Nyali Besi Aung San Suu Kyi

Nyali Besi Aung San Suu Kyi

Orang tahu kediaman Aung San Suu Kyi terletak di pinggir Danau Ir.. Yangoon (Rangoon ibukota Myanmar(Birma), Orang pun tahu regim militer yang berkuasa men”cekal” Suu Kyi dengan status tahanan rumah, sejak Juli 1989. Sekeliling rumahnya, tentera bersenjata patroli siang dan malam. Jangankan berjumpa orang lain, kontak telepon sesama keluarganya diblokade. Suaminya Prof. Michael Aris tak pernah diizinkan menemui istrinya-sejak Natal 1989. Dan, per September tahun itu, Suu Kyi pun Cuma bisa mengelus foto kedua anaknya.
Dalam situasi begitu pun, Suu Kyi merupakan aral besar bagi regm militer di Yangoon. Regim berkuasa mengatakan, “Suu Kyi baru akan dibebaskan kalau betul-betul meninggalkan dunia politil”. Tangan kekuasaan junta Myanmar memang berlepotan darah. Legitimasi kekuasaan mereka ditegakkan dengan berondongan peluru. Dan, berbicara dalam bahasa senapan- yang menyudahi ribuan penduduk pro demokrasi pada 1988.
Hadiah Nobel bidang Perdamaian(1991) dikukuhkan atas nama pemimpin Liga Demokrasi Nasional( National League for Democracy, NLD) bagi ibu dua anak tersebut, dicalonkan oleh Presiden Ceko-Slovakia, Vaclav Havel. Havel – yang dia sendiri termasuk calon utama, melakukan itu atas permintaan sebuah gerakan solidaritas Norwegia. “Saingan serius Suu Kyi adalah Nelson Mandela”, pemimpin anti- apartheit Afrika Selatan. Penganugerahan hadiah – piagam, medali emas, dan uang sekitar sejuta dolar AS- itu, menurut para pengamat akan meningkatkan moral rakyat Myanmar. Atau, dalam kalimat Front Demokrasi Mahasiswa Myanmar di pengasingan ,”Akan mendorong mereka yang telah mengorbankan darah, keringat, air mata dan nyawa untuk terus berjuang demi demokrasi.” Ketua Panitia Nobel Farncis Sijerstedt mengatakan, telegram dikirim ke pemerintah Myanmar. Pemerintah Myanmar diminta untuk menyampaikannya kepada Ny.Suu Kyi. Disitu jelas antara lain, “Perjuangannya merupakan satu di antara contoh-contoh paling luar biasa keberanian sipil di Asia selama beberapa dasawarsa. Sejauh ini panitia hadiah Nobel Perdamaian tidak bisa menghubungi Suu Kyi. Kepastian boleh-tidaknya Suu Kyi menerima hadiahnya pada upacara resmi di Brussel 10 Desember mendatang masih tanda tanya. Lebih lanjut Francis Sejerstedt mengatakan, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian kali ini sangat dipengaruhi strategi non-kekerasan Mahatma Gandhi.”Suu Kyi sudah bekerja demi konsiliasi kelompok-kelompok etnik di Myanmar. Ia telah menjadi orang yang penting di dalam keluangan(?) menghadapi penindasan” ujar Sejer Stedt. “Ia menjadi pemimpin oposisi demokratis, yang menerapkan sarana-sarana tanpa kekerasan untuk? melawan regim yang bercirikan brutalisme.”.
Pihak Gedung Putih menyambut baik pemberian Nobel itu kepada Suu Kyi. Di depan wartawan, Sekretaris Pers Gedung Putih..lin Fitzwater, bahkan mendesak agar pemerintahan sipil(pemerintahan terpilih) di Myanmar dipulihkan dan membebaskan semua tahanan politik. Berkenaan dengan nasib tak menentu Suu Kyi, pernyataan itu menegaskan, dilanjutkan penahanan terhadapnya hanyalah merupakan tanda dari pemerintahan militer yang represif. Suara senada datang dari Masyarakat Ekonomi Eropa. Di Manila Ny Corazon Aquino mengucapkan selamat kepada rekannya sesama perempuan. Dia mengatakan Suu Kyi merupakan simbol perdamaian dan perlawanan pasif bagi kebebasan asasi. Dari New York, Sekjen PBB Javier Perez de Cuellar menyatakan rasa senangnya atas penganugerahan Nobel Perdamaian(1991) kepada Suu Kyi. Dengan satu harapan, Suu Kyi segera dibebaskan dari tahanan rumah.
Suaminya, Michael Aris – warga Inggris yang profesor tamu pada Universitas Harvard, AS- berharap para penguasa Myanmar mendapat tekanan untuk membebaskan istrinya. “Tujuan dia sederhana: kebebasan manusia. Ia telah berjuang untuk itu. Dan bersama rakyatnya, ia menderita pula karena itu, kata Aris.
Aung San Suu Kyi, anak perempuan pahlawan pembebasan Myanmar, Aung San(alm). Sebagian rakyat Myanmar menganggap perempuan itu titisan ayahnya. Aung San adalah salah seorang pahlawan pembebasan Myanmar. Ironisnya Aung Sanglah yang memelopori pembentukan angkatan bersenjata. Cuma, ia tak sempat bisa menikmati kemerdekaan – karena keburu tewas ditembak oleh rekan seperjuangannya. Itu terjadi enam bulan sebelum Inggris mengakhiri kekuasaannya di Myanmar, Juli 1947. Waktu itu, Suu Kyi masih berumur dua tahun. Jadi, ia belum sempat mengenal sang ayahanda.
Suu Kyi lahir di Yangoon, 19 Juni 1945. Pendidikan dasar dan menengah ia jalani di Myanmar dan India. Di sini, ibunya(meninggal Januari 1989) pernah bertugas sebagai duta besar. Ia memperoleh beasiswa untuk belajar politik, filsafat, dan ekonomi, di Universitas Oxford, Inggris. Setamat kuliah, ia bekerja pada sekretariat PBB DI New York. Pada 1972, ia menikah dengan Prof. Michael Aris, warga Inggris yang ahli dalam kebudayaan Tibet. Mereka menetap di Inggris.
Ia kembali ke tanah kelahiran April 1988. Pulang ke kampung dalam situasi negeri bergolak. Saat itu, ia tengah merampungkan tesis ……. … pada London‘s School… and African Studies …. ilmiah hendak digusurnya…. total berbaur( fotokopi bagian rusak-tergeser) yakni…. pada alam. ………….. –kalau disalin pun tak jelas, karena tulisan bukan di tempat aslinya,melainkan bertukar-ganti! -………… ………….. /………………… …………… ………………………….. …………

Aris. Suu Kyi menegaskan hal itu – “Jika rakyat membutuhkan saya”. Langkah itulah yang ia tempuh, ketika seluruh negeri dilanda chaos. “Krisis dewasa ini sungguh sangat memprihatinkan seluruh negeri. Sebagai anak bapakku, aku tak akan tinggal diam. Krisis ini bisa disamakan dengan perjuangan kedua menuju kemerdekaan.” ujarnya saat itu. Misi yang terbeban pada pundaknya disebutnya dengan kalimat “Rakyat Myanmar sungguh-sungguh menginginkan kebebasan. Mereka menginginkan kebebasan dari rasa takut. Rakyat sudah lama dihinggapi rasa takut. Ke mana pun kita pergi, kita harus terus menerus membangkitkan mereka,”jangan takut’. Maka jika kamu membiarkan dirimu diintimidasi, mereka(penguasa) pasti akan terus mengintimidasi kamu,” katanya.
Kehadirannya cepat mengundang simpati dari berbagai kalangan masyarakat. Ia ibarat Corazon Aquino bagi Filipina di ujung krisis kepemimpinan Preside Marcos. Tokoh-tokoh oposisi menganggap Suu Kyi bisa menjadi pemersatu kubu perlawanan. Gayanya konfrontatif. Namun Suu Kyi bukan penganjur kekerasan. Ia, seperti diakuinya, meneladan pada gaya perjuangan Mahatma Gandhi dan Marthin Luther King. Bersama bekas PM U Nu dan dua jenderal purn- Aung Gyi dan Tin Oo, Liga Nasional bagi Demokrasi, partai yang dalam waktu singkat berhasil menghimpun sekitar dua juta anggota. Walau, belakangan, U Nu dan Aung Gyi memisahkan diri dan membentuk partai sendiri.
Meski dihalang-halangi penguasa, Suu Kyi selalu berusaha mengunjungi desa-desa. Setelah keadaan darurat diumumkan – yang mengharamkan berkumpul lebih dari lima orang- kaset-kaset video berisi penampilan Suu Kyi justru marak. Rekaman kaset dan teks-teks pidatonya beredar dari tangan ke tangan. Serangkaian pidato dengan nada keras digelarnya di masa Sein Lwin berkuasa. Ia menyerukan pembentukan pemerintahan sementara dan pelaksanaan pemilu sesegera mungkin. Hal itu ia dengungkan di depan Pagoda Shwedagon, Yangoon – dengan jumlah massa tak kurang sejuta jiwa. “Macan Podium” itu bahkan punya nyali untuk memaksa sekelompok serdadu – yang coba menghentikan pidato Suu Kyi – kembali ke markas dengan tangan hampa.
Peristiwa itu terjadi ketika ia berbicara di depan ribuan massa di Myanmar. Tentera turun dari dua truk. Suu Kyi cepat tanggap. ‘Jangan merasa terganggu”. Jika kita bisa mengendalikan diri, kita bisa mengalahkan lawan kita.” Ujarnya menenangkan massa. Moncong-moncong senjata diarahkan ke tengah kerumunan. Mereka panik. Dan, Suu Kyi cukup berkata singkat untuk ‘menjinakkan’
tentera. ‘Kita malah berterima kasih kepada kalian. Kalian malah berjasa menyulut keberanian rakyat”. Suu Kyi sangat yakin, kisruh yang melanda Myanmar 26 tahun terakhir berpokok pada Ne Win.
Meski secara resmi Ne Win tidak lagi berkuasa, menurut Suu Kyi,”SLORC tetap dikendalikan oleh orang tua itu.”Diakhir Juni 1989, di depan massa Suu Kyi terang-terangan mengajak militer untuk menggulingkan “orang kuat” tersebut. “Ne Win telah merendahkan martabat AB. Aku mendesak para pejabat Angkatan Bersenjata dan SLORC untuk setia kepada negara. Setia kepada rakyat. Bukan kepada Ne Win”, ujarnya.
Kecaman terbuka gaya Suu Kyi itu menggegerkan. Ia, dengan begitu telah melumerkan kebekuan politik yang telanjur mentradisi. Kelantangan suaranya jadi semacam obat penawar, pada mulanya. Lama kelamaan, hal itu besar artinya buat mempertebal semangat dan kesadaran rakyat tentang demokrasi dan hak-hak asasi. Faktanya, figur Ne Win dibenci rakyat. Tapi, baru Suu Kyi yang punya nyali “menyumpahi” Ne Win.
Kena tampar begitu keras, Saw Maung langsung beraksi. Beberapa pekan kemudian para pemimpin NLD diburu dan diprodeokan. Pada 20 Juli, Suu Kyi bersama 42 pentalon NLD ditangkap. Situasi berkembang buruk. Tentera menggeledah semua kantor partai dan 200 aktivis partai ditahan. Dengan tegas dihadapinya intrik kotor dan keji penguasa Myanmar.
Seusai “pembersihan” terhadap Suu Kyi dan partainya, the rulling clas menjanjikan pemilu. Maklumat itu bertujuan ganda: memberi ‘permen’ buat rakyat dan pengerem tekanan internasional. Pihak SLORC memang tak ingkar janji. Pemilihan umum yang bersih – hal yang mencengangkan banyak peninjau – berlangsung Mei 1990. Regim militer mengandalkan Partai Persatuan Nasional(NUP) pengganti BSPP.
Optimisme NUP bakal menang seperti diyakini Saw Maung, cukup logis. Mereka yakin, tentera, pegawai negeri dan para petani bakal berpihak pada NUP. Karenanya, SLORC tidak merasa perlu berbuat curang. Ancaman oposisi?. UU Darurat cukup mengekang ruang gerak kampanye mereka. Kebanyakan pentalon NLD sudah pula diprodeokan. Namun, aspirasi rakyat Myanmar berbicara lain. Hasil pemilu meleset dari ramalan. Partai oposisi, NLD menang telak – dengan perolehan 392 kursi dari 485 kursi parlemen yang diperebutkan. Celakanya, Saw Maung mengangkangi hasil pemilu itu. Parlemen terpilih tidak dibentuk, dengan dalih yang khas militer, “NLD pasti tidak becus memimpin bangsa.”
Aung San Suu Kyi menjadi lambang perlawanan tanpa kekerasan terhadap para penguasa militer Myanmar. Pemerintahan yang disebut Panitia Nobel sebagai “regim yang berwatak brutal”. Di dalam isolasi, berbagai konsesi ditawarkan regim – asalkan Suu Kyi meninggalkan Myanmar. Tapi, sekali “tidak”, ia pantang menjilat ludah. Angin demokratis yang ditiupkannya – yang mulai dapat tempat – sirna lagi. Rakyat Myanmar digiring surut. Kembali ke era intimidasi senapan dan suasana serba ketakutan.

(Sumber: Bonus Majalah Sarinah No. 242).

Catatan: Artikel Bonus ini selesai saya salin menjelang berangkat kuliah, Aleuhad/Ahad, 12 Oktober 2014, pkl. 9.48 pagi, T.A. Sakti.

Begitu Indah, tapi Seram: Laporan wartawan Kompas dari Myanmar

Begitu Indah, tapi Muram
Laporan dari Myanmar ( 1 )

Pengantar redaksi
Myanmar yang dikenal sebagai lumbung beras Asia tertutup terhadap dunia luar tidak lama setelah regim sosialis merebut kekuasaan tahun 1962. Kerusuhan yang terjadi tahun 1988 mendorong pemerintah “yang percaya mistik” itu mengubah nama Birma menjadi Myanmar. Sedang ibukota Rangoon diganti jadi Yangoon. Untuk mengetahi apa yang sedang terjadi di Myanmar, wartawan Kompas, Maroli Tobing menurunkan laporan hasil liputan selama 11 hari di Myanmar. Bersama Tiziano Terzani, wartawan senior dari majalah terkemuka Jerman, Der Spiegel dan penulis buku The Fall of Saigon, Kompas mengitari daerah pedesaan di Myanmar Tengah dan mengikuti jalur sungai Irawady.

BANDARA udara internasional di pinggiran ibukota Yangoon masih tetap seperti delapan tahun silam. Bangunannya yang tidak seberapa hebat belum menunjukkan perubahan. Sedangkan suasananya tetap saja muram, dan lesu apabila dibandingkan dengan bandara-bandara di Asia Tenggara lainnya. Di ruang ketibaan, petugas imigrasi dan bea-cukai sangat teliti melayani para pendatang yang umumnya turis atau pegawai kedutaan asing.
Begitu usai melalui pemeriksaan yang agak menjengkelkan itu, segerombolan anak muda segera menyergap. “Apakah Anda bawa whiyski atau rokok?. Kami mau beli dengan harga mahal. Atau Anda barangkali mau menukarkan dollar, dengan nilai 10 kali lebih tinggi ketimbang kurs resmi.”. Itulah pertanyaan menggoda yang bertubi-tubi dilontarkan orang-orang yang berbusana sarung itu.
Tetapi di Inya Lake Hotel , tempat penginapan terbaik di (Bersambung ke hal. 5 kol. 1-5) Myanmar, citra negeri ini segera berubah dalam sekejab, menjadi suatu taman impian yang begitu indah. Bangunan abad silam yang berada di tepi danau dan dikitari padang rumput yang luas, mengingatkan suasana romantisme Abad Pertengahan. Dan ini masih ditambah lagi oleh keramahan para karyawan hotel.
Tapi Myanmar jelas bukan hanya perjalanan dari bandara ke hotel. Menuju jantung kota Yangoon saja, misalnya, suasana tegang telah menggantikan keindahan pagoda Swedagon yang sangat masyhur itu. Di sana-sini kelihatan tentera berjaga-jaga dengan wajah dingin. Sebagian gedung tinggi telah dijadikan pos pengawasan militer. Pada petang hari truk-truk militer mulai lalu-lalang dengan membawa personel bersenjata berikut kawat duri untuk barikade. Di hampir semua tempat penting dipajang tulisan yang menyebut “Tatmadau”(tentera) tidak pernah ragu menumpahkan darah dan keringat”. Pengumuman yang lebih mirip ancaman ini juga meluas hingga ke kota-kota propinsi. Suatu peristiwa aneh yang delapan tahun lalu belum terlihat. Lantas apakah sesungguhnya yang terjadi di negeri seribu pagoda ini?.
***
KALAU pertanyaan ini diajukan kepada orang awam yang ditemui di jalanan, maka jawaban mereka pastilah hanya dengan senyum. Atau kalau pun ia merasa perlu bicara, paling-paling mengatakan “Itulah Myanmar. Persis seperti Anda saksikan sekarang”. Mereka bungkam seribu bahasa, khususnya kepada orang=orang yang belum dikenal dekat, karena di sana-sini pihak penguasa menyebarkan informasi: Keliru bicaa bisa fatal akibatnya.
Semua ini adalah ekor dari peristiwa kerusuhan yang pecah pada Agustus 1988. Waktu itu rakyat dan pegawai negeri turun ke jalan untuk menentang pemerintatahn sosialis yang telah berkuasa selama 28 tahun. Tapi aksi ini diredakan junta militer yang mengambil alih kekuasaan dari “kliknya” sendiri. Diperkirakan, kerusuhan pada Agustus dan bulan sebelumnya, menelan sedikitnya 3.000 korban.
Sejak masa itu pula junta militer yang menyebut dirinya SLORC (Dewan Pemulihan ketertiban dan Hukum Negara) memberlakukan UU Darurat. Pembersihan terhadap unsur-unsur “perusuh” dilakukan dari rumah ke rumah. Ribuan penduduk Yangoon dipaksa pindah dari ibu kota. Pemindahan penduduk yang oleh pers Barat disebut-sebut sebagai mirip peristiwa Kamboja di bawah Pol Pot, tidak luput dari kecaman internasional. “Di kota tua Pagan tidak lagi kelihatan rumah-rumah penduduk. Padahal 7 tahun lalu saya masih menyaksikan penampungan yang dihuni ribuan manusia”, kata Von Miler, pegawai bank di Swiss yang berlibur ke Myanmar.
Untuk mengambil ……( Antara 5-9 baris dari kolom 1 – 4 tulisan sederetan bagian ini terselimut debu tsunami Aceh, 26-12-2004-TA) yang tak menyukai ideologi sosialisme-religius ala Myanmar ini, junta militer membubarkan Partai Program Sosialis Burma(BSPP) yang berkuasa dan merupakan satu-satunya partai yang punya hak hidup di negeri itu. Junta yang dipimpin Jenderal Saw Maung kemudian menjanjikan demokrasi melalui pemilu yang jujur dan bersih. Untuk itu pula diberi keleluasaan kepada rakyat membentuk parpol yang dikehendaki.
Pemailu akhirnya memang dilaksanakan pada 27 Mei lalu dalam suasana semarak yang diikuti sekitar 100 parpol. Untuk membuktikan tekad bagi kehidupan demokrasi, pemerintah sempat mengundang wartawan-wartawan asing. Tapi setelah hasil perhitungan suara menunjukkan NLD(Liga Nasional bagi Demokrasi), yang menentang kekuasaan militer, menang telak ( merebut 392 dari 485 kursi yang diperebutkan), tiba-tiba saja junta mengubah pikirannya.
SLORC yang merupakan wadah juta mengeluarkan keputusan bahwa pengalihan kekuasaan ditunda sampai ada kesepakatan RUU Dasar baru. Tidak disebutkan kapan RUU ini akan dirampungkan. Tapi disyaratkan harus diadakan suatu konvensi nasional yang diahadiri 135 wakil kelompok etnik, wakil dari 90 parpol, serta semua yang memelihara dan mencintai negara. Setelah RUU ini selesai dibuat, harus diundangkan kepada rakyat.
Banyak pengamat makin yakin bahwa junta tidak akan menyerahkan kekuasaan kepada pemenang pemilu. Sebab, setelah keputusan menerima atau menolak RUU Dasar itu, kemudian ditetapkan apakah akan menganut sistem presidentil atau parlementer. Sesudah itu tentu harus diadakan lagi pemilu.
Keputusan SLORC yang berkekuatan hukum ini masih menambahkan embell-embel, “pembuatan rancangan konstitusi baru dilakukan dengan sabar, sistematis, penuh  perhatian, korek, dan lengkao”. Dalam peruusan RUU Dasar tersebut, angkatan bersenjata hanya berfungsi sebagai penasihat.”Dan bila diperlukan akan memberi bantuan fasilitas, termasuk keuangan”.
SLORC juga menetapkan, anggota parlemen yang terpilih baru akan dilantik jika kasus-kasus pengaduan selama pemilu sudah diproses melalui badan peradilan. Tetapi kasus yang diperiksa pada tingkat pertama pada tanggal 20 November lalu misalnya diundur lagi ke tanggal 7 Januari 1991. Dengan kata lain, kasus-kasus seperti ini akan banyak muncul dan memakan waktu lama. Dan selama itu pula anggota parlemen yang terpilih dalam pemilu belum bisa dilantik.
Sikap junta ini mengundang kecaman dari AS, India, dan negara-negara Eropa. Dan seperti biasa, pemerintah Yangoon tidak mengindahkan pandangan dunia luar. Asas sosialisme yang ditanamkan Jenderal U Ne Win untuk bertumpu pada kemampuan sendiri, masih tetap dianut para pemimpin junta yang memang adalah “anak didik” Ne Win. Paham demikian membuat mereka tidak goyah atas ancaman kemungkinan boikot ekonomi oleh AS maupun negara-negara Eropa.
Sedang ke dalam, SLORC mengerahkan tentara untuk membentengi Yangoon dan Mandalay dari berbagai tindak kerusuhan. Sebagian besar dari sekitar 250.000 tentara di negeri berpenduduk 40 juta jiwa ini, ditugaskan di kedua kota itu. Di Mandalay, 620 km utara Yangoon, stadion sepak bola misalnya sudah berubah fungsi menjadi tangsi.
Operasi penangkapan tokoh-tokoh parpol, khususnya NLD, dilakukan. Sedang tokoh mahasiswa atau buruh sudah sejak dua tahun lalu diuber. Belakangan ini para biksu juga ikut dijaring. “sedikitnya 400 orang biksu masih ditahan di bekas istana yang dikenal sebagai Benteng Mandalay,” kata seorang pengusaha di kota kedua terbesar setelah Yangoon itu.
Kompas yang menyusup masuk ke benteng Mandalay yang dijaga ketat, memperoleh informasi dari para pekerja bangunan, sedikitnya 1000 orang masih ditahan di situ. Seorang sarjana ekonomi di Pakoku, seketar 100 km selatan Mandalay, menyebut rekannya sudah dua tahun mendekam di tahanan itu.
Di wilayah Yangoon, jumlah tahanan politik jauh lebih besar. “Mereka disiksa dan tanpa pernah diproses pengadilan,” tutur seorang warga Yangoon yang bekerja di perusahaan konstruksi Jepang di Singapura. Pada November lalu, sempat pula dihebohkan tewasnya salah seorang pimpinan NLD dalam tahanan.
Situasi demikian tentu rawan. Pemerintah Yangoon bisa saja mengabaikan opini masyarakat internasional. Tapi ke dalam negeri dia telah menciptakan jurang komunikasi dengan rakyat.

(Sumber: Kompas, Senin, 17 Desember 1990 hlm. 1/5)

Penulisan Sejarah

Penulisan Sejarah
Oleh: M Isa Sulaiman
Siapa saja yang jeli memperhatikan rubrik “komentar pembaca” suratkabar Serambi Indonesia pastilah tersentak oleh kenyataan bahwa kolom itu sering diisi oleh seseorang pembaca yang membantah bukan saja tentang cuplikan sejarah Aceh yang pernah dimuat dalam Harian ini, malahan juga cuplikan sejarah Aceh dalam berbagai publikasi lainnya.
Ambil saja sebagai contoh pada edisi 14 dan 22 Juni lalu, ketika Ridwan Azwad membantah pemberitaan yang mengatakan bahwa Tgk M.Daud Beureueh pernah bekali-kali ditangkap oleh Belanda.
Dalam edisi akhir Mei lalu, Mariman Jarimin membantah beberapa bagian tulisan A.Wahab Gam tentang perubahan status propinsi Aceh menjadi Keresidenan Aceh. Selain Ridwan Azwad, Twk A Djalil beberapa waktu lalu juga mempersoalkan beberapa bagian isi buku “Lima Puluh Tahun Aceh Membangun” yang menurut mereka terdapat beberapa bagian cuplikan sejarah di dalamnya tidak benar.
Kritik dan komentar yang disampaikan itu menyadarkan kita bahwa khalayak pembaca mempunyai kepedulian dan kesadaran yang tinggi terhadap sejarah daerah atau bangsanya, sehingga mereka terpanggil untuk mempertanyakannya jika terdapat sesuatu yang menurut mereka kurang tepat. Namun patut digarisbawahi bahwa apa yang mereka bantahkan itu sebenarnya menyangkut peristiwa atau fakta sejarah, yang merupakan bahan baku penulisan sejarah.
Fakta sejarah itu merupakan rekaman dari berbagai kejadian sesungguhnya atau sejarah sebagai kenyataan yang dalam bahasa Perancis disebut “histoire realite”. Sedangkan dalam arti subjektif atau “histoire recite” sejarah adalah konstruk atau paparan cerita masa lalu yang disusun oleh penulis berdasarkan bukti-bukti tersedia.
Dengan patokan di atas dapatlah ditarik garis demarkasi antara sejarah dengan aneka macam karya sastra, seperti cerpen, novel dan epik, walaupun yang terakhir sebenarnya juga dalam waktu konstruk yang disusun oleh pengarangnya, Akan tetapi patutlah diingat bahwa kadar campur tangan dan motivasi antara sejarahwan dan sastrawan dalam membentuk konstruk cukuplah berbeda.
Sastrawan lebih leluasa menggunakan imajinasinya dinadingkan dengan yang pertama. Karena objek sejarah adalah aktualitas di masa lampau. Sejarahwan berusaha mengemukakan gambaran tentang objek tulisan sebagaimana adanya dan kejadian sebagai sesungguhnya terjadi dengan prosedur yang cukup ketat dan tertib, baik dalam penetapan ruang(topografi) dan waktu (kronologi) maupun berdasarkan bukti-bukti.
Fakta sejarah terdiri atas perbuatan , aksi dan kejadian atau peristiwa yang dalam sejarah Aceh bisa kita temukan seperti mangkatnya Sultan Malik Al Saleh, pernyataan perang yang dikeluarkan Komisaris Pemerintah Hindia Belanda, Nieuwen Huizen kepada Sultan Aceh, pengangkatan T Nyak Arief – baik sebagai residen Aceh atau staf umum Komandemen TRI Sumatera – dan proklamasi yang ditandatangani oleh Tgk M Daud Beureueh bahwa daerah Aceh dan sekitarnya menjadi bagian dari Negara Islam Indonesia. Di samping itu tedapat pula fakta sejarah dalam wujud “a particular truth” yang merupakan generalisasi dari sejumlah fakta khusus yang dalam sejarah Aceh dapat dijadikan sebagai contoh gerakan kebangkitan Islam sejak dasawarsa 20-an.
Fakta sejarah yang tiada terbilang jumlahnya itu sudah terekam dalam aneka macam dokumen baik yang beraksara Arab, Latin dan Cina maupun yang berbahasa Aceh, Melayu/Indonesia, Arab, Cina, Portugis, Belanda, Perancis, Jepang dan Inggris.
Lalu timbul pertanyaan apakah fakta sejarah itu semata-mata dalam wujud sumber tertulis?. Idealnya begitu. Akan tetapi sejarahwan bisa juga mempergunkan sumber artifak atau lisan. Yang jelas artifak termasuk fosil adalah bahan baku utama arkeologi, palaeontologi dan prehistori. Sebaliknya, bila mau mempergunakan sumber lisan sejarahwan haruslah hati-hati dalam menyaring fakta yang diperoleh dari informan.
Masalahnya tiada lain informan yang menyuguhkan fakta adalah manusia yang mempunyai ingatan terbatas terhadap peristiwa yang telah jauh berlalu, mempunyai kepribadian dan kecenderungan yang khas, dan juga kepentingan tertentu terhadap fakta yang dikemukakannya.
Pengerjaan sejarah sebagai rekonstruksi masa lampau itu hanyalah mungkin dilakukan setelah pertanyaan pokok dirumuskan terlebih dahulu. Bertolak dan dituntut oleh prtanyaan pokok itulah sejarahwan melakukan pencarian atau penemuan data
(heuristik). Data yang terkumpul dalam dokumen itu belumlah diterima begitu saja, melainkan diuji terlebih dulu kadar otentisitas dan kredibilitasnya –melalui prosedur kritik sumber sehingga diperoleh fakta sejarah yang secara historis benar.
Prosedur demikian sangatlah penting dilakukan mengingat fakta sejarah itu mempunyai kadar yang beragam. Dalam sejarah Aceh misalnya, kita menemui ribuan fakta keras yang telah diterima secara luas kebenarannya baik oleh ilmuwan atau orang awam, karena fakta tersebut ditemui dalam berbagai sumber tertulis.
Contoh kongkritnya adalah fakta tentang berdirinya PUSA, Gerakan F Kikan, Majelis Beureueh dan lahirnya Daerah Istimewa Aceh. Di samping itu terdapat pula fakta lunak masih memerlukan verfikasi kadar otentisitas atau kredibilitasnya.
Terakhir adalah yang secara sengaja dipalsukan oleh orang-orang tertentu tentang sesuatu peristiwa, karena yang bersangkutan memang mempunyai kepentingan terhadap peristiwa tersebut.
Bila fakta sejarah yang secara historis benar itu telah terkumpul dalam jumlah yang memadai, maka sejarahwan pun melakukan kegiatan penulisan(historiografi). Tahap ini tidaklah dapat dianggap enteng. Soalnya, penulisan sejarah menjadi histoire recite itu memerlukan pula keterampilan teknis,kepekaan, common sense, imajinasi, dan ketajaman analisis.
Apa yang dipaparkan secara amat singkat di atas, mengingatkan kita betapa berat beban dan tangung jawab yang dipikul oleh seseorang yang menaruh minat untuk menulis sejarah Aceh. Terutama apabila mereka bermaksud menulis sejarah yang tahan uji atau kritik. Jika tidak maka mereka terjebak kembali pada pola penulisan tradisional. Sebab, tradisi penulisan sejarah yang terdapat dalam khazanah budaya Aceh sebagaimana kita saksikan dalam naskah-naskah lama seperti Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat Aceh, Bustanussalatin, Hikayat Malem Dagang dan Hikayat Pocut Muhammad – memperlihatkan percampuradukan antara peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi dengan mitos atau dongeng.

Dr M Isa Sulaiman MA, dosen sejarah FKIP Unsyiah, Banda Aceh

(Sumber: Serambi Indonesia, Sabtu, 6 Juli 1996 hlm.4/Opini).
Catatan: Diketik ulang dalam suasana Hari Raya ‘Idul Adha 1435 H, hari tasyrik kedua, Selasa, 7 Oktober 2014 pkl. 14.40 wib, T.A. Sakti.

Kalau Profesor Menjadi Menteri!

Kalau Profesor Menjadi Menteri

SEMENJAK awal pemerintahan Orde Baru ada semacam kecenderungan dan arus “ditarkinya” sejumlah besar staf pengajar di berbagai universitas untuk menduduki jabatan struktural dan staf dalam pemerintahan. Di satu sisi hal ini dianggap bermanfaat, tetapi di sisi lain menimbulkan masalah di kampus. Mulai muncul pertanyaan apakah hal ini akan terus berlangsung menghadapi perubahan yang akan dialami Indonesia di masa depan. Dengan mengambil FE –UI, FE-UGM dan IPB sebagai contoh, wartawan Kompas Ninuk Mardiana Pambudi, Tony Dibyo Widiastono, Chrys Kelana, Julius Pour dan Indrawan Sasongko, mencoba memaparkan permasalahannya dalam tiga tulisan. Dua tulisan di halaman I dan satu di halaman XVI.

ANDA sempat membaca buku terbitan tahun 1969 The Best and The Brightest karangan bekas wartawan harian The New York Times David Halberstam?. Buku ini mengisahkan tentang Presiden John F. Kennedy dan orang-orang terbaik Amerika yang mengelilingi dan membantunya. Orang seperti Wapres
Lyndon B.Johnson, Jaksa Agung Robert Kennedy, Menlu Dean Rusk, Menteri Pertahanan Robert McNamara, Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Jenderal Maxwell Taylor, lalu juga William Bundy, McGeorge Bundy, Jendral William Westmoreland, Walt Rostow dan George Ball.
“Kalau saja ada yang menulis buku tentang “Sumitro dan Murid-muridnya” seperti tulisan David Halberstam dalam The Best and The Brightest , buku ini pasti akan jadi bestseller(laku keras). Di situ akan terlihat bagaimana situasi ekonomi, sejarah pemikiran ekonomi, kebijaksanaan ekonomi: bagaimana hasilnya dan orang-orang yang berperan di dalamnya”.
Ucapan bernada harapan itu dilontarkan Dr, Dorodjatun Kuntjoro Jakti, Direktur Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi Univrsitas Indonesia sekitar dua pekan lalu. Apa yang dilontarkan itu terasa tiba-tiba karena dalam percakapan di ruang kerjanya, pembicaraan berkisar tentang harga minyak yang cenderng turun, dollar AS yang masih mengkhawatirkan dan perdagangan dunia yang makin protektif.
Barangkali ucapannya ada kaitannya dengan susunan Kabinet Pembangunan V yang baru saja diumumkan Presiden Soeharto. Barangkali juga ada kaitannya dengan keinginannya yang belum tercapai: menulis buku tentang sejarah pemikiran ekonomi Indonesia. Tetapi bagaimana pun juga buat semua orang FE-UI, baik staf pengajar maupun mahasiswa, peran Prof.Sumitro, Prof. Widjojo Nitisastro, Prof. Ali Wardhana dan lain-lain dalam pembangunan ekonomi masa pemerintahan Orde Baru, merupakan kebanggaan tersendiri. Sampai-sampai kebanggaan itu jadi agak keblinger dan cenderung sombong di kalngan mahasiswa. “FE-UI bukan hanya mencetak ahli ekonomi, tapi juga sekolah menteri,” kata mereka.
Kalangan yang tidak suka menyebut Prof Sumitro dan para muridnya sebagai Mafia Berkeley dengan konotasi negatif. Tetapi tidak ada yang bisa menyangkal bahwa “cap dan warna” keberhasilan mereka dalam pembangunan ekonomi merupakan fakta sejarah.
Sejak awal Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto mereka “ditarik” masuk ke dalam pemerintahan. Mula-mula penasehat ekonomi Presiden, dalam Dewan Moneter dan kemudian diangkat sebagai menteri.
Prof Sumitro. Prof Widjojo Nitisastro, Prof Ali Wardhana, Prof Sadli, Prof. Subroto, Prof Emil Salim, Prof Sumarlin, Prof Saleh Afiff. Semua mahaguru ini jadi menteri di bidang ekonomi, walaupun ketika pertama kali diangkat beberapa di antaranya baru bergelar doktor saja. Lalu belakangan ada Prof BS Muljana.
Orang kampus memang memperoleh kesempatan untuk mengabdi dengan menjadi menteri, sejak awal Orde Baru hingga saat ini. Bukan hanya orang FE-UI atau UI saja yang memperoleh kesempatan. Prof B.J.Habibie, Prof Sudarsono Hadisaputro, Prof JH Hutasoit, Prof H. Mukti Ali, Prof Fuad Hasan, Almarhum Prof Nugroho Notosusanto, Prof Syarifuddin Baharsyah, dan Prof Haryati Subadio, untuk sekedar menyebut sebagian dari deretan nama.
Staf pengajar yang jadi menteri juga tidak hanya yang bergelar Professor tetapi ada juga yang bergelar Doktor (Menmud Perdagangan Sudradjat Djiwandono dan Gubernur Bank Sentral Adrianus Mooy misalnya). Bahkan ada juga yang masih berelar Drs (Menmud Keuangan Nasruddin Sumintapura).
Dosen perguruan tinggi juga berkesempatan menjadi pejabat eselon I (Dirjen Dikti Prof Sukadji, Sekjen Departemen Perhubungan Dr Junaedi Hadisumarto), eselon II (Kepala Biro Kepegawaian Departemen Pertanian Dr Sutatwo Hadiwigeno), menjadi ketua lembaga (Ketua Bapepam Prof Barli Halim). Juga menjadi menjadi staf ahli menteri (Dr Dibyo Prabowo, Prof Ludolf Sinaga,Prof I.B. Teken), menjadi asisten menteri (Dr Herman Haeruman, Prof Kartomo Wirsuhardjo). Ini sekedar contoh dan masih banyak untuk bisa disebut satu persatu.
Mutu
“Ditariknya para staf pengajar di perguruan tinggi, termasuk IPB, tidak bisa dielakkan karena pemerintah memerlukan mereka,” kata Rektor IPB Prof Dr Ir Andi Hakim Nasution.
Sedang Dekan FE-UI Prof Dr Wagiono Ismangil mengatakan, pemerintah memelukan mereka karena ada kepentingan yang lebih besar dan lebih mendesak. Mereka mengemban misi FE-UI yang lebih luas.
Tetap dengan makin banyaknya tenaga staf pengajar perguruan tinggi yang ditarik ke pemerintahan dan nampak kecenderungan ini terus berlangsung, apakah tidak mengganggu proses belajar dan mengajar serta penelitian? Apakah mutu perguruan tidak akan turun mengingat orang yang ditarik merupakan orang-orang andalan ?.
Rektor UI Prof Dr Sujudi mengaku bahwa hal itu menimbulkan gangguan sedikit, ”Munafik kalau dikatakan kalau tidak ada gangguan. Hanya yang saya minta dan harapkan, gangguan itu bisa ditekan semaksimal mungkin dan dalam tempo singkat,” katanya.
Dalam soal mutu, Dekan FE-UI Prof Wagiono mengatakan, orang bisa berdebat mengenai hal ini. Tetapi kenyataannya dalam lulusan FE-UI diperhitungkan dalam lapangan pekerjaan dan staf pengajar muda yang dikirim ke luar negeri bisa masuk ke perguruan tinggi kelas satu.
Baik Prof Sujudi, Prof Andi Nasution dan Prof Wagiono berbicra tentang kaderisasi sebagai upaya untuk mempertahankan mutu. Dosen senior yang masuk pemerintahan digantikan oleh dosen muda yang berkualitas.
Untuk mempercepat peningkatan kualitas inilah staf pengajar dikirim ke luar negeri mengambil program master atau doktor. Dewasa ini, kata Wagiono, ada sekitar 30 staf pengajar FE-UI yang belajar di luar negeri.
Selain itu peningktan kualitas juga dilakukan dengan pembentukan Inter University Center (IUC) yang dipimpin oleh Ketua Jurusan Ekonomi dan Studi Pembangunan FE-UI Dr Iwan Jaya Aziz. Lembaga ini berugas memikirkan peningkatan mutu staf pengajar, materi kuliah, penelitian, dan penulisan buku untuk beberapa perguruan tinggi negeri.
Tetapi masih tetap ada kesangsian apakah dosen muda akan bisa menandingi dosen senior sekaliber Prof Widjojo atau rekan-rekannya.
“Dosen muda belum tentu kalah” tutor Prof Sujudi, “Pak Widjojo pernah mengatakan bahwa ia harus banyak belajar dari Iwan Aziz. Banyak hal yang sudah tidak diketahui oleh Pak Widjojo.”
Pengakuan kelebihan dosen muda ini juga diucapkan mantan Menko Ekuin Ali War(Bersambung ke hal. XII kol. 4-7)

(Sumber: Kompas, Minggu, 10 April 1988 hlm. 1). Catatan: Halaman sambungan belum terjumpai!, T.A.Sakti)

Cuplikan Karya Teungku Di Cucum Buat Para Anak Cucu!

Sekilas pengantar: Sejauh ini baru tiga karya yang saya ketahui pernah ditulis oleh Syekh Abdussamad alias Tgk. Dicucum. Ketiga karangan yang ditulis dalam huruf Arab Melayu/Jawi/Jawoe itu  ialah:
1. Karya yang belum diberi judul, sehingga saya beri judul sementara “Tambeh Gohna Nan”(Tambeh belum bernama).
2. Akhbarun Na’im ( 1269 H )
3. Tambeh Tujoh Blaih ( 1306 H )
Dalam menyambut Hari Raya ‘Idul Adha 1435 H serta mengenang 10 Tahun Bala Tsunami Aceh ( 15 Zulqa’idah 1425 H – 15 Zulqa’idah 1435 H ), berikut adalah cuplikan beberapa bait Tambeh Gohna Nan itu:

Alhamdulillah sudah rab sampoe
Bandum kamoe harap bak gata
Kamoe kala’eh umu ka lampoe
Do’a dikamoe bandum keugata

Bokonle dhiet dum Meuligoe
Teutapi putroe tan nyang ceudah
Pajan-pajan mate kamoe
Yue seumanoe laju bagah

Lheueh seumanoe boehlam gafan
Yue seumbahyang ateueh jeunazah
Lheueh nyan teuma ba u jeurat
Ta intat seuon jinazah

Watee katoek dalam jeurat
Keue u Kiblat peuduek beuceudah
Papeun sion nyang got-got that
Lam lieng leuhat kamoe takeubah

Teuma lheueh nyan kajeuet seubee
Ie diulee ple si tima
Pula nawah gaki ulee
Dang na batee taboeh tanda

Lheueh takubu yue teuleukin
Keu Mukmin beuna keuh do’a
Meuna riyeu bri seudeukah
Meungna mudah nibak gata

Meutan riyeu peuelon peugah
Ta seuleuah beule tado’a
Lheueh seumayang jeueb-jeueb watee
Talakee keu kamoe do’a

Daktan laen he samlakoe
Seulaweut lhee go beuta baca
Taniet pahla jok keu kamoe
Rateb lhee go beusabe na

Tajak u gle ta meuladang
Taba parang uteuen tacah
Meungna taweueh ngon tasayang
Beuna tabang ateueh jeunazah

Meutan inseueh ngon tasayang
He intan pulang bak Allah
Kadang kamoe na lam utang
Beuta sayang tajak peuglah

Sibu ranup seupot beungoh
Na jeuet leumoh on jiteuma
‘Ohtan kamoe uroe singoh
Bek meuseunoh ngon saudara

Daleh pitan meusihah tanoh
Peue meuseunoh laen bak haba

Jak u pasi takoh nipah
Ta beureukah dum ek taba
Hareuta lontan peue lon keubah
Bri Potallah hana kaya

Digob laen harta meutamah
Bri Potallah le usaha
Digob laen hareuta bobah
Bri Potallah rijang kaya

Dilon hana kaya limpah
Bri Potallah dum kong ija

Musem Timu geumupukat
Musem Barat jakbloe publoe
Adak pina lon hareukat
Dum glah ie klat keu cot uroe

Tanna lon bloe meuh ngon pirak
Tanna sikrak ija got ragoe
Tanna lon bloe bajee keu lagak
Tanna lon jak keudeh-keunoe

Tajak ublang talho pade
Ta tinteuengle taboih jumpung
Hana umong bak meupade
Boh hate meupeue keuh tatueng

Jak meulampoih pula timon
‘Oh teuka ngon tayue pajoh
Tanna keude deungon umong
Tan lon tamon ngon bloe lampoeh

Teubiet ublang tapoet pade
Tapilehle nyangka tuha
‘Ohtan atra he boh hate
‘Oh mate hana pusaka

Teubiet ublang jak keumawe
Jikap bace sep sigo croh
Lon hareukat sabe-sabe
He boh ate dum sep pajoh

Teubiet ublang jak keumawe
Tan jikaple peue keuh tacroh
Lon hareukat sabe-sabe
Hana hase peuekeuh lon troh

Tuboh saket sihat hana
Kayem hana mangat tuboeh
Meunan untong bri Rabbana
Pakri teuma he aneuk beh!

Ekna sunggoh ta hareukat
Ekna mangat dak tapajoh
Tuboeh saket hana mangat
Lam meu-ubat hana teudoh

Padum teuga lon hareukat
Na keu ubat hana keu pajoh
Peuelom laen lon bloe meuhat
Meu-ubat meujan hana boeh

Meunan neu brile Hadlarat
Saket mangat disinan troh
Nyankeuh aneuk pike beuna
Sangkira na meuhat lon troh

Daleh pitan teumpat dua
Baklon gisa lon duek piyoh
Sangkira na teumpat duwa
Sangka gata teuntee na lon troh

Nyankeuh aneuk pike beuna
Ngon saudara bek meujioh
Meungna udep bandum gata
Ngon saudara tameutroh-troh

Meunan wasiet ubak gata
Ngon saudara bek meuputoeh
Jampang-jampang Uroe Raya
Saweue sigra beuthat jioh

Jampang-jampang peue na mara
Saweue sigra beurijang troh
Jampang-jampang na jeuet dawa
Dame sigra beurijang troh

Jampang-jampang na seungsara
Bandum sigra ban-ban nyang roeh

Tajak ugle tatheun taron
Takalon pat bakat rusa
‘Oh tuha Ma bungong siron
Jak kalon bek putoh asa

Treb-treb sibletle jak kalon
Bungong siron jak peunyata
Kadang saket tansoe kalon
Pakon-pakon peue saleh na

Beukayem na saweue kalon
Meungna mantong udep neuhna

Taplah bak U peugot rinyeun
‘Oh tatheun beugot tasadeue
Treb-treb siblet saweue siseun
Lam ruweueng beuna ta eu-eu

Bungong puteh pula dileuen
Bak kuyuen pula bineh weue
Jampang-jampang woele siseun
Lam ruweueng tasaweue-saweue

Lingka rumoh tasampoh broeh
Boih bak jioh bek tiek dileuen
Kadang-kadang tanpeue pajoh
Intat beutroeh peue ek makeuen

Lingka rumoh bek pula Iboih
Teumpat piyoh dum beurahla
Kadang gata gampong jioh
Peu-ek beutroh peue mudah na

Peuelom nyang toe woe bek putoeh
Saweue beutroh bekna lupa
Meutan meunan he aneuk beh
Gata luroh gasien papa

Meunan cit guree saweue beutroeh
Walee jioh deungon gata
Meungnyo nyang toe jakle beutroh
Meungnye jioh saleum beuna

Takzim keu guree teuka ijazah
Takzim keu Nangmbah seunang jiteuka
Takzim keu Nabi neubri syufu’at
Takzim Hadlarat neubri Syuruga

Bukonle dhiet blang ‘Arafah
Got that tampah keunong uroe
Bukonle dhiet dum amanah
Lon wasiet keu aneuk cuco

Bak siuroe bri Potallah
Lon duek dahsyah tahe sidroe
Ingat keu untong that beulisah
Aneuk lidah na padum droe

Mantong ubit jih goh mudah
Gohlom leupah peumeu’en adoe
Peue taaja ubit leupah
Peue tapeugah teuntee tuwo

Leumah lam se bri Potallah
Bak keureutah lon boeh sinoe

Bukonle dhiet tanoh Mekkah
Sinan payah udep peunula
Tanda gaseh keu aneuk lidah
Lon keubah geunantoe atra

Harta ngon woe u nanggroe luwah
Nibak Allah nanggroe seujahtra
Sideh keuh teumpat putroe nyang ceudah
‘Ainal Masdhiyah deungon Syuruga

Bukon sayang tangieng kipah
Guruek leupah go meugisa
Wasiet lon nyoe bak keureutah
Sinan lon keubah bandum keugata

(Sumber: Tambeh Gohna Nan, karya Syekh Abdussamad alias Teungku Di Cucum, halaman 121 – 125. Bale Tambeh, 21 Beurapet 1435/ 21 Zulqaidah 1435 H/ 16 September 2014 M, pkl. 10.30 pagi, T.A. Sakti).

Wasiat Prof. A.Madjid Ibrahim Kepada Rektor – Rektor Universitas Syiah Kuala

Karena penting dan diangap hebat itulah, maka Mir’atut Tullab –lah yang pertamakali diperkenalkan kembali kepada masyarakat oleh pimpinan Universitas Syiah Kuala  43  tahun lalu(1971).
Mengawali kata pengantarnya; Rektor Universitas Syiah Kuala saat itu, Prof.A.Madjid Ibrahim menyebutkan ( perubahan ke EYD oleh penulis):”Dalam rangka perayaan Dies Natalis X Univesitas Syiah Kuala, kami menganggap perlu untuk memulai memperkenalkan kepada masyarakat dan kepada lingkungan sendiri; hasil-hasil karya Ulama Besar Syekh Abdurrauf, atau yang lebih terkenal dengan nama Teungku Syiah Kuala, yang namanya telah dipakai oleh Universitas kami, untuk memperoleh sempena dari kebesarannya”. Pada bagian lanjutannya, Prof.A.Madjid Ibrahim mengatakan, bahwa mengingat sudah langkanya karya-karya Syekh Abdurrauf itu; maka:”Universitas Syiah Kuala secara berangsur-angsur berusaha mengreprodusir hasil-hasil karya beliau untuk disebarluaskan kepada masyarakat”.
Selanjutnya, sang  Rektor juga berujar:”Usaha ini akan dilanjutkan sedikit demi sedikit dengan hasil-hasil karya penulis lainnya, yang dapat dikumpulkan dari kalangan masyarakat, dayah-dayah dan sumber-sumber lainnya, dalam rangka pembinaan sebuah perpustakaan tentang Sejarah Aceh pada Universitas Syiah Kuala, dan akan disebarluaskan juga kepada pusat-pusat pengkajian sejarah dalam lingkungan pelbagai Universitas, dan para peminat sejarah lainnya”.

 

 

(Sumber: Cuplikan dari tulisan  saya  yang berjudul”Mir’atut Tullab  Karya Terbesar Syiah Kuala”  yang pernah dimuat Warta Unsyiah.  Bale Tambeh, 2 September 2014, Hari Ultah Unsyiah ke – 53, T.A. Sakti).

Mengenang Teungku Syiah: Menyambut Ultah ke-53 Universitas Syiah Kuala, 2 September 1959 – 2 September 2014.

Mengenang Teungku Syiah
Sebuah poster lebar sekarang terpampang di sudut halaman depan Gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh. Pesan yang dikandung “kain rentang” itu mengajak semua kita untuk memperingati Dies Natalis ke – 53 Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) pada tanggal 2 September 2014. Memperingati Hari Ulang Tahun Unsyiah, berarti mengenang jejak sejarah Unsyiah; sekaligus menghormati dan memuliakan tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya.
Dalam rangka  memperingati hari-hari yang penuh kenangan yang mengharukan itu, sebagai alumnus Unsyiah; saya bermaksud mengisahkan perihal masyarakat di empat  kampung (gampong) yang amat menghormati Teungku Syiah. Gampong pertama adalah Gampong Tampieng Baroh, Mukim Caleue, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Pidie. Gampong kedua dan tiga, adalah gampong Dayah Muara dan gampong Sawiet, yang keduanya dalam kecamatan Pekanbaro, Kabupaten Pidie. Informasi ‘peumulia’ Teungku ( Tgk) Syiah ini saya peroleh dari Drs. Zulkifli AZ alias Pak Joel, yang pernah menjadi Teungku Imum di gampong Tampieng Baroh – sekarang juga masih sebagai pelaksana Tgk Imum di sana. Selesai kami mengikuti hari penutupan kuliah di Pascasarjana UIN Ar-Raniry di hari Minggu pagi, 15 Ramadhan 1435 H yang lalu, saya mewawancarai Pak Joel di ruang tunggu gedung pasca itu.
Penduduk Tampieng Baroh memiliki sebuah Meunasah yang sejak dulu bernama Meunasah Teungku Syiah. Dinamakan demikian, karena Tgk Syiah pernah menunaikan sembahyang di Meunasah itu. Beberapa tiang dari bangunan lama juga masih terlihat utuh. Sebuah batu yang dipercaya pernah ditapaki(diinjak) Tgk Syiah masih ada sampai hari ini. Dulu, bila orang hendak naik ke Meunasah harus mencuci kaki(sekalian berwudhuk) di sumur, kemudian melangkah di atas batu sebagai alas tapak kaki hingga ke tangga Meunasah. Salah satu batu itulah yang masih dijumpai di Meunasah itu yang digelari “batee Teungku Syiah”. Menurut kisah turun-temurun masyarakat setempat, Tgk Syiah yang dianggap pernah mengunjungi kampung mereka adalah Syekh Abdurrauf alias yang juga bergelar Teungku Syiah Kuala. Menurut Drs. Zulkifli AZ , yang juga Kepala SDN Damai desa Jurong, Caleue, kampung lain yang juga dipercaya pernah didatangi Tgk Syiah adalah gampong Dayah Muara dan gampong Sawiet. Ketiga kampung itu letaknya bertetangga.
Sebab itulah ketiga kampung ini setiap tahun selalu mengadakan “Khanduri Teungku Syiah” dalam rangka mengenang dan mengambil berkah seumpeuna kunjungan ulama besar yang bergelar Tgk Syiah itu. Sekiranya, memang benar sebagai kepercayaan masyarakat, bahwa Tgk Syiah yang mereka hormati itu adalah Syekh Abdurrauf atau Teungku Syiah Kuala, maka berarti Kenduri Teungku Syiah telah berlangsung beberapa abad. Menurut pengalaman Pak Joel yang juga dosen Universitas Jabal Ghafur (Unigha) Sigli, tradisi khanduri Tgk Syiahdi kampungnya telah dilakukan cukup lama dan tak pernah putus. Paling-paling hanya tata cara pelaksanaannya yang berubah sesuai perkembangan zaman. Pak Joel sendiri sudah menyaksikan 30 kali khanduri Tgk Syiah, yakni sejak tahun 1984 ia berkeluarga serta tinggal di gampong Tampieng Baroh.
Tempo dulu, acara kenduri Tgk Syiah berlangsung cukup bersahaja. Ketiga kampung itu melaksanakannya secara khusus sebagai upacara istimewa. Masing-masing rumah/keluarga mempersiapkan hidangan nasi- lengkap dengan lauk-pauknya untuk dihantarkan ke Meunasah. Tamu yang diundang adalah penduduk dari dua kampung bertetangga. Jika yang melangsungkan kenduri kampung Tampieng Baroh, maka warga kampung Dayah Muara dan Sawiet akan diundang ke Meunasah Teungku Syiah untuk menyantap kenduri. Begitu pula sebaliknya. Namun, jika acara kenduri lebih besar, barulah warga di kampung-kampung lain turut diundang. Berarti mengundang warga dua kampung yang pernah disinggahi Teugku Syiah; nampaknya termasuk wajib.
Dalam pelaksanaan Khanduri Tgk Syiah yang sudah bergantian abad itu, pernah pula dibuat kenduri tiga hari berturut-turut. Misalnya, hari pertama adalah kenduri Maulid, hari kedua merupakan khanduri Tgk Syiah, sedangkan di hari ketiga adalah khanduri blang(kenduri bersawah). Namun, beberapa tahun terakhir, khanduri Tgk Syiah sudah diserentakkan dengan kenduri maulid Nabi Muhammad Saw.
Hingga kini, masyarakat sekitar masih menganggap ‘bertuah’ Meunasah Teungku Syiah itu. Hal ini terkesan dengan masih adanya orang-orang yang membayar nazar(peulheueh kaoy). Misalnya, bila tanaman padi di sawah diganggu hama tikus, maka warga pun bernazar ke Meunasah itu. Ketika nazar terkabul, maka mereka pun mengantar sejumlah kiloan padi buat dana abadi Meunasah Tgk Syiah.
Begitulah yang dipraktekkan masyarakat kampung Tampieng Baroh, Dayah Muara dan desa Sawiet , Kabupaten Pidie sejak dulu sampai kini. Hanya dengan pernah disinggahinya sekali ke kampung mereka oleh seorang Teungku Syiah yang amat dihormati, maka mereka pun telah melangsungkan “ khanduri Teungku Syiah” bergantian abad.

Bila bagi  masyarakat tiga gampong di Pidie mempunyai Meunasah Teungku Syiah dan Khanduri Teungku Syiah, maka bagi masyarakat Blang Oi, kota Banda Aceh juga punya kenangan tersendiri terhadap Syekh Abdurrauf-Teungku Syiah Kuala. Mereka memiliki Bale Teungku Syiah, yang tetap terpelihara turun-temurun sampai peristiwa tsunami Aceh, 26 Desember 2004. Bale itu terletak dalam komplek Meunasah Blang Oi. Alkisah, diceritakan Tgk Syiah Kuala pernah mengunjungi kampung Blang Oi dan melangsungkan pengajian agama di balai itu. Dulu, di kawasan Meunasah Blang Oi, selain Bale Teungku Syiah juga terdapat Bale Panyang dan Bale Tambo(Balai Bedug). Sebagai kelaziman tempo dulu, Bale itu selain sebagai tempat pengajian, pada malam hari juga menjadi lahan penginapan bagi pemuda-pemuda lajang sedesa. Namun, bila tidur di Bale Teungku Syiah, mereka harus berlaku tertib, suci dan sopan. Bila melanggar, pasti ada peristiwa aneh yang bakal terjadi.
“Barangsiapa yang tidur tanpa mencuci pipis(hana rah iek), besok pagi kita lihat ia tertidur dalam rumput di halaman Bale Tgk. Syiah”, kisah Prof. Dr. Yuswar Yunus kepada saya sambil terkekeh. Beliau penduduk asli gampong Blang Oi, Banda Aceh.
Buat mengenang kunjungan Tgk Syiah Kuala yang hampir empat abad lalu, sekarang dalam bekas areal Meunasah Blang Oi telah didirikan sebuah masjid yang bergelar Mesjid Syekh Abdurrauf al Singkily beserta sebuah yayasan yang diberi nama “Yayasan Syekh Abdurrauf al Singkily” pula. Hal ini menunjukkan, begitu besar penghargaan masyarakat Blang Oi kepada ulama besar mereka; Syekh Abdurrauf-Teungku Syiah Kuala, yang sudah berpulang ke Rahmatullah hampir empat abad lalu.

Di negeri orang, termasuk di Jawa, jenis kisah berupa dongeng, legenda, haba jameun terun-temurun seperti ini terwariskan dengan cukup baik, karena sudah terkumpul dalam berbagai buku, filem dan alaat-alat rekaman jejak lainnya. Kini, kisah-kisah serupa di Aceh nyaris punah, karena tak ada pihak yang peduli …!. Patut kiranya ke depan, dalam rangka memperingati Dies Natalis Unsyiah dilaksanakan berbagai acara terkait Syekh Abdurrauf-Teungku Syiah Kuala. Banyak hal yang dapat diangkat dari tokoh ulama Aceh ini, seperti dari profil pribadi yang amat haus ilmu dan menghasilkan karya tulis yang berlimpah serta mampu mendamaikan konflik agama dan politik di Aceh; pameran kitab-kitab beliau, mencetak ulang karya-karya itu, berziarah ke makam Tgk Syiah Kuala, Seminar pengaruh pemikiran Tgk Syiah Kuala di dunia Islam dan Asia Tenggara, lomba mengarang dan baca cae-puisi tentang sosok beliau dan sebagainya. Mengamati isi poster besar tersebut di atas, tidak terbayang adanya acara seperti yang kita sarankan itu!.

T.A. Sakti, Peminat naskah lama-sastra Aceh,

Email: t.abdullahsakti@gmail.com