“Radioryo Wong Kito Galo”

”Radioryo

Wong Kito Galo”

Radionya wong Palembang, 105.8 FM. Cek molek lanang belagak makcik, bicik, abah,ibok, matep terus di sinidan jangan ke mano-mano.” (RadionAa orang Palembang, 105.8 Ramona FM. Nona cantik, pemuda ganteng, paman, bibi, bapak, ibu, teruslah di sini dan jangan ke mana-mana),

kata-kata itu meluncur dengan cepat dan bernada ceria dari mulut Cek Enab, penyiar Radio Ramona. saat mengawali siaran Nyemolo, yang berisi pembicaraan tentang kehidupan sehari-hari di Palembang. Gadis bernama asli Enab Verawati itu membawa acara berbahasa Palembang tersebut dengan lincah dan memandu pembicaraan telepon dengan para pendengar.

Sekali- sekali jari lentik mahasiswi semester dua di salah satu perguruan tinggi swasta di Palembang itu memutar lagu-lagu dangdut dan melayu untuk menghibur para pendengarnya.

“Asyik juga memandu acara berbahasa Palembang. Semua pembicaraan dengan pendengar dapat berlangsung dengan spontan,” kata gadis Palembang itu.

Cek Enab merupakan salah satu dari beberapa penyiar Radio

Ramona yang diwajibkan untuk selalu berbicara dalam bahasa palembang. Sejak direkrut menjadi penyiar, Cek Enab dan rekan-rekannya di didik bahasa Palembang, baik bahasa harian maupun baso kerehen, secara khusus selama dua bulan, selain pendidikan kepenyiaran.

Menurut Kepala Stasiun Radio Ramona, M Ellyzon Maza,

sejak didirikan pada Tahun 1969, Radio Ramona memang didedikasikan sebagai radio berbahasa Palembang. Dampaknya radio tertua di ibukota Sumatera Selatan itu mempunyai

tempat khusus di hati masyarakat Kota Pempek dan selalu tampil unik.

Bigi Agnes, warga Jalan MP Mangkunegara, Palembang radio berbahasa Palembang seperti Ramona FM dan Sriwijaya FM merupakan media yang tepat untuk belajar bahasa Palembang dengan benar. Sebagai warga pendatang dari Pulau Jawa, Agnes merasa harus belajar bahasa Palembang agar mudah bergaul dengan masyarakat setempat.

“Sebetulnya berbahasa Palembang itu tidak sulit karena banyak kosakata yang sama dengan bahasa Jawa atau bahasa Melayu. Namun, saya perlu tahu lafal dan kosakata yang tepat agar dapat berbicara bahasa Palembang dengan nyaman.” Kata Agnes.

Bagi masyarakat Palembang seperti Rudiyanto, warga di kawasan Kilometer Lima, radio berbahasa Palembang sangat berguna untuk membantunya mengerti baso keheren atau bahasa Palembang yang lebih halus. “sering kali ada beberapa kata baru yang saya dengar dan pelajari dari Radio Ramona,” kata Rudiyanto.

Tambahan kosakata baru itu dirasa sangat membantu pengayaan bahasa Palembang, yang telah digunakannya selama ini. Rudiyanto juga berharap penggunaan bahasa Palembang di radio akan membantu anaknya yang masih kecil untuk mengenal bahasa Palembang yang halus.

“Saya tidak mau anak saya tidak mengenal bahasa daerahnya sendiri. Saat ini saya melihat banyak anak kecil tidak mampu berbicara bahasa Palembang dengan benar karena tercampur dengan bahasa Indonesia dan bahasa lain.” kata Rudiyanto.

Bagi Rudiyanto, selain menguasai bahasa Indonesia dan Inggris, anaknya diharapkan juga menguasai bahasa Palembang sebagai identitas dirinya. Oleh karena itu, ia berharap, radio yang telah mendeklarasikan diri sebagai radio berbahasa Palembang tetap menjaga konsistensi mereka.

(Sumber:  Kompas, Jumat, 20 Mei 2005 halaman 19 ).

Radio Berbahasa Palembang!

RADIO BERBAHASA PALEMBANG

-          Dapat Meningkatkan Kecintaan pada Budaya Lokal

 

Palembang,Kompas- Pemakaian bahasa palembang dalam siaran beberapa radio swasta di kota itu dinilai menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal dan membiasakan masyarakat menggunakan bahasa Palembang yang asli. Penggunaan bahasa daerah itu di media masa diharapkan dapat menahan kontaminasi atau pengaruh bahasa lain, yang memiliki kecenderungan merusak bahasa lokal.

Menurut Ketua Dewan Kesenian Sumatera Selatan Djohan Hanafiah di Palembang, Kamis (19/5), penggunaan bahasa Palembang di radio akan merangsang masyarakat, terutama generasi muda Palembang. Untuk memakai nya dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Palembang yang digunakan stiap hari, baik bahasa harian maupun baso kerehen (bahasa yang lebih halus),akan lebih mudah di praktekkan dan sulit untuk dipengaruh oleh bahasa lain.

“Selama lni bahasa Palembang telah terkontaminasi bahasa Indonesia atau bahasa Jakarta sehingga generasi muda salah dalam pemakaiannya. Sebagai contoh, kata dapat atau bisa dalam bahasa Indonesia di terjemahkan menjadi biso dalam bahasa palembang yang terkontaminasi. Padahal, kata itu seharusnya diterjemahkan menjadi pacak karena biso adalah bisa atau racun ular,” ujarnya.

Menurut Djohan, generas muda juga tidak akan malu untuk menggunakan bahasa Palembang karena sudah menjadi mode lokal. Dengan menguasai bahasa daerahnya, generasi muda tidak akan kehilangan identitas dirinya.

Di Palembang saat ini terdapat dua stasiun radio FM, yang secara konsisten menggunakan bahasa Palembang sebagai bahasa pengantar, yaitu Radio Ramona dan Radio Sriwijaya. Kedua radio itu menggunakan bahasa Palembang sejak awal sampai akhir siaran setiap hari.

Menurut Ellyzon Maza, Kepala Stasiun Radio Ramona FM, penggunaan bahasa Palembang memiliki dua dimensi, yaitu aspek bisnis dan pengembangan budaya. Dari sisi bisnis, penggunaan bahasa Palembang menciptakan segmen pasar tersendiri yang cukup besar.

Sementara untuk mengembangkan budaya dan bahasa, Radio Ramona menyisipkan baso kerehen dalam bahasa harian yang digunakan untuk siaran setiap hari. Penggunaan bahasa Palembang itu juga didukung dengan acara-acara yang menampilkan semua sisi budaya dan kehidupan masyarakat.

Ellyzon mengatakan, Radio Ramona juga konsisten menggunakan bahasa Palembang untuk menyiarkan berita dan lagu-Iagu yang bernuansa Palembang dan melayu. Demikian juga dalam mewawancarai narasumber.

Sementara itu, Manajer Produksi Radio Sriwijaya FM, Indra Sriwijayatni, mengatakan, sebagai radio etnik, radio yang dikelolanya berniat melestarikan budaya Palembang serta mempromosikan kawasan dan aktivitas tradisional.

Radio Sriwijava juga mewajibkan para penyiarnya untuk terus menggali dan menyisipkan baso kerehen dalam setiap siaran, paling tidak satu dari setiap 10 kata yang diucapkan. Setiap iklan dan berita juga disiarkan dalam bahasa Palembang sehingga masyarakat semakin mudah menerima bahasa itu dalam setiap konteks kehidupan. “Bahasa Palembang dibawakan dengan gaya bicara yang ringan dan penuh humor sehingga semakin memudahkan masyarakat untuk mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari,” urainya. (ECA)

 

( Sumber: Kompas, Jumat, 20 Mei 2005 halaman 19 ).

 

 

Hubungan Rohani Yang Erat Anatara Mekkah dengan Indonesia

HUBUNGAN ROHANI YG ERAT

(Diantara Tanah Suci Mekkah Dengan Indonesia)

Oleh:Prof Dr.Hamka

DI DALAM kitab Sejarah Melayu yang dikarang oleh Tun Sri Lanang pada permulaan tahun 1600 ada disebutkan bahwa asal-mulanya agama Islam tersebar di tanah air Indonesia ini ialah karena Syarif di Negeri Mek­kah pada suatu malam. bermimpi bahwa Baginda bertemu dengan Nabi Muham­mad dan dalam mimpi itu Rasulullah memerintahkan kepada Baginda agar pergi ke tanah air kita ini menyebarkan agama Islam, karena di negeri ini kelak kemudian hari akan banyak timbul Waliullah.

Meskipun cerita ini masih termasuk suatu dongeng namun intisari ceritera yang disebutkan di dalamnya ada-lah mengandung kebenaran. Karena sejak agama Islam masuk ke negeri kepulauan Indonesia ini, termasuk juga Semenanjung Tanah Melayu yang sekarang disebut Malaysia, jelaslah Islam masuk dengan aman dan damai, tidak dengan per-perangan. Orang menerima Islam dengan dada terbuka dan penuh cinta kasih sayang. Banyak pula timbul ceritera bahwasanya Raja di suatu negeri kedatangan se-orang mulia dan Mekkah, lalu memberi Kitab Suci Al-Qur’an, atau memberikan hadiah cincin bermata akik dan lain-lain sebagainya, sampai Raja itu memeluk agama Islam dan titel rajanya ditukar dengan sebutan Sulthan.

Sesudah menerima do-ngeng-dongeng sebagai demikian itu akhirnya kita mendapati kenyataan. Yaitu banyaknya orang-orang Indonesia yang berlayar ke Tanah Suci, menurut ilmu agama Islam, lalu datang kembali ke Indonesia buat menebarkan agama Islam. Yang mula-mula sekali ter-kenal ialah seorang anak muda dari Makassar (Ujung Pandang) bernama Moham-mad Yusuf. Dia pergi me-nuntut ilmu ke Mekkah, memperdalam pengetahuan-nya dalam bidang ilmu Tashawwuf, sampai menca-pai martabat yang tinggi, terutama dalam thariqat Khalawatiyah. Dia menda-pat gelar yang mulia dalam thariqat itu, yaitu Syaikh Yusuf Abdul Mahasin Hadi-yatullah Tajul Khalwati.

Setelah dia pulang ke tanah air dalam abad ke enambelas dia telah menetap di Banten Tanah Jawa. Lalu diangkat oleh Sulthan Ban-ten menjadi Mufti dalam Ke-rajaannya. Maka tatkala ter-jadi peperangan di antara Banten dengan Belanda, dna Belanda itu menyokong putera Sulthan yang ber­nama Sulthan Haji, maka Sulthan Banten yang ber­nama Sulthan Agung Tirta-yasa telah berperang me-ngangkat senjata melawan kekkuasaan Belandan dan syaikh Yusuf tersebut ber-pihak kepada Sulthan dan turut aktif dalam pepe­rangan itu. Akhirnya Belan­da yang menang, Sulthan Agung Tirtayasa ditawan di-buang ke Jakarta dan Mufti beliau, Syaikh Yusuf di-buang ke luar negeri, yaitu ke pulau Ceylon, yang seka­rang lebih terkenal dengan nama Sri Lanka.

Sampai di Ceylon itu pe-ngaruh Ulama Besar itu bertambah. Orang-orang yang naik haji ke Mekkah musti singgah di Ceylon, baik waktu akan pergi atau waktu akan pulang. Maka senan-tiasalah mereka itu datang menemui Syaikh Yusuf itu di pulau Ceylon dan menam-baha pengetahuan merka kepada beliau. Akhirnya Be­landa memindahkan pem-buangan Syaikh itu ke Kaap-stad, Afrika Selatan. Sampai zman sekarang ini penduduk Muslim di daerah Afrika Se­latan itu mengakui berasal dari Indonesia, sebagai murid-murid dan pengirin dari Syaikh Yusuf. Dan kuburan beliau masih tetap diziarahi di sana, meskipun tulang-tulang beliau telah dipindahkan dari Afrika Se­latan itu ke Sungguminasa di Makasar (Ujung Pandang).

Sejak masa itu banyaklah orang-orang Indonesia yang pergi mempelajari agama Islam secara mendalam ke negeri Mekkah dan timbul-lah ulama-ulama yang ter-nama. Sampai sekarang zaman kita sekarang ini masih diingat orang ulama-­ulama pada mulanya duduk bertahun-tahun di Mekkah dan menebarkan karangan-karangan mereka dalam bahasa Indonesia atau dalam bahasa Arab. Yang sangat terkenal ialah Syaikh Abdul Shamad Al Falimbani (Pa-lembang) yang menjadi Muf­ti di negeri itu seketika Palembang masih mem-punyai Sulthan. Karangan-karangan beliau sampai se­karang ini masih ada ter­sebar. Dan beliau bersaudara dengan Syaikh Abdul kadir Mufti negeri Kaedah. Se-dangkan kedua beliau ini adalah putera dari Syaikh Abduljalil AI-Mahdani yang berasal dari Yaman. Syaikh Abdul Samad itu rnati syahid pada peperangan negeri Kac-dah dengan Siam.

Kemudian itu termasyhur pula Mufti negeri Banjar-masin. Yaitu yang bernama Syaikh Al-Banjar, menjadi Mufti pula dari Sulthan Ban-jarmasin. Beliau inipun ber­tahun-tahun pula tinggal di negeri Mekkah. Karangan beliau dalam dalam Ilmu Fighi bernama Kitab Sabilul Muhtadin, sebagai lanjutan dari pada Kitab Shiratal Mustaqim yang dikarang oleh seorang Ulama di Aceh bernama Syaikh Nuruddin Al-Raniri.

Terkenal lagi seorang ulama lain berasal dari Ban-ten (Pulau Jawa) bernama Syaikh Arsyad Nawawi Bantany. Murdi-murid beliau tersebar di seluruh negeri Banten dan seorang pengarang zaman baru Said Haidir telah mengarang sebuah buku mengenai se-jarah Syaikh Nawawi ter­sebut. Sampai sekarang masih didapati orang di negeri Mekkah bekas tem-pata beliau: mengajar di negeri itu.

Yang sangat terkenal ialah Syaikh Ahmad Khatib ber­asal dari Minangkabau. Sebab itu dalam bahas Arab nama beliau disebut Syaikh Ahmad Khatib Bin Abdul-lathif Al-Minkabawy (Mi­nangkabau). Setelah reda huru hara peinberontak rak-yat Minangkabau (Sumatera Barat) melawan kekuasaan Belanda (1821-1833), maka Ahmad Khatib telah berlayar ke Mekkah. Kelakuannya yang baik, budi-pekertinya yang so pan dan keta’atannya memegang agama telah me-narik hati seorang hartawan di Mekkah, bernama Hamid Kurdi. Oleh karena orang Kurdi dan orang Indonesia sama-sama menganut Mazhab Syafi’i, maka Syaikh Hamid telah sudi menerima Ahmad Khatib menjadi me-nantunya, lalu dikawinkan dengan anak perempuannya. Setelah meninggal kakaknya, disilihnya lagi kepada adik-nya. Syaikh Ahmad Khatib icupun anak dari seorang ter-kemuka di Minangkabau. Ayah Ahmad Khatib yang bernama Abdullatif itu ber-saudara dengan Sutan Mo-ham mad Salim, dan Sutan Monammad Salim itu adalah ayah dari Haji Agus Salim, Pahlawan National Indonesia yang cerkenal (wafat tahun 1953).

Syaikh Ahmad Khatib ini mempunyai murid mempu-nyai murid-murid yang ba-nyak tersebar di seiuruh In­donesia. Di antara murid-muridnya ialah ayah penulis ini sendiri, Syaikh Abdul-karim Amrullah, Syaikh Mo hammad Jamii Jambek, Syaikh Ibrahim bin Musa dan beberapa orang Mufti dalam beberapa Kerajaan di Sumatera Timur dan di Malaysia. Beliau banyak me-ngarang kitab-kitab agama dalam bahasa Arab. Oleh karena ilmu beliau yang luas dan dalam, beliau telah menjadi Guru Besar di dalam Mesjid AI-Haraam di Mekkah. Diangkat pula menjadi Imam dan Khatib oieh Kerajaan Syarir di Mek­kah. Beliau telah meninggal pada tahun 1334 H. (1916), yaitu ketika mulai hebatnya Perang Dunia Pertama.

Lantaran kedudukan beli­au yang begitu mulia dalam masyarakat Mekkah di kala hidupnya, maka putera-pu-teranya menjadi orang-orang besar belaka. Puteranya yang bernama Abdulmalik di zaman pemerintahan Syarif (AI-Mal.k) Husain telah diangkat menjadi Duta Besar Kerajaan Hasyimiyah di Mesir. Kemudian seteiah pemerintahan Kerajaan Ibnu Saud, maka Raja Abdul Aziz bin Saud telah mengangkat putera beliau yang kedua, Abdul Hamid AI-Khatib menjadi Dutabesar di Pakis­tan. Ketika terjadi penye-rahan kedaulatan Belanda kepada Republik Indonesia, Kerajaan Saudi Arabia telah mengutus Duta Besarnya di Pakistan itu bernama Syaikh Qazzaz menjadi Utusan Kerajaan menghadiri penye-rahan kedauiatan itu di In­donesia.

Sesudah itu tampillah nama lain, yaitu Syaikh Janan Thayib berasal dari Bukittinggi juga, menjadi Pen a seh at Kerajaan di kala hidupnyua. Beliau in a si h mendapati Indonesia inen-capai kemerdekaannya.

Lantaran kemasyhuran nama ulama-uiama besar itu maka banyakiah bangsa Indonesia (di/aman dahulu lebih terkenal dengan sebutan Jawi) berlayar ke Tanah Suci dengan harapan mencapai ilmu yang ter-tinggi itu pula. Mereka hidup di Mekkah sampai bertahun tahun, sampai turun-temurun, masmg-ma-sing disebut menurut kam-pung asalnya. Ada nama Mandurah (Madura), Asyih (Aceh), Batubara, Indragiri, Minangkabau, Sambas, Bugis (sekarang ada seorang keturunan Bugis menjadi Menteri Muda Urusan Haji dan Wakaf).

Ada keturunan Garut, ada keturunan yang di Mekkah disebut Bar urn, berasal dari Kata PARUNG. Dan banyak lagi keturunan lain yang disebutkan menurut kam-pung asal mereka itu.

Dua kali Departemen Agama Republik Indonesia telah mengundang pendu-duk penduduk berasal dari Indonesia itu dan telah men­jadi Warganegara Saudi Arabia, untuk datang ziarah ke kampung halamannya dahulu kala, tanah Indonesia tercinta dan merekapun telah kembali ke Mekkah membawa kesan yang mendalam di hati masing-masing. Maka lekatlah dalam hati dan kenangan mereka kemdahan kampung hala-inan asli, tetapi kesucian tanah Mekkah yang semua kita mencintainya selalu memanggil mereka buat kembali kesana.

Sebab itu maka hubungan

di antara Indonesia, yang penduduknya lebih dari 90% beragama Islam dengan negeri Saudi Arabia, adalah lebih mendalam dari hu­bungan politik dan ekonomi. Dia dihubungkan oleh aqidah, oleh cinta yang diturunkan sejak Nabi Mu­hammad S.A.W. sampai se­karang dan sampai hari ‘Qiamat, selama suara AZAN masih mendengung men-dayu dari puncak menara yang tinggi. Maka naik Haji ke Mekkah Rasul Allah di Madinah, adalah menjadi kerinduan yang tidak pernah putus-putusnya dalam hati kaum Muslimin Indonesia. Yang telah sepuluh kali naik haji masih ingin hendak naik yang kesebelas lagi.

Di Hejaz ada musim dingin yang sangat dingin dan musim panas yang sangat panas; namun bila diri telah kembali ke tanah-air Indone­sia, masih saja keluhan bathin, bila lagi hendak naik ke sana. Maka berdendang-iah dia dalam hatinya:

“Aku rindu hendak pergi ke Tanah Haraam Rasul Allah, yang memberi aku pe-tunjuk. Moga-moga kiranya aku menang mencapai ke-inginanku dan kerinduan ku…..”. (Iskandarm

 

 

( Sumber: Majalah SANTUNAN, No. 45 Tahun Ke V,  Juli 1980 halaman  8 – 9).

Tipu Aceh Gurindam Barus?

TIPU ACEH GURINDAM BARUS?

 

Oleh: Said Abubakar

 

Kata TIPU dalam gerak biologis adalah penipuan yang menjadi ciri seseorang apabila menjanjikan tetapi tidak menepatinya, tipu juga melekat pada pribadi tidak sesuai kata dengan perbuatan. Keduanya hal tersebut adalah tingkah tipu atau bohong dalam pengertian sehari-hari.

Dari pandangan hukum penipuan adalah segala perbuatan pemalsuan sehingga mengaburkan nilai asli berobah menjadi imitasi. Dalam dunia perfilman adanya suatu tricker atau penipuan adalah suatu shoo­ting yang mempunyai nilai seni.

Jika dilihat dari teori politik dan kemuslihatan umum apalagi zaman perang, penipuan atau tipu muslihat sering terjadi dan dari perjalanan sejarah perang adalan Alharbu Kid’ah, perang itu adalah tipu muslihat untuk mengalahkan musuh.

Yang dipertanyakan ialah, apakah isensial adanya sebuah pameo yang berkembang pada zaman Perang Aceh dengan Belanda yang hingga kini kadang kala endapan itu menguap pula, yaitu TIPU ACEH GURIN­DAM BARUS, maksudnya kalau Tipu ialah di Aceh kalau Gurindam ialah di Barus (Tapanuli Tengah).

Penulis ingin menjawab tentang Tipu Aceh sedangkan Gurindam Barus adalah sebagai kata pelengkap saja, karena kedua kata yang majemuk itu pengertian hampir sama tetapi tidak sebangun, yang satu menjadi seni perang dan satu lagi irama hidup dalam bentuk sastra.

Untuk itu perlu dikaji terlebih dahulu bagaimana Kepribadian atau watak orang Aceh. Kepribadian Aceh adalah bermoral Pancasila yang titik sentralnya pada Sila yang pertama sesuai dengan syariat agamanya (Islam), dan ciri khas dalam wataknya terlihat dalam peribahasa Aceh yaitu, CRAH BEUKAH, maksudnya suka melihat   bagaimana adanya dan bagaimana sebab musabab suatu hal. Orang Aceh dikenal suka marah te­tapi suka damai sebab damai adalah hukum tertinggi didunia, ia bersemangat, fanatik tetapi tertutup, yang dalam gaya hidupnya SIHET BEK MEUNYO ROO BAH-LE HABEEH, artinya seperti air dalam gelas, jangan mi­ring tetapi jika tertumpah biarlah habis, maknanya jangan usik prinsip tanpa ada sebab musabab, tetapi apa­bila  kena batunya ia sedia mengorbankan apa saja, sesuai    dengan    peribahasa MEUNYO MUPAKAT LAMPHON JIRAT TAPEU-GALA, maksudnya bawalah ia bermusyawarah untuk mencapai sesuatu, kemudian ia akan sedia mengorbankan apa saja harta hatta nyawa.

Pahlawan Nasional Tgk Chik Ditiro sendiri pernah berucap bahwa Orang Aceh “Meunyo mangat hatee jitem matee, meunyo saket hatee jipubloy kuta. Apabila hatinya senang dan setuju ia sedia mati tetapi jika hatinya disakiti ia akan kianati.

Maka, jika dikaitkan dengan kepribadian ataupu watak orang Aceh sebagai digambarkan diatas adalah mustahil apa yang dilontarkan oleh pihak sana bahwa orang Aceh tukang tipu yang membudaya.

Sebab, jika dilihat: dari segi physiokologi dalam watak yang demikian tidak mungkin bersarang dua gejala dari garisah naluri yang berlawanan, terkecuali ia hanya merupakan satu penalaran pada suatu PENTAS atau babakan Sandiwara yang tentu dimainkan oleh pemain yang berwatak yang dipergelarkan dimalam berlangsungnya suatu Kumidi.

Pada kurun yang sama (Perang Aceh dengan Belanda) dapat pula disimak dari yournal, memori dan perpustakaan Belanda, bahwa orang Acch juga disebut ATJEH MOORDEN, maksudnya oran Aceh suka membunuh, karena pada zaman itu orang Aceh pantang melihat orang Belanda biar dalam perang atau dipasar terus menebas dengan pedang dan menikam dengan Rencong.

Oleh sebab itu cukup dalil bahwa kata-kata Tipu Aceh yang dimaksudkan adalah merupakan seni perang yang dilontarkan oleh pihak Belanda sebagai “bisik-ba­tik” (counter intelijensi) atau perang urat syaraf dalam menghadapi “Aceh.

II

Perang Aceh dengan Belanda yang berlangsung nyaris 70 tahun sejak 26 Maret 1873 hingga 12 Maret 1943, adalah perang yang termaha1 dan tinggi nilainya dalam sejarah baik dari segi material, moral maupun strategi dan taktis.

Perang itu berawal dari pemalsuan dari pihak Belanda sendiri dengan mengenyam pingkan traktat London (24 Maret 1824) dan merobek-robek perjanjian persahabatan antara Kerajaan Aceh de­ngan Kerajaan Belanda (Agrement Jan Van Swieten dengan Sulthan Mansyursyah 30 Maret 1857) yang telah disahkan oleh Staaten Generaal.

Bayangkan pula selain ratusan perwira, bentara bangsa Belanda dan ribuan prajurit yang tewas, terdapat 4 orang Jenderal yang mati yaitu Jenderal J.H.L. Kohler, Gubernur Militer Jenderal J.LJ. PEL, Gubernur Militer Jenderal M.K.F. van H.Demmeni dan Gubernur Militer Jenderal JJ.K. De Moulin, disamping itu 7 Jen­deral yang dicopot, gagal, dan sakit.

Selain mendatangkan serdadu, amunisi, uang dan alat-alat kelengkapan perang dan pendudukan, Belanda juga mempergunakan perang kuman, dan menda­tangkan seorang sarjana yang khusus untuk memberi nasehat untuk memenangkan perang yaitu Prof. Dr. Snouck Hagonje yang pernah menyamar atau menipu de­ngan nama Abdul Gaffar dan bagi orang Aceh dikenal dengan nama Tuan SENUT karena ialah pula yang menjadi arsitek teori “banjir darah” dan devide at impera, yaitu menanam gunjing antara sesama orang Aceh, dalam berbagai lingkungan hidupnya.

Dari pihak Aceh sendiri selain ditawan dan diasingkan banyak pula Pemimpin, Panglima Perang Jenderalnya yang syahid dalam pe­rang antaranya Sulthan Aceh Tuanku Mahmud meninggal kena kolere, Panglima Nyak Makam, Teuku Ibrahim Lamnga, T.Umar Johan Pah­lawan, Tgk. Chik Ditiro, Teuku Cut Muhammad atau Teuku Chik Tunong, Pang Nanggro, Cut Meutia, Teungku Tapa, T.Angkasah, Teuku Cut Ali, dan lain-lain terlalu banyak untuk diingatkan. Selain ribuan pra­jurit Aceh dalam perang semesta juga mengalami longsornya moral sosial dan budaya bangsa Aceh.

Selanjutnya mudah dicernakan bahwa dalam pasang surutnya suatu perang yang berlarut-larut, maka pada dasawarsa ketiga atau setelah 23 tahun berperang muncul suatu taktis perang dari Teuku Umar Johan Pahlawan untuk menguasai strategi guna memenangkan peperangan yang berkepan-jangan.

T.Umar Johan hahlawan membuat kejutan diplomat perang bukan tanpa perkiraan, sebab ia adalah seorang ahli yang selalu tepat mem­buat rencana perang, hal itu diutarakan sendiri oleh lawannya Mayor L.W.A. Kessler bahwa T.Umar se­orang intellegente en zeer berschaafde Atjeher maksudnya ia amat terpelajar dan santun (lihat Atjeh Sepan-jang Abad – Muhammad Said – hal. 570).

Ketika patroli Belanda menggerebek rumah T.Umar di Lampisang (Aceh Besar) didapati dirumahnya harian harian Java Bode, Locomotif dan Nieuwe Rottemdamch Courant, hal mana suatu tanda ia mempunyai pandangan yang tajam terhadap masalah politik dan tindakan-tindakan Pemerintah Belanda.

T.Umar menyeberang tetapi buka tanpa pulang, tindakannya itu lebih dahulu dilatar belakang oleh suatu sumpah dan mufakat yang matang dengan isterinya Pahlawan Nasional Cut Nyak Dien. Selain dikenal dengan diplomasinya dalam peristiwa Kapal BENGKULEN dan HOCK CANTON, juga dikenal dalam menguasai, mengatur steling dan posisi pertahanan yang dapat mematahkan serangan lawan.

Hal ini terbukti sewaktu penyerangan kepada benteng T.Umar di Kruengraba dan Leupueng langsung dipimpin oleh Gubernur Mili­ter Jenderal M.K.F. van H. Demmeni sendiri akhirnya ia tewas, demikian pula waktu penyerangan kebenteng Garot Pidie dimana T.Umar berada yang dipimpin oleh Jenderal J.H. van Heutz sen­diri juga gagal dan dapat dipatahkan. Selain dari pada itu T.Umuar memainkan perang urat syaraf, dikabarkan T.Umar berada di Leupueng padahal ia sudah berada di Montasik, dia dikatakan berada di Mukim VI ia sudah berada di Mukim XXII dan sebaliknya.

Syahdan, sewaktu T.Umar telah menguasai prajurit, alat-alat senjata dan dana, ia menulis surat sehelai surat kepada Penguasa Belanda yang hingga kini nilai-nilainya masih dikaji dan dipertanyakan; Sebab, dalam situasi pe­rang yang demikian lama tentulah banyak mempengaruhi mental masyarakat, maka tidaklah mustahil adanya gunjing atau purbasangka, baik oleh lawan maupun oleh kawan, namun faktanya ia terus berjuang untuk mempertahankan harkat martabat bangsanya, akhir­nya ia syahid dimedan juang kemudian dilanjutkan oleh isterinya Cut Nyak Dien.

 

Surat itu berbunyi; Lampisang, 30 Maret 1986

 

Dengan ini saya memaklumkan kehadapan tuan besar bahwa tugas yang dipikulkan oleh tuan besar kepada saya untuk Lamkrak sampai ke Luthu dan Reuleueng (Kecamatan Suka makmur sekarang pen.) dan yang sudah saya setujui un­tuk pergi kesana, tidak dapat saya penuhi, berhubung ka­rena Controleur Ule Lheue dan Hoofd Djaksa Muham­mad Arif (pengusul adanya marsose pen.) telah memberi malu kepada saya, sebagai diceritakan berikut ini:

  1. Controleur Ulee Lheue telah memberi malu saya karena abang ipar saya Teuku Reyeuk (abang Cut Nyak Dien pen) di Leupueng ketika menghadap kepadanya, telah diberi malunya di hadapan orang banyak. Pun gajinya dua bulan ditahannya.
  2. Imeuem Gurah Lamteungoh 6 mukim telah ditendang oleh Controleur itu dihadapan orang banyak.
  3. Controleur Ulee Lheue dengan diam-diam telah menanyai seorang tauke Cina supaya ia memberi tahukan dimana-mana saya berhutang, hal itu memalukan saya benar.
  4. Dihadapan orang ba­nyak, Controleur Ulee Lheue telah menghina abang saya Teuku Nyak Muhammad dari IX mukim. Ketika bersama-sama dengan teuku-teuku lain untuk menyambut tuan besar yang datang ke Peukan Bada disitu abang saya disamakan dengan kerbau.
  5. Seorang suami isteri ketika pergi belanja ke Ulee Lheue berpasangan dengan Controleur tersebut sang suami telah dipukul dengan cambuk kuda, sehingga matanya rusak. Sesudah itu si Controleur naik lagi kudanya dari situ menendangnya orang tersebut, sehinnga dia tersungkur kesawah.
  6. Hoofd Djaksa Muham­mad Arif telah menyiasat pakaian yang saya suruh jahit kepada tukang. Maka sekarang ini benteng di Lamkunyet, di Biluy dan Cot Gue dan lain-lainnya semuanya sedang direbut oleh pejuang-pejuang dari XXII mukim. Sebaiknya tuan besar menyuruh kepada Controleur Ulee Lheue   dan   Hoofd Djaksa Muhammad Arif  merebutnya kembali, sebab saya ingin hendak mengaso beberapa waktu. Jika tuan besar akan menyerang, saya tidak akan melawan, karena perasaan saya berobah kepada Kempeni, dan saya   harap akan dibayangi tetap oleh bendera Gubernemen. Begitu juga saya tidak bero­bah terhadap tuan besar, Panglima Staf Residen Van Langen dan Asisten Resident Kutaraja. Jika sekiranya tuan besar ingin juga supaya saya kepung Lamkrak, saya akan lakukan, tapi saya ingin supaya tuan besar Gubernur Jenderal di Betawi menanda tangani suatu ketegasan bah­wa keinginan itu adalah sebenar-benarnya dan pendiriannya tidak berobah, supaya jangan    lagi berulang apa yang sudah pernah kejadian. Tentang senjata-senjata yang  sudah diserahkan ketangan saya, tidaklah dipindahkan kemana-mana, sebab sava mengawasi 6 mukim. .Demikian saya maklumkan kepada tuan besar.

Teuku Umar.

 

Gubernur Militer Jen­deral C. Deijkerhoff sewaktu menerima surat yang penuh diplomasi, tipu muslihat dengan memberikan umpan baik dibarengi dengan tempelak itu, sangatlah terkejut dan sangat marah.

Jenderal C.Deijkerhoff bukan saja menuduh T.Umar telah melakukan penipuan, tetapi terus melemparkan isyu dalam perang Urat syaraf bahwa T.Umar itu orang Meulaboh, maksudnya T.Umar adalah orang pendatang di Aceh besar sehingga sejak waktu itu nama T.Umar bukan lagi Johan Pahlawan dibelakang tetapi diganti dengan Meulaboh, sehingga dengan demikian dapat menghilangkan pengaruh T.Umar di Aceh.

Orang yang arif akan membaca bahwa surat itu adalah suatu pernyataan kepastian atas prinsip T.Umar berjuang untuk bangsanya, dengan memberikan fakta-fakta atas kepalsuan Belanda menjajah Aceh dan diba­rengi dengan kalimat-kalimat diplomatis sehingga terdapat harmonis dalam sebuat surat yang diperkirakan memusingkan Belanda sendiri.

III.

Sungguh banyak taktis perang Aceh yang dilakukan oleh Pemimpin-pemimpin perang 5 Perang Aceh terhadap Belanda, sehingga akan terlalu banyak untuk diceritakan.

Selain dari peristiwa yang besar dari pernyataan T.Umar yang dianggap Be­landa suatu penipuan, juga ada sebuah fragmen atau babakan tipu muslihat Aceh dalam menghadapi pemalsuan dari penjajahan Belanda sendiri yaitu peristiwa Teuku Raja Sabi anak Pahla­wan Nasional Teuku Cut Muhammad dengan lakap Teuku Chik Tunong dengan Cut Meutia.

Pada zaman Pemerintahan Gubernur Militer Jenderal H.N.A.Swart (memerintah tahun 1908-1918), ia sangat antusias agar dalam priode pemerintahannya Aceh menjadi aman dari perlawanan-perlawanan Muslimin-muslimin Aceh. Selain sedang berkecamuknya perang dunia kesatu ia ingin mendapat bintang tertinggi dari Raja Belanda, sehingga ia mempergunakan berbagai cara, mengeluarkan banyak dana, memberikan tekanan-tekanan terhadap bawahan serta memperbanyak kaki tangan kekampung-kampung.

Salah satu daerah yang belum aman itu dan masih ada perjuangan yang masih tangkuh meskipun Sulthan Aceh telah ditawan ialah daerah Pase.

Peristiwa Blang Paya Itik dan Peristiwa Meurandeh Paya cukup terkenal kemudian setelah meninggalnya Teuku Chik Tunong, Pang Nanggro, Cut Meutia masih banyak Pejuang-pejuang lain yang masih memimpin per­juangan, dan diantaranya pula masih terdapat seorang Teruna Pahlawan Teuku Raja Sabi yang aktip memimpin perjuangan.

T.Raja Sabi bersama Pang Lubuk setelah pengikutnya tinggal sedikit akhirnya mengembara dihutan Pase yang bagi Belanda adalah sangat diketahui pengaruh T.Raja Sabi didalam negeri karena ia anak Pahlawan yang dapat membangkit daya-daya energi perang ditengah-tengah masyarakat Pase.

H.N.A. Swart memerintahkan agar putra Pahlawan ini dapat ditangkap, tetapi ia licin bagai belut. Maka sejak waktu itulah terjadinya suatu peristiwa daiam sejarah perjuangan Aceh adanya Teuku Raja Sabi palsu.

Berkenaan dengan peris­tiwa adanya Teuku Raja Sabi palsu, Prof Ismail Yakob SH, MA putra Pase sendiri dalam bukunya “Cut Meutia Pahla­wan Nasional dan putranya, antara lain menceritakan:

Sesudah berunding kesana kesini, dengan orang-orang yang patut dimusyawarahkan dan dengan murid-muridnya, maka terbukalah suatu pikiran baru yang ditempuh, maka diserahkan DULAH, yang terkenal kemudian dengan nama Teuku Raja Sabi, ialah pada tanggal 6 Desember 1913. Schouten sendiri tidak mengerti bahasa Aceh. Hanya menerima laporan dari Jaksa Haji Jamin. Can Haji Jamin sendiri, disegani oleh Uleebalang-Uleebalang. Dan mereka bersikap lebih baik diam dan pada banyak berbicara. Dan karena ada hikmahnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Teungku Adit, yang turut juga dipanggil untuk menyaksikan Teungku Raja Sabi yang baru turun diturunkan itu. Rakyat ramai berkerumun datang melihat anak kecil itu, dari sekitar daerah Lhok Sukon. Beduk dimeunasah-meunasah (langgar-langgar) dan Mesjid-mesjid dipukulkan, untuk memberi tahukan bahwa Teuku Raja Sabi putra Cut Metua sudah turun dari hutan.

Kemudian tersiar pula berita, bahwa siapa yang mengatakan itu bukan Teuku Raja Sabi, maka dia harus mencari atau menunjukkan yang lain dalam waktu tiga bulan. Kepada para Ulee-balang diedarkan surat, supaya menanda tangani itu benar Teuku Raja Sabi. Kepada Teuku Chik Bintara (adik ayah T.Raja Sabi asli, penulis) juga diminta tanda tangan, bahwa beliau mengaku itu Teuku Raja Sabi yang sebenarnya. Maka para Uleebalang itu bersama-sama “menurunkan” tanda tangan, ganti menurunkan Teuku Raja Sabi yang sebenarnya. Maka, diumumkan kemudian, bahwa Teuku Ra­ja Sabi sudah dapat dan tak usah di cari lagi.

Anak kccil yang bernama Dulah putra Raja Imcum Muda Bale dari Mbang itu lalu meletakkan nama barunya Teuku Raja Sabi. la diserahkan kepala pemerintah dan dibawa ke Kutaraja (Banda Aceh) untuk disekolahkan.

Menurut Prof Ismail Jakob SH, Ma juga ia mendengar keterangan Pahlawan Nasional T.Nyak Arif berucap bahwa soal T.Raja Sabi palsu ini bukan salah dia, tetapi salah Jenderal Swart sendiri yang ingin mendapat nama sebagai pengaman ACEH, lalu berusaha dengan segala cara.

Penulis sendiri yang sempat kenal T.Raja Sabi palsu ini orang peramah dan pernah menyatakan saya tidak merasa terhina malah berjasa karena dengan saya disebut Teuku Raja Sabi palsu, de­ngan demikian Teuku Raja Sabi yang asli waktu itu aman berjuang dan mengembara menjadi Muslimin Acch.

 

( Sumber: Maajalah SANTUNAN, No. 45 Tahun Ke V,  Juli 1980 halaman 23 – 25, bersambung ke hlm 39 dan 45 ).

 

 

 

 

 

Kru Seumangat!!!

*** Ekspressi ***

Banyak kejadian dalam kehidupan kita yang memberi  kesan, yang dapat diungkapkan orang dalam berbagai cara. Sdr. T.A. Sakti mencoba menulis ungkapan  rasa atas kehadiran Fak.Kedokteran di Unsyiah dalam bentuk Syair Aceh. Selamat mengikuti…..!

Redaksi,-

 

T.A. Sakti

K R U  S E U M A N G A T  !!!

 

Assalamualaikum warahmatullah

Jaroe dua blah ateuh jeumala

Lon ingin rawi na saboh kisah

Jinoe lon keubah dalam “PEUNAWA”

 

Thon nyou teukeudi bri le Po Tallah

Seuramoe Mekkah meu-untong raya

Trok Menteri PK teken naseukah

Peudong Fakultaih nyang that ta damba

 

Padum  treb sabe hate lam gundah

Pakon Peumerintah han geu usaha

Pakon pat laen ban meusen bagah

Peudong Fakultaih meu macam rupa

 

Meunan keuh hate sabe lam deuk grah

Han pat tapeugah tanyoe cut raya

Fakultaih Dokto meusyhen sileupah

Tijoh ie babah meuheut lagoina

 

Tajak uluwa tamong Fakultaih

Nasib di Ayah pih gasien raya

Fakultaih Dokto bako sileupah

Biaya keumah pih le lagoina

 

Rame  cit  nyang jak luwa daerah

Sayang le patah dalam sikula

Bak pi-e  gasien Poma ngon  Ayah

Sunggoh biet sosah tajak diluwa

 

Meukru seumangat rahmat Po Tallah

Hate  nyang sosah jinou bahgia

Pikeran palak han jadeh bicah

Le peumerintah kirem peunawa

 

Fakultaih Dokto geupeudong bagah

Geubri hadiah keu rakyat dumna

Rakyat lam Aceh seunang si leupah

Peu nyang  geupeugah tatem kheun  ya!.. ya!

 

Bak tanggai dua teken naseukah

Thon LAPAN PLOH  sah di DPR tingkat sa

Buleun si kureung bak jeum poh siblah

Teken naseukah le Menteri P K

 

Nyang bantu tanyoe siploh Universitaih

Keunan peu singgah dum mahasiswa

Hantom terjadi dalam seujarah

Meunan geupeugah le Menteri P K

 

Aceh geu bantu le jeub daerah

Tanda muhibbah sama saudara

Tueng mahasiswa teumpat kuliah

Aceh geupapah beurijang teuga

 

Seulama lheei thon nyan meunan ulah

Mantong geupapah le ureung  luwa

Oh wateei rayeuk kajeut plueng bagah

Baro geu peuglah piep moom nibak Ma

 

Thon lapan  ploh nyoe ka geu peusinggah

Lheei ploh nam droe sah na mahasiswa

Ka lheeuh geukirem rata daerah

Rakan Unsyiah nyang na diluwa

 

Hai putra putri  bintang daerah

Gata keuh peuglah taloe bak punca

Beurajin gata dalam kuliah

Sabab daerah jipreh-preh gata

 

Fakultaih Dokto nibak Unsyiah

Dosen meu siblah jinoe gohlom na

Gata keuh Dosen bak saboh sa’ah

Oh watee keumah kuliah gata

 

Hai Putra-putri Seurambi  Mekkah

Beudoh beubagah uroe ka jula

Wasiet Endatu taseutot bagah

Seurambi Mekkah beumaju jaya!

 

Meuseb keuh ohnoe haba lon kisah

Baca Nyak ceudah dalam “PEUNAWA”

Meu’ah dousa lon rakan meutuwah

Kadang na salah bak peugot sastra!

 

IPM-Sakti Banda Aceh, 2 September  1980/22 Syawal 1400.

 

( Sumber: Buletin “PEUNAWA” -Media Komunikasi Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah, edisi 4 – 5/1980, halaman  59 -61 ).

 

Catatan kemudian: Sebagai mahasiswa yang sedang ‘mencintai  jurnalistik’ saat itu, saya hanya dapat lalu-lalang( puta-puta)  di lantai dasar Gedung DPRD Aceh. Sementara upacara Peresmian Pendirian Fakultas Kedokteran Unsyiah berlangsung di lantai II.

Bale Tambeh, 25 April 2013, jam 5. 36 pagi, suara ureueng meurateb terdengar di Mesjid  bergema….!.

Bibit Unggul di Tanah Subur

BIBIT UNGGUL DI TANAH SUBUR

Oleh: T.A. Sakti. Mhs. FHPM-Unsyiah/IV.

“Saya mengetahui bahwa rakyat Aceh adalah pahlawan. Rakyat Aceh adalah contoh perjuangan kemerdekaan seluruh rakyat Indonesia. Seluruh rakyat Indonesia mengetahui hal ini, seluruh rakyat Indonesia melihat ke Aceh mencari kekuatan batin dari Aceh, dan Aceh tetap menjadi obor perjuangan rakyat Indonesia”

(Pidato Presiden Soekarno di uta raja, 15 Juni 1948)…1)

“ Daerah Aceh adalah DAERAH MODAL, dan akan tetap  menjadi DAERAH MODAL, bukan saja modal yang berupa emas, bukan saja modal yang berupa uang, tetapi yang terutama sekali modal yang berupa jiwa yang berkobar. Rakyat Aceh  jiwanya memang jiwa yang benyala-nyala dan berapi-rapi. Itulah modal yang pertama untuk merebut kemerdekaan, menegakkan kemerdekaan, memelihara kemerdekaaan sampai akhir zaman, sesuai dengan sumpah kita:  sekali merdeka tetap merdeka”.

(Pidato Presiden Soekarno di Meulaboh, Sept. 1947)…1)

SEKALI lagi setelah masa berlalu 37 tahun, sejak ucapan presiden Soekarno di tahun 1948, juga seluruh Indonesia melihat ke Aceh, karena ada peristiwa penting berlangsung di daerah ini. Bahkan rakyat Indonesia di daerah lain, tidak sekedar melihat saja ke Aceh, tetapi mereka secara langsung menjejak kaki mereka ke bumi Iskandar Muda ini. Ini terbukti dengan kunjungan sejumlah Rektor-rektor dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia ke Aceh. Hal ini sungguh merupakan suatu peristiwa besar. Peristiwa yang bersejarah itu berlangsung pada tanggal 2 September 1980, yaitu tepat pada Hari Pendidikan Daerah Istimewa Aceh. Di hari itu Menteri P dan K Republik Indonesia menanda tangani naskah pendirian Fakultas Kedokteran di Universitas Syiah Kuala. Pengadaan Fakultas Kedokteran di Unsyiah berarti pembukaan era baru bagi Sejarah Pendidikan di Daerah Istimewa Aceh.

Sudah sekian lama rakyat Aceh menanti perwujudan Fakultas Kedokteran di Jantung Hati mereka. Telah sama kita maklumi bahwa Darussalam adalah “Jantung Hati Rakyat Aceh”. Tapi apa yang dinanti tak kunjung tiba, ibarat menunggu buah ara dihanyutkan air (Lagei tapreh boh ara anyot!). Tapi keadaan yang demikian janganlah kita berpurbasangka bahwa pemimpin-peminpin daerah ini tidak berusaha untuk mewujudkan harapan rakyat tersebut.

Para pemimpin daerah ini tak pernah diam dari usaha-usaha kearah pendirian Fakultas kedokteran di Darussalam. Tapi oleh karena  berbagai sebab dan berbagai macam rintang, maka barulah pada tahun yang lalu dinyatakan berdirinya Fakultas Kedokteran di Unsyiah.

Kalau kita menoleh ke belakang menelusuri liku-liku sejarah pembinaan Darussalam hampir seperempat abad yang lalu, maka kita  akan begitu kesal kalau Fakultas Kedokteran baru sekarang menjelma. Pembinaan sebuah Perguruan Tinggi bukanlah masalah mudah, berbagai problema harus diatasi. Hal ini mungkin anda pembaca telah pernah membaca atau mendengar keterangan-keterangan tokoh-tokoh pembinaan Darussalam.

Demi lebih jelas, baiklah kita baca uraian ini :”Dalam mengungkapkan kembali sejarah lahirnya ide Pembangunan Kampus Darussalam Zaini Bakry menyatakan, bahwa setelah kemerdekaan Indonesia kita capai dengan pengorbanan jiwa raga segenap bangsa Indonesia, maka dalam penyusunan pemerintahan sudah pasti kita menyodorkan putra-putra daerah Aceh yang kita anggap mampu untuk duduk mengurus Republik yang telah kita proklamirkan ini. Tetapi apa lacur, kata beliau dengan nada sedih, setiap kita menyodorkan putra daerah selalu ditolak dengan alasan tidak berpendidikan. Alasan ini selalu dipakai dan memang alasan  yang logis. Nah, disinilah kata beliau dengan nada berapi-api seolah-olah mengenang nostalgia masa  lampau.

Tokoh masyarakat Aceh mulai mengoreksi diri dan mulai menyadari kekurangan yang kita alami, yaitu kekurangan pendidikan putra-putra Aceh merupakan suatu penyakit yang harus segera dibasmi. Mulai saat itulah tokoh-tokoh masyarakat pimpinan A. Hasjmy yang saat itu memegang jabatan sebagai Gubernur Aceh merumuskan dan mencetuskan ide pembangunan sebuah Kampus Perguruan Tinggi di Aceh.

Kemudian ide yang telah dicetuskan dan telah disepakati itu disodorkan ke  Pemerintah Pusat di Jakarta. Ternyata mendapat tantangan dan pemerintah pusat tidak menyetujui didirikannya lembaga Perguruan Tinggi di Aceh dengan alasannya daerah paling ujung, penduduknya sedikit sehingga tidak sanggup memberikan input mahasiswa dan tenaga pengajar. Bung Hatta sendiri termasuk orang yang menentang didirikan Perguruan Tinggi dimaksud. Dan mereka mengusulkan agar Perguruan Tinggi cukup hanya di Medan saja. Yang bisa dijangkau oleh semua daerah sekitarnya termasuk Aceh. Dalam hal demikian, tokoh-tokoh masyarakat Aceh berusaha sekuat tenaga meyakinkah pemerintah pusat bahwa Aceh sudah sewajarnya mempunyai sebuah Lembaga Perguruan Tinggi, namun selalu mendapat sanggahan dan tantangan hebat. Disinilah, kata Zaini Bakry melanjutkan, peranan Ibrahim Hasan (sekarang Rektor Unsyiah) dan A.Madjid Ibrahim (bekas Rektor Unsyiah dan sekarang Gubernur Aceh) sangat besar dalam menolak setiap argument, sehingga dengan perasaan berat akhirnya pemerintah pusat menyetujui juga didrikannya Kampus Darussalam.

Untuk membangun sebuah kampus apalagi yang begitu besar sudah pasti memerlukan dana yang banyak, lantas dari mana memperoleh dana; sementara pemerintah pusat tidak menyediakan dana untuk iti?” 2).

Rasa haru dan bersyukur bergetar dalam dada setiap putra-putri daerah ini, terutama mereka yang lemah ekonominya.  Mereka dulunya tidak sanggup keluar daerah untuk melanjutkan study di Fakultas Kedokteran, berhubung keadaan kantong yang kempes. Untuk mengikuti bagimana riang-ria mereka, Tajuk Rencana sebuah koran menulis :”Hati siapa tidak akan bangga sewaktu mendengar dan membaca pengumuman No. 01/BPFK-BNA/1979 yang datangnya dari Badan Persiapan Fakultas Kedokteran Banda Aceh yang kemudian disambut oleh Rektor Unsyiah lewat pengumumannya No. 2408/FT/4/F-79 ayat B yang isinya menyatakan bahwa tahun akademi 1979 akan dibukanya Fakultas Kedokteran yang direncanakan merupakan salah satu Fakultas di bawah panji-panji Universitas Syiah Kuala. Cita-cta ini sebenarnya sudah cukup lama dikandung oleh rakyat Aceh, malah sejak 18 tahun yang lalu di saat Universitas Syiah Kuala pertama kali didirikan. Kalau boleh kita katakan tiga-Keistimewaan Aceh akan tidaklah ada artinya tanpa pendidikan kedokteran bagi pendidikan yang diistimewakan itu.

Tiga ke-istimewaaan Aceh yakni agama, kebudayaan dan pendidikan selama ini seperti sebuah parang yang hampir majal seakan seperti tajam kembali setelah disepuh dengan pengumuman penerimaan murid untuk Fakultas Kedokteran ini.  Serasa tau kita akan isi hati rakyat Aceh secara keseluruhan yang menyatakan bersedia memberikan apa saja yang masih sanggup diberikan asalkan cita-cita pendirian Fakultas Kedokteran ini terealisir segera, kenapa tidak, bayangkan betapa pahitnya putra-putra Aceh yang keluar daerah menuntut ilmu, sekian yang pergi hanya segelintir yang kembali dengan selamat,  inipun hanya anak-anak putra-putra tertentu yang orang tuanya cukup membiayai anak hingga selesai. Kita tahu bahwa kita serba kekurangan, tetapi kita jangan malu untuk meminta bantuan pada universitas-universitas lain seperti halnya Fakultas Ekonomi, Fakultas Keguruan, Fakultas Hukum, Fakultas Tehnik, Fakultas Ilmu pendidikan, Fakultas Pertanian yang sekarang sudah kita lihat hasilnya, demi hari depan pendidikan bangsa dan daerah, sudah wajar kita tidak boleh malu memohon kasihan terhadap bimbingan-bimbingan dan kerjasama-kerjasama, sehingga tercapai apa yang kita cita-citakan”3).

Saran yang dilemparkan oleh surat kabar itu, memang sesuai dengan pemikiran tokoh-tokoh Pembina Fakultas Kedokteran. Tokoh-tokoh kita menghimbau universitas-universitas di Indonesia, agar sudi kiranya membantu menjadi bidan  untuk melahirkan sang bayi yang didambakan itu, yakni Fakultas Kedokteran. Rupanya himbauan ini direstui oleh pihak sana, yang berarti pihak kita tidak bertepuk sebelah tangan. Pernyataan dukungan dan ucapan selamat lahrinya Fakultas Kedokteran kita, datang dari segenap pelosok tanah air. Mereka bersedia membantu dengan segenap upaya demi terlaksananya harapan rakyat Aceh ini. Sepuluh universitas membantu Unsyiah. Universitas–universitas tersebut ialah : USU, Andalas, Universitas Sriwijaya, UI, Gama, Diponegoro, Pajajaran, Sebelas Maret dan Udayana Bali.

Dalam rangka meningkatkan taraf kesehatan rakyat, pemerintah telah mendirikan sejumlah PUSKESMAS di tiap Kecamatan di daerah ini, seperti di propinsi-propinsi lain di negara kita. Karena langkanya putra daerah yang menjadi dokter, maka daerah mendatangkan saudara-saudara kita dari daerah lain yang berijazah dokter ke daerah ini. Dalam hal ini bagi sang dokter akan menemui sejumlah kesulitan, apabila ia ditempatkan di pedalaman desa sana. Kesulitan itu adalah dalam hal komunikasi degan para pasien, karena masih ada sampai sekarang di Desa di pedalaman Aceh, sejumlah rakyat yang tak dapat bicara dalam bahasa Indonesia. Walaupun mereka mengerti maknanya, tapi sukar mengucapkan. Hal ini sering kita dapati di kalangan generasi tua, dan mereka yang buta huruf latin. Keadaan  demikian kadang-kadang menimbulkan adegan-adengan yang menggelikan, seperti cerita ini:

Di sebuah desa di pedalaman, hiduplah sebuah keluarga yang berbahagia, mereka hanya tiga orang, yakni ayah, ibu, dan seorang anak gadis.  Si gadis berpendidikan, tetapi si ibu buta huruf. Si ayah juga orang yang punya pengalaman hidup. Pada suatu hari si gadis jatuh sakit, yang menyebabkan kedua orang tuanya cukup gelisah, maklum saja si inongnya, anak tunggal.

Seperti kebiasaan rakyat desa, orang tua si gadis lebih dahulu berobat secara kampung, dengan obat tradisional dan tak lupa juga menjemput wak dukun. Kalau langsung berobat ke dokter; lebih-lebih lagi kalau menjemput dia ke rumah, biayanya sangat tingg., Harga hasil pertaniannya (padi), berapa sekarang…..?????.

Setelah segala usaha tak berhasil barulah dipanggil dokter. Singkat cerita dokter pun datang dan langsung masuk ke kamar dimana si gadis terbaring. Si ibu juga sedang berada bersama anaknya. Terjadi dialog antara dokter dan si ibu begini:

“Sejak kapan anak ibu sakit?” “Ya tuuuaaann doto, sudah sebulan, saya bukan guru, tuan!!!”. Sang dokter mulai bingung memahami semua arti jawaban itu. “Dia sakit apa buk?”. “ Anak saya sakit ulu, sakit kiang, sakit tu-ut tuan dokter, saya bukan guru, tuan dokter”, dokter tambah jadi pusing.

Melihat demikian, si ayah yang berada di luar masuk ke dalam. “Bouh see gata u sagoe binteh!, sapeue  han keumah, si ibu segera minggir. Pak dokter senyum-senyum. Kemudian si ayah menjelaskan tentang penyakit yang diderita anaknya. “Dia sudah lama sakit pak, Cuma akhir-akhir ini penyakitnya tambah berat”, dia seterusnya menjelaskan bahwa anaknya sakit pinggang, pusing dan muntah-muntah. Sebenarnya yang ingin dijelaskan si ibu tadi memang hal yang sama, tapi karena bahasa Indonesianya jungkir balik, timbullah salah pengertian. Yang dimaksudkan dengan “sakit ulu yakni sakit kepala, dalam bahasa Aceh saket “uleei”, maka bagi si ibu langsung menjungkir balikkannya ke dalam bahasa Indonesia dengan mengatakan “sakit ulu”. “Ulu” dalam bahasa Aceh adalah masa hamil, tapi khusus untuk binatang. Hal ini mungkin karena memang ada bahasa Indonesia; yang kalau diobah sedikit langsung menjadi bahasa Indonesia, seperti baju = bajeei, batu = batei,  kayu = kayee, abu = abeei, alu = aleei, malu = malei dan sebagainya.

Si ibu sering mengakhiri keterangannya dengan “Saya bukan guru, dokter!”, ini karena pak dokter mengatakan ibuk kepadanya. Si ibu menjawab “Saya bukan guru”, karena di desa yang biasa dipanggil ‘ibuk” adalah seorang guru wanita.

Entah benar cerita tersebut pernah terjadi, penulispun kurang maklum, tapi cerita demikian telah pernah dikasetkan dan sedang beredar sekarang dalam masyarakat Aceh. Mudah-mudahan dengan lahirnya Fakultas Kedokteran di Darussalam hal-hal yang demikian tidak akan   terulang buat masa-masa yang akan datang.

Fakultas Kedokteran di Unsyiah, merupakan bibit unggul, karena ia hasil perkawinan dari 10 Universiatas di Indonesia. Disamping Tanah Rencong juga sebagai tanah yang subur bagi bibit unggul tersebut. Aceh sangat subur dalam hal ini, karena rakyatnya telah sangat lama haus akan Fakultas Kedokteran. Bibit unggul kalau ditanam di tanah yang subur, yang disertai perawatan yang sempurna, biasanya akan memberikan/memperoleh hasil yang lumayan.

Demikian harapan kitta semua dengan lahirnya/berdirinya Fakultas Kedokteran di Darussalam ini!. Mudah-mudahan ”TEKAD BULAT MELAHIRKAN PERBUATAN NYATA. DARUSSALAM MENUJU PELAKSANAAN CITA-CITA” yang direkam oleh almarhum Presiden Soekarno di Tugu Darussalam itu, benar-benar akan terlaksana!. Semoga !!!

Daftar  Bacaan/Kutipan;

  1. MODAL REVOLUSI 45. Susunan seksi penerangan /Dokumentasi Komite  Musyawarah Angkatan 45, Daerah Istimewa Aceh.
  2. APA & SIAPA, mengenal dari dekat: Tgk. H. Zaini Bakry, Gema Ar-raniry no.39 hal.6-59.

Hal. 101 dan 103.

  1. Surat Kabar ATJEH POST keluaran 1 Agustus 1979.

IPM-Sakti Banda Aceh, 2 September 1980/22 Syawal 1400H.***

( Sumber: Bulletin “Peunawa”-Media Komunikasi Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah, Edisi 4 – 5/1980 hlm. 42 – 47).

BAHASA ACEH TIDAK KAMPUNGAN!

Bahasa Aceh Tidak Kampungan

Banda Aceh, (AP)

Prof.  Ali Hasjmy  Ketua LAKA (Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh) sedikit tersinggung atas sikap sebagian remaja Aceh yang merasa malu dan kampungan bila berbicara bahasa Aceh. “Justru yang menganggap kampungan itulah sebenarnya yang kampungan”, kata tokoh tua Aceh ini dalam nada tinggi.

Ditemui AP, Rabu siang (6/9) di sela-sela kesibukannya di  kantor MUI, Daerah Istimewa Aceh. Tokoh tiga zaman yang berpembawaan tenang ini berpendapat, bahwa pendidikan bahasa Aceh yang sekarang sedang digalakkan dengan intensif, harus dimulai dari rumah. Karena itu, setiap orangtua suku Aceh mesti menerapkannya bila berbicara dengan anaknya di rumah. Tanpa itu, pelajaran bahasa Aceh yang dimasukkan dalam kurikulum sekolah akan sama nasibnya dengan bahasa asing. Biarpun telah dipelajari bertahun-tahun, akan tetap kesulitan dalam menguasainya seperti bahasa Inggris itu.

Ketika disinggung tentang, apakah bahasa Aceh memiliki perbedaan aksen antara satu kabupaten dengan lainnya, beliau menjawab tidak ada. Kalaupun ada itu hanya sengaunya saja dan tidak ada perbedaan dalam arti kata.

(Sumber: Suratkabar  Atjeh Post, Minggu Kedua September 1989 halaman VII)

Catatan: Kami ketik ulang Jum’at sore, 12 April 2013. Saya yang mendekte, Amal yang ketik. Bale Tambeh, Aleuhad, 15 April 2013 pkl. 5.11 pagi, terdengar bacaan Al Qur’an  menjelang Shubuh di Mesjid-mesjid di sekitar Kapelma Darussalam,….. sayang… hanya sambungan elektronik radio Suara Baiturrahman;  yang membuat suara bergema-gema!!!. T.A. Sakti ).

KISAH ORANG ACEH DI MALAYSIA – IV

SENI BUDAYA ACEH MASIH BERTAHAN

Adat Perkawinan Pakaian, Srtuktur Rumah Terus  Dipelihara

Misteri Etnik: Laporan Azrul Affandi Sobry(Wartawan)

dan Rosdan Wahid(Juru Gambar).

—–Siri Lima

( Sumber: Suratkabar “Berita Harian”, Malaysia,   Jumaat,  20 April 2012 hlm/N 8 )

MEREKA bukan miskin budaya, malah sebenarnya orang Aceh sangat kaya dengan. seni tradisi. Disebabkan golongan yang berhijrah ke negara ini pada hujung abad ke-19 dulu terdiri daripada kalangan ulama, seni kebudayaan, kurang diberi penekanan dan fokus lebih terarah kepada penyebaran dakwah serta pengajian agama.

Tidak pula boleh dinafikan yang mereka di kampung Aceh, Yan turut mempraktikkan sebahagian budaya, itupun kerana ada sebilangan kecil mereka yang mengunjungi Aceh di Indonesia dan mempelajari sedikit tarian, kebudayaan termasuk pakaian tradisi serta seni ukiran unik masyarakat itu.

Sebenarnya, jika diperhalusi adat dan budaya mereka, sudah banyak yang di-tinggalkan terutama yang berkaitan kepercayaan tahyul, apatah lagi kampung Aceh lebih terkenal sebagai penyambung legasi ulama dan mengangkat amalan Islam sebagai pegangan utama. Bagi kebanyakan warga tua, generasi ketiga, kepercayaan itu masih segar dalam ingatan mereka.

Berpegang kepada kepercayaan dalam beragama, orang Aceh satu ketika dulu menganggap sesetengah bulan dalam ka:lendar Islam mempunyai maksud dan amalan tertentu. Antaranya, Muharam diangkat sebagai memperingati perjuangan cucu Nabi Muhammad SAW menentang Bani Umaiyyah.

Justeru, orang Aceh menamakannya bulan Asan atau Usen (bulan Hasan dan Husin). Pada 10 hari pertama bulan itu ada ketentuan adat dengan menamakan bulan ‘asyura’ iaitu orang Aceh memasak kanji asyura (bubur). Selalunya mereka bermuafakat memasak beramai-ramai dan mengadakan kenduri kecil di mad­rasah atau dibawa pulang ke rumah.

Pada 10 hari pertama itu, ia dianggap kurang baik kerana gugurnya cucu Nabi SAW di Padang Karbala dan tidak dibuat sebarang kerja penting. Tidak boleh dikhatan kanak-kanak, tidak dilangsungkan kenduri perkahwinan, tidak ditabur benih padi dan tidak juga didirikan ru­mah.

Safar juga dianggap kurang baik ke­rana semua kerja penting perlu dihindarkan. Bulan itu diketahui sebagai bermulanya penyakit Nabi Muhammad SAW yang tidak sembuh hingga membawa ke­pada kewafatannya pada bulan berikutnya (Rabiulawal). Dunia Islam sangat percaya bulan itu banyak terjadi bencana. Kesyukuran dipanjatkan jika tidak ada sebarang bencana hingga Rabu terakhir bulan itu (Rabu Abeh).

Sepanjang Safar, mereka yang tinggal berhampiran laut akan mandi di pantai, di kampung pula mereka mandi di sungai atau perigi. Anggapan mereka, perkara ini penting kerana air yang digunakan untuk mandi harus dimantera (jampi) terlebih dulu dengan ayat al-Quran dan ada kalanya seorang Teungku di kampung akan menulis di atas secebis kertas de­ngan tujuh ayat 1-Quran serta nama beberapa orang yang memohon keberkatan atau kedamaian sebelum dicampak ke dalam air untuk mandian.

Itu hanya sebahagian kepercayaan dan amalan yang sebenarnya sudah ditinggalkan masyarakat Aceh di Yan, Kedah. Malah, banyak juga amalan yang dibawa dari Serambi Makkah (Aceh) sudah tidak diteruskan di negara ini. Dalam konteks pemakaian, perkahwinan, struktur ru­mah dan perhiasan diri serta senjata, keagungan seni Aceh masih boleh ditemui di kampung Aceh.

Meneliti konsep pakaian orang Aceh, sama ada lelaki mahupun perempuan, ia dicipta sesuai dengan keadaan perang yang berpanjangan dulu, antaranya se­luar longgar di bawah kelangkang untuk memudahkan mereka melangkah dan melompat dengan tangkas ketika bertarung dengan musuh.

Memperincikannya, seluar panjang untuk lelaki diperbuat daripada kain kapas berwarna hitam dengan di bawah kelangkang dijahit lebar supaya boleh melangkah ataupun berlari. Kedua-dua kaki seluar dijahit agak sempit dan disulam dengan benang emas. Bajunya pu­la, kot berbentuk cekak musang seperti baju Melayu, juga diperbuat daripada kain kapas berwarna hitam, diletak kancing hingga ke leher dan kedua lengan disulam emas.

Sebagai aksesori, kain samping dari­pada kain songket bermotifkan daun. Biasanya berwarna merah jambu atau merah muda, disarungkan separas lutut. Di kepala tersarung kopiah ‘rneukeutop’,

berbentuk bulat tinggi sesuai dengan saiz kepala pemakai. Dijahit daripada benang berwarna-warni dan dililit dengan kain songket atau tengkolok.

Tidak sempurna tanpa rencong di pinggang. Senjata yang ditempa menggunakan sejenis besi berkualiti tinggi dengan sarung dan gagangnya diperbuat dari­pada tanduk kerbau atau gading gajah bersalut emas, perak atau tembaga. Uniknya, bentuk rencong diilhamkan dari­pada tulisan ‘Bismillah’ dalam versi Jawi dan jelas dapat diperhatikan ketika sen­jata ini dipegang secara melintang.

Rencong sebenarnya umpama jam tangan yang jika tidak dipakai rasa kurang selesa dan tidak lengkap ke mana-mana. Oleh kerana itu, sejak zaman perang dengan Belanda, malah mungkin sebe­lum itu lagi, rencong sentiasa ada terselit di pinggang, selepas 1960-an, pemerintah di Aceh melarang pemakaiannya kerana sering menimbulkan pergaduhan berdarah. Di kampung Aceh, hampir semua rumah ada menyimpan senjata ini se­bagai perhiasan wajib.

Dalam budaya perkahwinan pula, orang Aceh terutama di Yan tidak banyak berbeza dengan orang Melayu Kedah yang menolak konsep persandingan. Memang sudah menjadi kebiasaan di Kedah, persandingan kurang diadakan dalam budaya masyarakat Melayu di sana. Asimilasi yang berlaku menyebabkan ba­nyak budaya orang Melayu dipraktikkan orang Aceh.

Penggiat budaya, Mohd Yusuf Oerip, berkata dalam masyarakat Aceh, proses perkenalan biasanya berlaku dalam majalis keramaian atau di mana saja acara yang membolehkan kebanyakan mereka berkumpul atau di sebut meramin (berkelah). Hanya dalam majlis tertentu lelaki dan wanita berpeluang mengenali dan melihat wanita idaman. Biasanya pilihan dibuat ibu bapa.

Jika sudah dibuat pilihan, bermulalah proses mebabitkan orang tengah untuk hantaran merisik atau di sebut seulangke. Biasanya lelaki. Sekedar bertanya sudah berpunya atau sebaliknya biasanya proses merisik orang dulu gunakan pantun. Jika persetujuan dicapai kedua belah pihak baru dibincangkan proses peminangan

Sirih untuk mengikat perjanjian diberikan dan ia dinamakan ranub peukong haba (sirih pengikat khabar). Dalam proses peminangan, turut dibincangkan mengenai mahar (jeulamei) dan sebagainya. Ketika proses peminangan, sepersalinan pakaian untuk pihak perempuan dibawa bersama. Mahar kebiasaannya bukan duit tetapi emas.

Selain barang lain dalam dulang hantaran turut perlu ada dalam hantaran ialah tebu sebagai tanda mahu hubungan suami isteri sentiasa manis. Benih kelapa yang sudah tumbuh dari buah kelapa juga dibawa bersama. Selepas kenduri, suami dan isteri bersama-sama menanam kelapa itu di halaman rumah.

“Tepung tawar juga ada dalam ma­syarakat Aceh atau dikenali peusijuk menggunakan daun khas iaitu naleng sambo, inai (ongaca), daun senijuk dan on sekeipulut (pandan), tetapi dibuat begitu ringkas. Sebenarnya, orang Aceh di Indonesia memang ada bersanding dan lengkap dengan pelamin. Berarak diiringi selawat nabi juga antara acara wajib tetapi di Kedah, persandingan tidak be­gitu diadakan kerana kami sudah asimilasi dengan orang Melayu Kedah.

“Bezanya ketika merenjis, tumphou (makanan pisang dicampur tepung pulut, sama seperti cucur pisang) disuap ke mulut pengantin. Di Kedah, ada yang masih menyuapkan pengantin dengan tumphou tetapi semakin sukar ditemui. Selepas itu, pengantin perlu bersalaman dengan semua orang dan ketika itu tetamu akan memberikan duit. Uniknya, jika di rumah lelaki, pengantin perempuan akan dapat duit itu dan begitu sebaliknya,” katanya sambil menunjukkan koleksi pakaian Aceh.

Satu lagi keunikan dalam upacara perkahwinan orang Aceh ialah pengantin perlu dibasuhkan kakinya sejurus tiba di rumah. Dikatakan dulu lebih pelik lagi iaitu pengantin perlu memijak telur, te­tapi ia sudah tidak lagi diamalkan. Bagaimanapun, membasuh kaki masih lagi diamalkan sesetengah keluarga.

Isteri Mohd Yusuf, Nazarian Karim pula menambah mengenai adat unik k­tika wanita hamil dengan usia kandungannya memasuki tujuh bulan. Satu upacara memandikan suami isteri dijalankan oleh sekumpulan orang dalam jumlah yang ganjil sama ada tiga, lima atau tujuh orang menggunakan air tujuh jenis bunga.

“la bertujuan supaya bayi selamat dan sihat. Kedua-dua suami isteri dimandikan di depan orang ramai pada siang hari sebelum diadakan satu majlis kenduri ringkas. Kebiasaannya, ia dihadiri ke­luarga terdekat saja,” katanya.

TANDA paling jelas yang menunjukkan sesuatu bahasa itu berbeza de­ngan yang lain ialah dari segi kosa kata digunakan.

Orang Aceh masih mengamalkan ba­hasa mereka dalam kehidupan seharian. Pewarisan penggunaan bahasa Aceh ini berlaku secara semula jadi walaupun tiada pendidikan formal mengenai bahasa Aceh, masyarakat itu di Yan, Kedah ma­sih terus mengamalkan bahasa mereka setiap kali mereka bertemu sesama sendiri.

Pensyarah Jabatan Pengajian Melayu, Institut Pendidikan Guru, Kampus Sultan Abdul Halim, Muhammad Khairi Mohamed Nor, berkata apabila berkomunikasi antara masyarakat Aceh terutama penduduk kampung Aceh di Yan, ia terasa berada di tempat asing.

“Bahasa Aceh yang masih utuh di­amalkan di kampung ini dan adalah ba­hasa yang diwarisi daripada generasi terdahulu yang menjadi amalan hingga kini. Menurut Yusuf Oerip yang juga seorang pengkaji budaya masyarakat Aceh, penduduk kampung Aceh, Yan ma­sih menggunakan bahasa Aceh klasik berbanding bahasa digunakan di Tanah Aceh sekarang ini yang terlalu banyak berasimilasi dengan bahasa Indonesia.

“Bahasa Aceh di Yan dilihat lebih tekal, klasik dan kekal tanpa banyak mengalami penyerapan bahasa Melayu. Pe­warisan menggunakan bahasa Aceh ini menyebabkan penduduk yang berketurunan Aceh di kampung ini khasnya masih menggunakan bahasa mereka apa bila  berkomunikasi sesame mereka.

Menariknya, masyarakat Aceh di sini akan menukar bahasa mereka apabila betutur dengan masyarakat lain dan akan menggunakan kosa kata Aceh apabila bertutur sesame penutur bahasa Aceh.

Bahasa Aceh di Yan  juga  mengalami proses asimilasi dengan bahasa Melayu, bagaimanapun pengekalan penggunaan kosa kata klasik memperlihatkan keutuhannya. Masyarakat bukan Aceh tidak akan memahami struktur ayat yang di bina daripada kosa kata yang seakan-akan hamper dengan kosa kata bahasa Melayu tetapi adunan sehingga menjadi ayat menyukarkan kita memahaminya.

“peu haba? Apa kabar? Dan ayat dron peu nan? Siapa nama awak? Memang tidak difahami oleh penutur bukan Aceh. Bahasa Aceh memang berbeza jika di bandingkan dengan bahasa Melayu. Sukar sekali kita memahaminya kita perlu ingat bila kita bertemu dengan orang Aceh jangan sekali-kali bertanyakan me­ngenai bapa mereka.

“Dulu, masyarakat Aceh ‘pantang’ apa­bila orang lain bertanyakan mengenai bapa mereka. Menurut Malek, hanya ke­rana kita bertanyakan mengenai bapa mereka, mungkin akan berakhir dengan pergaduhan. Ayat pantang dalam masya­rakat Acheh dulu seperti Bapa nama apa? Bapa buat apa sekarang?…kini tidak lagi jadi larangan,” katanya.

Menurut Yusuf  Oorip, bahasa diguna­kan masyarakat Aceh di Yan kelihatan lebih lembut dan menggunakan bahasa halus. Menurut beliau, ramai daripada masyarakat Aceh di Yan berasal daripada bahagian Kabupaten Aceh Besar iaitu kawasan pentadbiran atau kota raja pada suatu ketika dulu. Pengekalan penggu­naan bahasa Aceh secara tekal ini me­nyebabkan masyarakat ini unik untuk dicontohi.

Masyarakat Aceh juga menggunakan hadih maja (kata-kata hikmat) dalam memberi nasihat dan teguran dengan berhemah – Tayu aneuk buta siblah, tayu gob buta duablah, tajak kedroe baro bagah, ta pabut kedro nyan baro sah yang bermaksud jika kita suruh anak macam buta sebelah mata, jika suruh orang lain macam buta kedua-dua belah mata, lebih baik kita pergi sendiri, jika kita buat sendirr barulah sah.

Selain itu, sifat orang Aceh boleh di­kenali berdasarkan kata-kata hikmat berikut, ureueng Aceh bek teupeh menyoe teupeh, bu lebeh pih han geu peu taba, menyoe hana teupeh, boh kreh pih jeut taraba bermaksud orang Aceh jangan tersinggung, kalau tersinggung nasi basi pun tak dipelawa, sekiranya tidak tersinggung kemaluan pun boleh disentuh. Hadih maja ini memberi gambaran bahawa orang Aceh akan melayan tetamu yang baik dengan layanan yang tersangat istimewa.

Bahasa Aceh di Yon dilihat lebih tekal, klasik dan kekal tanpa banyak mengalami penyerapan bahasa Melayu. Pewarisan menggunakan bahasa Aceh ini menyebabkan penduduk yong berketurunan Aceh di kampung ini khasnya masih menggunakan bahasa mereka apabila berkomunikasi sesama mereka. Menariknyaf masyarakat Aceh di sini akan menukar bahasa mereka apabila bertutur dengan masyarakat lain dan akan menggunakan kosa kata Aceh apabila bertutur sesama penutur bahasa Acheh

Muhammad Khairi Mohamed Nor

Pensyarah Jabatiin Pengajian Melayu, Institut Pendidikan Guru, Kampus Sultan Abdul Halim

Tambah Khairi, bahasa Aceh juga me­ngalami proses peminjaman dan berasimilasi dengan bahasa lain. Sebagai contohnya, kata pisau disebut sikin dalam bahasa Aceh dan ia kata Arab yang diserap masuk ke dalam bahasa Aceh. Manok yang bererti ayam dilihat menyamai kosa kata dalam masyarakat pribumi di Sarawak.

“Kata-kata berbunga dan berima menarik boleh dikesan dalam bahasa Aceh. Kata-kata seperti ija paweu, natamung, anauek mentuah yang membawa erti tuala. sila masuk dan anak bertuah boleh menjadi sesuatu yang menarik apabila di ucapkan, katanya.

Ralat: Dalam artikel Misteri Etnik siri tiga yang disiarkan Rabu lalu menyatakan Nyak Maun Cut Li  ialah adik kepada Tan Sri Sanusi Junid. Sebenarnya bapa saudara Sanusi  Junid.

KISAH ORANG ACEH DI MALAYSIA – III

Darah ulama mengalir dalam masyarakat Aceh

Sanggup Beri Tanah, Dana Bina Sekolah

 

 

Misteri Etnik: Laporan Azrul Affandi Sobry(Wartawan)

dan Rosdan Wahid(Juru Gambar).

—–Siri Keempat  

( Sumber: Suratkabar “Berita Harian”, Malaysia, Khamis, 19 April 2012 hlm/N 8 )

 

 

 

 

 

 

NIAT asal untuk membantu pe­perangan menentang Belanda, manakala penghijrahan ke bumi orang untuk mencari dana. Untuk itu keringat diperah semata-mata memastikan bumi Aceh terus dapat dipertahankan. Begitu gambaran awal punca kedatangan orang Aceh ke Tanah Melayu pada hujung abad ke-19.

Mereka, kebanyakannya terdiri di kalangan ulama yang menerima tekanan Belanda terpaksa memilih merantau ke bumi orang, bukan menyelamatkan diri, tetapi sebagai usaha penentangan dari jauh. Di bumi orang (Tanah Melayu) terutama di sekitar Yan, ulama ini berusaha mencari dana untuk membeli senjata bagi membantu peperangan di Aceh.

Konsep ‘beras segenggam’ diamalkan semua masyarakat Aceh pada era itu benar-benar memberi impak kepada perkembangan masyarakat Aceh di Tanah Melayu. Setiap isi keluarga tekun mengusahakan pertanian dan sebahagian hasilnya disumbangkan untuk membeli senjata dengan Inggeris di Pulau Pinang tanpa mengetahui betapa mereka mungkin tertipu.

Kesedaran mula timbul dengan kehadiran Teuku Abdul Djalil Lamno yang akhirnya membuka mata masyarakat Aceh di Yan mengenai usaha mereka mungkin sia-sia. Dikatakan, pembelian senjata dengan Inggeris mungkin menyebabkan mereka tertipu kerana hakikatnya Inggeris dan Belanda tidak banyak berbeza. Kedua-duanya adalah penjajah.

Mungkin bagi sesetengah orang, nama Abdul Djalil kurang dikenali, tetapi bagi masyarakat Aceh, lelaki kelahiran Lamno pada 1917 dan berdarah keturunan hulubalang, begitu berjasa dalam sistem pendidikan masyarakat Aceh sehingga kini berdiri megah cawangan Maktab Mahmud sebagai simbol keutuhan me­reka dalam pendidikan Agama dan bahasa Arab.

Antara generasi terawal yang pernah menerima pendidikan awal berkonsepkan sekolah pondok di kampung Aceh, Abdul Malik M Taib, berkata kehadiran Abdul Djalil ke Yan selama lebih setahun sebelum meneruskan perjalanan ke India berjaya mengubah pendekatan sumbangan masyarakat Aceh.

“Beliau memotivasikan penduduk di sini supaya duit yang selama ini dikumpulkan untuk peperangan sewajarnya digunakan untuk pembangunan sekolah agama di kampung Aceh. Nyata, pengaruh dibawanya berjaya mengubah pen­dekatan mereka sehingga wujud Sekolah Agama Attarbiah Addiniah Auladiah yang memfokuskan pengajian agama dan bahasa Arab.

“Sebenarnya disebabkan kebanyakan orang Aceh yang datang ke Yan adalah daripada ulama, pendidikan sudah lama menjadi keutamaan mereka. Malah, sampai hari ini orang Aceh begitu mengambil berat soal ini dan memastikan semua anak mendapat pendidikan sewajarnya.

“Dulu sebelum sekolah dibangunkan, orang Aceh belajar di surau atau dayah dengan didirikan pondok, selepas cadangan Abdul Djalil, sekolah daripada pokok buluh didirikan. Atas keupayaan ekonomi orang Aceh yang semakin membangun, dana semakin banyak dihulurkan orang kampung untuk membolehkan sekolah dari kayu dan simen dibina.

Dulu sebelum sekolah dibangunkan, orang Aceh belajar di surau atau dayah dengan didirikan pondok, selepas cadangan Abdul Djalil sekolah daripada pokok buluh didirikan

Abdul Malik M Taib

“Bagi mereka yang tiada wang, mereka sanggup bekerja sehari suntuk mengangkut batu sungai untuk membantu pembinaan. Ada yang belikan kayu dan ada juga yang sumbangkan hasil berkebun selama sehari dua kepada sekolah. la dilaksanakan pada sekitar 1935. Abdul Djalil sendiri menjadi guru dengan dibantu Tengku Abdul Hamid dan Tengku Md Dahan,” katanya ketika membawa penulis melawat Maktab Mahmud yang kini menggunakan tanah sekolah agama asal itu.

Ternyata, masyarakat Aceh memang selama berhijrah ke Tanah Melayu bengunan dibina tidak mampu menampung pertambahan pelajar. Sekali lagi, penduduk menjadi nadi dengan menyumbang untuk membesarkan sekolah.

Pertambahan pelajar sekali gus memerlukan guru tambahan dan jawatan kuasa sekolah terpaksa mengambil guru dari Aceh untuk mengajar, masalah timbul kerana tiada wang untuk membayar gaji guru.

Semangat orang Aceh dalam berdakwah dan berjuang pada jalanNya begitu menebal. Ramai menyumbangkan tanah untuk diwakaf dan diusahakan untuk pembangunan sekolah. Sistem perkiraan tanah berdasarkan relung dan sebanyak 60 relung berjaya diperoleh untuk di­usahakan serta hasilnya untuk pengurusan sekolah.

Sumbangan tanah ini juga yang mencetuskan penubuhan koperasi SABENA yang berperanan menguruskan tanah sumbangan ini. Pendudukan Jepun mengganggu mereka kerana ketika itu hasil getah merosot sedangkan jumlah tanah terbesar daripada sumber getah.

Jepun pula bertindak melampau de­ngan menawan guru agama dari Aceh yang mengajar di Yan untuk dihantar ke Banda Aceh dan Medan bagi mengintip pergerakan Belanda. Keadaan itu menyebabkan operasi sekolah terhenti dan sistem pondok juga mati. Selepas 1946 baru sistem itu cuba dihidupkan kembali tetapi tidak sehebat dulu.

“Selepas merdeka, sukar sebenarnya mengembalikan kegemilangan sekolah agama ini kerana penduduk sudah mula menganggap pelajaran di sini hanya terhadap kepada bahasa Arab dan agama, se­dangkan pada ketika itu sudah ada se­kolah Ingger is dan sekolah kebangsaan.

“Bukan mudah juga sebenarnya untuk menarik mereka terus belajar di sekolah Inggeris kerana di kalangan keluarga Aceh sudah ditanam semangat antikafir. Bagi mereka, belajar bahasa Inggeris sama dengan belajar ilmu orang kafir. Oleh kerana itu agak lambat juga anak Aceh dengan kemajuan.

“Apapun, zaman pendudukan Jepun banyak juga mengubah kampung Aceh. Ramai berhijrah ke luar dan terus menetap di lokasi baru. Selepas itu pula, ramai pula ditawarkan menjadi peneroka FELDA. la secara tidak langsung menjadi penyebab kepada kemerosotan penduduk di kampung Aceh sekaligus memberi kesan kepada sekolah agama.

“la menyaksikan sekolah agama ini akhirnya tidak mendapat sambutan lagi dan pada sekitar 1960-an, Tan Sri Sanusi Junid mewujudkan sistem pengajian kemahiran di sekolah itu. Itu pun hanya mampu bertahan tidak sampai 10 tahun. Oleh kerana itu saya mencadangkan supaya sekolah ini menjadi cabang Maktab Mahmud Alor Setar. Tidak sampai dua bulan cawangan itu diwujudkan dan ia menjadi pencetus kepada cawangan lain di setiap daerah seluruh Kedah,” katanya lagi.

Menceritakan mengenai uniknya budaya Aceh ialah seorang anak lelaki bujang, jarang tidur dan berada di rumah ia turut dialami Abdul Malik yang ketika zaman bujangnya hanya pulang ke rumah untuk makan dan kembali berada di pondok untuk mendalami ilmu agama.

Bukan kerana jarak pondok yang jauh dari rumah kerana secara fizikalnya, kampung itu tidak sebesar mana tetapi ia sudah menjadi rutin orang Aceh untuk tidur di pondok atau surau belajar aga­ma. Oleh kerana itu banyak surau dan dayah didirikan dalam kampung Aceh dengan dikelilingi pondok. Hampir se­tiap lorong ada surau dan ada juga nama besar sebagai tokoh pengembangan pe­ngajian agama di sana.

Antara nama yang dianggap tokoh dalam pendidikan dalam kalangan orang Aceh ialah Raden Mahmud yang hebat dalam berpidato. Malah, kehadirannya juga yang mencetuskan pertandingan perbahasan antara etnik. Beliau juga dikatakan terbabit dengan Angkatan Pemuda Islam (API) untuk menentang Jepun menyebabkan beliau turut ditangkap dan dihantar ke Aceh bersama-sama Tengku Syed Abu Bakar.

Tengku Hasbullah Inderapuri pula, meskipun dianggap sebagai tokoh besar orang Aceh di Yan, bukanlah pula bertindak sebagai pengajar. Beliau lebih kepada pakar motivasi yang menanam semangat cintakan Aceh kepada masyarakat itu di Tanah Melayu. Adiknya, Tengku Md Dahan pula pakar al-Quran yang mengajar.

Meskipun berlainan pendekatan, adik beradik Hasbullah dianggap pencetus ke­pada perkembangan pendidikan dan sistern dakwah di kampung Aceh termasuk adiknya Tengku Md Dahan dan Tengku Abdul Hamid yang jasadnya kini bersemadi di lokasi belakang Maktab Mahmud.

“Teringat saya ketinggian ilmu Md Da­han ketika mengajar dulu. Kami belajar di tingkat bawah rumah, manakala Md Dahan di atas dengan hanya memegang batu. Beliau mendengar kami membaca dan akan mengetuk batu ke lantai kayu jika ada tersilap. Tanpa melihat kami, dia tahu di mana silapnya,” katanya.

Kampung Aceh bukan sekadar pen­cetus kepada pendidikan agama dan dakwah orang Aceh di Malaysia tetapi turut melahirkan pejuang yang menentang Belanda dan kepemimpinan Sukarno sehingga ada yang diburu serta melarikan diri ke negara ini seterusnya meninggal dunia di Yan.

 

NAMA TEUKU ABDUL DJALIL TERUS DIKENANG HINGGA KINI

BAGI generasi muda di Aceh, tidak ramai mengetahui latar belakang sejarah Dr Teuku Abdul Djalil. Namun, bagi warga Aceh di Yan, Kedah, nama beliau sangat disanjung dan diingat sepanjang masa. Nama Teuku Abdul Djalil tertulis di batu nisan bersama nama Tengku Abdul Hamid, sebagai pengasas sekolah agama, Attarbuyah Adiniyah Anlamiyah pada 1938.

Tujuan utama penubuhan sekolah itu pada asasnya untuk mendidik anak Aceh dan menjadi pusat penyebaran Islam, pengekalan bahasa Aceh yang jelas berjaya dipertahankan sampai hari ini selain ba­hasa Arab yang turut menjadi kebanggaan warga Aceh serta melahirkan ulama yang berjuang untuk mempertahankan maruah bangsa Aceh dan agama Islam.

Menurut Abdul Djalil, rakyat Aceh perlu ada sekolah yang mampu melahirkan tokoh berkualiti tinggi dan dapat bersaing dengan sekolah Belanda dan Inggeris. Usahanya mewujudkan sekolah itu berjaya membuka peluang kepada masyarakat Aceh di Yan untuk mendapat pendidikan sempurna selepas membina perkampungan di situ sejak hujung abad ke 19.

Malah, masyarakat Aceh yang sempat mengenali beliau arnat terhutang budi kepadanya kerana usaha dan pandangannya berjaya merlibah pendekatan mereka untuk lebih memfokuskan kepada pen­didikan bagi memacu masa depan anak Aceh sehingga kini sudah ramai yang berjaya.

Meskipun kini, sekolah itu sudah dipinjamkan kepada Maktab Mahmud, pendirian orang Aceh begitu kuat. Sis­tem pengajian agama yang mengutamakan bahasa Arab terus menjadi keutamaan. Mereka enggan menjual tanah itu kepada Maktab Mahmud kerana bagi me­reka, selagi mana sistem yang mengutamakan dua elemen itu dipertahankan, mereka akan sentiasa merelakan tanah itu digunakan.

Jika satu hari nanti, sistem berubah iaitu bahasa Arab tidak lagi diajar, kami tidak akan teragak agak mengambil kembali tanah pusaka ini. Dalam perjanjian, hanya sistem pendidikan yang mengekalkan bahasa Arab dibenarkan menggunakan kemudahan kami secara percuma. Jika berubah, perjanjian itu akan terbatal,” kata Abdul Malik M. Taib, menceritakan mengenai perjanjian dengan Maktab Mahmud sejak 1998.

Kembali mengenali Teuku Abdul Djalil yang lahir pada 1917 di Lamno, anak kepada Teuku M. Yunus. Pada awalnya, beliau mengendalikan pendidikan agama di Lamno dan melanjutkan pelajaran ke Montasik, Aceh Besar. Beliau juga teman kepada bekas Gabenor Aceh, Profesor Ali Hashimy.

Selepas itu, beliau melanjutkan pengajian di Maktab Tawalleb, Padang. Selepas menamatkan pengajian di Padang, beliau memulakan reformasi kemerdekaan ke Pulau Pinang, sebelum melanjutkan lagi pengajiannya ke peringkat doktor falsafah dalam bidang kemanusiaan di Universiti Lahore, India.

Ketika dalam porjalanan ke India, beliau singgah di Kampung Aceh. Yan untuk mengasaskan sekolah agama dan berada selama setahun di sana. Nyata. meskipun cuma setahun, impak kehadirannya cukup besar dan berjaya mengubah pemikiran dan pendekatan penduduk.

Beliau meninggal dunia pada 21 Julai 1963 pada usia 46 tahun selepas berjuang dalam pelbagai bidang termasuk menjadi aktivis sosial bersama Tengku Abdul Wahab dan Tengku Mohd Amin, imam Masjid Jamek Lamno. Bagi orang Aceh di Yan, nama beliau diabadikan sebagai pencetus perubahan di sana.

 

 

 

 

 

 

ANGGOTA DPR-RI ASAL ACEH DUKUNG MBAK TUTUT BANGUN KERETA API

ANGGOTA DPR-RI ASAL ACEH DUKUNG MBAK TUTUT BANGUN KERETA API

Gazali Amna (F-PP), TH Zainuddin Ali (F-PDI). Mustafa Sacky Akbar (F-ABRI) pada Serambi secara terpisah belum lama di Jakarta. Mereka dihubungi sehubungan dengan adanya penyataan Siti Hardiyanti yang biasa dipanggil Mbak Tutut yang berkeinginan membangun kerta api di Aceh.

Mbak Tutut yang juga Ketua DPP Golkar bidang Kesra dan Kewanitaan berada di banda Aceh Selasa lalu antara lain untuk meresmikan kampus pesantren Babun Najah di desa Doy Ulee Kareng.

Sebelumnya Mbak Tutut mengatakan secara tulus niatnya untuk membangun kereta api demi kemajuan pembangunan di daerah Serambi Mekkah itu.

Menurut Loekman dengan adanya keinginan pengusaha nasional seperti Mbak Tutut yang tertarik membangun kereta api di Aceh, merupakan keinginan yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh seluruh masyarakat Aceh.

Kita mengharapkan sekali adanya perhatian yang begitu besar dari Mbak Tutut khususnya untuk Aceh,,yang pada akhirnya akan meningkatkan pamor Aceh di tingkat nasional, kata Loekman anggota komisi v yang membidangi perhubungan, pekerjaan umum, parpostel dan perumahan itu.

Diakui, untuk membangun kereta api dengan anggaran pembangunan belanja Negara (APBN) untuk saat ini tidak memungkinkan karena dana pemerintah sangat terbatas sekali.

Adanya keinginan yang sangat besar dari pengusaha nasional, kata Loekman, secara tidak langsung swasta turut membantu program-program pemerintah melakukan pembangunan terutama untuk kepentingan masyarakat banyak.

Selama ini pemerintah memang mengharapkan adanya peran swasta bisa berpartisipasi dalam melakukan pembangunan secara serentak di seluruh Indonesia dengan dana yan terbatas, katanya.

Sedangkan Gazali Amna mengatakan, keinginan Mbak Tutut membangun kerta api di Aceh, karena putri perama Presiden Soeharto itu sangat konsen sekali terhadap perkembangan dan pembangunan di seluruh daerah Indonesia.

Selama ini, terbengkalainya pembangunan kereta api di Aceh karena untuk membangunya dibutuhkan dana yang besar, padahal pemerintah sendiri kalau hanya mengandalkan APBN tidak mungkin melakukannya. Adanya perhatian pengusaha nasional perlu mendapat dukungan moral, kata Gazali.

Menurutnya, sebetulnya keinginan anggota DPR-RI terutama yang berasal dari Aceh bersama pemerintah sejak lima tahun lalu sudah memprioritaskan pembangunan kereta api Aceh, namun masalah ini tidak disebut-sebut dalam buku APBN yang lalu, kecuali hanya mencamtumkan hasil survey lapangan. Akibatnya rencana pembangunan kereta api seperti diabaikan.

Padahal pembangunan kereta api di Aceh ini bukan merupakan hal yang baru ,karena puluhan tahun sebelumnya kereta api memang sudah ada di Aceh, yang kita butuhkan hanya bagaimana mengaktifkan kembali kerta api yang pernah ada di Aceh, kata Gazali.

Pada bagian lain anggota Komisi lX Zainuddin Ali (F-PDI) mengungkapkan, sudah saatnya kereta api di Aceh ada di Aceh. Pertimbangan, kereta api bukan hanya sebagai alat transportasi tapi merupakan bagian dari masyarakat Aceh.

Sebagai contoh kereta api di Aceh ketika di zaman kemerdekaan; digunakan untuk mengangkut tentara Aceh ke Medan Area (Sumut), kata Zainuddin .

Pendapat senada juga diungkapkan Musta Sacky Akbar, kehadiran kereta api di Aceh sesuai dengan tuntutan zaman dimana modal angkutan ini bisa mengantisipasi benang angkutan jalan darat yang semakin dirasakan padat akhir-akhir ini. (jal)

( Sumber: Serambi Indonesia, Minggu, 10 Juli 1994 halaman 8).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.