan semata ayah-ibu wahai taulan

Anak-anak pun begitu juga

Ini disini satu kaidah

Yang kuliah harus mengira

Jika bisa ditegah pada tabiat

Tegah syari’at itu sudah nyata

Misalnya tuan minum  kencing

Takkan dipukul sampai didera

Nah jika diminum arak

Patut berhak anda didera

Najis haram sangat tuak

Yang patut hak bukan didera

Karena pada nafsu keluar benci

Kaya syar’i jangan dilanggar

Anak dengan induk berserikat

Akibat berat atas anda

Betapa banyak ayat Allah

Itu ibu dan ayah berat pada anda

Ada pada  anal ini sifat

Tak perlu disuruh lagi

Karena  watak memang disayang

Tak disuruh pun selalu dihiraukan

Kabarku ini bukan sekedar kukatakan

Telah anda lihat sendiri dengan mata

Adab orang tua sudahlah paham

Pada pembahagian yang kedua

Wahai anda yang mufti

Dengarkanlah kami cerita

Tafsir hadits harus tahu

Hanya ini jala pada imam desa

Seratus ayat untuk hukum

Itu mesti maklum bagi saudara

Nasakh – mansukh perlu mengerti

Handai taulan yang imam desa

Hadits nabi harus dikenal

Sahih kuat mesti jelas

Segalaorang yang merawikan

Itu semestinya anda periksa

Jariit t’akdi harus disidik

Agar tak meragukan urusan Imam

Ushul figh perlu diketahui

Dan faraidh mesti jelas

Mazhab yang empat dipahami

Wahai abang yang imam desa

Sepakat khilaf pun ada disana

Itu tak boleh tidak anda periksa

Ilmu nahwu perlu pintar

Ilmu adab juga perlu ada

Segala lughah diketahui

Ini baru pandai disebut anda

Siapa tidak selidiki hukum Allah

Diakhirat kena siksa

Ini ada tuan sebuah hikayat

Jadi ibarat buat saudara

Kisahku ini bukan sembarangan

Kabar ’Ali yang murtadha

Pada suatu hati takdir Allah

Mesjid Kufah beliau istirahat

Seseorang ada di situ

Abdurrahman disebut nama

Orang lelaki keterunan taklid

Anak murid Abi Musa

Manusia banyak disitu

Disaat itu mereka datanginya

Mereka tanya pada Abdurrahman

Tafsir al-Qur’an dijelaskan

Apa ditanya langsung dijawab

Sungguh berani orang muda

Maka bertanya Bapak Hasan

Pada Abdurrahman beliau hadap

Saudara tahu nasakh-mansukh

Ku minta penjelasan pada anda

Maka jawab Abdurrahman

Bagi kami tak tahu apa-apa

Lalu beliau di pegang pada telinga

Segera kalang-kabut orang muda

Jangan kamu kisah tafsir Qur’an

Tidak patut itu bagi anda

Pada mesjid milik kami

Tak izin digunakan tidak rela

Patuh dengarlah kabarku ini

Barangsiapa pun yang Imam desa

Sedangkan bukan beri hukum

Itu juga banyak datang bahaya

Sekira benar hukum Allah

Allah Allah hai saudara

Bagian adab lahir batin

Ada di sana mari periksa

Pada mufti pun banyak bagian

Siapa yang bersih hati beri makna

Allah Allah wahai sahabat

Doa banyak buat hamba

Hatiku ini kelu kesah

Takut salah dalam cerita

Hatiku tuan sungguh goyang

Semisal riak saat musim hujan

Sekalian tuan inilah peringatan

Dijanjikan dulu dengan saudara

PERINGATAN PERTAMA

Dimana saja anda yang sudah kawin

Sekali lewat tentang saudara

Dengarkanlah hai abangku

Kabar kami dagang hina

Terhadap isteri perlu dikasihi

Jangan dimarahi pagi petang

Disebabkan itu tak ditakuti

Sering dimaki setiap habis maghrib

Jika anda pergi ke mana-mana

Tak dihiraukan kepada saudara

Sambunglah kasih handai taulan

Buat jodoh diri anda sendiri

Nasi diberi kainnya dibeli

Itu wajib atas saudara

Amar nah’i diajari

Agar dipakai bersama anda

Jika dikasihi wahai teman

Apa yang dikatakan dengan mesra

Terasa jangan jarak setiap hari

Hati terkenang kenang pada anda

Diberi bai’at dengan talkin

Agar salihah jodoh saudara

Ada tersebut dalam hadits

Lafal asli tak kubaca

Seseorangisterinya saleh

Lebih daripada tujuh puluh lelaki

Namun seorang isteri termasuk jahat

Tak bisa setara seribu kita

Kadar naik begitu pula turun

Wahai abang cukup buat anda

Siapa berkehendak kepada nikah

Baiklah dikhususkan buat saudara

Lebih nikah wahai adikku

Nabi kita telah bersabda

Siapa yang sudah dia beristeri

Sudah setengah dalam hal agama

Setengah kedua anda taubat

Wahai sahabat dimana saja

Tiga hal dicintai oleh nabi

Dengarlah tuan kami ceritakan

Yang pertama bua-bauan

Perempuan tuan yang kedua

Perlu ’ain dalam sembahyang

Anda tanyalah pada ulama

Perkawinan itu ada empat macam

Begitu dikatakan oleh pandeta

Itu wajib dan sunat makruh

Ke empat mubah hai saudara

Syahwat kuat lagi sehat tubuh

Lagi mungkin jatuh kepada zina

Siapa yang begitu menjadi wajib

Sunat mana perlulah dikira

Harta cukup syahwat kuat

Lagi tak mungkin berbuat zina

Yang membuat sukar pada ibadat

Lagi hajat ia pun tiada

Itu yang makruh saudara-saudara

Mubah tuan mari dikira

Nafkah tak ada lagi tak suka

Lagi anakpun terasa tiada

Nikah tuan berlapis-lapis

Bagai manisan gula dan gula jawa

Nikah resam dengan syar’i

Itu ’akli yang di saudara

Ke empat tuan itu thariqii

Keterangan ku beri buat saudara

Siapa sudah baligh  umur cukup

Nikah resam di saat demikian

Masa sedang syahwat kuat

Itu syariat diberi nama

Siapa umurnya tiga puluh taun

Di saat itu ’agli nama

Nikah thariqii ketahuilah

Itu bagi wali yang mulia

Beliau bukan karena syahwat

Tiada hajat terhadap dunia

Karena mengikuti sebagaimana syari’at

Nabi  Muhammad penghulu para nabi

Kita-kita tak sampailah ke sana

Belum Tuhan memberi kurnia

Pernahkah didengar sebuah kabar

Siapa gemar pada kisah-kisah

Penghulu mencintai juga nabi

Tak sebanding semua kita

Sangat mengasihi kepada isteri

Begitu nabi menurut cerita

Ada tersebut nabi Muhammad

Itu dikatakan kepada umat semua

Siapa sanggup sabar terhadap isteri

Yang jahat perangai kepada saudara

Tuhan beri pahala kepada tuan

Oleh Tuhanku Rabbana

Misal Tuhan beri kepada Aiyub

Semasa nasibnya kena bala

Siapa sanggup sabar orang perempuan

Jahat perangai suaminya

Diberi aznijah oleh Tuhan

Pahalanya itu sangat besar

Misal di beri kepada Asiah

Hamba Allah yang bahagia

Asiah tuan patut dikenal

Isteri Fir’aun yang celaka

Hidup Asiah bersama kafir

Orang mungkar terhadap agama

Tak sekedar kafir wahai teman

Dirinya Tuhan ia serukan

Kita hanya sesama hamba

Wahai bundaku yang bahagia

Allah Allah laknat Tuhan

Yang kafir tiada bahagia

Ada kisah tentang seseorang

Benar ditemukan dalam cerita

Isterinya itu jahat perangai

Dia laporkan diri kepada raja

Itu raja orang kabarkan

Saidina Umar mereka cerita

Maka dia datangi untuk menjumpai

Berdiri di pintu seketika

Dia dengar ucapan tuan puteri

Sakit-menyakitkan kepada raja

Tuanku Umar itu hanya diam

Tak apapun beliau jawab

Lalu berpikir dalam hati

Tak ada banding perangai raja

Sedangkan sahabat dari nabi

Isteri begitu dimilikinya

Tak jadi masuk segera pulang

Lantas segera ditanya oleh raja

Hendak kemana wahai tuan

Apa mau dikatakan rahasia

Ku hendak pergi justru ke sini

Isteri kami jahat sifatnya

Ku mendengar pada kelakuan

Itu milik tuan beitu juga

Itulah sebab saya mau pulang

Hati berubah dalam dada

Biar begitu dengar kubilang

Agar mengerti pula dirimu

Roti dimasak kain dia cuci

Lagi anak-anak dia pelihara

Sebenar yakin bukan kewajibannya

Bagaimana tidak saya bersabar

Dengan sebabnya hati tetap

Haram tidak tersentuh pada anggota

Kemudian bicara orang lelaki itu

Kepada junjungan yang mulia

Tuan mengira sampai kesitu

Kami tak terpikir demikian

Maka berkata oleh sahabat Nabi

Sabar yang kuat hai saudara

Sudahlah habis kisah itu

Wahai rekan yang tertua

Bagaimana untung diriku sendiri

Jahat perangai di atas dunia

Baiklah kumohon pada Tuhan

Ku bacakan Allahumma

Perbaikilah akhlak kami dan luaskanlah

rezeki kami wahai Yang Maha Mulia

sudah selesai do’a itu

janji tujuh baru sebuah

inilah “Tambih” yang kedua

PERINGATAN KEDUA

Ilmu Firasat perlu diketahui

Jangan merasa dungu semua anda

Yang kenal firasat dua macam

Dengarlah hai semua saudara

Siapa yang tahu dalil paham

Mutawassan orang itu nama

Yang mampu tilik dengan Nur Allah

Mutafarris orang ini nama

Seperti tersebut dalam Al-Qur’an

Ucapan Tuhan Rabbul ‘Akla

Sesungguhnya yang demikian sebagai

tanda-tanda  bagi orang yang taqwa

Firman Tuhan janganlah ragu

Kelebihan dari martabat iman

Habis diketahui tentang anda

Apa dalam hati habis dipahami

Tanda lebih Allah kurnia

Yuktil hikmata man yasya-a

Siapa Allah kehendaki diberikan-Nya

Satu orang pada ilmu ini

Sungguh pintar bijaksana

Ia bernama Sultan Syah

Saj’ak Karmani disebut nama

Pada suatu hari beliau katakana

Kepada rakyat semuanya

Palingkan mata daripada haram

Serta ia tahan nafsu hawa

Batin selalu muraqabah

Seperti syari’at ia kerjakan

Ia makan halal selamanya

Tidak meleset firasat begitu sabda

Harus ditakuti firasat mukmin

Nabi begitu telah bersabda

Tilik mukmin tilik Allah

Habis nampak segala rahasia

Tersembunyi karena kurang himmah

Enggan kujelaskan hai saudara

Biar kusebut barang setengah

Agar tak hilang semuanya

Tubuh merah halus yang tentu

Tanda malu hai saudara

Siapa yang tubuh warna api

Tanda sungguhan barang kerja

Akal kurang lagi pemarah

Begitu dikatakan oleh pendeta

Orang tanda jahat perangai

Pada tubuhnya nampak nyata

Warna hijau campur hitam

Itu pahamlah hai saudara

Warna putih campur merah

Tanda cepat segala kerja

Siapa yang tubuh amat putih

Tanda tak baik menurut cerita

Rambut ikal hitam mengkilat

Berakal sangat lagi sempurna

Rambut antara merah hitam

Itu pun baik juga seperti tadi

Siapa rambut hitam amat sangat

Tiga faedah ada di sana

Pertama berakal dan sampai janji

Lagi adil senantiasa

Siapa rambut merah lagi ikal

Tanda bebal lagi tamak

Siapa yang memiliki rambut kuning

Tanda kurang akal dia

Lagi cepat jadi marah

Begitu ahli hikmat mengatakan

Siapa tuan besar kepala

Faedah tiga ada padanya

Itu berakal bercita-cita tinggi

Sempurna lagi dalam bicara

Tanda orang kebajikan

Kepala dia sederhana

Lagi bagus bentuk kejadian

Kehadapan dahinya besar

Di belakang agak kecil

Agak runcing kira-kira

Siapa orang kecil kepala

Akal dikenal kurang ada

Dahi kita dibuat umpama

Cermin hati hai saudara

Dahi pertengahan lagi banyak kerutan

Itu alamat benar tanda

Lagi penyayang dan berakal

Perlu kenal semua kita

Pahamnya tajam orang itu

Nampak luas di keningnya

Panjang kening ia keras hati

Serta takabur senantiasa

Kening kecil dia itu

Dalam dukaan senantiasa

Tuhan jadikan mata pada insan

Menjadikannya juru bahasa

Habis diketahui yang tersembunyi

Dalam hati manusia

Siapa mata pertengahan

Menyampaikan janji semuanya

Jarang berkedip-kedip dimata itu

Akalnya tuan ada sempurna

Yang baik akal perlu dipahamkan

Sangat hitam biji mata

Mata merah tanda berani

Takut kita lihat biji saga

Mukanya itu orang tersenyum

Manis ranum jelas di mata

Lagi melihat seolah anak-anak

Umurnya lanjut di atas dunia

Mata berkedip terus-menerus

Gilanya tuan diakhir ada

Siapa tuan mata juling

Itulah orang tanda celaka

Kerja dibuat mulai dijadikan

Kejahatan hai saudara

Orang luas lobang hidung

Dia untung dengkinya ada

Bibir tipis tanda pengingat

Namun yang terbaik sederhana

Rapuh hati bibir pucat

Itu alamat ada di sana

Gigi panjang lagi besar

Orang mungkar itulah tanda

Lidah panjang lagi tipis

Padanya khusus tiga perkara

Fasih enak kuat bicara

Coba perhatikan ada sebagai dikata

Lidah Imam Syafi’i sampai ke hidung

Itu memang benar yang kukata

Muka bujur pertengahan

Keelokan manusia

Kurang akal lagi pencuri

Kalau yang kecil itu tanda

Leher besar lagi tebal

Tanda bebal hai saudara

Punggung bungkuk tanda jahat

Kikir sangat lagi tamak

Punggung tebal tanda lebih

Dapat memahaminya dan bijaksana

Hasta panjang sampai ke lutut

Itu sangat murah hai saudara

Dadanya itu pertengahan

Tanda tuan mempunyai akal

Orang tanda kebajikan

Perutnya tuan sederhana

Perut yang besar ketahuilah

Kurang malu penyakit ada

Lagi dia sering lupa

Biar tak kita lihat mau buka

Betis besar pada orang

Tanda kurang akalnya ada

Tapak kaki ia yang kecil

Berbuat fasik dia tanda

Besar tumit berani orang

Langkah jarang tanda sempurna

Bila rapat-rapat itu tak baik

Bukan diturut lawannya ada

Panjang kisah menjadi jemu

Kalau Tuhanku tak ada cela

Dengarkan ini wahai teman

Ku ajarkan semua anda

Baru sepatah saudara tau

Terus mengguna firasat oleh anda

Untung-untung seperti Datu

Itu tak pantas hai saudara

Kabar raja sudah kubilang

Tak boleh lupai wahai saudara

Ilmu Tasyrih perlu dikenal

Dengarkan bersama-sama kalian

Biarlah kusebut itu sekedar

Perbuatan tak serius pura-pura

Patut dikenal pada insan

Ada empat puluh bagian dianggauta

Pertama kepala pipi dan bahu

Ketiga tuan saya nyatakan

Lengan satu hasta kelima

Belikat punggung sudah enam

Telapak tangan wahai teman

Kedelapan itu jari-jari

Batang leher halkum sepeluh

Dada darah sudah sebelas

Sepuluh dua punggung kita

Rusuk sekarang telah tiga belas

Lagi kening jadi empat belas

Jari jelas pada kelima

Paha dan betis sudah tujuh

Delapan sepuluh kaki anda

Tulang muda sembilan belas

Ke dua puluh otot besar

Lemak daging kulit kuku

Ini tambah mata yang kelima

Tulang otak dua puluh empat

Nyata bak Ayah dua puluh tiga

Mata kita lapis tujuh

Tuhanku pasang semua kita

Dua puluh enam dengan telinga

Lidah orang telah tujuh

Jantong pisang dua puluh delapan

Dada tuan sudah sembilan

Tiga puluh genap itu pencernaan

Paweue Aceh kuberi arti

Perut sini kuhitungkan

Sudahlah tuan tiga puluh satu

Tiga puluh dua itu hati

Kuberi misal seperti raja

Wajah tasybih memang dharuri

Tak perlu dibilang lagi pada anda

Yang tiga puluh tiga sudah tentu

Itulah empedu disebut nama

Yang tiga puluh empat lemak kecil

Yang adalah biru pada warna

Tiga puluh lima paru-paru

Perlu diketahui isinya ada

Itulah tempat bagi balgham

Yang tiga puluh enam manakah dia?

Dua buah hati wahai tuan

Itulah taulan sudah kunyata

Tiga puluh tujuh itu sikembung

Isinya bau pesing kencing anda

Dua buah pelir tiga puluh delapan

Itu dinamakan baladul hayaa

Tiga puluh sembilan kemaluan (zakar) kita

Yang empat puluh itu rahim wanita

Pada rahim leher yang bujur

Rupa terkenal tanjung bunga

Di pangkal rahim dua buah pelir

Tak sanggup dipikir Allah kurnia

Rupa seperti zakar songsang

Syukur hai kawan kepada Rabbana

Antara pusat dengan kantung kemih

Di situ terletak rahim perempuan

Apakah isi rahim itu

Bunting mengandung anak anda

Rahim wanita itu kutafsirkan

Karena akhir sekali cerita

Yang lain semua juga diuraikan

Tidak kujelas lagi sebab lengkap

Menakjubkan sekali akal tuan-tuan

Perbuatan Tuhan tak sanggup piker

Diberi mendengar dengan tulang

Barang siapa orang manusia

Diberi melihat dengan lemak

Bertutur dengan lidah otot besar

Diberi hikmah masing-masing

Pada telinga pahitnya ada

Jangan dimasuki segala makhluk

Tuhanku sangat saying pada hamba

Diberi asin pada lemak

Air mata mari coba rasa

Biar tak hancur itu lemak

Dia memang sah obatnya garam

Itu air liur yang di lidah

Bicara manis itu sempena

Lobang hidung jalan angin

Hangat di situ diciptakanNya

Kalau tak ada panas pada liang

Menjadi busuklah otak saudara

Ilmu tasyrih sudah selesai

Wahai adinda telah sempurna

Alhamdulillah itu lagi kuberi

Tambihku janji sudah tua

Yang kuberi ini perlu diketahui

Tambih yang ketiga buat anda

PERINGATAN KETIGA

Lain dari itu tak ada yang terima

Memang benar bagus hai yang mulia

Peringatan ketiga

Pada menjelaskan Ilmu Pengobatan/ketabiban

Ilmu tabib harus diketahui

Semua sahabat tua-muda

Misal duduk di bawah pohon Asan

Di bawah itu sejuknya ada

Lagi ada tempat menyenangkan hati

Barang siapa pun susahnya ada

Ilmu tabib dalam Al Qur’an

Ayat taulan ada kunyata

Kuluu wasyrabuu walaa tusrifuu

Innahu laa yuhibbul musrifiin

Sesudah lafal aku terangkan

Dengar tuan kuberi makna

Makan minum semua tuan-tuan

Berlebihan jangan berbuat anda

Makan minum berlebihan

Oleh Tuhan tidak rela

Itu kata qiil dalil lagi

Pahamlah abang bersama rata

Al’ilmu ‘ilmaani ‘ilmul fiqhi

Lil adyaani wa ‘ilmut thabib lil abdaani

Yang ilmu dua bagian

Ilmu Figh bak agama

Ilmu tabib pada badan

Sudah ada tuan arti makna

Wahai teman siapa yang Tabib

Yang sudah mujarab ada dicoba?

Benar adil perlu suci

Lagi mahir keharusan anda

Unsur empat wajib diketahui

Asal dulu itu saudara kita

Api angin air dan tanah

Telah empat unsur dalam hitungan

Sifatnya itu masing-masing

Kalau dihitung sembilan ada

Pada api panas dan kering

Itu pada air sejuknya ada

Ke empat basah hai saudara

Lima tuan sekarang dikira

Panah basah mana yang ke enam?

Kering dan panas sudah nyata

Sejuk dan kering telah tujuh

Ke delapan mana yang dikira

Sejuk basah dia jatah

Yang sembilan sederhana

Umur kita wahai kawan

Kubagikan empat perkara

Pertama sejak lahir ke tiga puluh tahun

Tahun-tahun itu masuk bagian pertama

Itulah umur pada adik

Barang siapa muda-muda

Masa itu api jadi unsurnya

Itulah kita lihat marah cepat

Akal pun naik di masa itu

Begitu kawan lagi muda

Setelah itu tetap sementara

Telah sampai empat puluh tahun kita

Dengan hal itu sudah dua bagian

Angin unsurnya itu bagi anda

Itulah cepat hilang marah

Lagi dia cukup pikirannya

Turun di situ sampai enam puluh

Itu di situ masuk bagian tiga

Masa itu tuan berunsur air

Itulah kita lihat cukup berakal

Lagi panas sudah teduh

Bagian empat mari dikira

Jika turun dari enam puluh

Dhaif tubuh sudah tuan anda

Hingga sampai pada umur tabiat

Unsur tanah itu dipuja

Itulah sebab ingat akan mati

Merendahkan diri selalu dia

Umur thabi’i anda tau?

Seratus tahun dua puluh pula

Umur lazim/galib enam puluh dua tahun

Tersebut itu dalam cerita

Asal penyakit harus paham

Makan minum tidak anda dikira

Nah sekiranya ada diberi adat/biasakan

Tidak melarat tubuh saudara

Siapa tidak tuan memberi adat

Jadi melarat banyak bahaya

Wataknya keras bingung hati

Malu tak punya diri anda

Lagi menjadi malas beribadat

Megab-megab sangat perut rata

Jatah cukup besok abis kini

Karam sehari harta yang ada

Ucapan tabib-tabib dengar teman

Biar kuterangkan di depan saudara

Masuk makanan dalam perut kita

Panas adinda kesitu datang

Di hancurkan makanan itu

Kimus taulan sekarang nama

Sudahlah cair makanan itu

Perutnya ini sebatas tuan hingga

Sampailah tuan pada kendi

Di pinggir hati adalah letaknya

Lagi si panas datang ke situ

Kilus kawan kini nama

Makanan cair jadi empat bagian

Dengar bersama semua rata

Darah dahak ketiga tuan

Shaghirak nama ke empat sauda

Khasiat darah panas basah

Warna merah mana tempatnya

Tempat darah handai taulan

Hati anda itu sudah nyata

Khasiat dahak sejuk basah

Paru-paru sah jadi tempatnya

Faedah dahak handai taulan

Membasahkan semua anggauta

Khasiat shaghirak panas dan kering

Sebagai tempat empedu nama

Khasiat sauda sejuk dan kering

Sebagai tempat lemak saudara

Faedah saudak belakang darah

Tuhan perintah semua bagi anda

Berada pertengahan yang empat ini

Sejahtera adinda tubuh saudara

Lagi diciptakan oleh Tuhan

Badan insane empat kekuatannya

Jaziyah maas’ikkamat tiga haakhimat

Keempat dafi’at telah nyata

Di jaziyah kuat menelan

Masikat tuan menahan daya

Di hadhimat kekuatannya

Menghancurkan makanan diri anda

Di dafa’at kuat mengeluarkan

Apa yang ada dalam badan saudara

Kurang lebih kekuatan empat itu

Penyakit adinda ada pada anda

Tidak boleh tidak itu diketahui

Tabiat diri hai saudara

Sifat anak-anak panas basah

Serta yang lebih panas saja

Tabiat orang panas dan kering

Perlu di dengar saya cerita

Lebih basah di orang tua

Sebaliknya pada yang muda

Siapa yang tau masalah tabiat

Boleh mengobati sakit anda

Badan saudara sakit bertambah

Inilah sahabat dia tipu saudara

Badan anda sakit bertambah

Tabib bid’ah jahil raya

Emas diterima nasi habis

Badan kurus terus anda

Mana cara dikenal tabiat

Wahai sahabat mari kunyata

Warna tubuh bentuk kelakuan

Serta perbuatan dan tutur-katanya

Cara mengenal ada sepuluh

Baiklah dikisah buat saudara

Yang pertama peganglah badan

Panas ada di situ hai kawan

‘Adan itu punya tabiat

Kedua lagi anda kunyata

Lihatlah badan apakah gemuk

Sejuk di situ tabiatnya

Ketiga lihat pada rambut kepala

Harus tentu diperkirakan

Jika ikal hitam lebat

Tanda hangat tabiatnya

Keempat lihat warna tubuh

Kalu putih sejuk tanda

Lagi dia banyak balgham

Ketahuilah merah warna

Tanda hangat dengan banyak darah

Putih merah sederhana

Tabiat bila warna gandum

Dia panas tabiatnya

Warna kuning panas tanda

Galibnya safrak ia pula

Warna hitam tanda sejuk

Biasanya sauda tabiatnya

Lima lihatlah kejadian

Anggota badan manusia

Urat besar kelihatan

Kaki tangan lahir nyata

Sifatnya panas dia itu

Jika tidak sejuk tanda

Lagi sifat bagi si panas

Padanya selidiki hal kerja

Kalau gesit perbuatan

Sudah enam teman itulah tanda

Tujuh lihat pada perbuatan

Keadaannya adakah sempurna

Itu sifat pertengahan

Kalau bukan sejuk tanda

Kedelapan lihat jaga tidur

Banyak tidur sejuk tanda

Lagi basah itu bersifat

Tanda hangat lebih jaga/terbangun

Lagi sifat dia kering

Mari dengarlah kucerita

Jaga tertidur pertengahan

Akhar tuan sifatnya

Sembilan periksa buang air

Kencing berak sangat baunya

Lagi warnaya sangat merah

Hangat sifat itu saudara

Kalau tidak jelas sebaliknya

Sifat sejuk itulah tanda

Telah yang lahir sepuluh batin

Periksa tuan siapa Tabib

Paham dan akal ia sangat tajam

Sifat panas itulah tanda

Sekiranya dikenal yang sepuluh itu

Menjadilah pintar siapapun Tabibnya

Obatnya itu berlawanan

Hakim tuan punya cerita

Ada tersebut dalam Nadlam

Baiklah dipahami biar kujelaskan

Fal harru bilbaridi mustaqiim

Wa baridun bilharri ya fahiim

Wadauwi bil yaabisi ruthbal thilali

Wa yaabisun birruth ‘indal ‘amali

Tabiat panas sejuk ubat

Betul sahabat cobalah anda

Karakter sejuk panas obatnya

Anda paham baik-baik siapa tabibnya

Diobati dengan kering penyakit basah

Harus sahabat pahamlah saudara

Bintang dua belas tidak dikenal

Belum mahir tabib anda

Nah kalau sudah maklum bintang

Tabib tanggung tak diperlukan

Sekadar tau makan makanan

Itu memang tak boleh tidak bagi anda

Yang banyak bodoh semua kita

Menyangka diri berilmu tinggi

Dalam badan sendiri tak dikenal

Dengan dungu mengaku diri ulama

Siapa banyak ilmu tidak takbur

Pada perkiraan orang sangat bodoh

Penghulu obat wahai adinda

Itu air lebah madu nama

Obat lahir air madu itu

Batin tuan Al Qur’an mulia

Ini ada Hadits Rasulullah

Biar kukisah di depan saudara

‘Alaikum bisysyifaa yaini

Al Qur’an wal ‘asal

Artinya lazimkanlah atas kamu

Dengan dua penawar

Pertama Qur’an lagi air madu

Itulah tuan penawar dua

Sabda Nabi itu jangan ragu

Jadi kafir nanti saudara

Ini kupesan hai adinda

Kedua ini ada pada anda

Tiap-tiap sakit ada obatnya

Tuhan ciptakan diberi kurnia

Penyakit api air buat obat

Penyakit kemarau musim hujan

Penyakit linun bawang obat

Penyakit semangat dibaca do’a

Salamun ‘alaa Nuhin fil ‘alamiin

Dalam Al Qur’an firman mulia

Penyakit panas dalam pakai hikmat

Obat sahabat ada kunyata

Air susu lembu minum kawan

Nabi begitu telah bersabda

Semut api penyakit tentu

Pegang kepala garu saudara

Lemah syahwat besar penyakit

Halba mujarab buat obatnya

Siapa yang rambut keguguran

Sawi kawan obat anda

Siapa teman kena racun

Obat itu mari kukira

Obat air madu dan buah badam

Kita bikin abang kue halua

Lemah tubuh obat pahamkan

Hanya telur ayam sudah nyata

Selain itu ada pula kawan

Gunakan bau-bauan tiap masa

Pada orang perempuan banyak obat

Siapa sakit abang anda

Siapa mata ayam rabun

Lihat pada isteri yang cantik muka

Penyakit burut darimana datang

Jimak tak pernah ada dirasa

Lesu tubuh keram badan

Isteri kawan tak punya anda

Banyak teman berkudisan

Setelah kawin halus punggung bersih

Bukan asal ngomong boleh lihat sendiri

Bukan seenaknya kubilang sekedar senda

Tiada patut saya bergurau

Karena abang sudah tua

Yang kubilang ini siapa mau turuti

Siapa sahabat sama-sama hina

Kagum akal perbuatan Tuhan

Segala sekalian obatnya ada

Dua hal saja yang tiada obat

Nabi Muhammad yang bersabda

Wakullu daain lahu dawaaun

Illas salaama wal harma

Tiap-tiap penyakit pasti ada obat

Selain maut/mati dan tua

Pekerjaan Tabib kubagikan

Benar teman dua perkara

Tabib batin mengobati hati

Tabib lahir tentang anggota

Tabib lahir lebih mudah

Yang batin sah sulit sekali

Tabib lahir dalam dunia ini

Batin kemudian negeri kekal

Ambil manfaat yang kukatakan

Handai taulan muda-muda

Tabib lahir itu wasilah

Pada ibadat agar kuasa

Al wasaa iilu hukmul maqaashid

Segala tempat hai saudara

Penyakit besar Tabib pun tiada

Begitu Tuhan beri kurnia

Kini banyak Tabib sakit pun banyak

Memang sampai pertanda akhir dunia

Masing-masing mengurus diri sendiri

Hati sekarang sudah kedunia

Bagaimana bisa mengobati orang lain

Hati tertutup kepada Allah Ta’ala

Banyak ulama pada masa ini

Setiap hari hitung harta

Kewajiban Tabib tidak paham

Ilmu Hukum tak pernah dibaca

Seseorang di negeri Arab

Padanya cakap dua perkara

Tabib lahir itu dan batin

Ada dihimpunkan Allah Ta’ala

Seseorang kenalkan anda?

Hasan Basri disebut nama

Dibilang pergi itu ke pekan

Basrah Tuan negeri nama

Kawan seorang muda ‘Abid

Saya tirukan pada namanya

Segera berjumpa dengan Tabib itu

Berhenti tuan seketika

Tabib duduk atas kursi

Orang ramai itu di sana

Lelaki perempuan di hadapan

Anak-anak tuan tak terkira

Timba di tangan masing masing

Mereka sedang pada Tabib besar

Masing menyebut jenis penyakit

Semua rakyat itu disana

Maka berkata tuan Hasan

Kepada teman orang muda

Coba datangi Tabib itu

Kamu tanyakan obat suci dosa

Adakah jenis hati yang saket

Itu penyakit yang sangat besar

Segera datang ia bertanya

Jawaban diberi dibilang ada

Terima dari kami ada sepuluh

Allah beri sembuh hati saudara

Yang diterima itu tak kusebut apa

Cari sendiri obat anda

Akar kayu fakir sebuah

Yang kedua bilang nyata

Daun kayu tawadh’uk wahai teman

Dinyatakan yang ketiga

Bijian taubat pakaikan padanya

Pakai lagi dengan rela

Sudah empat itu sudah mengerti

Serta dibunuh semuanya

Dengan batu nama qana’ah

Sudah lima sah punya anda

Kemudian dimasukkan dalam kuali

Taqwa rembang telah enam

Setelah itu disiram air malu

Telah diketahui tujuh nyata

Serta direbus dengan api mahabbah

Sudah delapan sah milik anda

Setelah masak tuang dalam qadah

Syukur itu sah sembilan ada

Kemudian minum wahai adinda

Sendok pujian alat saudara

Habis sepuluh itu kukatakan

Mari dicobakan adakah seperti dikata

Dunia akhirat menjadi selamat

Siap yang ikut seperti kunyata

Ucapanku ini punya takwil

Tidak lahir sebagai kukata

Ilmu Tabib selesai sudah

Panjang kisah tidak kutambah lagi

Harap pada Tuhan ada manfaat

Semua sahabat mau membaca

Selesai itu apalagi sekarang

Tambih adikku lagi buat anda

PERINGATAN KEEMPAT

Alhamdulillah dalam nikmat

Bila diturut senantiasa

Menciptakan kita semua insan

Lebih tuan dari makhluk yang ada

Wajib kita syukur kepada Allah

Kita ummat Nabi mulia

Harus ketahui wahai kawan

Agama tuan dua perkara

Satu kita tinggalkan yang dilarang

Melakukan taat yang kedua

Kita tinggalkan nah’i sangat diharap

Itulah taat hai saudara

Takkah kau lihat handai taulan

Taat tuan banyak orang kerjakan

Tinggalkan tegah amat jarang ada

Ku saksikan sedikit itu didunia

Perangilah tuan itu nafsu

Jangan perangi tuan Allah Ta’ala

Minta tolonglah kepada Allah

Agar sanggup mengalahkan nafsu tamak

Siapa yang bisa kalahkan musuh

Wali Allah di atas dunia

Pikir tuan hikayat ini

Oleh barang siapa yang bahagia

Seorang Syiah Anda kenal?

Syaqiq Balki disebut nama

Khatamul Ishmi murid Syiah

Wali Allah itu keduanya

Pada suatu hari takdir Allah

Bertanya Syiah pada muridnya

Sudah tiga puluh tahun kamu padaku

Apa tuan hasil yang ada

Delapan faedah ada hasilnya

Allah berikan berkat Tuan Guru

Yang kuharap kepada Tuhan

Dengan delapan itu jadi sentosa

Apa-apa yang delapan yang ditamatkan

Itu katanya saya hitung

Sesama insan saling mengasihi

Saat jatuh tuan salah seorangnya

Sebagian sahabat ada dikunjungi

Yang sebagian lagi tak didatangi

Setengah diantar ke pinggir kubur

Mau duduk ia memohon do’a

Selesai do’a lalu pulang

Benar hamba sampai saatnya

Tak seorangpun masuk kubur

Menemani sahabat semasa di dunia

Kupikir-pikir itu dengan hati

Barang siapapun bercerai wahai Guru kami

Selain amal yang shalih

Biar dalam kubur ikut serta

Itulah kuterima sebagai sahabat

Itulah faedah yang pertama

Kulihat makhluk semua insan

Yang dikejarnya nafsu hawa

Ini kupikir dalam Al Qur’an

Firman Tuhan tidak sia-sia

Wa ammaa mankhafa maqaama Rabbihi

Wa nahan nafsa ‘anilhawaa fainnal

Janata hiyal makwaa

Siapa yang takut maqam Tuhan

Lagi meninggalkan nafsu hawa

Akhirat dia surga tempat

Siapa ummat yang bahagia

Ambil buanglah hawa nafsu

Kalam Tuhanku tak syakwasangka

Sudal dua hal faedah

Yang ketiga mana lagi?

Beta pikirkan kalam Tuhan

Tak patut itu ada bohongnya

Ma’indakum yunfidun

Wamaa ‘indallahi baqiin

Barang apapun pada kita

Lenyap hilang wahai Tuan Guru

Jika datang dari Allah Ta’ala

Kekalnya sah wahai Syaikuna

Saya ikut ucapan Tuhan

Tak kuinginkan kepada harta

Habis kuberi siapa yang miskin

Biar untukku cukuplah pahala

Hamba lihat sebagian orang

Itulah kaum tak suka mulia

Dia mengurur dengan sebab itu

Sebagian tak suka banyak harta

Sebagian tak suka didatangi orang

Setengah pada diambil orang harta

Kemudian tak suka oleh si malas

Pada terbuang habis harta

Beta rasakan dalam Al Qur’an

Itu semua tak seperti disangka

Inna akramakum ‘indallahi Atqaakuum

Mulia kaum siapa yang taqwa

Ucapan Tuhan hak yang benar

Ragu si fasiq sia-sia

Itu faedah yang keempat

Kelima lagi akan dinyata

Sebagian cela kesana cela kesini

Mengumpat segala setiap ketika

Tahukah kamu sebab demikian?

Akibat miskin sebagian kaya

Setengah hina sebagian megah

Sebagian melimpah punya ilmu

Itu kupikir dalam Al Qur’an

Ayat kawan nahnu qasamna

Bainahum ma’isyahum

Fil hayatiddun yaa

Kami bagikan semua insan

Kehidupan masa di dunia

Begitu firman oleh Tuhanku

Biarlah tuan kepada Allah Ta’ala

Takku dengki siapa pun

Rela kami itu bahagia

Sesama insan bunuh-membunuh

Memperebutkan martabat dunia

Ada tersebut dalam Al Qur’an

Disuruh perangi Setan semua kita

Innasy syaithaana lakum ‘aduuwan

Fattakhizuhu ‘aduuwa

Disuruh lawan jangan pura-pura

Tak pantah bermusuhan selain setan

Begitu tuan firman Rabbana

Telah ada enam faedahnya

Yang ketujuh kita kira

Sebagian orang tuntut rezeki

Petang pagi tiada reda

Hingga masuknya itu dalam syubhat

Haram tidak dikira-kira lagi

Suka kudengar firman Tuhan

Baik itu sebagai maksudnya

Wamaa mindaabbatin fil ardhi

Illa ‘alallahi rizquhaa

Tiada binatang yang di bumi

Melainkan dari Allah rezekinya

Yang kuingatkan hanya ibadat

Rezeki pasti telah dikatakan ada

Tidak kuharap pada makhluk

Yang sama-sama duduk diatas dunia

Faedah kedelapan itu kita bilang

Anda terangkan kudengar nyata

Sebagian hati orang pada emas

Setengah khusus pada banyak harta

Sebagian ia pegang kemuliaan

Siapa yang menjadi raja-raja

Setengah kuat hati pada mempengaruhi

Yang sebagian pada sederajat bangsa

Saya piker dalam Qur’an

Ucapan Tuhan yang mulia

Waman yatawakkal ‘alallahi

Fahuwa hasbuhu innallaha balighu

Amrihi qad ja’alallahi

Likulli syai-ing qadiiraa

Siapa tawakkal kepada Tuhan

Cukupnya tuan dengan Rabbana

Itulah sebab tawakkal kepada Tuhan

Kepada yang lain tak ada faedahnya

Sudahlah habis delapan anda bilang

Tulong Allah kepada saudara

Taurat Injil Zabur Al Qur’an

Ada disitu kabar nyata

Siapa ada tuan faedah delapan

Kitab empat itu sudah diamalkan

Pernah kau dengar teman kawan

Sesama mukmin sesaudara

Untung-untung lembut ati

Siapa yang benasib ia bahagia

Diriku ini hanya mengatakan

Salah-salah pada Rabbana

Ada kudengar sabda nabi

Dengarlah bersama semua anda

Suatu masa akhir zaman

Perbuatan Fir’un ucapan menganiaya

Ku ajarkan anda memang tak patut

Saya maksiat hai saudara

Biar begitu akan juga kukatakan

Mudah-mudahan diampunkan dosa

Tersebut ini dalam kitab

Anwarus Saathaat ia nama

Alhamdulillah lagi kulewat

Tuhan jadikan berpasang di anggota

Dua mata dua telinga

Begitulah orang semua kita

Dua tangan dua kaki

Siapapun kita hamba

Lidah dan perut serta kemaluan

Tiga itu benar pasangan tiada

Telah tujuh kita paham

Bilangan sejumlah pintu Neraka

Dijadikan manfaat masing-masing

Jangan dipalingkan hai saudara

Tuhan ciptakan mata pada kita

Agar saling kenal antar kita

Lagi boleh lihat ayat Allah

Heran indah akal saudara

Ayat ibarat dalam Al Qur’an

Dengan mata itu disuruh anda

Jangan kau lihat kepada haram

Itu selagi muda belia

Hina hati lihat pada Islam

Ditegah semua Allah Ta’ala

Diberi pendengaran pada insan

Kita dengar Qur’an suara mulia

Lagi bisa dengar ucapan Nabi

Nasehat Wali begitu juga

Bukan diciptakan handai taulan

Buat mendengarkan yang sia-sia

Bukan mendengar orang mengumpat

Ih sangat salah hai saudara

Bukan yang mengatakan saja yang salah

Yang mendengarkan begitu juga

Diciptakan lidah dalam mulut

Zikir kepada Allah disuruh baca

Lagi bisa membaca Al Qur’an

Selawat tuan kepada Nabi kita

Lagi mengajar suluh tegah

Siapapun kita berikan

Bukan diciptakan alat memaki-maki

Bukan alat mengupat manusia

Bukan semata seteru setan nakal

Anggota sendiri begitu pula

Keluar yang jahat dari lidah

Pada bilangan delapan perkara

Upat menipu ubah janji

Keempat bedrkelahi hai saudara

Dua tangan pada kita

Pelihara adinda yang bahagia

Memaki dan bersendaan

Telah delapan itu buat saudara

Dua tangan pada kita

Pelihara adinda yang bahagia

Jangan membunuh sesama Islam

Makan haram jangan anda lakukkan

Jangan khianat kedua tangan

Pantang adinda sekedar dicoba

Bukan teman sengaja kubohongi

Di Aceh pun boleh lihat sendiri

Tuhan ciptakan tangan kita

Manfaat ini buat menghormati

Agar dapat beradap kepada Teungku

Lagi dengan Ibu dan Bapa

Manfaat di situ kebajikan

Banyak tuan tak terkira

Diciptakan dua kaki itu

Agar bisa tuan pergi ke Mesjid

Manfaatnya kebajikan

Memang begitu semua anggota

Manfaat dan rugi ada disitu

Sangat kaya pencipta Rabbana

Siapa ada bungkus kuberi pesan

Faraj tuan-tuan dipelihara

Itu dari segala larangan Allah

Itu Liwath dan berzina

Faraj bagi wanita zakar bagi lelaki

Agar jadi banyak umat manusia

Janganlah tuan missal binatang

Anak jalang beri cela bunda

Perut tuan bagaikan laut

Haram syubhat jangan kesitu

Tiba saatnya tuan masa ini

Haram segalanya syubhat dimana-mana

Jarang-jarang anda yang tak mau

Yang shalihin di atas mulia

Allah Allah Tuhanku Rabbi

Dosaku banyak ya Rabbana

Takut Neraka harap pada Tuhan

Handai taulan yang berdosa

Dosa kita itu dikisahkan

Bahagian yang jelas dua perkara

Kecil besar wahai taulan

Yang taubat itu perlu banyak

Segala dosa wajib taubat

Kata setengah ahli ada khilafnya

Taubat itu harus paham

Kadang dirajam sebagian didera

Untung takzir wahai adik

Pikirkan hal itu azab dunia

Jika azab di akhirat

Tidak tertahankan besar siksa

Mana yang lahir lawan batin

Diadukan Allah Ta’ala

Dosa lahir sudah kujelaskan

Itu kepada Lebai yang muda-muda

Dalam Tambih yang keempat

Pahamlah sahabat semua rata

Dosa batin biarlah diterangkan

Satu Tambih ianya penuh

Dalam Tambih yang kelima

Inilah hai ayahanda akan kunyatakan

PERINGATAN KELIMA

Dengarkan kami kawan-kawan

Kupesankan kepada anda semua

Penyakit hati perlu dikenal

Perlu ‘ain atas saudara

Ria takabur ‘ujub tuan

Itulah tiga penyakit besar

Lagi ajdaali itu dan hasad

Telah enam hal nampak buat anda

Loba tamak itu dan bakhil

Sembilan hasil buat saudara

Selain itu banyak lagi

Biar separuh itu dikira

Ria tuan memperlihatkan amal

Makna asal kucerita

Maksud menampakkan disini

Agar dipuji didepan anda

Mungkin rupa banyak sedekah

Namun kepada Allah munafik besar

Ingat ingat wahai tuan

Membatalkan amal anda

Orang Syahid hari kiamat

Disuruh antar dalam Neraka

Maka bertanya orang Syahid

Jangan antarkan kami ke Neraka

Kami Tuhanku ada bersyahid

Masa hidup dulu di dunia

Firman Tuhan pada Malaikat

Bawa terus dia ke dalam neraka

Dia Syahid bukan karena Ku

Biar orang tau beraninya

Itulah balasan orang demikian

Pikir teman yang bahagia

Kemana orang ‘alim niat untuk terkenal

Dia pun ke sana dalam Neraka

Dituntut ilmu bukan karena Ku

Sudah tentu masuk Neraka

Dimana Qari baca Al Qur’an

Lagi ia pun kedalam Neraka

Kami Tuhanku ada mengaji Al Qur’an

Tidaklah patut masuk Neraka

Firman Tuhan pada Malaikat

Bawa segera kedalam Neraka

Dibaca Al Qur’an biar dipuji

Buatnya sekarang balasan Neraka

Kemana hamba membesarkan diri

Itu pun dia kedalam Neraka

Dengarkanlah kawan-kawan

Pikir abang yang bahagia

Jangan takabur dalam hati

Akulah di akhirat melebihi semua

Siapa takabur teman Iblis

Akhirat tak lepas dari Neraka

Takabur Iblis daripada Adam

‘Alaihissalam maha mulia

Tuhan suruh sujud kepada Nabi

Lebih diri itu katanya

Tak pantas sujud pada Adam

Kami kiram lebih mulia

Apa akibat dia itu?

Neraka tuan selama-lama

Perangai jahat akibat akhir

Tuhan berikan balasan Neraka

Dengki hasad jangan di hati

Segera nampak itu di dunia

Betapa banyak sudah anda lihat

Maksud tak pernah dicapainya

Ada yang amal kebajikan

Habis sekalian menjadi binasa

Misal kayu api makan

Begitu yang kena sebagai umpama

Benci Tuhan siapa bertengkar

Sesama sendiri begitu juga

Sekiranya sudah takdir Allah

Astaghfirullah ucap segera

Jangan lepas tangan wahai adinda

Anggota diri peliharalah anda

Jika sudah terlanjur mencencang

Mungkin luka kedua anda

Kalau sudah ditebas balas

Emas tak lepas diat anda

Bila sudah diat tak lagi balas

Jika belum lepas tidak anda

‘Ajab indah hukum Tuhan

Tuhan turunkan balasan kedunia

Agar selamat semua kita

Tidak membunuh sesama hamba

Nah jika tak ada hukum balasan

Mungkin musnah dalam sekejap mata

Jangan tamak wahai adinda

Apa dalam tangan manusia

Siapa tak tamak sungguh terpuji

Sesama sendiri semua hamba

Pada Tuhan pun juga lebih

Karena yang ditunggu dari Rabbana

Tak ia harap pada makhluk

Yang sama duduk papa ditakdirkan

Siapa banyak harta jangan kikir

Kalau sedikit tak usah dikira

Yang perlu kikir handai taulan

Betul disitu larangan ada

Untung-untung menjadi haram

Ada yang dilarang oleh ulama

Syekh kita Imam Nawawi

Quthub Rabbani jangan diragukan

Tangan murah hati ikhlas

Benar khusus banyak pahala

Tuhan memuji murah tangan

Dibalaskan buatnya surga

Benci marah siapa yang kikir

Balasan akhirat buatnya Neraka

HIKAYAT KEAJAIBAN

Kini dengarlah sebuah hikayat

Mungkinkah enak biar dicoba

Asal kabar ini dari ‘Aisyah

Gemar Allah akan dia

Seorang perempuan datang pada Nabi

Tangan mati sebelah binasa

Yang binasa ini tangan kanan

Begitu disebutkan dalam cerita

Dimana anda wahai Nabi Allah

Saya gundah tangan binasa

Mohonlah do’a kepada Tuhan

Kembali sembuh seperti semula

Apa sebab tanganmu mati

Ceritakan kudengar nyata

Saya bermimpi di suatu malam

Kiamat terasa negeri dunia

Ku lihat Neraka nyalanya sangat

Getaran kuat bukan kepalang

Dengan surga diperdekat

Kepada ummat yang mulia

Ku saksikan Neraka berpasukan

Ular di sana tak terhitung

Seekor ular pada Ibu kami

Diikat di tangan dengan perca

Mengapa Ibu ada di situ

Lagi dalam nyala ular Neraka

Dirimu Ibu taat pada Tuhan

Mengapa ke situ balasannya

Wahai anak sudah takdir

Aku sangat kikir di atas dunia

Inilah tempat orang yang kikir

Dengan takdir Allah Ta’ala

Diikat perca itu di tangan

Apa balasan ini amal anda

Inilah anak pahala sedekah

Masa dulu itu di dunia

Itulah sedekah yang pernah kuberi

Sepanjang umur diatas dunia

Dimana Bapa hai Ibu kami

Dimanakah ia tempatnya Bapa

Wahai anak dalam Surga

Orang murah balas Surga

Saya datangi kedalam Jannah

Lantas ayah nampak nyata

Sedang memberi minum kepada rakyat

Siapa ummat yang bahagia

Diambil piala dari Bapa Hasan

Tuan itu dari Usman

Tuan Usman ambil dari Umar

Abubakar ambil dari anda

Ya Rasulullah

Sangat indah taman anda

Saya katakana hal itu pada ayah

Saya terangkan prihal Bunda

Berikan sedikit air hai ayah

Ibuku sangat haus dalam Neraka

Hai anak jangan kamu minta air

Ibumu kikir masa di dunia

Tuhan melarang air kolam mini

Akan siapa yang durhaka

Sangat kuminta diberi sedikit

Lantas turun dari langit bersuara

Matilah tangan siapa ambil air

Untuk si maksiat yang durhaka

Tuhan melarang air kolam ini

Barang siapa yang berdosa

Itulah yang ada saya mimpi

Jaga kami yang mushthafa

Lalu terbangun dari mimpi

Segera tangan langsung binasa

Maka berkata Rasulullah

Kepada ummat itu perempuan

Derita kamu karena kikir Ibu

Di akhirat nanti tidak terkira

Lantas dirajah oleh Nabi

Dia sembuhlah seketika

Semua tuan pikirkanlah

Siapa hati ada bahagia

Lain urusan ini juga berhubungan

Hanya kikir begitu besar bahaya

Anaknya itu sekedar bermimpi

Patut tangannya jadi binasa

Sebab ditolong orang maksiat

Tuhan beri sakit nampak nyata

Perangai jahat sudah kami bilang

Yang terpuji sekarang dikira

Pada kita yang baru belajar

Harus mengenal sepuluh perkara

Pertama memasuki jalan Allah

Wahai ayah selagi ada waktu

Yuqadhdhahu taubatun muhasabatun

‘An anabatun sudah empat jelas

Arti Yuqadlatun jaga hati

Taubat hai tuan dari dausa

Mahasabatun mengira untung nasib

Anabatun kita serahkan pada Rabbana

Tafkir tazkir dan ‘Iktisham

Qirar pahamlah telah delapan

Arti tafkir pikir kita

Tentang alam ini karya Rabbana

Heran akal semua kita

Tazkir ini mengingat anda

Akan Tuhan Yang maha Esa

‘Iktisham ini pegang saudara

Kepada Tuhan pemilik alam

Qirar pahamkan lari anda

Kepada Tuhan Yang Maha Esa

Bagi siapa ada bahagia

Riyaadhah samaak telah selesai

Yang sepuluh ini semua terang

Arti riyaadhah wahai kawan

Mengenakkan perangai anda

Dengan ilmu terus amal itu

Mengenakkan dengan ikhlas

Arti samaak mendengarkan

Janji Tuhan Surga Neraka

Inilah sepuluh ada lain lagi

Itu harus paham semua rata

Sabar tawakkal handai taulan

Kepada Tuhan kita Rabbana

Syukur ikhlas dan tajmalun

Sudah lima buat anda

Yang tajmalun bagus perangai

Barang siapa manis muka

Tufauwidhu taslimun

Serahkan pada Tuhan semua perkara

Taqdiim takkhir ma’aafin

Telah sepuluh nampak bagi saudara

Arti takdim mendahulukan

Apa yang Tuhan suruh anda

Misal Imam pada sembahyang

Siap yang senang pada agama

Tidak boleh si yang fasik

Kias yang pasti sebgainya

Arti takkhir mengakhirkan

Misalnya itu bagi anda saja

Sedikit salah jangan dihaluskan

Maafkanlah oleh saudara

Jangan simpan dendam kapan pun

Oleh Tuhan tidak ridha

Khaufun dan rijal harap Tuhan

Wahai kawan yang bahagia

Murah adil itu dan ihsan

Qana’ah tuan sudah empat

Arti ihsan ibadat tuan

Seolah Tuhan melihat dia

Arti Qana’ah kusebutkan

Tidak menghimpun tamak harta

Sakinatu waqawa haiyun haliimun

Sudah Teungku delapan nyata

Tetap hati terhadap Tuhan

Sikinah tuan itulah artinya

Arti halim adalah pengasih

Rauhun tuan sembilan ada

Arti marwah rasa malu

Sepuluh taulan tawadh’uk anda

Arti tawadh’uk merendahkan diri

Ada sepuluh ini lagi buat saudara

Pada jumlah ada tiga puluh

Tak sanggup dikatakan lagi hai saudara

Maha suci Rabbul’alamin

Ada berkumpul jangan aniaya

Lain dari itu semua mukmin

Yang ada yakin kepada Rabbana

Tauhid hakiki pada orang itu

Telah Tuhan beri kurnia

Hati mukmin misal istana

Tuhanku sendiri yang umpama

Sebab isinya sangat indah

Misal darah dan mutiara

Hati kafir seperti sumur

Yang tiada sesuatu disana

Abang tua muda adinda

Cukup di sini buat saudara

Tambih kelima telah tamat

Yang ke enam mana berikan nyata

Setelah lima inilah ke enam

PERINGATAN KEENAM

Menyalahi adat perlu diketahui

Agar kuat imam dalam dada

Itulah Nabi akhir zaman

Buat junjungan yang musthafa

Menyalahi kebiasaan tujuh macam

Dengarkanlah hai semua saudara

Irhash mukjizat itu pada Nabi

Keramat Wali hai saudara

Ma’unah istadraj dan ihaanah

Lalu sya’uzat menjadi tujuh

Menyalahi adapt Nabi Muhammad

Semasa kecil irhash nama

Seumpama dibelah perut Nabi

Waktu disucikan belum besar

Dicuci Nabi dengan air zamzam

Atas beliau salam maha mulia

Jibril lakukan perbuatan itu

Begitu teman menurut cerita

Misal memberi salam oleh batu

Kepada penghulu maha mulia

Itu beliau bilang kepada sahabat

Masa sudah menjadi Nabi

Sebuah hijir batu Mekkah

Salamnya sah ada kepada hamba

Masih beliau kenal batu itu

Pemilikku Tuhan yang kurnia

Kepada Jabir itu beliau bilang

Anak Samrah sahabat mulia

Masa kecil pergi ke negeri Syam

Bersama kaun Qurisy serta Paman

Nama Nabi Abu Thalib

Berjumpa Rahib tamu datang

Ada di situ kayu sebatang

Berebut duduk tempat naungannya

Nabi duduk bukan pada naungan

Bayangan naunglah kesitu bergerak

Kayu batu itu semua sujud

Pada Muhammad Nabi kita

Rahib sendiri orang bertuah

Naik saksi ini Nabi

Inilah Nabi akhir zaman

Kelebihan sungguh tak terkira

Patut semua itu mau sujud

Benar Muhammad saidil sambiya

Jika bukan Nabi tidak mau sujud

Ku ibarat dengan logika

Disuruh bawa pulang Nabi ke Mekkah

Agar tak difitnah orang Yahudi

Dibawa pulang Nabi cepat-cepat

Untung sebelum datang bahaya

Abu Thalib bawa pulang Muhammad

Seorang lagi Bilal nama

Yang disuruh Bilal oleh Abubakar

Dikembalikan segera Nabi kita

Rahib memberi perbekalan

Buah zaitun tak terkira

Orang bawa pulang hanya itu

Lain tinggal berniaga

Turun wahyu menyalahi adapt

Itu mukjizat diberi nama

Kisah masyhur tak kukisah

Bertanyalah pada ulama

Misal lain dengar kukatakan

Membelah bulan saat purnama

Dua versi rakyat tentang itu

Menyaksikan bulan dibelah dua

Di atas gunung satu firqah

Lalu di bawah yang kedua

Misal hijriyah pindah dari Makkah

Ke Madinah negeri mulia

Mukjizat Nabi tak sanggup hitung

Allah Allah hai saudara

Anak Daud Nabi Sulaiman

Mukjizat tuan tak terkira

Lebih mukjizat juga Muhammad

Begitu tersebut dalam cerita

Lebih Muhammad jenis insane

Yang lain tanpa ragu-ragu

Allah Allah wahai sahabat

Kabar mukjizat pelajarilah

Siapa tuan diberi Tuhan tuah

Sanggup berkisah semua rahasia

Mudah-mudahan lembut hati

Berkat Nabiyullah kita

Menyalahi adat nama keramat

Hal itu tempatnya pada Wali-wali

Manakah Wali wahai kawan

Agar disebut keramatnya ada

Bila dikenal Wali menurut batasan

Terasa sulit wujudnya ada

Pada masa kini akhir zaman

Dulu tuan tak terkira

‘Arif billah ia terhadap Tuhan

Taatnya tuan tak tercela

Perlu sunat semua dilaksanakan

Yang makruh tidak dikerjakan

Kelezatan dunia dia berpaling

Itulah orang betul Aulia

Sungguh langka wahai taulan

Coba bilang dimana ada

Menyalahi adat pada sahabat

Itu keramat nama pula

Dengarkanlah keramat sahabat Nabi

Air sungai Nil tak mau mengalir

Dari setahun hingga setahun

Air tak mengalir ke kuala

Masa tuan jahiliyah

Ada ditinggalkan seorang wanita

Mengirim surat oleh sahabat

Disuruh antar bawa perintah

Dipasang surat kiriman pada sungai

Seperti orang akalnya ada

Wahai Sungai Nil negeri Mesir

Ini kau alirkan kehendak Rabbana

Mengalirlah tuan anda sekarang

Jangan tahan diri lagi anda

Jika kau mengalir kehendak sendiri

Bersama surat ini janganlah anda

Yang kirim surat menurut kabar

Saidina Umar orang berkata

Umar bin’Ash yang mengirimkan

Itu menyuruh salamkan dalam Nil

Dimasukkan surat dalam Sungai Nil

Sekarang mengalir selama-lamanya

Berkat sahabat Nabi junjungan

Kelebihan dari Tuhanku Rabbana

Lebih sahabat dari Wali

Seperti Nabi dengan sahabat pula

Keramat tuan kurang-lebih

Tidak sama ia satu bentuk

Memang bukan hanya keramat

Yang mukjizat begitu juga

Lebih mukjizat dari keramat

Sebagaimana martabat Wali Ambiya

Bagaimanapun keramat besar

Tak akan ada anak tiada Bapa

Pada mukjizat bisa taulan

Isa tuan tiada Bapa

Lagi Adam kumisalkan

Beliau malah tanpa Ibu-Bapa

Jenis makhluk lebih insane

Turunan situ bertingkatan pula

Lebih Rasul daripada Nabi

Di atas Wali sahabat Mulia

Surut dari situ martabat orang salih

Kharag padanya ma’unah nama

Arti ma’unah Allah tolong

Bukan lurong hai saudara

Yang ma’unah ada juga mudah

Siapa Allah beri bahagia

Misal bebas dari rantai

Lagi dari tipu daya

Dengarlah cerita seseorang

Betul dijumpai dalam cerita

Dia menyeru pada kebajikan

Akan Harun raja mulia

Menjadi marah raja Harun

Kepada orang itu bukan main

Milik raja Harun pengawal seorang

Bengis sangat tak terkira

Disuruh ikat pada pengawal itu

Tak apa-apa tuan tak kena bahaya

Disuruh penjarakan orang lelaki itu

Dengan makanan tak diberikan padanya

Beliau lihat dia sudah di kebun

Pintu terkunci tak terbuka

Harunur Rasyid lalu bertanya

Itu pada orang dalam penjara

Siapa yang melepaskan kamu di situ

Ke kebun itu kamu berada

Maka berkata lelaki itu

Kepada Harun yang mulia

Siapa yang masukkan aku dalam penjara

Dia yang melepaskan tiada lain

Siapa yang masukkan kamu dalam ampas

Termasuk kamu sendiri akan kuikat

Tak tuan kenal yang masukkan kesini?

Yang keluarkan aku ini dalam penjara

Kemudian disuruh naik kenderaan

Disuruh bawa keliling negeri

Disuruh serukan kepada Menteri

Ini dengarlah semua saudara

Orang lelaki yang dilebihkan Tuhan

Oleh raja Harun mau dihina

Tak mungkin hina yang dilebihkan

Oleh Allah Tuhan Rabbana

Kehendak Tuhan saja yang terjadi

Kehendak kita hanya sia-sia

Menyalahi adat Dajjal laknat

Istidraj yang itu nama

Manakah contoh istidraj

Ayoh banyak sekali tak terkira

Dajjal jahat dilaknat Allah

Neraka dan Surga mampu dibawa

Itulah baginya lurong Allah

Dilaknat Allah isi Neraka

Surga Neraka jalan takhil

Jangan jahili diri ananda

Ini hakiki tuan katakan

Yang masalah demikian istidraj nama

Lagi ini misal pada sihir

Yang bisa terbang di udara

Sebagian bisa berjalan atas air

Itulah kafir sicelaka

Siapa agamanya bukan Islam

Kafir karam dalam Neraka

Berkata Dajjal itu di bumi

Tempat tumbuhnya rumput rata

Turunlah hujan dari langit

Lalu segera hujan turun

Dia mengatakan dirinya Tuhan

Tak ada yang beriman segera disiksa

Habis di datangi segala negeri

Gerak cepatnya tak ada bandingan

Binasa negeri kemana ia pergi

Banyak yang menyerah manusia

Yang tak didatangi Nabi bilang

Mekkah Medinah negeri mulia

Dengarkanlah semua kawan

Ingat ingatkan siapa bahagia

Ingatlah pada Tuhan semua adinda

Dajjal celaka hampir tiba

Minta tolong kepada Allah

Daripada fitnah si celaka

Disebutkan sangat sedikit yang selamat

Habis rakyat semua binasa

Dua belas ribu diantara kita lelaki

Orang perempuan tujuh saja

Alhamdulillah puji Tuhan

Dimana-mana tuan lebih anda

Menyalahi adat bernama Ihanat

Pada muslimat pembohong besar

Arti ihanah kehinaan

Itu memang tak ada sebagai didakwa

Terbang biji mata di Qatadah

Nabi Allah kembalikan mata

Mengakui diri pun bisa begitu

Bersekutu tuan Nabi kita

Lalu dibawa satu orang

Dia juling sebelah mata

Terus dirajah ia pegang di pipi

Mata juling menjadi buta

Juling dulu hanya sebelah

Sekarang telah sah semua binasa

Muntahi Sa’idah Nabi Muhammad

Dia bermaksud standing si celaka

Kampungnya tuan dekat Thaif

Begitu dikatakan menurut cerita

Di Ihanah sudah selesai

Sya’uuzat sekarang kita kira

Misalnya tuan pada si tambir

Biar tak kita lihat mangga ditanam

Dia gongseng bertih pada pakaian

Grak-gruk tuan bunyi suara

Balikmata itu hai adik

Jangan kita ingin dan suka

Gemar hati pada perbuatan itu

Saudara kawan sudah binasa

Sudah tujuh selesai dikisah

Agar sempurnalah payah abang anda

Ini pahamilah wahai teman

Yang tujuh itu jangan lupa

Yang tujuh ini perlu ditimbang

Neraca hai wang pada anda

Wajib ‘iktiqad semua ummat

Yang mukjizat pada Nabi Nabi

Yang keramad pada Wali

Jangan mungkir kafirlah anda

Ummat dulu pun keramat

Umat Muhammad apalagi

Misal Menteri Nabi Sulaiman

Ashfan tuan anak Barkhiya

Tambih yang keenam selesai sudah

Terus ketujuh segera Tuan

Alhamdulillah akan kuberi

Hampir sampai janji dengan saudara

PERINGATAN KETUJUH

Ingat akan mati handai taulan

Faedahnya tak terhitung

Menjadi takut akan Tuhan

Dengan sebab itu hai saudara

Siapa Tuhan memberi lebih

Ingatlah ia setiap waktu

Lagi dunia kurang hiraukan

Siapa insan ada bahagia

Jika ada takut kita pada Tuhan

Cukuplah disitu abang  raja

Sedikit faedah amal kita

Bila mati tak diingati lagi

Wajib yakin percaya semua kita

Kena mati ini semua mengalami

Diberi misal sebagai pintu

Mesti kita lalui semua rata

Manakah pertama bahaya akhirat

Nadak sekarat diri anda

Azab sekarat disebutkan

Apoh apah sangat siksa

Yang telah dialami semasa hidup

Baiklah diingat adinda raja

Mudah-mudahan mau taat

Itu bertaubat dari dosa

Sungguh naz’a anak sekarat

Tak seorang bisa membantu

Tinggal Ibu-Bapa abang adik

Sahabat kita tak berguna

Lebih Bunda sayang pada kita

Tak pula beliau ada gunanya

Harus pikirkan wahai taulan

Sudah disaksikan bukan senda

Kalau tidak tolong Tuhan sendiri

Lain segala sia-sia

Begitu banyak bahaya disana

Iblis setan tak terkira

Disuruh masuk agama kafir

Orang mungkar kepada Rabbana

Siapa ada tuah diberi Tuhan

Selamat di situ tiada mara

Kalau sudah karam kita disana

Tak bakal lagi ada bahagia

Kepada Tuhan mohonkan sangat

Agar selamat semua kita

Kepada Tuhan mohon tolong

Agar sekampung dalam Surga

Setelah sekarat diambil nyawa

Disimpan di liang kubur lantas anda

Selesai ditimbun wahai sahabat

Malaikat terus segera tiba

Datang menyoal wahai taulan

Mana Tuhan dari saudara

Manakah Nabi kita ini

Apa jeniskah itu beragama

Suaranya itu bagaikan halilintar

Matanya merah takterkira

Tubuh hitam muka bengis

Belum dipukul hancur anda

Cokmar dia itu besar sangat

Tak sanggup dibawa rakyat di Mina

Tersebut itu dalam Nadlam

Bukan hai abang aku bergurau

Wam’ahaa marziyatun lau tajtami’u

Ahlu Mina laraf’uhun lam yartaf’ik

Arti telah ada duluan tadi

Tak perlu lagi aku jelaskan

Tolong Allah siapa bertuah

Jawabnya sah tak meleset

Allah Rabby diny Islam

Muhammad nabinal imam

Allah Tuhan Nabi Muhammad

Islam pasti itu agama

Setan iblis berdiri dekat

Saat ditanya man Rabbuka

Disuruh katakana dialah Tuhan

Angguk setan kepada anda

Allah Allah wahai sahabat

Dalam kubur lagi digarap

Dikatakan kabar ini tuan Sufyan

Ahli junjungan maha mulia

Tiga kali ditanya di tempat itu

Begitu teman menurut cerita

Diulangi tanya kepada kita

Tujuh hari suatu riwayat

Seperti tersebut dalam nadlam

Makna paham duluan nyata

Yukarrirus sualu lil anaami

Fiimaarawiya ‘an sab’atin aiyaami

Empunya riwayat sudah jelas

Imam ahmad anak Hambila

Ditanya itu menyeluruh

Jin da Insan sama saja

Tidak ditanya pada insan

Tujuh tuan sebab-sebabnya

Orang syahid dan muraabath

Tiga mati kolera/ta’un keempatnya

Orang shadiq lima anak-anak

Pada pendapat lain sama saja

Siapa yang mati hari jum’at

Di situ pasti tak ditanyai

Sudah enam tujuh sekarang

Barang siapa ada membaca

Surat Tabaraka tiap-tiap malam

Sajjadah lagi satu pendapat

Yang bukan tujuh ini Nabi bagaimana?

Memang dharuri betul tiada

Setengah umat tidak ditanya

Nabi hai wang kelompok Aulia

Ummat ini (Islam) sudah anda tahu

Ummat dulu mari dikira

Ummat dulu beda pendapat

Sebagian kata tak ada dan sebaliknya

Azab kubur ada pada kaum

Kafir Islam sama kedua

Ummat dulu dan yang sekarang

Barang siapapun kena rata

Siapa disebut sudah mukallaf

Tak seorang pun lepas dari semua

Rusak disana bagus sudut sini

Kafir celaka telah disiksa

Kita mukmin ada juga kurang

Bagaimana kelakuan masa di dunia

Yang di kafir berkekalan

Di mukmin ada juga sentosa

Siapa banyak dosa lama di situ

Kelepasannya akhirnya ada

Siapa yang sedikit kesalahan

Di mukmin itu seketika

Kemudian lagi diluluskan

Tak seorang bebas dari semua

Seorang sahabat Nabi junjungan

Sa’at tuan punya nama

Ketika mati sahabat itu

‘Arasy Tuhan jadi bergerak

Tujuh puluh ribu malaikat

Kunjung sahabat maha mulia

Begitu kelebihan tak juga bebas

Ada lagi Hadits mengatakan nyata

Lau afalta minhaa ahadan

La afalta minha hazash shahaabii

Kalau seorang azab luput

Sa’at sahabat kutiadakan

Bagaimana kita wahai taulan

Sahabat junjungan begitu hebatnya

Nikmat kubur keluasan

Kendil disitu ada saudara

Dibuka tingkap ke arah Surga

Siapa Allah beri bahagia

Nikmat kubur tiada khusus

Baik mukallaf baik yang gila

Itu pun begitu seperti tadi

Baik umay kini atau umat dulu

Setelah itu semua dibangkitkan

Itu saat ditiup sangkalkala

Saiyidil Rasul bangun duluan

Begitu ditemukan dalam cerita

Masing-masing dengan kenderaan

Sebagai teladan aml di dunia

Habis dibangkit semua umat

Segala makhluk tak terkira

Terus ke Mahsyar semua dihalau

Diperhitungkan semua perkara

Baik dan jahat semua dihitung

Sebagian lama setengah segera

Tujuh puluh ribu tahun hisapnya itu

Umat junjungan Nabi kita

Apa hikmah hitungan Tuhan

Memang telah tahu segala hal hamba

Biar mengingatkan semua kita

Amal kita masa di dunia

Biar kafir menjadi hina

Mukmin kawan jadilah gembira

Tuhan perlihatkan pada kita

Siapa yang rugi siapa laba

Menjadi sebagai dikatakan Tuhan

Semasa janan selagi di dunia

Janan sudah semua kita

Sesal kemudian tidak berguna

Di Padang Mahsyar kita memanggil

Sesama keluarga dan nama Bapa

Agar tak orang tau anak haram

Dipanggil indung hai saudara

Setelah dihisap serta timbangan

Begitu hai wang menurut cerita

Amal ditimbang semua insan

Siapa Tuhan berkehendak ada

Orang sabar tidak ditimbang

Dia diterima segera pahala

Orang kafir ada ditimbang

Dalam Al Qur’an nyata tiada

Falaa nuqimimu lahum yaumal qiyamati waznaa

Dengar kawan kuberi nama

Tak ada menimbang dari kami

Barang siapa yang celaka

Tiada timbangan dalam ayat

Timbangan manfaat dia tak ada

Demikian takwil handai taulan

Begitu dikatakan oleh ulama

Apa ditimbang wahai tuan

Bersalahan pendapat antara ulama

Sebagian turut ditimbang dan sebaliknya

Dengarlah kawan yang kedua

Dirupakan sebagai amal salih

Dengan rupa cantik dan bercahaya

Bagi yang kena timbangan

Neraca taulan bukan main-main

Dua paha satu lidah

Daunnya sah betul dua

Satu gelap dua nur isi

Dengar adik padanannya ada

Amal salih dalam daun nur

Yang jahat dalam gulita

Sebelah kanan Nur kiri gelap

Begitu sahabat menurut cerita

Kiri dan kanan milik siapa tuan

Di ‘Arasy Tuhanku Rabbana

Berat dan ringan ada taulan

Misal timbangan dalam dunia

Siapa yang berat amal salih

Dituangkan dia dalam mulia

Siapa yang ringan dalam timbangan

Penjara tuan dia dikurniakan

Daun neraca yang berat isi

Kebawah tuan ia menghela

Tak ubahnya masa di sini (dunia)

Yang keringanan ke atas terangkat

Alamat disebut keluar lidah

Tidak ubah ketika di dunia

Jibril pegang tali gangkah

Lihat di lidah Israfiila

Di hadapan rakyat semua kita

Agar jangan terkesan dianiaya

Bahagia adik yang kegelapan

Amal zalim jatah anda

Siapa yang zalim ingat sendiri

Jadi tak apa-apa perolehan anda

Allah Tuhan bernama Rahman

Memberatkan timbangan semua hamba

Siapa mukmin sesama Islam

Berilah semua dalam sejahtera

Tempat timbangan dikatakan

Antara Jannah dengan Neraka

Walau sudah selesai ditimbang

Bahaya hai wang tidak reda

Sekarang berjalan atas titi

Tuhanku Rabbi yang pelihara

Semua kita sesama mukmin

Berkat junjungan Nabi kita

Titian halus amat sangat

Serta tajam sekali tak terkira

Panjang titi perjalanan

Tiga ribu tahun pada cerita

Mendaki dan datar dua ribu

Yang ketiga menurun anda

Pada dua sisi/pinggir mata kail

Tuhanku adil pada menyiksa

Di atas keluar dua jalan

Kiri dan kanan pada cerita

Siapa ada tuah dari Tuhan

Sebel;ah kanan dia kurnia

Siapa yang kafir jalan kiri dia

Murka Allah si celaka

Siapa jalan dulu pada titi

Disebut Nabi Muhammad kita

Beserta umat beliau kita ini

Tak seorang pun bersuara

Melainkan Rasul yang pilihan

Mengucapkan Allahumma

Sallim sallam sudah pahamkah

Lagi Maryam beserta ‘Isa

Kemudian Musa diikuti umat

Siapa Allah beri bahagia

Dibelakang lagi Nabi Nuh

Ia dan umat menurut cerita

Nyata maha kuasa Rabbul ‘Alamin

Di atas Jahannam suruh berjalan anda

Diberi jalan halus sangat

Lepas juga rakyat yang bahagia

Wajib ‘iktiqad pada kita

Yang titian ini yakinlah ada

Siapa iktiqad bukan yang dianjur

Ia titi dibilang tiada

Misal kaum bid’ah muktazilah

Dia sahabat katakana tiada

Pernah adakah titi halus sangat

Berjalan tak bisa apa gunanya

Tak ada shillah pada Tuhan

Soalan itu jawablah anda

Muktazilah inilah dengarkan

Burung terbang di udara

Jangankan halus adanya pun tidak

Cukup di situ hajat anda

Yang berjalan dulu cepat sangat

Seperti kilat saat cuaca

Setelah itu bagaikan angina

Siapa mukmin yang bahagia

Sebagian cepat seperti burung

Setengah lagi setangkas kuda

Ada yang cepat sebagai semut

Banyak juga tanpa kuasa apa-apa

Banyak yang jatuh dalam Jahannam

Habis karam dalam Neraka

Rajinlah bermohon pada Tuhan

Wahai kawan semua anda

Semoga selamat pada titi

Berkat Nabi Allah kita

Selesai sudah daripada titi

Pada Hudh Nabi semua datang

Kolam Nabi amat luas

Perjalanan sebulan pada cerita

Airnya lebih putih dari susu ternak

Baunya tuan tak terkira

Lebih bau dari kesturi

Timba banyak tak terhitung

Siapa yang minum air Hudh Nabi

Tak haus lagi selama-lama

Siapa yang sampaikan janji Tuhan

Ke sana Hudh itu Tuhan kurnia

Perempuan lelaki kecil dan besar

Siapa yuang tepati janji Rabbana

Wahai adinda semua kawan

Janji Tuhan perkirakanlah

Umat dulu bagaimana adinda

Umat ini (Islam) ‘lah paham anda

Perihal Hudh Nabi beda pendapat

Sebagian katakana tak ada dan sebaliknya

Mengenal Hudh sendiri masing-masing

Allah berikan tak ada khilafnya

Masing Nabi ada Hudh taulan
Allah Tuhan yang kurnia

Nabi shaleh sendiri tak kebagian

Namun beliau punya tetek unta

Biar pun banyak sumur di akhirat

Wajib ‘iktiqad sebuah saja

Cuma Hudh Nabi paling besar

Kepadanya salam maha mulia

Alhamdulillah puji Tuhan

Surga tuan Tuhan kurnia

Akan mukmin neraka kafir

Akibat mungkar kepada Rabbana

Masuk duluan dalam Surga

Nabi Muhammad menurut cerita

Beserta umat ikut bersama

Siapa mukmin yang bahagia

Kuatlah bermohon pada Allah

Semoga masuk Surga semua kita

Nikmat Surga hari akhirat

Tak sebandinglah nikmat dunia

Tak sepadan wahai taulan

Begitu Tuhan beri kurnia

Tak pernah lihat mata ini

Siapa pun manusia

Indah sangat wahai kawan

Telinga anda tak pernah dengar

Tak pernah terlintas di hati

Tidak taulah kurnia Tuhan

Palinglah lezat melihat Tuhan

Begitu tuan diceriterakan

Boleh dipandang zatnya Tuhan

Mustahil tak ada wajib tiada

Mazhab kita Ahlus Sunnah

Muktazilah mengatakan tiada

Biarpun boleh/dapat pandang Tuhan

Tak ada tuan ada umpam

Tiada putih bukan pun hitam

Tidak berbekas pada mata

Bukan kiri kanan handai taulan

Jauh bukan dekat pun tidak

Semua kabar ini pada asal

Daripada Nabi kuterangkan

Itulah nikmat yang tak setara

Janganlah Allah berikan putus asa

Semua kita handai taulan

Mohon pada Tuhan semua kita

Yusuf seorang sangat indah

Begitulah kisah hai saudara

Yusuf dilihat dan dipandang

Habis orang tergila-gila

Pisau di tangan tak dirasa

Tersayat tuan tangan mereka

Lantaran indah ciptaan Tuhan

Akal hilang dalam dada

Indah Yusuf itu makhluk

Khalik cipta apa masih ragu

Yang lihat ini adalah insan

Bagi jin tuan apakah tiada

Tentang Jin berbeda pendapat

Yang bilang tidak yang katakan ada

Yang tidak saksikan cuma kafir

Karena mungkar kepada Rabbana

Tak ada bagi kafir memang sepakat

Bagi munafik sebagian kata ada

Kemudian lagi gorden dipasang

Biar gundah si celaka

Kallaa innahum yaumaizin lamahjubuun

Demikian berkata Rabbana

Hijab kafir pada hari ini

Takkan kami dilihat mereka

Milik Tuhan dua negeri

Ada sekarang telah ada

Apa hikmah wahai kawan

Agar mukmin bersuka-ria

Semoga rajin beribadat

Sebab melarat amat di Neraka

Siapa bahagia dari Tuhan

Surga tuan Allah kurnia

Siapa celaka daripada Allah

Jatah dia itu Neraka

Tuhanku Rabbi beri syafaat

Kepada umat yang durhaka

Besarlah harap semua insan

Syafaat tuan Nabi kita

Kata Usman menantu Nabi

Dengarlah bersama semua rata

Tiga kaum mohon syafaat

Kepada umat yang durhaka

Yang utama ini Nabi Nabi

Kemudian Wali yang ulama

Ketiga orang syahid wahai tuan

Ucapan ‘Usman telah nyata

Yang amat lebih memberi syafaat

Nabi Muhammad yang musthafa

Alhamdulillah puji Tuhan

Anugerah Tuhan tiada hingga

Tidak syafaat bagi seorang

Berjalan sendiri di Rabbana

Siapa mengucap itu kalimah

Tuhan angkat dari Neraka

Kisah akhirat tak mampu habis

Cukup satu lapis telah nyata

Ghayibul Ghuyub amat dalam

Telah sempurna janji dengan anda

Tambih yang TUJUH selesai sudah

Alhamdulillah puji Rabbana

BAB IV

KAJIAN ISI DAN NILAI TRADISIONAL YANG TERKANDUNG DALAM NASKAH

TAMBEH TUJOH

Naskah Tambeh Tujoh berisi tujuh topic permasalahan yang menjadi pokok pembahasan utama. Namun pada bagian mukaddimah (pengantar) juga membicarakan beberapa tuntunan yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Dalam mukaddimah ini antara lain disebutkan mengenai syarat-syarat berdo’a kepada Allah SWT, sehingga permohonan atau do’a seseorang menjadi makbul (diterima). Beberapa syarat dimaksud ialah:

-          Tidak boleh ragu

-          Dengan Hati yang Ikhlas

-          Suci dari hadas

-          Tidak makan makanan yang haram / shubhat

-          Yakin do’a itu akan dikabulkan

Bagian Pengantar selanjutnya penulis Tambeh Tujoh menjelaskan tentang faedah menuntut ilmu. Menuntut ilmu hendaklah bukan semata-mata untuk kepentingan dunia, tetapi juga untuk kebahagiaan di akhirat. Pengarang Tambeh Tujoh mengatakan motivasi ilmu itu ada beberapa macam, yaitu:

-          Memenuhi janji Tuhan sebagai Jalan menuju Agama

-          Kewajiban bagi setiap Muslim

-          Bekal untuk di hari akhirat

Setiap manusia harus mengetahui asal-usul agama (ushuluddin) yang meliputi kewajiban menuntut ilmu pengetahuan, bukan aqli, bukan syar’i  dan hukum adat. Semua itu baru didapatkan jika belajar pada para ulama.

Wajib aqli ialah segala sesuatu yang tidak terbantahkan oleh pendapat orang lain, sedangkan sifat jaiz ialah sifat yang boleh ada atau boleh tidak ada. Demikian yang dikemukakan oleh Asy’ari. Beliau juga menerangkan tentang fardhu ’ain bagi setiap manusia yaitu mengenal Allah SWT dengan cara mengetahui sifat-sifat-Nya. Allah SWT mempunyai sejumlah sifat yang dikenal dengan sifat duapuluh (sifeut duaploh). Adapun sifat-sifat itu ialah: wujud, qidam, baqa, mukhalafatuhu lilhawadist, qiyqmuhu bi nafsih, wahdaniah, qudrah, iradah, ilmu, hayat, samak, basar, qalam, dan seterusnya.

Selanjutnya dijelaskan sifat-sifat wajib pada Nabi Muhammad SAW yang terdiri atas empat macam yaitu: siddiq, amanah, tabligh dan fatanah. Selain sifat-sifat wajib yang terdapat pada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, ada pula sifat-sifat yang mustahil dan sifat-sifat jaiz (sesuatu yang boleh ada atau tidak ada) baik pada Allah SWT maupun pada Nabi Muhammad SAW, Kita sebagai seorang muslim, wajib mengetahui dan memahami semua sifat-sifat itu.

Kemudian pada bagian mukaddimah diceritakan pula tentang :

1. Adab seorang guru

2. Adab murid terhadap guru

3. Adab terhadap ayah dan bunda

Berikut uraian tentang ketiga adab tersebut secara lebih terperinci lagi.

  1. 1. Adab Seorang Guru

Tempat menuntut ilmu zaman dahulu berupa balai-balai pengajian. Di balai itulah guru duduk di suatu sudut sedangkan para murid duduk mengelilinginya dengan membentuk setengah lingkaran untuk belajar segala macam ilmu, baik fardhu ’ain maupun fardhu kifayah. Kemudian guru memanggil murid satu per satu maju ke hadapannya untuk diajarkan.

Seorang guru dalam dalam mengajarkan muridnya tidak boleh pandang bulu dan pilih kasih, tidak mengutamakan murid yang lebih dikasihinya. Jika belajar Ilmu Alat (Fardhu Kifayah) ustadz berhak menentukan waktu dan orang yang akan diajarinya. Tetapi jika belajar fardhu ’ain orang yang lebih dahulu datang ke tempatnya dialah yang harus diutamakan untuk diajari.

  1. 2. Adab Murid Terhadap Guru

Ulama mengatakan orang yang dihormati sesudah ibu dan ayah adalah guru. Kita menghormati guru jangan sekedar tampak secara lahiriah saja, karena itu adalah sia-sia. Tetapi harus sampai ke dalam lubuk hati yang paling dalam dan semata-mata karena Allah SWT. Hubungan yang kurang dekat antara murid dan guru menyebabkan guru kurang mengenal (lupa) muridnya.

Adapun tatakrama murid terhadap guru antara lain ialah: apabila berjumpa dimana saja harus segera memberi salam kepadanya, kalau duduk dihadapan beliau tidak boleh bersenda-gurau, jangan banyak bicara kalau tidak ditanya, tidak boleh menoleh ke kiri dan kekanan dan jangan sekali-kali jika guru duduk di suatu tempat kita juga ikut duduk di sana. Selain itu, bila hendak menanyakan suatu persoalan harus diperhatikan dulu waktu yang tepat. Jangan bertanya ketika ustadz sedang emosi dan lagi malas. Seorang pelajar tidak boleh berburuk sangka terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh guru, karena ilmu guru itu tidak sanggup dijangkau pemikiran seorang murid yang ilmunya belum seberapa.

  1. 3. Adab Terhadap Ayah dan Bunda

Etika anak terhadap ayah dan bunda ialah: harus selalu mendengar perkataan mereka, mengerjakan segala perintahnya, ketika mereka lewat di depan kita, untuk menghormatinya kita mestinya segera bangun, kemudian jangan melintas dan lalu lalang di depan mereka serta kalau berbicara di depan keduanya suara kita harus dipelankan.

Adab yang lainnya yaitu hadiah-hadiah yang pernah kita berikan kepada keduanya jangan diungkit-ungkit setiap saat, selalu bermuka manis di depan mereka dan senantiasa berusaha menyenangkan hati keduanya. Apabila kedua orang tua telah uzur maka kewajiban anaklah untuk menafkahi mereka. Perintah berbakti kepada ayah dan bunda banyak sekali terdapat dalam Al-Qur’anulkarim, karena dengan cara apapun tidak seorangpun yang dapat membalas jasa kedua orangtua.

Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam uraian di atas ialah:

  1. Berdoa kepada Allah SWT harus disertai dengan syaratdan adab yang baik, sehingga doa kita makbul.
  2. Menuntut ilmu hendaklah bukan semata-mata untuk kepentingan dunia, tetapi juga untuk kebahagiaan akhirat. Tujuan menuntut ilmu untuk menjadi orang kaya serta untuk menyaingi kepandaian orang lain, sangat dimurkai oleh Allah SWT. Akan tetapi menuntut ilmu harus didasari oleh niat mencari keridhaan dari Allah SWT.
  3. Seorang guru harus bersikap adil terhadap semua muridnya, tidak boleh pandang bulu dan pilih kasih.
  4. Penghormatan yang diberikan kepada guru harus tulus dan ikhlas, bukan hanya secara lahiriah saja. Seorang murid tidak boleh berburuk sangka terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh guru karena ilmu murid tidak sebanding dengan ilmu yang dimiliki guru.
  5. Anak berkewajiban menghormati dan berbakti kepada ayah dan bunda, memperlakukannya dengan kasih sayang, tutur kata yang lemah lembut, memberi nafkah ketika keduanya sudah tua. Dengan demikian hati dan perasaan keduanya akan tenteram dan bahagia.

Pada bagian terakhir mukaddimah penulis Tambeh membuat pembagian isi yang disebut dengan Tambeh Peringatan atau Tambeh Tujoh. Tiap-tiap tambeh (peringatan) mengandung aspek-aspek tertentu, sehingga para pembaca akan lebih mudah memahaminya.

  1. A. TAMBEH I

Rumah tangga yang sakinah baru terwujud jika diantara suami isteri terdapat saling pengertian akan hak-hak dan kewajibannya. Seorang suami yang baik selalu bertutur dengan lemah-lembut dan penuh kasih kepada isterinya. Suami yang selalu memarahi isterinya akan kehilangan kewibawaan dan hal itu akan menyebabkan isterinya mengomel kepada suaminya setiap malam.

Suami juga berkewajiban memberi nafkah dan mengajari amarmakruf nahi mungkar kepada isterinya agar dapat bersama-sama berdampingan membina rumah tangga yang bahagia. Isteri yang mendapat kasih sayang dan mendengarkan tutur kata yang mesra akan semakin cinta dan sayang kepada suaminya, seakan-akan tidak ingin berpisah walaupun sehari saja. Isteri yang shaleh kedudukannya lebih tinggi dibandingkan dengan tujuh puluh orang laki-laki. Akan tetapi seorang isteri yang jahat kedudukannya lebih hina dari seribu laki-laki.

Kemudian pada Tambeh Pertama ini diterangkan juga tentang masalah pernikahan. Nabi Muhammad SAW bersabda “menikah adalah separuh agama dan setengah dari taubat”. Ulama mengatakan “ada tiga hal yang disukai oleh Nabi Muhammad SAW yaitu; wangi-wangian, perempuan, dan terakhir adalah fardhu ’ain dan sembahyang.”

Ulama mengemukakan bahwa hukum perkawinan itu ada empat macam yaitu:

  1. a. Wajib

Orang yang mampu memberi nafkah, syahwatnya kuatserta takut akan terjerumus kepada perbuatan zina, wajib baginya untuk kawin/menikah.

  1. b. Sunat

Barangsiapa yang telah mampu memberi nafkah, syahwat kuat, tetapi masih bisa menahan diri dari berbuat zina, wajib baginya untuk kawin/menikah.

  1. c. Makruh

Perkawinan menjadi makruh hukumnya bagi orang yang lemah ayahwat atau tidak mempunyai nafsu.

  1. d. Mubah

Laki-laki yang tidak mampu memberi nafkah syahwat kemungkinan tidak punya anak, mubah hukumnya perkawinan bagi orang itu.

Pernikahan terdiri dari beberapa tingkatan yang terdiri dari nikah resam, nikah syar’i, nikah ‘aqli, dan nikah thariqii. Pernikahan tingkat pertama yaitu Nikah Resam adalah nikah yang dilakukan karena seseorang telah cukup umur atau baligh. Sedangkan pernikahan yang dilakukan pada saat syahwatnya kuat dinamakan Nikah Syar’i atau Nikah Syari’at. Sementara orang yang menikah pada usianya sudah tiga puluhan tahun dikatakan Nikah ‘Aqli, dan Nikah Thariqii adalah nikah para wali yang dilakukan bukan karena syahwat dan demi kepentingan duniawi, melainkan karena mengikuti syari’at yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW bersabda “siapa saja yang sanggup bersabar terhadap perangai isterinya yang jahat, Allah SWT akan memberikan pahala sebagaimana diberikan pahala kepada Nabi Ayyub AS”. Sebaliknya bagi isteri yang sabar terhadap perangai jahat suaminya, akan diberikan pahala seperti yang diberikan kepada Asiah, isteri Fir’aun.

Diriwayatkan bahwa seseorang datang kepada Khalifah Umar bin Khattab RA untuk mengadukan perangai isterinya yang jahat terhadap isterinya, sambil menunggu keluarnya sang khalifah, orang itu bediri di depan pintu. Di depan pintu itu ia mendengar isteri Umar sedang melontarkan kata-kata kesal dan menyakitkan hati, sedangkan Khalifah Umar hanya diam saja tanpa menjawab sepatah kata pun. Kemudian orang itu memutuskan untuk meninggalkan rumah khalifah tersebut seraya berkata di dalam hati, “kalau Umar yang berwatak keras lagi seorang khalifah saja sikapnya begitu, konon lagi dengan saya.”

Khalifah Umar kemudian keluar dan melihat orang itu sedang beranjak meninggalkan rumahnya. Lalu dipanggilnya orang itu dan ditanya apa keperluannya. Orang itu menjawab “saya datang menghadap khalifah untuk mengadukan perangai isteri saya yang jahat, tetapi karena mendengar isteri Amirul Mukminin juga melakukan hal yang sama, maka saya memutuskan untuk pulang kembali.”

Umar Bin Khattab RA berkata, “wahai saudaraku, aku menahan diri dan bersabar karena dia mempunyai hak terhadapku. Dia yang memasak makananku, yang membuat rotiku, mencuci pakaianku, yang menyusui anak-anakku, yang semua itu bukan kewajibannya, lagi pula hatiku tenteram kepadanya dan menjadi tercegah dari perbuatan haram, oleh karena itulah aku bersabar.” Orang itu mengatakan bahwa isterinya juga melakukan hal yang sama, maka Umar pun memintanya untuk bersabar dan menahan diri.

Nilai-nilai luhur yang bisa dipetik dari uraian di atas adalah:

  1. Rumah tangga yang sakinah dapat terwujud jika terdapat saling pengertian di antara suami isteri tentang hak-hak dan kewajibannya.
  2. Suami yang baik selalu memperlakukan isterinya dengan penuh kasih sayang dan mencukupi segala kebuTuhannya.
  3. Barangsiapa yang melakukan pernikahan berarti ia telah menjalankan setengah dari agama dan setengah dari taubat. Oleh karena itu setiap muslim dianjurkan untuk menikah guna mengikuti syari’at yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
  4. Para suami harus bersabar dan menahan diri terhadap perangai isterinya yang jahat, karena hal itu akan dapat mempertahankan keuTuhan rumah tangga.
  1. B. TAMBEH II

Selain mengetahui dan memahami ilmu-ilmu yang lain, kita semua harus tahu mengenai ilmu firasat. Ahli firasat itu terdiri atas dua macam yaitu; orang yang mengetahui dalil-dalilnya disebut dengan Mutawassam, sedangkan yang mampu menyelidiki dengan menggunakan Nur Ilahi disebut Mutafarris. Allah memberikan ilmu firasat ini kepada orang-orang yang dikehendakinya dan merupakan tanda-tanda bagi orang yang bertaqwa.

Dalam Tambeh Kedua ini diuraikan mengenai karakter dan kepribadian seseorang berkaitan dengan anggota-anggota tubuh yang dimilikinya. Adapun tanda-tanda itu ialah:

  1. Warna tubuh

-          Merah muda ; orangnya pemalu

-          Merah ; pemarah dan suka bekerja

-          Hijau kehitam-hitaman ; orangnya bertabi’at jahat

-          Putih kemerah-merahan ; cepat selesai dalam melakukan sesuatu

-          Sangat putih ; bukan orang yang baik

  1. Warna rambut

-          Ikal hitam mengkilat ; orangnya sangat cerdas

-          Merah kehitam-hitaman ; orang yang cerdas

-          Sangat hitam ; cerdas, selalu menepati janji dan adil

-          Merah dan ikal ; orangnya bodoh dan tamak

-          Kuning atau pirang ; kurang akal dan pemarah

  1. Bentuk kepala

-          Besar ; cerdas, mempunyai cita-cita yang tinggi dan pandai berbicara

-          Sedang ; tanda orang yang baik

-          Kecil ; Kurang akal

  1. Bentuk dahi

-          Pertengahan (sedang) dan banyak kerutan ; orangnya pandai (banyak akal) dan penyayang

  1. Bentuk kening

-          Luas ; cepat mengerti, cepat tanggap

-          Panjang ; keras hati dan takabur

-          Kecil ; selalu dirundung duka

  1. Bentuk mata

-          Sedang ; orangnya dapat dipercaya

-          Jarang berkedip ; sempurna akalnya

-          Sangat hitam ; baik budinya

-          Merah ; pemberani

-          Matanya seperti selalu tersenyum, cara melihat / memandang seperti layaknya anak-anak ; orang seperti ini biasanya panjang umur

-          Mata berkedip-kedip terus-menerus ; orang itu kemungkinan akan kehilangan akal di masa tuanya

-          Juling ; orangnya bertabi’at jahat

  1. Bentuk hidung

-          lubang hidungnya besar ; pendengki

  1. Bentuk bibir

-          Tipis ; ingatannya tajam

-          Pucat ; hatinya rapuh

  1. Gigi

-          Panjang dan besar ; orang jahat (mungkar)

  1. Lidah

-          Panjang dan tipis ; fasih, enak dan kuat bicara

  1. Bentuk wajah

-          Bujur pertengahan ; cantik dan ganteng

-          Kecil ; kurang akal dan gemar mengambil yang bukan haknya

  1. Bentuk leher

-          Besar dan tebal ; tandanya orang bebal

  1. Bentuk punggung

-          Bungkuk ; jahat, kikir dan tamak

-          Tebal ; arif dan bijaksana

  1. Hasta

-          Panjang sampai ke lutut ; murah hati

  1. Bentuk dada

-          Sedang ; banyak akal

  1. Bentuk perut

-          Sederhana ; orang baik

-          Besar ; tidak punya rasa malu dan pelupa

  1. Betis

-          Besar ; kurang akal

  1. Tapak kaki

-          Kecil ; orang fasik

  1. Tumit

-          Besar ; pemberani

  1. Bentuk langkah

-          Jarang ; tandanya baik dan sempurna

-          Rapat ; tidak baik

Di dalam Tambeh Kedua ini juga disinggung tentang ilmu tasyrih atau susunan anggota tubuh manusia. Adapun jumlah anggota tubuh manusia itu terdiri dari dua puluh bagian antara lain: kepala negeri, pipi, bahu, lengan, hasta, belikat punggung, telapak tangan, jari-jari, batang leher, halkum, dada darah, punggung, rusuk, kening, jari, paha, betis, kaki, tulang muda/ tulang rawan, otot besar, lemak daging, kulit, kuku, tulang otak, mata, telinga, lidah, jantung, dada, pencernaan, perut , hati , empedu, lemak kecil , paru-paru, dua hati, kantong kemih, pelir, zakar, rahim.

Rahim merupakan salah satu organ tubuh yang terdapat pada kaum wanita yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses pembuahan antara sel telur dengan sperma dan juga sebagai tempat berkembangnya janin sampai sembilan bulan lamanya.

Manusia dapat mendengar karena diberikan oleh Allah SWT tulang rawan yang berupa telinga. Pada telinga terdapat suatu zat yang pahit, berguna untuk menghalangi masuknya makhluk lain ke dalam telinga. Mata terdiri dari lemak-lemak dengan air mata yang rasanya asin yang berfungsi melindungi lemak agar tidak hancur. Bertutur dengan lidah yang padanya terdapat air liur agar bagus kedengarannya kalau kita berbicara. Lubang hidung merupakan jalan angin, untuk mencegah agar otak kita tidak membusuk, dan pada lubang itu diciptakan rasa panas.

Nilai-nilai luhur yang terkandung dari penjelasan di atas ialah :

  1. Tidak semua orang mempunyai pengetahuan tentang ilmu firasat, hanya mereka yang mendapat anugerah Tuhan yang dapat memahaminya.
  2. Ilmu firasat berguna untuk menentukan karakter seseorang, terutama penting dalam memilih orang-orang yang akan bekerjasama dengan kita. Watak dan tabi’at orang itu dapat diketahui dengan menggunakan ilmu firasat.
  3. Allah SWT menciptakan segala sesuatu itu tidak ada yang sia-sia, semuanya untuk kemaslahatan dan kepentingan makhluk itu sendiri.
  1. C. TAMBEH III

Kitab suci Al-Quran memuat segala macam ilmu pengetahuan termasuk di dalamnya ilmu tentang ketabiban. Allah SWT berfirman, “kuluu wasyrabu walaa tusrifuu, innahu laa yuhibbul musrifiin” yang artinya makan dan minumlah kamu tetapi jangan berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai yang berlebih-lebihan.

Seorang tabib wajib mengetahui unsur-unsur yang terdapat pada tubuh manusia yaitu terdiri dari api, angin, air dan tanah. Sifat-sifat yang terkandung dari unsur-unsur tersebut ada sembilan macam. Api sifatnya panas dan kering, sedangkan sifat air ialah sejuk, sifat yang keempat adalah basah, kelima panas basah, keenam kering dan panas, ketujuh sejuk dan kering, kedelapan sejuk basah dan kesembilan adalah sederhana, artinya kombinasi dari semua sifat-sifat di atas dengan kadar yang sederhana atau tidak berlebih-lebihan maupun kekurangan.

Pada Tambeh Ketiga diterangkan bahwa pembagian umur seseorang itu ada empat perkara:

Pertama      :  Sejak lahir sampai tiga puluh tahun atau tepatnya ketika seseorang berada pada tahap usia yang boleh dikatakan masih muda. Pada masa itu unsur yang paling dominan adalah api, hal ini ditandai dari sifat orang yang yang lebih cepat marah dan akal pikirannya pun sedang berkembang.

Kedua         :  Pada umur empat puluh tahun, seseorang telah stabil emosinya, tidak meledak-ledak. Lagi pula pemikirannya sudah matang, karena yang lebih dominan padanya ialah unsur angin.

Ketiga         :  Pada usia enam puluh tahun, unsur air yang lebih berperan dengan cara berpikir sangat bijaksana.

Keempat     :  Umur lebih dari enam puluh tahun, unsur yang lebih berperan adalah tanah, pada kondisi ini tubuh menjadi lemah, dhaif dan selalu mengingat akan kematian.

Asal usul penyakit harus diketahui, kebiasaan makan dan minum harus dijaga agar jangan berlebih-lebihan. Makan dan minum yang berlebih-lebihan akan menyebabkan kita malas beribadat, nafas megap-megap, watak menjadi keras dan batat hati  (tidak mau menerima pendapat orang lain).

Proses pencernaan dimulai ketika makanan masuk ke dalam perut, ditandai dengan mengalirnya panas ke perut, lalu makanan tersebut dihancurkan yang disebut kimus sampai cair. Kemudian makanan cair itu sampai pada kendi yang terletak di pinggir hati dan panas pun mengalir ke tempat itu untuk menghancurkannya lebih cair lagi. Cairan itu bernama kilus.

Makanan cair lalu menjadi empat bagian, yaitu: darah, dahak, shaghirak, dan sauda. Darah terdapat dalam hati yang khasiatnya panas basah. Maksudnya darah ialah cairan yang menyebabkan tubuh kita menjadi panas. Sedangkan dahak berkhasiat sejuk basah, terdapat dalam paru-paru yang berguna untuk membasahkan semua anggota tubuh. Shaghirak terdapat pada empedu dengan khasiatnya panas dan kering. Terakhir yaitu sauda, berkhasiat sejuk dan kering yang terdapat dalam lemak untuk mengikuti darah. Apabila seseorang berada pada pertengahan semua yang tersebut di atas, maka tubuh orang itu dapat dikatakan dalam keadaan sehat wal afiat.

Badan manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan empat kekuatan, yaitu:

  1. Jaziyah ; kekuatan menelan
  2. Masikat ; kekuatan menahan daya
  3. Hadhimat ; kekuatan untuk menghancurkan
  4. Dafa’at ; kekuatan untuk mengeluarkan

Oleh karena itu, kalau pada tubuh kita terdapat kurang atau lebih dari empat kekuatan itu menandakan tubuh kurang sehat atau terdapatnya suatu penyakit pada tubuh.

Tabiat pribadi seseorang perlu diketahui, dimana sebagian sifat anak-anak ialah panas basah dan sebagian lagi hanya panas saja, sementara tabiat orang dewasa sebagian adalah panas dan kering dan selebihnya adalah basah. Namun sebaliknya tabiat pada orang-orang yang masih muda.

Barangsiapa yang ahli masalah tabiat, bisa mengobati penyakit yang diderita orang lain. Tabiat manusia dapat dikenal dari warna tubuh, bentuk kelakuan, perbuatan dan tutur katanya. Cara mengenal tabiat manusia itu ada sepuluh macam yaitu:

Pertama         :  Peganglah badannya, jika panas berarti tabiatnya ‘adan

Kedua            :  Lihatlah badannya, jika gemuk tabiatnya sejuk

Ketiga            :  Perhatikan rambutnya, kalau ikal dan hitam lebat menandakan tabiatnya hangat

Keempat        :  Perhatikan warna tubuh, putih tandanya sejuk dan banyak balgham, merah tandanya hangat dan banyak darah, putih kemerah-merahan tabiatnya sederhana, warna gandum bertabiat panas, kuning tandanya panas dan umumnya ia juga safrak, dan warna hitam tanda sejuk dan biasanya tabiatnya sauda.

Kelima           :  Dengan melihat kejadian anggota tubuh manusia, apabila urat besar kelihatan pada tangan dan kakinya menandakan panas sifatnya atau sebaliknya, sejuk sifatnya.

Keenam         :  Selidiki tentang hal kerja, sifat panas gesit perbuatannya.

Ketujuh          :  Perhatikan pada perbuatannya apakah keadaan dan hasilnya sempurna, itulah sifat pertengahan, kalau bukan berarti ia sejuk tandanya.

Kedelapan      :  Selidiki pada jaga dan tidur, banyak tidur tanda sejuk dan sifatnya basah, kalau banyak jaga tandanya hangat dan sifatnya kering. Orang yang jaga dan tidurnya pertengahan sifatnya ialah akhar.

Kesembilan    :  Periksa pada buang airnya, jika buang air kecil dan besarnya sangat menyengat lagi berwarna sangat merah, orang itu tandanya hangat, kalau terjadi sebaliknya berarti sifatnya sejuk.

Kesepuluh      :  Selidiki siapa tabibnya, apabila pintar (paham) dan akalnya sangat tajam panas tanda sifatnya.

Untuk mengobati penyakit harus diketahui sifat/tabiat penyebab terjadinya penyakit. Dengan demikian penyakit-penyakit itu dapat diobati dengan sifat-sifat yang berlawanan dengan sifat-sifat penyebab terjadinya penyakit. Penghulu obat itu ada dua macam; obat lahir yang berupa air madu dan obat batin yakni Al-Qur’an seperti Hadits Raulullah SAW.

Allah SWT setiap menciptakan penyakit pasti juga menyediakan obatnya. Penyakit api; air obatnya, penyakit kemarau; musim hujan obatnya, penyakit linuen atau mencegah digigit oleh binatang; bawang obatnya, penyakit semangat, misalnya untuk mengatasi serangan binatang buas; dibaca doa salamun ‘alaa nuhin fil ‘alamiin, penyakit panas dalam; air susu lembu obatnya. Seandainya digigit semut api, obatnya ialah dengan memegang kepala kita, lalu menggaruknya. Penyakit lemah syahwat dapat diobati dengan halba, rambut rontok dapat diobati dengan mengkonsumsi sayur sawi, sedangkan keracunan penawarnya adalah madu yang dicampurkan dengan buah badam dan tubuh yang letih dan lesu dapat diatasi dengan mengkonsumsi telur ayam.

Rasulullah SAW bersabda, tiap-tiap penyakit pasti ada obatnya, kecuali hanya dua yaitu penyakit tua dan mati. Tabib itu ada dua macam, pertama tabib batin yang mengobati hati (penyakit batin) manusia, untuk mendapatkan tabib ini sangat sukar, yang satunya lagi ialah tabir lahir yang bertugas mengobati penyakit yang diderita oleh anggota tubuh, tabib seperti ini mudah untuk mendapatkannya.

Di negeri Arab terdapat seorang tabib yang bisa mengobati penyakit lahir maupun penyakit batin. Beliau mengajarkan cara mengobati penyakit hati kepada seorang pemuda yaitu : senantiasa menyantuni fakir miskin, bersikap tawadhuk, bertaubat, ridha, qanaah, bertaqwa, malu, mahabbah, syukur, memuji dan berzikir.

Nilai-nilai luhur yang terdapat dalam penjelasan di atas adalah :

  1. Untuk menjaga kondisi tubuh yang selalu sehat, dalam mengkonsumsi makanan dan minuman harus beraturan dan tidak berlebih-lebihan. Apabila seseorang berada dalam keadaan kekenyangan, produktivitas kerja akan menurun, sehingga hasil yang akan diperoleh juga menurun.
  2. Ketika seseorang dihinggapi suatu penyakit, ia wajib berusaha untuk mengobati penyakit itu, karena setiap penyakit pasti ada obatnya. Dalam mengobati suatu penyakit harus diketahui dahulu apa penyebabnya, kemudian baru diobati dengan zat atau unsur yang sifatnya berlawanan dengan penyebab penyakit itu.
  3. Tabiat dan umur seseorang mencerminkan watak dan kepribadiannya. Hal ini perlu diketahui agar dalam bergaul kita bisa membawa diri dengan cara menyesuaikannya dengan umur dan tabiat seseorang.
  4. Seorang muslim yang shaleh, selain berusaha untuk mengobati penyakit-penyakit lahir ia juga akan berusaha untuk mengobati penyakit batin yang bersarang dalam hatinya dengan cara mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena penyakit batin itu sama ganasnya dengan penyakit lahir yang selalu menggerogoti iman seseorang
  1. D. TAMBEH IV

Kita wajib bersyukur kepada Allah SWT yang telah menciptakan manusia dengan rupa dan bentuk yang sebagus-bagusnya. Sebagai makhluk, setiap insan yang hidup di dunia ini seharusnya senantiasa melakukan amar makruf, meninggalkan yang mungkar serta memerangi hawa nafsu, karena itulah tanda-tanda orang yang bertaqwa.

Dalam Tambeh Keempat diterangkan tentang delapan sifat yang harus dimiliki oleh seorang muslim yang taat. Kedelapan sifat itu ialah :

  1. Beramal Shaleh

Amal shaleh ialah satu-satunya sahabat setia bagi setiap insan yang menemaninya sampai ke dalam kubur. Sahabat-sahabat yang lain ada yang mau mengunjungi kita ada juga yang tidak, baik itu ketika kita masih hidup maupun ketika kita mati. Ada yang hanya mengantar sampai ke kubur dan ada juga yang mau mendoakan agar kita tenteram di dalam kubur.

  1. Mengendalikan hawa nafsu

Siapa saja yang takut akan ‘maqam’ Tuhan dan berusaha mengendalikan hawa nafsunya, kelak ia akan mendapatkan surga sebagai balasannya.

  1. Tidak loba terhadap harta

Benda apapun yang kita miliki, itu hanya titipan Allah yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali, jadi hanya bersifat sementara dan tidak kekal adanya. Dengan harta itu kita diperintahkan untuk menyantuni fakir miskin, sehingga sebagai balasannya kita akan mendapatkan pahala yang setimpal dari Allah SWT.

  1. Taqwa

Kemuliaan seseorang diminta Allah SWT tidak ditentukan oleh pangkat dan jabatannya, melainkan oleh tingkat ketaqwaannya. Hal ini sesuai dengan firman-Nya : Inna akramakum ‘indallahi atqaakuum. Artinya : Sesungguhnya orang paling mulia disisi Allah ialah orang taqwa.

  1. Ridha

Kehidupan di dunia ini ada yang kaya ada yang miskin, ada yang mulia dan ada pula yang hina, janganlah dengki dan iri terhadap kekayaan dan kemuliaan yang dimiliki oleh orang lain, sebab semua itu adalah romantika (suka duka) kehidupan di dunia.

  1. Memusuhi syaitan

Setiap muslim diperintahkan oleh Allah SWT untuk memerangi syaitan. Tidak pantas bermusuhan selain dengan syaitan, sebab syaitan adalah musuh yang nyata bagi manusia.

  1. Rezeki

Tiap-tiap makhluk hidup di dunia ini rezekinya telah dijamin oleh Allah SWT, tetapi tentu saja ia harus berusaha sambil beribadah kepada-Nya. Kadangkala ada orang yang mencari rezeki tidak mengenal waktu, tidak memperhatikan mana yang halal dan mana yang haram, semuanya sudah bercampur aduk. Seharusnya dalam mencari rezeki jangan sampai terjerumus kedalam perbuatan shubhat.

  1. Tawakkal

Sebagai manusia hatinya cenderung kepada cemas, ada yang cenderung kepada banyak harta, suka kemuliaan serta ada yang teguh pendiriannya walaupun dipengaruhi orang lain. Untuk mengantisipasi semua itu diperlukan sikap tawakkal terhadap ketentuan yang telah ditetapkan-Nya.

Allah SWT menciptakan anggota tubuh manusia itu agar dipergunakan pada jalan kebajikan dan bukan pada jalan yang dilarang-Nya. Adapun anggota tubuh itu ialah :

a) Mata

Tuhan menciptakan mata manusia dengan tujuan :

-  saling mengenal antar sesama

-  melihat ayat-ayat Allah

-  melihat nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah

Mata dilarang dipergunakan untuk melihat hal-hal dan benda-benda yang diharamkanNya.

b)      Telinga

Allah menciptakan telinga agar digunakan untuk :

-  mendengar Al Qur’;an

-  mendengar sabda Nabi

-  mendengar nasehat para wali

Telinga dilarang dipergunakan untuk :

-    mendengar perkataan yang sia-sia

- mendengar orang mengumpat. Siapa saja yang             mendengar orang mengumpat dosanya sama seperti mengumpat.

c)       Lidah

Lidah diciptakan dengan tujuan :

- berzikir kepada Allah

- membaca Al Qur’an

- bershalawat kepada Nabi

- menyampaikan amar makruf nahi mungkar

Lidah bukan diciptakan untuk :

- memaki-maki orang lain

- mengumpat orang lain

Pada lidah terdapat delapan macam kejahatan yaitu mengumpat, menipu, ingkar janji, berkelahi, mencerca, memuji diri sendiri, memaki, dan yang terakhir adalah bersenda gurau.

d)      Tangan

Allah menciptakan tangan agar digunakan untuk :

-          menghormati orang lain:

-          melayani ayah, bunda dan guru

Tangan dilarang digunakan untuk:

-          membunuh sesama muslim

-          memakan makanan yang haram

e)       Kaki

Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan kaki manusia agar dipergunakan untuk pergi ke mesjid dan ke tempat-tempat kebajikan lainnya.

f)        Faraj

Faraj-zakar diciptakan bagi perempuan dan laki-laki agar manusia dapat berkembang biak dalam ikatan suatu perkawinan, bukan diciptakan untuk melakukan perbuatan zina dan liwath.

Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Tambeh Keempat ialah bahwa:

a)       Hidup harus selalu dihiasi dengan amal shaleh karena amal shaleh adalah sahabat yang akan menolong kehidupan seseorang di hari akhirat nanti. Para sahabat dan handai taulan yang lain hanya bisa menolong selama kita masih hidup di dunia atau paling jauh mereka hanya dapat menghantarkan jasad kita sampai ke liang lahat. Setelah itu putus sudah pertolongan mereka, tinggallah amal dalam dekapan.

b)      Kehidupan senantiasa harus dijalani dengan berpegang kepada ketetapan Allah SWT, dimana seseorang bisa saja hidupnya bergelimang harta, megah dan mulia atau miskin, hina dan dina, semua itu hendaklah diterima dengan hati yang lapang tanpa rasa iri hati dan menghujat kepada Allah SWT serta tidak melakukan hal-hal yang dilarang-Nya.

c)       Allah SWT menciptakan manusia dengan rupa yang sebaik-baiknya, dengan tata letak anggota tubuh yang sedemikian rupa sehingga dapat dipergunakan dan berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Akan tetapi semua anggota tubuh itu diperintahkan untuk dipergunakan pada jalan-jalan yang diridhai oleh Allah bukan sebaliknya digunakan untuk hal-hal yang dilarang-Nya.

d)      Apabila setiap muslim memagari diri dari rongrongan syaitan yang selalu mencari-cari kesempatan untuk mencelakakan setiap orang dengan berbagai cara, maka kehidupan di dunia ini senantiasa akan penuh kedamaian.

  1. E. TAMBEH V

Siapa saja yang mempunyai banyak harta atau ditakdirkan kaya, hendaklah dia itu tidak kikir, sebab sifat kikir ialah sifat yang dibenci Tuhan. Allah SWT sangat mencintai orang-orang yang murah tangan dan berhati ikhlas, dan akan memberikan surga sebagai balasannya kepada mereka sebaliknya bagi orang-orang yang kikir akan mendapatkan neraka sebagai balasannya.

Pada dasarnya kekayaan yang dimiliki seseorang adalah titipan atau amanah dari Allah SWT. Harta itu tidak kekal sifatnya, Allah kapan saja bisa mengambil kembali dan memberikannya siapa saja yang dikehendakiNya. Oleh karena itu, selagi punya harta hendaklah banyak bersedekah kepada orang yang memerlukan serta menabung amal dengan harta itu, sebab sesungguhnya harta kita yang sebenarnya ialah harta yang telah kita sedekahkan kepada orang lain, yang menolong kita nanti di akhirat. Harta yang masih berada di tangan kita belum tentu akan tetap menjadi milik kita, apalagi jika ajal menjelang tinggallah semua harta itu di dunia yang mungkin saja akan jadi rebutan diantara ahli waris.

Kikir merupakan salah satu penyakit batin yang bisa menghinggapi siapa saja. Orang kikir selalu saja ketakutan akan kehilangan atau kekurangan hartanya. Orang seperti itu hidupnya selalu resah dan tidak pernah tenteram karena dibayangi oleh hal-hal yang memungkinkan dia kehilangan hartanya. Dengan demikian pada orang kikir itu syaitan lebih mudah merasuk dan menggodanya, sehingga dia terlupa akan kedudukannya sebagai makhluk yang senantiasa harus mengabdi kepada penciptanya.

Selain itu disebutkan juga macam-macam sifat terpuji diantaranya ialah:

  1. Sabar dan Tawakkal

Tatkala dilanda bencana dan musibah, seorang muslim harus selalu bertawakkal dan bersabar dengan menyerahkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

  1. Syukur dan Ikhlas

Sikap syukur harus dimiliki oleh seorang muslim, apalagi ketika mendapatkan anugerah dari Allah SWT. Kemudian rasa syukur itu harus diungkapkan dengan ikhlas, misalnya dengan cara menolong orang-orang yang tidak mampu.

  1. Pemaaf dan Tidak Pendendam

Jika orang lain mempunyai kesalahan terhadap kita, hendaklah kesalahan itu dimaafkan, jangan dibesar-besarkan dan jangan dendam kepadanya.

  1. Pemurah, adil dan Ihsan

Muslim yang tidak baik berusaha untuk bersikap pemurah terhadap orang lain yang membutuhkan bantuannya, adil dalam bertindak serta tidak pilih kasih, semua mendapat perlakuan yang sama, sementara beribadah semata-mata karena Allah SWT. Seolah-olah Allah SWT selalu mengawasinya.

  1. Qanaah dan Sakinah

Qanaah adalah salah satu sikap hati-hati dalam mencari nafkah agar tidak terjerumus kepada sikap tamak. Sedangkan Sakinah ialah hati selalu tetap dan teguh terhadap Yang Maha Kuasa.

  1. Halim, Malu dan Tawadhuk

Hati orang mukmin senantiasa penuh kasih (halim) terhadap orang lain, mempunyai rasa malu untuk melakukan perbuatan yang dilarang oleh syari’at dan selalu merendahkan diri.

  1. Mahasabah

Seorang muslim dalam rangka mempersiapkan bekal menghadapi Allah SWT. Setiap saat menghitung dan mengira amal dan dosa yang dikerjakannya, apakah lebih banyak dosa dari amal atau sebaliknya.

Nilai-nilai tradisional yang terkandung dari penjelasan di atas ialah :

1.  Muslim yang baik tidak bersifat kikir, sebab kikir adalah penyakit batin yang harus segera diatasi dengan sikap pemurah dan ikhlas terhadap sesama.

2.   Kekayaan yang dimiliki seseorang adalah amanah dari Allah SWT yang mesti dipergunakan sesuai dengan kehendakNya.

3.  Hidup di dunia mesti senantiasa dihiasi dengan akhlakul karimah, sehingga dapat dijadikan panutan bagi orang lain.

4.   Untuk memperkecil jurang pemisah antara si miskin dan si kaya. Allah SWT memerintahkan si kaya menyantuni para fakir miskin. Dengan demikian diharapkan akan tumbuh suatu hubungan yang saling menunjang di antara kedua pihak.

  1. F. TAMBEH VI

Menyalahi adat (tidak logis) itu ada tujuh macam, yaitu:

  1. Irhash

Irhash ialah kejadian luar biasa yang terjadi pada Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih kecil, misalnya; ketika perut Rasulullah itu dibelah oleh Malaikat Jibril AS untuk dibersihkan dengan air zam-zam. Kemudian batu memberi salam kepada Nabi, serta ketika pergi ke Negeri Syam, beliau selalu dinaungi oleh sebatang pohon kemana pun beliau duduk.

  1. Mukjizat

Misalnya turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW, membelah bulan saat purnama dan hijrah atau pindahnya Nabi dari Makkah ke Madinah. Jadi, mukjizat itu adalah kelebihan yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW waktu beliau sudah dewasa.

  1. Keramat

Menyalahi adat kebiasaan yang terdapat pada para wali disebut Keramat. Adapun ciri-ciri seorang wali sangat sulit ditentukan apa lagi di zaman seperti sekarang ini. Wali adalah orang yang sangat taat kepada Allah SWT, selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat keduniawian. Kemudian dari pada itu menyalahi adat yang terdapat pada para sahabat juga keramat. Kedudukan para sahabat lebih tinggi dari kedudukan para wali, seperti halnya kedudukan Nabi dengan para sahabat.

  1. Ma’unah

Martabat yang shaleh, kelebihan yang dimilikinya disebut Ma’unah. Ma’unah artinya pertolongan Allah SWT yang diberikan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Misalnya bebas dari rantai dan tipu daya musuh.

  1. Istidraj

Menyalahi adat dalam artian negatif seperti halnya yang terdapat pada Dajjal disebut istidraj. Contoh dari Istidraj adalah sihir. Penyihir itu mengaku dirinya Tuhan, siapa saja yang tidak mau mengakuinya maka akan disiksa dengan segala cara. Dia akan menyebar ke setiap negeri kecuali Makkah dan Madinah.

  1. Ihanat

Menyalahi adat yang terdapat pada muslimat pembohong dinamakan Ihanat. Ihanat berarti kehinaan, dia adalah seorang pembual yang mengaku bisa melakukan hal-hal yang orang lain tidak bisa lakukan serta dapat melakukan seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

  1. Syaa’uzat

Syaa’uzat ialah menyalahi adat yang terdapat pada “Si Tambir”. Perbuatan ini mirip dengan sulap, di sini yang terjadi sebenarnya adalah ”tipuan” pada mata kita.

Menyalahi adat yang disebut dengan Istidraj, Ihanat, Sya’uuzat pada dasarnya adalah perbuatan orang-orang yang ingin menyamai kelebihan-kelebihan yang terdapat pada orang shaleh dan para wali. Mereka enggan mengakui kebesaran Allah SWT yang diperlihatkan melalui hambaNya, sehingga mereka berusaha untuk menarik simpati orang lain dengan berbagai cara dan menghalalkan segala cara agar tujuannya tercapai.

Kemudian mereka juga termasuk orang-orang yang cemburu dan iri terhadap kelebihan dan kemuliaan orang lain, sehingga untuk melampiaskan rasa itu dia membual dengan mengakui bahwa dia juga bisa seperti itu. Walaupun kenyataannya tidaklah demikian, dan mereka memandang remeh terhadap kelebihan-kelebihan yang dimiliki orang lain dengan memperlihatkan  kesaktiannya dalam melakukan sesuatu, walaupun hal itu bertentangan dengan akidah.

Sebenarnya hal seperti itu tidak akan terjadi jika iman seseorang telah begitu kuat. Dia akan melihat kelebihan yang dimiliki orang lain itu ialah tanda-tanda kekuasaan Allah SWT yang memperlihatkan hamba-Nya yang bertaqwa, sehingga tidak akan ada yang namanya cemburu, iri dan lain sebagainya yang termasuk penyakit batin.

Orang-orang yang termasuk ke dalam golongan istidraj, ihanat dan sya’uuzat adalah orang yang telah mempersekutukan Tuhan dengan setan laknatullah, padahal seperti yang telah difirmankan Allah SWT bahwa setan itu ialah musuh yang nyata bagi umat manusia.

Untuk mengikis rasa cemburu dan iri itu hanyalah dengan cara mendekatkan diri kepada Allah SWT, tawakkal, sabar serta tawaddhuk, sebab kehidupan umat manusia di dunia ini beraneka ragam. Ada yang kaya ada yang papa, ada yang mulia dan ada pula yang hina. Dengan demikian hati seseorang akan senantiasa damai dengan mensyukuri segala apa yang telah di anugerahkan Allah SWT kepadanya, apakah itu senang atau susah, apakah miskin atau kaya, karena semua itu ialah ujian dari Allah SWT untuk mengukur iman dan ketaqwaan kita kepadaNya.

Nilai-nilai tradisional yang terdapat dalam uraian di atas adalah :

  1. Sikap egois yang menyebabkan manusia melakukan apa saja untuk menunjukkan kehebatannya ialah sikap yang tidak terpuji. Oleh karena itu sikap tersebut harus dihilangkan.
  2. Allah SWT sangat benci pada orang mempercayai dan mengikuti ajaran-ajaran  para dajjal dan kaum musyrik, padahal tujuan mereka adalah hanya untuk mencelakakan umat manusia.
  3. Agama Islam sangat melarang umatnya percaya kepada ilmu sihir, karena perbuatan itu adalah menyekutukan Tuhan. Dewasa ini manusia untuk menyaingi orang lain sering menggunakan cara-cara yang dilarang Allah SWT, seperti ilmu sihir itu. Seiring dengan semakin berkembangnya peradaban dan ilmu pengetahuan, manusia sering melupakan ajaran-ajaran luhur agamanya, sehingga untuk mencapai suatu tujuan mereka menggunakan jalan pintas, misalnya dengan menggunakan dukun dan cara-cara lain yang tidak rasional.
  4. Orang-orang termasuk golongan istidraj, ihanat dan sya’uuzat ialah mereka yang tidak dapat menerima kenyataan bahwa di dunia ini ada orang yang hidupnya beruntung dan ada pula yang tidak beruntung, semua sudah digariskan oleh takdir. Manusia hanya berusaha dan berdoa, selanjutnya bertawakkal kepada keputusan yang akan diberikan oleh Allah SWT tanpa dihinggapi oleh rasa putus asa dari nikmatNya.
  1. G. TAMBEH VII

Hidup di dunia hanyalah sementara, setiap orang akan menghadapi kematian. Faedah mengingat mati itu banyak sekali sehingga menyebabkan kita takut kepada Tuhan. Setiap muslim wajib percaya bahwa semua manusia itu akan mati. Kematian itu diibaratkan bagaikan pintu, setiap orang pasti akan melaluinya.

Bahaya akhirat yang pertama sekali ialah sekarat, yaitu penderitaan manusia ketika nyawanya dicabut. Orang sekarat itu kelihatannya sangat tersiksa, ketika itu tak seorang pun dapat membantunya kecuali Allah SWT yang menolongnya. Waktu seseorang sedang sekarat, iblis dan syaitan berlomba-lomba untuk menjerumuskan manusia menjadi kafir. Apabila kita bisa selamat dari godaan keduanya maka kita termasuk orang yang berbahagia. Tetapi jika kita mengikuti ajaran iblis dan setan, sia-sialah semua amal ibadah selama di dunia.

Setelah nyawa lepas dari badan seterusnya dimandikan, dikafani dan disembahyangkan, kemudian di bawa ke liang kubur. Setelah kuburan ditimbun, malaikat segera datang untuk memeriksa kita. Dengan suaranya yang menggelegar bak halilintar, matanya merah dan tubuhnya hitam legam, melihatnya saja sudah membuat kita begitu ketakutan apabila dipukul olehnya. Malaikat itu datang untuk menanyakan siapa Tuhan kita, siapa Nabi kita, apa agama kita dan kemana kiblat kita serta siapa iman kita.

Adapun orang yang tidak akan ditanyai ketika didalam kuburan itu ada tujuh golongan yaitu :

  1. Orang mati syahid
  2. Orang muraabath
  3. Orang mati karena wabah kolera
  4. Orang shadiq
  5. Anak-anak
  6. Orang yang meninggal pada hari jum’at
  7. Orang yang selalu membaca surat Tabaraka (Al-Mulk) dan surat Sajjadah setiap malam selama hidupnya.

Azab kubur semua umat manusia mengalaminya, baik dia kafir maupun Islam. Orang kafir lebih lama diazab di sana dibandingkan dengan orang mukmin, bagi orang banyak dosa terasa begitu lama berada dalam alam kubur sebaliknya bagi orang yang banyak amalnya terasa hanya sekejap saja.

Selain azab kubur juga disebutkan nikmat kubur diantaranya ialah :

-          kuburnya luas

-          tidak gelap di dalamnya karena ada pelita

-          dibuka tingkap ke arah surga

Setelah itu semua manusia dibangkitkan kembali ketika ditiupkan sangkakala. Manusia yang pertama sekali dibangkitkan oleh Allah SWT adalah Nabi Muhammad SAW. Pada hari itu manusia dibangkitkan dengan mengendarai kendaraannya masing-masing sesuai dengan amal perbuatannya selama di dunia. Kemudian semua manusia di bawa ke padang Mahsyar untuk dihisap segala amalannya. Lamanya di padang Mahsyar itu adalah tujuh puluh ribu tahun hisap adanya. Hikmah dihisap oleh Allah SWT itu agar kita ingat akan semua amal selama di dunia. Di sana akan terlihat siapa yang beruntung atau laba dan siapa yang buntung lagi hina.

Amal semua insan ditimbang di padang Mahsyar, kecuali orang sabar yang langsung diterima pahalanya. Pada Yaumul hisab amal shaleh diwujudkan dalam rupa yang sangat cantik dan bercahaya.

Neraca penimbang amal di akhirat terdiri dari dua sisi, yaitu  sisi kanan yang berisi nur (cahaya) dan sisi kiri yang gelap gulita. Misalnya di dunia orang  yang banyak amal shaleh  akan ditempatkan dalam kemuliaan, sementara yang banyak dosa ditempatkan di penjara. Timbangan di hari kemudian dikatakan terletak diantara surga dan neraka.

Sesudah penimbangan amal dilakukan, dilanjutkan dengan berjalan di atas titi. Titian di yaumil akhir itu sangat halus dan sangat panjang. Menurut cerita panjang titi itu adalah tiga ribu tahun perjalanan. Mendaki dan datar dua ribu tahun serta menurun seribu tahun lamanya. Di atasnya terdapat dua jalan, sebelah kanan dan sebelah kiri. Orang yang mendapat  ‘tuah’ dari Tuhan akan memilih jalan yang sebelah kanan sedangkan orang kafir akan memilih jalan yang ke kiri. Manusia yang pertama kali melalui titi itu ialah Nabi Muhammad SAW beserta semua umatnya, disusul kemudian berturut-turut oleh Maryam dengan ‘Isa, Nabi Musa dengan umatnya dan Nabi Nuh beserta umatnya. Walaupun titi itu sangat halus, mereka-mereka yang beramal shaleh dapat juga melewatinya.

Kecepatan dan kemampuan melewati titi berbeda-beda setiap manusia. Ada yang cepat seperti kilat, ada yang seperti angin, seperti burung terbang, setangkas kuda, bagaikan semut berjalan dan ada juga yang tidak kuasa melewatinya, jatuh ke dalam neraka. Mereka yang selamat melewati titian akan mendapatkan surga sebagai tempat kediamannya. Nabi Muhammad SAW beserta umatnya diberikan penghormatan oleh Allah SWT untuk memasuki surga terlebih dahulu, baru kemudian disusul oleh yang lain. Nikmat yang terdapat di surga tidak pernah terlihat, tidak terdengar dan tidak pernah terbayangkan selama kehidupan di dunia.

Nilai-nilai tradisional yang terkandung dari penjelasan di atas ialah :

  1. Manusia dalam menjalani kehidupan ini harus senantiasa mengingat mati. Dengan demikian akan menyebabkan kita mengintrospeksi diri, mengevaluasi apa saja yang telah dilakukan selama ini untuk bekal di hari akhirat.
  2. Selalu beramal shaleh.

Amal shaleh akan menolong manusia menghadapi kematian (sakaratul maut), azab kubur sampai dengan melintasi titian antara surga dan neraka yang tidak pernah luput dari cobaan, ujian dan siksaan.

  1. Percaya kepada hari pembalasan. Setiap umat manusia wajib percaya dan ber’itikad akan adanya hari pembalasan, pada hari itu semua amal dan perbuatan akan diperhitungkan oleh Allah SWT.

BAB V

RELEVANSI DAN PERANAN NASKAH DALAM PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN

KEBUDAYAAN NASIONAL

Kebudayaan adalah keseluruhan dari ajaran yang diamalkan suatu bangsa untuk mempertahankan hidupnya baik berupa ilmu pengetahuan, kecakapan, peralatan, adat kebiasaan dan perasaan yang diwariskan turun temurun dan berlangsung dalam jangka waktu tertentu.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar terdiri dari bermacam-macam suku dan mendiami berbagai daerah dengan kondisi lingkungannya yang berbeda-beda. Berkaitan dengan adanya berbagai lingkungan, menyebabkan kebudayaan masing-masing daerah / suku mempunyai sifat dan ciri khas tersendiri, yang menunjukan jati dirinya sebagai manusia atau suku bangsa dalam menghadapi realitas sosialnya. Dengan demikian kebudayaan daerah mempunyai arti penting dalam memperkaya kebudayaan nasional yang bercorak Bhinneka Tunggal Ika serta untuk mengenal lebih mendalam nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh suatu suku bangsa ( Rusdi Sufi, 1997 : 4 ).

Kebudayaan tradisional merupakan asset kekayaan nasional yang dapat digali dan diterapkan kembali dalam kehidupan berbagai bangsa untuk mewujudkan manusia yang mengamalkan nilai-nilai budaya yang luhur, beradab dan bermartabat serta menyerap nilai-nilai budaya asing yang positif untuk memperkaya khazanah kebudayaan nasional   ( Geertz, 1981 : 1 ).

Propinsi Daerah Istimewa Aceh banyak mewarisi karya-karya sastra bernilai tinggi yang merupakan warisan budaya bangsa sebagai bagian dari kebudayaan daerah. Salah satu karya sastra itu adalah Tambeh disamping hikayat dan nadlam. Tambeh dalam masyarakat Aceh merupakan salah satu sarana atau media untuk menyampaikan berbagai peringatan-peringatan kepada umat manusia terutama yang menyangkut ilmu agama, pendidikan dan nasehat.

Dalam bidang kesehatan, masyarakat Aceh sejak zaman dahulu telah mengenal dasar-dasar ilmu kesehatan dan kedokteran yang berupa pengobatan secara tradisional dengan memanfaatkan ramuan-ramuan dari tanaman-tanaman yang tersedia di lingkungannya. Mereka meramu berbagai macam campuran tanaman obat tersebut untuk mengobati bermacam penyakit luar maupun penyakit dalam, baik untuk mereka sendiri maupun untuk orang lain yang membutuhkannya. Ramuan itu kebanyakan direbus dan diminum airnya, tetapi ada pula yang dibuat berupa majun (Ismail Aceh, 1938).

Dewasa ini masyarakat telah bosan dengan segala yang bersifat instant, mereka lebih cenderung menkonsumsi segala sesuatu yang bersifat alami atau istilahnya “ kembali ke alam “ (back to nature), seiring dengan itu pengobatan secara tradisional pun sudah mulai dilirik orang lagi sebagai pengobatan alternatif. Hal ini berkaitan dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh obat tradisional dibandingkan dengan obat paten, diantaranya adalah bahannya mudah didapat terutama bagi mereka yang tinggal di daerah pedesaan, harganya murah dan dapat dijangkau oleh segenap lapisan masyarakat, efektif dan tidak mempunyai efek samping yang merugikan (aman) bagi sipemakainya (Hembing, 1996 : iii).

Adapun relevansinya dan peranan Tambeh Tujoh dalam pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional adalah sebagai berikut :

  1. Berbakti kepada kedua orang tua adalah kewajiban seorang anak, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT. Anak yang durhaka kepada ayah bunda akan mendapatkan kutukan dari Allah SWT, sebab ridhanya Allah ialah ridhanya orang tua dan murkanya Allah ialah murkanya orang tua. Ibu bapa dalam tuntunan dan ajaran masyarakat Aceh tempo dulu mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dan mulia. Pada zaman dahulu apabila ayah dan bunda melewati anaknya yang sedang duduk, si anak segera bangun untuk menghormati keduanya. Sebaliknya jika ibu dan bapak sedang duduk di suatu tempat, anak-anaknya tidak akan melintas dan lalulalang di depan mereka. Berbeda halnya dengan masa sekarang, nilai-nilai etika itu jarang terdengar lagi dalam kehidupan masyarakat.
  2. Sikap menghormati guru merupakan perwujudan dari penghargaan yang tulus dan ikhlas atas didikan dan ilmu yang telah diberikan kepada murid. Guru (termasuk ustadz atau teungku) merupakan pelita bagi para siswa dalam menjalani roda kehidupan. Kesuksesan seorang murid sangat ditentukan oleh keberadaan guru yang telah berusaha memberikan segala kemampuannya untuk mendidik dan mengajari para murid. Citra murid semakin baik di mata masyarakat apabila ia mempunyai guru yang berdedikasi tinggi terhadap profesi serta memiliki kepribadian yang disenangi orang lain. Dengan demikian, citra guru dan citra murid saling mempengaruhi satu sama lain.
  3. Melakukan segala sesuatu janganlah semata-mata untuk kepentingan dunia melainkan juga untuk kepentingan akhirat. Akan tetapi tidak terdapat batas yang jelas antara perbuatan dunia dan akhirat. Semua perbuatan yang dikerjakan setiap insan sangat tergantung dari niat. Jika yang dikerjakan perbuatan dunia tetapi niatnya untuk kepentingan akhirat, maka tergolong perbuatan akhirat. Sebaliknya apabila perbuatan akhirat yang dilakukan sedangkan niatnya untuk kepentingan dunia, hal itu termasuk perbuatan dunia. Dengan demikian dalam melakukan sesuatu semata-mata mencari keridhaan Allah SWT.
  4. Menikah itu ialah separuh dari agama dan setengah lagi dari taubat. Dekadensi moral yang terjadi dewasa ini baik dikalangan kaum wanita maupun kaum pria membuat orang ragu-ragu untuk kawin. Akan tetapi sebagai makhluk hidup, manusia mempunyai kebuTuhan biologis disamping kebuTuhan-kebuTuhan yang lain. Adakalanya untuk memenuhi kebuTuhan biologis manusia cenderung melakukan perbuatan zina, seperti pergaulan sek yang bebas, kumpul kebo dan sebagainya. Allah SWT tidak mau menjadikan manusia itu seperti makhluk yang lainnya, yang hidup bebas mengikuti nalurinya dan berhubungan seksual secara tidak beraturan. Tetapi demi menjaga kehormatan dan martabat kemulian manusia Allah memerintahkan manusia untuk kawin. Dengan kawin jiwa menjadi tenang, mata terpelihara dari melihat yang haram dan perasaan tenteram dari keinginan untuk berbuat zina.
  5. Kesabaran merupakan ujung tombak bagi kelanggengan sebuah perkawinan. Perkawinan merupakan penyatuan dua individu yang berbeda watak maupun latar belakangnya. Perbedaan itu sering memicu permasalahan dan perselisihan bahkan menyebabkan keretakan rumah tangga. Suami isteri saling menyakiti dan saling bermusuhan, karena satu sama lain merasa benar. Untuk mengantisipasi hal itu tidak perlu dicari siapa yang salah dalam permasalahan tersebut, sebab dikhawatirkan bukan titik temu yang diperoleh, melainkan perasaan yang semakin terluka diantara mereka berdua. Dalam memandang dan menilai prilaku isteri maupun suami, masing-masing harus melihat sisi-sisi positif disamping sisi-sisi negatif, sebab sejahat-jahatnya perangai orang itu pasti ada sifatnya yang positif. Sabar merupakan sikap yang sangat bijaksana dalam menghadapi setiap persoalan rumah tangga, sehingga keuTuhan perkawinan itu dapat dipertahankan demi kepentingan anak-anak sebagai buah cinta kasih suami istri.
  6. Pada umumnya masyarakat sekarang menganggap ilmu firasat hanya dimiliki oleh bangsa Cina, sebab banyaknya buku mengenai ilmu firasat mereka yang diterbitkan disamping terus terpeliharanya ilmu itu secara turun temurun. Kenyataannya ilmu firasat telah berkembang sekian lama dalam masyarakat Aceh, setiap anggota tubuh memiliki karakter sendiri-sendiri. Tanpa disadari karakter tersebut terpancar dari bentuk masing-masing anggota tubuh. Bahkan hingga kini, ilmu firasat itu bisa dimanfaatkan untuk kehidupan dunia modern sekarang.
  7. Dalam naskah Tambeh Tujoh juga diceritakan tentang ilmu tasyrih atau anatomi tubuh manusia. Ilmu tasyrik sangat berguna dalam bidang kedokteran, terutama untuk mendiagnosa dan mengobati penderita penyakit-penyakit dalam. Seiring dengan semakin pesatnya kemajuan di bidang kedokteran, penyakit-penyakit yang terdapat pada bagian dalam tubuh manusia dapat dideteksi dengan menggunakan alat-alat teknologi canggih, sehingga memudahkan para dokter untuk menjalani tugasnya.
  8. Makan dan minum yang berlebihan merupakan sumber utama penyakit. Kesehatan adalah barang yang mahal harganya dan tidak semua orang mendapatkannya. Dalam dunia kesehatan dikenal istilah ‘lebih baik mencegah daripada mengobati’. Artinya kesehatan itu harus dijaga dan dipelihara, agar terhindar dari gerogotan penyakit. Demi kepentingan kesehatan tubuh, mengkonsumsi makanan dan minuman tidak boleh berlebih-lebihan, akan tetapi sesuai dengan kadar atau jumlah kalori yang dibutuhkan tubuh. Makan dan minum yang berlebihan akan memberikan dampak yang negatif bagi tubuh, diantaranya adalah nafas megap-megap, malas beribadah dan watak menjadi egois, obesitas (kegemukan) yang dewasa ini sangat ditakuti orang serta berbagai macam penyakit lainnya yang berkaitan dengan makanan dan minuman.
  9. Tabiat dan umur seseorang mencerminkan watak dan kepribadiannya. Emosi, tabiat dan cara berpikir anak-anak berbeda dengan pemuda dan orang dewasa, hal itu perlu diperhatikan dalam pergaulan agar masing-masing bisa membawa diri sehingga tercipta hubungan yang baik dan harmonis antara ketiga golongan itu.
  10. Hidup di zaman globalisasi dan informasi menyebabkan manusia menjadi makhluk yang konsumtif. Mereka berlomba-lomba untuk memiliki barang-barang mahal dan mewah, apalagi bagi yang tinggal di komplek perumahan. Persaingan yang terjadi kadangkala membuat orang stres bahkan cenderung melakukan perbuatan tercela. Krisis iman menyebabkan mereka kehilangan pegangan hidup, perasaan dan jiwa tidak pernah tenteram. Padahal orang hidup itu bisa saja bergelimang kekayaan dan kemuliaan atau dililit kemiskinan, hina dan dina. Akan tetapi jika semua itu diterima dengan hati lapang tanpa iri hati dan dengki, maka hidupnya akan tenteram.
  11. Kecemburuan sosial adalah “penyakit masyarakat” yang sukar disembuhkan. Kikir merupakan salah satu penyakit batin yang dapat menghinggapi siapa saja dan juga sangat dibenci Allah. Seperti kita ketahui, sudah merupakan ketetapan Allah di dunia ini terdapat orang kaya dan orang miskin. Untuk memperkecil kesenjangan ekonomi dan jurang pemisah antara si miskin dan si kaya, Allah SWT memerintahkan si kaya menyantuni fakir dan miskin, sehingga kecemburuan sosial yang timbul di antara kedua golongan itu dapat dihindarkan. Aksi penjarahan yang dilakukan (contohnya: tragedi 13-14 Mei 1998 di Jakarta-Penulis) sekelompok orang akhir-akhir ini mungkin tidak akan terjadi seandainya si kaya “sedikit” lebih memperhatikan masyarakat disekitarnya. Penjarahan itu merupakan salah satu perwujudan dari sikap tidak puas terhadap keberadaan si kaya yang tidak peduli terhadap kehidupan dan keadaan mereka.
  12. Sifat-sifat terpuji atau akhlakul karimah, juga merupakan salah satu pesan dalam Tambeh ini. Insan yang mempunyai akhlak terpuji, hidupnya akan tenteram, damai dan bahagia dunia akhirat. Tidak pernah stres dan putus asa tatkala bencana dan musibah melanda dan bersyukur ketika mendapat rahmat-Nya serta melakoni hidup dengan penuh tawakkal kepada Ilahi Rabbi.
  13. Menyekutukan Tuhan merupakan salah satu dosa besar. Di zaman modern ini disadari maupun tidak manusia banyak melupakan ajaran-ajaran luhur agamanya, sehingga untuk menyaingi manusia lain sering menggunakan cara-cara yang tidak rasional dan dilarang Allah. Misalnya dengan menggunakan ilmu hitam (sihir) dan memuja syaitan serta arwah orang mati. Allah SWT sangat benci pada orang yang mengikuti ajaran-ajaran para dajjal dan kaum musyrik yang sudah jelas tujuannya hanyalah untuk mencelakakan umat manusia.
  14. Pada bagian lain Tambeh Tujoh menjelaskan tentang faedah mengingat mati. Setiap manusia tua, muda, cepat atau lambat pasti akan mengalaminya. Dengan mengingat mati manusia menjadi takut kepada Allah, mempertimbangkan apakah yang dilakukannya diridhai Allah atau tidak, mengintrospeksi diri dan membandingkan antara dosa dan amal yang telah dikerjakan, sebab semua perbuatannya akan diminta pertanggungjawaban kelak.
  15. Percaya kepada hari akhirat merupakan salah satu rukun iman. Pada hari itu semua manusia tanpa membedakan bangsa, agama, dan ras akan dihisab serta diminta pertanggungjawaban terhadap semua yang telah dikerjakan selama di dunia. Konsekwensinya dari percaya kepada hari akhirat menyebabkan manusia menyadari, hidup di dunia adalah sementara, hanya untuk mengumpulkan bekal berupa amal shaleh bagi kehidupan yang abadi di hari akhirat kelak.
  16. Usia saat menikah mempunyai peranan yang sangat besar dalam perkawinan. Orang tua atau wali yang memiliki putra maupun putri perlu memperhatikan umur mereka apabila hendak menikahkannya. Usia yang terlalu muda dikuatirkan rumah tangga mereka sering terjadi kemelut, karena masing-masing belum matang kepribadiannya sementara kawin pada usia terlalu tua, anak kurang mendapatkan kasih sayang orang tuanya yang telah dhaif, sedangkan anak-anak masih kecil. Perbedaan umur yang sangat jauh antara orang tua dan anak menyebabkan pandangan dan pemikiran mereka juga berbeda sehingga sangat sulit untuk terjalin hubungan yang harmonis dalam keluarga. Usia yang ideal untuk menikah bagi pria adalah 25 tahun dan bagi wanita ialah 20 tahun. Pada usia itu mereka telah cukup dewasa untuk membentuk sebuah rumah tangga dan mempunyai cukup waktu untuk mendidik anak-anak kelak sampai si anak cukup dewasa.
  17. Pengobatan dengan menggunakan bahan-bahan yang terdiri dari berbagai macam ramuan telah dikenal masyarakat Aceh sejak zaman dahulu yang sekarang dikenal dengan pengobatan tradisional. Sementara obat-obat paten baru dua abad yang lalu dikenal oleh masyarakat luas. Dewasa ini orang telah mulai beralih perhatiannya kepada obat-obat tradisional karena selain bahannya mudah di dapat, murah, ekonomis, efektif juga aman. Berbeda halnya dengan obat paten yang harganya relatif mahal juga mempunyai efek samping bagi si pemakainya.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil kajian terhadap Tambeh Tujoh, peneliti dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. Tambeh Tujoh merupakan karya sastra zaman dahulu yang berisikan ajaran-ajaran agama, pendidikan, etika (moral), kesehatan dan kedokteran. Ini menandakan keadaan kehidupan masyarakat Aceh pada masa lampau tidak hanya bergelut dengan ilmu agama, tetapi juga ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan segala aspek kehidupan.
  2. Dasar-dasar ilmu kedokteran dan kesehatan sudah dikenal dikalangan rakyat Aceh. Terbukti dari banyaknya terdapat ramuan-ramuan yang digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Masyarakat Aceh sudah tahu memanfaatkan sumber daya alam yang ada disekitarnya untuk kepentingan kesehatan. Sampai sekarang hal itu masih terus berlangsung terutama mereka yang hidup di pedesaan. Pengobatan dengan aneka macam ramuan dewasa ini dikenal dengan pengobatan tradisional, yang bahannya (obatnya) mudah didapat, efektif dan nyaman.
  3. Pentingnya menuntut ilmu merupakan salah satu pesan yang disampaikan dalam Tambeh Tujoh. Untuk menuju kebahagiaan dunia dapat dicapai dengan ilmu pengetahuan, dan untuk kebahagiaan akhirat juga dengan ilmu, demikian pula demi kebahagiaan dunia akhirat. Bertitik tolak dari hal itu di atas, menuntut ilmu janganlah hanya untuk kepentingan dunia semata, tetapi juga demi kepentingan akhirat.
  4. Disamping pentingnya menuntut ilmu, Tambeh Tujoh juga menjelaskan tentang tatakrama murid terhadap guru dan anak terhadap orang tua. Pada zaman modern ini, kadang-kadang seorang murid bukan saja kurang menghormati gurunya tetapi juga sering mengejek mereka. Demikian juga halnya dengan etika anak terhadap orang tua. Anak seringkali melawan orang tua, membuat perasaan ibu bapak terluka serta memandang sebelah mata kepada keduanya yang telah jompo. Untuk mengantisipasi masalah ini, Tambeh Tujoh telah memberikan tuntunan kepada kita agar menjadi murid dan anak yang dapat dibanggakan.
  5. Guna menghindari dari perbuatan zina, setiap orang yang sudah cukup umur dan mampu dianjurkan untuk menikah. Perkawinan merupakan pertemuan dua individu yang berbeda, karena kerap terjadi permasalahan diantara pasangan suami isteri. Kesabaran merupakan sikap yang paling bijaksana dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap persoalan rumah tangga, sehingga keuTuhan perkawinan dapat dipertahankan.
  6. Kecemburuan sosial yang terjadi di kalangan masyarakat dikarenakan adanya orang kaya dan orang miskin. Orang kaya jarang memperhatikan kondisi sosial ekonomi orang-orang miskin. Hal ini menimbulkan rasa iri dan dengki yang menimbulkan perbuatan-perbuatan yang merugikan orang kaya termasuk penjarahan yang dilakukan terhadap golongan yang ekonominya mapan. Demi menjembatani kesenjangan ekonomi tersebut, orang-orang tidak boleh kikir dan perlu membantu kehidupan orang-orang miskin yang terdapat dilingkungannya.

Setelah mengkaji, meneliti dan menganalisa seluruh isi naskah Tambeh Tujoh, maka berikut ini peneliti menyarankan kepada pihak-pihak yang terkait agar :

  1. Perlu memasukkan pengetahuan dan pemahaman pengobatan tradisional kedalam kurikulum fakultas kedokteran di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di tanah air. Alasannya, agar para alumnus fakultas kedokteran di masa mendatang juga memahami sepenuhnya sistem dan cara pengobatan tradisional, dengan harapan keakuratan obat tradisional dapat diyakini dalam kode etik kedokteran dalam negeri. Untuk menunjang kegiatan tersebut Departemen Kesehatan Republik Indonesia perlu membentuk Direktorat Obat dan Pengobatan Tradisional, agar ketersediaan dana untuk kepentingan penelitian tentang obat-obat tradisional dapat terjamin.
  2. Perlu lembaga khusus yang mengembangkan obat tradisional di Aceh, baik bagian dari Fakultas Kedokteran atau Farmasi. Lembaga ini diharapkan dapat melakukan uji klinik terhadap obat tradisional sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, kemudian bisa dikembangkan dan dimasyarakatkan pemakaiannya.
  3. Tambeh Tujoh berisikan ajaran-ajaran dan pengetahuan yang sangat berguna bagi setiap orang, karena itu perlu segera diterbitkan supaya dapat dijadikan tuntunan dalam kehidupan.
  4. Rendahnya minat para generasi muda terhadap kesusastraan Aceh, maka karya sastra itu perlu dikemas lagi dalam bentuk buku dengan bahasa yang sederhana kemudian diajarkan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi sebagai pelajaran muatan lokal.

DAFTAR PUSTAKA

Ameer Hamzah, Tandhimul Nasli, Banda Aceh : Kanwil BKKBN Propinsi Daerah Istimewa Aceh, 1995.

Baried, Siti Baroroh, dkk. Pengantar Teori Filologi, Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985.

Geertz, Hildred, Aneka Budaya dan Komunitas Di Indonesia, (terj.), Jakarta : Yayasan Ilmu-ilmu Sosialndan FIS – UI, 1981.

Haji Ismail Aceh, Tajul Muluk, Cetakan Arab Melayu, Mesir,1983.

Hembing Wijayakusuma, Hidup Sehat Cara Hembing, Buku I, Jakarta : PT. Elek Media Komputindo

Imran T. Abdullah, “Peranan Penulis-penulis Islam Dalam membentuk Kepribadian Ummah (Sebuah Studi Awal Dalam Sastra Aceh)”, dalam Seulawah Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas, (L.K, Ara, Ed), Jakarta : Yayasan Nusantara, 1995.

Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, Jakarta : Yayasan Penyelenggara Penterjemahan / penafsir Al Qur’an, 1973.

Marzuki Sabon, Bahaya Penyaket AIDS, Banda Aceh : Tanpa nama penerbit, 1994 Pease, Allan, , (terj.), Jakarta : Arcan, 1987.

Rusdi Sufi, “Budaya Daerah dan Jati Diri Bangsa”, Serambi Indonesia, 5 November 1997, halaman 4.

Syeh Rih Krueng Raya, Fitnah Bak Matuan, Banda Aceh : Tanpa nama penerbit, 1993.

, Ie Mata dalam Gurita, Banda Aceh : Tanpa nama penerbit, 1996.

T.A. Sakti, Hikayat Aulia Tujoh, (alih aksara), Banda Aceh : Tanpa nama penerbit, 1997.

, Bahasa Tubuh : Bagaimana Membaca Pikiran Seseorang melalui Gerak Isyarat; Hikayah Abunawah, (alih aksara), Banda Aceh : Tanpa nama penerbit, 1998.

, Resep Obat Orang Aceh, belum dipublikasikan Banda Aceh, 1998.

UU. Hamidy, “Anzib Lamnyong : Gudang Hasil Sastra Aceh”, Bulletin Yaperma,    No. 4 Tahun I Desember 1974, Jakarta : Yayasan Perpustakaan Nasional, 1974.

PENJELASAN ISTILAH DARI BAHASA ARAB

Tambeh =    nasehat/peringatan

Attaqsiimun                =    Pembagian

“Akli                          =    menurut akal

Syari’I                        =    hukum agama

Mu’allem                    =    teungku/ustaz

Kifayah                      =    kewajiban umum

‘Ainiyah                     =    kewajiban pribadi

Nasakh mansukh       =    hukum yang sudah dibatalkan

Lughat                       =    pengertian menurut bahasa

Taklid                        =    meniru tanpa mengerti

Bai’at                         =    janji setia

Teuleukin                   =    nasehat

Kawi                          =    kuat

Lawi                          =    lama

Meuraqabah               =    berzikir serius

Baladaul hayaa            =    negeri kehidupan

Qiil                            =    dikatakan orang

Ilmu Fiqhi                  =    ilmu hukum Islam

Kut                            =    jatah/hak

Ithbaa                        =    jamak dari kata tabib

Dafi’at                       =    pendorong

Nadlam                     =    syair

Syafiy                         =    obat

Rijalon                       =    orang laki-laki

Shibyan                      =    anak-anak

Khatam                     =    tamat

Syaikhuna                   =    guru kami

Dabbah                     =    berbagai binatang

Syubhat                      =    ragu antara halal dan haram

Mustafa                     =    suci

Mubtadi                     =    baru belajar

Tafkir                        =    berpikir

Paksa                         =    waktu yang pas/tepat

Malikul alam               =    yang memiliki dunia

Firqah                        =    perbedaan (golongan)

Baghal                       =    keledai

Glap                          =    penjara

Ta’un                         =    penyaakit kolera

Thifla                         =    anak-anak

Syahid                        =    mati dalam perang sabil

Mukallaf                     =    sudah memenuhi syarat melakukan

kewajiban agama Islam

Laban                        =    susu

Khilaf                        =    berbeda pendapat ulama

Hijab                         =    tirai

Nisa                          =    perempuan

Page                          =    hari akhirat

Liwathah                    =    homosex

Mustami’at                 =    sipendengar

Qaail                          =    yang mengatakan

Diet                           =    membayar harta benda sebagai penebus penganiayaan/ pembunuhan

Hudh                         =    sumur

Hiem – teka teki ala Aceh

Hiem
1. Guda plang rhot di langet!. Peue?.
2. Dijak meuranjo-ranjo,
Jime lham saboh sapo!. Peue?.
3. Jidong meuranjo-ranjo,
Tilam duek saboh sapo!. Peue?.
4. Bak sibak on sion,
Meuribee thon han mala-mala!. Peue?.
5. ‘et noe ‘et nan,
Polem Suman meuiseuk-iseuk!. Peue?.
6. Bak disanan on disanan,
Bak ujong bak geubalek nan!. Peue?.
7. Apui hu bak ranteng!. Peue?.
8. Ek gle tron gle,
Meuteumeung gajah meukude!. Peue?.
9. Leumo na tujoh blaih boh,
Saboh2 weue padum boh tapeulob?.
10.Boh ubebe alee,
On ubebe ji-eei!. Peue?.
11. Manok itam du,
Manok puteh po!. Peue?.
12.On ubebe eumpieng,
Boh kiwieng-kiwieng!. Peue?.
13. On mulieng meukru, on labu meu-ulat,
Rot barat ureueng beuet nah’u,
Rot timu ureueng seumurat!. Peue?.
( Jeunaweueb jih : 1. Situek, 2. Itek, 3. Tameh, 4. Aweue, 5. Batee neupeh, 6. Boh jantong, 7. Campli masak, 8. Boh panah, 9. Suboh 2, Luho 4. ‘Asha 4, Meughreb 3, ‘Isya 4.     10. Boh putek- Bak putek, 11.Gapeueh, 12. Bak me, 13. Ureueng teumuleh,)Hiem
1. Guda plang rhot di langet!. Peue?.
2. Dijak meuranjo-ranjo,
Jime lham saboh sapo!. Peue?.
3. Jidong meuranjo-ranjo,
Tilam duek saboh sapo!. Peue?.
4. Bak sibak on sion,
Meuribee thon han mala-mala!. Peue?.
5. ‘et noe ‘et nan,
Polem Suman meuiseuk-iseuk!. Peue?.
6. Bak disanan on disanan,
Bak ujong bak geubalek nan!. Peue?.
7. Apui hu bak ranteng!. Peue?.
8. Ek gle tron gle,
Meuteumeung gajah meukude!. Peue?.
9. Leumo na tujoh blaih boh,
Saboh2 weue padum boh tapeulob?.
10.Boh ubebe alee,
On ubebe ji-eei!. Peue?.
11. Manok itam du,
Manok puteh po!. Peue?.
12.On ubebe eumpieng,
Boh kiwieng-kiwieng!. Peue?.
13. On mulieng meukru, on labu meu-ulat,
Rot barat ureueng beuet nah’u,
Rot timu ureueng seumurat!. Peue?.
( Jeunaweueb jih : 1. Situek, 2. Itek, 3. Tameh, 4. Aweue, 5. Batee neupeh, 6. Boh jantong, 7. Campli masak, 8. Boh panah, 9. Suboh 2, Luho 4. ‘Asha 4, Meughreb 3, ‘Isya 4.     10. Boh putek- Bak putek, 11.Gapeueh, 12. Bak me, 13. Ureueng teumuleh,)
Hiem
 
Disusun Kembali Oleh : T.A. Sakti
1. Guda plang rhot di langet!. Peue?.
2. Dijak meuranjo-ranjo,
Jime lham saboh sapo!. Peue?.
3. Jidong meuranjo-ranjo,
Tilam duek saboh sapo!. Peue?.
4. Bak sibak on sion,
Meuribee thon han mala-mala!. Peue?.
5. ‘et noe ‘et nan,
Polem Suman meuiseuk-iseuk!. Peue?.
6. Bak disanan on disanan,
Bak ujong bak geubalek nan!. Peue?.
7. Apui hu bak ranteng!. Peue?.
8. Ek gle tron gle,
Meuteumeung gajah meukude!. Peue?.
9. Leumo na tujoh blaih boh,
Saboh2 weue padum boh tapeulob?.
10.Boh ubebe alee,
On ubebe ji-eei!. Peue?.
11. Manok itam du,
Manok puteh po!. Peue?.
12.On ubebe eumpieng,
Boh kiwieng-kiwieng!. Peue?.
13. On mulieng meukru, on labu meu-ulat,
Rot barat ureueng beuet nah’u,
Rot timu ureueng seumurat!. Peue?.
( Jeunaweueb jih : 1. Situek, 2. Itek, 3. Tameh, 4. Aweuek, 5. Batee neupeh, 6. Boh jantong, 7. Campli masak, 8. Boh panah, 9. Suboh 2, Luho 4. ‘Asha 4, Meughreb 3, ‘Isya 4.     10. Boh putek- Bak putek, 11.Gapeueh, 12. Bak me, 13. Ureueng teumuleh,)

Gaji Keu Teungku

Gaji keu Teungku

Oleh : T.A. Sakti

Bacut takisah jinoe keu Teungku

Hanasoe bantu nyang bri beulanja

Padahai gobnyan buet lagee guru

Umat geupayu jalan agama

Watee merdeka bak jameun dulu

Keu guru-guru gaji negara

Teutapi tuwo gaji keu Teungku

Leupah that lucu cit ade hana

Meunan meuthon-thon hudep di Teungku

Hana geubantu uleh negara

Teutapi tugaih geupubuet laju

Sabab di Teungku ikhlas lam dada

Kadang aneukmiet na bantu-bantu

Jiba boh labu peuneu-et poma

Kadang dalam blang bantu teumabu

Kadang bijeh u bantu jak pula

Uroe ngon malam lam buet di Teungku

Aneukmiet ‘a’u di rumoh tangga

Peubeuet Aleuham nyang ladom Qulhu

Hanatom tunu hate geumbira

Hanya geuharap ubak Tuhanku

Rakyat beumakmu udep sijahtra

Akan hudep droe citna soe bantu

Sabab Tuhanku maha kuasa

Bak masa jinoe Aceh ka maju

Leupah meusyuhu na UUPA

Ngon otonomi meutabu-tabu

Patot keu Teungku jinoe takira

Ubak peumimpin geutanyoe bri su

Neukira Teungku bekle seungsara

Soe kira pruet droe ban uleue leumbu

Murka Tuhanku rijang binasa

Adak kon gaji honor keu Teungku

Lon kira laku beulanja cit na

Neupriek pat laen bagi  keu Teungku

Asai seutuju cit kana cara

Bak DPRA ulon peutrok su

Bek carong rayu watee Pilkada

Bek cangklak babah jan toe Pemilu

Gaji keu Teungku tulong neukira

Alhamdulillah bandum seutuju

Ubak Tuhanku meunan ta do’a

Peumimpin Aceh bekna nyang tunu

Gaji keu Teungku cit hak ngon kada

Astaghfirullah lana wa lahu

Neubri Tuhanku Aceh beujaya

Nanggroe beudame rakyat beumakmu

Gaji keu Teungku beugeutem kira,Aminn!.

T.A. Sakti

Peminat sastra Aceh

Aceh Besar – Menampilkan sebagian potensi-potensi Kabupaten Aceh Besar

Aceh Besar
Oleh : T.A. Sakti
“Tateh –tateh  sinyak dijak u Aceh!”. Keubeue ka diwoe taloe tinggai di Aceh!”. Itulah dua ungkapan lama yang masih membisiki benak saya sampai hari ini. Ungkapan itu dilantunkan para orang dewasa dalam menyemangati anak balita mereka yang mulai belaiar berjalan. Sambil dipegang kedua tangannya, maka berjalanlah sang bocah menuju….”Aceh”. Karena diajak sejak kecil, akibatnya tertanamlah di jiwa setiap anak; sebuah cita-cita , yakni akan  merantau ke Aceh bila dia besar kelak.Tempo dulu, yang dimaksud dengan sebutan  Aceh secara umum adalah wilayah Aceh Besar, sedang secara khusus, yakni  kota Banda Aceh .  Anehnya, bukan hanya manusia saja  yang doyan pergi ke Aceh, tetapi kerbau/binatang pun punya cita-cita yang sama. Kenapa setiap makhluk Allah  memiliki semangat untuk berangkat ke Aceh?. Karena ACEH itu BESAR!. Tetapi perlu diingat, bahwa sebelum Jantho ditetapkan sebagai ibukota Aceh Besar, provinsi Aceh dan kabupaten Aceh Besar sama-sama beribukota Banda Aceh.
Pada bulan puasa seperti sekarang, suatu produk unggulan Aceh Besar yang paling populer di luar daerah asalnya tempo dulu adalah “gula jok”. Gula yang dibuat dari air pohon enau/ ijuk itu berbentuk bulat tipis dengan bingkai anyaman rawutan bambu
yang indah kelihatannya pada mata anak kecil. Gula jok dipakai para ibu rumah tangga
untuk isi boh rom-rom  sebagai makanan buka puasa. Selain  disebut boh rom-rom, panganan ini juga bernama boh meuc’rot, boh du beudoih, boh cicak malem, dan boh peukhem Teungku. Sangking enaknya gula jok itu, banyak anak-anak yang kadang-kadang  secara diam-diam ‘curi makan’ gula jok sampai mulutnya berbuih/meukeurimeh.
Sampai hari ini, saya hampir tak pernah lupa mengirimkan gula jok kepada keluarga dalam bulan puasa.
Mengapa mesti dikirim?. Pertama, karena produk Aceh Besar ini  masih digemari generasi tua, yang juga tetap doyan boh rom-rom buat berbuka puasa. Kedua, gula jok sudah langka diperdagangkan di luar Aceh Besar pada bulan puasa; apalagi pada bulan-bulan lainnya. Karena itu, terpaksalah dikirimkan dari Banda Aceh, baik dititipkan pada teman-keluarga yang pulang atau pada armada bis L 300 yang mengantarnya sampai ke rumah.
Pertanyaan yang muncul, kenapa gula jok sekarang sudah langka di luar Aceh Besar, bahkan juga di Aceh Besar sendiri?. Bagi petani enau mungkin akan dijawab dengan
apa adanya, yakni mungkin akibat selera masyarakat yang sudah berubah; yang tidak menyukai lagi gula jok. Bagi para pemimpin atau penguasa Aceh Besar tidaklah boleh menjawab sekenanya demikian.
Sebab gula jok adalah produk unggulan Aceh Besar yang telah teruji dari generasi ke generasi. Bahwa tanaman pohon enau (bak jok)  amat cocok tumbuh dan berkembang di Aceh Besar. Karena itu para pemimpin tak perlu bersusah payah mencari tanaman lain dan menganjurkan masyarakat menanamnya. Padahal ternyata tanaman baru itu tidak sesuai dengan tanah setempat. Kalau buat perusahaan besar yang bermaksud membudidayakan tanaman industri; seperti kelapa sawit misalnya, dipersilakan saja untuk menguji coba, karena modalnya memang besar. Tetapi bagi warga gampong perlu tetap mengusakan pohon enau, karena memang pohon pusaka endatu-endatu mereka.
Cuma kepada para pemimpin masyarakat desa mengharapkan jasa baik mereka.
Para pemimpin,’ kan orang-orang yang banyak pengalaman dan mampu menyikapi jauh ke depan. Misalnya, upaya apa yang perlu ditempuh supaya masyarakat tetap gemar berkebun enau gula jok!. Salah satu sebab seseorang mau tetap beristiqamah pada suatu pekerjaan, tentu karena kegiatan itu bisa menjadi tumpuan hidup baginya serta keluarganya. Bagi petani enau, yang didambakan pastilah dengan usaha gula joknya itu, mereka mampu hidup berkecukupan dan dapat memberi pendidikan tertinggi untuk putra-putri mereka;  baik pendidikan Dayah maupun sekolah umum. Pasti para pemimpin tahu hal itu, maka  tak perlulah saya mengguyur sekaraung garam ke laut.
Hendaknya  pada saat para calon pemimpin Aceh Besar yang akan menebarkan janji-janji kepada rakyat  pada kampanye Pemili 2009 ada pihak yang menaruh perhatian kepada soal ini dan mereka menepati janjinya.
Sejarah mencatat, bahwa pada abad ke 16 Sultan Aceh Al Kahhar  yang kehausan pernah ditolong oleh seorang   kepala kampung yang sedang  menyandang bambu ie jok/nira enau di rimba Lam Panaih, Aceh Besar. Saat itu sang sultan sedang dalam perjalanan ke Pidie dan mengalami kehausan yang amat sangat karena persediaan air minum habis. Dengan ie jok dari pekebun itulah sultan segar kembali. Berkat jasanya, ia diundang sultan ke istana. Sebagai tanda pengenal, sultan menyuruhnya menyandang bambu niranya (pacok ie jok) serta mengikat sehelai daun kelapa di kepala. Karena selalu menyandang bambu air enau setiap kali  ke istana, akhirnya ia digelar orang dengan Ja Sandang (Kakek penyandang bambu). . Kemudian, ia diangkat sebgai kepala kaum
dengan pangkat Kadli Malikul Adil (Jaksa Agung dan  Hakim Agung  Kerajaan Aceh Darussalam).  Sejak itu terkenallah pantun rakyat yang berbunyi :  Sukee lhee reutoih ban aneuk drang/ Sukee Ja Sandang jeura haleuba/Sukee tok batee na bacut-bacut/Sukee Imum  peuet nyang gok-gok donya
Begitulah nasib seorang  petani enau/ ie jok  Aceh Besar pada abad ke 16.  Bagaimana nasib mereka   di abad ke 21 sekarang?.
Tahun 1975, saya menjadi mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala dengan Nomor Induk 350. Sejak itu saya mulai sering bolak-balik antara kampung saya ke Banda Aceh lewat jalan Medan, tepatnya melintasi Lembah Seulawah. Satu hal yang amat mengesankan, bahwa di sepanjang jalan lembah Seulawah saat itu hutannya masih cukup lebat dan kita bisa menggigil bila melintasi jalan itu. Amat beda dengan  keadaan  sekarang, dimana kebun-kebun di kiri-kanan jalan sudah amat jarang dan hutan pun sering terbakar di musim kemarau. Akibatnya, kini kita sering melihat sejumlah kera/bue dan siben yang menunggu belas kasih para penumpang bis untuk melempar makanan. Hal ini menandakan lingkungan hidup di sekitar Seulawah mulai  tidak seimbang lagi..
Sebagai mahasiswa pertanian, segi ketertarikan saya tentu hal-hal yang terkait dengan bidang pertanian; termasuk prihal peternakan di dalamnya. Satu objek yang selalu saya perhatikan di pinggir jalan pegunungan Seulawah adalah “peternakan”  sapi. Kalau tak salah ingat, lokasinya belum masuk wilayah Aceh Besar, berada di sebelah kanan jalan bila kita berangkat dari Medan. Tanah lokasi pemeliharaan  sapi  dipagar dengan bentangan kayu dan bambu besar-besar. Sekitar seperlima luasnya merupakan kandang, sedang selebihnya merupakan areal pelepasan ternak tersebut.
Semula saya menyangka, bahwa  itulah pembibitan awal ternak sapi yang nantinya  bila telah banyak akan disebarkan secara berangsur-angsur ke seluruh lembah Seulawah. Namun, setiap kali saya pulang-pergi setelah berselang berbilang bulan, lokasi peternakan sapi itu bukan semakin berkembang; melainkan menampakkan kemunduran. Ternyata dugaan saya meleset dan akhirnya tempat pemeliharaan sapi itu tidak meninggalkan bekasnya.
Sebagai mahasiswa pertanian tahun pertama saat itu, khayalan saya terus berkecamuk dengan beragam ide agar masyarakat Aceh Besar berkehidupan makmur. Saat itu saya tetap meyakini bahwa di lembah Seulawah dan sekitarnya memungkinkan dilakukan peternakan sapi atau kerbau. Mungkin saja ide saya dipengaruhi berita koran, yang pernah memberitakan, bahwa di lembah pegunungan Seulawah AKAN dijadikan areal peternakan secara besar-besaran. Diperkirakan daging sapi hasil peternakan itu melebihi kebutuhan daging di Aceh, sehingga harus diekspor ke sejumlah negara. Tetapi berita itu tidak menjadi kenyataan, sehingga saya pun terpaksa menunggu berita-berita AKAN yang lainnya.
Walaupun kenyataannya demikian, khayalan saya belum mau mengalah. Sya tetap yakin di kawasan Seulawah itu bisa diwujudkan peternakan. Sumber dari orang-orang tua menjelaskan, bahwa  Uleebalang XXII Mukim Panglima Polem pernah menjadikan lembah pegunungan Seulawah sebagai areal peternakan kerbau. Beratus-ratus ekor kerbau hidup di sepanjang lembah itu, dan sebagiannya sampai menjadi kerbau liar{keubeue kleuet) akibat jarang melihat manusia. Dapat ditambahkan, bahwa wilayah Nanggroe XXII Mukim saat itu sampai ke Mukim VII Padang Tiji. Jadi dapatlah anda bayangkan betapa luas wilayah berdiwana kerbau-kerbau itu, yakni mulai Seulimuem sampai wilayah Padang Tiji sekarang.
Selanjutnya, lain pula jenis peternakan yang dipelihara pada zaman Belanda. Seorang keturunan bangsa Yunani yang bergelar Tuan Muda telah membuat kontrak sebagian  wilayah lembah Seulawah untuk peternakan sapi(leumo). Sejak itu sampai kedatangan Jepang diareal rimba Seulawah bisa dijumpai beratus-ratus ekor sapi yang telah menghidupi berpuluh-puluh para pekerja dan memperkaya Tuan Muda asal bangsa Yunani itu.
Mengenai  peternakan kerbau dan sapi di Lembah Seulawah itu, saya pernah menulis syair berikut ini : Leumbah Seulawah luah meuhalak/Tacruk ngon tapak rusak sigutong/Bah that jih luwah tinggai lam apak/Hanya sicupak na ureueng tinggong.
Yoh masa dilee wahe E Cut Kak/Keubeue meubulak rab rata linggong/Panglima Polem ureueng nyang po hak/Kalheueh geu-cubak leupah le untong.
Masa Beulanda meutamah ramphak/Leumo meusak-sak toe Simpang Beutong/Nan Tuan Muda tanoh ji kontrak/Ureueng nyan jarak Yunani gampong.
Selain cerita masa lampau, para pakarpun pernah pula menyatakan, bahwa di Tanah Aceh amat cocok bagi pengembangan peternakan, dan salah satunya adalah peternakan sapi atau kerbau. Dan menurut saya, salah satu lokasi yang cocok buat usaha  tersebut yaitu di  lembah Seulawah   Aceh.Besar. Pendapat pakar yang  paling baru muncul tentang cocoknya daerah Aceh untuk dibudidayakan peternakan sapi adalah dari seorang ekonom Universitas Syiah Kuala Prof. Jasman J. Ma’ruf. Pernyataan sang pakar ini berkaitan terlalu tingginya harga daging meugang di Aceh hingga Rp. 100.000,/per kilogram. Karena itu Jasman J. Mak’ruf menyarankan agar di Aceh dikembangkan sapi impor(Serambi,5 September 2008 halaman 23). Bila proyek sapi impor itu benar-benar berjalan, diharapkan harga daging di Aceh akan menjadi murah, paling kurang sebanding dengan harga di Medan Rp.45.000 per kilogram.Karena itu Prof. Jasman mengharapkan Pemda Aceh sedia memberi subsidi kepada pengusaha-pengusaha Aceh yang berminat di bidang penggemukan sapi-sapi impor. Caranya, Pemda mensubsidi bunga Bank kepada para pengusaha tersebut. Disamping itu, ekonom Universitas Syiah Kuala ini juga menyarankan Pemda Aceh untuk menunjukkan keseriusannya tentang program sapi impor itu; misalnya dengan menyediakan aturan pendukung yang kuat , seperti  Qanun maupun Peraturan Gubernur(Pergub).
Sebagai pendamba kemakmuran Aceh, saya sependapat dengan Prof. Jasman J. Ma’ruf. Hanya saja, mudah-mudahan kedatangan sapi-sapi impor ini tidak menghancurkan peternakan sapi lokal, yang hingga kini masih bertahan terutama di Aceh Besar. Dalam pemahaman saya, sapi –sapi impor itu biarlah dikembangkan di kabupaten=kabupaten lain di luar Aceh Besar. Toh dagingnya ‘kan sampai juga ke Aceh Besar untuk memenuhi konsumsi bagi mereka yang suka daging sapi impor. Sementara sapi lokal Aceh tetap menjadi sapi unggulan di Aceh Besar, sedangkan dagingnya pun dapat pula menutupi kebutuhan bagi mereka yang suka daging sapi lokal di seluruh Aceh. Kita tinggalkan dulu pendapat sang pakar, karena selama ini banyak saran para pakar tidak pernah terwujud di lapangan. Kemampuan para ahli hanyalah memberi saran berdasarkan keahlian ilmiahnya, sedang pelaksanaannya amat tergantung kepada kebijakan sang  pemimpin yang berkuasa; apakah mau dipraktekkannya atau dianggap angin lalu saja. Sudah berkali-kali saya mendengar kabar tentang pengelolaan lembah Seulawah secara bisnis, baik berupa pengadaan kebun-kebun buah-buahan atau pembudidayaan sapi atau kerbau, namun sampai hari ini belum pernah terlihat batang hidungnya. Malah pernah muncul gagasan untuk menjadikan areal pegunungan Seulawah sebagai taman pariwisata buah-buahan, yang mana setiap pengunjung dibiarkan memetik sendiri buah-buahan; namun kabar itu melesap bagaikan asap.
Memang masyarakat pedesaan Aceh Besar betul-betul sebagai peternak yang ulet, tekun dan tabah. Ternak yang paling banyak dibudidayakan adalah leumo(sapi)  dan kambing. Bila di beberapa kabupaten lain di Aceh, daging Makmeugang yang populer adalah daging kerbau; maka di Aceh Besar daging yang amat favorit adalah daging sapi. Belum pernah saya dengar ungkapan warga Aceh Besar yang menyebutkan “meunye tapajoh sie leumo lam buleuen puasa saket gigoe!”; seperti dulu sering saya simak di Pidie. Betapa tidak demikian, karena makan daging sapi sudah menjadi warisan endatu di kabupaten Aceh Besar.
Karena itu tidaklah mengherankan, kalau di banyak kampung di Aceh Besar tradisi memelihara lembu dan kambing sudah berlangsung turun-temurun. Bahkan dalam satu keluarga tidak hanya berternak sapi dua-tiga ekor; malah sekaligus dengan puluhan ekor kambing pula. Menjelang hari Makmeugang, baik meugang puasa, lebaran dan haji adalah hari-hari gembira bagi para peternak sapi di Aceh Besar, karena harga sapi pada saat itu tergolong tinggi. Sementara ternak kambing banyak laku terjual bagi kebutuhan masyarakat yang berniat berbagai kenduri seperti ‘aqikah, peutron aneukmiet, khanduri thon, sunatan dan sebagainya.
Dalam hal ini, saya berpendapat untuk bidang peternakan sapi lokal inilah Pemda Aceh Besar perlu memfokuskan perhatiannya. Tak usah mengimpor sapi dari luar negeri. Sapi lokal Aceh Besar saja sudah cukup bagus untuk dikembangkan. Karena toh menurut pengamatan saya, sapi lokal Aceh Besar  jauh lebih besar dan tinggi badannya dibandingkan sapi lokal di kabupaten lain. Hal ini bisa terjadi; mungkin saja para endatu warga Aceh Besar sudah sejak dulu sudah mengimpor sapi-sapi dari luar negeri; yakni sebelum orang-orang sekarang  berniat hendak mengimpornya, yang belum tentu pula bisa terbnukti nantinya
Kalau mau melihat rakyat Aceh Besar makmur; berilah subsidi kepada usaha pembudayaan sapi dan  kambing secara menyeluruh dan berkelanjutan. Soal makanan ternak tentu bisa diatasi, jika  segalanya sudah diupayakan dengan dana yang cukup. Rumput gajah (naleueng gajah) amat subur tumbuhnya diputar Aceh Besar. Bahkan, saya lihat sapi-sapi di sini tidak cengeng tentang jenis makanannya, termasuk daun kedongdong (on keureundong) dirahot/direbut ketika ia sedang ditarik di jalanan oleh pemiliknya. Padahal biasanya daun keureundong itu makanan kambing(eumpeuen kameng).
Warga Aceh Besar juga  rajin berkebun sayur(meudabeueh). Berbagai jenis sayuran banyak dihasilkan daerah ini. Cuma saja, semuanya secara sederhana dan kecil-kecilan.
Dan hal itu telah berlangsung dari generasi ke generasi; mengingat kota Banda Aceh sebagai titik pusat pemasarannya telah pun berusia ratusan tahun. Kini, sudah tiba saatnya para pekebun sayur itu dibina Pemda Aceh Besar dengan sungguh-sungguh. Bila hal ini betul-betul diberi fasilitas yang terus-menerus, saya yakin daerah Aceh pada umumnya dan Banda Aceh pada khususnya akan menjadi wilayah swasembada sayur;dan tak perlu lagi didatangkan dari luar provinsi.
Lembah Seulawah pun merupakan areal yang subur bagi tanaman buah-buahan dan sayuran.  Menurut penuturan orang-orang tua, pada era Belanda dan Jepang, di lembah pegunungan Seulawah  itu dipenuhi kebun berbagai jenis  buah-buahan dan sayuran.
Tentang hal ini; menyambung syair Lembah Seulawah tersebut di atas saya pernah bersenandung begini: Di Tuan Laot di Jerman geujak/Tanoh geu- kontrak hak Erfpacht langsong/Buah-buahan digobnyan galak/’Oh watee masak geupot meutong-tong
Yoh masa Jeupang garang meugrak-grak/Romusha jisak keunan meuron-ron/Pula sayuran meumacam curak/Blang Putek ramphak bak kapai jitron.
‘Ohka merdeka Seulawah apak/Hana soe ajak investor dukong/Wahe peumimpin nyang duek bak pucak/Cok jalan bijak rakyat meu-untong!.
Begitulah sekelumit profil Aceh Besar; sebuah kabupaten yang memang besar potensinya. Kebesaran ini menjadi semakin lengkap dengan kehebohan pernyataan mundur pemimpinnya yang mau lengser dari jabatan Bupati Aceh Besar. Semoga segera tenteram dan segar kembali, Amiinn!!!.
T.A. Sakti
Penulis adalah pemerhati                              sosial
Kemasyarakatan.

Oleh : T.A. Sakti

“Tateh –tateh  sinyak dijak u Aceh!”. Keubeue ka diwoe taloe tinggai di Aceh!”. Itulah dua ungkapan lama yang masih membisiki benak saya sampai hari ini. Ungkapan itu dilantunkan para orang dewasa dalam menyemangati anak balita mereka yang mulai belaiar berjalan. Sambil dipegang kedua tangannya, maka berjalanlah sang bocah menuju….”Aceh”. Karena diajak sejak kecil, akibatnya tertanamlah di jiwa setiap anak; sebuah cita-cita , yakni akan  merantau ke Aceh bila dia besar kelak.Tempo dulu, yang dimaksud dengan sebutan  Aceh secara umum adalah wilayah Aceh Besar, sedang secara khusus, yakni  kota Banda Aceh .  Anehnya, bukan hanya manusia saja  yang doyan pergi ke Aceh, tetapi kerbau/binatang pun – seperti cuplikan syair di atas – punya cita-cita yang sama. Kenapa setiap makhluk Allah  memiliki semangat untuk berangkat ke Aceh?. Karena ACEH itu BESAR!. Tetapi perlu diingat, bahwa sebelum Janthoe  ditetapkan sebagai ibukota Aceh Besar, provinsi Aceh dan kabupaten Aceh Besar sama-sama beribukota Banda Aceh.

Pada bulan puasa seperti sekarang, suatu produk unggulan Aceh Besar yang paling populer di luar daerah asalnya tempo dulu adalah “gula jok”. Gula yang dibuat dari air pohon enau/ ijuk itu berbentuk bulat tipis dengan bingkai anyaman rawutan bambu

yang indah kelihatannya pada mata anak kecil. Gula jok dipakai para ibu rumah tangga

untuk isi boh rom-rom  sebagai makanan buka puasa. Selain  disebut boh rom-rom, panganan ini juga bernama boh meuc’rot, boh du beudoih, boh cicak malem, dan boh peukhem Teungku. Sangking enaknya gula jok itu, banyak anak-anak yang kadang-kadang  secara diam-diam ‘curi makan’ gula jok sampai mulutnya berbuih/meukeurimeh.

Sampai hari ini, saya hampir tak pernah lupa mengirimkan gula jok kepada keluarga dalam bulan puasa.

Mengapa mesti dikirim?. Pertama, karena produk Aceh Besar ini  masih digemari generasi tua, yang juga tetap doyan boh rom-rom buat berbuka puasa. Kedua, gula jok sudah langka diperdagangkan di luar Aceh Besar pada bulan puasa; apalagi pada bulan-bulan lainnya. Karena itu, terpaksalah dikirimkan dari Banda Aceh, baik dititipkan pada teman-keluarga yang pulang atau pada armada bis L 300 yang mengantarnya sampai ke rumah.

Pertanyaan yang muncul, kenapa gula jok sekarang sudah langka di luar Aceh Besar, bahkan juga di Aceh Besar sendiri?. Bagi petani enau mungkin akan dijawab dengan

apa adanya, yakni mungkin akibat selera masyarakat yang sudah berubah; yang tidak menyukai lagi gula jok. Bagi para pemimpin atau penguasa Aceh Besar tidaklah boleh menjawab sekenanya demikian.

Sebab gula jok adalah produk unggulan Aceh Besar yang telah teruji dari generasi ke generasi. Bahwa tanaman pohon enau (bak jok)  amat cocok tumbuh dan berkembang di Aceh Besar. Karena itu para pemimpin tak perlu bersusah payah mencari tanaman lain dan menganjurkan masyarakat menanamnya. Padahal ternyata tanaman baru itu tidak sesuai dengan tanah setempat. Kalau buat perusahaan besar yang bermaksud membudidayakan tanaman industri; seperti kelapa sawit misalnya, dipersilakan saja untuk menguji coba, karena modalnya memang besar. Tetapi bagi warga gampong perlu tetap mengusakan pohon enau, karena memang pohon pusaka endatu-endatu mereka.

Cuma kepada para pemimpin,  masyarakat desa mengharapkan jasa baik mereka.

Para pemimpin,’ kan orang-orang yang banyak pengalaman dan mampu menyikapi jauh ke depan. Misalnya, upaya apa yang perlu ditempuh supaya masyarakat tetap gemar berkebun enau gula jok!. Salah satu sebab seseorang mau tetap beristiqamah pada suatu pekerjaan, tentu karena kegiatan itu bisa menjadi tumpuan hidup baginya serta keluarganya. Bagi petani enau, yang didambakan pastilah dengan usaha gula joknya itu, mereka mampu hidup berkecukupan dan dapat memberi pendidikan tertinggi untuk putra-putri mereka;  baik pendidikan Dayah maupun sekolah umum. Pasti para pemimpin tahu hal itu, maka  tak perlulah saya mengguyur sekarung garam ke laut.

Hendaknya  pada saat para calon pemimpin Aceh Besar yang akan menebarkan janji-janji kepada rakyat  pada kampanye Pemilu  2009 ada pihak yang menaruh perhatian kepada soal ini dan mereka menepati janjinya.

Sejarah mencatat, bahwa pada abad ke 16 Sultan Aceh Al Kahhar  yang kehausan pernah ditolong oleh seorang   kepala kampung yang sedang  menyandang bambu ie jok/nira enau di rimba Lam Panaih, Aceh Besar. Saat itu sang sultan sedang dalam perjalanan ke Pidie dan mengalami kehausan yang amat sangat karena persediaan air minum habis. Dengan ie jok dari pekebun itulah sultan segar kembali. Berkat jasanya, ia diundang sultan ke istana. Sebagai tanda pengenal, sultan menyuruhnya menyandang bambu niranya (pacok ie jok) serta mengikat sehelai daun kelapa di kepala. Karena selalu menyandang bambu air enau setiap kali  ke istana, akhirnya ia digelar orang dengan Ja Sandang (Kakek penyandang bambu). . Kemudian, ia diangkat sebgai kepala kaum

dengan pangkat Kadli Malikul Adil (  Hakim Agung  Kerajaan Aceh Darussalam).  Sejak itu terkenallah pantun rakyat yang berbunyi :  Sukee lhee reutoih ban aneuk drang/ Sukee Ja Sandang jeura haleuba/Sukee tok batee na bacut-bacut/Sukee Imum  peuet nyang gok-gok donya

Begitulah nasib seorang  petani enau/ ie jok  Aceh Besar pada abad ke 16.  Bagaimana nasib mereka   di abad ke 21 sekarang?.

Tahun 1975, saya menjadi mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala dengan Nomor Induk 350. Sejak itu saya mulai sering bolak-balik antara kampung saya ke Banda Aceh lewat jalan Medan, tepatnya melintasi Lembah Seulawah. Satu hal yang amat mengesankan, bahwa di sepanjang jalan lembah Seulawah saat itu hutannya masih cukup lebat dan kita bisa menggigil bila melintasi jalan itu. Amat beda dengan  keadaan  sekarang, dimana kebun-kebun di kiri-kanan jalan sudah amat jarang dan hutan pun sering terbakar di musim kemarau. Akibatnya, kini kita sering melihat sejumlah kera/bue dan siben yang menunggu belas kasih para penumpang bis untuk melempar makanan. Hal ini menandakan lingkungan hidup di sekitar Seulawah mulai  tidak seimbang lagi..

Sebagai mahasiswa pertanian, segi ketertarikan saya tentu hal-hal yang terkait dengan bidang pertanian; termasuk prihal peternakan di dalamnya. Satu objek yang selalu saya perhatikan di pinggir jalan pegunungan Seulawah adalah “peternakan”  sapi. Kalau tak salah ingat, lokasinya belum masuk wilayah Aceh Besar, berada di sebelah kanan jalan bila kita berangkat dari Medan. Tanah lokasi pemeliharaan  sapi  dipagar dengan bentangan kayu dan bambu besar-besar. Sekitar seperlima luasnya merupakan kandang, sedang selebihnya merupakan areal pelepasan ternak tersebut.

Semula saya menyangka, bahwa  itulah pembibitan awal ternak sapi yang nantinya  bila telah banyak akan disebarkan secara berangsur-angsur ke seluruh lembah Seulawah. Namun, setiap kali saya pulang-pergi setelah berselang berbilang bulan, lokasi peternakan sapi itu bukan semakin berkembang; melainkan menampakkan kemunduran. Ternyata dugaan saya meleset dan akhirnya tempat pemeliharaan sapi itu tidak meninggalkan bekasnya.

Sebagai mahasiswa pertanian tahun pertama saat itu, khayalan saya terus berkecamuk dengan beragam ide agar masyarakat Aceh Besar berkehidupan makmur. Saat itu saya tetap meyakini bahwa di lembah Seulawah dan sekitarnya memungkinkan dilakukan peternakan sapi atau kerbau. Mungkin saja ide saya dipengaruhi berita koran, yang pernah memberitakan, bahwa di lembah pegunungan Seulawah AKAN dijadikan areal peternakan secara besar-besaran. Diperkirakan daging sapi hasil peternakan itu melebihi kebutuhan daging di Aceh, sehingga harus diekspor ke sejumlah negara. Tetapi berita itu tidak menjadi kenyataan, sehingga saya pun terpaksa menunggu berita-berita AKAN yang lainnya.

Walaupun kenyataannya demikian, khayalan saya belum mau mengalah. Saya tetap yakin di kawasan Seulawah itu bisa diwujudkan peternakan. Sumber dari orang-orang tua menjelaskan, bahwa  Uleebalang XXII Mukim Panglima Polem pernah menjadikan lembah pegunungan Seulawah sebagai areal peternakan kerbau. Beratus-ratus ekor kerbau hidup di sepanjang lembah itu, dan sebagiannya sampai menjadi kerbau liar{keubeue kleuet) akibat jarang melihat manusia. Dapat ditambahkan, bahwa wilayah Nanggroe XXII Mukim saat itu sampai ke Mukim VII Padang Tiji. Jadi dapatlah anda bayangkan betapa luas wilayah berdiwana kerbau-kerbau itu, yakni mulai Seulimuem sampai wilayah Padang Tiji sekarang.

Selanjutnya, lain pula jenis peternakan yang dipelihara pada zaman Belanda. Seorang keturunan bangsa Yunani yang bergelar Tuan Muda telah membuat kontrak sebagian  wilayah lembah Seulawah untuk peternakan sapi(leumo). Sejak itu sampai kedatangan Jepang diareal rimba Seulawah bisa dijumpai beratus-ratus ekor sapi yang telah menghidupi berpuluh-puluh para pekerja dan memperkaya Tuan Muda asal bangsa Yunani itu.

Mengenai  peternakan kerbau dan sapi di Lembah Seulawah itu, saya pernah menulis syair berikut ini :

Leumbah Seulawah luah meuhalak

Tacruk ngon tapak rusak sigutong

Bah that jih luwah tinggai lam apak

Hanya sicupak na ureueng tinggong

 

Yoh masa dilee wahe E Cut Kak

Keubeue meubulak rab rata linggong

Panglima Polem ureueng nyang po hak

Kalheueh geu-cubak leupah le untong.

 

Masa Beulanda meutamah ramphak

Leumo meusak-sak toe Simpang Beutong

Nan Tuan Muda tanoh ji kontrak

Ureueng nyan jarak Yunani gampong

 

Selain cerita masa lampau, para pakarpun pernah pula menyatakan, bahwa di Tanah Aceh amat cocok bagi pengembangan peternakan, dan salah satunya adalah peternakan sapi atau kerbau. Dan menurut saya, salah satu lokasi yang cocok buat usaha  tersebut yaitu di  lembah Seulawah   Aceh.Besar. Pendapat pakar yang  paling baru muncul tentang cocoknya daerah Aceh untuk dibudidayakan peternakan sapi adalah dari seorang ekonom Universitas Syiah Kuala Prof. Jasman J. Ma’ruf. Pernyataan sang pakar ini berkaitan terlalu tingginya harga daging meugang di Aceh hingga Rp. 100.000,/per kilogram. Karena itu Jasman J. Mak’ruf menyarankan agar di Aceh dikembangkan sapi impor(Serambi,5 September 2008 halaman 23). Bila proyek sapi impor itu benar-benar berjalan, diharapkan harga daging di Aceh akan menjadi murah, paling kurang sebanding dengan harga di Medan Rp.45.000 per kilogram.Karena itu Prof. Jasman mengharapkan Pemda Aceh sedia memberi subsidi kepada pengusaha-pengusaha Aceh yang berminat di bidang penggemukan sapi-sapi impor. Caranya, Pemda mensubsidi bunga Bank kepada para pengusaha tersebut. Disamping itu, ekonom Universitas Syiah Kuala ini juga menyarankan Pemda Aceh untuk menunjukkan keseriusannya tentang program sapi impor itu; misalnya dengan menyediakan aturan pendukung yang kuat , seperti  Qanun maupun Peraturan Gubernur(Pergub).

Sebagai pendamba kemakmuran Aceh, saya sependapat dengan Prof. Jasman J. Ma’ruf. Hanya saja, mudah-mudahan kedatangan sapi-sapi impor ini tidak menghancurkan peternakan sapi lokal, yang hingga kini masih bertahan terutama di Aceh Besar. Dalam pemahaman saya, sapi –sapi impor itu biarlah dikembangkan di kabupaten=kabupaten lain di luar Aceh Besar. Toh dagingnya ‘kan sampai juga ke Aceh Besar untuk memenuhi konsumsi bagi mereka yang suka daging sapi impor. Sementara sapi lokal Aceh tetap menjadi sapi unggulan di Aceh Besar, sedangkan dagingnya pun dapat pula menutupi kebutuhan bagi mereka yang suka daging sapi lokal di seluruh Aceh. Kita tinggalkan dulu pendapat sang pakar, karena selama ini banyak saran para pakar tidak pernah terwujud di lapangan. Kemampuan para ahli hanyalah memberi saran berdasarkan keahlian ilmiahnya, sedang pelaksanaannya amat tergantung kepada kebijakan sang  pemimpin yang berkuasa; apakah mau dipraktekkannya atau dianggap angin lalu saja. Sudah berkali-kali saya mendengar kabar tentang pengelolaan lembah Seulawah secara bisnis, baik berupa pengadaan kebun-kebun buah-buahan atau pembudidayaan sapi atau kerbau, namun sampai hari ini belum pernah terlihat batang hidungnya. Malah pernah muncul gagasan untuk menjadikan areal pegunungan Seulawah sebagai taman pariwisata buah-buahan, yang mana setiap pengunjung dibiarkan memetik sendiri buah-buahan; namun kabar itu melesap bagaikan asap.

Memang masyarakat pedesaan Aceh Besar betul-betul sebagai peternak yang ulet, tekun dan tabah. Ternak yang paling banyak dibudidayakan adalah leumo(sapi)  dan kambing. Bila di beberapa kabupaten lain di Aceh, daging Makmeugang yang populer adalah daging kerbau; maka di Aceh Besar daging yang amat favorit adalah daging sapi. Belum pernah saya dengar ungkapan warga Aceh Besar yang menyebutkan “meunye tapajoh sie leumo lam buleuen puasa saket gigoe!”; seperti dulu sering saya simak di Pidie. Betapa tidak demikian, karena makan daging sapi sudah menjadi warisan endatu di kabupaten Aceh Besar.

Karena itu tidaklah mengherankan, kalau di banyak kampung di Aceh Besar tradisi memelihara lembu dan kambing sudah berlangsung turun-temurun. Bahkan dalam satu keluarga tidak hanya berternak sapi dua-tiga ekor; malah sekaligus dengan puluhan ekor kambing pula. Menjelang hari Makmeugang, baik meugang puasa, lebaran dan haji adalah hari-hari gembira bagi para peternak sapi di Aceh Besar, karena harga sapi pada saat itu tergolong tinggi. Sementara ternak kambing banyak laku terjual bagi kebutuhan masyarakat yang berniat berbagai kenduri seperti ‘aqikah, peutron aneukmiet, khanduri thon, sunatan dan sebagainya.

Dalam hal ini, saya berpendapat untuk bidang peternakan sapi lokal inilah Pemda Aceh Besar perlu memfokuskan perhatiannya. Tak usah mengimpor sapi dari luar negeri. Sapi lokal Aceh Besar saja sudah cukup bagus untuk dikembangkan. Karena toh menurut pengamatan saya, sapi lokal Aceh Besar  jauh lebih besar dan tinggi badannya dibandingkan sapi lokal di kabupaten lain. Hal ini bisa terjadi; mungkin saja para endatu warga Aceh Besar sudah sejak dulu sudah mengimpor sapi-sapi dari luar negeri; yakni sebelum orang-orang sekarang  berniat hendak mengimpornya, yang belum tentu pula bisa terbnukti nantinya

Kalau mau melihat rakyat Aceh Besar makmur; berilah subsidi kepada usaha pembudayaan sapi dan  kambing secara menyeluruh dan berkelanjutan. Soal makanan ternak tentu bisa diatasi, jika  segalanya sudah diupayakan dengan dana yang cukup. Rumput gajah (naleueng gajah) amat subur tumbuhnya diputar Aceh Besar. Bahkan, saya lihat sapi-sapi di sini tidak cengeng tentang jenis makanannya, termasuk daun kedongdong (on keureundong) dirahot/direbut ketika ia sedang ditarik di jalanan oleh pemiliknya. Padahal biasanya daun keureundong itu makanan kambing(eumpeuen kameng).

Warga Aceh Besar juga  rajin berkebun sayur(meudabeueh). Berbagai jenis sayuran banyak dihasilkan daerah ini. Cuma saja, semuanya secara sederhana dan kecil-kecilan.

Dan hal itu telah berlangsung dari generasi ke generasi; mengingat kota Banda Aceh sebagai titik pusat pemasarannya telah pun berusia ratusan tahun. Kini, sudah tiba saatnya para pekebun sayur itu dibina Pemda Aceh Besar dengan sungguh-sungguh. Bila hal ini betul-betul diberi fasilitas yang terus-menerus, saya yakin daerah Aceh pada umumnya dan Banda Aceh pada khususnya akan menjadi wilayah swasembada sayur;dan tak perlu lagi didatangkan dari luar provinsi.

Lembah Seulawah pun merupakan areal yang subur bagi tanaman buah-buahan dan sayuran.  Menurut penuturan orang-orang tua, pada era Belanda dan Jepang, di lembah pegunungan Seulawah  itu dipenuhi kebun berbagai jenis  buah-buahan dan sayuran.

Tentang hal ini; menyambung syair Lembah Seulawah tersebut di atas saya pernah bersenandung begini:

Di Tuan Laot di Jerman geujak

Tanoh geu- kontrak hak Erfpacht langsong

Buah-buahan digobnyan galak

’Oh watee masak geupot meutong-tong

 

Yoh masa Jeupang garang meugrak-grak

Romusha jisak keunan meuron-ron

Pula sayuran meumacam curak

Blang Putek ramphak bak kapai jitron.

 

‘Ohka merdeka Seulawah apak

Hana soe ajak investor dukong

Wahe peumimpin nyang duek bak pucak

Cok jalan bijak rakyat meu-untong!.

 

Begitulah sekelumit profil Aceh Besar; sebuah kabupaten yang memang besar potensinya. Kebesaran ini menjadi semakin lengkap dengan kehebohan pernyataan mundur pemimpinnya yang mau lengser dari jabatan Bupati Aceh Besar. Semoga segera tenteram dan segar kembali, Amiinn!!!.

T.A. Sakti

Penulis adalah pemerhati                              sosial

Kemasyarakatan.

Lagu Pidie – Irama melengking dalam membaca Al Qur’an

Dari seni baca  Al Qur’an
“LAGU PIDIE”,  MASIHKAH DIPERLUKAN?
Oleh : T.A. Sakti
AL QUR’AN adalah kitab suci umat Islam;  menjadi  pedoman hidup makhluk
insani. Ia dibaca serta dihayati sepanjang waktu.  Lebih-lebih lagi
bila bulan Ramadhan tiba.  Banyak “Lagu” atau seni untuk membacanya.
Di antara lagu-lagu tersebut ialah: Husaini; sekarang disebut juga lagu-
Baiyati. Lagu Madirus; sekarang di sebut lagu Rash dan lagu Syikgah..Semua lagu
atau seni baca Qur’an ini sudah dikenal umum.  Dan bahkan dapat di katakan
telah jadi lagu internasional dalam hal membaca Al Qur’an.
Di samping cara melagukan Alquran yang dikenal itu,
masih ada lagi jenis – jenis “lagu Al Qur’an” yang bersifat lokal. Sebagai
misalnya  “LAGU PIDIE” ;yang sangat populer di kalangan
masyarakat Kabupaten Pidie  dan Kabupaten Pidie Jaya suatu masa dulu.  Tapisangat disayangkan, bahwa perkembangan “lagu Pidie” semakin suram. Danbahkan nyaris punah
ditelan masa dewasa ini..
Cara membaca Al Qur’an dengan lagu Pidie,  merupakan hasil olahan dan
adukan yang diadakan oleh ahli-ahli qiraat ( ahli membaca Al Qur’an )
daerah ini tempo dulu terhadap lagu-lagu atau seni baca Al Qur’an yang  penulis
sebutkan di atas.  Sementara itu, lagu Pidie dapat pula di bagi dua.  Yang.pertama
dibacakan dengan suara lantang ( keras ).  Kedua, harus dibacakan dengan
nada lembut dan beralun. Ciri khas lagu Pidie ialah: untuk jenis yang dibacasecara lantang/keras, betul-betul dibaca dengan suara bernada  amat tinggi,sedangkan yang dibaca beralun akan dibacaq dengan suara lembut mendayu-dayuyang lama/panjang.  Bagi lagu Pidie yang dipentingkan adalah tekanan
suara, sedang tajwid dan lainnya sama seperti halnya yang telah diakui para
ahli qiraat.  Memang,tidak semua orang dapat membawakan lagu Pidie; karena
faktor kemantapan atau kesanggupan vokal suara  sangat menentukan. Dalamsebuah kampung yang berpenduduk seratus orang dewasa misalnya, tidak sampaisepuluh orang(kurang dari 10 persen)  yang mempu membaca Alquran dalam laguPidie.  Mungkin  karena faktor inilah yang mempercepat lagu /irama Pidiemenjadi punah . Ia semakin hari semakin hilang dari penampilnya di kalanganmasyarakat Pidie.
Dapatlah  kita katakan,  bahwa nasib lagu Pidie dewasa ini sedang barada dipuncak krisis;  sakratul maut.  Ia sedang menanti saat terakhir dari kehidupannya..Keadaan demikian pasti terjadi,jika dewa-dewa penolong  tidak datangmembantunya.
Menurut keterangan orang tua-tua, pada mulanya cara baca Al Qur’an yang
kini dikenal dengan sebutan “ lagu Pidie ” , dahulu tidaklah bernama demikian.
Maksudnya ia tidak punya nama. Karena memang dianggap sebagai lagu biasa.
Masa itu belum muncul lagu saingan yang lain. Tapi,setelah datangnya ( masuk )
cara bacaan baru ke wilayah Pidie,  barulah lagu itu disebut lagu Pidie. Sementara
lagu yang baru masuk digelar dengan “ lagu Aceh ”.  Perlu dijelaskan, bahwa
yang disebut Aceh saat itu  adalah Aceh Besar sekarang. Dimasa “ lagu Pidie”
masih berada dalam saat-saat kejayaannya.  banyak sekali qari-qariah yang dapat
membawakan lagu ini. Di desa Paloh ( dekat pasar Pidie  -Sigli) sangat terkenal
Teungku Hasyem Lampoh Teubei.. Beliau dapat membawakan “lagu Pidie”dengan merdu sekali. .Kini Teungku Hasyem Lampoh Teubei telah tiada. Danbegitu pula di seluruh daerah Pidie, dulu tentu memiliki                                                    sejumlah qari-qariah yang sangat mahir lagu daerah ini..
Namun semua kemasyhuran dan  kejayaan itu sekarang nyaris sirna. Lagu Pidieyang merupakan ciri khas baca Al Qur’an dari masyarakat Pidie telah di lupakan
peminatnya. Sangat jarang kita dapat dengar irama Pidie dewasa ini. Kalau
dulu ; wah!, hampir di semua kesempatan kita dapat menikmatinya !..
Setiap kali ada acara selamatan ( khanduri thon ),acara pokoknya adalah
membaca AL Qur’an. Semua undangan yang menghadiri khanduri tahunan
itu akan membaca kitab suci AL Qur’an menurut kemampuan masing-masing
Bacaan yang diikuti seluruh peserta adalah hanya sampai saat istirahat/ minumpertama ( neulop phon/tanggul pertama ),.sedang bagi ronde kedua( khusus)hanyadiikutioleh mereka yang punya suara emas. Pada saat itulah “Lagu Pidie ” beraksihabis-habisan. Di saat demikian; kopiah dan peci tidak lagi terpasang di kepala,tapi berubah sebagai kipas angin.
Keringat bercucuran dari semua peserta. Urat leher membesar sangat kentara
(ube sapai) . Begitulah seriusnya mereka membaca Al Quran dengan “lagu Pidie” Keadaan demikian baru berakhir bila sang fajar menampakkan diri di ufuk timur. Tapi,  sejak acara kenduri selamatan hanya diisi dengan membaca surat Al Ikhlas (istilahnya samadiah), maka semua hal yang menarik ini turut sirna. Ia turut hapus bersama dengan berubahnya isi acara selamatan. Selain dalam acara-acara kenduri, lagu Pidie juga sering dibawakan di malam Ramadhan.
Masa itu di semua Meunasah (Surau di Aceh) dalam daerah Pidie melakukan tadarrus Al Quran  sepanjang malam sampai menjelang sahur tiba.. Disini juga bagian  terakhir merupakan saat yang kocak.Mulai jam dua dinihari hingga jam empat pagi;  pembacaan Alquran hanya dilakukan oleh orang-orang pilihan, Mereka tidak lebih dari 4-5 orang, yang khusus mampu membaca dalam lagu Pidie.  Lagi-lagi keadaan yang seronok itu jadi kenangan. Ia telah tiada dan hanya tersimpan dalam  “Album nostalgia”.  Langkahnya semakin hari semakin lunglai serta lesu. Kejayaannya telah dikalahkan oleh saingan-saingannya. Lagu-lagu baru bagi seni baca Al Quran terus masuk menghantam lagu Pidie. Sepatutnya masyarakat kabupaten Pidie, jangan membiarkan lagu daerahnya terus punah. Perlu kiranya diambil inisiatif baru bagi generasi muda, Dan turut campur tangannya  pemerintah tingkat II kabupaten Pidie dan kabupaten Pidie Jaya  pasti sangat menentukan. Lagu Pidie perlu diangkat kembali ke permukaan. Karena ia merupakan harta budaya Islam yang dimiliki daerah ini.  Patut dipertahankan dan terus di kembangkan.
Kalau dulu, penyebaran lagu Pidie hanya bersifat lokal,maka harus dapat diusahakan supaya ruang jangkauannya jadi lebih meluas lagi dimasa depan. Tempat – tempat pengajian dalam  Kabupaten Pidie dan kabupaten Pidie Jaya perlu berinisiatif ke arah ini. Perlu diajarkan “Lagu Pidie” ini kepada tunas muda generasi penerus. Demikian pula dalam musabaqah tingkat kabupaten yang diadakan tiap tahun perlu kiranya dimasukkan “lagu Pidie” sebagai salah satu dari lagu – lagu wajib diantara lagu – lagu yang resmi. Penyisipan ini sangat diperlukan sebagai daya pendorong. Kalau sudah dibawa ke arena perlombaan seperti dalam musabaqah ; sudah pasti generasi muda di kabupaten Pidie akan mengenal kembali budaya Islam dari daerahnya sendiri .Kalau di daerah sendiri telah dapat dimantapkan kembali, maka sudah timbul harapan lagu Pidie akan berkembang ke tingkat provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dan seterusnya.
Kalau di tahun 80-an,  Bupati Pidie Drs. Nurdin AR  dapat membangkitkan kembali Dalail Khairat di Aceh lewat Lomba Dalail Khairat Sekabupaten Pidie, —   sekarang  bacaan Dalail Khairat masih sering terdengar di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar–mudah-mudahan Bupati Pidie dan Bupati Pidie Jaya  yang  sekarang  pun mau berjasa bagi lagu Pidie ;agar berkembang kembali sebagai salah satu seni dalam membaca Alquran!. Dan seandainya setuju dengan gagasan ini; maka pada bulan Ramadhan merupakan moment yang tepat karena  ada peristiwa Nuzulul Qur^an!!!.
T.A. Sakti
Peminat budaya dan sastra Aceh,
tinggal di Banda Aceh.

Dari seni baca  Al Qur’an

“LAGU PIDIE”,  MASIHKAH DIPERLUKAN?

Oleh : T.A. Sakti

AL QUR’AN adalah kitab suci umat Islam;  menjadi  pedoman hidup makhluk insani. Ia dibaca serta dihayati sepanjang waktu. Lebih-lebih lagi bila bulan Ramadhan tiba.  Banyak “Lagu” atau seni untuk membacanya.

Di antara lagu-lagu tersebut ialah: Husaini; sekarang disebut juga lagu-Baiyati. Lagu Madirus; sekarang di sebut lagu Rash dan lagu Syikgah..Semua lagu atau seni baca Qur’an ini sudah dikenal umum.  Dan bahkan dapat di katakan telah jadi lagu internasional dalam hal membaca Al Qur’an.

Di samping cara melagukan Alquran yang dikenal itu,masih ada lagi jenis – jenis “lagu Al Qur’an” yang bersifat lokal. Sebagai misalnya  “LAGU PIDIE” ;yang sangat populer di kalangan masyarakat Kabupaten Pidie  dan Kabupaten Pidie Jaya suatu masa dulu.  Tapi sangat disayangkan, bahwa perkembangan “lagu Pidie” semakin suram. Danbahkan nyaris punah ditelan masa dewasa ini.

Cara membaca Al Qur’an dengan lagu Pidie,  merupakan hasil olahan dan adukan yang diadakan oleh ahli-ahli qiraat ( ahli membaca Al Qur’an ) daerah ini tempo dulu terhadap lagu-lagu atau seni baca Al Qur’an yang  penulis sebutkan di atas. Sementara itu, lagu Pidie dapat pula di bagi dua. Yang.per tama dibacakan dengan suara lantang ( keras ). Kedua, harus dibacakan dengan nada lembut dan beralun. Ciri khas lagu Pidie ialah: untuk jenis yang dibaca secara lantang/keras, betul-betul dibaca dengan suara bernada  amat tinggi, sedangkan yang dibaca beralun akan dibacaq dengan suara lembut mendayu-dayu yang lama/panjang.  Bagi lagu Pidie yang dipentingkan adalah tekanan suara, sedang tajwid dan lainnya sama seperti halnya yang telah diakui para ahli qiraat. Memang,tidak semua orang dapat membawakan lagu Pidie; karena faktor kemantapan atau kesanggupan vokal suara  sangat menentukan. Dalam sebuah kampung yang berpenduduk seratus orang dewasa misalnya, tidak sampai sepuluh orang(kurang dari 10 persen)  yang mempu membaca Alquran dalam lagu Pidie. Mungkin karena faktor inilah yang mempercepat lagu /irama Pidie menjadi punah Ia semakin hari semakin hilang dari penampilnya di kalangan masyarakat Pidie.

Dapatlah  kita katakan,  bahwa nasib lagu Pidie dewasa ini sedang barada di puncak krisis; sakratul maut. Ia sedang menanti saat terakhir dari kehidupannya. Keadaan demikian pasti terjadi,jika dewa-dewa penolong  tidak datang membantunya. Menurut keterangan orang tua-tua, pada mulanya cara baca Al Qur’an yangkini dikenal dengan sebutan “ lagu Pidie ” , dahulu tidaklah bernama demikian Maksudnya ia tidak punya nama. Karena memang dianggap sebagai lagu biasa. Masa itu belum muncul lagu saingan yang lain. Tapi,setelah datangnya ( masuk ) cara bacaan baru ke wilayah Pidie,  barulah lagu itu disebut lagu Pidie. Sementara lagu yang baru masuk digelar dengan “ lagu Aceh ”.  Perlu dijelaskan, bahwa yang disebut Aceh saat itu  adalah Aceh Besar sekarang. Dimasa “ lagu Pidie” masih berada dalam saat-saat kejayaannya.  banyak sekali qari-qariah yang dapat

membawakan lagu ini. Di desa Paloh ( dekat pasar Pidie  -Sigli) sangat terkenal

Teungku Hasyem Lampoh Teubei.. Beliau dapat membawakan “lagu Pidie” dengan merdu sekali. .Kini Teungku Hasyem Lampoh Teubei telah tiada. Dan begitu pula di seluruh daerah Pidie, dulu tentu gemlike sejumlah qari-qariah yang sangat mahir lagu daerah ini..

Namun semua kemasyhuran dan  kejayaan itu sekarang nyaris sirna. Lagu Pidieyang merupakan ciri khas baca Al Qur’an dari masyarakat Pidie telah di lupakan

peminatnya. Sangat jarang kita dapat dengar irama Pidie dewasa ini. Kalau

dulu ; wah!, hampir di semua kesempatan kita dapat menikmatinya !..

Setiap kali ada acara selamatan ( khanduri thon ),acara pokoknya adalah

membaca AL Qur’an. Semua undangan yang menghadiri khanduri tahunan

itu akan membaca kitab suci AL Qur’an menurut kemampuan masing-masing

Bacaan yang diikuti seluruh peserta adalah hanya sampai saat istirahat/ minum pertama ( neulop phon/tanggul pertama ),.sedang bagi ronde kedua( khusus)hanyadiikutioleh mereka yang punya suara emas. Pada saat itulah “Lagu Pidie ” beraksihabis-habisan. Di saat demikian; kopiah dan peci tidak lagi terpasang di kepala,tapi berubah sebagai kipas angin.

Keringat bercucuran dari semua peserta. Urat leher membesar sangat kentara

(ube sapai) . Begitulah seriusnya mereka membaca Al Quran dengan “lagu Pidie” Keadaan demikian baru berakhir bila sang fajar menampakkan diri di ufuk timur. Tapi,  sejak acara kenduri selamatan hanya diisi dengan membaca surat Al Ikhlas (istilahnya samadiah), maka semua hal yang menarik ini turut sirna. Ia turut hapus bersama dengan berubahnya isi acara selamatan. Selain dalam acara-acara kenduri, lagu Pidie juga sering dibawakan di malam Ramadhan.

Masa itu di semua Meunasah (Surau di Aceh) dalam daerah Pidie melakukan tadarrus Al Quran  sepanjang malam sampai menjelang sahur tiba.. Disini juga bagian  terakhir merupakan saat yang kocak.Mulai jam dua dinihari hingga jam empat pagi;  pembacaan Alquran hanya dilakukan oleh orang-orang pilihan, Mereka tidak lebih dari 4-5 orang, yang khusus mampu membaca dalam lagu Pidie.  Lagi-lagi keadaan yang seronok itu jadi kenangan. Ia telah tiada dan hanya tersimpan dalam  “Album nostalgia”.  Langkahnya semakin hari semakin lunglai serta lesu. Kejayaannya telah dikalahkan oleh saingan-saingannya. Lagu-lagu baru bagi seni baca Al Quran terus masuk menghantam lagu Pidie. Sepatutnya masyarakat kabupaten Pidie, jangan membiarkan lagu daerahnya terus punah. Perlu kiranya diambil inisiatif baru bagi generasi muda, Dan turut campur tangannya  pemerintah tingkat II kabupaten Pidie dan kabupaten Pidie Jaya  pasti sangat menentukan. Lagu Pidie perlu diangkat kembali ke permukaan. Karena ia merupakan harta budaya Islam yang dimiliki daerah ini.  Patut dipertahankan dan terus di kembangkan.

Kalau dulu, penyebaran lagu Pidie hanya bersifat lokal,maka harus dapat diusahakan supaya ruang jangkauannya jadi lebih meluas lagi dimasa depan. Tempat – tempat pengajian dalam  Kabupaten Pidie dan kabupaten Pidie Jaya perlu berinisiatif ke arah ini. Perlu diajarkan “Lagu Pidie” ini kepada tunas muda generasi penerus. Demikian pula dalam musabaqah tingkat kabupaten yang diadakan tiap tahun perlu kiranya dimasukkan “lagu Pidie” sebagai salah satu dari lagu – lagu wajib diantara lagu – lagu yang resmi. Penyisipan ini sangat diperlukan sebagai daya pendorong. Kalau sudah dibawa ke arena perlombaan seperti dalam musabaqah ; sudah pasti generasi muda di kabupaten Pidie akan mengenal kembali budaya Islam dari daerahnya sendiri .Kalau di daerah sendiri telah dapat dimantapkan kembali, maka sudah timbul harapan lagu Pidie akan berkembang ke tingkat provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dan seterusnya.

Kalau di tahun 80-an,  Bupati Pidie Drs. Nurdin AR  dapat membangkitkan kembali Dalail Khairat di Aceh lewat Lomba Dalail Khairat Sekabupaten Pidie, —   sekarang  bacaan Dalail Khairat masih sering terdengar di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar–mudah-mudahan Bupati Pidie dan Bupati Pidie Jaya  yang  sekarang  pun mau berjasa bagi lagu Pidie ;agar berkembang kembali sebagai salah satu seni dalam membaca Alquran!. Dan seandainya setuju dengan gagasan ini; maka pada bulan Ramadhan merupakan moment yang tepat karena  ada peristiwa Nuzulul Qur^an!!!.

T.A. Sakti

Peminat budaya dan sastra Aceh,

tinggal di Banda Aceh.

Identitas Aceh dan Tulisan Jawoe

Identitas Aceh dan Tulisan Jawoe

Oleh : T.A. Sakti

 

Bila anda pertama kali mampir di Banda Aceh; secara serempak mata anda akan menyaksikan suatu panorama, yaitu semua papan nama dari bangunan penting seperti toko, kantor dan sekolah tertulis dalam dua macam huruf, yakni Latin dan Arab Melayu. Walaupun dalam penulisan Arab Melayu masih salah-kaprah ; tetapi inilah salah satu identitas Aceh sebagai daerah paling awal masuknya agama Islam di Nusantara. Dan huruf Arab Melayu itu pun pertamakali tumbuh dan berkembang dari wilayah ini.

Sejak kedatangan agama Islam di Aceh, terjadilah islamisasi dalam segala bidang kehidupan, termasuk dalam bidang seni-budaya, misalnya digunakan huruf Arab dalam hal penulisan. Sesudah dibuat penyesuaian seperlunya, huruf Arab ini diberi nama huruf Arab Melayu (bahasa Aceh: harah Jawoe).

Berdasarkan berbagai penyelidikan yang telah dilakukan para sarjana, saya yakin bahwa huruf Arab Melayu berasal dari Aceh. Daerah Aceh merupakan daerah pertama masuk dan berkembangnya Agama Islam untuk kawasan Asia Tenggara. Hampir semua sejarawan Barat dan Timur berkesimpulan demikian. Bersamaan masuknya Islam ke Aceh, maka masuk pula bacaan huruf Arab ke dalam kehidupan masyarakat Aceh, antara lain melalui kitab suci Al-Qur’anul Karim. Bersumber huruf Arab Melayu itu, lambat laun berkembanglah penulisan Arab Melayu tersebut.

Sejarah mencatat, bahwa di Aceh telah berkembang beberapa kerajaan Islam, yaitu Kerajaan Peureulak, Kerajaan Pasai, Kerajaan Benua, Kerajaan Linge, Kerajaan Pidie, Kerajaan Lamuri, Kerajaan Daya dan terakhir kerajaan Aceh Darussalam. Di Kerajaan-kerajaan itu, banyak melahirkan para ulama yang sebagiannya berbakat pengarang. Melalui tangan-tangan terampil merekalah telah ditulis beratus-ratus buah kitab dan karangan dalam bahasa Melayu, Arab dan bahasa Aceh. Tulisan yang digunakan adalah tulisan Arab dan tulisan Jawi (Arab Melayu).

Dalam hal ini UU Hamidy dalam tulisannya “Aceh Sebagai Pusat Bahasa Melayu” (Harian Serambi Indonesia, Minggu 08 Juli 2007) menjelaskan : “bahasa Melayu Aceh berperan penting dalam tradisi pemakaian Arab Melayu. Tak diragukan lagi ulama Acehlah yang telah memakai tulisan Arab Melayu secara luas dalam berbagai kitab karangan mereka. Dari sinilah agaknya tulisan Arab Melayu kemudian menjadi tradisi pula dalam penulisan hikayat di Aceh. Sebab itu tulisan Arab Melayu mungkin juga telah di taja (dipelopori-pen) pada awalnya oleh para ulama di Aceh. Karena tulisan ini juga mempunyai beberapa ragam (versi), maka ragam Arab Melayu yang dipakai di Aceh mungkin merupakan ragam yang tertua. Dalam bidang ini patut dilakukan penelitian yang memadai, sehingga peranan bahasa Melayu Aceh akan semakin kentara lagi di belantara perkembangan bahasa Melayu”.

Memang tidak berlebihan bila penulis berpendapat, bahwa huruf Arab Melayu di tulis pertama kali di Aceh. Sampai sejauh ini, tulisan Jawi(Jawoe) tertua yang sudah pernah dijumpai adalah surat sultan Aceh kepada raja Inggris. Tentang hal ini, Prof. Dato’. Muhammad Yusof Hashim, yang turut hadir pada seminar Pekan Peradaban Melayu Raya di Banda Aceh pada akhir Agustus lalu; dalam satu tulisannya menyebutkan bahwa :

 

 

“Kalau kita mengatakan bahawa naskah Melayu terawal yang pernah ditemui di awal abad ke-17, iaitu warkah daripada Sultan Aceh kepada Raja England, besar kemungkinan naskah warkah itu hanyalah naskah salinan. Adl mengkagumkan juga sebuah naskah di atas kertas seperti itu boleh wujudhampir empat abad lamanya, sekiranya ia betul-betul naskah y ang asli”.

 

Abad ke 16-17 merupakan puncak kebesaran bagi kerajaan Aceh Darussalam. Ketika itu, selain sempat diperintah beberapa Sultan terkemuka, Aceh juga telah dibimbing beberapa ulama kaliber dunia, yaitu Hamzah Fansury, Syamsudin As-Sumatrani, Syekh Nuruddin Ar-Raniry dan Syekh Abdurrauf As-Singkily atau Syiah Kuala. Keempat ulama Aceh ini amat banyak karangan mereka, baik dalam bahasa Arab maupun dalam bahasa Melayu. Kitab-kitab tulisan keempat ulama ini tidak hanya beredar di Aceh, tetapi meluas ke seluruh Asia Tenggara dan dunia Islam lainnya. Ditinjau dari segi perkembangan penulisan Arab Melayu dan pertumbuhan bahasa Melayu; keempat ulama Aceh inilah serta beberapa ulama Aceh lainnya; betul-betul telah berjasa dalam menyebarkan “peradaban” Melayu tersebut.

Pada abad ke-17 bangsa Eropa mulai berdatangan ke Asia Tenggara. Dari waktu ke waktu sampai ke abad ke-20, mereka semakin merata berada di berbagai negeri di Nusantara. Akhirnya semua negeri berkebudayaan Melayu telah menjadi jajahan dari bangsa Barat. Kesemua bangsa penjajah itu, yaitu Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, Perancis dan Amerika Serikat adalah bangsa-bangsa yang tidak memakai huruf Arab (Arab Melayu) dalam penulisannya. Mereka memiliki huruf sendiri yang berasal dari peradaban Yunani-Romawi, yaitu huruf Latin. Sejak itu, peranan huruf Arab Melayu secara berangsur-angsur terus berkurang dalam kehidupan orang-orang pribumi. Sebab, para penjajah memaksakan huruf Latin kepada rakyat di Nusantara ini melalui lembaga-lembaga pendidikan yang di bangun mereka.

Khusus di Hindia Belanda (sekarang Indonesia), penggusuran secara besar-besaran huruf Arab Melayu baru terjadi secara resmi pada tahun 1901. Ketika itu, pada tanggal 1 Januari 1901, Raja Belanda Ratu Welhilmina mengeluarkan Dekrit untuk mengeluarkan politik Etis dalam sistem penjajahan di Hindia Belanda. Politik “balas budi” itu antara lain memberikan pendidikan modern ala Barat kepada anak negeri jajahan Belanda. Karena itu, dibangunlah beribu-ribu tempat pendidikan umum di seluruh Hindia Belanda dengan memakai huruf Latin dalam penulisannya. Hal ini secara langsung telah menjatuhkan martabat huruf Arab Melayu dalam pandangan sebagian pribumi. Tinggallah Dunia Pesantren, Surau dan Pondok (Dayah di Aceh) sebagai benteng terakhir, sehingga penulisan Arab Melayu masih kekal lestari hingga saat ini. Sebagai bukti, perpustakaan Dayah Tanoh Abee Seulimum, Aceh besar, masih memiliki beribu-ribu naskah kitab lama.

Kemunduran bagi penulisan Arab Melayu di Aceh lebih kemudian. Ketika Belanda sedang mengganyang huruf Arab Melayu secara gencar di daerah-daerah lain– lewat pendidikan ala Barat– malah di Aceh (thn 1901), Belanda sedang bertempur habis-habisan melawan rakyat Aceh, yang telah di tempa dengan baris-baris tulisan Arab Melayu, yakni hikayat Prang Sabi. Akhirnya para ilmuan Belanda yang dipelopori Snouck Hurgronje berusaha mempelajari karya-karya berhuruf Arab Melayu milik orang Aceh guna mengetahui “ jalan pintas” mengalahkan perlawanan orang Aceh sendiri. Tidak kurang 600 naskah Jawi/Jawoe (Arab Melayu) telah dialihkan ke huruf Latin oleh pemerintah Belanda saat itu.

Dalam era Indonesia merdeka, perhatian pemerintah terhadap penulisan Arab Melayu mulai Tumbuh, namun tidak berumur panjang. Di saat itu, pelajaran membaca dan menulis huruf Arab Melayu telah diajarkan di sekolah-sekolah pada tingkat sekolah dasar. Tetapi sekitar tahun 60-an pelajaran tersebut dihapuskan, yang kemungkinan besar akibat desakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sedang merajalela ketika itu.

Sebatas penulis ketahui, khusus di Aceh sejak beberapa tahun yang lalu juga diajarkan kembali tulisan Arab Melayu dengan nama Tulisan Arab Indonesia (TAI). Menurut pengamatan saya, cara pengajaran TAI ini tanpa acuan yang baku, sehingga dalam penulisan TAI amat salah-kaprah. Mungkin hasil dari pengajaran TAI di sekolah-sekolah itulah yang kini terpampang di papan nama toko, kantor dan sekolah di Aceh.

Perkembangan terakhir dari penulisan Arab Melayu di Aceh adalah keluarnya Instruksi Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) tanggal 1 Muharram 1423 atau 16 Maret 2002, yang menggalakkan kembali penggunaan huruf Arab Jawi di Bumi Aceh Serambi Mekkah. Itulah salah satu karya nyata Gubernur Aceh, Ir. Abdullah Puteh, M.Si yang masih terwariskan bagi warga Aceh hingga kini. Berikutan dengan keluarnya instruksi Gubernur itu, telah dibentuk Tim Penyusun Buku Pedoman Penulisan Arab Melayu di Aceh. Namun, karena kepepet waktu, buku yang dihasilkan kurang memadai wujudnya. Lantaran itu, salah seorang mantan anggota team tersebut telah berupaya menulis buku lainnya dengan judul “ Sistem Penulisan Arab-Melayu (Suatu Solusi dan Pedoman)”. Buku yang ditulis Drs. Mohd. Kalam Daud, M.Ag dosen Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry ini, diterbitkan Dinas Pendidikan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tahun 2003. Karena buku tadi dianggap terlalu tebal dan banyak uraiannya, maka Drs.Mohd.Kalam Daud M.Ag yang pakar huruf Arab Jawoe ini menulis lagi sebuah buku tipis, yang berjudul “Kaidah Penulisan Arab-Melayu”, yang juga diterbitkan Dinas Pendidikan NAD tahun 2005.

Walaupun telah diterbitkan beberapa buku pedoman, tetapi amat disayangkan, pelaksanaan instruksi Gubernur itu tak pernah dievaluasi. Padahal pelaksanaan di lapangan sungguh amburadul. Penulisan nama-nama bangunan misalnya, lebih banyak yang salah dibanding yang betul menurut kaidah-kaidah yang sebenarnya. Bukan itu saja, bila hendak menampilkan identitas Aceh, maka bukan pada bangunan gedung saja yang semestinya ditulis dengan tulisan Jawi; tetapi nama-nama jalan pun perlu dibuat demikian. Di kota Yogyakarta misalnya, nama-nama jalan di sana selain dengan tulisan Latin juga ‘disandingkan’ dengan huruf Kawi/Jawa kuno. Mengapa pada kita tidak?. Tujuan semula; guna menonjolkan identitas Aceh sebagai daerah perdana masuknya Islam di Asia Tenggara. Tatapi hasil yang didapat, mungkin hanya cibiran sinis para tamu/turis dari negeri-negeri Melayu di nusantara. Itulah akibatnya, bila sesuatu tidak dilaksanakan dengan profesional dan sungguh-sungguh. Bagaikan menepuk air di dulang; muka kita sendiri yang menerima padahnya. Sejauh yang saya ketahui, hanya Badan Dayah NAD Banda Aceh yang pernah melaksanakan penataran penulisan Arab Melayu pada tahun 2006 dan 2007 dengan salah seorang nara sumbernya Drs.Mohd.Kalam Daud, M.Ag tersebut. Sebenarnya, para guru yang mengasuh mata pelajaran TAI-lah yang semestinya diberikan bimbingan khusus mengenai penulisan TAI itu. Karena merekalah yang langsung mengajari muridnya di kelas. Namun, kegiatan demikian belum terdengar sampai saat ini.

Akhirul kalam, saya menyarankan bahwa setiap calon pejabat legislatif dan eksekutif di Aceh tidak hanya dites mampu membaca Al-qur’an ; tetapi perlu pula dilakukan tes kemampuan membaca dan menulis huruf Arab Melayu/Jawoe, karena sesungguhnya huruf Arab Melayu itu berasal dari Aceh, yang kemudian berkembang ke seluruh Nusantara/ Asia Tenggara!!!.

 

 

T.A. Sakti

 

Peminat Budaya dan Sastra Aceh,

Tinggal di Banda Aceh