Wasiat Prof. A.Madjid Ibrahim Kepada Rektor – Rektor Universitas Syiah Kuala

Karena penting dan diangap hebat itulah, maka Mir’atut Tullab –lah yang pertamakali diperkenalkan kembali kepada masyarakat oleh pimpinan Universitas Syiah Kuala  43  tahun lalu(1971).
Mengawali kata pengantarnya; Rektor Universitas Syiah Kuala saat itu, Prof.A.Madjid Ibrahim menyebutkan ( perubahan ke EYD oleh penulis):”Dalam rangka perayaan Dies Natalis X Univesitas Syiah Kuala, kami menganggap perlu untuk memulai memperkenalkan kepada masyarakat dan kepada lingkungan sendiri; hasil-hasil karya Ulama Besar Syekh Abdurrauf, atau yang lebih terkenal dengan nama Teungku Syiah Kuala, yang namanya telah dipakai oleh Universitas kami, untuk memperoleh sempena dari kebesarannya”. Pada bagian lanjutannya, Prof.A.Madjid Ibrahim mengatakan, bahwa mengingat sudah langkanya karya-karya Syekh Abdurrauf itu; maka:”Universitas Syiah Kuala secara berangsur-angsur berusaha mengreprodusir hasil-hasil karya beliau untuk disebarluaskan kepada masyarakat”.
Selanjutnya, sang  Rektor juga berujar:”Usaha ini akan dilanjutkan sedikit demi sedikit dengan hasil-hasil karya penulis lainnya, yang dapat dikumpulkan dari kalangan masyarakat, dayah-dayah dan sumber-sumber lainnya, dalam rangka pembinaan sebuah perpustakaan tentang Sejarah Aceh pada Universitas Syiah Kuala, dan akan disebarluaskan juga kepada pusat-pusat pengkajian sejarah dalam lingkungan pelbagai Universitas, dan para peminat sejarah lainnya”.

Sayangnya, gagasan Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof.A.Madjid Ibrahim itu “disepelekan” oleh Rektor-Rektor Universitas Syiah Kuala sesudah  beliau. Bahkan, kitab Mir’Atut Tullab yang telah direprodusirnya terus terbengkalai; tak ada yang peduli lagi.

 

(Sumber: Cuplikan dari tulisan  saya  yang berjudul”Mir’atut Tullab  Karya Terbesar Syiah Kuala”  yang pernah dimuat Warta Unsyiah.  Bale Tambeh, 2 September 2014, Hari Ultah Unsyiah ke – 53, T.A. Sakti).

Mengenang Teungku Syiah: Menyambut Ultah ke-53 Universitas Syiah Kuala, 2 September 1959 – 2 September 2014.

Mengenang Teungku Syiah
Sebuah poster lebar sekarang terpampang di sudut halaman depan Gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh. Pesan yang dikandung “kain rentang” itu mengajak semua kita untuk memperingati Dies Natalis ke – 53 Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) pada tanggal 2 September 2014. Memperingati Hari Ulang Tahun Unsyiah, berarti mengenang jejak sejarah Unsyiah; sekaligus menghormati dan memuliakan tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya.
Dalam rangka memperingati hari-hari yang penuh kenangan yang mengharukan itu, sebagai alumnus Unsyiah; saya bermaksud mengisahkan perihal masyarakat di tiga kampung (gampong) yang amat menghormati Teungku Syiah. Gampong pertama adalah Gampong Tampieng Baroh, Mukim Caleue, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Pidie. Gampong kedua dan tiga, adalah gampong Dayah Muara dan gampong Sawiet, yang keduanya dalam kecamatan Pekanbaro, Kabupaten Pidie. Informasi ‘peumulia’ Teungku ( Tgk) Syiah ini saya peroleh dari Drs. Zulkifli AZ alias Pak Joel, yang pernah menjadi Teungku Imum di gampong Tampieng Baroh – sekarang juga masih sebagai pelaksana Tgk Imum di sana. Selesai kami mengikuti hari penutupan kuliah di Pascasarjana UIN Ar-Raniry di hari Minggu pagi, 15 Ramadhan 1435 H yang lalu, saya mewawancarai Pak Joel di ruang tunggu gedung pasca itu.
Penduduk Tampieng Baroh memiliki sebuah Meunasah yang sejak dulu bernama Meunasah Teungku Syiah. Dinamakan demikian, karena Tgk Syiah pernah menunaikan sembahyang di Meunasah itu. Beberapa tiang dari bangunan lama juga masih terlihat utuh. Sebuah batu yang dipercaya pernah ditapaki(diinjak) Tgk Syiah masih ada sampai hari ini. Dulu, bila orang hendak naik ke Meunasah harus mencuci kaki(sekalian berwudhuk) di sumur, kemudian melangkah di atas batu sebagai alas tapak kaki hingga ke tangga Meunasah. Salah satu batu itulah yang masih dijumpai di Meunasah itu yang digelari “batee Teungku Syiah”. Menurut kisah turun-temurun masyarakat setempat, Tgk Syiah yang dianggap pernah mengunjungi kampung mereka adalah Syekh Abdurrauf alias yang juga bergelar Teungku Syiah Kuala. Menurut Drs. Zulkifli AZ , yang juga Kepala SDN Damai desa Jurong, Caleue, kampung lain yang juga dipercaya pernah didatangi Tgk Syiah adalah gampong Dayah Muara dan gampong Sawiet. Ketiga kampung itu letaknya bertetangga.
Sebab itulah ketiga kampung ini setiap tahun selalu mengadakan “Khanduri Teungku Syiah” dalam rangka mengenang dan mengambil berkah seumpeuna kunjungan ulama besar yang bergelar Tgk Syiah itu. Sekiranya, memang benar sebagai kepercayaan masyarakat, bahwa Tgk Syiah yang mereka hormati itu adalah Syekh Abdurrauf atau Teungku Syiah Kuala, maka berarti Kenduri Teungku Syiah telah berlangsung beberapa abad. Menurut pengalaman Pak Joel yang juga dosen Universitas Jabal Ghafur (Unigha) Sigli, tradisi khanduri Tgk Syiahdi kampungnya telah dilakukan cukup lama dan tak pernah putus. Paling-paling hanya tata cara pelaksanaannya yang berubah sesuai perkembangan zaman. Pak Joel sendiri sudah menyaksikan 30 kali khanduri Tgk Syiah, yakni sejak tahun 1984 ia berkeluarga serta tinggal di gampong Tampieng Baroh.
Tempo dulu, acara kenduri Tgk Syiah berlangsung cukup bersahaja. Ketiga kampung itu melaksanakannya secara khusus sebagai upacara istimewa. Masing-masing rumah/keluarga mempersiapkan hidangan nasi- lengkap dengan lauk-pauknya untuk dihantarkan ke Meunasah. Tamu yang diundang adalah penduduk dari dua kampung bertetangga. Jika yang melangsungkan kenduri kampung Tampieng Baroh, maka warga kampung Dayah Muara dan Sawiet akan diundang ke Meunasah Teungku Syiah untuk menyantap kenduri. Begitu pula sebaliknya. Namun, jika acara kenduri lebih besar, barulah warga di kampung-kampung lain turut diundang. Berarti mengundang warga dua kampung yang pernah disinggahi Teugku Syiah; nampaknya termasuk wajib.
Dalam pelaksanaan Khanduri Tgk Syiah yang sudah bergantian abad itu, pernah pula dibuat kenduri tiga hari berturut-turut. Misalnya, hari pertama adalah kenduri Maulid, hari kedua merupakan khanduri Tgk Syiah, sedangkan di hari ketiga adalah khanduri blang(kenduri bersawah). Namun, beberapa tahun terakhir, khanduri Tgk Syiah sudah diserentakkan dengan kenduri maulid Nabi Muhammad Saw.
Hingga kini, masyarakat sekitar masih menganggap ‘bertuah’ Meunasah Teungku Syiah itu. Hal ini terkesan dengan masih adanya orang-orang yang membayar nazar(peulheueh kaoy). Misalnya, bila tanaman padi di sawah diganggu hama tikus, maka warga pun bernazar ke Meunasah itu. Ketika nazar terkabul, maka mereka pun mengantar sejumlah kiloan padi buat dana abadi Meunasah Tgk Syiah.
Begitulah yang dipraktekkan masyarakat kampung Tampieng Baroh, Dayah Muara dan desa Sawiet , Kabupaten Pidie sejak dulu sampai kini. Hanya dengan pernah disinggahinya sekali ke kampung mereka oleh seorang Teungku Syiah yang amat dihormati, maka mereka pun telah melangsungkan “ khanduri Teungku Syiah” bergantian abad.

Bila buat masyarakat tiga gampong di Pidie mempunyai Meunasah Teungku Syiah dan Khanduri Teungku Syiah, maka bagi masyarakat Blang Oi, kota Banda Aceh juga punya kenangan tersendiri terhadap Syekh Abdurrauf-Teungku Syiah Kuala. Mereka memiliki Bale Teungku Syiah, yang tetap terpelihara turun-temurun sampai peristiwa tsunami Aceh, 26 Desember 2004. Bale itu terletak dalam komplek Meunasah Blang Oi. Alkisah, diceritakan Tgk Syiah Kuala pernah mengunjungi kampung Blang Oi dan melangsungkan pengajian agama di balai itu. Dulu, di kawasan Meunasah Blang Oi, selain Bale Teungku Syiah juga terdapat Bale Panyang dan Bale Tambo(Balai Bedug). Sebagai kelaziman tempo dulu, Bale itu selain sebagai tempat pengajian, pada malam hari juga menjadi lahan penginapan bagi pemuda-pemuda lajang sedesa. Namun, bila tidur di Bale Teungku Syiah, mereka harus berlaku tertib, suci dan sopan. Bila melanggar, pasti ada peristiwa aneh yang bakal terjadi.
“Barangsiapa yang tidur tanpa mencuci pipis(hana rah iek), besok pagi kita lihat ia tertidur dalam rumput di halaman Bale Tgk. Syiah”, kisah Prof. Dr. Yuswar Yunus kepada saya sambil terkekeh. Beliau penduduk asli gampong Blang Oi, Banda Aceh.
Buat mengenang kunjungan Tgk Syiah Kuala yang hampir empat abad lalu, sekarang dalam bekas areal Meunasah Blang Oi telah didirikan sebuah masjid yang bergelar Mesjid Syekh Abdurrauf al Singkily beserta sebuah yayasan yang diberi nama “Yayasan Syekh Abdurrauf al Singkily” pula. Hal ini menunjukkan, begitu besar penghargaan masyarakat Blang Oi kepada ulama besar mereka; Syekh Abdurrauf-Teungku Syiah Kuala, yang sudah berpulang ke Rahmatullah hampir empat abad lalu.

Di negeri orang, termasuk di Jawa, jenis kisah berupa dongeng, legenda, haba jameun terun-temurun seperti ini terwariskan dengan cukup baik, karena sudah terkumpul dalam berbagai buku, filem dan alaat-alat rekaman jejak lainnya. Kini, kisah-kisah serupa di Aceh nyaris punah, karena tak ada pihak yang peduli …!. Patut kiranya ke depan, dalam rangka memperingati Dies Natalis Unsyiah dilaksanakan berbagai acara terkait Syekh Abdurrauf-Teungku Syiah Kuala. Banyak hal yang dapat diangkat dari tokoh ulama Aceh ini, seperti dari profil pribadi yang amat haus ilmu dan menghasilkan karya tulis yang berlimpah serta mampu mendamaikan konflik agama dan politik di Aceh; pameran kitab-kitab beliau, mencetak ulang karya-karya itu, berziarah ke makam Tgk Syiah Kuala, Seminar pengaruh pemikiran Tgk Syiah Kuala di dunia Islam dan Asia Tenggara, lomba mengarang dan baca cae-puisi tentang sosok beliau dan sebagainya. Mengamati isi poster besar tersebut di atas, tidak terbayang adanya acara seperti yang kita sarankan itu!.

T.A. Sakti, Peminat naskah lama-sastra Aceh,

Email: t.abdullahsakti@gmail.com

Harapan Kita Pemda Aceh, Tunaikanlah Permohonan Kami!!!

Dari Kongres Bahasa Aceh
Mendesak. Pembakuan Sistem Eja
Banda Aceh – Pemerintah Aceh diminta membakukan sistem eja bahasa-bahasa daerah di Aceh. Sehingga tercipta keseragaman pola tulis dan kemampuan dalam menulis bahasa daerah secara baik dan benar pada generasi muda Aceh yang akan datang. Rumusan itu merupakan salah satu dari tujuh butir rekomendasi Tim Perumus Kongres Bahasa Aceh Tahun 2007 yang beranggotakan 12 oang, terdiri atas unsur pemerintah, akademisi, budayawan, dan widyaiswara/instruktur bahasa.
“Dalam kongres ini kita belum membicarakan secara khusus tentang pembakuan sistem eja. Masih pada tahap pemetaan persoalan-persoalan bahasa. Namun ternyata, sis (– hlm 1 bersambung ke halaman 11 –) tem eja adalah sesuatu yang sangat mendesak untuk kita diskusikan. Karena sampai hari ini belum ada semacam panduan yang bisa dipakai oleh semua orang”, ujar seorang tim perumus, Drs.Mukhlis A. Hamid, kepada Serambi, Kamis, ( 8/11 ) kemarin di Wisma Daka, Lampriek, Banda Aceh.
Mukhlis juga menyebutkan, saat ini terdapat sistem eja yang bervariasi. Ada yang menggunakan sistem eja yang ditawarkan Prof. Budiman Sulaiman, Dr. Abdul Gani Asyik, Parlaungan, Snouck Hurgronje,, ataupun Husein Djayadiningrat. Menurut Mukhlis, sampai sekarang belum ada kesepakatan tentang sistem eja yang digunakan dalam bahasa-bahasa daerah di Aceh. Sehingga, peserta kongres bersepakat agar ada perhatian khusus dari berbagai pihak tentang hal ini.
Kata dia, pihak Komite Peralihan Aceh (KPA) – tempat berhimpunnya eks kombatan dan sipil GAM – juga punya konsep eja sendiri. “Saya harap dari rekomendasi kami tersebut dapat mempertemukan kembali para akademisi, KPA, masyarakat, atau siapa saja yang selama ini bergerak di bidang tulis menulis bahasa daerah untuk berbagai pendapat dalam memutuskan tentang keseragaman sistem eja bahasa-bahasa daerah di Aceh, “ ujar Mukhlis yang juga dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unsyiah.
Mukhlis juga memaparkan, jika di Indonesia ada sistem ejaan umum yang disempurnakan, maka sudah selayaknya di Aceh juga harus ada pedoman ejaan umum bahasa Aceh. Dikatakannya, selama ini di kampus, ia menggunakan sistem eja yang diajarkan Prof. Budiman Sulaiman, demikian juga dengan teman-teman dosen sebelumnya. Namun, kata Mukhlis, kalau di luar Kampus Unsyiah justru digunakan sistem eja yang lain lagi. Oleh karenanya, kata Mukhlis, sudah saatnya perbedaan eja bahasa Aceh diakhiri, apalagi di era perkembangan teknologi sekarang yang punya banyak pilihan. “Hal ini harus segera dipikirkan agar ada pedoman tertulis yang praktis untuk digunakan oleh semua orang.” timpalnya.
Mukhlis juga menyatakan, sampai saat ini pemerintah belum menetapkan rujukan resmi sistem eja bahasa Aceh yang dapat disepakati bersama. Saat ini, kebanyakan sistem eja yang digunakan hanyalah sistem eja yang diajarkan Abdul Gani Asyik, Budiman Sulaiman, ataupun sistem eja ala Husein Djayadiningrat. Mukhlis juga mengakui bahwa tahun 1979 sudah pernah ada usaha awal untuk menyepakati sistem eja bahasa Aceh. Namun, menutut dia, para pakar di Aceh merasa enggan menggunakannya. Hal itu konon disebabkan adanya gengsi dikalangan akademisi.” Mereka masih cenderung menggunakan sistem eja menurut keinginan mereka masing-masing dan kelihatannya sangat sulit untuk mencapai kompromi,” ulas Mukhlis. Ia juga mengharapkan Pemerintah Aceh memfasilitasi pertemuan lanjutan tentang kebahasaan khusus untuk membahas sistem eja yang disepakati bersama.
Kongres yang dibuka Gebernur Irwandi, Selasa (6/11) itu menghasilkan tujuh butir rekomendasi kepada Pemerintah Aceh sebagai bahan pertimbangan dalam rangka revitalisasi bahasa-bahasa di Aceh. Rekomendasi tersebut disusun oleh 12 orang yang merupakan tim perumus, setelah melalui fase diskusi dengan seluruh perwakilan kabupaten/ kota di Aceh tentang pokok-pokok pemikiran yang berkembang dalam kongres itu.
Sementara itu, Kasubdin Bahasa Dinas Kebudayaan, Drs.Radius menyatakan sistem eja yang ramai dibicarakan itu akan dipercayakan penanganannya kepada tim dari Pusat Bahasa Unsyiah yang mempunyai pakar-pakar bahasa serta laboratorium bahasa. “ Secara teknis, para pakar lebih memahami tentang persoalan itu,” timpalnya.
Kepala Dinas Kebudayaan Aceh Drs.Adnan A.Madjid dalam pidato penutupan kemarin mengatakan, bahasa merupakan salah satu dari bagian kebudayaan yang harus terus ditumbuhkembangkan dan dijaga kelestariannya. Adnan juga memperjelas dari hasil kongres tersebut akan dibentuk secara khusus sebuah Lembaga Bahasa Aceh.” Lembaga ini akan dibuat setingkat dengan meseum atau balai bahasa yang bertanggung jawab melestarikan dan melindungi bahasa-bahasa di Aceh. Khususnya untuk meneliti dan mengkaji segala sesuatu tentang bahasa Aceh” papar Adnan. Ia yakin, dengan adanya lembaga ini maka akan ada garansi (jaminan) dari pihak pemerintah untuk lebih serius menjaga kelestarian bahasa Aceh. Sebagai upaya untuk melestarikan bahasa Aceh menurut Adnan pihaknya juga akan menerbitkan buletin berbahasa Aceh pada awal 2008. Buletin dimaksud dikemas dalam tampilan yang menarik, sehingga layak untuk dibaca semua kalangan dan tidak membosankan.

“Kami atas nama Pemerintah Aceh juga mengharapkan kepada para peserta kongres untuk menyosialisasikan hasil akhir dari rekomendasi itu, sehingga makna dari kongres ini dapat dirasakan publik di Aceh sebagai buah karya para peserta,” pungkas Adnan. (ys)

*Sumber: Serambi Indonesia,Jum’at, 9 November 2007 M/28 Syawal 1428 H halaman 1- 11.

PERJUANGAN PARA PENDIRI NEGARA REPUBLIK INDONESIA ASAL ACEH DI MEDAN AREA ( 1946 – 1949 )

PERJUANGAN PARA PENDIRI NEGARA REPUBLIK

INDONESIA DI MEDAN AREA

( 1946 – 1949 )

Oleh: Drs.Teuku Abdullah Sulaiman, SH alias T.A.Sakti

Abstrak

Negara Republik Indonesia diproklamirkan kemerdekaannya oleh Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Pernyataan kemerdekaan itu tidak diterima serta-merta oleh pihak Belanda yang pernah menjajah kepulauan Indonesia. Dalam usaha menjajah Indonesia kembali pihak Belanda melakukan berbagai upaya. Selain melalui siaran propaganda, pihak Belanda juga melakukan dua kali agresi bersenjata terhadap Indonesia yaitu agresi pertama tahun 1947 dan kedua tahun 1948. Akibat serangan itu dalam waktu relatif singkat hampir seluruh wilayah Indonesia dapat mereka duduki kembali.

Daerah yang belum dikuasai Belanda adalah Aceh. Beberapa kali Belanda melancarkan serangan udara terutama terhadap komando Artileri di lapangan udara Lhok Nga dan beberapa kota lainnya, tetapi dapat dibalas rakyat Indonesia di daerah Aceh dengan menggunakan meriam-meriam anti pesawat terbang. Ketidakberhasilan Belanda menguasai Aceh, memberi kesempatan bagi daerah ini untuk membantu perjuangan kemerdekaan ke daerah-daerah lain, terutama ke wilayah Sumatera Utara; khususnya ke kota Medan yang terkenal dalam sejarah Indonesia dengan “Front Medan Area”.

Kata Kunci: Perjuangan kemerdekaan, Medan area

Pendahuluan

Istilah Medan Area muncul dalam era perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah Jepang kalah dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia diumumkan, tentara Inggris atas nama Sekutu mendarat di kota Medan pada bulan Oktober 1945. Bersamaan dengan pendaratan Sekutu tersebut, tentara Belanda ikut pula mendarat dengan menyamar sebagai petugas Palang Merah Internasional.

Kedatangan pasukan Inggris yang dibonceng Belanda ini mendapat perlawanan dari rakyat di Medan dan rakyat Sumatera Timur umumnya. Dalam menghadapi perlawanan rakyat itu, pihak Inggeris membagi tanggung-jawab menjaga keamanan di Sumatera Timur kepada tentara Jepang dan pihak Inggris sendiri. Tentara Inggeris bertanggung-jawab di kota Medan dan sekitarnya, sedangkan pasukan Jepang menjaga ketertiban dan keamanan di luar batas wilayah itu.

Sehubungan dengan pembagian tugas itu, sejak 1 Desember 1945, Inggeris memasang patok-patok di sekeliling kota Medan yang bertuliskan: “Fixed boundaries of protected Medan Area”, yaitu wilayah yang menjadi tanggung-jawab Inggeris, sedangkan area atau wilayah di luarnya menjadi tanggungan Jepang. Tulisan di patok-patok itulah yang mempopulerkan sebutan Medan Area untuk wilayah tersebut.

Front Medan Area amat luas. Wilayahnya membujur dari utara ke selatan dan melintang dari timur ke barat dengan kota Medan sebagai pusatnya. Mengenai hal ini, Amran Zamzami menjelaskan rinciannya sebagai berikut:

“Areal lini barat menghampar dari Labuhan sampai ke bentangan Asam Kumbang Padang Bulan – Tanjung Morawa. Di lini inilah terjadi palagan, pertempuran habis-habisan yang menyita banyak korban. Di sanalah Front Medan Area tergelar.

Dari Hamparan Perak, kurang lebih dua puluh kilometer di sebelah utara kota Medan, bersinggungan dengan Labuhan Belawan, pasukan asal Aceh sudah sejak penghujung tahun 1946 mempersiapkan pos-pos pertahanannya. Pasukan ini menyebar ke selatan secara merata menempati: Buluh Cina, Klumpang, Kelambir Lima, Titi Gantung, sampai ke Stasiun Sunggal. Itulah daerah pertahanan Medan Area Barat-Utara.

Pada kawasan Barat-Selatan bentangan itu mulai dari kampung Lalang, Pasar Sunggal menembus Asam Kumbang. Antara potongan Front Barat-Utara dengan Barat-Selatan dipisahkan oleh sebujur jalan raya dan rel kereta api dari kota Medan ke Binjai. Itulah jalan raya satu-satunya yang amat vital sebagai sarana perhubungan guna pengangkutan pasukan logistiknya apabila terjadi gerakan militer dari Medan menuju Aceh.

Jalan beraspal Medan-Binjai itu bagaikan terowongan yang menghubungkan daerah-daerah penambangan antara Sumatera Timur dan Aceh. Hutan jati, padang ilalang, hutan-hutan bakau, hutan sawit dan perkebunan tembakau yang telah lama terlantar, adalah penunggu setia daerah ini.

Para pejuang dari Aceh mengalir dan membanjiri daerah garis depan di mulut pertahanan musuh, agar pasukan Belanda itu tidak melangkahkan kakinya ke Aceh, harus dipertahankan mati-matian, apapun yang terjadi, dan betapapun nyawa harus dikorbankan. Potongan jalan di lini ujung pada titik itu terletak kota Medan, harus dijaga dan dikawal ketat. Potongan itulah yang selalu menjadi ajang pertempuran memperebutkan batas wilayah, pengaruh dan pertahanan”.

Di jalan raya dari Medan menuju Binjai dan sekitarnya, bertabur para pejuang Aceh, baik dari TRI maupun barisan laskar-laskar rakyat yang terkoordinasi dengan tentara, bagaikan kebun ranjau yang siap meledakkan setiap langkah musuh bila mereka melaluinya dalam gerak maju menuju pintu masuk wilayah Aceh. Pos terdepan Belanda di alur Medan – Binjai itu terletak di Sei Sikambing pada Km 5. Sedangkan pos paling depan kita berada pada Km 7 di alur yang sama, persisnya di Kampung Lalang. Jarak antara posisi masing-masing garis pengintai dan patroli pasukan Belanda—tentara RI hanyalah dua kilometer. Pada lini sepanjang dua kilometer itulah bentrokan-bentrokan senjata merupakan peristiwa yang biasa dan menjadi mainan sehari-hari.

Resimen Laskar Rakyat Medan Area (RLRMA)

Pada awal kemerdekaan kedudukan kota Medan amat penting. Selain letaknya yang strategis dari segi politik, ekonomi dan militer, Medan juga berfungsi sebagai ibukota Provinsi Sumatera dengan Gubernur Mr. T. Moehammad Hasan. Sebagai alat pertahanan, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) telah dibentuk pada tanggal 10 Oktober 1945. Selain TKR, berbagai organisasi perjuangan juga berfungsi sebagai alat pertahanan dan pembela negara.

Dalam usaha mengimbangi taktik Belanda yang hendak menguasai jalur-jalur penting dalam kota Medan, para pejuang kemerdekaan bersepakat membentuk satu kesatuan komando tempur. Rencana itu terlaksana di kota Tebing Tinggi pada tanggal 10 Agustus 1946. Kesatuan yang bersifat militer itu diberi nama “Resimen Laskar Rakyat Medan Area” (RLRMA) yang dipimpin komandannya Kapten NIP M. Karim. Ke dalamnya termasuk TKR dan Barisan Kelaskaran Rakyat, baik yang berasal dari Sumatera Timur maupun dari Aceh. Markas Resimen Laskar Rakyat Medan Area (RLRMA) berkedudukan di “Trepes” (Two Rivers) sebuah kompleks perkebunan di dekat Deli Tua, kurang lebih 18 km dari kota Medan.

Kelakuan dan tindak-tanduk serdadu Belanda yang membonceng pada tentara Inggeris nyata-nyata melanggar kedaulatan Republik Indonesia. Opsir Belanda Kapten Raymond Turko Westerling yang berada di Medan saat itu termasuk algojo yang sangat kasar dan keras. Para pejuang Indonesia dibantainya tanpa perikemanusiaan dan kaum Republikein ditangkap dan ditakut-takuti, sehingga suasana di kota Medan dan di Sumatera Timur pada umumnya menjadi kacau dan tidak aman. Oleh karena itu, untuk membantu para pejuang Republik di Medan dan Sumatera Timur dikirimlah pasukan dan alat senjata dari Aceh.

Pada masa itu tata tertib pemerintahan belum lancar. Dalam rangka mengatasinya, pada tanggal 30 Agustus 1946 Gubernur Sumatera mengeluarkan Pedoman Pemerintah Provinsi Sumatera untuk menjadi pegangan bagi seluruh staf pegawai pemerintahan di Sumatera. Pedoman yang dikeluarkan di Pematang Siantar itu ditandatangani oleh Gubernur Sumatera Mr. Teuku Moehammad Hasan.

Minta Bantuan ke Aceh

Sementara itu, pertempuran terus-menerus berkecamuk di seluruh Indonesia. Pertempuran-pertempuran antara tentara Indonesia dengan Belanda juga berlangsung di Medan. Tindakan sewenang-wenang pasukan Belanda dilawan dengan gigih oleh Tentara Republik Indonesia (TRI) bersama laskar rakyat, sehingga banyak jatuh korban. Pasukan asal Aceh yang berjuang di Medan Area semakin bertambah jumlahnya karena terus-menerus mendapat tambahan pasukan.

Kehadiran TRI dan laskar rakyat dari Aceh ke Medan Area pada mulanya atas inisiatif sendiri. Selain untuk membantu perjuangan rakyat di Sumatera Timur melawan Belanda juga bermaksud mencegah serdadu Belanda memasuki daerah Aceh. Gagasan awal meminta bantuan ke Aceh berasal dari dua orang ulama terkenal di Sumatera Timur yang mengirim surat kepada sahabatnya di Aceh.

Kedua ulama besar ini, yaitu Haji Abdul Halim dan Haji Zainal Arifin Abbas. Mereka menulis surat dan mengirim utusan khusus menjumpai Ketua Umum PUSA (Persatuan Uama Seluruh Aceh) Tgk. Muhammad Daud Beureu-eh di Kutaraja. Dalam surat itu, kedua ulama tersebut menjelaskan tiga masalah penting, yakni:

1. Kehadiran Belanda/NICA di Medan Area, jelas mengancam kelangsungan hidup bangsa, negara RI yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 dan membahayakan masa depan agama Islam.

2. Sudah waktunya kaum muslimin dari Aceh ikut serta membantu saudara-saudaranya di Sumatera Timur untuk melancarkan “Perang Jihad” dan “Perang Sabil” guna mengusir penjajah Belanda dari Bumi Indonesia.

3. Sumatera Timur membutuhkan bantuan senjata berat, meriam-meriam besar bagi kesatuan artileri yang mampu memblokir dan menghancurkan pasukan artileri Belanda yang memiliki senjata moderen dan pesawat terbang.

Serdadu Inggeris yang mewakili Sekutu meninggalkan kota Medan pada 24 Oktober 1946. Semua persenjataan mereka ditinggalkan dan diserahkan kepada pasukan Belanda yang menggantikan pos-pos yang ditinggalkan Inggeris. Untuk menghadapi perlawanan rakyat Indonesia di Medan Area, tanggal 20 November 1946 Belanda membentuk Brigade “Z” yang dipimpin Kolonel PJ. Scholten. Hal ini berarti pasukan Belanda telah benar-benar mempersiapkan diri untuk bertarung melawan RI di Front Medan Area.

Kesiapan pihak Belanda ini tidak dibiarkan begitu saja. Indonesia segera melawan arus Belanda itu, bahkan timbul maksud untuk mengusir mereka dari Sumatera. Sebab itulah pimpinan TRI Komandemen Sumatera meminta bala bantuan dari Aceh.

Dalam radiogram yang ditujukan kepada Komandan Divisi Gajah I TRI Aceh; Panglima Sumatera, Mayor Jenderal Suhardjo Hardjowardojo menyebutkan:

“PEMIMPIN – PEMIMPIN RAKYAT ACEH

PENGEMBALIAN KOTA MEDAN TERLETAK DITANGAN SAUDARA – SAUDARA SEGENAP PENDUDUK ACEH TTK

JANGAN SANGSI TTK

ALIRKAN TERUS KEKUATAN ACEH KE MEDAN DAN JANGAN BERHENTI SEBELUM MEDAN JATUH TTK HBS PANGLIMA SUMATERA”.

Bagaikan gayung bersambut, kekuatan Aceh yang sejak sebelumnya sudah melimpah ruah di Medan dan sekitarnya, maka dengan adanya radiogram itu pasukan asal Aceh bagaikan arus air bah membanjiri Medan Area. Bantuan pasukan meriam (artileri) dari Aceh di bawah komando Letnan Nukum Sanany telah membangkitkan semangat juang laskar rakyat di Sumatera Timur.

Resimen Istimewa Medan Area (RIMA)

Kondisi perlawanan terhadap Belanda di Medan Area pada tahap awal memang lebih menguntungkan pihak musuh. Hal ini bisa terjadi karena kelompok-kelompok laskar rakyat berjuang dalam keadaan terpecah belah. Setiap kelompok menganggap dirinyalah yang paling berjasa dan pintar dalam berjuang. Walaupun telah dibentuk Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area (RLRMA), namun belum berfungsi secara efektif, karena instruksi-instruksinya tidak dijalankan oleh para anggotanya.

Guna mengatasi suasana yang merugikan perjuangan, maka pada tanggal 7 sampai 9 Januari 1947 di kota Bireuen diadakan rapat puncak para Panglima, yang dihadiri oleh:

1. Kolonel Husin Jusuf, Panglima Divisi Gajah I Aceh.

2. Kolonel H. Sitompul, Panglima Divisi Gajah II Sumatera Timur.

3. Letnan Kolonel A. Kartawirana, mewakili komandemen Sumatera.

4. Kapten NIP M. Xarim, Komandan Resimen Laskar Rakyat Medan Area (RLRMA).

5. Letnan Kolonel Tjikmat Rahmany, Kepala Staf Divisi Tengku Cik Di Tiro.

6. Letnan Kolonel Nyak Neh, Kepala Staf Divisi Rencong. (Masing-masing didampingi oleh staf).

Rapat Panglima berlangsung secara marathon selama tiga hari tiga malam dan telah diambil kesepakatan sebagai berikut:

1. Komando “Resimen Laskar Rakyat Medan Area” (RLRMA) dibubarkan, sebagai gantinya dibangun Komando “Medan Area” (KMA).

2. Sebagai Komandan dari Komando ini harus terdiri dari perwira menengah yang qualified (TRI) dan pernah berpengalaman dalam pertempuran.

3. Divisi Gajah I Aceh ditugaskan mengawasi l lokasi Medan Barat dan Utara. Sebuah Komando Resimen khusus dibentuk diberi nama Komando “Resimen Istimewa Medan Area”, disingkat RIMA. Seluruh kesatuan TRI dan Laskar Rakyat yang berasal dari Aceh dihimpun dalam RIMA.

4. Divisi Gajah II Sumatera Timur ditugaskan mengontrol lokasi Medan Selatan dan sebagian Medan Barat, menghimpun semua kesatuan TRI dan Barisan Kelaskaran, yang berada di Keresidenan Sumatera Timur.

5. Kepada Panglima Divisi Gajah I Aceh diharapkan dapat mensuplai terus menerus bahan logistik untuk keperluan pertempuran di Front Medan Area.

6. Sebagai markas Komando Medan Area ditetapkan di Tanjung Morawa, 12 km. dari kota Medan dan dilantik pada tanggal 24 Januari 1947.

Setelah selesai rapat para panglima di Bireuen itu, segera dibentuk Komando Medan Area (KMA), yang pimpinan terasnya merupakan gabungan dari Divisi Gajah I (Aceh) dan Divisi Gajah II (Sumatera Timur). Pemimpin dari Laskar Rakyat Bersenjata juga ikut serta dalam struktur dan formasi pimpinan KMA, yakni sebagai berikut:

1. Komandan: Letnan Kolonel Sutjipto

2. Kepala Markas Umum: Mayor Tengku Nurdin

3. Kepala Penyelidikan: Kapten Yacob Lubis

4. Kepala Penerangan: Letnan Satu G. Sianipar

5. Kepala Bagian Umum: Letnan Dua K. Sinaga

6. Kepala Perlengkapan: Hariandja

7. Kepala Perhubungan: Letnan II Ali Muchtar

8. Kepala Bagian Zeni: Letnan II A. Rahim

9. Kepala Angkutan : Pak Raden

10. Kepala Kesehatan : Dr. G. L. Tobing.

Pasukan bantuan dari Aceh ke Medan Area seluruhnya dipimpin oleh Kapten Alamsyah. Kedatangan pasukan Aceh dari hari ke sehari semakin bertambah, karena itulah rapat para Panglima di Bireun memutuskan segera membentuk satu kesatuan komando untuk memudahkan koordinasi pasukan Aceh yang banyak itu.

Kesatuan itu diberi nama Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) yang pertama kali dipimpin Mayor Cut Rahman, dan kemudian diganti Mayor Hasan Ahmad. Kekuatan pasukan RIMA tersusun sebagai berikut:

 Yon I Pimpinan Kapten Hanafiah berkedudukan di Kampung Lalang.

 Yon II Pimpinan Kapten Nyak Adam Kamil di Kelambir Lima.

 Yon III Pimpinan Alamsyah yang berturut-turut digantikan oleh Kapten Ali Hasan dan Kapten Hasan Saleh berkedudukan di Klumpang.

 Yon IV Pimpinan Kapten Burhanuddin berkedudukan di Binjai.

 Batalion Kapten Wiji Alfisah berkedudukan di Sunggal.

 Laskar Divisi Chik Ditiro Pimpinan Tengku Talib di Sunggal.

 Pasukan Aceh Tengah Pimpinan Tengku Ilyas Leube di Pancur Batu.

 Batalion Pesindo (Divisi Rencong) Pimpinan Nyak Neh berkedudukan di Kampung Lalang.

Sementara itu, sepanjang waktu pasukan Aceh terus mengalir ke Medan Area. Dalam hal ini, A. K. Yakobi dalam bukunya menggambarkan jalur-jalur yang ditempuh pasukan Aceh begini:

“Mulai dari jurusan Aceh Raya sepanjang jalan raya Aceh Besar, Aceh Pidie, Aceh Utara, dan Aceh Timur terus ke Binjai lebih 600 km. Kemudian jurusan pesisir pantai mulai dari Aceh Barat dan Aceh Selatan sejauh 500 km sampai ke Sidikalang. Dan jurusan dataran tinggi Gayo Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Karo sampai ke Pancurbatu dan Tuntungan sejauh tidak kurang dari 550 km.

Posisi Serdadu Belanda di Medan Area

Dalam menghadapi perlawanan rakyat Indonesia di Medan Area, pihak Belanda pun telah mempersiapkan diri dengan pasukan dan persenjataan yang lengkap serta terhitung canggih bagi masa itu. Brigade “Z” yang bertugas di Medan Area adalah bagian dari Divisi 7 Desember yang terkenal itu. Brigade “Z” dipimpin Kolonel PJ. Scholten yang membawahi empat batalyon, yaitu sebagai berikut:

1. Batalyon I/Infantri/(KL) yang telah dipersiapkan sejak lama dan sudah mengenal lapangan Medan Area dan sekitarnya. Batalyon ini dikirim dari Holland, sampai di Medan permulaan bulan November 1946.

2. Batalyon III/Infantri KL yang juga langsung didatangkan dari Negeri Belanda, tiba di Indonesia Oktober 1946.

3. Batalyon VI/Infantri KNIL, dinamakan juga sebagai “Medan Batalyon”. Anggota pasukan ini berasal dari orang-orang KNIL, bekas tawanan Jepang, Romusya dan pasukan Cina Poh An Tui.

4. Batalyon IV/Infanteri KNIL dan KL sebagai suatu kombinasi yang telah ditata dan dipersiapkan sejak bulan Oktober 1946.

Selain kekuatan teras empat batalyon itu, pasukan Belanda juga masih dilengkapi dengan berbagai fasilitas lainnya, seperti dua batalyon senjata berat, yaitu batalyon Arteleri dan batalyon Kavaleri, squadron angkatan udara dan angkatan laut. Diperkirakan, batalyon Kavaleri memiliki kekuatan ratusan panser, tank-tank carier, scout-car dan tank ringan lainnya. Sementara kekuatan batalyon Arteleri memiliki beberapa howitzer dengan jarak tembak 16 km, demikian pula mereka mempunyai beragam jenis mortir dengan berbagai ukuran seperti kaliber 2 dan 8 dan SMB yang terkait pada tank carier.

Menjelang agresi pertama 21 Juli 1947, pimpinan Brigade “Z” Kolonel PJ. Scholten telah menyebarkan pasukannya ke setiap sudut Medan Area yang posisinya sebagai berikut:

 Batalyon I/Infantri (KL), berkedudukan di Medan Utara dengan markasnya sekitar Polonia. Batalyon ini bertugas mengamankan 2 km sisi kiri dan kanan Corridor dan keamanan jalan raya Medan sampai Belawan. Mereka membangun kubu-kubu pertahanan di sekitar Helvetia, Glugur, Pulau Brayan, Kota Bangun, Pata Pasir, Paya Mabar dan Labuan.

 Batalyon III/Infantri berkedudukan di Medan Timur, markasnya di Deli Maatschappij. Kubu-kubu pertahanan dibangun sekitar Pasar Bengkok, Stasion Kereta Api Kebun Pisang, antara Sukaramai-Denan dan Bangkaran Batu di Medan Timur ini juga terletak Markas Brigade “Z” yaitu di Kompleks Deli Maatschappij, yaitu tempat tinggal Komandan Brigade “Z” Kolonel PJ. Scholten dan Kompleks Sena Iean tempat tinggal para perwira staf. Di Glugur Hong terletak asrama militer Belanda.

 Batalyon IV/Infantri KNIL, terletak di Medan Barat. Kubu-kubu pertahanan dibuat mulai sekitar Perkuburan Cina, Lapangan Lembu, Simpang Padang Bulan, Titi Sungai Babura, Lapangan Golf, Kampung Anggrung, di km 6 arah Pancur Batu dan di km 5 Sungai Sikambing-Sunggal. Belanda sering melakukan serangan mendadak lewat jalan Sungai Sikambing-Sunggal terhadap truk-truk dari Aceh Timur, yang membawa senjata, mesiu, bahan bakar minyak dan bahan makanan. Banyak Laskar Sabilillah, Mujahidin, dan anggota Divisi Rencong yang terkorban di jalur ini akibat serangan Belanda. Penguasaan Padang Bulan oleh Belanda juga memiliki posisi strategis, karena militer Belanda dapat memantau pasukan Republik yang datang dari Gayo Aceh Tengah dan Tanah Karo lewat Simpang Pancur Batu-Tuntungan.

 Batalyon VI/Infantri dari KNIL (Koninklijk Nederlands Indische Leger), markasnya di Gedung Avros, Kampung Baru, Medan Selatan. Kubu pertahanan dibuat di sekitar Gudang Hitam, Titi Besi/Maridal, Timbangan Kampung Baru dan Titi Kuning-Gedung Johor.

Penguasaan wilayah ini untuk menjaga keamanan lapangan terbang Polonia serta mencegah penyusupan pasukan RI ke kota Medan. Pengawasan wilayah Marindal-Kedai Durian sebagai pintu masuk ke Deli Tua, dapat menjangkau ke Tanjung Morawa dari dua jurusan. Pengendalian terhadap Titi Kuning-Gedung Johor akan bisa memantau lokasi gerak-gerik pasukan Indonesia di daerah Two Rivers dan Bekala.

Medan Area Masa Agresi Pertama

Hampir dua tahun setelah menginjak kaki kembali di Indonesia, pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda melakukan agresi pertama terhadap Republik Indonesia. Tanpa sepengetahuan pihak Republik, secara serentak Belanda melancarkan serangan mendadak di seluruh Indonesia. Tindakan ini telah melanggar gencatan senjata antara kedua pihak yang mulai berlaku pada tanggal 15 Februari 1947.

Serangan serupa juga berlangsung di Medan Area. Brigade “Z” dibawah pimpinan PJ. Scholten melakukan serangan secara besar-besaran, baik lewat darat maupun udara. Kedudukan pasukan Republik di Sektor Utara Medan Area digempur habis-habisan dan Belanda dapat menduduki Binjai. Akibat gencarnya serangan, pasukan Republik di sektor Medan Barat harus ditarik mundur.

Serangan balasan RI yang dilancarkan oleh dua kompi pasukan yang dipimpin Kapten Nyak Adam Kamil dapat dipatahkan musuh yang menggunakan senjata berat dan ringan serta dilindungi pesawat tempur Mustang, Bomber, dan Capung

Pertempuran terus berlangsung. Serdadu Belanda menyerang kedudukan pasukan Indonesia di garis demarkasi Medan Utara dimulai pukul 7 pagi. Sasaran serangan Belanda paling gencar ditujukan terhadap front Maryland Pasar I, II, III, IV dan V. Perlawanan gigih pasukan Republik hanya mampu bertahan selama dua jam. Kemudian Belanda berhasil menerobos front Pasar II yang dikawal pasukan Kesatria Pesindo.

Selanjutnya, pasukan Belanda menyerang Simpang Tiga. Tempat ini dipertahankan Batalyon III Divisi X yang memiliki senjata meriam pompong. Pasukan kita mundur ke Titi Payung, sehingga hubungan antara Hamparan Perak dan Buluh Cina terputus. Musuh mendesak terus. Pada pukul 01.30 Belanda menduduki pekan Titi Payung, di seberang sungai, sedangkan di seberang sebelah barat bertahan Komandan Batalyon III, Kapten Hasan Saleh dengan satu brigade pasukannya.

Pasukan musuh terlalu kuat, sehingga di semua front di Medan Area pasukan RI terpaksa mundur teratur. Markas Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) dibombardir musuh, sedangkan peralatan arteleri (pasukan meriam) juga dapat direbut serdadu Belanda. Pertempuran berlangsung tidak berimbang, persenjataan pasukan Indonesia sangat sederhana berhadapan dengan serdadu Belanda yang memilik peralatan perang canggih. Menghadapi hal demikian, pihak Republik memindahkan pertahanan di sekitar Medan Area ke Tandam Hilir, terus ke Stabat dan Tanjung Pura, kemudian bertahan di Gebang, 15 km dari Pangkalan Berandan.

Agresi pertama Belanda ini mendapat reaksi luas dari masyarakat dunia. India dan Australia mengajukan usulan resmi ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar membicarakan masalah Indonesia. Tanggal 1 Agustus 1947 Dewan Keamanan PBB memerintahkan penghentian permusuhan kedua belah pihak, yang mulai berlaku pada tanggal 4 Agustus 1947. Dewan Keamanan juga membentuk komisi untuk mengawasi penghentian permusuhan ini, yakni Komisi Tiga Negara (KTN), yang anggotanya Australia, Belgia, dan Amerika Serikat.

Berbagai pengalaman pahit getir dan menyayat kalbu dialami oleh anggota pasukan dari Aceh yang mara ke Medan Area. Mereka banyak yang gugur sebelum terjun di kancah pertempuran. Hal ini tidak lain karena truk-truk yang mengangkut mereka yang bergerak di jalan raya kawasan Langkat diserang habis-habisan oleh pesawat Mustang Belanda.

Begitupun pasukan mengalir dari ke front Medan Area telah mengambil posisi-posisi di Front Barat, dan bersiap-siap untuk melakukan serangan serentak untuk merebut kota Medan. Penyerbuan itu direncanakan tanggal 20 Juli 1947. Perintah merebut kota Medan dilakukan berdasarkan Radiogram dari Panglima Komandemen Sumatera Suhardjo Hardjowardoya, “Kota Medan harus direbut dalam tempo 5 hari!”

Setelah perintah itu diterima, komandan-komandan pasukan di Medan Area mengadakan pertemuan membicarakan rencana menggempur kota Medan secara serentak di seluruh front. Ditetapkan penyerbuan dilakukan tanggal 20 Juli 1947. Pada tanggal tersebut seluruh kekuatan bersenjata telah berada dalam keadaan siaga dan cuti dicabut. Pasukan terus bergerak menempati posisinya di semua front. Dengan tidak banyak bicara dan muka yang sangat serius, Perwira Staf Komandan Medan Area Kapten Zein Hamid menelaah peta Medan Area yang luasnya 227 km persegi.

Mata dan pikirannya tertuju ke Sektor Barat (Front Barat Medan Area) karena di sana tertumpu pasukan dari Aceh yang persenjataannya cukup lengkap. Di samping itu juga ditelaah situasi di Sektor Selatan. Selain dipelajari jalan menggempur melalui serangan serentak dari semua sektor juga dipelajari garis perhubungan dan garis mundur pasukan apakah telah terjamin.

Untuk merebut kota Medan, jalur suplai makanan dan pasukan dari Belawan ke Medan harus diputuskan. Untuk itu, sasaran pokok Batalyon Alamsyah merebut Titi Papan yang telah diduduki Belanda, sekaligus memotong hubungan Medan-Belawan. Sedangkan Kompi Bantuan dari Batalion Alamsyah, yaitu Kompi Amir Yahya bertugas untuk merebut Kota Bangun (Labuhan). Kompi ini dibantu oleh satu Kompi Mujahidin.

Di dalam Kompi Amir Yahya terdapat anggota-anggota bekas KNIL yang sudah ahli dalam pertempuran. Mereka adalah Maito Makmun, Letnan Yunus Ali, Sersan Mayor Kuntoro, dan Sersan Sendu.

Front Langkat Area dan Tanah Karo

Belanda segera melakukan pelanggaran gencatan senjata. Tanggal 5 Agustus 1947 mereka melancarkan serangan ke daerah Langkat. Wilayah Gebang yang merupakan daerah status quo yang telah disahkan oleh KTN, dan dijaga kepolisian dari kedua belah pihak; mereka lintasi tanpa henti. Menghadapi kecenderungan serbuan Belanda yang mengarah ke Pangkalan Berandan, para pemimpin perjuangan terus berusaha menyusun kembali kekuatan angkatan perang.

Dalam rapat tanggal 6 Agustus 1947 bertempat di Rumah Pendidikan Jiwa (penjara) Pangkalan Berandan, para pemimpin militer memutuskan membentuk suatu komando, yang diberi nama Komando Sektor Barat Oetara (KSBO). Secara vertikal, KSBO merupakan bagian dari Divisi X/TRI Komandemen Sumatera. Pembentukan Komando Sektor Barat Oetara (KSBO) diharapkan bisa menebus kekalahan pasukan Republik di Medan Area. Pimpinan dan staf dalam KSBO adalah:

Komandan KSBO : Letkol Hasballah Haji

Wakil Komandan : Letkol M. Nazir

Kepala Markas Umum : Lettu Z. Aksyah

Staf Operasi : Kapten Sudirman

Perlengkapan : Lettu Syahban

Perhubungan : Letda A. Azim

Administrasi : Letda Uhum Pane.

Tanggal 10 Agustus 1947 pihak petugas penyelidik memberitahukan Markas KSBO, bahwa Belanda di Tanjung Pura sedang mempersiapkan diri untuk Pangkalan Berandan sebagai sumber logistik perang. Setelah mempertimbangkan laporan itu, pada malam harinya pimpinan KSBO mengadakan rapat kilat dan mengambil keputusan sebagai berikut:

1. Segera melakukan pembumihangusan Pangkalan Berandan dan Pangkalan Susu untuk mencegah Belanda menduduki dua tambang minyak itu. Pembumihangusan itu dimulai pada tanggal 13 Agustus, sedang waktunya belum ditentukan, akan diberitahukan kemudian.

2. Penanggung jawab pelaksanaan lapangan dalam operasi pembumihangusan Pangkalan Berandan dan Pangkalan Susu adalah Mayor Nazaruddin Nasution, Komandan PMC (Platselijk Militaire Commandant) dan Komandan Tentara Pengawal Kereta Api (TPKA) Sumatera Timur. Tugas pembumihangusan itu diserahkan kepada mereka karena tenaga-tenaga yang lain harus melayani Belanda dalam pertempuran di garis depan.

3. Selaku pelaksana masing-masing adalah:

Satu Kompi TRI dari Batalyon Wiji Alfisah di bawah pimpinan Letnan Achyar. Mereka ditugasi khusus untuk membumihanguskan kilang-kilang minyak Pangkalan Berandan dan Pangkalan Susu.

Dua Peleton TRI khusus membumihanguskan Pelabuhan Pangkalan Berandan.

Satu Kompi Laskar Rakyat Divisi Rencong ditugasi membumihanguskan kota Pangkalan Berandan.

Sementara itu, pertempuran terus berlangsung. Peluru-peluru meriam Belanda dari darat dan laut menghantam pertahanan Republik di Gebang dan sekitarnya. Menghadapi situasi yang sulit itu, pimpinan pertahanan Republik memutuskan tindakan bijaksana, yaitu mundur teratur dari Gebang dan memindahkan pusat perlawanan ke arah yang lebih mendekati perbatasan Aceh.

Tanggal 12 Agustus 1947, pukul tiga sore, jembatan Securai diledakkan oleh pasukan Genie Komando Sektor Barat Oetara (KSBO). Jembatan ini menghubungkan Tanjung Pura dan Pangkalan Berandan. Penghancurannya dimaksudkan untuk menghambat serbuan Belanda ke Pangkalan Berandan. Belanda amat bernafsu untuk menguasai Pangkalan Berandan, karena bila sudah diduduki akan bisa menggunakan bahan bakar minyak sebagai modal peperangan melawan Republik Indonesia.

Serdadu Belanda terus bergerak di segala arah di Medan Area. Di Pangkalan Berandan, penduduk diperintahkan agar segera meninggalkan kota itu, karena musuh sudah berada 13 km dari Pangkalan Berandan. Perintah yang dilakukan para pejuang Republik ini dipatuhi penduduk kota tersebut. Sejak pagi hari sudah berduyun-duyun penduduk meninggalkan kota, baik yang menggunakan kereta api maupun berjalan kaki. Sebagian besar mereka mengungsi ke Aceh Timur.

Situasi semakin bertambah buruk. Musuh berhasil terus maju ke jurusan Aceh dan Pangkalan Berandan. Dalam keadaan demikian, diputuskan untuk meledakkan jembatan Pelawi, yang menghubungkan front terdepan pasukan Belanda dengan garis pertahanan pasukan Republik. Tanggal 13 Agustus 1947, pukul 04.00 subuh, ketika serdadu Belanda melakukan penyerbuan terus-menerus, kota Pangkalan Berandan termasuk tambang minyak dibumihanguskan oleh pasukan Indonesia. Terdengar 15 kali ledakan menggoncangkan kota dan sekitarnya dan dalam waktu sekejap menjadi lautan api.

Sejak terjadi agresi pertama itu, kedudukan Aceh semakin penting dalam dua hal. Pertama, Aceh merupakan daerah satu-satunya (kecuali Sabang) di Indonesia yang tidak pernah diduduki Belanda kembali sejak Jepang mengusir mereka pada tahun 1942. Bila Aceh dapat dikuasai Belanda, berarti habislah wilayah Indonesia sebagai modal perjuangan diplomasi bagi Republik Indonesia. Kedua, Aceh selama ini menjadi sumber modal untuk mempertahankan Medan Area, yaitu berupa bantuan tentara dan laskar-laskar rakyat serta kiriman logistik lainnya.

Menghadapi kegentingan yang demikian, pemerintah RI memandang perlu untuk memperkuat instansi militer bagi Aceh, Langkat dan Tanah Karo. Dalam hal ini Wakil Presiden Republik Indonesia Muhammad Hatta, selaku Wakil Panglima Tertinggi Tentara Republik Indonesia mengambil tindakan segera. Berdasarkan Keputusan No. 3/BPKU/47, Bukit Tinggi 26 Agustus 1947, daerah Keresidenan Aceh, Kabupaten Langkat dan Tanah Karo, ditetapkan sebagai suatu Daerah Militer.

Selanjutnya, dengan Surat Keputusan No. 4/WKP/SUM/47 tanggal 26 Agustus 1947, Teungku Muhammad Daud Beureu-eh ditetapkan sebagai Gubernur Militer dengan pangkat Jenderal Mayor. Peresmian Daerah Militer, yaitu daerah Aceh, Langkat dan Tanah Karo berlangsung di Kutaraja tanggal 30 Agustus 1947. Rapat itu dihadiri para anggota Dewan Pertahanan, Badan Pekerja Dewan Pertahanan Aceh, Gubernur Militer beserta staf, dan tokoh-tokoh masyarakat. Dapat ditambahkan, daerah Langkat dan Tanah Karo sebelumnya termasuk wilayah Keresidenan Sumatera Timur.

Dalam rangka memperkuat angkatan perang Republik Indonesia menghadapi Belanda, pemerintah RI memandang perlu membentuk kesatuan tentara nasional yang tunggal. Tanggal 15 Mei 1947, Presiden RI memang telah mengeluarkan keputusan mempersatukan TRI dengan laskar-laskar perjuangan menjadi satu tentara resmi yang dinamai “Tentara Nasional Indonesia” (TNI).

Terkait program itu, Wakil Presiden Mohammad Hatta selaku Wakil Panglima Tertinggi mengeluarkan keputusan Wakil Presiden bertanggal Bukit Tinggi 23 September 1947 No. 12/JKP/Sum/47. Keputusan itu menetapkan, bahwa untuk kepentingan pertahanan Negara, Tentara Nasional Indonesia di Sumatera; perlu segera dilaksanakan atas dasar “Satu Tentara, Satu Komando”. Kepada Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo dan kepada Gubernur Militer di Tapanuli ditugaskan melaksanakan pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) tersebut.

Menyambut keputusan Wakil Presiden itu sekaligus mengingat kondisi perlawanan terhadap Belanda semakin sengit, maka Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo mengeluarkan ketetapan No. GM/59/S-Pen. Tanggal 13 Juni 1948 yang berlaku surut menetapkan, bahwa di Daerah Aceh, Kabupaten Langkat dan Kabupaten Tanah Karo dengan resmi dibentuk Tentara Nasional Indonesia (TNI) Divisi X Sumatera, yaitu gabungan dari Tentara Republik Indonesia (TRI), Divisi Tgk. Chik Di Tiro, Divisi Rencong, Divisi Tgk. Chik Paya Bakong dan lain-lain barisan bersenjata. Sejak penetapan itu, semua barisan kelaskaran perjuangan rakyat dan TRI di wilayah Aceh, Langkat dan Tanah Karo secara berangsur-angsur telah meleburkan diri ke dalam kesatuan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Walaupun gencatan senjata sudah diberlakukan sejak 4 Agustus 1947, namun pihak Belanda terus melanggarnya dengan melakukan berkali-kali penyerangan. Setiap serangan musuh tetap dilawan pasukan Republik dengan kekuatan senjata. Untuk memperkuat bidang peralatan perang, pada tahun 1948 mulai dibangun kilang-kilang senjata di Aceh. Sebagian mesin-mesinnya merupakan sisa-sisa dari tambang minyak Pangkalan Berandan. Begitu pula para ahli teknisinya juga karyawan tambang minyak itu, yang sudah dipindahkan bersama keluarga mereka ke Lhoknga.

Pada awal tahun 1948, selesai dibangun sebuah kilang tempat memperbaiki senjata-senjata yang rusak. Pada pertengahan tahun 1948 selesai pula dibangun kilang senjata yang besar. Selain senjata ringan, pabrik itu juga mampu membuat alat-alat senjata berat, seperti mortir 2 inch, mortir 3 inch (meriam tomong), meriam kodok 65 mm, meriam gunung 75 mm, dan sebagainya. Senjata-senjata itu bukan hanya digunakan di Aceh, tetapi juga dikirim ke Sumatera Timur, Tanah Karo dan Sumatera Barat untuk memperkuat persenjataan pasukan Republik Indonesia. Selain di Lhoknga (Aceh Besar), kilang senjata serupa ini juga terdapat di Lammeulo (Pidie) dan Ronga-Ronga (Aceh Tengah).

Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, tanggal 5 November 1948 mengeluarkan Peraturan Komandan Daerah Militer Istimewa No. 1-1948 tentang pembentukan Badan Persediaan Bahan Makanan dalam Daerah Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo. Badan yang memiliki cabang dan ranting di seluruh wilayah Gubernur Militer ini bertugas mengatur dan mengurus peredaran bahan makanan, pengumpulan bahan makanan, pembagian bahan makanan, pengangkutan bahan makanan, dan lain-lain yang berkenaan makanan. Tujuan pengaturan bahan makanan ini adalah untuk mencukupi bahan makanan bagi rakyat dan pasukan militer, baik yang berjuang di Aceh, Langkat dan Tanah Karo maupun daerah-daerah lainnya.

Konsolidasi bidang keamanan dan ketertiban masyarakat juga terus ditingkatkan. Berbagai upaya ditempuh untuk mencapai masyarakat yang sentosa dan sejahtera, yang pada akhirnya diharapkan dapat memperkokoh pertahanan negara. Di antara jalan yang ditempuh adalah dikeluarkannya peraturan yang mempersempit gerak para pelaku kejahatan. Dalam hal ini, Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, tanggal 29 November 1948 mengeluarkan Penetapan No. GM/25 yang mengatur bahwa orang-orang yang sudah dijatuhi hukuman dalam perkara-perkara judi, pencurian dan zina, segera dipindahkan terus ke tempat pengasingan di Blang Pandak, Tangse (Pidie).

Dalam penjelasan keputusan itu diingatkan bahwa kondisi Tanah Air Indonesia semakin bertambah genting, maka perjudian, pencurian, dan perzinaan akan melemahkan semangat pertahanan Tanah Air. Ketetapan itu juga mendesak kepada polisi, jaksa dan pengadilan agar mempercepat proses orang-orang yang diadili, dan segera dilapor kepada Gubernur Militer dengan perantara Kepala Kepolisian Keresidenan.

Langkat Area Masa Agresi Kedua

Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda melakukan aksi militer kedua. Sebelum ditawan Belanda, Presiden dan Wakil Presiden mengirim kawat kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, yaitu Menteri Kemakmuran RI yang sedang berada di Sumatera agar membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera. Sementara Panglima Besar Jenderal Sudirman meninggalkan ibukota negera Yogyakarta untuk memimpin perang gerilya.

Sehubungan dengan Agresi Belanda Kedua, Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo mengeluarkan Penetapan/Perintah, No. GM/126//S. Per. B. Tanggal 19 Desember 1948, bahwa Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) dan Tentara Pelajar Islam (TPI) dimobilisasi ke dalam Divisi X Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Menyambut perintah Gubernur Militer itu, maka anggota-anggota TPI dan TRIP segera dimobilisasi menjadi satu kesatuan dengan Divisi X TNI. Sebanyak 280 orang anggota TPI bertugas dalam angkatan darat, 60 orang angkatan laut, dan beberapa orang pada kepolisian, Palang Merah, dan RRI Kutaraja.

Ketika Agresi Belanda Kedua, suasana perang betul-betul meliputi segenap penjuru Aceh. Di kampung-kampung setiap hari dilakukan latihan perang untuk mempersiapkan diri menghadapi musuh. Rapat-rapat umum diadakan bergiliran dari kampung ke kampung, yang bertujuan untuk menggelorakan semangat juang melawan Belanda. Hikayat Prang Sabi (Hikayat Perang di Jalan Allah) dibacakan secara bersambung di meunasah-meunasah yang dihadiri penduduk setempat setelah shalat ‘isya.

Masih dalam rangka meningkatkan semangat perjuangan rakyat, Gubernur Militer Tgk. Muhammad Daud Beureu-eh juga mengutus beberapa ulama ke seluruh Aceh. Tahap pertama meliputi wilayah Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tengah. Tahap kedua menjangkau Aceh Besar, Aceh Barat dan Aceh Selatan. Di antara ulama yang diutus tersebut ialah: Tgk. H. Ahmad Hasballah Indrapuri, Tgk. Di Lam U, Haji Abdurrahman Syihab, Bachtiar Yunus, Yunus Harahap, A.R. Hasyim, Mawardi Noor, dan Ismail Muhammad. Para ulama ini berkeliling dari kampung ke kampung untuk memberi penerangan kepada rakyat, yang antara lain menanamkan semangat jihad untuk membela kemerdekaan negara Indonesia.

Menghadapi agresi kedua, pasukan TNI di Langkat Area dan Tanah Karo juga segera dipersiapkan untuk menghadapi serbuan Belanda. Mereka terdiri beberapa peleton, yaitu:

 Peleton A dipimpin Sersan Mayor Hasan Cumbok, bertugas mempertahankan Pangkalan Berandan.

 Peleton B dipimpin Pelda Cut Usman bertahan di front terdepan KSBO, Palumanis.

 Peleton C dipimpin Peltu Johanes, bertugas di pantai Pangkalan Susu dan sekitarnya, bersekutu dengan Batalyon Kapten Habi Wahidy dan Batalyon Wiji Alfisah.

 Peleton D dipimpin Pelda Usman Maun, berkedudukan di Titi Pelawi, dengan tugas memperkuat front terdepan KSBO.

Keempat peleton itu juga diperkuat dengan pasukan Beterai II Artileri (pasukan meriam) yang dipimpin Kapten Nukum Sanany. Kehadiran pasukan meriam ke Langkat Area yang semula berkedudukan di Kuala Simpang ini berdasarkan perintah Gubernur Militer tanggal 4 Mei 1949; mengingat kondisi perang yang semakin genting. Tentara Pelajar Resimen II Aceh Divisi Sumatera juga turut membantu pasukan meriam ini.

Sementara itu, pasukan Belanda yang melakukan agresi di Langkat Area terdiri dari dua Batalyon pasukan tempur, yaitu Batalyon 5-11 RI dan Batalyon 4-2 RI, tersusun dalam lima kompi, yakni:

 Kompi 1.5-1 RI di Binjai, termasuk Tanjung Keliling dan sekitarnya.

 Kompi 2.5-11 RI di Tanjung Pura.

 Kompi 3.5-11 RI juga di Tanjung Pura, Gebang, Bukit Tua, Jembatan Serapuh, Kuala Gebang dan sekitarnya.

 Kompi 4.5-11 RI di Batang Serangan Sawit Seberang, Namunggas, dan pos-pos Tanjung Selamat.

 Kompi Oost (Bantuan khusus) di Tanjung Pura, Namunggas, Gebang, dan Bukit Serangan.

Bagi wilayah Karo Belanda membagi pasukannya pada 22 Desember 1948 kepada empat Steenbok (Kambing bandot tua), yang merupakan pasukan Batalyon 5-10 RI. Pembagian Steenbok sebagai berikut:

• Steenbok-I dipimpin Mayor W.A. Hoevenaars, berkendaraan 100 buah, untuk tugas tempur. Daerah yang harus mereka duduki adalah Sidikalang. Setelah berhasil, sebagian pasukan harus bergerak ke Tiga Lingga mengganti Steenbok-III.

• Steenbok-II, dipimpin Kapten A.L. de Kort bertugas menutup jalan Lau Renun untuk menghadang pasukan RI yang melintas melalui jalan tersebut.

• Steenbok-III, dipimpin Kapten F. Slootman bergerak dari Lau Balang ke Tiga Lingga, untuk merebut kota ini. Setelah dikuasai, selanjutnya diserahkan kepada Steenbok-I yang akan menggantikannya.

• Steenbok-IV, dipimpin Letnan J.H. Gerritse mendapat tugas untuk memotong pasukan bantuan RI yang datang dari daerah Aceh dan kalau perlu memukul mundur kembali ke Aceh.

Menghadapi agresi kedua, pasukan TNI di Tanah Karo juga diperkuat. Sebelum era Gubernur Militer, pasukan kelaskaran di wilayah ini masih terpencar-pencar. Di antara kesatuan mereka adalah Napindo, Halilintar, Harimau Liar dan lain-lain. Setelah keluar Surat Perintah Gubernur Militer tentang penggabungan laskar ke dalam TNI, maka tanggal 31 Januari 1949 dibentuklah sebuah resimen gabungan TNI di Tanah Karo, yang disusun sebagai berikut:

• Komandan: Letkol Jamin Ginting (TNI); Wakil Komandan: Mayor Selamat Ginting (Napindo); Kepala Operasi: Mayor Payung Bangun (Harimau Liar); Kepala Organisasi: Mayor Sihar Hutauruk (TNI); Penasehat-penasehat: Kolonel Mohammad Din, Mayor (Tit) Tama Ginting, Mayor (Tit) Muda Sedang; Mahkamah Tentara: Mayor (Tit) Jaga Bukit.

Upaya penggabungan ini tidak berjalan mulus. Hampir semua kelompok kelaskaran masih berjuang sendiri-sendiri. Hanya Pesindo yang masih tetap bergabung dengan TNI. Karena itu, dibentuklah Batalyon XVIII Divisi X/TNI Komandemen Sumatera. Batalyon baru ini menampung penggabungan dari Pesindo Kaban Jahe, Deli Hulu, Asahan, dan Tanah Karo ke dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pada awal agresi kedua, pihak Belanda berhasil menduduki beberapa tempat posisi pasukan Republik di Langkat dan Tanah Karo. Pasukan Batalyon II Resimen I pimpinan Maat yang bertugas di Tanah Karo, terpaksa mengundurkan diri ke Tanah Alas (Aceh), yakni tempat induk pasukannya. Pasukan pimpinan Jamin Ginting dari induk Resimen I juga mundur ke Tanah Alas.

Selain itu, sebagian besar penduduk Tanah Karo ikut mengungsi pula ke Tanah Alas. Menurut catatan resmi Pemerintah Daerah di Kutacane sekitar tanggal 31 Desember 1948, jumlah pengungsi di Tanah Alas berjumlah lebih kurang 30.000 orang. Semenjak itu Tanah Alas dijadikan basis perlawanan terhadap Belanda yang sudah menguasai Tanah Karo di Sumatera Timur. Lawe Kesumat adalah daerah perbatasan, tempat mengatur segala kebutuhan perlawanan terhadap musuh. Lawe Kesumat berada di bawah pimpinan Letnan I Syahadat.

Enam bulan setelah agresi kedua yang dimulai 19 Desember 1948, kemampuan tentara Indonesia menghadapi tentara Belanda mulai nampak. Serangan Belanda yang dilancarkan pada 30 Juni 1949 terpaksa “gigit jari” setelah dihadang TNI. Saat itu pesawat tempur musuh jenis Mustang melakukan serangan udara ke daerah pertahanan di Medan Area, yaitu Gebang, Pelawi, Securai, Palumanis, dan Pangkalan Berandan. Serta-merta serangan musuh itu mendapat gempuran balasan dari pihak Republik dengan tembakan-tembakan meriam. Akibat tembakan itu pesawat Mustang Belanda segera putar haluan menyelamatkan diri. Pada hari berikutnya, pihak Belanda juga melanjutkan serangan udara yang ditujukan ke Markas KSBO (Komando Sektor Barat Oetara), namun serangan ini segera dihalau pasukan kita dengan dentuman meriam yang menyebabkan pesawat musuh menjauhkan diri.

Pertempuran perbatasan Tanah Alas dan sekitar Tanah Karo terjadi terus-menerus setiap hari, terutama setelah Aceh menolak Negara Federasi. Ketika itu Belanda hendak menembus ke Aceh lewat Tanah Karo. Namun, pasukan RI yang berkubu di wilayah kewedanaan Tanah Alas dengan gigih menghalang gerakan tentara Belanda.

Suatu pertempuran dahsyat terjadi tanggal 30 Juli 1949. Ketika itu pasukan Bagura (Barisan Gerilya Rakyat) siap tempur untuk menghadang serdadu Belanda yang akan menyerang Tanah Alas. Pasukan Belanda yang didukung mobil lapis baja berusaha menghancurkan pertahanan. Pasukan Bagura melancarkan serbuan serentak, sehingga pertempuran sengit berlangsung selama lima jam lebih. Menjelang tengah hari, bala bantuan Belanda datang, sehingga gerilyawan Bagura segera mengundurkan diri.

Dalam pertempuran ini banyak serdadu Belanda menjadi korban. Mayat-mayat mereka bergelimpangan di mana-mana di setiap sudut area pertempuran. Tanpa diketahui Belanda, di antara orang-orang *Belanda* yang tewas itu terdapat tiga orang Pang (para pemimpin perang) dari pihak Republik yang menyamar diri seolah-olah telah tewas. Ketika pasukan Belanda bekerja memungut mayat-mayat temannya untuk dikebumikan, secara tiba-tiba ketiga Pang tadi dengan serentak bangkit menghunus pedang mencincang Belanda. Namun, akibat tembakan-tembakan serdadu Belanda, Pang Ali dan Pang Edem syahid, sedangkan Pang Aman Dimot selamat, karena tak mempan peluru. Setelah ditangkap, ia diikat lalu oleh Belanda dimasukkan granat ke dalam mulutnya. Ketika granat meledak, syahidlah Aman Dimot.

Dalam agresi kedua itu, Belanda terus-menerus menggempur pusat-pusat pertahanan RI di seluruh tanah air. Daerah Aceh diserang habis-habisan, tetapi karena pertahanan Aceh amat kuat pada masa itu, maka maksud Belanda untuk menduduki kembali daerah Aceh dalam agresi kedua juga gagal seperti agresi pertama sebelumnya. Kegagalan ini diakui sendiri oleh Van de Velde, Penasihat Politik Pemerintah Belanda untuk Sumatera, seorang yang amat mengenal watak orang Aceh karena selama 7 tahun pernah bertugas di berbagai tempat di Aceh. Apalagi ia adalah murid Snouck Hurgronje yang terkenal ahli tentang Aceh.

Dalam buku “Surat-Surat dari Sumatera” yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Dr. J.J. van de Velde menulis: “Karena kita telah menduduki seluruh Sumatera, kecuali Aceh pada waktu aksi polisionil kedua, maka pasukan kita terpaksa disebar meliputi daerah-daerah luas; …”. Pada halaman 242, dengan nada mengkritik pejabat-pejabat militer Belanda, Van de Velde memberi kesan tentang kuatnya pertahanan Aceh begini: “Adalah fakta bahwa di kalangan pimpinan angkatan perang masih selalu berpikiran bahwa pendudukan Aceh, dalam periode yang berjarak lebih jauh, tidak bisa dihindari, kecuali kalau Aceh, dengan cara lain, bisa ditempatkan di atas rel NIS. Pikiran semacam ini adalah suatu kebodohan yang tak masuk akal. Perang di Aceh, pada masa ini, akan berarti bunuh diri bagi Belanda serta puncak segala bencana”.

Menuju Pengakuan Kedaulatan

Serangan Belanda terhadap kemerdekaan Indonesia dengan agresi kedua, juga mendapat perhatian masyarakat internasional. Dewan keamanan PBB segera bersidang tanggal 28 Januari 1949 serta mengeluarkan resolusi, yaitu:

1. Hentikan permusuhan.

2. Bebaskan presiden serta pemimpin-pemimpin RI yang ditangkap pada tanggal 19 Desember 1948.

3. memerintahkan kepada KTN (Komite Tiga Negara) agar memberikan laporan lengkap mengenai situasi di Indonesia sejak 19 Desember 1948.

Resolusi Dewan Keamanan PBB itu tidak serta-merta menghentikan permusuhan antara Belanda dengan Indonesia. Pertempuran terus berkecamuk di mana-mana. Panglima Besar Jenderal Sudirman masih tetap memimpin para gerilyawan di pedalaman Jawa. Sementara kolonel T. B. Simatupang terus memimpin pasukannya di pelosok desa-desa Gunung Kidul, Yogyakarta. Hal serupa juga berlaku di Aceh, Langkat dan Tanah Karo, sebagaimana telah dijelaskan di bagian terdahulu.

Setelah melewati beberapa perundingan lainnya, atas desakan komisi PBB barulah dicapai persetujuan antara pihak Belanda dan Indonesia. Kesepakatan yang dicapai tanggal 7 Mei 1949 ini dinamakan persetujuan Roem-Royen, yang isinya antara lain: kedua pihak akan bersedia hadir pada Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, dan pihak Belanda akan membebaskan tanpa syarat pada pemimpin Indonesia yang ditawan sejak 19 Desember 1948.

Konferensi Meja Bundar (KMB) diadakan di Den Haag, Belanda pada 23 Agustus 1949. Selama KMB masih berlangsung, suasana cemas meliputi rakyat Indonesia yang merasa khawatir KMB mengalami kegagalan. Saat itu, Mr. Sjafruddin Prawiranegara selaku wakil Perdana Menteri berkantor di Kutaraja. Kalau KMB gagal dan perang pacah lagi, Mr. Sjafruddin Prawiranegara akan segera membentuk Kabinet Perang di Aceh.

Setelah berlangsung perundingan yang berlarut-larut, pada tanggal 2 November 1949 KMB berakhir. Hasil utamanya antara lain Belanda akan menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) pada akhir bulan Desember 1949. Mengenai Irian Barat akan ditunda penyelesaiannya selama satu tahun.

Republik Indonesia Serikat (RIS) dibentuk pada 15 Desember 1949 dengan Presiden Ir. Soekarno. Kabinet RIS dengan Perdana Menteri Drs. Muhammad Hatta dilantik oleh Presiden pada tanggal 20 Desember 1949. Delegasi RIS yang dipimpin Drs. Muhammad Hatta segera berangkat ke Nederlands (Belanda) untuk menandatangani naskah pengakuan kedaulatan. Maka pada tanggal 27 Desember 1949, baik di Indonesia (Jakarta) maupun di Belanda diadakan upacara penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan, yang menandakan Indonesia sudah berkedaulatan penuh sebagai suatu negara dan bangsa Merdeka.

Bertepatan dengan hari pengakuan kedaulatan itu, di Sabang, Pulau Weh; sebagai satu-satunya wilayah Aceh yang dapat dikuasai Belanda selama perang kemerdekaan (1945-1949), juga berlangsung upacara pengakuan kedaulatan Indonesia atas Pulau Weh/Sabang. Rombongan dari daratan Aceh yang berangkat ke Sabang antara lain Zaini Bakri (Bupati Aceh Besar), Inspektur Polisi Amin Ismail (Waka Polisi Aceh), Mayor Husinsyah (Kastaf TNI Teritorium Aceh ), Kapten Sihar Hutahuruk, Letda M.D. Gani dan Peltu P. Siambaton (Komandan Seksi Polisi Militer).

Serah terima kedaulatan atas Sabang (Pulau Weh) berlangsung pada 27 Desember 1949, yang dilakukan oleh Wakil pemerintah kerajaan Belanda kepada wakil pemerintah Indonesia. Di pihak Belanda diwakili Residen Sabang, Moolenaar sedangkan pihak Indonesia diwakili Bupati Aceh Besar Zaini Bakri. Sejak itu berakhirlah Aceh sebagai daerah modal bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Seterusnya Aceh menjadi daerah modal bagi pembangunan Indonesia hingga sekarang, karena bumi Aceh memiliki sumber daya alam yang melimpah sebagai karunia Allah swt.

.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Ali. (1985). Sejarah Perjuangan Rakyat Aceh Dalam Perang Kemerdekaan 1945-1949. Banda Aceh: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Daerah Istimewa Aceh.

.

Abdullah Puar, Yusuf. (1978). Muhammad Natsir 70 Tahun. Jakarta: Pustaka Antara.

A.K. Jacobi. (1998). Aceh Dalam Perang Mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 1945–1949 dan Peranan Teuku Hamid Azwar Sebagai Pejuang. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Amran Zamzami. (1990). Jihad Akbar di Medan Area. Jakarta: Bulan Bintang.

J.J. Vande Velde. (1987). Surat-surat dari Sumatera 1928-1949. Jakarta: Pustaka Azet.

Kodam I Iskandar Muda. (1972). Dua Windu Kodam I Iskandar Muda. Kuta Raja: Sejarah Militer Kodam- I/ Iskandar Muda.

.

M. C. Ricklef. (1991). Sejarah Indonesia Moderen, (terjemahan). Yogyakarta:

Gadjah Mada University Press.

M. Djanan Zamzami. (1985). Tentara Pelajar Resimen II Aceh Divisi Sumatera 1945-1950. Jakarta: Pengurus Perasatuan Exs Tentara Pelajar Resimen II Aceh Divisi Sumatera.

.

Muhammad Natsir. (1978). Muhammad Natsir 70 Tahun. Jakarta: Penerbit Pustaka.

Muhammad Roem. (1972). Bunga Rampai dari Sejarah, Jilid I. Jakarta: Penerbit Bulan Bintang.

Sartono Kartodirdjo., dkk. (1975). Sejarah Nasional Indonesia, Jilid VI, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

T. Alibasyah Talsya. (1990). Batu Karang Ditengah Lautan (Perjuangan Kemerdekaan di Aceh) 1945-1946. Banda Aceh: Lembaga Sejarah Aceh.

T. Alibasyah Talsya. (1990). Modal Perjuangan Kemerdekaan (Perjuangan Kemerdekaan di Aceh), 1947-1948, Buku II. Banda Aceh: Lembaga Sejarah Aceh.

T. Alibasyah Talsya. (1990). Sekali Republikein Tetap republikein (Perjuangan Kemerdekaan Di Aceh), Buku III. Banda Aceh: Lembaga Sejarah Aceh.

Teuku Bardant. (1992). Kisah Perjuangan Mempertahankan Daerah Modal Republik Indonesia dari Serangan Belanda. Jakarta: Penerbit Beuna Perwakilan Banda Aceh.

T. B. Simatupang. (1980). Laporan dari Banaran. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan.

Teuku Ibrahim Alfian. (1982). Revolusi Kemerdekaan di Aceh (1945–1949). Banda Aceh: Proyek Pengembangan Permuseuman Daerah Istimewa Aceh.

Mengganti Nama Unsyiah, Perlukah?

Opini Harian Serambi Indonesia:

Mengganti Nama Unsyiah, Perlukah?
Senin, 7 Juli 2014 11:43 WIB

Oleh T.A. Sakti
BEBERAPA hari terakhir, ‘debat’ pergantian nama Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) deras mengalir dalam masyarakat Aceh. Hal ini menunjukkan Unsyiah amat dicintai rakyat Aceh. Pendapat masyarakat berbeda-beda, sebagian pro dan lainnya kontra terhadap pergantian itu. Sebagai seorang alumnus Unsyiah, saya pun memiliki pandangan sendiri tentang poblema serius ini.
Dalam kehidupan saya yang kini hampir berumur 60-an tahun, sebutan Syiah sudah menyelimuti saya sejak kecil. Di kalangan masyarakat awam sering terdengar kisah-kisah misterius tentang Syiah, atau yang mereka gelari Teungku Syiah. Syiah adalah ulama yang amat tinggi ilmunya dan setaraf dengan Aulia atau Wali kalau di Jawa. Bagi masyarakat awam di Aceh, mereka juga punya kisah versi sendiri tentang sejumlah syiah seperti Syiah Abdokade (Syekh Abdul Kadir Jailany), Syiah Hudam, Syiah Kuala dan Syiah Plak Plieng.
Syiah Abdokade adalah pengguna pertama alat seni Rapa-I dan beliau sering menabuhnya di pinto guha (pintu gua) pada malam Jumat. Syiah Hudam adalah suami Putroe Neng asal Cina. Berkat keampuhan ilmu Syiah Hudam, semua penyakit bisa di tubuh Putri Neng sembuh total, sedangkan Syiah Kuala dianggap orang pertama yang menyebarkan agama Islam di Aceh. Sementara Syiah Plak Plieng merupakan ulama yang tidak sepaham dengan Syiah Kuala dalam hal cara menyebarkan Islam di Aceh.
Bagi mereka yang pernah belajar Nadham dan Tambeh di Bale Teungku, tentu mengenal pula beberapa sosok Syiah lainnya, seperti Syiah Bal’am dan Syiah Barshisha. Kedua beliau adalah ulama yang sudah masuk taraf Aulia atau Wali karena ilmu yang dimiliki keduanya amat tinggi. Syekh Abdurrauf yang bergelar Syiah Kuala –dan sejak lebih setengah abad lalu menjadi label nama bagi Universitas Syiah Kuala– adalah ulama besar Aceh abad ke 17 yang juga menguasai ilmu yang amat dalam.
Berkat martabat ilmunya, yang disodorkan melalui fatwa; maka empat perempuan dapat menjadi Ratu (raja perempuan) di Kerajaan Aceh Darussalam pada abad ke 17. Padahal sampai kini pun, para ulama masih memperdebatkan boleh-tidaknya satu negeri Islam dipimpin seorang wanita. Orang lain masih terus berdebat, sedangkan di Aceh sudah terlaksana dengan manis hampir empat abad yang lalu.
Tidak keliru
Dalam bahasa Arab, kata syayikh berasal dari kata syeikh, yang berarti mahaguru. Bila dibawa ke tradisi ilmiah sekarang, maka berarti guru besar alias profesor. Dalam lidah orang Aceh, kata syekh atau syayikh dalam huruf Arab dan Jawoe diucapkan syiah. Kesimpulan yang dapat dipetik dari uraian di atas, bahwa sejak awal tidak ada yang keliru atau salah dalam pemberian nama bagi Univeritas Syiah Kuala. Soal masyarakat luar Aceh yang sering keliru mengucap kata syiah menjadi syah atau syi’ah, itu masalah lain.
Gelar atau sebutan tokoh yang berjasa dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara berbeda-beda menurut masing-masing wilayah. Gelar-gelar tersebut antara lain; makhdum, wali, sunan, maulana, imam, fakih, khatib, syekh dan syiah. Maulana, sunan dan wali terkenal di pulau Jawa, makhdum dan khatib di Filipina dan Kalimantan. Sementara di Aceh sebutan syiah (Teungku Syiah) sebagai “ulama besar” dikenal masyarakat luas.
Begitulah suatu masyarakat terwariskan ‘memory’ yang berbeda tentang tokoh ulama “keramat” di wilayah mereka. Karena itu tidaklah sulit memahami, bila masyarakat luar Aceh sering salah saat mengucapkan nama Univeritas Syiah Kuala. Akibat memori otak mereka tidak menyimpan kata “syiah”, maka melengkunglah lidah mereka kepada momori lain yang berdekatan bunyinya dengan ucapan syiah itu. Akibatnya, meluncurlah dari mulut mereka nama universitas syah kuala atau universitas syi’ah kuala. Kata syah cukup popular dibandingkan syiah. Para sultan di dunia Melayu hampir selalu namanya diakhiri dengan sebutan syah, seperti Sultan Muhammad Daud Syah sebagai sultan terakhir dari Kerajaan Aceh Darussalam atau Sultan Iskandar Muhammad Syah yang ditabalkan menjadi sultan pertama Kerajaan Malaka.
Akar kekeliruan terhadap nama Unsyiah sudah terjadi sejak universitas ini belum lahir ke alam nyata. Surat Keputusan (SK) pendiriannya yang ditandatangani Presiden Soekarno mengalami kesalahan dari awal lagi. Saya yakin, bahwa bahan-bahan dasar buat isi SK yang disodorkan Panitia Pembangunan Unsyiah telah tertulis dengan benar. Namun, menjadi salah ketika diketik ulang oleh Staf Istana Presiden yang menyusun isi pernyataan/konsideran SK tersebut. Hal ini tentu tidak disengaja karena sang pengetik SK itu tidak memiliki memori terhadap gelar syiah di benaknya.
Tidak tahu-menahu
Lantaran itu, warga luar yang tidak tahu-menahu mengenai SK Unsyiah yang salah dari semula, sebagian besar mereka juga menyebut universitas syah kuala kepada Unsyiah. Sikap panitia pengusul SK yang tidak mempersoalkan kekeliruan itu, mereka tentu lebih memahami situasi. Kita yang hidup di era reformasi dan demokrasi sekarang, perlu menelaah kembali sejarah Bung Karno di era awal 1960-an itu. Saya percaya pihak panitia yang dimotori Gubernur Aceh Ali Hasjmy pasti berpikir: “Dari pada tidak mendapat apa-apa bila diprotes nanti, lebih baik diam saja asal tujuan utama tercapai.”
Sandungan lain yang mencegat Unsyiah bebas melangkah juga terkait namanya yang salah diucapkan orang, umumnya orang luar Aceh. Yaitu Universitas Syiah Kuala, namun sewaktu keluar dari mulut orang luar; lantas berubah bunyinya menjadi Universitas Syi’ah Kuala. Hal ini termasuk persoalan lebih baru. Sewaktu cara penulisan kata syi’ah masih menggunakan huruf ‘ain dengan tanda (‘) saat menulis syi’ah, maka kesalahan itu jarang terjadi. Akan tetapi ketika cara penulisan syi’ah sudah sama dengan cara menulis syiah, yaitu syiah pula, mengakibatkan kekeliruan mengucapkan Universitas Syiah Kuala menjadi Universitas Sy’ah Kuala, justru semakin sering terjadi.
Kita yang tak punya wewenang apa-apa dalam hal bahasa, tentu tak dapat membalik jarum sejarah, agar cara penulisan kata aliran Syiah dikembalikan seperti cara lama, yaitu Syi’ah. Oleh karena itu cara lebih mudah mengatasi kesalahan orang menyebut nama Universitas Syiah Kuala adalah dengan menambah huruf (y) pada tulisan Syiah, sehingga tertulislah Universitas Syiyah Kuala. Sekiranya kesilapan pada SK pendiriannya benar-benar diralat, maka ketika itulah penambahan huruf y menjadi saat yang tepat.
Promosi, kini tersedia berbagai jalur canggih untuk memperkenalkan diri. Salah satunya adalah melalui iklan tampil di televisi. Keunggulan media ini terutama dalam hal mampu menampilkan fisik dan vokal suara secara terang-benderang. Khusus buat membetulkan sebutan atau panggilan terhadap sesuatu yang salah, maka media televisilah sarana yang paling ampuh. Usaha membetulkan salah ucap lewat tulisan di media massa tak mungkin berhasil. Sebab, melihat tulisan amat berbeda kesannya dengan mendengar pengucapan yang betul dari tulisan itu.
Saluran paling jitu untuk tujuan itu hanyalah lewat media televisi. Pengucapan terhadap nama Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dapat terdengar jelas dan fasih melalui media elektronik ini. Saya amat yakin, melalui acara-acara di TV Jakarta itulah sebagai solusi paling ampuh untuk mengikis salah-silap dalam menyebut nama Unsyiah yang ‘sudah berkarat’ berpuluh tahun. Semoga!

* T.A. Sakti, Peminat Manuskrip-Sastra Aceh, Dosen Unsyiah, dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: t.abdullahsakti@gmail.com
Berita Terkait: Opini

Makna di Balik Permainan Anak Aceh

Pong Ma dan Tuhan
(Memaknai ulang permainan Aceh)
Oleh: Dr.Hasballah Saad

Memang ibu,mak,bunda atau ummi adalah teluk yang teduh tempat semua perahu manusia berlabuh dengan tenang, setelah lelah mengembara dalam samudera kehidupan.
***

Dalam tradisi kanak-kanak  Aceh, sangat terkenal permainan meupet-pet (petak umpet) ada penjaga pong, yang bertugas mengawal tonggak dimana semua pemain pada awalnya berkumpul. Posisi tertentu itu yakni “Pong” adalah tempat semua pemain mulai berlari, dan ada yang bersembunyi, akan kembali ke “pong” bila dikejar oleh sang penjaga itu. Semua yang ikut bermain akan berlomba kembali menyentuh pong. Siapa yang berhasil menyentuh pong,  maka ia terbebas dari kejaran sang penjaga pong. Permainan ini menjadi ajang melatih gerak motorik, kecekatan, kelihatan, taktik dan strategi para pemain, yang umumnya anak-anak.
Didalam keluarga, para anak balita selalu dekat dengan sang ibu yang dipanggil “ma”. Akar kata ummi, ma adalah “pong” keluarga. Para balita yang senang bermain, akan kembali kepangkuan mama, manakala ada sesuatu yang ditakuti, dikhawatirkan atau sesuatu yang asing dan tidak dipahami. Mama menjadi tumpuan tempat berlindung yang aman bagi para balita, juga bagi anak-anak yang lebih tua. Tidak salah jika seorang menjerit karena sesuatu sebab, panggilannya bukan ayah atau bapak,tetapi mama ,e…ma… e” (wahai mama). Para anak balita akan memanggil mama bila ada suatu ancaman,kesakitan atau kesusahan yang dianggap mengancam dirinya. Mama menjadi symbol tempat berlindung, lambang keteduhan dimana semua orang akan berlabuh,
Agama (Islam) pun memposisi mama menjadi sangat  sentral. Rasulullah saw ketika ditanyai seseorang; Wahai Rasulullah, siapakah orang yang harus paling kita hormati di dunia ini?”. Rasul menjawab dengan satu kata ummaka” (Ibu mu) sang penanya bertanya lagi “ sesudah itu siapa lagi ya Rasul?”
kembali Rasul menjawab “ umma ka”, hingga 3 kali berturut-turut. Baru pada pertanyaan serupa kali keempat. Rasul menjawab “Abi ka” (ayahmu).
Itulah pertanyaan pemuliaan tinggi kepada sang ibu dan “kaum ibu” (baca perempuan) pada umumnya. Rasulullah memulai hal itu tatkala dunia Arab jahiliyah masih memandang rendah pada kaum perempuan. Pada masa itu malah para bayi perempuan dikebumikan hidup-hidup karena dianggap membawa malang bagi keluarga. Penistaan perempuan sudah melampaui batas yang tidak dapat di maafkan. Rasul saw yang membongkar tradisi itu, dan menempatkan posisi perempuan pad derajat yang lebih mulia, hatta atas posisi sang ayah (laki laki) sekalipun. Memang ibu, mak, bunda dan ummi adalah teluk yang teduh tempat semua perahu manusia berlabuh dengan tenang, setelah lelah mengembara dalam samudera kehidupan.
Bagaimana orang yang tidak memiliki ibu? Kemana dia akan berlabuh tatkala memerlukan perlindungan, atau istirahat untuk melepas penat, tempat mengadu atas segala duka lara, yang tak tertanggungkan?. Bayangkan pula para anak yatim piatu, atau piatu tak ber-ibu lagi, jika mereka berduka lara, mengalami kepedihan dan derita hidup, kepada siapa sang piatu harus mengadu , dan mencurahkan isi hatinya, kemana dia harus meminta kembali perlindungan dan pemanjaan diri? Maka disini Tuhan menjadi penting.
Tuhan adalah “pong” atau “mak” tempat semua orang berlabuh tenang. Tuhan maha awal dan maha akhir ! Seperti “pong” atau “ma” dari situlah balita pergi bermain, dan kesanalah semua orang akan kembali , baik suka ataupun tidak suka. Bayangkan kalau Tuhan tidak ada , atau tidak mau menerima kembalinya seseorang mana kala dia membutuhkannya. Ini seumpama mak yang tidak tahu menerima kepulangan balitanya. Alasan apapun, baik karena malu disebabkan terlalu banyak dosa atau pembangkangan atau karena tidak tahu bagaimana cara agar dekat dan mudah kembali kepada-Nya, bukan soal. Pada akhirnya yang tidak Akrab dengan Tuhan akan mengalami masalah dalam proses kembalinya itu. Tentu perasaannya akan dihantui dengan ketakutan yang tiada akhir atau malu yang tak habis habisnya, atau merasa tidak pantas kembali kepada “pong yang maha Agung itu.
Bagaimana pula jika orang , utamanya anak-anak balita, mempersepsi bahwa Tuhan itu kejam, menghukum tanpa henti, melempar ke neraka jahannam , dan berbagai sifat tak pemaaf. Tentu kita akan mempersepsi “pong akhir” yang mengerikan. Kita kehilangan “pong” yang teduh, nyaman, melindungi tempat kita semua mencari akhir yang damai.
Para pemeluk Kristiani menyebut pong yang agung itu dengan kalimat “rumah bapa di surga” atau “kerajaan alah yang damai”. Kaum muslim menamakannya dengan syurga “jannatun naim” atau “jannatun Firdausi” atau sebutan lain yang menjadi lambang keteduhan, kedamaian abadi dan bahagia tiada akhir, ini merupakan rekonstruksi harapan. Penyerahan total dan kerinduan pada sesuatu yang abadi menyenangkan. Dalam terminology Islam semua sebutan tersebut, yakni “jannatun-naim’’ atau “jannatun-Firdausi” atau “jannatun-makwa” adalah harapan, kerinduan akan kedamaian abadi, dan kesenangan tanpa akhir.
Kearifan Aceh
“Pong adalah kearifan yang mesti diajarkan kembali kepada anak-anak Aceh, meskipun dia sulit membayangkan wajah Tuhan dan bagaimana sesungguhnya surga itu, konsep “pong” dalam permainan meu-pet-pet (petak-umpet) itu sebagai penyerahanaan atau lebih konkrit bagaimana “mak” diperlukan dikala susah atau duka, atau pun berbagai suka.
Menarik disimak teori “big-bang” yang dianut sebagaian para ahli kosmologi dan menguak asal mula kejadian alam ini. Dari satu titik beku maha pekat meledak dengan sangat dekat hingga mengeluarkan gas yang luar biasa banyaknya, dan pecahan pecahan dari molekul amat panas dari pecahan itu terlontar oleh kekuatan maha dahsyat memenuhi jagat raya yang tanpa batas. Putaran epicentrum dalam kurun waktu yang sangat lama, telah mengubah gas menjadi benda-benda langit yang saling mengitari titik yang paling induk . Matahari dipercaya merupakan pusat epicentrum jagat raya. Dan bukan pula mustahil bahwa ada jutaan matahari yang lahir dari pecahan zarrah yang maha awal itu dengan segala sistemnya.
Lalu konsep akhirat boleh jadi dijelaskan sebagai ketika sebagai saatnya nanti, setelah makhluk mengembara di dunia dan menunggu di alam barzah, akan tiba saatnya kembali kepada Sang  Maha Awal, atau menyatu dalam titik amat pekat dengan kekuasaan Sang Maha Pencipta. Manusia dan semua makhluk Allah, tidak lagi memerlukan ruang dan tidak larut dalam dimensi waktu. Wallahu a’klam. Tapi petak umpet dan konsep “pong” dapat dijadikan media untuk menggiring pemahaman ke arah soal-soal ketuhanan dan hakekat kejadian alam semesta.
Big bang telah dengan sangat mudah diterjemahkan oleh para arif Aceh masa lalu ke dalam permainan petak umpet itu. Berawal dari pong yang satu, para pemain menyebar ke sekeliling pong hingga penjaga pong tidak dapat menjangkaunya. Akan tetapi sejauh apapun para pemain lari pada akhirnya kalau dia mau selamat dan terbebas dari kejaran dari penjaga pong (malaikatul maut?), maka dia harus kembali ke asal, yakni pong, tonggak dimana tadi mulai berlari. Dari tanah kembali ke tanah.
Dalam ungkapan Aceh disebut “asai bak tanoh meuwoe keu tanoh, Tuhan peuteungoh blang padang mahsya”, yang artinya segala sesuatu berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah, Tuhan lah yang akan membangkitkan kembali di padang mahsyar kelak, merupakan kalimat yang menjelaskan hakikat kejadian manusia dan dan semua makhluk hidup ciptaan Allah di bumi.
Tentu pengajaran hal demikian itu tidaklah mudah bagi anak anak balita dan sebaya mereka. Konkritisasi prinsip itu diajarkan dalam permainan petak umpet, dimana pong adalah mula dari segala mula, dan kesitu pula semua orang akan dan harus kembali.
Teori big bang yang rumit, dan pesan tentang hakikat hidup telah diterjemahkan ke dalam sebuah permainan menyenangkan oleh para ahli kebajikan Aceh. Dari maha tunggal, semua orang akan kembali “maha esa” itu, tanpa kaya miskin, megah dan hina, suka atau tidak suka. Pada akhirnya semua orang yang dan makhluk akan kembali ke dalam “ yang maha satu “ itu. Menarik pula jika prinsip ini digunakan untuk memahami teori atau paham wahdatul wujud, yang meyakini menyatunya makhluk dengan sang khalik. Tak ada ruang lagi diantara dua esensi itu. Maka al-halaj sampai pada kesimpulan bahwa kalau demikian maka “ Ana-alhaq” (akulah tuhan ) yang sangat controversial itu.
Permainan kesenian hasil karya Aceh masa silam penuh dengan simbol-simbol kehidupan, pesan moral, hakikat kehidupan, dan mengingatkan kita bahwa pada akhirnya hanya tuhanlah yang “ maha abadi ’’ dan kekal selamanya. Presiden, menteri, pemilu, DPR, pangkat, kekayaan, kemegahan, pelantikan, deposito, rumah , jabatan, dan mobil dinas, semua itu adalah assesoris dan mainan perentang waktu menuju “ pong yang maha abadi” .
Dan saya amat yakin bahwa sesuatu yang tak tampak dengan mata kepala, akan dengan sangat jelas terlihat dengan menggunakan mata hati, jika kita menggunakan perspektif intangible approach dalam menggali berbagai rahasia, pesan dan makna dalam berbagai unsur dan elemen kebudyaan, khususnya dalam kebudayaan Aceh masa lalu. Siapa yang paham, mau dan bisa melakukan itu sangat ditentukan oleh tingkat kepeduliaan, kearifan dan kemampuan berfikir yang sungguh-sungguh terhadap khasanah budaya kita yang sangat kaya. Waallahu a’lamu bis-shawab.
#Dr. Hasballah Saad adalah dosen senior di FKIP Unsyiah, dan Ketua Dewan Pembina Aceh Cultural Institute (ACI) di Banda Aceh.
( Sumber: Serambi Indonesia, Minggu, 12 Juli 2009 halaman 22/Budaya ).
Catatan: Lon peugot catatan nyoe, seubab bak: Rabu, 25 Ramadhan 1435 H ( 23 Juli 2014 M), yakni hari ini adalah dalam rangka mengenang atau Ultah ke 30 kecelakaan di jalan raya yang saya alami di Yogyakarta. Naas itu terjadi hari Sabtu, 25 Ramadhan 1405 (15 Juni 1985 ) sekitar pukul 13.00 wib di wilayah Kalasan, lk 8 km sebelah timur kota Yogyakarta. Pada hari itu, kami mahasiswa peserta KKN-UGM dijemput pulang ke kampus setelah melaksanakan tugas Kuliah Kerja Nyata selama dua bulan lebih. Saya sendiri, T. Abdullah Sulaiman beserta empat orang teman lainnnya ditugaskan di desa Guli, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Selesai acara perpisahan dengan “Pemda Kabupaten di Boyolali” konvoi mahasiswa KKN-UGM bergerak pulang ke Kampus UGM Yogyakarta. Setelah melintasi Candi Prambanan peristiwa naas itu terjadi. Sebuah mobil Colt pengangkut barang tivi tiba-tiba menabrak saya. Akibatnya, saya perlu berobat dua tahun, secara medis di kota dan tabib patah di gunung. Nyaris skripsi tak selesai. Syukur Alhamdulillah, semua hambatan itu teratasi juga akhirnya. Semoga kedepan rahmat dan karunia Allah Swt semakin berlimpah dicucurkan kepada saya sekeluarga serta bagi kaum Muslimin-Muslimat, termasuk di Gaza, Palestina!. Selamat Menyambut Hari Raya ‘Idul Fitri 1435 H, mohon-maaf lahir dan bathin!!!.

Bale Tambeh, 25 Puwasa 1435
25 Ramadhan 1435 H
23 Juli 2014 M
( T.A. Sakti )

Semangat mencintai keluarga Rasulullah di Aceh

  Syi’ah Aceh

Oleh: Dr. Hasballah M Saad

ADAKAH pemeluk syiah di Aceh? Ini perlu dipertanyakan ketika banyak sekali simbol “syiah” ditemukan, dan sangat menonjol di kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh. Sejarah mula kedatangan Islam ke Aceh, pemimpinnya dikenal bernama Shir, seperti Shir Poli, Shir Nuwi, Sir Duli. Dalam hikayat-hikayat Aceh lama, kata gelar Shir sering pula disebut Syahir. Misal, Shir Nuwi dibaca Syahir Nuwi, Shir Poli dibaca Syahir Poli dst. Kata Syahrir ini lebih kurang setara dengan kata Ampon Tuwanku dalam tradisi Melayu di Malaysia. Asal kata Shir, datangnya dari keluarga bangsawan dari kawasan Persia, dan sekitarnya. Maka putri Raja Persia yag setelah negerinya ditaklukkan Umar Ibnul-Khatab, ditawan dan dibawa ke Madinah, mulanya bernama Shir Banu. Setelah dibebaskan oleh Ali Bin Abi Thaleb, Shir Banu menikah dengan putra Ali bernama Husen. Sementara dua saudara Shir Banu lainnya menjadi menantu Abubakar dan menantu Umar Ibnul Khattab.

Belakangan nama menantu Ali berubah nama menjadi Syahira Banu, dan dalam lafal di Hikayat Hasan Husen, nama itu dipanggil Syari Banon, yang menjadi istri Sayyidina Husen bin Ali. Husen syahid dibunuh Yazid bin Mu’awiyah di Karbala pada 10 Muharram. Shir Banu atau Syari Banon menjanda sambil membesarkan anaknya Ali Zainal Abidin, yang sering dipanggil Imam as-Sajad, karena selalu suka bersujud(salat). Dalam Hikayat Hasan Husen, nama Syari Banon disebut berulang-ulang karena beliau ini mendampingi suami dengan sangat setianya, hingga ke kemah terakhir di Karbala, mengantar Husen menuju kesyahidan. Banon bersama putra kesayangannya Ali Zainal Abidin yang masih sangat belia, menyaksikan sendiri tragedi yang menjadi sejarah kelam umat Islam, karena titisan darah Rasul SAW tumpah di bumi Kufah oleh tangan orang yang mengatasnamakan dirinya Khalifah kaum Muslimin.

Peristiwa Karbala ini, di Aceh diperingati dengan khanduri ‘Asyura secara turun menurun. Adakalanya diiringi dengan membaca hikayat Hasan Husen, dan para wanita Aceh mempersiapkan penganan sebagai khanduri keu panghulee. Acapkali pula, para pendengar hikayat ini mencucurkan air mata tatkala ceritera sampai pembantaian anak cucu Rasulullah SAW itu.

Rafli, penyanyi Aceh kontemporer mendendangkan peristiwa itu dengan lirik: //”Lheuh syahid Hasan ji prang lom Husen/ Ji neuk poh bandum cuco Sayyidina/ Dum na pasukan laju diyue tron?/ Lengkap ban bandum alat senjata”// (Dah syahid Hasan, Husen pun digempur/Nak dihabisi semua cucu Sayyidina (Rasulullah)/ Seluruh pasukan disuruh turun/ Lengkap semua dengan senjata). Semangat mencintai ahlul bait, keluarga Rasulullah saw itu muncul pula di Aceh dalm bentuk tari tarian. Diantaranya yang terkenal adalah Saman Aceh. Ragam gerak, lirik lagu dan ratoh dipenuhi symbol penyesalan Karbala. Seluruh gerak tari Saman diilhami oleh kepedihan, penyesalan dan ratap tangis atas syahidnya Sayyidina Husen, yang terperangkap oleh tipu daya penduduk Kufah yang mendukung Yazid bin Mu’awiyah.

Di Iran, dan beberapa kawasan sekitar benua Persia itu, amat lazim dijumpai perempuan dan laki-laki memukul mukul dada hingga ada yang berdarah untuk mengenang peristiwa Karbala di hari Asyura, setiap tahunnya. Dalam naskah hikayat Muhammad Nafiah, yang mengisahkan peran adik laki-laki Husen bin Ali dari lain ibu, yang menuntut bela atas syahidnya Husen di Karbala, jelas sekali dilukiskan bagaimana pengikut Yazid “dikafirkan” oleh sang penulis hikayat itu. Tatkala Muhammad Nafiah ingin mengeksekusi mati seorang lagi perempuan hamil yang masih hidup, sementara yang lainnya sudah dibunuh semua, maka turunlah suara dari langit. //”Sep ka wahe Muhammad Nafiah, bek le tapoh kaphe ulu/ bah tinggai keu bijeh, agar uroe dudoe mangat na asoe neuraka”// (“cukup sudah wahai Muhamad Nafiah, jangan lagi dibunuh kafir hamil itu/ agar dia beranak pinak lagi untuk isi neraka kelak”). Karena Muhammad Nafiah ingin mengabaikan perintah penghentian pembantaian itu, maka tiba-tiba dia dan kudanya diperangkap oleh kekuatan gaib. Lalu terkurunglah dia bersama kudanya dalam sebuah gua batu. //Muhammad Nafiah lam guha batee/Sinan meu teuntee dua ngen guda (Muhammad Nafiah dalam gua batu/Terkurung disitu bersama kudanya).

Dalam bagian lain, dikisahkan bahwa pada suatu hari, ketika Muhammad Nafiah masih kecil, Ali bin Abi Thalib membawa pulang ke Madinah anak laki-lakinya itu dan duduk bercengkerama bersama Rasul dan dua kakaknya lain ibu, Hasan dan Husen. Rasulullah saw mendudukkan Hasan dan Husen dipangkuan sebelah kiri sedangkan Muhammad Nafiah duduk di atas paha sebelah kanan Rasulullah. Tatkala Fatimah, Ibunya Hasan dan Husen melintas, dia bermuka masam karena melihat justru putra Ali yang bukan dari rahim Fatimah mendapat tempat di sebelah kanan Rasulullah, sementara putra-putranya, Hasan dan Husen duduk di paha sebelah kiri Rasul. Rasul memandang wajah masam Fatimah az-Zahra, putri kesayangannya itu. Lalu Rasul memanggil Fatimah, dan bersabda: “Wahai anakku, janganlah kamu bermasam muka. Yang ini, sambil menunjuk Hasan dan Husen, akan menemui ajal kelak ketika kita sudah tiada, karena dibunuh orang. Yang inilah, sambil menunjuk Muhammad Nafiah, yang akan menuntut bela atas kematian kedua mereka ini, maksudnya Hasan dan Husen.Jibrail telah menyampaikan hal itu kepadaku wahai Fatimah”. Mendengar ucapan Rasul waktu itu, barulah wajah Fatimah kembali berseri seperti sediakala. Ada pesan Jibrail kepada Rasulullah atas peristiwa yang bakal terjadi atas anak cucunya setelah Rasul dan Fatimah tiada kelak. begitu mulianya kedudukan Muhammad Nafiah, putra Ali dari istri lain, (mungkin hasil perkawinan mut’ah dalam peperangan yang lama).

Hikayat itu telah menjadi bacaan sehari-hari kaum muslimin di Aceh. Dalam benak orang Aceh, kafir perempuan yang hamil tua itu, meskipun dia adalah pemeluk Agama Islam namun dipandang sebagai kafir karena jadi pengikut Yazid bin Muawiyah. Dan inilah cikal-bakal kafir sekarang ini yang akan menjadi isi neraka kelak. Wallahu’alambis-shawab!. Jika di bandingkan dengan ceritera dalam film-film Amerika dengan Vietnam umpamanya, muncul kesan publik bahwa Amerika lah yang paling jagoan, meskipun semua orang tahu pada akhirnya dia harus angkat kaki dari negara bekas jajahan Prancis itu, meskipun orang Vietnam melawan dengan bambu runcing. Tidak ada sejarah yang akurat tentang Muhammad Nafiah yang menghabiskan seluruh pasukan Yazid di Kufah. Namun Hikayat itu justru mengisahkan yang tinggal hanya seorang “ kaphe ulu/ (maaf: hamil) yang anak turunannya menjadi cikal-bakal penghuni neraka kelak.

Saya bisa memahami bagaimana kepedihan kaum muslimin ketika Husen syahid, dan perasaan itu dihibur dengan pembelaan yang gemilang oleh cerita kemenangan Muhammad Nafiah bin Saiyidina Ali, setelah Husen dan pengikutnya syahid di Karbala. Ini juga menjadi bukti terhadap apa yang diriwayatkan, tentang cerita Fatimah bermasam muka, karena Hasan-Husen diletakkan di atas paha kiri Rasulullah, ketika mereka masih kecil dulu dan Muhammad Nafiah justru di paha kanan Rasul.

Dalam tradisi Aceh, hikayat berbentuk hiburan yang selalu mengandung pesan, nasehat, sumber pengetahuan, sejarah serta Agama. Hikayat Hasan Husen, Nubuwat Nabi, Fatimah Wafat, Muhammad Nafiah dll, merupakan bacaan rakyat yang utama disampimg hikayat-hikayat lain seperti Putroe Geumbak Meuh, Peurakaison, Nun Farisi, Indara Budiman, Indra Bangsawan, Baya Seribee, dll. Kala itu memang belum ada Novel Laskar Pelangi, atau sang Pemimpi, dan Ayat-Ayat Cinta dsb. Sinetron pun belum dikenal oleh masyarakat Aceh lama. Maka cerita dalam hikayat- lah yang menjadi referensi perilaku, sumber nasehat, dan pengetahun sejarah bagi masyarakat luas.

Di kawasan pantai rakyat Aceh, termasuk utamanya Aceh Selatan berkembang kesenian tradisional“Pho” . Tari pho dimainkan oleh sejumlah anak-anak gadis remaja, dengan mendendangkan syair penuh nuansa sendu, seumpama orang meratapi kematian. Dalam format khusus, gadis remaja menyusun format berkeliling melingkar, dan meratapi sesuatu bagaikan meratapi kematian. Ingatlah, bagaimana masyarakat Aceh memperingati “Asyura” dengan nyanyian dan Hikayat Hasan Husen, semua dilantunkan dalam irama pilu penuh duka lara.

Orang Aceh semuanya mengikuti praktek ibadah  kaum Sunny, sebagaimana lazimnya kaum muslimin di tempat-tempat lain di Indonesia. Namun bacaan shalawat kepada Nabi dan keluarganya, selalu diucapkan dengan menambahkan kata Sayyidina di depan nama Muhammad, dan Ibrahim. “Allahumma shalli ala Sayyidina Muhammad,wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad, kama shallaita ala Sayyidina Ibrahim, wa ala ali Sayyidina Ibrahim, dst. Hal ini amat ditentang oleh pengikut Wahabi yang sangat anti terhadap praktek ibadah seperti memuja nama Rasul itu dengan meletakkan nama Sayyidina di depan nama nama mereka.

Saya hampir sampai pada kesimpulan bahwa orang Aceh itu pencinta ahlul bait yang sangat setia, kalaupun mereka tidak pernah mengaku sebagai pengikut syi’ah. Bukankah pada masa tertentu dalam sejarah Islam, kaum syi’ah memperkenalkan istilah taqiyah(bersembunyi) dan dari itu lahirlah ungkapan, bahwa orang yang mengaku dirinya syi’ah bukanlah syi’ah lagi”.

Di  komunitas lain di Pidie, agak menarik disimak, rentetan nama-nama anggota keluarga Sayed (Habib). Sebut saja berawal dari nama Sayed Idris alias Teungku Syik di Keude, memiliki tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan. Yang laki-laki bernama Sayed Hasyem, Sayed Husen, Sayed Abidin (Zainal Abidin). Sementara anak perempuannya bernama Cutwan Dhien dan Cutwan Samalanga( nama aslinya tidak dikenal lagi). Sayed Husen berputrakan Sayed Abubakar, Sayed Puteh dan Sayed Bunthok, sementara yang perempuan bernama Cutwan Syarifah, Cutwan Manyak dan Cutwan Fatimah. Sayed Zainal Abidin mempunyai seorang putri tunggal bernama Ummi Kalsum( Cutwan Kasum). Dari perkawinannya dengan saudara sepupu, Sayed Abubakar, Cutwan Kasum memiliki seorang putri tunggal diberi nama Cutwan Fatimah, yang menikah dengan Sayed Ali bin Sayed Abdullah Bambi. Sayed Abdullah Bambi menikah dengan Cutwan Khadijah binti Habib Husen Az-Zahir. Sementara kakak Cutwan Khadijah bernama Habib Hasan dan Habib Ahmad Sabil. Khadijah sendiri berputrakan selain Sayed Ali adalah Sayed Muhammad dan Aja Rohani. Sementara Habib Hasyem alias Habib Peureumbeue, mempunyai beberapa orang putra, antara lain Sayed Ahmad(Pak Mukim), Sayed Abdullah dan yang perempuan bernama Cutwan Khadijah pula. Cutwan Khadijah menikah dengan Habib Ahmad Mon Keulayu, dan berputrakan antara lain Sayed Hasan, Sayed Husen, Sayed Abdurrahman, Sayed Alwi, Sayed Ali dan Sayed Jamaluddin. Simaklah putaran nama-nama itu, semuanya berkisar sekitar nama keluarga Rasulullah, mulai dari Hasyem, Abdullah, Kahdijah, Ahmad (Muhammad), Ali, Fatimah, Hasan, Husen, Ummi Kalsum, Zainal Abidin, Abubakar, dst. Sementara masyarakat umum yang bukan keturunan Sayed, selalu memberikan nama anak mereka dengan nama nama Abbas, Hamzah, Aminah, Thaleb, Zainab, Rukaiyah, disamping nama nama seperti yang saya sebutkan itu.

Apakah fenomena ini dapat dijadikan indikasi bahwa para pemilik nama nama itu merupakan pengikut Syi’ah Aceh?. Apakah nama nama demikian karena menasabkan diri pada keturunan Rasulullah?. Atau telah terjadi pertalian dua kepentingan, pertama, menasabkan diri pada darah nabi, dan kedua melestarikan nama nama yang dikenal sebagai nama ahlul bait yang utama?. Tentu hal ini memerlukan penelitian lebih lanjut. Simak pula, kisah yang selalu dilantunkan pada bulan Muharram ( bulan dimana syahidnya Sayyidina Husen di Karbala): //Bak siploh uroe buleuen Muharram/KesudahanHusen Jamaloe(Jamalul). Peue na mudah takhanduri/Po Tallah bri pahla dudoe”.//(“Sepuluh hari bulan Muharram/Kesudahan Husen Jamalul/Jika ada kemudahan agar berkhanduri/Allah memberi pahala nantinya”). Bagimana jika disimak praktek ritual ibadah wajib seperti shalat lima waktu puasa, zakat dan haji?.

Simaklah sebuah cerita lucu  tapi mengharukan, yang berlaku dalam satu keluarga di sebuah desa di Aceh pada tahun 1950-an. Tersebutlah nama  Yah Maneh(nama samaran), yang menikah dengan perempuan desa,  Syamsiah(juga nama samaran). Mereka berputrakan beberapa orang dan semua laki-laki. Saad adalah penggemar Hikayat Hasan Husen, seperti juga penduduk kampung lainnya. Maka dalam hikayat itu dikisahkan begini: “Hasan dan Husen cuco di Nabi/Aneuk tuan Siti Fatimah Dora/Tuan teu Hesen syahid dalam Prang/Tuan teu Hasan syahid ji tuba/Syahid di Husen ka keunong beusoe/Di Hasan sidroe keunong bencana (racun)/Tuan teu Husen syahid dalam blang/Tuan teu Hasan di rumoh tangga””// Terkesima dengan keagungan nama yang disebut dalam bait hikayat itu, Saad sepakat memberikan nama nama anaknya seperti nama nama cucunda Nabi. Yang tertua diberikan nama Hasan (Keuchik Hasan), yang kedua diberi nama Dan (Apa Dan), dan yang ketiga diberi nama Husen(meninggal waktu kecil). Maka kalau dibaca dalam satu nafas menjadi Hasan Dan Husen dilanjutkan dengan Cuco di Nabi. Padahal kata sambung dan itu bukan nama orang. Saad tidak peduli, dan nama anak keduanya tetap saja DAN, meskipun ketika dewasa nama itu menjadi Mad Dan, karena kesulitan menulis nama dalam KTP. Lalu anak-anaknya diberi nama Sulaiman (nama Nabi), Ibrahim (nama Nabi), Zainal Abidin (nama putra Husen) dan Abdul Hamid. Apa yang terjadi dalam kehidupan kejiwaan Yah Maneh?. Meskipun buta huruf dan petani biasa, Yah Maneh  merasa sangat dekat dengan kehidupan keluarga Rasulullah, sehingga kumandang nama ahlul bait selalu terdengar dalam keluarga mereka. Saya merasa yakin, seandainya Yah Maneh memiliki anak perempuan, pasti akan diberi nama, Khadijah, Fatimah atau Aminah!.

Pertanyaannya kini adalah, apakah sekali lagi, hal ini dapat dijadikan indikator bahwa orang Aceh baik keturunan Sayed, atau orang biasa dapat disebut pengikut Syi’ah?. Atau dengan sebutan lain, apakah mereka ini bisa dipanggil dengan sebutan Syi’ah Aceh?. Saya sendiri cenderung berfikir demikian. Namun agar praduga ini cukup memiliki hujjah yang kuat, perlu dilakukan penelitian yang lebih dalam tentang fenomena yang saya uraikan dalam tulisan ini. Ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa Islam yang mula mula masuk ke Aceh justru berasal dari para ahlul bait yang hijrah karena tekanan politik dinasti Umaiyah (turunan Muawiyah bin Abu Sofyan) terhadap keturunan Sayyidina Ali yang belakangan dikenal dengan kaum Alawiyin, pengikut Ali yang sepupu dan menantu Rasulullah.

Ingatlah pula bahwa pada saat haji wadak, Rasul pernah berkata di hadapan jamaah yang bergerak kembali ke Madinah setelah selesai berhaji. Rasul Saw sambil mengangkat tangan Ali, Rasul bersabda,”Wahai saudaraku kaum muslimin. Aku dengan dia (sambil menunjuk Ali) bagaikan Musa dengan Harun, jika sesudah aku masih ada Nabi, maka dialah orangnya. Namun karena tak ada Nabi sesudahku, maka dialah penerusku. Kau saksikankah ucapanku ini wahai sekalian manusia” kata Rasul di bukit Ghadir Khum itu. Maka dari turunan Sayyidina Ali itulah, kaum Alawiyin membangsakan diri. Wallahu a’lamu bis-shawab.

*Penulis adalah pemerhati sejarah dan kebudayaan, pegiatan Aceh Cultural Institut (ACI). (Sumber: Serambi Indonesia, Minggu, 22 Februari 2009 halaman 22/Budaya ).

 

** Mengenang   Tiga Tahun  almarhum Dr. Hasballah M. Saad,  yang meninggal  23 Ramadhan 1432 H/23 Agustus 2011 M  s/d  23 Ramadhan 1435 H/21 Juli 2014 M  HARI INI.Dengan kemuliaan bulan Ramadhan, semoga Allah Swt merahmati beliau sepanjang masa!. Amin!. Bale Tambeh: T.A. Sakti