P. Ramlee, Bintang Pujaan Ramai

P Ramlee, Bintang Pujaan Ramai

Tanggal 23 Maret lalu genap usia 65 tahun tokoh terkenal P.Ramlee, jika sekiranya beliau masih hidup. P.Ramlee yang nama aslinya adalah Ramli bin Puteh, lahir tgl. 23 Maret 1929 di Kampong Jelutong, Pulau Pinang, Malaysia, dari pasangan Nyak Puteh bin Zakaria (berasal dari Aceh, Cunda) dan Encik Fatimah (berasal dari Kedah)

Ayahnya pada masa sebelum Perang Dunia II adalah masinis sebuah kapal Inggris. Sejak kecil Ramli sudah suka menyanyi. Ia sangat menggemari lagu-lagu keroncong Melayu terutama dari penyanyi keroncong Indonesia masa itu yang dikenal dengan nama Said Abdullah dari Kandangan Kalimantan. Bahkan sjak remaja ia sudah menciptakan lagu-lagu Melayu yang dinyanyikannya sendiri. Lagu pemulanya yang sangat terkenal adalah “Azizah”.
Semula ayahnya kurang menyukai anaknya menjadi penyanyi, tetapi sebelum orangtua meninggal dunia kiranya sempat juga ia mendengar suara merdu anaknya melalui piring hitam dan radio.
Hanya sayang, ia tak sempat menonton film-film P.Ramlee yang cukup mencuat ketika itu. Pada masa remaja P.Ramlee yang wataknya agak “nakal” itu sering menyanyi di restoran, nite club dan pangung-panggung joget.
Pada suatu malam di bulan Maret 1948 ia sedang menyanyi di sebuah nite club d Penang membawakan lagu “Azizah”, dengan penuh perasaan. Seorang produser dan sutradara film dari Singapore yang kebetulana hadir di tempat itu, begitu kagum dan terpesona akan suara dan gaya menyanyi pemuda yang berkumis tipis ini. Itulah malam bersejarah yang kemudian membawa P.Ramlee menjadi termasyhur di kemudian hari.
B.S. Rajah, sang sutradara tersebut membawa Ramlee ke Singapore dan dijadikan sebagai playback-singer, yaitu suara penyanyi pengganti untuk pemain film terkenal seperti Romai Noor. Untuk suara pemain wanita seperti Kasma Booty biasa direkam suara Miss Rubiah dari Medan. Disamping sebagai playback-singer ia juga mendapat peran kecil-kecilan sebagai pemain pembantu. Tetapi karena bakat dan keuletannya, dalam waktu yang tidak begitu lama, ia kemudian mendapat peran utama. Demikianlah nama P.Ramlee atau yang biasa dipanggil “PR” saja terus menanjak sehingga membuat namanya terus termasyhur baik sebagai penyanyi maupun sebagai bintang film yang tiada taranya pada masa itu.
Sebenarnya suara P.Ramlee tidaklah terlalu merdu jika umpamanya dibandingkan dengan suara Said Effend penyanyi langgam Melayu moderen dari Indonesia, tetapi karena dia mampu sebagai aktor dan gaya membawakan lagu dengan suara yang agak berat itulah ia merebut hati jutaan penggemarnya yang tersebar di Malaysia, Indonesia, Thailand, Brunai dan sebagian Philipina.
Walaupun hanya bersekolah di Sekolah Dasar Melayu, biduan Ramlee termasuk manusia jenius yang langka, karena ia memiliki semua keahlian yang berhubungan dengan musik dan film. Ia adalah penyanyi, pencipta lagu, penata musik, pemimpin orkes (El Sitara) dan dapat memainkan beberapa alat musik, terutama biola. Di bidang Film, seniman keturunan Aceh ini, selain sebagai pemain, sekaligus ia juga pengarang cerita, penulis skenario, sutradara dan produser. Ia pun adalah pelawak terkenal. Hanya dalam mencipta lirik lagu-lagu ia dibantu oleh seorang seniman yang bernama S. Sudarmaji.Selain bahasa Inggris ia juga dapat berbahasa dan menulis huruf Cina dan bahasa Tamil(India).
Tak terkirakan betapa banyaknya lagu yang diciptakan dan dinyanyikan, termasuk lagu-lagu Melayu lama yang telah dipermodern. Kita masih ingat akan lagu-lagu: Azizah, Kalaulah Kaca Menjadi Intan, Anaku Sazali, Engkau Laksana Bulan, Mecece Bujang Lapok, Merak Kayangan, Senandong Malam, Baerkorban Apa Saja, Rindu Hatilu Tak Terkira, Jeritan Batinku, Getaran Jiwa dll adalah diantara lagu-lagu “abadi” yang masih digemari sampai sekarang terutama di kalangan masyarakat Melayu baik di Malaysia maupun di Indonesia. Di antara film-filmnya yang terkenal dan menjadi box office adalah: Hang Tuah, Bujang Lapok, Sumpah Orang Minyak, Nujum Pak Belalang, Anakku Sazali, Semerah Padi, Penarik Beca, Musang Berjanggut, Takdir Ilahi dll.
Diantara bintang wanita yang biasa menjadi partner dalam film adalah: Kasma Booty, Siput Serawak, Neng Yatimah, Normadiah, Maria Manado, Latifah Umar, Sitti Maryam dan Saloma.
P. Ramlee adalah seorang tampan, gagah, romantis dan sinar matanya yang hitam banyak membuat kaum hawa tergoda. Dengan uang yang berlimpah dan hidup dalam kemewahan, setelah bercerai dengan isterinya yang pertama, pernah ia bertualang sebagai plaboy. Tetapi akhirnya ia insaf bahwa hidup seperti itu tidak membahagiakan dan hampir-hampir menghancurkan kariernya. Walaupun ia berjaya dalam kariernya tetapi ia tidak begitu beruntung dalam berumah tangga. Isterinya yang pertama yaitu Junaidah Haris(anak pelawak Daeng Haris) diceraikannya setelah kawin sekitar 3 tahun dan mendapat dua orang anak yaitu Normah dan Mohd Nasir. Kemudian tahun 1955 ia kawin dengan Noorizan, janda Sultan Perlis. Setelah bercerai dengan Noorizan akhirnya ia kawin dengan Salmah Ismail atau lebih populer dengan nama Soloma, seorang penyanyi jelita yang bersuara emas. Banyak lagu-lagu duet P.Ramlee – Saloma beredar ketika itu. Kiranya dengan Saloma ia serasi dalam menempuh hidup hingga akhir ayatnya.
Beberapa lagu P.Ramlee pernah mendapat penghargaan, selain di Malaysia juga pernah mendapat penghargaan internasional. “Best Music Award” dalam Festival Film Asia di Hongkong. Juga dalam perfilman ia pernah mendapat hadiah sebagai film terbaik yaitu “Golden Harvest Award” di Manila untuk film “Sumpah Orang Minyak”. Juga untuk film “Anakku Sazali” ia pernah mendapat award. Karena jasa-jasanya mengangkat nama Malaysia dalam seni budaya, maka kerajaan Malaysia mengangkatnya sebagai “Seniman Agung” dengan gelar Tan Sri P.Ramlee.
Selama ia bermukim di Singapore ia bernaung di bawah perusahaan film raksasa Run Run Shaw. Kemudian setelah Singapore berpisah dari Malaysia, P.Ramlee beserta seluruh anak buahnya hijrah ke Kuala Lumpur, Malaysia. Di sini ia bernaung di bawah perusahaan film “Cathay Kris Film Production”, dimana ia juga mempunyai saham.
Karena kesibukan kesibukannya P. Ramlee dinilai kurang menjaga kesehatan dan kondisi tubuhnya, ia semakin gemuk dan tidak lagi melakukan olahraga kegemarannya yaitu main badminton(bulutangkis-red) dan sepak takraw.

Makan enak tanpa berolahraga menjadikan tubuh penuh kolestrol. Demikianlah dini hari menjelang tanggal 29 Mei 1973 tiba-tiba ia meresa sesak nafas dan dadanya panas dari dalam. Allahyarham meninggal dunia di rumah sakit karena serangan jantung dalam usia 44 tahun. Kematiannya menggegerkan rakyat Malaysia, banyak yang menangis dan pingsan. “Air mata mengalir di Kuala Lumpur” adalah lagu ciptaan Saloma dalam mengenang suaminya. Syair lagu tersebut seperti menggambarkan suasana pedih yang meliputi kota Kuala Lumpur dalam mengantar jenazah Tan Sri P.Ramlee ketempat peristirahatan yang terakhir.
Dalam sejarah Malaysia belum pernah ada sebanyak itu orang mengantarkan jenazah yang mencapai hampir satu juta orang. Yang Amat Berhormat Tan Sri P.Ramlee telah pergi, sebuah bintang besar telah lenyap, tetapi suara merdunya masih mendayu-dayu di udara baik melalui radio, televisi maupun kaset. Terutama di kalangan penggemarnya ”angkatan tua”. Tercatat banyak orang yang mengunjungi Malaysia datang melihat rumah kelahirannya di Jelutong Pulau Pinang atau ke Musium P.Ramlee di Kuala Lumpur. Bahkan ada yang “berziarah” ke pusaranya.
Sebagai penutup tulisan ini penulis menurunkan syair lagu “Senandung Malam”, salah satu lagunya yang digemari ramai, yang dipetik dari salah satu albumnya: Sejuta bintang bertabur/ Siapakah gerangan di jendela. Risau bintangkah atau nak dagangkah/Harum bunga senandung malam.
Mungkinkah malam bermimpi/ Mata jelita kilau-kilauan. Menentang malamkah, melepas rindukah/Duhai nak dara marilah dinda.
Lena daku dalam sunyian/Senandung malam berkisah. Mengisahkan asmara hati/Duhai nak dara marilah dinda.
Kutahu kau tak berteman/Pilih teruna siapa gerangan. Pilih akukah atau sidiakah/Dengar nak dara senandung malam (Abd Wahab Gam)
#Sumber: *Pembicaraan langsung penulis dengan ybs.
*Catatan perjalanan penulis ke Malaya/Malaysia.
* Beberapa majalah.
(Asal tulisan: Serambi Indonesia, Minggu, 27 Maret 1994/Budaya)
@Salinan ulang ini sebanyak 4 kolom saya salin sendiri dan kolom 5 dibantu putra pertama saya. Bale Tambeh, 10-10-2014, pkl. 10.25 malam, T.A. Sakti.

Kerajaan Jeumpa, Kerajaan Islam Pertama di Asia Tenggara

Home » Unlabelled » Kerajaan Jeumpa Aceh: Kerajaan Islam Pertama Di Nusantara
Kerajaan Jeumpa Aceh: Kerajaan Islam Pertama Di Nusantara
Latar Belakang
Teori tentang kerajaan Islam pertama di Nusantara sampai saat ini masih banyak diperdebatkan oleh para peneliti, baik cendekiawan Muslim maupun non Muslim. Umumnya perbedaan pendapat tentang teori ini didasarkan pada teori awal mula masuknya Islam ke Nusantara. Mengenai teori Islamisasi di Nusantara, para ahli sejarah terbagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu pendukung (i) Teori Gujarat (ii) Teori Parsia dan (iii) Teori Mekah (Arab). Bukan maksud tulisan ini untuk membahas teori-teori tersebut secara mendetil, namun dari penelitian yang penulis lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa Teori Mekkah (Arab) lebih mendekati kebenaran dengan fakta-fakta yang dikemukakan. Teori Mekkah (Arab) hakikatnya adalah koreksi terhadap teori Gujarat dan bantahan terhadap teori Persia. Di antara para ahli yang menganut teori ini adalah T.W. Arnold, Crawfurd, Keijzer, Niemann, De Holander, SMN. Al-Attas, A. Hasymi, dan Hamka.i
Arnold menyatakan para pedagang Arab menyebarkan Islam ketika mereka mendominasi perdagangan Barat-Timur sejak abad awal Hijriyah, atau pada abad VII dan VIII Masehi. Meski tidak terdapat catatan-catatan sejarah, cukup pantas mengasumsikan bahwa mereka terlibat dalam penyebaran Islam di Indonesia. Asumsi ini lebih mungkin bila mempertimbangkan fakta-fakta yang disebutkan sumber Cina bahwa pada akhir perempatan ketiga abad VII M seorang pedagang Arab menjadi pemimpin sebuah pemukiman Arab di pesisir Sumatera. Sebagian mereka bahkan melakukan perkawinan dengan masyarakat lokal yang kemudian membentuk komunitas muslim Arab dan lokal. Anggota komunitas itu juga melakukan kegiatan penyebaran Islam. Argumen Arnold di atas berdasarkan kitab `Ajaib al-Hind, yang mengisaratkan adanya eksistensi komunitas muslim di Kerajaan Sriwijaya pada Abad X. Crawfurd juga menyatakan bahwa Islam Indonesia dibawa langsung dari Arabia, meski interaksi penduduk Nusantara dengan muslim di timur India juga merupakan faktor penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Sementara Keizjer memandang Islam dari Mesir berdasarkan kesamaan mazhab kedua wilayah pada saat itu, yakni Syafi’i. Sedangkan Nieman dan De Hollander memandang Islam datang dari Hadramaut, Yaman, bukan Mesir. Sementara cendekiawan senior Nusantara, SMN. Al-Attas menolak temuan epigrafis yang menyamakan batu nisan di Indonesia dengan Gujarat sebagai titik tolak penyebaran Islam di Indonesia. Batu-batu nisan itu diimpor dari Gujarat hanya semata-mata pertimbangan jarak yang lebih dekat dibanding dengan Arabia. Al-Attas menyebutkan bahwa bukti paling penting yang perlu dikaji dalam membahas kedatangan Islam di Indonesia adalah karakteristik Islam di Nusantara yang ia sebut dengan “teori umum tentang Islamisasi Nusantara” yang didasarkan kepada literatur Nusantara dan pandangan dunia Melayu.ii
Menurut Al-Attas, sebelum abad XVII seluruh literatur Islam yang relevan tidak mencatat satupun penulis dari India. Pengarang-pengarang yang dianggap oleh Barat sebagai India ternyata berasal dari Arab atau Persia, bahkan apa yang disebut berasal dari Persia ternyata berasal dari Arab, baik dari aspek etnis maupun budaya. Nama-nama dan gelar pembawa Islam pertama ke Nusantara menunjukkan bahwa mereka orang Arab atau Arab-Persia. Diakui, bahwa setengah mereka datang melalui India, tetapi setengahnya langsung datang dari Arab, Persia, Cina, Asia Kecil, dan Magrib (Maroko). Meski demikian, yang penting bahwa faham keagamaan mereka adalah faham yang berkembang di Timur Tengah kala itu, bukan India. Sebagai contoh adalah corak huruf, nama gelaran, hari-hari mingguan, cara pelafalan Al-Quran yang keseluruhannya menyatakan ciri tegas Arab.iii
Argumen ini didukung sejarawan Azyumardi Azra dengan mengemukakan historiografi lokal meski bercampur mitos dan legenda, seperti Hikayat Raja-raja Pasai, Sejarah Melayu, dan lain-lain yang menjelaskan interaksi langsung antara Nusantara dengan Arabia.iv
Hamka dalam pidatonya di acara Dies Natalis Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) ke-8 di Yogyakarta pada tahun 1958, melakukan koreksi terhadap Teori Gujarat. Teorinya disebut “Teori Mekah” yang menegaskan bahwa Islam berasal langsung dari Arab, khususnya Mekah. Teori ini ditegaskannya kembali pada Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan, 17-20 Maret 1963. Hamka menolak pandangan yang menyatakan bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13 dan berasal dari Gujarat. Hamka lebih mendasarkan teorinya pada peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia. Gujarat hanyalah merupakan tempat singgah, dan Mekah adalah pusat Islam, sedang Mesir sebagai tempat pengambilan ajaran. Hamka menekankan pengamatannya kepada masalah mazhab Syafi’i yang istimewa di Mekah dan mempunyai pengaruh besar di Indonesia. Sayangnya, hal ini kurang mendapat perhatian dari para ahli Barat. Meski sama dengan Schrike yang mendasarkan pada laporan kunjungan Ibnu Bathuthah ke Sumatera, Hamka lebih tajam lagi terhadap masalah mazhab yang dimuat dalam laporan Ibnu Batutah. Selain itu Hamka, juga menolak anggapan Islam masuk ke Indonesia pada abad XIII. Islam sudah masuk ke Nusantara jauh sebelumnya, yakni sekitar Abad VII.v
Pandangan Hamka sejalan dengan Arnold, Van Leur, dan Al-Attas yang menekankan pentingya peranan Arab, meski teori Gujarat tidak mutlak menolak peranan Arab dalam penyebaran Islam di Nusantara. Arnold sendiri telah mencatat bahwa bangsa Arab sejak abad kedua sebelum Masehi telah menguasai perdagangan di Ceylon (Srilangka). Memang tidak dijelaskan lebih lanjut tentang sampainya ke Indonesia. Tetapi, bila dihubungkan dengan kepustakaan Arab kuno yang menyebutkan Al-Hind (India) dan pulau-pulau sebelah timurnya, kemungkinan Indonesia termasuk wilayah dagang orang Arab kala itu. Berangkat dari keterangan Arnold, tidaklah mengherankan bila pada abad VII, telah terbentuk perkampungan Arab di sebelah barat Sumatera yang disebut pelancong Cina, seperti disebutkan Arnold dan Van Leur.vi
Berdasarkan Teori Mekkah inilah kemudian, para ahli sejarah Islam menyimpulkan bahwa Kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Kerajaan Perlak. Di antaranya adalah sebagaimana dikemukakan pakar sejarah peradaban Islam asal Aceh, Prof. A. Hasymi. Berdasarkan naskah Idhar al-haqq fi Mamlakat Ferlah wal Fasi, karangan Abu Ishak Al-Makarani Al-Fasi, Tazkirat Tabaqat Jumu Sultanul Salatin karya Syaikh Syamsul Bahri Abdullah Al-Asyi, dan Silsilah Raja-raja Perlak dan Pasai, A. Hasymi menyatakan bahwa Kerajaan Perlak, Aceh adalah kerajaan Islam pertama di Nusantara yang didirikan pada tanggal 1 Muharam 225 H (840 M) dengan raja pertamanya Sultan Alaudin Sayyid Maulana Abdil Aziz Syah. Teori ini kemudian banyak didukung oleh cendekiawan Nusantara dan dimasukkan dalam buku teks pengajaran Perguruan Tinggi.vii

Identifikasi Masalah
Teori yang dikemukakan A. Hasymi dan para pendukungnya sampai saat ini tentang Kerajaan Perlak sebagai Kerajaan Islam pertama di Nusantara hanya didasarkan pada sumber-sumber literatur yang sangat terbatas. Terutama sumber-sumber yang ditulis oleh para pakar sejarah Islam tanpa melibatkan pakar-pakar lintas pengetahuan yang telah mengadakan penelitian masalah tersebut atau yang berhubungan dengannya dengan berbagai pendekatan, baik secara geografis, antropologis, sosiologis, etimologis, dan bidang-bidang keilmuan lainnya yang telah berkembang dengan pesatnya saat ini.
Sebagai sebuah teori yang dikemukakan pada zamannya, maka pendapat A.Hasymi dengan para pendukungnya tidak dapat disalahkan, mengingat sangat terbatasnya referensi pada zaman beliau. Demikian juga akibat menurun drastisnya minat intelektualisme terhadap kajian-kajian tentang Islam di Aceh menyusul keadaan konflik yang berkepanjangan. Bahkan tidak sedikit para cendekiawan Muslim yang tengah mengadakan penelitian tentang keislaman di sekitar Aceh dicurigai oleh aparat keamanan dengan berbagai alasan yang dicari-cari, seperti apa yang diceritakan Prof. Hasbi yang hanya mengadakan penelitian tentang dayah, harus berhadapan dengan aparat. Apalagi sejak Aceh bergolak, para peneliti asing sangat dibatasi kegiatannya di Aceh yang telah mengakibatkan mundurnya penelitian ilmiyah dalam segala bidang, termasuk tentang sejarah Islam di Aceh.
Bersamaan dengan perkembangan zaman, terutama kemajuan teknologi, teori-teori tentang sejarah akan terus berkembang, sebagaimana teori-teori pengetahuan lainnya dengan ditemukannya teori-teori baru yang didukung oleh argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiyah. Sebagaimana halnya teori-teori tentang masuknya Islam ke Nusantara terdahulu yang terus menerus dikoreksi dari Teori Gujarat dikoreksi Teori Persia dan terakhir dikoreksi dengan Teori Mekah atau Arab. Maka dengan ditemukannya data-data terbaru yang lebih akurat, berdasarkan kajian dari berbagai sumber bidang ilmu pengetahuan, maka teori tentang Kerajaan Islam pertama di Nusantara perlu dipertanyakan lagi keabsahannya. Apakah memang Kerajaan Perlak yang didikan oleh Maulana Abdul Aziz pada tahun 804 adalah kerajaan Islam pertama di Nusantara.
Tujuan Dan Metodologi
Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui sejauh mana keabsahan dari teori yang telah dikemukakan oleh A. Hasymi dan para pendukungnya yang menyatakan bahwa kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Kerajaan Perlak yang didirikan oleh Maulana Abdul Aziz pada tahun 840 Masehi yang terletak kini di sekitar kecamatan Peureulak Kabupaten Aceh Timur, Nanggroe Aceh Darussalam.
Dengan menggunakan metodologi deskriptif-analisis, yang menggabungkan beberapa penelitian dan analisis terkini, berdasarkan pengetahuan lintas bidang, seperti pengetahuan geografi, antropologi, sosiologi, etimologi dan lainnya diadakan sebuah sintesa baru yang diharapkan melahirkan sebuah teori baru dalam bidang sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Dengan mengolah data-data dari sumber primer dan sekunder, melalui penelahaan beberapa referensi terkait yang ditindaklanjuti dengan survei lapangan, diharapkan dapat ditemukan sebuah kesimpulan awal yang akan dipertanggungjawabkan secara ilmiyah.
Studi Terhadap Beberapa Teori Berkaitan Kerajaan Islam Pertama Di Nusantara
Sebagaimana lazimnya pengembangan pengetahuan ilmiyah, teori baru biasanya lahir berdasarkan teori-teori yang telah dikembangkan terlebih dahulu oleh para cendekiawan dengan dalil-dalil yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka dalam membahas permasalahan yang sedang diteliti, akan dikemukakan beberapa teori yang sudah umum dikenal sebagai dasar dalam mengembangkan sebuah teori tentang kerajaan Islam pertama di Nusantara. Diantaranya adalah :

1. Teori Hubungan Dagang Arab-Cina
Di kalangan bangsa Yunani purba, Sumatera sudah dikenal dengan Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Claudius Ptolemeus, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah ini dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri yang menjadi jalan ke Tiongkok, sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus. Disebutkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5000 tahun lalu. Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, atau ‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang sekitar Laut Tengah sudah mendatangi Sumatera mencari emas, kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Para pedagang Nusantara sudah menjajakan komoditas mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi. Dalam kitab Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Raja Solomon, raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang berada dibawah kekuasaannya. Emas didapatkan dari negeri Ophir. Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha). Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati Allah ? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera. Kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemeus pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan asumsi bahwa di sanalah letak negeri Ophir-nya King Solomon.viii
Sementara perdagangan antara negara-negara Timur dengan Timur Tengah dan Eropa berlangsung lewat dua jalur: jalur darat dan jalur laut. Jalur darat, yang juga disebut ”jalur sutra” (silk road), dimulai dari Cina Utara lewat Asia Tengah dan Turkistan terus ke Laut Tengah. Jalur perdagangan ini, yang menghubungkan Cina dan India dengan Eropa, merupakan jalur tertua yang sudah di kenal sejak 500 tahun sebelum Masehi. Sedangkan jalan laut dimulai dari Cina (Semenanjung Shantung) dan Indonesia, melalui Selat Malaka ke India; dari sini ke Laut Tengah dan Eropa, ada yang melalui Teluk Persia dan Suriah, dan ada juga yang melalui Laut Merah dan Mesir. Diduga perdagangan lewat laut antara Laut Merah, Cina dan Indonesia sudah berjalan sejak abad pertama sesudah Masehi.ix
Akan tetapi, karena sering terjadi gangguan keamanan pada jalur perdagangan darat di Asia Tengah, maka sejak tahun 500 Masehi perdagangan Timur-Barat melalui laut (Selat Malaka) menjadi semakin ramai. Lewat jalan ini kapal-kapal Arab, Persia dan India telah mondar mandir dari Barat ke Timur dan terus ke Negeri Cina dengan menggunakan angin musim, untuk pelayaran pulang pergi. Juga kapal-kapal Sumatra telah mengambil bagian dalam perdagangan tersebut. Pada zaman Sriwijaya, pedagang-pedagangnya telah mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Cina dan pantai timur Afrika. Ramainya lalu lintas pelayaran di Selat Malaka, maka telah menumbuhkan kota-kota pelabuhan yang terletak di bagian ujung utara Pulau Sumatra. Perkembangan perdagangan yang semakin banyak di antara Arab, Cina dan Eropa melalui jalur laut telah menjadikan kota pelabuhan semakin ramai, termasuk di wilayah Aceh yang diketahui telah memiliki beberapa kota pelabuhan yang umumnya terdapat di beberapa delta sungai. Kota-kota pelabuhan ini dijadikan sebagai kota transit atau kota perdagangan.x
Peter Bellwood dalam Reader in Archaeology Australia National University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara. Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Dia menulis “Museum Nasional di Jakarta memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London….”. Sifat perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.xi
Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa—dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G.R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu. “Keadaan ini terjadi karena kepulauan Sumatra telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi,” xii
Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya. Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan sekelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.xiii
Dalam kitab sejarah Cina yang berjudul Chiu T’hang Shu disebutkan pernah mendapat kunjungan diplomatik dari orang-orang Ta Shih, sebutan untuk orang Arab, pada tahun tahun 651 Masehi atau 31 Hijirah. Empat tahun kemudian, dinasti yang sama kedatangan duta yang dikirim oleh Tan mi mo ni’. Tan mi mo ni’ adalah sebutan untuk Amirul Mukminin. Dalam catatan tersebut, duta Tan mi mo ni’ menyebutkan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dan sudah tiga kali berganti kepemimpinan. Artinya, duta Muslim tersebut datang pada masa kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan. Para pengembara Arab ini tak hanya berlayar sampai di Cina saja, tapi juga terus menjelajah sampai di Timur Jauh. Jauh sebelum penjelajah dari Eropa punya kemampuan mengarungi dunia, terlebih dulu pelayar-pelayar dari Arab dan Timur Tengah sudah mampu melayari rute dunia dengan intensitas yang cukup padat. Pada masa Dinasti Umayyah, ada sebanyak 17 duta Muslim yang datang ke Cina. Pada Dinasti Abbasiyah dikirim 18 duta ke negeri Cina. Bahkan pada pertengahan abad ke-7 sudah berdiri beberapa perkampungan Muslim di Kanfu atau Kanton.xiv
Setelah abad ke-7 M, Islam sudah berkembang pesat, misalnya menurut laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara (Kerajaan Islam Perlak). xv
2. Teori Barus-Fansur Aceh
Barus-Fansur adalah tempat yang dikaitkan dengan penghasil kayu kamper sebagai penghasil kapur (kamfer atau al-kafur dalam bahasa Arab) terdapat dalam banyak sumber asli Arab, Persia, dan China dalam berbagai buku perjalanan, botani, kedokteran, dan pengobatan. Kapur, yang dalam bahasa Latin disebut camphora, merupakan bagian dalam (inti) kayu kamfer yang padat berisi minyak yang harum. Masyarakat pra-Islam telah mengenal kafur yang masyhur itu, hal ini dibuktikan dengan penemuan penggunaan kata kafur yang disebut berkali-kali dalam syair-syair Arab sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW.xvi
Dalam karya dua orang sejarawan, Ibn al-Atir (wafat tahun 1233 M), dan Ibn al-Baladuri (wafat tahun 1473) tercatat bahwa pada tahun 16 H/637 M, sewaktu perebutan ibu kota Dinasti Sassanid, yaitu Ctesiphon, orang-orang Arab menemukan kamper/kafur yang dikira garam di antara rempah-rempah dan wangi-wangian.xvii
Ibn Gulgul, abad ke-10 M, seorang ahli biobibliografi dan ilmu kedokteran dari Andalusia, mencata kafur atau kamfer dalam 63 bahan obat-obatan baru yang belum dikenal sebelumnya sebagai obat, kecuali hanya pewangian dan alat-alat ritual semata di agama-agama paganisme. Ibn Sarabiyun pada abad ke-10 juga mulai memperkenalkan zat yang sangat ampuh ini. Ibn al-Baytar yang mengutip Ishaq ibn Imran yang hidup awal abad ke-9 M juga melakukan hal yang sama. Ketiganya melalui serangkaian eksperimen yang dilakukan berhasil menjelaskan berbagai fungsi dan kegunaan kafur dengan berbagai campuran untuk khasiat yang berbeda-beda. Fungsinya dalam berbagai bentuk olahan diantaranya adalah, sebagai balsem, penghobatan kandung empedu, radang hati, demam tinggi, berbagai penyakit mata, sakit kepala akibat liver, memperkuat organ dan indra, mengontrol syaraf, pembiusan alami, pendarahan, menguatkan gigi, dan lain-lain.
Al-Kindi, salah seorang intelektual Arab, menyebutkan kapur barus sebagai salah satu unsur penting untuk membuat wangi-wangian. Sekitar abad ke-8, kapur barus merupakan salah satu dari lima rempah dasar dalam ilmu kedokteran Arab dan Persia. Empat unsur yang lain adalah kesturi, ambar abu-abu, kayu gaharu, dan safran. Pada zaman Abbasiyah, hanya orang kaya dan para pemimpin saja yang menggunakan pewangi dari air kapur barus untuk cuci tangan selepas perjamuan makan.
Ibnu Sina atau yang dalam literatur Eropa dikenal sebagai Aveceena, dalam bukunya yang terkenal tentang ensiklopedia pengobatan dan obat-obatan, al-Qanun Fi al-Tib, mencatat manfaat kamfer sebagai obat penenang dan mendinginkan suhu badan yang tinggi. Kamfer juga dipakai sebelum dan sesudah pembedahan, sebagai obat liver, obat diare, sakit kepala, mimisan, dan sariawan. Aviceena menulis: “Jika kafur dipakai sedikit, maka obat ini dapat membantu menenangkan, karena bahan ini dingin. Kadang kala obat ini menurunkan suhu badan yang tinggi akibat badan kurang sehat karena lemah. Efek yang menguatkan dan menenangkan ini disertai efek harumnya. Efek pendinginannya dikurangi dengan kasturi dan ambar, dan kekeringannya dikurangi dengan minyak wangi dan pelunaknya, misalnya minyak cengkeh dan minyak bunga berwarna ungu lembayung. Kafur merupakan penangkal racun, khususnya racun panas. Berkat kafur pikiran menjadi lebih tajam dan terang; oleh karena itu kafur menguatkan dan menyenangkan. Efeknya serupa ambar kuning, tetapi lebih kuat dan lebih bermanfaat.”xviii
Selain bangsa Arab, bangsa Persia juga berdatangan untuk meneliti kegunaan kafur dari Fansur ini. Buku tertua mengenai ilmu kedokteran yang ditulis dalam bahasa Persia adalah buku Muwaffak al-Din Abu Mansur Ali al-Harawi (abad ke-10 M), yang berjudul Kitab al-Abniya ‘an haqa’iq al-Adwiya [Buku mengenai dasar dan kebenaran obat-obatan asli]. Dalam bukunya yang berjudul Hidayat al-muta’alimin fi al-tibb (Panduan untuk mahasiswa ilmu kedokteran), al-Bukhori (abad ke-10) seorang mahasiswa Harawi dan dokter terkenal al-Razi (abad ke-9 dan 10 M) berhasil mengembangkan kafur dalam berbagai bentuk resep, sebanyak 31 resep. Salah satunya adalah dalam penanggulanagn penularan penyakit pes.
Orang-orang Yunani telah terlibat secara intens dalam pengembangan ilmu kedokteran. Salah satu buku yang berhasil ditemukan seperti catatan Actius dari Amide dari abad ke-6 dan ke-7 M, menyebutkan kafur dalam karyanya Libri Medicinales.
Salah satu surat pertama dari riga surat karya al-Kind yang berjudul al-rasail al-hikmiyya fi asrul al-ruhaniyya [Risalah-risalah Hukum tentang Rahasia-Rahasia Batin], dikatakan bahwa kafur milik Devi Venus dan digunakan dalam pengasapan yang dipersembahkan kepadanya. “Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan Venus dari cahaya dan kecerahan; Venus memberi kebaikan dalam semua posisinya … di antaranya batu maha yang dimilikinya; dalam badan manusia, perut dan usus yang dimilikinya; dalam abjad tiga huruf yang dimilikinya (‘ain, ha dan kaf); di antara bahan murni untuk pengasapan yang dimilikinya terdapat: ambar abu-abu, qust, tanaman fagara, kafur, bunga mawar kering, laudanum.”xix
Dijelaskan di Alf Layla wa layla (Seribu Satu Malam) oleh Sindbad, sang petualang yang terkenal: “Sesudah bangun keesokan harinya, kami pergi melewati gunung-gunung tinggi ke Pulau Riha yang kaya dengan pohon kafur. Setiap pohon dapat membayangi lebih dari 100 orang. Puncak pohonnya ditoreh dan air yang mengalir darinya dapat mengisi beberapa wadah. Kafur mulai menetes dan tetesannya mirip lem. Sesuadah itu kafur tidak meleleh lagi dan pohonnya menjadi kering.” Riha adalah berarti kafur yang bermutu tinggi yang berarti al-Kafur al-Fansuri. Jadi Pulau Riha yang dimaksud adalah daerah Fansur.
Kapur barus juga dipakai untuk memandikan jenazah sebelum dikuburkan. Variasi penggunaan kapur barus ini menyebabkan nilai jualnya sangat tinggi. Manfaat kapur barus ini kemudian menyebar ke Yunani dan Armenia karena pada periode tersebut ilmu kedokteran dari Arab dan Persia menjadi acuan dunia.
Di akhir abad ke-4 M, istilah “P’o-lu” yang berarti Barus mulai dikenal oleh Bangsa Cina. Istilah ini diketahui sebagai rujukan kepada seluruh wilayah utara Sumatera. Barulah pada akhir abad ke-9, seorang ahli geografi Arab, Ibn Khurdadhbih menyebutkan nama Ram(n)i: “Di belakang Serendib terletak daerah Ram(n)I, dimana hewan badak dapat ditemukan… Pulau ini menghasilkan pohon bambu dan kayu Brazil, akar-akar yang dapat digunakan sebagai obat anti racun-racun mematikan…Di negeri ini juga tumbuh pohon-pohon kapur yang tinggi,”xx
Kira-kira pada abad yang sama, sebuah buku Akhbar al-Sin wa al-Hind juga menyebutkan nama Ramni: “Ramni (yang) terdapat didalamnya gajag-gajah dalam jumlah yang banyak berserta kayu Brazil dan bambu. Pulau itu dikelilingi oleh dua lautan..Harkand dan dan Salahit”. Nama Ramni atau Ram(n)I, kemungkinan besar, dengan melihat peta dan posisi Sri Lanka atau Serendib, adalah Sumatera bagian utara dan lebih tepatnya lagi timur laut Aceh. (The sea of Harkand was the Bay of Bengal. Salaht (or Salahit) is believed to be derived from the Malay word selat or Straits, i.e., what is now known as the Selat Melaka).xxi
Abu Zaid Hasan pada tahun 916 M, saat dia menjelaskan penguasa Maharaja Zabaj (Sriwijaya) menyebut juga Ranmi: “nama pulau tersebut adalah Rami (Ramni) yang luasnya delapan ratus parasangs (From the Persian farsakh, it was approximately 3 Y2 miles in extent) di daerah tersebut. Di sana dapat ditemukan kayu Brazil, kapur dan tumbuhan lainnya.”xxii
Pada tahun 943, Masudi mencatat: “Kira-kira seribu parasangs (dari Serendib) masih terdapat sebuah pulau yang bernama Ramin (yakni Ramni) yang dihuni dan diperintah oleh raja-raja. Daerah tersebut penuh dengan tambang emas, dan dekat dengan tanah Fansur, yang menjadi asal kapur fansur, yang hanya dapat ditemukan di Fansur dengan jumlah yang besar dalam tahun-tahun yang penuh dengan topan dan gempa bumi.xxiii
‘Ajaib al-Hind’, yang ditulis tahun 1000 M, menjelaskan banyak referensi mengenai Lambri. Muhammad ibn Babishad melaporkan: ”Di Pulau Lamuri terdapat zarafa yang tingginya tidak terkira. Dikatakan bahwa pelaut-pelaut yang terdampar di Fansur, terpaksa harus pindah ke Lamuri. Mereka mengungsi di waktu malam karena takut dengan zarafa; karena mereka tidak muncul di siang hari… Di pulau ini juga terdapat semut-semut raksasa dalam jumlah besar, terutama di kawasan Lamuri ”…. “Lububilank, yang merupakan sebuah teluk, (Tibbetts identifies this with Lho’ Belang Raya (Telok Balang), 5 32f N, 95 17′ E. Ibid., p. 141) terdapat orang-orang yang memakan manusia. Orang-orang kanibal ini mempunyai ekor, dan menghuni tanah antara Fansur dan Lamuri.” xxiv
Lambri dalam karya para ahli geografi Arab tidak dijelaskan lebih lanjut. Ramni juga disebutkan oleh Biruni pada tahun 1030. Nama tersebut juga ditulis dalam teks Dimashqi di tahun 1325 dalam buku Cowan,”Lamuri,” hal. 421.
Satu-satunya sumber India menyebutkan Lambri dalam transkrip Tanjore dari Bangsa Tamil dalam pemerintahan Rajendra Cola, dimana nama “Ilamuridesam yang sangat murka terlibat dalam perang” disebutkan bersama toponim lain sebagai daerah target-target penggempuran mereka pada tahun 1025.xxv
Ahli geografi Cina Chou Ch’u-fei menulis, pada tahun 1178, nama Lan-li dimana kapal-kapal dari Canton atau Guangdong sering merapat sambil menunggu bulan purnama untuk memudahkan mereka berlayar menuju Lautan India tepatnya Sri Lanka dan India.xxvi
Hampir lima puluh tahun kemudian, Chau Ju-kua menyebut Lan-wu-li, dan melaporkan bahwa; “Hasil-hasil produksi kerajaan Lan-wu-li adalah kayu sapan (Brazilwood (Caesalpinia sappan, Linn.), gading gajah dan rotan putih. Penduduknya menyukai perang dan sering menggunakan panah beracun. Dengan angin utara, pelaut dapat berlayar selama dua puluh hari ke Silan….”xxvii
Dia selanjutnya mendukung informasi yang diberikan oleh Chou Ch’u-fei:
”Ta-shi terletak di Timur Laut dari Ts’uan-chou dengan jarak yang sangat jauh, jadi kapal-kapal asing kesulitan untuk melakukan pelayaran langsung. Setelah kapal-kapal tersebut meninggalkan Ts’uan-chou mereka akan berlayar terlebih dahulu selama empat puluh hari ke Lan’li, dimana mereka akan menyempatkan diri untuk berdagang. Tahun berikutnya akan kembali ke laut, dengan dukungan angin mereka akan menghabiskan enam puluh hari untuk melanjutkan perjalanan.xxviii
Marco Polo, sekembalinya dari Cina ke Eropa tahun 1292, menyebutkan, selain Perlak yang sudah memeluk Islam, nama Lambri bersama lima kerajaan kafir lainnya. Dia menulis bahwa; “Penduduknya penyembah berhala, dan menyebut dirinya hamba Kaan yang agung. Mereka memiliki kapur dalam jumlah yang besar dan sejumlah spesis lainnya. Mereka juga memiliki kayu brazil dalam jumlah yang besar…” Di tahun 1284 dan juga tahun 1286, Lambri dilaporkan mengirimkan upeti kepada Dinasti Yuan di China.xxix
Seorang musafir Persia, Rashiduddin, pada tahun 1310 menulis bahwa para saudagar dari berbagai negara sering datang ke Lamori, dan pada tahun 1323, Friar Odoric dari Pordenone menjelaskan bahwa Lambri merupakan pusat perdagangan di mana para saudagar dari negara-negara yang sangat jauh, dan kapur, emas dan pohon gaharu juga tersedia. Di sini dia kehilangan pandangan terhadap bintang utara.xxx
Wang Ta-yuan pada tahun 1349, menulis tentang Nan-wu-li, yang katanya: ”Tempat ini merupakan pusat perdagangan yang sangat penting di Nan-wu-li. Pegunungan raksasa bak gelombang terdapat dibelakangnya, terletak di pinggiran laut Jih-yueh wang yang sangat diragukan di sana ada tanah. Penduduk setempat hidup di sepanjang bukit, setiap keluarga tinggal di rumah masing-masing. Masing-masing lelaki dan wanita menggulung rambut mereka dalam sanggul di atas namun membiarkan bagian atas tubuh mereka terbuka, dan bagian bawah dibungkus sarung. Buminya sangat tandus, panennya sangat jarang, dan iklimnya sangat panas. Sebagai kebiasaan, mereka tunduk kepada bajak laut seperti orang-orang di Niu-tan-his (Tumasek). Komoditas lokal adalah sarang burug, cangkang kura-kura, cangkang penyu dan kayu laka, yang sangat bermutu dalam hal aroma. Komoditas yang biasanya diperdagangkan di sini adalah emas, perak, aksesoris besi, bunga mawar, muslin merah, kapur, porcelin dengan desain biru dan putih dan lain-lain.”xxxi
Pada tahun 1365, Kronik Jawa, Negarakrtagama, menggambarkan Lamuri sebagai negara yang tergantung kepada Majapahit.xxxii
Ma Huan yang menulis pada awal tahun 15 M, menyebutkan Nan-po-li, yang dikunjungi oleh kapal induk dinasti Ming, dengan nakhoda Cheng Ho: ”Kerajaan ini terletak di samping laut, dan penduduknya terdiri dari hanya seribu keluarga. Semuanya Muslim, dan mereka sangat jujur dan tulus. Di bagian timur teritori itu, terletak sebuah negeri bersama Li-tai, dan di bagian barat dan utara terletak lautan luas; jika anda pergi ke selatan, terdapat pegunungan; dan di bagian selatan pegunungan tersebut terletak lagi lautan. Ma Huan juga menyebutkan nama Pulau Wei, sebuah pulau sekitar sembilan mil lauty di lepas pantai Timur Laut Aceh yang juga terdapat pelabuhan alami yang bagus, sekarang terdapat pelabuhan Sabang. Pulau Wei sering disebutkan dalam sumber-sumber sejarah dan dalam terjemahan bahasa Cina bernama “pulau Hat”. Ch’ieh-nan-mao, sebuah daerah penghasil kayu gaharu.xxxiii
Ma Huan menggambarkan Pulau Wei: ”Terletak di arah laut Timur Laut Lambri, dimana terdapat pegunungan raksasa yang sangat curam, yang dapat dicapai dengan setengah hari perjalanan; namanya pegunungan Mao. Di bagian barat pegunungan ini, juga, terdapat lautan luas; ini namanya Samudra Barat yang disebut Samudra Nan-mo-li, kapal-kapal yang datang dari Samudra dari arah barat berlabuh di sini, dan mereka melihat pegunungan ini sebagai petunjuk arah. Di laut yang dangkal, sekitar dua cang dalamnya, di pinggir pegunungan, tumbuh pohon-pohon laut; penduduk di sana mengumpulkannya dan menjualnya sebagai komoditas yang berharga. Ini namanya karang. Kerajaan ini tunduk kepada jurisdiksi kerajaan Nan-po-li.xxxiv
Awal abad ke-16 M, Tome Pires memberikan gambaran yang lebih tepat mengenai lokasi Lambri. Dia mengatakan bahwa; “Aceh merupakan negara pertama di bagian pulau Sumatera, dan Lambri benar-benar di bagian kanannya, yang terletak menjorok ke darat dan tanah Biar terletak antara Aceh dan Pidie, dan sekarang negeri-negeri ini tunduk kepada Aceh dan memerintah di kedua wilayah tersebut dan dialah raja satu-satunya di sana. Raja ini adalah Moo…”.xxxv
Istilah Lambri dan beberapa versi lainnya biasanya ditujukan kepada seluruh pantai utara Aceh, nampaknya hal tersebut di atas menunjukkan pada titik tertentu yang menjadi informasi kepada pelayaran yang aman dari ombak Teluk Bengal, sebuah sumber air segar. Buku Hikayat Atjeh juga memberikan petunjuk. Pada halaman 17 dari manuskrip tersebut, diterbitkan oleh Teuku Iskandar, terdapat sebuah petunjuk mengenai Lambri, “teluk Lambri”.xxxvi
Chau Ju-kua tidak menyebutkan kapur diperdagangkan di Lambri, tapi diduga bahwa Ujung Pancu dan Kuala Pancu di Lhok Lambro dekat banda Aceh kemungkinan besar sangat berhubungan dengan Fansur. Kapal-kapal yang harus memutar di Ujung Pancu, harus melalui Lambri ke Barus. Nama Lambri dan Barus, makanya, sering dibingungkan dalam pelayaran kuno karena eratnya kedua kota ini. Sementara Chia Tan yang menulis buku pada era awal abad ke-8, menyebutkan pelabuhan P’o-lu, merupakan daerah yang kaya dengan emas, mercury dan kapur. Pelabuhan tersebut merupakan titip kepergian bagi kapal-kapal yang datang dari Sriwijaya barat melalui Samudera India ke Sri Langka.xxxvii
Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang ahli Georafi dan Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera yang menjadi jalan ke Tiongkok terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus. Disebutkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5000 tahun lalu.xxxviii

3. Teori Kaafuro Dalam al-Qur’an
Hubungan erat Aceh-Melayu dengan dunia Arab juga dapat ditelusuri dari beberapa kata di dalam al-Qur’an. Sebagaimana diketahui al-Qur’an adalah kumpulan wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantaraan malaikat Jibril as sejak pertama diangkat menjadi Nabi di Gua Hira’ sampai beliau wafat di Madinah pada tahun 10 Hijriah. Sampai saat ini tidak ada satupun manusia yang dapat menyanggah bahwa al-Qur’an dengan segala kemukjizatannya bukan berasal dari Allah Sang Pencipta. Karena mana mungkin seorang yang buta huruf seperti Nabi Muhammad dapat menbuat sebuah kitab agung yang memiliki gaya bahasa Arab tertinggi dan tidak mampu dijangkau oleh seorang pujangga teragung sekalipun. Karena al-Qur’an bukan hanya kitab sastra, tapi kitab hukum, undang-undang, pengetahuan, politik dan seterusnya yang disampaikan dengan untaian indah. Terlalu banyak makhluk yang tertegun dengan keindahan al-Qur’an. Telah disepakati para Ulama, bahwa al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, sebagaimana dinyatakan al-Qur’an sendiri. Namun bahasa Arab al-Qur’an adalah bahasa Arab tertinggi yang telah melahirkan gramatika bahasa Arab kontemporer. Para ulama juga berpendapat ada beberapa kata al-Qur’an yang bukan berasal dari bahasa Arab asli, namun bahasa non Arab yang sudah banyak digunakan dan dimengerti oleh masyarakat Arab.xxxix
Salah satu bahasa Aceh-Melayu yang sudah tersebar di dunia Arab, termasuk Mesir sejak zaman kekuasaan Ramses (Fir’aun) adalah kafur. Sebagaimana dijelaskan terdahulu dalam teori kafur Barus, bahwa kafur min barus adalah sebuah komuditas mewah wangi-wangian yang berasal dari inti kayu kamfer yang dalam bahasa latin dikenal dengan champora. Tidak diragukan bahwa penghasil terbesar kapur zaman itu adalah wilayah yang terletak di ujung barat pulau Sumatera, yang sekarang berada di wilayah Aceh. Bahkan dalam teori terdahulu telah disebutkan banyak dalil tentang Barus-Fansur awal, yang berada di sekitar Lamuri-Aceh.
Pada al-Qur’an surat al-Insan (76) ayat ke 5 menyebutkan: Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan akan meminum dari gelas, minuman yang dicampur kafur. Kebanyakan mufassirin dalam tafsirnya masing-masing seperti Ibn. Abbas, Jalalain, al-Qurthubi, Ibn Katsir dan lain-lainnya, mengartikan kafur sebagai campuran dari minuman yang merehatkan, nikmat, yang dapat membuat tenang dan biasanya dijadikan obat. Walaupun ada yang menyebutkan sebagai nama mata air di syurga. Pendapat pertama lebih banyak dirujuk mengingat penggunaan kafur yang sudah umum sebagai bahan obat-obatan, wangi-wangian dan bahan perisa di dunia Arab pra-Islam seperti di Alexenderia Mesir dan lainnya. Namun hampir semuanya sepakat bahwa kata ini bukan asli bahasa Arab, sebagaimana disebutkan Ibn Manzhur dalam Lisan al-Arab karena tidak ditemukan dalam bahasa Arab Jahiliyah atau bahasa Arab purba. Maka dengan demikian, tidak diragukan bahwa kata kafur yang dimaksudkan al-Qur’an adalah kapur dari Barus sebagai lambang kemewahan pada zaman itu .
Kata “kafur”, menurut Karel Steenbrink, secara pasti bukan istilah Arab. Akar kata “kafara” bisa berarti menghindari atau tidak berterima kasih. Sedangkan kata “kafur”, yang berarti kapur barus atau kamper, berasal dari bahasa Melayu. Steenbrink menyimpulkan bahwa kata “kafur” bukan hanya penghubung secara etimologis antara al-Qur’an dan Nusantara, tetapi juga komoditi yang sejak abad ke-7 telah dibawa oleh pedagang Muslim dari Nusantara.xl

4. Teori Champa (Jeumpa) Versi Raffles
Gubernur Jendral Hindia Belanda dari Kerajaan Inggris yang juga seorang peneliti sosial, Sir TS. Raffles dalam bukunya The History of Java, menyebutkan bahwa Champa yang terkenal di Nusantara, bukan terletak di Kambodia sekarang sebagaimana dinyatakan oleh para peneliti Belanda. Tapi Champa adalah nama daerah di sebuah wilayah di Aceh, yang terkenal dengan nama ”Jeumpa”. Champa adalah ucapan atau logat Jeumpa dengan dialek ”Jawa”, karena penyebutannya inilah banyak ahli yang keliru dan mengasosiasikannya dengan Kerajaan Champa di wilayah Kambodia dan Vietnam sekarang. Jeumpa yang dinyatakan Raffles sekarang berada di sekitar daerah Kabupaten Bireuen Aceh. xli
”Champa” biasanya dihubungkan dengan sebuah peristiwa pada zaman kerajaan Majapahit, terutama pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya V yang memiliki seorang istri yang dikenal dengan ”Puteri Champa” sebagaimana disebutkan dalam Babad Tanah Jawi, yang nama lainnya Anarawati (Dwarawati) yang beragama Islam. Puteri inilah menyerahkan pendidikan Raden Fatah kepada seorang keponakannya yang dikenal dengan Sunan Ampel (Raden Rahmat) di Ampeldenta Surabaya. Sejarah mencatat, Raden Fatah menjadi Sultan pertama dari Kerajaan Islam Demak, Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa yang mengakhiri sejarah Kerajaan Hindu-Jawa Majapahit.xlii
Banyak ahli sejarah yang konfius dengan ”Champa”, yang pada akhirnya menimbulkan kegelapan dan kerancuan luar biasa pada sejarah Islam Nusantara. Kekaburan ini umumnya disebabkan para ahli hanya mengutip mendapat-pendapat yang sudah ada tanpa mengadakan pengkajian lebih dalam dan lebih mendetil dari berbagai aspek. Kemalasan intelektual ini hanya memahami Champa sebagai sebuah kata yang sudah bercampur dengan berbagai mitos, legenda dan cerita masyarakat yang tidak berdasarkan fakta ilmiyah. Bukan Champa sebagai sebuah realitas sejarah berdasarkan penelitian sejarah berbagai aspek yang berkaitan dengannya.
Mari kita peras sedikit logika kita untuk mengungkap kegelapan Champa yang sudah berabad-abad dipercayai sebagai kebenaran sejarah. Para ahli sejarah memperkirakan Maulana Malik Ibrahim berada Champa sekitar 13 tahun, antara tahun 1379 sampai dengan 1392.xliii Untuk memastikan dimanakah Champa yang telah ditinggali Maulana Malik dan saudara iparnya ”Putri Champa”, maka perlu diselidiki bagaimanakah keadaan Champa waktu itu, baik yang berada di Aceh maupun Kambodia.
Menurut beberapa catatan, Champa di Kambodia masa itu sedang di perintah oleh Chế Bồng Nga antara tahun 1360-1390 Masehi, dikenal dengan The Red King (Raja Merah) seorang Raja terkuat dan terakhir Champa. Tidak diketahui apakah Raja ini Muslim atau Budha sebagaimana mayoritas penduduk Kambodia masa ini dengan banyak peninggalan kuil-kuilnya. Beliau berhasil menyatukan dan mengkordinasikan seluruh kekuatan Champa pada kekuasaannya, dan pada tahun 1372 menyerang Vietnam melalui jalur laut. Champa berhasil memasuki kota besar Hanoi pada 1372 dan 1377. Pada penyerangan terakhir tahun 1388, dia dikalahkan oleh Jenderal Vietnam Ho Quy Ly, pendiri Dinasti Ho . Che Bong Nga meninggal dua tahun kemudian pada 1390. Tidak banyak catatan hubungan Penguasa Champa ini dengan Islam, apalagi tidak didapat bekas-bekas kegemilangan Islam, sebagaimana yang ditinggalkan para pendakwah di Perlak, Pasai ataupun Malaka.xliv
Sementara menurut catatan sejarah, yang terkenal dengan Sultan Cam atau Champa adalah Wan Abdullah atau Sultan Umdatuddin atau Wan Abu atau Wan Bo Teri Teri atau Wan Bo saja, memerintah pada tahun 1471 M – 1478 M. Menurut silsilah Kerajaan Kelantan Malaysia, silsilah beliau adalah : Sultan Abu Abdullah (Wan Bo) ibni Ali Alam (Ali Nurul Alam) ibni Jamaluddin Al-Husain (Sayyid Hussein Jamadil Kubra ) ibni Ahmad Syah Jalal ibni Abdullah ibni Abdul Malik ibni Alawi Amal Al-Faqih ibni Muhammas Syahib Mirbath ibni ‘Ali Khali’ Qasam ibni Alawi ibni Muhammad ibni Alawi ibni Al-Syeikh Ubaidillah ibni Ahmad Muhajirullah ibni ‘Isa Al-Rumi ibni Muhammad Naqib ibni ‘Ali Al-Uraidhi ibni Jaafar As-Sadiq ibni Muhammad Al-Baqir ibni ‘Ali Zainal Abidin ibni Al-Hussein ibni Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW. Jadi beliau adalah anak saudara dari Maulana Malik Ibrahim, yaitu anak dari adik beliau bernama Ali Nurul Alam. Wan Bo atau Wan Abdullah ini juga adalah bapak kepada Syarief Hidayatullah, pengasas Sultan Banten sebagaimana silsilah yang dikeluarkan Kesultanan Banten Jawa Barat: Syarif Hidayatullah ibni Abdullah (Umdatuddin) ibni Ali Alam (Ali Nurul Alam) ibni Jamaluddin Al-Hussein (Sayyid Hussein Jamadil Kubra) ibni Ahmad Syah Jalal dan seterusnya seperti di atas.xlv
Pertanyaannya, kapan dan dimana sebenarnya Kerajaan Champa yang dipimpin oleh Raja Champa yang menjadi mertua Maulana Sayyid Ibrahim, yang menjadi ayah kandung ”Puteri Champa”. Padahal jika dikaitkan dengan fakta di atas, mustahil mertua Maulana Sayyid Ibrahim atau ayah ”Puteri Champa” itu adalah Wan Bo (Wan Abdullah) karena menurut silsilah dan tahun kelahirannya, beliau adalah pantaran anak saudara Maulana Sayyid Ibrahim yang keduanya terpaut usia 50 tahun lebih. Raden Rahmat (Sunan Ampel) sendiri lahir pada tahun 1401 di ”Champa” yang masih misterius itu. Boleh jadi yang dimaksud dengan Kerajaan Champa tersebut bukan Kerajaan Champa yang dikuasai Dinasti Ho Vietnam, tapi sebuah perkampungan kecil yang berdekatan dengan Kelantan?. Inipun masih menimbulkan tanda tanya, dimanakah peninggalannya?. Bahkan ada pula yang mengatakan Champa berdekatan dengan daerah Fatani, Selatan Thailand berdekatan dengan Songkla, yang merujuk daerah Senggora zaman dahulu.xlvi
Untuk mendukung Teori Raffles bahwa Champa yang dimaksud bukan di Vietnam sekarang, tetapi di wilayah Jeumpa Bireuen Aceh, ada beberapa dalil yang dapat dikemukakan, antara lain;
(i) Martin Van Bruinessen telah memetik tulisan Saiyid ‘Al-wi Thahir al-Haddad, dalam bukunya Kitab Kuning, Pesantren ..“Putra Syah Ahmad, Jamaluddin dan saudara-saudaranya konon telah mengembara ke Asia Tenggara….. Jamaluddin sendiri pertamanya menjejakkan kakinya ke Kemboja dan Aceh, kemudian belayar ke Semarang dan menghabiskan waktu bertahun-tahun di Jawa, hingga akhirnya melanjutkan pengembaraannya ke Pulau Bugis, di mana dia meninggal.” (al-Haddad 1403 :8-11). Diriwayatkan pula beliau menyebarkan Islam ke Indonesia bersama rombongan kaum kerabatnya. Anaknya, Saiyid Ibrahim (Maulana Sayyid Ibrahim) ditinggalkan di Aceh untuk mendidik masyarakat dalam ilmu keislaman. Kemudian, Saiyid Jamaluddin ke Majapahit, selanjutnya ke negeri Bugis, lalu meninggal dunia di Wajok (Sulawesi Selatan). Tahun kedatangannya di Sulawesi adalah 1452M dan tahun wafatnya 1453M”. Jadi tidak diragukan bahwa yang ke Kamboja itu adalah ayah Maulana Ibrahim, Saiyid Jamaluddin yang menikah di sana dan menurunkan Ali Nurul Alam. Sedangkan mayoritas ahli sejarah menyatakan Maulana Malik Ibrahim lahir di Samarkand atau Persia, sehingga di gelar Syekh Maghribi. Beliau sendiri dibesarkan di Aceh dan tentu menikah dengan puteri Aceh yang dikenal sebagai ”Puteri Raja Champa”.
(ii) Keadaan Champa Kambodia ketika zaman Maulana Malik Ibrahim sedang huru hara dan terjadi pembantaian terhadap kaum Muslim yang dilakukan oleh Dinasti Ho yang membalas dendam atas kekalahannya pada pasukan Khulubay Khan, Raja Mongol yang Muslim sebagaimana disebutkan terdahulu. Keadaan ini sangat jauh berbeda dengan keadaan Jeumpa yang menjadi mitra Kerajaan Pasai pada waktu itu yang menjadi jalur laluan dan peristirahatan menuju kota besar seperti Barus, Fansur dan Lamuri dari Pasai ataupun Perlak. Kerajaan Pasai adalah pusat pengembangan dan dakwah Islam yang memiliki banyak ulama dan maulana dari seluruh penjuru dunia. Sementara para sultan adalah diantara yang sangat gemar berbahas tentang masalah-masalah agama, di istananya berkumpul sejumlah ulama besar dari Persia, India, Arab dan lain-lain, sementara mereka mendapat penghormatan mulia dan tinggi.xlvii Dan Sejarah Melayu menyebutkan bahwa ”segala orang Samudra (Pasai) pada zaman itu semuanya tahu bahasa Arab.xlviii.
(iii) Populeritas Jeumpa di Nusantara, yang dihubungkan dengan puteri-puterinya yang cerdas dan cantik jelita, buah persilangan antara Arab-Parsi-India dan Melayu, yang di Aceh terkenal dengan Buengong Jeumpa, gadis cantik putih kemerah-merahan, tidak lain menunjukkan keistimewaan Jeumpa di Aceh yang sampai saat ini masih menyisakan kecantikan puteri-puterinya, gadis Bireuen. Pada masa kegemilangan Pasai, istilah puteri Jeumpa (lidah Jawa menyebut ”Cempa”) sangat populer, mengingat sebelumnya ada beberapa Puteri Jeumpa yang sudah terkenal kecantikan dan kecerdasannya, seperti Puteri Manyang Seuludong, Permaisuri Raja Jeumpa Salman al-Parisi, Ibunda kepada Syahri Nuwi pendiri kota Perlak. Puteri Jeumpa lainnya,Makhdum Tansyuri (Puteri Pengeran Salman-Manyang Seuludong/Adik Syahri Nuwi) yang menikah dengan kepala rombongan Khalifah yang dibawa Nakhoda, Maulana Ali bin Muhammad din Ja’far Shadik, yang melahirkan Maulana Abdul Aziz Syah, Raja pertama Kerajaan Islam Perlak. Mereka seterusnya menurunkan Raja dan bangsawan Perlak, Pasai sampai Aceh Darussalam. Kecantikan dan kecerdasan puteri-puteri Jeumpa sudah menjadi legenda di antara pembesar-pembesar istana Perlak, Pasai, Malaka, bahkan sampai ke Jawa. Itulah sebabnya kenapa Maharaja Majapahit, Barawijaya V sangat mengidam-idamkan seorang permaisuri dari Jeumpa. Bahkan dalam Babat Tanah Jawi, disebutkan bagaimana mabok kepayangnya sang Prabu ketika bertemu dengan Puteri Jeumpa yang datang bersama dengan rombongan Maulana Malik Ibrahim dan para petinggi Pasai. Dikisahkan Sang Prabu meminta agar Puteri Jeumpa bersedia menjadi Permaisurinya dan menikahlah mereka.
(iv) Secara umum, wajah orang Champa Kambodia lebih mirip dengan Cina, kecil-kecil dan memiliki kulit seperti orang Kelantan sekarang, sementara bahasanya susah dimengerti karena dialeknya berbeda dengan rumpun bahasa Melayu yang menjadi bahasa pertuturan dan pengantar Nusantara saat itu. Muka-muka Arab, seperti wajah Maulana Malik Ibrahim, Raden Rahmat ataupun gelar mereka, Sayyid, Maulana, dan lainnya jarang adanya dan tidak seperti rata-rata orang Perlak, Pasai, Jeumpa ataupun umumnya orang Aceh yang lebih mirip ke wajah Arab, India atau Parsia. Sebagaimana diketahui, Maulana Malik Ibrahim dan Raden Rahmat memberikan pelajaran agama kepada orang Jawa menggunakan bahasa Melayu Sumatera yang banyak digunakan di sekitar Perlak, Pasai, Lamuri, Barus, Malaka, Riau-Lingga dan sekitarnya, sebagaimana dalam manuskrip agama yang dikarang para Ulama terkemudian seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin al-Raniri, Raja Ali Haji dan lainnya.
(v) Sejarah pergerakan dakwah Islamiyah Nusantara abad ke IX-XV Masehi, sebagaimana yang disepakati para ahli sejarah Islam Nusantara, tidak pernah menyebutkan berpusat di sekitar daerah Vietnam atau Indo-China sekarang, namun sebaliknya tercatat berpusat diantara Perlak, Pasai, Malaka, Lamuri, Barus, ataupun Fansur di wilayah Aceh, yang di tengah-tengahnya terdapat Jeumpa, yang menjadi laluan dan tempat persinggahan yang banyak menyisakan kegemilang Islam. Sementara di Vietnam telah dibuktikan tidak banyak ditemukannya Sayyid, Syarief atau Maulana dan Makhdum serta Ulama-Ulama besar yang umumnya menjadi penggerak Islamisi. Juga tidak didapati peninggalan-peninggalan situs yang berhubungan dengan kegemilangan Islam, apakah berupa istana, maqam, ataupun skrip keislaman yang menjadi ciri khas peninggalan jejak peradaban Islam. Di samping itu, tidak didapatkan dalam sejarah bahwa Islam pernah gemilang di sekitar sana dengan mendirikan sebuah kerajaan Islam yang berperan. Karena tradisi dari para pendakwah akan mendirikan sebuah kerajaan atau mengislamkan kerajaan tersebut, atau menaklukkannya sebagaimana sejarah Perlak, Pasai, Malaka, Aceh Darussalam, Demak dan lainnya. Ada kemungkinan di Champa pernah tumbuh perkampungan muslim, namun hal ini tidak dapat dijadikan pegangan, karena yang dikatakan ”Puteri Champa” tentulah anak Raja Champa, demikian pula disebutkan bahwa Maulana Malik Ibrahim menikah dengan salah seorang puteri Raja di Champa.
(vi) Dari segi geografis dan taktik-strategi perjuangan, kelihatannya mustahil para pendakwah, khususnya gerakan Para Wali yang akan menaklukkan pulau Jawa bermarkas di sebuah perkampungan Muslim minoritas dekat Vietnam. Apalagi pada masa itu Champa sepeninggal Raja terakhirnya, Che Bong Nga (w.1390), sepenuhnya dikuasai Dinasti Ho yang Budha dan anti Islam berpusat di Hanoi. Maulana Malik Ibrahim adalah Grand Master para Wali Songo, jika sasaran dakwahnya adalah pulau Jawa, sebagai basis kerajaan Hindu-Budha yang tersisa, terlalu naif memilih Champa sebagai markas pusat pergerakan baik menyangkut dukungan logistik, politik maupun ketentaraan. Sebagaimana dicatat sejarah, pada masa itu para Sultan dan Ulama, baik yang ada di Arab, Persia, India termasuk Cina yang sudah dipegang penguasa Islam memfokuskan penaklukkan kerajaan besar Majapahit sebagai patron terbesar Hindu-Budha Nusantara. Kaisar Cina yang sudah Muslimpun mengirim Panglima Besar dan tangan kanan dan kepercayaannya, Laksamana Cheng-Ho untuk membantu gerakan Islamisasi Jawa. Sementara hubungan dakwah via laut pada saat itu sudah terjalin jelas menunjukkan hubungan antara Jawa-Pasai-Gujarat-Persia-Muscat-Aden sampai Mesir, yang diistilahkan Azra sebagai Jaringan Ulama Nusantara. Yang artinya, wilayah Aceh Jeumpa lebih mungkin berada di sekitar pusat gerakan dan lintasan jaringan tersebut daripada Champa Kambodia.
(vii) ”Puteri Champa” bibi dari Sunan Ampel (Raden Rahmat) yang juga lahir di ”Champa”, sementara Raden Rahmat adalah putra dari Maulana Sayyid Ibrahim, salah seorang anak dari Sayyid Jamaluddin Akbar al-Husein atau juga disebut Sayyid Hussein Jamad al-Kubra, dan seterusnya hingga bersambung di Imam Ja’far Sadiq, cucu Nabi Muhammad saw. Dari analisis ini, artinya bahwa Puteri Champa adalah keluarga atau bersaudara dengan istri Maulana Sayyid Ibrahim yang juga Puteri Raja Jeumpa, yang tidak diragukan adalah keturunan Ahlul Bayt dari Sasaniah Salman ataupun Maulana Abdul Aziz. Sebagai seorang Sayyid atau Maulana, yaitu keturunan Nabi saw yang alim dan fakih, serta pejuang aktif, tentulah Maulana Malik Ibrahim tetap menjaga tradisi dan kesucian yang menjadi warisan Ahlul Bayt. Apalagi diketahui bahwa keluarga Ahlul Bayt sejak awal sudah menjadi penguasa di sekitar Jaumpa, Perlak maupun Pasai. Bahkan menurut silsilahnya, Meurah Silu atau Malik al-Saleh adalah keturunan dari Imam Ja’far Shadiq juga yang berarti masih satu turunan dengan Maulana Malik Ibrahim. Adapun silsilah lengkap Maulana Malik Ibrahim adalah : Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rummi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali’ Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal, Jamaluddin Akbar al-Husain (Maulana Akbar), dan Maulana Malik Ibrahim.xlix
(viii) Adalah hal yang mustahil, seorang Wali sekelas Maulana Malik Ibrahim, bapak dan pemimpin para Wali di Jawa, yang telah berhasil membangun jaringan di Nusantara, setelah 13 tahun di Champa tidak dapat membangun sebuah kerajaan Islam atau meninggalkan jejak-jejak kegemilangan peradaban Islam, atau hanya sebuah prarasti seperti pesantren, maqam atau sejenisnya yang akan menjadi jejaknya. Bahkan Raffles menyebutnya sebagai orang besar, sementara sejarawan G.W.J. Drewes menegaskan, Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh yang pertama-tama dipandang sebagai wali di antara para wali. ”Ia seorang mubalig paling awal,” tulis Drewes dalam bukunya, New Light on the Coming of Islam in Indonesia. Gelar Syekh dan Maulana, yang melekat di depan nama Malik Ibrahim, menurut sejarawan Hoessein Djajadiningrat, membuktikan bahwa ia ulama besar. Gelar tersebut hanya diperuntukkan bagi tokoh muslim yang punya derajat tinggi.
(ix) Maulana Malik Ibrahim memiliki seorang saudara yang terkenal sebagai ulama besar di Pasai, bernama Maulana Saiyid Ishaq, sekaligus ayah dari Raden Paku atau Sunan Giri. Menurut cacatan sejarah, beliau adalah salah seorang ulama yang dihormati di kalangan istana Pasai dan menjadi penasihat Sultan Pasai di zaman Sultan Zainal Abidin dan Sultan Salahuddin. Sebelum bertolak ke tanah Jawa, ayahanda beliau, Jamaluddin Akbar al-Husain (Maulana Akbar), yang juga datang dari Persia atau Samarqan, tinggal dan menetap juga di Pasai. Jadi menurut analisis, beliau bertiga datang dari Persia atau Samarqan ke Kerajaan Pasai sebagai pusat penyebaran dakwah Islam di Nusantara, pada sekitar abad ke 14 Masehi, bersamaan dengan kejayaan Kerajaan Pasai di bawah Sultan Malik al-Zahir II, yang juga keturunan Ahlul Bayt. Sementara Sunan Ampel atau Raden Rahmat yang dikatakan lahir di Champa, kemudian hijrah pada tahun 1443 M ke Jawa dan mendirikan Pesantren di Ampeldenta Surabaya, adalah seorang ulama besar, yang tentunya mendapatkan pendidikan yang memadai dalam lingkungan Islami pula. Adalah mustahil bagi Sang Raden untuk mendapatkan pendidikannya di Champa Kambodia pada tahun-tahun itu, karena sejak tahun 1390 M atau sepuluh tahun sebelum kelahiran beliau, sampai dengan abad ke 16, Kambodia dibawah kekuasaan Dinasti Ho yang Budha dan anti Islam sebagaimana dijelaskan terdahulu. Apalagi sampai saat ini belum di dapat jejak lembaga pendidikan para ulama di Champa. Namun keadaannya berbeda dengan Jeumpa Aceh, yang dikelilingi oleh Bandar-Bandar besar tempat pesinggahan para Ulam dunia pada zaman itu. Perlu digarisbawahi, kegemilangan Islam di sekitar Pasai, Malaka, Lamuri, Fatani dan sekitarnya adalah antara abad 13 sampai abad 14 M. Kawasan ini menjadi pusat pendidikan dan pengembangan pengetahuan Islam sebagaimana digambarkan terdahulu.
(x) Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah saw bersabda agar pengikutnya berpegang teguh kepada dua perkara supaya tidak sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah (al-Qur’an dan Sunnah) dan Itrah (keturunannya). Dua perkara inilah yang menjadi penghubung antara Rasulullah dengan umatnya, sehingga mereka diwajibkan membaca shalawat untuk beliau dan keluarga keturunannya. Karena Ahlul Bayt diamanahkan sebagai benteng utama Islam oleh Allah dan Rasul-Nya dan ummat diperintahkan untuk mencintai, menghormati dan berpegang teguh kepadanya, maka sejak awal kebangkitan Islam para Itrah Rasul mendapat kehormatan dan kedudukan, termasuk di alam Nusantara. Itulah sebabnya ahli sejarah telah mencatat beberapa dinasti Kerajaan Ahlul Bayt Nusantara, baik di wilayah Sumatera, Semenanjung Melayu, Borneo-Kalimantan, Jawa, Sulawesi sampai ke Maluku dan Papua sekarang. Ditengarai, generasi awal datang dari Persia sekitar akhir abad pertama Hijriah atau sekitar abad VII Masehi, yang mendirikan kerajaan di sekitar Aceh-Sumatra, yang menjadi cikal bakal Kerajaan Perlak dan Pasai. Jika dirut silsilah para Sultan di Nusantara, sebagian besar akan bertemu pada jalur Imam Ja’far Sadiq yang sampai kepada Sayyidina Husein bin Sayyidah Fatimah binti Rasulullah saw, baik Maulana Abdul Aziz Syah (Perlak), Sultan Malik al-Shalih (Pasai), Mughayat Syah (Aceh), Syarif Hidayatullah (Banten), Sultan Wan Abdullah (Kelantan) dan lain-lainnya. Dan tidak diragukan, sebagaimana diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, diantara mereka senantiasa memelihara kekerabatan dan saling topang menopang dalam menegakkan Islam dalam sebuah jaringan Ahlul Bayt. Tokoh-tokoh Ahlul Bayt yang sudah memegang kekuasaan segai akan memberikan bantuan kepada yang lainnya. Nah pada zaman Maulana Malik Ibrahim masih muda, yang tengah berkuasa dan berkibar adalah Dinasti Ahlul Bayt Pasai di Aceh. Itulah sebabnya ayahanda beliau, Saiyid Jamaluddin menitipkan dan mempersiapkan anaknya pada patron yang kuat, Kerajaan Pasai, yang para Rajanya adalah persilangan antara turunan Ahlul Bayt dari Kerajaan Perlak dengan Kerajaan Jeumpa. Sebagai seorang pendidik pejuang, mustahil seorang Ulama setingkat Saiyid Jamaluddin akan meninggalkan anaknya di Champa yang tengah dikuasai Kerajaan Hindu Budha.
Dengan demikian, maka jelaslah bahwa Champa yang dimaksud dalam sejarah pengembangan Islam Nusantara selama ini, yang menjadi tempat persinggahan dan perjuangan awal Maulana Malik Ibrahim, asal ”Puteri Champa” atau asal kelahiran Raden Rahmat (Sunan Ampel), bukanlah Champa yang ada di Kambodia-Vietnam saat ini. Tapi tidak diragukan, sebagaimana dinyatakan Raffles, ”Champa” berada di Jeumpa dengan kota perdagangan Bireuen, yang menjadi bandar pelabuhan persinggahan dan laluan kota-kota metropolis zaman itu seperti Fansur, Barus dan Lamuri di ujung barat pulau Sumatra dengan wilayah Samudra Pasai ataupun Perlak di daerah sebelah timur yang tumbuh makmur dan maju…… Wallahu a’lam.

Data Awal Mengenai Kerajaan Jeumpa Aceh
Kerajaan Jeumpa Aceh, berdasarkan Ikhtisar Radja Jeumpa yang di tulis Ibrahim Abduh, yang disadurnya dari hikayat Radja Jeumpa adalah sebuah Kerajaan yang benar keberadaannya pada sekitar abad ke VIII Masehi yang berada di sekitar daerah perbukitan mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng Peusangan di sebelah timur. Istana Raja Jeumpa terletak di desa Blang Seupeueng yang dipagari di sebelah utara, sekarang disebut Cot Cibrek Pintoe Ubeuet. Masa itu Desa Blang Seupeueng merupakan permukiman yang padat penduduknya dan juga merupakan kota bandar pelabuhan besar, yang terletak di Kuala Jeumpa. Dari Kuala Jeumpa sampai Blang Seupeueng ada sebuah alur yang besar, biasanya dilalui oleh kapal-kapal dan perahu-perahu kecil. Alur dari Kuala Jeumpa tersebut membelah Desa Cot Bada langsung ke Cot Cut Abeuk Usong atau ke ”Pintou Rayeuk” (pintu besar).l
Menurut hasil observasi terkini di sekitar daerah yang diperkirakan sebagai tapak Maligai Kerajaan Jeumpa sekitar 80 meter ke selatan yang dikenal dengan Buket Teungku Keujereun, ditemukan beberapa barang peninggalan kerajaan, seperti kolam mandi kerajaan seluas 20 x 20 m, kaca jendela, porselin dan juga ditemukan semacam cincin dan kalung rantai yang panjangnya sampai ke lutut dan anting sebesar gelang tangan. Di sekitar daerah ini pula ditemukan sebuah bukit yang diyakini sebagai pemakaman Raja Jeumpa dan kerabatnya yang hanya ditandai dengan batu-batu besar yang ditumbuhi pepohonan rindang di sekitarnya.
Sebelum kedatangan Islam, di daerah Jeumpa sudah berdiri salah satu Kerajaan Hindu Purba Aceh yang dipimpin turun temurun oleh seorang Meurah. Datang pemuda tampan bernama Abdullah yang memasuki pusat Kerajaan di kawasan Blang Seupeueng dengan kapal niaga yang datang dari India belakang (Parsi ?) untuk berdagang. Dia memasuki negeri Blang Seupeueng melalui laut lewat Kuala Jeumpa, sekitar awal abad ke VIII Masehi dan negeri ini sudah dikenal di seluruh penjuru dan mempunyai hubungan perdagangan dengan Cina, India, Arab dan lainnya. Selanjutnya Abdullah tinggal bersama penduduk dan menyiarkan agama Islam. Rakyat di negeri tersebut dengan mudah menerima Islam karena tingkah laku, sifat dan karakternya yang sopan dan sangat ramah. Dia dinikahkan dengan puteri Raja bernama Ratna Kumala. Akhirnya Abdullah dinobatkan menjadi Raja menggantikan bapak mertuanya, yang kemudian wilayah kekuasaannya dia berikan nama dengan Kerajaan Jeumpa, sesuai dengan nama negeri asalnya di India Belakang (Persia) yang bernama ”Champia”, yang artinya harum, wangi dan semerbak. Sementara Bireuen sebagai ibukotanya, berarti kemenangan, sama dengan Jayakarta (Jakarta) dalam bahasa Jawa.li
Berdasarkan silsilah keturunan Sultan-Sultan Melayu, yang dikeluarkan oleh Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu-Mindanao, Kerajaan Islam Jeumpa pada 154 Hijriah atau tahun 777 Masehi dipimpin oleh seorang Pangeran dari Parsia (India Belakang ?) yang bernama Syahriansyah Salman atau Sasaniah Salman yang kawin dengan Puteri Mayang Seulodong dan memiliki beberapa anak, antara lain Shahri Duli, Shahri Tanti, Shahri Nawi, Shahri Dito dan Puteri Makhdum Tansyuri yang menjadi ibu dari Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak. Menurut penelitian pakar sejarah Aceh, Sayed Dahlan al-Habsyi, Shahri adalah gelar pertama yang digunakan keturunan Nabi Muhammad di Nusantara sebelum menggunakan gelar Meurah, Habib, Sayid, Syarief, Sunan, Teuku dan lainnya. Syahri diambil dari nama istri Sayyidina Husein bin Ali, Puteri Shahri Banun, anak Maha Raja Parsia terakhir.
Mengenai keberadaan Shahri Nawi ini, disebutkan oleh Syekh Hamzah Fansuri. Syekh ini adalah Ulama Sufi dan sastrawan terkenal Nusantara yang berpengaruh dalam pembangunan Kerajaan Aceh Darussalam, yang juga merupakan guru Syamsuddin al-Sumatrani yang dikenal sebagai Syekh Islam Kerajaan Aceh Darussalam pada masa Iskandar Muda. A. Hasymi menyebutkan beliau juga adalah paman dari Maulana Syiah Kuala (Syekh Abdul Rauf al-Fansuri al-Singkili). Syekh Fansuri dalam beberapa kesempatan menyatakan asal muasalnya dan hubungannya dengan Shahri Nawi. Diantaranya syair :
Hamzah ini asalnya Fansuri
Mendapat wujud di tanah Shahrnawi
Beroleh khilafat ilmu yang ’ali
Daripada ’Abd al-Qadir Jilani

Hamzah di negeri Melayu,
Tempatnya kapur di dalam kayu

Dari rangkaian syair ini, maka jelaslah bahwa ada hubungan antara bumi Shahrnawi (Shahr Nawi) dengan Fansur yang menjadi asal muasal kelahiran Syekh Hamzah Fansuri dan tempat yang terkenal kafur Barus. Sebagaimana disebutkan di atas, Shahrnawi atau Syahr Nawi adalah anak daripada Pangeran Salman (Sasaniah Salman) yang lahir di daerah Jeumpa, di Aceh Bireuen saat ini. Syahrnawi adalah salah satu tokoh yang berpengaruh dalam pengembangan Kerajaan Islam Perlak, bahkan beliau dianggap arsitek pendiri kota pelabuhan Perlak pada tahun 805 yang dipimpinnya langsung, dan diserahkan kepada anak saudaranya Maulana Abdul Aziz. Kerajaan Islam Perlak selanjutnya berkembang menjadi Kerajaan Islam Pasai dan mendapat kegemilangannya pada masa Kerajaan Aceh Darussalam.
Maka tidak mengherankan jika Syekh Hamzah Fansuri, mengatakan kelahirannya di bumi Sharhnawi yang merupakan salah seorang generasi pertama pengasas Kerajaan-Kerajaan Islam Aceh yang dimulai dari Kerajaan Islam Jeumpa. Pernyataan Syekh Hamzah Fansuri ini juga menjadi hujjah yang menguatkan teori bahwa Jeumpa, asal kelahiran Shahrnawi adalah Kerajaan Islam pertama di Nusantara.
Keberadaan Kerajaan Islam Jeumpa ini dapat pula ditelusi dari pembentukan Kerajaan Perlak yang dianggap sebagai Kerajaan Islam pertama di Nusantara. Perlak pada tahun 805 Masehi adalah bandar pelabuhan yang dikuasai pedagang keturunan Parsi yang dipimpin seorang keturunan Raja Islam Jeumpa Pangeran Salman al-Parsi dengan Putri Manyang Seuludong bernama Meurah Shahr Nuwi. Sebagai sebuah pelabuhan dagang yang maju dan aman menjadi tempat persinggahan kapal dagang Muslim Arab dan Persia. Akibatnya masyarakat Muslim di daerah ini mengalami perkembangan yang cukup pesat, terutama sekali lantaran banyak terjadinya perkawinan di antara saudagar Muslim dengan wanita-wanita setempat, sehingga melahirkan keturunan dari percampuran darah Arab dan Persia dengan putri-putri Perlak. Keadaan ini membawa pada berdirinya kerajaan Islam Perlak pertama, pada hari selasa bulan Muharram, 840 M. Sultan pertama kerajaan ini merupakan keturunan Arab Quraisy bernama Maulana Abdul Azis Syah, bergelar Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah. Menurut Wan Hussein Azmi, pedagang Arab dan Persia tersebut termasuk dalam golongan Syi’ah.lii
Wan Hussein Azmi dalam Islam di Aceh mengaitkan kedatangan mereka dengan Revolusi Syi’ah yang terjadi di Persia tahun 744-747. Revolusi ini di pimpin Abdullah bin Mu’awiyah yang masih keturunan Ja’far bin Abi Thalib. Bin Mu’awiyah telah menguasai kawasan luas selama dua tahun (744-746) dan mendirikan istana di Istakhrah sekaligus memproklamirkan dirinya sebagai raja Madian, Hilwan, Qamis, Isfahan, Rai, dan bandar besar lainnya. Akan tetapi ia kemudian dihancurkan pasukan Muruan di bawah pimpinan Amir bin Dabbarah tahun 746 dalam pertempuran Maru Sydhan. Kemudian banyak pengikutnya yang melarikan diri ke Timur Jauh. Para ahli sejarah berpendapat, mereka terpencar di semenanjung Malaysia, Cina, Vietnam, dan Sumatera, termasuk ke Perlak.
Pendapat Wan Hussein Azmi itu diperkaya dan diperkuat sebuah naskah tua berjudul Idharul Haqq fi Mamlakatil Ferlah w’l-Fasi, karangan Abu Ishak Makarni al-Fasy, yang dikemukakan Prof. A. Hasjmi. Dalam naskah itu diceritakan tentang pergolakan sosial-politik di lingkungan Daulah Umayah dan Abbasiyah yang kerap menindas pengikut Syi’ah. Pada masa pemerintahan Khalifah Makmun bin Harun al-Rasyid (813-833), seorang keturunan Ali bin Abi Thalib, bernama Muhammad bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Baqr bin Zaenal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, memberontak terhadap Khalifah yang berkedudukan di Baghdad dan memproklamirkan dirinya sebagai khalifah yang berkedudukan di Makkah.
Khalifah Makmun berhasil menumpasnya. Tapi Muhammad bin Ja’far Shadiq dan para tokoh pemberontak lainnya tidak dibunuh, melainkan diberi ampunan. Makmun menganjurkan pengikut Syi’ah itu meninggalkan negeri Arab untuk meluaskan dakwah Islamiyah ke negeri Hindi, Asia Tenggara, dan Cina. Anjuran itu pun lantas dipenuhi. Sebuah Angkatan Dakwah beranggotakan 100 orang pimpinan Nakhoda Khalifah yang kebanyakan tokoh Syi’ah Arab, Persia, dan Hindi —termasuk Muhammad bin Ja’far Shadiq— segera bertolak ke timur dan tiba di Bandar Perlak pada waktu Syahir Nuwi menjadi Meurah (Raja) Negeri Perlak. Syahir Nuwi kemudian menikahkan Ali bin Muhammad bin Ja’far Shadiq dengan adik kandungnya, Makhdum Tansyuri. Dari perkawinan ini lahir seorang putra bernama Sayyid Abdul Aziz, dan pada 1 Muharram 225 H dilantik menjadi Raja dari kerajaan Islam Perlak dengan gelar Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah.liii
Jadi jelaslah bahwa keberadaan Kerajaan Perlak, tidak terlepas dari peranan 2 orang tokoh sentralnya pendirinya, yaitu Meurah Syahri Nuwi dan saudarinya Makhdum Tansyuri yang keduanya berasal dan dilahirkan di Kerajaan Jeumpa yang dipimpin dan didirikan oleh ayahnya, Pangeran Salman al-Farsi. Sebelum Kerajaan Perlak ada, maka lebih dahulu telah muncul Kerajaan Jeumpa, yang menjadi sebab musabab keberadaan Kerajaan Perlak. Maka dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Islam pertama di Nusantara bukanlah Kerajaan Perlak sebagaimana dinyatakan A. Hasymi dengan para pendukungnya. Namun dari fakta dan data yang dikemukakan tersebut, sudah ada kerajaan yang lebih awal, yaitu Kerajaan Jeumpa yang terletak di sekitar Kecamatan Jeumpa Kabupaten Bireuen NAD saat ini.

Sebuah Hipotesa Dan Kesimpulan Awal
Dari beberapa teori dan data awal yang dikemukakan di atas, dapatlah disimpulkan bahwa proses Islamisasi ke Aceh sudah terjadi sejak awal perkembangannya, ketika Nabi Muhammad saw masih hidup yang dilakukan oleh para saudagar Arab yang memang sudah hilir mudik berdagang dari Mesir, Aden, Muscat, Parsia, Gujarat ke Cina melalui Barus-Fansur yang dipastikan terletak di ujung barat pulau Sumatera. Para saudagar Arab pra-Islam diketahui sudah memiliki perkampungan di sekitar pesisir pulau Sumatera, terbentang dari Barus-Fansur, Jeumpa, Perlak sampai di Palembang pada zaman Kerajaan Hindu Sriwijaya.
Islamisasi Aceh mengalami puncaknya pada zaman Khalifah al-Rasyidin, terutama di zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab yang gencar mengirimkan para duta yang merangkap sebagai pendakwah Islam sampai ke negeri Cina, pada sekitar awal abad ke VII Masehi. Cina menjadi tujuan dakwah para Khalifah berkaitan dengan sebuah hadits Nabi yang populer: tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina. Karena Cina pada zaman itu telah mencapai keemasaanya, sebagaimana Rumawi, Yunani ataupun Mesir dan Parsia sebagai pusat-pusat perdagangan, peradaban dan kemakmuran dunia yang jejaknya masih terekam jelas pada peta jalur sutera (silk road). Jalur ini kemudian dipindahkan ke jalur laut karena berkembang pesatnya teknologi kelautan dengan kapal-kapalnya yang mampu berlayar lama.
Para pembawa Islam datang langsung dari Semenanjung Arabia yang merupakan utusan resmi Khalifah atau para pedangan profesional Islam yang memang telah memiliki hubungan perdagangan dengan Aceh, sebagai daerah persinggahan dalam perjalanan menuju Cina. Hubungan yang sudah terbina sejak lama, yang melahirkan asimiliasi keturunan Arab-Aceh di sekitar pesisir ujung pulau Sumatra, telah memudahkan penyiaran Islam dengan bahasa asal mereka, yaitu bahasa Arab yang dengan al-Qur’an diturunkan. Pengaruh bahasa Aceh-Melayu dalam al-Qur’an dapat dijumpai pada kata kafuro, yang tidak pernah ada dalam bahasa Arab pra-Islam.
Hubungan baik antara masyarakat Aceh dengan pendatang dari Arab telah mendorong tumbuhnya perkampungan yang membesar menjadi Kerajaan-Kerajaan Islam sebagai pengganti Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha. Kerajaan Islam pertama di Aceh, yang juga merupakan Kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Kerajaan Islam Jeumpa yang didirikan oleh salah satu keturunan Nabi Muhammad yang melarikan diri dari Persia bernama Sasaniah Salman al-Parsi pada tahun 154 Hijriah atau sekitar tahun 777 Masehi. Kerajaan Jeumpa menjadi salah satu pusat Islamisasi di Nusantara, khususnya Aceh. Salah seorang Pangeran Jeumpa, Shahrnawi, yang namanya disebut oleh Syekh Hamzah Fansuri, menjadi pelopor pedirian Kerajaan Islam Perlak pada tahun 805 Masehi, dan mengangkat anak saudaranya, Maulana Abdul Aziz cicit dari Imam Ja’far Sidiq sebagai Sultan pertama Kerajaan Perlak pada tahun 840 M.
Kerajaan Jeumpa Aceh Adalah Kerajaan Islam Pertama Di Nusantara
Sebagaimana dikemukakan terdahulu, bahwa sebelum Nabi Muhammad saw membawa Islam, Dunia Arab dengan Dunia Melayu sudah menjalin hubungan dagang yang erat sebagai dampak hubungan dagang Arab-Cina melalui jalur laut yang telah menumbuhkan perkampungan-perkampungan Arab, Parsia, Hindia dan lainnya di sepanjang pesisir pulau Sumatera. Karena letak gegrafisnya yang sangat strategis di ujung barat pulau Sumatra, menjadikan wilayah Aceh sebagai kota pelabuhan transit yang berkembang pesat, terutama untuk mempersiapkan logistik dalam pelayaran yang akan menempuh samudra luas perjalanan dari Cina menuju Persia ataupun Arab. Hadirnya pelabuhan transito sekaligus kota perdagangan seperti Barus, Fansur, Lamri, Jeumpa dan lainnya dengan komuditas unggulan seperti kafur, yang memiliki banyak manfaat dan kegunaan telah melambungkan wilayah asalnya dalam jejaran kota pertumbuhan peradaban dunia. ”Kafur Barus”, ”Kafur Fansur”, ”Kafur Barus min Fansur” yang telah menjadi idiom kemewahan para Raja dan bangsawan di Yunani, Romawi, Mesir, Persia dan lainnya. Kedudukan Barus-Fansur lebih kurang seperti kedudukan Paris saat ini yang terkenal dengan inovasi minyak wangi mewahnya.
Hadirnya komuditas unggulan ini telah melahirkan berbagai teknologi pengolahan dalam penangannya. Karena sangat dibutuhkan sebagai bahan obat-obatan, wangi-wangian ataupun sebagai barang sakral dalam ritual keagamaan pagan, menjadikan asal kafur dan wilayah sekitarnya berkembang pesat. Tentu dari para petani, pedagang sampai para pengolah, peneliti, tabib sampai tukang sihir terlibat dalam proses pembuatan kafur yang bermutu. Tentu hal ini mengakibatkan hadirnya para pakar ke kota penghasil kafur dan membuat komunitas baru sesuai dengan peran masing-masing. Itulah sebabnya wajah orang Aceh berbeda dengan wajah orang Jawa, Makassar ataupun Melayu. Wajah mereka lebih kosmopolit yang merupakan perpaduan dari keturunan Arab, Cina, India, Parsi dan tentunya Eropa. Dan perpaduan ini telah berjalan berabad-abad sebelum kedatangan Islam di wilayah ini.
Sehubungan dengan penyebaran Islam, tentu perkampungan para keturunan Arab lebih dominan mudah menerima kedatangan Islam, dengan beberapa alasan (i) sumber utama al-Qur’an dan pengajarannya menggunakan bahasa Arab, yang tentu lebih mudah difahami oleh mereka yang sudah terbiasa dengan bahasa Arab seperti keturunan Arab yang sudah menyebar di sepanjang Barus-Fansur-Lamuri, (ii) hukum, budaya, pola hidup ataupun tradisi yang dibawa Islam lebih dekat dengan kebiasaan orang Arab yang memang sudah dilaksanakan sejak zaman Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as yang merupakan bapak kaum Arab, sehingga keturunan Arab pra-Islam ini mudah langsung mengikutinya karena sudah menjadi kebiasaan hidupnya, (iii) semangat kekeluargaan dan kesukuan sangat tinggi di kalangan bangsa Arab, termasuk Arab pra-Islam yang sangat menghormati dan menghargai sesamanya, itulah sebabnya banyak orang Arab yang membela Rasul walaupun tidak masuk Islam, inilah yang terjadi pada keturunan perantauan Arab ini, ada kebanggaan kesukuan memeluk agama Islam yang dibawa dari tanah leluhurnya daripada mengikuti ajaran lain, (iv) tentu ajaran Islam yang rasional, adil, menawarkan persamaan kedudukan dan status menjadi daya tarik bagi masyarakat kosmopolit yang telah berbaur dengan berbagai peradaban besar sebagaimana yang dialami keturunan Arab (v) disamping kepandaian dan ketampanan para pembawa Islam keturunan Arab telah membuat jatuh hati para Raja dan Meurah, mengangkat mereka jadi menantu, penasihat atau panglima dan ada yang menggantikan kedudukan Raja atas dukungan komunitas Arab yang memang sudah mapan dan memiliki kedudukan terhormat.
Jadi dengan demikian, tidak diragukan bahwa Islam telah tumbuh berkembang di Aceh, terutama di pesisirnya bersamaan dengan perkembangannya di semenanjung Arabia dan Parsia. Penyiaran ini utamanya dilakukan para pedagang Muslim asal Aceh yang bergagang ke Arab, ataupun pedagang Arab, Persia, India, Cina atau lainnya yang memang telah hilir mudik antara Dunia Arab Mesir sampai ke Tiongkok Cina melalui sebuah daerah yang oleh Claudius Ptolemaeus, disebut bernama ”Barousai”, yang tidak diragukan maksudnya adalah Barus di dekat Lamuri wilayah Aceh.liv
Penyebaran Islam juga dilakukan oleh para diplomat yang di utus para Khalifah yang menggantikan kedudukan Nabi Muhammad, terutama di zaman Khalifah Umar bin Khattab yang terbukti telah mengutus beberapa orang shahabat ke Cina yang meninggal di sana. Di samping untuk berdakwah tentu untuk memberikan sebuah tawaran umum para Khalifah kepada semua Raja: ”Engkau memeluk Islam, artinya bersaudara dengan kami, jika tidak engkau membayar jizyah sebagai tanda ketundukan pada Islam, jika engkau menolak keduanya, berarti akan terjadi peperangan, karena sabda Nabi saw : ”Aku diperintah memerangi manusia pembangkang sehingga mereka mengakui tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusannya”. Cina menjadi salah satu tujuan dakwah Islam, karena pada masa itu Cina sudah menjadi salah satu Kerajaan besar. Tentu sebelum sampai ke Cina, para diplomat itu akan singgah di sekitar pesisir pantai Sumatra dan mencari perkampungan Arab dengan komunitasnya.
Sejak dahulu perdagangan antara negara-negara Timur dengan Timur Tengah dan Eropa berlangsung lewat dua jalur: jalur darat dan jalur laut. Jalur darat, yang juga disebut ”jalur sutra” (silk road), dimulai dari Cina Utara lewat Asia Tengah dan Turkistan terus ke Laut Tengah. Jalur perdagangan ini, yang menghubungkan Cina dan India dengan Eropa, merupakan jalur tertua yang sudah di kenal sejak 500 tahun sebelum Masehi. Sedangkan jalan laut dimulai dari Cina (Semenanjung Shantung) dan Indonesia, melalui Selat Malaka ke India; dari sini ke Laut Tengah dan Eropa, ada yang melalui Teluk Persia dan Suriah, dan ada juga yang melalui Laut Merah dan Mesir. Diduga perdagangan lewat laut antara Laut Merah, Cina dan Indonesia sudah berjalan sejak abad pertama sesudah Masehi.lv
Akan tetapi, karena sering terjadi gangguan keamanan pada jalur perdagangan darat di Asia Tengah, maka sejak tahun 500 Masehi perdagangan Timur-Barat melalui laut (Selat Malaka) menjadi semakin ramai. Lewat jalan ini kapal-kapal Arab, Persia dan India telah mondar mandir dari Barat ke Timur dan terus ke Negeri Cina dengan menggunakan angin musim, untuk pelayaran pulang pergi. Juga kapal-kapal Sumatra telah mengambil bagian dalam perdagangan tersebut. Pada zaman Sriwijaya, pedagang-pedagangnya telah mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Cina dan pantai timur Afrika.lvi
Ramainya lalu lintas pelayaran di Selat Malaka, telah menumbuhkan kota-kota pelabuhan yang terletak di bagian ujung utara Pulau Sumatra. Perkembangan perdagangan yang semakin banyak di antara Arab, Cina dan Eropa melalui jalur laut telah menjadikan kota pelabuhan semakin ramai, termasuk di wilayah Aceh yang diketahui telah memiliki beberapa kota pelabuhan yang umumnya terdapat di beberapa delta sungai. Kota-kota pelabuhan ini dijadikan sebagai kota transit atau kota perdagangan.lvii
Maka berdasarkan fakta sejarah ini pulalah, keberadaan Kerajaan Islam Jeumpa Aceh yang diperkirakan berdiri pada abad ke 7 Masehi dan berada disekitar Kabupaten Bireuen sekarang menjadi sangat logis. Sebagaimana kerajaan-kerajaan purba pra-Islam yang banyak terdapat di sekitar pulau Sumatra, Kerajaan Jeumpa juga tumbuh dari pemukiman-pemukiman penduduk yang semakin banyak akibat ramainya perdagangan dan memiliki daya tarik bagi kota persinggahan. Melihat topografinya, Kuala Jeumpa sebagai kota pelabuhan memang tempat yang indah dan sesuai untuk peristirahatan setelah melalui perjalanan panjang.
Kerajaan Jeumpa Aceh, berdasarkan Ikhtisar Radja Jeumpa yang di tulis Ibrahim Abduh, yang disadurnya dari hikayat Radja Jeumpa adalah sebuah Kerajaan yang benar keberadaannya pada sekitar abad ke 7 Masehi yang berada di sekitar daerah perbukitan mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng Peusangan di sebelah timur. Istana Raja Jeumpa terletak di desa Blang Seupeueng yang dipagari di sebelah utara, sekarang disebut Cot Cibrek Pintoe Ubeuet. Masa itu Desa Blang Seupeueng merupakan permukiman yang padat penduduknya dan juga merupakan kota bandar pelabuhan besar, yang terletak di Kuala Jeumpa. Dari Kuala Jeumpa sampai Blang Seupeueng ada sebuah alur yang besar, biasanya dilalui oleh kapal-kapal dan perahu-perahu kecil. Alur dari Kuala Jeumpa tersebut membelah Desa Cot Bada langsung ke Cot Cut Abeuk Usong atau ke ”Pintou Rayeuk” (pintu besar).
Menurut silsilah keturunan Sultan-Sultan Melayu, yang dikeluarkan oleh Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu-Mindanao, Kerajaan Islam Jeumpa dipimpin oleh seorang Pangeran dari Parsia (India Belakang ?) yang bernama Syahriansyah Salman atau Sasaniah Salman yang kawin dengan Puteri Mayang Seulodong dan memiliki beberapa anak, antara lain Syahri Poli, Syahri Tanti, Syahri Nuwi, Syahri Dito dan Makhdum Tansyuri yang menjadi ibu daripada Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak yang berdiri pada tahun 805 Masehi. Menurut penelitian Sayed Dahlan al-Habsyi, Syahri adalah gelar pertama yang digunakan keturunan Nabi Muhammad di Nusantara sebelum menggunakan gelar Meurah, Habib, Sayid, Syarief, Sunan, Teuku dan lainnya. Syahri diambil dari nama istri Sayyidina Husein bin Ali, Puteri Syahribanun, anak Maha Raja Parsia terakhir yang ditaklukkan Islam.
Sampai saat ini, penulis belum menemukan silsilah keturunan Pengeran Salman ke atas, apakah beliau termasuk dari keturunan Nabi Muhammad saw atau keturunan raja-raja Parsia. Karena di silsilah yang dikeluarkan Kesultanan Brunei dan Kesultanan Sulu tidak disebutkan. Namun menurut pengamatan pakar sejarah Aceh, Sayed Hahlan al-Habsyi, beliau adalah termasuk keturunan Sayyidina Husein ra. Karena (i) beliau memberikan gelar Syahri kepada anak-anaknya, yang jelas menunjuk kepada moyangnya (ii) beliau mengawinkan anak perempuannya dengan cucu Imam Ja’far Sadiq, yang menjadi tradisi para Sayid sampai saat ini (iii) anak beliau, Syahri Nuwi adalah patron dari rombongan Nakhoda Khalifah, bahkan ada yang menganggap kedatangan rombongan ini atas permintaan Syahri Nuwi untuk mengembangkan kekuatan Ahlul Bayt atau keturunan Nabi saw di Nusantara setelah mendapat pukulan di Arab dan Parsia. Itulah sebabnya, hubungan Syahri Nuwi dengan rombongan Nakhoda Khalifah yang bermazhab Syi’ah sangat dekat dan menganggap mereka sebagai bagian keluarga.
Yang perlu dicermati, kenapa Pangeran Salman al-Parsi memilih kota kecil di wilayah Jeumpa sebagai tempat mukimnya, dan tidak memilih kota metropolitan seperti Barus, Fansur, Lamuri dan sekitarnya yang sudah berkembang pesat dan menjadi persinggahan para pedagang manca negara? Ada beberapa kemungkinan, (i) beliau diterima dengan baik oleh masyarakat Jeumpa dan memutuskan tinggal di sana, (ii) beliau merasa nyaman dan sesuai dengan penguasa (meurah), (iii) keinginan untuk mengembangkan wilayah ini setingkat Barus, Lamuri dan lainnya dan (iv) menghindar dari pandangan penguasa.
Alasan terakhir ini, mungkin dapat diterima sebagai alasan utama. Mengingat Pangeran Salman adalah salah seorang pelarian politik dari Parsia yang tengah bergejolak akibat peperangan antara Keturunan Nabi saw yang didukung pengikut Syiah dengan Penguasa Bani Abbasiah masa itu (tahun 150an Hijriah). Beliau bersama para pengikut setianya memilih ujung utara pulau Sumatera sebagai tujuan karena memang daerah sudah terkenal dan sudah terdapat banyak pemeluk Islam yang mendiami perkampungan-perkampungan Arab atau Persia. Kemungkinan Jeumpa adalah salah satu pemukiman baru tersebut. Untuk menghindari pengejaran itulah, beliau memilih daerah pinggiriran agar tidak terlalu menyolok. Itulah sebabnya, Pangeran Salman juga dikenal dengan nama-nama lainnya, seperti Meurah Jeumpa, atau ada yang mengatakan beliau sebagai Abdullah.
Di bawah pemerintahan Pangeran Salman, Kerajaan Islam Jeumpa berkembang pesat menjadi sebuah kota baru yang memiliki hubungan luas dengan Kerajaan-Kerajaan besar lainnya. Potensi, karakter, pengetahuan dan pengalaman Pangeran Salman sebagai seorang bangsawan calon pemimpin di Kerajaan maju dan besar seperti Persia yang telah mendapat pendidikan khusus sebagaimana lazimnya Pangeran Islam, tentu telah mendorong pertumbuhan Kerajaan Jeumpa menjadi salah satu pusat pemerintahan dan perdagangan yang berpengaruh di sekitar pesisir utara pulau Sumatra. Jeumpa sebagai Kerajaan Islam pertama di Nusantara memperluas hubungan diplomatik dan perdagangannya dengan Kerajaan-Kerajaan lainnya, baik di sekitar Pulau Sumatera atau negeri-negeri lainnya, terutama Arab dan Cina. Banyak tempat di sekitar Jeumpa berasal dari bahasa Parsi, yang paling jelas adalah Bireuen, yang artinya kemenangan, sama dengan makna Jayakarta, asal nama Jakarta yang didirikan Fatahillah, yang dalam bahasa Arab semakna, Fath mubin, kemenangan yang nyata.
Untuk mengembangkan Kerajaannya, Pangeran Salman telah mengangkat anak-anaknya menjadi Meurah-Meurah baru. Ke wilayah barat, berhampiran dengan Barus-Fansur-Lamuri yang sudah berkembang terlebih dahulu, beliau mengangkat anaknya, Syahri Poli menjadi Meurah mendirikan Kerajaan Poli yang selanjutnya berkembang menjadi Kerajaan Pidie. Ke sebelah timur, beliau mengangkat anaknya Syahr Nawi sebagai Meurah di sebuah kota baru bernama Perlak pada tahun 804. Namun dalam perkembangannya, Kerajaan Perlak tumbuh pesat menjadi kota pelabuhan baru terutama setelah kedatangan rombongan keturunan Nabi yang dipimpin Nakhoda Khalifah berjumlah 100 orang. Syahr Nuwi mengawinkan adiknya Makhdum Tansyuri dengan salah seorang tokoh rombongan tersebut bernama Ali bin Muhammad bin Jafar Sadik, cicit kepada Nabi Muhammad saw. Dari perkawinan ini lahir seorang putra bernama Sayyid Abdul Aziz, dan pada 1 Muharram 225 H atau tahun 840 M dilantik menjadi Raja dari Kerajaan Islam Perlak dengan gelar Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah. Melalui jalur perkawinan ini, hubungan erat terbina antara Kerajaan Islam Jeumpa dengan Kerajaan Islam Perlak. Karena wilayahnya yang strategis Kerajaan Islam Perlak akhirnya berkembang menjadi sebuah Kerajaan yang maju menggantikan peran dari Kerajaan Islam Jeumpa.
Setelah tampilnya Kerajaan Islam Perlak sebagai pusat pertumbuhan perdagangan dan kota pelabuhan yang baru, peran Kerajaan Islam Jeumpa menjadi kurang menonjol. Namun demikian, Kerajaan ini tetap eksis, yang mungkin berubah fungsi sebagai sebuah kota pendidikan bagi kader-kader ulama dan pendakwah Islam. Karena diketahui bahwa Puteri Jeumpa yang menjadi ibunda Raden Fatah adalah keponakan dari Sunan Ampel. Berarti Raja Jeumpa masa itu bersaudara dengan Sunan Ampel. Sementara Sunan Ampel adalah keponakan dari Maulana Malik Ibrahim, yang artinya kakek, mungkin kakek saudara dari Puteri Jeumpa. Maka dari hubungan ini dapat dibuat sebuah kesimpulan bahwa, para wali memiliki hubungan dengan Kerajaan Jeumpa yang boleh jadi Jeumpa masa itu menjadi pusat pendidikan bagi para ulama dan pendakwah Islam Nusantara. Namun belum ditemukan data tentang masalah ini.
Setelah berdirinya beberapa Kerajaan Islam baru sebagai pusat Islamisasi Nusantara seperti Kerajaan Islam Perlak (840an) dan Kerajaan Islam Pasai (1200an), Kerajaan Islam Jeumpa yang menjalin kerjasama diplomatik tetap memiliki peran besar dalam Islamisasi Nusantara, khususnya dalam penaklukkan beberapa kerajaan besar Jawa-Hindu seperti Majapahit misalnya. Di kisahkan bahwa Raja terakhir Majapahit, Brawijaya V memiliki seorang istri yang berasal dari Jeumpa (Champa), yang menurut pendapat Raffless berada di wilayah Aceh dan bukan di Kamboja sebagaimana difahami selama ini. Puteri cantik jelita yang terkenal dengan nama Puteri Jeumpa (Puteri Champa) ini adalah anak dari salah seorang Raja Muslim Jeumpa yang juga keponakan dari pemimpin para Wali di Jawa, Sunan Ampel dan Maulana Malik Ibrahim. Mereka adalah para Wali keturunan Nabi Muhammad yang dilahirkan, dibesarkan dan dididik di wilayah Aceh, baik Jeumpa, Perlak, Pasai, Kedah, Pattani dan sekitarnya. Dan merekalah konseptor penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit dengan gerakannya yang terkenal dengan sebutan Wali Songo atau Wali Sembilan. Perkawinan Puteri Muslim Jeumpa Aceh dengan Raja terakhir Majapahit melahirkan Raden Fatah, yang dididik dan dibesarkan oleh para Wali, yang selanjutnya dinobatkan sebagai Sultan pada Kerajaan Islam Demak, yang ketahui sebagai Kerajaan Islam pertama di pulau Jawa. Kehadiran Kerajaan Islam Demak inilah yang telah mengakhiri riwayat kegemilangan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit.
Sejarah ini dapat diartikan sebagai keberhasilan strategi Kerajaan Islam Jeumpa Aceh yang kala itu sudah berafiliasi dengan Kerajaan Islam Pasai yang telah menggantikan peranan Kerajaan Islam Perlak dalam menaklukkan dan mengalahkan sebuah kerajaan besar Jawa-Hindu Majapahit dan mengakhiri sejarahnya dan menjadikan pulau Jawa sebagai wilayah kekuasaan Islam di bawah Kerajaan Islam Demak yang dipimpin oleh Raden Fatah, yang ibunya berasal dari Kerajaan Jeumpa di Aceh. Jadi dapat dikatakan bahwa, Kerajaan Jeumpa Acehlah yang telah mengalahkan dominasi Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit dengan strategi penaklukan lewat perkawinan yang dilakukan oleh para Wali Sembilan, yang memiliki garis hubungan dengan Jeumpa, Perlak, Pasai ataupun Kerajaan Aceh Darussalam.
Setelah Kerajaan Islam Perlak yang berdiri pada tahun 805 Masehi tumbuh dan berkembang, maka pusat aktivitas Islamisasi nusantarapun berpindah ke wilayah ini. Dapat dikatakan bahwa Kerajaan Islam Perlak adalah kelanjutan atau pengembangan daripada Kerajaan Islam Jeumpa yang sudah mulai menurun peranannya. Namun secara diplomatik kedua Kerajaan ini merupakan sebuah keluarga yang terikat dengan aturan Islam yang mengutamakan persaudaraan. Apalagi para Sultan adalah keturunan dari Nabi Muhammad yang senantiasa mengutamakan kepentingan agama Islam di atas segala kepentingan duniawi dan diri mereka. Bahkan dalam silsilahnya, Sultan Perlak yang ke V berasal dari keturunan Kerajaan Islam Jeumpa.
i Masalah Islamisasi Nusantara, lihat misalnya : S.M.N. Al-Attas, “Prelimenary Statement on A General Theory of the Islamization”, dalam Islamization of the Malay-Indonesia Archipelago, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969,. Risalah Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan, Medan: Panitia Seminar, 1963. T.D. Situmorang dan A. Teeuw, Sejarah Melayu, Jakarta: Balai Pustaka, 1958, hlm. 65-66. T. Ibrahim Alfian (ed). Kronika Pasai, Yogjakarta: Gajah Mada University Press, 1973, hlm. 100. Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, Medan: Waspada, 1981. Teuku Iskandar, De Hikayat Atjeh, (S-gravenhage: NV. De Nederlanshe Boek-en Steendrukkerij V. H.L. Smits, 1959). Husein Djajaningrat, Kesultanan Aceh: Suatu Pembahasan Tentang Sejarah Kesultanan Aceh Berdasarkan Bahan-bahan Yang Terdapat Dalam Karya Melayu, Teuku Hamid (terj.) (Banda Aceh: Depdikbud DI Aceh. 1983). Siti Hawa Saleh (edt), Bustanus as-Salatin, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1992). Denys Lombard, Kerajaan Aceh, Jaman Sultan Iskandar Muda 1607-1636, (terj), (Jakarta: Balai Pustaka,1992). C. Snouck Hurgronje, Een- Mekkaansh Gezantscap Naar Atjeh in 1683”, BKI 65, (1991). Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 196. A. Hasymi, 59 Aceh Merdeka Dibawah Pemerintah Ratu (Jakarta: Bulan Bintang, 1997).
ii Azra, op.cit. hal. 28
iii Al-Attas, op.cit. hal. 54-55
iv Azra, op.cit. hal.30
v Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah Wacana Pergerakan Islam di Indonesia; Bandung; Mizan; 1995; hal. 81.
vi Op.cit, hal. 92-93
vii A. Hasymi, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia: Kumpulan prasaran pada seminar di Aceh, Bandung:al-Ma’arif, 1993, cet. 3, , hal. 7; . lihat juga A. Hasymi, Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia, Jakarta: Bulan Bintang, 1990. hal.146.
viii N.J. Krom, Zaman Hindu, terjemahan Arief Effendi, Jakarta: Pembangunan, 1956, hal. 10-12. (Nicholaas Johannes Krom, “De Naam Sumatra”, Bijdragen tot de Taal-, Land-, en Volkenkunde, deel 100, 1941). William Marsden, The History of Sumatra, Oxford University Press, Kuala Lumpur, cetak ulang 1975. D.G.E. Hall, A History of South East Asia, London: Macmillan & Co. Ltd., 1960, hlm. 1-5. D.H. Burger dan Prajudi, Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita, 1960, hlm. 15.
ix D.H.Burger dan Prajudi, Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita, 1960, hlm. 15.)
x M.A.P. Meilink-Roelofsz, Asian Trade and European Influence in the Indonesia Archipelago. The Hague: Martinus Nijhoff, 1962, hlm. 345 (catatan 122)
xi Peter Bellwood, Man’s Conquest of the Pacific. The Prehistory of Southeast Asia and Oceania, New York: Oxford University Press. 1979. Peter Bellwood, Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago, Orlando, Florida: Academic Press. 1985.
xii Tibbetts; Pre Islamic Arabia and South East Asia, JMBRAS, 19 pt. 3, 1956, hal. 207. Dr. Ismail Hamid “Kesusastraan Indonesia Lama Bercorak Islam” .Jakarta: Pustaka Al-Husna cet. 1, 1989, hal. 11).
xiii Prof. Dr. HAMKA, Dari Perbendaharaan Lama; Jakrta: Pustaka Panjimas; cet.III; 1996; Hal. 4-5.
xiv Lihat: W.P. Groeneveldt, Historical Notes on Indonesia & Malaya Compiled from Chinese Source, Jakarta: Bharata, 1960. B. Schrieke, Indonesian Sociological Studies, Part Two, The Hauge-Bandung: W. Van Hoeve Ltd, 1957, .Ma Huan, Ying-yai Sheng-lan, terjemahan dan edisi J.V.G. Mills, Hakluyt Society, 1970,
xv F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries, St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159.
xvi Lihat: artikel “Kafur”, A. Dietrich, Ensiklopedia Islam (E.I) 2 hal: 435-436.
xvii W. Heyd, Histoire du commerce du Levant [Sejarah Pergadangan di Kawasan Syria-Libanon], edisi Prancis yang disusun kembali oleh Furcy Raynand, Amsterdam: Adolf M, Hakkert, 1967, tambahan I, hal 590).
xviii Ibn Baytar, Traite des Simples par Ibn el-Beithar. Terj. Dr. L. Leclerc, 3 jil. –Paris: 1881-1887.
xix G. Celentano, L.V. Vaglieri, “Trois Epitres d’al-Kindi: textes et traduction avec XIX plaches facsimile des trois epitres”, dalam Annali dell Istituto universitario Orientale di Nipoli, jil 34, buku 3 (1974) hal 523-562.
xx Tibbetts, Arabic Texts, hal. 27-28.
xxi Wolters, Early Indonesian Commerce, hal. 178)
xxii Tibbetts, Arabic Texts, hal. 30
xxiii Ibid, hal. 37-38
xxiv Ibid, hal. 44-45
xxv K. A. Nilakanta Sastri, History of Srivijaya (Madras: University of Madras, 1949), hal. 80, 81.
xxvi Almut Netolitzky, Das Ling-wai Tai-ta von Chou-chu-fei,( Weisbaden: Heiner Verlag, 1977), hal. 40-41)
xxvii Friedrich Hirth and W. W. Rockhill, Chau Ju-kua: His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth and Thirteenth Centuries, Entitled Chu-fan-chi (St. Petersburg: Imperial Academy of Sciences, 1911), hal. 72).
xxviii Ibid, hal.114
xxix Henry Yule and Henri Cordier, The Book of Ser Marco Polo, 2 vols. (Reprint, Amsterdam: Philo Press, 1975), 2:299)
xxx Ibid, hal. 300
xxxi ibid
xxxii Th. C. Th. Pigeaud, Jam in the Fourteenth Century, 5 vols. (The Hague: Nyhoff, I960), 1:11
xxxiii Mills, Ma Huan, hal 122-123.
xxxiv Ibid, hal. 123-124
xxxv ibid
xxxvi T. Iskandar, Hikayat Atjeh, op.cit. hal. 17
xxxvii Friedrich Hirth and W. W. Rockhill, Chau Ju-kua: His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth and Thirteenth Centuries, Entitled Chu-fan-chi (St. Petersburg: Imperial Academy of Sciences, 1911), hal. 72). W.P. Groeneveldt, Historical Notes on Indonesia & Malaya Compiled from Chinese Source, Jakarta: Bharata, 1960, hlm. 280.
xxxviii N.J. Krom, Zaman Hindu, terjemahan Arief Effendi, Jakarta: Pembangunan, 1956, hal. 10-12. D.G.E. Hall, A History of South East Asia, London: Macmillan & Co. Ltd., 1960, hlm. 1-5. D.H. Burger dan Prajudi, Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita, 1960, hlm. 15.
xxxix Lebih terinci lihat misalnya : Dr. Subhi Shaleh, Mabahits fi ‘ulum al-Qur’an, Beirut : Dar Ilm li al-Maliyin, tt. Syaikh Muhammad Ali al-Shabuni, al-Tibyan fi ‘ulum al-Qur’an, Damsyik : Maktabah al-Ghazaly, Thabaah Tsalist, 1981. Dr. M. Ali al-Hasan, al-Manar fi ‘ulum al-Qur’an, Amman : Matbaah al-Syuruq, 1983. Dr. Shabir Thayyimah, Hazha al-Qur’an, Bairut : Dar al-Jiil, 1989. Syaikh Muhammad Rasyid Ridho, al-wahy al-Muhammady, Bairut : Dar al-Fiqr, 1968.
xl Karel Steenbrink, Pondok Pesantren, Jakarta: LP3ES,
xli Sir Thomas Stamford Raffles, The History of Java, from the earliest Traditions till the establisment of Mahomedanism. Published by John Murray, Albemarle-Street. 1830. Vol II, 2nd Ed, Chap X, hal. 74. 122
xlii JJ. Meinsma,. Serat Babad Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647. S’Gravenhage, 1903
xliii Lihat :Umar Hasyim, Riwayat Maulana Malik Ibrahim. Semarang:Menara Kudus. 1980.
xliv (Lihat misalnya: D.R. SarDesai,Vietnam, Trials and Tribulations of a Nation. 1988. ppg 33-34,. David P. Chandler, A History of Cambodia (Boulder: Westview Press, 1992.) George F. Hourani “Arab Seafaring” Princeton University Press, New Jersey, 1979. Nicholas Tarling, “The Cambridge History of Southeast Asia” vol.1 Cambridge University Press, Cambridge, 1992. Lafont, P. B., “Aperçu sur les relations entre le Campa et l’Asie du Sud-Est,” Actes du Séminaire sur le Campa organisé à l’Université de Copenhague, le 23 mai 1978 (Paris: 1988b) hal. 71-82. Manguin Pierre Yves, “Etudes cam II; l’introduction de l’Islam au Campa,” Bulletin de l’Ecole Française d’Extrême-Orient, Vol. LXVI (1979) hal.. 255-287.
xlv Lihat : Tun Suzanna Tun Hj.Othman dkk. Dinast-Dinastii Quraysh (Hasyimy) di Alam Melayu, Johor:tt.
xlvi Lihat : Wan Muhammad Shagir Abdullah, Syekh Muhammad Arifin Syah, Utusan Melayu, 24 Juli 2006
xlvii A.H. Johns, “Islam in Southeast Asia: Reflections and New Directions”, Indonesia, Cornell Modern Indonesia Project, 1975, no.19 (April). Hal. 8
xlviii TD. Situmorang dan A. Teeuw, Sejarah Melayu, op.cit. hal. 168-173
xlix Lihat :Umar Hasyim, Riwayat Maulana Malik Ibrahim. Semarang:Menara Kudus. 1980. Al-Murtadho, H. Sayid Husein, dan KH Abdullah Zaky Al-Kaaf, Drs. Maman Abd. Djaliel, 1999. Keteladanan Dan Perjuangan Wali Songo Dalam Menyiarkan Islam Di Tanah Jawa. CV Pustaka Setia, Bandung. Nasab-Alwi (Ammu al-Faqih), Situs Asyraaf Malaysia (Situs Persatuan Alawiyyin Malaysia) Martin van Bruinessen, 1994. Najmuddin al-Kubra, Jumadil Kubra and Jamaluddin al-Akbar: Traces of Kubrawiyya influence in early Indonesian Islam, Bijdragen tot de Taal- Land- en Volkenkunde 150. 305-329
l Lihat: Modus, No.15/Th.V/23-29 Juli 2007
li Ibid
lii Wan Huseein Azmi, Islam di Acheh, Kuala Lumpur: UKM.
liii ibid
liv D.G.E. Hall, A History of South East Asia, London: Macmillan & Co. Ltd., 1960, hlm. 1-5. D.H. Burger dan Prajudi, Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita, 1960, hlm. 15. Ma Huan, Ying-yai Sheng-lan, terjemahan dan edisi J.V.G. Mills, Hakluyt Society, 1970, hlm. 120. W.P. Groeneveldt, Historical Notes on Indonesia & Malaya Compiled from Chinese Source, Jakarta: Bharata, 1960, hlm. 209. B. Schrieke, Indonesian Sociological Studies, Part Two, The Hauge-Bandung: W. Van Hoeve Ltd, 1957, hlm. 17.
lv D.H.Burger dan Prajudi, Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita, 1960, hlm. 15.
lvi M.A.P. Meilink-Roelofsz, Asian Trade and European Influence in the Indonesia Archipelago. The Hague: Martinus Nijhoff, 1962, hlm. 345 (catatan 122)
lvii Ibid
(Sumber: Kompas.web.i.d)

Pelawak Bukan Manusia Formal

Pelawak Bukan Manusia Formal
Oleh: Tarzan
WAKTU Sri Mulat mengadakan lomba lawak se-Jabotabek bulan April 85, tidak kurang tiga ratus grup lawak ambil bagian. Umpama lomba ini diadakan seluruh Indonesia, , tidak terbayangkan berapa ribu grup yang bakal mendaftar. Sayangnya, sensus lawak belum pernah ada, kecuali seperti pendaftaran seperti dilakukan Dinas Kebudayaan DKI. Masih banyak pelawak yang tidak punya nomor induk yang tidak ada catatannya di Dinas Kebudayaan. Yang ingin saya tanyakan mengapa sebenarnya orang ramai-ramai ingin jadi pelawak. Apa mungkin karena melihat ada yang dari pelawak bisa punya mobil, ada yang menjadi anggota DPR dan sebagainya. Ini, yang bisa menjawab tentunya mereka sendiri.
Waktu saya jadi peengurus Srimulat(sekarang saya tidak di Srimulat lagi, saya freelance) banyak pelamar yang ingin jadi pelawak. Alasannya, katanya melawak lebih gampang dari pada jadi kuli bangunan. Sebetulny, ini bisa menjadi gambaran, bahwa ada yang menganggap melawak bisa dilakukan sekadar sebagai pelarian. Bisa dilakukan tidak secara sungguh-sungguh.
Padahal, menurut saya melawak dibutuhkan jiwa seni, dibutuhkan bakat, serta dibutuhkan belajar secara ungguh-sungguh. Rasanya saya keloro-loro ketika dalam sebuah ceramah di Gedung Deppen Jakarta, Ibu Haryati Soebadio(waktu itu Dirjen Kebudayaan), mengatakan bahwa melawak belum bisa dikatakan seni. Alasannya, pelawak itu sendiri membuat seni rusak. Tobat, tobat. Pak Guno dalam sebuah terbitan Proyek Javanologi juga mengatakan lawak tidak mmenuhi pada definisi seni. Meski begitu, Pak Guno masih mengatakan betapapun penyajian lawak merupakan seni tersendiri. Di mana, hanya sebagian kecil saja dari seniman yang dapat mengerjakannya.
APA pun, saya condong berpendapat bahwa melawak butuh jiwa seni. Ini serius, saya tidak sedang melawak. Arswendo Atmowiloto dalam tulisannya di majalah HAI mengatakan melawak tidak seperti penyanyi. Umpamanya lagu yang sedang in di mana saja bisa diterima. Lagu kugadaikan Cintaku oleh Gombloh almarhum bisa dinyanyikan di mana saja karena sedang in. Tidak demikian dengan melawak. Melawak harus disesuaikan sikon alias situasindan kondisi. Melawak di pesta pengantin harus berbeda dengan melawak di reuni SD ATAU REUNI TK.
Di sinilah dibutuhkan apa yang disebut perasaan tanggap, peka. Dan juga bakat. Misalnya, bagaimana sampai mampu memanfaatkan kebiasaan, sehingga sesuai dengan karakter diri sendiri. Sehingga melawak kelihatan tidak dibuat-buat, oleh karenanya tidak konyol. Umpama di suatu grup ada yang bodoh, ya jadikan tokh bodoh. Kalau yang pintar, ya jadikan tokoh pintar. Jangan yang bodoh kelihatan minteri dan yang pinter nggobloki. Ada memang yang punya kelebihan, , jadi apa saja bisa. Contoh untuk ini adalah almarhum Bing Slamet.
Semua ini bisa dicapai, tidak saja dengan bakat, tapi juga dari belajar terus-menerus. Misalnya dari membaca, menonton apa saja, dan bergaul seluas-luasnya.
Selain itu, ada lawakan dengan penonton yang sifatnya sangat umum. Ini misalnya melawak di tempat seperi Pasar Seni Ancol, atau lebih luas lagi di televisi. Terasa sekali perlunya bakat. Misalnya bakat menulis naskah yang baik. Karena dengan penonton yang sifatnya umum, diperlukan naskah. Naskah adalah senjata. Dan naskah yang baik senjata ampuh untuk merebut hati penonton.
Tapi apakah setelah memenuhi itu semua sebuah grup lawak terus langgeng? Inilah bukti lagi, bahwa dunia lawk bukan dunia yang gampang.
Banyak kelompok lawak kita yang tidak abadi, menjadi korban meminjm istilah Mochtar Lubis dalam buku Manusia Indonesia, hipokritisme atau kemunafikan. Menurut Mochtar Lubis itu ciri pertama manusia Indonesia. Lain di muka lain di belakang.
Umpamanya waktu mau mendirikan grup, pokoknya terserah. Apa saja mau, pokoknya baik. Tapi nanti kalau dapat angin, lalu berubah. Begitu juga dalam pembagian rezeki. Ketika grup menjadi besar, honor pemain tidak ikut besar, meski pemain ikut membesarkan nama grup. Katanya ini untuk kekeluargaan. Tetapi kekeluargaan macam ini adalah kekeluargaan munafik.
Menurut saya, untuk membuat grup lawak yang kokoh, dibutuhkan disiplin, keterbukaan, dan keadilan.
***
BAHWA untuk menjadi pelawak yang baik dibutuhkan peningkatan pendidikan, itu benar. Tapi saya rasa tidak harus melalui pendidikan formal.
Maksudnya pendidikan ini, menurut istilah wartawan Kompas, Don Sabdono, adalah memperluas kepribadian secara terus menerus. Pelawak menjadi pribadi yang kaya, tidak cupet pengetahuan hidup.
Dan ini tidak harus melalui pendidikan formal. Sebab banyak hal yang berbau formal selama ini hanya mencetak manusia formal, bukannya manusia sebagai pribadi yang kaya, dan sanggup menghadapi tantangan hidup macam apa pun.
Katakanlah misalnya kalau seperti harus bergelantungan di kota besar semacam Jakarta. Aaauuuwooooo….***
Tarzan, pelawak.
( Sumber: Harian Kompas, 24 Januari 1988 hlm. VI)

Selamat Jalan Prof. Sartono…

Selamat Jalan Prof. Sartono…..
Puluhan orang melepas jenazah Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo (86 tahun) dari Balairung Universitas Gadjah Mada. Sabtu (8/12), sekitar pukul 10.30 Wib sejarawan besar Tanah Air itu diberangkatkan ke pemakaman keluarga Astana Kadarisman, Ungaran, Jawa Tengah.
“Semasa hidupnya, Sartono telah memberikan sumbangan besar dalam ilmu pengetahuan Indonesia, khususnya ilmu sejarah,” kata Rektor UGM, Prof Ir Sudjarwadi, dalam pidato pelepesan jenazah. Semasa hidupnya, Sartono telah mengabdikan diri untuk dunia pendidikan sehingga mendapatkan anugerah dan berbagai penghargaan baik nasional maupun internasional. Terakhir, mendiang mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputra Utama dari Presiden RI pada 11 Agustus 2007.
Sartono tutup usia Jum’at(7/12) sekitar pukul 01.00 wib di Rumah Sakit PantI Rapih Yogyakarta. Ia meninggalkan seorang istri, Sri Kardajati(80), dua anak yakni Nimpuno(57) dan Roswita(53), tiga cucu dan satu cicit. “Sampai meninggalnya kakek selalu berpesan jadi orang, khususnya ilmuwan jangan seperti pohon pisang yang hanya mampu berbuah sekali dalam hidupnya,” kata Nindito (33) salah seorang cucu Sartono.
Sementara Prof Dr. Ahmad Syafii Maarif mengenang Sartono sebagai seorang sosok yang sangat serius dalam menekuni ilmu. Bahkan, guru besar sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu menyebutnya sebagai seorang pertapa yang terus mencari dan menggali berbagai hal. Ia menyayangkan hanya sedikit yang hadir untuk melepas kepergian sejarawan Ratu Adil itu. “Bahkan, saya tidak melihat para sejarawan yang menjadi muridnya ikut melepas. Saya kecewa,” kata Syafi’i (Bersambung ke hal B 11 kol 1-2) yang juga mantan ketua PP Muhammadiyah di sela-sela acara pelepasan jenazah itu.

Meusubudi
Saat berulang tahun ke 85 pada 15 Februari 2006, Sartono secara tegas mengungkapkan kegelisahannya terhadap kondisi negara saat ini. Di zaman yang semakin bobrok seperti sekarang ini, katanya waktu itu, sejarawan dan generasi muda seharusnya jangan hanya mengejar dunia. Sebab, rumah besar, kekayaan yang melimpah tidak akan ada gunanya jika hingga tutup usia tidak meninggalkan karya yang berguna untuk masyarakat. Di saat itu dia berpesan, generasi muda harus tetap untuk tetap berpegang pada etos yang disebutnya Mesu budi. Istilah yang diambil dari Serat Widatama yang bermakna mengandalkan kekuatan batin dan tidak bertumpu kepada kemegahan dunia. Seseorang hendaknya juga jangan seperti pohon pisang yang hana mampu berbuah setelah itu mati.
“Beliau adalah guru utama sejarawan indonesia,” kata Prof Dr Djoko Suryo, sejarawan UGM. Hampir semua sejarawan ternama di Indonesia, lanjut Djoko, merupakan murid Sartono. Perjalanan  karir Sartono yang lahir di Wonogiri 15 Februari 1921 ini dimulai sebagai guru di Sekolah Schakel di Muntilan (1941) Setelah meraih gelar MA di Universitas Yale Amerika (1964) dan gelar PhD di Universitiet van Amsterdam, Belanda(1966), ia dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Sastra UGM (1968).
Sartono disebut koleganya sebagai ‘Toynbeean’. Sebab, putra pegawai pos di zaman Belanda ini mengikuti pola pikir sejarawan terkenal Arnold J Toynbee yang mengembangkan konsep challenge and response dalam menganalisis proses sejarah. Puluhan judul buku yang telah dihasilkan Sartono. Namun, yang sangat terkenal adalah buku berjudul The Peasant Revolt of Banten in 1888. Buku ini diambil dari desertasinya di Amsterdam yang megantarkan gelar PhD dengan peringkat Cum laude. Buku yang menceritakan tentang pemberontakan petani Banten tahun 1888 ini juga disebut-sebut sebagai rintisan penulisan sejarah baru, yakni tentang aktivitas orang-orang kecil.
Pada 1984, buku Ratu Adil-nya terbit.Dalam buku itu ia mengemukakan, gerakan-gerakan yang terjadi di Jawa yang meyakini akan datangnya sorang Ratu Adil yang membawa kebahagiaan dan kemakmuran seperti yang pernah dialami masa lampau. Lantaran banyak menulis tentang Ratu Adil, Sartono pun kemudian kerap dijuluki Sejarawan Ratu Adil.
Sebagai ilmuwan, guru besar emeritus Fakultas Ilmu Budaya ini juga mempunyai keteguhan dalam mempertahankan prinsip. Hal ini terlihat dalam buku Pengantar Sejarah Indonesia Baru, Jilid I zaman kerajaan dan Jilid II tentang pergerakan sejarah nasional indonesia. Buku ini ditulis sebagai ‘protes’ dia terhadap buku Sejarah Nasional Indonesia yang ditulis pemerintah.
Buku Sejarah Nasional Indonesia itu ditulis oleh 30 orang namun memerlukan waktu hingga 5-6 tahun. Dan hasilnya tidak maksimal dan justru menuai banyak kritikan. Sartono sendiri pada awalnya dilibatkan dalam pembuatan buku itu. Namun, entah apa sebabnya, tiba-tiba namanya menghilang ketika buku itu baru sampai pada jilid II (seluruhnya ada 6 jilid) “Beliau dikenal sebagai tokoh sejarawan yang mempunyai integritas tinggi dan selalu mengabdikan diri pada pengembangan ilmu hingga akhir hayat. Ini langka,” kata Djoko Suryo. “Indonesia butuh orang seperti beliau”.# hep

( Sumber: Republika, 9 Desember 2007 hlm B1)

Catatan: Berita koran Republika ini sengaja saya posting ke blog Bek Tuwo Budaya hari ini, dalam rangka menyambut kunjungan Prof.Dr. Bambang Purwanto,MA ke Jurusan Pendidikan Sejarah FKIP Unsyiah, pada hari ini Selasa, 28 Oktober 2014 dalam rangka menyampaikan “Kuliah Umum”. Beliau adalah staf pengajar Jurusan Sejarah FIB UGM Yogyakarta, dan teman sekelas saya sewaktu masih sebagai mahasiswa di Fakultas Sastra UGM Yogyakarta. Saya yakin, Prof.Dr. Bambang Purwanto,MA mampu mengikuti jejak keilmuan Prof.Dr. Sartono Kartodirdjo yang telah meningkatkan martabat dan wibawa ilmu sejarah dengan karya-karya kesejarahan!.

Bale Tambeh,Seulasa, 4 Sa Usen 1436/4 Muharram 1436 H/28 Oktober 2014 M, pkl. 09.12 Wib, T.A. Sakti

Nyali Besi Aung San Suu Kyi

Nyali Besi Aung San Suu Kyi

Orang tahu kediaman Aung San Suu Kyi terletak di pinggir Danau Ir.. Yangoon (Rangoon ibukota Myanmar(Birma), Orang pun tahu regim militer yang berkuasa men”cekal” Suu Kyi dengan status tahanan rumah, sejak Juli 1989. Sekeliling rumahnya, tentera bersenjata patroli siang dan malam. Jangankan berjumpa orang lain, kontak telepon sesama keluarganya diblokade. Suaminya Prof. Michael Aris tak pernah diizinkan menemui istrinya-sejak Natal 1989. Dan, per September tahun itu, Suu Kyi pun Cuma bisa mengelus foto kedua anaknya.
Dalam situasi begitu pun, Suu Kyi merupakan aral besar bagi regm militer di Yangoon. Regim berkuasa mengatakan, “Suu Kyi baru akan dibebaskan kalau betul-betul meninggalkan dunia politil”. Tangan kekuasaan junta Myanmar memang berlepotan darah. Legitimasi kekuasaan mereka ditegakkan dengan berondongan peluru. Dan, berbicara dalam bahasa senapan- yang menyudahi ribuan penduduk pro demokrasi pada 1988.
Hadiah Nobel bidang Perdamaian(1991) dikukuhkan atas nama pemimpin Liga Demokrasi Nasional( National League for Democracy, NLD) bagi ibu dua anak tersebut, dicalonkan oleh Presiden Ceko-Slovakia, Vaclav Havel. Havel – yang dia sendiri termasuk calon utama, melakukan itu atas permintaan sebuah gerakan solidaritas Norwegia. “Saingan serius Suu Kyi adalah Nelson Mandela”, pemimpin anti- apartheit Afrika Selatan. Penganugerahan hadiah – piagam, medali emas, dan uang sekitar sejuta dolar AS- itu, menurut para pengamat akan meningkatkan moral rakyat Myanmar. Atau, dalam kalimat Front Demokrasi Mahasiswa Myanmar di pengasingan ,”Akan mendorong mereka yang telah mengorbankan darah, keringat, air mata dan nyawa untuk terus berjuang demi demokrasi.” Ketua Panitia Nobel Farncis Sijerstedt mengatakan, telegram dikirim ke pemerintah Myanmar. Pemerintah Myanmar diminta untuk menyampaikannya kepada Ny.Suu Kyi. Disitu jelas antara lain, “Perjuangannya merupakan satu di antara contoh-contoh paling luar biasa keberanian sipil di Asia selama beberapa dasawarsa. Sejauh ini panitia hadiah Nobel Perdamaian tidak bisa menghubungi Suu Kyi. Kepastian boleh-tidaknya Suu Kyi menerima hadiahnya pada upacara resmi di Brussel 10 Desember mendatang masih tanda tanya. Lebih lanjut Francis Sejerstedt mengatakan, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian kali ini sangat dipengaruhi strategi non-kekerasan Mahatma Gandhi.”Suu Kyi sudah bekerja demi konsiliasi kelompok-kelompok etnik di Myanmar. Ia telah menjadi orang yang penting di dalam keluangan(?) menghadapi penindasan” ujar Sejer Stedt. “Ia menjadi pemimpin oposisi demokratis, yang menerapkan sarana-sarana tanpa kekerasan untuk? melawan regim yang bercirikan brutalisme.”.
Pihak Gedung Putih menyambut baik pemberian Nobel itu kepada Suu Kyi. Di depan wartawan, Sekretaris Pers Gedung Putih..lin Fitzwater, bahkan mendesak agar pemerintahan sipil(pemerintahan terpilih) di Myanmar dipulihkan dan membebaskan semua tahanan politik. Berkenaan dengan nasib tak menentu Suu Kyi, pernyataan itu menegaskan, dilanjutkan penahanan terhadapnya hanyalah merupakan tanda dari pemerintahan militer yang represif. Suara senada datang dari Masyarakat Ekonomi Eropa. Di Manila Ny Corazon Aquino mengucapkan selamat kepada rekannya sesama perempuan. Dia mengatakan Suu Kyi merupakan simbol perdamaian dan perlawanan pasif bagi kebebasan asasi. Dari New York, Sekjen PBB Javier Perez de Cuellar menyatakan rasa senangnya atas penganugerahan Nobel Perdamaian(1991) kepada Suu Kyi. Dengan satu harapan, Suu Kyi segera dibebaskan dari tahanan rumah.
Suaminya, Michael Aris – warga Inggris yang profesor tamu pada Universitas Harvard, AS- berharap para penguasa Myanmar mendapat tekanan untuk membebaskan istrinya. “Tujuan dia sederhana: kebebasan manusia. Ia telah berjuang untuk itu. Dan bersama rakyatnya, ia menderita pula karena itu, kata Aris.
Aung San Suu Kyi, anak perempuan pahlawan pembebasan Myanmar, Aung San(alm). Sebagian rakyat Myanmar menganggap perempuan itu titisan ayahnya. Aung San adalah salah seorang pahlawan pembebasan Myanmar. Ironisnya Aung Sanglah yang memelopori pembentukan angkatan bersenjata. Cuma, ia tak sempat bisa menikmati kemerdekaan – karena keburu tewas ditembak oleh rekan seperjuangannya. Itu terjadi enam bulan sebelum Inggris mengakhiri kekuasaannya di Myanmar, Juli 1947. Waktu itu, Suu Kyi masih berumur dua tahun. Jadi, ia belum sempat mengenal sang ayahanda.
Suu Kyi lahir di Yangoon, 19 Juni 1945. Pendidikan dasar dan menengah ia jalani di Myanmar dan India. Di sini, ibunya(meninggal Januari 1989) pernah bertugas sebagai duta besar. Ia memperoleh beasiswa untuk belajar politik, filsafat, dan ekonomi, di Universitas Oxford, Inggris. Setamat kuliah, ia bekerja pada sekretariat PBB DI New York. Pada 1972, ia menikah dengan Prof. Michael Aris, warga Inggris yang ahli dalam kebudayaan Tibet. Mereka menetap di Inggris.
Ia kembali ke tanah kelahiran April 1988. Pulang ke kampung dalam situasi negeri bergolak. Saat itu, ia tengah merampungkan tesis ……. … pada London‘s School… and African Studies …. ilmiah hendak digusurnya…. total berbaur( fotokopi bagian rusak-tergeser) yakni…. pada alam. ………….. –kalau disalin pun tak jelas, karena tulisan bukan di tempat aslinya,melainkan bertukar-ganti! -………… ………….. /………………… …………… ………………………….. …………

Aris. Suu Kyi menegaskan hal itu – “Jika rakyat membutuhkan saya”. Langkah itulah yang ia tempuh, ketika seluruh negeri dilanda chaos. “Krisis dewasa ini sungguh sangat memprihatinkan seluruh negeri. Sebagai anak bapakku, aku tak akan tinggal diam. Krisis ini bisa disamakan dengan perjuangan kedua menuju kemerdekaan.” ujarnya saat itu. Misi yang terbeban pada pundaknya disebutnya dengan kalimat “Rakyat Myanmar sungguh-sungguh menginginkan kebebasan. Mereka menginginkan kebebasan dari rasa takut. Rakyat sudah lama dihinggapi rasa takut. Ke mana pun kita pergi, kita harus terus menerus membangkitkan mereka,”jangan takut’. Maka jika kamu membiarkan dirimu diintimidasi, mereka(penguasa) pasti akan terus mengintimidasi kamu,” katanya.
Kehadirannya cepat mengundang simpati dari berbagai kalangan masyarakat. Ia ibarat Corazon Aquino bagi Filipina di ujung krisis kepemimpinan Preside Marcos. Tokoh-tokoh oposisi menganggap Suu Kyi bisa menjadi pemersatu kubu perlawanan. Gayanya konfrontatif. Namun Suu Kyi bukan penganjur kekerasan. Ia, seperti diakuinya, meneladan pada gaya perjuangan Mahatma Gandhi dan Marthin Luther King. Bersama bekas PM U Nu dan dua jenderal purn- Aung Gyi dan Tin Oo, Liga Nasional bagi Demokrasi, partai yang dalam waktu singkat berhasil menghimpun sekitar dua juta anggota. Walau, belakangan, U Nu dan Aung Gyi memisahkan diri dan membentuk partai sendiri.
Meski dihalang-halangi penguasa, Suu Kyi selalu berusaha mengunjungi desa-desa. Setelah keadaan darurat diumumkan – yang mengharamkan berkumpul lebih dari lima orang- kaset-kaset video berisi penampilan Suu Kyi justru marak. Rekaman kaset dan teks-teks pidatonya beredar dari tangan ke tangan. Serangkaian pidato dengan nada keras digelarnya di masa Sein Lwin berkuasa. Ia menyerukan pembentukan pemerintahan sementara dan pelaksanaan pemilu sesegera mungkin. Hal itu ia dengungkan di depan Pagoda Shwedagon, Yangoon – dengan jumlah massa tak kurang sejuta jiwa. “Macan Podium” itu bahkan punya nyali untuk memaksa sekelompok serdadu – yang coba menghentikan pidato Suu Kyi – kembali ke markas dengan tangan hampa.
Peristiwa itu terjadi ketika ia berbicara di depan ribuan massa di Myanmar. Tentera turun dari dua truk. Suu Kyi cepat tanggap. ‘Jangan merasa terganggu”. Jika kita bisa mengendalikan diri, kita bisa mengalahkan lawan kita.” Ujarnya menenangkan massa. Moncong-moncong senjata diarahkan ke tengah kerumunan. Mereka panik. Dan, Suu Kyi cukup berkata singkat untuk ‘menjinakkan’
tentera. ‘Kita malah berterima kasih kepada kalian. Kalian malah berjasa menyulut keberanian rakyat”. Suu Kyi sangat yakin, kisruh yang melanda Myanmar 26 tahun terakhir berpokok pada Ne Win.
Meski secara resmi Ne Win tidak lagi berkuasa, menurut Suu Kyi,”SLORC tetap dikendalikan oleh orang tua itu.”Diakhir Juni 1989, di depan massa Suu Kyi terang-terangan mengajak militer untuk menggulingkan “orang kuat” tersebut. “Ne Win telah merendahkan martabat AB. Aku mendesak para pejabat Angkatan Bersenjata dan SLORC untuk setia kepada negara. Setia kepada rakyat. Bukan kepada Ne Win”, ujarnya.
Kecaman terbuka gaya Suu Kyi itu menggegerkan. Ia, dengan begitu telah melumerkan kebekuan politik yang telanjur mentradisi. Kelantangan suaranya jadi semacam obat penawar, pada mulanya. Lama kelamaan, hal itu besar artinya buat mempertebal semangat dan kesadaran rakyat tentang demokrasi dan hak-hak asasi. Faktanya, figur Ne Win dibenci rakyat. Tapi, baru Suu Kyi yang punya nyali “menyumpahi” Ne Win.
Kena tampar begitu keras, Saw Maung langsung beraksi. Beberapa pekan kemudian para pemimpin NLD diburu dan diprodeokan. Pada 20 Juli, Suu Kyi bersama 42 pentalon NLD ditangkap. Situasi berkembang buruk. Tentera menggeledah semua kantor partai dan 200 aktivis partai ditahan. Dengan tegas dihadapinya intrik kotor dan keji penguasa Myanmar.
Seusai “pembersihan” terhadap Suu Kyi dan partainya, the rulling clas menjanjikan pemilu. Maklumat itu bertujuan ganda: memberi ‘permen’ buat rakyat dan pengerem tekanan internasional. Pihak SLORC memang tak ingkar janji. Pemilihan umum yang bersih – hal yang mencengangkan banyak peninjau – berlangsung Mei 1990. Regim militer mengandalkan Partai Persatuan Nasional(NUP) pengganti BSPP.
Optimisme NUP bakal menang seperti diyakini Saw Maung, cukup logis. Mereka yakin, tentera, pegawai negeri dan para petani bakal berpihak pada NUP. Karenanya, SLORC tidak merasa perlu berbuat curang. Ancaman oposisi?. UU Darurat cukup mengekang ruang gerak kampanye mereka. Kebanyakan pentalon NLD sudah pula diprodeokan. Namun, aspirasi rakyat Myanmar berbicara lain. Hasil pemilu meleset dari ramalan. Partai oposisi, NLD menang telak – dengan perolehan 392 kursi dari 485 kursi parlemen yang diperebutkan. Celakanya, Saw Maung mengangkangi hasil pemilu itu. Parlemen terpilih tidak dibentuk, dengan dalih yang khas militer, “NLD pasti tidak becus memimpin bangsa.”
Aung San Suu Kyi menjadi lambang perlawanan tanpa kekerasan terhadap para penguasa militer Myanmar. Pemerintahan yang disebut Panitia Nobel sebagai “regim yang berwatak brutal”. Di dalam isolasi, berbagai konsesi ditawarkan regim – asalkan Suu Kyi meninggalkan Myanmar. Tapi, sekali “tidak”, ia pantang menjilat ludah. Angin demokratis yang ditiupkannya – yang mulai dapat tempat – sirna lagi. Rakyat Myanmar digiring surut. Kembali ke era intimidasi senapan dan suasana serba ketakutan.

(Sumber: Bonus Majalah Sarinah No. 242).

Catatan: Artikel Bonus ini selesai saya salin menjelang berangkat kuliah, Aleuhad/Ahad, 12 Oktober 2014, pkl. 9.48 pagi, T.A. Sakti.

Begitu Indah, tapi Seram: Laporan wartawan Kompas dari Myanmar

Begitu Indah, tapi Muram
Laporan dari Myanmar ( 1 )

Pengantar redaksi
Myanmar yang dikenal sebagai lumbung beras Asia tertutup terhadap dunia luar tidak lama setelah regim sosialis merebut kekuasaan tahun 1962. Kerusuhan yang terjadi tahun 1988 mendorong pemerintah “yang percaya mistik” itu mengubah nama Birma menjadi Myanmar. Sedang ibukota Rangoon diganti jadi Yangoon. Untuk mengetahi apa yang sedang terjadi di Myanmar, wartawan Kompas, Maroli Tobing menurunkan laporan hasil liputan selama 11 hari di Myanmar. Bersama Tiziano Terzani, wartawan senior dari majalah terkemuka Jerman, Der Spiegel dan penulis buku The Fall of Saigon, Kompas mengitari daerah pedesaan di Myanmar Tengah dan mengikuti jalur sungai Irawady.

BANDARA udara internasional di pinggiran ibukota Yangoon masih tetap seperti delapan tahun silam. Bangunannya yang tidak seberapa hebat belum menunjukkan perubahan. Sedangkan suasananya tetap saja muram, dan lesu apabila dibandingkan dengan bandara-bandara di Asia Tenggara lainnya. Di ruang ketibaan, petugas imigrasi dan bea-cukai sangat teliti melayani para pendatang yang umumnya turis atau pegawai kedutaan asing.
Begitu usai melalui pemeriksaan yang agak menjengkelkan itu, segerombolan anak muda segera menyergap. “Apakah Anda bawa whiyski atau rokok?. Kami mau beli dengan harga mahal. Atau Anda barangkali mau menukarkan dollar, dengan nilai 10 kali lebih tinggi ketimbang kurs resmi.”. Itulah pertanyaan menggoda yang bertubi-tubi dilontarkan orang-orang yang berbusana sarung itu.
Tetapi di Inya Lake Hotel , tempat penginapan terbaik di (Bersambung ke hal. 5 kol. 1-5) Myanmar, citra negeri ini segera berubah dalam sekejab, menjadi suatu taman impian yang begitu indah. Bangunan abad silam yang berada di tepi danau dan dikitari padang rumput yang luas, mengingatkan suasana romantisme Abad Pertengahan. Dan ini masih ditambah lagi oleh keramahan para karyawan hotel.
Tapi Myanmar jelas bukan hanya perjalanan dari bandara ke hotel. Menuju jantung kota Yangoon saja, misalnya, suasana tegang telah menggantikan keindahan pagoda Swedagon yang sangat masyhur itu. Di sana-sini kelihatan tentera berjaga-jaga dengan wajah dingin. Sebagian gedung tinggi telah dijadikan pos pengawasan militer. Pada petang hari truk-truk militer mulai lalu-lalang dengan membawa personel bersenjata berikut kawat duri untuk barikade. Di hampir semua tempat penting dipajang tulisan yang menyebut “Tatmadau”(tentera) tidak pernah ragu menumpahkan darah dan keringat”. Pengumuman yang lebih mirip ancaman ini juga meluas hingga ke kota-kota propinsi. Suatu peristiwa aneh yang delapan tahun lalu belum terlihat. Lantas apakah sesungguhnya yang terjadi di negeri seribu pagoda ini?.
***
KALAU pertanyaan ini diajukan kepada orang awam yang ditemui di jalanan, maka jawaban mereka pastilah hanya dengan senyum. Atau kalau pun ia merasa perlu bicara, paling-paling mengatakan “Itulah Myanmar. Persis seperti Anda saksikan sekarang”. Mereka bungkam seribu bahasa, khususnya kepada orang=orang yang belum dikenal dekat, karena di sana-sini pihak penguasa menyebarkan informasi: Keliru bicaa bisa fatal akibatnya.
Semua ini adalah ekor dari peristiwa kerusuhan yang pecah pada Agustus 1988. Waktu itu rakyat dan pegawai negeri turun ke jalan untuk menentang pemerintatahn sosialis yang telah berkuasa selama 28 tahun. Tapi aksi ini diredakan junta militer yang mengambil alih kekuasaan dari “kliknya” sendiri. Diperkirakan, kerusuhan pada Agustus dan bulan sebelumnya, menelan sedikitnya 3.000 korban.
Sejak masa itu pula junta militer yang menyebut dirinya SLORC (Dewan Pemulihan ketertiban dan Hukum Negara) memberlakukan UU Darurat. Pembersihan terhadap unsur-unsur “perusuh” dilakukan dari rumah ke rumah. Ribuan penduduk Yangoon dipaksa pindah dari ibu kota. Pemindahan penduduk yang oleh pers Barat disebut-sebut sebagai mirip peristiwa Kamboja di bawah Pol Pot, tidak luput dari kecaman internasional. “Di kota tua Pagan tidak lagi kelihatan rumah-rumah penduduk. Padahal 7 tahun lalu saya masih menyaksikan penampungan yang dihuni ribuan manusia”, kata Von Miler, pegawai bank di Swiss yang berlibur ke Myanmar.
Untuk mengambil ……( Antara 5-9 baris dari kolom 1 – 4 tulisan sederetan bagian ini terselimut debu tsunami Aceh, 26-12-2004-TA) yang tak menyukai ideologi sosialisme-religius ala Myanmar ini, junta militer membubarkan Partai Program Sosialis Burma(BSPP) yang berkuasa dan merupakan satu-satunya partai yang punya hak hidup di negeri itu. Junta yang dipimpin Jenderal Saw Maung kemudian menjanjikan demokrasi melalui pemilu yang jujur dan bersih. Untuk itu pula diberi keleluasaan kepada rakyat membentuk parpol yang dikehendaki.
Pemailu akhirnya memang dilaksanakan pada 27 Mei lalu dalam suasana semarak yang diikuti sekitar 100 parpol. Untuk membuktikan tekad bagi kehidupan demokrasi, pemerintah sempat mengundang wartawan-wartawan asing. Tapi setelah hasil perhitungan suara menunjukkan NLD(Liga Nasional bagi Demokrasi), yang menentang kekuasaan militer, menang telak ( merebut 392 dari 485 kursi yang diperebutkan), tiba-tiba saja junta mengubah pikirannya.
SLORC yang merupakan wadah juta mengeluarkan keputusan bahwa pengalihan kekuasaan ditunda sampai ada kesepakatan RUU Dasar baru. Tidak disebutkan kapan RUU ini akan dirampungkan. Tapi disyaratkan harus diadakan suatu konvensi nasional yang diahadiri 135 wakil kelompok etnik, wakil dari 90 parpol, serta semua yang memelihara dan mencintai negara. Setelah RUU ini selesai dibuat, harus diundangkan kepada rakyat.
Banyak pengamat makin yakin bahwa junta tidak akan menyerahkan kekuasaan kepada pemenang pemilu. Sebab, setelah keputusan menerima atau menolak RUU Dasar itu, kemudian ditetapkan apakah akan menganut sistem presidentil atau parlementer. Sesudah itu tentu harus diadakan lagi pemilu.
Keputusan SLORC yang berkekuatan hukum ini masih menambahkan embell-embel, “pembuatan rancangan konstitusi baru dilakukan dengan sabar, sistematis, penuh  perhatian, korek, dan lengkao”. Dalam peruusan RUU Dasar tersebut, angkatan bersenjata hanya berfungsi sebagai penasihat.”Dan bila diperlukan akan memberi bantuan fasilitas, termasuk keuangan”.
SLORC juga menetapkan, anggota parlemen yang terpilih baru akan dilantik jika kasus-kasus pengaduan selama pemilu sudah diproses melalui badan peradilan. Tetapi kasus yang diperiksa pada tingkat pertama pada tanggal 20 November lalu misalnya diundur lagi ke tanggal 7 Januari 1991. Dengan kata lain, kasus-kasus seperti ini akan banyak muncul dan memakan waktu lama. Dan selama itu pula anggota parlemen yang terpilih dalam pemilu belum bisa dilantik.
Sikap junta ini mengundang kecaman dari AS, India, dan negara-negara Eropa. Dan seperti biasa, pemerintah Yangoon tidak mengindahkan pandangan dunia luar. Asas sosialisme yang ditanamkan Jenderal U Ne Win untuk bertumpu pada kemampuan sendiri, masih tetap dianut para pemimpin junta yang memang adalah “anak didik” Ne Win. Paham demikian membuat mereka tidak goyah atas ancaman kemungkinan boikot ekonomi oleh AS maupun negara-negara Eropa.
Sedang ke dalam, SLORC mengerahkan tentara untuk membentengi Yangoon dan Mandalay dari berbagai tindak kerusuhan. Sebagian besar dari sekitar 250.000 tentara di negeri berpenduduk 40 juta jiwa ini, ditugaskan di kedua kota itu. Di Mandalay, 620 km utara Yangoon, stadion sepak bola misalnya sudah berubah fungsi menjadi tangsi.
Operasi penangkapan tokoh-tokoh parpol, khususnya NLD, dilakukan. Sedang tokoh mahasiswa atau buruh sudah sejak dua tahun lalu diuber. Belakangan ini para biksu juga ikut dijaring. “sedikitnya 400 orang biksu masih ditahan di bekas istana yang dikenal sebagai Benteng Mandalay,” kata seorang pengusaha di kota kedua terbesar setelah Yangoon itu.
Kompas yang menyusup masuk ke benteng Mandalay yang dijaga ketat, memperoleh informasi dari para pekerja bangunan, sedikitnya 1000 orang masih ditahan di situ. Seorang sarjana ekonomi di Pakoku, seketar 100 km selatan Mandalay, menyebut rekannya sudah dua tahun mendekam di tahanan itu.
Di wilayah Yangoon, jumlah tahanan politik jauh lebih besar. “Mereka disiksa dan tanpa pernah diproses pengadilan,” tutur seorang warga Yangoon yang bekerja di perusahaan konstruksi Jepang di Singapura. Pada November lalu, sempat pula dihebohkan tewasnya salah seorang pimpinan NLD dalam tahanan.
Situasi demikian tentu rawan. Pemerintah Yangoon bisa saja mengabaikan opini masyarakat internasional. Tapi ke dalam negeri dia telah menciptakan jurang komunikasi dengan rakyat.

(Sumber: Kompas, Senin, 17 Desember 1990 hlm. 1/5)

Penulisan Sejarah

Penulisan Sejarah
Oleh: M Isa Sulaiman
Siapa saja yang jeli memperhatikan rubrik “komentar pembaca” suratkabar Serambi Indonesia pastilah tersentak oleh kenyataan bahwa kolom itu sering diisi oleh seseorang pembaca yang membantah bukan saja tentang cuplikan sejarah Aceh yang pernah dimuat dalam Harian ini, malahan juga cuplikan sejarah Aceh dalam berbagai publikasi lainnya.
Ambil saja sebagai contoh pada edisi 14 dan 22 Juni lalu, ketika Ridwan Azwad membantah pemberitaan yang mengatakan bahwa Tgk M.Daud Beureueh pernah bekali-kali ditangkap oleh Belanda.
Dalam edisi akhir Mei lalu, Mariman Jarimin membantah beberapa bagian tulisan A.Wahab Gam tentang perubahan status propinsi Aceh menjadi Keresidenan Aceh. Selain Ridwan Azwad, Twk A Djalil beberapa waktu lalu juga mempersoalkan beberapa bagian isi buku “Lima Puluh Tahun Aceh Membangun” yang menurut mereka terdapat beberapa bagian cuplikan sejarah di dalamnya tidak benar.
Kritik dan komentar yang disampaikan itu menyadarkan kita bahwa khalayak pembaca mempunyai kepedulian dan kesadaran yang tinggi terhadap sejarah daerah atau bangsanya, sehingga mereka terpanggil untuk mempertanyakannya jika terdapat sesuatu yang menurut mereka kurang tepat. Namun patut digarisbawahi bahwa apa yang mereka bantahkan itu sebenarnya menyangkut peristiwa atau fakta sejarah, yang merupakan bahan baku penulisan sejarah.
Fakta sejarah itu merupakan rekaman dari berbagai kejadian sesungguhnya atau sejarah sebagai kenyataan yang dalam bahasa Perancis disebut “histoire realite”. Sedangkan dalam arti subjektif atau “histoire recite” sejarah adalah konstruk atau paparan cerita masa lalu yang disusun oleh penulis berdasarkan bukti-bukti tersedia.
Dengan patokan di atas dapatlah ditarik garis demarkasi antara sejarah dengan aneka macam karya sastra, seperti cerpen, novel dan epik, walaupun yang terakhir sebenarnya juga dalam waktu konstruk yang disusun oleh pengarangnya, Akan tetapi patutlah diingat bahwa kadar campur tangan dan motivasi antara sejarahwan dan sastrawan dalam membentuk konstruk cukuplah berbeda.
Sastrawan lebih leluasa menggunakan imajinasinya dinadingkan dengan yang pertama. Karena objek sejarah adalah aktualitas di masa lampau. Sejarahwan berusaha mengemukakan gambaran tentang objek tulisan sebagaimana adanya dan kejadian sebagai sesungguhnya terjadi dengan prosedur yang cukup ketat dan tertib, baik dalam penetapan ruang(topografi) dan waktu (kronologi) maupun berdasarkan bukti-bukti.
Fakta sejarah terdiri atas perbuatan , aksi dan kejadian atau peristiwa yang dalam sejarah Aceh bisa kita temukan seperti mangkatnya Sultan Malik Al Saleh, pernyataan perang yang dikeluarkan Komisaris Pemerintah Hindia Belanda, Nieuwen Huizen kepada Sultan Aceh, pengangkatan T Nyak Arief – baik sebagai residen Aceh atau staf umum Komandemen TRI Sumatera – dan proklamasi yang ditandatangani oleh Tgk M Daud Beureueh bahwa daerah Aceh dan sekitarnya menjadi bagian dari Negara Islam Indonesia. Di samping itu tedapat pula fakta sejarah dalam wujud “a particular truth” yang merupakan generalisasi dari sejumlah fakta khusus yang dalam sejarah Aceh dapat dijadikan sebagai contoh gerakan kebangkitan Islam sejak dasawarsa 20-an.
Fakta sejarah yang tiada terbilang jumlahnya itu sudah terekam dalam aneka macam dokumen baik yang beraksara Arab, Latin dan Cina maupun yang berbahasa Aceh, Melayu/Indonesia, Arab, Cina, Portugis, Belanda, Perancis, Jepang dan Inggris.
Lalu timbul pertanyaan apakah fakta sejarah itu semata-mata dalam wujud sumber tertulis?. Idealnya begitu. Akan tetapi sejarahwan bisa juga mempergunkan sumber artifak atau lisan. Yang jelas artifak termasuk fosil adalah bahan baku utama arkeologi, palaeontologi dan prehistori. Sebaliknya, bila mau mempergunakan sumber lisan sejarahwan haruslah hati-hati dalam menyaring fakta yang diperoleh dari informan.
Masalahnya tiada lain informan yang menyuguhkan fakta adalah manusia yang mempunyai ingatan terbatas terhadap peristiwa yang telah jauh berlalu, mempunyai kepribadian dan kecenderungan yang khas, dan juga kepentingan tertentu terhadap fakta yang dikemukakannya.
Pengerjaan sejarah sebagai rekonstruksi masa lampau itu hanyalah mungkin dilakukan setelah pertanyaan pokok dirumuskan terlebih dahulu. Bertolak dan dituntut oleh prtanyaan pokok itulah sejarahwan melakukan pencarian atau penemuan data
(heuristik). Data yang terkumpul dalam dokumen itu belumlah diterima begitu saja, melainkan diuji terlebih dulu kadar otentisitas dan kredibilitasnya –melalui prosedur kritik sumber sehingga diperoleh fakta sejarah yang secara historis benar.
Prosedur demikian sangatlah penting dilakukan mengingat fakta sejarah itu mempunyai kadar yang beragam. Dalam sejarah Aceh misalnya, kita menemui ribuan fakta keras yang telah diterima secara luas kebenarannya baik oleh ilmuwan atau orang awam, karena fakta tersebut ditemui dalam berbagai sumber tertulis.
Contoh kongkritnya adalah fakta tentang berdirinya PUSA, Gerakan F Kikan, Majelis Beureueh dan lahirnya Daerah Istimewa Aceh. Di samping itu terdapat pula fakta lunak masih memerlukan verfikasi kadar otentisitas atau kredibilitasnya.
Terakhir adalah yang secara sengaja dipalsukan oleh orang-orang tertentu tentang sesuatu peristiwa, karena yang bersangkutan memang mempunyai kepentingan terhadap peristiwa tersebut.
Bila fakta sejarah yang secara historis benar itu telah terkumpul dalam jumlah yang memadai, maka sejarahwan pun melakukan kegiatan penulisan(historiografi). Tahap ini tidaklah dapat dianggap enteng. Soalnya, penulisan sejarah menjadi histoire recite itu memerlukan pula keterampilan teknis,kepekaan, common sense, imajinasi, dan ketajaman analisis.
Apa yang dipaparkan secara amat singkat di atas, mengingatkan kita betapa berat beban dan tangung jawab yang dipikul oleh seseorang yang menaruh minat untuk menulis sejarah Aceh. Terutama apabila mereka bermaksud menulis sejarah yang tahan uji atau kritik. Jika tidak maka mereka terjebak kembali pada pola penulisan tradisional. Sebab, tradisi penulisan sejarah yang terdapat dalam khazanah budaya Aceh sebagaimana kita saksikan dalam naskah-naskah lama seperti Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat Aceh, Bustanussalatin, Hikayat Malem Dagang dan Hikayat Pocut Muhammad – memperlihatkan percampuradukan antara peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi dengan mitos atau dongeng.

Dr M Isa Sulaiman MA, dosen sejarah FKIP Unsyiah, Banda Aceh

(Sumber: Serambi Indonesia, Sabtu, 6 Juli 1996 hlm.4/Opini).
Catatan: Diketik ulang dalam suasana Hari Raya ‘Idul Adha 1435 H, hari tasyrik kedua, Selasa, 7 Oktober 2014 pkl. 14.40 wib, T.A. Sakti.