Mengganti Nama Unsyiah, Perlukah?

Opini Harian Serambi Indonesia:

Mengganti Nama Unsyiah, Perlukah?
Senin, 7 Juli 2014 11:43 WIB

Oleh T.A. Sakti
BEBERAPA hari terakhir, ‘debat’ pergantian nama Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) deras mengalir dalam masyarakat Aceh. Hal ini menunjukkan Unsyiah amat dicintai rakyat Aceh. Pendapat masyarakat berbeda-beda, sebagian pro dan lainnya kontra terhadap pergantian itu. Sebagai seorang alumnus Unsyiah, saya pun memiliki pandangan sendiri tentang poblema serius ini.
Dalam kehidupan saya yang kini hampir berumur 60-an tahun, sebutan Syiah sudah menyelimuti saya sejak kecil. Di kalangan masyarakat awam sering terdengar kisah-kisah misterius tentang Syiah, atau yang mereka gelari Teungku Syiah. Syiah adalah ulama yang amat tinggi ilmunya dan setaraf dengan Aulia atau Wali kalau di Jawa. Bagi masyarakat awam di Aceh, mereka juga punya kisah versi sendiri tentang sejumlah syiah seperti Syiah Abdokade (Syekh Abdul Kadir Jailany), Syiah Hudam, Syiah Kuala dan Syiah Plak Plieng.
Syiah Abdokade adalah pengguna pertama alat seni Rapa-I dan beliau sering menabuhnya di pinto guha (pintu gua) pada malam Jumat. Syiah Hudam adalah suami Putroe Neng asal Cina. Berkat keampuhan ilmu Syiah Hudam, semua penyakit bisa di tubuh Putri Neng sembuh total, sedangkan Syiah Kuala dianggap orang pertama yang menyebarkan agama Islam di Aceh. Sementara Syiah Plak Plieng merupakan ulama yang tidak sepaham dengan Syiah Kuala dalam hal cara menyebarkan Islam di Aceh.
Bagi mereka yang pernah belajar Nadham dan Tambeh di Bale Teungku, tentu mengenal pula beberapa sosok Syiah lainnya, seperti Syiah Bal’am dan Syiah Barshisha. Kedua beliau adalah ulama yang sudah masuk taraf Aulia atau Wali karena ilmu yang dimiliki keduanya amat tinggi. Syekh Abdurrauf yang bergelar Syiah Kuala –dan sejak lebih setengah abad lalu menjadi label nama bagi Universitas Syiah Kuala– adalah ulama besar Aceh abad ke 17 yang juga menguasai ilmu yang amat dalam.
Berkat martabat ilmunya, yang disodorkan melalui fatwa; maka empat perempuan dapat menjadi Ratu (raja perempuan) di Kerajaan Aceh Darussalam pada abad ke 17. Padahal sampai kini pun, para ulama masih memperdebatkan boleh-tidaknya satu negeri Islam dipimpin seorang wanita. Orang lain masih terus berdebat, sedangkan di Aceh sudah terlaksana dengan manis hampir empat abad yang lalu.
Tidak keliru
Dalam bahasa Arab, kata syayikh berasal dari kata syeikh, yang berarti mahaguru. Bila dibawa ke tradisi ilmiah sekarang, maka berarti guru besar alias profesor. Dalam lidah orang Aceh, kata syekh atau syayikh dalam huruf Arab dan Jawoe diucapkan syiah. Kesimpulan yang dapat dipetik dari uraian di atas, bahwa sejak awal tidak ada yang keliru atau salah dalam pemberian nama bagi Univeritas Syiah Kuala. Soal masyarakat luar Aceh yang sering keliru mengucap kata syiah menjadi syah atau syi’ah, itu masalah lain.
Gelar atau sebutan tokoh yang berjasa dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara berbeda-beda menurut masing-masing wilayah. Gelar-gelar tersebut antara lain; makhdum, wali, sunan, maulana, imam, fakih, khatib, syekh dan syiah. Maulana, sunan dan wali terkenal di pulau Jawa, makhdum dan khatib di Filipina dan Kalimantan. Sementara di Aceh sebutan syiah (Teungku Syiah) sebagai “ulama besar” dikenal masyarakat luas.
Begitulah suatu masyarakat terwariskan ‘memory’ yang berbeda tentang tokoh ulama “keramat” di wilayah mereka. Karena itu tidaklah sulit memahami, bila masyarakat luar Aceh sering salah saat mengucapkan nama Univeritas Syiah Kuala. Akibat memori otak mereka tidak menyimpan kata “syiah”, maka melengkunglah lidah mereka kepada momori lain yang berdekatan bunyinya dengan ucapan syiah itu. Akibatnya, meluncurlah dari mulut mereka nama universitas syah kuala atau universitas syi’ah kuala. Kata syah cukup popular dibandingkan syiah. Para sultan di dunia Melayu hampir selalu namanya diakhiri dengan sebutan syah, seperti Sultan Muhammad Daud Syah sebagai sultan terakhir dari Kerajaan Aceh Darussalam atau Sultan Iskandar Muhammad Syah yang ditabalkan menjadi sultan pertama Kerajaan Malaka.
Akar kekeliruan terhadap nama Unsyiah sudah terjadi sejak universitas ini belum lahir ke alam nyata. Surat Keputusan (SK) pendiriannya yang ditandatangani Presiden Soekarno mengalami kesalahan dari awal lagi. Saya yakin, bahwa bahan-bahan dasar buat isi SK yang disodorkan Panitia Pembangunan Unsyiah telah tertulis dengan benar. Namun, menjadi salah ketika diketik ulang oleh Staf Istana Presiden yang menyusun isi pernyataan/konsideran SK tersebut. Hal ini tentu tidak disengaja karena sang pengetik SK itu tidak memiliki memori terhadap gelar syiah di benaknya.
Tidak tahu-menahu
Lantaran itu, warga luar yang tidak tahu-menahu mengenai SK Unsyiah yang salah dari semula, sebagian besar mereka juga menyebut universitas syah kuala kepada Unsyiah. Sikap panitia pengusul SK yang tidak mempersoalkan kekeliruan itu, mereka tentu lebih memahami situasi. Kita yang hidup di era reformasi dan demokrasi sekarang, perlu menelaah kembali sejarah Bung Karno di era awal 1960-an itu. Saya percaya pihak panitia yang dimotori Gubernur Aceh Ali Hasjmy pasti berpikir: “Dari pada tidak mendapat apa-apa bila diprotes nanti, lebih baik diam saja asal tujuan utama tercapai.”
Sandungan lain yang mencegat Unsyiah bebas melangkah juga terkait namanya yang salah diucapkan orang, umumnya orang luar Aceh. Yaitu Universitas Syiah Kuala, namun sewaktu keluar dari mulut orang luar; lantas berubah bunyinya menjadi Universitas Syi’ah Kuala. Hal ini termasuk persoalan lebih baru. Sewaktu cara penulisan kata syi’ah masih menggunakan huruf ‘ain dengan tanda (‘) saat menulis syi’ah, maka kesalahan itu jarang terjadi. Akan tetapi ketika cara penulisan syi’ah sudah sama dengan cara menulis syiah, yaitu syiah pula, mengakibatkan kekeliruan mengucapkan Universitas Syiah Kuala menjadi Universitas Sy’ah Kuala, justru semakin sering terjadi.
Kita yang tak punya wewenang apa-apa dalam hal bahasa, tentu tak dapat membalik jarum sejarah, agar cara penulisan kata aliran Syiah dikembalikan seperti cara lama, yaitu Syi’ah. Oleh karena itu cara lebih mudah mengatasi kesalahan orang menyebut nama Universitas Syiah Kuala adalah dengan menambah huruf (y) pada tulisan Syiah, sehingga tertulislah Universitas Syiyah Kuala. Sekiranya kesilapan pada SK pendiriannya benar-benar diralat, maka ketika itulah penambahan huruf y menjadi saat yang tepat.
Promosi, kini tersedia berbagai jalur canggih untuk memperkenalkan diri. Salah satunya adalah melalui iklan tampil di televisi. Keunggulan media ini terutama dalam hal mampu menampilkan fisik dan vokal suara secara terang-benderang. Khusus buat membetulkan sebutan atau panggilan terhadap sesuatu yang salah, maka media televisilah sarana yang paling ampuh. Usaha membetulkan salah ucap lewat tulisan di media massa tak mungkin berhasil. Sebab, melihat tulisan amat berbeda kesannya dengan mendengar pengucapan yang betul dari tulisan itu.
Saluran paling jitu untuk tujuan itu hanyalah lewat media televisi. Pengucapan terhadap nama Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dapat terdengar jelas dan fasih melalui media elektronik ini. Saya amat yakin, melalui acara-acara di TV Jakarta itulah sebagai solusi paling ampuh untuk mengikis salah-silap dalam menyebut nama Unsyiah yang ‘sudah berkarat’ berpuluh tahun. Semoga!

* T.A. Sakti, Peminat Manuskrip-Sastra Aceh, Dosen Unsyiah, dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: t.abdullahsakti@gmail.com
Berita Terkait: Opini

Makna di Balik Permainan Anak Aceh

Pong Ma dan Tuhan
(Memaknai ulang permainan Aceh)
Oleh: Dr.Hasballah Saad

Memang ibu,mak,bunda atau ummi adalah teluk yang teduh tempat semua perahu manusia berlabuh dengan tenang, setelah lelah mengembara dalam samudera kehidupan.
***

Dalam tradisi kanak-kanak  Aceh, sangat terkenal permainan meupet-pet (petak umpet) ada penjaga pong, yang bertugas mengawal tonggak dimana semua pemain pada awalnya berkumpul. Posisi tertentu itu yakni “Pong” adalah tempat semua pemain mulai berlari, dan ada yang bersembunyi, akan kembali ke “pong” bila dikejar oleh sang penjaga itu. Semua yang ikut bermain akan berlomba kembali menyentuh pong. Siapa yang berhasil menyentuh pong,  maka ia terbebas dari kejaran sang penjaga pong. Permainan ini menjadi ajang melatih gerak motorik, kecekatan, kelihatan, taktik dan strategi para pemain, yang umumnya anak-anak.
Didalam keluarga, para anak balita selalu dekat dengan sang ibu yang dipanggil “ma”. Akar kata ummi, ma adalah “pong” keluarga. Para balita yang senang bermain, akan kembali kepangkuan mama, manakala ada sesuatu yang ditakuti, dikhawatirkan atau sesuatu yang asing dan tidak dipahami. Mama menjadi tumpuan tempat berlindung yang aman bagi para balita, juga bagi anak-anak yang lebih tua. Tidak salah jika seorang menjerit karena sesuatu sebab, panggilannya bukan ayah atau bapak,tetapi mama ,e…ma… e” (wahai mama). Para anak balita akan memanggil mama bila ada suatu ancaman,kesakitan atau kesusahan yang dianggap mengancam dirinya. Mama menjadi symbol tempat berlindung, lambang keteduhan dimana semua orang akan berlabuh,
Agama (Islam) pun memposisi mama menjadi sangat  sentral. Rasulullah saw ketika ditanyai seseorang; Wahai Rasulullah, siapakah orang yang harus paling kita hormati di dunia ini?”. Rasul menjawab dengan satu kata ummaka” (Ibu mu) sang penanya bertanya lagi “ sesudah itu siapa lagi ya Rasul?”
kembali Rasul menjawab “ umma ka”, hingga 3 kali berturut-turut. Baru pada pertanyaan serupa kali keempat. Rasul menjawab “Abi ka” (ayahmu).
Itulah pertanyaan pemuliaan tinggi kepada sang ibu dan “kaum ibu” (baca perempuan) pada umumnya. Rasulullah memulai hal itu tatkala dunia Arab jahiliyah masih memandang rendah pada kaum perempuan. Pada masa itu malah para bayi perempuan dikebumikan hidup-hidup karena dianggap membawa malang bagi keluarga. Penistaan perempuan sudah melampaui batas yang tidak dapat di maafkan. Rasul saw yang membongkar tradisi itu, dan menempatkan posisi perempuan pad derajat yang lebih mulia, hatta atas posisi sang ayah (laki laki) sekalipun. Memang ibu, mak, bunda dan ummi adalah teluk yang teduh tempat semua perahu manusia berlabuh dengan tenang, setelah lelah mengembara dalam samudera kehidupan.
Bagaimana orang yang tidak memiliki ibu? Kemana dia akan berlabuh tatkala memerlukan perlindungan, atau istirahat untuk melepas penat, tempat mengadu atas segala duka lara, yang tak tertanggungkan?. Bayangkan pula para anak yatim piatu, atau piatu tak ber-ibu lagi, jika mereka berduka lara, mengalami kepedihan dan derita hidup, kepada siapa sang piatu harus mengadu , dan mencurahkan isi hatinya, kemana dia harus meminta kembali perlindungan dan pemanjaan diri? Maka disini Tuhan menjadi penting.
Tuhan adalah “pong” atau “mak” tempat semua orang berlabuh tenang. Tuhan maha awal dan maha akhir ! Seperti “pong” atau “ma” dari situlah balita pergi bermain, dan kesanalah semua orang akan kembali , baik suka ataupun tidak suka. Bayangkan kalau Tuhan tidak ada , atau tidak mau menerima kembalinya seseorang mana kala dia membutuhkannya. Ini seumpama mak yang tidak tahu menerima kepulangan balitanya. Alasan apapun, baik karena malu disebabkan terlalu banyak dosa atau pembangkangan atau karena tidak tahu bagaimana cara agar dekat dan mudah kembali kepada-Nya, bukan soal. Pada akhirnya yang tidak Akrab dengan Tuhan akan mengalami masalah dalam proses kembalinya itu. Tentu perasaannya akan dihantui dengan ketakutan yang tiada akhir atau malu yang tak habis habisnya, atau merasa tidak pantas kembali kepada “pong yang maha Agung itu.
Bagaimana pula jika orang , utamanya anak-anak balita, mempersepsi bahwa Tuhan itu kejam, menghukum tanpa henti, melempar ke neraka jahannam , dan berbagai sifat tak pemaaf. Tentu kita akan mempersepsi “pong akhir” yang mengerikan. Kita kehilangan “pong” yang teduh, nyaman, melindungi tempat kita semua mencari akhir yang damai.
Para pemeluk Kristiani menyebut pong yang agung itu dengan kalimat “rumah bapa di surga” atau “kerajaan alah yang damai”. Kaum muslim menamakannya dengan syurga “jannatun naim” atau “jannatun Firdausi” atau sebutan lain yang menjadi lambang keteduhan, kedamaian abadi dan bahagia tiada akhir, ini merupakan rekonstruksi harapan. Penyerahan total dan kerinduan pada sesuatu yang abadi menyenangkan. Dalam terminology Islam semua sebutan tersebut, yakni “jannatun-naim’’ atau “jannatun-Firdausi” atau “jannatun-makwa” adalah harapan, kerinduan akan kedamaian abadi, dan kesenangan tanpa akhir.
Kearifan Aceh
“Pong adalah kearifan yang mesti diajarkan kembali kepada anak-anak Aceh, meskipun dia sulit membayangkan wajah Tuhan dan bagaimana sesungguhnya surga itu, konsep “pong” dalam permainan meu-pet-pet (petak-umpet) itu sebagai penyerahanaan atau lebih konkrit bagaimana “mak” diperlukan dikala susah atau duka, atau pun berbagai suka.
Menarik disimak teori “big-bang” yang dianut sebagaian para ahli kosmologi dan menguak asal mula kejadian alam ini. Dari satu titik beku maha pekat meledak dengan sangat dekat hingga mengeluarkan gas yang luar biasa banyaknya, dan pecahan pecahan dari molekul amat panas dari pecahan itu terlontar oleh kekuatan maha dahsyat memenuhi jagat raya yang tanpa batas. Putaran epicentrum dalam kurun waktu yang sangat lama, telah mengubah gas menjadi benda-benda langit yang saling mengitari titik yang paling induk . Matahari dipercaya merupakan pusat epicentrum jagat raya. Dan bukan pula mustahil bahwa ada jutaan matahari yang lahir dari pecahan zarrah yang maha awal itu dengan segala sistemnya.
Lalu konsep akhirat boleh jadi dijelaskan sebagai ketika sebagai saatnya nanti, setelah makhluk mengembara di dunia dan menunggu di alam barzah, akan tiba saatnya kembali kepada Sang  Maha Awal, atau menyatu dalam titik amat pekat dengan kekuasaan Sang Maha Pencipta. Manusia dan semua makhluk Allah, tidak lagi memerlukan ruang dan tidak larut dalam dimensi waktu. Wallahu a’klam. Tapi petak umpet dan konsep “pong” dapat dijadikan media untuk menggiring pemahaman ke arah soal-soal ketuhanan dan hakekat kejadian alam semesta.
Big bang telah dengan sangat mudah diterjemahkan oleh para arif Aceh masa lalu ke dalam permainan petak umpet itu. Berawal dari pong yang satu, para pemain menyebar ke sekeliling pong hingga penjaga pong tidak dapat menjangkaunya. Akan tetapi sejauh apapun para pemain lari pada akhirnya kalau dia mau selamat dan terbebas dari kejaran dari penjaga pong (malaikatul maut?), maka dia harus kembali ke asal, yakni pong, tonggak dimana tadi mulai berlari. Dari tanah kembali ke tanah.
Dalam ungkapan Aceh disebut “asai bak tanoh meuwoe keu tanoh, Tuhan peuteungoh blang padang mahsya”, yang artinya segala sesuatu berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah, Tuhan lah yang akan membangkitkan kembali di padang mahsyar kelak, merupakan kalimat yang menjelaskan hakikat kejadian manusia dan dan semua makhluk hidup ciptaan Allah di bumi.
Tentu pengajaran hal demikian itu tidaklah mudah bagi anak anak balita dan sebaya mereka. Konkritisasi prinsip itu diajarkan dalam permainan petak umpet, dimana pong adalah mula dari segala mula, dan kesitu pula semua orang akan dan harus kembali.
Teori big bang yang rumit, dan pesan tentang hakikat hidup telah diterjemahkan ke dalam sebuah permainan menyenangkan oleh para ahli kebajikan Aceh. Dari maha tunggal, semua orang akan kembali “maha esa” itu, tanpa kaya miskin, megah dan hina, suka atau tidak suka. Pada akhirnya semua orang yang dan makhluk akan kembali ke dalam “ yang maha satu “ itu. Menarik pula jika prinsip ini digunakan untuk memahami teori atau paham wahdatul wujud, yang meyakini menyatunya makhluk dengan sang khalik. Tak ada ruang lagi diantara dua esensi itu. Maka al-halaj sampai pada kesimpulan bahwa kalau demikian maka “ Ana-alhaq” (akulah tuhan ) yang sangat controversial itu.
Permainan kesenian hasil karya Aceh masa silam penuh dengan simbol-simbol kehidupan, pesan moral, hakikat kehidupan, dan mengingatkan kita bahwa pada akhirnya hanya tuhanlah yang “ maha abadi ’’ dan kekal selamanya. Presiden, menteri, pemilu, DPR, pangkat, kekayaan, kemegahan, pelantikan, deposito, rumah , jabatan, dan mobil dinas, semua itu adalah assesoris dan mainan perentang waktu menuju “ pong yang maha abadi” .
Dan saya amat yakin bahwa sesuatu yang tak tampak dengan mata kepala, akan dengan sangat jelas terlihat dengan menggunakan mata hati, jika kita menggunakan perspektif intangible approach dalam menggali berbagai rahasia, pesan dan makna dalam berbagai unsur dan elemen kebudyaan, khususnya dalam kebudayaan Aceh masa lalu. Siapa yang paham, mau dan bisa melakukan itu sangat ditentukan oleh tingkat kepeduliaan, kearifan dan kemampuan berfikir yang sungguh-sungguh terhadap khasanah budaya kita yang sangat kaya. Waallahu a’lamu bis-shawab.
#Dr. Hasballah Saad adalah dosen senior di FKIP Unsyiah, dan Ketua Dewan Pembina Aceh Cultural Institute (ACI) di Banda Aceh.
( Sumber: Serambi Indonesia, Minggu, 12 Juli 2009 halaman 22/Budaya ).
Catatan: Lon peugot catatan nyoe, seubab bak: Rabu, 25 Ramadhan 1435 H ( 23 Juli 2014 M), yakni hari ini adalah dalam rangka mengenang atau Ultah ke 30 kecelakaan di jalan raya yang saya alami di Yogyakarta. Naas itu terjadi hari Sabtu, 25 Ramadhan 1405 (15 Juni 1985 ) sekitar pukul 13.00 wib di wilayah Kalasan, lk 8 km sebelah timur kota Yogyakarta. Pada hari itu, kami mahasiswa peserta KKN-UGM dijemput pulang ke kampus setelah melaksanakan tugas Kuliah Kerja Nyata selama dua bulan lebih. Saya sendiri, T. Abdullah Sulaiman beserta empat orang teman lainnnya ditugaskan di desa Guli, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Selesai acara perpisahan dengan “Pemda Kabupaten di Boyolali” konvoi mahasiswa KKN-UGM bergerak pulang ke Kampus UGM Yogyakarta. Setelah melintasi Candi Prambanan peristiwa naas itu terjadi. Sebuah mobil Colt pengangkut barang tivi tiba-tiba menabrak saya. Akibatnya, saya perlu berobat dua tahun, secara medis di kota dan tabib patah di gunung. Nyaris skripsi tak selesai. Syukur Alhamdulillah, semua hambatan itu teratasi juga akhirnya. Semoga kedepan rahmat dan karunia Allah Swt semakin berlimpah dicucurkan kepada saya sekeluarga serta bagi kaum Muslimin-Muslimat, termasuk di Gaza, Palestina!. Selamat Menyambut Hari Raya ‘Idul Fitri 1435 H, mohon-maaf lahir dan bathin!!!.

Bale Tambeh, 25 Puwasa 1435
25 Ramadhan 1435 H
23 Juli 2014 M
( T.A. Sakti )

Semangat mencintai keluarga Rasulullah di Aceh

  Syi’ah Aceh

Oleh: Dr. Hasballah M Saad

ADAKAH pemeluk syiah di Aceh? Ini perlu dipertanyakan ketika banyak sekali simbol “syiah” ditemukan, dan sangat menonjol di kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh. Sejarah mula kedatangan Islam ke Aceh, pemimpinnya dikenal bernama Shir, seperti Shir Poli, Shir Nuwi, Sir Duli. Dalam hikayat-hikayat Aceh lama, kata gelar Shir sering pula disebut Syahir. Misal, Shir Nuwi dibaca Syahir Nuwi, Shir Poli dibaca Syahir Poli dst. Kata Syahrir ini lebih kurang setara dengan kata Ampon Tuwanku dalam tradisi Melayu di Malaysia. Asal kata Shir, datangnya dari keluarga bangsawan dari kawasan Persia, dan sekitarnya. Maka putri Raja Persia yag setelah negerinya ditaklukkan Umar Ibnul-Khatab, ditawan dan dibawa ke Madinah, mulanya bernama Shir Banu. Setelah dibebaskan oleh Ali Bin Abi Thaleb, Shir Banu menikah dengan putra Ali bernama Husen. Sementara dua saudara Shir Banu lainnya menjadi menantu Abubakar dan menantu Umar Ibnul Khattab.

Belakangan nama menantu Ali berubah nama menjadi Syahira Banu, dan dalam lafal di Hikayat Hasan Husen, nama itu dipanggil Syari Banon, yang menjadi istri Sayyidina Husen bin Ali. Husen syahid dibunuh Yazid bin Mu’awiyah di Karbala pada 10 Muharram. Shir Banu atau Syari Banon menjanda sambil membesarkan anaknya Ali Zainal Abidin, yang sering dipanggil Imam as-Sajad, karena selalu suka bersujud(salat). Dalam Hikayat Hasan Husen, nama Syari Banon disebut berulang-ulang karena beliau ini mendampingi suami dengan sangat setianya, hingga ke kemah terakhir di Karbala, mengantar Husen menuju kesyahidan. Banon bersama putra kesayangannya Ali Zainal Abidin yang masih sangat belia, menyaksikan sendiri tragedi yang menjadi sejarah kelam umat Islam, karena titisan darah Rasul SAW tumpah di bumi Kufah oleh tangan orang yang mengatasnamakan dirinya Khalifah kaum Muslimin.

Peristiwa Karbala ini, di Aceh diperingati dengan khanduri ‘Asyura secara turun menurun. Adakalanya diiringi dengan membaca hikayat Hasan Husen, dan para wanita Aceh mempersiapkan penganan sebagai khanduri keu panghulee. Acapkali pula, para pendengar hikayat ini mencucurkan air mata tatkala ceritera sampai pembantaian anak cucu Rasulullah SAW itu.

Rafli, penyanyi Aceh kontemporer mendendangkan peristiwa itu dengan lirik: //”Lheuh syahid Hasan ji prang lom Husen/ Ji neuk poh bandum cuco Sayyidina/ Dum na pasukan laju diyue tron?/ Lengkap ban bandum alat senjata”// (Dah syahid Hasan, Husen pun digempur/Nak dihabisi semua cucu Sayyidina (Rasulullah)/ Seluruh pasukan disuruh turun/ Lengkap semua dengan senjata). Semangat mencintai ahlul bait, keluarga Rasulullah saw itu muncul pula di Aceh dalm bentuk tari tarian. Diantaranya yang terkenal adalah Saman Aceh. Ragam gerak, lirik lagu dan ratoh dipenuhi symbol penyesalan Karbala. Seluruh gerak tari Saman diilhami oleh kepedihan, penyesalan dan ratap tangis atas syahidnya Sayyidina Husen, yang terperangkap oleh tipu daya penduduk Kufah yang mendukung Yazid bin Mu’awiyah.

Di Iran, dan beberapa kawasan sekitar benua Persia itu, amat lazim dijumpai perempuan dan laki-laki memukul mukul dada hingga ada yang berdarah untuk mengenang peristiwa Karbala di hari Asyura, setiap tahunnya. Dalam naskah hikayat Muhammad Nafiah, yang mengisahkan peran adik laki-laki Husen bin Ali dari lain ibu, yang menuntut bela atas syahidnya Husen di Karbala, jelas sekali dilukiskan bagaimana pengikut Yazid “dikafirkan” oleh sang penulis hikayat itu. Tatkala Muhammad Nafiah ingin mengeksekusi mati seorang lagi perempuan hamil yang masih hidup, sementara yang lainnya sudah dibunuh semua, maka turunlah suara dari langit. //”Sep ka wahe Muhammad Nafiah, bek le tapoh kaphe ulu/ bah tinggai keu bijeh, agar uroe dudoe mangat na asoe neuraka”// (“cukup sudah wahai Muhamad Nafiah, jangan lagi dibunuh kafir hamil itu/ agar dia beranak pinak lagi untuk isi neraka kelak”). Karena Muhammad Nafiah ingin mengabaikan perintah penghentian pembantaian itu, maka tiba-tiba dia dan kudanya diperangkap oleh kekuatan gaib. Lalu terkurunglah dia bersama kudanya dalam sebuah gua batu. //Muhammad Nafiah lam guha batee/Sinan meu teuntee dua ngen guda (Muhammad Nafiah dalam gua batu/Terkurung disitu bersama kudanya).

Dalam bagian lain, dikisahkan bahwa pada suatu hari, ketika Muhammad Nafiah masih kecil, Ali bin Abi Thalib membawa pulang ke Madinah anak laki-lakinya itu dan duduk bercengkerama bersama Rasul dan dua kakaknya lain ibu, Hasan dan Husen. Rasulullah saw mendudukkan Hasan dan Husen dipangkuan sebelah kiri sedangkan Muhammad Nafiah duduk di atas paha sebelah kanan Rasulullah. Tatkala Fatimah, Ibunya Hasan dan Husen melintas, dia bermuka masam karena melihat justru putra Ali yang bukan dari rahim Fatimah mendapat tempat di sebelah kanan Rasulullah, sementara putra-putranya, Hasan dan Husen duduk di paha sebelah kiri Rasul. Rasul memandang wajah masam Fatimah az-Zahra, putri kesayangannya itu. Lalu Rasul memanggil Fatimah, dan bersabda: “Wahai anakku, janganlah kamu bermasam muka. Yang ini, sambil menunjuk Hasan dan Husen, akan menemui ajal kelak ketika kita sudah tiada, karena dibunuh orang. Yang inilah, sambil menunjuk Muhammad Nafiah, yang akan menuntut bela atas kematian kedua mereka ini, maksudnya Hasan dan Husen.Jibrail telah menyampaikan hal itu kepadaku wahai Fatimah”. Mendengar ucapan Rasul waktu itu, barulah wajah Fatimah kembali berseri seperti sediakala. Ada pesan Jibrail kepada Rasulullah atas peristiwa yang bakal terjadi atas anak cucunya setelah Rasul dan Fatimah tiada kelak. begitu mulianya kedudukan Muhammad Nafiah, putra Ali dari istri lain, (mungkin hasil perkawinan mut’ah dalam peperangan yang lama).

Hikayat itu telah menjadi bacaan sehari-hari kaum muslimin di Aceh. Dalam benak orang Aceh, kafir perempuan yang hamil tua itu, meskipun dia adalah pemeluk Agama Islam namun dipandang sebagai kafir karena jadi pengikut Yazid bin Muawiyah. Dan inilah cikal-bakal kafir sekarang ini yang akan menjadi isi neraka kelak. Wallahu’alambis-shawab!. Jika di bandingkan dengan ceritera dalam film-film Amerika dengan Vietnam umpamanya, muncul kesan publik bahwa Amerika lah yang paling jagoan, meskipun semua orang tahu pada akhirnya dia harus angkat kaki dari negara bekas jajahan Prancis itu, meskipun orang Vietnam melawan dengan bambu runcing. Tidak ada sejarah yang akurat tentang Muhammad Nafiah yang menghabiskan seluruh pasukan Yazid di Kufah. Namun Hikayat itu justru mengisahkan yang tinggal hanya seorang “ kaphe ulu/ (maaf: hamil) yang anak turunannya menjadi cikal-bakal penghuni neraka kelak.

Saya bisa memahami bagaimana kepedihan kaum muslimin ketika Husen syahid, dan perasaan itu dihibur dengan pembelaan yang gemilang oleh cerita kemenangan Muhammad Nafiah bin Saiyidina Ali, setelah Husen dan pengikutnya syahid di Karbala. Ini juga menjadi bukti terhadap apa yang diriwayatkan, tentang cerita Fatimah bermasam muka, karena Hasan-Husen diletakkan di atas paha kiri Rasulullah, ketika mereka masih kecil dulu dan Muhammad Nafiah justru di paha kanan Rasul.

Dalam tradisi Aceh, hikayat berbentuk hiburan yang selalu mengandung pesan, nasehat, sumber pengetahuan, sejarah serta Agama. Hikayat Hasan Husen, Nubuwat Nabi, Fatimah Wafat, Muhammad Nafiah dll, merupakan bacaan rakyat yang utama disampimg hikayat-hikayat lain seperti Putroe Geumbak Meuh, Peurakaison, Nun Farisi, Indara Budiman, Indra Bangsawan, Baya Seribee, dll. Kala itu memang belum ada Novel Laskar Pelangi, atau sang Pemimpi, dan Ayat-Ayat Cinta dsb. Sinetron pun belum dikenal oleh masyarakat Aceh lama. Maka cerita dalam hikayat- lah yang menjadi referensi perilaku, sumber nasehat, dan pengetahun sejarah bagi masyarakat luas.

Di kawasan pantai rakyat Aceh, termasuk utamanya Aceh Selatan berkembang kesenian tradisional“Pho” . Tari pho dimainkan oleh sejumlah anak-anak gadis remaja, dengan mendendangkan syair penuh nuansa sendu, seumpama orang meratapi kematian. Dalam format khusus, gadis remaja menyusun format berkeliling melingkar, dan meratapi sesuatu bagaikan meratapi kematian. Ingatlah, bagaimana masyarakat Aceh memperingati “Asyura” dengan nyanyian dan Hikayat Hasan Husen, semua dilantunkan dalam irama pilu penuh duka lara.

Orang Aceh semuanya mengikuti praktek ibadah  kaum Sunny, sebagaimana lazimnya kaum muslimin di tempat-tempat lain di Indonesia. Namun bacaan shalawat kepada Nabi dan keluarganya, selalu diucapkan dengan menambahkan kata Sayyidina di depan nama Muhammad, dan Ibrahim. “Allahumma shalli ala Sayyidina Muhammad,wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad, kama shallaita ala Sayyidina Ibrahim, wa ala ali Sayyidina Ibrahim, dst. Hal ini amat ditentang oleh pengikut Wahabi yang sangat anti terhadap praktek ibadah seperti memuja nama Rasul itu dengan meletakkan nama Sayyidina di depan nama nama mereka.

Saya hampir sampai pada kesimpulan bahwa orang Aceh itu pencinta ahlul bait yang sangat setia, kalaupun mereka tidak pernah mengaku sebagai pengikut syi’ah. Bukankah pada masa tertentu dalam sejarah Islam, kaum syi’ah memperkenalkan istilah taqiyah(bersembunyi) dan dari itu lahirlah ungkapan, bahwa orang yang mengaku dirinya syi’ah bukanlah syi’ah lagi”.

Di  komunitas lain di Pidie, agak menarik disimak, rentetan nama-nama anggota keluarga Sayed (Habib). Sebut saja berawal dari nama Sayed Idris alias Teungku Syik di Keude, memiliki tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan. Yang laki-laki bernama Sayed Hasyem, Sayed Husen, Sayed Abidin (Zainal Abidin). Sementara anak perempuannya bernama Cutwan Dhien dan Cutwan Samalanga( nama aslinya tidak dikenal lagi). Sayed Husen berputrakan Sayed Abubakar, Sayed Puteh dan Sayed Bunthok, sementara yang perempuan bernama Cutwan Syarifah, Cutwan Manyak dan Cutwan Fatimah. Sayed Zainal Abidin mempunyai seorang putri tunggal bernama Ummi Kalsum( Cutwan Kasum). Dari perkawinannya dengan saudara sepupu, Sayed Abubakar, Cutwan Kasum memiliki seorang putri tunggal diberi nama Cutwan Fatimah, yang menikah dengan Sayed Ali bin Sayed Abdullah Bambi. Sayed Abdullah Bambi menikah dengan Cutwan Khadijah binti Habib Husen Az-Zahir. Sementara kakak Cutwan Khadijah bernama Habib Hasan dan Habib Ahmad Sabil. Khadijah sendiri berputrakan selain Sayed Ali adalah Sayed Muhammad dan Aja Rohani. Sementara Habib Hasyem alias Habib Peureumbeue, mempunyai beberapa orang putra, antara lain Sayed Ahmad(Pak Mukim), Sayed Abdullah dan yang perempuan bernama Cutwan Khadijah pula. Cutwan Khadijah menikah dengan Habib Ahmad Mon Keulayu, dan berputrakan antara lain Sayed Hasan, Sayed Husen, Sayed Abdurrahman, Sayed Alwi, Sayed Ali dan Sayed Jamaluddin. Simaklah putaran nama-nama itu, semuanya berkisar sekitar nama keluarga Rasulullah, mulai dari Hasyem, Abdullah, Kahdijah, Ahmad (Muhammad), Ali, Fatimah, Hasan, Husen, Ummi Kalsum, Zainal Abidin, Abubakar, dst. Sementara masyarakat umum yang bukan keturunan Sayed, selalu memberikan nama anak mereka dengan nama nama Abbas, Hamzah, Aminah, Thaleb, Zainab, Rukaiyah, disamping nama nama seperti yang saya sebutkan itu.

Apakah fenomena ini dapat dijadikan indikasi bahwa para pemilik nama nama itu merupakan pengikut Syi’ah Aceh?. Apakah nama nama demikian karena menasabkan diri pada keturunan Rasulullah?. Atau telah terjadi pertalian dua kepentingan, pertama, menasabkan diri pada darah nabi, dan kedua melestarikan nama nama yang dikenal sebagai nama ahlul bait yang utama?. Tentu hal ini memerlukan penelitian lebih lanjut. Simak pula, kisah yang selalu dilantunkan pada bulan Muharram ( bulan dimana syahidnya Sayyidina Husen di Karbala): //Bak siploh uroe buleuen Muharram/KesudahanHusen Jamaloe(Jamalul). Peue na mudah takhanduri/Po Tallah bri pahla dudoe”.//(“Sepuluh hari bulan Muharram/Kesudahan Husen Jamalul/Jika ada kemudahan agar berkhanduri/Allah memberi pahala nantinya”). Bagimana jika disimak praktek ritual ibadah wajib seperti shalat lima waktu puasa, zakat dan haji?.

Simaklah sebuah cerita lucu  tapi mengharukan, yang berlaku dalam satu keluarga di sebuah desa di Aceh pada tahun 1950-an. Tersebutlah nama  Yah Maneh(nama samaran), yang menikah dengan perempuan desa,  Syamsiah(juga nama samaran). Mereka berputrakan beberapa orang dan semua laki-laki. Saad adalah penggemar Hikayat Hasan Husen, seperti juga penduduk kampung lainnya. Maka dalam hikayat itu dikisahkan begini: “Hasan dan Husen cuco di Nabi/Aneuk tuan Siti Fatimah Dora/Tuan teu Hesen syahid dalam Prang/Tuan teu Hasan syahid ji tuba/Syahid di Husen ka keunong beusoe/Di Hasan sidroe keunong bencana (racun)/Tuan teu Husen syahid dalam blang/Tuan teu Hasan di rumoh tangga””// Terkesima dengan keagungan nama yang disebut dalam bait hikayat itu, Saad sepakat memberikan nama nama anaknya seperti nama nama cucunda Nabi. Yang tertua diberikan nama Hasan (Keuchik Hasan), yang kedua diberi nama Dan (Apa Dan), dan yang ketiga diberi nama Husen(meninggal waktu kecil). Maka kalau dibaca dalam satu nafas menjadi Hasan Dan Husen dilanjutkan dengan Cuco di Nabi. Padahal kata sambung dan itu bukan nama orang. Saad tidak peduli, dan nama anak keduanya tetap saja DAN, meskipun ketika dewasa nama itu menjadi Mad Dan, karena kesulitan menulis nama dalam KTP. Lalu anak-anaknya diberi nama Sulaiman (nama Nabi), Ibrahim (nama Nabi), Zainal Abidin (nama putra Husen) dan Abdul Hamid. Apa yang terjadi dalam kehidupan kejiwaan Yah Maneh?. Meskipun buta huruf dan petani biasa, Yah Maneh  merasa sangat dekat dengan kehidupan keluarga Rasulullah, sehingga kumandang nama ahlul bait selalu terdengar dalam keluarga mereka. Saya merasa yakin, seandainya Yah Maneh memiliki anak perempuan, pasti akan diberi nama, Khadijah, Fatimah atau Aminah!.

Pertanyaannya kini adalah, apakah sekali lagi, hal ini dapat dijadikan indikator bahwa orang Aceh baik keturunan Sayed, atau orang biasa dapat disebut pengikut Syi’ah?. Atau dengan sebutan lain, apakah mereka ini bisa dipanggil dengan sebutan Syi’ah Aceh?. Saya sendiri cenderung berfikir demikian. Namun agar praduga ini cukup memiliki hujjah yang kuat, perlu dilakukan penelitian yang lebih dalam tentang fenomena yang saya uraikan dalam tulisan ini. Ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa Islam yang mula mula masuk ke Aceh justru berasal dari para ahlul bait yang hijrah karena tekanan politik dinasti Umaiyah (turunan Muawiyah bin Abu Sofyan) terhadap keturunan Sayyidina Ali yang belakangan dikenal dengan kaum Alawiyin, pengikut Ali yang sepupu dan menantu Rasulullah.

Ingatlah pula bahwa pada saat haji wadak, Rasul pernah berkata di hadapan jamaah yang bergerak kembali ke Madinah setelah selesai berhaji. Rasul Saw sambil mengangkat tangan Ali, Rasul bersabda,”Wahai saudaraku kaum muslimin. Aku dengan dia (sambil menunjuk Ali) bagaikan Musa dengan Harun, jika sesudah aku masih ada Nabi, maka dialah orangnya. Namun karena tak ada Nabi sesudahku, maka dialah penerusku. Kau saksikankah ucapanku ini wahai sekalian manusia” kata Rasul di bukit Ghadir Khum itu. Maka dari turunan Sayyidina Ali itulah, kaum Alawiyin membangsakan diri. Wallahu a’lamu bis-shawab.

*Penulis adalah pemerhati sejarah dan kebudayaan, pegiatan Aceh Cultural Institut (ACI). (Sumber: Serambi Indonesia, Minggu, 22 Februari 2009 halaman 22/Budaya ).

 

** Mengenang   Tiga Tahun  almarhum Dr. Hasballah M. Saad,  yang meninggal  23 Ramadhan 1432 H/23 Agustus 2011 M  s/d  23 Ramadhan 1435 H/21 Juli 2014 M  HARI INI.Dengan kemuliaan bulan Ramadhan, semoga Allah Swt merahmati beliau sepanjang masa!. Amin!. Bale Tambeh: T.A. Sakti

Hikayat Abu Jahal – Kisah Nabi Muhammad Saw Dikala Kecil(Bagian II)

Katop talam sahab meusujoe, peunoh asoe intan peurmata
Jeuneh yakut deulima pudoe, lethat bagoe mutiara
Ladom intan nyang ladom meueh, supreuk u ateueh Nabi musthafa
Hidang peunoh geutop kalheueh, pade ngon breueh mawo atha

Sabe suka hate mangat, syuko niekmat hana reuda
Lom Khadijah neu amanat, khaba mangat neu calitra
Neuhoi namiet ka meusapat, neukheun leugat meunoe haba
Soe nyang intat khaba kamoe, Muhammad sidroe leubeh suka

Jih meurdehka nibak kamoe, lonbri jinoe ngon areuta
Hareukat jih bak siseun nyoe, hareuem kamoe hanho kuba
Namiet deungo haba meunan, jime yohnyan talam sigra
Jijak intat keu janjongan, peuneusan nyan keu Saidina

Tuhan tamah Nur Muammad, Nur risalat neu karonya
Leubeh that jroh indah sangat, leubeh niekmat nibak nyangka
Teutap ‘ohnoe dilee siat, laen sahbat lon calitra
Raja Husyam lon riwayat, duek bak teumpat ngon lasyeuka

Mideuen peunoh bandum sarat, lethat rakyat han ek kira
Maseng2 duek bak teumpat, meunan adat nibak raja
Heutot beude deungon nubat, galak jithat agam dara
Meupiyasan jeueb2 teumpat, suroh deelat bak lasyeuka

Lingka mideuen geuglong ‘alam, puteh itam mirah pina
Ngon piasan macam-macam, han ek lon pham hai syeedara
Hana teungeut uroe malam, surak kiyam hana reuda
Teutap siat raja Husyam, laen ragam lon calitra

Nabi Muhammad lon peuriwang, dum sibarang habeh leungka
Nabi teubiet keudeh ublang, rakyat pandang keunan mata
Ka seungab gong seungab geundrang, dong meureuntang agam dara
Ateueh Nabi dum jipandang, meutang ilang meugisa-gisa

Cahya Nabi kon bubarang, peungeuh bandrang langet donya
Mata uroe hanale trang, na bagoe sang reudok raya
Rupa ilok that samlakoe, padam uroe cahya muka
Soe nyang kalon hireuen laloe, meujak meuwoe nyuem meugisa

Raja rakyat teukap jaroe, saleh soe-soe bak jikira
Ji meudawa sabe keudroe, nabi peutoe keunan lanja
Ladom kheun nyo Nabi Muhammad, na alamat lon boeh tanda
Na nyang kheun kon ladom rakyat, gobnyan gotthat lon eu rupa

Bak uroe nyoe leubeh bandrang, ceumeureulang troh lam hawa
Hanjeuet tangieng ‘oh tapandang, sang buleun trang cahya muka
Meunan jikheun dum sibarang, jingeuk ublang agam dara
Keunan mata dum ji publoe, hireuen laloe ureueng ubena

Baroe hana ku eu meunoe, bak uroe nyoe got that rupa
Leubeh ceudah nibak baroe, that samlakoe hana tara
Pakaian hu nibak asoe, intan pudoe ngon mutia
Soe saleh bri keujih sidroe, ngon peue jibloe peng jihana

Meunan jikheun dum sinaroe, sabe keudroe ji meudawa
Cahya baten nibak Tuhan, cahya badan nibak nisa
Tuwan Katijah bri peukaian, jeuneh intan ngon meutia
Jeueikeu saboh kisah, nyoe lon peugah laen haba

Troh Muhammad bak Katijah, neu eu ceudah dhiet that rupa
Tuan Kahtijah yohnyan neumoe, neukheun meunoe ubak nisa
He Basarah kango kamoe, kacok keunoe hamparan sigra
Neuyue jak leueng bak duek Nabi, peurmadani nyang that raya

Tika sutra ngon kurusi, bektreb lawi keunoe kaba
Basyarah ngo haba Siti, me kurusi keunan sigra
Jime saboh ngon lahori, bak duek Nabi tika sutra
Bansare troh nyan ji intat, timu barat jileueng sigra

‘Ohban jiploh dalam lipat, hireuen rakyat ji eu rupa
Hantom ji eu ureueng Makkah, dumnan ceudah tika sutra
Nyang ka utoh tuan Katijah, bak meureupah Nabi kita
Bek antara na jikalon, meu jingo tan gob peuhaba

Hamparan jroh hana lawan, saleuk insan reubah tika
Abu juhai ngon janjongan diteungoh nyan ureueng duwa
Meunan bangon bak teuladan, bak hamparan saleuk rupa
Soe nyang kalon hireuen akai, ureueng that jai ban seulingka

Nabi neumat Abu Jahai, siblah sapai Nabi hila
Siblah bak takue siblah bak keuieng, meunan geungieng nibak tika
Abu Juhai ka meugilieng, mat bak keuieng Nabi kita
Abu Jahai mat Muhammad, bak keuieng sapat jaroe duwa

Habeh tahe bandum rakyat, bit ‘ajib that ‘oh jikira
Meunan saleuek bak teuladan, lam hamparan lahe nyata
Ji meukheun-kheun sabe rakan, bandum insan meunoe haba
Masa jameun pakri geuthee, dalam pangkee aneuk raja

Meureupah goh saleuek dilee, panyang ileumei ureueng rika
Agam inong meunan jikheun, tahe hireuen jingieng tika
Hamparan nyan treb ka jameun, masa keurajeuen Nabi ‘Isa
Di nanggroe Rom tika ceudah, layeue Makkah sahbat ‘Isa

Sahbat sajan na duablah, ‘Isa peugah neu calitra
Tadeungo lon wahe sahbat, lon riwayat ubak gata
Akhe jameun toe kiamat, nyata Muhammad panghulee Ambiya
Nyankeu Nabi akhe jameun, nyang keurajeuen akhe donya

Deueh lon kalon dalam shuhuf, dstsng musoh keupadanya
Han jipateh Rasulullah, ji meureupah saboh masa
Lheueh geudeungo ‘Isa peugah, sahbat duablah peugot tika
Tika sutra ban hamparan, peugot tuan sahbat ‘Isa

Rupa ceudah hana lawan, kasab intan ngon peurmata
Jiboeh reubeueng saleuek insan, bak hamparan tika sutra
Lheeh geupeugot tika saboh, rupa that jroh hana tara
Di nanggroe Rom geupeurusoeh, tika geutroh sahbat ‘Isa

Nyan tika nyan bak Khadijah, meunan ulah geucalitra
Teutap ‘ohnoe saboh kisah, ulon peugah laen haba
Bukon sayang lon eu gajah, ji keumeung plah bam Me dara
Amma bakdu Nyak Laibah, ‘ohlon peugah ji meudawa

Sidroe raja ulon kisah, meusyuhu gah sagai donya
Nanggroe Yaman ji peurintah, nan khalifah lon calitra
Raja Ibrahim nan geupeugah, that barullah ngon areuta
Rakyat rame nanggroe luah, ji peurintah sagai donya

Jingo Kakbah nanggroe Makkah, ureueng ziarah lethat teuka
Saket hate jih meuleumpah, peugor kaniyah saboh nyang raya
Nanggroe Thala’an peugot kaniyah, rupa ceudah hanatara
Lheueh ji peugot boeh ngon alat, peu-et surat jeueb-jeueb raja

Meunoe haba dalam surat, tango sahbat lon calitra
Hoka gata raja Habsyah, keunoe langkah bandum gata
Kalon peugot saboh kaniyah, rupa indah hanatara
Bale keunoe tajak ziarah, bek u Makkah tapeuteuka

Haba surat nyan peuneugah, teutap kisah saboh leu-a
Di nanggroe Rom na kaniyah, nanggroe Makkah katroh haba
Ureueng Yaman sidroe jak s’ah, bak Kinanah ureueng mulia
Kinanah ngon haba meunan, bungka yohnyan neujak nyata

Tan meusidroe neuba rakan, soe thee pitan yoh neuteuka
Bansare troh nanggroe Thala’an, tamong yohnyan laju sigra
Teuka umu teungoh malam, dua jeuem klam sunyi raya
Kinanah tamongle yohnyan, ureueng sinan teungeut indra

Neume ngon ie peuet boh cawan, ka neuligan bandum rata
Jeueb-jeueb tire dum sinaroe, ban 4 sagoe ka neulingka
‘Ohlheueh neuboh leugat neuwoe, u nanggroe Makkah mulia
Kabu suboh beungoh uroe, ureueng nanggroe keunan teuka

Jieu kaniyah ka meulalat, ie pile that ban seulingka
Tahe mandang bandum rakyat, jiwoe leugat ubak raja
Tuwanku kaniah ka meulalat, ie pile that ban seulingka
Ban raja ngo tuto rakyat, jihoi leugat bujang sigra

Wahe wazi tango kamoe, pane kunoe ureueng teuka
Kiblat geutanyoe ka meupaloe, ie sinaroe ban seulingka
Pane ureueng teuka keunoe, bak geutanyoe tacalitra
Raja beungeh hana bagoe, seuot meuntroe meunoe haba

Ampon deelat tuwanku droe, lae nanggroe keunoe teuka
Nagob peugah seupot baroe, ureueng sidroe laen rupa
Nyankeuh ureueng nanggroe Makkah, nyang jak keubah ie bak ija
Nama gobnyan nan Kinanah, kon bideu’ah lon meukuta

Ban raja ngo Wazi peugah, ji meusumpah si ceulaka
Ji keumeung jak reuloh Ka’kbah, haram jadah meunan kira
Ji meuhanco nanggroe Makkah, rakyat jikrah jeueb2 raja
Habeh jitren bandum ureueng, sadum naleueng kayee rimba

Jime beude deungon peudeueng, kafe bajeueng lethat tantra
Cikop alat ngon peukaian, ngon angkatan han teurkira
Namploh laksa nyang phalawan, sok dibadan bajee meulila
Nam ribee laksa jibra kandran, gajah balohan ladom unta

Rakyat rame hansoe tuban, Allah Tuhan nyang ek kira
Sare cukop sileungkapan, Solutan laju ji bungka
Uroe Ahad jeuem poh lapan, buleuen Syakban dua plohsa
Jitot beude peh bunyian, bandum rakan ate suka

Rakyat rame that bahrullah, han ek peugah had ngon hingga
Namploh ribee jiba gajah, rakyat jikrah jeueb2 donya
Ji meureuloh Kakbatullah, jiprang Makkah siceulaka
Raja Ibrahim ureueng? Makkah, ateueh gajah ji meusafa

Geukheun Mahmud nama gajah, rupa indah hanatara
Raja Ibrahim nyang jak dilee, namploh ribee gajah jiba
Rakyat lethat dum meuree-ree, lethat sukee raja raya
Sadum anoe deungon batee, sadum kayee dalam rimba

Ta eu jijak santeut ulee, meuree-ree gajah ngon guda
Meunyo habeh sitree? Tamong, hanlot jidong rakyat jiba
Bansare troh dalam gunong, habeh bingong siceulaka
Tutong asoe apo-apah, syiret muntah dalam rimba

Makeusud jih reuntoh Ka’kbah, suroh Allah cicem dumna
Cicem pile sadum rakyat, badan cut that hana raya
Nibak babah batee meuhat, jipo leugat dalam rimba
Jeueb 2 batee meuseunurat, meuhat-meuhat meupo jeumba

Dua dirham batee nyang brat, jirhom leugata kafe dumna
Jirom keunong ateueh ulee, kafe layee ngon ie muka
Badan leumbam mata reudee, aneuk asee ka binasa
Tutong badan rakyat mate, ka meeugule gajah guda

Tan meusidroe na tinggaile, habeh sare dumban nyang na
Ka meutindeh taeu bangke, didalam gle gunong raya
Kafee mate deungon mudah, kheundak Allah Po Nyang Asa
Areuta tinggai that bahrullah, ureueng Makkah habeh kaya

Asai peulaweue ngon lon peugah, hai meutuwah sinan punca
Seuuem asoe apo-apah, reuoh-reuah pucat muka
Kafe mate kheundak Tuhan, tutong badan jeueb anggeeta
Areuta rampasan ngon hamparan, lethat buban pangkai jiba

Ureueng Makkah that sukaan, cok rampasan dumka rata
Mangat hate hana lagee. Jak meuree-ree agam dara
Ladom lob lam guha batee, nyang meuseubee geujak mita
Tika hamparan Waraqah teumei, masa dilee raja kafe ba

Mangat hate dum sinaraoe, ureueng nanggroe habeh kaya
Hamparan sutra Waraqah puwoe, hana sidroe soe eu rupa
Nyawong habeh hajat tan sampoe, raja pindoe asoe Nuraka
Waraqah puwoe tika hamparan, meueh ngon intan han ek kira

Miseue teurseubut lam Quruan, firman Tuhan alam tara
Nyang haba nyoe jeutkeu dumnan, meuwou kurangan lombak nyangka
‘Ohlheueh geuleueng tika hamparan, duek ateueh nyan Nabi kita
Ban Husyam eu tika hamparan, beungeh hanban hanatara

Yo ngon tuot sangka deumam, yo meug’am-g’am miseue geumpa
Rupa kuneng muka hitam, raja Husyam kheunle sigra
He uleebalang ngo kupeugah, taeu Katijah peue bicara
Peue bukheundah tueng amilan, si yatim nyan ji peumulia

Aneukku jroh areuta kon dit, lom ngon namiet meuploh laksa
Teuga pina kuwat piseb, ji peu’ayeb tan mulia
Aneuk yatim ji peumeugah, di Katijah le bicara
Raja Husyam beungeh leupah jikheun pantag bak aneuknda

Abu Juhai kango kamoe, beudoh jinoe aneuk sigra
Cok Muhammad seumpom bak bumoe, bak uroe nyoe kapeulen nyawa
Abu Jahai suroh ayah, beudoh pantah sigra-sigra
Keubah ija ji meukeumah, ta eu naf’ah ube raya

Ngui peukaian alat meureupah, ngui kupiah lhab keusumba
Palet keuieng ji beureukah, ija simplah ikat dada
Aneuk raja ji meukeumah, ji meusahsah rakyat diluwa
Lheueh meukeumah tamong leugat, bandum rakyat keunan mata

Ka jinari meu’en silat, ji lumpat bak seulingka
Ka ji jakjak timu barat, hireuen rakyat kalon rupa
Rakyat rame hana peue kheun, peunoh mideuen agam dara
Dong meubanja taeu hireuen, eu peukateuen aneuk raja

Abu Jeuhai hoi wahe yatim, bekle kaiem beudoh sigra
Baroe kaplueng ‘oh deuh kamoe, bak uroe nyoe ho lheueh gata
Ka mita rot ban 4 sagoe, ka peulheueh droe plueng u luwa
Adat kalob dalam bumoe, kucok keunoe lom kuhila

Jinoe ho lheueh cuba peugah, ho kaplueng kah ureueng lingka
Bek le akai aneuk tan mbah,bek kreueh babah bak meudawa
Beudoh laju ta meureupah, ku meucacah aneuk tan Ma
Abu Juhai ji meulikak, miseue Meurak meugisa-gisa

Bandum rakyat hate galak, ka jisurak siblah raja
Tumbak beude ji peulikak, ji meureuntak meutaga-taga
Abu Jeuhai ka jilinggang, na bagoe sang gaseng Jawa
Nyang keumalon hate mandang, ban pupalang ban seun lingka

Tuwan Hamzah lon peuriwang, neu pandang bak aneuk raja
Neukalon jih beuhe tungang,hana timang ureueng duwa
Hate jikreuen badan kuwat, ngon Muhammad bacut raya
Ka neutilek bak Muhammad, Hamzah ingat hana padra

Badan la’eh hana kuwat, talo Muhammad bak neukira
Tuan Hamzah beungeh neu that, yo meutat-tat miseue geumpa
Bak neukalon talo Muhammad, meunan ingat dalam dada
Teumakot that tuwan Hamzah, hate gundah pucat muka

Neuwa Nabi neucom pantah, sare jojah ngon ie mata
Ingat Aminah ngon ‘Abdullah, aneuk neukeubah dalam bahya
Neu maritle tuan Hamzah, neu peugah bak Nabi kita
Bek tatakot Abu Jeuhai, bekna sagai gli ngon liya

Tamat laju nibak sapai, ta peukanjai siceulaka
Raya mantong teuga jitan, tamat hanjan meuseumpomka
Adat han ek nyan talawan, aneuk badan peugah sigra
Bale lon cang seukalian, sitree Tuhan darohaka

Dum sinaroe jih kusimpang, ube kawan kawom raja
Han kutinggai pi meusikhan, ku peusaban agam dara
Kukoh takue inong agam, soe nyang nadam banci gata
Abu Juhai deungon Husyam, ku hantam ngon peudeueng raya

Lheueh neukheun nyan tuan Hamzah, Nabiyullah neumat sigra
Nabi beudoih teuma pantah, tuan Hamzah teuma peuba
Toe Abu Jeuhai dong janjongan, yohmasa nyan hana haba
Ka meuteumeung meuhadapan, teungoh kawan ureueng duwa

Rakyat laen hansoe tuban, nyang na Tuhan teudum kira
Keunan mata seukalian, ngon piasan aneuk raja
Pinto langet tujoh lapeh, bandum habeh ka teubuka
Malaikat hate gundah, ubak Allah mohon pinta

Peunoh langet Malaikat, lakee rahmat keu Saidina
Ngon Jebra-i pina sajan, neu eu peurbuatan asoe donya
Natom meunoe ji meulawan, kafe syaitan som ceulaka
Teuma beudoh raja Husyam, ji meukalam ngon maulana

Pakri jinoe beuna syarat, he Muhammad jaweueb sigra
Neu seuotle pojanjongan, tango kaman lon calitra
Ban nyang hajat gata sinan, bak kamoe han na meudawa
Raja Husyam jikheun meunoe, tango kamoe he Thaliba

Adat meunang aneukku nyoe, talo jinoe kumuen gata
Kusie keubeue meusireutoih, unta 40 nyang that raya
Di gata peue bek meutanggoh, peue keu taroh he Thaliba
Peue digata cuba peugah, kheun beupantah kungo nyata

Abu Thaleb hireuen dahsyah, tuan ‘Abbas seuot sigra
Pakon taiem Abu Thaleb, pakon that treb jaweueb gata
Ureueng deungo musyreb meugreb, padum naseb taroh gata
Abu Thaleb seuot tajam, wahe Husyam deungo sigra

Gata syaksi inong agam, lon meukalam deungon raja
Tadeungo lon dum sinaroe, beurang kasoe agam dara
Adat meunang kumuen kunyoe, talo jinoe aneuk gata
Kusie keubeue limong reutoih, nyang meureugoh raya-raya

Kusie unta nyang meureugoh, duwa reutoh leubeh ganda
Putoih janji deungon taroh, rakyat sunggoh lakee do’a
Asoe langet hate ngiri, teuka wahi bak Rabbana
He Malaikat gata syaksi, Muhammad kubri keurajeuen raya

Ban phon jinoe troh kiamat, nyan amanat kee keugata
Pulang keurajeuen keu Muhammad, beuta ingat bandum gata
Lheueh Nabi ngo pakat simpan, neucok syeureuban sigra-sigra
Teuhah ulee neucok syeureuban, Malaikat yohnyan meunoe do’a

Ya Rabbana inna nabiyika wa rasulika, thafal shaghira takzana
Ya Tuhanku deungo kamoe, Nabi teunyoe gohlom raya
Taidin maklum kujok batee, ateueh ulee siceulaka
Malaikat habeh ‘ohnoe, nyang dibumoe nyoeban do’a

Ya Rabbi azini an fasyaqa fi bathani fi bashafi
Ya Tuhanku gata Tuhan, idin ku peurlan siceulaka
Ku ‘uet lam pruetku beuhabeh, kafe paleh kawom ceulaka
Jaweueb Tuhan do’a jilakee, meunoe lagee wahyu teuka

He Malaikat bekle kiyam, saban kalam bandum gata
Wahe langet deungon bumoe, teutap jinoe bekle goga
Ulon kuwat ekku hukom, nyang nyang muphom ku keureuja
Gata bandum hantok ileumei, eu peurbuatan kee ku peunyata

Ulon kana sajan Muhammad, ku gaseh that ku peumulia
‘Ohlheueh Nabi keubah syeureuban, neudong sajan siceulaka
Nabi neudong di hadapan, jikheun nyoeban aneuk raja
Ya Muhammad gata dilee, atawa kee kheun beusigra

Nabi jaweueb Abu Jeuhai, gata awai wahe raja
Ban jideungo haba Nabi, ji nari meugisa-gisa
Abu Juhai mangat hate, ji deumpekle su meutaga
Uba keuieng jiwa Nabi, hana sakri galak raya

Ji jeumulueng jiglueng gaki, jilisi ban seun lingka
Jipet mata jikab bibi, jilho Nabi lagee raya
Ban seulingka ka jilisi, han jitukrile bicara
Hana meugrak jibot Nabi, Potallah bri han kuasa

Nabi Muhammad tan padoli, neu eu pakri buettan raja
Neu peujok droe ubak Rabbi, nyang keutahwi dum peukara
Nabi Muhammad kaneu iem droe, cula caloe aneuk raja
Ureueng keumalon dong meupeudoe, teukap jaroe agam dara

Siti Katijah tahe mandang, that neu sayang keu Saidina
Neu eu Nabi jaroe neu angkat, bak Hadlarat lakee do’a
Siti Khadijah mata u langet, lidah meumet-met hana reuda
Seureuta ngon neukheun meunoe, tulong kamoe ya Rabbana

Jikalee beuna nyang lon lumpoe, gata sidroe nyang karonya
Ya Tuhanku tulong kamoe, bak uroe nyoe lon meudo’a
Allahumma shurhi wa ‘alaihi, meunan lagee do’a neubaca
Abubaka yohnyan neumow, neu leueng jaroe lakee do’a

Dalam do’a neukheun meunoe, taklek sinoe nyang disana
Sifeuet Nabi dalam Shuhuf, geukalon deuh habeh nyata
Ban disideh na disinoe, bak yatim nyoe tan meuriba
Adat beuna suroh bak kamoe, tulong jinoe Ya Rabbana

Taklek dilee do’a dudoe, neukheun meunoe Abubaka
Ingkana nabiyan mingka, warasulikal yanafi?
Fan shur hu ‘alaihi, meunan lagee lafai do’a
Binatang kleuet cicem teureubang, kanan pandang dum sineuna

Nibak nyang hu cicem pandang, jipo mnyang jigisa-gisa
Padok uroe reului bumoe, payong hanpeue rakyat dumna
Nyankeuh awan jeuekeu payong, keunan ceundrong bandum mata
Gle pi lingka mideuen teungoh, rakyat peunoh hanatara

Asoe Makkah ngon baduwi, bak pahok? gle rumoh tangga
Keunan jitron dum sagaibe, nyum hanlotle Makkah mulia
Bandum rakyat beursalahan, sabe rakan ji meudawa
Rakyat rme hansoe tuban, Allah Tuhan tudum kira

Ji meudawa sabe keudroe, jeueb2 sagoe tango subra
Ladom talo jeh ladom talo nyoe, keudeh keunoe ji meudawa
Abu Jeuhai deumpek teungoh mideuen, naban tupeuen su meutaga
Teubiet reuoh miseue ujeuen, rakyat hireuen keunan mata

Ji jeumulueng ateueh bumoe, keudeh keunoe meugisa-gisa
Nabi tahe neudong keudroe, neuleueng lakee do’a
Abu juhai ka meutugom, ji riwanglom Nabi jiwa
Ji meubeuot Nabi jiseumpom, ji keumarom meunan kira

Abu Jeuhai meuhah-meuhah, teusuet lidah na sideupa
Habeh lagee ka jiilah, han jipapah tukri daya
Hana bacut Nabi meugrak, meusitapak tan meuriba
Abu Jeuhai meuh’ak-meuh’ak, sangka seunak aneuk raja

Deungon kudrat nibak Tuhan, han jipaban tukri daya
Abu Juhai yohmasa nyan, ngon janjongan ji meuhaba
Gaki gata hai Muhammad, sang meukeumat kong lagoina
Gata sidroe geuhon pithat, sang nyuem nabrat siblah donya

Sang teutanom dalam bumoe, gaki teunyoe meugrak hana
Abu Jahai meunan kheun proe, Nabi iem droe lakee do’a
Kata rawi poriwayat, ngon hijeurat dum teurata
Sidroe wali peuetploh rakyat, dumnan kuwat neu karonya

Sidroe Nabi peuetploh wali, dumnan neubri na kuwasa
Sidroe Rasul peuetploh Nabi, kuwat neubri leubeh ganda
Nabi Muhammad that lom kuwat, peuetploh lipat ganda berganda
Deungon tulong sudroe kudrat, Nabi that brat siblah donya

Nyandum kuat karonya Tuhan, pakri jilawan som ceulaka
Kata rawi ‘ohnoe simpan, laen rakan lon calitra
Kisah meuwoe keu panghulee, do’a neulakee bak Rabbana
Nabi Muhammad baro neuthee, leumoh sitree bakri rupa

Abu Jeuhai sangka seudee, habeh lagee ka jidaya
Tiek kupiah suet ngon bajee, keuieng panghulee kong that jiwa
Habeh akai ka ji akai, hana sagai ek jidaya
Nabi neumat Abu Juhai, siblah sapai ka neuhila

Bak taloe keuieng neuklok jaroe, neupaleng droe Nabi gisa
Leukang gaki nibak bumoe, keudeh kunoe Nabi baba
Nabi neumat ngon jaroe wie, bak tan sindie aneuk raja
Nabi hapit ka meuh’ie-h’ie, sang aneuk mie jime lema

Jaroe mirah gaki jeumulueng, reuoh bak rueng ban ie raya
Miseue ureueng kenong gantung, ji jeumulueng hana reuda
Miseue eungkot roh bak kawe, meuble-ble mata uluwa
Ji meulawan pihanale, sangka mate meunan rupa

Nabi neumat ngon jaroe siblah, tan bube drah brat jihana
Abu Juhai aloh-alah, muka mirah ban keuseumba
Tahe hireun bandum rakyat, muka pucat kawom raja
Malaikat dum lakee rahmat, muhon syafaat bak Rabbana

Langet bumoe mangat hate, binatang gle lakee do’a
Mata uroe leumah tanle, dum sagaibe reului rata
Rakyat keumalon peunoh mideuen, akai hireuen ngon bicara
Sabe keudroe ji meukheun-kheun, miseue tupeuen tango subra

Pane kuat aneuk tan Du?, sang na bantu dalam hawa
Kawom Nabi bandum seu-u, nyang that kuyu kwom raja
Meucap babah meuhasek ulee, hanatok thee ngon bicara
Abu Juhai Nabi pangkee, moe meuree-ree dum syeedara

Abubaka eu meunan lagee, beudoh dilee sigra-sigra
Mangat hate hana sakri, potallah bri meunang ghaza
Neu tabu meueh ateueh Nabi, ngon kasturi mawo atha
Lheueh neutabu meueh ngon pirak, hate galak pujoe Asa

Ngon kudrat Po Ilahon haq, peue nyang kheundak neu karonya
Tuwan Katijah beudoh dudoe, mat dijaroe intan meutia
Mangat hat hana bagoe, Tuhan neu pujoe hana reuda
Neu seupeuek meueh deungon intan, ngon beurlian mutiara

Sabab? hate that sukaan, pujoe Tuhan deungon do’a
Ateueh Nabi seupeuek sabe, mangat hate leupah bahya
Geutabu meueh keu breueh pade, meunan mise he ssaudara
Lagee miseue seupeuek beureuteh, seulamat wareh nibak bahya

Ban nyang adat reusam nanggroe, meunan adoe lon calitra
Teuma langet deungon bumoe, rahmat keunoe dum teubuka
Ban bak hamba nyoe bak Tuhan, tilek Rahman keupadanya
Neubri rahmat keu janjongan, ji teupeue han manusia

Teuduek haba siat ‘ohnan, meuwoe kurangan ubak nyangka
Lom keubunoe haba meuwoe, tango adoe lon calitra
Abu Jeuhai mat bak jaroe, neu lambong droe dalam hawa
Meugisa-gisa ban seulayang, rhotle rijang lom bak nyangka

Nabi sambot ka neu tatang, rakyat pandang hireuen raya
Rakyat tahe mandang keudroe, hireuen laloe agam dara
Ateueh bumoe Nabi antok, patah rusok aneuk raja
Tan jibedoh ‘oh neu peuduek, jihpi ka jruek tan suara

Abu Jeuhai yohnyan pansan, mumet pitan naf’ah hana
Husyam beungeh hana lawan, ji deumpek ban taga raya
Mukjizat Nabi kudrat Tuhan, Husyam pansan sikutika
Sare puleh nibak pansan, jirom syureuban ji geulawa

Beungeh jithat raja Husyam, muka itam jiek bisa
Ulee peudeueng ka jireugam, jisuet curam laju sigra
Ube nyang na jih kawom droe, mat dijaroe peudeueng rata
Laen nibak nyan aneuk nanggroe, dong meupeudoe santeut banja

Ka meusiblah bandum rakyat, jisuet leugat peudeueng sigra
Ji keumeung cang Nabi Muhammad, meunan ingat siceulaka
Ban neukalon uleh Hamzah, neusuet pantah peudeueng raya
Peudeueng dijaroe, narit dibabah, he asoe Makkah ingat dumna

Na katuri nyoekeuh Hamzah, ingat kuplah beukah muka
Miseue Ashhabul Fil nyang poh gajah, meunan uleekah kukeureuja
Kacuba grak meusilangkah, ku meuhasah peudeueng raya
Meusidroe hanle kukeubah, haram jadah le bicara

Agam inong dum ku cicah, aneuk mirah ku seureupha
Bak uroe nyoe kukheun meuceh, kawom wareh hana bida
Kumuen lon nyoe soe peujayeh, meuji kheun seh kukoh dua
Agam inong ku peuhabeh, kafe paleh som ceulaka

Jithee bandum nyobit meunan, meutuka han ube seuma
Tuwan Hamzah that phalawan, tan sipadan dalam donya
Teumakot that dum ureueng nyan, nyobit meunan ‘oh jikira
Jirong peudeueng dalam sarong, ka jigulong deungon tika

Jitob ulee meukeulubong, hate tutong dalam dada
Abu Jeuhai boeh lam usong, u gampong jipuwoe lanja
Raja Husyam tanle untong, top keulubong ro ie mata
Seungab canang seungab ngon gong, woe u gampong agam dara

Tan meusidroe pina tinggai, habeh sagai dum jigisa
Meutamah ‘ayeb deungon kanjai, Abu Juhai ka binasa
Troh lam kuta teumpat asai, raja tinggai rakyat gisa
Raja Husyam susah jithat, aneuk teupat dalam tika

Seutot Tabib yue peuubat, timu barat ji seuranta
Dalam kuta ka meusapat, jak peuubat aneuk raja
Abu Jeuhai teutap siat, lon riwayat keu Nabi kita
Saleum meuhat keu Muhammad, rahmat niekmat keu? Rabbana

Tuan Hamzah hate mangat, NABI Muhammad meunang ghaza
Neucom Nabi tuan Hamzah, pujoe Allah hana reuda
Mata uroe pika mirah, asoe Makkah habeh gisa
Tamat ‘ohnoe Nabi meureupah, ulon peugah laen khaba

Teungoh ugle koh bilarah, ta peureubah dalam paya
(Amma bakdu sambong kisah keu Rasulullah lon calitra)
Sifeuet Nabi ulon kisah, ngo lon peugah he syeedara
Sahbat nyang peuet ulon peugah, he meutuwah ngo beurata

Laen nibak nyan ulon kisah, Nabiyullah maniaga
Bungka u Syam neujak meukat, deungon sahbat Abubaka
Soe nyang ikot Nabi Muhammad, le syafaat bak Rabbana
Dilee meukawen dudoe Mikreuj, dudoe teuma jeuet maniaga

Nabi bungka nanggroe Makkah, u Madinah bumoe mulia
Sifeuet Nabi sangat indah, bahlon peugah meusikada
Nibak ulee pojanjongan, na disinan peuet peukara
Taaha naa launaciir?, peuet tha’ani di keupala

Nyan nibak dhoe pojanjongan, lompi sinan 4 peukara
Samar qamar teulhee haya-i, peuet nuri bak dhoe mulia
Nibak mata pojanjongan, Tuhan bri sinan 4 peukara
Habasyiq teulhee ri, peuet kahlanii jroh han tara

Bak geuliyueng pihna 4 ban, gaseh Tuhan akan dia
Nada samak teulhee hatifi, jamma’ani neu karonya
Nibak hidong pojanjongan, indah hanban po karonya
Kasturi ‘umbar teulhee kafuri, za’farani peuet peukara

Nibak lidah pojanjongan, lom pisinan that samporna
‘ilmu hakim teulhee ‘arabi, peuet ihsani nantiasa
Nibak takue nubuet peuet ban, ‘ajib taran? akai kita
Liwailil jamalan teulhee ‘arabi, kadallany peuet peukara

Nibak baho panghulee Nabi, kadallany po karonya
Kanaq kitab teulhee hanaahi, peuet thalany that mulia
Nibak jaroe Tuhan bri 4, got that sifeuet Nabi kita
Nadhar patah teulhee syakha-i, sajahany hanatara

Dalam dada Din Iseulam, hajat barahat peuet peukara
Dalam hate dike syuko, munajat le (hana reuda)
Nyan dilikot panghulee Nabi, Tuhan neubri peuet peukara
Quwat shihat tawasha’i, hakamany peuet peukara

Didalam pruet Rasulullah, Tuhan titah 4 sinan na
Taa naqaa teulhee nun kaiy, waja’any nantiasa
Nibak teuot Rasulullah, Tuhn titah peuet peukara
Qiyam ruku’uk eulhee ta’udy, sadany bak mushalla

Masyi sa’iy teulhee sarany, shabarany panghulee kita
Di ulee phon troh u gaki, sifeuet Nabi thatmulia
Bacut lon boeh laen tinggai, dalam asai Nyak peunyata
Nibak sahbat Tuhan bri peuet, dum neu peujeuet that mulia

Shadiq faruu? Keu teulhee ‘ali, ‘usman peuet mulia
Bak isteuri Tuhan bri 4, Tuhan peujeuet got hantra
Rupa indah hana bagoe, bak peurangoe asoe Syuruga
Phon Khadijah dua ‘Aisyah, lhee Hafeusah peuet Ummihaniya

Nyangkeuh aneuk neubri 4 droe, ureueng lakoe lhee nyang dara
Thaleb Tahe geurasinan, lheueh nibak nyan Ibrahima
Nama Qasem geunap 4 droe, ureueng lakoe aneuk Saidina
Ureueng nyang kheun sifeuet Nabi, Poteu Allah bri lethat pahla

Tuhan peulara nibak upat, syaitan laknat han didaya
Teuhah pinto syuruga lapan, tamong tuan ri nyang suka
Ureueng deungo le meumfaat, rahmat niekmat Pokaronya
Nyang that leubeh ureueng surat, ampon meuhat bandum deesya

Ngon mukjizat Nabi Muhammad, Tuhan bri rahmat soe nyang baca
Khaba sifeuet teuduek siat, jinoe sahbat lon calitra
Sahbat nyang peuet lon boeh ato, ban nyang rungkho meunan kira
Abubakar lon peugah phon, ban nyang turon dilee raja

Mu pituha keurajeuen dilee, wasiet guree meunan haba
Lailahaillallah, Rasulullah phon nyang mula
Abubaka duek teurjali, ‘ohlheueh Nabi pandang donya
Dua thon 4 buleuen tuha Nabi, teuma jali Abubakar

Lhee blah thon Abubaka lahe, teurjalile Saidina Umar
Lheueh 14 thon teuma lheueh nyan, Saidina ‘Usman teuma nyata
Tujoh umu nyan ‘Usman, ‘Ali yohnyan pandang donya
Sahbat nyang peuet dum sirungkhe, lon boeh mise saboh rupa

‘Abdul Muthaleb nyang boeh mise, dalam sya-e neu calitra
Naban miseue aneuk jaroe, sahbat 4 droe meunan rupa
Dali leubeh ‘Abdul Muthaleb, Imum wajeb keu Nabi kita
Sahbat nyang peuet gohna sidroe, kaneu tusoe lehai nama

Tuhan ilham dalam hate, neukheun sya-e pujoe Saidina
Neu pujoe Nabi deungon sahbat, Tuhan surat dalam dada
Masa neucok manyak lam jaroe, neucom bak dhoe peuduek bak pha
‘Ohban neucom manyak diubon, Muthaleb kheun phon sya-e neuba

Teuma neume manyak lam Kakbah, alhamdulillah pujoe Asa
Abdul Muthaleb ucap sya-e hingga akhe habeh baca
Alhamdulillahil lazi ‘akthany, haza naqlamil thabi laa ziini
Hingga habeh neukheun sya-e, neu teubietle teuma uluwa

Buleuen ngon uroe habeh reudee, cahya panghulee leubeh ganda
Lailahaillallah, sidroe Allah that kuwasa
Sahbat nyang 4 neu peugah soe, ban aneuk jaroe nyan upama
Abubakar upama gitek, that ceureudek hanatara

Tuan Umar putu jaroe, ‘ade hansoe hukom sibeuna
Raja jaroe Saidina ‘Usman, meulintee janjongan that mulia
Teununyok unun tuanteu ‘Ali, ireng Nabi sajan seureuta
Inong jaroe Nabi Muhammad, santeut pakat bak agama

Meunan tamse sahbat nyang peuet, miseue paleuet bak agama
Peuet Mazeuhab nibak sahbat, peuet cabeueng jad kayee raya
Nibak cabeueng ranteng timoh, hingga peunoh ileumei donya
Lailaha illallah, teuduek kisah haba nyangka

Tujoh buleuen mume aminah, jak ‘Abdullah nanggroe Syariba
Abdul Muthaleb yue ‘Abdullah, aneuk talangkah jinoe gata
Rab troh buleuen mume Aminah, mita nakeubah zabet keureuma
Peue nyang hana tapeumudah, nabek susah jamei teuka

‘Abdullah ngo narit ayah, neujak pantah nanggroe Syariba
Sabab sinan le kawom droe, ‘Abdullah sampoe keunan teuka
‘Ohtroih keunan nalhee uroe, seuuem asoe kuwut lam pha
Dumna kawom geujak intat, sajan rakyat me keureuma

Nalhee uroe geubeurangkat, ‘Abdullah that ka nadeu’a
Nadak sukreuet mate ‘Abdullah, geutanom pantah nanggroe Abawa
Lhee uroe jak ngon Madinah, geupeugot kubah kubu mulia
Kubu geutanyoe ………………., ………………………………………..

Saleh nanggroe nyoe saleh nanggroe jeh, meuka habeh umu lam donya
Tuhan grak langkah ubak kubu, teuka nafsu grak anggeeta
‘Ohtroih keunan mate laju, peuhah kubu tanom sigra
Miseue ‘Abdullah ayah Nabi, tinggai isteuri tanoh mulia

Tuan Aminah bunda Nabi, nyan pimate dalam shafa
Peuet buleuen umu Nabiyullah, Aminah langkah nanggroe Abawa
Jak bak kubu tuan ‘Abdullah, neujak ziarah peumulia
Maseng2 giduek kandran, Nabi sajan Aminah ba

Sikureueng malam geubeurjalan, sampoe tuan nanggroe Abawa
Troih bak kubu tuan ‘Abdullah, geujak ziarah lakee do’a
Geukhanduri bri seudeukah, tuan Aminah sangat duka
Habeh geumoe dum sinaroe, ingat budoe deungon guna

Tuan ‘Abdullah jroh peurangoe, rakyat dummoe agam dara
Tuan Aminah rugha neumoe, hana sunyoe siat reuda
Saket ulee seuuem asoe, kalhee uroe pucat muka
That lom saket tuan Aminah, maken meutamah jeueb2 anggeeta

Saket lam pruet syiret muntah, apo-apah ka nadeu’a
Habeh raseuki deungon langkah, kheundak Allah ajai teuka
Yohnyan wafeuet tuan Aminah, mawot leumah nyawong neuba
Geutanomle sajan ‘Abdullah, Aminah geukeubah nanggroe Abawa

Woe dum kawom nanggroe Makkah, tuwan Aminah tan meugisa
Tuan Aminah sajan ‘Abdullah, dalam kubah sinan duwa
Geupuwoe Nabi sajan kafilah, u nanggroe Makkah jok bak Poja
‘Abdul Muthaleb that meutuah, Nabiyullah neu peulahra

Beungoh seupot neu peumanoe, hana sunyoe ro ie mata
Bak Ummi Ramlah neu peujaroe, ureueng binoe mubahgiya
Na siploh umu Nabi, saket nini nanggroe mulia
‘Abdul Muthaleb saket di Makkah, wasiet neu keubah bak aneuknda

Dumna gata ku peuingat, Nabi Muhammad ta peulahra
Soena teumeung masa tron wahi, troih Jebra-i ubak gata
Taba iman dum tapateh, Hasyem Qureh kawom mulia
Nyankeuh Nabi keusudahan, Rasul Tuhan dalam donya

Lheueh neu wasiet droe neumte, Abu Thaleb mele neu peulahra
Dua blah thon umu Nabi, Abu Thaleb pergi maniaga
U nanggroe Syam neujak meukat, Nabi Muhammad sajan neuba
Yohnyan lahe that keuramat, Nab Muhammad ateueh donya

Dalam shafa lahe mukjizat, han ek boeh had geucalitra
Awan dilanget jak meutamon, ulah bangon payong geuba
Reului rakyat nyang na sajan, bak berjalan dalam safar
Neudong jidong neujak jijak, awan tan jarak meugisa gisa

Mata uroe rakyat tangah, hana leumah awan nyang na
Cicem meukawan jipo lambong, miseue payong dalam hawa
‘Ohtee geudong rakyat Nabi, cicem nari meugisa-gisa
Ji peureului Nabi Muhammad, bandum keuramat lahe nyata

Laen nibak nyan lombak kayee, meudilee-dilee meulumba-lumba
Bak nyang na neudong Nabi payong, kayee pitroih keunan teuka
Ji ato droe ji peureului, angen dirui mangat rasa
Cicem jidong dicong kayee, mangat lagee meusuwara

Nabi Muhammad dum ji pujoe, ulah bagoe manusia
Cicem Meurak ji meunari, hansoe tukri jieu rupa
Bayeuen dendang ji meusya-e, ji pajohle bunga-bunga
Binatang uteuen sigalabe, habeh sare keunan teuka

Me boh kayee didalam gle, meurungkhe-rungkhe keunan jiba
Leumak mameh hana sabe, lagee mise U ngon saka
Rathab keureuma mameh-mameh, dumpeue jeuneh asoe rimba
Dumna rakyat pajoh boh kayee, ngon panghulee dum sineuna

Binatang bukh bandum keunan, kawai janjongan nibak bahya
Laen nibak nyan Malaikat, kawai Muhammad suroh Rabbana
Cicem teureubang binatang gle, saleuem hase keu Saidina
Kayee muda hanpeue runong, kayee bungong meureula-reula

Keu Nabi dum jijak jok droe, dum sinaroe ube nyang na
Lailaha illallah, gaseh Allah hana reuda
Abu Thaleb deungon rakyat, sampoe hajat ho geuhala
U nanggroe Syam katroih sampoe, ladom meubloe maniaga

Meuneukat geuba lagot rijang, sigala barang dum meulaba
Meuneukat habeh dum sinaroe, geujak meubloe teuma sigra
Barang geubloe dumpeue murah, ngon ijazah Nabi kita
Yum sireutoh peuet ploh jibri, mukjizat Nabi Allah karonya

Maniaga meuploh ribee, ngon panghulee lethat laba
Kisah Nabi teutap dilee, laen sampee lon calitra
Saboh nujum lon peuteuntee, nyankeu guree kafe dumna
Nama geuhoi nan Kaunat, su pimangat that ‘ulama

Guree Yahudi nyang meugah that, Kaunat meuhat geuhoi nama
Keuraja Syam ji riwayat, ampon deelat pomeukuta
Katroih keunoe Nabi Muhammad, na alamat lon eu tanda
Barang lagot deungon siat, laba lethat peue nyang jiba

Mata uroe pika reudee, lethat lagee lon eu tanda
Rot taturi lon peuteuntee, ta peujamei Arab dumna
Abu Thaleb ngon kafilah, keunoe takrah dalam kuta
Tahei keunoe ureueng Makkah, tasie kibaih deungon unta

Dalam kuta keunoe takrah, nyan lon peugah saboh tanda
Soe nyang hanjak nyankeu Nabi, saboh dali lon peunyata
Nabi Muhmmad tapoh mate, yoh goh lahe lom agama
Lheueh Kaunat meunan sare, peujameile ureueng teuka

Abu Thaleb yohnyan jikrah, ureueng Makkah ube nyang na
Habeh geujak dum kafilah, Nabiyullah sidroe hana
Kaunat eu hana Nabi, ka jisudi meunoe haba
Lon eu jamei hana habeh, sidroe Qureh keunoe hana

Tinggai diblang sidroe sideh, laen habeh keunoe teuka
Raja kheunle teuma peugah, jaktueng pantah nyang diluwa
Abu Thaleb seuot meunoe, bandum kamoe habeh teuka
Aneukmiet cut tinggai sidroe, jimat taloe guda hamba

Raja Syam kheun jaktueng keunoe, hajat kamoe meu-eu rupa
Aneukmiet hajat kamoe, khanduri nyoe kon keugata
Gata laen hana hajat, jaktueng leugat keunoe taba
Abu Thalebngo haba deelat, teubiet leugat luwa kuta

Teuma teuka sidroe Raheb bak Abu Thaleb ji calitra
He Abu Thaleb tango kamoe, yue woe jinoe kumuen gata
Ji keumeung pojle Yahudi, jikheun Nabi akhe donya
Nyankeu sabab ji keunduri, ji meutaki kumuen gata

Bak uroe nyoe jipoh mate, kalon lahe hajat raja
Na tujoh ploh dum Yahudi, guda tiji bandum rata
Ji meujak poh jinoe Nabi, suroh duli bak lasyeuka
Adat geuwoe jiyue seutot, jipoh bak rot kumueng gata

Jinoe tayue woe beurijang, yoh goh jicangle panita
Yoh hana troh lom Yahudi, yue woe Nabi laju sigra
Meunan jikheun uleh Raheb, Abu Thaleb pucat muka
Ngon ie mata ro meureb-reb, malee ;ayeb ateueh donya

Bak Muhammad neu peugah seb, Abu Thaleb meunan khaba
Wahe kumuen gata saboh, jeh guda soh taek sigra
Woe u Makkah he kumuen jroh, gata jipoh uleh raja
Gata Nabi akhe zameun, meunan jikheunle panita

Tawoe sidroe bekna rakan, ta meukandran ateueh guda
Nabi deungo Mama peugah, kheun Bismillah ek cong guda
Nanggroe Syam ngon nanggroe Makkah, lethat ploh hah uroe bungka
Nabi neuwoe hana rakan, neu meukandran ateueh guda

Neu arong gle rimba Tuhan, guda deupan seun nam deupa
Yahudi eu Nabi katan, giduek kandran seutot lanja
Na tujoh ploh le Yahudi, guda tinji bandum rata
Guda jiplueng hanjab gaki, jilet Nabi lagee raya

Meuji teumeung jipoh mate, meunan pike poceulaka
Jisuet peudeueng deungon beude, jilet sabe troih u rimba
Jeeueb2 alue jeueb2 lhok gle, duroe awe han jikira
Uroe malam han jipike, jilet sabe Nabi kita

Nabi sampoe u dalam gle, rot ukh hanle na meuhoka
Han meuho rot woe u Makkah, teuka susah dalam dada
Saleh u wie saleh u nun, rot lam uteuen simpang dua
Neudong siat diyub kayee, hana lagee susah raya

Di Yahudi piji kajee, rab jiteumei Nabi kita
Leumah ji eu incit tapak, rot Nabi jak pasang guda
Ka jikarat aneuk batak, jitinjak siseun nam deupa
Ji lumpatle ateueh bateueng, jiyue ampeueng rot beuluka

Jilet Nabi meuteueng-bayeueng, jisue peudeueng mat diluwa
Meuji teumeueng Rasulullah, jijeb darah bak nyuem rasa
Saket hate sabab payah, teusuet lidah na sideupa
Yahudi bloh rimba Tuhan, jideumpek ban taga raya

Nabi deungo su phalawan, nyuem lam badan nyawong keuluwa
Guda jiplueng tajam hanban, rimba Tuhan jiniet data
Dalam uteuen ka meukik-kik, ka teubiet iek ladom guda
Nabi sidroe goh meuri hek, mantong cuttek gohlom raya

Rab ji teumei Rasulullah, guda pantah ji pohlawa
Yohnyan Nabi that bit susah, tron hadiah bak Rabbana
Dalam rimba Nabi sisat, susah neuthat hanatara
Tuhan peuleumah rot nyang teupat, Nabi karat lagee raya

Seuperti teuseubut dalam Qur’an , firman Tuhan wawa jadaka
Dhalam fahada fireuman Hadlarat, Muhammad sisat jalan safa
Tuhan peutunyok jalan u Makkah, Nabiyullah neuwoe lanja
Hana leumah taeu gaki, guda titi tajam raya

Jehpi sisat ban tujoh ploh, lam kurukoh lam beuluka
Ka jiek cot jitron paloh, Yahudi bloh jeueb2 rimba
Tan jituho tunong baroh, lam kureukoh meuraba-raba
Ie han jijeb buhan jipajoh, pijuet tuboeh rimueng seuba

U Makkah hntroh u Syam hantroh, rimueng pajoh dalam rimba
Dalam gunong meubuleuen-buleuen, jeueb2 uteuen meureuraba
Yahudi mate hana umpeuen, rimueng makeuen dalam rimba
Tuhan balah syeksa lam nanggroe, uroe dudoe lam Nuraka

Habeh mate dum sinaroe, tan meusidroe na meugisa
Haba Yahudi habeh ‘ohnoe, lon peugah nyoe laen teuma
Lailaha illallah, troih u Makkah Nabi gisa
Abu Thaleb ulon kisah, neuwoe pantah sigra-sigra

Neuwoe katroh nanggroe Makkah, tulong Allah han binasa
Laba pile bak meuneukat, bandum rakyat hate suka
Kaji pujoe Nabi Muhammad, ‘oh ji ingat lethat laba
Thon keudua bungka u Syam, ‘alihis salam ngon Abubaka

Rakyat pile neuba sajan, maseng kandran guda unta
Yohnyan lahe taht mukjizat, Tuhan Hadlarat nyang peunyata
Ngon mukjizat Nabi sidroe, rotpi katoe’oh neubungka
Bungka u Syam troh siuroe, Tuhan sidroe nyang kuasa

Bandum rakyat hana troh pham, salah waham kira-kira
Dua uroe dua malam,katroh u Syam dum geubungka
Sabab toe that siat katroih, nanggroe jeuoh hanatara
Ngon nanggroe nyangka jeuoh, na le 40 uroe bungka

Bungka gonyoe troihle siat, that mukjizat Nabi kita
Laen nibak nyan lahe mukjizat, deureuham lethat dengon dinar
Me dinanggroe saboh direuham, ‘ohtroh u Syam nam reutoihka
Lahe mukjizat ‘alaihissalam, hana troih pham rakyat dumna

Dina deureuham meutamah brat, ngon mukjizat Nabi kita
Lethat laba ureueng meukat, bandum rakyat hate suka
‘Ohtroih u Syam meubloe leugat, keumah siat dumban nyangka
Yumpi murah nibak dilee, miseue lagee haba nyangka

Laba letah meuploh ribee, hingga sampee lon calitra
Bandum rakyat mangat hate, han ek pike lethat laba
Meubloe pilheueh meukat hase, geupeudiengle ateueh unta
Hanpeue beureukah deungon ikat, barang meusapat ateueh guda

Hana payah bandum rakyat, ngon mukjizat Nabi kita
Baroe geujak singoh geuwoe, troih u nanggroe Makkah mulia
Mangat hate dum sinaroe, Syam pikatoe ‘oh geubungka
Abubakar hireuen laloe, dum sinaroe ngon lasyeuka

Geuwoe katroh nanggroe Makkah, hate dahsyah rakyat dumna
Dum sinaroe hana payah, deuek deungon grah tan jirasa
Abubaka ngon Rasulullah, neubri seudeukah hana reuda
Aneuk yatim faki miseukin, ureueng gasien habeh kaya

Ureueng balee neubri salen, ban siseun tren bajee ija
Lailaha illallah, pujoe Allah bekna reuda
Thon nyang keulhee Rasulullah, u Syam leupah lom neubungka
Sajan-sajan ngon Basyarah, namiet Katijah ureueng kaya

Siribee 600 kandran geupeugah, that barullah dum areuta
Sidumnan le di Khadijah, Qureh Makkah laen kira
Ureueng bungka that barullah, galak leupah lethat laba
Rot pikatoe Syam ngon Makkah, tanle payah ‘oh geubungka

Areuta Qureh meupasukan, lon peugah ban he syeedara
Dua ribee unta kandran, bungka sajan dum seureuta
Umu Nabi duaploh thon, yoh bungka phon lon calitra
Awan dilanget jak meuron-ron, dum meuhimpon keunan teuka

Mata uroe hana tutong, awan keu payong rakyat dumna
Reului rakyat padok uroe, hingga sampoe bak geuhala
Uroe geujak troile u Syam, ‘alaihis salam mukjizat nyata
Barang geuba habeh siat, laba lethat hate suka

Baroe geujak singoh geuwoe, troih u nanggroe Makkah mulia
Beungoh uroe troh u Makkah, Mubasyarah hate suka
Mangat hate dum kafilah, hanle payah jalan safa
Troih Basyarah bak Khadijah, ka jipeugah dum rahsia

Lahe mukjizat ka jipeugah, Siti Katijah hate suka
Ks neu tanyongle Khadijah, bak Basyarah saboh rahsiya
Tadeungo lon hai Basyarah, nyoe lon peugah ubak gata
Lon meulumpoe bak simalam, dua jam kaleupah ‘Isya

Yoh neu peujeuet uleh Tuhan, ulontuan milek Saidina
Dalam hukom Nabi Muhammad, indah sangat hanatara
Ulon lumpoe malam Jumeu’at, meunan ‘alamat lam rahsia
Pakri t’akbi cuba peugah, hai Basyarah tacalitra

Basyarah kheun bak Khadijah, pocut meutuah meubahgia
Takbi pocut kalon ingat, le mufaat Po keu gata
Didonya kon troih akhirat, lam seulamat leupah bahya
Meunan Basyarah ji amanat, Katijah ingat sikutika

Lheueh nyan marit Siti Kahdijah, ngon Basyarah peugah haba
Meunyo meunan he Basyarah, ngo kupeugah ubak gata
Areuta lon tame keu Rabbi, meuligoe kami nyang bak gata
Sireubee 600 unta kandran, areuta lon nyan tapeulara

Bandum tabri keu Abu Thaleb, supaya seb keu beulanja
Lon meukawen ngon Nabiyullah, bek tapeugah dum rahsia
Beulanja teulangke ba keu ayah, bekthat susah geujak mita
Basyarah ngo kheun Katijah, dum geukeubah dalam dada

Keu Abu Thaleb jijok pantah, unta kibaih ngon areuta
Ka ji wasietle Basyarah, meunoe ulah ji calitra
Hai Abu Thaleb ngo lon peugah, kheun Khadijah ubak gata
Nyoe areuta tuan Katijah, neuyue bri sah dum keugata

Keu beulanja Nabiyullah, keu nafakah deungon nyata?
Teuma kawen ngon Nabiyullah, Siti Khadijah hate suka
Abu Thaleb ngo kheun Basyarah, seuot pantah meunoe haba
Tadeungo lon he Basyarah, nyoe lon peugah ubakgata

Keureuna Khuwailed Du Khadijah, ureueng meugah lom ngon kaya
Han geutueng Nabi keumeulintee, sabab geuthee tan areuta
Lom ngon gasien hana lagee, hanpat lakee utang beulanja
Areuta pitan nangmbah pitan, kupaban (cit) gasien raya

Ngon ulon han geumeubisan, kon sipadan bak geukira
Abu Thaleb meunan kheunban, teutap sikhan saboh haba
Nyankeuh sabab geuboh ilah, Siti Katijah bri beulanja
Kareuna adat jahiliyah, ‘Oh peunikah nyan aneuknda

Geumeusalen ija bak badan, tuka peukaian urueng dua
Got kupiah got syeureuban, deungon bisan geumeutuka
Peukawen aneuk tuka peukaian, dihadapan jamei dumna
Meunan adat Qureh Mekkah, jahiliyah meunan agama

Abu Thaleb ngon Khuwailet, tan meupakat ureueng duwa
Laen bandum na meupakat, meu Khuwalat sidroe hana
Nyankeuh sabab geumeujamei?, geumeutipee tuan na fatha?
Agam inong jak meure-ree, hana padee sabe teuka

Abu Thaleb peujamei ureueng Makkah, habeh neukrah agam dara
Neusie unta deungon kibaih, hanpeue peugah hat ngon hingga
Siribee nam reutoihnyangka habeh, neu seumbeuleh hana reuda
Ka meusapat bandum Qureh, areuta habeh han geukira

Uroe malam hana geueh, mata peudeh geumeujaga
Na lhee buleuen meujamei sabe, na meuhase ban nyang pinta
Agam inong mangat hate, geutot beude ban seulingka
Uroe malam kapah-kapoeh, rakyat kiroh hana reuda

Geunap malam ilah geuboeh, hankeu naroh bak kutika
Bak simalam lethat ilah, trebka payah geumeujaga
Ka meusapat Qureh Makkah, Du Katijah keunong mintra
Agam inong hate galak, peh geudumbak ngon nugara

Lheueh minoman geujeb arak, meukhem meukhak lagee raya
Abu Thaleb wa geumeucom-com, dinab kawom jamei dumna
Tuka ija ngon tangkulok, teungoh mabok tuan Naqakha
Tuka tangkulok ngon peukaian, kasah bisan ureueng dua

Mabok pithat hana lawan, han neu tujan tuka ija
Beungoh uroe puleh pansan, neu eu peukaian ka meutuka
Neu seusai droe tan paidah, sabab kasah tuka ija
Dinap majeulih dum kafilah, kasah nikah ureueng dua

Nikah Nabi ngon Khadijah, meunan peuneugah dalam sabda
Peuet ploh thon umu Siti Katijah, masa nikah ngon Saidina
Nabi Muhammad teungoh lhee ploh, meunan geuboh lam calitra
Geutanyoe laen hanjeuet meunan, meujanjongan mantong saja

Sah meunikah hana wali, hana syaksi hana peuha?
‘Ohsah Nabi judo Khadijah, neujok pantah dum areuta
Meueh ngon pirak 40 geudong, blang ngon gampong laen kira
Padum namiet unta kibaih, keu Rasulullah ban sineuna

Lethat areuta tuan Khadijah, asoe Makkah nyan nyang kaya
Ija bajee ngon peukaian, meueh ngon intan han ek kira
Neujok bandum keu janjongan, peukaian nyan keu Saidina
Yohnyan Nabi kaya limpah, fireuman Allah nyang peunyata

Wa wajadaka ‘ailam faaghna, makna teuma lon calitra
Nabi Muhammad gasien dilee, dudoe meuteumei le areuta
Geunap uroe nebri seudeukah, areuta Khadijah ban sineuna
Faki iseukin dum habeh troe, hana sidroe deuek jirasa

Beungoh teuka seupot jiwoe, geunap uroe seudeukah na
Hana sidroe meuhutangle, kaya sabe dum jirata
Ureueng Makkah tanle gasien, aneuk yatim habeh kaya
Lhee thon Nabi bri seudeukah, areuta Katijah habeh dumka

Geudong 40 habeh sare, sapeue tanle na areuta
Aneuk nanggroe mangat hate, dum sagaibe habeh kaya
Geunap uroe neu seumeuleh, unta habeh agam dara
Neu peujamei kawom wareh, that geumaseh Nabi kita

Pirak ngon meueh habeh simpan, geudong intan habeh neubuka
Ureueng Makkah that sukaan, seukalian habeh kaya
Lailaha illallah, jaroe murah Nabi kita
Sithon Nabi bak Katijah, karonya Allah aneuk kana

Aneuk yuha ureueng lakoe, Qasem sidroe geuhoi nama
Thon nyang dua nama Thahi, keuteulhee hase Thaleb nama
Aneuk nyang lhee awai mate, keuce-keuce gohlom raya
Nyang na rayek Qasem sidroe, baro raghoe pasang guda

Thon nyang keu 4 ureueng binoe, Zainab geuhoi geuboeh nama
Thon nyang limong Ummi Kalsom, haba meuphom hanpeue nyata
Thon nyang keunam Siti Rakqabah, keu tujoh sah Fathimah Dora
Fatthimah teulot aneuk Khadijah, meunan peuneugah lam calitra

Mate Qasem tutong Kakbah, meunan peuneugah dalam sabda
Ureueng ziarah that bit rame, hansoe tune apui teuka
Geume apui lam turafan, geutot sajan gahru jeumpa
Rot ngeu apui keunong tire, rakyat lale hate suka

Tujoh lapeh tire Kakbah, indah-indah hanatara
Peuet diluwa lhe didalam, hana macam indah rupa
Sikrak? Tire adat geubloe, siploh katoe na hareuga
Kakbah tutong dum sinaroe, sumbang nanggroe padum masa

Meuhimpon Qureh geumeu peugot, beulagee sot meunan kira
Teutapi han ek miseue dilee, sabab padee mit beulanja
Hana beulanja geubri upah, peucok? Kakbah nibak nyangka
Ibrahim peugot dilee Kakbah, teungoh 40 hah panyang rungka

Linteueng geuboh tujoh blah hah, dalam kisah geucalitra
Qureh peugot kureueng bak nyan,han ek dumnan mit beulanja
Dua blah hah geuboeh linteueng, buju kureueng nibak nyangka
Kureueng 20 panyang buju, manyang taeu meunan rupa

Geuboeh bubong saboh pinto, teubiet lalo rot tan juga
Kakbah dilee dua pinto, saboh lalo saboh buka
Bubong pitan Kakbah dilee, meunan meuteumei lam calitra
Masa Qureh peugot Kakbh, Nabiyullah sajan seureuta

Angkot batee boeh turapan, Nabi sajan neu seureuta
Kakbah cukop seukalian, na miseue ban dilee nyangka
Geukeumeung boeh Hijir Aswad, yohnyan rakyat jeuet meudawa
Jikheun soe boeh hijir aswad, nyankeuh meuhat jeuet keuraja

Jihnyan tapoh laju leugat, bekji deelat jih keuraja
Sabe keudroe tango kiroh, ji keumeung boe batee raya
Ureueng tuha dum meutanggoh, bek dilee taboh batee mulia
‘Oh geutamong ureueng keunoe, bak pinto nyoe nyan geuteuka

Tatanyong hukom pakri jeulah, ban peuneugah takeureuja
Ureueng tuha meunan kisah, Nabiyullah lon calitra
Nabi teubiet Masjidil Haram, neu meukalamureueng tuha
Ya Nabiyullah neukheun bak kamoe, ba hijer nyoe soemei peuhanta

Soenyang meiboeh baksagoe Kakbah, bak Ibrahim keubahdilee nyangka
Seuot Nabi neukheun rijang, bak ija panyang batee tahanta
Keunan taboeh hijer aswad, bandum rakyat me beurata
Teuma peuduek bak teumpat dilee, Hijir batee mahamulia

Qureh ngo kheun Nabiyullah, peubuet pantah sigra-sigra
Bak ija panyang batee geukeubah, ban peuneugah Nabi kita
Geumat ija dum geurande, batee geume rata-rata
Geupeuduek bak sagoe Kakbah, bak Ibrahim keubah dilee nyangka

Bandum Qureh mat keurajeuen, meunan geukheun lam calita
Muliaan dum geupeugah, beureukat Kakbah rumoh mulia
Kakbah pilheueh nanggroe pigot, meuwoe baksot tanle goga
Kureueng sa 40 umu Nabi, neu lumpoe Jebra-i lam rahsia

Nyuem meuduek-duek ateueh kurusi, ngon Jebra-i sajan dua
Antara langet deungon bumoe, leumah dumpeue Allah peunyata
Jaga Nabi bak meulumpoe, hate teugoe-goe hanatara
Neulakee meuteumeung uleh Nabi, ngon Jebra-i dalam jaga

Meunan neu mohon ubak Rabbi, Tuhan neubri troh ban pinta
Nabi neuduek neu ‘ibadat, saboh teumpat bak seunia
Bak Jabal Nur buket meutuah, Nabiyullah sinan tapa
Neume sigala ngon makanan, ‘Oh habeh nyan Nabi gisa

Nabi neuwoe nanggroe Makkah, bak Katijah cok beulanja
Jebra-i tron neuba wahi, ngon Mika-i sajan dua
Ngon Malaikat muqarrabin, nyang shalihin sama-sama
Ngon mudam meueh sajan geupeutron, Malaikat laen dum seureuta

Dalam mudam peunoh ram-ram , ‘alaihis salam Jebra-i ba
Jebra-i mat Nabi geupeugah, geupeureubah geuplah dada
Geucohk hate teuma geurah, geuboih darah dum sineuna
Hana saket dada geuplah, Nabiyullah yang calitra

Geurah hate ngon ie zam-zam, geuboeh u dalam lom bak nyangka
Geuboeh lam hate teuma ileumei, sikureueng ribee bagoe jina
Sikureueng hikeumat 9000 kuat, 9000 peurasat keunan geuhanta
9000 beurani geuboeh lam hate, geupeukaple teuma bak dada

Jebra-i kheun ubak Nabi, Iqrak bismi neuyue baca
Yohnyan keuphon teuka wahi, masa Nabi masok tapa
Teuka beuhe nngon beurani, lheueh peusuci hate lam dada
Yohnya Nabi beuet Quru’an, fireuman Tuhan Jebra-i ba

Iqrak bismi phon fireuman, lheueh janjongan geuplah dada
Jebra-i ghayeb Nabi neuwoe, neutron keudroe digunong raya
Nabi neuwoe nanggroe Makkah, bak Khadijah neu calitra
Ulon teunyoe dada geuplah, hate geurah geucok uluwa

Jebra-i ba fireuman Allah, ngo Khadijah lon calitra
Iqrak bismi Jebra-i peeugah, fireuman Allah keulon nyata
Meunan sabda Nabiyullah, bak Khadijah neu calitra
Teulheueh Nabi meunan peugah, beudoh pantah sigra2

Nabi neujak ngon Katijah, bak Waraqah neu peuteuka
Sabab Waraqah kawom Nabi, agama Nasrani geupeulara
Yohmasa goh lahe Nabi, agama Nasrani gobnyan puja
Bansare troh bak Waraqah, kheun Katijah meunoe haba

Tadeungo lon he Waraqah, ngo lon peugah ubak gata
Haba ‘ajeb sangat indah, deungo beusah lon calitra
Waraqah ngo kheun Khadijah, tanyong pantah laju sigra
He Muhammad aneuk ‘Abdullah, peue tapeugah cuba nyata

Yohnyan Nabi seuot pantah, bak Waraqah neu calitra
Tren Jebra-i ngon Mika-i, deungon wahi keulon geuba
Habeh neu peugah uleh Nabi, Waraqah pi seuot sigra
He Muhammad ngo lon kheun kri, nyan Jebra-i tron bak gata

Habeh haba wahe rakan, daweuet pitan pat lon mita
Alhamdulillah ka seuleusoe, hikayat nyoe sudah khatam
Tamat hikayat uroe Jeumeu’at, watee meuhat pukul lima
Ulon peuphon malam Sabtu, watee Teungku teungoh ‘Isya

Buleuen Ramadhan* phon lon surat, that beureukat he saudara
Buleuen Zulkaidah lon peutamat, ‘ohnan lambat ulon rika
Bleuen Ramadhan bak peuet uroe, yohnyan adoe phon lon mula
Duaploh dua buleuen Zulqaidah, ‘ohnan sudah hai saudara

Nyoe lon peugah wahe sahbat, ureueng seumurat meung 2 banja
Beurang kasoe kheun hikayat, keulon beuthat do;a neupinta
Beuneu lakee ubak Tuhan, keu ulontuwan beusijahtra
Beuseulamat donya – akhirat, ulon seumurat beusamporna

Beuseulamat Iman lontuan, ubak Tuhan neu muhon pinta
Beuneu gaseh ngon neu sayang, lon meudagang tan areuta
Areuta lon tan meusi busoek, duek meutumpoek jeueb2 tangga
Keureuna ulon ureueng gasien, that miseukin han sapeue na

Sikrak ija han ek lon bloe, lon meunggantoe peng pihana
Bajee lon ngui beukah rusok, ngon tangkuloek hana punca
Meujan lon ngui meujan lon troh, he Teungku beh that seungsara
Kupiah pep? yum sibusoek, taeu dawoek hanatara

Lon pajoh bu meujan-jan tan, ngon peukaian ruja tuha
Ulon teumeung bak bupalang, cok lon pinggang hate suka
Lagi ulon ureueng hinaan, nibak rakan tan mulia
Bandum banci nibak rakan, ngon sabab tan na areuta

Meung nyo tan peng dalam jaroe, beurang kasoe tan mulia
Cuba keuna peng lam jaroe, beurang kasoe ji peumulia
Hina didonya tan peukaian, hina bak Tuhan ‘amalan hana
Hina bak wareh areuta lontan, hina bak rakan peng lon hana

Lagi ulon ureueng ban troih, gampong jeuoh hanatara
Gampong ulon geukheun Adan, keunoe lontuan saweue syeedara
‘Ohtroih keunoe wahe sahbat, kakeuh teutap sithon dua
Nama ulon beuna neuturi, Muhammad ‘Arabi he syeedara

Wahe Teungku nyang kheun hikayat, keulon beuthat neulakee do’a
Jampang2 neukheun hikayat, do’a seulamat keulon neupinta
Beu neulakee ubak Tuhan, seulamat Iman dalam dada
Sebkeu ‘ohnoe he Nyak Puteh, laen ureh lon calitra

Nyoe lon peugah pohikayat, mangat neu tupat he syeedara
Gampong gobnyan lon kheun nyoeban, sideh di Adan rumoh tangga
Teumpat geuduek wahe wareh, u Meunasah Parek keunan neuteuka
Nama gobnyan wahe Nyak Cut, lonboeh bacut sinoe nama

Beurang kasoe ngui hikayat, bek that lambat hai saudara
Bak got Teungku nyan neupapah, (nyan) bek beukah neu usaha
Meunyo hana got neupapah, rijang beukah hana laba
Reudok digle ujeuen leubat, sinyak pot kulat bak ladang tuha

Lonjak han ek lon peusan hanpat, keu hikayat lon meuhawa
Yang empunya hikayat ini, MUHAMMAD ‘ARABY HAJI MAN

Catatan: Alhamdulillah, akhirnya Hikayat Abu Jeuhai selesailah saya salin ke huruf Latin, walau pun menempuh waktu setahun. Hikayat ini mulai saya salin 3 Ramadhan 1434 dan baru tuntas setelah shalat subuh 10 Ramadhan 1435 H/8 Juli 2014 M pagi tadi. Pada lk jam 11.50 siang naskah buku Hikayat Abu Juhai saya antar ke pemilik naskah Cek Medya Hus ke Cot Buklat, Pekan Ateuk, Aceh Besar. Pada kesempatan ini, saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada Cek Medya Hus yang telah meminjamkan nasakah Hikayat Abu Jeuhai setahun lebih kepada saya. Syukur kepada Allah Swt dalam tempo 10 hari – sejak 1 – 10 Ramadhan 1435 H – telah mampu saya alih aksara dari halaman 64 – 119. Akibat ujung2 jari yang sakit(rematik) dalam Ramadhan tahun lalu, hanya 20 halaman saja yang mampu saya salin naskah hikayat itu. Besok 9 Juli 2014 adalah hari pelaksanaan Pilpres Republik Indonesia.
Sekarang putra tertua saya sedang melaksanakan “Sulok 20 hari di Dayah Lueng Ie, Aceh Besar, Semoga mendapat ridha Ilahy adanya!.

Bale Tambeh, malam Rabu, 11 Ramadhan 1435 H
9 Juli 2014 M pkl 00:04
dto
T.A. Sakti

Hikayat Abu Jahai – Kisah Nabi Muhammad Saw Ketika Kecil(Bagian I)

Mulayi lon salen Hikayat Abu Juhai, Jum’at, 3 Ramadhan 1434 H/12 Juli 2013 M poh 10.15 wib
Transliterasi/Alih Aksara dari huruf Arab Melayu-Jawi-Jawoe ke aksara Latin dilaksanakan:
Oleh: T.A. Sakti

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Hikayat Abu Jahai

Alhamdulillah pujoe keu Tuhan,  Sekalian dumna hamba
Keu Muhammad seulaweuet sajan,  Wahe rakan bek talupa
Zat nyang suci nama Allah,  Ngon Bismillah phon lom mula
Teunku deungo ulon peugah,  Khaba indah lon calitra

Ulon peuphon ngon Khutubah,  Bismillah phon    tabaca
Khaba zameun ulon kisah,  Ngo lon peugah he saudara
Soe nyang pateh that meutuwah ,  Soe nyang bantah jeuet ceulaka
Soe nyang deungo le mufeu’at,  Soe nyang ingat meubahgiya

Nubuet Nabi  ulon surat, Ingat beuthat he saudara
Ulon peugot keu hikaya,  Mangat sahbat ‘oh tabaca
Soe nyang nabeuet kheun bak Surat,Soe nyang ngeut that deungo sahja
Supaya jeuet keu peuingat, Ri nyang umat mubahgiya

Wahe kawom rakan sahbat, Nyoe  nasihat nyang sijahtra
Geulantoe lonbri ranub siikat, Nyoe Hikayat Teungku Baca
Keureutah puteh daweuet pucat, Lon seumurat tan biyasa
Sabab ulon ureueng bangsat, ‘Eleumei singkat rancak hana

Nyang na lon beuet tamat Quru’an, Nyang laen tan he saudara
Ulon teunyoe that hinaan, Ngon pakayan ruja tuha
Hina bak donya areuta lon tan, Hina bak rakan pakayan hana
Hina bak Nabi  seulaweuet lon tan, Hina bak Tuhan ‘amai lon hana
Lon seumurat cit meumalam, Mata reukam teungeut raya

Hitam hitam aneuk bayam,  Cok  sireugam kue bak ija
Cok pureh jok cu keu kalam, Daweuet itam ie keuseumba
Phon lon surat haba reusam, Dudoe tapham buet agama
Ube kawom nyang Iseulam, Inong agam tuha muda

Khaba Nubuet ulon reusam, Beugot tapham  agam dara
Watee geukheun beuta khadam, Bek peukiyam peugah haba
Lon cok daweuet deungon kalam, Ulon reusam pura-pura
Lon seumurat hana tajam, Jaroe bugam tan sikula

‘Eleumei kureueng hana troh pham, Gadoh waham miet bicara
Manyak  Payet toe Sungoe Yu, Lakee buku bak ureueng tuha
Allah Allah ya Tuhanku, Lon neubri bu deungon ija
Lon seumurat hana that jeuet, Upama pheuet teumpoi mata

That ta sakai beukah ulee, Meukreueh kayee cumeh mata
Lon seumurat meunan lagee, Buet lon tiree tan Sikula
Sabab ulon ureueng dungei, Tan  ‘eleumei dalam dada
Miseue uroe ka reudok top, Miseue sagob angen raya

Lon seumurat karang marot,  Hate seupot dalam dada
Nyankeu Teungku ka lon seubut, Lon boeh bacut bek meutuka
Adat salah deungon karot,  Ngieng ulikot ‘oh neubaca
Adat kureueng Teungku  kikeh,  Adat leubeh neuboeh tanda

Nyankeu Teungku kalon sareh, Bek meudaleh lon saudara
Di kuwala Aceh kapai meuriti, Kuwala Sigli kapai Dokaha
Kon meung gata aja lon bri, Diulon pi syaitan daya
Jeuet keudumnan lon peugah kri, Meule cakri hana gura

Lon boeh bacut mangat meuri, Neubuet Nabi lon calitra
Wabihi nasta’in ya Allahul  a’kla, Teulhee boh Isim phon lon mula
Lhee boh Isim saboh ayat, Sampoe hajat peue  tapinta
Awai phon lon tueng beureukat, Lon seumurat  tan biyasa

Awai   Iseulam nyang  phon  Syahadat,  Pujoe Hadharat  Tuan Asa
Nyankeu  pangkai   woe  akhirat,  Beuta taubat  agam – dara
Lam donya  nyoe taduek siat,  Diakhirat  nanggroe  baka
Ie minoman ladat – ladat,  Troh u teumpat lam Syuruga

Lailaha illallah,  Kalimah thayibah pangkai Syuruga
Bekna lapang kheun dibabah,  He meutuwah bekta lupa
‘Amai saleh ‘Iktikeud beusah,   Woe bak Allah nanggroe baka
Jeuet keudumnan nyang khutubah, Meuwoe kisah bak calitra

‘Ajayeb Subhanallah, Mukaddimah lon peunyata
Mukaddimah lon peugah phon, Ato turon lon calitra
Phon neu peujeuet uleh Tuhan, Nur janjongan nyawong muliya
Banyak? nibak ‘akyan tsabitah, Keunan limpah punca cahya

‘Akyan tsabitah ceureumen Isim,  Asma Tuhan keunan nyata
‘Akyan tsabitah ceureumen Isim,  Keunan limpah  mula-mula
Ubak sifeuet teujali zat,  Ahdiyah wahidah  martsabet na
‘Akyan tsabitah tamse ceureumen, Lahe  baten keunan nyata

Fireuman Tuhan ubak maghaf?,   Bak maklumat keunan nyata
Fireuman Tuhan  na  khatabkan,   Bak Maksyukan? nyan gohlom nyata
Khatab pilheueh maksyuk?  Hase,  Jeuet  Nur Nabi  nyang muliya
Teulheuh tilekle Hadharat,  Bak Nur Muhammad nyang muliya

Meulabuh? Nyan Nur Muhammad, Reuoh sangat teubiet lanja
Tuhan peujeut dumna nyawong,  Bak reuoh nyang that muliya
Sinan pince dumna nyawong, Taulan tanyong bak ulama
Roh muhaddas bukon qadim,  Beuta yakin dum teurata

‘Oh nyang masok dinyawong keunan,  Bukon qadim he saudara
Miseue sabda ‘Alaihissalam, Teungku tapham ulon nyata
Awai neupeujeuet uleh Tuhan, Sit Nur ulon nyan phon nyata
Lheueh neu peujeuet Nur Muhammad,  Leungkap sangat  ‘alam donya

Kata rawi poriwayat, Tuhan Hadharat kheundak nyata
Neukheundak lahe nyoe geutanyoe,  Ateueh bumoe  dalam donya
Suroh Tuhan bak Jebra-I,  Neuyue tuengle tanoh muliya
Fireuman pilheueh nibak Rabbi,  Tron Jebra-I dalam donya

Jebra-I cok tanoh pantah,  Neupeu thawaf lingka Syuruga
Geurungka lagee ser tanoh karah?,   Maken indah that bak nyangka
Jebra-I ba bak Hadharat,  Reuoh leugat teubiet sigra
Tuhan peujeuet bak reuoh nyan, Seukalian dum Ambiya

‘Oh lheueh neu peuejeuet Adam Khalifah, Nur neukeubah tanoh muliya
Ubak Adam neu keubah phon, Turon-muron bak Ambiya
Silsilah Nabi phon bak Adam,   Bangsa ‘ajam dum Ambiya
Bak Ibrahim ‘alaihissalam,  Nyanpi ‘ajam geukheun bangsa

Bak Ismail phon ‘Araby,  Nasab Nabi nyang muliya
Nyankeu aneuk kaneu gaseh?,   Bangsa Kureh phon peurtama
Nashir keuphon nan gla Kureh, Meu’en jigleh ji usaha
Ladom geukheun makna Kureh, Meuhimpon wareh nanggroe muliya

Aneuk cuco Nabi Ismail,  Sidroe sane keunan teuka
Sabab talo nibak sitree, Plueng meuree-ree dalam rimba
Geumeusom lam guha bate, Masa dilee talo ngaza
Nadhir himpon lom u Makkah, Kawom neukrah dalam rimba

Geumeu sapat dum kafilah, Prang neugagah lagee raya
Talo musoh pulang nanggroe, Nadhir neuwoe Makkah muliya
Jeuetkeu dumnan lon hareutoe, Kisah meuwoe bak calitra
Alhamdulillah seukalian pujoe, Bandum meuwoe keu Allah Ta’ala

Keu Muhammad panghulee kamoe, Seulaweuet jinoe bekna reuda
Allahumma shalli ‘ala Muhammad,  Wa’ala alihi wa shahbihi ajma’in
Ngo lon kisah ‘Abdul Manaf,  keu silsilah Nabi kita
‘Abdul Manaf aneuk peuet droe,  Ureueng lakoe Tuhan karonya

Nyang phon Hasyim that meutuwah,  Keunan neukeubah Nur muliya
‘Abdus Samad dua geupeunan, Intu ‘Usman sahbat muliya
Keulhee Naufan aneuk Jabir,  ‘Alem han sabe ateueh donya
‘Eleumei Hadist nyan neupakoe, Ureueng nanggroe gaseh dumna

‘Abdul Muthalib geunap peuet droe, Habeh ‘ohnoe saboh haba
Nyankeu aneuk Imum Syafi’I, Nyang juhari ateueh donya
Cuco Hasyem ngon Muthaleb, Meugah nyang seb ateueh donya
Aneuk Hasyim pina peuet droe, Lon peugah soe he saudara

Phon Asadan aneuk sidroe,  Fathimah roe geuhoi    nama
Nyankeu Ibu Saidina ‘Ali, Sahbat Nabi nyang muliya
Dua Fashlah teulhee Sha’I, Aneuk mate droe na dua
Peuet Muthaleb nyang that meugah, Keunan  neukeubah Nur Mustafa

‘Abdul Muthalib limong isteuri, Ngo lon rawi he saudara
Phon Fatimah anek ‘Umarah, Nyan he taulan inong tuha
Aneuk Muthaleb nyang  9,  Ngo lon bileueng he saudara
Abu Thaleb, ‘Abdul Ka’bah, Lhee geupeugah Zubir nama

Nan nyang keu 4 nan ‘Abdullah, Keunan neukeubah Nur muliya
Peuet nyang agam kalon peugah, Saboh ayah saboh bunda
Aneuk inong ulon kisah,  Nyak meutuwah tabileueng sa
Phon Abshar dua Amarah,  Lhee ‘Atikah geuboh nama

Keu 4 Rawi limong Umimah,  Meunan amanah lam calitra
Judo Muthaleb nyang dua droe, Lon peugah soe he saudara
Nama  Halih geuhareutoe, Meunan adoe kheun ulama
Aneuk bak Halih na 5 droe, Lon peugah soe tabileueng sa

Hamzah, ‘Abdak, lhee Maqwam, Peuet geupeunan Hajib nama
Nyang keu 5 nan Shafiyah,  Meunan kisah lam  calitra
Lhee isteuri nan Salabah, Baginda ‘Abbas sinan nyata
Keudua Dhurir keulhee Hasyem, Ban lhee agam hana dara

Peuet isteuri Shafiyah jroh,  Aneuk saboh  Haris nama
Judo Haris  na limong  droe, Meunan geuproe  geucalitra
Nyankeu  aneuk ureueng lakoe, 19 droe bak meuhingga
Nyankeu aneuk ‘Abdul Muthaleb, Nyang na udep pandang donya

Meuteumei muprang masa Iseulam,  Mama janjongan 4 droe  saja
Hamzah, Abbas, Abu Thaleb, Abu Lahab laen hana
Agam laen habeh mate,  Gohlom lahe buet agama
Masok Islam mama Nabi,   Ngo lon rawi he saudara

Nyang phon Hamzah dua ‘Abbas, Meunan peuneugah lam calitra
Abu Thaleb sinan khilaf, Kawoi nyang sah Islam hana
Teutapi Nabi  neugaseh that, Sinan rahmat  hase teuka
Neu peulahra ngon neukawai, Hana sagai na neulupa

Abu Lahab  tan Iseulam,  Mupakat dum kheun  ‘ulama
Macut Nabi  masok Islam, Shafiyah nan  khilaf hana
‘Atikah  awai sinan khilaf, laen sudah dilee fahna
Mate  masa jahiliyah, hana leumah lom agama

Ahlul Fitri nyan geupeunan, berseulangan  Rasul teuka
Antara nyan keujadian, mate sinan lam antara
Limong reutoh thon peurseulangan,  lheueh nibak nyan Rasul teuka
Lheueh nyan teuka Nabi geutanyoe,  ateueh bumoe nyan muliya

Yoh masa goh lahe  Nabi, amar nahi hana nyata
Haleue hareum buet salahan,  kutika nyan hana deesya
Ceulaka bahgiya hana lahe, hukom sabe hana bida
‘Ohsare ka lahe Nabi, tron Jebra-I hukom neuba
Wa’ad wa’id amar nahi,  habeh meukri bahgiya ceulaka

Got tapubuet got neubalah, jeuheuet neukeubah lam Nuraka
Jeuet keudumnan ulon peugah, nyang silsilah habeh khaba
Supaya sah tameu iman,  ‘iktikeuet meunan dalam dada
Bangsa meukri nanggroe meupat,  han syubeuhatle lam dada

Miseue  thariqat beuna  silsilah, nibak syiah phon tamula
Nibak syiah nibak Nabi,  bak jebra-I bak Rabbana
Mukaddimah jeuet keudumnan,  lon peugah nyan pasai nama
Peurtama  phon lon kheun jinoe,  Nabi geutanyoe na meunyata

‘Abdul   Muthaleb  aneuk lhee blah droe,  ureueng lakoe bak meuhingga
Aneuk tuha nan ‘Abdullah,  keunan neukeubah Nur muliya
Pangkat leubeh beurani that,  dhoe meukilat Nur musthafa
Neu peukawen uleh ayah, tuwan ‘Abdullah gaseh raya

Yohmasa nyan jahiliyah, hana nikah tan agama
Neu peukawen ngon Aminah, tuka kupiyahle ayahnda
Aneuk Wahab tuwan Aminah, nanggroe Makkah asai mula
Bangsa saboh Rasulullah, meunan peuneugah dum ‘ulama

Lheueh meukawen ngon Aminah, Tuhan  pinah Nur muliya
Tuhan pinah Nur Muhammad,  ubak jasad nyang han leuta
Nishfu akhe ‘ilmu ? jeumot. Teungeut mangat hanatara
Aminah kandong  Nur Muhammad,  rasa mangat jeub anggauta

Tuhan buka pinto Jannah,  leubeh ……. Dalam donya
Pinto Syuruga lapan pangkat,  Malaikat  dum neubuka
Tuwan Aminah rupa jroh that, hu meukilat cahya muka
Soe nyang kalon mata ladat,  hireuen rakyat agam dara

Hantom  saket dalam mangat,  dalam niekmat rok-rok masa
Bak  neukandong han  keuna brat,  ngon mukjizat Nur Mustafa
Buleuen phon mume  Tuwan Aminah,  neu lumpoe leumah Adam teuka
Adam  kheunle bak Anminah,  Rasul Allah aneuk gata

Nabi Idris teuma leumah,  lumpoe Aminah bleuen keudua
Buleuen nyang keulhee Nabiyullah Noh, keunan u rumoh sang neuteuka
Buleuen keu  4  lumpoe Ibrahim,  Nabi nyang salim peudong agama
Limong buleuen troh Ismail,  sajan neume saboh haba

He Aminah ngo lon kheun kri,  panghulee Nabi gata bawa
Neu lumpoe Musa buleuen keunam, tujoh tapham Dawod teuka
Buleuen lapan Nabi Sulaiman,  sikureueng  tuwan Nabi ‘Isa
Jeueb-jeueb buleuen lumpoe meunan, Aminah yohnyan hae suka

Bak Aminah dum geupeusan,  nyo khabaran dum  Ambiya
‘Ohtee lahe aneuk teunyan,  Muhammad nan taboeh nama
Jeueb-jeueb Nabi meunan peuneusan,  that  sukaam hanatara
Hingga sampoe  9  buleuen,  Aminah kheun bak Rabbana

Neu tulong lon wahe Tuhan,  dumna buet nyan nibak gata
Aminah pilheueh neukheun meunan,  Asiah yohnyan katroh teuka
Teuka Maryam aneuk Imran,  Ma janjongan Nabi ‘Isa
Budiyadari dum troh keunan,  gantoe bidan   ureueng donya

Lingka Aminah seukalian, suroh Tuhan lam Syuruga
Malaikat dong meurumphan,  neu hantarkan sayeuep  sigra
Miseue tire pageue badan,  bek jeuet insan  kalon rupa
Jebra-I dinab, unun Mika-I,  budiyadari ban seulingka

Buleuen dua blah malam Seunanyan, Po janjongan pandang donya
Teubiet cahya sajan Nabi, Peungeuh sare ‘alam donya
Langet bumoe mangat hate, Nabi lahe dalam donya
Musyeb Mugreb peungeuh sare,  cahya Nabi leumah cuwaca

Patong kengkeueng habeh reule, dum sigala be jeueb2  donya
Sabab keunong cahya Nabi,  apui  Majusi len dum rata
Habeh susah raja kafe, patong hanle sigala donya
Langet bumoe pujoe Rabbi, bandua si hate suka

Ahlan wa sahlan dum dicae, mangat hate ‘alam donya
Ban sare lheueh lahe Nabi,  di Jebra-I sambot sigra
Malaikat le ngon Jebra-I, neume Nabi sagai donya
Langet bumoe neujak peulemah,  siseun naf’ah katroh neuba

Asoe donya dum ji eu sah, Nabiyullah Jebra-I ba
Neu peuwoe lom bak Aminah,  lheueh peuleumah asoe donya
Baksot bunoe Jebra-I keubah, that bit pantah hanatara
Neuboeh alat sileungkapan, malam Seulanyan yue Rabbana

Neuboeh tire rumboe intan,  seukalian habeh leungka
Calitra nyoe aneuk ‘Abdullah, deungo beusah he saudara
Sare nyata Rasulullah, Aminah yue peugah ubak raja
Bak ‘Abdul Muthaleb  neuyue peugah,  trohle pantah keunan sigra

Bak Muthaleb antusan s’ah,  kheun Aminah ji calitra
He Muthaleb ngo lon peugah,  Tuwan Aminah aneuk kana
Ureueng lakoe bri Potallah,  rupa ceudah hana ngon sa
Kulet badan sang meue meutah, cahya limpah sagai donya

Muthaleb ngo meunan peuneugah,  beudoh pantah neujak sigra
Ban sare troh bak Aminah,  cuco leumah neu eu rupa
Beu eu rupa that bit ceudah,  ban peuneugah tan meutuka
Muthaleb  duek pantah-pntah, Nabiyullah neucok sigra

Peuduek lam lumueng com diubon, cuco neu seuon ateueh jeumala
Ngon ie mata rhot meualon,  Nabi neu ugon neucom sigra
‘Abdul Muthaleb cuco neu phon, lom neu seuon lom neuwawa
Neu eu rupa hana lawan,  mise  intan mata dua

Muthaleb mat nibak badan,  that bee beewan gahru jeumpa
Pusat teukoh kalheueh khatan, malam Seulanyan pandang donya
Mata dua ceulak ka hase,  jroh han sabe ladat mata
Neucom manyak bee kasturi,  that beureuhi hate suka

Neu eu bibi ka meugrak-grak,  aneuk budak pujoe Asa
Neu peurab geulinyueng ubak babah,  neu deungo drah manyak kata
Meunoe neukheun uleh Nabi,  lafai  lon bri sajan makna
Allahummagh firly zunubi, lon ek haji jan  nyang  suka

Ya Tuhanku deungo kamoe,  lon kheun  jinoe ubak gata
Ngon sibeuna gata sidroe,  mukjizat Rasul ban sineuna
Beuta gaseh umat kamoe,  page dudoe lam Syuruga
Nibak salah beuneu ampon, umat ulon agam dara

Meunan do’a manyak lam hayon,  lakee ampon umat dumna
Muthaleb ngo meunan pujoe,  hana bagoe hate suka
Neu peuduek manyak lam lumueng droe, aneuk jaroe teukap sigra
Muthaleb pike teuma dudoe,  snyak cut nyoe that bahgiya

Peue alamat bak uroe nyoe, hana meunoe dilee nyangka
Manyak ban na jeuet meututo, do’a pile dum jikata
Lakee do’a dum keu umat,  Tuhan peuingat dalam dada
‘Abdul Muthaleb ‘ajeb akai,  hantok sagai neu bicara

Muthaleb beudoh pantah-pantah,  bak Baitullah neujak sigra
Sare troh bak pinto K’akbah,  pujoe Allah Tuhan Asa
Aneuk manyak neu peuthawaf, lingka K’akbah  Muthaleb ba
Abdul Muthaleb hate dahsyah,  pujoe Allah hana reuda

Ureueng laen sidroe pitan,  manyak sajan Muthaleb ba
Muthaleb kheun teuma nyoeban,  tango rakan  lon calitra
Shally  ‘alaikallahu ya  ‘Adnan,    ya Mustafa ya ‘afwatun  rahman
Meunan nekheun lafai sya-e, hingga  akhe  habeh baca

Tawaf pilheueh do’a hase,  Muthaleb woele teuma gisa
Troh Muthaleb woe u teumpat,  neuduek leugat bak seuninya
Trohle aneuk   teuma leugat,   geu meusapat   ube nyangna
Yohnyan Muthaleb musyawarat, neu meupakat ngon aneuknda

Neu  eu  aneuk ka meusaho, manyak neu bubo  sigra-sigra
Yohnyan   Muthaleb neu  meututo,  bak aneuk le neu calitra
Wahe aneuk deungo kamoe,  kukheun jinoe ubak gata
Le peue lon  eu   bak uroe nyoe,  hantom meunoe dilee nyangka

Mudah-mudahan lahe dudoe,  geutanyoe roe hantok bicara
Ku ji mate kumuen teunyoe, gata jinoe nyang peulahra
Gata  aneuk ureueng  meugah, kumuen tapapah ta usaha
Bek meusampe aneuk tan mbah, ‘Abdullah syeedara gata

Nyankeu aneuk ulon peugah,  wasiet ayah bek meutuka
Aneuk deungo khaba ayah,  dum geukeubah dalam dada
‘Abdul Mthaleb teutap kisah, ulon peugah laen haba
Kata Hamzah eumpunya rawi,  masa Nabi pandang donya

Nanggroe Mekkah bandum meunan,  malam Seulanyan saboh masa
Bandum manyak hana bidan, kudrat Tuhan beureukat Saidina
Peuet ploh manyak na simalam,  sajan janjongan pandang donya
Keuluwa manyak Nang han saket, sang geuceupet meunan rasa

Ngon mukjizat Nabi Muhammad, badan mangat jeueb2 anggauta
Nibak Nabi nan mukjizat, nan keuramat bak Aulia
‘Abdul Muthaleb ulon sambat, neu peusapat  aneuk  dumna
Muthaleb peugah teuma leugat, neu riwayat bak aneuknda

Wahe aneuk tango kamoe, cuco kunyoe ta peulara
Beuta satoh he aneuk droe,  malam uroe beuta jaga
Ma ji pitan, Du ka mate,  beu meusampe gaseh gata
Bek tadhot-dhot bek ta pake, gaseh sabe sampe raya

Jinoe tamita ureueng binoe,  simanyak nyoe yue peulara
Tayue  meumom cuco lon nyoe, upah jinoe brile gata
Aneuk deungo wasiet ayah,  dum geukeubah dalam dada
Neu beudohle pantah-pantah,  maseng leupah jak meumita

Hana jioh lom neulangkah, kheundak Allah dirot raya
Meuteumeungle ngon Halimah,  ban amanah han meutuka
Peue neu  tanyong jeuet neu peugah.  ubak ayah laju neuba
Bansare troh Siti Halimah, Muthaleb tangah yue duek sigra

‘Abdul Muthaleb neu amanah, bak Halimah neu calitra
Soenan gata Nyak meutuwah,  cuba peugah laju sigra
Ureueng binoe suot pantah, lon Halimah geuhoi nama
Muthaleb ngo meunan peuneugah, hate dahsyah dalam dada

Muthaleb kheun bak Halimah, nyoe amanah lon bak gata
Tatem peumom Nyak meutuwah, taseuleuah tapeulahra
Aneuk yatim ta seuleuah, tanle ayah deungon bunda
Cuco lon nyoe that meutuwah,  beugot tapapah tapeulara

Adat tatem that meutuwah,  Tuhan balaih neubri Syuruga
Beungoh seupot tapeumanoe, cuco kamoe that bahgiya
Ulon teu eu bak Sinyak nyoe,  le peue sinoe leumah tanda
Adat lahe uroe dudoe,  beurang kasoe bek peukhaba

Ta seumanoe geunab uroe, mangat asoe rijang raya
Beuta sayang  cuco kamoe,  Sinyak cut nyoe hanale Ma
Muthaleb wasiet dum sinaroe,  awai dudoe neu calitra
Siti Halimah kisah meuwoe, cok u jaroe  Manyak banna

Neu tingkuele teuma dudoe,  ngon ija droe kasab sutra
Kata he-he keudeh-keunoe,  hayon nyanyoe hana reuda
Ija tumpe nyang meusujoe,  jeuneh bagoe ija sutra
Ma Halimah neucok Nabi,  sit teubietle ngon ie mata

Badan Manyak bee kasturi,   dum beureuhi soe eu rupa
Teubiet cahya bak mata Nabi,   peungeuh sare  ‘alam donya
Yohnyan Halimah hireuen pike,  dalam hate kira-kira
Badan saket cit pulehle,  bandum sare jeueb anggeeta

Dum peunyaket habeh mate, luka kude gadoh sigra
Yohnyan Halimah ka teupike, neu maritle meunoe khaba
Bahle jinoe mom ulon bri, lon kalon hi pakri rupa
Ie mom katho bandua blah,  aneukku Hamzah mom bandua

Sare lon boeh mom lam babah,  teubiet limpah ie mom lanja
Nabi pitroe mom neu pinah, Siti Halimah khem teurtawa
Nabi teusinyom pujoe Allah,  cahya limpah meucuwaca
Siti Halimah hate dahsyah,  kheun sipatah meunoe khaba

Sinyak cut nyoe that meutuwah, gaseh Allah that keuhamba
Unun di Nabi wie di Hamzah,  ie mom limpah ka bandua
Masa dilee mom neu siblah, kheundak Allah ka jeuet dua
Siti Halimah  hate dahsyah, bandua blah mom neukana

Uroe malam neu seuleuah,   Nabiyullah neu peulahra
Meusiat hantom neukeubah,  lam neupapah beungoh sinja
Rupa Nabi sangat indah, sang siulah bungong jeumpa
Kulet puteh jampu mirah,  badan ceudah sang geu upa

Oek diulee jroh that hilam,  ta eu hitam miseue baja
Tuboeh Nabi peurteungahan, kulet badan bungong jeumpa
Meunan tamse bak teuladan,   meuribee ban leubeh  ganda
Mata dua miseue intan,  hana  lawan ngon tapeusa

Barangri rumoh na janjongan, panyot sinan hana guna
Muka Nabi sang buleuen  trang,  soe nyang pandang labui mata
Badan ceudah jroh meutrieng blang,  raya u manyang keumang u dada
Takue Nabi ban geutuwang, badan seudang han that raya

Bulee keuneng buleuen siuroe, kilat gigoe  dum  peurmata
Teusinyom Nabi leumah gigoe, hireuen laloe ladat mata
Neucok langkah jroh meualon, sang bakat tron meulumba-lumba
Neutiek aleh leumah-leumbot,  sang angen pot cabeueng  keureuma

Cahya Nabi ulon seubut, lon boeh bacut he saudara
Adat malam hanpeue panyot, tae u blet-blot cahya muka
Seb ngon cahya Rasulullah, peungeuh limpah sigai  donya
Sifeuet Nabi han ek peugah, akai dahsyah ngon bicara

Teutap siat keu Halimah, ulon pinah laen teuma
Nabi rayek ho siuroe, Tuhan sidroe nyang peulara
Umu nam thon Nabi sampoe,  na 40 droe sahbat kana
Sabe2   ban 40 droe,  na siuroe pandang donya

‘Abdul Muthaleb kisah meuwoe, tango adoe lon calitra
Neuhoi aneuk dum sinaroe,  keunan sampoe bak ayahnda
‘Abdul Muthaleb neukheun meunoe,  tango kamoe bandum gata
Kadang mate ulon jinoe, wasiet  lon  nyoe bek talupa

Wahe aneuk lon hareutoe, beurang  kasoe mawot teuka
Wahe aneuk lon peurunoe,  kumuen teunyoe  tapeulara
Bek tadhot-dhot cuco lon nyoe,   wasiet  kamoe bandum gata
Hana gundah ulon sidroe,  nyawong jiwoe bak Rabbana

Nyang  teuingat ulon teunyoe,  cuco kamoe soe peulara
Ulon aneuk karab mate,  hana treble bijeh mata
Beurang kasoe pisit mate,  walau Nabi Rasul Rabbana
Kullu nafsin   zaikatul mauti, firman Rabbi  nyang peunyata

Nyang meunyawong bandum mate, barang soele got Ambiya
‘Abdul Mthaeb meunan syawe,  ie mata ile taloe muka
Ulon aneuk karab mate, Tuhan peucre dalam donya
Cuco lon nyoe keusoe lon bri, cuba kheunkri bandum gata

Hamzah deungo tuto Abi,  jaweueb neubri keu ayahnda
Wahe ayah bek that kiroh, kamoe tujoh aneuk gata
Bek tagundah Muhammad saboh, kamoe jroh2  meujaga
Uroe malam ulon satoh,  hanjeuet gadoh sikleb mata

Kamoe hiro kumuen lon nyan,  di janjongan bek that duka
Ija  bajee ngon peukayan,  ulontuwan nyang usaha
Bek that susah di janjongan, dum makanan ulon kira
Saidina Hamzah neukheun meunan,  Muthaleb yohnyan  seuot sigra

Bek bak gata cuco lon nyoe, digata han  jan takira
Gata aneuk that phalawan, keumuen hanjan ta usaha
Gata lale sajan rakan, toh pakriban  ta peulahra
‘Abdul Muthaleb neukheun meunan,  Hamzah yohnyan  hanle khaba

‘Oh neu pike nyobit meunan, meutuka han kheun ayahnda
Teuduek tahe tuwan Hamzah, seuot ‘Abbas meunoe haba
Bahle bak lon wahe ayah, bek that susah he Du raja
Bahlon hiro Du meutuwah, gata peugah ulon kira

Ija bajee ngon kupiyah, hana suwah gob bicara
Bak  lontuwan dumpeue mudah, bekle susah he ayahnda
Meunan neukheun tuwan ‘Abbas, Muthaleb pantah jaweueb sigra
Bek bak gata nyak meutuwah, gata sosah maniyaga

Gata aneuk ta meukeude, le peue lale kira mira
Gata kaya tan padoli, hana lon bri ta peulara
‘Abdul Muthaleb meunan syawe,  ‘Abbas iemle hana khaba
Teuduek ‘Abbas beudoh adoe,  seun2  sidroe lakee peulara

Mama Nabi dum sinaroe,  teutap iem droe hanle khaba
Abu Thaleb seuot meunoe,  sira neumoe  meusuwara
Wahe ayah bri bak kamoe, kumuen lon nyoe kupeulara
Tan buet laen ulon teunyoe,  sabab kamoe gasien raya

Ulon jaga Muhammad sidroe, malam uroe lon usaha
Abu Thaleb meunan kheun proe,  bak ayah droe neu peukhaba
‘Abdul Muthaleb neukheun meunoe, cuco lon nyoe jeuet bak gata
Neumat Muhammad nibak jaroe, Muthaleb kheun proe bak aneuknda

Ku peusan bak gata Abu Thaleb,  cucoku wajeb ta peulara
Bekta  poh2  bekta let2,   adat saket ta usaha
Adat ji meu’en ngon aneukmiet, bek jicutiet bek jitampa
Meunan wasiet ‘Abdul Muthaleb,  moe meureb-reb ngon ie mata

Abu Thaleb jaweueb neubri,  wahe Abi bek that duka
Han lon ubah ban nyang janji,  han meu ungki he ayahda
Abu thaleb sambot Nabi,  that beureuhi hate suka
‘Abdul Muthaleh lheueh nyan neumoe, ri geumanoe ro ie mata

Neucok Nabi neucom bak dhoe,  hana bagoe hate luka
Aneuk lingka dum sinaroe, ceupet asoe hana reuda
Peusan pilheueh janji kaseb,  moe meureb-reb aneuk lingka
Lheueh nibak nyan meutamah saket,  ‘Abdul Muthaleb that nadeu’a

Aneuk bandum seukaliyan, sinan sajan agam dara
Malaikat mawot katroh keunan, geucok yohnyan nyawong sigra
Nyawong geuba ubak Tuhan,  tinggai badan eh teurhanta
Geuseumanoe boh lam gafan,  aneuk sajan lakee do’a

Lheueh geutanom rakyat jiwoe, tinggai sidroe lam kheureunda
Hana panyang ulon peugah, takot salah jeuet keu deesya
Geukhanduri  bri seudeukah, ureueng ziyarah le that teuka
‘Abdul Muthaleb dalam kubah,  teutap kisah saboh khaba

Yoh masanyan jahiliyah,  hanban peurintah buet agama
Laila haillallah, Muthaleb sah asoe syuruga
Nabi Muhammad neu gaseh that,  Tuhan Hadharat ampon deesya
;Abdullah ka dilee mate,  gohlom Nabi pandang donya

Peuet ploh uroe umu Nabi,  wafeuet Siti tinggai donya
Tuwan Aminah pihka mate, gohlom lahe buet agama
Na tujoh thon umu Nabi,  mate Nini Muthaleb nama
Abu Thaleb  peulara Nabi,  ayah ‘Ali nyang Murtadla

Jinoe   uroe Satu, 25 Buleuen Puwasa 1434, baro  ‘etnoe ( baro trok 20 on naskah asli  atawa 20 halaman cit lam huruf Laten)   lheueh lon salen Hikayat Abu Jeuhai nibak  harah Jawoe  keu harah Laten. Hikayat nyoe geupeutaba  ngon geuyue salenle  Medya Hus  watee lon jak ngon Amal u rumoh  droeneuh nyan di Cot Buklat,   hana treb yoh goh  buleuen Puwasa nyoe. Le that  ‘rangkeum’ lam usaha lon seumalen hikayat nyoe, nyangka lon mulayi bak  3 Ramadhan 1434  H/12 Juli 2013 M.  Aleh wab  reumatik jaroe, ‘oh lon keutik rijang saket-singke aneuk jaroe ban dua blah jaroe. Baro meu  4 bareh lon keutik, ditunyum  laju singke le aneuk jaroe. Padahai jinoe lon mengetik ngon komputer, aleh sang meunye  ngon mesin Tik  lagee awai  hanjeuet sagaile!?. Lon peugot catatan nyoe, seubab bak: Sabtu, 25 Ramadhan  1434 H ( 3 Agustus 2013 M), yakni hari ini adalah dalam rangka mengenang atau Ultah ke 29   kecelakaan di jalan raya yang saya alami di Yogyakarta. Naas itu terjadi hari Sabtu, 25 Ramadhan 1405  (15 Juni 1985 ) sekitar pukul 13.00 wib di wilayah Kalasan, lk 8 km sebelah timur kota Yogyakarta.  Pada hari itu, kami mahasiswa peserta KKN-UGM dijemput pulang ke kampus setelah melaksanakan tugas Kuliah Kerja Nyata selama dua bulan lebih. Saya sendiri, T. Abdullah Sulaiman  beserta empat orang teman lainnnya ditugaskan di desa Guli, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Selesai acara perpisahan dengan “Pemda Kabupaten di Boyolali” konvoi mahasiswa KKN-UGM bergerak pulang ke Kampus UGM Yogyakarta.  Setelah melintasi Candi Prambanan peristiwa naas itu terjadi. Sebuah mobil Colt pengangkut barang  tivi tiba-tiba menabrak saya.  Akibatnya, saya  perlu berobat dua tahun, secara medis di kota dan tabib patah di gunung. Nyaris skripsi tak selesai. Syukur Alhamdulillah, semua hambatan itu teratasi juwa akhirnya. Semoga kedepan rahmat dan karunia Allah Swt semakin berlimpah dicucurkan kepada saya sekeluarga serta bagi kaum Muslimin-Muslimat  ban Sigom Donya!. Selamat Menyambut Hari Raya ‘Idul Fitri 1434 H, mohon-maaf   lahir dan bathin!!!.

Bale Tambeh,  25 Puwasa 1434
25 Ramadhan  1434 H
3 Agustus 2013 M
( T.A. Sakti )

Neugaseh that hana sakri, wasiet  Abi tan meuriba
Dua blah thon umu Nabi, that beureuhi cahya muka
Sifeuet that jroh bangsa leubeh, lidah faseh hana tara
Su mangat that narit mameh, hantom beungeh taeu muka

Ulon seubut sifeuet Muhammad, soe nyang ingat that bahgiya
Geulunyueng dua bak ibrat, bak beureukat neu peujeuet keupala
Bibi teuseubeh lidah zike,  sinan hase Tuhan peuna
Bahsa ‘Arab Nur keumari,  cahya Nabi buleuen purnama

Hate nurani nyawong rahmani, panghulee Nabi  jroh lagoina
Soe tumei mat jaroe Nabi, bee kasturi bee syuruga
Pruet eleumee bulee badan,  mangat beewan hanatara
Cahya muka miseue intan,  cahya badan sang meutiya

Bulee timoh nibak badan,  beeji naban gahru jeumpa
Naleueng Syuruga oek di ulee, mangat that bee nibak ‘atha
Rupa that jroh hana lagee, buleuen reudee cahya muka
Bungong lawang hate ikhlas, badan ceudah sang geuteumpa

Rupa Nabi sangat indah, bibi mirah sang keuseumba
Teumpat lahe Neu di Mekkah, meunan peuneugah dum ulama
Mama Nabi Saidina Hamzah,  Tuwan ‘Abdullah nan  Ayahnda
Bunda Nabi Tuwan Aminah,  Siti Halimah nyang peulara

Hidong manyang peurteungahan,  bee janjongan gahru jeumpa
Paleuet jaroe jroh meukulam, oek neu hitam miseue baja
Badan sihat bee pi mangat, Nabi Muhammad panghulee kita
Na peuet ploh droe kana sahbat, neu gaseh that hanatara

Bee kasturi bee Muhammad, narit mangat miseue saka
Uroe malam bee meukeumat, Malaikat dum seureuta
Aneuk yatim ‘oh meuteumei, neu gusuek diulee ngon tangannya
Neugaseh that hana lagee,  peue jilakee neu karonya

Soe na grah tapeugah droe, neu keubah jaroe ateueh dada
Grah pi gadoh pruet pi katroe, niekmat sampoe jeueb anggouta
Aneuk jaroe miseue sungoe, paleuet jaroe laot raya
Jaroe murah Nabi geutanyoe, barang kasoe mameh muka

Sampoh jaroe jeuet keu ubat, ie babah jeuet keu peunawa
Dum  peunyaket gadoh siat,  peue nyang hajat sampoe pinta
Teubiet reuoh nibak badan, hase tuwan  dum peukara
Ngon bee nafaih bee keumunyan, jampu sajan  bee  komkomma

Sifeuet Nabi han ek simpan, mit na jalan lon peunyata
Bak sireutoih lon  boh saboh, meubek gadoh kira-kira
Sifeuet Nabi han ek teuoh, bandun jroh-jroh tan upama
Saboh khaba ‘ohnoe outoh, laen lon boeh he saudara

La ila haillallah, sangat indah sifeuet Mustafa
Maulod Nabi nanggroe Makkah, ureueng ziyarah  keunan teuka
Imum Syafi’I nyang beuet kisah, Rasulullah geucalitra
Soe khanduri raya faidah, Tuhan balaih page Syuruga

( Catatan: 11 bait setelah Ultah ke 29 tahun di atas, mulai saya salin sekitar jam 11.00 pada hari Senin, 24 Beurapet 1434 alias 24 Zulqaidah 1434 H alias 30 September 2013 M, poh 9.51 mlm, T.A. Sakti ).

Rabiul Awai uroe dua blaih, nanggroe Makkah nyang keureuja
Geutueng beureukat geujak ziyarah, nanggroe Makkah teumpat Bunda
Bak uroe nyoe geubuka Kakbah, Rasulullah pandang donya
Geubeuet kisah Maulod Nabi, salen geubri nibak raja

Niet  ta syuko Nabi lahe, galak hate galak suka
Lahe baten na khanduri, hate suci bekna riba
Soe kanduri ikhlas hate, uroe page lam Syuruga
Lam buleuen nyan  takhanduri, Imum Sayuthi nyang calitra

Kanduri Maulod soe na hajat, pileh teumpat nyang utama
Bid’ah hasanah bukon siat, Syiah mufakat Ibnu Hajar
Lahe baten  seukalian,  dum nibak nyan niekmat teuka
Adat han hase nyan disinan, lam buleuen nyan takeureuja

Kata ulama siteungoh kheun,  barang ri buleuen pi neu ridha
Peue nyang mudah nyan ta makeuen, sithon siseuen ta keureuja
Hasyiqah Tuhfah(                        ) Ibnu Hasyim, kalon Polem bek syok sangka
Sithon siblet ta peulazem, awai musem ta keureuja

Soe kanduri ji peukayem, nyan hai Dalem meubahgiya
Hafith Nashiruddin, beuta yakin bek syok sangka
Meunan geukheun dalam Kitab,  Abu Lahab kureueng syeksa
‘Oh troih gantoe uroe Seunanyan, beurang kajan na seureuta

Sabab neu syuko lahe Muhammad,  sidroe namiet neu peumeurdeka
Buleuen duablah uroe Seunanyan, sabe meunan neupeu meurdeka
Sabab suka keu janjongan, ‘azeueb neuhan that geusyeksa
Lam Nuraka beurang kajan, ‘azeueb taulan na cit reuda

Nyan dum balaih ureueng kafe, mukmin  pakri Babul aula
Kata rawi poriwayat, tango sahbat lon calitra
Di nanggrpe Meuse ureueng sidroe, ureueng lakoe that taqwa
Rabiul awai dua blah uroe,  ‘oh troih gantoe geukeureuja

Kanduri maulod gobnyan sidroe,  Nabi geupujoe seulaweuet geuba
Toe rumoh nyan ureueng kafe,  biek Yahudi umat Musa
Bak siuroe Tuhan neubri, jeum teukeudi bak Rabbana
Jikalon ureueng kanduri,  pujoe Nabi geubeuet do’a

Meuwoe kisah keu Yahudi,  ngo lon rawi he syeedara
Tanyong inong ubak lakoe, meunoe bagoe ji pareksa
Wahe judo tango kamoe, ulon teunyoe tanyong khaba
Ureueng Islam rab geutanyoe, lone u bunoe sang geukeurija

Ji kanduri bunoe uroe, peue jipujoe nyang that raya
‘Oh trok bak thon lam buleun nyoe,  sabe meunoe ji keurija
Dalam lumpoe meunan leumah, sang ji seumah Nabi kita
Inong Yahudi that meutuwah, pujoe Allah lam rahsiya

Awai kafe Islam dudoe, dalam lumpoe Syahadat jiba
Teugoh janji ureueng binoe, dalam lumpoe ngon Allah Ta’ala
Lheueh neu wasiet dum sinaroe, Nabi neuwoe jih pih jaga
Ban teukeujot bak meulumpoe, mata uroe  ka teurpanca

Ji beudohle ban dua droe,  deungon lakoe  sigra jaga
Jitron u yub teuma dudoe, mata uroe pika jula
Rupa Nabi ji eu lam lumpoe, hate teugoe-goe syuko jiba
Teuduek inong kisah lakoe,  tango adoe lon calitra

Sigra  dua ji meulumpoe, Tuhan sidroe bri rahsiya
Hingga beungohle ngon uroe,  buka putoe sigra-sigra
Bri seudeukah di Polakoe, hana bagoe hate suka
Dum makanan ka jijak bloe,  ureueng nanggroe ji seuranta

Tanyong inong ubak lakoe,  meunoe bagoe ji pareksa
Peue kanduri bak uroe nyoe,  hantom meunoe dilee nyangka
Teungku peugah ubak kamoe, kanduri nyoe  keupeue guna
Peue makeusud peugah jinoe, ubak kamoe neu calitra

Inong tanyong awai dudoe, seuot lakoe meunoe khaba
Wahe judo nyang sambinoe, buklam kamoe na rahsiya
Nabi Muhammad ulon lumpoe, Tuhan sidroe nyang peunyata
Nanggroe Makkah neujak keunoe, bak geutanyoe neu peuteuka

Rupa jroh that hana bagoe, that samlakoe hanatara
Ku Iseulam ulon sidroe, dalam lumpoe meunan rasa
Lon meusyahadat dalam lumpoe,  lon mat jaroe Nabi kita
Lheueh Islam ulon sidroe,  Nabi neuwoe lon pi jaga

Nyan meukeusud  kanduri nyoe,  sabab kamoe masok agama
Rabiul awai dua blaih uroe,  troih bak gantoe jinoe kutika
Kanduri Maulod Nabi kheun proe,  bak lon sidroe neu calitra
Soehan  kanduri beurang kasoe,  uroe dudoe jih geusyeksa

Meunan Nabi kheun bak kamoe,  ulon teunyoe ku peucaya
Iman teugoh ulon  teunyoe, kalheueh bunoe masok  agama
Ban jidengo kheun Polakoe,  teukab jaroe di Podara
Teuma seuot ureueng binoe,  ulon teunyoe hireuen raya

Dilon buklam ku meulumpo, mureh uroe teubiet faja
Nabi Muhammad neujak keunoe, deungon kamoe peugah haba
Ruoa iloek that samlakoe,  jroh that bagoe hanatara
Ka meutuwah ulon sidroe, roh lam jaroe Meukuta donya

Ku meusyahdat dalam lumpoe,  hate teugoe-goe keu agama
Ku Iseulam ulon teunyoe, ‘ohlheueh kamoe teuma gata
Inong Yahaudi  meunan  hareutoe, ubak lakoe ji calitra
Masok Islam bandua droe, dalam lumpoe lam rahsiya

Mangat hate hana bagoe, bandua droe masok agama
Lheueh Iseulam inong Yahudi, ji kanduri lakee do;a
Mangat hate hana sakri, bandua si sama-sama
Nyankeu  indah  ta khanduri. Teuka Nabi bak rumoh gata

Soe kanduri ikhlas hate,  uroe page lam Syuruga
Leumah lumpoe inong Yahudi, Tuhan neubri masok agama
Tueng ‘ibarat he ya akhi, beurang kari agam dara
Habeh ‘ohnoe haba Yahudi,  ngo  lon rawi laen punca

Lailaha iliallah, pujoe Allah bek talupa
Muhammadur Rasulullah, kheun dibabah bek na reuda
Pasai nyang phon ‘ohnoe sudah, ulon peugah pasai dua
Nabi  geutanyoe neu meubantah, neu meureupah deungon apa

Ngon Abu Juhai neu meureupah, meunan kisah dum ulama
Yohmasa nyan jahiliyah, Nabiyullah gohlom raya
Raja Husyam ulon peugah,  nanggroe Mekkah sinan raja
Abu Jeuhai nyankeu ayah,  raja meugah hanatara

Rakyat rame nanggroe luah, kaya limpah le areuta
Raja Habsyah*)  teutap kisah,  Nabiyullah lom meugisa
Lailaha illallah, sidroe Allah nyang kuasa
Dua blah thon umu Nabi, goh soe turi nyoe Ambia

Muhammad  yatim nan geurasi,  gohlom Nabi peudong agama
Aneuk miet dum jeuet keurakan, nyang na sajan saboh masa
Na peuet ploh droe bak bilangan,  lam nanggroe nyan ban seulingka
Umu santeuet muda saban,  jroh lakuan saban rupa

Sabe-sabe ngon janjongan, ban  40 nyan Muhammad nama
Neu gaseh that nyan keurakan, sa pakaian saban rupa
Kupiyah iloek? Ngui janjongan,  bandum meunan sama-sama
Ija meukasab keu syuruban,  hana lawan ngon tapeusa

Buleuen purnama nintang sajan, keu piasan langet donya
Rakan 40 saban-saban,  ban lakuan sang saboh Ma
‘Oh jeuet Mukim  keu jamaah,  ngon Muhammad na 41
‘Oh watee beungoh ka meusapat,  seupot meuhat woe u tangga

Jak meusaho duek meusapat,  ho Muhammad keunan teuka
Tuto narit bri nasihat,  neu yue taat keu Rabbana
Hana tom cre pi meungsiat, peuet ploh sahbat sang saboh Ma
Jak meuron-ron ngon Muhammad,  hate mangat sahbat dumna

Muhammad jak Jabal Kubes, sabe keudeh ubak Apa
Rakan  40 that neu gaseh,  bandum habeh  sajan neuba
Nabi peurunoe ngon kalimah, neu amanah buet agama
Lailaha illallah, sidroe Allah nyang kuasa
Muhammad Rasulullah, kheun dibabah bek talupa

Bitpi hana lom tron wahi,  tuto Nabi dum sibeuna
Rakan 40 Tuhan neubri, hantom seu-i   sabe teuga
Sabe-sabe deungon Nabi,  that juhari taeu rupa
Uroe geujak malam geuwoe, maseng bak droe rumoh tangga

Kheundak Tuhan bak siuroe, rakan 40 droe ji meukhaba
He Muhammad deungo jinoe, dumna kamoe gaseh keu gata
Sajan gata malam uroe, kamoe 40 droe  jarak hana
Kamoe pakat bak siseun nyoe,  gata jinoe  meuboeh  raja

Sabab gata jroh peurangoe, bandum kamoe hate suka
Meunan geukheun dum sinaroe, ban 40 droe saban hba
Dua blah thon umu sampoe, kaseb ragoe dum bicara
Ban 40 droe saban peugah, Nabiyullah geuboh raja

Nabi deungo meunan seumbah, kabui  pantah neutem ridha
‘Oh lheueh bai’at geumeu sumpah,  nabiyullah geuboh raja
Nabi keuraja taulan keu rakyat,  sapeue pakat ban 41
‘Oh sare lheueh geutueng bi’at, Nabi Muhammad boeh keuraja

Rakan 40 hate mangat, ka seulamat nibak bahya
Ateueh gunong Jabal Kubes, bi’at sideh sabe muda
Nabi Muhammad that geumaseh, kawom wareh that muliya
Ureueng laen hansoe tuban, sidroe Tuhan thee sibeuna

Sidroe raja 40 rakan,  muda saban sang saboh Ma
Sabe-sabe ngon janjongan, ban 40 nyan saboh  nama
Sidroe Nabi 40 rakan, sa pakaian saban rupa
Kisah Nabi teutap ‘ohnan,  nyoe kurangan laen haba

Bukon sayang bungong karah,  rupa ceudah hanatara
Ajayib subhanallah, ngo lon kisah sidroe raja
Jeueb2  nanggroe meusyuhu meugah,  Kaya limpah hanatara
Neu kheurajeun nanggroe Mekkah, that barullah ngon areuta

Rakyat rame nanggroe luah,  troh u Jeudah droeneu raja
Yoh masa nyan jahiliyah, bandum seumbah patong beurahla
Raja Husyam nan Sulotan, meunan rakan gob peukhaba
Masa kheurajeuen raja Husyam, agama Islam gohlom nyata

Seumah patong uroe malam,  nyan dikhadam jeueb2 raja
Nam blah raja dalam reugam,  raja Husyam nyan nyang raya
Aneuk raja pina sidroe, ureueng lakoe Tuhan karonya
Rupa hibat hana bagoe,  dalam nanggroe meunan hana

Ngon beurani kuat hansoe,  that peungaroe ilok rupa
Kulet puteh that samlakoe,  hana bagoe hibat rupa
Peukayan hu nibak  asoe, intan pudoe ngon meutiya
Ek jime brat siribee katoe,  dum siploh droe phalawan teuga

Hansoe lawan jeueb2  nanggroe, that seureuloe aneuk raja
Na peuet reutoih rakan sajan,  nyang pilihan kaya-kaya
Umu santeuet rupa saban,  sa pakaiyan saban muda
Kulah kama tampok intan,  syuruban meusuri wangga

Ban 400 sa pakaiyan,  saban-saban deungon raja
Soe nyang kalon that sukaan,  keu rakan ji gaseh raya
Permanyenan ngon piasan,  han sapeue tan aneuk raja
Peukaiyan hu nibak badan, meueh ngon intan dum  peurmata

Ban 400 saban-saban,  sa pakaiyan brile raja
Jijak meu’en dalam nanggroe,  400 droe rakan jiba
Beungoh jijak seupot jiwoe,  geunap uroe meudi wangga
Saboh Bale lam meuligoe,  teumpat duek droe aneuk raja

Limong blah thon umu sampoe,  geunap uroe meu’en guda
Nama geuhoi Abu Juhai,  sangat bubai bak agama
Mantong muda teungoh dai-dai, gohna akai ngon bicara
Teutap siat Abu Juhai, ubak asai lon peugisa

Ulon seubut Nabi Muhammad,  beuta ingat he syaudara
Rakan 40 kalheueh bi’at, neu amanat keu agama
Nabi raja rakan rakyat,  nyang mupakat bak bicara
Bak siuroe neu beurangkat, deungon rakyat 40 neuba

Nabi neujak padang Ibthah, padang luah hanatara
Keunan meuneu’en ureueng Mekkah, bak Ibthah padang raya
Antara Mina deungon Makkah, teumpat Ibthah neu calitra
Raja-raja  uleebalang, dum sibarang keunan teuka

Teumpat meu’en nyang geulanggang, sabab padang luah raya
Piasan le dum sibarang, tambo geundrang keunan geuba
‘Ohtee beungoh geumeusapat, seupot meuhat  dum geugisa
Makna Ibthah nama teumpat, nyang luah that pahok(        ) raya
Ureue Haji dum geutupat,  jinoe meuhat geuboh nama

Makkah jarak ngon Mina toe, rotdeh rotnoe gunong dua
Keunan meusapat ureueng nanggroe,  dum sinaroe gasien kaya
Beungoh geujak seupot geuwoe, bak teumpat droe maseng jeumba
Nabi geujak bak siuroe,  ngon 40 droe sajan neuba

Ban sare troih keunan Nabi,  meureumpokle aneuk raja
Abu Jeuhai kalon Nabi, teuka beunci  dalam dada
Dijih jiduek ateueh kurusi, wet-wet gaki aneuk raja
Keudeh mata ateueh Nabi,  jikalon ci pakri rupa

Ji eu hana hormat neubri,  beungeh sang ri rimueng Beungga
Abu Juhai ateueh kurusi, di Nabi hana neu sapa
Ji eu hana neu  padoli, teuka beunci aneuk raja
Ka jitroh dam dalam hate, hana lahe  nyan u luwa

Nabi laloe neumeu dike, hate hadle keu Rabbana
Geunap uroe meunan sabe, saket hate aneuk raja
Neujak neuwoe rotnan sabe, neumeu zike raya-raya
Abu Juhai saket hate, leumah pike dalam dada

Ubak rakan ji peugahle, meunoe syawe aneuk raja
Wahe sahbat ngo lon lahe,  pakri pike nibak gata
Muhammad yatim jinoe pakri, tan padoli kamoe raja
Ulon sidroe tan jituri,  hana jibri hormat mulia

Keujih sidroe that ku banci, jinoe pakri nibak gata
Jijqk jiwoe rotnoe sabe, ji meudike raya raya
‘Ohtee beungoh jijak u gle, rotnoe sabe ‘oh jigisa
‘Ohtee jijak jihoi sare, ji meuzike rot leuen raja

Tan ji ingat Ma ji tanle, dijih sabe seu-u raya
‘Ohtee jijak singoh u gle, jih tapake uleh gata
Rot leuen kamoe bek dijakle, ji meudike kiroh raya
Meuhan jipateh tapoh mate, bandum sare ban  41

Abu jeuhai  meunan syawe, ji seuotle rakan dumna
Ampon daulat po dikamoe, narit jaknyoe sabet beuna
Muhammad han taklok keunoe, pike kamoe laen kira
Dijih laen meupeurangoe, agama nyoe han jiridla

Meunan pike nibak kamoe, hantom keunoe na jiteuka
Han ji taklok bak geutanyoe, laen peurangoe yatim tan Ma
Beungoh jijak seupot jiwoe,  na 40 droe rakan geuna
‘Ohtroih baklon leuen meuligoe, pok-prok jaroe ji peusuara

Ji peukiroh jijak jiwoe, hanthee kudroe yatim tan Ma
Bale tapoh singoh uroe, taboeh taloe dum sineuna
Meuta lurong tuwanku droe, ache dudoe jeuet jih raja
Nyang got tapoh laju jinoe, pike kamoe meunan gura

Muhammad laen peurangoe, ban laku nyoe lone u rupa
Meunan khaba dum sinaroe, ji hareutoe ubak raja
Abu Juhai teutap iem droe,  duek teupipoe ateueh keuta
Hingga seupotle ngon uroe, pakat sampoe putoih khaba

Abu Jeuhai lon hareutoe, u meuligoe jiek sigra
Deungon rakan dum sinaroe, sajan ngon droe aneuk raja
Abu Juhai teutap ‘ohnoe, Nabi geutanyoe lon calitra
Hingga beungohle ngon uroe,  rakan 40 droe keunan teuka

Cabeueng kheureuma sikrak sidroe,  mat dijaroe bandum rata
Rot leuen raja neujak neuwoe, geunap uroe hana reuda
Nabi neujak ngon rakan droe, hingga sampoe padang raya
Teutap Nabi siat ‘ohnoe, lon kisah nyoe aneuk raja

Abu Jahai lon hareutoe, beungoh uroe beudoh sigra
Ngui peukayan dum u asoe,  intan pudoe ngon mutiya
Deungon rakan 400 droe, di jaroe alat dum rata
Ji meujak poh Nabi Muhammad,  meunan ingat aneuk raja

Padang Ibtah dijak leugat,  ubak teumpat luwah raya
Na 400 jiba rakyat, saban kuat aneuk raja
Mat dijaroe bandum alat, ladom tungkat ladom cokma
Ban 400 saban kuat,  rupa hibat hanatara

Ban sare troih ubak teumpat, surak leugat aneuk raja
Bandum seu-u taeu rakyat, ji lumpat ji lila lila
Lon peuriwang Nabi Muhammad,  neupeu ingat bak ngon neuba
Tango kamoe wahe sahbat, dong beusapat bandum gata

Bekta takot raja bangsat, Tuhan Hadlarat soe peulara
Beudoih lawan laju leugat, poh ngon tungkat cabeueng khurma
Ta peujok droe bak Hadlarat, sidroe kudrat nyang kuwasa
Teulheueh wasiet ngon amanat, Nabi Muhammad beudoh ngaza

Rakan 40 beudoh leugat,  jak meusapat santeut banja
Abu Jeuhai ‘alaihi laknat,  prang Muhammad Keumala Donya
Padang Ibtah nyang luah that,  nyankeu teumpat prang Maulana
Ji deumpekle bandum rakyat, geu ek leugat laju teuma

Bandua ho ka meusapat, poh ngon tungkat cabeueng kurma
Abu Jeuhai beungeh jithat, ji lumpat na limong deupa
Jisuet peudeueng teuma leugat, jicang sahbat Nabi kita
‘Oh jitak ka meulipat, peudeueng meuhat patah dua

Deungon tulong Tuhan Hadlarat, bandum sahbat han binasa
Bandum seu-u beurani that, ngon kuat meuteumeung teuga
Yohnyan beungeh bandum sahbat,  geupoh leugat rakan raja
Ladom mate keunong tungkat, ladom rakyat reuloh jungka

Bandua ho geumeu tak tak,  deumpek surak hana reuda
Ladom asoe jihka pipak,  teuntang utak darah teupanca
Sahbat Nabi hana rusak, Ilahon haq nyang peulara
Bandum seu-u hate galak,  laju geutak lam kawan raja

Abu Juhai hate palak,  rakan rusak bandum rata
Ladom luka bak tangkurak, ladom utak beukah dua
Patah teuot han jeuet jijak, ladom pipak asoe luka
Ban 400 rata rusak, hate palak aneuk raja

Deungon tulong sidroe Tuhan, han jipaban tukri daya
Kateumakot bandum rakan, yo ngon badan miseue geumpa
Abu Jeuhai susah hanban, han ek lawan ‘oh jikira
Ji surotle bandum rakan, beungeh hanban aneuk raja

Han ekle theun saket badan, bandum rakan ka jiguda
Ban 400 jiplueng yohnyan, sidroe pihan na jigisa
Sahbat Nabi kalon meunan, geulet yohnyan lagee raya
Geusurakle  seukalian, geulet rakan aneuk raja

Sahbat Nabi that sukaan, pujoe Tuhan hana reuda
Abu Juhai lon peugah ban,  sajan akan aneuk raja
Dalam kuta jiplueng yohnyan, ngon janjongan tinggai diluwa
Abu Jeuhai teutap ‘ohnan,  lon karangan Nabi kita

Bandum sahbat hate mangat, ka seulamat nibak mara
‘Oh leupah woe raja laknat, Nabi Muhammad teuma gisa
Deungon rakan bandum sahbat,  troih u teumpat dilee nyangka
Nabi piyoh teuma leugat,  bandum rakyat hek lagoina

Ban 41 duek meusapat, sidroe sahbat buka haba
Kamoe lakee ya Muhammad,  makanan mangat nibak gata
Neubri piyoh kamoe siat,  sabab hek that deuek meuraya
Ban Nabi ngo khaba sahbat,  beudoh leugat sigra sigra

Nabi jakle bak ‘Atikah, seureuta limpah ngon ie mata
Meunoe sabda Nabi Allah, peue na mudah wahe Mama
Rakan ulon bandum payah, deuek deungon grah silagoina
Neubri makanan peue na mudah, neu seuleuah wahe Mama

Meunan neukheu Nabiyullah,  tuwan ‘Atikah moe meu’a’a
‘Atikah com Nabiyullah,  sare limpah ngon ie mata
Ulee Nabi bak dada ‘Atikah, ingat keu Ayah deungon Bunda
Droe neu mate aneuk neukeubah, tan bube drah na areuta

Meunoe neu kheunle ‘Atikah,  ile limpah ngon ie mata
Allah Allah hu ya Allah,  ban peurintah Po lon gata
Nyang pat laen tan lon peugah, gata nyang sah amat kaya
Keumuen lon deuek hanpeue lonbri, he ya Rabbi putoih asa

‘Atikah com ulee Nabi, hana sakri neumoe  rugha
Sira neumoe  neu meurawe, ‘Atikah kheunle meunoe khaba
Wahe aneuk jantong hate, bungong pade kumuen raja
Makanan tan peuekeu lon bri,  jinoe pakri bijeh mata

Sabab ulon gasien faki,  siblah ruti pajoh duwa
Makanan tan sapeue hanle, he boh hate deuek karasa
Tuan ‘Atikah meunan syawe,  Nabi moele ro ie mata
Ingat sahbat weueh that hate, neumoe sabe hana reuda

Hari Sabtu-Ahad, 21-22 Zulhijjah 1434 H/26-27 Oktober 2013  M ulon  puphon kuliah di  Pasca Sarjana  UIN Ar-Raniry Banda Aceh nyang dipeutatehle Muhajir. Selain antar-jemput, pada jam 10 dan 16 dia menjenguk  saya buat ‘urusan DM’. Bale Tambeh, 28 Oktober 2013 jam 22.44. Semoga usaha kuliah S 2 saya ini mendapat rahmat dan ridha Allah Swt. Aminn!, T.A. Sakti.

Ngon ie mata laju ile, Rabbon Kade nyang kuwasa
Leuen ‘Atikah khuruma mate,  on ji tanle trebka lama
Neucok ie mata neu sampohle, gusuek sare ban seulingka
Deungon Kudrat Rabbol Kade, khuruma mate udep sigra

Ji teubiet on dum sagaibe, teudong sare ban seulingka
Teubiet bungong  ka meurungkhe, ji meubohle bandum rata
Masak laju bandum sare, jeueb2 tangke mirah rata
Deungon Kudrat Rabbol Kade, khurma mate meuboh sigra

Mukjizak Nabi neu peulahe, sahbat sare deuek lagoina
Yohnyan Nabi mangat hate, sit neu potle boh khuruma
Rasa mameh hana sabe, sang2  mise kaye Syuruga
Lheueh neupot boh uleh Nabi, bak pi mate miseue nyangka

‘Atikah eu meunan alamat, teumakot  that  hanatara
Reubah pangsan gadoh ingat,  Nabi Muhammad pruih dimuka
Puleh laju deungon siat, ‘Atikah leugat beudoh sigra
‘Atikah com Nabi Muhammad, neu peuingat meunoe haba

Wahe kumuen lon peuingat, nyoe amanat lon bak gata
Bek tapeugah nyoe alamat, lon peuingat nyang sibeuna
Gata kumuen na muekjizat, Tuhan hadlarat  nyang karonya
Lheueh ‘Atikah neu peuingat, Nabi Muhammad teubiet u luwa

Ban sare troh ubak sahbat, neujok leugat boh kheuruma
Gapajohle bandum rakyat, mangat pithat cati rasa
Grah deungon deuek gadoh siat, ngon mukjizat Nabi kita
‘Oh lheueh makeun bandum sahbat, meutamah kuwat deungon teuga

Soena pajoh kheuruma mukjizat, page teumpat lam Syuruga
Nyan nur iman teugoh ingat, Nabi Muhammad  ji peucaya
Iman teugoh badan kuwat, bandum sahbat hate suka
Hingga seupot uroe leugat, woe u eumpat maseng jeumba

Ban leupah woe bandum sahbat, Nabi Muhammad woe bak Mama
Nabi neueh teuma siat, malam leugat laju jula
Hingga beungoh uroe leugat,  bandum sahbat bandum teuka
Ureueng  peuet ploh ka meusapat, sapeue pakat ngon bicara

‘Ohlheuh makeuen bandum sahbat, geujak leugat padang raya
Nyang jak dikeue Nabi Muhammad, neu peuingat sahbat dumna
Padang Ibthah troih beurangkat, bandum sahbat meuseuninya
Maseng-maseng duek bak teumpat, meunan adat dilee nyangka

Cabeueng khurma geumeutungkat, ngon Muhammad bandum rata
Nabi neuduek saboh teumpat, sajan sahbat nyang sigona
Teutap Nabi dilee siat, lon riwayat aneuk raja
Baroe talo beungeh jithat, uroe nyoe meuhat jipoh bila

Meunan pike raja bangsat,  ek troih  hajat bak jikira
Ji keumeung poh Nabi Muhammad, meunan ingat po ceulaka
Peuet reutoih droe dijih sahbat, saban kuwat aneuk raja
Dua ribee jiba rakyat, ji peusapat dum nyang teuga

Maseng-maseng geuba alat, kadom tungkat na ube pha
Sare cikop bandum rakyat,  beudoh leugat aneuk raja
Blang Ibthah ji beurangkat, ubak teumpat padang raya
Sare leumah Nabi Muhammad, ji peuingat bak ngon jiba

Beudoh kaju jinoe leugat,  prang takarat bandum gata
Muhammad Yatim deungon sahbat, drop taikat ban 41
Baroe talo malee kuthat, uroe nyoe meuhat tatueng bila
Ji keumeung poh Nabi Muhammad, meunan ingat aneuk raja

‘Ohsare kheueh ji meupakat, beudoih leugat prang ji ngaza
Ji surakle bandum rakyat,  galak jithat aneuk raja
Ateueh Nabi jiek leugat, jikarat meulumba-lumba
Teuma neukheun Nabi Muhammad, neu peuingat sahbat dumna

Beudoih laju wahe sahbat, Malaikat sajan gata
Bek tatakot raja bangsat,  Tuhan Hadlarat nyang peulahra
Teulheuh Nabi neu amanat, bandum umat beudoih ngaza
Bandua ho geuek leugat, ‘oh meusapat geumeuwawa

Geumeupoh-poh  deungon tungkat, prang raya that hanatara
Sahbat Nabi hana saket, Malaikat nyang theun sangga
Nibak baroe that nyoe kuwat, bandum sahbat gasang raya
Rakan raja geupoh leugat, ngon tungkat cabeueng keuruma

Deungon tulong Tuhan Hadlarat, neubri kuwat deungon teuga
Phon beungoh kon troih cot uroe, hingga sampoe watee ‘Asa
Hana talo  keudeh-keunoe, prang uroe nyoe that bak nyangka
Sahbat Nabi lon hareutoe,  ban 40  droe that guranta

Rakan raja dum sinaroe, luka asoe patah ngon pha
Ji meupoh-poh sabe keudroe,  aduen adoe ji meuwawa
Jipoh keudeh karoh keunoe, meuseugamoe dalam tantra
Jabot peudeueng  nibak jaroe, roh ateueh droe jih meugisa

Jitak sahbat roh keunong droe, peudeueng meuwoe rhot bak muka
Lethat rusak dum sinaroe, ngon peudeueng droe rakan raja
Susah jithat hana bagoe, luka asoe reuloh jungka
Sahbat Nabi han meupaloe,  Tuhan sidroe nyang peulahra

Geuliyueng tuloe mata seupot, meubalot sabe  saudara
Rakan raja nyum teumakot,  yo ngon atot miseue geumpa
Ji eu rakyat ka meusurot, that meupoet-poet aneuk raja
Abu Jeuhai that teumakot, muka jikrot malee raya

Prang ka talo rakyat surot, uroe seupot awai ‘Asa
Sahbat Nabi ulon seubut, hana kuyut be seuma
Geu eu musoh ka meusurot,  let dilikot lagee raya
Habeh jiplueng dum sinaroe, laju  jiwoe dalam kuta

Abu Juhai yohnyan jimoe, sang geumanoe ngon ie mata
Malee jithat hana bagoe, ureueng  nanggroe le binasa
Troih lam kuta dum sinaroe, ji piyoh droe rakyat dumna
Abu Jeuhai lon hareutoe, u Meuligoe jiek sigra

Rakyat laen habeh jiwoe, peuet reutoh droe sajan raja
Abu Jeuhai teutap ‘ohnoe, Nabi geutanyoe lon peugisa
Talo musoh dum sinaroe, Tuhan sidroe nyang peulahra
Hingga seupot ‘Asa uroe, Nabi neuwoe teuma gisa

Sahbat 40 bandum sajan, that sukaan hanatara
Deungon tulong sidroe Tuhan,  meusidroe tan na binasa
Troh u teumpat po janjongan, neuek yohnyan ubak Mama
Sahbat 40 lon riwayat, woe u teumpat maseng gisa

Hingga malam uroe leugat, teutap siat saboh haba
Galak tabeuet jak u Langkat, galak bangsat jak sikula
Amma ba’du wahe adek, Meunasah Parek bineh jurong raya
Abu Jeuhai lon riwayat, tango sahbat lon calitra

Bak malam nyan meuduek pakat, malee jithat talo ngaza
Wazi meuntroe duek meusapat, musyawarat aneuk raja
Abu Jeuhai yohnyan jimoe, ri geumanoe ngon ie mata
Malee jithat hana bagoe, ureueng nanggroe talo ngaza

Geumeusapat lam Meuligoe, wazi meuntroe ban seulingka
Balek keunoe balek keudeh, mata puteh miseue saga
Bah lon peugah meusilapeh, tango wareh lon calitra
Teuma teuka sidroe Raeh, ureueng meuceh sukee raja

Jeuet ji balek meunoe meudeh, akai areh le bicara
Shahir Kharab nan ka meuceh, ureueng peuneuleh biek meubangsa
Gobnyan sidroe peugah akai,  ji tanyong hai ubak raja
Pakon tamoe Abu Jeuhai,  soe peukanjai pomeukuta

Peugah bak lon pakri pasai,  akhe awai tacalitra
Sabab gata mantong dai-dai,  lon boeh akai ngon bicara
Teuma seuot Abu Juhai,  phon bak asai ji calitra
Lon he Raeh kaseb kanjai, gadoh akai ngon bicara

Sidroe yatim nan Muhammad,  that khianat hana ngon sa
Habeh jipoh bandum rakyat,  ngon tungkat cabeueng khuruma
Rakan dijih hana cacat,  utoeh silat keunong hana
Handeuh taeu ‘oh jilumpat, miseue kilat tajam raya

Ban peuet ribee dilon cacat, lon peuubat habeh luka
Nyankeu Raeh sosah lon that, pakri pakat toh bicara
Pakri akai nyang naseb hat, peugah leugat uleh gata
Abu Jeuhai meunan kheun proe, Raeh sidroe laen haba

He tuwanku pakri tajeuet moe, bit raja nyoe malee hana
Sang aneuk miet meupeurangoe, pakon meunoe wahe raja
Sangkon gata ureueng lakoe, bak lon sidroe meunan kira
‘Ayeb keuji hana bagoe, jeueb jeueb nanggroe gob ceureuca

Muhammad yatim dijih sidroe, digata roe leubeh laksa
Tajeuet peugah han ek tapoh, yatim saboh aneuk tan Ma
Keupeue badan ugoh-ugoh, bandum teuboih hana guna
Nacit baklon akai saboh, deungo beujroh wahe raja

Bekle taeh beudoh dilee, ta deungo kee sikrak haba
Lon bri akai nyang meuteuntee, rot tatipee yatim tan Ma
Tamita ie deungon bate, taseubee bak jalan raya
Ie nyan taple ateueh rot ueh, ‘oh  jijak pueh gla lagoina

Jalan rapat dum tayue kueh, jeueb2  rot ueh ie beurata
Mita bate nyang raya that, nyang ek na brat limong gunca
Ateueh rot ueh geuboh leugat, bak teumpat Muhammad gisa
Tayue jak eu bandum rakyat, ube sahbat kawom gata

Meungka taeu Muhammad woe, ta peutoe geutanyoe dumna
Ta beuot phon bate keudroe, ngon jaroe ta peuba-peuba
Bak Muhammad yue beududoe, pakri bagoe taeu rupa
Meunyo han ek jabot bate, puleh malee gata raja

Meukon meunan ta peulagee, han ek tipee ngon tadaya
Meunyo han ek jabot bate, jihka malee deungon gata
Teuntee rotnoe han jiwoele, malee sabe jih ngon gata
Meuhat jiwoe keudeh rot gle,  bak lon pike meunan kira

Adat Teungku lon tapateh, malee puleh pomeukuta
Ka jipeugah meunoe meudeh, meuceh2 ji peukhaba
Ban jideungo tuto Raeh,  hate puleh aneuk raja
Abu Jeuhai lon kheun meuceh,  jihoi wareh dum seedara

Ka meusapat bandum habeh,  tuto Raeh ji peukhaba
Jiboh padan meunoe meudeh, pakat habeh aneuk raja
Jibeudohle kawom Qureh, batee  puteh jijak mita
Jak angkot ie saboh kawan, ro bak jalan yuele raja

Deungon tanoh ka jiligan, jiple saban rot ueh kagla
Mita bate saboh kawan, bandum rakan yakin raya
Ka ji teumeung sineuk bate, hana lagee ceudah rupa
Ladom sungket deungon kayee, ladom pangkee ladom hila

Jiboeh taloe kawat puta lhee, ube teubee taeu raya
Jihue laju aneuk bate, dua ribee ureueng hila
Bate pitroh ka ji puwoe, lon hareutoe aneuk raja
Abu Jeuhai peukeumah droe, cok ngon jaroe bate raya

Ji beuotle teuma dudoe, troih intang dhoe aneuk raja
Keudeh keunoe ka jilambong, batee ban krong duwa gunca
Duwa ribee rakyat usong,  raja lambong sang boh panta
Mangat hate ureueng gampong, bate ban krong ek jibaba

Abu Jeuhai lon riwayat, tango sahbat lon calitra
Raya panyang rupa hibat, badan kuwat hanatara
Ngon beurani teuga pithat, ek jime brat 40 gunca
Jroh peuet sagoe badan rapat, umu meuhat 16 thonka

Sajan raja ureueng lehat, duek meusapat bak rot raya
Jipreh Nabi ‘ohtee neuwoe, alat dijaroe bandum rata
Hingga seupot ‘Asha uroe, Nabi neuwoe teuma gisa
Deungon sahbat na 40 droe, mat dijaroe cabeueng khurma

Raja kalon Nabi katoe, jihoile droe aneuk raja
He Muhammad tajak keunoe, ulon teunyoe napeue haba
Bahta meuci deungon kamoe, peurab keunoe laju gata
Teuga gata meuri sinoe, teuga kamoe nyoepat tanda

Tacuba grak bate kunyoe, peurab keunoe bekle haba
Abu Juhai peukeumah droe,  cok ngon jaroe bate raya
Lambong keudeh-lmbong keunoe, ateueh bumoe meugisa-gisa
Yohnyan Nabi tahe keudroe, neukalon proe buettan raja

Teuka waham Nabi geutanyoe, jihoi kamoe nyan kareuna
Adat lon woe laju jinoe, sitree lon nyoe hate suka
Jikheun yatim ulon sidroe,  han keu nasoe padubawa
Meunan pike Nabi geutanyoe, neuwoe jinoe jalan tuha

Rot bineh gle Nabi neuwoe, ngon 40 droe sajan neuba
Abu Juhai eu Nabi neuwoe, cula caloe khem meubura
Jiyue surak ban rakan droe, pok-pok jaroe lambong ija
Sira jikhem jikheun meunoe, ulon teunyoe meuhoi gata

Bahta meuci bak uroe nyoe, deungon kamoe soe nyang teuga
Cuba seuon ateueh ulee, aneuk bate ban krong raya
Teuga gata mangat kuthee,  meuteuga kee nyoepat tanda
Sinan meuri teuga lape, ta mume batee raya

Tajak keunoe pakon tase, meuri lape deungon teuga
Nabi deungo kheun Abu Jeuhai, hana sagai neutem ridha
Sabab jihnyan hana akai, ureueng beubai tan agama
Neuwoe laju haba kabeh, han neupateh bankheun raja

Ka jisurak kawom Kureh, jikheuh nyoe jeh hana reuda
He Muhammad peubuet keudeh, nyoepat nyang gleh jalanraya
Riwang laju gata keunoe, bah ngon kamoe ka uji teuga
Pakon geusuen bak uroe nyoe, le peurangoe Yatim tan Ma

Meunyo gata ureueng lakoe, rotnoe tawoe jalan raya
Abu Jeuhai hoi riwang keunoe, Nabi geutanyoe han neugisa
Jiyue surak bak rakan droe, pok-pok jaroe lambong ija
Sahbat Nabi lon hareutoe, ban 40 droe ro ie mata

Sira geujak bandum geumoe, Nabi geutanyoe tanyong sigra
Wahe sahbat pakon tamoe, peugah jinoe lon ngo nyata
Jaweueb sahbat teuma meunoe, sabab lonmoe ya Saidina
Abu Juhai jikheun meunoe, geutayoe ka talo ngaza

Eueh that hate bandum kamoe, pakri jinoe ya Saidina
Ban Nabi deungo tuto sahbat, seuot leugat meunoe sabda
Meunye meunan tariwayat, wahe sahbat got tagisa
Bekle tawoe ubak teumpat, malee teuthat hanatara

Nabi riwang teuma leugat, deungon sahbat sajan neuba
Bansare troh ubak teumpat, jihoi leugat uleh raja
He Muhammad peurab keunoe,  ubak kamoe laju gata
Cuba seuon aneuk bate nyoe, lone u jinoe pakri rupa

Rakan gata na 40 droe, yue beurangsoe toh nyang teuga
Bate geuhon tameu meme, meuri lape deungon teuga
Ek deungon han sinan meuri, tacuba ci uleh gata
Abu Jeuhai meunan rawi, beudoh Nabi teuma sigra

Neucok batee Abu Jeuhai, 600 tai brat meuhingga
Nabi neubot siblah sapai, hana sagai geuhon jina
Tahe mandang Abu Jeuhai, gadoh akai ngon bicara
Bandum rakyat tahe mandang, Nabi tatang bate raya

Nabi lambong ka neutimang, rhom u manyang troh lam hawa
Rakyat pandang dum jitangah, hana leumah bate raya
Bandum jikheun tan bideu’ah, aneuk Aminah that bit teuga
Ureueng keumalon that barullah, teuhah babah agam dara

Na sikeujab rakyat tangah,  jieu leumah batee raya
Bate karhot ateueh bumoe, bak soj bunoe tan meuriba
Nabi  Muhammad neukheun meunoe, tango kamoe wahe raja
Jinoe gata rhom batee nyoe, miseue kamoe rhom lam hawa

Meunan Nabi neu hareutoe, beudoh dudoe aneuk raja
Peuet reutoh droe kawan sagai, bandum dai-dai mantong muda
Ji meukeumah Abu Jeuhai, gusuek sapai pura-pura(bawah mulai 1-1-
Ji meunari lam kawan jai, sangka jawai meunan rupa(2014 jam 7.12 pgi.

Keubah peudeueng silak bajee, gusuek singkee sampoh muka
Ubak patong ji meulakee, neutop malee kamoe raja
Ka jilingka aneuk bate, sangka seudee meunan rupa
Tiek kupiyah nibak ulee, jak meulakee bak beurhala

Abu Jeuhai grak-grak bate, teutap dilee saboh khaba
Firman Tuhan ubak bate, ka deungo kee wahe hamba
Peugeuhon droe dikah jinoe, sibrat bumoe langet donya
Beusa ngon brat Jabal Kubes, kee kheun meuceh wahe hamba

Bate deungo fireuman Hadharat, droe jipeubrat siblah donya
Meuhimpon jen deungon insan, grak batee nyan han kuwasa
Peuekeu sabab neuyue meunan, nyang tan iman mangat hina
Mangat jithee uleh insan, muliyaan Nabi kita

Na jtupeue seukaliyan, sidroe Tuhan nyang kuwasa
Peuekeu sabab neuyue meunan, meuroe jihan na agama
Na jituri sidroe Tuhan, bek jikheun tan siceulaka
Teutap ‘ohnoe siat dilee, laen sampee lon calitra

Abu Jahai grak-grak batee, hana lagee sunggoh raya
Ji meubeuot ateueh ulee, beukah bajee han jikira
Abu Jeuhai sangka seudee, aneuk batee ka jiwawa
Ka jikoek koek habeh kuwat, maken rapat nibak nyangka
Abu Jeuhai susah jithat,  ka jikarat teusuet mata

Maken jigrak maken rapat, kong maken that nibak nyangka
Ji meukheun-kheun bandum rakyat, hana kuwat aneuk raja
Muhammad yatim teuga jithat, ban yang brat-brat jikeuluwa
Abu Jeuhai reuoh reuoh-reueut, meung sipaleuet meugrak hana

Taloe keuieng habeh jireuet, bajee sukleuet jipriek duwa
Hana teudoh do’a jibeuet,  jileueng paleuet bak beurahla
Meusigeutu hana meugrak, lom meulintak kong bak nyangka
Abu Juhai hate rusak, Nabi timplak dikeue mata

Pakon meunan Abu Jeuhai, hana sagai kuwat gata
Naban geukheun hana akai, ureueng beubai tan agama
Nabi timplak lam kawan jai, Abu Jeuhai malee raya
Nabi kheun lom bittan akai, gusuek sapai hana reuda

Bek antara batee  tarhom, ube sidom meugrak hana
Han ek taboet keupeue tarhom, meuseubee lom that bak nyangka
Jigrak batee meuteugom-teugom, rab meuseumpom aneuk raja
Jaroe peudeh  sapai reudom, batee  jitrom hana reuda

Yohnyan Nabi ka teusinyom, muka ranom leumah cahya
Sahbat  Nabi hate galak, geusurak meutaga taga
Bandum geukheun han ek tagrak, ngon kudrat haq Tuhan Asa
Bek bunoekon gata rancak, ta cuba grak meusideupa

Kamoe tahoi han meutem jak, tayue surak bak ngon gata
Keupeue beuhe deungon cangklak, han ek tagrak bate raya
Abu Jeuhai hate palak, rakyat timplak dikeue mata
Sahbat Nabi ka geusurak, geureutak meutaga-taga

Ureueng keumalon that meusak-sak, mata ubak aneuk raja
Hana panyang lon hareutoe, kuwut jaroe teungeut mata
Hingga seupot Asa uroe, rakyat jiwoe agam dara
Abu Jahai lon hareutoe, malee hansoe aneuk raja

Ka duwa go talo ngon nyoe, karab jimoe krot ngon muka
Uroe seupot beudoh jiwoe, ngon rakan droe aneuk raja
Jitob ulee keulubong droe, u Meuligoe jiek sigra
Di Nabi rot laen neuwoe, ngon sahbat droe Nabi kita

Teutap Nabi dilee siat, lon sambat keu aneuk raja
Jihka malee duwa-lhee pat, ngon mukjizat Nabi kita
Wazi meuntroe deungon sahbat, bandum rakyat sajan raja
Uroe malam geumupakat, musyawarat hana reuda

Raeh pina teuduek sinan, phon bak gobnyan teubiet haba
Jiduek sapat ngon janjongan, nyang laen han toe ngon raja
Phon dileekon jih cit padan, le seunuban  ngon bicara
Gobnyan miseue lalat mirah, ji fiteunah hana reuda

Meunoe-meudeh jeuet jipeugah, jeuet jibantah raja-raja
Utoh jiploh  ngon jipalet, jibleut jipet peugah haba
Abu Jeuhai jibicah phet, narit saket phon jibuka
Pakon tamoe Abu Jeuhai, soena sakai peugah sigra

Soe peu’ayeb soe peukanjai, tapeugah hai lon ngo nyata
Pat nyang ruhung lon boeh sandai, bahlon tampai miseue ija
Cuba peugah jinoe bak asai, lon boeh akai lom keugata
Peunyaket darah bila mate, meunan lahe lam calitra

Peue taingat peue tapike, peue tasyawe dalam dada
Ulon peugah beumeusampe, tadeungo he pomeukuta
Po geutanyoe ka lon turi, tadeungo kri lon peukhaba
Muhammad yatim nan geurasi, keumuen Abi Thaleb Mama

Raeh peugah awai ache, ji seuotle aneuk raja
Beungeh jithat hana sabe, saket hate hana ngon sa
Abu Jeuhai jibeudohle, narit singke phon jibuka
Ceulaka that bit tuha be, meudeh meunoe ka peukhaba

Axat meuna sikin kamoe, kuplah jinoe hate gata
Kukoh takue gata sidroe, sidumnan roe bak nyum rasa
Jeuetka peugah meudeh-meunoe, peurangoe jeuheuet teuraya
Hantom ku eu nyang miseue nyoe, brok peurangoe le bicara

Ka taeu lon hate saket, tabicah phet lomle gata
Raeh sidroe that bit sulet, ji tupeue kieh dum peukara
Ji seuot lom teuma Raeh, hate puleh aneuk raja
He tuwanku lon kheun meuceh, that lon gaseh pomeukuta

Adat daulat lon neupateh, malee  puleh baklon kira
Lon boeh miseue meusilapeh, that lon gaseh keumeukuta
Hanjeuet meunoe peugot meudeh, buet uroe jeh bek takira
Meuta pateh ulon teunyoe, gata jinoe han binasa

Ulon syik that hana bagoe, lon tupeue roe dum peukara
Ube nyang na ureueng nanggroe, dum sinaroe lon nyang tuha
Beuneu pateh lon peurunoe,  nibak buet nyoe hanjeuet seunda
Ureueng Makkah bak siseun nyoe, tanle keunoe peue neusangka

Bak Muhammad ji peujok droe, dum sinaroe agam dara
Han jiikot gata jinoe, agama nyoe han jiridha
Muhammad Yatim dun ji pujoe, jeub jeub nanggroe lon ngo khaba
Keudeh taklok dum sinaroe, akhe dudoe saboh masa

Sapeue pakat ureueng nanggroe, gata sidroe han jiraja
Meuhan tapateh ban lon peugah, dudoe teulah teuma gata
Nyanggot tajak ubak ayah, bekle susah wahe raja
Lon peurunoe meung sipatah,  sayang leupah lon keugata

Lakee idin ubak ayah, tajak peugah jinoe sigra
Ngon Muhammad ta meureupah, meunan ulah tapeukhaba
Muhammad Yatim ek tacacah, aneuk tam mbah ibu bapa
Meuta pateh that meutuwah, meuta ubah jeuet ceulaka

Muhammad aneuk ‘Abdullah, ta meureupah jinoe gata
Beurang peue buet dum jibantah, ka jiubah dum peukara
Han jipateh peue tapeugah, ji peusalah tuto gata
Meugoh mate siyatim nyan, sabe meunan malee gata

Meunan Raeh jiboeh padan, that sukaan aneuk raja
‘Oh jipike nyobit meunan, meutuka han ube seuma
Abu Jeuhai lon kurangan, tango Kaman lon calitra
Dengon Raeh kasep padan,  seukalian dum peukara

Jibeudohle teuma sinan, jijak yohnyan bak ayahnda
Abu Jeuhai jikheun nyoeban,  ngo  lontuwan he Du raja
Ngon Muhammad lon meureupah, idin ayah keulon sigra
Muhammad Yatim ku meucacah, kujeb darah aneuk tan Ma

Han jipateh peue lon peugah, kreueh that babah jimeudawa
Ulon teunyoe malee leupah, bahku cacah yatim tan Ma
Abu Jeuhai meunan kisah, teuhah babah Du jiraja
Husyam deungo aneuk peugah, hate gundah hanatara

Ingat aneuk ji meureupah, teuka sosah raja raya
Ubak aneuk raja peugah, sira jojah ngon ie mata
Tadeungo lon Nyak meutuwah, ulon peugah nyang sijahtra
Ngon Muhammad bek meureupah, dudoe teulah ache masa

Meunyo mate jih tacacah, tuwan Hamzah nyang tueng bila
Hansoe lawan tuwan Hamzah, teuga leupah hana ngonsa
Jitueng bila kumuen jitapoh, gata saboh jiplah duwa
Nanggroe Makkah lon takot soh, pike beujroh bijeh mata

Dum phalawan ugoh-ugoh,  Hamzah saboh leubeh teuga
Tapoh kumuen Abi Thaleb, pike beusep he  aneuknda
Gata malee meutamah ‘ayeb, musyreb meugreb gob ceureuca
Jeueb jeueb nanggroe gata jibeb, pike beuseb bijeh mata
Nyankeuh aneuk lon peuingat, ngon Muhammad bek meuseunda
Ji seuot lom aneuk laknat, he Du bek that leho kira
Si yatim nyan ek ku lawan, kumat hanjan jih mateka
Dilon sidroe dijih lapan, he Du badan han kutaba

Ban raja ngo jikheun meunan, Wazi yohnyan neu seuranta
Teulheueh sabda bak janjongan, trohle keunan dum Bentara
Peuduek pakat bak malam nyan, lheueh minoman peugah haba
Raja Husyam kheunle nyoeban, ngo lon tuwan bandum gata

Takrah rakyat seukalian, ngon piyasan tayue jiba
Tayue tren bak ulontuwan, raya padan ngon bicara
Sabda pilheueh bak janjongan, kireman jipeugot sigra
Peuet surat seukalian, jeueb solotan jeueb-jeueb raja
Hana panyang lon kurangan, jeuet keudumnan saboh khaba

Dalam geupet boeh ie bangoe, ie  unoe boeh dalam kaca
Amma ba’du di seuramoe, he Teungku nyoe baro gura
Meuwoe kisah ureueng nanggroe, surat sampoe nibak raja
Haba surat maklum bak droe,  laba rugoe ka jiridha

Padum  natreb teuma dudoe, rakyat sampoe ubak raja
Habeh jitron jeueb-jeueb nanggroe, di jaroe alat dum rata
Jime beude tan keuripoe, jime bajoe hana nuga
Rakyat jitron geunap uroe, jak meutaloe santeut banja

Saboh kawan nyang me geundrang, rot bineh blang kawan guda
Tot kumurah  ngon seunapang, na miseue prang meunan rupa
Rakyat rame hansoe tukri, teungoh ili ubak raja
Ji palu gong yub nafiri, ngon kucapi hareudam mama

Unggul-unggul ji peunari, peh kudangdi ngon nugara
Yub seurumpet ngon beureugu, nyang raya su sangkai kala
Rakyat jitron barat timu, ka’a ka’u hana reuda
Hana teudoh beude meusu, sang-sang laku geuprang kuta

Rakyat rame hansoe tuban, Allah Tuhan nyang ek kira
Sira geujak meupiyasan, ban lakuwan  sang keurija
Maseng-maseng saboh kawan, rakyat sajn han teukira
Jak meuseuh-seuh meupasukan,  ban atoran jak bak raja

Ubak raja rakyat sampoe, ji piyoh droe dum diluwa
Peu ek seumbah wazi meunroe, jabot jaroe ateueh raja
Ampon daulat meuploh katoe, lon kasampoe bak meukuta
Peue meukusud neuhoi kamoe, peugah jinoe he baginda

Raja Husyam seuot meunoe,  tango kamoe bandum gata
Nyang lon pangge dum kafilah, lon meupeugah saboh haba
Nyangkeu sabab jeuet lon yue krah, asoe Meukah lon seuranta
Aneuk ulon ji meureupah, nyan lon peugah ubak gata

Bak siseun nyoe ka meusiblah, roh ngon Hamzah tameudawa
Ngon Muhammad ka meubantah, ji meureupah jadeh lusa
Bak siseun nyoe lon ka susah, ku pabanbah jeuet prang raya
Abu Jeuhai Muhammad yatim, kalon idin bah jicuba

Rakyat tahe bandum ji iem, ban panyot len hana haba
Dalam hate dum ji ingat,  talo Muhammad bak jikira
Weueh that hate ladom rakyat, saying jithat yatim tan Ma
Muhammad cut kureueng kuwat, Abu Jeuhai that geukheun teuga

Bak jipike talo Muhammad, meunan ingat dumka rata
Nyang ladom kheun bek tagundah, raya tuwah yatim tan Ma
Meuta teu’oh buet meureupah, hana  suwah badan raya
Meunyo lisek deungon ilah, bek tagundah beuthat teuga

Beuthat raya teuntee reubah, beuna ilah tamat dipha
Keupeue guna raya badan, tan amilan reubah saja
Muhammad yatim le seunuban,  soe peugah tan jitupeue ka
Ji peurunoe bandum rakan, le amilan ngon bicara

Ji meukheun-kheamun dal kawan, sabe rakan ji meudawa
Haba rayat jeuetkeu dumnan, lon kurangan aneuk raja(Kms,13-2-’14 poh 17.55, baro teuingat lon,bahwa ureueng dilee  kheun Hikayat, geukheun RAYAT, kon rakyat lagee kalon tuleh baroekon!).

Ji meukheun-kheun dalam  kawan, sabe rakan ji meudawa
Haba rayat jeuetkeu dumnan, lon kurangan aneuk raja
Abu Jeuhai lon hareuto, tango adoe lon calitra
Teungoh meungui di meuligoe, ngon rakan droe sabe muda

Cok ngon gunci mat u jaroe, laju peutoe dijak buka
Jicok ija nyang meutaloe, ban peuet sagoe meupeurmata
Roh pakaian nibak asoe, that samlakoe ceudah rupa
Jisoek incien nibak jaroe, intan peudoe ngon meutiya

Lhat dikiieng kreh meudolang, intan karang dum peurmata
Bajee Meuse meukeurawang, miseue bintang meunan cahya
Rupa iloek kon bubarang,  soe nyang pandang hate suka
Kulah kama ateueh ulee, hana lagee iloek rupa

Bintang tanjong boeh bak bajee, sibanja lhee boeh bak dada
Ngon kawoih meuh nibak gaki, that beureuhi nibak nyangka
Pawon bajee jroh meuriti, jilheung lhi pawon rupiya
Minyek ‘ata ngon kasturi, hana sakri bee meubura

Soe nyang kalon that beurahi, meuriti bintang bak dada
Jingui habeh dum u asoe, padam uroe cahya muka
Hana panyang lon hareutoe, maklum bak droe he syeedara
Kon meuraja wahe adoe, beurang kasoe meunan rupa

Meunyo kaya barang kasoe, meunan cit roe bak lon kira
Jeuet keudumnan lon hareutoe, meule rampoe jeuet keucakra
Abu Jahai meuwoe kisah, ngo lon peugah he syeedara
Troh bak tanggoh janji ayah, ureueng Mekkah teubiet sigra

Rakyat-rakyat that barollah, han ek peugah hat ngon hingga
Aneuk raja ji meureupah, dum jikisah agam dara
Ka meusapat dum u Meukah, ureueng ceudah habeh teuka
Uroe Seunanyan buleuen 14, phon meureupah nyan kutika

Neu beurangkat raja Husyam, tot meuriyam dalam kuta
Habeh jithee sigala ‘alam, dara agam habeh teuka
Ngon ji surak tango kiyam, nyum rasa lham langet donya
Abu Jeuhai lom meuriwang,  cong guda plang aneuk raja

Taeu jijak jroh meureuntang, ulee baling ban seulingka
Rakyat lethat ka peunoh blang, bandum gasang agam dara
Peulheueh beude ngon seunapang, tambo geundrang meusuwara
Meupiyasan sira geujak,  geumeukhem-khak lam blang raya

Jipeh tambo ngon geudumbak,  ji lantak meutaga-taga
Jitot bude ngon ji surak, nyum meugrak-grak langet donya
Abu Juhai hate galak,  rakyat arak ban seulingka
Rakyat rame hansoe tukri, sidroe Rabbi nyang ek kira

Jiyub suleng deungon bangsi, peh kudangdi ngon nugara
Yub seurumpet ngon nafiri, kusyapi hareudam mama
Taeu geujak jroh meuriti, digaki kawoh dum rata
Laen rakyat jak ngon gaki, meuntri wazi ateueh guda

Payong sutra ji peunari, lingka duli aneuk raja
Hana teudoh beude meusu, sang ban laku geuprang kuta
Rakyat rame kon sigeutu, hate seu-u agam dara
Jipeh geundrang deungon tambo, su meu-oo-oo sagai donya

Abu Jeuhai miseue Linto, rakyat jak le ireng lingka
Ngon jisurak ka-‘a ka-o,  payong hijo ji peugisa
Hana panyang ulon ato,  laen pile he saudara
Geujak sampoe troh u mideuen, rakyat hireuen publoe mata

Agam inong ji meukheun-kheun, hana soe theun aneuk raja
Peukayan le dum reuen-mareuen, miseue buleuen meunan rupa
Ban sare troh nyan u mideuen, tamong uleuen aneuk raja
Abu Jeuhai ateueh kurusi, meuntroe wazi ban seulingka

Dimiyub nyanpeurmadani, tika lahori kasab ruma
Sajan raja meuntroe wazi, dong sipa-I ban seulingka
Rayat laen dong meuriti, siteungoh ri lam uroe kha
Maseng-maseng teumpat geubri, nyang pulisi geuyue jaga

Dalam mideuen rakyat peunoh, taeu s’eh-s’oh agam dara
‘Ohtroh watee jeum poh tujoh, beude geucoh ban seulingka
Luwa dalam rakyat kiroeh, kapah kapoeh agam dara
Nyang rab sinan jimeu ‘oh-‘oh, nyang dijeuoh lom jiteuka

Ureueng jarak keunan katroh, dong rot baroh santeut banja
Dalam kawan laju jibloh, tango kiroh ji meudawa
Peudong khimah layeue geuboh, rakyat piyoh agam dara
Abu Jeuhai ka jibeudoih, keuieng jiploh keubah ija

Keubah alat dum dibadan, ngui pakaian bajee keusumba
Abu Jeuhat that analan, ban lakuwan hansoe sangga
Jroh peuet sagoe taeu badan, teuga jihban gajah meunta
Ka jimeusu dum bunyian, mupiyasan arak raja

Mata uroe ka poh lapan, buleuen Syakban duablah ka
Abu Jeuhai ngui peukayan, bandum rakan keunan mata
Ngui peukayan jak meureupah, suroh ayah raja  raya
Rakyat rame hanpeue peugah, asoe Meukah habeh teuka

Abu Jeuhai ulon kisah, panyang rungkaih badan raya
Tujoh blah thon umu sudah, phon meureupah aneuk raja
Rupa iloek hanpeue peugah, buleuen 14  nyangkeu masa
Palet dikeuieng ija kasab meuh, cahya peungeuh hanatara

Abu Jeuhai that beulinshyeueh, sang uleue lheueh dalam raga
Agam inong dong meuseueh-seueh, ngieng u ateueh aneuk raja
Abu Jeuhai meungui kalheueh, beuhe tangkeueh deungon teuga
Rakyat laen dong meuseueh-seueh, di ateueh payong jigisa

‘Ohsare lheueh ji meukeumah, jitangah u langet donya
Jibeudohle jidong pantah, rupa gagah hanatara
Saleh sapeue Tuan Hamzah, meunan ulah taeu rupa
Teungoh mideuen jidong sidroe, that seureuloe aneuk raja

Taeu badan jroh 4 sagoe, that samlakoe iloek rupa
Ji meukheun-kheun dum sinaroe, barang kasoe han ek sangga
Teungoh mideuen jimeunari, ban Keudidi dalam paya
Keuruncong meuh nibak gaki, seurapi jiboh bak dada

Abu Jeuhai that bit raghoe, taeu jaroe ban Cempala
Ji meuhoile ureueng sidroe, beurang kasoe ri nyang teuka
Ta meureupah deungon kamoe, beudoh keunoe siat gata
Bah tameuci bak uroe nyoe, deungon kamoe phon tacuba

Abu Jeuhai meunan hareutoe, ureueng sidroe lon calitra
Ulon peugah saboh phalawan, teuga jiban gajah meunta
Abu Lubakhta geurasi nan, lam kawan nyan leubeh teuga
Nyan phalawan nanggroe Yaman, nyang laen han ek soe sangga

Nam hah lilet raya badan, panyang kiban limong deupa
Abu Jeuhai meuhoi gobnyan, beudoh Kaman keuno gata
Abu Lubakhta deungo meunan, beudoh yohnyan pantah sigra
Ji meukeumah ngui pakaiyan, ikat badan nam deupa ija

Geuruet keuieng hana lawan, geupalet ban siseunlingka
‘Ohsare lheueh ngui peukaiyan,  geudeupan 20 deupa
Abu Lubakhta  lon peugah ban, siblah badan gobnyan raya
Miseue makong deungon cawan,  miseue reungkan deungon raga

Abu Jeuhai meunan keuban, leubeh sikhan panyang Bakhta
Geumeulikak dua gobnyan, mata keunan agam dara
Abu Jeuhai ka ji deupan, jiwa badan Abu Bakhta
Abu Lubakhta susah hanban, jiwa badan aneuk raja

Hana ek troh jiwa badan, ka jiwanwan bak uram pha
Abu Jeuhai tajam hanban, hana meujan didrop bak pha
Geumeureupah  dua gobnyan, ureueng sinan laksin-laksa
Hana saho keumeunangan, reubah pihan ureueng dua

Na dua jeum geumeureupah, hana reubah sabe padra
Keudeh keunoe hana ugah, timang leupah ureueng dua
Ureueng keumalon that barullah, han ek peugah hat ngon hingga
Abu Jeuhai ulon peugah, that bit pantah aneuk raja

Teuga jithat bak meureupah, raya ilah ngon bicara
Abu Lubakhta ka jiteumei, jidrob meuh’ei bak uram pha
Jabot laju ateueh ulee, ji pangkee gaki bandua
Miseue ureueng beuot kayee, meunan lagee bak ri rupa

Kaji seumpom ateueh abee, meunyum malee Abu Lubakhta
Ka meuligan luweue bajee, karoh abee lam-lam mata
Ji beudohle pantah meupru, jiwoe laju malee raya
Bandum rakyat habeh karu, taeu prapru lambong ija

Ngon jisurak ka’a ka’u, jitajo dijak poet raja
Geupeh geundrang deungon tambo, paying ijo jipeugisa
Abu Jeuhai mantong reupah, ulon kisah raj raya
Raja Husyam khem meuhah-hah, rhot kupiah han geukira

Sira geukheun deungon babah, nyak meutuah meunang gata
Geugrob lambong rhom kupiah, khem meuhah-hah raja raya
Rakyat laen hanpeue peugah, aloh alah khem meubura
Abu Jeuhai ulon rawi, that beurani hana ngonsa

Ji kheundak jak ubak Nabi, meunan nyum hi bak jikira
Meunan teugrak dalm hate, jibeudohle jijak sigra
Ban sare troh ubak Nabi, Potallah bri tan suwara
Hankeu najeuet ji meututo, teudong tahe hana haba

Abu Jeuhai rab teupako, meutajo meugisa-gisa
Hanjeuet jingieng mata sapu, jiweh laju teuma sigra
Abu Jeuhai teutap siat, laen sahbat lon calitra
Saboh phalawan lon riwayat, teuga jithat hana ngonsa

Jeueb-jeueb nanggroe meusyuhu that, leubeh kuwat dengon teuga
Nama geuhoi nan Asuwat, ek jime brat namblah gunca
Ube bak U jimat tungkat, jilipat beusoe meulila
Badan raya hana sakri, ube guci ulee bunta

Ube beuteh taeu gusi, hijo bibi mirah mata
Teuga jithat hana sakri, beurang kari hana ngonsa
Namiet Maghirah bangsa ji, puteh sang ri miseue baja
Dum phalawan ugoh-ugoh, habeh jipoh ube nyangna

Nyangka talo sireutoih boh, laen nyang goh han ek kira
Abu Jeuhai lom meuteuoh, jitanyong toh lom nyang teuga
Sidroe Wazi seuot leugat, ampon deelat lon meuhaba
Lam kawan nyoe nyang teuga that, cit Asuwat laen hana

Meunan meuntroe ji riwayat, peutoe leugat aneuk raja
Bansare troh bak Asuwat, ka meusapat jih bandua
Abu Jeuhai peugah leugat, he Asuwat nyang that teuga
Lon meureupah bak uroe nyoe, hajat kamoe deungon gata

Ureueng laen dum sinaroe, ngon lon  talo ngaza
Meunyo talo gata jinoe,  bak  kamoe han keunong bala
Meutalo lon ngo kupeugah, kubri upah hak keugata
Ku pulang kreh deungon siwah, meuh keureutah 5 bara

Kubri kawoh meuh meutatah, kupiah meusru diwangga
Bajee tatah meuh maknikam, ku peureugam nyankeu gata
Siploh ribee lonbri deureuham, beudoh tajam laju sigra
Asuwat ngo meunan kalam, seuot curam meunoe haba

Ampon deelat diyub kidam, nyang meunggeunggam sigom donya
Hana patot deelat makam, meunan macam pomeukuta
Ulon geubloe ngon deureuham, patot lon gulam deelat raja
Bek meureupah ngon lontuan, kon sipadan pomeukuta

Ulon namiet biek teubusan, hanjeuet lawan bangsa raja
Ampon daulat keujanjongan, di ulon han lawan gata
Abu Jeuhai seuot yohnyan, bek kheun meunan hana gura
Kon uroe nyoe bangsa nasab, keunoe peurab laju gata

Asuwat ngo meunan cakap, beudoh dhab-dhab keubah ija
Jiruet keuieng ija Arab, meukasab nayum sibahra
Ureueng dua lagee reuhab, rakyat ngadab ban seulingka
Ubak tanoh gaki hanjab, meu’en cakap lagee ansa

Keutep jaroe ji meulikak,  miseue  meurak meunan rupa
Jitiek aleh jroh meukeupak, ji reuntak meutaga-taga
Ureueng keumalon that meusak-sak, mata ubak aneuk raja
Abu Jeuhai deumpek habeh kuwat, su raya that sang geureuda

Bandua droe geujak leugat, ‘oh meusapat geumeuwa-wa
Raja Husyam teumakot that, sabab Suwat badan raya
Abu Jeuhai ka jirapat, jiwa kong that bak uram pha
Ji meureupah deungon Suwat, dinab rakyat laksin-laksa

Hana saho pina lugat, saban kuwat ureueng duwa
Abu Jeuhai jih ubit that, badan Suwat panyang raya
Miseue kameng deungon gajah, meunan ulah bak ri rupa
Raja Husyam hate gundah, leubeh siblah Suwat raya

Abu Jeuhai ulon kisah, that bit gagah aneuk raja
Na dua jeum geumeureupah, hana reubah ureueng dua
Keudeh keunoe hana ugah, reuoh basah ban ie raya
Abu Jeuhai utoh leupah, lethat ilah aneuk raja

Suwat silap bacut salah, jimat pantah bak uram pha
Yohnyan Suwat keunong tipee, ji pangkeele aneuk raja
Ka jiseuon ateueh ulee, miseue kayee tungoe raya
Rakyat surak ka meu’ee’ee, ube jamei kawom raja

Ka jiseumpom miseue tungoe, leungo bumoe miseue geumpa
Kakeu talo Suwat bunoe, meunang kamoe sneuk raja
Ka jisurak be kawom droe, pok-pok jaroe lambong ija
Raj Husyam lon hareutoe, cula caloe khem meubura

Lambong ija keuteb jaroe, geupoh poh droe tumbok dada
Rakyat surak nyuem ka tuloe,  ureueng nanggroe hate suka
Raja Husyam kisah meuwoe, ci ‘iet peutoe ka neubuka
Neucok ringget deungon suku, neu rhom laju dalam tantra

Dalam kawan ka neu tabu, habeh karu rakyat dumna
Raja Husyam hate seu-u,  neuro laju han neukira
Lagee miseue supreuek beureuteh, seulamat wareh nibak bahya
Jeuet keudumnan saboh lapeh, meuwoe keudeh lom keuraja

Raja Husyam lon riwayat,  tango sahbat lon calitra
Meunang aneuk deungon Suwat,  galak geuthat hanatara
Meuntroe Wazi duek meusapat, musyawarat raja raya
Raja Husyam peugah leugat, pakri pakat nibak gata

Aneuk ulon ubit jithat, badan Suwat siblah raya
Catatan: Terakhir saya salin pada  19 Maret 2014 pkl 7.15 wib. Setelah itu saya disibukkan dengan pekerjaan rutin memberi kuliah pada dua kelas mahasiswa Reg 1 dan 2  setiap hari, yaitu sejak hari Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at. Sementara pada hari Sabtu, Ahad; saya sebagai mahasiswa di Pascasarjana UIN Ar-Raniry mengikuti kuliah mulai 8.30 pagi sampai jam 18.00 sore dengan 4 mata kuliah setiap hari serta 1 – 2 dan 3 (ujian Teks Home) tugas paper setiap mata kuliah. Insya Allah, mulai 1 Ramadhan 1435 H/29 Juni 2014 M  saya akan giat menyalin kembali Hikayat Abu Jahai ini. Sehari- sampai jam 12 siang – sebelum 1 Ramadhan, hati sempat cemas karena Fel Hikayat ini hilang terhapus, Alhamdulillah, berkat batuan SADAF COMPUTER Felnya muncul lagi!. Memang, menjelang bulan Puasa, CPU berkali-kali ke tukang “Sadaf” itu, sampai-sampai fel Hikayat Abu Jahai terhapuskan!.

Aneuk ulon ubit jithat, badan Suwat siblah raya
Ek jiseumpom hanjan siat,  dumnan kuwat deungon teuga
Ngon Muhammad teuga Suwat, siploh lipat leubeh ganda
Abu Jeuhai ngon Muhammad, cuba ingat soe nyang teuga

Lam dua jih toh nyang kuwat,  bak  ibarat  taeu rupa
Menan sabda nibak deelat, seuot leugat dum bentara
He tuwanku bek susah that, meunang meuhat pomeukuta
Peunyuem lon sang talo Muhammad, meunan inagt kamoe dumna

Sabab yatim jih ubit that, kureueng kuwat aneuk tan Ma
Bak hate lon na meunyuem brat, meunang meuhat pomeukuta
Sabab Yatim tan eleumee,  that bit dungee tan bicara
Tan jitu’oh tipee-mipee, hana guree jih soe aja

Lom pi aneuk mantong bubai, hana akai ube seuma
‘Oh jipohle Abu Juhai, jisakai jiklik meu’a’a
Han ek jiamat siblah sapai, hana sagai dijih teuga
Sabab Yatim hana akai, Abu Jeuhai lisek raya

Teuntee meunang pojanjongan, sabab Yatim nyan hana teuga
Husyam deungo khaba meunan, meutuka han kheun bentara
Mangat hate pojanjongan, neukhem yohnyan ube raya
Ubak aneuk neukheun nyoeban, wahe intan ngo ayahnda

Wahe aneuk jantong hate, bek lalele bijeh mata
Lon eu teumpat pika hase, rakyat sare habeh teuka
Dipasi kon sampe ugle, nyuem hanlotle mideuen raja
Ji keumeung eu tameureupah, ureueng meugah habeh teuka

Abu Juhai ngo khaba ayah, beudoh pantah jakle sigra
Dalam kawan ji meulangkah, dong meusiblah kawom raja
Meuhadapan ngon Nabiyullah, jikheun pantah meunoe khaba
Wahe Yatim Abi Thaleb, dilon katreb kudam gata

Bak uroe nyoe kah ku peuseb, ku peu’ayeb yatim tan Ma
Jak meukeumah laju bek treb, musyreb meugreb ureueng teuga
Trebka kutroh dalam hate, kudam sabe sampe tuha
Bak uroe nyoe ka kulahe, kupoh mate Yatim tan Ma

Beudoh tajo bek kaiemle, peue kapike hana guna
Meunan jikheun Abu Juhai, ureueng beubai  tan agama
Naban geukheun hana akai, sangka jawai  meunan rupa
Patot Nabi ji peukanjai, lam kawan jai meuploh laksa

Nabi seuot meunoe macam, neu meukalam deungon raja
Ta deungo lon aneuk agam, lon meukalam deungon gata
Dalam hate bek troh-troh dam,  bek syok waham deungon sangka
Ngon rakan bek muka masam, bek troh-troh dann ngon syeedara

Bale lon kheun nyoe beusaheh, kureueng leubeh bek meuhaba
Bak uroe nyoe bek peujadeh, le peue daleh nibak gata
Lon meutanggoh siat tapreh,  singoh jadeh lon kungaza
Sabab gata lon eu hek that, ngon Asuwat banlheueh panca

Nyankeuh sabab tapreh siat, ploh-ploh urat dilee gata
Euntreut malam tajeb ubat, mangat kuwat leubeh teuga
Adat talo gata uroe nyoe, nibak kamoe daleh kana
Nyankeuh sabab singoh uroe, bek meupaloe gata raja

Hanjeuet takheun meudeh meunoe, meunang kamoe talo gata
Meunan Nabi neuhareutoe, ka jiiem droe aneuk raja
Ban jideungo Nabi kheun proe, teukab jaroe tuha muda
Geumeututo geukheun meunoe, bit Sinyak nyoe le bicara

Tango tuto kon aneukmiet, hak nyan teubiet bak ureueng tuha
‘Ohta deungo got that meut’iet, meuhiep-hiep sampe lam dada
Dalam hate jihka that niet, jih aneukmiet tuto tuha
Meunan jikheun jeueb-jeueb babah, teutap kisah saboh khaba

Mata uroe pika mirah, bak peuneugah awai ‘asha
Woe u gampong dum khafilah, hate dahsyah agam dara
Jeueb-jeueb nanggroe meusyuhu gah, Nabi meureupah ngon aneukraja
Jeueb-jeueb gampong dum ji kisah, nyan dibabah agam dara

Soe tube thee buet meureupah, ‘oh meubantah jeuet keudawa
Raja Husyam deungon Hamzah, roh meusiblah saboh masa
Muhammad Yatim sayang leupah, aneuk tan mbah ibu-bapa
Hana soe eu ‘ohtee reubah, ji cacahle aneuk raja

Meunan tuto ureue Makkah, buet meureupah ji calitra
Singoh uroe meuhat reubah, saleh soe tuwah ureueng duwa
Muhammad Yatim ubit leupah, raya siblah aneuk raja
Ladom kheun talo Nabiyullah, Abu Juhai pantaih hana ngonsa

Dum Asuwat piek reubah, nyang sa gagah deungon teuga
Muhammad Yatim la’eh leupah, bacut salah ka teurhanta
Hanjan jimat jihka reubah, seb ngon siblah jaroe raja
Ladom kheun talo Abu Jeuhai,  ureueng beubai tan bicara

Keupeue teuga meutan ilah, sabe susah bicara hana
Keupeue teuga meutan akai,  hana sagai sakon guna
Kareuna Muhammad that ceureudek,  akai lisek le bicara
‘Oh reubah jih gob jibalek, kulet tarek hana ngon sa

Jeueb-jeueb ureueng jikheun meunan, dibabah nyan agam dara
Ureueng Makkah ngon Kana’an, ureueng Yaman ngon Syahriya
Hana teungeut silawet nyan, hai janjongan ji calitra
Ji meudawa sabe rakan,  taroh jilawan sineuk duwa

Ladom kheun talo Muhammad nyan, ladom kheun han talo raja
Jeueb jeueb babah jikheun meunan, hai janjongan ji calitra
Ureueng inong lon peugah ban, bah sikhan-khan lon  peukhaba
Hana teungeut bak malam nyan, wot makanan boeh ie saka

Tot ngon ruti peugot timphan, jok manisan wot haluwa
Ladom geuboeh dalam pingan, lam peuluman dalam raga
Jeueb2  nanggroe bandum meunan, bak malam nyan teungeut hana
Hingga beungoh puteh uroe, peukeumah droe agam dara

Cok pakaian ngui u asoe, mat dijaroe payong sutra
Nyang na bak droe hana suwah, nyang that gundah jak meumita
Tampai2 beuthat beukah, meungka leupah jak u Bansa
Ladom bak gob jijak lakee, bek jeuet malee jitem siwa

Na siluweue hana bajee, jitop ulee leumah dada
Meunan bandum wahe sampee, teutap dilee saboh khaba
Beuneung puteh beuneung itam, meulu Siyam keulumba sutra
Meudeh meunoe ulon reusam, mangat tapham he syeedara

Beungoh uroe tanle malam,  tot meuriyam dalam kuta
Habeh jithee inong agam, beudoh tajam jak u banda
Neu beurangkat raja Husyam, tot meuriyam teubiet sigra
Geumeusapat inong agam, syahi ‘alam laju bungka

Rakyat rame that bahrullah, han ek peugah had ngon hingga
Ureue Yaman deungon Jeudah, dum u Makkah geupeuteuka
Sira geujak poh beurakah, khem meuhah-hah agam dara
Geutot beude ngon kumeurah, raja Makkah jak u banda

Raja Husyam ateueh gajah, dum karilah ireng lingka
Abu Juhai meuwoe kisah, teubiet pantaih dalam kuta
Rakyat lethat hansoe  tuban, Allah Tuhan nyang ek kira
Ban peuet reutoih dijak rakan, sa peukaian deungon raja

Ta eu dijak meuatoran, ji meukandran ateueh guda
Ladom gajah nyang balohan, ladom rakan ateueh unta
Ta eu jijak jroh meurumpan, saboh kawan sabe muda
Peukaiyan hu nibak badan,  meuh ngon intan ngon meutiya

Sira geujak peh bunyian,  bandum rakan hate suka
Abu Juhai that analan, hana lawan ngon tapeusa
Kulahkama tampok intan, syeureuban meusru diwangga
Bajee Meuse salak Adan, sok dibadan aneuk raja

Dokma pi meuh mata intan, cahya jiban bintang kala
Mata duwa ceulak jiligan, jiboeh sajan gahru ‘atha
Peudeueng pi meueh ulee intan, beurliyan geutata lingka
Peukaian hu leungkap badan,  rupa jinyan  bintang kala

Balatantra ngon angkatan,  sileungkapan bandum geuba
Rakyat rame hansoe tuban,  Allah Tuhan nyang ek kira
Sira geujak meupiasan, peh ngon geundrang rupa-rupa
Meuntroe wazi jak ngon kandran, laen rakan jak meusafa

Abu Juhai ureueng meugah, ateueh gajah aneuk raja
Rakyat laen han ek peugah, that bahrullah han ek kira
Ladom guda ladom gajah, ladom kibaih ladom unta
Geutot beude ngon kumeurah, khem meuhah-hah hana reuda

Aneuk raja jak meureupah, asoe Makkah habeh teuka
Soe nyang kalon hate dahsyah, ‘alam mirah geupeugisa
Meupiasan teungoh geujak, ka meugrum-grak lam blang raya
Jipeh canang ngon geudeumbak, ka jiarak aneuk raja

Jitot beude ngon jisurak, nyuem meugrak-grak  langet  donya
Ji meuwayang teungoh geujak, ka jimeutak pura-pura
Bandum seu-u hate galak, ji hayak payong jigisa
Jitiek aleh jroh meukeupak, rakyat jijak lingka raja

Jipeh tambo deungon geundrang, jitatang peudeueng nyang raya
Kasang-kasui di dalam blang, lagee sang-sang Linto geuba
Jiyub suleng jipeh canang, payong keumang bandum rata
Ngon su beude hana reunggang, na miseue prang meunan rupa

Meuntroe wazi deungon bujang,  uleebalang  dum  bentara
Ladom giduek ateueh guda plang, ladom pasang ateueh unta
Jeuetkeu dumnoe saboh karang, han ek abang lon calitra
Troh u mideuen bandum rakyat, piyoh leugat agam-dara

Maseng2 geubri teumpat, ban nyang babat meunan jeumba
Meuntroe wazi sajan daulat, laen rakyat dum diluwa
Si u timu ureueng meukat, si u barat bak duek raja
Si u baroh bak duek rakyat, saboh teumpat peukan raya

Si u tunong duek Muhammad, hate mangat agam dara
Tujoh buleuen peugot teumpat, luwah pithat banda raya
Nan peuet sagoe pageue kawat, panyot geulhat ban seulingka
Nam blah batee timu barat, bak teumpat meureupah raja

Peugot khimah ngon bantalan, bak duek rakan agam dara
Leueng leulanget rumboe intan,  ngon hamparan tika sutra
Rakyat rame hansoe tuban, Allah Tuhan nyang ek kira
Uroe malam meupiasan,  ban  lakuan  sang keurija

Bandum rakyat that sukaan, teungeut jitan agam dara
Habeh khaba ‘ohnoe sikhan, laen rakan lon calitra
Baroh Tidiek tunong Keumangan, diteungoh nyan babah sikuwa
Amma bakdu  Rani ngon Jaman, keu janjongan meuwoe haba

Nabi neudong sajan rakan, neu kalon ban buettan raja
Neu eu rakyat le hanaban, ngon piasan rupa-rupa
Diyum khimah yub bantayan, ube sikhan peunoh rata
Ingat keudroe pojanjongan, yoh masa nyan hate luka

Tahe mandang Nabi neumoe, ri geumanoe ngon ie mata
Beudoh laju Nabi neuwoe, bak Mama droe neu peuteuka
Yohnyan Nabi neukheun meunoe, sira neumoe neu meusabda
Wahe Mama neungo kamoe, neubri jinoe bajee ija

Lon meureupah bak uroe nyoe,  brikeu kamoe dum peukara
Abu Juhai le peukaian, meuh ngon intan peunoh dada
Na 400 dijih rakan, saban-saban bandum ija
Dilon Mama tan peukaian, keutiwasan malee mata

Ulon sidroe keuhinaan, tan pakaian wahe Mama
Lon uroenyoe jak u peukan, malee hanban han sapeuena
Nabi neuiem lheueh neukheun nyan, pojanjongan ingat keu Mama
Nabi neumoe mata neupet, treb-treb siblet neu meusabda

Teuma seuot Abu Thaleb, ro meureb-reb ngon ie mata
‘Ohneu ingat malee ‘ayeb, meusyreb meugreb gob ceureuca
Sira neumoe neu peugahle, meunoe syawe  Mama khaba
Wahe aneuk jantong hate, bungong pade bijeh mata
Peukaian tan peue ulon bri, kamoe faki gasien raya
Digob keeumuen ureueng meugah, kaya limpah Du jiraja
Peue nyang dingui dumpeue mudah, hana suwah jijak mita
Geucok gunci buka peutoe, le atra droe ureueng kaya

Dilon gasien he aneuk droe, ngon peue kubloe bijeh mata
Yohnyan Nabi laju neumoe, neungo bunyoe narit Mama
Meunoe neukheun teungoh neumoe, han meubunyoe dalam dada
Adat na udep Ma ngon Ayah, peue nyang lon hah ek neupeuna

Meuta lakee hana suwah, dumpeue mudah meunyo na Ma
Hana bak droe bak gob talakee, bek cit malee jak u Banda
Nabi neumoe tumpang ulee, basah bajee ro ie mata
Sira neumoe neu meurawe, hana lahe tan suwara

Lon pabanbah Nangbah mate, Du lon hanle ateueh donya
Yohnyan Nabi neu meurawe, hana lahe ubak Mama
Neu seot lom Abi Thaleb, moe-moe meureb ngon ie mata
Bak uroe nyoe lon that ‘ayeb, musyreb meugreb gob ceureuca

Siya-siya mantong udep, malee kaseb dalam donya
Wahe aneuk nyawong badan, ku pakriban bijeh mata
Baklon aneuk tan peukaian, ngon kubloe tan peng kuhana
Dalam hate kuthat susah, lon pakribah keumuen raja

‘Ohlon ingat Nyak meutuwah,  rasa beukah langet donya
Beulanja tan sipeng mirah, peue2 lon peugah hana guna
Nyang na alat ureueng nanggroe, jingui keudroe dum jirata
Adat meuna arta kamoe, bak bahya nyoe kuteuboih gata

Bek jeuet aneuk ta meureupah, ku pabanbah tan areuta
Abu Thaleb meunan peugah, Rasulullah seungab haba
Teuduek tahe Nabi neumoe, tan meubunyoe na suwara
Dalam rumoh ureueng lhee droe, lon peugah soe tabileueng sa

Abu Thaleb ngon ‘Atikah, Nabiyullah nyang lhee teuma
Ureueng lhee nyan teungoh geumoe, neungo bunyoe meusuwara
Luwa pinto jikheun meunoe, idin kamoe tamong bak gata
Tema seuot tuan ‘Atikah, han peue salah tamong sigra

Yohnyan pinto ka neu peuhah, tamong leupah sidroe nisa
Ureueng jak nyan namiet Khadijah, saboh khafah sajan jiba
Makna khafah nyan kalamdan, meunan rakan geupeukhaba
Bak Abu Thaleb jok kalandan, khaba peuneusan ji calitra

He Abu Thaleb khaba Khadijah, neuyue peugah ubak gata
Nyoe Kalamdan peunoh limpah, ceudah-ceudah bandum ija
Peukaian nyoe ngui keu Nabi,  beurangkari toh nyang suka
Abu Thaleb ngo meunan rawi, neucok gunci ka neubuka

Neu peuhahle kalamdan nyan, neu eu sinan bajee ija
Jeueb2 alat ngon peukaian, han sapeue tan rupa-rupa
Ija bajee dokma sajan, ngon syeureuban meusri wangga
Hana bandeng ngon teuladan, sang peukaian lam syuruga

Na miseue ban ija sundusen,  haloih licen sangkon sutra
Peukaian na limong seun tren, Khadijah salen Nabi kita
Abu Thaleb hanle ceuken, manyoh meusyen hate suka
Yohnyan Nabi neungui salen, ban siseun tren dum peukara

Nabi ngui ija sundusen,,  haloih licen dhiet bak sutra
Masa Nabi neungui salen, ureueng laen sidroe hana
Soe nyang kalon manyoh meusyen, meu-ek meutren cahya muka
Doma bajee manikm teukarang, meukeurawang mutiara

Soe nyang kalon tahe mndang, sang buleuen trang cahya muka
Mata incien misue intan, soe nyang pandang labui mata
Peukaian hu nibak badan, meueh ngon intan mutiyara
Neungui habeh dum peukaian,  troih lam awan meucuwaca

Puteh ijo kulet badan, soe eu pansan sikutika
Di dalam nur diluwa nu, soe nyang na eu labui  mata
Cahya muka sang panyot hu,  bee meuharu minyeuk ‘atha
‘Ohlheueh neungui alat keurajeuen,  naban buleuen cahya muka

Soe nyang kalon tahe hireuen, peungeuh mideuen meunan cahya
Laila haillallah,  peurintah  Allah neumat kuwasa
‘Ohlheueh meungui Rasulullah, neucok langkah got kutika
Nabi teubiet rumoh ‘Atikah,  rakyat bahrullah habeh teuka

Trohle keunan tuan Hamzah, tuwan ‘Abbas dum seureuta
Neujak sajan Nabiyullah, tuan ‘Atikah Muthaleb ba
Rakyat laen han ek peugah, that bahrullah agam dara
Mata uroe kagot tampah,  dalam kisah poh lapan ka

Ureueng lethat dum meusak-sak, hate galak agam dara
Teungoh kawan Nabi neujak, rakyat arak ban seun lingka
Cahya badan hu meubhak-bhak, mata meuclak sa banduwa
Bandum sahbat katroh keunan, bak janjongan meukuta donya

Mama Nabi seukalian, neujak sajan ube nyang na
Nabi neujak teungoh kawan,  laen rakan ban silingka
Sira geujak meupiasan, peh bunyian rupa-rupa
Maseng-maseng giduek kandran,  jak meukawan santeut banja

Tuan Hamzah teuma sidroe, mat dijaroe peudeueng raya
Rupa hibat hana bagoe, beurang kasoe hana ngon sa
Rakyat laen dum sinaroe, asoe nanggroe dum seureuta
Geujak sajan pojanjongan, ube sinan agam dara

Kata rawi pokhabaran, tango rakan lon calitra
Muhammad Amin yoh masa nyan, hansoe tuban nyo ambiya
Tansoe teupeue seukalian, nyang na tuban ureueng duwa
Nyang na tupeue ngon lon peugah, tuan Katijah ngon Abubaka

Seubab geuthee di Katijah, Poteu Allah bri rahsiya
Bak simalam Katijah lumpoe,  meunoe bagoe lam rahsia
Buleuen dilanget tron u bumoe, lam ‘alam nyoe meunan rasa
Khadijah mat deungon jaroe,  u meuligoe leugat neuba

Tahe mandang Katijah laloe, buleuen bak jaroe peungeuh donya
Meunan leumah dlam lumpoe, beungoh uroe Khadijah jaga
Makna lumpoe Katijah ingat, nyoe alamat na ambiya
Nyokeu yakin Nabi Muhammad, nyang bri niekmat dalam donya

‘Ohnan haba ampunya kisah, narit Katijah lon calitra
Neuhoi namiet nan Basyarah,  troihle pantah keunan teuka
Meunoe neukheunle Khadijah, jinoele kah jak uluwa
Wahe ulon kango kamoe, talam jinoe kame sigra

Katop talam sahab meusujoe, peunoh asoe intan p

 

 

 

Khanduri Aceh, Jenis dan Ragamnya

Serambi
Minggu 30 Desember 2007

Khanduri Aceh,
Jenis dan Ragamnya

oleh Dr Hasballah  M. Saad
Khanduri  menjadi khas masyarakat Aceh. Dalam Masyarakat Aceh bila mempunyai hajat, apakah itu ketika mendapat kenikmatan sesuatu atau ditimpa musibah, biasanya melaksanakan khanduri. Khanduri itu sebagai pengabdian atau tanda ingat kepada Yang Maha Kuasa. Khanduri  itu dilakukan dengan menjamu saudara, tetangga dan kerabat untuk makan bersama   utamanya yang kurang mampu. Maka ada istilah khaduri hidup dan khanduri kematian. Khanduri selalu dipandang dan terkait dengan status sosial (orang kaya atau tokoh masyarakat).  Dalam kasus tertentu, seperti khanduri thon (tahunan) dilaksanakan khusus, para qari membaca Al Qur’an  dan melantunkan lagu-lagu pujaan, teungku membaca doa dan lainnya.
Beragam khanduri di Aceh. Ada khanduri Tujuh (menujuh  hari) yang terkait  dengan kematian seseorang  (pada hari ketujuhnya). Meskipun setiap malamnya para tetangga dan kerabat hadir melayat membaca Tahlil, membaca Qur’an, dan tausiah kepada keluarga yang kemalangan, tapi pada hari ketujuh merupakan puncak, dan biasanya diundang orang-orang khusus. Di samping itu ada khanduri tiga puluh, atau empat puluh empat, biasanya diakhir upacara meudoa, pada khanduri khusus ini, pemilik hajat memberi  sadaqah. Besarnya sedekah tergantung kepada status social dan kemampuan ekonomi sang tuan rumah.  Teungku biasanya diberikan dalam jumlah extra, anak-anak lebih sedikit dari orang dewasa.
Khanduri blang, agak khusus sifatnya, dilakukan setahun sekali  ketika musim bersawah akan dimulai. Beberapa ekor sapi dipotong di suatu tempat yang dianggap keramat, biasa di kuburan orang ternama (Teungku di Blang, atau tokoh pertanian yang telah lama tiada). Sering khanduri ini dilaksanakan di hulu sungai, di tengah sawah atau  di tempat  di mana pohon tumbuh di tepi hutan. Untuk tingkatan satu aliran sungai kecil, masyarakat biasanya memotong biri-biri. Peserta khanduri membawa bu kulah ( nasi bungkus dengan daun pisang yang diasapi), bu kulah di sajikan kepada tetamu terhormat  yang diundang dari kecamatan, atau mukim tetangga. Setelah upacara membaca doa-doa, maka seseorang tokoh terkemuka, seperti kepala mukim, atau kujruen blang, memberikan pengumuman tertentu. Seperti kapan harus membersihkan selokan, memperbaiki irigasi desa, awal musim membajak lahan, atau saat mulai menabur benih. Ini merupakan komando, dan koordinasi antara petani di hulu dan di hilir agar distribusi air bisa merata.
Khanduri maulud, berkenaan dengan memperingati kelahiran Rasulullah saw.  Khanduri maulud ini dapat berlangsung selama rentang waktu seratus  hari. Dalam bulan penanggalan Aceh, ada buluen maulud, Adoe Maulud, Kumuen maulud dan Cuco maulud yang hanya sepuluh hari sehingga tiga bulan dan sepuluh hari itu genap menjadi seratus hari. Dalam penanggalan hijriah,  maulud dimulai dengan bulan Ra’biul  awal,lalu Ra’biul akhir, Jumadil awal dan sepuluh hari Jumadil akhir. Tradisi khanduri maulud itu juga ditandai dengan pembacaan zikir, puji-pujian kepada Rasulullah. Ada pembacaan bezanji, atau shalawat Rasul, yang dilantunkan bersama, sebelum makanan disantap. Tetamu biasanya diundang dari  desa tetangga, dan ini akan saling berbalas mengundang. Khusus untuk tetamu pribadi, undangan dijamu di rumah masing-masing. Tetamu pribadi, selalu membawa bungong jaroe (buah tangan) berupa gula pasir ,roti, pisang, sirih, atau buah buahan lainnya.
Anak-anak bergembira  ria selama musim maulud ini. Makanan yang tidak habis dimakan dalam upacara yang biasanya digelar di lapangan meunasah atau mesjid, boleh dibawa pulang. Ditengah perjalanan  kerap kali dimakan lagi, di pematang sawah,di tepi sungai atau balai balai persinggahan. Para ibu dan anak perempuan menanti  “bu maulud” di rumah, makanan yang telah dicampur lauk, bekas dimakan lelaki, ditunggu dengan penuh harap. Rasanya yang memang enak dan mengundang selera. Dalam khanduri maulud tidak ada sedekah uang diakhir upacara. Selain membaca zikir, shalawat nabi atau berzanji,tak ada doa khusus yang dibacakan.  Peranan penting selalu ada di tangan sang pembuka hidang, karena dia paling berkuasa membagi  bagi makanan. Ayam panggang telur asin, atau udang galah tumis selalu hilang terlebih dahulu,  disembunyikan sang pembagi, atau prioritas selalu kepada anak, atau sanak keluarganya.
Khanduri Samadaroh, berasal dari kata- kata Tadarus.  Dalam bulan ramadhan, orang Aceh selalu membiasakan diri menghabiskan waktu malamnya  dengan membaca Al ‘ di meunasah atau di surau secara bersama sama. Tadarus Qur’an ini merupakan kelanjutan shalat taraweh berjamaah. Setiap kali bacaan Qur’an khatam, maka ada khanduri yang disebut khanduri tamat, atau Samadaroh (barang kali dari kata tamat tadarus).  Bu tamat, biasanya disantap menjelang sahur, sebelumnya dilakukan dzikir. Ada doa pendek yang dipimpin  imam meunasah.  Khatamul  Qur’an‘, menamatkan bacaan quran dilantunkan bersama. Khanduri samadaroh ini hanya dihadiri oleh para lelaki dan anak anak saja, para ibu dan anak perempuan jarang hadir, karena acara santap biasanya setelah tengah malam,  anak- anak yang ketiduran di meunasah sehabis membaca Alquran dibangunkan. Acapkali, shalat subuh menjadi terlambat karena ketiduran sehabis sahur dengan samadaroh itu.
Khanduri Meukeurija, untuk pesta perkawinan Aceh. Dulu ada  ungkapan bahwa  orang Aceh pergi berperang seumpama pergi ketempat meukeurija. Itu bermakna orang Aceh tak takut berperang, dan gembiranya menuju medan perang seumpama senangnya orang pergi ke pesta perkawinan. Itu terkait bahwa “bila mati dalam perang suci, maka dia akan mendapat pahala Syahid, dimana  tanpa hisap, langsung menuju Surga Allah swt’’. Tamu umum yakni kerabat, tetangga, handai taulan, dan tokoh masyarakat yang dikenal . Ada pula rombongan pengantar lonto baro (pengantar pengantin baru laki laki) yang datang khusus bersama pengantin. Jumlah rombongan disesuaikan dengan perjanjian. Dan tergantung uang hangus (biaya pesta yang ditanggung pihak laki laki) yang disepakati terlebih dahulu, melalui seulangke (perantara resmi).
Peristiwa antar pengantin ini biasanya menjadi ajang saling lirik antara peserta. Rombongan pengantin laki laki, terdiri dari kerabat dan kawan dekat  yang masih lajang. Beberapa tokoh dan orang patut patut, hadir sebagai pengetua dan pembuka jalan. Di pelaminan, anak anak muda lah mendominasi, sehingga para gadis di samping mempelai wanita menjadi inceran rombongan sang pengantin lelaki. Tidak jarang, peristiwa itu diikuti oleh perkenalan hingga menuju pelaminan berikut, tak lama setelah saling lirik terjadi di pesta itu.
Linto baro, disuguhkan hidangan santap penuh hiasan dan kualitas tinggi. Dada  ayam panggang, telur asin, gulai daging
, atau eungkot rambeue   (ikan kuek) yang mahal. Panganan Aceh  menjadi hiasan hidang. Sang pengantin biasanya tidak memiliki selera makan, karena lebih memikirkan  malam malam selanjutnya sehabis pesta. Para pendampinglah yang menikmati makanan khanduri itu dengan lahapnya.
Tetamu yang diundang pada pesta perhelatan pesta perkawinan, disyaratkan membawa amplop, yang berisi uang tunai. Teumeuteuk namanya untuk menyerahkan amplop itu, sebagai tanda syukur dan ikut bergembira dan berpartisipasi  Dahulu,  sebelum budaya undangan dengan kartu undangan di praktekkan, dalam kebudayaan Aceh, ada ranup pate (sirih berlipat) yang diantar kepada orang-orang yang diundang. Bagi undangan biasa cukup dengan sehelai sirih, namun bagi undangan tertentu, seumpama pihak besan,orang patut,ulama, tokoh adat, maka ranup pate dibuat berlapis sesuai dengan martabat dan kedudukan seseorang.

Khanduri Apam. Dalam system penanggalan Aceh bulan dinamakan sesuai dengan peristiwa tertentu. Bulan maulud dinamakan untuk bulan bulan yang penuh dengan khanduri maulud Nabi. Bulan puasa dinamakan bulan ibadah. Demikian pula buleuen  Apam (bulan  apem). Karena sepanjang bulan itu orang Aceh melakukan khanduri Apam. Ini sama dengan bulan rajab dalam system penanggalan hijriah.
Dalam bulan rajab banyak sejarah penting terjadi dalam sejarah Islam.  Oleh karena itu, orang Aceh mensyukuri peritiwa penting dengan melakukan syukuran menyajikan apam sepanjang bulan itu. Para pejalan kaki atau siapa saja yang lewat sebagai musafir, selalu dijamu tanpa harus diundang  terlebih dahulu,  tak ada kewajiban membawa buah tangan untuk tuan rumah.
Dalam beberapa kasus, apam diantar ke meunasah, atau balai balai umum di desa. Untuk disantap oleh siapa saja. Ada apam kuah tuhe (Apam dengan kolak pisang) atau apam u(apam dengan parut kelapa), tergantung status social yang punya hajat. Konon dahulu kala ada seorang yang dihormati bernama Abdullah Rajab, wafat tanpa ada yang mengkhandurikannya. Maka siapa saja berkemudahan, dianjurkan untuk khanduri Apam, guna mengenang kematian tokoh itu.
Khanduri Ie Bu Babah Jurong   Dalam bahasa Aceh adalah bubur beras yang cair dengan campuran santan kelapa. Khanduri ie bu dilakukan  diujung jalan desa, biasanya ditandai adanya kuburan keramat, pohon besar atau balai-balai desa. Khanduri ini lebih sebagai ritual penolak bala, menghindari wabah penyakit yang massal seperti cacar, kolera, atau peulaweue. Dulu peulaweue sangat ditakuti orang, karena merupakan wabah yang cepat menular dan sulit dicegah. Orang Aceh menolak bala itu dengan khanduri ie bu babah jurong.
Biasanya bubur ini tidak diberi pemanis atau gula, paling hanya dicampur pisang. Beberapa bagian, disajikan dalam tempat khusus, seuleuke (kotak daun pisang yang dirajut dengan lidi). Di dalam kotak itu diisi bubur, lalu diletakkan di tempat tertentu sebagai sesajen untuk makhluk halus, dan roh jahat, agar dia menjauh dari desa.
Betapa pengaruh hindu cukup kental  terasa dalm sesajian seuileuke ini. Kapan dan dimana  persinggungan budaya hindu dalam Islam di Aceh , tak ada catatan resmi yang diketahui dengan pasti, namun hal ini telah menjadi tradisi dan bahagian dari keseharian hidup orang Aceh sejak dahulu. Banyak lagi khanduri seperti  khanduri laot (pesta nelayan), khanduri padi (panen padi), khanduri peutron aneuk (menurunkan anak), khanduri aqiqah, keumaweueh, peucicap, dan khanduri sunatan Rasul.
Khanduri ‘Asyura.
Salah satu khanduri yang popular dalm masyarakat aceh adalah khanduri  ‘Asyura. Ini bermula dari kisah gugurnya  Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib. Cucu Rasulullah ini gugur dalam pertempuran melawan tentara Yaziz bin Muawiyah di Karbala. Ini merupakan tragedi paling berdarah terhadap keluarga Rasulullah saw, setelah beliau wafat. Husen adalah pemegang kekuasaan yang diwariskan dari abangnya Hasan yang telah diracun terlebih dahulu atas suruhan Yazin bin Muawaiyah juga. Motivasi     di balik  tindakan itu adalah ingin merebut kekuasaan yang ada ditangan Husen. Gugurnya Husen terjadi pada 10 Muharram. Maka dalam hikayat Hasan Husen, salah satu bait yang berkaitan dengan kisah tragis cucu Rasulullah itu adalah :
//Bak poh siploh uroe beuleun Muharram/  kesudahan Husen Jamaloe/ peu na mudah ta khanduri/. Poteu Allah bri pahla dudoe/ sepuluh hari bulan Muharram/ hari berpulang Husen Jamalul / apa yang mudah silahkan khanduri/pahala diberi hari kiamat//  Dalam tradisi masyarakat Aceh, hari  itu selalu diperingati setiap tahunnya, dengan melakukan khanduri bersama. Biasanya dilakukan di meunasah atau di surau. Setiap keluarga membawa makanan dan penduduk  kampung baik yang membawa makanan ataupun tidak,  semua di ajak makan bersama-sama. Yang didahului oleh doa bersama. Imuem (imam) meunasah biasanya yang memimpin do’a.
Bagi anak-anak , ini merupakan kesempatan untuk mendapatkan  menu yang sedikit lebih berkualitas. Ada sie manok, telur asin, daging dan ikan-ikan yang bagus. Di beberapa tempat , pada saat khanduri peringatan ‘asyura itu, Hikayat Hasan dan Husen dibacakan kepada yang hadir, beberapa bait, atau didendangkan secara bersama-sama.
Banyak diantara yang hadir menangis menyimak peristiwa tragis  yang menimpa keluarga Rasulullah pada hari ‘asyura itu. Di Iran, dan beberapa Negara yang mendapat pengaruh paham syi’ah, hari ‘asyura diperingati sebagai hari Yatim sedunia. Dalam sejarah awal masuknya Islam ke Aceh, memang suasana syi’ah sangat kental adanya. Semoga bagi para pendatang, pekerja dari luar Aceh, dan para pemerhati  budaya Aceh, mendapatkan pemahaman selayang pandang tentang  tradisi dan kebiasaan hidup masyarakat Aceh sejak dahulu kala. Bagi para peneliti yang lebih serius, tentu dapat menggantinya dari sumber-sumber yang lain, baik berupa ceritera lisan, sumber tertulis yang lengkap, atau melalui rekaman penuturan para pakar yang ahli.

*Penulis adalah dosen FKIP  Unsyiah Banda  Aceh,   Ketua Dewan Pembina Institut Kebudayaan Aceh, Pendiri Institut Perdamaian Indonesia (IPI ), Ketua Yayasan Lambrineu, dan anggota Pembina Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy.

 

*Mengenang Tiga Tahun almarhum Dr.Hasballah M. Saad, yang meninggal dunia 23 Ramadhan 1432 H/23 Agustus 2011 M   s/d   23 Ramadhan 1435 H/21 Juli 2014 M. Bale Tambeh, 21 Juli 2014, T.A. Sakti

v

Kisah Orang Indonesia di Australia

Keturunan Indonesia di Queensland
Generasi yang Hilang

IA tengah mengikuti konferensi Islam yang berlangsung tiga hari di Sydney. Menggunakan gamis yang menutupi tubuh dan kopiah putih, lelaki berusia  55 tahun asal Mackay itu tampak ceria. Diakuinya,  ia termasuk generasi  Indonesia yang “hilang”  di Australia.
“Di Mackay ada kira-kira 100 orang keturunan Indonesia. Mereka semua lahir di sana,” kata Sahdean Hasan, orang dari generasi ketiga yang belum pernah ke Indonesia.
Mackay adalah sebuah kota kecil di Queensland yang pada decade 40-an, selain Brisbane, Sydney dan Melbourne, menjadi pusat pergerakan juang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Jauh sebelum bekas tawanan politik  Digul dan bekas pekerja-pekerja di kapal Belanda itu berjuang.  Di Mackay , ratusan orang Indonesia telah bermukim disekitar daerah itu, setidaknya sejak awal abad  ini.
Mohamad Bondan, pejuang yang kemudian menulis Genderang Revolusi di luar negeri (1971), menyinggung dalam bukunya  tentang pertemuannya dengan nenek Encon, yang saat itu berusia 65 tahun dan telah beranak cucu. Ia konon berasal dari Banten , mengikuti suaminya bernama Encon uang datang ke Queensland  untuk bekerja sebagai penanam tebu. Dan Sahdean Hassan, seperti diakuinya, adalah salah keturunan dari kaum pekerja tebu itu.
***
SAHDEAN menjelaskan dengan bahasa Inggris    karena memang tidak bisa berbahasa Indonesia    bahwa  kakek dan neneknya berasal dari sebuah  desa di Jawa Barat bernama Cikande Cimande. “Saya tidak tahu persisnya,” ungkapnya. “nama desa itu mungkin telah berubah sekarang. Kata orang-orang Indonesia, sebagian kata telah berubah, seperti  hitam yang menjadi item.”
Para pendahulu Sahdean, generasi pertama, meninggalkan kampung halaman mereka  ketika Krakatau  meletus tahun 1880-an. Maksud mereka semula sebenarnya bukan untuk bekerja  sebagai buruh perkebunan tebu. Melainkan untuk mencari  emas. Ada orang yang mengiming-imingi waktu itu, bila mereka datang ke Australia mereka akan mendadak kaya, karena terdapat banyak emas di sana. Ketika mereka tiba di tempat tujuan, mereka kecewa, karena tidak menemukan emas. Lantas mereka pun bekerja atau dipekerjakan sebagai buruh di perkebunan tebu di daerah itu. Walhasil, mereka telah ditipu orang.
Tercatat dalam sejarah, sejak awalnya  industrI  gula di Queensland, seperti juga di New South Wales, para pekerja berwarna dari pulau-pulau laut Selatan sangat dibutuhkan, mereka dicari, dibujuk, dan di tipu atau dipaksa oleh para kontraktor untuk bekerja sebagai buruh murah  dalam kondisi-kondisi semi-perbudakan. Konon, dari tahun 1847 hingga 1904, kira-kira 57.000 orang kulit berwarna di borong ke Australia untuk di pekerjakan seperti itu.
***

PARA pendahulu Sahdean dari generasi  pertama itu tidak kembali ke Jawa, tapi terus tinggal di Queensland dan meninggal di sana. Ceritanya sedikit berbeda dari apa yang ditulis Dr Tuti Gunawan (1988). Menurut Tuti Gunawan , banyak buruh perkebunan tebu itu dipulangkan ke Jawa karena selain kontrak kerja mereka habis, Pemerintah Australia pun memperketat  kebijakan imigrasinya.

Generasi pertama itu telah menurunkan tiga generasi lagi. Generasi sekarang telah kehilangan  budaya nenek moyang mereka. Kalupun masih ada unsure  budaya yang tersisa, itu adalah beberapa jenis makanan seprti  nasi, roti, soun, sayur, cabai, lalap, kacang panjang dan sebagainya. Sahdean sendiri  dibesarkan dalam budaya barat. Orang tuanya tidak pernah mengajarkan Agama atau bahasa mereka. Mereka mengajari anaknya bahasa Inggris. Sedikit  saja mereka berbahasa Indonesia.
“Itulah sebabnya saya mengetahu i beberapa kata Indonesia. Generasi kedua umumnya tidak mempraktekkan Islam, meskipun mereka beragama Islam. Karenanya mereka juga tidak mengajarkan Islam kepada kami, kecuali beberapa Doa. Ada dua orang tua dari generasi kedua yang waktu itu bisa membaca AL Qur’an, tapi mereka juga tidak mengajarkannya kepada kami,” ujar Sahdean.
ia menambahkan bahwa ia sendiri menemukan Islam kembali lewat kematian ayahnya. Ketika ayahnya meninggal, seorang wanita India mangatakan bahwa karena ayahnya bernama Ismail Hassan, tentulah ia seorang Muslim. Lalu ia pun mempelajari  Islam dan semakin memahami  Agamanya setelah ia bertemu dan bergaul dengan orang-orang Islam yang berdakwah di Mackay.
***
MENARIK untuk dicatat, agaknya generasi migrant Indonesia yang datang ke Queensland  itu adalah generasi  pertama yang terus menetap di Australia, meskipun maksud mereka semula untuk kembali pulang setelah mereka kaya. Sebenarnya terdapat generasi lain yang lebih dahulu datang ke Australia, yaitu  orang-orang Makassar yang setiap tahun mengunjungi  Australia bagian utara, sejak awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Seperti dipaparkan  C.C. Macknight dalam bukunya The voyage to Marege(1976), selama hampIr seabad itu setiap tahunnya rata-rata seribu orang Makassar yang berlayar ke Australia. Mereka bisa menangkap tripang di sepanjang daerah yang disebut Marege, nama yang asal muasalnya tidak jelas, meskipun tercatat di berbagai sumber. Sebagian dari mereka mungkin saja mengunjungi  pantai Kimberly di Australia Barat yang mereka sebut kayu Jawa untuk melakukan  usaha serupa.
Kegiatan mereka berlangsung hingga akhirnya pemerintah Australia menerapkan undang-undang yang mempersulit usaha mereka menjelang  akhir abad ke-19 dan bahkan melarang kegiatan tersebut pada tahun 1906. Gelombang terakhir kedatangan orang-orang Makassar tiba di Australia tahun 1905-1906.
Meski  orang-orang Makassar itu tidak menetap,  mereka meninggalkan artefak seperti  gelas, mangkuk, cangkir, panci masak, jarum, alat pancing, uang logam , perapian untuk merebus Tripang, dan sebagainya. Keberadaan mereka di negeri kanguru juga diabadikan dalam lukisan-lukisan yang dibuat orang Eropa dan penduduk asli Australia yang bertemu dengan mereka pada masanya.
***
SAHDEAN menambahkan, terdapat perkuburan generasi pertama yang  terletak di luar Mackay.
“Sebenarnya terdapat lebih banyak lagi keturunan mereka. Di samping 19 atau 20 keluarga yang kini tinggal di Mackay dan sekitarnya, termasuk  keluarga saya, banyak pula yang telah menyebar ke seluruh pelosok Australia, sebagian bahkan menikah dengan orang-orang Australia.”  katanya.
Budaya Barat telah mempengaruhi seluruh kehidupan generasi keempat.
“Dalam hal ini misalnya ?’’
“Generasi setelah saya tidak merasa sebagai warga Indonesia, karena mereka tidak pernah merasa diajari seperti itu. Kabanyakan dari mereka berperilaku seperti  Australia.”
Untuk  melukiskan bagaimana generasi keempat itu telah terperosok dalam budaya barat, anak-anak muda itu tidak pernah memanggilnya  “Pak”.
Ketimbang menjabat tangan saya  ketika  bertemu , mereka menyapa saya dengan Hello atau G’day, Mate”’ ujarnya. “mereka menikah lewat celebrantmariage, seperti kebanyakan orang Australia. Melalui seorang celebrant. Mereka bisa menikah dimana saja mereka suka, di taman atau bahkan di pesawat udara,” tambahnya pula.
***

KETIKA  ditanya  bagaimana ia mengidenfikasikan dirinya sendiri, tanpa ragu ia menjawab, “ Saya keturunan Indonesia. Saya selalu menekankan itu. Namun pertama-tama saya adalah Muslim. Bila orang bertanya siapa saya, saya segera menjawab bahwa saya orang Indonesia. Tidak pernah terpikir dari benak saya bahwa saya orang Australia.”
Sahdean Hassan telah berkerja di perusahaan Telekomunikasi Australia selama 25 tahun. Ia menikah dengan seorang wanita Australia dan dikarunia lima anak, tiga putra dan dua putri,   ia berharap bisa mengunjungi kakek  dan neneknya  di penghujung tahun ini, untuk pertama kalinya. Namun ia ragu apakah ia bisa bertemu dengan kerabatnya  di sana kelak. Wallahualam.  (Deddy Mulyana).

( Sumber: Kompas, Selasa, 3 Maret 1992 )
*Laporan ini diketik ulang oleh T. Idham Khalid, putra saya yang pertama, 20 Juni 2014, delapan  hari sebelum 1 Ramadhan 1435 H.